Anda di halaman 1dari 19

PROSES ADAPTASI FISIOLOGIS DAN PSIKOLOGIS DALAM KEHAMILAN 2.

1 PROSES ADAPTASI FISIOLOGIS KEHAMILAN

a). Sistem reproduksi 1. Uterus Ukuran : membesar akibat hipertrofi dan hiperplasi otot polos rahim, serabutserabut Berat : 30 gr 1000 gr (akhir kehamilan) Bentuk dan konsistensi : awal kehamilan seperti buah alpukat, empat bulan berbentuk bulat, akhir bulan bujur telur. Minggu pertama, isthmus rahim mengadakan hipertrofi (pembesaran) dan bertambah panjang sehingga bila diraba rerasa lebih lunak (tanda hegar), kehamilan 5 bulan, rahim teraba seperti berisi cairan ketuban, dinding rahim terasa tipis, karena itu bagian janin bisa diraba melalui dinding perut dan dinding rahim. Posisi rahim : permulaan kehamilan anteflexi atau retroflexi 4 bulan kehamilan, rahim tetap berada dalam rongga pelvis, kemudian memasuki rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati, rahim yang hamil biasanya mobilitas, lebih mengisi rongga abdomen kanan dan kiri. Vaskularisasi : pembuluh darah balik (vena) mengembang dan bertambah.

2. Servik uteri dan ovarium Servik bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak (tanda goodll). Kelenjar endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mucus, karena pertambahan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya menjadi livide (tanda chadwick). Ovarium : ovulasi berhenti, masih terdapat korpus luteum graviditas samapai terbentuknya uri untuk mengambil alih pengeluaran est dan prog. Kadar hormon relaxin disirkulasi maternal meningkat pada TM 1 dan berpengaruh menenangkan hingga pertumbuhan janin menjadi baik hingga aterm. 3. Vagina dan vulva

Terjadi perubahan karena pengaruh estrogen. Akibat hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah atau kebiru2an . Warna livid pada vagina dan portio serviks disebut tanda Chadwick. 4. Dinding perut Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkab robeknya serabut elastik dibawah kulit sehingga timbul striae gravidarum. kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya disebut linea nigra 5. Mamae Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang, berat, akibat hipertrofi kelenjar alveoli, bayangan vena-vena lebih membiru, hiperpigmentasi pada putting susu dan areola. Perkembangan payudara saat kehamilan dipengaruhi oleh estrogen, progesteron, dan somatomamotropin. Fungsi masing2 hormon Estrogen : 1. 2. Menimbulkan hipertrofi system saluran payudara Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam sehingga payudara tampak menjadi lebih besar 3. Tekanan serat saraf akibat penimbunan lemak, air dan garam menyebabkan rasa sakit pada payudara Progesteron : 1. 2. 3. Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi Menambah sel asinus Somatomamotropin

Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein, laktalbumin dan laktoglobulin Penimbunan lemak sekitar alveolus payudara. b). Sirkulasi darah Volume dan darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak akhir TM 1. volume darah akan bertambah banyak kira2 25% dengan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung (cardiac output) yang meningkat sebanyak kurang lebih 30%. Akibat hemodilusi yang mulai jelas kelihatan pada kehamilan 4 bulan, ibu yang menderita penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasio kordis (keadaan

dimana terjadi penurunan kemampuan fungsi kontraktilitas yang berakibat pada penurunan fungsi Tekanan darah dan nadi. Tekanan darah : cenderung menurun terutama selama trimester kedua dan naik lagi seperti pada prahamil Nadi biasanya naik, rata-ratanya 84 kali permenit

c). Sistem respirasi Wanita hamil sering mengeluh sesak napas dan pendek napas. Hal ini disebabkan oleh usus yang tertekan kearah diafragma akibat pembesaran rahim. d). Saluran pencernaan Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan neg (nausea). Mungkin ini akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot traktus digestivus menurun sehingga motilitas seluruh traktus digestivus juga berkurang. Makanan lebih lama berada dilambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada dalam usus. Hal ini mungkin lebih baik untuk resorpsi akan tetapi menimbulkan pola obstipasi yang memang merupakan salah satu keluhan wanita hamil. e). Saluran perkemihan Bulan - bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga sering timbul rasa ingin pipis. f). Sistem integument Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh melanohore stimulating hormon (MSH) yang meningkat. MSH dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Deposit pigmen pada dahi, pipi, dan hidung disebut : cloasma gravidarum. Didaerah leher sering terdapat hiperpigmentasi yang sama juga di areola mamae. Linea alba pada kehamilan menjadi hitam disebut linea grisea Kadang terdapat perut yang seolah-olah retak, warnanya berubah agak hiperemik dan kebiru-biruan disebut striae livide. g). Sistem endokrin Beberapa kelenjar endokrin terjadi perubahan seperti :

