Anda di halaman 1dari 148

PENINGKATAN KECERDASAN LOGIKA MATEMATIKAANAK MELALUI PERMAINAN GEOMETRI BOX DI TAMAN KANAK-KANAK TUNAS KARYA PADANGPANJANG

SKRIPSI untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

ROHIMA NIM 2008 / 08401

JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Geometri Box Di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang

Nama NIM Program Studi Jurusan Fakultas

: Rohima : 2008/08401 : Pendidikan Anak Usia Dini : PGPAUD : Ilmu Pendidikan

Padang, Disetujui oleh : Pembimbing I, Pembimbing II,

Januari 2012

Drs. Amril Amir, M. Pd. NIP. 196206071987031004

Dra. Rivda Yetti NIP. 196304141987032001

Ketua Jurusan

Dra. Hj. Yulsyofriend, M. Pd. NIP. 196207301988032002

ii

HALAMAN PENGESAHAN LULUS UJIAN SKRIPSI

Dinyatakan Lulus Setelah Dipertahankan Di Depan Tim Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.

Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Geometri Box Di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang

Nama NIM Program Studi Jurusan Fakultas

: : : : :

Rohima 2008 / 08401 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Ilmu Pendidikan

Padang, Januari 2012

Tim Penguji Nama 1. 2. 3. 4. 5. Ketua Sekretaris Anggota Anggota Anggota : Drs. Amril Amir, M.Pd. : Dra. Rivda Yetti : Dr. Hj. Rakimahwati, M.Pd. : Asdi Wirman, S.Pd.I. : Dra. Hj. Yulsyofriend, M.Pd. Tanda Tangan 1.-----------------------2.-----------------------3.-----------------------4.-----------------------5.------------------------

ii

iii

Dia memberi hikmah ( ilmu yang berguna ) kepada siapapun yang mendapatkan ilmu yang berguna tersebut, sesungguhnya dia telah mendapatkan kebijakan yang banyak ( Qs. Al-Baqarah ayat : 269 ) Siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka dia harus berilmu siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka dia harus berilmu Dan siapa yang menginginkan keduanya Maka ia harus berilmu ( HR. Bukhari ) Aku tahu aku takkan berarti apa-apa Tanpa-Mu, tanpa cinta-Mu dan Ridho-Mu Ya Allah, ya Rabbi. Setitik kebahagiaan dan keberhasilan, ku persembahkan Kepada sentuhan cinta dan kasih sayang untuk ayah St. Makmur dan ibu Hj. Rosmanidar Doaku selalu untukmu. suamiku tercinta Islan Defri, serta saudara-saudaraku yang selalu memberikan doa dan motivasi dalam menyelesaikan tugas ini.

iv

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. Karya tulis saya, tugas akhir berupa skripsi dengan judul Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Geometri Box di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang adalah asli belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik, baik Universitas Negeri Padang maupun di Perguruan Tinggi lainnya. 2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan dan penelitian saya sendiri yang dibantu dan diarahkan oleh pembimbing. 3. Dalam karya tulis ini, tidak terdapat karya tulis atau pendapat yang ditulis atau yang dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dan jelas dicantumkan sebagai acuan didalam naskah dengan menyebutkan pengarang dan dicantumkan pada daftar pustaka. 4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran didalam pernyataan ini, saya bersedia menerima sangsi akademik dan sangsi lainnya sesuai dengan norma dan ketentuan hukum yang berlaku.

Padang,

Januari 2012

Yang menyatakan

Rohima NIM 2008/08401

ABSTRAK

Rohima, 2012. Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Geometri Box di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang. Kecerdasan Logika Matematika anak dalam mengenal lambang bilangan, konsep bilangan, bentuk-bentuk geometri dan membedakan berbagai ukuran dan warna masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Geometri Box di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang. Jenis Penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas, dengan subjek penelitian anak kelompok B1 TK Tunas Karya Padangpanjang yang berjumlah 14 orang anak. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, pencatatan lapangan, dokumentasi dan wawancara. Penganalisisan data dilakukan dengan teknik persentase. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. Hasil penelitian disetiap siklus telah menunjukkan adanya peningkatan kecerdasan logika matematika anak. Pada siklus I kecerdasan logika matematika anak masih terlihat rendah, dilanjutkan pada siklus II peningkatan kecerdasan logika matematika anak lebih meningkat serta menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan hal-hal berikut. Pertama, penerapan teknik terstruktur dalam dua siklus (enam kali pertemuan tatap muka) dapat meningkatkan secara signifikan kecerdasan logika matematika anak TK Tunas Karya Padangpanjang dengan rata-rata peningkatan 65,72%. Kedua, anak kelompok B1 TK Tunas Karya Padangpanjang merasa senang dan aktif dalam bermain geometri box untuk meningkatkan kecerdasan logika matematika.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, penulisan skripsi ini telah diselesaikan. Skripsi ini diajukan sebagai tugas akhir dalam mengikuti pendidikan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendididkan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Padang. Skripsi yang berbentuk Penelitian Tindakan Kelas ini mencermati dan menganalisis Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak Melalui Permainan Geometri Box di TK Tunas Karya Padangpanjang. Penyusunan skripsi ini mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik moral maupun material. Untuk itu, diucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapak Drs. Amril Amir, M.Pd. dan Ibu Dra. Rivda Yetti sebagai pembimbing yang banyak memberikan arahan, motivasi, dan kemudahan; Ibu Dra. Hj. Yulsyofriend, M.Pd. dan Ibu Dr. Hj. Rakimahwati, M.Pd. sebagai Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini; Prof. Dr. H. Firman, M.S.,Kons. sebagai Dekan FIP UNP yang telah memberikan berbagai fasilitas; Ibu Nurul misbah sebagai Kepala Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang yang telah memberi izin untuk melakukan PTK di sekolah yang dipimpinnya; Ibu Gusnimar sebagai kolaborator dalam penelitian ini. Semoga segala budi baik bapak, ibu, dan teman-teman menjadi amal di sisi Allah SWT. Akhirnya dipersembahkan penelitian ini kepada tim penguji serta pembaca yang budiman agar dapat memberikan saran-saran demi kesempurnaan penelitian ini. Mudah-mudahan penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.

Padang, Januari 2012

Penulis

vii

viii

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PERSETUJUAN ................................................................................ i HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. ii ABSTRAK ............................................................................................................ iii KATA PENGANTAR ......................................................................................... iv DAFTAR ISI ..........................................................................................................v DAFTAR TABEL ................................................................................................ vii DAFTAR GRAFIK ............................................................................................... ix DAFTAR GAMBAR BAGAN ............................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ....................................................................1 B. Identifikasi Masalah .............................................................................7 C. Batasan Masalah ................................................................................... 8 D. Rumusan Masalah .............................................................................. 8 E. Tujuan Penelitian ..................................................................................8 F. Manfaat Penelitian ................................................................................9 G. Defenisi Operasional ..........................................................................9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori .......................................................................................11 1. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini ............................................11 2. Kecerdasan .................................................................................. 16 3. Kecerdasan Logika Matematika .................................................. 20 4. Pentingnya Bermain dalam Mengoptimalkan PAUD ................. 26 5. Pemanfaatan Alat Permainan Edukatif ....................................... 28 6. Permainan Geometri Box .............................................................30 B. Penelitian yang Relevan .....................................................................33 C. Kerangka Konseptual ........................................................................ 34 D. Hipotesis Tindakan ............................................................................ 35 BAB III RANCANGAN PENELITIAN A. Jenis Penelitian ................................................................................. 36 B. Subjek Penelitian .............................................................................. 36 C. Prosedur Penelitian ........................................................................... 37 D. Instrumentasi .................................................................................... 41 E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................... 45 F. Teknik Analisis Data ........................................................................ 45 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Temuan Penelitian ............................................................................. 48 1. Deskripsi kondisi Awal ........................................................ 48 2. Deskripsi Siklus I ................................................................. 51 3. Deskripsi siklus II ................................................................ 75 B. Pembahasan ............................................................................ 102

ix

BAB V PENUTUP A. Simpulan ....................................................................................... 105 B. Implikasi........................................................................................ 106 C. Saran ..................................................................................................106 DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................108 LAMPIRAN........................................................................................................ 110

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Fotmat Kriteria hasil pembelajaran anak ............................................... 42 Tabel 2. Format observasi anak ........................................................................... 43 Tabel 3. Format wawancara ................................................................................. 44 Tabel 4. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada kondisi Awal ( Sebelum Tindakan ) .................................................................... 49 Tabel 5. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan I ............................................................................................ 59 Tabel 6. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan II ............................................................ 62 Tabel 7. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan III ...........................................................65 Tabel 8. Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan III .....................................68
Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika

Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I Pertemuan I,II dan III ( Setelah Tindakan ) ......................73 Tabel 10. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan I .................................. 83 Tabel 11. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan II ................................. 87 Tabel 12. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan III 90

xi

Tabel 13. Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II (Setelah Tindakan) Pertemuan III ............................... 92 Tabel 14. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II Pertemuan I,II dan III ( Setelah Tindakan) ................... 97 Tabel 15. Rekapitulasi Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I dan II (Setelah Tindakan) ............................................. 100

xii

DAFTAR GRAFIK

Halaman Grafik 1. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Kondisi Awal ( Sebelum Tindakan) .......................................... 51 Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan I .................................. 61 Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan II ................................ 64 Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan III ............................... 67 Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan III ............................... 70 Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan I ............................... 75 Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan II .............................. 86 Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan III ............................. 89 Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II (Setelah Tindakan) Pertemuan III .............................. 92

Grafik 2.

Grafik 3.

Grafik 4.

. Grafik 5.

Grafik 6.

Grafik 7.

Grafik 8.

Grafik 9.

Grafik 10. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I Pertemuan I,II dan III ( Setelah Tindakan) .................. 95 Grafik 11. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika

xiii

Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus II Pertemuan I,II dan III ( Setelah Tindakan) ............... 99 Grafik 12. Rekapitulasi Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I Dan II (Setelah Tindakan) ......................................... 102

xiv

DAFTAR GAMBAR BAGAN

Halaman GAMBAR I Bagan Skema Pesan . GAMBAR II Kerangka Konseptual. GAMBAR III Siklus Suhardjono...................................... 29 35 38

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman I. II. III. Satuan Kegiatan Harian...................................................................... Lembar Penilaian kecerdasan Logika Matematika anak..................... Gambar kegiatan guru dan anak pada siklus I dan II......................... 110 117 124

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Hal ini bertujuan agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan semua itu perlu dilakukan berbagai strategi dan integral yang menunjang penyelenggaraan pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan yang berkualitas berlaku untuk semua kalangan masyarakat, mulai dari usia dini sampai jenjang pendidikan tinggi. Pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut. sebagaimana ditetapkan

1 1

dalam Undang - Undang No. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi : Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Usia dini merupakan masa keemasan ( Golden age ) seorang anak manusia, masa peletakan pondasi kecerdasan manusia, masa

pengembangan dan pembentukan berbagai kemampuan. Anak adalah aset bagi orang tua, bangsa dan Negara yang kelak akan berharga menjadi sumber daya manusia. Masa keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, keberhasilan upaya pengembangan kecerdasan anak usia dini sangat ditentukan oleh bagaimana kualitas lingkungan dan stimulasi dari lingkungan anak. Pendidikan anak usia dini khususnya Taman Kanak-kanak, pada dasarnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan seluruh aspek kepribadian dan kemampuan anak, seperti moral dan nilai nilai agama, sosial, emosional, kemandirian, bahasa, kognitif, fisik motorik dan seni. Mencermati pentingnya pendidikan dan pembelajaran bagi anak usia dini, tampaklah bahwa ada dua hal yang perlu diperhatikan pada pendidikan anak usia dini, yakni: 1) materi pendidikan, dan 2) metode pendidikan yang dipakai. Secara singkat dapat dikatakan bahwa materi maupun metode pendidikan yang dipakai dalam rangka pendidikan anak

usia dini harus benarbenar memperhatikan tingkat perkembangan mereka dan prinsipprinsip pembelajaran bagi anak usia dini. Sesuai dengan prinsip pembelajaran di Taman Kanak-kanak, yaitu bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain adalah wadah yang tepat untuk menambah perkembangan potensi yang ada pada anak. Bermain adalah dunia anak dan merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak, khususnya anak usia dini. Sebelum bersekolah bermain merupakan cara alamiah anak untuk mengenal lingkungannya, orang lain dan dirinya. Pada prinsipnya bermain mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses dari pada hasil. Peran pendidik ( orang tua, guru dan orang dewasa lain ) sangat diperlukan dalam upaya pengembangan anak, upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi dan belajar secara menyenangkan. Untuk tercapainya perkembangan anak secara optimal sesuai harapan kita semua, perlu kiranya guru membelajarkan anak melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan menarik serta membangkitkan rasa ingin tahu anak dan memotivasi anak untuk berpikir kritis, kreatif dalam suasana yang menyenangkan. Dalam rangka menghadapi era globalisasi, program pendidikan harus mampu memberikan bekal pada peserta didik untuk memiliki daya

saing yang tinggi dan tangguh. Daya saing yang tangguh dapat terwujud jika peserta didik memiliki kreativitas, kemandirian, kemampuan dasar dan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahanperubahan yang terjadi pada berbagai bidang kehidupan di masyarakat. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa usia prasekolah merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi dan kecerdasan yang dimiliki anak-anak, salah satu kecerdasan yang harus dikembangkan adalah kecerdasan logika matematika anak. Pengembangan kecerdasan logika matematika di TK diharapkan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif saja, tetapi juga kesiapan mental social dan emosional anak didik. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara menarik dan bervariasi. Menurut Campbell ( 2006:40 ) Intelegensi logika matematika melibatkan banyak komponen seperti: perhitungan secara sistematis, berfikir logis, pemecahan masalah, ketajaman pola pola dan hubungan. Optimalisasi perkembangan anak memerlukan pengkondisian yang kondusif, guru perlu memfasilitasi anak agar dapat berkembang dengan baik. Matematika bisa dijadikan bagian yang integral dari semua kegiatan belajar, anak-anak harus diberi kesempatan-kesempatan untuk

menghitung, menyortir, dan menggolongkan dalam berbagai konteks. Ini akan mendukung perkembangan anak dalam berfikir matematis dan bernalar. Guru memiliki peranan penting dalam kegiatan pembelajaran

matematika, guru harus menguasai materi dengan baik, menguasai teknik pengajaran dan harus memahami karakter serta kemampuan anak didik. Namun pada kenyataannya, di TK Tunas Karya Padangpanjang guru kurang menekankan kegiatan pembelajaran matematika di kelasnya. Kemampuan anak dalam logika matematika terlihat masih rendah seperti anak belum mengenal angka 1- 10, anak tidak mengenal bentuk-bentuk geometri, banyak yang belum bisa membedakan bermacam warna, belum bisa menghitung benda 1-10 dan tidak bisa menyusun ukuran benda dari yang kecil-besar atau sebaliknya. Perberdayaan lingkungan dan pemanfaatan sumber belajar belum secara optimal dalam memfasilitasi perkembangan anak terutama pada kegiatan peningkatan kecerdasan logika matematika anak. Guru juga mengajarkan kemampuan yang berkaitan dengan matematika dengan mengadopsi pola pola pembelajaran di sekolah dasar, tanpa memperhatikan prinsip prinsip pembelajaran anak usia dini serta tidak sesuai dengan karakteristik dan kemampuan anak. Sehingga TK tidak lagi menjadi taman yang indah dan tempat bermain bagi anak tetapi beralih fungsi menjadi sekolah TK. sehingga kecerdasan logika matematika pada diri anak menjadi kurang serta anak sulit belajar yang berkaitan dengan logika matematika tersebut. Kegiatan pembelajaran yang berhubungan dengan matematika menjadi sesuatu hal yang menakutkan dan tidak menyenangkan bagi anak.

Menurut Depdiknas 2005 kemampuan logika matematika anak usia 4 6 tahun mencakup beberapa indikator diantaranya: 1. Kemampuan dalam memahami bilangan dan konsep bilangan. a. Kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan 1 10 b. Kemampuan anak dalam mengurutkan bilangan 1 10 c. Kemampuan anak dalam menghubungkan lambang bilangan dengan konsep bilangan 1 10 2. Kemampuan anak dalam mengenal dan memahami bentuk geometri. Keterampilan dalam mengelompokkan geometri pada usia 4 6 tahun idealnya berjumlah 5 jenis bentuk geometri diantaranya bujur sangkar, persegi panjang, segi tiga, lingkaran dan setengah lingkaran. 3. Kemampuan dalam mengelompokkan warna, bentuk/pola dan ukuran benda. Pengalaman penulis sebagai pendidik di TK Tunas Karya Padangpanjang menemukan sebagian besar anak masih rendah

kemampuan logika matematikanya, karena masih banyak anak yang belum mampu memahami konsep bilangan, mengenal bentuk geometri, menyebutkan urutan bilangan dan mengenal beberapa warna. Kemampuan dan kecerdasan logika matematika anak masih rendah diduga karena kurang tersedianya dan kurang menariknya alat pembelajaran serta kurangnya motivasi guru dalam mengajar, metode yang digunakan guru juga kurang bervariasi.

Berdasarkan hal diatas, maka dalam rangka memenuhi kebutuhan dan masa peka anak pada aspek kecerdasan logika matematika ini perlu dibuat dan dikembangkan suatu bentuk permainan yaitu Permainan Geometri Box untuk memberikan dorongan dan rangsangan dalam peningkatan kecerdasan logika matematika anak, sehingga menjadi hal yang menyenangkan dan menarik bagi anak didik kita. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang dihadapi dalam peningkatan kecerdasan logika matematika anak di TK Tunas Karya Padangpanjang sebagai berikut: 1. Kurangnya minat anak dalam kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran logika matematika. 2. Kurangnya kemampuan anak dalam pembelajaran yang berkaitan dengan logika matematika seperti anak belum mengenal angka 1-10, anak tidak mengenal bentuk-bentuk geometri, banyak yang belum bisa membedakan bermacam warna, belum bisa menghitung benda 1-10 dan tidak bisa menyusun ukuran benda dari yang kecil-besar atau sebaliknya. 3. Kurangnya guru dalam menggunakan Alat Permainan Edukatif / APE 4. Guru kurang memotivasi anak dalam kegiatan pembelajaran. 5. Metode yang digunakan guru kurang bervariasi dan kurang sesuai dengan taraf perkembangan anak usia dini.

C. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah, supaya penelitian ini lebih terarah, mengingat waktu, kemampuan dan sarana yang terbatas, maka penulis membatasi masalah yang akan diteliti yaitu : 1. Kemampuan anak dalam belajar tentang logika matematika. 2. Media, alat dan metode yang digunakan guru untuk mencapai kecerdasan logika matematika di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang. D. Rumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini yaitu: bagaimana upaya peningkatkan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri kanak Tunas Karya Padangpanjang ? E. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan pada penelitian tindakan kelas ini adalah : 1. Memperbaiki proses pembelajaran dalam peningkatan kecerdasan logika matematika anak. 2. Meningkatkan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box. 3. Mendeskripsikan upaya peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box di Taman Kanak-kanak Tunas Karya Padangpanjang. Box di Taman Kanak-

F. Manfaat Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat memberikan manfaat: 1. Bagi anak Meningkatkan kecerdasan logika matematika anak sejak dini. 2. Bagi guru. Memperkaya wawasan dan keterampilan guru dalam memperbaiki proses pembelajaran dengan menggunakan metode yang bervariasi dalam pengembangan kecerdasan logika matematika anak. 3. Bagi sekolah. Dapat meningkatkan mutu pendidikan di TK Tunas Karya

Padangpanjang. 4. Bagi penulis. Dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam melakukan pembelajaran terutama dalam meningkatkan kecerdasan logika

matematika anak, dan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) FIP Universitas Negeri Padang. G. Defenisi Operasional Dalam penelitian ini terdapat beberapa istilah yang perlu dijelaskan agar kesamaan konsep dan pengertian serta menghindari kesalahpahaman yaitu sebagai berikut: 1. Kecerdasan logika matematika

10

Kecerdasan logika matematika adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Kecerdasan ini melibatkan keterampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika atau akal sehat. 2. Permainan Geometri Box Permainan Geometri Box adalah merupakan permainan anak berupa kotak dengan bentuk bentuk geometri yang dilubangi pada dinding atau sisi sisi kotak tersebut, yang disertai dengan kepingan kepingan bentuk geometri dan angka yang dapat dimainkan oleh

individu dan kelompok kecil.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 1. Hakikat Pendidikan Anak Usia Dini a. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Undang-Undang Sisdiknas dinyatakan bahwa anak Usia Dini merupakan anak yang berusia 0-6 tahun. Pada masa ini anak sedang menjalani proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Menurut para ahli psikologi, usia dini ( 0-8 tahun ) sangat menentukan bagi anak dalam mengembangkan potensinya, potensi yang dimiliki pada usia dini sangat besar manfaatnya untuk pengembangan kualitas manusia. Osborn, dkk ( dalam Mutiah, 2010:2 ) menyatakan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat besar pada tahuntahun awal kehidupan anak. Kehidupan pada masa anak-anak dengan berbagai pengaruhnya adalah masa kehidupan yang sangat penting khususnya yang berkaitan dengan diterimanya rangsangan ( stimulasi ) dan perlakuan dari lingkungan hidupnya. Menurut Reber ( dalam Mutiah, 2010:3 ) kehidupan masa anak-anak merupakan suatu periode yang disebut periode kritis atau periode sensitive yaitu saat dimana individu memperoleh

11

12

rangsangan, perlakuan atau pengaruh dari lingkungan pada masa atau saat yang tepat. Kualitas perangsangan harus diatur sebaik-baiknya, tentunya memerlukan intervensi baik dari guru maupun orang tua. Perangsangan harus diberikan pada saat yang tepat supaya memperoleh dampak yang positif bagi anak. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang paling mendasar menempati posisi yang sangat strategis dalam pengembangan sumber daya manusia, karena rentang anak usia dini merupakan rentangan usia kritis dan strategis dalam proses pendidikan yang dapat mempengaruhi selanjutnya. Pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memilki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal, dan informal. proses serta hasil pendidikan pada tahap

13

Anak merupakan pribadi yang unik, yang memiliki pola serta irama perkembangan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada

peletakkan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik, kecerdasan, social-emosional, bahasa dan komunikasi sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. b. Ciri anak usia dini Menurut Solehuddin ( dalam Rusdinal, 2008:13) ada beberapa karakteristik anak usia dini yang menonjol dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Karakteristik anak yang dimaksud adalah a) unik; b) mengekspresikan perilaku secara relative spontan; c) bersifat aktif dan enerjik; d) egosentris; e) memilikirasa ingin tahu yang kuat dan antusias; f) eksploratif dan berjiwa petualang; g) kaya dengan fantasi/khayalan; h) mudah frustrasi; i) kurang pertimbangan dalam melakukan sesuatu; j) memiliki daya perhatian yang masih pendek; k) usia belajar yang potensial dan l) semakin menunjukkan minat terhadap teman. c. Cara Belajar Anak Usia Dini Cara atau karakteristik belajar anak usia dini berbeda dengan orang dewasa. Berkaitan dengan cara belajar bagi anak usia dini Sujiono (2008:86) mengemukakan bahwa anak usia dini memiliki ciri-ciri seperti berikut ini:

14

1) Anak belajar dengan sebaik-baiknya apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta merasakan aman dan tentram secara psikologis. 2) Siklus belajar anak selalu berulang, dimulai dari membangun kesadaran, melakukan penjelajahan (eksplorasi), memperoleh penemuan untuk selanjutnya anak dapat menggunakannya. 3) Anak belajar melalui interaksi social dengan orang dewasa dan teman sebayanya. 4) Minat anak dan keingintahuannya memotivasi belajarnya. 5) Perkembangan dan belajar anak harus memperhatikan perbedaan individual 6) Anak belajar dengan cara sederhana ke rumit, dari konkret ke abstrak, dari gerakan ke verbal dan dari keakuan ke rasa sosial. d. Pembelajaran di Taman Kanak-kanak TK merupakan lembaga pendidikan formal, yang

menyelenggarakan pendidikan bagi anak usia 4-6 tahun, yang implementasinya lebih menekankan pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain dan bermain adalah bekerja bagi anak. Kegiatan pembelajaran di TK akan lebih bermakna bagi anak apabila dikemas dengan bermain. Mayke (dalam Sudono 1995:3) menyatakan bahwa : belajar dengan bermain memberi kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, serta mendapatkan bermacam-macam konsep dan pengertian yang tidak terkira banyaknya. Disinilah proses pembelajaran terjadi. Di usia 3 - 5 tahun kecerdasan anak sudah sangat maju dan kompleks, sehingga diperlukan stimulasi yang lebih tepat untuk mengembangkan kecerdasan mereka itu, salah satunya dengan

15

bermain. Bermain merupakan sarana yang efektif dalam upaya pengembangan kreativitas anak usia dini secara motorik, sosial dan kognitif. Untuk itulah, metode paling tepat memberikan stimulasi pada anak-anak adalah dengan bermain, karena bermain adalah dunia anak serta menyenangkan bagi anak-anak. Taman Kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan pendidikan anak usia dini pada jalur formal yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak usia empat tahun sampai enam tahun. Menurut Frobel ( dalam Masitoh, 2005:36 ) Pendidikan Taman Kanak-kanak harus mengikuti sifat, karakteristik dan

perkembangan anak disekolah. Guru

bertanggung jawab

membimbing dan mengarahkan anak didik, dengan memperhatikan prinsip pembelajaran di TK. Berdasarkan peraturan pemerintah No. 27 tahun 1990 tentang Pendidikan Pra Sekolah yang berbunyi Pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Jadi keberadaan TK sangat besar manfaatnya bagi anak usia dini 4-6 tahun. Tujuan TK adalah Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis maupun fisik yang meliputi moral dan

16

nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Pelaksanaan pembelajaran di TK sesuai dengan kurikulum (KBK 2004) Kurikulum Berbasis Kompetensi, pembelajaran berdasarkan minat memakai prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Jadi semua potensi yang ada pada anak dikembangkan melalui permainan yang menyenangkan sesuai minat anak. 2. Kecerdasan a. Pengertian Kecerdasan Kecerdasan merupakan ungkapan dari cara berfikir seseorang yang dapat dijadikan modalitas belajar. Kecerdasan bagi seseorang memiliki manfaat yang besar bagi diri sendiri dan bagi pergaulannya dimasyarakat karena dengan tingkat kecerdasan yang tinggi seseorang akan semakin dihargai di masyarakat apabila ia mampu berkiprah dalam menciptakan hal-hal yang baru. Gardner ( dalam Sujiono, 2008:176 ) menyatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan produk yang berharga dibuat dalam satu atau beberapa lingkungan budaya masyarakat. Pada dasarnya setiap individu berbeda satu dengan lainnya, masing-masing individu akan mempertahankan hidup dan mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dengan cara

17

yang berbeda pula. Setiap individu mrmiliki laju dan kecepatan belajar yang berbeda beda, untuk itulah guru di sekolah ataupun orang tua di rumah harus memperlakukan masing-masing anak yang memang berbeda dengan memberikan kesempatan yang berbeda pula. Orang tua di rumah ataupun guru di sekolah pastilah menghendaki anak didiknya menjadi anak yang cerdas baik dari aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan sesuai dengan tingkat usianya. Tingkat kecerdasan yang dimiliki anak akan menentukan masa depannya, baik cerdas dari aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Anak cerdas adalah harapan semua orang, akan tetapi untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah. Tantangan bagi guru dan pendidik adalah menciptakan kondisi pembelajaran yang kondusif untuk mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kadar kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak. Binet ( dalam Musfiroh, 2008:1.3 ) mengatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan yang terdiri dari tiga komponen, yaitu: 1) kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan; 2) kemampuan untuk mengubah arah pikiran atau tindakan; dan 3) kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan sendiri. Jadi seseorang anak bisa dikatakan cukup cerdas atau tidak, dapat dinilai berdasarkan pengamatan terhadap cara dan

18

kemampuan anak melakukan tindakan dan kemampuan mengubah arah tindakan apabila diperlukan. Sedangkan Piaget ( dalam Musfiroh, 2008:1.4 ) melihat kecerdasan atau intelegensi secara kualitatif, berdasarkan aspek isi, struktur dan fungsinya. Untuk menjelaskan ketiga aspek tersebut, Piaget mengaitkan intelegensi atau kecerdasan dengan periodisasi perkembangan biologis, meliputi sensorimotorik, praopersional, konkret operasional dan abstrak operasional. Jadi kecerdasan seorang anak berhubungan dengan perkembangan biologisnya, semua tahapan perkembangan biologis yang dilalui anak berpengaruh dari tahapan sejak usia lahir sampai ia dewasa. b. Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Anak Menurut Gardner ( dalam Musfiroh, 2008:36 ) Setiap kecerdasan didasarkan pada potensi biologis, yang kemudian diekspresikan sebagai hasil dari faktor-faktor genetik dan lingkungan yang saling mempengaruhi. Secara umum, individu normal mampu menunjukkan bauran beberapa kecerdasan. Kecerdasan tidak pernah dijumpai dalam bentuk murni. Sebaliknya, kecerdasan tertanam berbagai sistem simbol, sepertti bahasa, gambar, peta, notasi musik dan simbol matematika. Dengan demikian kecerdasan anak dalam sesuatu bidang didukung oleh kecerdasan bidang yang lainnya, seperti untuk

19

menjadikan seorang arsitektur, seseorang perlu memiliki kecerdasan visual-spasial, logika-matematika, kinestetik dan interpersonal yang tinggi. Kecerdasan anak akan berkembang dengan baik dan menonjol apabila diberi rangsangan dan bimbingan yang tepat sejak usia dini oleh orang tua dan gurunya. c. Karakteristik Kecerdasan Anak Gardner ( dalam Musfiroh, 2008:37 ) menyatakan kecerdasan anak mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut: 1) Semua intelegensi itu berbeda-beda, tetapi semuanya sederajat. Tidak ada intelegensi yang lebih baik atau lebih penting dari intelegensi yang lain. 2) Semua kecerdasan dimiliki manusia dalam kadar yang tidak persisi sama. Semua kecerdasan dapat dieksplorasi, ditumbuhkan dan dikembangakan secara optimal. 3) Terdapat banyak indikator kecerdasan dalam tiap-tiap kecerdasan. 4) Semua kecerdasan yang berbeda-beda tersebut bekerja sama untuk mewujudkan aktivitas yang diperbuat manusia, satu kegiatan mungkin memerlukan lebih dari satu kecerdasan dan satu kecerdasan dapat digunakan dalam berbagai bidang. 5) Semua jenis kecerdasan tersebut ditemukan diseluruh atau disemua lintas kebudayaan diseluruh dunia dan kelompok usia. 6) Tahap-tahap alami dari setiap kecerdasan dimulai dengan kemampuan membuat pola dasar. 7) Saat seseorang dewasa, kecerdasan diekspresikan melalui rentang pencapaian profesi dan hobi. Kecerdasan logika matematika yang dimulai sebagai kemampuan pola pada masa balita dan berkembang menjadi penguasaan simbolik pada masa anak-anak. 8) Ada kemungkinan seorang anak berada pada kondisi beresiko mereka akan mengalami kegagalan dalam tugas-tugas tertentu yang melibatkan kecerdasan tersebut apabila tidak memperoleh bantuan khusus dari orang dewasa.

20

Berdasarkan

penjelasan

diatas

dapat

diartikan

bahwa

kecerdasan anak akan berkembang apabila mendapat cukup fasilitas, dukungan dari orang-orang disekitarnya dan memperoleh kesempatankesempatan untuk mengembangkan kecerdasan yang dimilikinya. 3. Kecerdasan logika matematika a. Pengertian Kecerdasan Logika Matematika Kecerdasan Logika Matematika adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Kecerdasan ini melibatkan keterampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika atau akal sehat. Armstrong ( dalam Musfiroh, 2008:3.3 ) mendefenisikan Kecerdasan logika matematika sebagai kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kemampuan ini meliputi kemampuan menyelesaikan masalah, dan menciptakan sesuuatu dengan angka dan penalaran. Pada tahun 1983, Howard Gardner mengemukakan teori yang disebut sebagai multiple Intelligences dalam bukunya Frames of Mind. Teori Gardner ( dalam Sujiono, 2008:6.4 ) mengatakan, ada banyak cara belajar dan anak-anak dapat menggunakan

intelegensinya yang berbeda untuk mempelajari sebuah keterampilan atau konsep. Gardner mengemukakan definisi kecerdasan yang berbeda untuk mengukur cakupan yang lebih luas tentang potensi manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Gardner membaginya dalam

21

8 kecerdasan yang salah satunya adalah kecerdasan logika matemaika ( Logic Smart ). Menurut Gardner ( dalam Musfiroh, 2008:48 ) kecerdasan matematika bersemayam diotak depan sebelah kiri dan pariental kanak. Kecerdasan ini dilambangkan terutama dengan angka-angka dan lambang matematika lain. Kecerdasan ini dikategorikan sebagai kecerdasan akademik karena dukungannya yang tinggi terhadap keberhasilan belajar seorang anak. Kecerdasan logika matematika pada dasarnya melibatkan kemampuan-kemampuan menemukan atau menganalisis masalah secara atau logis,

menciptakan

rumus-rumus

pola-pola

matematika dan menyelidiki sesuatu secara ilmiah. Orang dengan logika matematis yang tinggi, akan menunjukkan proses menjawab beragam pertanyaan atau bahkan bertanya dalam kecepatan yang luar biasa. b. Tujuan dan Manfaat Mengembangkan Kecerdasan Logika Matematika Pada Anak Anak usia TK adalah masa yang sangat strategis untuk mengenalkan kegiatan matematika, karena usia TK sangat peka terhadap rangsangan yang diterima dari lingkungan. Rasa ingin tahu yang tinggi akan tersalurkan apabila mendapat stimulasi atau motivasi yang sesuai dengan tugas perkembangannya. Apabila kegiatan matematika diberikan melalui berbagai macam permainan tentunya akan lebih efektif karena bermain merupakan wahana

22

belajar dan bekerja bagi anak. Diyakini bahwa anak akan lebih berhasil mempelajari sesuatu apabila yang ia pelajari sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya. Menurut Hurlock ( dalam Depdiknas, 2000:6 ) bahwa lima tahun pertama dalam kehidupan anak merupakan peletak dasar bagi perkembangan selanjutnya. anak yang mengalami masa bahagia berarti terpenuhinya segala kebutuhan baik fisik maupun psikis diawal perkembangannya akan dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan selanjutnya. Piaget ( dalam Depdiknas, 2000:6 ) juga mengatakan bahwa untuk meningkatkan perkembangan mental anak ketahap yang lebih tinggi dapat dilakukan dengan memperkaya pengalaman anak terutama pengalaman kongkrit, kareana dasar perkembangan mental adalah melalui pengalaman-pengalaman aktif dengan menggunakan benda-benda disekitarnya. Sujiono ( 2008:11.4 ) mengatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan kecerdasan logika matematika pada anak adalah agar anak dapat memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Dapat berfikir logis dan sistimatis sejak dini melalui pengamatan terhadap benda-benda kongkrit, gambar-gambar ataupun angka-angka yang terdapat disekitar anak. 2) Dapat menyesuaikan dan melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat yang dalam kesehariannya memerlukan keterampilan berhitung.

