Anda di halaman 1dari 27

Shinta P/ Metode Numerik / 2005

1


Metode
Numerik
Diktat Kuliah



Dosen :
Shinta Puspasari

Program Studi
Teknik Informatika
STMIK MDP
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
2
AKAR AKAR PERSAMAAN
Salah satu permasalahan dalam matematika adalah mencari penyelesaian dari suatu
persamaan. Misalkan suatu persamaan diberikan sebagai berikut
h(x) = g(x)
untuk menyelesaikan persamaan tersebut kita dapat melakukan manipulasi aljabar
sehingga diperoleh persamaan
h(x) g(x) = 0
Mislkan h(x) g(x) = f(x) , maka diperoleh persamaan
f(x) = 0
dari langkah di atas dapat diketahui bahwa untuk menentukan penyelesaian dari
persamaan , sama saja dengan menentukan akar dari persamaan yaitu saat fungsi
bernilai nol.
Untuk menentukan nilai akar dari fungsi, biasanya dilakukan dengan manipulasi
aljabar terhadap persamaan. Namun ada banyak persamaan yang tidak bias diselesaikan
dengan cara ini. Sehingga harus dicari dengan melakukan hampiran (Approximation)
terhadap nilai akar.
Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk menghampiri nilai akar
sebenarnya, beberapa di antaranya akan dibahas berikut ini.

1. METODE PENGURUNG ( BRACKETING METHOD)
Metode ini menggunakan tehnik mengurung akar dalam suatu interval nilai.
Sehingga langkah pertama yang dilakukan yaitu dengan menentukan interval nilai
dimana akar berada. Misalkan x adalah akar dari fungsi dan interval nilai pengurung
akar adalah a < x < b, maka
f(x
u
) . f(x
l
) < 0.
Pertidaksamaan di atas menunjukkan bahwa akar benar benar terkurung dalam
interval nilai a < x < b .

1.1 Metode Grafis ( Graphical Method )
Metode ini adalah yang paling sederhana untuk mencari akar dari persamaan
dengan cara menggambar grafik dari fungsi dan mengamati titik yang teletak pada
sumbu x ( dimana kurva fungsi memotong sumbu x ).
Langkah pencarian akar dengan metode grafis ,yaitu :
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
3
Langkah 1 : Pilih selang inteval pencarian awal x
l
< x < x
u
dimana x
l
= batas bawah
dan x
u
batas atas. Kemudian lakukan pengujian apakah akar terdapat dalam
interval , yaitu f(x
u
) . f(x
l
) < 0.
Langkah 2 : Ambil titik titik hampiran nilai akar dalam selang dan substitusikan ke
persamaan untuk menghitung nilai fungsi. Kemudian gambar kurva fungsi
berdasarkan nilai fungsi yang diperoleh.
Langkah 3 : Amati kurva, tentukan titik yang terletak pada sumbu x ( dimana kurva
memotong sumbu x ). Jika belum dapat ditentukan maka ambil suatu
interval pencarian baru yang memuat titik tersebut, kemudian kembali ke
langkah 2.

Contoh :



1.2 Metode Bagi Dua ( Bisection Method)
Metode bagi dua melakukan pencarian akar suatu persamaan dengan cara selalu
membagi dua selang pencarian sehingga diperoleh nilai fungsi untuk titik tengah
selang.
Langkah pencarian akar dengan metiode bagi dua :
Langkah 1 : Pilih selang inteval pencarian awal x
l
< x < x
u
dimana x
l
= batas bawah
dan x
u
batas atas. Kemudian lakukan pengujian apakah akar terdapat dalam
interval , yaitu f(x
u
) . f(x
l
) < 0.
Langkah 2 : Taksir nilai akar (x
r
) dalam selang dengan cara membagi dua selang
x
r
=
2
x x
u l
+

Langkah 3 : Lakukan pengujian terhadap nilai fungsi untuk mengetahui inteval
pencarian berikutnya , yaitu dengan cara :
- Jika f(x
l
) . f(x
r
) < 0 , berarti akar terletak pada interval di bawah x
r

sehingga interval pencarian selanjutnya x
l
= x
l
< x < x
u
= x
r
lalu
ulangi langkah ke 2.
- Jika f(x
l
) . f(x
r
) > 0 , berarti akar terletak pada interval di atas xr
sehingga interval pencarian selanjutnya x
l
= x
r
< x < x
u
= x
u
lalu
ulangi langkah ke 2.
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
4
- Jika f(x
l
) . f(x
r
) = 0 , berarti akar sama dengan x
r
maka hentikan
perhitungan.









