Anda di halaman 1dari 24

METODA PELAKSANAAN

Satuan Kerja PPK Paket Pekerjaan Lokasi Tahun Anggaran Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air Pompengan Jeneberang : Operasi dan Pemeliharaan SDA III : : Pemeliharaan Bendung Tinco : Kabupaten Soppeng : 2014

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI 1. RUANG LINGKUP PEKERJAAN 1 2 2 ERROR! BOOKMARK NOT DEFINED. 3

INFORMASI DATA PROYEK LINGKUP PELAKSANAAN PEKERJAAN 2. METODA PELAKSANAAN

I PEKERJAAN PERSIAPAN II PEKERJAAN PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA

A. PEKERJAAN RUMAH JAGA BENDUNG III PEKERJAAN JALAN INSPEKSI IV PEKERJAAN TEBING, TANGGUL DAN TALUD

3.

MANAJEMEN MUTU

KEBIJAKAN DAN SASARAN ORGANISASI PROYEK PENGENDALIAN MUTU PROYEK KONTROL MATERIAL KONTROL PADA PROSES KONTRUKSI KONTROL DOKUMEN 4. KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

1. KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN


PROGRAM KESELAMATAN

SISTEM MANAJEMEN BAHAYA PROGRAM KESEHATAN PROGRAM LINGKUNGAN 5. PENUTUP

PENGESAHAN RUANG LINGKUP PEKERJAAN

INFORMASI DATA PROYEK Pekerjaan fisik dalam paket perkerjaan ini terdiri dari : 1. Pekerjaan Persiapan Pekerjaan Persiapan terdiri dari ; 1. Pengukuran 2. Mobilisasi 3. 4. 2. Pelaporan / Dokumentasi Pembersihan

Pekerjaan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana A. Pekerjaan Rumah Jaga Bendung Pekerjaan Rumah Jaga Bendung terdiri dari ; 1. Pek. Pemasangan Lantai Keramik 2. Pek. Pintu Panil 3. Pekerjaan Atap 4. Pek. Pengecatan Tembok Bangunan 5. Pek. Pengecatan Kusen / Pintu

B. Pekerjaan Tebing, Tanggul dan Talud Pekerjaan Rumah Jaga Bendung terdiri dari ; 1. Pek. Timbunan Tanah 2. Pek. Timbunan Sirtu 3. Pek. Galian Tanah 4. Pek. Pasangan bronjong Pelaksanaan proyek adalah 150 (Seratus lima puluh) hari kalender.

| KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

3. METODA PELAKSANAAN
Metoda Pelaksanaan menentukan dari keberhasilan sebuah proyek diharapkan dengan adanya metoda baku pelaksanaan pekerjaan dapat menghasilkan proyek yang memuaskan sesuai dengan tuntutan proyek dan menjaga jadwal pelaksanan serta pengelolaan pembiayaan proyek. Seluruh langkah pekerjaan harus terjadwal dan terkoordinasi dengan baik. Master schedule akan diperinci kembali menjadi Skejul yang terbagi menjadi beberapa bagian pekerjaan sesuai dengan term kontrak dan dirinci menjadi Skejul Harian, Mingguan dan Bulanan. Jadwal atau kegiatan pekerjaan utama yang menjadi kegiatan khusus (misalnya pek. struktur dan pekerjaan atap dll) diperlakukan sebagai milestone yang memerlukan persetujuan konsultan pengawas kapan akan ditetapkan di dalam jadwal sehingga penjadwalan akan terkendali secara simultan pekerjaan yang menjadi kritikal path / work. Perlu dijaga Kritikal Path khusus pekerjaan utama saja. Kritikal poin lainnya yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini adalah koordinasi yang sinergi antara user dan konsultan pengawas dan kontraktor perihal jadwal pelaksanaan mengingat terbatasnya waktu pekerjaan harus parallel, detail gambar yang belum lengkap perlunya pemahaman yang cepat dan pengambil keputusan bila terjadi penafsiran yang berbeda dalam membaca term kontrak ataupun gambar bestek. Hal tersebut untuk menghindari kesalahan yang menyebabkan bangunan tidak berfungsi dengan maksimal atau terjadinya bongkar pasang pekerjaan. MC 0 yang menjadi tolok ukur pelaksanaan akan menjadi acuan bila terjadinya CCO. PEKERJAAN PERSIAPAN Pekerjaan persiapan merupakan langkah awal keberhasilan suatu proyek, dalam tahap persiapan sangat berpengaruh langsung pada pelaksanaan proyek selanjutnya dikarenakan dalam proses persiapan ini menunjukan kesiapan dan kemampuan suatu perusahaan dalam pengelolaan proyek. Tahapan persiapan terbagi menjadi 3 bagian utama meliputi hal hal dibawah ini.

L AN D S UR V E Y O R ( P EN G UK U R AN & P E M ET A AN )
Mengingat bahwa proyek ini merupakan rekondisi khususnya di pekerjaan pondasi yang merupakan daya dukung suatu bangunan perlu akurasi dalam pengukuran dan kecermatan dalam menentukan koordinat dan elevasi menjadi patokan dalam keberhasilan pembangunan proyek ini, bIla terjadi perbedaan antara gambar dan pelaksanaan di lapangan maka akan segera didiskusikan dengan pengawas lapangan dan user untuk diambil keputusan yang tepat.

MOBILIS ASI .
Tahap awal untuk proyek dapat terlaksana tentunya elemen-elemen pelaksanaan harus diadakan dan siap untuk bekerja. Tahapan ini termasuk dengan serah terima lapangan dengan pemilik pekerjaan, perijinan dan mobilisasi sumber daya. Di tahapan ini jadwal mobilisasi sudah harus fix dan menjadi pegangan pelaksana proyek. | METODA PELAKSANAAN 3

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Mobilisasi paling lambat harus sudah mulai dilaksanakan dalam waktu 30 (Tiga puluh) hari sejak diterbitkan SPMK yang meliputi ;- Mendatangkan peralatan-peralatan terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan.- Mempersiapkan fasilitas kantor, rumah, gudang dan sebagainya- Mendatangkan personil-personil- Mobilisasi peralatn terkait dan personil Penyedia Jasa dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan. Penyusunan Sumber Daya Manusia (SDM) / Organisasi Project adalah point interest dalam pekerjaan ini menyangkut strategi eksekusi dan planning yang akan dituangkan kedalam Skejul Lapangan dengan mengacu kepada Skejul Master sehingga milestone dan critical path pekerjaan sudah terencana dan bisa diminimalisir kesalahan yang akan terjadi baik dari segi biaya ataupun jadwal/waktu pelaksanaan. Akses mobilisasi material yang dibutuhkan perlu strategi jelas dan keputusan yang tepat, dalam pelaksanaan ini yaitu mengingat kondisi waktu yang sangat terbatas pekerjaan di atas yaitu dengan waktu 3 bulan, hal ini perlu perhatian yang serius kapan harus mulai ditentukan mobilitasnya sehingga tiba di site sesuai dengan skejul yang telah direncanakan (liha dalam sub penjelasan masing-masing pekerjaan dalam metode kerja ini) Aspek tahapan ini sangat berpengaruh terhadap kesinambungan pekerjaan kedepannya karena menunjukan kesiapan dari semua unsur yang terkait seperti Owner, Konsultan Pengawas dan Kontraktor.

P R O J E CT S I T E P L AN &F ASI LI T A S

P EN U N J AN G O P E RA SI O N A L

Fasilitas yang akan diadakan sebagai sarana penunjang operasional akan mencakup dan tidak terbatas pada hal dibawah ini : a. Fasilitas akomodasi bagi pelaksana proyek dan tenaga supaya tercapai efisiensi dari segi waktu perlu dibuatkan sarana pemondokan atau barak. Perhitungan dengan kuantitas yang akan berlangsung di lokasi pekerjaan diperlukan barak pekerja dengan ukuran minimum 4 m x 40 m untuk kapasitas maksimum 60 personnel/tenaga. Sementara untuk key personnel disediakan sarana akomodasi sekitar lokasi selain menghemat tenaga dan waktu juga efisien dalam budget perusahaan sementara kantor perwakilan / representative berada disekitar lokasi sebagai Korespodensi site dengan pusat. Direksi Keet sebagai kantor lapangan diperlukan untuk pengawasan dan site office dan meeting koordinasi yang rutin setiap minggu ataupun setiap bulannya. Direksi keet diperlukan dengan luasan minimum 4 m x 8 m ditunjang dengan sarana kursi dan meja dan buku tamu sebagai korespendensi di lapangan dalam menunjang kegiatan sehari-hari. Fasilitas penyimpanan material dan workshop adalah penunjang project untuk mengamankan peralatan kerja dari cuaca maka workshop minimum keperluan gudang sekitar 24 M2 dengan lahan untuk material curah ditempatkan sekitar bangunan yang tidak mengganggu akses mobilitas itu sendiri selain itu gudang / workshop harus dibuat sedemikian rupa tidak terganggu oleh cuaca dan aman terhadap bahaya-bahaya lainnya yang akan terjadi. Persiapan terpal harus terencana mengingat akan memasuki musim penghujan nantinya. 4

b.

c.

| METODA PELAKSANAAN

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

d.

