Anda di halaman 1dari 27

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

H DENGAN DIAGNOSA TUBERKULOSIS DI RUANG BOUGENVILE RUMAH SAKIT TINGKAT II dr. SOEDJONO A. Pengkajian Pengkajian dilakukan tanggal 5 Januari jam 17.45 WIB. A. Biodata a. Identitas Pasien Nama Pangkat/Golongan Kesatuan Jenis Kelamin Pendidikan Agama Alamat No Rekam Medik Tgl Masuk RS Penanggung Jawab Pekerjaan Alamat Diagnosa Medis Keluhan Utama Riwayat Sekarang : : : : : : : : : : : : : : Tn. H Umur: 23 Tahun

Prada NRP 3109022345388 Akmil Laki-laki SMU Islam Asrama Akmil 02 04 04 25 21 5 Januari 2011 Tn. A TNI-AD Asmil Akmil TBC Pasien mengatakan batuk disertai dahak yang kental. Pasien datang via poliparu dengan keluhan batuk mulai setengah bulan yang lalu dan kemarin hari senin dan selasa batuk disertai darah serta saat batuk sesek. Pasien mengatakan sulit bernafas atau kadang sesak

b. c. d.

e. B. a. b.

Penyakit :

c. d.

Riwayat Dahulu Riwayat Keluarga

Penyakit : Penyakit :

nafas.Pasien mengatakan dahak sulit keluar dan terasa nyeri dan terlihat pasien sulit mengeluarkan dahak.Pasien mengatakan tidak nafsu makan dan nampak pasien hanya menghabiskan seperempat porsi.Pasien mengatakan tenggorokan kering dan panas dan nampak tenggorokan pasien kemerahan.Pasien mengatakan tidak nyenyak tidur dan pasien nampak terbangaun terus.Pasien mengatakan takut akan penyakitnya tidak dapat sembuh selamanya dan pasien nampak gelisah dan selalu berdoa dan juga pasien Nampak batuk terus tanpa menutpi mulutnya dengan sapu tangan. Pasien mengatakan tidak pernah sakit sama sekali. Pasien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang mengalami penyakit seperti ini.

C. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan Umum : Sedang Kesadaran : Composmentis Tanda Tanda Vital : TD 120/80 : Nadi 84 kali/menit : : Suhu 36,5 C : RR 32 kali/rmenit : : BB 65 kg TB b. IMT Kepala Rambut Mata Telinga Hidung : : : : : 178 cm 20,96 Mesocephal. Tidak ada lesi, warna rambut hitam. Konjungtiva tidak anemis, pupil isokor. Pendengaran baik tidak ada serumen. Tidak ada polip, secret tidak ada, penciuman

Mulut Leher Dada Paru

: :

normal. Lidah tidak kotor, gigi bersih, bibir kering. Tenggorokan tidak ada yang sakit, tak ada kesulitan menelan. Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : : : : Exspansi paru simetris. Vocal fremitus sama. Ada akumulasi cairan di rongga thorax sebelah kiri. Ada ronchi pada daerah sekitar bronkus. Area perikorditial. Ictus cordis teraba diantara IC 4+5 middle sinistra. Redup. Suara jantung I dan II reguler. Datar, super. Bising Tidak usus ada 5kali/menit pembesaran

Jantung

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: : : :

Abdomen

Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi

: : : :

hepar, nyeri tekan daerah epigastrium

Extrimitas

Atas Bawah

: :

Tympani (+) Extrimitas kanan terpasang infus RL.

atas

Tidak ditemukanya oedem pada kaki atau tungkai. Genetalia : Tidak terpasang DC, tidak ada lesi, tidak ada penyakit kelamin. Kulit : Turgor kulit membalik dalam hitungan kurang dari satu detik, kulit teraba hangat. D. Terapi tanggal 7 Januari 2011 Infus RL 18 kali/menit. Injeksi Cefotaxime Injeksi Kalnex GG 2 X 1 gr IV. 3 X 1 IV. 3 X 1.

