Anda di halaman 1dari 13

qwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyui opasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfgh jklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvb nmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwer Reaksi Substitusi dan Substitusi Nu:pada C Jenuh tyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopas Akhmad Faizal (9) dan

Rafly Fajar (10) dfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzx cvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmq wertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuio pasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghj klzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbn mqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmqwerty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc vbnmqwertyuiopasdfghjklzxcvbnmrty uiopasdfghjklzxcvbnmqwertyuiopasdf ghjklzxcvbnmqwertyuiopasdfghjklzxc
Kimia Polimer

Reaksi Substitusi
Pengertian Reaksi Substitusi Reaksi substitusi adalah suatu reaksi penggantian gugus fungsional pada senyawa kimia tertentu dengan gugus fungsional yang lain. Contoh reaksi subtitusi :

Jenis-jenis Reaksi Substitusi Beberapa macam reaksi substitusi adalah : Substitusi nukleofilik Substitusi nukleofilik terjadi ketika reagen yang berperan adalah suatu nukleofil. Nukleofil adalah molekul yang dapat menyumbangkan sepasang elektron membentuk ikatan kimia dalam reaksi. Contoh nukleofil :

Semakin ke kanan tingkat nukleofil semakin tinggi Menurut konsep asam basa Lewis nukleofil adalah suatu basa, sedangkan elektrofil adalah suatu asam. Reaksi senyawa karbon pada dasarnya adalah reaksi antara suatu nukleofil dengan suatu elektrofil. Pada reaksi substitusi nukleofilik atom/gugus yang diganti mempunyai elektronegativitas lebih besar dari atom C, dan atom/gugus pengganti adalah suatu nukleofil, baik nukleofil netral atau nukleofil yang bermuatan negatif. Reaktivitas relatif dalam reaksi substitusi nukleofilik dipengaruhi oleh reaktivitas nukleofil, struktur alkilhalida dan sifat dari gugus terlepas. Reaktivitas nukleofil dipengaruhi oleh basisitas, kemampuan mengalami polarisasi, dan solvasi.

Reaksi nukleofilik substitusi ini dapat melalui dua macam mekanisme, yaitu SN1 dan SN2

Reaksi SN1 (Substitusi Nukleofilik Unimolekular) Reaksi SN1 terjadi dengan melibatkan hanya satu spesies saja. Reaksi SN1 melibatkan nukleofil yang menggantikan gugus yang keluar dari substrat. Kecepatan laju reaksi ini bergantung pada konsentrasi suatu reaktan. Reaksi SN1 terjadi melalui dua tahap yaitu: 1) Gugus keluar lalu substrat membentuk karbokation 2) Nukleofil menyerang karbokation dan membentuk produk baru Tahap pertama merupakan tahap yang berlangsung lama. Pada tahap ini, gugus akan pergi dan membentuk karbokation. Pada reaksi SN1, karbokation tersier lebih stabil dibandingkan karbokation sekunder dan karbokation primer.

Tahap kedua merupakan tahap yang berlangsung cepat. Pada tahap ini, nukleofil menyerang karbokation dan membentuk senyawa baru.

Reaksi SN2 (Substitusi Nukleofilik Bimolekular) Pada reaksi SN2 harus memiliki kenukleofilan yang tinggi untuk dapat mendorong keluar suatu gugus. Pembentukan ikatan nukleofil dengan karbon terjadi secara bersamaan dengan

lepasnya ikatan antara karbon dengan suatu gugus. Pada saat transisi karbon berikatan dengan nukleofil dan gugus secara bersamaan.

