Anda di halaman 1dari 15

STANDAR AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Mata kuliah : Akuntansi Sektor Publik

Dosen: Dr.,H .E.Ristandi Suhardjadinata.Drs..M.M,PIA,CPA,CA,Ak

Disusun Oleh :
Faisal Samsul Rizal Taufiq Ismail Adi Ardhana Fauzan Mahdi 0111U110 Iqbal Aqmariandi 0111U139 Icksan Mochamad Taufiq

Fakultas Ekonomi Prodi Akuntansi Universitas Widyatama Bandung 2014

KATA PENGANTAR
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas dan untuk menambah nilai mata kuliah Akuntansi Sektor Publik. Pembahasan dalam makalah ini merupakan ringkasan atau rangkuman yang didapat dari bab Standar Akuntansi Sektor Publik Pada kesempatan ini, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak E.Ristandi Suhardjadinata. Dr.,H.Drs..M.M selaku dosen Akuntansi Sektor Publik yang telah

menerangkan serta memberikan penjelasan mengenai pelajaran atau mata kuliah yang bersangkutan. Dengan adanya penjelasan materi yang telah diajarkan dalam sesi perkuliahan, kami sebagai penulis dapat membuat atau menyusun makalah . Pada makalah ini mungkin masih banyak kekurangan oleh karena itu sekiranya kami sebagai penyusun/penulis dapat dimaklumi dan diberikan saran atau kritik dari pembaca makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Bandung, 24 Februari 2014

STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN Pengertian Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia menrupakan terapan dari beberapa standard akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP. Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta Memudahkan pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Pada PSAK-IFRS, SAK ETAP ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan IndonesianSAP oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintah. Berikut ini penjelasan dari macam-macam SAK tersebut : 1. PSAK-IFRS PSAK-IFRS Saat ini masih dalam proses konvergensi. Proses ini melalui tahap adopsi pada tahun 2008-2010 kemudian di tahun 2012 diimplementasikan .Pada PSAK ini wajib diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas public seperti : Emiten, perusahaan publik, perbankan, asuransi, dan BUMN. Tujuan dari PSAK ini adalah memberikan informasi yang relevan bagi user laporan keuangan. Lalu Kenapa Indonesia mengadopsi IFRS ? Indonesia mengadopsi IFRS karena Indonesia adalah bagian dari IFAC yang sudah pasti harus mematuhi SMO(Statement Membership Obligation) yang menjadikan IFRS sebagai accounting standard. Selain itu konvergensi IFRS adalah kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20 Forum. Pada pertemuan pemimpin G20 di Wahington DC, pada 15 November 2008 didapati hasil : Strengthening Transparency and Accountability yang kemudian pada 2 April 2009 di London pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk : Strengthening Financial Supervision and Regulation to call on the accounting standard setters to work urgently with supervisors and regulators to improve standards on valuation and provisioning and achieve a single set of highquality global accounting standards.

MANFAAT IFRS Manfaat dari penerapan IFRS sebagai berikut : 1. Meningkatkan daya banding laporan keuangan 2. Memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal Internasional 3. Menghilangkan hambatan arus modal Internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan 4. Mengurangi biaya pelaporan keuangan perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis 5. Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju best practice Jadi walaupun Indonesia harus menyesuaikan standard keuangan dengan IFRS namun hal ini akan mempermudah untuk pelaporan keuangan meskipun aka nada perubahan-perubahan dalam penyusunan laporan keuangan itu sendiri yang bersifat menyuluruh. Karakter IFRS IFRS menggunakan Principles Base yaitu :

Lebih menekankan Interpretasi dan aplikasi atas standar sehingga harus berfokus pada spirit penerapan prinsip tersebut Standard membutuhkan penilaian atas substansi transaksi dan evaluasi apakah presentasi akuntansi mencerminkan realitas ekonomi Membutuhkan professional judgement pada penerapan standard akuntansi.