o Kelenjar tiroid : dapat membesar sedikit. o Kelenjar hipofise : dapat membesar terutama lobus anterior. o Kelenjar adrenal : tidak begitu berpengaruh. h). Sistem musculoskeletal Pengaruh dari peningkatan estrogen, progesteron dan elastin dalam kehamilan menyebabkan kelemahan jaringan ikat dan ketidakseimbangan persendian. Akibat dari perubahan selama kehamilan : Peregangan otot-otot. Pelunakan ligamen-ligamen Area yang dipengaruhi Tulang belakang (curva lumbar yang berlebihan),otot-otot abdominal(meregang ke atas uterus hamil), otot dasar panggul (menahan berat badan dan tekanan uterus). 2.2 PERUBAHAN DAN ADAPTASI PSIKOLOGIS PADA KEHAMILAN Ada beberapa anggapan terhadap perubahan psikologi yang terjadi selama kehamilan, hal ini berkaitan dengan beberapa perubahan biologik. Kejadian dan proses psikologi ini diidentifikasi pada trimester kehamilan yang akan dibahas dibawah ini. a). PERUBAHAN TRIMESTER I Segera setelah konsepsi kadar hormon progesteron dan estrogen dalam tubuh akan meningkat dan ini menyebabkan timbulnya mual dan muntah pada pagi hari, lemah, lelah dan membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat dan seringkali membenci kehamilannya. Banyak ibu yang merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan. Seringkali, biasanya pada awal kehamilannya, ibu berharap untuk tidak hamil. Hampir 80 % kecewa, menolak, gelisah, depresi dan murung. Kejadian gangguan jiwa sebesar 15 % pada trimester I yang kebanyakan pada kehamilan pertama. Menurut kumar dan robson (1978) 12% wanita yang mendatangi klinik menderita depresi terutama pada mereka yang ingin menggugurkan DAN ADAPTASI PSIKOLOGIS PADA KEHAMILAN

kandungannya.Perubahan psikologis yang terjadi pada kehamilan trimester I didasari pada teori Revarubin. Teori ini menekankan pada pencapaian peran sebagai ibu, dimana untuk mencapai peran ini seorang wanita memerlukan proses belajar melalui

serangkaian aktifitas. Trimester pertama ini sering dirujuk kepada masa penentuan. Penentuan membuat fakta wanita bahwa ia hamil.Trimester pertama juga sering merupakan masa kekhawatiran dari penantian Beberapa tahapan aktifitas penting seseorang menjadi ibu : Taking On Seorang wanita dalam pencapaian peran sebagai ibu akan memulainya dengan meniru dan melakukan peran ibu. Taking In Seorang wanita sudah mulai membayangkan peran yang dilakukan Letting Go Wanita mengingat kembali proses dan aktifitas yang sudah dilakukannya. Kehamilan pada trimester I ini cenderung terjadi pada tahapan aktifitas yang dilalui seorang ibu dalam mencapai perannya yaitu pada tahap taking on. Pada trimester pertama seorang ibu akan selalu mencari tanda - tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. Setiap perubahan yang terjadi pada tubuhnya akan selalu diperhatikan dengan seksama. Karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang ibu yang mungkin diberitahukannya kepada orang lain atau dirahasiakannya. Para wanita juga mungkin akan mengalami ketakutan dan fantasi selama kehamilan, khususnya tentang perubahan pada tubuhnya. Mereka khawatir terhadap perubahan fisik dan psikologisnya, jika mereka multigravida, kecemasan berhubungan dengan pengalaman yang lalu. Banyak wanita hamil yang mimpi seperti nyata, dimana hal ini sangat menggangu. Mimpinya seringkali tentang bayinya yang bisa diartikan oleh ibu apalagi bila tidak menyenangkan. 1. Bentuk Motivasi Motivasi Suami Reaksi pertama seorang pria ketika mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah adalah timbulnya kebanggaan atas kemampuannya mempunyai keturunan bercampur dengan keprihatinan akan kesiapannya menjadi seorang ayah dan menjadi pencari nafkah untuk keluarganya. Seorang calon ayah mungkin akan sangat memperhatikan keadaan ibu yang mulai hamil dan menghindari hubungan seks karena takut akan mencederai bayinya. Ada pula pria yang hasrat seksualnya

terhadap wanita hamil relatif lebih besar. Disamping respon yang diperlihatkannya, seorang ayah dapat memahami keadaan ini dan menerimanya. Zaman dahulu seorang