23

3) Dapat memahami konsep ruang dan waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan urutan suatu peristiwa yang terjadi disekitarnya. 4) Dapat melakukan suatu aktivitas melalui daya abstraksi, apresiasi serta ketelitian yang tinggi. 5) Dapat berkreatifitas dan berimajinasi dalam menciptakan sesuatu secara spontan. Sujiono ( 2008:11.5 ) mengatakan bahwa pengembangan kecerdasan logika matematika melalui permainan matematika yang diberikan pada anak usia dini dalam kegiatan belajar di TK bermanfaat antara lain: 1) Membelajarkan anak berdasarkan konsep matematika yang benar, menarik dan menyenangkan. 2) Menghindari ketakutan anak terhadap matematika sejak awal 3) Membantu anak belajar matematika secara alami melalui kegiatan bermain. c. Materi Program Matematika Pengembangan Kecerdasan Logika

Pembelajaran serta penguasaan konsep matematika tidak datang dari buku kerja atau tugas-tugas dikertas, melainkan anak mengalami perkembangan melalui penggunaan pengetahuan

matematika dan mengembangkan kompetensi matematika melalui interaksi langsung dengan dunia sekitarnya. mereka menyerap dan membangun kembali pengetahuan ini melalui pengalaman langsung dengan kegiatan-kegiatan yang nyata. Burns dalam bukunya Math Solution dan Baratta Lorton dalam bukunya Math their Way keduanya mendasarkan pada teori

24

Piaget yang menunjukkan bagaimana konsep matematika terbentuk pada anak. Burns ( dalam Mutiah, 2010:161 ) mengatakan kelompok matematika yang sudah dapat diperkenalkan mulai dari usia tiga tahun adalah kelompok bilangan ( Aritmatika, berhitung ), pola dan fungsinya, geometri, ukuran-ukuran, grafik, estimasi, probabilitas dan pemecahan masalah. Menurut Stolberg ( 2008:266 ) Materi program yang dapat mengembangkan kecerdasan logika matematika anak antara lain adalah: 1) Korespondensi adalah distribusi benda-benda yang ada hubungan langsung antara satu dengan yang lainnya 2) Pengurutan adalah kemampuan untuk menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya 3) Menghitung adalah memperagakan sebuah pemahaman tentang angka dan jumlah 4) Kalkulasi adalah proses penambahan dan pengurangan, sejalan dengan dialaminya secara kongkret 5) Klasifikasi adalah kemampuan untuk mengurutkan benda-benda berdasarkan atributnya. 6) Pengukuran adalah proses menemukan angka dari sebuah unit standar dari sebuah objek. 7) Perbandingan adalah menentukan besar dan kecil sebuah benda atau sama dengan benda yang lain melalui pengukuran. 8) Geometri adalah studi hubungan ruang. Termasuk pendalaman benda-benda serta hubunganhubungannya, sekaligus pengakuan tentang bentuk dan pola. 9) Pola adalah sebuah tema yang menghubungkan topik-topik matematika.

25

d. Cara Mengembangkan Kecerdasan Logika Matematika Sujiono ( 2005:289 ) menjelaskan Cara mengembangkan kecerdasan logika matematika pada anak adalah sebagai berikut: 1) Menyelesaikan puzzle, dapat juga dengan permainan lain seperti ular tangga dan domino. Permainan ini akan membantu anak dalam latihan mengasah kemampuan memecahkan berbagai masalah menggunakan logika. 2) Mengenal bentuk geometri, dapat dimulai dengan kegiatan sederhana sejak anak masih bayi, misalnya dengan menggantungkan berbagai bentuk geometri berbagai warna. 3) Mengenalkan bilangan melalui sajak berirama dan lagu. 4) Eksplorasi fikiran melalui diskusi dan olah fikir ringan, dengan obrolan ringan, misalnya mengaitkan pola hubungan sebab akibat, bermain tebak-tebakan. 5) Pengenalan pola, permainan menyusun pola tertentu dengan menggunakan kancing warna warni, pengamatan atas kejadian sehari-hari, sehingga anak dapat mencerna dan memahaminya sebagai hubungan sebab akibat. 6) Eksperimen di alam, membawa anak berjalanjalan keluar rumah, biarkan anak bereksplorasi dengan alam. 7) Memperkaya pengalaman berinteraksi dengan konsep matematika, dapat dengan cara mengikutsertakan anak belanja. 8) Games penuh strategi dan eksperimen ( untuk anak usia 0-5 tahun ) seperti: mengelompokkan benda ( 2-4 tahun ), bermain kartu ( 4-6 tahun ), menyeimbangkan batang kayu dan gantungan pakaian ( 3-6 tahun). Jadi cara untuk mengembangkan kecerdasan logika matematika anak dapat kita gunakan bermacam-macam kegiatan yang bervariasi agar menarik bagi anak dan sesuai dengan tahap perkembangan anak.

26

Sejalan dengan beberapa teori yang telah dikemukakan diatas, Depdiknas ( 2000:7 ) menjadikan permainan matematika di TK seyogyanya dilakukan melalui tiga tahapan penguasaan yaitu : 1) Penguasaan konsep Pemahaman atau pengertian tentang sesuatu dengan menggunakan benda dan peristiwa kongkrit, seperti pengenalan warna, bentuk dan menghitung bilangan. 2) Masa Transisi Proses berfikir yang merupakan masa peralihan dari pemahaman kongkrit menuju pengenalan lambang yang abstrak, dimana benda kongkrit itu masih ada dan mulai dikenalkan bentuk lambangnya. 3) Lambang bilangan Merupakan visualisasi dari berbagai konsep. misalnya lambang 5 untuk menggambarkan konsep bilangan lima, merah untuk melambangkan konsep warna, besar untuk melambangkan konsep ruang dan segi tiga untuk menggambarkan konsep bentuk. 4. Pentingnya Bermain dalam Mengoptimalkan Pendidikan Anak Usia Dini Sesuai dengan salah satu prinsip pembelajaran di Taman Kanakkanak yaitu bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain, maka permainan dalam pembelajaran di TK adalah sebuah keniscayaan. Bermain bagi anak adalah kebutuhan pokok sebagai mana kebutuhan makanan bagi tubuh kita. Bermain adalah kebutuhan psikis yang menyenangkan bagi anak. Dalam keadaan senang otak anak siap untuk menerima stimulus dari manapun, sehingga potensi akan berkembang secara maksimal.

27

Sudono ( 1995:1 ) mendefinisikan bermain adalah suatu kegiatan yang di lakukan dengan atau tanpa mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan maupun mengembangkan imajinasi pada anak. Dengan bermain anak dapat berekplorasi sehinga dapat mengenal konsep atau pengetahuan dasar dengan lebih mudah. Tujuan pendidikan TK dalam Depdiknas (2005:3) adalah Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis maupun fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial

emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Untuk tercapainya tujuan tersebut maka pendekatan pembelajaran yang tepat adalah dengan cara bermain sambil belajar atau belajar melalui aktivitas bermain. Melalui bermain anak di ajak untuk berekplorasi, menemukan dan memanfaatkan obyek-obyek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi anak. Seiring dengan hal tersebut Mayke ( dalam Sudono, 1995:3) menyatakan: Bahwa belajar sambil bermain memberi kesempatan pada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan, dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengetahuan yang tidak terhitung banyaknya. Disinilah proses pembelajaran terjadi. Mereka mengambil keputusan, memilih, menentukan, mencipta, memasang, membongkar,

28

mengembalikan, mencoba mengeluarkan pendapat, dan memecahkan masalah mengerjakan secara tuntas, bekejasama dengan teman, dan mengalami berbagai macam perasaan. Alat bermain mempunyai peran penting dalam mengembangkan potensi anak, Sudono ( 1995:7 ) menyatakan bahwa: Alat bermain adalah semua alat bermain yang digunakan oleh anak untuk memenuhi naluri bermainnya dan memiliki bermacam sikap seperti bongkar pasang, pengelompokan, memadukan, mencari padanannya, merangkai, membentuk, mengepak, menyempurnakan suatu disain atau menyusun sesuai bentuk utuhnya. Dari uraian diatas maka peran guru sangat penting dalam mengembangkan potensi anak melalui bermain, untuk itu dituntut kreatifitas guru untuk menciptakan berbagai macam media permainan atau alat peraga yang menyenangkan bagi anak. Hampir semua program kegiatan pendidikan anak usia dini menyelenggarakan kegiatan bermain dengan porsi besar bagi aanak didiknya. Untuk hal tersebut para guru sebaiknya merencanakan secara cermat kegiatan bermain tersebut dengan dukungan lingkungan sekolah dan materi bermain yang dianggap sangat penting. 5. Pemanfaatan Alat Permainan Edukatif ( APE ) Pengertian Alat Permainan Edukatif ( APE ) adalah alat permainan yang sengaja dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan. Menurut Sugianto, T. ( dalam Zaman, dkk, 2005:6.2 ) APE untuk anak TK adalah alat permainan yang dirancang untuk tujuan meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak TK.

29

APE adalah alat permainan yang digunakan dalam proses pembelajaran yang mengandung unsur pendidikan bagi anak didik. Permainan merupakan alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya dari yang tidak dikenali sampai pada yang diketahui, dari yang tidak dapat diperbuatnya sampai mampu melakukannya. Alat Permainan Edukatif ( APE ) termasuk dalam kategori media dan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran. APE memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan dengan sumber belajar yang lain karena APE mengandung nilai pendidikan, dapat menumbuhkan kreativitas anak, menimbulkan daya imajinasi, dapat dimainkan oleh anak sehingga menambah kesenangan bagi anak serta dapat digunakan untuk bereksperimen dan bereksplorasi. Menurut Schramm ( dalam Eliyawati, 2005:105 ) bahwa media pembelajaran adalah tekhnologi pembawa pesan yang dapat

dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. pada gambar skema pesan. Gambar 1. Skema pesan

Sebagaimana terlihat

Guru

Pesan

Media

Siswa

30

Ciri-ciri alat permaian edukatif adalah : - Dirancang untuk mengembangkan aspek-aspek

perkembangan anak TK. - Dapat digunakan dengan berbagai cara, bentuk dan multi guna. - Aman bagi anak. - Dapat mendorong aktifitas dan kretifitas anak. - Bersifat konstruksif atau ada sesuatu yang dihasilkan. Sebagai seorang guru yang akan melaksanakan proses pembelajaran di TK hendaknya mampu membuat dan menciptakan APE sebagai karya yang orisinil, kemampuan tersebut diperlukan karena guru adalah pemegang kendali dalam proses pembelajaran anak TK dan dengan alat permainan edukatif yang memadailah

pengembangan aspek kemampuan anak akan cepat berkembang. 6. Permainan Geometri Box a. Pengertian Permainan Geometri Box Permainan Geometri Box adalah merupakan permainan anak berupa kotak dengan bentuk bentuk geometri yang dilubangi pada dinding atau sisi sisi kotak tersebut, yang disertai dengan kepingan kepingan bentuk geometri dan angka yang dapat dimainkan oleh individu dan kelompok kecil.

31

b. Tujuan Permainan Geometri Box Melalui Permainan Geometri Box ini kita harapkan dapat meningkatkan kecerdasan logika matematika anak, sehingga meningkatnya aktivitas dan hasil pembelajaran logika matematika di Taman Kanak-kanak. Dengan permainan Geometri Box kecerdasan logika

matematika anak meningkat melalui pengalaman langsung dengan benda-benda kongkrit yang bermakna dalam melakukan permainan. Sebagaimana pendapat Dewey ( dalam Montolalu, 2005:1.6 ) Melalui bermakna pengalaman-pengalaman awal bermain kongkrit, yang anak

menggunakan

benda-benda

mengembangkan kemampuan dan pengertian dalam memecahkan masalah, sedangkan perkembangan sosialnya meningkat melalui interaksi teman sebaya. Berdasarkan Depdiknas ( 2005:22-23 ) indikator kemampuan yang diharapkan dapat dicapai oleh anak melalui permainan Geometri Box adalah: 1) mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ciri tertentu. 2) Menyusun benda dari besar-kecil atau sebaliknya 3) Membilang/menyebutkan angka 1 - 10. 4) Membilang ( mengenal konsep bilangan dengan benda benda).

32

5) Mengelompokkan benda tiga dimensi ( benda sebenarnya ) yang berbentuk geometri ( lingkaran , segi tiga, segi empat ) 6) Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh. c. Teknik Pelaksanaan Permainan Geometri Box Adapun Langkah-langkah pelaksanaan Permainan Geometri Box dalam pembelajaran untuk anak : 1) Guru mempersiapkan alat yang akan digunakan oleh Anak. 2) Guru memperlihatkan alat permainan kepada anak. 3) Guru merangsang dan memotivasi anak untuk menyebutkan nama dan kegunaan alat tersebut. 4) Anak dan guru menyanyikan lagu aku pandai berhitung bersama sama. 5) Anak mendengarkan guru memberi penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan dalam Permainan Geometri Box sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan / kemampuan yang diharapkan dicapai. 6) Guru bersama anak - anak membuat aturan ( tata tertib ) dalam melaksanakan kegiatan. 7) Guru mengajak anak untuk berdoa sebelum memulai kegiatan. 8) Anak bermain dengan alat permainan Geometri Box dibawah pengawasan dan bimbingan guru. 9) Bagi anak yang bisa diberikan pujian dan bagi anak yang belum bisa dan tidak mau bermain diberikan motivasi dan bimbingan.

33

10)

Untuk

menambah

semangat

anak,

diadakan

lomba

permainan Geometri Box. Bagi yang lama selesainya disuruh menyanyi dan bertepuk tangan 10 x ( sebagai hukuman edukatif dan menghibur temannya yang cepat selesai ). 11) Setelah selesai, anak dan guru mendiskusikan tentang

permainan yang sudah dilakukan. 12) Guru dan anak menutup kegiatan dengan mengucapkan

doa bersama sama. B. Penelitian yang Relevan Sebelum penelitian tentang peningkatan kecerdasan logika

matematika ini dilaksanakan, peneliti membaca penelitian yang relevan dengan penelitian yang direncanakan ini. yakni oleh: 1. Marlina ( 2010 ) dengan judul Peningkatan kemampuan logika matematika anak melalui permainan Gambar Hewan Beruang Angka di PAUD Islam Exelent Bukitinggi dalam penelitian Silvi Marlina memfokuskan penelitiannya untuk meningkatkan kemampuan logika matematika anak dalam mengenal konsep angka, bentuk geometri dan warna. 2. Yusni ( 2010 ) dengan judul Meningkatkan kemampuan matematika anak melalui permainan tabung dan pinang berwarna di TK Negeri Pembina Payakumbuh. Dalam hasil penelitian ini kemampuan berhitung anak semakin meningkat.

34

3. Putri ( 2011 ) dengan judul Meningkatkan kreativitas anak melalui permainan tabung angka transparan di TK Darul falah Padang. Pada penelitian ini juga menghasilkan kemampuan berhitung anak dapat meningkat. Sedangkan penelitian yang penulis buat memfokuskan tentang

peningkatan kecerdasan logika matematika anak dalam mengenal angka, konsep bilangan, bentuk geometri, ukuran dan mengenal warna. C. Kerangka Konseptual Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan tentang peningkatan aktivitas dan hasil pembelajaran logika matematika melalui permainan Geometri Box, maka kerangka konseptualnya dapat dibagi dalam tiga hal berikut: 1. 2. 3. Masalah yang akan diselesaikan Cara penyelesaian masalah Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan tindakan. Permasalahan yang dihadapi anak-anak TK Tunas Karya Padangpanjang adalah kurangnya minat anak dalam melakukan

pembelajaran logika matematika, sehingga berdampak hasil pembelajaran logika matematika belum teroptimalkan, kecerdasan logika matematika anak masih rendah terutama tentang pengenalan bentuk geometri, ukuran, mengenal angka dan konsep bilangan 1-10, mengenal berbagai macam warna dan menyusun puzel. Hal ini dikarenakan kurangnya penggunaan

35

media pembelajaran yang menarik bagi anak dan metode pembelajaran yang tidak bervariasi. Solusi permasalahan diatas adalah penulis mencoba membuat permainan dengan menggunakan alat permainan Geometri Box yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil pembelajaran berkaitan dengan logika matematika. Kerangka konseptual dapat terlihat pada gambar dibawah ini: Gambar 2. Kerangka konseptual

D. Hipotesis Tindakan Berdasarkan teori teori yang ada dan setelah membaca teori teori tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Permainan Geometri Box dapat meningkatkan aktivitas, hasil belajar dan kecerdasan logika matematika anak di Taman Kanak kanak Tunas Karya Padangpanjang. .

