Anda di halaman 1dari 10

NEURODERMATITIS SIRKUMSKRIPTA Nur Hidayah

1.1. Definisi Neurodermatitis sirkumskripta atau juga dikenal dengan liken simpleks kronis adalah penyakit peradangan kronis pada kulit, gatal, sirkumskripta, dan khas ditandai dengan likenifikasi. Likenifikasi timbul sebagai respon dari kulit akibat gosokan dan garukan yang berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama, atau kebiasaan menggaruk pada satu area tertentu pada kulit sehingga garis kulit tampak lebih menonjol menyerupai kulit batang kayu. 1.2. Epidemiologi Penyakit ini dapat mengenai semua kelompok umur mulai dari anak-anak sampai dewasa. Kelompok usia dewasa 30 50 tahun paling sering mengalami keluhan neurodermatitis. (1,2) Neurodermatitis dapat terjadi pada laki-laki dan wanita, tetapi lebih sering dilaporkan terjadi pada wanita terutama pada umur pertengahan. Neurodermatitis jarang terjadi pada anak-anak, karena neurodermatitis merupakan penyakit yang bersifat kronis dan dipengaruhi oleh keadaan emosi dan penyakit yang mendasarinya.(2) Dilihat dari ras dan suku bangsa, Asia terutama ras mongoloid lebih sering terkena penyakit ini kemungkinan karena faktor protein yang dikonsumsinya berbeda dengan ras dan suku bangsa lainnya. (4,5,6) 1.3. Etiologi Etiologi pasti neurodermatitis sirkumskripta belum diketahui, namun diduga pruritus memainkan peranan karena pruritus berasal dari pelepasan mediator atau aktivitas enzim proteolitik. (1,2)
(1,2,3)

Disebutkan juga bahwa garukan dan gosokan mungkin respon terhadap stres emosional. Selain itu, faktor-faktor yang dapat menyebabkan neurodermatitis seperti pada perokok pasif, dapat juga dari makanan, alergen seperti debu, rambut, makanan, bahanbahan pakaian yang dapat mengiritasi kulit, infeksi dan keadaan berkeringat. (1,2,3,5) Keadaan ini menimbulkan iritasi kulit dan sensasi gatal sehingga penderita sering menggaruknya. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena adanya penyakit yang mendasari, misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran empedu, limfoma Hodgkin, hipertiroidia, penyakit kulit seperti dermatitis atopik, gigitan serangga, dan aspek psikologik dengan tekanan emosi. (2) 1.5. Patogenesis Liken simpleks kronis ditemukan pada regio yang mudah dijangkau tangan untuk menggaruk. Sensasi gatal memicu keinginan untuk menggaruk atau menggosok yang dapat mengakibatkan lesi yang bernilai klinis, namun patofisiologi yang mendasarinya masih belum diketahui. Perubahan histopatologi likenifikasi pada neurodermatitis sirkumskripta bervariasi tergantung dari lokasi dan durasinya. (1,5)

Paling sering ditemukan akantosis dan hiperkeratosis dengan berbagai tingkatan. Rete ridges tampak memanjang dengan semua komponen epidermis mengalami hiperplasia. Dermis bagian papil dan sub-epidermal mengalami fibrosis dan terdapat pula serbukan infiltrat radang kronis dan limfa histiosit di sekitar pembuluh darah. Pada lesi yang sudah sangat kronis, khususnya pada likenifikasi yang gigantik (sangat besar), akantosis dan hiperkeratosis dapat dilihat secara gross, dan rete ridges tampak ireguler namun tetap memanjang dan melebar. (1,2)

1.6. Gejala Klinis Penderita penyakit ini akan mengeluh rasa gatal yang sangat mengganggu aktivitas, dan dirasakan terutama ketika penderita tidak sedang beraktivitas. Rasa gatal akan berkurang bila digaruk, dan penderita akan berhenti menggaruk bila sudah timbul luka, akibat tergantikannya rasa gatal dengan rasa nyeri. (1,2)
2

Lesi yang muncul biasanya tunggal, bermula sebagai plak eritematosa. Plak tersebut biasanya berbentuk plakat dan dapat memiliki 3 zona, yaitu:

a. Zona perifer. Zona ini selebar 2-3 cm yang tidak menebal dan dapat berisi papul. b. Zona media. Zona ini dapat memiliki papul lentikular yang mengalami ekskoriasi. c. Zona sentral. Zona ini merupakan zona yang memiliki penebalan paling parah dan alterasi pigmentasi. (1,5)

Selain bentuk plak, lesi pada liken simpleks kronik dapat muncul dengan sedikit edema. Lambat laun edema dan eritema akan menghilang, lalu muncul skuama pada bagian tengah dan menebal. Likenifikasi, ekskoriasi, dengan sekeliling yang hiperpigmentasi, muncul seiring dengan menebalnya kulit, dan batas menjadi tidak tegas. Gambaran klinis juga dipengaruhi oleh lokasi dan lamanya lesi. (1,2)

