Anda di halaman 1dari 68

PEMANFAATAN SERBUK GERGAJI KAYU JATI (Tectona Grandis) SEBAGAI CAMPURAN BAHAN PENGISI PADA PEMBUATAN BATA BETON

PEJAL

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata I untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Nama NIM Prodi : Ali Wardono : 5101401017 : Pendidikan Teknik Bangunan

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGARI SEMARANG


2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian Skripsi. Hari Tanggal : Kamis : 27 Juli 2006

Semarang, Pembimbing I

Mei 2006

Pembimbing II

Drs. Hery Suroso, ST, MT NIP : 132068585

Drs. Gunadi, MT NIP : 130870430

ii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Mei 2006

Ali Wardono NIM 5101401017

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto : 1. Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahui (QS. Al-Baqarah : 215). 2. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawabannya (QS. Al Isra : 36).

Persembahan : 1. Ayah dan Bunda yang selalu Aku sayangi. 2. Eyang Kakung yang selalu memberikan semangat untuk maju. 3. Kekasih yang Aku cintai. 4. Andrian, Harun, Hery dan Supri 5. Teman-teman PTB angkatan 2001 6. Teman-teman di Jurusan Teknik Sipil.

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang memberikan kenikmatan yang tak terhingga, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis) sebagai Campuran Bahan Pengisi pada Pembuatan Bata Beton Pejal sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Teknik. Penulis menyadari dalam pembuatan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis menyampaikan terima kasih dan rasa hormat kepada: 1. Rektor Universitas Negeri Semarang. 2. Prof. Dr. Soesanto, M.Pd, selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. 3. Drs. Lashari, MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil. 4. Drs. Heri Suroso, ST, MT, selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penyusunan skripsi. 5. Drs. Gunadi, MT, selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penyusunan skripsi. 6. Staf karyawan dan pengelola perpustakaan jurusan dan pengelola

Laboratorium Bahan Teknik Sipil. 7. Teman-teman PTB 2001, yang membantu hingga terwujudnya skripsi ini. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari bahwa dalam

penyusunannya tentu tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan, meskipun v

penulis telah berusaha semaksimal mungkin dalam proses penyusunannya. Untuk itu penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik yang membangun guna kesempurnaan penyusunan skripsi yang akan datang. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Semarang, Mei 2006

Penulis

vi

SARI

Wardono, Ali. 2006. Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis) sebagai Campuran Bahan Pengisi pada Pembuatan Bata Beton Pejal. Skripsi. Jurusan Teknik Sipil/ Program Pendidikan Teknik Bangunan. Universitas Negeri Semarang, Pembimbing I: Drs. Hery Suroso, ST, MT, Pembimbing II: Drs. Gunadi, MT. Kata Kunci: Serbuk Gergaji, Kuat Tekan, Serapan Air Pembangunan sarana fisik membutuhkan bahan-bahan yang cukup mahal, maka diupayakan usaha pemanfatan sumber daya alam. Pemanfaatan sumber daya alam haruslah mencapai daya guna yang tepat. Untuk itu perlu diadakan penelitian terhadap bahan-bahan bangunan (Building material) dengan memanfaatkan limbah industri sebagai campuran bahan pengisi pada bata beton. Mortar semen dibuat dengan komposisi yang bervariasi tergantung pada penggunaannya. Mortar semen dengan komposisi campuran tertentu yang telah diproses, diolah dan dicetak dengan bentuk ukuran tertentu dapat berupa paving block, batako dan bata beton pejal. Serbuk gergaji adalah limbah dari hasil industri penggergajian kayu. Serbuk gergaji merupakan bahan yang banyak tertimbun dan cenderung menjadi sampah karena pemanfaatannya yang belum optimal. Serbuk gergaji tersebut apabila dibiarkan terus menerus akan mengganggu proses produksi sehingga perlu ditangani secara serius. Selain itu, serbuk gergaji hanya dimanfaatkan untuk sebagian kecil kebutuhan saja, misalnya sebagai bahan pembakaran batu bata. Komponen limbah penggergajian adalah kayu yang tersisa akibat proses penggergajian yang menurut bentuknya dapat berupa serbuk gergaji, sebetan dan potongan kayu. Limbah gergajian kayu diambil dari Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui karakteristik bahan pengisi bata beton pejal dan mengetahui kuat tekan, serapan air akibat penambahan serbuk gergaji kayu jati. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Pembuatan bata beton pejal dibuat ukuran 40 cm x 20 cm x 10 cm dengan bahan pasir muntilan, semen Nusantara type I, dan serbuk gergaji yang dipakai berasal industri penggergajian kayu Desa Jragung, Kecamatan Karangawen. Benda uji penelitian dibuat dengan 5 perlakuan subtitusi serbuk gergaji yaitu 0%, 10%, 20%, 30% dan 40% dari berat semen. Pengujian air, semen, pasir, serbuk gergaji, kuat tekan bata beton dan serapan air dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Hasil pengujian terhadap air secara visual terlihat air tidak berwarna dan bau. Hasil pengamatan terhadap semen adalah kemasan semen tidak mengalami cacat dan butiran semen tidak terjadi gumpalan. Hasil pengujian pasir didapat gradasi pasir masuk zona II. Hasil pengujian kuat tekan bata beton pejal dengan subtitusi serbuk gergaji kayu jati 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dari berat semen ratarata sebesar 6,765 MPa, 6,256 MPa, 5,744 MPa, 5,026 MPa dan 4,341 MPa. vii

