Anda di halaman 1dari 14

Konsep Perawat Gigi 1.

Pendekatan Pasien
Pendekatan pasien ini sangat penting karena sebagai seorang perawat gigi harus dapat melakukan pendekatan yang cukup intim dengan pasien guna membina hubungan saling percaya dan mempermudah kelancaran proses pengobatan kepada pasien. Pendekatan pasien ini juga berfungsi untuk mengurangi hambatan psikologis yang ada pada pasien,karena kondisi psikologis pada pasien sangat berperan cukup besar dalam kesembuhan pasien tersebut Pendekatan pasien ini juga penting mengingat pasien yang datang itu terdiri dari bermacam-macam sifat,diantaranya adalah pasien yang memiliki isolasi sosial.Karena itu seorang perawat gigi harus mendekati nya dengan cara Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan Seorang perawat gigi juga harus melakukan pendekatan spiritual dengan pasien karena seorang perawat profesional harus mampu memberikan pelayanan kesehatan kepada klien dengan memperhatikan kebutuhan dasar manusia (KDM), dan mampu memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual yang komprehensif yang ditujukan kepada individu, kelompok, dan masyarakat. Selain itu parawat yang profesional harus memiliki visi transendental . Visi transendental adalah sebuah cita-cita dan harapan suatu profesi dimana semua aktivitas, pengabdian, dan tujuan hidupnya tidak hanya beriorientasi kesuksesan dunia tetapi sampai akhirat. Bahkan kesuksesan akhirat menjadi prioritas dibanding kesejahteraanya yang fana,sementara,sebentar diibaratkan seperti sebuah titik. Sedangkan kehidupan akhirat berlangsung selamanya seperti garis tak berujung. Aspek spritual merupakan salah satu aspek yang paling penting yang perlu diperhatikan oleh perawat, karena itu perawat dituntut harus mampu dalam membingbing pasien melaksanakan ibadahnya kepada tuhan. Melalui ibadah pasien mendapatkan ketenangan jiwa, pencerahan, dan rasa nyaman.

2. Pendekatan Pemecahan Masalah


Pendekatan pemecahan masalah dilakukan melalui proses Analisa,yang terdiri dari : 1) Tahapan Anamnesa

A.Cara Pengumpulan Data

Wawancara atau Anamnesa

Wawancara adalah menanyakan atau membuat tanya-jawab yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh klien, biasa juga disebut dengan anamnesa. Wawancara berlangsung untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. Tujuan dari wawancara adalah untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan masalah keperawatan klien, serta untuk menjalin hubungan antara perawat dengan klien. Selain itu wawancara juga bertujuan untuk membantu klien memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam identifikasi masalah dan tujuan keperawatan, serta membantu perawat untuk menentukan investigasi lebih lanjut selama tahap pengajian. Semua interaksi perawat dengan klien adalah berdasarkan komunikasi. Komunikasi keperawatan adalah suatu proses yang kompleks dan memerlukan kemampuan skill komunikasi dan interaksi. Komunikasi keperawatan biasanya digunakan untuk memperoleh riwayat keperawatan. Istilah komunikasi terapeutik adalah suatu teknik yang berusaha untuk mengajak klien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan perasaan. Teknik tersebut mencakup ketrampilan secara verbal maupun non verbal, empati dan rasa kepedulian yang tinggi. Teknik verbal meliputi pertanyaan terbuka atau tertutup, menggali jawaban dan memvalidasi respon klien. Teknik non verbal meliputi : mendengarkan secara aktif, diam, sentuhan dan konta mata. Mendengarkan secara aktif merupakan suatu hal yang penting dalam pengumpulan data, tetapi juga merupakan sesuatu hal yang sulit dipelajari.