Tampung Sputum Cek Laboratorium GD I/II LED E. Data Penunjang a . Lab Tgl. 7-1-2011 WBC Lymph Mid Gran Lymph Mid Gran HGB RBC HCT MCV MCH MCH.C RDW-CV RDW-SD PLT MPV PDW PCT Glukosa EA Kreatin T-ASI T/ALAT 8.4 X 10 ^3/uL 4.0 X 10^3/uL 0.9 X 10^3/uL 3.5 X 10^3/uL 47.0 % 11.2 % 41.8 % 13.8 g/dl 5.62 X 10^6/uL 45.3 % 80.7 UM^3 24.5 pg 30.4 g/dl 15.8 % 49.3 UM^3 203 X 10^3/uL 9.1 UM^3 14.9 0.184 % 232 P mg/dl 30.65 mg/dl 0.97 E mg/dl 73.4 U/L 49.2 U/L

Sewaktu, BTA). 1 X sehari. Normal

pagi,

sore

(cek

3.5 10.0 X 10 ^3/uL 1.2 3.2 X 10^3/uL 0.1 0.9 X 10^3/uL 1.2 6.8 X 10^/uL 17.0 48.0 % 3.0 9.0 % 43.0 76.0 % 11.0 16.5 g/dl 3.80 5.80 X 10^6/uL 35.0 50.0 % 80.0 97.0 UM^3 26.5 33.5 pg 31.5 56.0 UM^3 10.0 - 15.0 % 35.0 56.0 UM^3 150 450 X 10^3/uL 6.5 11.0 UM^3 UM^3 10.0 18.0 0.100 0.500 % 75 115 mg/dl 10 50 mg/dl 0.5 11 mg/dl 0 37 U/L 0 40 U/L

b. Radiologi tanggal 7 Januari 2011 Foto thorax

Pulmones terdapat tanda tanda tuberkulosis E. Pengumpulan Data a. Ds 1. Pasien mengatakan sulit bernafas atau kadang sesak nafas. 2. Pasien mengatakan dahak sulit keluar dan terasa nyeri. 3. Pasien mengatakan tidak nafsu makan. 4. Pasien mengatakan tenggorokan kering dan panas. 5. Pasien mengatakan tidak nyenyak tidur. 6. Pasien mengatakan takut akan penyakitnya tidak dapat sembuh selamanya. b. Do 1. Pasien tampak nafas cepat dan dangkal. 2. Dengan hasil TTV : - RR 32 kali/menit. - Nadi 84 kali/menit. - Tensi 120/80 - Suhu 36,5 C 3. Pasien nampak menghabiskan porsi saja dengan penurunan BB, awalnya 60 kg menjadi 50 kg diketahui data BB = 65 kg, TB = 178 cm, IMT = 20,96. 4. Pasien terlihat kesakitan saat batuk.

5. Suara pasien terdengar serak karena sputum yang berwarna putih dan kental kecoklatan sukar dikeluarkan. 6. Tenggorokan terlihat kemerahan. 7. Pasien tampak cemas. 8. Pasien tampak sering terbangun pada malam hari dengan pola tidur siang = 1jam, malam = 5jam. 9. Pasien terlihat cemas dan selalu gelisah serta berdoa dengan pasien selalu menanyakan tentang perkembangan penyakitnya. 10.Pasien nampak batuk terus tanpa menutup mulutnya dengan sapu tangan. F. Analisa Data No 1. Data DS : Masalah Bersihan Etiologi jalan Sputum yang

- Pasien mengatakan sulit nafas tidak efektif. terlalu kental dan bernafas atau sesak saat batuk kental. DO : - Pasien terlihat nafas cepat dan dangkal. - RR 32 kali/menit. - Nadi 96 kali/menit. - Posisi semi fowler. - Hasil pemeriksaan pada perkusi akumulasi dada cairan Ada di dengan sekret berwarna kecoklatan.

rongga thorax sebelah kiri. Hasil Radiologi Januari 2011 Foto thorax Pulmones terdapat tanda tanda tuberkulosis 2. DS : Gangguan Ketidakmampuan kecukupan asupan foto rongten 7

tanggal

- Pasien mengatakan tidak pemenuhan nafsu makan. DO : - Pasien menghabiskan porsi makanan. - Penurunan BB awalnya 70 kg menjadi 65 kg. - BB = 65 kg. - TB = 178 cm. - IMT = 20,96. 3. DS : Pasien Resiko

kebutuhan nutrisi nutrisi. kurang dari

kebutuhan tubuh.

tinggi Pertahanan primer

mengatakan terjadinya infeksi tidak adekuat.

tenggorokan kering dan saluran pernafasan sakit saat menelan dan atas. sukar sekret. DO : - Pasien terlihat sakit saat menelan. mengeluarkan

Tenggorokan merah.

terlihat

4.

