Anda di halaman 1dari 45

KOMUNIKASI EFEKTIF ORANGTUA DENGAN REMAJA

BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL DIREKTORAT BINA KETAHANAN REMAJA JAKARTA 2012

Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja

Diterbitkan oleh : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Hak Cipta @2012 Direktorat Bina Ketahanan Remaja Cetakan Kedua

Disusun oleh: Indra Wirdhana, SH, MM Drs. M. Edi Muin, M.Si Andi Ismoyo, SH Witri Windrawati, SE Dra. Purini Saptari, M.Pd Drs. Sugiyatna, MM Drs. Djafar Alifah Nuranti, S.Psi, MPH Ade Isyanah, S.Pd, MARS Farida Ekasari, SIP, MKM Masnuryati, SE Syahril Tanjung, SH

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Direktorat Bina Ketahanan Remaja Jl. Permata No. 1 Halim Perdana Kusuma - Jakarta Timur Telp/Fax : (021) 8009029, 8008548 http://ceria@bkkbn.go.id

ii

KATA SAMBUTAN

Berbagai upaya telah dilakukan untuk merespon masalah remaja, antara lain melalui program di sekolah, masyarakat, keluarga dan kelompok sebaya. Dari berbagai upaya tersebut, keluarga terutama pola asuh orangtua, telah diidentifikasi sebagai pengaruh yang sangat penting dalam membentuk sikap dan perilaku remaja. Proses pola asuh orangtua meliputi kedekatan orangtua dengan remaja, pengawasan orangtua dan komunikasi orangtua dengan remaja. Di antara proses pola asuh tersebut, komunikasi orangtua dengan remaja diketahui berpengaruh terhadap pembentukkan karakter, sikap dan perilaku remaja. Melalui komunikasi, orangtua seharusnya menjadi sumber informasi dan pendidik utama tentang kesehatan reproduksi dalam penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja. Namun demikian, orangtua sering menghadapi kesulitan untuk membicarakan masalah tersebut kepada remajanya, begitu pun sebaliknya. Norma dan budaya masyarakat yang sebagian masih menganggap tabu tentang isu kesehatan reproduksi dapat menjadi penghambat terhadap pendidikan seksualitas terhadap remaja. Sekaitan hal tersebut di atas, maka disusunlah buku Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja yang berisikan materi substansi program Generasi Berencana (GenRe) yang dapat digunakan sebagai pegangan bagi Kader BKR, Pengelola BKR, orang tua yang memiliki remaja, pengelola program GenRe, Remaja dan masyarakat peduli remaja. Semoga buku ini dapat bermanfaat dalam membina remaja, melalui pendekatan kegiatan pada kelompok Bina Keluarga

iii

Remaja. Akhirnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini, kami ucapkan terima kasih. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan Taufik dan rahmatnya kepada kita semua. Amin.

Jakarta, Juni 2012 Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga

Dr. Sudibyo Alimoeso, MA

iv

KATA PENGANTAR

Dalam rangka mewujudkan misi Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, yakni mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera, maka salah satu strateginya adalah meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pembinaan keluarga (BKB, BKR dan BKL), pembinaan remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga dan peningkatan pendapatan keluarga melalui UPPKS. Kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) merupakan salah satu kegiatan dalam Program GenRe yang dilakukan oleh keluarga yang mempunyai remaja untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua atau keluarga lain dalam pembinaan tumbuh kembang remaja. Dengan adanya program BKR, orangtua diharapkan memiliki pengetahuan dan dapat menyampaikan pengetahuan yang mereka miliki dengan cara-cara berkomunikasi yang dapat diterima oleh remaja. Guna mendukung peningkatan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman orang tua tentang bagaimana memberikan pembinaan dan bimbingan pada remaja melalui komunikasi efektif antara orang tua dengan remaja , maka disusun buku Komunikasi Efektif Orang Tua dengan Remaja. Dengan adanya buku komunikasi ini diharapkan orangtua mampu berkomunikasi secara efektif kepada remajanya.

Akhirnya kepada semua pihak yang turut berpartisipasi dalam penyusunan buku ini, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi - tingginya.

Jakarta, Juni 2012 Direktur Bina Ketahanan Remaja

Indra Wirdhana, SH, MM

vi

DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................ Kata Sambutan .......................................................................... Kata Pengantar .......................................................................... Daftar Isi ........................................................................................ Bab I : Pendahuluan ................................................................. A. Latar Belakang ....................................................................... B. Tujuan ...................................................................................... C. Sasaran Pengguna................................................................ D. Ruang Lingkup ..................................................................... E. Batasan dan Pengertian .................................................... Bab II : Komunikasi Efektif ................................................... A. Pengertian Komunikasi ...................................................... B. Tujuan Komunikasi .............................................................. C. Manfaat Komunikasi ............................................................ D. Unsur Komunikasi ................................................................ E. Hambatan Komunikasi ....................................................... F. Aspek-Aspek Komunikasi .................................................. Bab III : Komunikasi Efektif Orangtua dengan Remaja .......................................................................... A. Gaya Berkomunikasi Orangtua dengan Remajanya ............................................................................... B. Gaya Berkomunikasi Remaja dengan Orangtuanya C. Keterampilan Komunikasi Orangtua dengan Remajanya ...............................................................................

i iii v vii 1 1 5 5 6 6 9 9 10 11 11 13 14

17 17 18 19

vii

1. 2. 3. 4. 5.

Mengenal Diri Orang Tua ........................................... Mengenal Diri Remaja ................................................. Mendengar Aktif ............................................................ Memahami Pesan Kamu dan Pesan Saya.... Menentukan dan Menyikapi Masalah Komunikasi Orangtua dengan Remaja ................. 6. Mengenal Dan Menghindari Gaya Penghambat Komunikasi ...........................................