BAB III RANCANGAN PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas ( Class Room Action Reasearch ). Dalam penelitian ini penulis berkolaborasi dengan teman sejawat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan cara atau prosedur baru untuk memperbaiki dan

meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran dikelas. Metode penelitian yang di gunakan untuk mendapatkan data guna memperoleh kebenaran dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi, sebagai mana menurut Arikunto dkk (2006:127) bahwa observasi adalah kegiatan pengamatan atau pengambilan data untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran Yang penulis lakukan dalam penelitian ini, pertama-tama adalah pembuatan media pembelajaran dan menciptakan jenis permainannya, kemudian mencobakannya didepan anak sambil menerangkan fungsi dari media pembelajaran dan cara bermainnya, serta menyepakati aturan perrmainannya. Setelah itu anak diajak mencobakan sesuai dengan aturan main yang telah disepakati bersama. B. Subjek Penelitian Dalam penelitian ini, subjek penelitian adalah murid TK Tunas Karya kecamatan Padangpanjang Barat kota Padangpanjang Sumatera Barat, pada kelompok B1 dengan jumlah anak sebanyak 14 orang yang terdiri dari 6 anak perempuan dan 8 anak laki-laki.
36

37

Penelitian di lakukan mulai semester I ( ganjil ) tahun pelajaran 2011/2012. Pelaksanaan ini direncanakan 2 bulan yaitu dari Bulan

Desember Sampai bulan januari 2012. Setiap pertemuan terdiri dari 30 menit kegitan awal, 60 menit kegiatan inti pada sentra, dalam penelitian ini penulis memanfaatkan sentra persiapan, 30 menit kegiatan istirahat dan 30 menit kegiatan penutup. Jumlah siklus penelitian tergantung dari hasil analisis data yang menjadi acuan peneliti dalam proses refleksi penelitian tindakan kelas. C. Prosedur Penelitian Kondisi awal sebelum peneliti melakukan tindakan, terlebih dahulu peneliti melakukan pengamatan terhadap pembelajaran tentang

matematika di kelompok B1 TK Tunas Karya Padangpanjang. Masih banyak anak yang rendah kemampuan logika matematikanya. Masih banyak anak belum bisa mengenal bentuk bentuk geometri, belum mampu menyebutkan urutan bilangan, belum mampu mengenal konsep bilangan dengan benda mengenal beberapa warna dan belum mampu menyusun ukuran benda dari kecil-besar atau sebaliknya, itu mungkin disebabkan kurangnya alat media pembelajaran yang dapat menarik minat anak dan metode yang digunakan guru kurang bervariasi. Setelah diamati, peneliti membuat perencanaan untuk siklus I pertemuan I. Peneliti merancang pembelajaran yang menarik minat anak dalam meningkatkan kecerdasan logika matematika anak melalui sebuah permainan dengan menggunakan alat permainan yaitu Geometri Box,

38

dimana dengan menggunakan Geometri Box ini diharapkan kecerdasan logika matematika anak dapat meningkat secara optimal. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk siklus berulang, sebagai mana Suhardjono ( dalam Arikunto, 2006:74 ) menjelaskan empat kegiatan utama yang ada pada setiap siklus, yaitu Perencanaan,

tindakan, pengamatan dan refleksi. Keempat kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Gambar 3. Skema prosedur penelitian Suhardjono
Kondisi awal

Permasalahan

Perencanan Tindakan I

Pelaksanaan Tindakan I

Siklus I
Permasalahan baru hasil refleksi

Refleksi I

Pengamatan/ Pengumpulan data I

Perencanaan Tindakan II

Pelaksanaan Tindakan II

Siklus II
Permasalahan sudah selesai

Refleksi II

Pengamatan / Pengumpulan DataII

Penelitian tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya karena kemampuan anak sudah mencapai KKM

39

1. Perencanaan a. Merancang bentuk permainan yang menarik bagi anak, kemudian dituangkan dalam bentuk satuan kegiatan harian b. Mendesain bentuk permainan Geometri Box c. Menyusun instrumen penelitian 1) 2) Format observasi hasil pembelajaran logika matematika Format wawancara dengan anak

d. Menganalisa permainan yang akan dimainkan anak. e. Mencobakan cara bermain yang akan dimainkan anak. 2. Tindakan Pelaksanaan pembelajaran yang direncanakan dengan langkah sebagai berikut: a. Peneliti mencontohkan cara bermain Geometri Box yang akan dimainkan anak. b. Anak diberi kesempatan mencobakan permainan Geometri Box untuk merangsang proses berfikir anak. c. Apabila anak berhasil dalam memainkan alat sesuai petunjuk, Peneliti dan Kolaborator memberikan pujian. d. Apabila anak belum berhasil maka Peneliti dan Kolaborator memberikan motivasi dan bimbingan. e. Setelah semua anak selesai bermain dengan media Geometri Box, Peneliti dan kolaborator melakukan analisis terhadap apa yang mereka lakukan.

40

f. Melakukan evaluasi terhadap hasil yang telah dicapai dengan merencanakan tindakan selanjutnya. 3. Pengamatan Observasi dilakukan untuk proses pengumpulan data dengan mengisi instrumen penelitian yang telah disiapkan. Dengan bantuan kolaborator, data kegiatan proses pembelajaran yang dilakukan anak diisi kedalam lembar observasi. Hal-hal yang diamati dalam aktivitas pembelajaran logika matematika terkait bidang pengembangan sikap perilaku adalah kemauan, perhatian dan kesabaran anak dalam melakukan kegiatan. Sedangkan hal - hal yang diamati dalam hasil pembelajaran logika matematika adalah sejauhmana ketercapaian indikator bidang pengembangan kognitif yaitu: mengenal bentuk geometri, bentuk/pola, mengenal warna, mengurutkan bilangan angka, dengan mengurutkan benda dan

mengenal

konsep

mengelompokkan benda dengan berbagai cara. 4. Refleksi Refleksi atau evaluasi adalah upaya untuk mengkaji apa yang terjadi dan belum terjadi. Hasil refleksi digunakan untuk menetukan langkah selanjutnya dalam rangka menghasilkan perbaikan, dengan ketentuan bahwa ketuntasan minimal adalah apabila jumlah anak yang berhasil tuntas berjumlah minimal 65%. Apabila jumlah anak yang

tuntas kurang dari 65% diartikan masih perlu perbaikan dan dapat dilanjutkan pada siklus berikutnya.

41

D. Instrumentasi Alat pengumpul data yang digunakan adalah: 1. Pengamatan atau Observasi. Lembar observasi hasil pembelajaran logika matematika sesuai kurikulum berbasis kompetensi 2004 pada aspek pengembangan kognitif dengan indikator sebagai berikut: a) Mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ciri tertentu. b) Menyusun benda dari besar-kecil atau sebaliknya c) Membilang/menyebutkan angka 1 - 10. d) Membilang ( mengenal konsep bilangan dengan benda benda). e) Mengelompokkan benda tiga dimensi ( benda sebenarnya ) yang berbentuk geometri ( lingkaran, segi tiga, segi empat ) f) Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh. Adapun penilaian yang digunakan adalah: apabila hasil pembelajaran sangat tinggi, maka diberi nilai bulat penuh ( ), apabila hasil pembelajaran tinggi maka diberi nilai tanda

cek (V) dan apabila hasil pembelajaran rendah maka diberi nilai bulat kosong ( table 1. ) untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

42

Tabel 1. Kriteria hasil pembelajaran NO 1. Komponen yang dinilai Mengelompokkan geometri yang sama bentuk, ukran dan warnanya Criteria Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Tinggi Tinggi Rendah 3. Mengenal konsep bilangan dengan benda Sangat Tinggi Tinggi Rendah 4 Mengenal bentuk-bentuk geometri Sangat Tinggi Tinggi Rendah 5 Mengenal warna Sangat Tinggi Tinggi Rendah Indikator Dapat mengelompokkan dengan tepat Hanya sebagian yang bisa dikelompokkan Hanya sebagian kecil yang bisa mengelompokkan Dapat menyebutkan urutan bilangan Hanya sebagian yang bisa Hanya sebagian kecil yang bisa menyebutkan Dapat mengenal konsep bilangan Hanya sebagian yang bisa mengenal konsep bilangan Hanya sebagian kecil yang bisa mengenal konsep bilangan Dapat mengenal semua bentuk geometri Hanya sebagian yang dikenalnya/ada yang tidak dikenal Tidak ada yang dikenal Dapat mengenal semua warna hanya sebagian mengenal warna / ada yang tidak dikenal Tidak kenal warna sama sekali

2.

Mengenal urutan bilangan 1 10

43

Menyusun ukuran benda dari yang kecil ke yang besar dan sebaliknya

Sangat Tinggi Tinggi Rendah

Dapat mengurutkan dengan benar semuanya Hanya sebagian yang dapat diurutkan Tidak bisa mengurutkan sama sekali Dapat menyusun puzel dengan utuh Menyusun sebagian puzel Tidak dapat menyusun sama sekali

Menyusun puzel menjadi bentuk utuh

- Sangat Tinggi - Tinggi - Rendah

Tabel 2. Format Observasi Anak NILAI Tinggi F %

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F %

Rendah F %

2 3

5 6 7

Anak mampu mengenal bentukbentuk Geometri Anak mampu mengenal warna Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya Anak mampu mengenal angka 1-10 Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh
Nilai Rata-rata

2. Dokumentasi. Berupa kamera untuk mendokumentasikan pembelajaran yang sedang berlangsung. 3. Wawancara

44

digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari anak. Tabel 3. Format wawancara No 1 Pertanyaan Jawaban Alasan

Apakah kamu mampu 7 anak menjawab Sudah tahu dengan mengenal bentuk-bentuk mampu beberapa bentuk geometri ? geometri 7 anak menjawab Ragu dengan bentuk tidak tahu geometri Apakah kamu mampu 10 anak menjawab mengenal warna kepingan mampu geometri? 4 anak menjawab dengan gelengan kepala Apakah kamu mampu 10 anak menjawab mengelompokkan kepingan mampu geometri menurut 4 anak menjawab bentu,ukuran dan dengan gelengan warnanya? kepala Apakah kamu mampu 9 anak menjawab menyusun kepingan mampu geometri dari yang kecilbesar atau sebaliknya? 5 anak menjawab belum mampu Apakah kamu mampu 10 mengenal angka 1-10? mampu Sudah tahu dengan bentuk geometri Tidak tahu

Sudah tahu dengan bentuk geometri Ragu, malu dan tidak tahu dengan bentuk geometri Sudah tahu dengan beberapa bentuk geometri Ragu dengan bentuk geometri

menjawab Sudah tahu angka 110

4 anak menjawab Ragu-ragu tidak tahu 6 Apakah kamu mampu mampu menghitung jumlah 10 anak menjawab Sudah mampu menghitung 1-10 kepingan geometri? 4 anak menjawab Ragu-ragu tidak mampu Sudah tahu Apakah kamu bisa 9 anak menjawab menyusunnya menyusul puzel geometri? mampu

cara

45

Nilai rata-rata

5 anak menjawab Tidak mengerti tidak mampu Mampu Tidak mampu

E. Tekhnik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1. Observasi atau pengamatan, digunakan untuk memperoleh data tentang perkembangan kemampuan logika matematika anak melalui permainan. 2. Unjuk kerja atau pencatatan lapangan adalah, merupakan hasil peningkatan kecerdasan logika matematika anak yang ditulis guru waktu kegiatan berlangsung. 3. Dokumentasi untuk melihat kegiatan perkembangan kemampuan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box. 4. Wawancara, digunakan memperoleh informasi langsung dari anak. F. Teknik Analisis Data 1. Analisa kuantitatif Teknik analisa data yang dilakukan dengan analisa deskriptif dengan menggunakan Rumus Presentase. Analisa deskriptif untuk mendapatkan gambaran data yang menjelaskan perkembangan

kecerdasan logika matematika anak dengan menggunakan permainan Geometri Box, sedangkan analisa presentase untuk mendapatkan beberapa presentase peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box .

46

Setelah data berhasil dikumpul kemudian diolah dengan menggunakan teknik distribusi frekuensi atau statistik deskriptif dikemukakan oleh Sudijono (2006: 43) Dengan rumus : Keterangan : P = F x 100 % N P = angka presentase F = frekuensi N = jumlah sampel atau jumlah anak dalam satu kelas. Menurut Arikunto ( 2006:241 ) interprestasi aktifitas belajar anak sebagai berikut: a. Sangat Tinggi ( ST ) b. Tinggi ( T ) c. Rendah ( R ) d. Sangat Rendah ( SR ) e. Rendah Sekali ( RS ) 2. Analisa kualitatif. Sumber dalam menggali data penelitian ini sesuai dengan uraian di atas adalah lembar observasi, buku catatan, dokumentasi dan wawancara. a. Lembar Observasi. Lembar observasi yang digunakan adalah observasi

berstruktur dan teknik supervisi klinis. Dalam hal ini butir-butir observasi dibuat berdasarkan indikator pengembangan kemampuan

47

logika matematika dalam bidang pengembangan kognitif dalam Standar Kurikulum Berbasis Kompetensi TK 2004. Indikator-indikator tersebut antara lain: 1) mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ciri tertentu. 2) Menyusun benda dari besar-kecil atau sebaliknya 3) Membilang/menyebutkan angka 1 - 10. 4) Membilang ( mengenal konsep bilangan dengan benda benda). 5) Mengelompokkan benda tiga dimensi ( benda sebenarnya ) yang berbentuk geometri ( lingkaran , segi tiga, segi empat ) 6) Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Instrumen ini diisi oleh guru yang bertujuan untuk mengetahui aktifitas perkembangan anak dalam proses belajar mengajar terkait dengan indikator-indikator pengembangan

kemampuan logika matematika anak. b. Buku catatan Buku catatan adalah catatan harian yang diisi selama proses pembelajaran berlangsung c. Dokumentasi berupa foto-foto kegiatan pengembangan kemampuan logika matematika melalui permainan Geometri Box. d. wawancara langsung dengan anak didik

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Temuan Penelitian 1. Deskripsi Kondisi Awal Pada kondisi awal sebelum penelitian dilakukan di TK Tunas Karya Padang Panjang, kemampuan logika matematika sebagian besar anak di kelompok B1 masih rendah. Anak-anak mengalami kesulitan saat menjawab pertanyaan tentang nama-nama geometri, membedakan bentukbentuk geometri, tidak mengenal lambang bilangan 1 10, kurang memahami konsep bilangan, kurang mampu membedakan bermacammacam warna dan ukuran benda. Dampak yang ditimbulkan dari hal ini adalah kurangnya kecerdasan anak dalam logika matematika karena pembelajaran dan sarana yang diberikan tidak optimal. Hasil observasi dalam pembelajaran kemampuan logika matematika anak pada kondisi awal (sebelum tindakan), Lebih jelas dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini:

48 48

49

Tabel 4.

Hasil Observasi Kemampuan Logika Matematika Anak dalam Proses Pembelajaran pada Kondisi Awal ( Sebelum Tindakan) NILAI Tinggi F 2 2 2 % 14,28 14,28 14,28

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F % 1 2 2 7,15 14,28 14,28

Rendah F 11 10 10 % 78,57 71,44 71,44

1 2 3

5 6 7

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri Anak mampu mengenal warna Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya Anak mampu mengenal angka 1-10 Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Nilai Rata-rata

14,28

14,28

10

71,44

2 2 2

14,28 14,28 14,28

2 2 2

14,28 14,28 14,28

10 10 10

71,44 71,44 71,44

14,28

14,28

10

71,42

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kemampuan logika matamatika anak sebelum tindakan Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk-bentuk geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 1 orang dengan persentase 7,15%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang

dengan persentase 14,28%, anak yang rendah berjumlah 11 orang persentase 78,57%. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, anak yang sangat tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang

50

tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang rendah berjumlah 10 orang dengan persentase 71,44%. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam Anak mampu

mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya, anak yang sangat tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang rendah berjumlah 10 orang dengan persentase 71,44%. Pada aspek 4 kemampuan anak menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya, anak yang sangat tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, dan anak yang rendah berjumlah 10 orang dengan persentase 71,44%. Pada aspek 5 kemampuan anak mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, dan anak yang rendah berjumlah 10 orang dengan persentase 71,44%. Pada aspek 6 kemampuan anak mengenal konsep bilangan 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, dan anak yang rendah berjumlah 10 orang dengan persentase 71,44%. Pada aspek 7 mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh, anak yang sangat tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase

51

14,28%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, dan anak yang rendah berjumlah 10 orang dengan persentase 71,44%. Grafik 1. Hasil Observasi Kemampuan Logika Matematika Anak dalam Proses Pembelajaran pada Kondisi Awal ( Sebelum Tindakan).
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 sangat Tinggi Tinggi Rendah

Uraian di atas menggambarkan kemampuan anak dalam logika matematika pada kondisi awal. Dapat terlihat bahwa pada ke 7 aspek masih sangat rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan ke 7 aspek tersebut. Deskripsi data diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus- siklus. Pada penelitian ini, pembelajaran dilakukan dalam dua siklus. 2. Deskripsi Siklus I Siklus I dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Pertemuan I dilaksanakan

52

pada tanggal 8 Desember 2011, pertemuan II dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2011, dan pertemuan III dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2011. Dibandingkan dari kondisi awal, pada hasil siklus I, aspek yang dinilai dalam observasi mengalami peningkatan namun belum mencapai target KKM sedangkan dari hasil wawancara yang dilakukan di akhir siklus I menunjukkan bahwa anak belum optimal dalam kemampuan logika matematika. a. Perencanaan Guru melaksanakan analisis kurikulum untuk menentukan kompetensi dasar dan indikator yang akan dipakai dalam penelitian kepada anak dalam kegiatan peningkatan kecerdasan logika

matematika anak melalaui permainan Geometri Box. Kompetensi dasarnya adalah anak mampu memahami konsep sederhana,

memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Indikator yang dipakai yaitu: 1) mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ciri- ciri tertentu, misal menurut warna, bentuk, ukuran, jenis, dll 2) mengelompokkan benda- benda tiga dimensi ( benda-benda yang sebenarnya) segiempat). 3) Menyusun benda dari besar-kecil atau sebaliknya. 4) Membilang/menyebut urutan bilangan dari 1-20 yang berbentuk geometri (lingkaran, segitiga,

53

5) Membilang ( mengenal konsep bilangan dengan benda-benda ) 110 6) Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Perencanaan yang dilakukan adalah membuat persiapan pembelajaran yaitu SKH, menentukan tema yaitu tema Tanaman, menentukan metode yang akan digunakan dalam peningkatan kecerdasan logika matematika anak yaitu metode pemberian tugas melalui permainan, mempersiapkan media pembelajaran yaitu Geometri Box, mengembangkan format evaluasi dan menyiapkan dokumentasi. b. Tindakan Guru melaksanakan proses pembelajaran untuk

mengoptimalkan kemampuan logika matematika anak sesuai satuan kegiatan harian yang telah direncanakan (dapat dilihat pada lampiran I). Pertemuan I dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2011. Temanya adalah Tanaman dengan sub tema Cara memelihara tanaman. Pada pertemuan ini, ada peningkatan pada ke 7 aspek yang dinilai. Langkahlangkah kegiatannya adalah sebagai berikut : 1) Kegiatan awal a) Guru mengkondisikan tempat duduk anak b) Guru membimbing anak membaca doa sebelum belajar c) Guru memotivasi anak untuk berbagi cerita secara bergantian d) Guru dan anak mempercakapkan tema dan sub tema

54

2) Kegiatan Inti a) Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box kepada anak. b) Anak mengamati alat permainan Geometri Box c) Guru tanya jawab dengan anak tentang Geometri Box d) Guru menerangkan tentang permainan Geometri Box e) Anak menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri dan angka 1-10 yang ada pada alat permainan f) Guru dan anak membaca doa sebelum memulai kegiatan g) Anak mengambil 3 kepingan geometri yang berbeda sesuai yang disebutkan guru dan menyebut perbedaannya h) Anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, kemudian menghitung kepingan geometri tersebut. i) Anak mengelompokkan buah yang berbentuk lingkaran sesuai warnanya j) Guru memotivasi dan mengamati kegiatan anak selama pembelajaran berlangsung dan kolaborator mencatat hasil pengamatan. k) Guru dan anak membaca doa sesudah kegiatan. 3) Kegiatan Istirahat ( bermain bebas dan makan bersama ) 4) Kegiatan Akhir

55

a) Guru melakukan Tanya jawab dengan anak untuk mengevaluasi permainan yang telah dilakukan b) Persiapan pulang Pertemuan II dilaksanakan pada tanggal 12 Desember 2011. Temanya adalah Tanaman dengan sub tema Fungsi tanaman. Pada pertemuan ini terlihat ada beberapa anak yang berkembang dalam melaksanakan berikut: 1) Kegiatan awal a) Guru mengkondisikan tempat duduk anak b) Guru membimbing anak membaca doa sebelum belajar c) Guru memotivasi anak untuk berbagi cerita secara bergantian d) Guru dan anak mempercakapkan tema dan sub tema 2) Kegiatan Inti a) Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box kepada anak. b) Anak mengamati alat permainan Geometri Box c) Guru tanya jawab dengan anak tentang Geometri Box d) Guru menerangkan tentang permainan Geometri Box e) Anak menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri dan angka 1-10 yang ada pada alat permainan f) Guru dan anak membaca doa sebelum memulai kegiatan kegiatan. Langkah-langkah kegiatannya sebagai

56

g) Anak mengambil 3 kepingan geometri yang berbeda sesuai yang disebutkan guru dan menyebut perbedaannya h) Anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, kemudian menghitung kepingan geometri tersebut. i) Guru memotivasi dan mengamati kegiatan anak selama pembelajaran berlangsung dan kolaborator mencatat hasil pengamatan. j) Guru dan anak membaca doa sesudah kegiatan. 3) Kegiatan Istirahat ( bermain bebas dan makan bersama ) 4) Kegiatan Akhir a) Guru melakukan Tanya jawab dengan anak untuk mengevaluasi permainan yang telah dilakukan b) Persiapan pulang Langkah kegiatan sama dengan pertemuan I tetapi sesudah anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, anak diminta memasukkan kepingan geometri ke lobang alat Geometri Box sesuai bentuknya dan selanjutnya anak disuruh menyusun kepingan geometri dari besar-kecil atau sebaliknya, lalu meletakkan angka sesuai urutan kepingan geometri tersebut. Setelah anak bermain geometri box, anak mengelompokkan buah yang berbentuk lingkaran.