IFRS juga menggunakan fair value dalam penilaian, jika tidak ada nilai pasar aktif harus melakukan penilaian sendiri atau menggunakan jasa penilai. Selain itu IFRS mengharuskan pengungkapan(disclosure) yang lebih banyak baik kwantitatif maupun kualitatif. 2. SAK-ETAP SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. ETAP yaitu Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal. ETAP menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises. SAK-ETAP diterbitkan pada tahun 2009 dan berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan pada 1 Januari 2010. SAK ini diterapkan secara retrospektif namun jika tidak praktis dapat diterapkan secara prospektif yang berarti mengakui semua asset dan kewajiban sesuai SAK ETAP juga tidak mengakui asset dan kewajiban jika tidak diizinkan oleh SAK-ETAP, selain itu Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai SAK-ETAP juga menerapkan pengukuran asset dan kewajiban yang diakui SAK ETAP.

Manfaat SAK ETAP Dengan adanya SAK ETAP diharapkan perusahaan kecil dan menangah dapat untuk menyusun laporan keuangannya sendiri juga dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga perusahaan dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usahanya. Manfaat lain dari SAK ETAP antara lain : 1. Lebih mudah implementasinya dibandingkan PSAK-IFRS karena lebih sederhana 2. Walaupun sederhana namun tetap dapat memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan 3. Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia serta dibuat lebih ringkas 4. SAK ETAP masih memerlukan profesional judgement namun tidak sebanyak untuk PSAK-IFRS 5. Tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan PSAK lama, namun ada beberapa hal yang diadopsi/modifikasi dari IFRS/IAS SAK ETAP terdiri dari 30 Bab dan daftar istilah yang mempermudah untuk memahami SAK ini. STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK Standar akuntansi sector publik adalah kerangka demi berjalannya fungsi-fungsi tahapan siklus Akuntansi Sektor Publik, yaitu perencanaan, penganggaran, realisasi anggaran, pengadaan barang dan jasa, pelaporan, audit, dan pertanggung jawaban publik. Di Indonesia, standar akuntansi yang telah digunakan yaitu Standar Akuntansi Keuangan (SAK), Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN). Ini merupakan panduan bagi pemakainya dalam melaksanakan fungsi terkait. Standar-standar tersebut merupakan Acuan yang telah disepakati dan ditetapkan oleh organisasi yang berkompetensi serta berwenang dalam bidang terkait.

Lingkup Standar Akuntansi Sektor Publik Berdasarkan kebutuhan tersebut, pedoman akuntansi ini disusun dengan tujuan sebagai berikut: 1. Menyediakan organisasi sector public suatu pedoman akuntansi yang diharapkan dapat diterapkan bagi pencatatan transaksi keuangan organisasi sector public yang berlaku dewasa ini 2. Menyediakan organisasi sector public suatu pedoman akuntansi yang dilengkapidengan klasifikasi rekening dan prosedur pencatatan sertajurnal standar yang telah disesuaikan dengan siklus kegiatan organisasi sector public, yang mencangkup penganggaran, perbendaharaan, dan pelaporannya Ragam dan Hubungan Antarstandar Akuntansi Sektor Publik Secara umum terdapat 4 ragam standar yang mengatur organisasi sector public yaitu: 1) 2) 3) 4) Standar Nomenklatur Standar Akuntansi Sektor Publik Standar Pemeriksaan Keuangan Negara Standar Akuntansi Biaya

Manfaat Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik (SAKSP) adalah: a. Meningkatkan kualitas dan realibilitas laporan akuntansi dan keuanganorganisasi sector publik, khususnya dalam hal ini organisasi pemerintahan. b. Meningkatkan kinerja keuangan dan perekonomian. c. Mengusahakan harmonisasi antara persyaratan atas laporan ekonomis dan keuangan. d. Mengusahakan harmonisasi antar yurisdiksi dengan menggunakan dasar akuntansi yang sama.