20 21 24 26 27 30 35 37

Bab IV : Penutup......................................................................... Daftar Pustaka ...........................................................................

viii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa. Kehidupan remaja merupakan kehidupan yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan mereka selanjutnya. Pada tahun 2010 jumlah remaja umur 10-24 tahun sangat besar yaitu sekitar 64 juta atau 27,6% dari jumlah Penduduk Indonesia sebanyak 237,6 juta jiwa (Sensus Penduduk, 2010). Melihat jumlahnya yang sangat besar, maka remaja sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan menjadi manusia yang sehat secara jasmani, rohani, mental dan spiritual. Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa remaja mempunyai permasalahan yang sangat kompleks seiring dengan masa transisi yang dialami remaja. Masalah yang menonjol dikalangan remaja yaitu permasalahan seputar TRIAD KRR (Seksualitas, HIV dan AIDS serta Napza), rendahnya pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan median usia kawin pertama perempuan relatif masih rendah yaitu 19,8 tahun (SDKI 2007). Berikut gambaran perilaku remaja, berkaitan dengan risiko TRIAD KRR (Seksualitas, NAPZA, HIV dan AIDS), rendahnya pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja dan median usia kawin pertama perempuan:

1. Seksualitas Perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja khususnya remaja yang belum menikah, cenderung meningkat. Hal ini terbukti dari beberapa hasil penelitian yang menunjukkan bahwa remaja perempuan dan remaja laki-laki usia 15-24 tahun yang menyatakan pernah melakukan hubungan seksual pranikah masing-masing 1% pada wanita dan 6% pada pria (SKRRI, 2007). Masih berdasarkan sumber data yang sama, menunjukkan pengalaman berpacaran remaja di Indonesia cenderung semakin berani dan terbuka : 1). Berpegangan tangan, lakilaki 69% dan perempuan 68,3%; 2).Berciuman, laki-laki 41,2% dan perempuan 29,3% dan 3). Meraba/ merangsang, laki-laki 26,5% dan perempuan 9,1%. Perilaku seksual pranikah dikalangan remaja diperkuat dengan data dari Depkes Tahun 2009 di 4 kota besar (Medan, Jakarta Pusat, Bandung dan Surabaya), menunjukkan bahwa 35,9% remaja mempunyai teman yang sudah pernah melakukan hubungan seks pranikah dan 6,9% responden telah melakukan hubungan seks pranikah. Berdasarkan penelitian dari Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun 2010 di Jakarta, Tangerang dan Bekasi (JATABEK) dengan jumlah sampel 3006 responden (usia <17 24 tahun), menunjukkan bahwa 20,9% remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah dan 38.7% remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah. Dari data tersebut terdapat proporsi yang relatif tinggi pada remaja yang melakukan

pernikahan disebabkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan. 2. Napza Berdasarkan data hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (Puslitkes UI Tahun 2008) menunjukkan bahwa jumlah penyalahguna narkoba pada tahun 2008 sebanyak 1,99 % atau sekitar 3,3 juta orang, tahun 2010 bertambah menjadi 3,8 juta orang (2,21%), dan tahun 2015 bertambah lagi menjadi 5,1 juta orang (2,8%) dari penduduk Indonesia berumur 10 59 tahun. Selanjutnya data BNN juga menunjukkan bahwa jumlah pengguna Napza sampai dengan tahun 2008 adalah 115.404. Dimana 51.986 dari total pengguna adalah mereka yang berusia remaja (usia 16-24 tahun). Mereka yang pelajar sekolah berjumlah 5.484 dan mahasiswa berjumlah 4.055. 3. HIV dan AIDS Jumlah kasus baru HIV yang dilaporkan periode Januari Desember 2011 sebesar 21.031 kasus, sedangkan data kasus AIDS yang dilaporkan periode Januari Desember 2011 sebesar 4.162 kasus. Data tersebut merupakan fenomena gunung es artinya data tersebut hanya yang dilaporkan saja. Sedangkan untuk kasus HIV dan AIDS secara kumulatif sampai dengan Desember 2011, jumlah kasus HIV sebesar 76.879 kasus, dan jumlah kasus AIDS sebesar 29.879 kasus. Sedangkan persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20 29 tahun atau sekitar 45.4%. Jika dikaitkan dengan karakteristik AIDS yang gejalanya baru muncul setalah 3 10 tahun

terinfeksi, maka hal ini semakin membuktikan bahwa sebagian besar dari mereka yang terkena AIDS telah terinfeksi pada usia yang lebih muda. Berkaitan dengan berbagai permasalahan remaja di atas, maka dilakukan upaya melalui remaja dan keluarganya. Pendekatan kepada keluarga didasari oleh hasil Survei RPJMN program Kependudukan dan KB Tahun 2011 yang menunjukkan beberapa pola pengasuhan orangtua terhadap tumbuh kembang remaja dari aspek kejiwaan, mental dan spiritual, antara lain: a) orangtua yang menanamkan nilai-nilai moral dan agama kepada anak remajanya (79%), b) orangtua yang menyediakan waktu berkomunikasi efektif dengan anak remajanya (36%), c) orangtua sebagai tempat curahan hati bagi anak remajanya (33%), d) orangtua sebagai teladan/contoh/panutan bagi anak remajanya (47%). Masih berdasarkan hasil survey yang sama, yaitu Survei RPJMN Tahun 2011, tentang pengalaman keluarga dalam pengasuhan dan tumbuh kembang remaja dari aspek sosial, menunjukkan bahwa: a) orangtua yang melibatkan remaja dalam pemecahan masalah (15%), b) orangtua yang mengikutsertakan remaja dalam kegiatan sosial (41%), c) orangtua yang mengkursuskan remaja (24%), d) orangtua yang menggali potensi/bakat remaja (23%) dan e) orangtua yang menyekolahkan remaja (83%). Dari berbagai data menunjukkan bahwa keluarga melalui pola asuh orangtua, telah diidentifikasi sebagai pengaruh yang sangat penting dalam pembentukan karakter remaja, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Proses pola asuh orangtua meliputi kedekatan orangtua dengan remaja, pengawasan orangtua, dan komunikasi orangtua dengan remaja. Melalui komunikasi, orangtua

hendaknya menjadi sumber informasi dan pendidik utama tentang kesehatan reproduksi remaja, juga tentang perencanaan kehidupan remaja di masa yang akan datang. Namun demikian, orangtua sering menghadapi kendala dalam berkomunikasi kepada remajanya, begitupun sebaliknya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka diperlukan buku bacaan sebagai pegangan bagi pengelola, kader, dan orang tua, serta remaja.