57

Pertemuan III dilaksanakan pada tanggal 14 Desember 2011. Temanya adalah Tanaman dengan sub tema Tanaman yang bermanfaat untuk kesehatan. Pada pertemuan ini terlihat aspek yang dinilai mengalami peningkatan namun belum mencapai target. Langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : 1) Kegiatan awal a) Guru mengkondisikan tempat duduk anak b) Guru membimbing anak membaca doa sebelum belajar c) Guru memotivasi anak untuk berbagi cerita secara bergantian d) Guru dan anak mempercakapkan tema dan sub tema 2) Kegiatan Inti a) Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box kepada anak. b) Guru menerangkan tentang permainan Geometri Box c) Guru dan anak membaca doa sebelum memulai kegiatan d) Anak menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri dan angka 1-10 yang ada pada alat permainan e) Anak mengambil 3 kepingan geometri yang berbeda sesuai yang disebutkan guru dan menyebut perbedaannya f) Anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, kemudian menghitung kepingan geometri tersebut.

58

g) Anak menyusun kepingan geometri dari besar-kecil atau sebaliknya h) Anak menyusun puzel kepingan geometri. i) Anak membentuk bunga dengan kepingan geometri. j) Guru memotivasi dan mengamati kegiatan anak selama pembelajaran berlangsung dan kolaborator mencatat hasil pengamatan. k) Guru dan anak membaca doa sesudah kegiatan. 3) Kegiatan Istirahat ( bermain bebas dan makan bersama ) 4) Kegiatan Akhir a) Guru melakukan Tanya jawab dengan anak untuk mengevaluasi permainan yang telah dilakukan b) Persiapan pulang Diakhir siklus dilaksanakan wawancara kepada anak. c. Pengamatan Pengamatan yang peneliti lakukan dalam kegiatan

pembelajaran, menyimpulkan hasil sebagai berikut : 1. Anak merasa senang mengikuti kegiatan pembelajaran tentang permainan Geometri Box. 2. Anak mampu menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri yang ada pada Geometri Box. 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya

59

4. Anak mampu menyusun kepingan geometri dari kecil-besar atau sebaliknya. 5. Anak mampu menyusun puzel kepingan geometri. 6. Masih ada anak yang belum mampu mengelompokkan bentuk kepingan geometri, menyebutkan bentuk geometri, menyebutkan ciri dan perbedaan bentuk geometri, mampu menyusun kepingan geometri dari kecil-besar atau sebaliknya dan menyusun puzel kepingan geometri, dan malas melakukan kegiatan. Sehingga guru mempunyai strategi untuk membimbing anak dalam bermain dengan mendampingi dan memotivasi anak dalam kegiatan bermain Geometri Box. Hasil pengamatan peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box pada Siklus I pertemuan I dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini : Tabel 5. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan I. NILAI Tinggi F 3 % 21,43

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F % 3 21,43

Rendah F 8 % 57,14

2 3

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri pada Geometri Box Anak mampu mengenal warna pada Geometri Box Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri box yang sama

3 3

21,43 21,43

6 5

42,85 35,72

5 6

35,72 42,85

60

bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu mengenal angka 1-10 melalui Geometri Box Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 melalui Geometri Box Nilai Rata-rata

21,43

35,72

42,85

21,43

35,72

42,85

21,43

28,57

50

Berdasarkan tabel di atas, hasil peningkatan kecerdasan logika matematika anak pada siklus I pertemuan I, Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk kepingan bentuk geometri anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang rendah berjumlah 8 orang persentase 57,14%. Pada aspek 2 kemampuan anak mengenal warna, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%, anak yang rendah berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%. Pada aspek 3 kemampuan anak mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk ,ukuran dan warnanya, anak yang sangat tinggi berjumlah berjumlah 5 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi orang dengan persentase 35,72%, anak yang rendah

berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%. Pada aspek 4 Anak mampu mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi

61

berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%, dan anak yang rendah berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%. Pada aspek 5 Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%, dan anak yang rendah berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%. Grafik 2. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan I
60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Aspek yang dinilai 4 5 Sangat Tinggi Tinggi Rendah

Uraian di atas menggambarkan perkembangan anak dalam kemampuan logika matematika di siklus I pertemuan I sudah ada peningkatan tetapi belum maksimal yang dapat dilihat melalui ke 5 aspek tersebut. Oleh karena itu perlu dioptimalkan lagi dalam ke 5 aspek tersebut pada pertemuan berikutnya. Hasil observasi kemampuan logika

62

matematika anak melalui permainan Geometri Box pada Siklus I pertemuan II dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini : Tabel 6. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan II NILAI Tinggi F 5 % 35,72

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F % 3 21,43

Rendah F 6 % 42,85

2 3

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri pada Geometri Box Anak mampu mengenal warna pada Geometri Box Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri box yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya pada Geometri Box Anak mampu mengenal angka 1-10 melalui geometri box Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 geometri box Nilai Rata-rata

3 4

21,43 28,57

6 4

42,85 28,57

5 6

35,72 42,86

21,43

42,85

35,72

21,43

42,85

35,72

21,43

42,85

35,72

21,43

42,85

35.72

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box pada siklus I pertemuan II, Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk bentuk geometri anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan

63

persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%, anak yang rendah berjumlah 6 orang persentase 42,85%. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%, anak yang rendah berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya, anak yang sangat tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, anak yang rendah

berjumlah 6 orang dengan persentase 42,86%. Pada aspek 4 kemampuan anak menyusun kepingan geometri dari yang kecil-besar atau sebaliknya, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%, dan anak yang rendah berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%. Pada aspek 5 kemampuan anak mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%, dan anak yang

rendah berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%. Pada aspek 6 kemampuan anak mengenal konsep bilangan 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%,

64

anak yang tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%, dan anak yang rendah berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%. Grafik 3. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan II
45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 Sangat Tinggi Tinggi Rendah

Berdasarkan uraian di atas tergambarlah perkembangan anak dalam kemampuan logika matematika di siklus I pertemuan II, sudah ada peningkatan tetapi belum maksimal yang dapat dilihat melalui ke 6 aspek tersebut. Oleh karena itu perlu dioptimalkan lagi kemampuan logika matematika anak dalam ke 6 aspek tersebut pada pertemuan berikutnya. Hasil observasi dan hasil wawancara kemampuan logika

amtematika anak melalui permainan Geometri Box pada Siklus I pertemuan III dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini:

65

Tabel 7.

Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I ( Setelah Tindakan) Pertemuan III NILAI Tinggi F 3 % 21,43

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F % 4 28,57

Rendah F 7 % 50

2 3

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri pada geometri box Anak mampu mengenal warna pada geometri box Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri box yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya pada geometri box Anak mampu mengenal angka 1-10 melalui geometri box Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 melalui geometri box Anak mampu menyusun puzel menjadi bentuk utuh pada geometri box Nilai Rata-rata

6 5

42,86 35,71

4 5

28,57 35,71

4 4

28,57 28,58

28,58

35,71

35,71

42,86

28,57

28,57

35,71

35,71

28,58

35,71

35,71

28,58

35,71

28,58

35,71

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kemampuan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box pada siklus I pertemuan III, Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk kepingan geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang rendah berjumlah 7 orang persentase 50%.

66

Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, anak yang sangat tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,86%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, anak yang rendah berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan bentuk geometri yang sama bentuk,ukuran dan warnanya, anak yang sangat tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, anak yang rendah berjumlah 4 orang dengan persentase 28,58%. Pada aspek 4 kemampuan anak dalam menyusun ukuran geometri dari yang kecil-besar atau sebaliknya, anak yang sangat tinggi berjumlah 4 orang dengan 28,58%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, dan anak yang rendah berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%. Pada aspek 5 kemampuan anak mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,86%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, dan anak yang

rendah berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%. Pada aspek 6 kemampuan anak mengenal konsep bilangan 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, dan anak yang rendah berjumlah 4 orang dengan persentase 28,58%.

67

Pada aspek 7 kemampuan anak menyusun puzel kepingan geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, dan anak yang rendah berjumlah 4 orang dengan persentase 28,58%. Grafik 4. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I ( Setelah Tindakan) Pertemuan III

60 50 40 30 Sangat Tinggi 20 10 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 Tinggi Rendah

Berdasarkan uraian di atas tergambarlah perkembangan anak dalam kemampuan logika matematika di siklus I pertemuan III, sudah ada peningkatan tetapi belum maksimal yang dapat dilihat melalui ke 7 aspek tersebut. Oleh karena itu perlu dioptimalkan lagi kemampuan logika matematika anak dalam ke 7 aspek tersebut pada siklus berikutnya. Hasil wawancara yang dilaksanakan di akhir siklus dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini:

68

Tabel 8. Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan III % Jml Alasan No Pertanyaan Jawaban Anak

Apakah kamu mengenal bentukbentuk geometr ?

7 anak menjawab mampu 7 anak menjawab tidak tahu

Sudah tahu dengan beberapa bentuk geometri Ragu dengan bentuk geometri Sudah tahu dengan warna geometri Tidak tahu

50

50 71,42 28,57

Apakah kamu mengenal warna kepingan geometri?

10 anak menjawab mampu 4 anak menjawab dengan gelengan kepala 10 anak menjawab mampu 4 anak menjawab dengan gelengan kepala 9 anak menjawab mampu 5 anak menjawab belum mampu 10 anak menjawab mampu 4 anak tidak tahu

Apakah kamu mampu mengelompokkan kepingan geometri menurut bentu,ukuran dan warnanya? Apakah kamu mampu menyusun kepingan geometri dari yang kecilbesar atau sebaliknya? Apakah kamu mampu mengenal angka 1-10?

Sudah tahu dengan bentuk geometri Ragu, malu dan tidak tahu dengan bentuk geometri Sudah tahu dengan beberapa bentuk geometri Ragu dengan bentuk geometri Sudah tahu angka 1-10 Ragu-ragu sudah mampu menghitung 1-10 Ragu-ragu

71,42

28,57

64,28

35,72

71,42

28,57

Apakah kamu 10 anak menjawab mampu menghitung mampu jumlah kepingan geometri? 4 anak tidak mampu Apakah kamu bisa menyusul puzel geometri? Nilai rata-rata 9 anak menjawab mampu 5 anak menjawab tidak mampu Mampu 66,32% Tidak mampu 33,68%

71,42

28,57

Sudah tahu cara menyusunnya tidak mengerti

64,28 35,72

69

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat perkembangan anak dalam kemampuan logika matematika di akhir siklus I. Pada pertanyaan 1 dalam mengenal bentuk kepingan geometri 7 anak menjawab mampu dengan persentase 50%, tidak mampu 7 anak dengan persentase 50%. Pertanyaan 2 dalam mengenal warna kepingan geometri menjawab mampu 10 anak dengan persentase 71,44%, tidak mampu 4 anak dengan persentase 28,57%. Pada pertanyaan 3 mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk ,ukuran dan warnanya menjawab mampu 10 anak dengan persentase 71,44%, tidak mampu 4 anak dengan persentase 28,57%. Pada pertanyaan 4 menyusun kepingan geometri dari yang kecilbesar atau sebaliknya menjawab mampu 9 anak dengan persentase 64,28%, tidak mampu 5 anak dengan persentase 35,72%. Pertanyaan 5 mengenal angka 1-10, menjawab mampu 10 anak dengan persentase 71,42%, tidak mampu 4 anak dengan persentase 28,57%. Pertanyaan 6 mengenal konsep bilangan atau bisa menghitung 110, menjawab mampu 10 anak dengan persentase 71,42%, tidak mampu 4 anak dengan persentase 28,57%. Pertanyaan 7 menyusun puzel kepingan geometri, menjawab mampu 9 anak dengan persentase 64,28%, tidak mampu 5 anak dengan persentase 35,72%

70

Grafik 5. Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I (Setelah Tindakan) Pertemuan III .
80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 Mampu Tidak Mampu

Uraian di atas menggambarkan perkembangan anak dalam kemampuan logika matematika di siklus I pertemuan III sudah ada peningkatan tetapi belum maksimal yang dapat dilihat melalui ke 7 aspek tersebut dan hasil wawancara. Oleh karena itu perlu dioptimalkan lagi kemampuan logika matematika anak dalam ke 7 aspek tersebut. d. Refleksi Berdasarkan pengamatan yang peneliti lakukan dalam kegiatan pembelajaran, maka peneliti dengan guru yang berkolaborasi di kelas dapat menyimpulkan pelaksanaan pembelajaran pada siklus I sudah sesuai dengan rencana, berdasarkan hasil pengamatan dampak pembelajaran sudah cukup berhasil, ini terlihat dari :

71

1. Perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box sudah meningkat: a. Kemampuan anak dalam mengenal bentuk kepingan geometri yang ada pada Geometri Box, kondisi awal 14,28%, siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan meningkat menjadi 28,57% di pertemuan III. b. Kemampuan anak dalam mengenal warna bentuk kepingan geometri pada kondisi awal 14,28%, siklus I pertemuan I dan pertemuan II masih 21,43% dan pertemuan III meningkat menjadi 42,86%. c. Kemampuan anak dalam mengelompokkan bentuk kepingan geometri pada kondisi awal 14,28%, pada siklus I pertemuan I masih 21,43%, pertemuan II menjadi 28,57 dan pertemuan III meningkat menjadi 35,71%. d. Kemampuan anak dalam menyusun geometri dari yang kecilbesar atau sen\baliknya, kondisi awal 14,28%, pada siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan naik menjadi 28,58% di pertemuan III. e. Kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, kondisi awal 14,28%, pada siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan naik menjadi 42,86% di pertemuan III.

72

f. Kemampuan anak dalam mengenal konsep bilangan 1-10, kondisi awal 14,28%, pada siklus I pertemuan II masih 21,43% dan naik menjadi 35,71% di pertemuan III. g. Kemampuan anak dalam menyusun puzel kepingan geometri, kondisi awal 14,28%, pada siklus I naik 35,71% di pertemuan III. 2. Dari hasil wawancara masih ditemui anak yang belum optimal kemampuan logika matematika. Untuk mengatasi hal di atas dapat dilakukan hal sebagai berikut: a. Mendampingi dan selalu memberi arahan serta motivasi kepada anak dalam bermain Geometri Box. b. Membuat Geometri Box, angka 1-10 dan kepingan masingmasing bentuk geometri dengan warna yang bervariasi dan seimbang dengan jumlah anak yang akan bermain. Berdasarkan deskripsi data, hasil dari data selama penelitian dalam pembelajaran pada siklus I dianalisis dengan membuat rekapitulasi hasil observasi dan wawancara. Rekapitulasi hasil observasi Siklus I pertemuan I, II dan III dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut :

73

Tabel 9. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Siklus I Pertemuan I, II dan III ( Setelah Tindakan)
Pertemuan 1 Jumlah anak 14 Aspek yang Dinilai ST 3 21,43 3 21,43 3 21,43 T 3 21,43 6 42,85 5 35,72 R 8 57,15 5 35,72 6 42,85 Pertemuan 2 Jumlah anak 14 ST 3 21,43 3 21,43 4 28,57 T 5 35,72 6 42,85 4 28,57 R 6 Pertemuan 3 Jumlah anak 14 ST 4 T 3 21,43 4 28,57 5 35,72 R 7 50 4 28,57 4 28,57

N O 1

Anak mengenal geometri

mampu bentuk

Jml anak % Jml anak % Jml anak %

42,85 28,57 5 35,72 6 42,85 6 42,85 5 35,72

Anak mampu mengenal warna

Anak mampu mengelpompokkan geometri berdasarkan warna dan bentuknya Anak mampu menyusun geometri dari kecil besar atau sebaliknya Anak mampu mengenal angka 110

Jml anak % Jlh anak %

3 21,43 3

5 35,72 5

6 42,85 6

3 21,43 3

6 42,85 6

5 35,72 5

4 28,57 6

5 35,72 4

5 35,72 4

21,42 6 Anak mampu menghitung kepingan geometri Jlh anak % 7 Anak menyusun geometri mampu puzel Jlh anak % 3

35,71 5

42,85 6

21,43 3

42,85 6

35,71 5

42,65 5

28,57 5

28,57 4

21,42 2

35,71 3

42,85 9

21,43 3

42,85 6

35,71 5

35,71 5

35,71 5

28,57 4

14,28

21,43

64,28

21,43

42,85

35,71

35,71

35,71

28,57

nilai rata-rata

Jlh anak %

3 21,43

5 35,72

6 42,85

4 28,56

5 35,72

5 35,72

5 35,72

4 28,56

5 35,72

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat kecerdasan logika matematika anak pada siklus I meningkat. Pada aspek 1 kemampuan

74

anak dalam mengenal bentuk-bentuk geometri, siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan meningkat menjadi 28,57% di pertemuan III. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, pada siklus I pertemuan I dan pertemuan II masih 21,43% dan pertemuan III meningkat menjadi 42,85%. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan bentuk kepingan geometri, pada siklus I pertemuan I masih 21,43%,

pertemuan II menjadi 28,57 dan pertemuan III meningkat menjadi 35,72%. Pada aspek 4 kemampuan anak dalam menyusun ukuran geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, pada siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan naik menjadi 28,57% di pertemuan III. Pada aspek 5 kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, pada siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan naik menjadi 42,85% di pertemuan III. Pada aspek 6 kemampuan anak dalam menghitung kepingan geometri, pada siklus I pertemuan I dan II masih 21,43% dan naik menjadi 35,71% di pertemuan III. Pada aspek 7 kemampuan anak dalam menyusun puzel geometri, pada siklus I pertemuan I 14,28%, pertemuan II masih 21,43% dan naik menjadi 35,71% di pertemuan III.