suami ikut mendukung kehamilan istrinya dengan ritual-ritual keagamaan. Berbeda dengan dukungan yang diberikan oleh suami pada saat ini, bentuk dukungan yang diberikan oleh suami lebih pada : Untuk saling berkomunikasi dari sejak awal Menempatkan nilai-nilai penting dalam keluarga untuk mempersiapkan menjadi orang tua. Motivasi Keluarga Wanita hamil sering kali merasakan ketergantungan terhadap orang lain. Tapi mungkin bisa menjadi lebih kuat sesudah bayinya lahir hal ini bisa dipahami karena pada waktu itu wanita memerlukan keamanan dan perhatian dari seseorang yang sangat dominan baginya. Keluarga dalam hal ini harus menjadi bagian dalam mempersiapkan pasangan menjadi orang tua. 2. Stress yang Terjadi Pada Kehamilan Trimester I Ada 2 tipe stress yaitu yang negatif dan positif, kedua stress ini dapat mempengaruhi reaksi individu. Ada pula yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Stress intrinsik berhubungan dengan tujuan pribadi dari individu, yang mana individu berusaha untuk membuat sesempurna mungkin baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan sosialnya secara profesional. Stress ekstrinsik timbul karena faktor eksternal seperti rasa sakit, kehilangan, kesendirian dan masa reproduksi. Menurut Burnard (1991) stress selama masa reproduksi dapat dihubungkan dengan 3 aspek utama yaitu : 1. Stress di dalam individu 2. Stress yang disebakan oleh pihak lain 3. Stress yang disebabkan penyesuaian terhadap tekanan sosial Stress dari dalam diri dapat terjadi berkenaan dengan kegelisahan terhadap kemampuan beradaptasi dengan kejadian kehamilannya. 3. Memperkuat Ikatan Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kehamilan memberikan kesempatan pada seorang ibu untuk saling memperkuat hubungan. Dan hubungan yang kuat lebih penting dari yang lainnya. Masa-masa kehamilan, persalinan dan bulan-bulan sesudahnya merupakan saat saat yang sulit. Semakin dekat pada awalnya, akan

semakin baik akhirnya. Jadi, pada saat hidup masih relatif normal, luangkan waktu untuk berdua, berbicara tentang perasaan pasangannya. Betapapun bahagianya atau sibuknya pasangan suami istri, kegelisahan yang timbul karena kondisi baru merupakan suatu yang normal. 4. Kehamilan dan Libido Hasrat untuk melakukan hubungan seks, pada wanita pada trimester pertama ini berbeda- beda. Walaupun pada beberapa wanita mengalami gairah seks yang lebih tinggi, kebanyakan mereka mengalami penurunan libido selama periode ini. Keadaan ini menciptakan kebutuhan untuk berkomunikasi secara terbuka dan jujur dengan suami. Banyak wanita merasa butuh untuk dicintai dan merasakan kuat untuk mencintai namun tanpa hubungan seks. Libido sangat dipengaruhi oleh kelelahan, rasa mual, pembesaran payudara, keprihatinan dan kekhawatiran. Semua ini merupakan bagian normal dari proses kehamilan pada trimester pertama. 5. Kehamilan dan Olahraga Setelah hamil, mayoritas wanita dapat melanjutkan aktivitas biasa mereka. Tidak ada bukti bahwa aktivitas yang teratur, seperti jogging, bermain tennis, berenang, atau melakukan hubungan seks, dapat menimbulkan masalah seperti keguguran atau fetal malformation (janin yang cacat) pada kebanyakan wanita normal dan sehat. Kebanyakan dokter melarang program olahraga baru yang dimulai pada saat hamil, kecuali latihan-latihan prenatal yang dirancang khusus untuk wanita hamil. Latihanlatihan yang paling menguntungkan bagi wanita hamil adalah latihan dengan gerakan yang menguatkan dinding perut untuk membantu menopang uterus dan otot pinggul yang akan anda butuhkan untuk mendorong. Latihan kaki juga penting untuk meningkatkan sirkulasi dan menghindari kram otot yang merupakan sesuatu yang biasa dalam kehamilan. b). PERUBAHAN TRIMESTER II 1. Pembagian perubahan psikologis pada trimester II Trimester kedua dapat dibagi menjadi dua fase; prequickeckening (sebelum adanya pergerakan janin yang dirasakan ibu) dan postquickening (setelah adanya pergerakan janin yang dirasakan oleh ibu), yang dapat dilihat pada penjelasan berikut : DAN ADAPTASI PSIKOLOGIS PADA KEHAMILAN

Fase prequickening Selama akhir trimester pertama dan masa preqiuckening pada trimester kedua, ibu hamil mengevaluasi lagi hubungannya dan segala aspek di dalammya dengan ibunya yang telah terjadi selama ini. Ibu menganalisa dan mengevaluasi kembali segala hubungan interpersonal yang telah terjadi dan akan menjadi dasar bagaimana ia mengembangkan hubungan dengan anak yang akan dilahirkannya. Ia akan menerima segala nilai dengan rasa hormat yang telah diberikan ibunya, namun bila ia menemukan adanya sikap yang negatif, maka ia akan menolaknya. Perasaan menolak terhadap sikap negatif ibunya akan menyebabkan rasa bersalah pada dirinya. Kecuali bila ibu hamil menyadari bahwa hal tersebut normal karena ia sedang mengembangkan identitas keibuannya. Proses yang terjadi dalam masa pengevaluasian kembali ini adalah perubahan identitas dari penerima kasih sayang (dari ibunya) menjadi pemberi kasih sayang (persiapan menjadi seorang ibu). Transisi ini memberikan pengertian yang jelas bagi ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya sebagai ibu yang memberikan kasih sayang kepada anak yang akan dilahirkannya. Trimester kedua sering dikatakan periode pancaran kesehatan. Ini disebabkan selama trimester ini wanita umumnya merasa baik dan terbebas dari ketidaknyamanan kehamilan.