Contoh :
Tentukan nilai akar dari fungsi berikut f(x) = x
2
2,8 dengan menggunakan interval
nilai 1,5 < x < 2 . Hitung hingga nilai Ea < 5 % !
Penyelesaian :

I. Iterasi 1
0 144375 , 0 2625 , 0 . 55 , 0 ) ( ). (
2625 , 0 8 , 2 0625 , 3 8 , 2 75 , 1 ) (
75 , 1
2
2 5 , 1
2
0 66 , 0 ) ( ). (
55 , 0 8 , 2 5 , 1 ) (
2 , 1 8 , 2 4 8 , 2 2 ) (
2
2
2
< = =
= = =
=
+
=
+
=
< =
= =
= = =
r l
r
u l
r
l u
l
u
x f x f
x f
x x
x
x f x f
x f
x f


II. Iterasi 2
% 5 , 12 % 100 .
625 , 1
75 , 1 625 , 1
0 087656 , 0 15938 , 0 . 55 , 0 ) ( ). (
15938 , 0 8 , 2 640625 , 2 8 , 2 625 , 1 ) (
625 , 1
2
75 , 1 5 , 1
2
75 , 1 , 5 , 1
2
=

=
> = =
= = =
=
+
=
+
=
= =
a
r l
r
u l
r
u l
E
x f x f
x f
x x
x
x x



X
l
X
r
X
u

Jika f(x
l
) . f(x
r
) < 0
Jika f(x
l
) . f(x
r
) > 0
Gambar 1.1 Selang pencarian selanjutnya berdasarkan nilai fungsi
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
5

III. Iterasi 3

% 7595 , 0 % 100 .
6875 , 1
625 , 1 6875 , 1
0 007595 , 0 047656 , 0 . 15938 , 0 ) ( ). (
047656 , 0 8 , 2 847656 , 2 8 , 2 6875 , 1 ) (
6875 , 1
2
75 , 1 625 , 1
2
75 , 1 , 625 , 1
2
=

=
< = =
= = =
=
+
=
+
=
= =
a
r l
r
u l
r
u l
E
x f x f
x f
x x
x
x x

Karena nilai galat Ea < 5 % maka iterasi dapat dihentikan dan diperoleh nilai akar sama
dengan nilai x
r
yaitu 1,6875.


1.3. Metode Posisi Salah ( False Position Method )
Metode ini menghampiri nilai akar suatu fungsi f(x) dalam selang x
l
< x < x
u

dengan cara mengganti kurva fungsi dengan garis lurus sehingga memberikan posisi
palsu dari akar.
.

Gambar 1.2 Desakripsi grafis metode posisi salah

Berdasarkan grafik diatas, diketahui bahwa dengan menggunakan segitiga segitiga
sebangun dapat ditaksir titik perpotongan garis dengan sumbu x yang merupakan nilai
akar dari fungsi.
f(x)
x x
l
x
u
x
r
f(x
u
)
f(x
l
)
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
6

u r l r
x x x dimana persamaan akar merupakan x
) ( ) (
) )( (
) ( ) (
) )( (
) ( ) (
) )( (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
)] ( ) ( [
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
diperoleh maka atas, di persamaan pada kanan ruas pada n dikurangka dan ditambah jika
) ( ) (
) (
) ( ) (
) (
) ( ) (
) ( ) (
persamaan diperoleh akan maka ) ( ) ( dengan dibagi atas di persamaan jika
) ( ) ( )] ( ) ( [
) ( ) ( ) ( ) (
) )( ( ) )( (
) ( ) (
) ( ) (
< <