B. Tujuan Tujuan penulisan buku bacaan ini untuk dijadikan pegangan bagi pengelola, kader BKR, dan orang tua yang mempunyai remaja dalam rangka menjalin komunikasi yang efektif antara orang tua dengan remaja. Selain itu, diharapkan jumlah remaja yang berkomunikasi dengan orang tuanya semakin meningkat, sehingga dapat mengatasi berbagai permasalahan remaja.

C. Sasaran Pengguna Sasaran yang terkait dengan buku ini adalah : 1. Pengelola Program Generasi Berencana (GenRe) 2. Pengelola BKR 3. Kader BKR 4. Orang tua yang memiliki remaja 5. Remaja 6. Masyarakat peduli remaja

D. Ruang lingkup Ruang lingkup buku ini terdiri dari teori komunikasi, komunikasi efektif orangtua dengan remaja, dan keterampilan komunikasi orang tua dengan remaja.

E. Batasan dan pengertian 1. Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah untuk dapat membentuk sebuah keluarga. 2. Remaja adalah orang muda (young people) yaitu penduduk usia 1024 tahun (UNFPA dan WHO). Remaja sebagai sasaran program GenRe adalah penduduk usia 1024 tahun yang belum menikah. 3. Komunikasi adalah suatu proses pertukaran dan penyampaian informasi, sikap, pikiran atau perasaan melalui bahasa, pembicaraan, pendengaran, gerak tubuh atau ungkapan emosi. 4. Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap pada orang lain yang bisa terlihat pada proses komunikasi. 5. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami dan istri, atau suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya. 6. Keluarga remaja adalah keluarga yang memiliki anak remaja usia 10-24 tahun, dan belum menikah 7. Program GenRe adalah suatu program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan

berkeluarga bagi remaja/mahasiswa yang diarahkan untuk mencapai Tegar Remaja/Mahasiswa agar menjadi Tegar Keluarga demi terwujudnya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. 8. Pengelola Program GenRe adalah pejabat struktural dan fungsional mulai dari Tingkat Pusat yaitu Deputi KSPK, Direktur Bina Ketahanan Remaja; Tingkat Provinsi yaitu Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi, Kabid KSPK, Kasubbid Bina Ketahanan Remaja; Tingkat Kabupaten dan Kota yaitu Kepala SKPD KB, Eselon III dan Eselon IV yang menangani program Keluarga Berencana/Keluarga Sejahtera; Tingkat Kecamatan yaitu KUPTD/PPLKB/Koordinator Lapangan PLKB/PKB; serta pada tingkat desa dan kelurahan yaitu PLKB/PKB yang secara fungsional bertanggungjawab terhadap pengelolaan program GenRe yaitu pengelolaan Bina Keluarga Remaja (BKR) dan pengelolaan PIK R/M. 9. Bina Keluarga Remaja (BKR) adalah wadah kegiatan yang beranggotakan keluarga yang mempunyai remaja usia 10 24 tahun. BKR bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya baik dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja maupun dalam rangka meningkatkan kesertaan, pembinaan, dan kemandirian ber KB bagi anggota kelompok. 10. Pengelola BKR adalah orang atau lembaga yang menaruh minat dan melaksanakan rangkaian kegiatan Bina Keluarga Remaja, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai dengan pemantauan dan penilaian program.

11. Kader BKR adalah anggota masyarakat yang melaksanakan kegiatan Bina Keluarga Remaja secara sukarela, dalam membina dan memberikan penyuluhan kepada orangtua tentang cara mengasuh dan membina anak remajanya dengan baik dan benar 12. Triad KRR adalah tiga risiko yang dihadapi oleh remaja/mahasiswa, yaitu risiko-risiko yang berkaitan dengan Seksualitas, Napza, HIV dan AIDS 13. Seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia sebagai mahluk seksual, yaitu emosi, perasaan, kepribadian, sikap yang berkaitan dengan perilaku seksual, hubungan seksual dan orientasi seksual. 14. HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia 15. AIDS singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yaitu sekumpulan gejala yang timbul akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh, karena terinfeksi virus HIV. 16. NAPZA adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya, yaitu zat-zat kimiawi yang dimasukkan kedalam tubuh manusia baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung) atau disuntik yang menimbulkan efek tertentu terhadap fisik, mental dan ketergantungan

BAB II KOMUNIKASI EFEKTIF

A. Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah suatu proses pertukaran dan penyampaian informasi, sikap, pikiran atau perasaan melalui bahasa, pembicaraan, pendengaran, gerak tubuh atau ungkapan emosi. Komunikasi orangtua dengan remaja merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal. Dalam komunikasi interpersonal, pembicaraan antar kedua belah pihak berlangsung akrab, berusaha saling memahami dan terjadi tanya jawab, sehingga terdapat saling pengertian. Dalam hal ini masing-masing pihak saling memberikan umpan balik, dengan terbuka, jujur, tidak berprasangka dan saling mendukung, demi tercapainya efektivitas komunikasi. Komunikasi dikatakan efektif jika dapat memberikan informasi, mendidik, menginstruksikan, mengajak dan menghibur audience termasuk remaja. 1. Memberikan informasi adalah menyampaikan atau menyebarluaskan pesan (informasi) kepada orang lain. 2. Mendidik adalah pesan (informasi) yang disampaikan bersifat mendidik, sehingga dapat menambah pengetahuan tentang informasi yang disampaikan.

3. Menginstruksikan artinya memberikan instruksi (mewajibkan atau melarang) penerima untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yang diperintahkan. 4. Mengajak (persuasif) adalah pesan yang disampaikan dapat menimbulkan efek pada komunikan, sehingga dapat mempengaruhi (mengubah) pendapat, sikap dan perilaku orang yang diajak berkomunikasi. 5. Menghibur artinya mengirimkan pesan-pesan yang mengandung hiburan kepada penerimanya, sehingga dapat menimbulkan perasaan senang kepada komunikan. Berdasarkan beberapa definisi komunikasi, maka dapat disimpulkan komunikasi orangtua remaja didefinisikan sebagai informasi atau pesan tentang seksualitas yang disampaikan oleh komunikator (orangtua) kepada komunikan (remaja). Komunikasi orangtua - remaja juga harus mencakup penyampaian nilai, standar dan sikap orangtua mengenai isu tersebut.

