Anda di halaman 1dari 4

Reaksi Zat Dalam Keadaan Padat Reaksi Zat padat terjadi pada suhu tinggi, dimana terdapat loncatan

api yang terlihat saat reaksi berlangsung. Reaksi terjadi pada suhu tinggi karena: 1. Partikel ion atau molekul logam tidak bebas bergerak dan sukar melepaskan diri 2. Keadaan zat padat yang sangat rapat sukar ditembus oleh pereaksi sehingga zat sukar keluar dari ikatannya.

Reaksi zat padat dapat dilihat dari aspek: 1. Termodinamika untuk melihat kespontanan reaksi 2. Kinetika Untuk melihat laju reaksi (capat/lambat) pada suhu tertentu

Reaksi zat padat merupakan reaksi antarmuka, artinya zat yang bereaksi hanya bercampur secara fisik, tapi tidak secara kimia. Jika dua zat mengalami reaksi kimia membentuk suatu produk, maka produk akan memiliki sifat yang sama sekali berbeda dari kedua zat pereaksi. Namun, pada reaksi antarmuka, masing-masing zat pereaksi masih memiliki sifatnya semula, tidak ada yang berubah. Hanya saja, fisik kedua zat sudah tercampur.

Tahapan Reaksi Zat Padat: 1. Tahap pemutusan ikatan a. Nukleasi sukar terjasi karena kedudukan ion-ion dalam reaktan berbeda dengan produk yang diinginkan b. Reaksi antarmuka 2. Tahap pertumbuhan a. Terjadi reorganisasi struktur, ada pemutusan, ada juga pembentukan ulang b. Terjadi difusi penggabungan molekul kecil menjadi molekul besar. Setelah tahap ini, akan terbentuklah spinel atau produk hasil penggabungan zat-zat padat (berupa gabungan dua oksida yang membentuk oksida baru).

Tidak seperti reaksi kimia biasa yang dapat diperkirakan berapa banyak suatu produk akan terbentuk, jumlah spinel yang diinginkan untuk terbentuk dari reaksi zat padat belum bisa diukur secara pasti dengan matematik. Misal: MgO(s) + Al2O3(s) MgAl2O4 Tidak seluruh MgO dan Al2O3 akan membentuk MgAl2O4. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi: 1. MgO tersisa kemudian bereaksi lagi dengan MgAl2O4 Reaksinya: MgO(s) + Al2O3(s) MgAl2O4(s) + MgO(s) 2Al3+ + Mg2+ + 4 MgO(s) MgAl2O3(s)

2. Al2O3 tersisa kemudian bereaksi lagi dengan MgAl2O4 MgO(s) + Al2O3(s) MgAl2O4(s) +MgO(s) 2Al3++3Mg2+ + 4Al2O3(s) 4MgAl2O3(s)

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi: 1. Luas permuakaan semakin kecil ukuran zat, semakin besar luas permuakaan reaksi. Sehingga efektivitas reaksi membesar. 2. Cara terbentuknya zat : a. Topotaktik : susunan sama dari luar sampai ke dalam b. Epitaktik : susunan luarnya sama, dalamnya beda 3. Struktur zat perbedaan bidang struktur menimbulkan perbedaan laju. Misal MgO Struktur 111 : MgO Struktur 100 : Mg MgO MgO O O

4. Prekusor (Zat pemicu agar reaksi berlangsung) Prekusor BUKAN katalis. Katalis merupakan zat yang menurunkan energi aktivasi reaksi dan pada akhir reaksi zat ini akan terbentuk kembali. Namun, Prekusor sama sekali tidak ikut dalam reaksi yang berlangsung. Prekusor hanya memancing suatu zat untuk bereaksi.

Analisa Zat Padat: 1. Kualitatif untuk melihat perubahan struktur zat, biasanya menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) 2. Kuantitatif untuk menentukan banyaknya komponen zat yang terkandung, biasanya menggunakan spektrometer atau XRF (X-Ray Fraction)

Defek/Cacat/Imperfeksi Kristal Cacat Pada Kristal Cacat pada kristal adalah ketidaksempurnaan susunan aton pada kristal. Kristal dikatakan sempurna apabila kristal tersusun dari atom yang mengikuti pola tertentu. Cacat ini dapat terjadi pada saat pembekuan ataupun oleh sebab - sebab mekanik. Cacat pada kristal dapat berupa : Cacat titik (point defect) Cacat garis (line defect) Cacat bidang (intertasial defect) Cacat ruang (bulk defect)

Cacat titik (Point defect) Cacat titik dapat berupa kekosongan (vacant) yang terjadi karena tidak terisinya suatu posisi pada latice atau terjadi sisipan (interstitial) yaitu salah tempat posisi yang seharusnya kosong ternyata ditempati atom yang mengakibatkan atom-atom di sekitarnya terdorong saling menjauh. Dan terjadinya subtitusi (subtitusional) yaitu ada atom asing yang menganti tempat yang seharusnya diisi atom tertentu. Pada subtitusional bila atom pengantinya lebih besar maka atom disekitarnya terdorong menjauh, dan bila lebih kecil tertarik saling mendekat.

Cacat garis (line defect) Cacat yang menimbulkan distorsi pada lattice yang berpusat pada suatu garis, sering disebut dislokasi. Pada dasarnya ada 2 macam dislokasi yaitu edge dislocation dan screw dislocation dan dapat juga terjadi dislokasi yang merupkan kombinasi keduannya.

Cacat bidang (interfacial defect) Selalu terdapat pada kristal logam yaitu garis boundary (batas butir). Pada batas butir selalu terdapat distorsi baik karena pengaruh tegangan permukaan maupun akibat dari interaksi dengan atom - atom dari kristal tetangganya. Karena setiap butir kristal mempunyai orientasi yang berbeda satu sama lain akan terjadi ketidakteraturan susunan atom (dibandingan dengan bagian dalam dari kristal).