B.Tahapan wawancara / komunikasi :

a.Persiapan Sebelum melaukan komunikasi dengan klien, perawat harus melakukan persiapan dengan membaca status klien. Perawat diharapkan tidak mempunyai prasangka buruk kepada klien, karena akan mengganggu dalam membina hubungan saling percaya dengan klien. Jika klien belum bersedia untuk berkomunikasi, perawat tidak boleh memaksa atau memberi kesempatan kepada klien kapan mereka sanggup. Pengaturan posisi duduk dan teknik yang akan digunakan dalam wawancara harus disusun sedemikian rupa guna memperlancar wawancara.

b.Pembukaan atau perkenalan Langkah pertama perawat dalam mengawali wawancara adalah dengan memperkenalkan diri : nama, status, tujuan wawancara, waktu yang diperlukan dan faktor-faktor yang menjadi pokok pembicaraan. Perawat perlu memberikan informasi kepada klien mengenai data yang terkumpul dan akan disimpan dimana, bagaimana menyimpannya dan siapa saja yang boleh mengetahuinya.

c.Isi / tahap kerja Selama tahap kerja dalam wawancara, perawat memfokuskan arah pembicaraan pada masalah khusus yang ingin diketahui. Hal-hal yang perlu diperhatikan : Fokus wawancara adalah klien. Mendengarkan dengan penuh perhatian. Menanyakan keluhan yang paling dirasakan oleh klien. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh klien. Gunakan pertanyaan terbuka dan tertutup tepat pada waktunya. Bila perlu diam, untuk memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya. Sentuhan teraputik, bila diperlukan dan memungkinan.

d.Terminasi Perawat mempersiapkan untuk penutupan wawancara. Untuk itu klien harus mengetahui kapan wawancara dan tujuan dari wawancara pada awal perkenalan, sehingga diharapkan pada akhir wawancara perawat dan klien mampu menilai keberhasilan dan dapat mengambil kesimpulan bersama. Jika diperlukan, perawat perlu membuat perjanjian lagi untuk pertemuan berikutnya.

C.Jenis Anamnesis

Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan dengan tehnik autoanamnesis yaitu anamnesis yang dilakukan langsung terhadap pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab semua pertanyaan dokter dan menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena pasien sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia rasakan. Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk menjawab pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk menceritakan permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain ini disebut Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-sama auto dan alloanamnesis.

2) Intervensi
A. PENGERTIAN INTERVENSI PERAWAT Intervensi perawat adalah respon perawat terhadap kebutuhan perawatan kesehatan dan diagnnosa keperawatan klien. Tipe intervensi ini adalah Suatu tindakan autonomi berdasarkan rasional ilmiah yang dilakukan untuk kepentingan klien dalam cara yang diprediksi yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan klien. (Bulechek & McCloskey, 1994). Intervensi ini tidak membutuhkan supervisi atau arahan dari orang lain. Sebagai contoh, intervensi untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi yang adekuat atau aktivitas kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan higiene adalah tindakan keperawatan mandiri.

Intervensi perawat tidak membutuhkan instruksi dokter atau profesi lainnya. Dokter seringkali dalam instruksi tertulisnya mencakup intervensi keperawatan mandiri. Namun demikian berdasarkan undang undang praktik keperawatan di sebagian besar negara bagian, tindakan keperawatan yang berkaitan dengan aktivitas kehidupan sehari hari, penyuluhan kesehatan, promosi kesehatan, dan konseling berada dalam domain praktik keperawatan.

Tujuan intervensi adalah sebagai pengantar untuk mengatur atau mendesain tindakan perawatan berdasarkan respon klien terhadap masalah kesehatannya, dengan sasaran mencegah, menghilangkan atau meminimalkan penyebab yang mempengaruhi status kesehatan tersebut. a.Tujuan dokumentasi tahap perencanaan: Sebagai kerangka kerja dalam implementasi keperawatan. Merupakan inti dokumentasi keperawatan yang berorientasi pada masalah. Sebagai referensi dalam melakukan modifikasi rencana keperawatan. Sarana komunikasi tim keperawatan dalam pendelegasian tugas/instruksi keperawatan. Sebagai landasan ilmiah yang logis dan sistematis dalam mengerjakan asuhan keperawatan kepada pasien. Agar semua rencana tindakan dapat dipilih disesuaikan kondisi klien sehingga efektif.