75

Grafik 6. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus I Pertemuan I, II dan III ( Setelah Tindakan )

45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III

Hasil rekapitulasi siklus I menunjukkan peningkatan di tiap pertemuannya, namun belum mencapai target KKM. 3. Deskripsi Siklus II Hasil pelaksanaan Siklus I, ternyata tidak mencapai KKM. Maka peneliti melanjutkan penelitian ke siklus II yang dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan. Pertemuan I dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2011, pertemuan II dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2011, dan pertemuan III dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2011.

Dibandingkan dari hasil siklus I, aspek yang dinilai dalam observasi mengalami peningkatan yang signifikan dan sudah mencapai KKM sedangkan dari hasil wawancara yang dilakukan di akhir siklus II

76

dibandingkan hasil siklus I menunjukkan bahwa kecerdasan logika matematika anak sudah meningkat. a. Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus II sama seperti siklus I yaitu guru melaksanakan analisis kurikulum untuk menentukan kompetensi dasar dan indikator yang akan dipakai dalam penelitian kepada anak dalam kegiatan peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box. Kompetensi dasarnya adalah anak mampu memahami konsep sederhana, memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari- hari. Indikator yang dipakai adalah : 1) mengelompokkan benda dengan berbagai cara menurut ciri- ciri tertentu, misal menurut warna, bentuk, ukuran, jenis, dll 2) mengelompokkan benda- benda tiga dimensi ( benda-benda yang sebenarnya) segiempat). 3) Menyusun benda dari besar-kecil atau sebaliknya. 4) Membilang/menyebut urutan bilangan dari 1-20 5) Membilang ( mengenal konsep bilangan dengan benda-benda ) 110 6) Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Perencanaan yang dilakukan adalah membuat persiapan pembelajaran yaitu SKH, menentukan tema yaitu tema Tanaman, yang berbentuk geometri (lingkaran, segitiga,

77

menentukan metode yang akan digunakan dalam mengoptimalkan pengenalan bentuk geometri yaitu metode pemberian tugas dan melakukan kegiatan perlombaan supaya lebih menarik bagi anak, mempersiapkan media pembelajaran yaitu menambah jumlah Geometri Box dengan warna kepingan geometri yang bervariasi ditiap bentuknya, dokumentasi. b. Tindakan Guru melaksanakan proses pembelajaran untuk peningkatan kecerdasan logika matematiika anak sesuai satuan kegiatan harian yang telah direncanakan (dapat dilihat pada lampiran I). Pertemuan I dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2011. Temanya adalah Tanaman dengan sub tema Cara perkembangan dan pertumbuhan tanaman dengan batang. Pada pertemuan ini terlihat ada beberapa anak yang berkembang pesat dalam melaksanakan kegiatan terlihat beberapa aspek sudah tidak ada yang berada pada kategori rendah. Langkah-langkah kegiatan sebagai berikut : 1) Kegiatan awal a) Guru mengkondisikan tempat duduk anak b) Guru membimbing anak membaca doa sebelum belajar c) Guru memotivasi anak untuk berbagi cerita secara bergantian d) Guru dan anak mempercakapkan tema dan sub tema 2) Kegiatan Inti mengembangkan format evaluasi dan menyiapkan

78

a) Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box kepada anak. b) Guru menerangkan tentang permainan Geometri Box c) Guru dan anak membaca doa sebelum memulai kegiatan d) Anak menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri dan angka 1-10 yang ada pada alat permainan e) Anak mengambil 3 kepingan geometri yang berbeda sesuai yang disebutkan guru dan menyebut perbedaannya f) Anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, kemudian menghitung kepingan geometri tersebut. g) kemudian anak disuruh menghitung kepingan geometri lalu memasukkan kedalam lobang Geometri Box sesuai bentuknya. h) Anak menyusun kepingan geometri dari besar-kecil atau sebaliknya i) Anak menyusun puzel kepingan geometri. j) Anak menghitung tanaman yang berbentuk geometri. k) Guru memotivasi dan mengamati kegiatan anak selama pembelajaran berlangsung dan kolaborator mencatat hasil pengamatan. l) Guru dan anak membaca doa sesudah kegiatan. 3) Kegiatan Istirahat ( bermain bebas dan makan bersama ) 4) Kegiatan Akhir

79

a) Guru melakukan Tanya jawab dengan anak untuk mengevaluasi permainan yang telah dilakukan b) Persiapan pulang Pertemuan II dilaksanakan pada tanggal 19 Desember 2011. Temanya adalah Tanaman dengan sub tema Cara perkembangan dan pertumbuhan tanaman dengan anak. Pada pertemuan ini terlihat peningkatan kecerdasan logika matematika anak semakin bagus. Langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: 1) Kegiatan awal a) Guru mengkondisikan tempat duduk anak b) Guru membimbing anak membaca doa sebelum belajar c) Guru memotivasi anak untuk berbagi cerita secara bergantian d) Guru dan anak mempercakapkan tema dan sub tema 2) Kegiatan Inti a) Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box kepada anak. b) Guru menerangkan tentang permainan Geometri Box c) Guru dan anak membaca doa sebelum memulai kegiatan d) Anak menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri dan angka 1-10 yang ada pada alat permainan e) Anak mengambil 3 kepingan geometri yang berbeda sesuai yang disebutkan guru dan menyebut perbedaannya

80

f) Anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, kemudian menghitung kepingan geometri tersebut. g) kemudian anak disuruh menghitung kepingan geometri lalu memasukkan kedalam lobang Geometri Box sesuai bentuknya. h) Anak menyusun kepingan geometri dari besar-kecil atau sebaliknya i) Anak menyusun puzel kepingan geometri. j) Anak menyusun buah dari kecil-besar. k) setelah anak melakukan semua kegiatan permainan Geometri Box secara bergantian, kemudian anak-anak disuruh lomba perkelompok kecil dalam melakukan permainan Geometri Box. l) Guru memotivasi dan mengamati kegiatan anak selama pembelajaran berlangsung dan kolaborator mencatat hasil pengamatan. m) Guru dan anak membaca doa sesudah kegiatan. 3) Kegiatan Istirahat ( bermain bebas dan makan bersama ) 4) Kegiatan Akhir a) Guru melakukan Tanya jawab dengan anak untuk mengevaluasi permainan yang telah dilakukan b) Persiapan pulang Pertemuan III dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2011. Temanya adalah Tanaman dengan sub tema Bagian-bagian Tanaman.

81

Pada pertemuan ini terlihat aspek yang dinilai mengalami peningkatan yang signifikan mencapai target KKM. Langkah-langkah kegiatannya sebagai berikut: 1) Kegiatan awal a) Guru mengkondisikan tempat duduk anak b) Guru membimbing anak membaca doa sebelum belajar c) Guru memotivasi anak untuk berbagi cerita secara bergantian d) Guru dan anak mempercakapkan tema dan sub tema 2) Kegiatan Inti a) Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box kepada anak. b) Guru menerangkan tentang permainan Geometri Box c) Guru dan anak membaca doa sebelum memulai kegiatan d) Anak menyebutkan warna dan bentuk kepingan geometri dan angka 1-10 yang ada pada alat permainan e) Anak mengambil 3 kepingan geometri yang berbeda sesuai yang disebutkan guru dan menyebut perbedaannya f) Anak mencari dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya, kemudian menghitung kepingan geometri tersebut. g) kemudian anak disuruh menghitung kepingan geometri lalu memasukkan kedalam lobang Geometri Box sesuai bentuknya.

82

h) Anak menyusun kepingan geometri dari besar-kecil atau sebaliknya i) Anak menyusun puzel kepingan geometri. j) Mencari gambar bagian tanaman yang berbentuk lingkaran. k) setelah anak melakukan semua kegiatan permainan Geometri Box secara bergantian, kemudian anak-anak disuruh lomba perindividu secara bergantian dalam melakukan permainan Geometri Box. l) Guru memotivasi dan mengamati kegiatan anak selama pembelajaran berlangsung dan kolaborator mencatat hasil pengamatan. m) Guru dan anak membaca doa sesudah kegiatan. 3) Kegiatan Istirahat ( bermain bebas dan makan bersama ) 4) Kegiatan Akhir a) Guru melakukan Tanya jawab dengan anak untuk mengevaluasi permainan yang telah dilakukan b) Persiapan pulang Di akhir siklus II dilakukan wawancara kepada anak. c. Pengamatan Pengamatan yang peneliti lakukan dalam kegiatan

pembelajaran pada siklus II mendapatkan hal-hal sebagai berikut : 1) Anak merasa senang mengikuti kegiatan pembelajaran tentang permainan Geometri Box.

83

2) Anak semakin mampu mengenal dan mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya 3) Anak mampu menyebutkan bentuk- bentuk geometri yang ada pada Geometri Box. 4) Anak mampu menghitung kepingan geometri 1-20. 5) Anak mampu menyusun kepingan geometri dari kecil-besar atau sebaliknya dan meletakkan angka sesuai urutannya 6) Anak mampu menyusun puzel geometri menjadi bentuk utuh. Dalam pengamatan tersebut, terlihat bahwa hasil dari setiap aspek mengalami peningkatan. Hasil pengamatan peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box pada Siklus II pertemuan I dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini : Tabel 10. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan I NILAI Sangat Tinggi Rendah Aspek yang Dinilai Tinggi F % F % F % 8 57,15 6 42,85 0

No

2 3

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri pada geometri box Anak mampu mengenal warna pada geometri box Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri box yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari

10 7

71,43 50

4 5

28,57 35,72

0 14,28

50

35,72

14,28

84

5 6

yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya pada geometri box Anak mampu mengenal angka 1-10 melalui geometri box Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 melalui geometri box Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh pada geometri box Nilai Rata-rata

8 10

57,15 71,43

5 4

35,71 28,57

1 -

7,14 0

57,15

28,57

14,28

57,14

35,72

7,14

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box pada siklus II pertemuan I, Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk kepingan bentuk geometri anak yang sangat tinggi berjumlah 8 orang dengan persentase 57,15%, anak yang tinggi berjumlah 6 orang dengan persentase 42,85%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna anak yang sangat tinggi berjumlah 10 orang dengan persentase 71,43%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan kepingan bentuk geometri berdasarkan warna dan bentuk, anak yang sangat tinggi berjumlah 7 orang dengan persentase 50%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%, anak yang rendah berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%. Pada aspek 4 kemampuan anak dalam menyusun kepingan geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, anak yang sangat tinggi

85

berjumlah 7 orang dengan 50%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%, dan anak yang rendah berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%. Pada aspek 5 kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 8 orang dengan 57,15%, anak yang tinggi berjumlah 5 orang dengan persentase 35,71%, dan anak yang rendah berjumlah 1 orang dengan persentase 7,14%. Pada aspek 6 kemampuan anak dalam mengenal menghitung kepingan geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 10 orang dengan 71,43%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, dan anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 7 kemampuan anak dalam menyusun puzel geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 8 orang dengan 57,15%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, dan anak yang

rendah berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%.

86

Grafik 7. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan I
80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 Sangat Tinggi Tinggi Rendah

Berdasarkan uraian di atas tergambarlah perkembangan anak dalam mengenal bentuk geometri pada anak di siklus II pertemuan I sudah ada peningkatan tetapi belum maksimal yang dapat dilihat melalui ke 7 aspek tersebut. Oleh karena itu perlu dioptimalkan lagi peningkatan kecerdasan logika matematika anak dalam ke 7 aspek tersebut pada pertemuan berikutnya. Hasil observasi peningkatan kecerdasan logika matematika anak pada Siklus II pertemuan II dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini

87

Tabel 11. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan II NILAI Tinggi F 5 % 35,72 -

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F % 9 64,28

Rendah F % 0

2 3

5 6

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri pada geometri box Anak mampu mengenal warna pada geometri box Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri box yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya pada geometri box Anak mampu mengenal angka 1-10 melalui geometri box Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 melalui geometri box Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh pada geometri box Nilai Rata-rata

12 9

85,72 64,28

2 4

14,28 28,58

0 7,14

10

71,43

21,43

7,14

10 10

71,43 71,43

4 4

28,57 28,57

0 0

10

71,43

28,57

64,28

28,58

7,14

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi peningkatan kecerdasan logika matematika anak pada siklus II pertemuan II, Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri anak, yang sangat tinggi berjumlah 9 orang dengan persentase 64,28%, anak yang tinggi

88

berjumlah 5 orang dengan persentase 35,72%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, anak yang sangat tinggi berjumlah 12 orang dengan persentase 85,72%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan kepingan geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 9 orang dengan persentase 64,28%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,58%, anak yang rendah berjumlah 1 orang dengan persentase 7,14%. Pada aspek 4 kemampuan anak dalammenyusun kepingan geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, anak yang sangat tinggi berjumlah 10 orang dengan 71,43%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, dan anak yang rendah berjumlah 1 orang dengan persentase 7,14%. Pada aspek 5 kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 10 orang dengan 71,43%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, dan anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 6 kemampuan anak dalam menghitung kepingan geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 10 orang dengan 71,43%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase 28,57%, dan anak yang rendah tidak ada lagi.

89

Pada aspek 7 kemampuan anak dalam menyusun puzel geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 10 orang dengan 71,43%, anak yang tinggi berjumlah 4 orang dengan persentase rendah tidak ada lagi. Grafik 8. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan II
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 Sangat Tinggi Tinggi Rendah

28,57%, dan anak yang

Uraian di atas menunjukkan bahwa perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika di siklus II pertemuan II sudah ada peningkatan tetapi belum maksimal baru mencapai 71,43%, yang dapat dilihat melalui ke 7 aspek tersebut. Oleh karena itu perlu dioptimalkan lagi peningkatan kecerdasan logika matematika anak dalam ke 7 aspek tersebut pada pertemuan berikutnya.