Sarana Air bersih dan drainase serta penerangan kerja diperlukan untuk mengantisipasi pekerjaan malam bila diperlukan dan penerangan keseharian yang diperlukan. Keamanan sangat diperlukan mengingat lahan yang luas dan terbuka akan memudahkan hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi. Perlunya koordinasi dengan pihak berwenang dan warga setempat sangat dibutuhkan Administrasi dan dokumentasi sebagai bahan pelaporan harian mingguan dan bulanan.

e.

f.

PELAPORAN Laporan Kemajuan Pelaksanaan Untuk mendukung kelengkapan data administrasi teknik, maka penyedia jasa harus menyediakan laporan harian, mingguan dan bulanan atau pada suatu waktu yang ditentukan Direksi. Laporan dibuat setiap hari dengan mencatat pekerjaan yang dilaksanakan dalam hari-berjalan terhitung pada saat adanya SPMK. Laporan harian berisi tentang jenis pekerjaan, volume pekerjaan yang dicapai setiap hari lengkap dengan perhitungan dan gambar typicalnya, cuaca, jumlah tenaga, alat yang digunakan serta jumlah dan jenis bahan yang digunakan. Laporan mingguan berisi tentang rekapan laporan harian 1 Laporan bulanan berisi tentang rekapan laporan harian dan laporan mingguan, selain itu juga berisi volume pekerjaan bulan lalu Penyedia Jasa harus menyerahkan 2 (Dua) salinan laporan Kemajuan Bulanan dalam bentuk yang bisa diterima oleh Direksi, yang menggambarkan secara detail kemajuan pekerjaan selama bulan yang terdahulu. Laporan sekurang-kurangnya harus berisi hal-hal sebagai berikut : i) Prosentase kemajuan pekerjaan berdasarkan kenyataan yang dicapai pada bulan laporan maupun prosentase rencana yang diprogramkan pada bulan berikutnya. ii) Prosentasi dari tiap pekerjaan pokok yang diselesaikan maupun prosentase rencana yang diprogramkan harus sesuai dengan kemajuan yang dicapai pada bulan laporan. iii) Rencana kegiatan dalam waktu dua bulan berturut-turut dengan ramalan tanggal permulaan dan penyelesaiannya. iv) Daftar tenaga setempat v) Daftar perlengkapan konstruksi, peralatan dan bahan dilapangan yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan termasuk yang sudah datang dan dipindahkan dari lapangan. vi) Jumlah volume pekerjaan merupakan bagian Pekerjaan tetap harus diuraikan sebagai berikut : a) Jumlah volume untuk berbagai pekerjaan beton b) Jumlah volume dari berbagai pekerjaan galian dan timbunan c) Jumlah volume dari bahan perkerasan jalan yang digunakan d) Jumlah banyaknya bangunan, dll. vii) Uraian pokok pekerjaan sementara yang dilaksanakan selama masa laporan. | METODA PELAKSANAAN 5

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

viii) Daftar besarnya pembayaran terakhir yang diterima dan kebutuhan pembayaran yang diperlukan bulan berikutnya. ix) Hal-hal lain yang diminta sesuai dengan kontrak, dan masalah yang timbul atau berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan selama bulan laporan.

DOKUMENTASI Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi foto-foto yang dibuat oleh tukang yang berpengalaman. Foto-foto harus berwarna dan ditujukan sebagai laporan / pencatatan tentang pelaksanaan yaitu pada awal pertengahan dan akhir suatu bagian tertentu dari pekerjaan yang diperintahkan oleh Direksi. Pada setiap tahap pengambilan gambar untuk tiap lokasi, pengambilan harus dari titik dan arah yang sama dan yang sudah ditentukan sebelumnya. Bilamana mungkin maka pada latar belakang supaya diusahakan adanya suatu tanda khusus untuk memudahkan mengenali lokasi tersebut. Foto negatif dan cetakannya tidak boleh diubah atau ditambah apapun. Sebelum pengambilan gambar-gambar, maka harus dibuat rencana / denah yang menunjukkan lokasi, posisi dari kamera juga arah bidikan yang kemudian diserahkan kepada Direksi untuk disetujui. Tiap foto berukuran 120 mm x 90 mm dan diberi catatan sebagai berikut : Nama - Detail Kontrak - Nama Bangunan atau Lokasi Tanggal Pengambilan - Tahap Pelaksanaan Berita Acara Pembayaran dan Laporan Bulanan harus dilengkapi dengan suatu set pilihan foto-foto yang bersangkutan dengan periode tersebut. Juga pada akhir pelaksanaan Kontrak, maka foto-foto harus diserahkan kepada Direksi dalam album-album. Foto-foto ditempelkan dalam album secara beraturan menurut lokasinya masing-masing. Tiap obyek harus lengkap tahapnya yakni 0%, 50% dan 100% dan ditempel pada satu halaman. Penyerahan dilakukan sebanyak 6 (enam) ganda bersama 1 (satu) ganda Album negatifnya atau (CD). Tiap album dan juga yang berisi negatif harus diberi keterangan atau tanda sama untuk memudahkan mengidentifikasi negatif dan cetakannya. Semua album menjadi milik Pemberi Tugas dan tanpa ijinnya tidak boleh diberikan/ dipinjamkan kepada siapapun. Foto dokumentasi dilakukan pada saat pelaksanaan pekerjaan telah mencapai bobot 0%, 50% dan 100% untuk suatu titik atau lokasi pengambilan foto yang sama. Foto 0% adalah diambil pada saat pekerjaan belum dimulai yang dipakai untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari lokasi yang akan dikerjakan oleh penyedia jasa. Foto 50% adalah foto yang diambil untuk melihat kondisi lapangan yang sebenarnya pada kondisi 50%. Foto 100% adalah foto yang diambil untuk melihat kondisi akhir pekerjaan yang telah selesai

PEKERJAAN PEMBERSIHAN Pembersihan lahan tidak semata-mata menghilangkan ganguan-gangguan fisik areal seperti akar pohon atau batu-batu besar atau bangunan lama saja tetapi lebih mendalam lagi adalah tanah jelek ( humus )./ gambut Secara teknis tanah jelek/gambut harus dibuang keluar karena akan mempengaruhi daya dukung tanah untuk pondasi. Maka perlu penanganan khusus dalam pembersihan area bangunan yaitu dengan membuang tanah yang jelek sampai kedalaman 10 - 15 cm.

| METODA PELAKSANAAN

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Yang menjadi kritikal poin adalah area pembuangan yang perlu dicermati karena bagaimanapun tanah jelek yang akan di keluarkan. perlu lahan luas yang dapat menampung menjadi perhatian khusus dalam pelaksanaan ini Pembersihan area site tidak terjadi hanya di awal pekerjaan saja tetapi secara berkala dan menjadi kegiatan rutinitas proyek itu sendiri Semua hasil pembongkaran/pembersihan tersebut dibuang ketempat yang telah ditunjuk oleh Direksi. Perlunya penataan lokasi untuk tempat pembuangan sementara baik puing atau sampah sangat diperlukan dimana rutinitas atau kegiatan proyek tidak terganggu oleh penumpukan-penumpukan yang tidak beraturan .