Hasil pengujia daya serap air beton pejal dengan subtitusi serbuk gergaji kayu jati 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dari berat semen rata-rata sebesar 9,044%, 11,315%, 14,435%, 16,539%, dan 20,130%. Hasil analisa pada perhitungan kuat tekan bata beton pejal dan serapan air didapat koefisien determinasi sebesar 0,964 untuk kuat tekan bata beton pejal, sedangkan serapan air sebesar 0,986.

viii

PENGESAHAN KELULUSAN Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis) sebagai Campuran Bahan Pengisi pada Pembuatan Bata Beton Pejal Oleh: Nama : Ali Wardono NIM : 5101401017 Telah dipertahankan dihadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Kamis Tanggal : 27 Juli 2006 Panitia Ujian Skripsi: Ketua

Sekretaris

Drs. Lashari, MT NIP. 131 471 402 Pembimbing I

Drs.Supriyono NIP. 131 571 560 Anggota Penguji

Drs. Hery Suroso, ST, MT NIP. 132 068 585 Pembimbing II

1. Drs. Bambang Dewasa NIP. 130 870 432

2. Drs. Hery Suroso, ST, MT NIP. 132 068 585 Drs. Gunadi, MT NIP. 130 870 430 3. Drs. Gunadi, MT NIP. 130 870 430 Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang

Prof. Dr. Soesanto NIP 130 875 753 ix

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................................................................ PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................. HALAMAN PENGESAHAN ................................................................... PERNYATAAN ....................................................................................... MOTTO DAN PERSEMBAHAN............................................................. KATA PENGANTAR .............................................................................. SARI .......................................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................. DAFTAR TABEL ..................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. i ii iii iv v vi viii x xiii xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .............................................................................. B. Permasalah .................................................................................... C. Manfaat Penelitian ........................................................................ D. Tujuan Penelitian .......................................................................... E. Penegasan Istilah............................................................................ F. Sistematika Penulisan Skripsi ........................................................ 1 3 3 4 4 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka................................................................................ 1. Bahan ....................................................................................... 7 7

a. Semen Portland .................................................................. b. Air ...................................................................................... c. Agregat............................................................................... 2. Mortar....................................................................................... 3. Bata Beton Pejal....................................................................... B. Kayu Jati ....................................................................................... C. Penelitian Sejenis ........................................................................... D. Kerangka Berpikir.......................................................................... E. Hipotesis.........................................................................................

7 8 11 15 16 18 24 24 25

BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi .......................................................................................... B. Sampel............................................................................................ C. Variabel Penelitian ......................................................................... D. Desain Penelitian............................................................................ E. Prosedur Penelitian ....................................................................... F. Pengumpulan Data ......................................................................... G. Analisis Data .................................................................................. 26 27 27 29 30 38 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Air .................................................................................................. 2. Semen ............................................................................................ 3. Pasir ............................................................................................... 4. Serbuk Gergaji ............................................................................... 5. Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan xi 41 41 42 44

(Mix Desaign) Benda Uji ............................................................... 6. Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Setiap Adukan Bata Beton Pejal............................................................................. 7. Kuat Tekan Bata beton .................................................................. 8. Serapan Air ....................................................................................

45

46 46 49

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ................................................................................... B. Saran............................................................................................... 51 52

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... LAMPIRAN ..............................................................................................

53 55

xii

DAFTAR TABEL

1. Tabel 2.1 Gradasi Pasir ........................................................................... 2. Tabel 2.2 Kuat Tekan Bata Catak .......................................................... 3. Tabel 2.3 Syarat-syarat Fisis Bata Beton Pejal....................................... 4. Tabel 2.4 Persyaratan ukuran dan toleransi Bata Beton pejal ................ 5. Tabel 2.5 Sifat-sifat kayu jati.................................................................. 6. Tabel 2.6 Kembangsusut Kayu ............................................................... 7. Tabel 4.1 Rencana Adukan Bata Beton Pejal ........................................ 8. Tabel 4.2 Kebutuhan bahan Bata Beton Pejal ........................................

14 17 18 18 19 22 45 46

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran 1 Berat Jenis Pasir Muntilan .................................................. 2. Lampiran 2 Gradasi Pasir Muntilan ....................................................... 3. Lampiran 2 Berat Satuan Pasir Muntilan ............................................... 4. Lampiran 3 Kadar Lumpur...................................................................... 5. Lampiran 4 Berat Jenis Kayu Jati ........................................................... 6. Lampiran 4 Kadar Air Serbuk Gergaji Kayu Jati.................................... 7. Lampiran 5 Analisa Gradasi Serbuk Gergaji .......................................... 8. Lampiran 5 Berat Satuan Serbuk Gergaji Kayu Jati ............................... 9. Lampiran 6 Diagram Gradasi Pasir......................................................... 10. Lampiran 7 Rencana Adukan dan Perhitungan bahan Tiap Adukan ...... 11. Lampiran 8 Hasil Pengujian Kuat Tekan Bata Beton Pejal .................... 12. Lampiran 9 Hasil Pengujian Serapan Air ............................................... 13. Surat-surat Penelitian 14. Foto-foto Penelitian

55 56 56 57 58 58 59 59 61 62 64 65

xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang, saat ini telah melaksanakan proses pembangunan dalam segala bidang. Pembangunan sarana dan prasarana fisik digunakan untuk menunjang proses pembangunan nonfisik yang meliputi bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Pembangunan sarana fisik tersebut meliputi pembangunan gedung bertingkat, jalan raya, bandara, bendungan dan perumahan. Pembangunan sarana fisik membutuhkan bahan-bahan yang cukup mahal, maka diupayakan usaha pemanfatan sumber daya alam. Pemanfaatan sumber daya alam haruslah mencapai daya guna yang tepat. Untuk itu perlu diadakan penelitian terhadap bahan-bahan bangunan (Building material)

dengan memanfaatkan limbah industri sebagai campuran bahan pengisi pada bata beton. Semen, pasir, air adalah bahan bangunan pokok yang banyak digunakan untuk pekerjaan konstruksi bangunan. Campuran semen dan air disebut pasta, sedangkan campuran antara semen, pasir dan air disebut mortar semen atau spesi. Mortar semen umumnya digunakan untuk komponen non struktur dari suatu konstruksi bangunan, misalnya sebagai bahan perekat/ spesi pasangan dinding batu bata, dan pembuatan bata beton, bata beton pejal, genteng beton, buis beton dan sebagainya.