+ =

+ =

+ =

+ =

+ =

+ =

=
=
=

=

u l
u l u
u r
u l
u l u
u
u l
l u u
u r
u l
u l
u l
u u
u r
u l
u l
u l
u u
u l
l u
u l
l u
u r
u l
u l
u l
u l u
u l
l u
u r
u l
u l
u
u l
l u
u r
u l
u l
u l
l u
u u r
u
u l
u l
u l
l u
u l
u l l u
r
u l
u l l u u l r
u l u r l u l r
l r u u r l
u r
u
l r
l
r u
u
l r
l
x f x f
x x x f
x x
x f x f
x x x f
x
x f x f
x x x f
x x
x f x f
x f x
x f x f
x f x
x x
x f x f
x f x
x f x f
x f x
x f x f
x f x
x f x f
x f x
x x
x f x f
x f x
x f x f
x f x f x
x f x f
x f x
x x
x f x f
x f x
x
x f x f
x f x
x x
x f x f
x f x
x f x f
x f x
x x x
x
x f x f
x f x
x f x f
x f x
x f x f
x f x x f x
x
x f x f
x f x x f x x f x f x
x f x x f x x f x x f x
x x x f x x x f
x x
x f
x x
x f
x x
x f
x x
x f

Langkah penyelesaian dengan metode posisi salah, yaitu
Langkah 1 : Pilih selang interval pencarian awal x
l
< x < x
u
dimana x
l
= batas bawah
dan x
u
batas atas. Kemudian lakukan pengujian apakah akar terdapat dalam
interval , yaitu f(x
u
) . f(x
l
) < 0.
Langkah 2 : Taksir nilai akar (x
r
) dalam selang dengan cara membagi dua selang

) ( ) (
) )( (
u l
u l u
u r
x f x f
x x x f
x x


=
Ulangi terus perhitungan hingga diperoleh hampiran nilai akar sebenarnya

Shinta P/ Metode Numerik / 2005
7
Contoh :
Tentukan nilai akar dari fungsi berikut f(x) = x
2
2,8 dengan menggunakan interval
nilai 1,5 < x < 2 . Hitung hingga nilai Ea < 5 % !
Penyelesaian :
0 ) 2 ( ) 5 , 1 ( ) ( ). ( < = f f x f x f
u l
, sehingga dalam interval tersebut terdapat akar
persamaan .
I. Iterasi 1

0 029633 , 0 05388 , 0 . 55 , 0 ) ( ) (
05388 , 0 8 , 2 746122 , 2 8 , 2 ) 657143 , 1 ( ) (
657143 , 1 342857 , 0 2
75 , 1
) 5 , 0 ( 2 , 1
2
2 , 1 55 , 0
) 2 5 , 1 ( 2 , 1
2
) ( ) (
) )( (
2
> = =
= = =
= =


=


=


=
r l
r
r
r
u l
u l u
u r
x f x f
x f
x
x
x f x f
x x x f
x x


II Iterasi 2

% 8812 , 0 % 100 .
671876 , 1
657143 , 1 671876 , 1
0 00483 , 0 . 05388 , 0 ) ( ) (
00483 , 0 8 , 2 ) 671876 , 1 ( ) (
671876 , 1 328975 , 0 2
14612 , 1
) 342 , 0 ( 2 , 1
2
2 , 1 05388 , 0
) 2 657143 , 1 ( 2 , 1
2
2 , 657143 , 1
2
=

=
> =
= =
= =


=


=
= =
a
r l
r
r
r
u l
E
x f x f
x f
x
x
x x


Karena nilai galat Ea < 5 % maka iterasi dapat dihentikan dan diperoleh nilai akar sama
dengan nilai x
r
yaitu 1,671876.








Shinta P/ Metode Numerik / 2005
8
2. METODE TERBUKA (OPEN METHOD)
2.1 Metode Iterasi Satu Titik
Metode ini menggunakan terkaan awal terhadap satu titik pada fungsi.
Langkah penentuan akar persamaan denagan metode satu titik adalah
Langkah 1 : Bentuk persamaan fungsi f(x) menjadi persamaan f(x) = 0.
Langkah 2 : Susun kembali persamaan f(x) = 0 menjadi sebuah persamaan sedemikian
hingga peubah x berada pada ruas kiri dengan menggunakan manipulasi
aljabar, sehingga diperoleh persamaan x = g(x).
Langkah 3 : Ramalkan nilai akar fungsi f(x) dengan melakukan iterasi menggunakan
rumus x
i+1
= g(x
i
).
Contoh :
Tentukan nilai akar dari fungsi f(x) = x
2
+ x dengan menggunakan metode iterasi satu
titik. Mulai dari x
0
=1 !
Penyelesaian :
Langkah 1 : f(x) = x
2
+ x = 0
Langkah 2 : x
2
+ x = 0
x = - x
2

x
i+1
= g(x
i
) g (x
i
) = -x
i
2

Langkah 3 : x
0
= g (x
0
= 1 ) = - (1)
2

x
0+1
= x1 = g(x0) = - (-1)
2
= -1
x
1+1
= x2 = g(x1) = - (-1)
2
= -1
x
2+1
= x3 = g(x2) = - (-1)
2
= -1