PEKERJAAN PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA PEKERJAAN RUMAH JAGA BENDUNG PE KER JAA N PE M A SAN G AN L AN T AI KER A MI K 1) Sebelum pemasangan keramik dilakukan, terlebih dahulu ditimbun dengan tanah, dipadatkan kemudian dilapis beton tumbuk dengan campuran 1:3:6. 2) Pekerjaan lantai keramik dipasang dengan adukan 1 Pc : 4 Ps, tebal adukan minimal 5 cm. 3) Celah (nut) antara lain lebarnya lebih kurang 2 mm, setelah pemasangan telah cukup kering disiram pasta semen (warna disesuaikan), kemudian dibersihkan. Keramik yang cacat atau pecah tidak boleh dipasang. 4) Pada prinsipnya pemotongan harus dihindari, bila terpaksa harus dipotong, maka potongan tersebut tidak boleh dari ukurannya. Pemotongan harus dilaksanakan dengan hati hati dan rapi. 5) Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, Kontraktor harus mengadakan persiapan yang baik, terutama ketika pemadatan tanah dan pelapisan beton tumbuk. Semua saluran pipa dan saluran dibawah lantai harus diatur dan ditempatkan dengan baik agar pada saat pekerjaan lantai dilaksanakan tidak mengganggu 6) Sebelum pelaksanaan kontraktor harus mengajukan skem warna atau berdasarkan merk yang akan digunakan. Skem warna, merek dagang, type diusahakan yang ada di pasaran supaya mudah dalam maintenance dikemudian hari. 7) Yang dilaksanakan dalam proyek ini kontraktor mengambil sceme warna yang telah diarahkan dalam bestek 8) Sceme warna keramik yang ada dalam bestek adalah cream light.atau putih atas persetujuan direksi. 9) Keramik yang dipakai adalah keramik dengan kwalitas KW I dimana presisi siku tidak melebihi 1 mm, permukaan dengan bahan porselein yang dibakar pada suhu 2000. Bidang keramik tidak boleh cekung atau cembung, sebelum kontraktor membuat PO harus mendapatkan persetujuan pihak direksi lapangan 10) Sebelum pelaksanaan kontraktor mengajukan gambar kerja atau shop drawing dengan keadaan atau kondisi ruangan yang sebenarnya, hal ini dilakukan untuk menentukan dan menyamakan persepsi starting point (kepala-an) keramik.

| METODA PELAKSANAAN

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

11) Kemudian dengan ditarik benang ditentukan posisi siku keramik terhadap siku bangunan. Potongan keramik diusahakan bila terjadi bagian keramik, hal ini lebih mengutamakan estetika. 12) Nat keramik atau sambungan diisi oleh pasta semen grout khusus keramik. 13) Keramik yang dipasang tidak boleh kopong / kosong bila terjadi hal itu kontraktor akan mengisi dengan pasta semen dengan cara dipukul-pukul pasta cair mengisi pori-pori keramik yang kosong atau konsultasi dengan pihak direksi lapangan untuk dicarikan solusi terbaik. PE KER JAA N K US EN JEN DEL A/ PIN TU PAN IL 1) Sebelum memulai pelaksanaan, Kontraktor diwajibkan meneliti gambar dan kondisi lapangan serta membuatgambar ShoDrawing. 2) Tipe Pintu/Jendela yang terpasang harus sesuai daftar tipe yang tertera dalam Gambar dengan memperhatikan ukuran-ukuran, Bentuk Profil, Material, Detail Arah Bukaan dan lain-lain, ataua dengan petunjuk direksi 3) Semua ukuran dan bentuk kusen maupun daun pintu,jendela, bovenlicht yang tercantum dalam gambar kerjaadalah ukuran jadi 4) Disyaratkan dipasang angker/fisher pada kusen pintu, jendela dan bovenlicht Jumlah angker/fisher minimal 2 (dua) buah untuk kusenjendela dan bovenlicht, minimal 3 (tiga) buah untuk kusenpintu dan masing-masing kusen terluar. Ukuran dan jarakpenempatan sesuai dengan Gambar Kerja atau petunjukKonsultan Pengawas/Direksi. 5) Disayaratkan pula dibuat alur air pada sisi sebelah luarkusen pada dua batang kusen vertical dan sebuah batangkusen bagian bawah; untuk kusen pintu, jendela, maupunbovenlicht. 6) Sambungan-sambungan pertemuan dan sudut harusbenar-benar tegak lurus, kokoh dan tidak dapat digerakgerakkan,serta pengerjaannya harus rapi sesuai gambarkerja atau petunjuk konsultan pengawas/Direksi.Setiap bagian dari pekerjan ini yang buruk, tidakmemenuhi persyaratan seperti yang tertulis dalam Buku inimaupun tidak sesuai dengan Gambar Kerja, ketidakcocokan, kesalahan maupun kekurangan lain akibatkelalaian dan ketidak telitian Kontraktor dalam GambarPelelangan; dan atau perbaikan finish yang tidakmemuaskan akan ditolak dan harus diganti hingga disetujui Konsultan Pengawas/Direksi.Perbaikan, Perubahan, dan Penggantian harusdilaksanakan atas biaya Kontraktor dan tidak dapat diklaim sebagai pekerjaan tambah, maupun penambahanwaktu. 7) Bahan Kusen terbuat dari kayu Kelas I yg memenuhi standar, kayuyang digunakan tidak boleh lapuk harus kering terhindarBahan dari rayap 8) Rangka Pintu Panel, Bahan kayu harus memenuhi persyaratan baik tebal dan lebar yang disyaratkan sesuaidengan gambar bestek. Seluruh sambungan kayu pada kusen dan daun Pintu,jendela, harus menyudut, rapih, sesuai gambar rencana. 9) Seluruh Kunci menggunakan kunci tanam dengan sistimpenguncian ganda (double slaag) setaraf ROYAL dengan kualitas baik (SII) Penggantung daun pintu Menggunakan engsel kupu-kupu ukuran 10 cm dengan tebal 1,2 mm, Penggantung daun Jendela menggunakan Engsel Kupu-kupu ukuran 5 Cm dengan ketebalan 1,2 mm produksi dalam negeri dengan kualitas baik,sebanyak 2 (dua) buah untuk setiap daun jendela. 10) Semua bahan kusen mengacu pada persyaratanPekerjaan kayu SNI | METODA PELAKSANAAN 8

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

PE KER JAA N A TAP 1) Sebelum pelaksanaan rangka Atap dilaksanakan,pelaksana wajib memberikan soft drawing yang sesuaidengan gambar rencana untuk disetujui pihak direksi dankonsultan perencana 2) Pembuatan dan pemasangan rangka Atap dan bahan lain terkait harusdilaksanakan sesuai gambar design yang telah dihitung 3) Semua detail dan hubungan harus dipasang sesuai dengan gambar kerja. 4) Seluruh kelengkapan atau barang dan pekerjaan lain yang diperlukan demi kesempurnaan pemasangan (walaupun) tidak secara khusus diperlihatkan dalam gambar ataupun dipersyaratkan di RKS ini) harus diadakan/ disediakan/dikerjakan. 5) Pihak kontraktor harus menjamin kekuatan dan ketahanan semua struktur yang dipakai untuk tumpuan kuda-kuda berdasarkan spesifikasi desain dan pembebanan yang telah disepakati. Berkenaan dengan hal itu, pihak Konsultan Perencana struktur berhak meminta informasi mengenai reaksi perletakan kuda- kuda. 6) Semua bahan Rangka atap menggunakan kayu kls II, Semua bahan baja harus memenuhi standard mutu kayu dan Setiap sambungan kayu harus kuat bila diperlukan menggunakan baut sebagai pengunci sesuai GambarKerja. 7) Penutup atap menggunakan Seng gelombang sejenis (SWG 28 0.38 mm). 8) Semua bahan yang digunakan dalam pekerjaan ini harus diperoleh dari leveransir yang dikenal dan disetujui oleh Konsultan Pengawas/Direksi. Semua bahan tersebut harus lurus, rata permukaan tidak cacat.