Mortar

semen

dibuat

dengan

komposisi

yang

bervariasi

tergantung pada penggunaannya. Mortar semen dengan komposisi campuran tertentu yang telah diproses, diolah dan dicetak dengan bentuk ukuran tertentu dapat berupa paving block, batako dan bata beton pejal. Serbuk gergaji adalah limbah dari hasil industri penggergajian kayu. Serbuk gergaji merupakan bahan yang banyak tertimbun dan cenderung menjadi sampah karena pemanfaatannya yang belum optimal. Serbuk gergaji tersebut apabila dibiarkan terus menerus akan mengganggu proses produksi sehingga perlu ditangani secara serius. Selain itu, serbuk gergaji hanya dimanfaatkan untuk sebagian kecil kebutuhan saja, misalnya sebagai bahan pembakaran batu bata. Komponen limbah penggergajian adalah kayu yang tersisa akibat proses penggergajian yang menurut bentuknya dapat berupa serbuk gergaji, sebetan dan potongan kayu. Limbah gergajian kayu diambil dari Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Melihat kebutuhan manusia akan perumahan yang semakin bertambah dan di sisi lain semakin mahalnya harga bangunan, sementara limbah industri disekitar lingkungan yang belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, maka penulis terdorong untuk meneliti masalah pemanfaatan limbah industri gergaji tersebut, khususnya serbuk gergaji kayu jati sebagai campuran bahan pengisi pada bata beton pejal. Dengan memanfaatkan serbuk gergaji sebagai campuran bahan pengisi pada bata beton pejal diharapkan diperoleh keuntungan dari bahan dan dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan sehingga dapat

meningkatkan nilai ekonominya, menunjang pengadaan bahan dan sedikit banyak dapat mengatasi dampak negatif limbah industri kayu terhadap lingkungan. Atas dasar alasan tersebut diatas, maka pemanfaatan serbuk gergaji sebagai campuran bahan pengisi perlu diteliti, mengenai sifat-sifat dan pengaruhnya terhadap kuat tekan, daya serap air bata beton pejal. Penulis membuat penelitian dengan judul Pemanfaatan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona grandis) sebagai Campuran Bahan Pengisi pada Pembuatan Bata Beton Pejal.

B. Permasalahan Berdasarkan uraian diatas timbul permasalahan yang dapat diambil untuk diteliti yaitu, adakah pengaruh penambahan serbuk gergaji sebagai bahan pengisi bata beton pejal sebesar 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dari berat semen, terhadap kuat tekan bata beton pejal, dan serapan air bata beton pejal.

C. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat diantaranya adalah: 1. Secara Teoritik Secara teoritik ilmu pengetahuan hasil penelitian, diharapkan menambah pustaka ilmu, sekaligus memberikan masukan bahwa serbuk gergaji yang dihasilkan dari limbah penggergajian kayu dapat dimanfaatkan untuk campuran pembuatan bata beton pejal.

2. Secara Praktik Data-data hasil penelitian ini akan menjadi pertimbangan dan masukan kepada masyarakat, bahwa hasil penelitian dengan memanfaatkan limbah industri penggergajian kayu dapat dipakai sebagai bahan bangunan untuk konstruksi dinding yang berbentuk bata beton pejal.

D. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Mengetahui karakteristik bahan pengisi bata beton pejal, melipuiti berat jenis kayu jati, berat jenis pasir, berat satuan pasir, pasir, dan gradasi pasir. 2. Mengetahui kuat tekan dan serapan air dari bata beton pejal dengan komposisi berat antar semen dan agregat adalah 1: 7. kadar lumpur

E. Penegasan Istilah 1. Serbuk Gergaji Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) serbuk gergaji adalah serbuk kayu berasal dari kayu yang dipotong dengan gergaji. 2. Mortar Mortar adalah adukan yang terdiri dari pasir, bahan perekat dan air. Mortar sering disebut mortel atau spesi. 3. Bata Beton Pejal Bata beto pejal adalah bata beton yang mempunyai luas penampang pejal 75% dari volume bata seluruhnya (SK SNI S-04-1989-F).

F. Sistematika Penulisan Skripsi Sistematika dari penulisan skripsi ini adalah : 1. Bagian Pendahuluan Bagian pendahuluan meliputi halaman judul, abstrak, halaman

pengesahan, halaman motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar dan daftar lampiran. 2. Bagian Isi Skripsi Bagian isi skripsi ini adalah: BAB I. PENDAHULUAN Pendahuluan meliputi alasan pemilihan judul, permasalahan, manfaat penelitian, tujuan penelitian, penegasan istilah dan sistematika penulisan skripsi. BAB II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR DAN

HIPOTESIS Hal-hal yang tercakup dalam kajian pustaka penulis uraikan tentang bahan, mortar, bata beton pejal, kayu jati. Sedangkan bagian lain dari bab ini adalah kerangka berfikir dan hipotesa. BAB III. METODE PENELITIAN Metode penelitian meliputi populasi, sampel, variabel penelitian, desain penelitian, data penelitian, pengumpulan data. BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi hasil penelitian dan pembahasan.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran mengenai penelitian. 3. Bagian Akhir Bagian akhir berisi daftar pustaka, lampiran-lampiran yang mendukung isi skripsi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka 1. Bahan a. Semen Portland Semen dipakai sebagai bahan pengikat hidrolis dalam pembuatan beton. Hidrolis berarti semen akan bereaksi dengan air dan membentuk suatu batuan massa. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambah. Suatu semen jika diaduk dengan air akan menjadi pasta semen,

sedangkan apabila diaduk dengan air dan ditambah dengan pasir akan menjadi mortar semen, jika ditambah lagi dengan kerikil akan menjadi beton (SK SNI S-04-1989-F).