90

Hasil observasi dan hasil wawancara peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan geometri box pada Siklus II pertemuan III dapat dilihat pada tabel dan grafik dibawah ini. Tabel 12. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan III NILAI Tinggi F 3 % 21,43

No

Aspek yang Dinilai

Sangat Tinggi F % 11 78,57

Rendah F % 0

2 3

5 6

Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri pada geometri box Anak mampu mengenal warna pada geometri box Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri box yang sama bentuk, ukuran dan warnanya Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya pada geometri box Anak mampu mengenal angka 1-10 melalui geometri box Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 melalui geometri box Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh pada geometri box. Nilai Rata-rata

12 11

85,72 78,57

2 3

14,28 21,43

0 0

11

78,57

21,43

12 11

85,72 78,57

2 3

14,28 21,43

0 0

11

78,57

21,43

11

78,57

21,43

Berdasarkan tabel di atas, hasil observasi kecerdasan logika matematika anak pada siklus II pertemuan III, Pada aspek 1 kemampuan anak dalam mengenal bentuk geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah

91

11 orang dengan persentase 78,57%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, anak yang sangat tinggi berjumlah 12 orang dengan persentase 85,72%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan kepingan bentuk geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 11 orang dengan persentase 78,57%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 4 kemampuan anak dalam menyusun geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, anak yang sangat tinggi berjumlah 11 orang dengan 78,57%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, dan anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 5 kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, anak yang sangat tinggi berjumlah 12 orang dengan 85,72%, anak yang tinggi berjumlah 2 orang dengan persentase 14,28%, dan anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 6 kemampuan anak dalam menghitung kepingan geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 11 orang dengan 78,57%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, dan anak yang rendah tidak ada lagi. Pada aspek 7 kemampuan anak dalam menyusun puzel geometri, anak yang sangat tinggi berjumlah 11 orang

92

dengan 78,57%, anak yang tinggi berjumlah 3 orang dengan persentase 21,43%, dan anak yang rendah tidak ada lagi. Grafik 9. Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan III

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 aspek yang dinilai 5 6 7 Sangat Tinggi Tinggi Rendah

Uraian di atas menggambarkan perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika di siklus II pertemuan III terjadi peningkatan yang signifikan dan sudah mencapai target yaitu 79%. Hasil wawancara di akhir siklus II dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini: Tabel 13. Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II (Setelah Tindakan) Pertemuan III No 1 % Jml Anak Apakah kamu mampu 12 anak Sudah tahu dengan 85,71% mengenal bentuk menjawab mampu bentuk geometri Pertanyaan Jawaban Alasan

93

kepingan geometri? 2

2 anak menjawab dengan ragu

Ragu dengan bentuk 14,28% geometri

Apakah kamu mampu 12 anak Sudah tahu dengan 85,71% mengenal warna? menjawab mampu bentuk geometri 2 anak menjawab belum Ragu dengan bentuk 14,28% geometri Sudah tahu dengan 78,57% bentuk geometri malu menjawab Sudah tahu dengan beberapa bentuk geometri 21,43% 78,57%

Apakah kamu mampu 11 anak mengelompokkan menjawab mampu geometri berdasarkan warna dan bentuknya? 3 anak menjawab tidak Apakah kamu mampu 11 anak menyusun kepingan menjawab mampu geometri dari kecilbesar atau sebaliknya? 3 anak menjawab belum mampu

Ragu dengan bentuk 21,43% geometri

Apakah kamu mampu 12 anak Sudah tahu angka 1- 85,71 mengenal angka 1-10? menjawab mampu 10 2 anak menjawab tidak mampu Ragu bentuk angka 14,28

Apakah kamu mampu 12 anak Sudah bisa menghitung kepingan menjawab mampu geometri? 2 anak menjawab tidak mampu Takut salah

85,71

14,28

Apakah kamu mampu 12 anak Sudah tahu caranya menyusun puzel menjawab mampu geometri? 2 anak menjawab Ragu-ragu tidak mampu Mampu 83,67% Tidak mampu 16,32%

85,71

14,28

Nilai rata-rata

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat perkembangan anak dalam mengenal bentuk geometri di akhir siklus I. Pada pertanyaan 1 dalam menyebut bentuk kepingan geometri 12 anak menjawab mampu dengan

94

persentase 85,71%, tidak mampu 2 anak dengan persentase 14,28%. Pertanyaan 2 dalam menyebut perbedaan 2 bentuk kepingan geometri menjawab mampu 12 anak dengan persentase 85,71%, tidak mampu 2 anak dengan persentase 14,28%. Pada pertanyaan 3 menyebut ciri-ciri kepingan geometri menjawab mampu 11 anak dengan persentase 78,57%, tidak mampu 3 anak dengan persentase 21,43%. Pada pertanyaan 4 mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya menjawab mampu 11 anak dengan persentase 78,57%, tidak mampu 3 anak dengan persentase 21,43%. Pada pertanyaan 5 mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya menjawab mampu 12 anak dengan persentase 85,71%, tidak mampu 2 anak dengan persentase 14,28%. Pada pertanyaan 6 mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya menjawab mampu 12 anak dengan persentase 85,71%, tidak mampu 2 anak dengan persentase 14,28%. Pada pertanyaan 7 mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya menjawab mampu 12 anak dengan persentase 81,71%, tidak mampu 2 anak dengan persentase 14,28%.

95

Grafik 10. Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II (Setelah Tindakan) Pertemuan III
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 pertanyaan5 6 7 Mampu tidak mampu

Uraian di atas menggambarkan perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika di siklus II pertemuan III terjadi peningkatan yang maksimal dan sudah mencapai target KKM yang dapat dilihat melalui ke 7 aspek tersebut dan hasil wawancara. d. Refleksi Keberhasilan yang telah dicapai selama siklus terlihat sebagai berikut : 1) Kecerdasan anak dalam logika matematika meningkat, dilihat dari: a) Kemampuan anak dalam mengenal bentuk-bentuk kepingan geometri yang ada pada Geometri Box, siklus II pertemuan I 57,15%, pertemuan II menjadi 64,28% dan meningkat menjadi 78,57% di pertemuan III.

96

b) Kemampuan anak dalam mengenal warna pada siklus II pertemuan I 71,44% , pertemuan II dan pertemuan III meningkat menjadi 85,71%. c) Kemampuan anak dalam mengelompokkan kepingan geometri berdasarkan warna dan bentuknya, pada kondisi awal 21,43%, pada siklus II pertemuan I 50%, pertemuan II menjadi 64,28 dan pertemuan III meningkat menjadi 78,57%. d) Kemampuan anak dalam menyusun ukuran geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, pada siklus II pertemuan I 50% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 78,57% e) Kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, pada siklus II pertemuan I 57,15% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 85,71% f) Kemampuan anak dalam menghitung kepingan geometri, pada siklus II pertemuan I 71,44% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 78,57% g) Kemampuan anak dalam menyusun puzel geometri, pada siklus II pertemuan I 57,15% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 78,57%. 2. Dari hasil wawancara masih ditemui anak yang belum optimal dalam kecerdasan logika matematikanya.

97

3.

Adanya upaya perbaikan yang dilakukan peneliti sehingga pembelajaran pada siklus II menjadi lebih baik

4.

Alat peraga yang digunakan dalam pembelajaran sangat membantu guru dalam meningkatkan kecerdasan logika matematika anak. Paparan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran yang dilakukan pada siklus II mengalami peningkatan proses dan hasil belajar yang sangat memuaskan. Dari pencapaian siklus I dan siklus II, peneliti yakin bahwa Permainan Geometri Box dapat meningkatkan kecerdasan logika matematika anak TK Tunas Karya Padangpanjang. Rekapitulasi hasil observasi Siklus II pertemuan I, II dan III dapat

dilihat pada tabel dan grafik berikut : Tabel 14. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II Pertemuan I, II dan III ( Setelah Tindakan)
Pertemuan 1 Jumlah anak 14 Aspek yang Dinilai ST 8 57,15 10 71,44 7 50 T 6 42.85 4 28,57 5 35,72 R 0 0 2 14,28 Pertemuan 2 Jumlah anak 14 ST 9 64,28 12 85,71 9 64,28 T 5 35,72 2 14,28 4 28,57 R 0 0 1 7,14 Pertemuan 3 Jumlah anak 14 ST 11 78,57 12 85,71 11 78,57 T 3 21,43 2 14,28 3 21,43 R 0 0 0

N O 1

Anak mampu mengenal bentuk geometri Anak mampu mengenal warna

Jml anak % Jml anak % Jml anak %

Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya Anak mampu menyusun

Jml anak

10

11

98

geometri darikecil-besar atau sebaliknya 5

50

35,72

14,28

71,44

21,43

7,14

78,57

21,43

Anak mampu mengenal angka 1-10

Jlh anak

10

12

57,15

35,72

7,14

71,44

28,57

85,71

14,28

Anak mampu menghitung kepimgan geometri

Jlh anak

10

10

0 -

11

% Jlh anak % Jlh anak %

71,44 8

28,57 4

71,44 10

28,57 4 0 -

78,57 11

21,43 3

Anak mampu menyusun puzel geometri nilai rata-rata

57,15 8 57,15

28,57 5 35,72

14,28 1 7,14

71,44 10 71,44

28,57 3 21,43 1 7,14

78,57 11 78,57

21,43 3 21,43

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika mengalami peningkatan yang signifikan pada siklus II. Pada aspek 1 kemampuan anak mengenal bentuk geometri, siklus II pertemuan I 57,15%, pertemuan II menjadi 64,28% dan meningkat menjadi 78,57% di pertemuan III. Pada aspek 2 kemampuan anak dalam mengenal warna, pada siklus II pertemuan I 71,44% , pertemuan II dan pertemuan III meningkat menjadi 85,71%. Pada aspek 3 kemampuan anak dalam mengelompokkan kepingan geometri berdasarkan warna dan bentuknya, pada siklus II pertemuan I 50%, pertemuan II menjadi 64,28 dan pertemuan III meningkat menjadi 78,57%.

99

Pada aspek 4 kemampuan anak dalam menyusun geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, pada siklus II pertemuan I 50% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 78,57%. Pada aspek 5 kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10, pada siklus II pertemuan I 57,15% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 85,71%. Pada aspek 6 kemampuan anak dalam menghitung kepingan geometri, pada siklus II pertemuan I 71,44% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 78,57%. Pada aspek 7 kemampuan anak dalam menyusun puzel menjadi bentuk utuh, pada siklus II pertemuan I 57,15% , pertemuan II naik menjadi 71,44% dan pertemuan III naik menjadi 78,57%. Grafik 11. Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus II ( Setelah Tindakan) Pertemuan I, II dan III

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Aspek yang dinilai 5 6 7 Pertemuan I Pertemuan II Pertemuan III

100

Hasil rekapitulasi pada siklus II menunjukkan perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika mengalami peningkatan yang signifikan dan sudah mencapai target KKM yaitu 75%. Rekapitulasi dari hasil wawancara di akhir siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut: Tabel 15. Rekapitulasi Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus I dan II (Setelah Tindakan)
Siklus I No Pertanyaan Mampu Jlh anak 1 Apakah kamu mengenal bentuk kepingan geometri? Apakah kamu mampu mengenal warna? Apakah kamu mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk dan warnanya? Apakah kamu mampu menyusun geometri Dari kecil-besar atau sebaliknya? Apakah kamu mampu mngenal angka 1-10? Apakah kamu mampu menghitung kepingan 7 % 50 Tidak mampu Jlh anak 7 % 50 Siklus II Mampu Jlh anak 12 % 85,71 Tidak mampu Jlh % anak 2 14,28

10

71,44

28,57

12

85,71

14,28

10

71,44

28,57

11

78,57

21,43

64,28

35,72

11

78,57

21,43

10

71,44

28,57

11

78,57

21,43

11

78,57

21,43

12

85,71

14,28

10

71,44

28,57

11

78,57

21,43

101

geometri? Apakah kamu mampu menyusun puzel geometri? Nilai rata-rata

64,28

35,72

11

78,57

21,43

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat perkembangan anak dalam kecerdasan logika matematika di siklus I dan siklus II. Pada pertanyaan 1 dalam mengenal bentuk kepingan geometri di siklus I anak menjawab mampu 50% sedangkan di siklus II naik menjadi 85,71%.Pertanyaan 2 dalam mengenal warna di siklus I menjawab mampu 71,44%, di siklus II naik menjadi 85,71%. Pada pertanyaan 3 mengelompokkan kepingan geometri di siklus I menjawab mampu 71,44%, di siklus II naik menjadi 78,57%. Pada pertanyaan 4 menyusun ukuran geometri menjawab mampu 64,28%, di siklus II naik menjadi 78,57%. Pada pertanyaan 5 mengenal angka 1-10, menjawab mampu 71,44%, di siklus II naik menjadi 78,57%. Pada pertanyaan 6 menghitung kepingan geometri menjawab mampu 78,57%, di siklus II naik menjadi 85,71%. Pada pertanyaan 7 menyusun puzel geometri menjawab mampu 71,44%, di siklus II naik menjadi 78,57%.

102

Grafik 12. Rekapitulasi Hasil Wawancara Peningkatan Kecerdasan Logika Matematika Anak melalui Permainan Geometri Box Pada Pada Siklus I dan II (Setelah Tindakan)

90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 Pertanyaan 5 6 7 Siklus I Siklus II

Hasil analisis di atas, dapat dilihat peningkatan sudah sesuai dengan target KKM yaitu 75%, sehingga penelitian ini dihentikan sampai siklus II. B. Pembahasan Berdasarkan uraian diatas, ternyata setelah diadakan siklus I dan siklus II, menunjukkan bahwa permainan Geometri Box dapat meningkatkan kecerdasan logika matematika anak, dilihat dari tabel rata-rata pencapaian kemampuan anak secara keseluruhan sudah mencapai KKM yaitu kategori sangat tinggi lebih dari 75 %. Rata-rata persentase perkembangan kecerdasan logika matematika anak pada ke 7 aspek terlihat sangat tinggi, mengalami peningkatan yang signifikan dimana yang pada awalnya anak tidak mengenal bentuk geometri, tidak bisa dalam mengelompokkan bentuk geometri berdasarkan ukuran, warna dan

103

bentuknya dan tidak bisa menyusun ukuran geometri dari kecil-besar atau sebaliknya, setelah dilakukan tindakan pada akhir siklus II semua anak sudah mampu mengenal bentuk-bentuk geometri dan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan bentuk-bentuk geometri. Keberhasilan penelitian ini sesuai dengan teori Clements, Wilson & Sarama ( dalam Seefeldt, 2008: 398 ) yang mengatakan bahwa membangun konsep geometri pada anak-anak dimulai dengan mengidentifikasi bentukbentuk dan menyelidiki bangunan dan memisahkan gambar-gambar biasa seperti segiempat, lingkaran dan segitiga. Berk ( dalam Musfiroh, 2008:68 ) menunjukkan bahwa anak usia 4-6 tahun yang terbiasa dengan tugas berfikir logis seperti memilah-milah, mengklasifikasi, dan menata dalam urutan lebih berhasil dalam tugas tersebut dari pada yang tidak pernah. Pada kemampuan anak dalam mengenal warna, awalnya masih rendah, setelah dilakukan tindakan pada akhir siklus II semua anak sudah mampu mengenal bermacam-macam warna. Menurut Bredekamp dan coople ( dalam Msfiroh, 2008:81 ) dalam hal klasifikasi dan penyerian ( menata benda secara urut dan berseri ), anak usia 56 tahun mampu melakukan dengan menggunakan inklusi kelas, yakni kapasitas objek untuk menjadi anggota lebih dari satu kelompok sekaligus. Anak dapat memilah balok berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran. Pada kemampuan anak dalam mengenal angka 1-10 dan mengenal konsep bilangan 1-10 dikondisi awal masih sangat rendah. Anak belum mampu

104

mengenal angka 1-10 dan belum bisa membilang dengan benda 1-10, setelah dilakukan tindakan pada akhir siklus II semua anak sudah mampu. Keberhasilan ini sesuai dengan pendapat Sophian ( dalam Seefeldt, 2008:393 ) bahwa anak-anak usia lima tahun mengembangkan pengertian lebih baik tentang bilangan dan nama bilangan. Menurut Caufield ( dalam Seefeldt, 2008:393 ) mempelajari nama yang sesuai dengan bilangan juga merupakan bagian dari belajar tata cara berhitung. Pada kemampuan anak dalam menyusun puzel kepingan geometri, awalnya masih banyak anak yang belum bisa, ternyata setelah dilakukan tindakan pada akhir siklus II semua anak sudah mampu. Keberhasilan ini sesuai dengan standar-standar NCTM ( dalam Seefeldt, 2008:403 ) pemecahan masalah adalah cirri khas kegiatan matematika dan sebuah alat penting untuk mengembangkan pengetahuan matematika. Dengan demikian melalui permainan Geometri Box anak dapat berfikir logis, membangun tentang konsep geometri, konsep bilangan dan mengetahui dasar-dasar pembelajaran berhitung dalam suasana yang menarik, aman dan menyenangkan sehingga diharapkan nantinya anak akan memiliki kesiapan dalam mengikuti pembelajaran matematika yang sesungguhnya di sekolah dasar. Dapat dijelaskan bahwa penelitian ini mengoptimalkan kemampuan matematika anak sebagai langkah awal dalam peningkatan kecerdasan logika matematika pada anak usia dini.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kemampuan anak dalam logika matematika perlu dikembangkan dalam rangka mengembangkan salah satu kecerdasan anak. 2. Usia TK adalah usia bermain sehingga pembelajaran yang dilakukan di TK dengan cara bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain menjadi mutlak dilakukan pada anak usia dini 3. Alat permainan Geometri Box yang digunakan dengan metode bermain dalam pembelajaran tentang logika matematika menjadi efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan logika matematika anak 4. Dengan menggunakan Geometri Box dapat memberikan pengaruh yang cukup nyata untuk optimalisasi peningkatan kecerdasan logika matematika anak terlihat adanya peningkatan persentase dari kondisi awal ke siklus I sampai siklus II 5. Melalui permainan Geometri Box anak dapat mengenal bentuk-bentuk geometri, mengenal angka 1-10, mengenal bermacam warna, mengenal konsep bilangan 1-10, bisa mengelompokkan bentuk bentuk geometri, bisa menyusun ukuran geometri dari besar-kecil atau sebaliknya dan mampu menyusun puzel geometri.

105

106

6. Strategi guru yang membuat kepingan masing- masing bentuk geometri dengan warna yang bervariasi dan melakukan perlombaan dalam permainan memperlihatkan peningkatan yang baik pada siklus II dalam optimalisasi peningkatan kecerdasan logika matematika anak melalui permainan Geometri Box di TK Tunas Karya Padangpanjang B. Implikasi Berdasarkan simpulan di atas, implikasi penelitian ini adalah: 1. Geometri Box menjadi alat peraga yang efektif dalam pembelajaran dalam meningkatkan kecerdasan logika matematika pada anak usia dini 2. Geometri Box dapat menambah pengetahuan anak tentang bentuk geometri, pengenalan warna, pengenalan angka dan konsep bilangan 1-10 serta untuk mengenal ukuran benda, sehingga kecerdasan logika matematika anak meningkat. 3. Geometri Box dengan metode bermain menjadi srategi guru yang tepat dalam pembelajaran tentang logika matematika anak usia dini. C. Saran Berdasarkan simpulan dan implikasi di atas, diajukan saran sebagai berikut : 1. Dalam menggunakan metode pembelajaran, guru hendaknya

menggunakan dan memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan anak usia dini 2. Guru hendaknya lebih kreatif dalam merancang pembelajaran yang disajikan melalui kegiatan bermain

107

3. Guru hendaknya lebih memperhatikan suasana Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan ( PAKEM ) bagi anak usia dini 4. Pihak sekolah hendaknya menyediakan alat-alat bermain yang efektif dalam mengembangkan kecerdasan anak usia dini 5. Diharapkan orang tua agar selalu memberikan motivasi kepada anak terutama dalam mengembangkan kecerdasan Logika Matematika anak usia dini 6. Disarankan kepada peneliti-peneliti pada masa yang akan datang untuk dapat mengeksplorasi lebih dalam tentang kecerdasan logika matematika kepada anak TK.

