Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR Segala puja serta puji marilah kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas

berkah dan karunia-Nya serta nikmat jasmani serta rohani sehingga Saya dapat menyelesaikan tugas individu dalam bentuk laporan ini. Saya ucapkan terimakasih kepada dosen pengajar dan dosen pembimbing yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyelesaikan tugas laporan ini, saya ucapkan terimakasih kepada seluruh komponen yang telah membantu Saya dalam menyusun tugas laporan ini, terutama dalam media jejaring yang telah banyak memberikan informasi terhadap Saya. Pada kesempatan kali ini saya yang ditugaskan untuk menyelesaikan makalah sebagai laporan harian dengan judul Penentuan Umur, Kastrasi, pemotongan Kuku dan Ekor, Serta Pemberian Nomor Pada Ternak Domba akan memaparkan isi dari makalah Saya secara rinci dan jelas. Dalam hal ini Saya akan memaparkan bebererapa teknis dalam menangani domba diantaranya adalah pemotongan ekor domba (docking) kemudian membandingkannya dengan literatur yang ada. Pada akhirnya saya menyadari bahwa laporan ini belum sempurna maka dari itu saya berharap akan kritik dan saran yang membangun serta saya berharap semoga tugas laporan yang saya susun dapat memberikan manfaat serta kontribusi yang baik terhadap diri saya sendiri dalam bidang keilmuan khususnya dan kepada para pembaca lain pada umumnya. Amin.

Bogor, 2 Juni 2013 Penulis,

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai ekonomis pada ternak domba adalah melalui program penggemukan. Melalui program ini diharapkan pertambahan bobot hidup meningkat, sehingga akan memberikan nilai ekonomi yang memadai, dan pada akhirnya akan memberikan tambahan pendapatan bagi pemeliharanya baik itu petemak maupun pengusaha. Diketahui bahwa produktivitas domba dipengaruhi oleh faktor internal/genetis dan eksternal/lingkungan. Faktor eksternal dimaksud salah satu diantaranya adalah tatalaksana pemberian pakan. Potensi kemampuan produksi domba dapat diekspresikan dalam bentuk bobot hidup pada umur tertentu, dan bobot karkas. Untuk memperoleh bobot hidup yang diharapkan, maka perlu diperhatikan langkah-Iangkah program penggemukan sebagai berikut : 1)Pemilihan Bangsa ; 2) Menentukan umur domba untuk digemukan ; 3) Kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan ; 4) Jenis kelamin dan 5) Tipe kelahiran. Pemilihan bibit pun dapat dimulai dengan mengetahui umur domba dalam hal ini dengan memperkirakannya melalui pertumbuhan gigi pada ternak tersebut, salah satu fungsi mengetahui umur domba akan memberikan pengetahuan untuk memilih bibit yang baik untuk digemukkan nantinya. Selain teknis pemilihan bibit diperlukan beberapa teknis dalam perawatan domba selama periode produksi, diantaranya adalah pemotongan kuku domba, pemotongan ekor (docking), kastrasi, serta pemberian nomor (tagging) pada ternak tersebut. Kegiatan teknis tersebut ditujukan untuk menjaga kesehatan dan mempermudah dalam pengawasan ternak yang sehingga memberikan efesiensi kerja terhadap peternak. Tujuan Tujuan pembuatan laporan hasil praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknis memperkirakan umur, kastrasi, pemotongan kuku dan ekor domba (docking), serta pemberian nomor pada ternak domba kemudian membandingkannya dengan literatur yang ada, sehingga menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa dalam budidaya domba METODE Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum Penentuan Umur Domba dilakukan pada hari Sabtu, 4 Mei 2013. Kemudian praktikum Pemotongan Kuku Domba dilakukan pada hari 11 Mei 2013. Selanjutnya adalah praktikum Pemberian Nomor Ternak Domba (tagging) dilakukan pada hari Sabtu, 18 Mei 2013. Praktikum terakhir adalah Kastrasi dan Pemotongan Ekor Domba (docking) dilakukan pada hari Sabtu, 1 Juni 2013. Tempat pelaksanaan praktikum tersebut bertempat di Kandang Domba kampus Diploma IPB.

Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam empat kali praktikum tersebut adalah sebagai berikut. Pada praktikum pertama yaitu penentuan umur domba alat dan bahan yang digunakan adalah, seekor domba, tali pengikat, alat tulis untuk mencatat hasi penentuan umur. Pada praktikum kedua yaitu pemotongan kuku pada domba, alat dan bahan yang digunakan adalah, sikat, gunting besi/seng, serta ember untuk menampun air untuk mebersihkan kuku domba sebelum dipotong. Pada praktikum ketiga yaitu pemberian nomor pada domba (tagging), alat dan bahan yang digunakan adalah, lilin, selang tipis dipotong 5-8 cm, paku kecil, korek api, serta tali rafia tebal sebagai tempat penggantungan nomor pada domba. Pada praktikum terakhir yaitu pemotongan ekor domba, alat dan bahan yang digunakan adalah betadine, stabilizer, electric docker, papan pembatas ekor, dan tempat handling untuk pemotongan ekor domba. Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan pada praktikum penentuan umur domba dilakukan pada setiap kelompok kecil, setiap kelompok diberikan seekor domba kemudian memperikarakan umurnya dengan metode melihat pertumbuhan gigi domba tersebut. Metode melihat gigi pada domba yaitu dengan menghandling domba pada posisi berdiri dan diletakkan pada tengah kedua kaki penghandling, dilanjutkan dengan memegang kepala domba dengan tangan kiri, selanjutnya adalah memasukkan ibu jari ke dalam rahang domba bagian belakang tepatnya di posisi paling belakang yang sudah tidak ada gigi untuk menghindari gigitan domba, angkat rahang domba kemudian perhatikan pertumbuhan gigi domba tersebut, hasil yang didapatkan kemudian dicatat untuk menjadi data laporan. Metode pelaksanaan pada praktikum kedua yaitu pemotongan kuku domba dilakukan oleh stiap individu dalam kelompok kecil dengan cara bergantian, kegiatan ini dimaksudkan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam pemotongan kuku domba. Metode kerja pada pemotongan kuku domba adalah, setiap individu melakukan handling pada domba dengan posisi domba di dudukkan untuk mempermudah proses pemotongan, sebelelum melakukan pemotongan kuku dilakukan pembersihan pada kuku domba untuk mencegah infeksi jika terjadi luka pada kuku domba, selanjutnya dilakukan pemotongan kuku dengan menggunakan gunting hingga batas pemotongan kuku, pada umumnya dipeternakan rakyat alat yang digunakan adalah renet atau pisau khusus yang didesain untuk memotong kuku domba. Metode pelaksanaan pada praktikum ketiga yaitu pemberian nomor pada ternak domba atau disebut tagging, metode kerjanya adalah setiap kelompok membuat nomor tagging dengan menggunakan selang tipis yang nantinya akan dimasukkan ke dalam tali rafia tebal untuk digantungkan ke leher domba tersebut. Metode pelaksanaan pada praktikum yang terakhir adalah pemotongan ekor domba dan kastrasi.pada praktikum ini adalah melakukan pemotongan ekor pada satu ekor domba saja dengan menggunakan electric docker yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa dalam kelompok praktikum.

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN Teknis Penentuan Umur Domba Dalam usaha penggemukan domba salah faktor yang mendukung keberhasilannya adalah pemilihan bibi atau bakalan yang akan digemukkan nantinya, cara dalam memilih bibit yang baik adalah dengan mengetahui umur domba tersebut. Menurut Technical Bulletin no. 23 (2009) yang di terbitkan oleh ESGPIP (Ethiopia Sheep and Goat Productivity Improvment Program), mengetahui usia domba dan kambing penting bagi sejumlah alasan. Beberapa alasan adalah: memutuskan kapan untuk menyisihkan mengetahui dan memilih domba atau kambing untuk membeli memutuskan kapan untuk kawin tahu sezaman/seumur untuk seleksi di antara mereka menyesuaikan perbedaan usia memiliki perkiraan yang baik (reproduksi) kinerja domba atau kambing Dalam praktikum yang dilakukan dilapangan cara penentuan umur ternak domba dilakukan oleh setiap individu dalam kelompok kecil, setiap kelompok diberikan satu ekor domba dan dituntut untuk melihat gigi domba tersebut dan menentukan umurnya sesuai dengan literatur yang ada, adapun teknik dalam melihat gigi domba yang di praktikkan dilapangan adalah sebagai berikut: 1. Setiap individu diberikan kesempatan untuk mempraktikkan cara melihat gigi pada domba dan menentukan umur domba tersebut. 2. Handling yang dilakukan adalah meletakkan domba diantara kedua kaki penghandling, kemudian memegang kepala domba dengan tangan kiri. 3. Selanjutnya adalah memasukkan ibu jari dari tangan kanan ke rahang domba posisi di paling belakang tepatnya setelah gigi geraham terakhir. Posisi tersebut dimana tidak terdapat gigi lagi. 4. Kemudian angkat bibir bagian atas domba dan melihat jumlah gigi seri permanen pada domba tersebut. Rumus penentuan gigi yang terdapat pada literatur adalah sebagai berikut:

Dengan keterangan sebagai berikut: I: Incicors (gigi seri), M: Molar (gigi geraham), P: Premolar. Adapun penentuan umur domba dilihat dari pertumbuhan gigi seri permanen yang berada di rahang bawah. Menurut literatur Technical Bulletin (2009) yang di terbitkan oleh ESGPIP (Ethiopia Sheep and Goat Productivity Improvment Program)

Tabel 1 Penentuan Umur Domba

Jumlah Gigi Seri Permanen 0 Pasang 1 pasang 2 pasang 3 pasang 4 pasang Gigi Rusak/Ompong

Perkiraan Rentang Usia Domba Kurang dari 1 tahun tahun 1-1 1 -2 tahun 2 -3 tahun Lebih dari tiga tahun Berusia Kambing Kurang 1 tahun 1-2 tahun 2-3 tahun 3-4 tahun Lebih dari empat tahun Berusia

(Ethiopia Sheep and Goat Productivity Improvment Program), 2009 Jika dibandingkan dengan literatur yang ada, bahwa penentuan umur ternak domba tidak terdapat perbedaan yang signifikan mungkin saja hanya cara handling dalam melihat gigi seri yang sudah tumbuh pada domba tersebut, cara melihat dapat dilakukan dengan posisi handling domba didudukkan ataupun seperti yang di sudah dipraktikkan dilapangan. Gambar Jenis Gigi Seri Pada Domba:

Gambar. Gigi Susu

Gambar. 2 Buah Gigi Seri Permanen

Gambar. 4 Gigi Seri Permanen

Gambar. 6 Gigi Seri Permanen

Gambar. 8 Gigi Seri Permanen

Gambar. Gigi Rusak/Ompong

Teknis Pemotongan Kuku Domba Domba yang dipelihara dalam kandang, secara alami kukunya akan tumbuh dan bertambah panjang. Kuku domba yang panjang dan tidak pernah dipotong dapat menyebabkan gangguan pada saat berjalan, untuk pejantan dapat mengganggu pada saat kawin, dan menjadi sarang kotoran dan kuman penyakit sehingga mudah terinfeksi. Untuk menghindari hal-hal tersebut maka kuku domba harus dipotong secara rutin setiap 3-6 bulan sekali (Yayan 2010). Dalam hal ini teknis pemotongan kuku yang di praktikan dilapangan adalah sebagai berikut: 1. Setiap individu melakukan handling domba dengan posisi mendudukannya didepan pengahndling. 2. Kemudian dilakukan pembersihan pada kuku domba untuk mempermudah pemotongan kuku dan mencegah infeksi jika terjadi luka saat pemotongan. 3. Melakukan pemotongan pada posisi handling domba di dudukkan, dengan memotong bagian kuku yang tidak terdapat syaraf dan pembuluh darah. Jika dibandingkan dengan literatur terdapat beberapa metode pemotongan kuku, menurut Yayan (2010): Memotong kuku dilakukan dengan cara mengikat domba pada bambu.Kemudian kuku depan kiri dan kanan dipotong secara bergantian dengan cara mengangkat kaki domba dengan melipat sendi lutut. Untuk memotong kuku belakang kiri dan kanan dilakukan dengan menjepit badan domba bagian belakang dengan posisi searah ekor, kemudian kaki belakang diangkat dan dipotong secara bergantian. Memotong kuku dapat menggunakan gunting, rennet, atau pisau tajam. Bagian kuku yang dipotong adalah bagian yang tidak ada syaraf dan pembuluh darah. Dalam hal ini hanya terdapat perbedaan cara handling domba saat dipotong kuku nya, tetapi kuku yang dipotong sama yaitu bagian kuku yang tidak terdapat syaraf dan pembuluh darah.