Fase postquickening Setelah ibu hamil merasakan quickening, identitas keibuan yang jelas akan muncul. Ibu hamil akan fokus pada kehamilannya dan persiapan menghadapi peran baru sebagai seorang ibu. Perubahan ini bisa menyebabkan kesedihan meninggalkan peran lamanya sebelum kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami hamil pertama kali dan wanita karir. Ibu harus diberikan pengertian bahwa ia tidak harus membuang segala peran yang ia terima sebelum kehamilannya. Pada wanita multigravida, peran baru artinya bagaimana ia menjelaskan hubungan dengan anaknya yang lain dan bagaimana bila nanti ia harus meninggalkan rumahnya untuk sementara pada proses persalinan. Pergerakan bayi yang dirasakan membantu ibu membangun konsep bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dari dirinya. Hal ini menyebabkan perubahan fokus pada . Pada saat ini, jenis kelamin bayi tidak begitu dipikirkan karena perhatian utama adalah kesejahteraan janin (kecuali beberapa suku yang menganut sistem patrilineal/matrilineal).

2. Menjaga agar ikatan tetap kuat Ketika kehamilan telah terlihat, ibu dan pasangannya harus lebih sensitif terhadap pengaruh kondisi ini pada mereka berdua. Ibu hamil sering merasa takut jika pasangannya mendapati dirinya tidak menarik atau gendut, tapi masalah yang muncul lebih rumit lagi. Komunikasi adalah kunci untuk menghadapi masalah ini. Tetap cara ini dapat digunakan bila ibu dan pasangannya tetap terbuka dan memulainya sedini dan sesering mungkin. Bila salah satu tidak membicarakan latar belakang masalah yang dirasakan, atau setelah berdiskusi justru merasa depresi, saat itulah diperlukan penasihat kehamilan dan orang sekitarnya yang dapat menolong ibu dan pasangannya. 3. Menjaga kehamilan yang sehat Ibu hamil mungkin merasa lebih baik pada trimester kedua, tapi bukan berarti bagian luar yang berubah, bagian dalam tubuh pun perubahan sebagai respon terhadap kehamilan yang terus berkembang. Beberapa perubahan dapat saja terasa mengganggu, namun ada juga perubahan yang terasa menyenangkan bagi ibu hamil. Perubahan yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah keadaan yang normal bagi ibu hamil dan ibu harus diberikan pengertian terhadap kondisi tersebut sehingga ia lebih merasa nyaman lagi. Beberapa perubahan yang menyenangkan seperti rasa mual berkurang dibandingkan yang dialami selama trimester pertama, energi bertambah dan peningkatan libido. 4. Reaksi orang-orang di sekitar ibu hamil Tampaknya sang suami juga mengalami perubahan psikologis seiring perubahan yang dialami istrinya yang hamil. Pada suatu studi dilaporkan sang suami juga merasakan perubahan nafsu makan, perubahan berat badan, rasa sakit kepala hingga kecemasan dan ketakutan dirasakan oleh suami yang istrinya sedang hamil. Saat ini suami lebih aktif ikut menangani dalam kehamilan istrinya dan turut merasakan tanggung jawab akan kelahiran bayinya. Apabila di dalam keluarga terdapat anak sebelumnya, ia akan merasa bingung akan perubahan yang dialami ibunya. Anak perlu diberikan pengertian secara sederhana tentang perubahan yang terjadi dan hal yang akan dihadapi sehubungan dengan kehamilan. Ibu dari wanita hamil tampaknya adalah orang yang sering mengambil peran yang cukup besar selama kehamilan. Ibu hamil tampaknya merasa tergantung akan bantuan dari ibunya dalam menghadapi kehamilan dan persiapan penerimaan bayi yang akan dilahirkan.