B. Tujuan Komunikasi Tujuan dilakukannya komunikasi efektif orangtua dengan remaja, antara lain: 1. Membangun hubungan yang harmonis dengan remaja 2. Membentuk suasana keterbukaan 3. Membuat orangtua mau mendengar remaja saat mereka berbicara 4. Membuat remaja mau bicara pada saat mereka menghadapi masalah

10

5. Membuat remaja mau menghormati orang dewasa saat mereka berbicara

orangtua

atau

6. Membantu remaja menyelesaikan masalahnya

C. Manfaat Komunikasi Komunikasi memiliki beberapa manfaat, antara lain: 1. Meningkatkan pengetahuan, wawasan dan kewaspadaan seseorang terhadap isu tertentu, sehingga bijak dalam mengupayakan solusinya; 2. Mempengaruhi persepsi, keyakinan dan sikap seseorang; 3. Mempengaruhi seseorang untuk cepat bertindak 4. Menyangkal mitos-mitos dan persepsi yang salah di masyarakat tentang isu tertentu.

D. Unsur Komunikasi Dalam komunikasi efektif antara kelompok satu dengan kelompok lain atau seseorang dengan orang lain, diperlukan keterlibatan beberapa unsur komunikasi, yaitu komunikator, komunikan, pesan dan saluran. 1. Komunikator adalah orang atau sumber yang menyampaikan atau mengeluarkan rangsangan dalam bentuk informasi atau pesan kepada orang atau pihak lain. Diharapkan orang atau pihak lain tersebut memberikan tanggapan atau jawaban. Beberapa faktor yang hendaknya dimiliki oleh komunikator yang mempengaruhi penerimaan pesan oleh komunikan antara lain :

11

a.

Dapat dipercaya. Semakin dipercaya pemberi pesan, maka semakin besar tingkat kepercayaan penerima.

b. Menarik. Komunikator yang menarik dapat lebih dipercaya untuk mempengaruhi seseorang dibandingkan komunikator yang kurang menarik. c. Kekuasaan. Semakin besar kekuasaan komunikator, semakin besar tingkat kepercayaan komunikan terhadap pesan yang disampaikan.

2. Komunikan adalah pihak yang menerima dan memberikan respon terhadap rangsangan dari komunikator, tanggapan dapat bersifat pasif, yaitu memahami maksud yang disampaikan oleh komunikan atau tanggapan aktif, yaitu berupa ungkapan lisan, tulisan atau berupa simbol. Terdapat beberapa faktor komunikan yang harus diperhatikan, antara lain: a. Demografi, antara lain: umur, jenis kelamin, ras dan karakteristik audience termasuk remaja.

b. Faktor psikologis, antara lain: pengetahuan, keyakinan, sikap, kemampuan, keterampilan dan harapan audience termasuk remaja. 3. Pesan adalah rangsangan yang dikeluarkan oleh komunikator kepada komunikan. Isi pesan atau informasi diharapkan dapat dimengerti oleh komunikan dan ditanggapi secara pasif ataupun aktif. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pesan antara lain: a. Tipe pesan. Tipe pesan dapat berbentuk humoris, berdasarkan fakta, emosional atau perintah sehingga

12

dapat menimbulkan perhatian. Setiap tipe pesan tergantung dari situasi dan audience termasuk remaja. b. Isi pesan. Sangat penting untuk memperhatikan apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam pesan. Selain itu, tata urut pesan juga harus diperhatikan, karena tata urut yang baik, dapat mempengaruhi logika dan emosi audience, termasuk remaja, sehingga akan membentuk kesan pada pesan yang disampaikan. c. Kesesuaian. Pesan dapat dikembangkan menjadi lebih sederhana agar sesuai dengan latar belakang komunikan, sehingga dapat cepat menimbulkan pemahaman.

4. Saluran (media) dapat berupa komunikasi antar pribadi dan komunikasi massa. Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi langsung, tatap muka antara satu orang dengan orang lain baik perorangan maupun kelompok. Komunikasi interpersonal, misalnya komunikasi antara konselor dengan klien, dokter dengan pasien, orangtua dengan remaja. Komunikasi massa, misalnya TV, radio, koran, spanduk.

E. Hambatan Komunikasi Beberapa hal yang sering dilakukan orangtua ketika berkomunikasi dengan remaja, sehingga menghambat keberhasilan komunikasi orangtua dengan remaja, antara lain: 1. 2. 3. Lebih banyak berbicara daripada mendengar Merasa tahu lebih banyak Cenderung memberi arahan dan nasihat

13

4. 5. 6. 7.

Tidak berusaha untuk mendengar terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi dan yang dialami oleh remaja Tidak memberi kesempatan mengemukakan pendapat pada remaja untuk

Tidak mencoba menerima kenyataan yang dialami remaja dan memahaminya Merasa putus asa dan marah karena tidak tahu harus bersikap atau bertindak bagaimana kepada remajanya

F. Aspek-Aspek Komunikasi Dalam komunikasi interpersonal, terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh komunikator agar komunikasi menjadi efektif, antara lain: 1. Keterbukaan. Pengertian keterbukaan adalah adanya keinginan untuk membuka diri dengan orang lain untuk berinterkasi dan keinginan untuk memberikan tanggapan sejujurnya terhadap rangsangan yang diterima. Dalam keterbukaan, memerlukan adanya pengakuan dan sikap bertanggung jawab terhadap segala pikiran dan perasaan yang telah diungkapnya. 2. Empati. Adanya usaha masing-masing pihak untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain, dalam upaya untuk memahami orang lain. Berempati juga membutuhkan kepekaan agar dapat merasakan perasaan orang lain ketika komunikasi berlangsung. Adapun langkah-langkah untuk mengembangkan empati, antara lain:

14

a.

Lebih banyak memahami keinginan, pengalaman, kemampuan dan kecemasan yang dirasakan orang lain.

b. Menghindari penilaian baik-buruk atau benar-salah terhadap perilaku atau sikap orang lain. c. Mencoba untuk melihat masalah dari cara pandang (persepsi) orang lain.