DO :

Resiko

tinggi Kuman

TBC

- Pasien nampak batuk terus penyebaran menerus tanpa menutupi kuman TBC mulutnya dengan sapu tangan. 5. DS : Pasien mempunyai takut penyakit dideritanya. DO : - Pasien tampak cemas dan selalu berdoa. - Pasien selalu menyakan tentang perkembangan akan Kurang mengatakan pengetahuan. perasaan resiko yang

menyebar melalui udara.

Kurang informasi tentang penyakitnya.

penyakitnya. Pasien tampak sering

terbangun pada malam hari dengan pola tidur siang = 1jam, malam = 5jam. G. Perumusan Diagnosa Keperawatan Sesuai Prioritas a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sputum yang kental dan berwarna kecoklatan Pasien mengatakan sulit bernafas atau sesak saat batuk dengan sekret kental.Pasien terlihat nafas cepat dan dangkal dengan RR 32 kali/menit, Nadi 96 kali/menit. Posisi semi fowler.Hasil pemeriksaan pada perkusi dada Ada akumulasi

cairan di rongga thorax sebelah kiri.Hasil foto rongten Radiologi tanggal 7 Januari 2011Pulmones terdapat tanda tanda tuberkulosis. b. Gangguan kebutuhan nutrisi: kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan kecukupan asupan nutrisi ditandai dengan pasien mengatakan tidak nafsu makan, diit yang disajikan hanya menghabiskan seperemapat porsi saja dan penurunan BB yang awalnya 70 kg menjadi 65 kg dengan TB 178 cm serta IMT 20,96. c. Resiko tinggi terjadinya infeksi saluran pernafasan atas berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat yang ditandai dengan pasien mengatakan tenggorokan kering dan sakit saat menelan dan sukar mengeluarkan secret. d. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi ditandai dengan pasien terlihat batuk terus tanpa menutupi mulutnya dengan sapu tangan. e. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit yang ditandai dengan pasien mengatakan mempunyai perasaan takut akan resiko penyakit yang dideritanya, pasien tampak cemas dan selalu berdoa, pasien selalu menanyakan tentang perkembangan penyakitnya dan pasien nampak sering terbangun dengan pola tidur siang =1 jam, dan malam= 5jam. H. ASUHAN KEPERAWATAN Nama : Tn. H Umur : 23 tahun Tgl/Jam Diagnosa Keperawatan Tujuan 6-120011/18.30 Bersihan jalan nafas Setelah dilakukan Ruang : Bougenvile Diagnosa Medis : TBC No Reguler : 02 04 04 25 21 Perencanaan Rencana Tindakan 1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif terdapat dan mengapa

berhubungan

dengan tindakan keperawatan

sputum yang kental dan 2 x 24 jalan nafas berwarna coklat Pasien kembali maka

penumpukan

mengatakan

sulit kebersihan jalan napas

sekret pernapasan.

di

sal.

bernafas atau sesak saat efektif. batuk dengan sekret terlihat dan 32 Kriteria hasil : 1. Mencari yang yang 96 semi memudahkan peningkatan pertukaran udara. pada Ada di 3. Menyatakan strategi menurunkan kekentalan sekresi. untuk 2. Mendemontrasikan batuk efektif. 4. posisi nyaman 3.

2. Ajarkan klien tentang metode yang tepat

kental.Pasien nafas dangkal. kali/menit. Nadi kali/menit.Posisi fowler.Hasil pemeriksaan perkusi akumulasi dada cepat RR

pengontrolan batuk Napas perlahan dalam saat dan duduk

setegak mungkin. Lakukan diafragma. Tahan napas selama 3 - 5 detik kemudian secara perlahan-lahan, keluarkan sebanyak pernapasan

cairan

rongga thorax sebelah kiri.Hasil foto rongten Radiologi Januari thorax Pulmones terdapat tanda tanda tuberkulosis tanggal 2011 7

mungkin melalui mulut. Lakukan napas ke dua , tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. 5. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. 6. Ajarkan klien tindakan untuk viskositas menurunkan sekresi :

Foto

mempertahankan hidrasi yang adekuat;

meningkatkan masukan cairan 1000 sampai

1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. 7. Dorong atau berikan perawatan mulut yang baik setelah batuk. Kolaborasi dengan tim

kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi. Tentang: Pemberian expectoran. Pemberian antibiotika. Konsul photo toraks. Pemberian anti asma. 6-12011/18.30 Kerusakan gas dengan membran pertukaran Setelah dilakukan 1. berhubungan tindakan keperawatan kerusakan selama 2 X 24 jam Berikan nyaman, dengan kepala posisi yang

biasanya peninggian tempat tidur.

alveolar- maka pertukaran gas kapiler ditandai dengan pasien kembali efektif. haemoptoe serta secret kecoklatan pasien ditandai mengatakan Kriteria hasil : 1. Memperlihatkan frekuensi pernapasan efektif. 2. Mengalami perbaikan pertukaran gas pada paru. 3. Adaptive gasyang 2.