Sehingga jika dirangkum perbedaan antara SN1 dan SN2 adalah

SN2 - Reaksi serempak/serangan dari belakang

SN1 - proses melalui 2 tahap

- Bereaksi dengan nukleofilik (Nu) kuat/basa -Bereaksi dengan nukleofil lewis, ex: lemah/basa lewis, ex: H2O, ROH
-

OH, -OR, -CN

- Bereaksi baik dengan alkil

- Bereaksi baik dengan alkil halida primer dan Tersier > sekunder (lambat), Halida sekunder, Halida anilik dan benzyl halida anilik dan benzyl halida - Pelarut non polar/polar aprotic - Pelarut polar/ polar protic

Substitusi Elektrofilik Aromatik Elektrofil adalah spesies (atom / ion / molekul) yang kekurangan elektron, sehingga elektrofilik suka akan elektron. Contoh elektrofil :

Benzena memiliki rumus molekul C6H6, dari rumus molekul tersebut semestinya benzena termasuk golongan senyawa hidrokarbon tidak jenuh. Namun ternyata benzena mempunyai sifat kimia yang berbeda dengan senyawa hidrokarbon tidak jenuh. Beberapa perbedaan sifat benzena dengan senyawa hidrokarbon tidak jenuh adalah diantaranya bahwa benzena tidak mengalami reaksi adisi melainkan mengalami reaksi substitusi. Pada umumnya

reaksi yang terjadi terhadap molekul benzena adalah reaksi substitusi elektrofilik, hal ini disebabkan karena benzena merupakan molekul yang kaya elektron. Reaksi substitusi elektrofilik aromatik sering terjadi pada benzena.

Hal ini disebabkan senyawa benzena yang memiliki ikatan rangkap berselang seling yang dapat beresonansi sehingga karakter ikatan rangkapnya menjadi hilang. Reaksi-reaksi yang umum terjadi pada benzena dan turunannya adalah reaksi substitusi elektrofilik. Terdapat 4 macam reaksi substitusi elektrofilik terhadap senyawa benzena, yaitu : 1. Reaksi Halogenasi Pada proses halogenisasi dibutuhkan katalis untuk memudahkan reaksi terjadi. Katalis yang dapat digunakan adalah AlCl3, AlBr3. Sebagai elektrofil adalah Cl+ yang didapat dari reaksi antara Cl2 + AlCl3.

2. Reaksi Nitrasi

Elektrofil yang berperan pada reaksi nitrasi adalah ion NO2+ (ion nitronium). Ion NO2+ dibuat dengan mereaksikan asam sulfat (H2SO4) dengan asam nitrat (HNO3).

3. Reaksi Sulfonasi Benzena bereaksi lambat dengan H2SO4 pada suhu tinggi menghasilkan asam benzena sulfonat.

Elektrofil yang berperan dalam reaksi tersebut ialah SO3 yang merupakan elektrofil relatif kuat karena atom S yang kekurangan elektron atau SO3H+ yang dihasilkan dari reaksi

4. Reaksi Friedel-Crafts Reaksi Friedel-Crafts meliputi reaksi alkilasi dan reaksi asilasi. Reaksi alkilasi :

Alkilasi Friedel-Crafts terbatas pada penggunaan alkil halida sebagai substrat. Sebagai elektrofil dalam reaksi alkilasi Friedel-Crafts adalah ion karbonium (R+). Dengan melibatkan ion karbonium, maka seringkali terjadi reaksi penyusunan ulang (rearrangement) membentuk karbonium yang lebih stabil. Contoh reaksi alkilasi :

Reaksi asilasi Sebagai elektrofil dalam reaksi asilasi Friedel-Crafts adalah ion asilium. Dalam reaksi alkilasi dan asilasi Friedel-Crafts juga digunakan katalis asam Lewis, misalnya FeCl3, FeBr3, AlCl3, AlBr3. Contoh reaksi asilasi :

Substitusi Nukleofilik

Pada kimia organik maupun anorganik, substitusi nukleofilik adalah suatu kelompok dasar reaksi substitusi, dimana sebuah nukleofil yang "kaya" elektron, secara selektif berikatan dengan atau menyerang muatan positif dari sebuah gugus kimia atau atom yang disebut gugus lepas (leaving group).