PE KER JAA N PE N GEC AT AN TE MB O K/K A YU

1) Semua cat dasar harus disapukan dengan kuas.Pelaksanaan pekerjaan pengecatan cat dasar untuk komponen bahan metal, harus dilakukan sebelum komponen tersebut terpasang 2) Pekerjaan Pengecatan dinding/permukaan pasangan batubata, beton dan plafond.Semua dinding/permukaan pasangan batu/beton yang tampak/exposed seperti tercantum dalam Gambar Kerja. 3) Pekerjaan Pengecatan Kayu Semua kayu yang terpasang baik yang termasuk pekerjaan kayu halus maupun kayu kasar seperti tercantum dalam gambar kerja sesuai ketentuan sebagai berikut : - Semua bagian/permukaan yang tampak/exposed dicat sampai dengan cat finish yang diperinci lebih lanjut sebagia berikut : - Cat finish warna untuk permukaan yang tidak ditonjolkan serat kayunya - Cat finish jenis clear untuk permukaan yang ditonjolkan serat kayunya sesuai dengan ketentuan di Gambar Kerja. - Semua permukaan yang tidak ditampakkan/unexposed dicat hanya sampai dengan cat dasar.

| METODA PELAKSANAAN

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

4)

5)

6) 7) 8) 9)

- Khusus untuk konstruksi dan rangka atap yang tidak ditampakkan dilakukan dengan residu (ketentuan initidak berlaku). Hasil pekerjaan yang tidak disetujui KonsultanPengawas/Direksi harus diulang dan diganti. Kontraktorharus melakukan pengecatan kembali bila ada cat dasaratau cat finish yang kurang menutupi atau lepas,sebagaimana ditunjukkan Konsultan Pengawas/ Direksi.Biaya untuk hal ini ditanggung Kontraktor, tidak dapatdiklaim sebagai pekerjaan tambah. Pekerjaan Pengecatan Dinding Permukaan yang akan dicat harus dikeringkan dahulubebas dari minyak, kotoran, kapur dan kontaminasi-kontaminasi lainnya yang tidak diinginkan. Apabila permukaan memakai dempul maka hasil dempulan harus sudah dalam keadaan halus dan bersih dari debu dankotoran. Bahan dari kualitas utama, tahan terhadap udara dan garam. Produk cat-cat kayu/besi setaraf SEIV. Dempul yang digunakan harus satu produk dengan cat yang digunakan. Bahan cat dinding jenis Emulsion setaraf MOWILEX,dempul yang digunakan harus satu produk. Bahan didatangkan langsung dari toko. Tiba di Tapak/Sitekonstruksi masih harus tersegel baik dalam kemasannyadan tidak cacat, serta disetujui KonsultanPengawas/Direksi. Peralatan seperti : Kuas, Roller, Sikat kawat, Kape, dan sebagainya; l harus tersedia dari kualitas baik dan jumlahnya cukup.

L API S PEN E TR A SI M AC ADAM Persiapan Lapangan Permukaan yang diperbaiki dengan Penetrasi Macadam harus disiapkan seperti di bawah ini : 1) Profil memanjang atau melintang harus disiapkan menurut rancangan potong-an melintang. 2) Permukaan harus bebas dari benda-benda yang tidak diinginkan seperti debu dan bahan lepas lainnya. Lubang- lubang dan retak-retak harus diperbaiki 3) Permukaan aspal lama harus diberikan Lapis Perekat sesuai dengan ketentuan dalam Seksi 6.1 dari Spesifikasi umum, sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Penghamparan dan Pemadatan 4) Umum Agregat dan aspal harus tersedia di lapangan sebelum pekerjaan dimulai.Kedua bahan tersebut harus dijaga dengan hati-hati untuk menjamin bahwa bahan tersebut bersih dan siap digunakan.Selama pemadatan agregat pokok dan agregat pengunci, kerataan permukaan harus dipelihara.Bilamana permukaan yang telah dipadatkan tidak rata, maka agregat harus digaru dan dibuang atau agregat ditambahkan seperlunya sebelum dipadatkan kembali.

| METODA PELAKSANAAN

10

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

5) Temperatur penyemprotan aspal harus sesuai dengan Tabel 6.6.5.(1) JENIS ASPAL 60/70 Pen. 80/100 Pen. Emulsi Aspal Cair RC/MC 250 Aspal Cair RC /MC 800 TEMPERATUR PENYEMPROTAN (0C) 165 175 155 165 kamar, atau sebagaimana petunjuk pabrik 80 90 105 -115

6) Penghamparan dan Pemadatan Agregat Pokok Truk penebar agregat harus dijalankan dengan kecepatan yang sedemikian hingga kuantitas agregat adalah seperti yang disyaratkan dan diperoleh permukaan yang rata. 7) Pemadatan awal harus menggunakan alat pemadat 6 - 8 ton yang bergerak dengan kecepatan kurang dari 3 km/jam. Pemadatan dilakukan dalam arah memanjang, dimulai dari tepi luar hamparan dan dijalankan menuju ke sumbu jalan. Lintasan penggilasan harus tumpang tindih (overlap) paling sedikit setengah lebar alat pemadat. Pemadatan harus dilanjutkan sampai diperoleh permukaan yang rata dan stabil (minimum 6 lintasan). 8) Penyemprotan Aspal diatas Agregat PokokTemperatur aspal dalam distributor harus dijaga pada temperatur yang disyaratkan untuk jenis aspal yang digunakan. Temperatur penyem-protan dan takaran penyemprotan harus disetujui oleh Direksi Peker-jaan sebelum pelaksanaan dimulai dan harus memenuhi rentang yang disyaratkan masing-masing dalam Tabel 6.6.5.(1) dan 6.6.3.(1). 9) Penebaran dan Pemadatan Agregat Pengunci ; Segera setelah penyemprotan aspal, agregat pengunci harus ditebarkan pada takaran yang disyaratkan dan dengan cara yang sedemikian hingga tidak ada roda yang melintasi lokasi yang belum tertutup bahan aspal. Takaran penebaran harus sedemikian hingga, setelah pemadatan, rongga-rongga permukaan dalam agregat pokok terisi dan agregat pokok masih nampak. 10) Pemadatan agregat pengunci harus dimulai segera setelah penebaran agregat pengunci dan harus seperti yang diuraikan dalam Pasal 6.6.5(2)(b)(i) Bilamana diperlukan, tambahan agregat pengunci harus ditambahkan dalam jumlah kecil dan disapu perlahan- lahan di atas permukaan selama pemadatan. Pemadatan harus dilanjutkan sampai agregat pengunci tertanam dan terkunci penuh dalam lapisan di bawahnya. Penyemprotan Aspal diatas Agregat Pengunci (bilamana digunakan Agregat Penutup) 11) Penebaran dan Pemadatan Agregat Penutup (untuk Lapis Permukaan). ; Segera setelah penyemprotan aspal, agregat penutup harus ditebarkan pada takaran yang disyaratkan dan dengan cara yang sedemikian hingga tidak ada roda yang melintasi lokasi yang belum tertutup bahan aspal. 12) Pemadatan agregat penutup harus dimulai segera setelah penebaran agregat penutup. Bilamana diperlukan, tambahan agregat penutup harus ditambahkan dalam jumlah | METODA PELAKSANAAN 11

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

kecil dan disapu perlahan-lahan di atas permukaan sehingga seluruh rongga-rongga dalam permukaan agregat pengunci terisi selama pemadatan. Pada saat penyelesaian pemadatan, kelebihan agregat penutup harus disapu dari permukaan.