Penyakit ini memiliki predileksi di punggung, leher, dan ekstremitas terutama pergelangan tangan dan lutut. Neurodermatitis sirkumskripta merupakan proses yang sekunder ketika seseorang mengalami sensasi gatal pada daerah kulit yang spesifik dengan atau tanpa kelainan kulit yang mendasar yang dapat mengakibatkan trauma mekanis pada kulit yang berakhir dengan likenifikasi. (1,2)

Skuama pada penyakit ini dapat menyerupai skuama pada psoriasis. Variasi klinis dari liken simplek kronik dapat berupa prurigo nodularis, akibat garukan atau korekan tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus berbentuk kubah, permukaan mengalami erosi tertutup krusta dan skuama, yang lambat laun akan menjadi keras dan berwarna lebih gelak. Lesi biasanya multiple, dan tempat predileksi di ekstrimitas. (1,2)

Keparahan gatal dapat diperburuk bila pasien berkeringat, pasien berada pada suhu yang lembab, atau pasien terkena benda yang merangsang timbulnya gatal. Gatal juga dapat bertambah pada saat pasien mengalami stres psikologis. Pada pasien muda, keluhan gatal umumnya kurang dirasakan karena tidak begitu mengganggu aktivitasnya, akan tetapi
3

keluhan gatalnya sangat dirasakan seiring bertambahnya usia dan 4 faktor pemicu stressnya. (1,2,6)

Gambar 1 : Regio dorsum pedis dextra, tampak plak hiperpigmentasi, soliter, bentuk oval, ukuran 4 x 6 cm,batas tegas, ireguler, permukaan likenifikasi, bagian sentral tampak eritem,sebagian erosi , tepi permukaan ditutupi skuama sedang selapis warna putih. (1,2)

Gambar 2 : Kawasan Predileksi (5,6)

1.5. Diagnosis: Diagnosis untuk liken simpleks kronis dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. (2) Pasien dengan neurodermatitis sirkumskripta mengeluh merasa gatal pada satu daerah atau lebih sehingga timbul plak yang tebal karena mengalami proses likenifikasi. Biasanya rasa gatal tersebut muncul pada tengkuk, leher, ekstensor kaki, siku, lutut, pergelangan kaki. Eritema biasanya muncul pada awal lesi. Rasa gatal muncul pada saat pasien sedang beristirahat dan hilang saat melakukan aktivitas dan biasanya gatal timbul intermiten. Pemeriksaan fisis menunjukkan plak yang eritematous, berbatas tegas, dan terjadi likenifikasi. Terjadi perubahan pigmentasi, yaitu hiperpigmentasi. (2,5) 1.5. Diagnosis Banding Kasus-kasus primer yang umumnya menyebabkan likenifikasi adalah : a. Plak psoriasis : Psoriasis merupakan gangguan peradangan kulit yang kronik, dengan karakteristik plak eritematous, berbatas tegas, berwarna putih keperakan,skuama yang kasar, berlapis-lapis, transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Lokasi terbanyak ditemukan didaerah ekstensor. Beberapa hipotesa telah mendapatkan bahwa penyakit ini bersifat autoimun dan residif. (2)

Gambar 3 : Plak Psoriasis Kronis. (1)

b. Dermatitis kontak alergi: Dermatitis kontak alergik terjadi bila alergen atau senyawa sejenis menyebabkan reaksi hipersensitvitas tipe lamat pada paparan . Penderita umumnya mengeluh gatal pada area yang terpajan/kontak dengan sensitizer/alergen.
(1)

Gambar 4 : Dermatitis kontak alergi. (1)

c. Dermatitis atopik: Peradangan kulit kronis yang residif disertai gatal, yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya di lipatan. (1) Gambaran lesi kulit pada remaja dan dewasa dapat berupa plak papuler, eritematosa, dan berskuama atau plak likenifikasi yang gatal. Lokasi dermatitis atopik pada lipat siku dan lipat lutut (fleksor) hilang pada usia 2 tahun, pada neurodermatitis sirkumskripta pada siku dan punggung kaki (ekstensor) dan berlanjut sampai tua. (1)

