Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN I.1.

Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal. Terdapat beberapa tipe diabetes yang diketahui dan umumnya disebabkan oleh suatu interaksi yang kompleks antara faktor genetik, lingkungan dan gaya hidup. Bila hal ini dibiarkan tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler jangka panjang, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Di Amerika Serikat, DM merupakan penyebab utama dari end-stage renal disease (ESRD), nontraumatic lowering amputation, dan adultblindness. Dengan

peningkatan insiden di dunia, maka DM akan menjadi penyebab utama angka morbiditas dan mortalitas dimasa yang akan datang. (Harrison, 2005) Jumlah penderita Diabetes mellitus di dunia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah populasi yang meningkat, life expectancy bertambah, urbanisasi yang merubah pola hidup tradisional ke pola hidup modern, prevalensi obesitas meningkat dan kegiatan fisik kurang. Diabetes mellitus perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik progresif, jumlah penderita semakin meningkat dan banyak dampak negatif yang ditimbulkan. (Wild, 2004) Di Indonesia berdasarkan penelitian epidemiologis didapatkan prevalensi Diabetes mellitus sebesar 1,5 2,3% pada penduduk yang usia lebih 15 tahun, bahkan di daerah urban prevalensi DM sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar 7,2%. Prevalensi tersebut meningkat 2-3 kali dibandingkan dengan negara maju, sehingga Diabetes mellitus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang

Universitas Sumatera Utara

serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia tahun 2003 penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun sebesar 133 juta jiwa, maka pada tahun 2003 diperkirakan terdapat penderita DM di daerah urban sejumlah 8,2 juta dan di daerah rural sejumlah 5,5 juta. Selanjutnya berdasarkan pola pertambahan penduduk diperkirakan pada tahun 2030 akan terdapat 194 juta penduduk yang berusia di atas 20 tahun maka diperkirakan terdapat penderita sejumlah 12 juta di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. (PERKENI, 2006) Penderita Diabetes Mellitus dibandingkan dengan penderita non Diabetes Mellitus mempunyai kecenderungan 2 kali lebih mudah mengalami trombosis serebral, 25 kali terjadi buta, 2 kali terjadi penyakit jantung koroner, 17 kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 50 kali menderita ulkus diabetika. Komplikasi menahun Diabetes mellitus di Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner 20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1%. (Tjokroprawiro, 2006) Neuropati merupakan komplikasi diabetes yang klasik. Komplikasi neurologis dari diabetes seringkali melibatkan saraf perifer. Polineuropati distal merupakan neuropati diabetik yang paling sering yang bermanifestasi progresif lambat, simetris dengan pola glove and stocking. (Howard dkk., 2004). Kira-kira lima belas persen pasien dengan diabetes mellitus mempunyai tanda dan gejala neuropati, hampir 50% juga mempunyai gejala nyeri neuropatik dan gangguan hantaran saraf. Neuropati paling sering dijumpai pada penderita diabetes yang berumur lebih dari 50 tahun, jarang dijumpai pada usia dibawah 30 tahun dan sangat jarang pada anak-anak. (Adams dan Victor, 2005)

Universitas Sumatera Utara

Neuropati diabetik disebabkan oleh berbagi mekanisme yang dipicu oleh tingginya kadar glukosa darah (hiperglikemi). Akibatnya, neuropati dapat menunjukkan berbagai macam gejala yang berbeda, bergantung mekanisme yang terlibat. Salah satunya yaitu, hiperglikemi mengganggu metabolisme saraf yang mengakibatkan distal neuropati. Efek lain yaitu, inflamasi dari pembuluh darah kecil (mikrovaskulitis atau vaskulopati) yang mengganggu aliran darah ke saraf. Mekanisme ini dapat mengenai satu saraf saja yang disebut fokal neuropati, atau multiple yang disebut multifokal neuropati. ( Latov, 2007) Neuropati merupakan komplikasi utama dari diabetes yang mengakibatkan tingginya angka morbiditas. Prevalensi pasti tidak diketahui dan dilaporkan bervariasi mulai dari 10% hingga 90% pada pasien diabetes bergantung kepada kriteria dan metode yang digunakan. Hubungan yang kuat antara hipergikemi dan perkembangan dari neuropati dilaporkan pada banyak studi. (Fazan dkk., 2010). Deteksi dini neuropati diabetik sangat penting pada pasien dengan diabetes karena pencegahan bisa menurunkan morbiditas dan mortalitas, tetapi tidak ada gold standard untuk mendiagnosa polineuropati. San Antonio konsensus merekomendasikan paling kurang memenuhi satu dari lima kategori yang diukur yaitu, simptom skor, pemeriksaan fisik skor, quantitative sensory testing (QST) cardiovascular autonomic function (cAFT) dan elektrodiagnostik. (Jan-Willem dkk, 2003) Patofisiologi neuropati diabetik melibatkan banyak faktor seperti metabolik, vaskuler, autoimmune, oxidative stress dan neurohormonal growth factor defisiensi. Studi terbaru melaporkan bahwa oxidative stress mengakibatkan