PE KER JAA N T IM B UN AN TAN A H 1) Penimbunan dilaksanakan secara lapis perlapis dengan ketebalan hampar sesuai dengan spesifikasi alat yang digunakan. Bila tidak ada instruksi lain dari Direksi maka Penyedia Jasa wajib menggunakan tanah hasil galian untuk penimbunan tanah isian. Bila material tanah hasil galian bangunan tidak cukup maka Kotraktor dibolehkan menggunakan material timbunan dari luar (borrow area) atas ijin Direksi.CuacaTimbunan tidak boleh dilaksanakan pada waktu hujan karena kadar air dalam material tersebut melewati kadar air optimum yang disyaratkan 2) Penyeiapan Tempat Kerja Sebelum melaksanakan timbunan pada lokasi harus bersih dari material yang tidak dipakai, harus diratakan terlebih dahulu Penghamparan dan PemadatanSebelum bahan-bahan untuk lapisan pertama timbunan ditempatkan, terlebih dahulu harus dibersihkan atau harus dibasahi atau dikeringkan dan dipadatkan dengan suatu cara yang ditentukan berikut ini untuk pemadatan timbunan yang ditempatkan diatasnya.Sebelum memulai pekerjaan timbunan, Penyedia Jasa harus mengadakan pengujian lapangan dibawah pengawasan langsung dari Pengguna Jasa, untuk menentukan kondisi pemadatan optimum serta jumlah gilasan/tumbukan minimum dari tipe peralatan yang diperlukan.Biaya untuk melakukan pengujian harus dimasukkan dalam harga satuan untuk timbunan dalam Daftar Kuantitas dan Harga. 3) Bahan-bahan harus dihamparkan dan dipadatkan dalam lapisan- lapisan mendatar dengan ketebalan yang seragam serta dengan suatu ketebalan padat yang tidak melebihi 20 cm atau sebagaiman diperintahkan oleh Pengguna Jasa. 4) Pelaksanaan pengambilan dan penempatan bahan-bahan harus sedemikian rupa sehingga pada waktu dipadatkan harus terikat dengan baik untuk menjamin adanya berat isi, dalam keadaan kering yang tertinggi dan kerapatan tertinggi serta stabilitasi timbunan. Jika permukaan sesuatu lapisan timbunan yang telah dipadatkan ditempat ternyata terlalu basah untuk dilakukan pemadatan pada lapisan berikutnya yang dihamparkan diatasnya, maka lapisan tersebut harus dikupas/dikeluarkan, kemudian dibiarkan mengering atau ditoreh untuk mengeluarkan kelebihan airnya sampai jumlah yang diperlukan, dan selanjutnya dipadatkan kembali sebelum lapisan pengganti berikutnya ditempatkan. Kandungan air dalam tanah harus diawasi dengan cermat dengan menggunakan cara pengeringan alam atau pembasahan dengan penyemprot yang halus. Jika bahan tersebut telah memenuhi persyaratan seperti ditentukan diatas, lapisan baru harus dipadatkan dengan mesin pemadat atau mesin penumbuk dan alat pemadatan lain sesuai dengan keadaan tanahnya, untuk mencapai tingkat kepaadatan yang ditentukan. Sebelum memulai penimbunan, peralatan pemadatan yang digunakan harus disetujui Pengguna Jasa 5) Pemadatan timbunan khusus terdiri dari bahan-bahan yang telah disetujui dihampar dalam tiap-tiap lapisan yang datar dan ketebalan merata ( 25 cm) dengan kemiringan keluar, dan kemudian dipadatkan sehingga tebal setelah padat tidak boleh lebih dari 20 cm. | METODA PELAKSANAAN 12

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Kandungan air dari tanah timbunan harus dijaga sedemikian baik secara pengeringan alami atau dengan pembasahan memakai alat semprot. Pemadatan harus menggunakan mesin giling, alat pemadat, penggetar atau peralatan lainnya yang disetujui sehingga menghasilkan kepadatan tidak kurang dari 95% dari pemadatan kering yang dilaksanakan menurut SNI 0.3-2832-1990 Test 11. 6) Apabila menurut pendapat Direksi, hasil pemadatan kering yang dilaksanakan sesuai dengan keadaan lapangan lebih kecil dari 95% dari pemadatan kering yang dilaksanakan menurut SNI 0.3-2832- 1990 test 11 sekalipun Penyedia Jasa telah mengikuti semua langkah yang tercantum dalam spesifikasi, maka direksi atas pendapatnya dapat menerima tidak kurang dari 90% dari pemadatan kering maksimum untuk pemadatan khusus pada timbunan ini. Pengujian kepadatan menurut SNI 0.3-2832-1990 akan sering dilakukan oleh Direksi selama pemadatan berlangsung.Pada setiap akhir jam kerja setiap hari, atau bilamana pelaksanaan ditangguhkan karena suatu hal, permukaan timbunan harus licin dan agak miring untuk mengalirkan air. 7) Kemiringan timbunan setelah pekerjaan penyerongan harus dipadatkan dengan mesin penumbuk atau cara-cara yang disetujui 8) BahanBahan yang diperlukan untuk timbunan dapat diperoleh dari galian saluran-saluran, dan bangunan-bangunan, atau menggunakan material timbunan dari luar (borrow area) sesuai dalam kontrak atau petunjuk direksi

PE KER JAA N T IM B UN AN SIR TU Penyiapan tempat kerja 1) Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan sesuai Spesifikasi ini. 2) Kecuali untuk daerah tanah lunak dan tidak sesuai atau tanah rawa, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan seluruhnya (termasuk penggemburan dan pengeringan atau pembasahan bila diperlukan) sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar pondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan untuk Timbunan yang ditempatkan di atasnya. 3) Bilamana timbunan akan dibangun di atas permukaan tanah dengan kelandaian lereng lebih dari 10%, ditempatkan di atas permukaan lama atau pembangunan timbunan baru, maka lereng lama akan dipotong sampai tanah yang keras dan bertangga dengan lebar yang cukup sehingga memungkinkan peralatan pemadat dapat beroperasi. Tangga-tangga tersebut tidak boleh mempunyai kelandaian lebih dari 4% dan harus dibuatkan sedemikian dengan jarak vertikal tidak lebih dari 30 cm untuk kelandaian yang kurang dari 15% dan tidak lebih dari 60 cm untuk kelandaian yang sama atau lebih besar dari 15%. 4) Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif. Penghamparan Timbunan 5) Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif. | METODA PELAKSANAAN 13

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

6) Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.1.3). Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin dibagi rata sehingga sama tebalnya. 7) Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan. Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan biasanya tidak diperkenankan, terutama selama musim hujan. 8) Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, lereng timbunan lama harus disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan lereng dan harus dibuat bertangga (atau dibuat bergerigi) sehingga timbunan baru akan terkunci pada timbunan lama sedemikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan jalan lama sehingga bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan lainnya bilamana diperlukan. Pemadatan Timbunan 9) Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.4. 10) Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1% di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI 03-1742-1989. 11) Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu tersebut. Lapis penutup ini harus dilaksanakan sampai mencapai kepadatan timbunan tanah yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.4.2) di bawah. 12) Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disyaratkan, diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan berikutnya dihampar. 13) Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjaan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut. 14) Bahan untuk timbunan pada tempat-tempat yang sulit dimasuki oleh alat pemadat normal harus dihampar dalam lapisan mendatar dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis 7)Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas, harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih | METODA PELAKSANAAN 14

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat statis minimum 10 kg. Pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga-rongga dan untuk menjamin bahwa pipa terdukung sepenuhnya. 15) Timbunan Pilihan Berbutir di atas Tanah Rawa Bahan timbunan pilihan di atas tanah rawa dan untuk keadaan di mana penghamparan dalam kondisi jenuh atau banjir tidak dapat dihindarkan haruslah batu, pasir atau kerikil atau bahan berbutir bersih lainnya dengan Index Plastisitas maksimum 6 % (enam persen).

PE KER JAA N GAL I AN TA N AH

1) Pelaksanaan Galian tanah dapat digali dengan tenaga manusia atau yang telah disetujui oleh direksi, Tanah galian yang telah ditentukan dalam daftar kuantitas dan harga atau lokasi saluran yang ditentukan oleh direksi harus dibuang diluar saluran atau tanggul atau disuatu tempat yang ditentukan oleh direksi.Luasnya penggalian harus sekecil mungkin menurut Direksi, untuk pekerjaan bangunan. 2) Penggalian dimulai dari muka tanah dengan harus mengambil lebar yang cukup sesuai gambar atau ditentukan lain oleh Direksi.Perbaikan /pembangunan saluran terbuka dan saluran tertutup (pipa) harus dibatasi panjangnya dan harus mendapat persetujuan Direksi lebih dahulu secara tertulis. Kecuali persetujuan secara nyata dari Direksi, pekerjaan pada setiap panjang yang sudah disetujui harus diselesaikan dan memuaskan Direksi, sebelum pekerjaan selanjutnya dimulai.Jika 3) Penyedia Jasa menjumpai sesuatu bahan yang menurut pendapatnya mungkin tidak baik, dia harus segera memberitahukan secara tertulis kepada Direksi, yang akan memberi petunjuk kepada Penyedia Jasa apakah bahan tersebut akan ditentukan sebagai bahan jelek atau baik. 4) Biaya yang berhubungan dengan bahan yang jelek itu harus menjadi beban Penyedia Jasa untuk memenuhi Spesifikasi termasuk menjaga agar galian bebas dari air.Persetujuan Direksi untuk hal-hal di atas tidak dapat dipakai untuk menghilangkan tanggung jawab Penyedia Jasa apabila terdapat kegagalan di dalam melaksanakan bangunan pada tanah jelek, Tanah dari galian tersebut dapat digunakan kalau menurut pertimbangan direksi dan dapat dipertanggung jawabkan secara teknik. Kontraktor harus menyiapkan rencana pelaksanaan pekerjaan galian tanah untuk setiap bagian dari pekerjaan dengan detail lokasi da program Setiap material yang berlebih untuk kebutuhan timbunan maka bahan timbunan tersebut harus dibuang oleh Penyedia Jasa dari lokasi yang ditentukan oleh Pengguna Jasa 5) Penyedia Jasa harus bertanggungjawab untuk seluruh pengaturan dan biaya pembuangan material yang berlebih tersebut termasuk biaya pengangkutan dan perolehan ijin dari pemilik tanah dimana pembuangan dilakukan. 6) Penyedia Jasa dalam melaksanakan galian harus diusahakan cukup aman dari longsoran dan bila diperlukan diberikan alat- alat penyangga. 7) Pekerjaan galian tanah yaitu : galian endapan, galian tanah biasa, galian tanah bercampur sirtu, dan galian tanah bercampur batu yang digunakan secara Manual. 8) Kontraktor harus melakukan semua kegiatan pekerjaan galian tanah sesuai garis dan elevasi asli yang tertera dalam gambar atau sesuai garis dan elevasi yang | METODA PELAKSANAAN 15