2.2 Metode Newton Raphson
Metode Newton - Raphson diperoleh berdasarkan uraian deret Taylor. Berikut ini
uraiannya
Deret Taylor disajikan sebagai berikut :
f(x
i+1
) f(x
i
) + f (x
i
) (x
i+1
x
i
)
pada perpotongan dengan sumbu x dimana x adalah akar, fungsi f(x
i+1
) akan bernilai
sama dengan nol sehingga diperoleh
0 f(x
i
) + f (x
i
) (x
i+1
x
i
)
setelah dilakukan manipulasi aljabar, diperoleh persamaan berikut
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
9
x
i+1
=
) ( '
) (
x
i
i
i
x f
x f

persamaan di atas merupakan rumus yang digunakan untuk menghampiri nilai akar
dengan menggunakan metode Newton Raphson.
Langkah penghampiran akar dengan metode Newton Raphson :
Langkah 1 : Tentukan titik awal pencarian akar, x
i
Langkah 2 : Taksirlah akar sebenarnya dengan melakukan iterasi menggunakan rumus
x
i+1
=
) ( '
) (
x
i
i
i
x f
x f

Contoh :
f(x)=e
-x
+ x ,hampiri hingga E
a
<10%
Jawab :

6282 , 1 4052 , 0 723 , 0
) 6497 , 1 (
) 9502 , 0 (
723 , 0
) 3 ( '
) 3 (
7231 , 0 7615 , 0 038 , 0
) 11353 , 1 (
) 8646 , 0 (
038 , 0
) 2 ( '
) 2 (
038 , 0 462 , 0
2
1
) 3678 , 1 (
) 6321 , 0 (
2
1
)
2
1
( '
)
2
1
(
2
1
2
1
0
) 0 ( '
) 0 (
4
4
3 4
3
3
2 3
2
2
1
1 1 1
1
0 1 0
= =

=
=
= =

=
=
= =

=
=
=
=

=
=
+
+
x
x
f
f
x x
x
x
f
f
x x
x
x
f
x f
x x
x
f
f
x x




Shinta P/ Metode Numerik / 2005
10


2.3 Metode Secant
Metode Secant merupakan pengembangan dari metode Newton Raphson.
Metode ini menghilangkan fungsi turunan dalam pencarian nilai akar dengan cara
mensubstitusi dengan persamaan yang diperoleh dari uraian deret Taylor.
Dari uraian deret Taylor ( Aproximasi Beda Mundur )
...
! 2
) ( ' '
) ( ' ) ( ) (
2
1
+ =

h
x f
h x f x f x f
i
i i i

diperoleh persamaan

i i
i i
x x
x f x f
x f

1
1
) ( ) (
) ( ' .(i)
Dan dari metode Newton Raphson diperoleh rumus
x
i+1
=
) ( '
) (
x
i
i
i
x f
x f
.(ii)
substitusikan pers (i) ke pers (ii) sehingga diperoleh persamaan



rumus di atas digunakan untuk menghampiri nilai akar dari fungsi f(x).
Langkah penyelesaian akar persamaan fungsi dengan metode Secant adalah :
Langkah 1 : Tentukan nilai awal pencarian akar, yaitu x
i-1
dan x
i
, kemudian carilah
nilai f(x
i-1
)

dan f(x
i
).
Langkah 2 : Taksirlah nilai akar fungsi dengan melakukan iterasi menggunakan rumus


Contoh :
) ( ) (
) )( (
1
1
1
i i
i i i
i i
x f x f
x x x f
x x

+
) ( ) (
) )( (
1
1
1
i i
i i i
i i
x f x f
x x x f
x x

+
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
11
III
DIFERENSIAL NUMERIK

3.1 DIFERENSIAL NUMERIK DENGAN DERET TAYLOR
3.1.1 APROKSIMASI BEDA TERBAGI HINGGA MAJU






dengan memotong persamaan di atas hingga turunan pertama , akan diperoleh
persamaan berikut



