Anda di halaman 1dari 7

Erti sebuah kehidupan. Setiap insan pasti menemui kematian kerana kematian itu suatu yang pasti.

Kehidupan di dunia adalah sementara sedangkan kehidupan di akhirat kekal abadi. Namun, apa persediaan kita untuk kehidupan di akhirat sana? Allahu Allah.. Renungan sejenak..Terkadang dalam meneruskan kehidupan yang masih berbaki ini, kita alpa mengenai saat pertemuan dengan Allah s.w.t. Pesan seorang ustaz, setiap malam sebelum tidur, niatkanlah di dalam hati untuk tergolong dalam kalangan orang-orang yang bertaqwa. Mesti bercita-cita, berazam dan berusaha untuk merealisasikan agar sifat-sifat, cara kehidupan mukmin bertaqwa mampu dibumikan dalam kehidupan seharian kita. Masa terus berputar. Detik demi detik berlalu pergi. Adakalanya diri tersedar, adakalanya dalam kealpaan. Kerana itu, masa perlu digunakan sebaiknya. Seandainya tidak digunakan secara optimum untuk amal kebaikan, nescaya ruang-ruang kosong itu akan terisi dengan perkara-perkara biasa yang tidak mampu memberikan sumbangan kebaikan kepada diri di dunia mahupun akhirat sana. Allahu Allah. Yang dinamakan kehidupan di dunia itu adalah sebatas ruang waktu yang dianugerahkan Allah kepada kita. Kematian itu pemutus kehidupan di dunia dan penyambung kehidupan di akhirat. Bagaimana kita menggunakan masa, begitulah kita sedang menguruskan kehidupan. Sesungguhnya dunia merupakan persinggahan yang bersifat fana. Manakala akhirat merupakan tempat yang kekal abadi. Manusia merupakan perantau untuk menuju destinasi utamanya iaitu akhirat. Cita-citaku, cita-citamu jua. Kerana kita adalah saudara yang mempunyai ikatan yang paling indah iaitu, ikatan akidah. Menyemai cita-cita untuk akhirat. Seorang muslim itu perlu mempunyai cita-cita untuk akhiratnya sebagaimana cita-cita yang biasa kita dengari.Misalnya, ada yang bercita-cita untuk menjadi doktor, guru mahupun tentera. Untuk mencapai cita-cita itu memerlukan usaha dan kesungguhan. Demikianlah, cita-cita untuk akhirat adalah untuk memperoleh kejayaan di dunia mahupun akhirat dengan izin Allah s.w.t. Bertaqwa, kerana sesungguhnya manusia yang paling mulia di sisi Allah s.w.t adalah orang-orang yang bertaqwa. Dengan itu, dia akan sentiasa berjuang mempertingkatkan diri, menjadikan ruang kehidupannya penuh dengan kesungguhan. Menyusun strategi dengan mempergunakan dunia dengan sebaik-baiknya sebagai jambatan. Sesungguhnya Allah menyukai seorang muslim yang melakukan kerjanya dengan penuh kesungguhan. Begitulah sewajarnya seorang muslim, sentiasa proaktif untuk mencapai citacitanya. Tanpa matlamat yang jelas, tanpa wawasan akhirat, hidup jadi terumbang-ambing ibarat kapal hampir karam. Sesungguhnya seluruh kehidupan ini adalah milik Allah s.w.t. Kita adalah hamba

dan khalifah di muka bumi Allah ini. Semarakkan hidup dengan cita-cita dan wawasan untuk akhirat. Kita niatkan kehidupan ini kerana Allah sebagaimana hadith pertama di dalam kitab hadith Matan Arbain Imam Nawawi, maksud sabda Rasulullah s.a.w, Sesungguhnya amalan itu berdasarkan niat. (Riwayat al- Bukhari).Pesan buat diri yang sering alpa.

CITA-CITA Cita-cita adalah sesuatu yang terkandung dalam hati seseorang baik angan-angan, keingina, harapan, maupun tujuan yang akan diperoleh di massa mendatang atau bisa disebut dengan hal yang berkaitan dengan tujuan hidup seseorang menyangkut masa depan. Di dalamnya tersimpan sejuta harapan dan perasaan yang menggebu-gebu untuk mewujudkannya menjadi hal yang mungkin bukan mustahil. Manusia memiliki cita-cita dan diberikan ruang untuk memperoleh suatu yang diinginkanya akan tetapi Allah yang menentukan. Agar cita-citanya terkabul, manusia harus mendekatkan diri kepada Allah serta berusaha dengan totalitas. Hal ini berdasarkan QS. Al-Anfaal: 53 Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu merubah nasibnya sendiri. Bila cita-cita belum tercapai akibat terpenuhinya persyaratan maka cita-cita itu disebut harapan. Sebagai contoh, ada seorang guru yang bercita-cita lulus dalam kualifikasi pendidik. Secara pedagogik, professional, dan sosial sudah memadai. Namun secara kepribadian belum mencapai persyaratan sehingga cita-citanya untuk lulus dalam kualifikasi pendidik masih dalam harapan.