Penerapan SAKSP akan menghasilkan system akuntansi dan manajemen keuangan pemerintahan yang lebih baik, sehingga laporan keuangan yang dihasilkan mempunyai informasi yang lebih baik. Sementara itu, peramalan serta penganggaran menjadi lebih terpercaya, sama baiknya dengan manajemen terhadap sumber daya ekonomis dan kewajiban. Teknik Penyusunan Standar Untuk mencapai kualitas yang tinggi dan andal, proses penyusunan standar akuntansi harus dilakukan melalui tahap-tahap prosedur yang seksama dan teliti. Hal ini diperlukan mengingat dokumen yang dihasilkan akan mempunyai status sebagai standar resmi dengan tingkat otoritas yang tinggi. Berikut adalah tahap tahap dalam menyusun standar akuntansi (Suwardjono,2006:109): 1. 2. Evaluasi masalah pada tahap awal Mengadakan riset dan analisis

3. Menyusun dan mendistributifkan memorandum diskusi (discussion memorandum) kepada setiap pihak yang berkepentingan 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengadakan Dengar Pendapat Umum (public hearing) Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan publik atas memorandum diskusi Menerbitkan draft awal standar yang telah diusulkan Menganalisis dan mempertimbangkan tanggapan tertulis Memutuskan (keputusan penerbitan) Menerbitkan (penerbitan pernyataan)

STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN Setelah mengalami proses yang panjang, Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah lama dinantikan oleh berbagai pihak telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (PP SAP). Dengan ditetapkannya PP SAP maka untuk pertama kali Indonesia memiliki standar akuntansi pemerintahan. Menandai Dimulainya Implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan, Wakil Presiden RI meluncurkan Standar Akuntansi Pemerintahan di Istana Wakil Presiden pada tanggal 6 Juli 2005. Acara ditandai dengan penyerahan Standar Akuntansi Pemerintahan Kepada Ketua BPK, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Gubernur DKI Jakarta, Bupati Toli-Toli dan Walikota Pangkal Pinang. Dalam sambutannya Wakil presiden menyatakan keharusan implementasi SAP bagi pemerintah pusat dan daerah. Latar Belakang terbitnya PP SAP Gagasan perlunya standar akuntansi pemerintahan sebenarnya sudah lama ada, namun baru pada sebatas wacana. Seiring dengan berkembangnya akuntansi di sector komersil yang dipelopori dengan dikeluarkannya Standar Akuntansi Keuangan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (1994), kebutuhan standar akuntansi pemerintahan kembali menguat. Oleh karena itu Badan Akuntansi Keuangan Negara (BAKUN), Departemen Keuangan mulai mengembangkan standar akuntansi. Bergulirnya era reformasi memberikan sinyal yang kuat akan adanya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Salah satunya adalah PP 105/2000 yang secara eksplisit menyebutkan perlunya standar akuntansi pemerintahan dalam pertanggungjawaban keuangan daerah. Pada tahun 2002 Menteri Keuangan membentuk Komite Standar Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah yang bertugas menyusun konsep standar akuntansi pemerintah pusat dan daerah yang tertuang dalam KMK 308/KMK.012/2002. UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengamanatkan bahwa laporan pertanggungjawaban APBN/APBD harus disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi Pemerintahan, dan standar tersebut disusun oleh suatu komite standar yang indenden dan ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharan Negara kembali mengamanatkan penyusunan laporan pertanggungjawaban pemerintah pusat dan daerah sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan, bahkan mengamanatkan pembentukan komite yang bertugas menyusun standar akuntansi pemerintahan dengan keputusan presiden. Dalam penyusunan standar harus melalui langkah-langkah tertentu termasuk dengar pendapat (hearing), dan meminta