Contoh :
Gunakan aproksimasi beda maju untuk menaksir turunan pertama dari fungsi
f(x) = 0,2 x
3
0,15x
2
+0,25x - 0,05
pada x = 1 dan dengan ukuran langkah = 1 !
x
i
x
i+1
TURUNAN
SEBENARNYA
TURUNAN
APROKSIMASI
x
f(x)
...
! 2
) ( ' '
) ( ' ) ( ) (
2
1
+ + + =
+
h
x f
h x f x f x f
i
i i i
i i
i i
i
x x
x f x f
x f

+
+
1
1
) ( ) (
) ( '
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
12
3.1.2 APROKSIMASI BEDA MUNDUR DARI TURUNAN PERTAMA






Dari persamaan di atas jika dipotong hingga turunan pertama maka akan diperoleh
persamaan berikut ini



Contoh :
Gunakan apriksimasi beda tebagi mundur untuk menaksir turunan pertama dari fungsi
berikut f(x) = 0,2 x
3
0,15x
2
+0,25x-0,05
Pada x = 1 dan dengan menggunakan ukuran langkah = 0,5 !


x
i-1
x
i
TURUNAN
SEBENARNYA
TURUNAN
APROKSIMASI
x
f(x)
) ( ...
! 2
) ( ' '
) ( ' ) ( ) (
2
1
i h
x f
h x f x f x f
i
i i i
+ =

h
x f x f
x f
i i
i
) ( ) (
) ( '
1

Shinta P/ Metode Numerik / 2005


13
3.1.3 APROKSIMASI BEDA TERPUSAT DARI TURUNAN PERTAMA



Diperoleh dengan mengurangkan pers (i) dengan persamaan berikut


Sehingga diperoleh persamaan berikut



Contoh :
Gunakan aproksimasi beda terbagi pusat untuk menaksir turunan pertama dari fungsi
f(x) = 0,2 x
3
0,15x
2
+ 0,25x- 0,05
pada x = 1 dan dengan menggunakan ukuran langkah = 0,5 !



1. Dik : f(x) = -2x
2
+ 5x

a. f(x) = -2x
2
+ 5x f(2) = -4x + 5 f(2) = -4
x
i
= 2 ; f(xi) = -2(2)
2
+ 5(2) = 2
x
i+1
= 2,5 ; f(x
i+1
) = -2(2,5)
2
+ 5(2,5) = 0
x
i-1
= 1,5 ; f(x
i-1
) = -2(1,5)
2
+ 5(1,5) = 3
Aprokmasi Beda Hingga Terpusat
f(xi-1) = f(xi + 1) - 2f(xi) + f(xi-1)
h
2

x
i-1 x
i
TURUNAN
SEBENARNYA
TURUNAN
APROKSIMASI
x
f(x)
...
! 2
) ( ' '
) ( ' ) ( ) (
2
1
+ + + =
+
h
x f
h x f x f x f
i
i i i
h
x f x f
x f
i i
i
2
) ( ) (
) ( '
1 1 +

Shinta P/ Metode Numerik / 2005


14

f(xi-1) = (0) - 2(2) + (3) = -1 _ = -4
(0,5)
2
0,25


Ea = | ( -4) - (-4) | x 100% = 0 %
-4
b. f(x) = -2x
2
+ 5x integral = -2/3(2)
3
+ 5/2(2)
2
= 4,6666
n = b a = 2 0 = 4
h 0,5
f(a) = 0
f(b) = 2
3
f(xi) = f(x
1
=0,5) + f(x
2
=1) + f(x
3
=1,5)
i = 1
3
f(xi) = 2 + 3 + 3 = 8
i = 1
I = 0,25 ( 0 + 2.8 + 2 ) = 4,5
Ea = | ( 4,6666) - (4,5) | x 100% = 3,57 %
4,6666

2. Dik : x + y + 2z = 9
2x + 4y 3z = 1
3x + 6y 5z = 0
Galat Sejati x = 1, y = 2 dan z = 3
Jawab :
x = 9 y 2z
y = 1 2x + 3z
4
z = 3x + 6y
5

Literasi 1 : Misalkan y = 0 dan z

= 0 maka diperoleh
x = 9 0 2(0)
= 9
y = 1 2(9) + 3(0)
4
= - 3,5
z = 3(9) + 6(-3,5)
5
= 1,2
Literasi 2 : y = -3,5 dan z