Dengan Nu menandakan nukleofil, : menandakan pasangan elektron, serta R-L menandakan substrat dengan gugus pergi L. Pada reaksi tersebut, pasangan elektron dari nukleofil menyerang substrat membentuk ikatan baru, sementara gugus pergi melepaskan diri bersama dengan sepasang elektron. Produk utamanya adalah R-Nu. Nukleofil dapat memiliki muatan listrik negatif ataupun netral, sedangkan substrat biasanya netral atau bermuatan positif.

Contoh :

Reaksi antara propil klorida (substrat) dengan ion hidroksida (reagen) merupakan contoh reaksi substitusi nukleofilik, Cl- disebut dengan gugus pergi (leaving group).

Nukleofil sendiri sinonim dengan basa Lewis, adalah suatu spesies netral atau anion yang mempunyai pasangan elektron bebas yang berada dalam orbital molekuler berenergi tinggi. Reaksi nukleofil dapat digolongkan menjadi reaksi nukleofil 1 (SN1), reaksi nukleofil 2 (SN2).

Mekanisme substitusi nukleofilik Pada dasarnya terdapat 2 mekanisme substitusi nukleofilik yaitu :

Reaksi nukleofil 2 (SN2) Nukleofil menyerang dari belakang ikatan C-L. Pada satu keadaan (keadaan peralihan) nukleofil dan gugus bebas keduanya berasosiasi dengan karbon dimana substitusi terjadi. Pada saat gugus bebas membawa serta elektronnya nukleofil memberikan pasangan elektron lain. Lambang 2 digunakan untuk mekanisme kerja ini sebab reaksi ini adalah bimolekuler atau dua molekul, yaitu nukleofil dan substrat terlibat dalam 2 tahap kunci (memang hanya satu-satunya tahap) dalam mekanisme reaksi.

Adapun cara mengetahui suatu nukleofil dan substrat bereaksi dengan mekanisme SN2 yaitu :

1.

Karena nukleofil dan substrat terlibat, kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi kedua

pereaksi tersebut. Reaksi ion hidroksida dengan etil bromide adalah salah satu contoh reaksi SN2. Jika konsentrasi basa (OH-) dilipat duakan, kita dapati bahwa reaksi berjalan dua kali lebih cepat.Hasil yang sama diperoleh jika konsentrasi etil bromide di lipatduakan. Akan kita lihat segera bahwa sifat kecepatan reaksi begini tidak terdapat pada proses SN1. 2. Reaksi terjadi dengan pembalikan(inverse) konfigurasi. misalnya, jika kita mereaksikan

(R)-2-bromobutana dengan natrium hidroksida, akan diperoleh (S)-2-butanol. ion hidroksida harus menyerang dari belakang ikatan C-Br. Pada saat substitusi terjadi, ke tiga gugus yang melekat pada karbon sp3 membalik. Jika OH menempati kedudukan yang samadengan Br, tentu (R)-2-butanol yang akan diperoleh. jika substrat R-L bereaksi melalui mekanisme SN2, reaksi terjadi lebih cepat apabila R merupakan gugus metil atau gugus primer, dan lambat jika R adalah gugus tersier. Gugus R sekunder mempunyai kecepatan pertengahan. Alasan untuk urutan reaktivitas jika kita menggambarkan mekanisme SN2. Di bagian belakang karbon, tempat penggantian terjadi, keadaannya akan semakin berdesakan apabila gugus alkil yang melekat pada karbon yang membawa gugus pergi semakin banyak, sehingga reaksinya menjadi lambat.

Mekanisme reaksi SN2 hanya terjadi pada alkil halida primer dan sekunder. Nukleofil yang menyerang adalah jenis nukleofil kuat seperti -OH, -CN, CH3O-. Serangan dilakukan dari belakang. Untuk lebih jelas, perhatikan contoh reaksi mekanisme SN2 bromoetana dengan ion hidroksida berikut ini.