5. Berhubungan seks Ada satu lagi perubahan yang terjadi pada trimester kedua yang harus diimbangi untuk mengatasi ketidaknyamanan yaitu suatu peningkatan libido yang pada trimester pertama dihilangkan oleh rasa mual dan lelah. Kebanyakan calon orang tua khawatir jika hubungan seks dapat mempengaruhi kehamilan. Kekhawatiran yang paling sering diajukan adalah kemungkinan bayi diciderai oleh penis, orgasme ibunya, atau ejakulasi. Ibu hamil dan pasangannya perlu dijelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hubungan seks. Janin tidak akan terpengaruh karena berada di belakang serviks dan dilindungi cairan amniotik dalam uterus. Namun dalam beberapa kondisi hubungan seks selama trimester kedua tidak diperbolehkan, mencakup plasenta previa dan ibu dengan riwayat persalinan prematur. Selain itu meknisme fisik untuk saling merapat dalam hubungan seksual akan menjadi sulit dan kurang nyaman, misalnya berbaring terlentang dan menahan berat badan suami. Namun dengan mengkreasi posisi yang menyenangkan maka masalah ini dapat diatasi. Walaupun sebagian ibu hamil merasakan seks selama hamil terasa meningkat, tidak semua libido wanita meroket tinggi pada trimester kedua. Perubahan tingkat libido disebabkan variasi perubahan hormon selama hamil. Karena respon terhadap hormon berbeda, reaksi masingmasing ibu hamil pun berbeda. c). PERUBAHAN TRIMESTER III Gerakan bayi dan membesarnya perut merupakan dua hal yang mengingatkan ibu akan bayinya. Kadang - kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu - waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan. Ibu seringkali merasa khawatir atau takut kalau - kalau bayi yang akan dilahirkannya tidak normal. Kebanyakan ibu juga akan bersikap melindungi bayinya dan akan menghindari orang atau benda apa saja yang dianggapnya membahayakan bayinya. Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang akan timbul pada waktu melahirkan. Rasa tidak nyaman akibat kehamilan timbul kembali pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh dan jelek. Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil. Pada trimester inilah ibu memerlukan keterangan dan dukungan dari suami, keluarga dan bidan. DAN ADAPTASI PSIKOLOGI PADA KEHAMILAN

Trimester ketiga sering kali disebut periode menunggu / penantian dan waspada sebab pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Trimester III adalah waktu untuk mempersiapkan kelahiran dan kedudukan sebagai orangtua seperti terpusatnya perhatian pada kehadiran bayi. Trimester ketiga merupakan saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi yang akan dilahirkan dan bagaimana rupanya. Mungkin juga nama bayi yang akan dilahirkan juga sudah dipilih. Trimester ketiga adalah saat persiapan aktif untuk kelahiran bayi dan menjadi orang tua. Keluarga mulai menduga - duga tentang jenis kelamin bayinya ( apakah laki- laki atau perempuan ) dan akan mirip siapa. 1. Peran bidan dalam persiapan psikologis ibu hamil trimester I, II, III Mempelajari keadaan lingkungan penderita Ibu hamil yang selalu memikirkan mengenai keluarga, keuangan, perumahan dan pekerjaan dapat juga menimbulkan depresi dan perlu penanggulangan. Untuk itu bidan harus melakukan pengkajian termasuk keadaan lingkungan (latar belakang) sehingga mempermudah dalam melakukan asuhan kebidanan. Informasi dan pendidikan kesehatan Mengurangi pengaruh yang negatif Kecemasan dan ketakutan sering dipengaruhi oleh cerita cerita yang menakutkan mengenai kehamilan dan persalinan, pengalaman persalinan yang lampau atau karena kurangnya pengetahuan mengenai proses kehamilan dan persalinan. Keadaan tersebut perlu diimbangi dengan pendidikan mengenai anatomi dan fisiologi kehamilan dan persalinan kepada penderita. 1. Memperkuat pengaruh yang positif Misalnya dengan memberikan dukungan mental dan penjelasan tentang kebahagiaan akan mempunyai anak yang diinginkan dan dinantikan. 2. Meganjurkan latihan latihan fisik seperti senam hamil untuk 3. memperkuat otot otot dasar panggul, melatih pernafasan, teknik yang baik dan latihan latihan relaksasi. 4. Adaptasi pada lingkungan tempat bersalin 5. Dilaksanakan dengan mengadakan orientasi : memperkenalkan ruang bersalin, alat alat kebidanan dan tenaga kesehatan.

2.3 TANDA

DAN

GEAJALA DAN

KEHAMILAN

DAN

PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN

PERTUMBUHAN JANIN

PERKEMBANGAN

SERTA

TANDA DAN GEJALA KEHAMILAN 1. Tanda Pasti Kehamilan Terdengar denyut jantung janin (DJJ). Terasa gerak janin. Pada pemeriksaan USG terlihat adanya kantong kehamilan, ada gambaran embrio. Pada pemeriksaan rontgen terlihat adanya rangka janin ( >16 minggu ). 2. Tanda tidak pasti hamil Rahim membesar. Tanda Hegar Tanda Chadwik, yaitu warna kebiruan pada serviks, vagina dan vulva. Tanda Piskacek, yaitu pembesaran uterus kesalah satu arah sehingga menonjol jelas ke arah pembesaran tersebut. Braxton Hicks, yaitu bila uterus dirangsang akan mudah berkontraksi. Basal Metabolisme Rate (BMR) meningkat. Ballotement positif Test urine kehamilan (tes HCG) positif

3. Dugaan Hamil Amenore/tidak mengalami menstruasi sesuai siklus (terlambat haid). Nausea, anoreksia, emesis, dan hipersaliva. Pusing. Miksi/sering buang air kecil. Obstipasi. Hiperpigmentasi, striae, cloasma, linea nigra. Varises. Payudara menegang. Perubahan perasaan. Berat badan bertambah.