= 1,2 maka diperoleh
x = 9 (-3,5) 2(1,2)
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
15
= 10,1
y = 1 2(10,1) + 3(1,2)
4
= - 4,4
z = 3(10,1) + 6(-4,4)
5
= 0,78
Literasi 3 : y = -4,4 dan z

= 0,78 maka diperoleh
x = 9 (-4,4) 2(0,78)
= 11,84
y = 1 2(11,84) + 3(0,78)
4
= - 5,085
z = 3(11,84) + 6(-5,085)
5
= 1,002

Ea
1
= | ( 11,84) - (9) | x 100% = 23,99 %
11,84
Ea
2
= | (-5,085) - (-3,5) | x 100% = 31,17%
- 5,085
Ea
1
= | (1,002) - (1,2) | x 100% = 19,76 %
1,002






Literasi 1
Esejati
1
= | ( 1) - (9) | x 100% = 800 %
1
Esejati
2
= | (2) - (-3,5) | x 100% = 275 %
2
Esejati
3
= | (3) - (1,2) | x 100% = 60 %
3

Literasi 2
Esejati
1
= | ( 1) - (10,1) | x 100% = 910 %
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
16
1
Esejati
2
= | (2) - (-4,4) | x 100% = 320 %
2
Esejati
3
= | (3) - (0,78) | x 100% = 74 %
3

Literasi 3
Esejati
1
= | ( 1) - (11,84) | x 100% = 1084 %
1
Esejati
2
= | (2) - (-5,085) | x 100% = 354,25 %
2
Esejati
3
= | (3) - (1,002) | x 100% = 133,4 %
3

Shinta P/ Metode Numerik / 2005
17
IV
INTERPOLASI

4.1 POLINOM INTERPOLASI BEDA TERBAGI NEWTON






























) )...( )( ( ... ) ( ) (
1 1 0 0 1 0
+ + + =
n n
x x x x x x b x x b b x f
] , ,..., , [
...
] , , [
] , [
) (
0 1 1
0 1 2 2
0 1 1
0 0
x x x x f b
x x x f b
x x f b
x f b
n n n
=
=
=
=
0
0 2 1 1 1
0 1 1
] ,..., , [ ] ,..., , [
] , ,..., , [
...
] , [ ] , [
] , , [
) ( ) (
] , [
x x
x x x f x x x f
x x x x f
x x
x x f x x f
x x x f
x x
x f x f
x x f
n
n n n n
n n
k i
k j j i
k j i
j i
j i
j i

Shinta P/ Metode Numerik / 2005


18
4.1.1 INTERPOLASI LINIER
Yaitu tehnik interpolasi dengan cara menghubungkan dua titik dengan sebuah garis
lurus.

Rumus interpolasi linier


Keterangan :
f(x) = Nilai fungsi taksiran pada titik x
f(x
0
)= Nilai fungsi pada titik x
o

f(x
1
)= Nilai fungsi pada titik x
1

Contoh :
Taksirlah logaritma asli dari 3 dengan menggunakan interpolasi linier, dengan
menggunakan nilai :
a). ln 1 = 0 dan ln 5 = 1,609437912
b). ln 1 = 0 dan ln 6 = 1,791759469

P Pe en ny ye el le es sa ai ia an n: :
Diketahui :
ln 1 = 0
ln 3 = 1,098612289
ln 5 = 1,609437912
ln 6 = 1,791759469
a) x
0
= 1 , f(x
0
) = ln 1
X0 X X1
f(X)

f(X1 )

f(X)



f (X0)
x
) (
) ( ) (
) ( ) (
0
0 1
0 1
0
x x
x x
x f x f
x f x f

+ =
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
19
x = 3 , f(x) = ln 3
x
1
= 5 , f(x
1
) = ln 5
% 5 , 36
% 100 .
804718956 , 0
098612289 , 1 804718956 , 0
804718956 , 0 ) (
2 .
4
609437912 , 1
0 ) (
) 1 3 ( .
1 5
0 609437912 , 1
0 ) (
) ( .
) (
) ( ) (
) ( ) (
0
0 1
0 1
0
=