Gambar. Pemotongan Kuku Domba

Teknis Pemotongan Ekor Domba dan Kastrasi A. Pemotongan Ekor Domba (Docking) Pemotongan ekor domba atau disebut docking dalam istilah peternakan budidaya domba adalah proses pemisahan ekor dari domba dengan cara di potong secara langsung menggunakan alat berupa electtric docker ataupun bertahap dengan cara dijepit menggunakan karet elastrator. Docking meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan domba. Perlakuan ini mencegah kotoran terakumulasi pada ekor dan bagian belakangnya hewan. Penelitian telah menunjukkan bahwa pemotongan ekor dapat mengurangi serangan lalat (belatung wol), sedangkan pemotongan ekor tidak memiliki efek sakit ataupun kematian pada domba atau produksi. Tidak banyak peternak domba di Indonesia ingin melakukan docking pada dombanya. Docking membuatnya lebih mudah untuk mengamati ambing domba betina dan mendeteksi potensi masalah. Beberapa pasar (pembeli domba) mendiskriminasikan pemotongan ekor domba, karena pemotongan ekor dommba akan membutuhkan tenaga kerja tambahan selama pemrosesan. Di sisi lain, etnis pembeli domba biasanya lebih memilih domba yang tidak dipotong ekornya terlebih untuk musim Idhul Adha, domba cacat sering tidak disukai untuk kegiatan tersebut. Seekor domba bercacat adalah domba yang sudah dipotong ekornya, dikebiri, atau memiliki tanduk yang dihilangkan. a. Jenis-jenis pemotongan ekor (Ark Animal Care). 1. Elastrator Karet elastrator (karet kecil ketat) pada ekor. Karet ini mengkonstriksi suplai darah ke ekor setelah karet dipasangkan maka ekor akan mengerut dan rontok dalam 10-14 hari tergantung pada ukuran domba. Metode ini membutuhkan tenaga kerja yang rendah. Dengan kondisi cuaca kering, ini adalah metode yang memiliki tingkat kemungkinan untuk mengakibatkan infeksi. Kerugian utamanya adalah meningkatnya risiko tetanus dan serangan lalat karena lama dari waktu ekor untuk mati/terputus dari domba. 2. Emasculator / Burdizzo. Kedua alat ini menghancurkan ekor di lokasi yang diinginkan. Emasculator juga akan memotong bagian ekor yang tersisa, sedangkan penggunaan Burdizzo akan membutuhkan pisau yang tajam atau pisau bedah persis di tempat pemotongan ekor. Keuntungan dari metode ini adalah dilakukan dengan cepat dan ekor pun terputus. Namun, kelemahan meningkatnya pendarahan, kebutuhan peralatan yang lebih mahal, dan di butuhkannya keterampilan tenaga kerja.

3. 3. Electric Docker dipanaskan oleh listrik, propane, alat ini memotong ekor dengan menggunakan pemanas. Jika digunakan dengan benar, alat tersebut akan membakar pembuluh darah dan syaraf pada ekor sehingga mencegah perdarahan. Oleh karena itu ada sedikit kesempatan untuk kehilangan darah dan infeksi. Namun, jika besi yang menempel terlalu lama atau terlalu pendek jangka waktunya, akan

memungkinkan untuk timbulnya infeksi. Luka dari docking panas mungkin memakan waktu lebih lama untuk menyembuhkannya dibandingkan dengan docking dengan karet elastrator.

Pemotongan ekor domba memiliki beberapa kelebihan diantaranya adalah menjaga kesehatan domba dengan menghindari bertumpuknya kotoran pada bagian ekor dan bagian belakang domba sehingga mampu untuk meminimalisir hinggapnya lalat sebagai vektor penyakit pada bagian tersebut, disisi lain pemotongan ekor domba juga memiliki kekurangan diantaranya adalah kemungkinan terjadinya infeksi setelah proses docking, faktor yang sering terjadi dilapangan adalah kurangnya tenaga ahli yang memiliki keterampilan dalam memotong ekor domba, kurangnya pengontrolan setelah proses docking, serta pemotongan ekor yang dilakukan terlalu pendek akan menyebabkan prolaps pada rektum. Proses docking dilakukan tehadap domba yang baru berumur 2-3 hari, dengan ketentuan pemotongan ekor pada sendi ketiga dari pangkal ekor atau 1 inchi dari tubuh domba. (Ark Animal Care). Proses pemotongan ekor yang terjadi dilapang pada saat praktikum adalah sebagai berikut: 1. Setiap kelompok praktikum, pada setiap kelas diberikan kesempatan untuk memotong ekor pada satu ekor domba saja. 2. Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah betadine, stabilizer, papan pembatas, tempat handling domba, dan electric docker. 3. Salah satu anggota dari praktikum kami yang akan melakukan pemotongan menggunakan elcetric docker dan beberrapa diantaranya membantu untuk menghandling domba yang sudah diletakkan di tempat handling. 4. Jika panas pada alat sudah dirasakan cukup maka ekor domba dibatasi dengan pembatas yang terbuat dari papan kayu dan kemudian dilakukan pemotongan ekor hingga terputus. 5. Pemberian betadine setelah pemotongan bertujuan untuk membantu proses pengeringan pada sisa luka pemotongan. Jika dibandingkan dengan literatuur yang ada, bahwa proses pemotongan yang dilakukan dilapangan saat praktikum sesuai dengan jenis pemotongan nomor 3, atau menggunakan alat electric docker.