pertimbangan mengenai substansi kepada BPK sebelum ditetapkan dalam peraturan pemerintah.. Proses Penyusunan SAP Komite standar yang dibentuk oleh Menteri Keuangan sampai dengan tahun pertengahan tahun 2004 telah menghasilkan draf SAP yang terdiri dari Kerangka konseptual dan 11 pernyataan standar, kesemuanya telah disusun melalui due procees. Proses penyusunan (Due Process) yang digunakan ini adalah proses yang berlaku umum secara internasional dengan penyesuaian terhadap kondisi yang ada di Indonesia. Penyesuaian dilakukan antara lain karena pertimbangan kebutuhan yang mendesak dan kemampuan pengguna untuk memahami dan melaksanakan standar yang ditetapkan. Tahap-tahap penyiapan SAP adalah sebagai berikut: a. Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar b. Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP c. Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja d. Penulisan draf SAP oleh Kelompok Kerja e. Pembahasan Draf oleh Komite Kerja f. Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan g. Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft) h. Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearing) dan Dengar Pendapat Publik (Public Hearings) i. Pembahasan Tanggapan dan Masukan Terhadap Draf Publikasian j. Finalisasi Standar

Kandungan PP SAP Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan terdiri dari: Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan - PSAP 01: Penyajian Laporan Keuangan; - PSAP 02: Laporan Realisasi Anggaran; - PSAP 03: Laporan Arus Kas; - PSAP 04: Catatan atas Laporan Keuangan; - PSAP 05: Akuntansi Persediaan; - PSAP 06: Akuntansi Investasi; - PSAP 07: Akuntansi Aset Tetap; - PSAP 08: Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan; - PSAP 09: Akuntansi Kewajiban; - PSAP 10: Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa Luar- Biasa: - PSAP 11: Laporan Keuangan Konsolidasian. PP SAP akan digunakan sebagai pedoman dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah pusat dan daerah berupa: 1. Neraca, 2. Laporan Realisasi Anggaran,

3. Laporan Arus Kas, dan 4. Catatan atas Laporan Keuangan.

Dengan adanya SAP maka laporan keuangan pemerintah pusat/daerah akan lebih berkualitas (dapat dipahami, relevan, andal dan dapat diperbandingkan). Dan laporan tersebut akan diaudit terlebih dahulu oleh BPK untuk diberikan opini dalam rangka meningkatkan kredibilitas laporan, sebelum disampaikan kepada para stakeholder antara lain: pemerintah (eksekutif), DPR/DPRD (legislatif), investor, kreditor dan masyarakat pada umumnya dalam rangka tranparansi dan akuntabilitas keuangan negara.

Manfaat Standar Akuntansi


Manfaat Standar Akuntansi Keuangan Sektor Publik (SAKSP) adalah: a. Meningkatkan kualitas dan realibilitas laporan akuntansi dan keuanganorganisasi sector publik, khususnya dalam hal ini organisasi pemerintahan. b. Meningkatkan kinerja keuangan dan perekonomian. c. Mengusahakan harmonisasi antara persyaratan atas laporan ekonomis dan keuangan. d. Mengusahakan harmonisasi antar yurisdiksi dengan menggunakan dasar akuntansi yang sama. Penerapan SAKSP akan menghasilkan system akuntansi dan manajemen keuangan pemerintahan yang lebih baik, sehingga laporan keuangan yang dihasilkan mempunyai informasi yang lebih baik. Sementara itu, peramalan serta penganggaran menjadi lebih terpercaya, sama baiknya dengan manajemen terhadap sumber daya ekonomis dan kewajiban. MANFAAT PSAK- IFRS Manfaat dari penerapan IFRS sebagai berikut : 1. Meningkatkan daya banding laporan keuangan 2. Memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal Internasional 3. Menghilangkan hambatan arus modal Internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan 4. Mengurangi biaya pelaporan keuangan perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis 5. Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju best practice Jadi walaupun Indonesia harus menyesuaikan standard keuangan dengan IFRS namun hal ini akan mempermudah untuk pelaporan keuangan meskipun aka nada perubahan-perubahan dalam penyusunan laporan keuangan itu sendiri yang bersifat menyuluruh. Manfaat SAK ETAP Dengan adanya SAK ETAP diharapkan perusahaan kecil dan menangah dapat untuk menyusun laporan keuangannya sendiri juga dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga perusahaan dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usahanya. Manfaat lain dari SAK ETAP antara lain :