Mekanisme SN1 mekanisme SN1 adalah proses dua tahap. pada tahap pertama, ikatan antara karbon dan gugus bebas putus, atau substrat terurai. electron electron ikatan terlepas bersama dengan gugus

bebas, dan terbentuklah ion karbonium. pada tahap kedua, yaitu tahap cepat, ion karbonium bergabung dengan nukleofil membentuk hasil. Pada mekanisme SN1 substitusi terjadi dua tahap. Lambang 1 digunakan sebab pada tahap lambat hanya satu dari dua pereaksi yang terlibat, yaitu substrat. tahap ini tidak melibatkan nukleofil sama sekali. dikatakan, bahwa tahap pertama bersifat unimolekuler. Adapun cara mengetahui suatu nukleofil dan substrat bereaksi dengan mekanisme SN2 yaitu : 1. kecepatan reaksi tidak bergantung pada konsentrasi nukleofil. Tahap penentu kecepatan adalah tahap pertama nukleofil tidak terlibat. Setelah tahap ini terjadi, ion karbonium bereaksi dengan nukleofil. 2. Jika karbon yang membawa gugus bebas bersifat kiral, reaksi mengakibatkan hilangnya aktivitas optic (yaitu, rasemisasi). Pada ion karbonium, hanya ada tiga gugus yang melekat pada karbon positif. Karena itu, karbon positif mempunyai hibridisasi sp2 dan berbentuk datar. 3. Jika substrat R-L bereaksi melalui mekanisme SN1, reaksi berlangsung cepat jika R merupakan struktur tersier, dan lambat jika R adalah struktur primer. Reaksi SN1 berlangsung melalui ion karbonium, sehingga urutan kereaktifannya sama dengan urutan kemantapan ion karbonium. Reaksi bergantung lebih cepat jika ion karbonium lebih mudah terbentuk.

1.

2.

3. Jadi, reaksi substitusi nukleofilik terdiri dari dua jenis yaitu substitusi nukleofilik bimolekuler (Sn-2) dan substitusi nukleofilik unimo-lekuler (Sn-1). Reaktan yang lazim digunakan untuk

reaksi substitusi nukleofilik adalah organo halida karena ion halogen (X") adalah mempakan nukleofil yang sangat lemah (gugus pergi) yang baik. FAKTOR FAKTOR yg mempengaruhi jalannya Rx Substitusi Nu: 1. GUGUS PERGI (LEAVING GROUP) - berangkat dgn e ikatannya - basa konyugasi dr asam kuat. (nilai pKa < 5 ) 2. NUKLEOFIL SN1 SN2 kenukleofilan rendah kenukleofilan tinggi

3. Tempat substitusi C primer : SN2 C tersier : SN1

CH3 H3C C+ CH3 TERSIER CH3CH2

CH3 C+ CH3CH2CH2 H SEKUNDER

H C+ H PRIMER

4. Pengaruh Pelarut

Pelarut polar atau protik dapat melarutkan anion dan kation yang terbentuk dalam tahap reaksi

Pelarut nonpolar tidak melarutkan nukleofil

Perbandingan mekanisme SN1 dan SN2

SN2 Stuktur Halida Primer atau CH3 sekunder tersier Stereokimia Nukleofil Terjadi Kadang kadang Tidak Pembalikan Kecepatan bergantung pada konsentrasi nukleofil, mekanisme memilih nukleofil anion Pelarut Kecepatan sedikit dipengaruhi kepolaran pelarut Tidak

SN1

Kadang kadang Terjadi Rasemisasi Kecepatan tidak bergantung pada konsentarsi nukleofil, mekanisme memilih nukleofil netral Kecepatan sangat dipengaruhi kepolaran pelarut

Referensi : http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/STRUKTUR%20DAN%20TATANAMA%20BENZENA.pdf http://www.chemguide.co.uk/organicprops/alkanes/halogenation.html http://www.chem.ucalgary.ca/courses/351/Carey5th/Ch08/ch8-2.html http://www.wyzant.com/resources/lessons/science/chemistry/nucleophilic-substitution-reactions https://www.iit.edu/arc/workshops/pdfs/SN1_SN2.pdf