Namun demikian cita-cita yang bertaruh harapan masih merupakan unsur pandangan hidup, karena masih memberi kemungkinan ada keberhasilan dan ini mendorong manusia untuk tetap berusaha mengatasi kegagalan yang dialami. Seperti seorang guru di atas, apabila ia sudah memenuhi uji kompetensi secara kepribadian , dengan ridha Allah ia akan berhasil dalam meraih cita-citanya. Jadi harapan mampu membangkitkan kreativitas menuju keberhasilan cita-cita. Dalam hal ini manusia hanya berusaha tetapi Allahlah yang menentukan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang akan mendapatkan cita-citanya: Faktor Manusia yang mau mencapai cita-citanya ditentukan oleh kualitas orang tesebut, maksudnya adalah kesungguhan untuk berusaha dala menggapai cita-cita tersebut. Faktor Kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang merugikan, tergantung kondisi yang ada dalam sekitar kita dan kitanya sendiri sebagai pelaku apakah memperdulikan kondisi ini atau tidak. Faktor Tingginya Cita-Cita yang merupakan faktor ketiga untuk mencapai cita-cita, tapi sesungguhnya faktor ini tidak terlalu berpengaruh asalkan cita-cita kita sebanding dengan usaha kita yang ingin kita capainya. C. KEBAJIKAN Perbuatan dimana seseorang berbuat kebaikan kepada orang lain untuk membantunya tanpa mengharapkan

pamrih. Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Kebajikan merupakan sesuatu yang dapat mendatangkan keselamatan, keuntungan, kemakmuran, keselarasan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Manusia berbuat kebaikan, karena sesuai dengan kodratnya manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci. Dengan kesucian hatinya mendorong manusia mendorong untuk berbuat baik. Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari tiga sudut pandang yaitu, manusia sebagai pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat, dan manusia sebagai makhluk Tuhan. Manusia sebagai pribadi dapat menentukan sesuatu yang baik atau buruk, karena manusia dibekali hati untuk menentukan itu. Hal itu berdasarkan pertimbangan uara hati manusia. Pada dasarnya suara hati menunjukkan manusia kepada sesuatu yang baik, namun terkadang manusia mengingkarinya. Demikian pula dengan suara hati masyarakat, yang menentukan baik buruknya tentang sesuatu adalah masyarakat itu sendiri. Karena belum tentu baik menurut pribadi, baik pula jika diterapkan pada masyarakat. Sebagai anggota dari masyarakat manusia tidak dapat bebas dari persoalan kemasyarakatan. Sebagai manusia sebagai makhluk tuhan, manusia harus mendengarkan serta menjalankan apa yang yang menjadi perintah dan larangan-Nya.

Jadi dapat dikatakan bahwa kebajikan adalah suatu perbuatan atau tindakan yang terpadu antara suara hati manusia, suara hati masyarakat dan hokum-hukum tuhan. D. USAHA/PERJUANGAN Hal yang terus diperjuangkan dengan motif tertentu untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan demi tercapainya ambisi tersebut dan dilakukan dengan sungguh sungguh. Usaha /perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun denan tenaga/jasmani, atau dengan keduaduanya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan, karena kemampuan terbatas timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya. E. KEYAKINAN/KEPERCAYAAN Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat yaitu (a) aliran naturalisme; hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari nature, dan itu dari Tuhan. Tetapi yang tidak percaya pada Tuhan, nature itulah yang tertinggi. Aliran naturalisme berisikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada (b) aliran intelektualisme; dasar aliran ini adalah logika/akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir, mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun

bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan piker (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi, teknologi adalah alat Bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan akal. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal.Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini disebut liberalisme. Kebebasan akal menimbulkan kebebasan bertingkah laku dan berbuat, walaupun tingkah lakudan perbuatannya itu bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal lebih ditekankan pada setiap individu. Karena itu individu yang berakal (berilmu dan berteknologi) dapat menguasai individu yang berpikir rendah (bodoh) (c) aliran gabungan. Dasar aliran ini idalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani). Jadi apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani. Apabial aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbil dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomorduakan,

kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme. Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, keduaduanya mendasari keyakinan secara berimbang, akan dalam arti baik sebagia logika berpikir maupun sebagai daya rasa (hati nurani), logika berpikir baik secara individual maupun secara kolektif panangan hidup ini disebut sosialisme-religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.