Gambar. Electic Docker

B. Kastrasi/Pengebirian Kastrasi atau pengebirian adalah suatu program yang dilakukan oleh peternak untuk membantu dalam proses pemeliharaan penggemukan domba. Menurut Technical Bulletin (2008) yang di terbitkan oleh ESGPIP (Ethiopia Sheep and Goat Productivity Improvment Program), Pengebirian adalah praktik manajemen penting bagi kambing dan domba peternak untuk mempertahankan kontrol program pemuliaan mereka dan berhasil melakukan perbaikan berkembang biak. Pengebirian adalah penghapusan atau perusakan pada testis, epididimis, dengan melakukan pemotongan pada saluran Vas Diferens dari domba. Dan terdapat beberapa alasan mengapa dilakukannya kastrasi pada domba diantaranya adalah: Mencegah berkembang biaknya individu terkait (inbreeding) yang dapat mengakibatkan cacat genetik, kurangnya tingkat pertumbuhan, dan masalah lainnya. Menghindari kebuntingan yang tidak diinginkan dan kawin betina muda sebelum memasuki ukuran dan umur yang memadai untuk kebuntingan. Meningkatkan keamanan peternakan untuk hewan, produsen dan karyawan. Hewan dikebiri biasanya kurang agresif dan lebih mudah untuk dikelola. Mengurangi bau kambing: daging dari kambing yang dikebiri memiliki intensitas bau yang sedikit dibandingkan dengan kambing yang tidak dikebiri. Komposisi karkas dan perkembangan berat badan: Ini adalah salah satu efek utama dari pengebirian. Secara umum, efek yang ditimbulkan oleh pengebirian terhadap karkas: o Karkas dari domba yang dikebiri memiliki lebih banyak jaringan lemak. o Pengebirian dapat menghambat pertumbuhan dan mengurangi jumlah daging jika dilakukan terlambat (setelah usia 6 bulan). a. Metode kastrasi Terdapat beberapa metode dalam kastrasi diantarnya adalah menggunakan tang Burdizzo yaitu dengan memutus langsung saluran vas diferens yang

ada didalam skrotum domba jantan, berikutnya adalah proses pemotongan menggunakan karet elastrator yang dijepitkan pada skrotum domba jantan.