=
=
+ =


+ =

+ =
a
E
x f
x f
x f
x x
x x
x f x f
x f x f



b) x
0
= 1 f(x
0
) = ln 1
x = 3 f(x) = ln 3
x
1
= 6 f(x
1
) = ln 6

% 3 . 53
% 100 .
716703787 , 0
098612289 , 1 716703787 , 0
716703787 , 0
2 .
5
791759469 , 1
0
) 1 3 ( .
1 6
0 791759469 , 1
0
) ( .
) (
) ( ) (
) ( ) (
0
0 1
0 1
0
=

=
=
+ =


+ =

+ =
a
E
x x
x x
x f x f
x f x f








Shinta P/ Metode Numerik / 2005
20
4.1.2 Interpolasi Kuadrat
Rumus interpolasi kuadrat








Contoh :
Taksirlah nilai Ln 3 dengan menggunakan tiga titik berikut !
ln 1 = 0, ln 5 = 1,609437912 dan ln 6 = 1,791759469

Penyelesaian :
0 2
0 1
0 1
1 2
1 2
2
0 1
0 1
1
0 0
1 0 2 0 1 0
) ( ) ( ) ( ) (
) ( ) (
) (
) )( ( ) ( ) (
x x
x x
x f x f
x x
x f x f
b
x x
x f x f
b
x f b
x x x x b x x b b x f

=
=
+ + =
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
21
4.2 POLINOM INTERPOLASI LAGRANG
Interpolasi Lagrang dirumuskan dari interpolasi beda terbagi Newton






4.2.1 Interpolasi Lagrang orde satu
) ( ) ( ) (
1
0 1
0
0
1 0
1
1
x f
x x
x x
x f
x x
x x
x f

=
=

=
=
n
i j
j
j i
j
i
i
n
i
i n
x x
x x
x L
x f x L x f
0
0
) (
) ( ) ( ) (
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
22
BAB V
INTEGRAL NUMERIK

5.1 ATURAN TRAPESIUM

Berdasarkan gambar di atas maka misalkan I = luas daerah di bawah kurva, dapat
dihampiri dengan luas trapesium yang teletak di bawah kurva f(x).
) (
2
) ( ) (
a b
b f a f
I
+

Jika interval nilai a< x < b di bagi menjadi n bagian dengan interval nilai h dimana

n
a b
h

= , maka akan diperoleh gambar berikut


Berdasarkan gambar di atas di ketahui bahwa luas di bawah kurva yang di hampiri
dengan membagi interval menjadi beberapa bagian akan lebih mendekati sebenarnya.
Semakin kecil nilai h maka akan semakin mendekati nilai sebenarnya.
a b
f(b)







f (a)
x
h
a b
f(b)







f (a)
x
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
23
Rumus aturan trapesium
I =
( ) ( ) ( )
(

+ +

=
1
1
0
2
2
n
i
i n
X f X f X f
h


Contoh :
Diketahui F(x)=2X
2
+4X+6,

3
1
) ( dx x F dengan ukuran langkah 0,4. Tentukan Nilai
I dengan menggunakan aturan Trapesium ?

Penyelesaian:
Nilai sebenarnya:
3
1
2 3 2
6 2
3
2
6 4 2

+ + = + + X X X dx X X
=
(

+ +
(

+ + ) 1 ( 6 ) 1 ( 2 ) 1 (
3
2
) 3 ( 6 ) 3 ( 2 ) 3 (
3
2
2 3 2 3

= 54 8,66667
= 45,33333
Nilai hampiran dengan aturan trapesium
5
4 . 0
1 3
0
=

=
n
h
X X
n
n

I = |
.
|

\
|
+ +

=
1
1
0
) ( 2 ) ( ) (
2
n
i
n
xi f x f x f
h

= |
.
|

\
|
+ +

=
4
1
) ( 2 ) 3 ( ) 1 (
2
4 , 0
i
i
x f f f
= { } ( ) ) 4 ( ) 3 ( ) 2 ( ) 1 ( 2 ) 3 ( ) 1 (
2
4 . 0
x f x f x f x f f f + + + + +
= 0.2 ( ) ( ) ) 6 . 2 ( ) 2 . 2 ( ) 8 . 1 ( ) 4 . 1 ( 2 36 12 + + + + + f f f
= 0.2 ( ) ( ) 92 . 29 48 . 24 68 . 19 52 . 15 2 48 + + + +
= 0.2 ( ) ) 6 . 89 ( 2 48 +
= 0.2(227.2)
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
24
= 45.44