Balik ke sisi yang sakit. Dorong duduk mungkin. Observasi pernapasan, frekuensi fungsi catat pernapasan, klien untuk

sebanyak

tenggorokan kering dan sakit saat menelan dan sukar sekret mengeluarkan Pasien terlihat

sakit saat menelan serta pasien nampak suara

dispnea atau perubahan tanda-tanda vital. 3. Jelaskan pada klien bahwa tindakan dilakukan tersebut untuk

pasien terdengar serak karena berwarna sputum yang

kecoklatan

dan

sulit

untuk

mengatasi faktorfaktor penyebab.

menjamin

keamanan

dikeluarkan dan nampak tenggorokan merah. terlihat

seperti batuk efektif dan pengontrolan batuk. 4. Jelaskan tentang pada klien

etiologi/faktor

pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. 5. Pertahankan tenang, untuk dengan bantu kontrol perilaku pasien diri

menggunakan

pernapasan lebih lambat dan dalam. 6. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain Dengan dokter,

radiologi dan fisioterapi. Pemberian antibiotika. Pemeriksaan sputum dan kultur sputum. Konsul photo toraks. 6-12011/18.30 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan ketidak cukupan nutrisi ditandai dengan pasien mengatakan tidak nafsu makan dan pasien nampak menghabiskan
porsi 1.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 X 24 jam maka kebutuhan nutrisi adekuat. Kriteria hasil : Menyebutkan makanan mana

1.

Diskusikan

penyebab

makan tidak enak dan dengarkan serta lihat keluhanya ekspresi

pasien saat makan. 2. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan.

makanan

yang tinggi protein 3. Tawarkan makan sedikit

penurunan BB awalnya 70 kg menjadi 65 kg, BB = 65 kg, TB = 178 cm,dan


3. 2.

dan kalori. Menu makanan yang disajikan habis. Peningkatan berat badan tanpa

tapi sering (enam kali sehari plus tambahan). 4. Pembatasan cairan pada makanan menghindari jam cairan dan 1 dan

IMT = 20,96.

sebelum

peningkatan edema.

sesudah makan. 5. Atur makanan dengan protein/kalori yang waktu paling disajikan klien suka tinggi pada merasa untuk

memakannya. 6. Jelaskan peningkatan kebutuhan masukan

makanan tinggi elemen berikut a. Vitamin B12 (telur, daging kerang). b. Asam folat (sayur berdaun hijau, ayam,

kacang-kacangan, daging). c. Thiamine (kacangkacang, oranges). d. Zat besi (jeroan, buah yang dikeringkan, buncis,

sayuran hijau, kacang

segar). 7. Kolaborasikan dengan dokter/ahli klien mengkonsumsi yang cukup. I. LEMBAR PENGKAJIAN KEPERAWATAN Nama : Tn. H Umur : 23 tahun No Tgl/Jam 1. 6-1-2011/ 18.30 Ruang : Bougenvile Diagnosa Medis : TBC gizi bila tidak nutrien

Diagnosa Keperawatan 1

No Reguler : 02 04 04 25 21 Implementasi Evaluasi 1. Menjelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di saluran pernapasan dengan cara pasien duduk dengan agak membungkuk. Minta ia menarik napas dalam-dalam lalu tahan dan kontraksikan otot perut. Tiup napas lebih kuat dan batuk. 2. Mengajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk dengan cara Tgl7 -12011jam18.30 S : Pasien mengatakan masih sukar bernafas namun sudah tidak batuk darah. O : Pasien nampak bernafas/sesak nafas, nafas cepat dan dangkal, RR 25kali/menit,tan pa terpasang 02, nadi 70kali/menit dan posisi semi fowler.