4. Diagnosis Banding Pseudosiesis ( kehamilan palsu ). Kistoma ovary.

Mioma uteri. Retensi urine ( bendungan kantong kemih ). Menopause/amenore sekunder. PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN JANIN SERTA KESEJAHTERAAN JANIN Artinya : janin dalam keadaan hidup, sehat, tidak sakit, selamat, terbebas dari ancaman. Janin mungkin saja berada dalam keadaan hidup sehat dan tidak sakit, TETAPI berada dalam keadaan yang mengancam atau membahayakan, misalnya : pada ibu yang mengalami penyakit / kelainan tertentu seperti pre-eklampsia. PEMANTAUAN JANIN (Fetal Monitoring) Mengawasi, menyelidiki, menentukan, apakah janin berada dalam keadaan sakit atau tidak, serta apakah ada keadaan yang mungkin mempengaruhinya. Tujuan pemantauan janin Untuk deteksi dini ada/tidaknya faktor-faktor risiko kematian perinatal tersebut (hipoksia/asfiksia, gangguan pertumbuhan, cacat bawaan, infeksi).

CARA-CARA PEMANTAUAN KESEJAHTERAAN JANIN Perkiraan pertumbuhan janin dari tinggi fundus uteri terhadap usia kehamilan Syarat pemeriksaan tinggi fundus : vesika urinaria dan rektum idealnya dalam keadaan kosong (jika tidak, pengaruh bisa sampai + 3 cm). Diukur dengan pasien keadaan telentang, pada keadaan uterus tidak kontraksi, dari tepi atas simfisis sampai fundus. Untuk memperkirakan ada tidaknya gangguan pertumbuhan (apakah pertumbuhan janin termasuk kecil atau sesuai atau besar terhadap usia kehamilannya). Contoh : ibu dengan diabetes mellitus atau obesitas, risiko janin besar. Jika ada gangguan pertumbuhan kecil, pikirkan kemungkinan hipoksia kronis sehingga oksigenasi janin terganggu. Jika tinggi fundus lebih daripada kalibrasi usia kehamilan, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : kehamilan multipel, tumor, hidrosefalus, bayi besar, hidramnion. Jika tinggi fundus kurang daripada kalibrasi usia kehamilan, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : oligohidramnion, pertumbuhan janin terhambat, ketuban pecah dan sebagainya. Perkiraan berat janin dengan rumus Johnson Tossec.

Auskultasi denyut jantung janin Dengan alat Laennec atau Doppler, atau dengan CT G/cardiotokografi (electronic fetal heart monitoring). Ideal perhitungan frekuensi jantung dilakukan 1 menit penuh. Jika ada alat CTG, bisa direkam untuk 10 menit. Normal frekuensi denyut 120-160 kali per menit, meningkat pada saat kontraksi. Batasan waktu untuk menilai bradikardi : frekuensi denyut jantung di bawah normal selama lebih dari 2 menit. Batasan waktu untuk menilai akselerasi : peningkatan frekuensi denyut jantung di atas 15 denyut per menit selama kurang dari 2 menit. Batasan waktu untuk menilai takikardi : frekuensi denyut jantung di atas normal selama lebih dari 2 menit. Pemeriksaan normal / baik : waktu relaksasi frekuensi jantung normal, waktu kontraksi terjadi takikardia. o Tanda hipoksia akut : waktu relaksasi dan kontraksi bradikardia o Tanda hipoksia kronik : waktu relaksasi normal, waktu kontraksi bradikardia o Jika ada infeksi intra partum : fetal takikardi. o Jika ada gawat janin : fetal bradikardi