Universitas Sumatera Utara

metabolik sindrom dan penyakit neurodegenerative, serum gamma-glutamyl transferase (GGT) merupakan marker awal oxidative stress. ( Andre dkk, 2007). Oxidative stress memegang peranan penting pada etiologi dan pathogenesis diabetes. Mereka menginvestigasi perubahan produksi reactive oxygen spesies (ROS) pada mitokondria dan sistem pertahanan antioksidan di mitokondria. Hiperglikemi, auto-oxidation dari glycated protein, peningkatan produksi reactive oxygen spesies (ROS), penurunan antioxidant defense, peningkatan lipid perooxidation dan membrane degenerasi merupakan penyebab utama dari apoptosis atau nekrosis, yang umumnya terdapat pada diabetes. (Raza, dkk. 2004) Lee, dkk. (2004) meneliti peranan serum gamma glutamyltransferase (GGT) sebagai prediktor dalam pathogenesis diabetes, serta hubungan GGT dan obesitas pada perkembangan diabetes tipe 2 pria dan wanita. Mereka menyimpulkan bahwa kadar serum GGT sebagai prediktor kuat untuk diabetes, baik pada pria maupun wanita, dan menduga bahwa GGT berperan dalam patogenesis diabetes sebagi oxidative stress. Lee, dkk (2003) melakukan penelitian kadar GGT sebagai prediktor diabetes dan hipertensi pada 4844 pria dan wanita kulit hitam dan putih. Mereka menyimpulkan bahwa kadar GGT sebagi prediktor kuat untuk hipertensi dan diabetes. Mereka menduga keterlibatan kadar GGT pada patogenesis diabetes melalui mekanisme oxidative stress. Andre, dkk (2007) melakukan penelitian hubungan kadar GGT dan

metabolik sindrom, serta kadar GGT sebagai prediktor diabetes. Mereka

Universitas Sumatera Utara

menyimpulkan bahwa kadar GGT merupakan prediktor diabetes tipe 2 dan berhubungan dengan insiden metabolik sindrom. Fraser, dkk (2003) melakukan penelitian pada 4286 wanita usia 60-79 tahun dengan median follow-up 7,3 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa GGT lebih baik sebagai prediktor diabetes dibandingkan ALT. Ford, dkk (2008) melakukan suatu studi case-cohort analysis untuk menguji hubungan kadar GGT dan ALT dengan insiden diabetes, pada subjek usia 35-65 tahun di European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition-Postdam Study. Sampel penelitian terdiri dari 787 partisipan dengan diabetes dan 2224 partisipan tanpa diabetes. Mereka menyimpulkan bahwa konsentrasi GGT dan ALT signifikan sebagai prediktor insiden diabetes. Nakanishi, dkk, (2004) melakukan penelitian hubungan antara kadar GGT dan resiko metabolik sindrom dan diabetes tipe 2 pada pria Jepang. Mereka menyimpulkan bahwa kadar GGT menjadi prediktor penting untuk perkembangan metabolik sindrom dan diabetes tipe 2. Wannamethee, dkk. (2005) melakukan penelitian hubungan antara enzim hati, metabolik sindrom dan diabetes tipe 2. Mereka menyimpulkan bahwa peningkatan kadar ALT dan GGT sebagai prediktor untuk insiden diabetes tipe 2. Lee, dkk. (2004) melakukan penelitian kadar GGT, obesitas dan resiko diabetes tipe 2, pada 20.158 pria dan wanita, dengan usia antara 25 64 tahun selama 10 tahun. Mereka menyimpulkan bahwa kadar GGT sebagai prediktor kuat untuk insiden diabetes tipe 2. Dan peranan GGT dalam patogenesis diabetes sebagai oxidative stress.