3. Dukungan. Dukungan dapat berupa ungkapan verbal dan non verbal. Ungkapan verbal, seperti gerakan menganggukkan kepala, mengedipkan mata, tersenyum atau tepukan tangan. Ungkapan non verbal, seperti memahami dan berpikir secara terbuka (mampu menerima pandangan orang lain). 4. Kepositifan. Dapat dilakukan dengan memberikan sikap positif dan menghargai orang lain, sehingga seseorang mampu menghargai dirinya sendiri secara positif. 5. Kesamaan. Adanya kesamaan pengalaman dan kesamaan dalam percakapan antara para pelaku komunikasi. Tujuannya agar mencegah terjadinya kesalahpahaman atau konflik.

15

16

BAB III KOMUNIKASI EFEKTIF ORANG TUA DENGAN REMAJA


A. Gaya Berkomunikasi Orangtua dengan Remajanya Pada fase remaja, mereka tidak cocok diajak berkomunikasi dengan gaya orang tua yang memerintah dan mengatur, karena mereka akan memandang orang tua sebagai sosok yang mengancam dan tidak mampu mengerti diri remaja. Untuk berkomunikasi dengan remaja, lebih cocok dengan gaya komunikasi layaknya seorang teman. Orang tua dapat mengajak anak berkomunikasi dengan santai, tidak memberikan penilaian, serta tidak terkesan menggurui. Dengan gaya komunikasi seperti ini membuat remaja merasa lebih aman dan nyaman dalam mendengarkan orang tua, karena orang tua dianggap mampu mengerti posisi serta keinginan diri remaja. Berdasarkan hasil penelitian Nuranti, 2009 kepada beberapa orangtua dan remaja di Yogyakarata, menunjukkan sebagian besar orangtua tidak mendiskusikan secara langsung mengenai hubungan seksual, melainkan lebih pada fungsi dan proses organ reproduksi, seperti menstruasi dan mimpi basah. Orangtua memberikan keterampilan tentang cara menjaga kebersihan organ reproduksi, terutama pada saat remaja putri sedang menstruasi. Selain itu, orangtua menyampaikan nilai-nilai agama dan budaya yang harus dipatuhi remaja setelah memasuki akhil balig. Dari sisi nilai agama, misalnya bagi remaja muslim harus menjalankan shalat 5 waktu dan cara mandi besar setelah menstruasi atau

17

mimpi basah. Dari sisi budaya, jika remaja sudah memasuki akhil balig diadakan syukuran dengan memasak beras merah dan beras putih sebagai tanda memasuki usia balig. Selain itu juga beberapa larangan dan anjuran bagi remaja yang sudah memasuki akhil balig, seperti tidak berduaan dengan lawan jenis di tempat sepi dan menjaga tubuhnya dari sentuhan oleh lawan jenis (terutama bagi remaja putri) (Nuranti, 2009).

B. Gaya Berkomunikasi Remaja dengan Orangtuanya Remaja saat ini lebih nyaman berkomunikasi dengan teman atau sebayanya melalui jejaring sosial (misalnya facebook dan twitter). Tidak dapat dipungkiri bahwa bergaul jejaring sosial adalah hal yang sangat menyenangkan. Hanya dengan berbekal akun, masyarakat pengguna situs jejaring sosial dapat menerima dan bertukar informasi dengan siapapun dari seluruh penjuru dunia. Berdasarkan pengalaman seorang ibu, yang menceritakan pengalaman dengan anak remajanya, sebagai berikut : Akhirakhir ini komunikasi seorang ibu dengan anak sulungnya bisa dibilang sedang bermasalah. Si sulung, sebut saja Arin (berusia 17 tahun) lebih suka menyendiri di kamar. Pulang sekolah dia melongok ibunya sebentar untuk sekedar cium tangan terus langsung masuk ke kamar. Tidak ada acara ngobrol atau curhat-curhat dengan sang ibu. Padahal sebelumnya Arin selalu lengket dengan ibunya. Kalau ada masalah di sekolah, teman atau apapun Arin selalu cerita. Cerita-cerita gokil juga sering terlontar dari bibir Arin. Pokoknya Arin ini adalah pribadi yang ceria.

18

Melihat perubahan anaknya secara tiba-tiba membuat sang ibu khawatir. Ibu sudah mencoba berulang kali untuk mendekati Arin. Mengajaknya bicara, tapi Arin tidak memberikan respon. Setiap kali ditanya apa ada masalah di sekolah? Arin hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai alternatif lain saya lalu membuka facebook dan segera meluncur ke dindingnya Arin. Sejenak saya amati aktifitasnya, dari ungkapan-ungkapan yang tertera pada beberapa statusnya saya bisa menangkap kalau Arin sedang bermasalah. Apalagi kalau bukan soal cinta. Namanya juga remaja. Dimana masa-masa itu seorang anak sedang mengalami masa transisi dan lagi seneng coba-coba. Yah lumrahlah kalau sekarang ini Arin juga pada taraf itu. Ada beberapa kalimat yang menyinggung tentang kekecewaannya terhadap ibunya. Seperti Ahk ibu payah! Gag boleh ngeliat anaknya seneng dikit.. Ada juga ungkapan seperti ini; Capek backstreet mulu. Kapan ya aku bisa seperti mereka. Pacaran gag pake ngumpet-ngumpet. Oh ini toh gerangan yang telah membuat hubungan antara ibu dan anak ini menjadi renggang. Hemm.. Nampaknya ada sesuatu yang musti dibenahin nih! Dari jejaring sosial tersebut, sebenarnya orang tua bisa memantau kegiatan anak remajanya. Bukan tidak mungkin jika seorang anak yang terlihat biasa-biasa saja ternyata sedang memendam satu permasalahan dan mereka akan cenderung lari ke jejaring sosialnya untuk bercurhat, bukan kepada orang tuanya.