Semen mengandung empat senyawa komplek diantaranya trikalsium silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2, dikalsium silikat (C2S) atau 2CaSO4.Si2O, trikalsium aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3,

tetrakalsium aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3, dan gipsum atau Ca.SO4.2H2O sebagai setting retarder (Neville, 1977). Sesuai dengan tujuan pemakainnya, semen potrland menjadi 5 jenis (SK SNI S-04-1989-F) yaitu: dibedakan

1. Jenis I : untuk konstruksi umum, dimana tidak diminta persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis lain. 2. Jenis II: untuk konstruksi pada umumnya terutama sekali bila disyaratkan agak tahan terhadap sulfat dan panas hidrasi yang sedang. 3. Jenis III : untuk konstruksi yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. 4. Jenis IV : untuk konstruksi yang persyaratan panas hidrasi rendah. 5. Jenis V : untuk konstruksi yang menuntut sangat tahan terhadap sulfat.

b. Air Air mempunyai dua fungsi yang pertama untuk memungkinkan reaksi kimia yang menyebabkan pengikatan dan berlangsungnya pengerasan, yang kedua berfungsi sebagai pelicin campuran pasir dan semen agar mudah pencetakannya. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen serta menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air yang digunakan untuk pembuatan mortar/ bata beton pejal harus bersih dan tidak mengandung minyak, tidak mengandung alkali, garam-garaman, zat organis yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Air tawar yang biasanya diminum baik air yang telah diolah di perusahaan air minum maupun tanpa diolah dapat dipakai untuk pembuatan bata beton pejal.

Air yang digunakan harus memenuhi syarat menurut SK SNI S04-1989-F (1989 : 23), persyaratan air sebagai bahan bangunan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Tidak mengandung lumpur atau benda tersuspensi lebih dari 2 gram/liter. Tidak mengandung garam-garaman yang merusak beton (asam dan zat organik) lebih dari 15 gram/liter. Kandungan khlorida (Cl) tidak lebih dari 500 ppm dan senyawa sulfat tidak lebih dari 1.000 ppm sebagai SO3. Air harus bersih Derajat keasaman (pH) normal 7. Tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara visual. Jika dibanding dengan kekuatan tekan adukan beton yang memakai air suling, penurunan kekuatan adukan yang memakai air yang diperiksa tidak lebih dari 10%. Semua air yang mutunya meragukan dianalisa secara kimia dan dievaluasi mutunya menurut pemakaian. Khusus untuk beton pratekan, kecuali syarat-syarat di atas, air tidak boleh mengandung khlorida lebih dari 50 ppm.

Menurut Neville (1977:99) pengaruh campuran pada variasi kekuatan sesuai komposisi semen, peningkatan kekuatan tertinggi terjadi ketika menggunakan semen alkali rendah atau C 3 A rendah.

10

Dengan beberapa semen pengaruh campuran sangat kecil, tetapi umumnya campuran akan evektif dengan menggunakan semua jenis portland semen dan juga dengan aluminium semen. Pengurangan air pada campuran akan lebih evektif ketika digunakan dalam campuran yang berisi pozzoland pada campuran biasa, seperti tampak pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Dampak dari fariasi pengurangan air pada campuran dikaitkan dengan waktu pembuatan beton (Neville, 1977:99)

Pengurangan jumlah air memungkinkan penurunan penggunaan fariasi campuaran antara 5% dan 15%, penurunan dalam campuran air tergantung pada jumlah semen, tipe agregat, tekanan udara atau pozzoland. Campuran dan muatan yang seimbang akan menentukan tipe kuantitas campuran tersebut.

11

c. Agregat Agregat adalah butiran mineral alami atau batuan yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran beton. Agregat menempati kira-kira 70% dari volume beton dan berpengaruh terhadap sifat-sifat beton sehingga pemilihan agregat merupakan bagian penting dalam pembuatan beton. Sifat yang paling penting dari suatu agregat adalah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen, porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap perubahan suhu dan ketahanan terhadap penyusutan. Agregat halus yang dalam hal ini pasir, sangat berperan dalam menentukan kemudahan dalam pengerjaan (workability), kekuatan (strengh) dan tingkat keawetan (durability), sehingga mutu pasir perlu dikendalikan agar dihasilkan bata beton pejal yang seragam, pasir sebagai pembentuk mortar bersama dengan semen dan air yang berfungsi mengikat agregat halus menjadi satu kesatuan. Gradasi agregat adalah distribusi butiran dari agregat yang membentuk massa beton yang padat, apabila butir-butir mempunyai ukuran yang sama atau seragam, maka volume tidak dapat dipadatkan dengan baik sehingga pori tidak terlalu besar, sebaliknya bila ukuranukuran butirnya dari berbagai ukuran sehingga terpadu, maka beton dapat dipadatkan dengan baik dan menyebabkan volume pori menjadi

12

kecil sehingga beton menjadi satu-kesatuan yang padat. Hal tersebut karena butiran yang kecil dapat mengisi bagian ruang yang kosong yang ada, sehingga pori dapat diisi dengan bagian yang lebih halus, dengan kata lain kemampatan tinggi dan beton menjadi benar-benar padat. Agregat harus mempunyai bentuk yang baik (bulat atau mendekati kubus), bersih, keras, kuat dan gradasinya baik. Agregat juga harus mempunyai kestabilan kimiawi dan dalam hal-hal tertentu harus tahan aus dan tahan terhadap pengaruh cuaca. Semakin banyak penggunaan agregat dalam suatu jenis campuran beton tertentu maka semakin hemat penggunaan semen portland.