Universitas Sumatera Utara

Lee, dkk. (2006) melakukan penelitian kadar GGT sebagai prediktor morbiditas dan mortalitas penyakit jantung pada 3451 partisipan (usia rata-rata 44 tahun, 52% wanita). Mereka menyimpulkan bahwa peningkatan kadar GGT dapat memprediksi onset dari metabolik sindrom dan insiden penyakit kardiovaskuler. Cho, dkk (2010) melakukan penelitian terhadap 90 orang penderita Diabetes Mellitus tipe 2, yang meneliti hubungan antara serum GGT dan Polineuropati Diabetik. Pada tiap penderita diberikan kuesioner yang berisi informasi lengkap berupa usia, jenis kelamin, riwayat merokok, riwayat konsumsi alkohol, durasi DM, riwayat hipertensi dan penyakit kardiovasular, dan gejala-gejala yang

berhubungan dengan neuropati. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan yaitu: serum GGT,AST,ALT, glycosylated hemoglobin (HbA1c), creatinin, C-reactive protein (CRP) dan profil lipid. Cho, dkk (2010) memeriksa kecepatan hantaran saraf menggunakan Synergy instrument (Oxford Medelec,Wiesbaden, Germany) pada 20- 250C suhu kamar. Gambaran neuropati berdasarkan evaluasi latensi, amplitudo dan konduksi pada kedua nervus motorik medianus, ulna, tibial posterior, dan peroneal. Nervus sensorik pada kedua medianus, ulnaris, suralis, dan peroneal superfisialis. Cho, dkk (2010) mendapatkan 46 penderita pria dan 44 wanita dengan usia rata-rata 59 tahun. Rata-rata body mass index (BMI) 24,4 (kg/m2), lingkar pinggang rata-rata 87.8 cm. Rata-rata durasi diabetes 8,7 tahun, dengan nilai ratarata untuk HbA1c 8.0%, KGD puasa 8.2 mmol/L, KGD 2jam PP 12.9 mmol/L, GGT 42.4 UI/L.

Universitas Sumatera Utara

Cho, dkk (2010) menyimpulkan bahwa, peningkatan kadar serum GGT berhubungan dengan manifestasi klinis polineuropati diabetik pada pasien DM tipe 2.

I.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah hubungan antara kadar gamma glutamyl transferase dengan kecepatan hantaran saraf pada penderita polineuropati diabetika. I.3. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk : 1.3.1 Tujuan Umum : Untuk mengetahui hubungan kadar gamma glutamyl transferase dengan kecepatan hantaran saraf pada penderita polineuropati diabetik. 1.3.2 Tujuan Khusus 1.3.2.1 Mengetahui hubungan kadar gamma glutamyl transferase dengan kecepatan hantaran saraf pada penderita neuropati diabetik di RS H. Adam Malik Medan. 1.3.2.2 Mengetahui hubungan kadar gamma glutamyl transferase dengan KGD N, KGD 2 jam PP, HbA1c, ALT dan AST pada penderita neuropati diabetik di RS H.adam malik Medan. 1.3.2.3 Untuk mengetahui gambaran kecepatan hantaran saraf pada penderita neuropati diabetik berdasarkan umur, jenis kelamin, dan lamanya menderita diabetes di RS H.Adam Malik Medan.

Universitas Sumatera Utara

1.4. Hipotesis Ada hubungan antara kadar Gamma Glutamyltransferase dan Kecepatan Hantaran Saraf pada penderita neuropati diabetik. 1.5 Manfaat 1.5.1 Dengan adanya penelitian ini diharapkan didapatkan suatu gambaran hubungan antara kadar gamma glutamyltransferase dengan kecepatan hantaran saraf yang dapat dipakai dalam penegakan diagnosa serta pencegahan neuropati diabetik. 1.5.2 Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai referensi penelitian berikutnya dengan sampel yang lebih besar, waktu yang lebih lama dengan tempat penelitian yang lebih banyak.

Universitas Sumatera Utara