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

ditunjukkan dan atas perintah direksi, apabila pekerjaan galian tanah telah dilakukan kontraktor harus memberi tahukan kepala direksi sehingga dapat diadakan pemeriksaan.

PEM A SAN GAN BR ON J O N G

1) Persiapan Galian harus memenuhi ketentuan dari Bagian Pekerjaan Galian, termasuk kunci pada tumit yang diperlukan untuk pasangan batu kosong dan bronjong. Landasan harus dipasang sesuai dengan ketentuan. Seluruh permukaan yang disiapkanharus disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebelum penempatan pasangan batu kosong atau bronjong. 2) Penempatan Bronjong dengan Keranjang bronjong harus dibentangkan dengan kuat untuk memperoleh bentuk serta posisi yang benar dengan menggunakan batang penarik atau ulir penarik kecil sebelum pengisian batu ke dalam kawat bronjong. Sambungan antara keranjang haruslah sekuat seperti anyaman itu sendiri. Setiap segi enam harus menerima paling sedikit dua lilitan kawat pengikat dan kerangka bronjong antara segi enam tepi paling sedikit satu lilitan. Paling sedikit 15 cm kawat pengikat harus ditinggalkan sesudah pengikatan terakhir dandibengkokkan ke dalam keranjang. 3) Batu harus dimasukkan satu demi satu sehingga diperoleh kepadatanmaksimum dan rongga seminimal mungkin. Bilamana tiap bronjongtelah diisi setengah dari tingginya, dua kawat berlebihan agar terjadi penurunan (settlement). Sisi luar batu yang berhadapan dengan kawat harus mempunyai permukaan yang rata dan bertumpu pada anyaman. 4) Setelah pengisian, tepi dari tutup harus dibentangkan dengan batang penarik atau ulir penarik pada permukaan atasnya dan diikat. 5) Bilamana keranjang dipasang satu di atas yang lainnya, sambungan vertikal harus dibuat berselang seling. 6) Bronjong yang digunakan adalah bronjong pabrikasi dengan anyaman mesin, sesuai dengan standar SNI yang terbuat dari kawat lunak berlapis seng galvanis dengan persetujuan direksi. 7) Ukuran Bronjong yang digunakan adalah : - Panjang = 2,0 m - Lebar = 1,0 m - Tinggi = 0,5 m 5. - Mesh = 10 x 12 cm 8) Diameter Kawat anyaman bronjong 3,00 mm, dan diameter kawat sisi 3,4mm 9) Sambungan bronjongSemua sambungan bronjong baik bagian tepi maupun panel, sekat harus terikat rapat antar bronjong dengan diameter kawat pengikat 2,2, mm dengan persetujuan direksi. 10) Batu yang digunakan adalah batu gunung yang keras dan tahan lama serta tidak larut di air dengan persetujuan direksi. 11) Batu gunung diletakkan dalam bronjong dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan dinding kawat bronjong dengan diameter batu yang dipakai dengan ukuran besar antara 15 25 cm. | METODA PELAKSANAAN 16

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

12) Jika susunan batu belum rapat maka perlu dikunci dengan batu pengunci berdiameter 10 20 cm 13) Bronjong lapis berikutnya dapat dilaksanakan apabila bronjong lapis sebelumnya telah mendapat persetujuan Direksi.

4. MANAJEMEN MUTU
Penyusunan Rencana Mutu dalam melaksanakan setiap kontrak kerja. Mekanisme penyusunan sendiri merupakan aplikasi dari manajemen Perusahaan. Aplikasinya mengacu pada standar instruksi kerja yang sudah disetujui oleh management KEBIJAKAN DAN SASARAN 1 Kebijakan Mutu, bertekad memenuhi kepuasan pemilik proyek ( owner ) dengan menerapkan system Manajemen Mutu secara konsisten. Sasaran Mutu, melaksanakan Proyek secara tepat waktu dengan mutu produksi sesuai spesifikasi teknis.

ORGANISASI PROYEK Untuk mencapai target Managemen Mutu, Perusahaan sebagai pelaksana dilapangan akan mengikuti prosedur dan instruksi standar berdasarkan Struktur Organisasi Proyek yang sudah ditetapkan. Petugas pengawasan yang bertanggungjawab yang ditunjuk Pemimpin Proyek / Kepala Satuan Kerja atau yang sebagai Pejabat Pembuat Komitmen Pelaksanaan proyek Perusahaan akan menyiapkan team yang dituang dalam struktur organisasi, dan merupakan penanggungjawab pekerjaan sedang dilaksanakan sesuai dengan tugas serta tanggung jawabnya. Pemilihan key personil proyek mengacu pada prosedur baku untuk memastikan kompetensi di bidang masing masing. Site Manager, sebagai penanggung jawab proyek secara keseluruhan yang dilaksanakan, Memimpin dan mengendalikan proyek agar efisien dan efektif mencapai hasil yang optimal. Membuat strategi pelaksanaan proyek yang berkaitan dengan pengendalian mutu proyek. Technical Engineer atau Drafter, Tenaga ahli Arsitektur/ Sipil sebagai penanggung jawab langsung dalam pelaksanaan Pekerjaan yang menyangkut finishing dan struktur bangunan pekerjaan. Mengendalikan dan menganalisa masalah masalah teknis kebutuhan proyek, baik material, tenaga kerja, peralatan serta biaya yang dibutuhkan. Membuat Rencana Mutu Kontrak, yaitu Master schedule, dan Metode Kerja Pelaksanaan. Quantity Engineer, Tenaga ahli yang bertanggung jawab membuat perhitungan/ estimate anggaran proyek dan membuat laporan pelaksanaan sesuai dengan pekerjaan yang sudah ditentukan. Membuat laporan harian, mingguan dan bulan pada masing-masing bangunan, serta rencana kerja setiap harinya yang akan dikerjakan. Mengontrol dan mengatur pemakaian material, alat dan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan. Quality Control, Tenaga ahli yang bertanggung jawab mengontrol kegiatan lapangan, memberikan analisa rencana mutu kontrak. Membuat justifikasi yang menyangkut pekerjaan di proyek serta mengaplikasi analisa semua pehitungan/estimasi anggaran proyek. Team yang akan membantu dalam menyiapkan Rencana Mutu Kontrak . | MANAJEMEN MUTU 17