Paraf

duduk semi fowler dan pasien di usahakan ambil nafas dalam dan tahan 3-5 detik dan batukan. 3. Bernapas dalam dan perlahan saat duduk setegak mungkin. 4. Mengajarkan pernapasan diafragma. Tahan napas selama 3 5 detik kemudian perlahankeluarkan mungkin mulut. napas tahan ke dan

A : Masalah teratasi sebagian. P : Lanjutkan intervensi 1 & 2.

secara lahan, sebanyak melalui Lakukan dua ,

batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk kuat. 5. Mengauskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk. 6. Mengajarkan tindakan menurunkan viskositas sekresi : klien untuk pendek dan

mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila kontraindikasi. 7. Mendorong memberikan perawatan yang batuk. Mengkolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter, radiologi dan fisioterapi.Tentang: antibiotika. Konsul photo toraks. Pemberian anti asma. 2. 6-1-2011/ 18.45 2 1. Memberikan yang biasanya peninggian posisi Tgl 7 -1- 2011 jam 18.30 nyaman, dengan kepala S : Pasien mengatakan sekarang bernafas lebih tenang dan Pemberian expectoran. Pemberian baik mulut setelah atau tidak

tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. klien

mendorong

untuk

duduk

setelah mendapat penjelasan. O : Pasien nampak tenang dengan hasil TTV sbb : TD 120/80, RR 26 kali/menit, Nadi 72 kali/menit. A : Masalah teratasi

sebanyak mungkin. 2. Mengobservasi fungsi pernapasan, catat

frekuensi pernapasan, dispnea perubahan tanda vital atau tandadengan

hasil TD 120/80, RR 26 kali/menit, Nadi 72 kali/menit, . 3. Menjelaskan pada klien bahwa diatas untuk keamanan batuk efektif tindakan dilakukan menjamin seperti dan

sebagian. P : Lanjutkan intervensi1 & 5 .

metode pengontrolan batuk. 4. Menjelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru. 5. Mempertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri menggunakan pernapasan lebih dengan

lambat dan dalam.

6.

Mengkolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan radiologi fisioterapi. Pemeriksaan sputum dan kultur sputum. Konsul toraks. photo dokter, dan

3.

6-1-2011/ 18.50

1.

Mendiskusikan Tgl 7 - 1 - 2011 jam18.30 penyebab makan tidak enak dan S : Pasien mengatakan sekarang makan suadah enak dan bersemangat.

dengarkan keluhanya serta lihat ekspresi raut makan. pasien saat

2. Mengajarkan dan bantu O : Pasien nampak mengahabiskan klien untuk istirahat sebelum makan. 3. Menawarkan sedikit tapi makan sering makananya habis setengah porsi lebih. A : Masalah teratasi. P : Lanjutkan intervensi 2, 3 dan & 4. dan

(enam kali sehari plus tambahan). 4. Membatasi cairan pada makanan

menghindari cairan 1 jam sebelum

sesudah makan.

5.

Mengatur

makanan

dengan protein/kalori tinggi yang disajikan pada waktu klien

merasa paling suka untuk memakannya. 6. Menjelaskan kebutuhan peningkatan masukan makanan elemen berikut a. Vitamin B12 (telur, daging kerang). b. Asam folat (sayur berdaun hijau, ayam, tinggi

kacang-kacangan, daging). c. Thiamine (kacangkacang, oranges). d. Zat besi (jeroan, buah dikeringkan, sayuran hijau, yang buncis,

kacang segar). 7. Mengkolaborasikan dengan dokter/ahli

gizi bila klien tidak mengkonsumsi

nutrien yang cukup. 1 712011/18.30 1 1. Menjelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di saluran pernapasan dengan cara pasien duduk dengan agak membungkuk. Minta ia menarik napas dalam-dalam lalu tahan dan kontraksikan otot perut. Tiup napas lebih kuat dan batuk. 2. Mengajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk dengan cara duduk semi fowler dan pasien di usahakan ambil nafas dalam dan tahan 3-5 detik dan batukan. 2 712011/18.30 2 1. Memberikan yang biasanya peninggian posisi nyaman, dengan kepala Tgl 8 - 1- 2011 jam 18.30 S : Pasien mengatakan sekarang bernafas lebih Tgl 8 -12011jam18.30 S : Pasien mengatakan masih sukar bernafas namun sudah tidak batuk darah. O : Pasien nampak bernafas/sesak nafas, nafas cepat dan dangkal, RR 25kali/menit,tan pa terpasang 02, nadi 70kali/menit. A : Masalah teratasi P : Pertahankan intervensi.

tempat tidur. Balik ke

sisi

yang

sakit. klien duduk

tenang dan setelah mendapat penjelasan.

mendorong untuk

sebanyak mungkin. 5.