108

DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas Jakarta: Bumi Aksara. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta Campbell, Linda dkk. 2006.Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. Depok: Intuisi Press Depdiknas, 2000. Permainan berhitung di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Depdiknas Depdiknas, 2003. Undang-Undang no 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas. Depdiknas, 2005. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Taman Kanak-Kanak dan Raudlatul Athfal, Jakarta: Dirjen Manajemen Dikdasmen. Eliyawati, Cucu 2005. Pemilihan dan pengembangan sumber belajar untuk anak usia dini. Jakarta: Depdiknas Kartono, Kartini 2007. Psikologi Anak ( Psikologi Perkembangan ). Bandung: CV Mandar Maju Maerzyda, Andi 2003. Multiple Intelligences Mengenal dan Merangsang Potensi Kecerdasan Anak. Jakarta: PT Aspirasi Pemuda Seri Ayah Bunda Montolalu, B.E.F dkk, 2005. Bermain dan Permainan Anak Usia dini. Jakarta: Universitas Terbuka Masitoh, dkk. 2005. Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Depdiknas May Lwin, 2008. Cara mengembangkan berbagai komponen kecerdasan. Jakarta: PT indeks Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Cerdas melalui bermain. Jakarta: PT. Gramedia Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Pengembangan Kecerdasan Majemuk. Jakarta: Universitas Terbuka. Mutiah, Diana 2010. Psikologi Bermain anak usia dini. Jakarta: Prenada Media Putri, Sri Silmarheni. 2011. Meningkatkan Kreatifitas Anak melalui Permainan Tabung Angka transparan di TK Darul Falah Padang Skripsi tidak diterbitkan. FIP. UNP

109

Rusdinal dan Elizar. 2008. Pengelolaan Kelas di Taman Kanak-kanak. Padang: Sukabina Offset Sudono, Anggani MA. 1995. Alat Permainan dan Sumber Belajar TK. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan kebudayaan Sujiono, Yuliani Nurani dan Bambang Sujiono, 2005. Pembelajaran Anak Usia Dini, Jakarta: Yayasan Citra Pendidikan Indonesia Sujiono, Yuliani Nurani 2008. Metode Pengembangan Kognitif. Jakarta: Universitas terbuka Sujiono, Yuliani Nurani. 2008. Konsep Dasar pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: PT Indeks Seefeldt, Carol 2008. Pendidikan anak usia dini. Jakarta: PT Indeks Sudijono, Anas. 2009. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Silvi Marlina, 2010 Peningkatan kemampuan logika matemaitka anak melalui permainan gambar beruang angka di PAUD Islam Exelent Bukittinggi Skripsi tidak diterbitkan. FIP. UNP Tyas, Anik 2010. Hore aku bisa matematika Bermain juga sambil belajar matematika. Jogjakarta: Hanggar Kreator Zaman, Badru dkk, 2005. Media dan sumber belajar TK. Jakarta: Universitas Terbuka Yusni, Deli. 2010. Meningkatkan Kemampuan Matematika Anak melalui Permainan Warna dan Angka melalui Tabung dan Pinang Berwarna di TK negeri Pembina Payakumbuh Skripsi tidak diterbitkan. FIP. UNP

110

LAMPIRAN I

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA KONDISI AWAL KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator - Berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan dengan lebih tertib ( P.1.1.1 ) - Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinan masing-masing ( P.1.2.1 ) - Berjalan mundur, berjalan kesamping pada garis lurus sejauh 2-3 meter sambil membawa beban ( F/M 1.3.2 )

: I / 14 : Binatang / bahaya binatang : Jumat / 2 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita - Praktek Shalat Sumber Belajar Anak lansung anak Buku panduan shalat Anak lansung, binatang tiruan Alat Observasi Unjuk kerja Observasi Penilaian Perk. Anak

- Berjalan lurus sambil membawa boneka binatang II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit)

Unjuk kerja

- Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara ( K.1.1.1 ) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan bendabenda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh ( K.1.5.1 )

Sentra Persiapan - Menyusun gambar binatang dari kecil-besar - Mengelompokkan binatang sesuai warna - Menghitung gambar binatang 110 - Menyusun pusel binatang

Penugasan

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Diskusi - Menyanyi - Persiapan pulang

observasi

- Berbicara dengan suara ramah dan teratur

Kegiatan

Percakapan

Padangpanjang, 1 Desember 2011 Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

111

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA SIKLUS I PERTEMUAN I KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator - Berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan dengan lebih tertib ( P.1.1.1 ) - Mencari, menunjuk sebanyakbanyaknya benda, hewan, tanaman yang mempunyai warna, ukuran atau menurut ciri-ciri tertentu ( K.1.1.2 ) - Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara ( K.1.1.1 ) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Mengelompokkan benda 3 dimensi yang berbentuk geometri ( K.1.4.2 ) - Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh ( K.1.5.1 )

: I / 15 : Tanaman / cara memelihara tanaman : kamis / 8 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita - Bercakap-cakap tentang cara memelihara tanaman ciptaan Allah Sumber Belajar Anak lansung Anak gambar Alat Penilaian Perk. Anak

Observasi

Observasi percakapan

II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit) Sentra Persiapan - Permainan Geometri Box Geometri Box Penugasan

- Mengelompokkan warna buahbuahan yang berbentuk lingkaran

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Sajak 4 sehat 5 sempurna - Diskusi - Persiapan pulang

observasi

- Mengucapkan sajak sederhana ( S.1.6.1 )

gambar Kegiatan

unjuk kerja Percakapan

Padangpanjang, 6 Desember 2011 Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

112

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA SIKLUS I PERTEMUAN II KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator

: I / 16 : tanaman / fungsi tanaman : senin / 12 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita Sumber Belajar Anak lansung Penilaian Perk. Alat Anak Observasi unjuk kerja percakapan

- Mencari, menunjuk sebanyakbanyaknya benda, hewan, tanaman yang mempunyai warna, ukuran atau menurut ciri-ciri tertentu ( K.1.1.2 ) - Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara (K.1.1.1) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Mengelompokkan benda 3 dimensi yang berbentuk geometri ( K.1.4.2 )

- Bercakap-cakap tentang guna buah-buahan

II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit) Sentra Persiapan - Permainan Geometri Box - Mengelompokkan buah-buahan yang berbentuk lingkaran Geometri box Penugasan

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Menyanyi buah tomat - Diskusi - Persiapan pulang

observasi

- Menyanyi lebih dari 20 lagu anak ( S.1.5.1 )

tomat Kegiatan

unjuk kerja Percakapan

Padangpanjang, 10 Desember 2011


Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

113

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA SIKLUS I PERTEMUAN III KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator

: I / 16 : Tanaman / tanaman untuk kesehatan : Rabu / 14 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita - Bercakap-cakap tentang tanaman untuk kesehatan mata II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit) Sentra Persiapan - Permainan Geometri Box - Membentuk bunga dari kepingan geometri Geometri box Penugasan Sumber Belajar Anak lansung anak gambar Alat Penilaian Perk. Anak

Observasi

- Membedakan ciptaan-ciptaan Tuhan (P.1.2.1) - Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara ( K.1.1.1 ) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Mengelompokkan benda 3 dimensi yang berbentuk geometri ( K.1.4.2 ) - Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh ( K.1.5.1 )

Unjuk kerja percakapan

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Diskusi - Menyanyi - Persiapan pulang

observasi

Kegiatan

Percakapan

Padangpanjang, 12 Desember 2011 Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

114

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA SIKLUS II PERTEMUAN I KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator

: I / 16 : tanaman / cara perk. dengan batang : Jumat / 16 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita Sumber Belajar Anak lansung Anak gambar Penilaian Perk. Alat Anak Observasi

Unjuk kerja percakapan

- Berani bertanya secara sederhana ( P.1.10.1 ) - Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara ( K.1.1.1 ) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Mengelompokkan benda 3 dimensi yang berbentuk geometri ( K.1.4.2 ) - Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh ( K.1.5.1 )

- Tanya jawab tentang ubi kayu II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit) Sentra Persiapan - Permainan Geometri Box - Menghitung tanaman yang berbentuk lingkaran

Penugasan

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Diskusi - Menyanyi - Persiapan pulang

observasi

Kegiatan

Percakapan

Padangpanjang, 14 Desember 2011 Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

115

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA SIKLUS II PERTEMUAN II KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator

: I / 17 : Tanaman / cara perk. dengan anak : senin / 19 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita Sumber Belajar Anak lansung Alat Penilaian Perk. Anak

Observasi

Unjuk kerja percakapan

- Berbicara dengan suara ramah dan teratur

- Bercakap-cakap tentang pisang II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit)

- Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara ( K.1.1.1 ) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Mengelompokkan benda 3 dimensi yang berbentuk geometri ( K.1.4.2 ) - Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh ( K.1.5.1 )

Sentra Persiapan - Permainan Geometri Box - Menyusun buah-buahan dari kecil-besar

Penugasan

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Diskusi - Menyanyi - Persiapan pulang

observasi

Kegiatan

Percakapan

Padangpanjang, 17 Desember 2011 Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

116

SATUAN KEGIATAN HARIAN PADA SIKLUS II PERTEMUAN III KELOMPOK B Semester/Minggu Tema/Sub Tema Hari/Tanggal
Indikator - Berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan dengan lebih tertib ( P.1.1.1 )

: I / 17 : Tanaman / Bagian tanaman : Rabu / 21 Desember 2011


Kegiatan Pembelajaran I. Kegiatan Awal (+ 30 Menit) - Berbaris, salam, ikrar, nyanyi dan doa - Berbagi cerita Sumber Belajar Anak lansung Anak gambar Alat Penilaian Perk. Anak

Observasi

Unjuk kerja Unjuk kerja

- Menyanyi lebih dari 20 lagu anak ( S.1.5.1 )

- Menyanyi kebunku

II. Kegiatan Inti (+ 60 Menit) - Menyusun dari besar ke kecil atau sebaliknya ( K.1.1.8 ) - Mengelompokkan benda dengan berbagai cara ( K.1.1.1 ) - Menyebut urutan 1-10 ( K.1.3.1 ) - Mengenal konsep bilangan dengan benda-benda sampai 10 ( K.1.3.2 ) - Mengelompokkan benda 3 dimensi yang berbentuk geometri ( K.1.4.2 ) - Menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh ( K.1.5.1 ) Sentra Persiapan - Permainan Geometri Box - Mencari gambar bagian tanaman yang berbentuk lingkaran Penugasan

III. Istirahat ( + 30 Menit ) - Bermain, cuci tangan, berdoa dan makan IV. Kegiatan Akhir (+ 30 Menit) - Tepuk cabe - Diskusi - Persiapan pulang

observasi

- Bertepuk tangan dengan 3 pola

Kegiatan

Percakapan

Padangpanjang, 20 Desember 2011 Mengetahui, Kepala TK Guru Kelompok B1

Nurul Misbah

Rohima

117

LAMPIRAN II Lembar Penilaian Kecerdasan Logika matematika Anak dalam Proses Pembelajaran Pada Kondisi Awal (Sebelum Tindakan) Aspek Yang Dinilai No Nama Anak 1 2 3 T R ST T R R R R R R R R R R 4 T R ST T R R R R R R R R R R 5 T R ST T R R R R R R R R R R 6 T R ST T R R R R R R R R R R 7 T R ST T R R R R R R R R R R

1 Aisyah Dwina Putri 2 Hanana 3 Lailatul husna 4 Rizka Baitul Rahman 5 Sherli Ramadani 6 Zahratul kharidah 7 Gilang Ramadhan 8 Fakhri Zaki R 9 Farhan Sulaiman 10 Sahrul Ramadhani 11 Ravi Eka Putra 12 Rahmad Z 13 Revan Hidayatullah 14 Zaki Keterangan :

ST T R R T ST R T R R R R R R T ST R R R R R R R R R R R R

Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan

118

Lembar Penilaian Kecerrdasan Logika Matematika Anak Melalui permainan Geometri Box Pada Siklus I ( Pertemuan I )

Aspek Yang Dinilai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Anak Aisyah Dwina Putri Hanana Lailatul husna Rizka Baitul Rahman Sherli Ramadani Zahratul kharidah Gilang Ramadhan Fakhri Zaki R Farhan Sulaiman Sahrul Ramadhani Ravi Eka Putra Rahmad Z Revan Hidayatullah Zaki 1 ST R ST R T T R ST R R R R R R 2 ST R ST ST T T T ST T T T R R R 3 T T ST T T ST ST R R T R R R R 4 T T ST T T ST ST R R T R R R R 5 T T ST T T ST ST R R T R R R R 6 T T ST T T ST ST R R T R R R R 7 T R ST T R R T ST R R R R R R

Keterangan : Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan

119

Lembar Penilaian Kecerrdasan Logika Matematika Anak Melalui permainan Geometri Box Pada Siklus I ( Pertemuan II )

Aspek Yang Dinilai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Anak Aisyah Dwina Putri Hanana Lailatul husna Rizka Baitul Rahman Sherli Ramadani Zahratul kharidah Gilang Ramadhan Fakhri Zaki R Farhan Sulaiman Sahrul Ramadhani Ravi Eka Putra Rahmad Z Revan Hidayatullah Zaki 1 2 3 ST T ST T T R T ST R ST R R R R 4 ST R ST T T T ST T R T T R R R 5 ST R ST T T T ST T R T T R R R 6 ST R ST T T T ST T R T T R R R 7 ST R ST T T T ST T R T T R R R

ST ST R R ST ST R T T T T T T T ST ST R R T T T T R R R R R R

Keterangan : Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan

120

Lembar Penilaian Kecerrdasan Logika Matematika Anak Melalui permainan Geometri Box Pada Siklus I ( Pertemuan III ) Aspek Yang Dinilai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Anak Aisyah Dwina Putri Hanana Lailatul husna Rizka Baitul Rahman Sherli Ramadani Zahratul kharidah Gilang Ramadhan Fakhri Zaki R Farhan Sulaiman Sahrul Ramadhani Ravi Eka Putra Rahmad Z Revan Hidayatullah Zaki 1 ST T T R R ST ST ST R T R R R R 2 ST R ST T R ST ST ST R ST R R R R 3 ST R ST T T ST ST ST R T T R T R 4 ST R ST T T ST ST T R ST T R T R 5 ST R ST T R ST ST ST R ST R R R R 6 ST R ST T T ST ST ST R T T R T R 7 ST R ST T T ST ST ST R T T R T R

Keterangan : Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan

121

Lembar Penilaian Kecerrdasan Logika Matematika Anak Melalui permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Pertemuan I ) Aspek Yang Dinilai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Anak Aisyah Dwina Putri Hanana Lailatul husna Rizka Baitul Rahman Sherli Ramadani Zahratul kharidah Gilang Ramadhan Fakhri Zaki R Farhan Sulaiman Sahrul Ramadhani Ravi Eka Putra Rahmad Z Revan Hidayatullah Zaki 1 ST T ST T ST ST ST ST T ST T T ST T 2 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST T 3 ST R ST T ST ST ST T R T T T T T 4 ST R ST T ST ST ST T R T T T T T 5 ST R ST T ST ST ST T T ST ST T ST T 6 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST T 7 ST R T T ST ST ST ST R ST ST T ST T

Keterangan : Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan

122

Lembar Penilaian Kecerrdasan Logika Matematika Anak Melalui permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Pertemuan II ) Aspek Yang Dinilai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Anak Aisyah Dwina Putri Hanana Lailatul husna Rizka Baitul Rahman Sherli Ramadani Zahratul kharidah Gilang Ramadhan Fakhri Zaki R Farhan Sulaiman Sahrul Ramadhani Ravi Eka Putra Rahmad Z Revan Hidayatullah Zaki 1 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T T T 2 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST ST ST ST 3 ST R ST ST ST ST ST ST T ST ST T T T 4 ST R ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST T 5 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST T 6 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST T 7 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST T

Keterangan : Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan

123

Lembar Penilaian Kecerrdasan Logika Matematika Anak Melalui permainan Geometri Box Pada Siklus II ( Pertemuan III ) Aspek Yang Dinilai No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Nama Anak Aisyah Dwina Putri Hanana Lailatul husna Rizka Baitul Rahman Sherli Ramadani Zahratul kharidah Gilang Ramadhan Fakhri Zaki R Farhan Sulaiman Sahrul Ramadhani Ravi Eka Putra Rahmad Z Revan Hidayatullah Zaki Keterangan : Aspek Yang Dinilai : 1. Anak mampu mengenal bentuk-bentuk Geometri 2. Anak mampu mengenal warna 3. Anak mampu mengelompokkan kepingan geometri yang sama bentuk, ukuran dan warnanya 4. Anak mampu menyusun ukuran kepingan geometri dari yang kecil sampai yang besar dan sebaliknya 5. Anak mampu mengenal angka 1-10 6. Anak mampu mengenal konsep bilangan 1-10 7. Anak mampu menyusun kepingan puzel menjadi bentuk utuh Kriteria Penilaian : Sangat Tinggi (ST) - Bekerja mandiri - Tidak ada kesalahan Tinggi (T) - Bekerja mandiri - Masih terdapat kesalahan LAMPIRAN III Rendah ( R ) - Bekerja masih perlu bimbingan - Masih banyak terdapat kesalahan 1 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST ST ST T 2 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST ST ST ST 3 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST ST ST T 4 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST ST ST T 5 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST ST ST ST 6 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST ST 7 ST T ST ST ST ST ST ST T ST ST T ST ST

124

Gambar kegiatan guru dan anak pada Siklus I dan II

Guru memperlihatkan alat permainan Geometri Box pada anak

Guru memotivasi anak untuk menyebutkan apa saja yang dilihatnya pada alatpermainan Geometri Box

125

Guru memperlihatkan kepingan geometri untuk dimainkan pada alat permainan Geometri Box

Guru menjelaskan kepada anak cara memainkan Geometri Box

Guru dan anak membaca doa sebelum bermain

126

Anak mencari dan mengelompokkan bentuk-bentuk geometri pada Geometri Box

Guru memberi motivasi kepada anak dalam bermain

127

Anak menyusun geometri dari yang kecil-besar pada geometri box

128

Guru memberi penjelasan kepada anak tentang permaian yang akan dilakukan

Guru menyuruh anak menunjukkan bentuk geometri yang disebutkan

Anak bersemangat untuk melakukan permainan Geometri Box

129

Anak disuruh lomba perkelompok dalam permainan Geometri Box

Anak bekerja sama dalam kelompoknya

130

Guru dan anak membaca doa sesudah bermain

95

96

97