Anda di halaman 1dari 2

SKABIES (PENYAKIT AKIBAT TUNGAU DEBU)

Oleh: Dra. Euis Shariasih Pendahuluan Beberapa jenis gangguan kesehatan pada manusia dapat berasal dari hewan-hewan kecil yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Salah satunya adalah gangguan terhadap kesehatan kulit yang disebut skabies atau gudik. Seringkali kita tidak menyadari bahwa infeksi pada kulit diakibatkan oleh tungau debu yang dikenal sebagai skabies. Jika anda memiliki debu, dimanapun di rumah anda, maka artinya anda memiliki tungau debu. Tungau ini berkembang dalam lingkungan yang hangat dan lembab. Karena makanan mereka adalah serpihan kulit mati dari manusia dan hewan peliharaan, maka tungau debu sering terdapat di daerah-daerah yang didiami oleh orang-orang dan hewan peliharaan. Kamar tidur dan kasur bisa menjadi tempat paling disukai oleh tungau debu. Hewan ini sebetulnya hanya menimbulkan masalah kecil bagi kita tetapi apabila seseorang memiliki alergi terhadap protein yang dibuang oleh hewan ini maka dapat menjadi masalah yang serius. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menjaga kebersihan lingkungan agar debu tidak menumpuk di dalam rumah sehingga kita dapat mencegah penyakit yang disebabkan oleh tungau debu ini. Di Indonesia, kasus scabies cukup tinggi ketika zaman penjajahan Jepang berlangsung. Penduduk pada masa itu kesulitan untuk memperoleh makanan, pakaian dan sarana kebersihan tubuh, sehingga kasus ini dengan cepat meluas dari anak-anak hingga orang dewasa (Partosoediono, 2003 dalam April H. Wardhana, et. al., dalam Wartazoa vol.16 No.1 th 2006). Sebanyak 915 dari 1008 orang terserang scabies di Desa Sudimoro, Kecamatan Turen, Malang dilaporkan oleh Poeranto et. al. (1997). Tungau jenis ini Tidak dapat terlihat dengan mata telanjang, karena ukuran tungau debu hanya 1/100 sampai 1/64 inci. Hewan ini berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Tungau ini khususnya yang betina membentuk terowongan untuk meletakkan telur yang akan menetas setelah 3-4 hari dan kemudian menjadi larva yang akan keluar ke permukaan kulit untuk kemudian setelah dewasa akan masuk kembali ke dalam kulit dengan menggali terowongan, biasanya disekitar folikel rambut untuk melindungi dirinya dan mendapat makanan, bagian yang paling sering diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang oleh tungau ini (http://www.smallcrab.com/kulit/703-penyakit-skabies-pada manusia). Skabies Skabies pada manusia banyak dijumpai pada daerah tropis terutama di kalangan anakanak di lingkungan pemukiman padat dengan tingkat higienitas rendah. Gejala klinis akibat masuknya tungau akan menimbulkan ruam-ruam dan rasa gatal yang parah terutama pada malam hari atau setelah mandi. (April H. Wardhana, et. al., dalam Wartazoa vol.16 No.1 th 2006)
Subbagian Publikasi dan Dokumentasi Arsip Nasional Republik Indonesia

Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit akan tampak menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau itu sendiri. Penyebab dari skabies ini adalah tungau (mange) dari ordo Acarina, yaitu Sarcoptes scabiei var. canis pada anjing, dan Sarcoptes scabiei var. felis pada kucing. Sedangkan, penyebab scabies pada manusia adalah Sarcoptes scabiei var. hominis. Antara Sarcoptes scabiei satu dengan yang lain memiliki struktur yang identik tetapi secara fisiologis berbeda. Oleh karena itu, Sarcoptes scabiei dapat berpindah dan hidup pada induk semang yang lain meskipun dengan susah payah. Sehingga scabies tergolong penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari manusia ke hewan atau sebaliknya. Di bawah ini adalah gambar dari suatu gejala alergi terhadap tungau. Pencegahan skabies dapat dilakukan dengan berbagai cara: Mencuci bersih, bahkan sebagian ahli menganjurkan dengan cara direbus, handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan. (http://www.smallcrab.com/kulit/703-penyakit-skabies-pada-manusia)

(Majalah ARSIP Edisi 55)

Referensi www.vet-indo.com/Kasus-Medis/Yang-Perlu-Anda-Tahu-tentang- Scabies.html Ditulis Achoiro Wati Rasid (Kamis, 14 Mei 2009. http://www.smallcrab.com/kulit/703-penyakit-skabies-pada-manusia Wartazoa vol.16 No.1 th 2006

Oleh

Subbagian Publikasi dan Dokumentasi Arsip Nasional Republik Indonesia