1.6. Penatalaksanaan Penatalaksanaan dari neurodermatitis sirkumskripta secara primer adalah untuk mengurangi pruritus dan meminimalkan lesi yang ada dan menghindarkan pasien dari kebiasaan menggaruk dan menggosok secara terus-menerus.(1,5,7,8) Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti : a. Kortikosteroid topikal : Kortikosteroid Topikal, sampai saat ini masih merupakan pilihan pengobatan. Pemberiannya akan lebih efektif jika diaplikasikan kemudian dibalut dengan perban oklusif kering. (1,5,7,8) 1. Clobetasol : Topical steroid super poten kelas 1: menekan mitosis dan menambah sintesis protein yang mengurangi peradangan dan menyebabakan vasokonstriksi. 2. Betamethasone dipropionate cream 0,05%. Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan

memeperbaiki permeabilitas kapiler. 3. Triamcinolone 0,025 %, 0.1%, 0.5 % atau ointment: Untuk peradangan kulit yang berespon baik terhadap steroid. Bekerja mengurangi peradangan dengan menekan migrasi leukosit polimorfonuklear dan

memeperbaiki permeabilitas kapiler. 4. Fluocinolone cream 0.1 % or 0.05% : Topical kortikosteroid potensi tinggi yang menghambat proliferasi sel. Mempuyai sifat imonusupresif dan sifat anti peradangan. b. Obat oral anti anxietas, sedasi dan antidepresi (1,5,8)

Obat oral dan anti anxietas dapat dipertimbangkan pada beberapa pasien. Menurut kebutuhan individual, penatalaksanaan dapat dijadwalkan setiap hari, pada saat pasien tidur, atau keduanya.

Antihistamin seperti dipenhydramine dan hidroxyzine biasa digunakan. Doxepin dan clonazepam dapat dipertimbangkan pada beberapa kasus. Amitriptilin merupakan antidepresi trisiklik. Amitriptilin bekerja dengan menghambat pengambilan kembali neurotransmiter di otak. Amitriptilin mempunyai 2 gugus metil, termasuk amin tersier sehingga lebih resposif terhadap depresi akibat kekurangan serotonin.

c. Agen anti pruritus (5,7,8) Obat oral dapat mengurangi gatal dengan memblokir efek pelepasan histamin secara endogen. Gatal berkurang, pasien merasa tenang atau sedatif dan merangsang untuk tidur. Obat topikal menstabilisasi membrane neuron dan mencegah inisiasi dan transmisi implus saraf sehingga memberi aksi anestesi lokal. 1. Difenhidramin Untuk meringankan gejala pruritus yang disebabkan oleh pelepasan histamin.

2. Cholorpheniramine Bekerja sama dengan histamin atau permukaan reseptor H1 pada sel efektor di pembuluh darah dan traktus respiratori. 3. Hidroxyzine Reseptor H1 antagonis diperifer. Dapat menekan aktifitas histamine diregion subkortikal sistem saraf pusat. 4. Klonazepam Untuk anxietas yang disertai pruritus. Berikatan dengan reseptor-reseptor di SSP, termasuk sistem limbik dan pembentukan retikular. Efeknya bisa dimediasi melalui reseptor GABA.
8

1.6. Prognosis Prognosis untuk penyakit neurodermatitis adalah : a) Lesi bisa sembuh dengan sempurna. b) Rasa gatal dapat diatasi, likenifikasi yang ringan dan perubahan pigmentasi dapat diatasi setelah dilakukan pengobatan c) Relaps dapat terjadi, apabila dalam masa stress atau tekanan emosional yang meningkat. d) Pengobatan untuk pencegahan pada stadium-stadium awal dapat membantu untuk mengurangi proses likenifikasi. Biasanya prognosis berbeda-beda, tergantung dari kondisi pasien, apabila ada gangguan psikologis dan apabila ada penyakit lain yang menyertai. Pengobatan yang teratur dapat meringankan kondisi pasien. Penyebab utama dari gatal dapat hilang, atau dapat muncul kembali. (1,2,5,8)

DAFTAR PUSTAKA 1. Sterling JC. Virus infections. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, eds . Rooks Textbook of Dermatology.8th . United Kingdom: Wiley-Blackwell;2012.p. 1023-6. 2. Wolff K. Viral infection of skin and mucosa. In: Richard AJ, Wolff K, eds. Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of Clinical Dermatology.6th United Kingdom: Wiley Blackwell; 2007. p.81-2. 3. James WD. Viral diseases. In: James WD, Timoty G, Berger D. Andrews Diseases of The Skin: Clinical Dermatology. 10thed. Canada: Saunders Elsevier; 2006. p.58. 4. Sterling JC. Virus infections. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology.7th United Kingdom: Wiley-Blackwell;2012.p. 1741-4. 5. Suyoso, S. Pengobatan dermatitis numularis dan neurodermatitis sirkumskripta. Neurodermatitis, 2008. 1, 20. 6. Jin-Gang An, et al., Quality Of Life of Patients with Neurodermatitis. International Journal of Medical Science, 2013. 10(1): p. 6. 7. Hunter J. Infections. In: Hunter J, Savin J, Dahl M. Clinical Dermatology. 3rded.United States of America: Blackwell Publishing Company; 2002. p. 2-4. 91 & 187. 8. Habif TP. Bacterial infections. In: Habif TP, editor. Clinical Dermatology:A Color Guide to Diagnosis and Therapy. 4th , Hanover, USA: Mosby; 2003. p.228-30

10