Mempertahankan O : Pasien nampak tenang dengan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasan lebih hasil TTV sbb : TD 120/80, RR 25 kali/menit, Nadi 70 kali/menit. A : Masalah teratasi. P : Pertahankan intervensi . dan Tgl 8 - 1 - 2011 untuk sebelum jam18.30 S : Pasien mengatakan sekarang makan suadah enak dan bersemangat. O : Pasien nampak mengahabiskan makananya habis setengah porsi lebih. A : Masalah teratasi. P : Pertahankan intervensi.

lambat dan dalam.

712011/18.30

2.

Mengajarkan bantu istirahat makan. klien

3. Menawarkan makan sedikit tapi sering

(enam kali sehari plus tambahan). 4. Membatasi cairan pada makanan dan

menghindari cairan 1 jam sebelum dan

sesudah makan.

BAB IV PEMBAHASAN Setelah penulis mempelajari tinjauan teoritis dan membandingkanya dengan tinjauan khusus, maka penulis mendapat beberapa kesenjangan dan persamaan selama dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn. H dengan penyakit TB Paru yang antara lain : A. Pengkajian Selama dalam tahap pengkajian terhadap Tn. H baik dalam wawancara dan observasi tidak menemui hambatan yang berarti. Hal ini terjadi karena respon yang postif pasien terhadap perawat dan dukungan dari keluarga pasien yang menginginkan pasien cepat sembuh, walaupun penyakit pasien itu merupakan penyakit yang lama sembuhnya dan menyangkut interaksi sosial. Pengkajian yang dilakukan penulis meliputi pengumpulan data yang dibantu oleh pasien itu sendiri dan informasi dari keluarga pasien serta status pasien dengan berkolaborasi dengan dokter serta ahli gizi guna menangani pasien selama di Rumah Sakit dr. Soedjono Magelang, Informasi tersebut benar adanya sesuai dengan kenyataan serta pemeriksaan penunjang, namun untuk pemeriksaan BTA penulis tidak menyertakan karena waktu pengkajian hanya dilakukan 2 hari saja. Setelah tanda tanda tersebut didapat, kemudian dirumuskan diagnosa keperawatan pasien melalui analisa data dan didapatkan diagnosa keperawatan pasien antara lain : Tidak efektifya jalan nafas berhubungan dengan sputum yang kental dan berwarna kecoklatan Pasien mengatakan sulit bernafas atau sesak saat batuk dengan sekret kental.Pasien terlihat nafas cepat dan dangkal dengan RR 32 kali/menit, Nadi 96 kali/menit. Posisi semi fowler.Hasil pemeriksaan pada perkusi dada Ada akumulasi cairan di rongga thorax sebelah kiri.Hasil foto rongten Radiologi tanggal 7 Januari 2011Pulmones terdapat tanda tanda tuberkulosis. Gangguan kebutuhan nutrisi: kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan kecukupan asupan nutrisi ditandai dengan pasien mengatakan tidak nafsu makan, diit yang disajikan hanya menghabiskan seperemapat porsi saja dan penurunan BB yang awalnya 70 kg menjadi 65 kg dengan TB 178 cm serta IMT 20,96. Resiko tinggi terjadinya infeksi saluran pernafasan atas berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat yang ditandai dengan pasien mengatakan tenggorokan kering dan sakit saat menelan dan sukar mengeluarkan secret.

Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit yang ditandai dengan pasien mengatakan mempunyai perasaan takut akan resiko penyakit yang dideritanya, pasien tampak cemas dan selalu berdoa, pasien selalu menanyakan tentang perkembangan penyakitnya dan pasien nampak sering terbangun dengan pola tidur siang =1 jam, dan malam= 5jam. Kelima diagnosis keperawatan diatas didapatkan pada landasan teoritis. Keadaaan ini menunjukan bahwa keadaaan pasien benar mengalami penyakit gangguan saluran pernafasan dengan kasus TB Paru. Tidak semua tindakan yang tertulis dilaksanakan oleh penulis, namun hanya beberapa saja yang dapat dilaksanakan karena respon masalah yang dialami Tn. H masih dalam batas yang dapat ditoleransi dapat disembuhkan apabila ada partisipasi aktif pasien serta keluarganya secara optimal. Dalam pengkajian dan perumusan diagnosa keperawatan ini perlu dilakukan hubungan interaksi yang baik dan komunikasi teraupetik dengan pasien dan keluarga disebabkan dapat meimbulkan perasaan rendah diri pada pasien karena penyakit yang dialaminya dapat menyebabkan ia diisolasi oleh lingkungan sekitarnya. B. Tahap Perencanaan Dalam tahap perencanaan, penulis merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang didapatkan dengan membandingkan antara landasan teoritis dengan masalah yang dialami pasien dan respon pasien terhadap masalah yang dialaminya. Sehingga rencana yang dibuat lebih spesifik ke pemenuhan kebutuhan pasien saat ini tanpa mengabaikan kebutuhan jangka panjangnya. Dan ditetapkanya tujuan jangka panjang serta mudah untuk dikerjakan serta dilakukan dengan kriteria hasil yang mudah diobservasi sehingga dalam evaluasi lebih mudah untuk menilainya. C. Tahap Pelaksanaan Dalam tahap pelaksanaan, penulis tidak mengalami hambatan yang berarti sebab pasien dan keluarga sangat kooperatif dengan rencana tindakan yang telah penulis uraikan diatas dan percaya bahwa tindakan yang telah direncanakan tersebut sangat membantu dalam kesembuhan pasien. Dalam pelaksanaan partisipasi aktif dari pasien sangat baik dan mau mengikuti anjuran yang diberikan penulis sehingga dalam waktu yang relatif singkat masalah yang dialami pasien dapat diatasi dengan baik. Dalam tahapan ini juga penulis juga libatkan partisipasi pasien dalam mencegah penularan ke orang lain, dengan cara membuang sisa sputum ke dalam plastik hitam

yang selalu di talikan, serta mengajarkan batuk ditutup dengan sapu tangan atau tissue yang telah disediakan, atau dengan disediakanya pot sputum tertutup. D. Tahap Evaluasi Dalam tahap evaluasi penulis melibatkan pasien dan keluarga untuk melihat kemajuan yang dialmi pasien yang meliputi jalan nafas efektif kembali lancar dengan kriteria sekret dapat keluar dan batuk berkurang serta rasa nyaman dan lega di dada. Juga kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi sesuai dengan kriteria selera makan pasien sudah meningkat, diit disajikan dapat pasien habiskan.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien yang mengalami gangguan saluran pernafasan : TB Paru diperlukan proses keperwatan yang jelas dan sistematis dengan melibatkan peran serta pasien dan keluarga, sehingga terjalin hubungan yang teraupeutik antara perawat, pasien dan keluarga. Hali ini akan sangat membantu perawat dalam melaksanakan tindakan keperawatan sesuia dengan yang direncanakan berdasarkan masalah yang dihadapi pasien, karena masalah yang dialami pasien sangat kompleks berhubungan dengan faktor interaksi sosial di masyarakat dan penerimaan masyarakat terhadap pasien bila sudah dinyatakan sembuh dari rumah sakit. Penyakit TB Paru adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oeh basil mikrobakterium tuberkulosis. Penyakit ini bukanlah penyakit keturunan namun penyakit yang dapat ditularkan dari satu individu ke individu lain dengan perantara udara disebut dengan doplet nuklei yaitu bintik bintik uadara yang keluar pada saat batuk / bersin atau dari saluran nafas. Dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pasien dengan TB Paru, perlu melibatkan keluarga untuk membina hubungan formal dalam keluarga dan menghindari anggota keluarga lain untuk tertular penyakit yang diderita pasien, dengan memberitahu mereka cara penularan dan tempat yang dapat menularkan serta mengajari mereka cara melindugi diri mereka dari terjangkitnya penyakit TB Paru selama di rumah sakit.