Ultrasonografi (USG) Ideal untuk pemeriksaan pada trimester pertama sampai ketiga. Jika memungkinkan, ibu hamil sangat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan USG. USG dapat menilai : 1. kantong gestasi : jumlah, ukuran, lokasi, bentuk, keadaan 2. janin : hidup / mati, jumlah, presentasi, perkiraan usia gestasi melalui biometri janin (gambar), pertumbuhan, kelainan bawaan, dan sebagainya. Gambar : Perkiraan usia gestasi melalui pemeriksaan biometri janin. Pada trimester pertama, parameter yang dipakai adalah jarak puncak kepala sampai bokong (CRL crown-rump length). Pada trimester kedua dan ketiga, parameter yang dipakai di antaranya adalah diameter biparietal kepala (BPD biparietal diameter), lingkar perut (AC abdominal circumference tidak ada dalam gambar) dan panjang tulang femur (FL femur length). 3. tali pusat : jumlah pembuluh darah, sirkulasi (dengan Doppler dapat menilai FDJP/ Fungsi Dinamik Janin Plasenta SDAU/ Sirkulasi Darah Arteri Umbilikalis gambar) 4. membran / cairan amnion : keadaan, jumlah

5. plasenta : lokasi, jumlah, ukuran, maturasi, insersi 6. keadaan patologik : kehamilan ektopik, mola hidatidosa, tumor, inkompetensia serviks, dan sebagainya. dapat juga untuk membantu tindakan khusus : amniocentesis, fetoskopi, transfusi intrauterin, biopsi villi korialis Pemantauan aktifitas / gerakan janin Dapat secara subjektif (ditanyakan kepada ibu), atau objektif (palpasi atau dengan USG). Janin normal, tidak ada hipoksia, akan aktif bergerak. Normal gerakan janin dirasakan oleh ibu sebanyak lebih dari 10 kali per hari (pada usia di atas 32 minggu). Dalam kehidupan janin intrauterin, sebagian besar oksigen hanya dibutuhkan oleh otak dan jantung (refleks redistribusi). Jika janin tidak bergerak, pikirkan kemungkinan diagnosis banding : tidur, atau hipoksia. Pengamatan mekoneum dan cairan ketuban Caranya dengan amniocentesis atau amnioskopi. Pada keadaan normal otot sfingter ani janin berkontraksi, mekoneum tidak keluar, tidak bercampur dengan cairan ketuban sehingga cairan ketuban tetap jernih. Pada hipoksia akut, terjadi hiperperistaltik otot-otot tubuh janin, tetapi terjadi juga relaksasi sfingter ani sehingga mekoneum akan keluar dan bercampur dengan cairan ketuban, menyebabkan warna kehijauan. Pada infeksi, terjadi juga koloni kuman dalam selaput dan cairan ketuban (korioamnionitis), menyebabkan juga warna keruh atau kehijauan. Pemeriksaan rasio lecithin/sphyngomyelin (L/S ratio) pada cairan ketuban dapat untuk menilai prediksi pematangan paru janin (pembentukan surfaktan). Pengamatan hormon yang diproduksi oleh plasenta Estriol dan Human Placental Lactogen (HPL) adalah hormon plasenta spesifik yang dapat diperiksa kadarnya pada darah ibu, untuk menilai fungsi plasenta. Jika abnormal, berarti terjadi gangguan fungsi plasenta dan berakibat risiko pertumbuhan janin terhambat sampai kematian janin. Namun pemeriksaan ini makan waktu lama, bisa terlambat bertindak kalau menunggu hasilnya. Pemeriksaan darah dan analisis gas darah janin

Pengambilan sampel darah bisa dari tali pusat (umbilical cord blood sampling), atau dari kulit kepala janin (fetal scalp blood sampling). Pada janin dengan hipoksia, terjadi asidosis. Kardiotokografi (CTG) Menggunakan dua elektrode yang dipasang pada fundus (untuk menilai aktifitas uterus) dan pada lokasi punctum maximum denyut jantung janin pada perut ibu. Dapat menilai aktifitas jantung janin pada saat his / kontraksi maupun pada saat di luar his / kontraksi. Menilai juga hubungan antara denyut jantung dan tekanan intrauterin. Janin normal : pada saat kontraksi : jika frekuensi denyut jantung tetap normal atau meningkat dalam batas normal, berarti cadangan oksigen janin baik (tidak ada hipoksia). Pada janin hipoksia : tidak ada akselerasi, pada saat kontraksi justru terjadi deselerasi / perlambatan, setelah kontraksi kemudian mulai menghilang (tanda insufisiensi plasenta). Jika ada deselerasi dini : dalam batas normal, observasi. Kemungkinan akibat turunnya kepala, atau refleks vasovagal. Jika ada deselerasi lambat : indikasi untuk terminasi segera. Jika ada deselerasi variabel (seperti deselerasi dini tetapi ekstrim), hal ini merupakan tanda keadaan patologis misalnya akibat kompresi pada tali pusat (oligohidramnion, lilitan tali pusat, dan sebagainya). Juga indikasi untuk terminasi segera. Batasan waktu untuk menilai deselerasi : tidak ada. Seharusnya penilaian ideal sampai waktu 20 menit, tapi dalam praktek, kalau menunggu lebih lama pada keadaan hipoksia atau gawat janin akan makin memperburuk (klaksonngooook), normal frekuensi denyut jantung akan prognosis. meningkat.

