Anda di halaman 1dari 4

Diare

Written by Akhmadi Published in: Kesehatan Comments 4 Pdf Print Email Sewaktu saya dan teman-teman mengikuti KKN 15 tahun yang lalu di daerah Serang Banten, terdapat outbreak diare di suatu wilayah. Saya berempat dengan teman-teman yang lain fakultas sehingga hanya 2 orang yang kebetulan dari kesehatan, tepatnya keperawatan dan farmasi dan 2 lagi dari fakultas ekonomi. Maka otomatis hanya 2 orang yang berasal dari kesehatan yang dapat secara langsung menangani. Tetapi bukan masalah meskipun demikian kami adalah sebuah tim, akhirnya berkat kerjasama dengan puskesmas serta tenaga kesehatan yang ada maka semua bisa diatasi. Korbannya 2 orang meninggal dari 30 orang yang terkena atau lebih tepatnya mereka terkena muntaber. Tetapi bahasan kali ini adalah tentang diare.

Penyakit diare menduduki urutan ketiga penyebab kematian setelah perinatal (23%) dan infeksi saluran pernafasan akut (18%). Kematian akibat diare mengalami peningkatan pada tahun 2002 sebanyak 15% dibandingkan tahun 2000 dan 2001 yang hanya 13%. Di Indonesia sebanyak 8,4/1.000 balita meninggal pada tahun 2002 (WHO, 2004). Pada tahun 2003 sebanyak 14.378 balita di Yogyakarta menderita diare, 3.074 diantaranya berasal dari Kota Yogyakarta.

Pengertian dan Tanda-tanda Tanda dari diare adalah adanya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari dengan konsistensi lebih cair sampai seperti air. Adapun tanda lainnya adalah seperti: kehilangan cairan dan elektrolit, mata cekung, haus, mulut kering, demam, letargis, dan kadang-kadang disertai muntah. Beberapa pengertian lain diare menurut beberapa ahli adalah keluarnya tinja air dan elektrolit yang hebat. Bayi dikatakan diare bila volume tinja lebih dari 15 gram/kg/24 jam dan pada anak usia 3 tahun volume tinja lebih dari 200 gram/24 jam. Volume tinja anak usia 3 tahun sama dengan volume tinja orang dewasa.( Nelson, 2000). Sedangkan ahli lain Robbins (1999)

memberi batasan kasar diare sebagai produksi tinja harian melebihi 250 gram, mengandung 70%-90% air, yang menyebabkan bertambahnya volume tinja dan frekuensi buang air besar.

Faktor Penyebab Berbagai faktor penyebab diare seperti: faktor infeksi, malabsorbsi, makanan, dan psikologis. Diare disebabkan oleh infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi: infeksi bakteri, virus, dan parasit.

Malabsorbsi yang dapat menyebabkan diare adalah malabsorbsi karbohidrat, lemak, atau protein. Alergi terhadap makanan, makan makanan basi atau beracun juga dapat menyebabkan diare. Kondisi psikologis yang dapat menyebabkan diare adalah rasa takut dan cemas, tetapi hal ini jarang menimbulkan diare pada anak-anak.

Klasifikasi Diare biasanya diklasifikan berdasarkan ada tidaknya infeksi serta lamanya diare. Diare berdasarkan akut dan kronisnya, diare akut yaitu diare karena infeksi usus yang bersifat mendadak, berhenti secara cepat atau maksimal berlangsung sampai 2 minggu, namun dapat pula menetap dan melanjut menjadi diare kronis. Hal ini dapat terjadi pada semua umur dan bila menyerang bayi biasanya disebut gastroenteritis infantil. Penyebab tersering pada bayi dan anakanak adalah intoleransi laktosa. Diare kronis yaitu diare yang berlangsung selama 2 minggu atau lebih. Sedangkan berdasarkan ada tidaknya infeksi, dibagi diare spesifik dan non spesifik. Diare spesifik adalah diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit. Diare yang disebabkan oleh makanan disebut diare non spesifik. Berdasarkan organ yang terkena, diare dapat diklasifikasikan menjadi diare infeksi enteral dan parenteral.

Penatalaksanaan Menurut Whaley and Wong (1996) penatalaksanaan diare pada balita difokuskan pada penyebab, keseimbangan cairan dan elektrolit, serta fungsi normal perut. Prinsipnya adalah mengganti cairan yang hilang (rehidrasi), tetap memberikan makanan, tidak memberikan obat anti diare (antibiotik hanya diberikan atas indikasi), dan penyuluhan. Penderita diare kebanyakan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus.

Serangan diare yang berulang akan mendorong penderita ke dalam keadaan malnutrisi oleh karena itu penatalaksanaan yang benar sangat dibutuhkan karena dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian, apalagi pada anak-anak. Selain itu keluarga dapat menjaga balita atau anak-anak dari diare dengan menjaga kebersihan lingkungan serta makanan. Selain itu bila sudah terkena maka keluarga dapat melakukan pertolongan dengan memberikan oralit atau campuran gula dan garam. Adapun cara membuatnya, yaitu: tuangkan air matang ke dalam gelas bersih (200 ml), ditambah 1 sendok teh munjung gula pasir dan sendok teh garam dapur, aduk sampai larut benar (Depkes RI, 1990). Cairan rumah tangga adalah cairan yang berasal dari makanan seperti bubur encer dari tepung, sup, air tajin, air kelapa muda, dan makanan yang diencerkan.

Akibat dan Komplikasi Diare dapat menyerang siapa saja tetapi yang paling berisiko tinggi: bayi, balita, dan anak yang dapat terjadi malnutrisi dan bila dehidrasi lebih berbahaya jika tidak diberikan cukup cairan untuk menggantikan cairan yang hilang yang berakibat kematian. Diare dapat mengakibatkan hilangnya sejumlah air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium. Kebanyakan penderita diare dapat sembuh tanpa mengalami kesulitan, tetapi apabila tidak dirawat dengan benar akan

mengalami komplikasi.

Menurut Broyles (1997) komplikasi diare ialah: dehidrasi, hipokalemia, hipokalsemia, disritmia jantung (yang disebabkan oleh hipokalemia dan hipokalsemia), hiponatremia, dan shock hipovolemik.

Pencegahan dan Penularan Diare dapat ditularkan secara fekaloral, yaitu diare dapat dipindahkan ke mulut melalui cairan atau benda yang tercemar oleh kotoran (misalnya: air minum yang kotor, tangan kotor, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air yang tercemar, dan sebagainya). Tindakan pencegahan terhadap diare dan penularannya yaitu dengan menjaga kebersihan perorangan ataupun umum terutama makanan serta lingkungan sekitar bagi keluarga dan masyarakat.