Pemakaian jumlah agregat harus dibatasi dengan memperhatikan apakah pasta semen masih cukup untuk perlekatan butir, pengisian rongga rongga halus, sifat dapat dikerjakan dan sebagainya. (Murdock & Brook, 1979 : 51). Agregat yang dipakai untuk campuran adukan beton harus memenuhi gradasi yang disyaratkan. Menurut Neville (1977 : 103) agregat adalah bahan campuran adonan semen agar menjadi ekonomis, dimana agregat harganya lebih murah dari semen dan dalam penggunaannya lebih irit sebagai campuran dan memiliki banyak keuntungan yaitu sebagai stabilitas volume yang lebih tinggi dan daya tahan lebih bagus dari pada adonan semen yang tanpa campuran agregat.

13

Agregat Halus (Pasir) Agregat halus merupakan bahan pengisi yang digunakan bersama-sama semen untuk membuat adukan lebih ekonomis. Selain itu pasir juga berpengaruh terhadap sifat tahan susut, keretakan dan kekerasan beton ataupun produk bahan bangunan seperti semen dan campuran lainnya. (Murdock & Brook, 1979 : 27). Menurut Neville (1977 : 103) agregat halus merupakan agregat yang besarnya tidak lebih dari 5 mm atau 3/16. Pasir dapat berupa pasir alam sebagai hasil desintegrasi alam dari batu-batuan atau berupa pasir pecahan batu yang dihasilkan alat/ mesin pemecah batu. Agregat halus yang dipakai untuk campuran adukan bata beton pejal harus memenuhi persyaratan agregat halus, secara umum

menurut SNI 03-6821-2002 (2002: 171-172) adalah sebagai berikut: Susunan butir agregat halus mempunyai kehalusan antara 2,0 3,0 Agregat halus terdiri dari butir-butir tajam dan keras Butir-butir halus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca. Sifat kekal agregat halus dapat diuji dengan larutan jenuh garam. Jika dipakai natrium sulfat bagian yang hancur maksimum 10% berat, sedangkan jika dipakai magnesium sulfat yang hancur maksimum 15% berat. Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (terhadap berat kering). Jika kadar lumpur melebihi 5% pasir harus dicuci.

14

Menurut SK SNI T-15-1990-03 pasir yang baik harus masuk kedalam batas-batas yang tercantum dalam tabel 2.1 berikut ini. Tabel 2.1 gradasi pasir, SK SNI T-15-1990-03 Lubang Butir yang lewat ayakan (%) ayakan(mm) I II III 10 100 100 100 4.8 90-100 90-100 90-100 2.4 60-95 75-100 58-100 1.2 30-70 55-90 75-100 0.6 15-35 35-59 60-79 0.3 5-25 8-30 12-40 0.15 0-10 0-10 0-10 Keterangan: Daerah I Daerah II Daerah III Daerah IV : pasir kasar : pasir agak kasar : pasir halus : pasir halus

IV 100 95-100 95-100 90-100 80-100 10-50 0-10

Gambar 2.1. Grafik pembagian gradasi pasir.

15

Menurut PBUI (1982), agregat halus yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1) Butir- butir agregat halus harus tajam dan keras, serta butirannya harus bersifat kekal, artinya tidak pecah dan hancur oleh pengaruh cuaca. 2) Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5 % (ditentukan terhadap berat kering). 3) Agregat tidak boleh mengandung bahan-bahan organis yang terlalu banyak, yang harus dibuktikan dengan percobaan warna dari Abrams-Harder ( larutan NaOH ). 4) Agregat halus harus terdiri dari butiran yang beraneka ragam besarnya dan yang melewati saringan 4,75 mm.

2. Mortar Mortar atau adukan adalah campuran pasta semen (bahan ikat), pasir dan air yang terletak antara bata, balok dan batuan yang awalnya dibuat dengan semen portland dan kapur (Scott, 1993: 433). Mortar dapat dibedakan menjadi 4 macam, yaitu: 1. Mortar lumpur, dibuat dari campuran pasir, tanah liat/lumpur dan juga air. 2. Mortar kapur, dibuat dari campuran pasir, kapur dan air. 3. Mortar semen, dibuat dari campuran pasir, semen portland dan air dalam perbandingan yang tepat.

16

4. Mortar khusus, dibuat dengan menambahkan bahan khusus pada mortar b dan c di atas dengan tujuan tertentu misalnya dengan penambahan serat, bubuk batu api dan sebagainya. Di dalam penggunaannya, mortar harus memenuhi standar untuk digunakan sebagai bahan bangunan. Mortar yang baik harus memenuhi sifat-sifat sebagai berikut: a. Murah b. Tahan lama (awet) dan tidak mudah rusak oleh pengaruh cuaca c. Mudah dikerjakan (diaduk, diangkut, dipasang dan diratakan) d. Melekat dengan baik dengan bata, batako, batu dan sebagainya e. Cepat kering dan keras f. Tahan terhadap rembesan air g. Tidak timbul retak-retak setelah dipasang. Pada penelitian ini mortar yang dipakai adalah jenis mortar semen, yakni mortar berbahan ikat semen portland, pasir dan air. Mortar yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan perbandingan berat 1 : 7, kemudian dicetak membentuk bata beton pejal.

