Anda di halaman 1dari 1

Angka Diare di Madiun Masih Tinggi

Sabtu, 31 Oktober 2009 14:12:26 WIB

Reporter : Rindhu Dwi Kartiko Madiun(beritajatim.com) - Angka diare penyakit yang ditandai perubahan konsistensi tinja dan peningkatan frekuensi berak di sebagian besar wilayah Kabupaten Madiun hingga saat ini masih tinggi. Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Upaya Kesehatan, Dinkes Kabupaten Madiun, Sulistyo Widyantono mengatakan, angka kejadian diare Kabupaten Madiun menurut pemantauan yang dilakukan dinkes tahun 2009 rata-rata mencapai per 1.110 penderita per bulan. Jumlah angka diare pada tahun ini per Agustus mencapai total 9.971 kejadian diare. Itu pun dipastikan belum semua penderita diare terdeteksi, karena yang tercatat hanya warga yang berobat ke puskesmas."Di sepanjang bulan pada tahun 2009, tiap bulan rata-rata 1.110 masyarakat yang datang ke Puskesmas untuk berobat. Puncaknya pada bulan April dan Mei lalu yang menembus angka 1.339 dan 1.244 penderita," ujar Sulistyo Widyantono, 31/10/2009. Selama 2009, kata Sulistyo Widyantono, 20 dari 25 puskesams yang tersebar diseluruh Kabupaten Madiun melaporkan kejadian diare di wilayahnya, lima puskesmas sudah tiga bulan terakhir belum melaporkan kejadian diare. "Data tersebut belum termasuk lima pusesmas yang belum menyetorkan data kejadian diaren di wilayahnya, seperti Puskesmas Dolopo, Pilangkenceng, Saradan, Mlilir Dan Sawahan," ujar Sulistyo Widyantono. Tingginya angka kejadian diare tersebut, kata Sulistyo Widyantono, utamanya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi yang buruk dan perilaku hidup tidak bersih. Mungkin juga akibat panjangnya musim kemarau di tahun 2009. Lebih lanjut Sulistyo Widyantono menjelaskan, guna menurunkan angka kejadian dan kematian akibat diare pihaknya memfokuskan strategi penanganan pada penatalaksanaan diare pada tingkat rumah tangga, sarana kesehatan dan kejadian luar biasa (KLB) diare. Selain itu dilakukan pula upaya pencegahan melalui promosi pemberian ASI dan Makanan Pendampingan ASI, penggunaan air bersih, penggunaan jamban, cuci tangan dan pembuangan tinja pada tempat yang tepat. Penatalaksanaan kasus diare yang tepat pada ketiga hal tersebut diharapkan dapat menurunkan fatalitas akibat penyakit. Namun, fenomena itu belum bisa dikategorikan sebagai KLB. Apalagi, belum ada catatan penderita diare murni yang meninggal dunia.[rin/ted]