C. Keterampilan Komunikasi Orang Tua dengan Remaja Terdapat beberapa keterampilan komunikasi yang perlu dikembangkan oleh orangtua dengan remaja, antara lain :

19

1. Mengenal diri orang tua Dalam berkomunikasi terutama dengan remaja penting bagi orang tua harus mengenal: a. Kemampuan dan kelebihan yang dimilikinya b. Kelemahan atau mengganggu c. Cara memanfaatkan kekurangan diri kekurangan kelebihan yang dan dirasa

mengatasi

Dengan pengenalan diri, orang tua bisa menerima diri apa adanya, sehingga tahu apa yang harus dirubah. Selain itu sebagai orang tua akan lebih percaya diri dan mudah menerima remajanya dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Ada beberapa cara agar orang tua dapat mengenal diri mereka sendiri yaitu melalui: 1) Menghargai diri sendiri Biasakan tidak membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang itu unik. Kita dan orang lain pasti memiliki perbedaan. 2) Menghargai upaya yang sudah kita lakukan Walaupun mungkin belum berhasil, tetapi tetap berusaha menghargai niat dan upaya yang telah kita lakukan. 3) Menentukan tujuan hidup kita Sebagai orang tua tentukan tujuan dalam mendidik anak, ingin menjadi ibu yang menjadi panutan bagi

20

anak-anaknya atau ingin menjadi ayah yang sukses dalam mendidik anak. 4) Berpikir positif terhadap diri sendiri dan orang lain Memandang dirinya maupun remaja dari sisi yang positif 5) Mengembangkan minat dan kemampuan diri Bersedia menghabiskan waktu dan tenaga untuk belajar dan melakukan tugas sampai tujuan tercapai 6) Mengendalikan perasaan Tidak mudah marah, menghadapi kesedihan secara wajar tidak berlebihan. Tidak mudah terpengaruh keadaan sesaat, dan bisa menerima penjelasan remaja dengan tenang. 2. Mengenal Diri Remaja Penting bagi orang tua memahami perasaan remaja. Banyak terjadi masalah dalam berkomunikasi dengan remaja, yang disebabkan karena orang tua kurang dapat memahami perasaan remaja yang diajak bicara. Agar komunikasi dapat lebih efektif, orang tua perlu meningkatkan kemampuannya dan mencoba memahami perasaan remaja sebagai lawan bicara. Pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya dimengerti, didengar, dihargai, dan dirinya dapat diterima oleh orang lain. Dengan bersedia menerima perasaan remaja, menunjukkan bahwa kita menghargai remaja dan hal tersebut membuat mereka merasa berharga. Mereka akan belajar bahwa bukan hanya perasaan mereka saja

21

yang penting, tetapi juga perasaan orang lain sama pentingnya. a. Perasaan yang sering dialami remaja Dua perasaan yang sering dialami remaja adalah : 1) Perasaan negatif. Perasaan ini antara lain berupa perasaan marah, kesal, bosan, bingung, kecewa, frustasi, merasa tidak diperhatikan, kaget, raguragu, tidak nyaman, merasa tidak dicintai, dan sebagainya. Contoh : Udah deh, kapok aku. Aku nggak mau sekolah lagi. Aku benci sekolah 2) Perasaan positif, antara lain berupa perasaan berani, puas, yakin pada kemampuan diri, senang, berminat, bangga, hebat, dan sebagainya. Contoh : Bu, aku nggak kepilih jadi tim volley di sekolahku. Ternyata banyak temanku yang mainnya lebih baik dari aku .. Perasaan memegang peranan yang sangat penting dalam berkomunikasi. Seseorang yang sedang dalam perasaan senang akan mudah berkomunikasi atau menyampaikan pikiran, pendapat, bahkan perasaan hatinya. b. Cara memahami perasaan remaja Untuk memahami perasaan remaja, orang tua harus menerima terlebih dahulu perasaan dan ungkapan remaja, terutama ketika ia sedang mengalami masalah. Ini sangat penting agar mereka merasa

22

nyaman dan mau melanjutkan pembicaraan dengan lawan bicara. Banyak perasaan yang dialami orang termasuk remaja tidak akan muncul dalam ungkapan atau kata-kata namun muncul dalam bahasa tubuh seperti tersenyum, menangis, gugup dan lain sebagainya. Melalui bahasa tubuh dapat menunjukkan bagaimana perasaan yang sebenarnya. Bahasa tubuh mempunyai pengaruh yang luar biasa dalam segala bentuk komunikasi dan umumnya terjadi tanpa kita sadari. Ungkapan wajah dan mata, gerakan anggota badan dan tubuh, posisi tubuh remaja, bisa memberi isyarat yang banyak kepada orang tua agar memahami perasaan remaja. Demikian pula nada dan tempo suara. Oleh karena itu penting bagi setiap orang untuk mengenal bahasa tubuh. Contoh bahasa tubuh: Bahasa tubuh: Menangis Makna yang disampaikan: Sedih, putus asa, marah, kesal, frustasi, atau terharu dan bahagia Bahasa tubuh: Senyum Makna yang disampaikan: Senang atau gembira Bahasa tubuh: Menghentakan kaki Makna yang disampaikan: Kesal atau marah Bahasa tubuh: gugup Makna yang disampaikan: Takut, malu atau ragu

23

3. Mendengar Aktif Mendengar aktif adalah cara mendengar dan menerima perasaan serta memberi tanggapan yang bertujuan menunjukan kepada remaja bahwa kita sungguhsungguh telah menangkap pesan serta perasaan yang terkandung didalamnya. Hal itu dilakukan sehingga kita dapat memahami remaja seperti yang mereka rasakan bukan seperti apa yang kita lihat atau kita sangka. Beberapa sikap yang perlu dikembangkan oleh orang tua dalam mendengar persoalan remaja: a. Aktif dan memperhatikan bahasa tubuh dengan sungguh-sungguh b. Membuka diri dan siap mendengarkan c. Tidak berbicara ketika remaja berbicara d. Memahami apa yang dirasakan, dipikirkan, dan dimaksud remaja sesuai dengan kaca mata remaja, bukan kaca mata orang tua Mendengar aktif sangat tepat digunakan apabila remaja sedang mengalami masalah dan menunjukkan emosi yang kuat, atau remaja tidak menunjukkan emosi akan tetapi dapat ditangkap perasaannya sedang tidak nyaman.Dalam mendengar aktif, orang tua seolah-olah berperan seperti cermin, dengan memantulkan kembali, memaknai perasaan, serta mengulangi inti pesan yang diungkapkan remaja, sehingga ia merasa didengar, dipahami, dan didukung.