B. JENIS INTERVENSI KEPERAWATAN Perencanaan dan tindakan keperawatan adalah tahap dalam proses keperawatan berdasarkan masalah actual dari klien. Maksud dokumentasi adalah menemukan secara tepat sebagai gambaran intervensi keperawatan yang meliputi : 1. Intervensi terapeutik Tindakan terapeutik adalah askep yang langsung sesuai keadaan klien. Rencana keperawatan yng lebih dari satu harus di kerjakan sungguh-sungguh sesuai prioritas masalah dalam diagnosa keperawatan. 2. Intervensi pemantapan/ observasi Proses ini membutuhkan ketajaman observasi perawat termasuk keterampilan mengevaluasi yang tepat. Program yang lebih efektif sangat menentukan kesehatan klien. Perawat harus lebih melihat perkembangan yang baik dan buruk dari klien seperti:

Mengobservasi tanda-tanda vital Diagnosa Keperawatan Tindakan Keperawatan (Terapeutik) Therapi Medic Ketidak efektifan bersihan jalan nafas Cemas Mengatur posisi Mengajarkan tehnik batuk Mengajarkan kegiatan untuk mengurangi stress Mengatur lingkungan yang aman dan nyaman Mengurangi pergerakan Mengatur pemberian Oksigen Memeriksa sputum Infus cairan elektrolit sesuai BB D. KOMPONEN DOKUMENTASI INTERVENSI KEPERAWATAN Dokumentasi intervensi Mengidentifikasi mengapa sesuatu terjadi terhadap klien, apa yang terjadi, kapan, bagaimana, dan siapa yang melakukan intervensi : Why : Harus dijelaskan alasan tindakan harus dilaksanakan dan data yang ada dari hasil dokumentasi pengkajian dan diagnosa keperawatan. What : Ditulis secara jelas, ringkas dari pengobatan atau tindakan dalam bentuk action verb. When : Mengandung aspek yang penting dari dokumentasi intervensi. Pencatatan pada waktu pelaksanaan intervensi sangat penting dalam hal pertanggung jawaban hukum dan efektifitas tertentu. How : Tindakan dilaksanakan dalam penambahan pencatatan yang lebih detail. Misalnya, miring kanan atau kiri dengan bantuan perawat. Menandakan suatu prinsip ilmiah dan rasional dari rencana tindakan. Metode ini akan bisa meningkatkan dalam upaya-upaya penggunaan prosedur keperawatan yng tepat. Who : siapa yang melaksanakan intervensi harus selalu dituliskan pada dokumnetasi serta tanda tangan sebagai pertanggung jawaban.

Intervensi yang memerlukan suatu dokumentasi khusus Ada dua dokumentasi yang memerlukan pendokumentasian khusus yaitu : 1. Prosedur invasive Tindakan invasive merupakan bagian yang penting dari proses keperawatan, Karena memerlukan pengetahuan tentang IPTEK yang tinggi. Untuk itu pengetahuan lanjutan diperlukan dalam upaya meningkatkan tanggung jawab dalam pemberian intervensi. Misalnya perawat memberikan transfusi, kemoterapi, memasang kateter. Tindakan tersebut diatas akan membawa resiko yang tinggi pada klien terhadap komplikasi, yang tentunya perlu informed consent sebelum tindakan di laksanakan. 2. Intervensi mendidik klien Perawat berperan penting dalam mengenal kebutuhan belajar klien dalam rencana mendidik klien dan memelihara laporan kegiatannya. Rencana tindakan keperawatan meliputi : 1) Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan harus merupakan prioritas utama untuk merawat klien. Hal tersebut harus menyangkut langsung kearah situasi yang mengancam kehidupan klien. 2) Kriteria hasil Setiap diagnosa keperawatan harus mempunyai sedikitnya satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan tujuan yang diharapkan yang mencerminkan masalah klien. 3) Rencana tindakan keperawatan Tindakan keperawatan adalah memperoleh tanggung jawab mandiri, khususnya oleh perawat yang dikerjakan bersama dengan perintah medis berdasarkan masalah klien dan bantuan yang diterima klien adalah hasil yang diharapkan. Masing-masing masalah klien dan hasil yang diharapkan didapatkan paling sedikit dua rencana tindakan. E. PERANAN DOKUMENTASI INTERVENSI Pentingnya dokumentasi rencana asuhan keperawatan, yaitu : a) Berisikan informasi yang penting dan jelas. b) Sebagai alat komunikasi antara perawat dan perawat. c) Memudahkan melaksanakan masalah keperawatan yang berkelanjutan. d) Dokumentasi yang ekslusif untuk pencatatan hasil yang diharapkan untuk pasien.