3. Bata Beton Pejal Bata beton pejal adalah bata beton pejal yang mempunyai luas penampang 1989-F). Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (1982) kuat tekan bata-bata tersebut seperti terlihat dalam table 2.2. pejal 75% dari volume bata seluruhnya (SK SNI S-04-

17

Tabel 2.2 Kuat Tekan Bata Cetak NO JENIS BATA 1 Bata Merah 2 Bata Beton Berlubang 3 Batako 4 Bata Beton Pejal 5 Batu Cetak Beton untuk Struktur

KUAT TEKAN (Kg/ cm2) 25-50 20-70 20-70 25-100 35-135

b. Klasifikasi Bata beton Pejal Dalam SK SNI S-04-1989-F bata beton diklasifikasikan menurut pemakaiannya sebagai berikut: 1. Bata beton pejal mutu I, adalah bata beton pejal yang digunakan untuk konstruksi yang memikul beban dan biasa digunakan juga untuk konstruksi yang tidak terlindung (untuk konstruksi di luar atap). 2. Bata beton pejal mutu II, adalah bata beton pejal yang digunakan untuk konstruksi yang memikul beban tetapi penggunaannya hanya untuk konstruksi yang terlindung dari cuaca luar (untuk konstruksi di bawah atap). 3. Bata beton pejal mutu III, adalah bata beton pejal yang digunakan hanya untuk konstruksi tersebut dalam mutu IV, hanya permukaan dinding konstruksi dari bata beton pejaltersebut boleh tidak diplester. 4. Bata beton pejal mutu IV, adalah bata beto pejal yang hanya digunakan untuk konstruksi yang tidak memikul beban, dinding penyekat, dan lain-lain serta konstruksi yang terlindung dari cuaca luar.

18

c. Syarat-syarat fisis Dalam SK SNI S-04-1989-F bata beton pejal harus memenuhi syarat mutu sebagai berikut: 1. Syarat-syarat fisis dapat dilihat dalam tabel 2.3. Tabel 2.3 syarat-syarat fisis Bata Beton Pejal SYARAT FISIS 1. Kuat tekan bruto, *) rata-rata, min 2. Kuat tekan bruto, *) masing-masing benda uji, min 3. penyerapan air rata-rata, maks SATUAN MPa MPa % TINGKAT MUTU I 10 9 25 II 7 6.5 35 III 4 3,5 IV 2,5 2,1 -

*) Kuat tekan bruto adalah beban tekan keseluruhan pada waktu benda uji hancur, dibagi dengan luas bidang tekan nyata dari benda uji termasuk luas lubang serta kecekungan tepi . 2. Syarat ukuran standar dan toleransi dapat dilihat pada tabel 2.4. Tabel 2.4 Persyaratan ukuran dan toleransi Bata Beton Pejal UKURAN + TOLERANSI, mm PANJANG 390 + 3 -5 LEBAR 190 2 TEBAL 100 2

B. Kayu Jati Kayu jati memiliki nama lain adalah Tectona grandis. Warna kayu ini coklat kekuning-kuningan, coklat kelabu sampai coklat tua. Kekuatan kayu jati termasuk klas kuat II dan keawetan termasuk klas kuat awet I, dengan berat jenis rata-rata 0,70.

19

Di Indonesia kayu jati memiliki berbagai jenis nama daerah yaitu delek, dodolan jate, jatih, jatos, ki cxati, dan kulidawa. Kayu jati banyak dijadikan sebagai bahan struktur seperti tiang, balok gelagar (pada bangunan rumah dan jembatan), rangka atap, lantai, kusen jendela dan pintu bantalan kereta api dan lain-lain. Pada industri pengolahan kayu jati diolah menjadi kayu gergajian, plywood, blackbord, particlebord, dan mebelair. Karena sifatsifatnya yang baik, kayu jati merupakan jenis kayu yang paling banyak dipakai untuk berbagai keperluan seperti diatas. Sifat-sifat kayu jati secara lengkap dapat dilihat pada tabel 2.5. Tabel 2.5. Sifat-sifat Kayu Jati No. Sifat 1 Berat jenis 2 Tegangan pada batas proporsi 3 Tegangan pada batas patah 4 Modulus elastisitas 5 Tegangan tekan sejajar serat 6 Tegangan geser arah radial 7 Tegangan geser arah tangensial 8 Kadar selulosa 9 Kadar lignin 10 Kadar pentosa 11 Kadar abu 12 Kadar silica 13 Serabut 14 Kelarutan dalam alkohol bensena 15 Kelarutan dalam air dingin 16 Kelarutan dalam air panas 17 Kelarutan dalam NaOH 1 % 18 Kadar air saat titik jenuh serat 19 Nilai kalor 20 Kerapatan

Satuan Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 Kg/cm3 % % % % % % % % % % % Cal/gram Cal/gram

Nilai 0,62-0,75 (rata-rata 0,67) 718 1031 127700 550 80 89 47,5 29,9 14,4 1,4 0,4 66,3 4,6 1,2 11,1 19,8 28 5081 0,44