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Surveyor, Membuat pengukuran pekerjaan baik pekerjaan yang akan dilaksanakan maupun pekerjaan yang sudah dikerjakan. Logistik, Melakukan pengawasan terhadap pekerjaan dan mengontrol terhadap penggunaan material, tenaga kerja sehinga pekerjaan dapat berjalan dengan baik Adm & Keuangan, membantu membuat laporan yang bersipat administrasi , membuat laporan keuangan serta, serta mengatur dan melakukan pembayaran. PENGENDALIAN MUTU PROYEK Seluruh Key personil yang terlibat di poek adalah Gugus tugas pengendalian mutu, sehingga secara otomatis prosedur kendali mutu yang ditetapkan perusahaan menjadi tanggung jawabnya. Proyek star up meting sudah harus dilakukan selambatnya 3 minggu sebelum dimulainya proyek. Hal yang dibahas adalah : Pengangkatan key personil penanggung jawab proyek. Pembahasan detail scope kontrak Strategi eksekusi yang mencakup : Kontruksi & Procurement Prosedur Kendali Mutu di Lapangan Hasil akhir dari startup meeting adalah detail RENCANA PELAKSANAAN PROYEK, yang mencakup : Contract master and detailed scheduled procurement and construction schedule. Material control List. Project Cost estimate and cash flow. Spesifikasi Teknis Jadwal serta Prosedur Tes dan Inspeksi Satgas kerja awal yang harus segera berjalan

KONTROL MATERIAL INSPEKSI PENERIMAAN DI LAPANGAN Inspeksi Penerimaan di Lapangan untuk peralatan dan material harus dilakukan oleh Material Controller yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi yang berlaku agar bisa menjamin bahwa item-item yang diterima telah sesuai dengan persyaratan dari perintah pembelian (PO) untuk point-point berikut : - Identifikasi dengan catatan pengiriman - Kondisi Packing - Tampilan - Kuantitas Kerusakan yang ditemukan pada saat inspeksi penerimaan di lapangan harus dilaporkan oleh Material Controller kepada Koordinator Kendali Mutu Lapangan. Koordinator Kendali Mutu Lapangan harus mengkonfirmasikan kondisi kerusakan tersebut dan melaporkannya ke Enjinir lapangan serta mengambil langkah langkah lanjutan seperlunya.

| MANAJEMEN MUTU

18

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

PENYIMPANAN DAN PERAWATAN PERALATAN DAN MATERIAL DI LAPANGAN Peralatan dan Material yang sudah lolos pemeriksaan harus disimpan sesuai dengan spesifikasi dan/ atau instruksi yang berlaku untuk mencegah terjadinya kerusakan .Tempat penyimpanan harus diklasifikasikan menjadi gudang dan tempat terbuka berdasarkan kategori, tipe dan ukuran.Peralatan dan material yang diterima harus dicatat pada lembaran pengontrolan material. Status dari tempat penyimpanan harus di cek oleh Warehouseman dengan cara pengecekan fisik secara periodik, stocktaking, dll. PENGELUARAN PERALATAN DAN MATERIAL Pengeluaran peralatan dan material haruslah dilaksanakan berdasarkan permintaan tertulis yang telah disetujui oleh pengawas yang berwewenang. Pengeluaran peralatan dan material harus disaksikan oleh Warehouseman. KONTROL PADA PROSES KONTRUKSI Pengendalian mutu di lapangan merupakan langkah langkah yang dilakukan untuk menjaga mutu dan kualitas proyek.
PROSEDUR KERJA

Detil prosedur kerja untuk setiap kategori pekerjaan utama dan/ atau item pekerjaan harus mengacu pada standar baku perusahaan. Prosedur standard yang digunakan adalah sesuai dengan standar ISO.
TES

DAN INSPEKSI

Jadwal inspeksi dan Tes sudah di definisikan dalam rencana detil pelaksanaan proyek. Dimana tercamtum jenis material , metoda pengujian, dan kapan dilakukan. Pengujian metoda langsung dilapangan harus di saksian oleh konsultan pengawas. PENGUJIAN STANDAR LABOTARIUM Pengujian mutu untuk produk/material yang memerlukan pengujian oleh pihak ke 3 untuk memastikan telah sesuai dengan spesifikasi kontrak dan standard baku yang berlaku. Pihak ke 3 yang melakukan pengujian adalah yang ditunjuk atau disetujui oleh pemilik pekerjaan. Pembuktian dari pengujian adalah sertifkat yang sah sesuai ketentuan yang berlaku. KONTROL DOKUMEN Dokumen proyek merupakan instrumen kontrol dan menjadi alat pembuktian progres proyek ke pemilik pekerjaan. Seluruh dokumen pengujian dan persetujuan menjadi bagian dari dokumentasi proyek, yang pada saat tertentu harus diserahkan pada pemilik proyek.

5. KESELAMATAN LINGKUNGAN

KEAMANAN

KESEHATAN

DAN

Komitment Management untuk penerapan program kesehatan keselamatan kerja dan lingkungan hidup dalam setiap aktivitas perusahaan secara nyata dan terukur sesuai dengan pernyataan Komitment dan kebijaksanaan perusahaan. Kebijakan dalam menetapkan tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam rangka menciptakan dorongan serta acuan yang kuat bagi terwujudnya LK3 yang diharapkan adalah bertujuan : | KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN 19

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Menyelesaikan proyek tanpa adanya korban kecelakaan. Menyelesaikan proyek tanpa ada kerusakan atau kehilangan harta benda. Menyelesaikan proyek tanpa berdampak buruk kepada lingkungan sekitarnya Memastikan seluruh pekerja mendapatkan fasilitas yang memadai bagi kesehatan maupun keselamatannya. Memastikan bahwa setiap pekerja memiliki kemampuan yang memadai sesuai dengan penugasannya. Menerapkan komunikasi yang terintegrasi mulai dari tingkat bawah hingga tingkat atas. Mendorong cara-cara yang mengarah kepada unjuk kerja yang menyeluruh termasuk aspek keselamatan. Menciptakan perilaku yang positif terhadap keselamatan dan kesehatan serta meningkatkan kesadaran yang tinggi di semua tingkatan organisasi.

PROGRAM KESELAMATAN

Tidak ada satu orangpun menginginkan dirinya terluka. Sebagian besar terjadinya kecelakaan adalah diakibatkan karena kesalahan manusia terutama dalam memahami mengenai bahaya yang ada disekitarnya. Kesalahan-kesalahan tersebut antara lain disebabkan oleh hal-hal berikut. Tidak adanya pengarahan/petunjuk. Setiap pekerja yang melaksanakan pekerjaan tanpa mengetahui jelas apa yang harus dilakukannya akan mendorong kreatifitas pekerja untuk membuat arahan sendiri yang mungkin dapat menyesatkan. Pengabaian bahaya, kurangnya budaya membaca prosedur, mematuhi peraturan, tidak mendengarkan pengarahan yang diberikan, dapat menciptakan keadaan -keadaan tidak aman dalam bekerja. Dengan mempertimbangkan hal tersebut di atas sebagai faktor penyebab yang mengarahkan kepada tindakan dan keadaan tidak aman dimana pada gilirannya dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Hal yang perlu dilakukan guna mengatasinya adalah mengendalikan perilaku pekerja. Berikut ini adalah tiga langkah dasar yang ditujukan untuk melakukan tindakan aman yang diperlukan bagi pencegahan kecelakaan. : BERSIKAP WASPADA DAN MELIHAT JAUH KE DEPA N PERSIAPKAN DIRI DALAM MENGHADAPI SEGALA KE MUNGKINAN LAKUKAN TINDAKAN DENG AN BERHATI -HATI Berikut ini adalah program-program yang termasuk dalam program keselamatan yang direncanakan untuk diterapkan dalam proyek ini. ALAT PELINDUNG DIRI DAN PELINDUNG KESELAMATAN Memastikan dan menjamin tenaga kerjanya bekerja dalam kondisi aman dari bahaya kerja. Untuk keperluan tersebut akan menyediakan alat pelindung diri (PPE) bagi seluruh tenaga kerja yang terlibat dalam pekerjaan. PPE yang disediakan harus memenuhi standar kualitas yang diperlukan. PERUSAHAAN akan menyediakan pengaman pada peralatan / instalasi atau tempat yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. PERLINDUNGAN TERHADAP KEBAKARAN Melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Untuk menunjang upaya ini akan menyediakan peralatan pencegah dan penanggulangan kebakaran sesuai dengan potensi bahaya kebakaran pada lokasi kerja tersebut.

| KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

20

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

PEMILIHAN SUMBER DAYA Sumber daya merupakan elemen penting dalam sistem proyek. Sumber daya yang baik merupakan bahan dasar yang baik bagi berlangsungnya suatu sistem. Yang pada akhirnya akan menghasilkan produk yang baik. Itulah sebabnya pemilihan sumber daya harus dilaksanakan secara seksama. Tiga sumber daya yang harus dipertimbangkan, yaitu tenaga kerja, Peralatan dan material. Tenaga kerja yang baik harus memenuhi persyaratan pekerjaan baik ketrampilan, pengetahuan, fisik maupun mental. Peralatan dan material juga harus memenuhi persyaratan keselamatan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan ini akan melakukan pemilihan sumberdaya secara bersungguh-sungguh sebagai upaya mencapai penyelesaian proyek sesuai dengan sasaran. MATERIAL Setiap bahan kimia yang disediakan baik dalam bentuk padat maupun cair harus memiliki Material Safety Data Sheet (MSDS). MSDS harus disimpan ditempat yang mudah ditemukan dan dibuatkan salinannya, serta dikumpulkan dan disimpan dalam filing tersendiri. SISTEM MANAJEMEN BAHAYA Pada dasarnya sistem manajemen bahaya terdiri dari 4 aktifitas sebagai berikut: Identifikasi bahaya Analisa resiko dan penetapan sistem pengendalian bahaya, untuk menilai probabilitas kejadian serta besarnya akibat yang ditimbulkan oleh suatu kejadian dan atas dasar probabilitas dan akibat ini ditetapkan sistem pengendalian bahaya yang diperlukan. Penerapan sistem pengendalian bahaya Evaluasi, untuk menilai keefektifan sistem pengendalian yang telah ditetapkan Melalui sistem ini semua bahaya proyek termasuk pekerjaan perancah, peralatan operasi, perkakas kerja, lalu lintas, penanganan material berbahaya, pengelasan dan pemotongan, pekerjaan listrik, bekerja di ruang tertutup, dan lain-lain diharapkan dapat teridentifikasi, dianalisa dan dikendalikan. MANAJEMEN INSIDEN Semua insiden akan di selidiki dan dianalisa untuk merumuskan tindak perbaikan yang diperlukan untuk mencegah terulangnya kembali suatu kejadian. Setiap insiden harus didokumentasikan secara lengkap termasuk dengan dengan hasil investigasi, besar kerugian dan tindakan perbaikan (corrective action). Hal ini dilakukan untuk digunakan sebagai dasar menganalisa kecenderungan serta peningkatan program keselamatan. TANGGAP KEADAAN DARURAT Kebijakan tanggap keadaan darurat diperlukan untuk menyediakan perlindungan terbaik bagi

Adapun kebijakan tanggap darurat didasarkan pada urutan prioritas sebagai berikut:
pekerja dalam keadaan darurat.

Penyelamatan nyawa manusia Perlindungan masyarakat sekitar dan lingkungan. Penyelamatan harta benda

| KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

21

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Menindaklanjuti kebijakan ini maka sasaran tanggap darurat adalah mempersiapkan sistem yang terdiri dari seluruh pekerja, tim tanggap darurat, dan fasilitas pendukung agar dapat menanggapi keadaan darurat dengan baik. PROGRAM KESEHATAN Aktifitas proyek juga mengandung bahaya yang dapat mengakibatkan penyakit pada pekerja. Perusahaan akan mengupayakan tidak ada satupun karyawan yang menderita penyakit akibat kerja. Berikut adalah program-program yang direncanakan untuk dilaksanakan guna mencegah akibat dari adanya bahaya-bahayan kesehatan dalam pekerjaan. PEMERIKSAAN KESEHATAN AWAL PERUSAHAAN akan senantiasa berupaya mempekerjakan orang yang memiliki kesehatan memadai sesuai dengan pekerjaan yang hendak di bebankan kepadanya. Untuk keperluan tersebut setiap pekerja disyaratkan untuk memeriksakan kesehatannya kepada pemeriksa kesehatan yang kompeten sebelum diterima bekerja. Adapun pemeriksaan kesehatan tersebut meliputi test fisik dan tes darah. Hasil pemeriksaan tersebut akan diperiksa kembali oleh ahli medis PERUSAHAAN untuk memastikan kebenarannya. Hasil pemeriksaan ini kemudian didokumentasikan dan disimpan di Klinik P3K sebagai acuan untuk melihat sejarah kesehatan pekerja. PELAYANAN KESEHATAN Pelayanan kesehatan di lapangan meliputi, pertolongan kepada korban terluka atau penderita penyakit di lokasi, mengirimkannya ke pelayanan tingkat lanjut bila diperlukan termasuk medical evacuation, menyediakan pelayanan tingkat P3K, melakukan pemeriksaan berkala sesuai peraturan yang berlaku. Berikut ini adalah fasilitas kesehatan yang disediakan di lapangan dan dijalankan di bawah penanganan langsung oleh proyek di lapangan : Klinik P3K Kotak P3K PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR Untuk mencegah terjadinya penularan dari penyakit menular, PERUSAHAAN akan menerapkan secara aktif program-program berikut: Pelatihan dan kampanye untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan. Pengendalian serangga dan tikus PROGRAM LINGKUNGAN PENGENDALIAN PERILAKU PEKERJA Pelatihan dan pengarahan kepada pekerja agar mereka mengerti kebijakan serta sasaran perlindungan lingkungan dan termotivasi untuk melakukan tindakan sesuai pengertian yang didapatkannya tersebut.

| KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

22

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

Mempromosikan perlindungan terhadap lingkungan melalui kampanye dan pemasangan ramburambu pengingat yang dapat membantu pekerja agar senantiasa berpartisipasi dalam pencapaian sasaran lingkungan. MENJAGA LINGKUNGAN DALAM KESEIMBANGAN Aktivitas konstruksi pada umumnya mengganggu keseimbangan lingkungan. Pembangunan berskala besar dapat berdampak serius kepada lingkungan. Lingkungan dapat menjadi rusak bila tidak dilakukan upaya-upaya perlindungan yang memadai. Berikut ini adalah upaya-upaya yang akan dilakukan dalam rangka melindungi lingkungan dari kerusakan : Pencegahan tanah longsor Melindungi sumber air dan mengatur agar alirannya tidak terganggu Perlindungan kepada Flora dan Fauna. Pengendalian polusi udara dan kebisingan Pengendalian debu Pengaturan kembali tanah setelah selesai konstruksi PENGATURAN LIMBAH Penerapan sistem pengaturan limbah yang baik diperlukan untuk mencegah terjadinya polusi terhadap lingkungan sebagai akibat dari adanya kegiatan konstruksi.

Limbah
Semen T Puing-puing beton dan kayu a b e bekas atau kaleng bekas Drum l Sampah makanan . Bahan Isolasi pipa atau pelapis pipa S e Sampah kertas c Saringan oli dan oli bekas a r Sisa Cat a S Pestisida e Pasir c sand blast a Potongan besi r a kotor Air Cairan Thinner u m Ban bekas u m

Keterangan
Kelebihan semen di batch plant Bekas membobok tembok atau membongkar bekisting Dihasilkan dari kegiatan pengecatan Dari kantin, dapur kantor Pekerjaan isolasi atau refractory Berasal dari kantor perawatan kendaraan atau alat berat Pekerjaan pengecatan Pengendalian hama atau tikus Pekerjaan Sand blasting Pekerjaan fabrikasi besi baik pipa / struktur. Berasal dari toilet Pekerjaan pengecatan perawatan kendaraan atau alat berat

| KESELAMATAN KEAMANAN KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

23

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN

semua limbah-limbah tersebut ditangani sebagai berikut. Kumpulkan limbah sebelum dikirimkan ke tempat pembuangan akhir atau ke tempat pengolahan limbah. Perintah pembuangan dilakukan oleh pejabat yang berwenang dikeluarkan. Laksanakan pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir atau pengolahan limbah sesuai perintah. Penanganan ditempat pembuangan akhir / pengolahan limbah oleh orang yang mampu melakukannya. Lakukan pencatatan untuk limbah B3. Perusahaan akan menyiapakan tempat pembuangan limbah sesuai aturan yang berlaku.

6. PENUTUP
Metode pelaksanaan ini kami sampaikan sebagai lampiran dokumen pendukung RMK yang diharapkan dapat menunjukan pemahaman dan kemampuan personel sebagai pelaksana pekerjaan dimaksud di atas. PENGESAHAN Makassar, 4 Maret 2014 CV. ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ

ZZZZZZZZZZZZZZZ

DIREKTUR

| PENUTUP

24