F. KRITERIA INTERVENSI KEPERAWATAN Kriteria perencanaan harus mencakup: a. Perumusan tujuan - Berfokus pada masyarakat - Jelas dan singkat - Dapat diukur dan diobservasi - Realistis - Ada target waktu - Melibatkan peran serta masyarakat. b. Rencana tindakan - Tetapkan tehnik dan prosedur yang akan digunakan. - Mengarah pada tujuan yang akan dicapai. - Realistis - Disusun berurutan dan ada rasionalnya. c. Kriteria hasil - Menggunakan kata kerja yang tepat. - Dapat dimodifikasi dan Spesifik. G. Contoh Intervensi Contoh kasus : Pasien A datang ke RS mengatakan bahwa sudah lima hari tidak bisa BAB. Pasien tersebut jarang minum dan makan sayur. TD 140 / 90 mmHg, suhu 38,7 C, dan denyut nadinya 100 x / menit. Intervensi Hari / Tanggal Selasa, 20 9 11 : No Dx

Tujuan Tujuan: Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 1x24 jam. Diharapkan Pasien mampu BAB Dengan normal

Intervensi a. - Menganjurkan makan makanan berserat. b. - Menganjurkan banyak minum air. c. - Kolaborasi pemberian analgetik. d. - Mengukur TTV.

TTD / Nama

3) Dokumentasi
A. Pengertian Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi keperawatan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Dokumentasi keperawatan merupakan bukti tertulis dari kegiatan yang telah dilakukan oleh perawat (Priharjo, 1995 dalam Hariyati, 2007). Dokumentasi keperawatan menggambarkan keadaan perkembangan pasien, mencatat asuhan

keperawatan yang telah diberikan, dan mencatat riwayat kesehatan untuk masa yang akan datang. Dokumentasi keperawatan adalah informasi tertulis tentang status dan perkembangan kondisi klien serta semua kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat (Fisbach, 1991, Carpenito, 1991). Pendokumentasian merupakan laporan secara tertulis atau bentuk tetap lainnya yang menyajikan fakta yang otentik dan benar dari suatu kejadian tindakan, pernyataan

transaksi atau prosedur. Pelaporan merupakan Pembicaraan atau tulisan informasi di antara staf pemberi perawatan dan mengkonfirmasikan informasi tertentu pada kelompok klien yang berhubungan dengan keperawatan B. Manfaat dan Pentingnya Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi Keperawatan mempunyai makna yang penting dilihat dari berbagai aspek : 1. Hukum Semua catatan tentang informasi klien merupakan dokumentasi yang resmi yang bernilai hukum. Bila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan profesi keperawatan, dimana perawat sebagai pemberi jasa dan klien sebagai pengguna jasa maka dokumentasi sangat diperlukan. Dokumentasi dapat dijadikan barang bukti di pengadilan. Oleh karena itu data di identifikasi secara lengkap, jelas dan objektif dan ditandatangani oleh perawat, nama jelas, tanggal, perlunya penulisan dengan jelas agar tidak menimbulkan salah interpretasi. 2. Jaminan Mutu Pencatatan data klien yang lengkap dan akurat akan memberikan kemudahan bagi perawat dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Selain itu untuk mengetahui sejauh mana masalah klien dapat diatasi dan seberapa jauh masalah baru dapat di