20

Ada beberapa sifat yang perlu dipahami untuk pertimbangan dalam menentukan jenis kayu yang akan digunakan sebagai bahan bangunan. Sifatsifat kayu tersebut adalah sifat kimia, sifat fisik, sifat higroskopik dan sifat mekanik kayu (Wirjomartono, S : 1991). a. Sifat Kimia Kandungan kimiawi kayu adalah selulosa 70%, lignin 18%28% dan zat lain (termasuk zat gula) 12%. Dinding sel tersusun sebagian besar oleh selulosa (C6H10O5)x). Lignin adalah suatu campuran zat-zat

organik yang terdiri dari zat karbon (C), zat air (H2) dan oksigen (O2). Sifat kimiawi kayu yang harus diperhatikan adalah kandungan sifat ekstratifnya. Istilah ekstraktifnya meliputi sejumlah senyawa yang berbeda yang dapat diekstrasi dari kayu dengan menggunakan pelarut poler dan non-poler. Dalam arti yang sempit ekstraktif merupakan senyawa-senyawa yang larut dalam pelarur organk, tetapi senyawasenyawa karbohidrat dan organik yang larut dalam air juga termasuk dalam senyawa yang dapat diekstraksi. Biasanya, bagian-bagian yang berbeda dari pohon yang sama, yaitu batang, cabang, akar kulit kayu, dan tugi berbeda banyak jumlah maupun komposisi ekstratifnya. Dalam hal pinus, kayu teras secara khas mengandung ekstraktif jauh lebih banyak daripada kayu gubal. Ekstraktif-ekstraktif menempati tempat-tempat morfologi tertentu dalam struktur kayu. Sebagai contoh, asam-asam resin terdapat dalam saluran resin, sedangkan lemak dan lilin terdapat dalam sel-sel parenkim

21

jari-jari. Ekstraktif-ekstraktif fenol terdapat terutama dalam kayu teras dan kayu teras dan dalam kulit. Kandungan ekstraktif biasanya berkurang dari 10%, tetapi ia dapat bebrvariasi hingga sampai 40% berat kering. Ekstraktif tidak hanya penting untuk mengerti taksonomi dan biokimia pohon-pohon, tetapi juga penting bila dikaitkan dengan aspekaspek teknologi. Ekstraktif merupakan bahan dasar yang berharga untuk pembuatan bahan-bahan kimia organik dan mereka memainkan peranan penting dalam proses pembuatan pulp dan kertas. Pengerasan semen akan terhambat apabila bahan baku kayu yang merupakan serbuk gergaji kayu yang mempunyai ekstraktif yang tinggi. Usaha untuk mengurangi kadar ekstraktif adalah dengan merendam serbuk gergaji kayu dengan air panas ataupun dingin. b. Sifat Fisik Sifat-sifat ini antara lain daya hantar panas, daya hantar listrik, angka muai, kerapatan dan berat jenis. Perambatan panas pada kayu akan tertahan oleh pori-pori dan rongga-rongga pada sel kayu. Karena itu, kayu sebagai penyekat panas. Semakin banyak pori dan rongga udaranya kayu semakin kurang menghantar panas. Selain itu daya hantar panas juga dipengaruhi oleh kadar air kayu, pada kadar air yang tinggi daya hantar panasnya juga semakin besar. Daya hantar panas kayu sejajar serat adalah 0,10 kg-kal/mj0C, sedangkan daya hantar panas tegak lurus serat adalah 0,03 kg-kal/mj0C.

22

c. Sifat Higroskopik Akibat air yang keluar dari rongga sel dan dinding sel, kayu akan menyusut dan sebaliknya kayu akan mengembang apabila kadar airnya bertambah. Sifat kembang susut dipengaruhi oleh kadar air, angka rapat kayu dan kelembaban udara. Angka susut berbagai arah disajikan pada tabel 2.6. Tabel 2.6 Kembangsusut kayu pada berbagai arah (Wirjomartono, S : 1991) Arah Tangensial (Searah garis lengkung) Radial (Menuju ke pusat) Aksial (Sejajar serat) Volumetrik Prosentase Susut (%) 2 - 14 2 14 0.1 0.2 7 21

Kadar air kayu adalah berat kayu yang terkandung dalam kayu dibanding dengan berat kayu kering tungku dinyatakan dalam persen. Air yang terkandung dalam air bebas (free water) yang mengisi ruang antar sel, dan air ikat (imbitet water) yang mengisi dinding sel. Pada saat air bebas telah keluar dan hanya terdapat air ikat saja disebut pada kondisi titik jenuh serat (fiber saturation point). Kadar air pada keadaan ini berkisar antara 25 30% tergantung jenis kayunya. Kadar air yang dipengaruhi oleh kelembaban udara. Kayu peka terhadap kelembaban udara, dan akan selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan dengan keadaan sekelilingnya. Kayu akan mempunyai kadar air stabil jika suhu dan kelembaban udara sekelilingnya stabil. Keadaan ini disebut air imbang. Kadar air imbang dari suatu jenis kayu

23

tergantung dari sifat higroskopik kayu, yang dipengaruhi oleh banyaknya sel kayu yaitu hemiselulosa dan lignin. d. Sifat mekanik Kayu bersifat anisotropik (non isotropic material), dengan kekuatan yang berbeda-beda pada berbagai arah. Sel kayu jika mendapat gaya tarik sejajar serat akan mengalami patah tarik sehingga kulit sel hancur dan patah. Jika gaya tarik terjadi pada arah tegak lurus serat, maka gaya tarik menyebabkan zat lekat lignin akan rusak. Dukungan gaya tarik pada arah tegak lurus serat jauh lebih kecil dibandingkan dengan pada arah sejajar serat. Sel kayu yang mengalami gaya desak dengan arah sejajar serat, menyebabkan sel kayu tertekuk. Sel-sel kayu disampingnya akan

mengalami tekuk kearah luar, sehingga sel kayu patah karena tekuk kedalam. Jika gaya desak terjadi pada arah tegak lurus serat, sel kayu akan tertekan atau seolah-olah sel kayu dipejet saja. Jadi dukungan gaya

desak pada arah tegak lurus serat akan lebih besar dibandingkan dengan pada arah sejajar serat. Gaya geser sejajar serat pada kayu akan menyebabkan rusaknya zat lekat lignin. Jika gaya geser terjadi pada arah tegak lurus serat, maka gaya seolah-olah memotong dinding-dinding sel. Gaya untuk memotong dinding sel lebih besar daripada gaya untuk mematahkan zat lekat lignin. Jadi dukungan gaya geser pada arah tegak lurus serat akan lebih besar dibandingkan dengan pada arah sejajar.