Gambar. Elastrator & Elastrator Ring

Teknik Pemberian Nomor Ternak Domba Pemberian nomor pada ternak domba adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kebanyakan peternak untuk mempermudah dalam proses identifikasi ternak. Proses pemberian nomor atau sering disebut tagging dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya adalah pemberian ear tag dengan merusak bagian kecil dari telinga untuk meletakkan nomor pada ternak tersebut. Pada kebanyakan peternak di Indonesia hanya menggunakan jenis tagging yang digantungkan dileher, dengan alasan domba yang diberikan tagging ditelinga akan memberikan tanda cacat dan sedikit peminat yang akan membelinya karena pasar utama penggemukan domba di Indonesia adalah kegiatan Idul Ahda, dimana permintaan pembeli adalah keutuhan dari kondisi hidup domba tersebut. Praktik yang dilakukan dilapangan adalah pemberian nomor ternak dengan menggunakan tali dileher ternak dengan selang tipis sebagai nomor identitasnya. Adapun praktikum yang dilakukan sebagai berikut: 1. Setiap kelompok mendapatkan tugas untuk membuat nomor tagging untuk domba dengan kreatifitas dari masing-masing kelompok. 2. Alat dan bahan yang digunakan adalah, selang tipis sebagai tempat nomor tagging, tali rafia tebal tempat menggantungkan nomor tagging, lilin dan paku kecil yang digunakan untuk memberikan nomor tagging. 3. Setiap kelompok membuat nomor tagging dengan sekreatif mungkin yang nantinya akan menjadi penilaian praktikum. 4. Pembuatan tali tempat menggantungnya nomor tagging dibuat agar tidak menggangu domba, tidak mudah terlepas ataupun membuat domba tercekik. 5. Penggantungan nomor tagging dilakukan setelah semua selesai dan diberikan penilaian oleh dosen pembimbing praktikum. Seperti yang dikutip dari beberapa literatur, terdapat beberapa jenis pemberian nomor tagging untuk identifikasi ternak diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Tag telinga Ada banyak metode untuk mengidentifikasi domba, dengan tag telinga yang paling umum. Tag telinga terbuat dalam berbagai ukuran, desain, dan merek. Ada kuningan, aluminium, dan tag plastik, tag tombol, tag rotary, tag putar, dan tag looping, tag DNA, dan RFID (tag elektronik). 2. Tato Tato adalah bentuk permanen terbaik untuk nomor identifikasi. Mereka juga tidak merugikan penampilan hewan atau mengurangi nilainya dengan cara apapun. Angka dan huruf yang terbuat dari tinta yang ditempatkan pada jarum yang diletakkan di telinga dalam bentuk huruf dan nomor sehingga dapat dibaca. Kerugian terbesar untuk tato adalah bahwa tato sulit untuk dibaca dari kejauhan. Hal ini biasanya diperlukan untuk menangkap ternak yang dicari.

3. Telinga bentukan Sebuah takik telinga adalah takik berbentuk V ditempatkan di suatu tempat di telinga. Sementara produsen babi menggunakan telinga bentukan sebagai lengkap sistem identifikasi hewan, telinga bentukan pada domba lebih sering digunakan untuk diferensiasi sederhana. Misalnya, telinga bentukan dapat digunakan untuk menunjukkan jenis kelahiran dan / atau minggu lahir. Takik Telinga dapat digunakan untuk menandai domba untuk pemusnahan. 4. Rantai leher atau tali Rantai leher atau tali adalah bentuk paling sedikit digunakan identifikasi pada domba. Mereka adalah yang paling umum dengan hewan menyusui. Rantai leher memiliki tag nomor yang sesuai dengan nomor identifikasi hewan. 5. ID Elektronik Jumlah hewan yang diidentifikasi dengan identifikasi frekuensi radio (RFID) teknologi berkembang pesat. Tag telinga elektronik adalah bentuk paling umum dari ID elektronik. Sebuah microchip dan antena tembaga melingkar dirumuskan dalam tag telinga plastik standar. Sebuah bolus dimasukkan ke dalam rumen menggunakan senapan balling dan berada dalam retikulum hewan. Hal ini mudah dihapus oleh packer dan dapat didaur ulang. Jika dibandingkan dengan literatur yang sudah dipaparkan, bahwa pemberian nomor tagging pada saat praktikum sama halnya pada metode prmberian nomor tagging pada point ke 4, dimana pemasangan nomor tagging menggunakan rantai leher, perbedaan yang terdapat adalah alat dan bahan yang digunakan saja.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Setelah membahas beberapa teknik dalam pemeliharaan domba yaitu, penentuan umur domba, pemotongan kuku dan ekor, setra kastrasi dan pemberian nomor tagging pada domba maka dapat disimpulkan bahwa setiap perlakuan yang diberikan kepada domba memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, diantaranya adalah mempermudah peternak dalam beberapa bidang kegiatan budidaya domba. Daftar Pustaka Rismayanti, Y. 2010. Petunjuk Teknis Budidaya Domba. Balai Pengkajian Tenologi Pertanian Jawa Barat (BPTP). Lembang, Bandung. [PDF] [Anonim]. 2009. Technical Bulletin No. 23 Estimation of weight and age of sheep and goats. ESGPIP (Ethiopia Sheep and Goat Productivity Improvment Program). Ethiopia. [PDF] [Anonim]. 2009. Technical Bulletin No. 18 Castration Of Sheep And Goats. ESGPIP (Ethiopia Sheep and Goat Productivity Improvment Program). Ethiopia. [PDF] [Anonim]. Tail Docking. Ark Animal Care. Mill City. [PDF]