Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI MANGROVE

Oleh : Rahmi Haryani Susi Susanti Awaliatun Nur Azizah Fitri Diah Permatasari M. Reza Putratama B1J010011 B1J010036 B1J011 B1J011160 B1J011166

Kelompok : 17 Rombongan : II Asisten : Mukhlisal Ibrahim

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Deskripsi lokasi praktikum Kawasan Segara Anakan merupakan salah satu aset di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang sangat potensial untuk digali sebagai salah satu daerah tujuan wisata.Keanekaragaman hayati yang dimiliki Kawasan Segara Anakan dapat dijadikan sebagai penarik minat wisatawan untuk datang berkunjung. Kawasan tersebut diyakini memiliki komposisi maupun struktur hutan mangrove terlengkap dengan 26 spesies dan terluas di Pulau Jawa.Bahkan, keberadaan hutan mangrove Segara Anakan memiliki peran penting dalam pengasuhan (nursery ground) dan tempat mencari makan (feeding ground) berbagai jenis burung migrasi.Selain itu, hutan tersebut juga berperan sebagai tempat pemijahan (spawning ground) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya (Baharuddin, 1993). Segara Anakan adalah sebuah laguna yang terletak di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Laguna tersebut dari perspektif lingkungan hidup merupakan suatu ekosistem unik yang terdiri dari badan air yang bersifat payau, hutan mangrove, dan lahan rendah yang dipengaruhi oleh pasang surut. Ekosistem tersebut berfungsi sebagai tempat pemijahan udang dan ikan, sebagai habitat burung-burung air migran dan non migran, serta sebagai habitat berbagai jenis reptil dan mamalia. Perspektif sumber daya air, laguna tersebut termasuk dalam DAS Segara Anakan yang merupakan bagian hilir dari wilayah sungai Citanduy. Kawasan Segara Anakan terletak dikabupaten Cilacap, propinsi Jawa Tengah pada koordinat 07034 29.42LS 42- 0704732.39LS dan 10804630.12BT10900321.02 BT yang meliputi wilayah kurang lebih 34.018 ha.Luas hutan mangrove Segara Anakan pada tahun 1997 sekitar 13.577 ha (Budiman, 1985). Laguna Segara Anakan berhubungan dengan Samudra Hindia melalui dua plawangan (kanal), yaitu plawangan barat dan plawangan timur. Praktikum ekologi mangove kali ini terletak pada plawangan barat dari Segara Anakan. Plawangan Timur lebih panjang dan dangkal, sedangkan Plawangan Barat lebih pendek tetapi relatif lebih

dalam, sehingga Plawangan Barat lebih berperan dalam hal interaksi pasang surut air laut (Mulyadi, 2009). Kawasan Segara Anakan terdapat 26 spesies mangrove dengan beberapa spesies dominan dan mempunyai nilai ekonomi penting seperti Rhizophora apiculata, R. mucronata, dan Bruguiera gymnorhiza. Banyak spesies mangrove, ikan ,udang, moluska, burung dan mamalia yang ditemukan di laguna, atau area mangrove (Budiman, 1985) melaporkann lebih dari 45 spesies ikan yang terdiri atas ikan domersal, 12 ikan yang menetap, dan 16 ikan yang migran. Lebih dari 85% spesies ikan tersebut merupakan ikan komoditas ekonomi tinggi. Crustacea bernilai ekonomis tinggi antara lain Scylla spp., Portunus pelagicus,Tellina spp., Penaeus merguensiss, P.chinensis, P.monodon, Metapenaeus ensis , M.elegan, M.dopsoni. Tahun 2000, produksi perikanan di laguna mencapai 488 ton yang terdiri atas 41% udang, 39% ikan, 13% kepiting, dan 7% biota lain (Budiman,1985).

Gambar 1. Lokasi Segara Anakan Cilacap, Jawa tengah

Gambar 2. Lokasi Praktikum Plawangan Timur Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah

B. Tujuan praktikum Acara I dan II Identifikasi Vegetasi Mangrove Mengidentifikasi beberapa spesies tumbuhan mangrove di lingkungan mangrove Segara Anakan dan mengetahui bagian-bagiab morfologi khas tumbuhan mangrove tersebut. Acara III dan IV Identifikasi Makrobenthos Ekosistem Mangrove Mengetahui keanekaragaman spesies makrobenthos yang hidup di ekosistem mangrove Segara Anakan dan mengetahui karakter morfologi makrobenthos sebagai dasar identifikasi. Acara V dan VI Analisis Vegetasi Mengetahui struktur, komposisi, dan distribusi tumbuhan mangrove di Segara Anakan, melalui densitas, frekuensi, distribusi, nilai penting, indeks diversitas dan indeks similaritas.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi Alat dan bahan yang digunakan saat praktikum ekologi mangrove sebagai berikut : Acara I dan II Identifikasi Vegetasi Mangrove Objek yang diamati meliputi beberapa spesies tumbuhan mangrove, buku identifikasi, buku gambar, dan alat tulis. Acara II dan IV Identifikasi Makrobenthos Ekosistem Mangrove Objek yang diamati berupa hewan makrobenthos, alkohol 40 %, botol sampel, dan buku identifikasi. Acara V dan VI Analisi Vegetasi Objek yang diamati meliputi seluruh spesies tumbuhan mangrove, baik tergolong mangrove mayor, minor, atau asosiasi, tali rafia, patok, dan meteran.