Kalau grafik denyut datar terus : keadaan janin non-reaktif. Uji dengan bel

CTG bisa digunakan untuk menilai fungsi kompensasi jantung janin terhadap stress fisiologik, dengan cara : Non Stress Test (NST), Oxytocyn Challenge Test (OCT), dan sebagainya. TES NONSTRESS (NST) NST mengevaluasi frekuensi jantung janin tanpa membuat bayi stress akibat kontraksi uterus. (kontraksi menurunkan perfusi plasenta dan menimbulkan tanda distress pada bayi). Sementara wanita hamil bersandar dikursi atau berbaring ditempat

tidur dalam posisi semifowler, dua kabel yang menghubungkan transduser dan alat ultrasonografi ke pemantau janin diletakkan diatas abdomen. Kertas pencatat (tracing) akan mencatat frekuensi jantung janin dan kontraksi yang terjadi karena kontraksi tidak diperlukan dalam tes ini, munculnya kontraksi merupakan informasi tambahan tentang kesejahteraan janin. Tes ini secara tak langsung mengkaji fungsi pernafasan plasenta dengan mengamati respon detak jantung janin, terhadap pergerakan janin. Janin yang sehat akan merespon pergerakan janin dengan akselerasi peningkatan dari detak

jantungnya. Tes ini paling sering digunakan pada trimester ketiga. Tes ini di indikasikan bagi para wanita yang kehamilannya bermasalah karena insufisiensi utero plasenta atau mengalami peningkatan resiko insifiensi utero plasenta (UPI). Hasil tes ini dinyatakan dengan masalah istilah reaktif atau negatif yang menunjukan fungsi pernafasan plasenta yang sehat, yang ditandai dengan adanya 2x akselerasi teerdapat peningkatan minimal 15kali/menit dan bertahan minimal selama 15 detik. Apabila kriteria reactif itu tidak dapat ditemukan, maka hasilnya dinyatakan non reaktif atau positif, yang dapat menunjukan adanya gangguan fungsi pernafasan plasenta. Tes Stres Kontraksi Prosedur memicu kontraksi pada tes stres kontraksi (CST) Stimulasi payudara Stimulaasi satu puting, melalui permukaan pakaian Stimulasi 2 menit Istirahat 5 menit Jangan menstimulasi saat kontraksi sedang berlangsung, jika tidak berhasil, dalam waktu 45 menit, lakukan OCT. Tes toleransi oksitosin (OCT) Melalui infus intra vena, d5/0, 2NS pertahankan tetesan vena terbuka Larutan oksitosin : 10 unit pitocin dalam 500cc D5/0,2, NS per pompa infus Teteskan oksitosin dari 1mlU/menit Tingkatkan 1mlU/ menit setiap 15 menit Lanjutkan hingga pola kontraksi adekuat atau pola DJJ abnormal terjadi.

CST merupakan terapi pilihan jika diduga terjadi insufisiensi uteroplasenta, seperti pada pre eklampsia atau penyakit maternal kronis. INDEKSI CAIRAN AMNION Asal cairan amnion pada awal kehamilan belum diketahui. Seiring kemajuan kehamilan, air kemih dan air yang ditelan janin turut membentuk cairan amnion. Jumlah cairan amnion berkisar dari sekitar 30 mL pada minggu ke 10 gestasi sampai kurang lebih 900 mLpada minggu ke 32 hingga ke 35 gestasi. Meskipun banyak variasi dari satu wanita ke wanita lain, volume maksimum dicapai pada sekitar minggu ke 34 dan mulai menurun pada sekitar minggku ke 36. Cairan amnion melindungi janin jika terjadi trauma pada abdomen maternal. Cairan ini juga mempertahankan suhu lingkungan intrauterine konsisten dan normal serta mencegah konstriksi tali pusat. Jumlah cairan amnion di rongga uterus mencerminkan kesejaheraan janin. Apabila jumlah cairan diabaikan, tali pusat dapat mengalami obstruksi mekanis yang terjadi akibat gerakan bayi atau kontraksi uterus. Jumlah cairan uterus ditentukan menggunakan ultrasonografiunutk mengukur kantong cairan amnion vertical terbesar di keempat kuadran uterus. Keempat hasil pengukuran (dalam cm) kemudian dijumlahkan dan hasil totalnya disebut AFI.

DAFTAR PUSTAKA
Pusdikanakes who jhpiego, asuhan antenatal, jakarta, 2003 Bobak, lowdernik, jensen, buku ajar keperawatan maternitas, jakarta : egc, 2004 Varney h, varneys midwifery, london : jones & bartlett publishers,1997 Seller, p. Mc, midwifery, volume 2, 1993, juta & co ltd sastrawinata, sulaiman.1983.obsteti fisiologi.bandung:eleman-bandung siswosudarno, risanto dkk.2008.obsteri fisiologi.yogyakarta:pustaka cendikia