identifikasi dan di monitor melalui catatan yang akurat, hal ini akan membantu meningkatkan mutu keperawatan. 3. Komunikasi Dokumentasi keperawatan merupakan alat perekam terhadap masalah yang berkaitan dengan klien. Perawat atau tenaga kesehatan lain akan bisa melihat catatan yang ada dan sebagai alat komunikasi yang dijadikan pedoman dalam asuhan keperawatan 4. Keuangan Dokumentasi dapat menjadi acuan pertimbangan biaya perawatan klien, dengan dokumentasi perawatan dinilai tindakan keperawatan yang diberikan sesuai dengan tingkat ketergantungan klien. 5. Pendidikan Dokumentasi keperawatan berisi riwayat perkembangan klien dari masuk rumah sakit sampai dengan pasien pulang. Perkembangan pasien merupakan bahan pembelajaran yang efektif bagi mahasiswa atau profesi keperawatan. 6. Penelitian Data yang terdapat dalam dokumentasi keperawatan mengandung informasi yang dapat menjadi bahan atau obyek riset dan pengembangan profesi keperawatan. 7. Akreditasi Melalui dokumentasi keperawatan dilihat sejauh mana peran dan fungsi keperawatan. Tingkat keberhasilan pemberian asuhan keperawatan guna pembinaan dan pengembangan lebih lanjut. Pendokumentasian yang profesional akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. C. Tahapan Pendokumentasian 1. Pengkajian Format pengkajian keperawatan berisikan pengkajian awal perawat terhadap klien yang baru masuk ke ruangan. Pengkajian dibuat berdasarkan wawancara langsung klien dan keluarga serta pemeriksaan fisik head to toe. Format pengkajian diisi dalam bentuk narasi dan atau check list. Pengkajian memberikan data dasar dalam menyusun rencana asuhan. Format diiisi dengan data mentah bukan hasil analisa atau kesimpulan.

2. Perencanaan Perencanaan dibuat oleh ketua tim berdasarkan hasil analisa data pasien. Format yang diisi dalam bentuk kolom. Rencana keperawatan yang dibuat mengacu pada standar rencana keperawatan dan memuat diagnosa keperawatan, tujuan, kriteria evaluasi, dan intervensi keperawatan 3. Implementasi dan Evaluasi Merupakan pencatatan tentang semua tindakan keperawatan (mandiri maupun kolaboratif) dan aktivitas yang dilakukan untuk dan bersama klien. Tidak hanya menuliskan tindakan yang dilakukan tetapi juga respon klien terhadap intervensi yang dilakukan, sehingga saat menuliskan implementasi juga melakukan evaluasi 4. Catatan Perkembangan Format catatan perkembangan keperawatan berisikan informasi tentang catatan perkembangan kondisi kesehatan klien setiap hari berdasakan rencana keperawatan yang telah dibuat. Formatnya dalam Bentuk SOAP dan berisi narasi. Secara narasi, penulisan diawali dengan diagnosa keperawatan, dilengkapi dengan pernyataan subyektif dan obyektif, serta perencanaan lebih lanjut. Format SOAP terdiri dari: S ( Subyektif) O (Obyektif) A (Analisa) P (Perencanaan) : Keluhan klien dan atau keluarga : Apa yg diamati, didengar, disentuh, dicium, diukur : Kesimpulan perawat tentang kondisi klien : Tindakan yg ditetapkan untuk menyelesaikan masalah

Perawat juga dapat membuat dokumentasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mulut beserta cara-caranya untuk menunjang kesehatan pasien.

3. Praktek Mandiri
Permenkes No 58 tahun 2012 merupakan perubahan dari ketentuan sebelumnya. Dengan diberlakukannya Permenkes No 58 tahun 2012, dinyatakan tidak belaku lagi ketentuan mengenai perawat gigi sebelumnya yaitu Keputusan Menteri Kesehatan No. 378/Menkes/SK/III/2007 tentang Standar profesi Perawat Gigi. Pada Kepmenkes No. 378/Menkes/SK/III/2007 yang sudah dinyatakan tidak berlaku, kompetensi perawat gigi terdiri atas:
1. Manajemen 2. Pengawasan Penularan Penyakit (Cross Infection Control) 3. Pemeliharaan dan Penggunaan Peralatan 4. Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit gigi dan mulut 5. Perlindungan Khusus 6. Tindakan Asuhan Keperawatan di Klinik: 7. Rujukan 8. Peneliti 9. Hukum dan perundang - undangan 10. Asisten dokter gigi 11. Asisten Dokter Gigi Spesialis 12. Sikap Pada Kepmenkes tersebut tindakan Asuhan Keperawatan di Klinik yang dapat dilakukan perawat gigi meliputi: - Pencabutan gigi sulung dengan topikal anaesthesi dan infiltrasi anaesthesi. - Pencabutan gigi tetap akar tunggal dengan infiltrasi anaesthesi. - Preparasi kavitas dan penumpatan (gigi sulung dan gigi tetap pada satu/dua permukaan menggunakan amalgam, silikat,dsb). - Preparasi kavitas dengan excavator dan penumpatan dengan ART. - Pertolongan pertama (first aid/relief pain) trepanasi gigi gangraen dengan periapikal absces