B. Metode

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Foto Tabel 1. Indeks nilai penting plot 5x5 stasiun 1


Kerapatan relatif (%) 42.85714286 28.57142857 14.28571429 14.28571429 Frekuensi relatif (%) 42.85714286 28.57142857 14.28571429 14.28571429 Dominansi relatif (%) 21.49053333 10.73275154 17.79053781 49.98617732

Spesies Bruguiera gymnorhiza Ceriops tagal Rhizophora apiculata Aegiceras corniculatum

Nilai penting 107.204819 67.87560868 46.36196639 78.55760589

Tabel 2. Indeks nilai penting plot 1x1 stasiun 1


Kerapatan relatif (%) 76 12 4 4 4 Frekuensi relatif (%) 42.85714286 14.28571429 14.28571429 14.28571429 14.28571429

Spesies Bruguiera gymnorhiza Ceriops tagal Nypa fruticans Aegiceras corniculatum Rhizophora apiculata

Nilai penting 118.8571429 26.28571429 18.28571429 18.28571429 18.28571429

Tabel 3. Indeks nilai penting plot 5x5 stasiun 2


Kerapatan relatif (%) 0.279069767 0.651162791 0.023255814 0.046511628 frekuensi relatif (%) 0.375 0.375 0.125 0.125 dominansi relatif (%) 0.380104257 0.570083985 0.014480162 0.035331596

spesies Rhizophora apiculata Ceriops tagal Aegicerras corniculatum Rhizophora mucronata

nilai penting 1.034174025 1.596246775 0.162735976 0.206843224

Tabel 4. Indeks nilai penting plot 1x1 stasiun 2


kerapatan relatif (%) 0.0625 0.9375 frekuensi relatif (%) 0.4 0.6

Spesies Rhizophora apiculata Ceriops tagal

nilai penting 0.4625 1.5375

B. Pembahasan Nilai penting merupakan suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (kerapatan relatif, kerimbunan relatif, dan frekuensi relatif). Jika disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh: Nilai Penting = KR + DR + FR. Harga relatif ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. Dua jenis tumbuhan yang memiliki harga nilai penting terbesar dapat digunakan untuk menentukan penamaan untuk vegetasi tersebut (Surasana, 1990). Indeks Nilai Penting (INP) adalah jumlah nilai relatif (DR), frekuensi relatif (FR), dan penutupan relatif (KR) dari mangrove (Bengen, 2000). Indeks nilai penting merefleksikan keberadaan peran dominansi dan struktur vegetasi mangrove disuatu lokasi. Berdasarkan hasil perhitungan INP, nilai indeks penting tertinggi di stasiun satu adalah untuk jenis Rhizophora mucronata sebesar 6.693259 dan yang terendah adalah jenis Aegiceras corniculatum, Rhizophora apiculata dan Nypa fruticans yaitu sebesar 2, sedangkan stasiun 2 nilai indeks penting yang tertinggi adalah Bruguiera gymnoriza yaitu sebesar 3 dan yang terendah adalah Nypa fruticans sebesar 2. Berdasarkan hal tersebut dapat dinyatakan bahwa tidak ada pola regenerasi yang baik dan berkesinambungan di ketiga daerah tersebut. Ketiga jenis Rhizophora sebenarnya dapat tumbuh dengan baik pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai, dengan ciri akar tunggang yang melengkung dan rapat mengakibatkan komunitas tersebut sukar ditembus oleh manusia. Namun pembukaan tambak yang terlalu rapat telah mengakibatkan terputusnya pola regenerasi di daerah tersebut. Aktivitas pembuatan pemukiman di sekitar hutan bakau juga mengakibatkan penebangan bakau secara besar-besaran. Juga ditengarai adanya kondisi yang mengakibatkan terjadinya hipersalinitas akibat pembukaan tambak garam di darah muara sungai. Hipersalinitas cenderung mematikan bakau dan membentuk daerah gundul sehingga mangrove tidak dijumpai di daerah tersebut.