24

Contoh : Ana : Tono bilang dia akan ketemu aku di acara pertemuan remaja. Eh nggak tahunya dia nggak muncul, jadi aku satu-satunya orang baru di acara itu. Ortu : Jadi Ana malu dong ya, karena Tono tidak datang? Ketika remaja berbicara, tunggulah 10 detik sebelum membalas pembicaraan. Gunakan waktu ini untuk berpikir Apa yang sedang dirasakan remaja? dan Apa yang menyebabkan remaja punya perasaan seperti ini ? Ada beberapa cara untuk memantulkan kata-kata remaja kita. Misalnya : Kamu kayaknya lagi karena atau Kamu kelihatannya . karena Banyak keuntungan yang diperoleh jika kita mendengar aktif pada saat berkomunikasi dengan remaja, antara lain: 1) Membantu remaja untuk mengenal, menerima dan mengerti perasaannya sendiri serta menemukan cara mengatasi perasaan dan masalahnya. 2) Merangsang mereka untuk berbicara dan mengemukakan masalahnya sehingga kita dapat mengetahui dengan tepat apa yang sebenarnya dirasakan oleh remaja. Dengan demikian perasaan negatif tersebut sedikit demi sedikit akan hilang. 3) Menumbuhkan rasa hangat dan mengakrabkan hubungan orang tua dengan remaja. Kita jadi belajar untuk bisa menerima keunikan remaja yang sedang kita dengarkan masalahnya.

25

4) Membuat remaja merasa dirinya penting dan berharga. 5) Membuat remaja merasa diterima dan dipahami cenderung akan mudah menerima dan memahami orang lain. 6) Membuat remaja mau mendengarkan orang tuanya sehingga mudah terjalin kerjasama 4. Memahami Pesan Kamu dan Pesan Saya a. Pengertian Pesan Kamu dan Pesan Saya Pesan Kamu adalah cara orang tua berkomunikasi dengan terbiasa menggunakan bahasa Kamu. Cara seperti ini tidak menyampaikan akibat perilaku remaja terhadap orang tua tetapi berpusat pada kesalahan remaja, cenderung tidak membedakan antara remaja dan perilakunya sehingga membuat remaja merasa disalahkan, direndahkan, dan disudutkan. Pesan Saya lebih menekankan perasaan dan kepedulian orang tua sebagai akibat perilaku remaja sehingga remaja belajar bahwa setiap perilaku mempunyai akibat terhadap orang lain. Melalui Pesan Saya akan mendorong semangat remaja, mengembangkan keberaniannya, sehingga remaja akan merasa nyaman. b. Cara mempraktekkan Pesan Saya 1) Ungkapkan perasaan orang tua yang bersangkut paut dengan konsekuensi perilaku remaja

26

2) Tunjukkan hal yang khusus dan positif, apa yang orang tua inginkan agar remaja mau melakukan. c. Pesan Saya terdiri dari 4, yaitu: 1) Saya merasa (pernyataan yang mengandung bagaimana perasaan orang tua yang berkaitan dengan tingkah laku remaja yang mengganggu). Kapan (tingkah laku mengganggu orang tua) Karena/sebab (alasan atau penjelasan apa yang diperkirakan akan terjadi) Perilaku remaja yang diharapkan oleh orangtua

2) 3) 4)

Contoh : Ibu merasa cemas, ketika kamu tidak pulang pada waktunya, karena Ibu pikir ada sesuatu yang terjadi atas dirimu. Ibu suka kamu pulang menjelang pukul lima sore. Ibu menjadi marah, ketika kamu memperlakukan Ibu dengan kasar di muka umum, karena Ibu rasa kamu tidak menghargai Ibu. Ibu suka bila kamu berbicara sopan. Masalah Komunikasi

5. Menentukan dan Menyikapi Orangtua dengan Remaja

Ketika menghadapi remaja sebagai lawan bicara yang bermasalah, kita perlu mengetahui masalah siapa ini. a. Cara Menyikapi Masalah Setelah kita mengetahui masalah siapa, maka akibatnya siapa yang memiliki masalah harus

27

bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Bila masalah itu adalah masalah remaja maka teknik yang digunakan adalah Mendengar Aktif. Bila masalah itu adalah masalah orang tua, maka teknik yang digunakan adalah lebih menekankan perasaan dan kepedulian orang tua sebagai akibat perilaku remaja, sehingga remaja belajar bahwa setiap perilaku mempunyai akibat terhadap orang lain.. b. Manfaat menentukan masalah Dengan menentukan masalah, orang tua dapat mengetahui apa yang harus dilakukannya sehingga mereka bisa memutuskan apakah membiarkan remaja mengatasinya sendiri atau membantu apabila perlu. Disamping itu menentukan masalah dapat melatih remaja untuk mandiri dengan cara : 1) Memahami perasaannya 2) Mengetahui pemilik masalah 3) Mencari kemungkinan jalan keluar 4) Memilih mana yang akan dijalani 5) Membuat kesepakatan untuk melaksanakan 6) Melakukan evaluasi Baik masalah orang tua atau remaja pemecahannya dapat dilakukan dengan melibatkan remaja. Bila persoalan orang tua, remaja merasa dihargai. Bila masalah remaja, maka remaja belajar ketrampilan baru sehingga secara bertahap dapat mengurus masalahnya sendiri

28

c.