1. Lebih mudah implementasinya dibandingkan PSAK-IFRS karena lebih sederhana 2. Walaupun sederhana namun tetap dapat memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan 3. Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia serta dibuat lebih ringkas 4. SAK ETAP masih memerlukan profesional judgement namun tidak sebanyak untuk PSAK-IFRS 5. Tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan PSAK lama, namun ada beberapa hal yang diadopsi/modifikasi dari IFRS/IAS

PERBEDAAN ANTARA SAK DAN SAP Perbedaan SAK dan SAP Perbandingan Definisi Aktiva, Kewajiban dan Ekuitas menurut PSAK dan SAP SAK SAP Aktiva sumber daya yang dikuasai sumber daya ekonomi yang oleh perusahaan sebagai dikuasai dan/atau dimiliki oleh akibat dari peristiwa masa pemerintah sebagai akibat dari lalu dan dari mana manfaat peristiwa masa lalu dan dari ekonomi di masa depan mana manfaat ekonomi dan diharapkan akan diperoleh atau sosial di masa depan perusahaan. diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber- sumber daya yang dipelihara karena Balasan sejarah dan budaya. Kewajiban hutang perusahaan masa kini utang yang timbul dari yang timbul dari peristiwa peristiwa masa lalu yang masa lalu, penyelesaiannya penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan mengakibatkan aliran keluar arus keluar dari sumber daya sumber daya ekonomi perusahaan yang pemerintah mengandung manfaat ekonomi. Ekuitas hak residual atas aktiva Dikenal dengan ekuitas dana perusahaan setelah dikurangi adalah kekayaan bersih semua kewajiban. hak pemerintah yang merupakan residual selisih antara aset dan atas aktiva perusahaan setelah kewajiban pemerintah. dikurangi semua kewajiban.

Perbedaan Konseptual SAP dan SAK


Terdapat perdaann antara standar akuntansi pemerintah dan standar akuntansi keuangan sbb:

1. Perbedaan SAK dan SAP, SAP digunakan oleh entitas yang bertanggung jawabmenyediakan barang dan jasa untuk rakyat, sementara SAK digunakan oleh entitas yangbertanggung jawab mencari laba untuk pemilik/pemegang saham.

2. Perbedaan SAK dengan SAP, SAK menggunakan basis akrual sedangkan SAPmenggunakan basis kas menuju akrual. contohnya : A. Pengakuan pendapatan, dalam laporan keuangan BLU (Badan Layanan Umum)versi SAK seluruh pendapatan yang secara akrual telah terjadi pasti akandilaporkan, namun dalam laporan keuangan versi SAP hanya pendapatan yangtelah diterima kasnya saja yang akan dilaporkan. B. Penyusutan aset tetap, SAK mewajibkan dilakukan perhitungan penyusutan akantetapi SAP justru tidak menghitung penyusutan tersebut.

3. Perbedaaan antara SAP dan SAK juga terletak pada komponen laporan keuangannya.Yang berbeda dari SAP adalah tidak adanya laporan rugi/laba dalam Pemerintahan dikenal dengan laporan kinerja keuangan (surplus/defisit). Laporan ini mengukurkeberhasilan operasi entitas selama periode tertentu. Keberhasilan digambarkan dari kemampuan entitas dalam menciptakanan surplus. Surplus terjadi bila total pendapatan lebih besar dari biaya yang dikeluarkan dan defisit bila total pendapatan lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan. Informasi dari laporan surplus/defisit sangat penting bagi pengguna laporan keuangan untuk mengambil keputusan mengenai profitabilitas, nilaiinvestasi dan kelayakan kredit.