Namun ada beberapa perawat gigi yang menjalankan praktik diluar kompetensinya sebagai perawat gigi, Kesalahan perawat gigi yang memungkinkan bisa terjadi adalah pada tindakan dalam tugas-tugas mandiri dan atau tugas kolaborasi serta tugas-tugas yang merupakan pendelegasian wewenang. Kondisi semacam ini, dianggap merupakan suatu kewajaran dan kelaziman, bahkan dampak etis akibat dari tindakan yang dilakukan diabaikan. Sehingga dengan leluasa perawat gigi membuka peluang bisnis/praktek kedokteran gigi yang semestinya bukan grey area kompetensi perawat gigi. Akibat dari tindakan perawat gigi, maka akan berdampak etis sebagai berikut : 1. Ketidakadilan : karena ada profesi lain yang dirugikan. 2. Kerisauan sosial : dengan munculnya bentuk mall praktik yang dilakukan perawat gigi 3. Pelemahan peraturan dan sanksi : dengan tidak adanya tindakan dan sanksi atas tindakan yang dilakukan, maka dianggap peraturan tidak dapat berfungsi dengan benar.

4. Kolaborasi dengan Dokter / Dokter Gigi


Dalam pelaksanaannya, dokter gigi tidak dapat menjalankan sendiri tugas pokok dan fungsinya dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat, melainkan harus bermitra kerja dengan perawat gigi. Masalah yang timbul saat ini adalah pertama : Keterbatasan jumlah dokter gigi yang bekerja di pelayanan kesehatan di Indonesia dengan ratio terhadap penduduk 1 : 21.500, dimana ideal ratio 1 : 2000 dan itupun penyebarannya tidak merata. Kedua : tugas ganda dokter gigi selain sebagai penangung jawab pelayanan kesehatan gigi dan mulut juga sebagai pejabat struktural yang menyita perhatian dan konsentrasi lebih dalam pelaksanaannya. Sehingga seringkali tugas pokok dan fungsinya tidak dapat dilaksanakan dengan baik, sementara pelayanan di masyarakat harus berjalan dengan baik. Untuk mengatasi hal tersebut, dokter gigi akan melimpahkan tugas dan wewenangnya kepada perawat gigi sebagai mitra kerjanya. Tugas limpah yang diberikan oleh dokter gigi kepada perawat gigi kadang tidak jelas, sehingga perawat gigi harus menyelesaikan semua tugas dokter gigi di Puskesmas sebagai pemberi pelayanan, walaupun yang dilakukan oleh perawat gigi bukan kompetensi dan kewenangannya. Akan tetapi hal tersebut berjalan sebagai sesuatu yang wajar dan biasa tanpa memperhatikan dampak etika dan hukum.

Secara singkat atau garis besar Perawat gigi adalah seorang petugas yang membantu pekerjaaan dokter gigi selama melakukan tugas pelayanannya. Peran dan fungsi atau tugas dan wewenang : sesuai namanya sebagai asisten atau pembantu dokter gigi, selain membantu pelaksanaan pekerjaan dokter gigi di klinik atau tempat pelayanan praktek, perawat gigi juga dididik untuk menguasai pengetahuan mengenai kesehatan gigi termasuk semua jenis alat dan perlengkapannya,sehingga dalam berkolaborasi,seorang perawat gigi harus bisa mengetahui apa saja alat yang akan digunakan dalam pengobatan selanjutnya tanpa harus menunggu instruksi dari dokter gigi. Digunakan pada pengobatan selanjutnya agar praktek selanjutnya dapat berjalan dengan lancar. Perawat gigi juga bertugas mensterilkan alat dan bahan yang digunakan dalam praktek pengobatan selanjutnya untu Perawat gigi juga punya kemampuan dan kewenangan melakukan sebagian pekerjaan dokter gigi, seperti tugas yang menyangkut upaya pendidikan kesehatan gigi (dental health education), pembersihan dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, penambalan dan pencabutan gigi sederhana