Selama pengkajian hingga proses keperawaan pada pasien TB ini penulis dapat memahami dan menerapkan pendekatan proses asuhan keperawatan. Disamping itu penulis dapat menyusun intervensi dan implementasi pada pasien penderita tuberkulosis serta dapat membuat diagnosa berdasarakan analisa data dan tinjauan teori. Setelah dilakukanya proses keperawtan pada kasus tuberkulosis. Jadi apapun yang bersifat pengetahuan, harusnya terlabih dahulau mengetahui dan mempelajari teori, karena teori merupakn hasil penelitian dan pengamatan para ahli yang sudah terpercaya keakuratanya. Dengan begitu penulis masih harus banyak belajar lagi sehingga mampu menerapkan sistem pendokumentasian keperawatan yang benar dan nyata pada penderita tuberkulosis. B. Saran 1. Hendaknya pasien yang mengalami penyakit TB Paru tidak merasa rendah diri berhubuangan dengan penyakit yang dialaminya, sebab pada dasarnya manusia tidak menginginkan sakit, namun situasi dan kondisi tubuh yang melemah seiring denagn proses penuan maka kuman dapat menyerang sera pola gizi yang kurang memadai ditunjang aktifitas yang kurang sehat mendukung terjadinya penyebaran kuman secara cepat. Penyakit TB paru dapat diobati dengan pengobatan yang rutin dan belangsung secara terus menerus. 2. Bila pasien mengalami tanda dan gejala seperti batuk batuk didiringi dengan sekret kental dan berwarna putih/bercampur darah diaanjurkan untuk segera berobat kerumah sakit dan mendapatkan perawatan paripurna sehingga dapat mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan dan mengurangi beban keluarga dalam perawatan anggota keluarga yang sakit. 3. Perawatan sesuai dengan prosedur perawatan sangat mendukung dalam penyembuahn pasien dengan gangguan sistem pernafasan, sebab itu tenaga perawat harus dibekali ilmu dan pengetahuan yang baik tentang prosedur perawatan yang lazim dilaksanakan kepada pasien dengan gangguan sistem pernafasan. 4. Penyakit TB Paru merupakan salah satu penyakit yang menjadi program pemerintah untuk ditanggulangi. Apabila pasien mengalami kesulitan dalam pengobatan, dianjurkan ntuk melaporkan diri ke Puskesmas terdekat atau Pusat Peayanan Kesehatan terdekat yang bergerak terhadap pencegahan dan pengobatan penyakit TB Paru.

5.

Kepada Kepala SMK KESDAM IV/Diponegoro supaya lebih meningkatkan kegiatan belajar mengajar, supaya dimasa mendatang diperoleh lulusan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi dengan sekolah lain yang bergerak di dunia kesehatan. Kepada Kepala Sekolah SMK KESDAM IV/Diponegoro supaya buku buku dan fasilitas yang ada dilengkapi dan lebih ditingkatkan, semisal : perpustakaan supaya dirapikan dan sering dibuka serta direvisi agar penunjang informasinya lebih up to date.

6.

7.

Kepada para pembimbing lebih kagi menyamakan persepsi antara satu pembimbing dengan yang lainya agar terjalin informasi yang sekiranya tidak membingungkan siswa untuk memperoleh informasi dan penyusunan yang tepat.

8.

Kepada para rekan sesama siswa supaya lebih meningkatkan motivasi dan minat belajar, sehngga akan terbentuk kekerabatan dan dapat kompak seterusnya sehngga memperoleh kelulusan yang dapat dibanggakan. DAFTAR PUSTAKA

Call SA et al. Does this patient have influenza? JAMA. 2005 Feb 23;293(8):98797. [PMID: 15728170]

Haque RA et al. Chronic idiopathic cough: a discrete clinical entity? Chest. 2005 May;127(5):17103. [PMID: 15888850] Hewlett EL et al. Clinical practice. Pertussisnot just for kids. N Engl J Med. 2005 Mar 24;352(12):121522. [PMID: 15788498]

Lin DA et al. Asthma or not? The value of flow volume loops in evaluating airflow obstruction. Allergy Asthma Proc. 2003 MarApr;24(2):10710. [PMID: 12776443]

Metlay JP et al. Testing strategies in the initial management of patients with community-acquired pneumonia. Ann Intern Med. 2003 Jan 21;138(2):10918. [PMID: 12529093]

Pratter MR et al. An empiric integrative approach to the management of cough: ACCP evidence-

based clinical practice guidelines. Chest. 2006 Jan;129(1 Suppl):222S231S. [PMID: 16428715]

Schroeder K et al. Over-the-counter medications for acute cough in children and adults in ambulatory settings. Cochrane Database Syst Rev. 2004;(4):CD001831. [PMID: 15495019] Wenzel RP et al. Acute bronchitis. N Engl J Med. 2006 Nov 16;355(20):212530. [PMID: 17108344] (Downloaded from medicine and linux)