3333 . 45
33333 . 45 44 . 45
=
a
E x100%
Ea = 0,23%


5.2 ATURAN SIMSON
Rumus aturan Simson
I =
( ) ( ) ( ) ( )
(

+ + +


=

=
2
2
1
1
0
2 4
3
4
n
i
i
n
i
i n
X f X f X f X f

.Contoh :
Hitung
( )dx X X

+
4
1
2
3
, dengan langkah = 0,5. Gunakan Metode Simson!
Jawab :
Diketahui




Nilai Sebenarnya :
( )dx X X

+
4
1
2
3
=
4
1
2 3
2
3
3
1
(

(
+ X X
:
=
( ) ( ) |
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
+
2
3
3
1
4
2
3
4
3
1
2 3

=
2
3
3
1
2
48
3
64
+
=
2
45
3
63
+
= 5 , 22 21+
= 5 , 43
Nilai hampiran dengan aturan Simson
6
5 , 0
3
5 , 0
1 4
4
1
0
= =

=
=
=
n
X
X
n
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
25
I =
( ) ( ) ( ) ( )
(

+ + +


=

=
2
2
1
1
0
2 4
3
4
n
i
i
n
i
i n
X f X f X f X f

= ( ) ( ) ( ) ( )
(

+ + +

= =
4
2
5
1
2 4 4 1 166667 , 0
i
i
i
i
X f X f f f
= ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) { } ( )
(

+ + + + + + +

=
4
2
2 5 , 3 3 5 , 2 2 5 , 1 4 28 4 166667 , 0
i
i
X f f f f f f
= ( ) ( ) ( ) ( ) { } | | 3 5 , 2 2 2 75 , 22 18 75 , 13 10 75 , 6 4 32 166667 , 0 f f f + + + + + + + +
= ( ) ( ) | | 18 75 , 13 10 2 75 , 22 18 75 , 13 10 75 , 6 4 32 166667 , 0 + + + + + + + +
= ( ) ( ) | | 75 , 41 2 25 , 71 4 32 166667 , 0 + +
= | | 5 , 83 285 32 166667 , 0 + +
= 7501335 , 66

% 45 , 53 % 100
5 , 43
5 , 43 7501335 , 66
=

=
a
E


Shinta P/ Metode Numerik / 2005
26
BAB VI
SISTEM PERSAMAAN SIMULTAN

6.1 Sistem Persamaan Simultan
Sistem persamaan simultan adalah system persamaan yang terdiri dari n
persamaan dengan n peubah . Artinya, jumlah persamaan sama dengan jumlah peubah.
Sistem persamaan simultan memiliki tepat satu solusi. Ada beberapa metode yang dapat
digunakan untuk mencari penyelesaian dari system persamaan simultan, salah satunya
adalah metode Gauss-Seidel.

6.2 Metode Jacobi


6.3 Metode Gauss-Seidel
Metode Gauss-Seidel merupakan metode iterasi yang menggunakan terkaan awal
terhadap satu peubah dari satu persamaan. Jika suatu persamaan simultan dengan n
persamaan dibentuk menjadi bentuk matrik AX = C dengan elemen-elemen
diagonalnya tidak nol, maka persamaan pertama dapat diselesaikan untuk x
1
, yang
kedua untuk x
2
dan seterusnya sehingga diperoleh persamaan berikut
11
1 1 , 2 1 1
11
2 3 23 1 21 2
2
11
1 3 13 2 12 1
1
...
.......... .......... .......... .......... ..........
...
...
a
x a x a x a c
x
a
x a x a x a c
x
a
x a x a x a c
x
n n n n n n n
n
n n
n n


=

=

=


Hasil yang di diperoleh kemudian disubtitusikan kepersamaan berikutnya untuk
mendapatkan nilai terkaan untuk peubah yang lain. Hal ini diulangi untuk tiap
persamaan hingga nilai terkaan dianggap cukup dekat dengan nilai- nilai sejatinya
dengan menggunakan criteria kekonvergenan berikut
s
j
i
j
i
j
i
i a
x
x
x x
<

=

% 100
1
,

Keterangan :
Shinta P/ Metode Numerik / 2005
27

i i a,
i
j
i
peubah x hampiran galat
j ke iterasi pada x terkaan nilai x
=
=