Tips menentukan dan menyikapi masalah Tanyakanlah pada diri pertanyaan di bawah ini: sendiri serangkaian

1. Apakah tingkah laku remaja mengganggu hak dan keselamatan kita sebagai manusia? Ya Tidak

2. Apakah tingkah laku remaja mengganggu keselamatan remaja atau orang lain? Ya Tidak

Jika jawabannya ya untuk kedua pertanyaan di atas maka berarti itu masalah orang tua, jika sebaliknya maka itu masalah remaja. d. Perlunya membiasakan untuk mengetahui masalah siapa, karena : 1) Kita tidak mungkin menjadi seorang yang harus mampu memecahkan semua masalah 2) Kita harus mengajarkan kepada remaja rasa tanggungjawab dalam memecahkan masalahnya sendiri 3) Kita perlu membantu remaja untuk tidak terlalu ikut campur urusan orang lain 4) Remaja perlu belajar mandiri

29

6. Mengenal dan Komunikasi

Menghindari

Gaya

Penghambat

Dalam berkomunikasi dengan remaja, orang tua sering bereaksi terhadap ungkapan perasaan, pikiran, maupun pernyataan remaja dengan gaya yang membuat perasaan menjadi tidak nyaman dan merusak harga diri remaja, sehingga menyebabkan komunikasi menjadi terhambat. Oleh karena itu, orang tua diharapkan dapat mengenali gaya komunikasi tersebut dan berusaha menghindari atau tidak menggunakannya. Adapun beberapa gaya penghambat komunikasi, antara lain : a. Memerintah Tujuan Orang Tua: Mengendalikan situasi dan menyelesaikan masalah dengan cepat Pesan yang ditangkap remaja: Harus patuh tidak punya pilihan Contoh : Jangan mengeluh, kerjakan saja! b. Menyalahkan Tujuan Orang Tua: Memberitahu remaja kesalahannya Pesan yang benar/baik ditangkap remaja: Tidak pernah

Contoh : Pasti kamu bikin onar lagi, apalagi yang kamu lakukan sampai Ayah dipanggil ke sekolah? c. Meremehkan Tujuan Orang Tua: Menunjukkan ketidakmampuan remaja dan orang tua lebih tahu

30

Pesan yang ditangkap remaja: Tidak berharga/merasa tidak mampu Contoh : Kamu kan belum berpengalaman, coba pikirkan saran Ibu d. Membandingkan Tujuan Orang Tua: Memotivasi dengan memberi contoh orang lain Pesan yang ditangkap remaja: Tidak disayang, pilih kasih, saya memang selalu jelek Contoh : Buang sampah seenaknya, lihat dong apa yang dikerjakan adikmu e. Memberi cap Tujuan Orang Tua: Memberitahu kekurangan dengan maksud remaja berubah Pesan yang ditangkap remaja: Itulah saya Contoh : Seperti anak-anak saja, cengeng f. Mengancam Tujuan Orang Tua: Supaya menurut/patuh dengan cepat Pesan yang ditangkap remaja: Cemas, takut Contoh : Jangan bicara begitu, awas kalau sekali lagi bicara seperti itu, tahu sendiri g. Menasehati Tujuan Orang Tua: Supaya remaja tahu mana yang baik dan buruk

31

Pesan yang ditangkap remaja: Sok tahu, bosan dan bawel Contoh : Sebaiknya kamu terus terang saja mengatakannya h. Membohongi Tujuan Orang Tua: Membuat urusan jadi gampang Pesan yang ditangkap remaja: Orang tua/orang dewasa tidak dapat dipercaya Contoh : Kalau tidak diselesaikan, nanti diganggu setan i. Menghibur Tujuan Orang Tua: Menghilangkan kesedihan atau kekecewaan, remaja jadi senang terus dan jangan larut Pesan yang ditangkap remaja: Senang, lupa, dan dimengerti melarikan masalah Contoh : Banyak yang seperti kamu, ya sudah jangan dipikirin, nanti juga hilang j. Mengkritik Tujuan Orang Tua: Meningkatkan kemampuan dirinya agar remaja memperbaiki kesalahan Pesan yang ditangkap remaja: Kurang, salah Contoh : Dasar pemalas, banyak bicara, tapi tidak mau mengerjakan

32

k. Menyindir Tujuan Orang Tua: Memotivasi, mengingatkan supaya tidak selalu melakukan seperti itu dengan cara menyatakan yang sebaliknya Pesan yang ditangkap remaja: Menyakiti hati Contoh : Sebentar lagi turun hujan, tumben kamu kok mau nyapu l. Menganalisa Tujuan Orang Tua: Mencari penyebab positif/negative remaja atau keselahannnya dan berupaya mencegahnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama lagi Pesan yang ditangkap remaja: Ibu sok pintar Contoh : Ah, kamu saja yang mau libur, koq mengatakan bahwa teman-teman yang mengusulkan libur

33

34

BAB IV PENUTUP

Keluarga

sebagai

wahana

pertama

dan

utama

dalam

pembangunan bangsa, memiliki peran dan tanggungjawab dalam mewujudkan keluarga yang berkulitas. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pembinaan kepada keluarga yang mempunyai remaja agar keluarga dapat mengasuh dan membina remaja sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab, berakhlaq, dan berperilaku sehat. Pengasuhan dan pembinaan remaja dapat dilakukan melalui komunikasi merupakan efektif antara orangtua paling dengan penting remajanya. terhadap Komunikasi efektif antara orangtua dengan remaja telah diketahui pengaruh yang pembentukkan sikap dan perilaku remaja. Orangtua seharusnya menjadi sumber informasi dan pendidik utama tentang kesehatan reproduksi dan penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja Oleh karena itu, diperlukan buku komunikasi efektif antara orangtua dengan remaja. Buku ini berisikan substansi tentang gaya berkomunikasi orangtua komunikasi dengan remaja, keterampilan orang tua dengan remaja dan berbagai teori

mengenai komunikasi. Buku ini diharapkan dapat dijadikan

35

sebagai pengetahuan bagi kader BKR, pengelola BKR, orang tua yang memiliki remaja, pengelola program GenRe, remaja dan masyarakat peduli remaja, dalam membina remaja.

36

DAFTAR PUSTAKA

1. Australian National University (ANU) dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia tahun 2010. 2. Badan Narkotika Nasional Tahun 2008 3. BKKBN Puslitbang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera. Survei Indikator RPJMN Program Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Indonesia. Jakarta 2011. 4. Depkes Tahun 2009 5. Kemenkes RI, 2011 6. Nuranti, Alifah. Hubungan Antara Komunikasi Orangtua Remaja dengan Sikap Terhadap Hubungan Seksual Pranikah. Yogyakrta 2009. 7. SDKI 2007 8. Sensus Penduduk, 2010 9. Utomo dkk; 2000

37