24

C. Penelitian Sejenis Pada tahun anggaran 1993/ 1994, Balai Industri Ujung Pandang melakukan penelitian pembuatan bata cetak dengan campuran serbuk gergaji. Dari penelitian ini dihasilkan bata cetak serbuk gergaji dengan kuat tekan tertinggi sebesar 69,83 kg/ cm2. berdasar mutu bata beton pejal (SNI 034889-A) maka termasuk bata beton pejal mutu B40. Hal ini menunjukkan

bahwa penggunaanya masih terbatas pada konstruksi bangunan yang tidak menerima beban. Kemudian tahun 1996 Kemino (Staf Teknik Loka Perintis Bahan Bangunan Lokal Medan) mengadakan penelitian tentang pemanfaatan bata cetak dengan komposisi campuran 1 semen: 6 pasir : 6 limbah, didapat kuat tekan sebesar 26 kg/ cm2. Berdasar mutu bata beton pejal SNI 0348-89-A termasuk bata beton pejal B25, pada campuran 1 semen : 6 pasir : 2 limbah didapat kuat tekan 79,83 kg/ cm2 termasuk mutu B70

D. Kerangka Berfikir Bata beton pejal merupakan bata beton yang mempunyai luas penampang pejal 75% dari volume bata seluruhnya. Bata beton pejal ini

dibuat dengan campuran pasir, semen dan air, kemudian dimasukkan dalam cetakan bata beton dengan dipadatkan. Bata beton pejal adalah bata cetak yang digunakan untuk permukaan dinding suatu konstruksi bangunan, biasanya dipakai dalam perumahan.

25

Bahan material yang cukup mahal, maka diupayakan bahan bangunan yang ekonomis tetapi masih mempunyai batas-batas yang disyaratkan. Limbah serbuk gergaji kayu jati dari hasil industri penggergajian kayu selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, hanya digunakan sebagai bahan pembakaran bata merah dan banyak menumpuk didekat lokasi penggergajian yang mengakibatkan pencemaran pada air tanah. Melihat keadaan seperti itu, limbah gergajian kayu yang tidak terpakai perlu diadakan penelitian tentang pemanfaatan serbuk gergajian kayu jati sebagai campuran bahan pengisi dalam pembuatan bata beton pejal. Dengan demikian dapat mengurangi dampak pencemaran akibat penumpukan serbuk gergaji. Dalam penelitian ini akan dicari besarnya perbedaan kuat tekan dan serapan air pada bata beton pejal dengan membandingkan bata beton pejal yang memakai serbuk gergaji kayu jati gergaji kayu jati. dan yang tidak memakai serbuk

E. Hipotesis Sesuai dengan kajian pustaka dan kerangka berfikir yang dikemukakan didepan, maka dapat diajukan suatu hipotesis yaitu: Ada hubungan antara penambahan serbuk gergaji dengan kuat tekan dan serapan air pada bata beton pejal dengan campuran bahan pengisi serbuk gergaji kayu jati.

BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian merupakan cara yang digunakan dalam penelitian, sehingga dalam pelaksanaan dan hasil penelitian dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Metode eksperimen yaitu suatu metode penelitian untuk mengadakan kegiatan percobaan yang mendapatkan suatu hasil, hasil tersebut menunjukkan hubungan sebab akibat antara variabel satu dengan yang lainnya. A. Populasi Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, hasil perhitungan atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Populasi tidak hanya orang, dan juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek tersebut. Populasi dalam hal ini adalah bata beton pejal dan bata beton pejal dengan campuran serbuk gergaji kayu jati. Semen yang dipakai adalah semen tipe I dengan merk Nusantara, pasir yang digunakan pasir muntilan yang dijual di pasaran, dan air yang dipakai yang ada di Labolatorium Teknik Sipil Unnes. Sedangkan serbuk gergaji kayu jati yang dipakai dari penggergajian kayu yang berada di Desa Jragung Kecamatan Karangawen.

26

27

B. Sampel Sampel dapat diartikan sebagai contoh (dalam kamus bahasa Indonesia). Sampel dalam penelitian ini menggunakan bata beton pejal dengan campuran serbuk gergaji kayu jati, dengan jumlah benda uji 30 buah dengan ukuran bata beton pejal panjang 40 cm, lebar 10 cm dan tinggi 20 cm. Cara pengambilan sampel pasir, semen, air dan serbuk gergaji kayu jati adalah 1). pasir diambil pasir muntilan yang ada di pasaran 2). Semen dipakai semen Nusantara dengan berat 40 kg dalam kondisi baik, 3). air yang dipakai air artetis yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari di kampus Unnes, 4). serbuk gergaji kayu jati diambil dari Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Sampel dalam penelitian ini adalah berupa benda uji bata beton pejal yang terbagi dalam dua perlakuan dengan masing-masing 3 benda uji, perlakuanperlakuan tersebut dapat dilihat pada tabel 3.1. Tabel 3.1 Perlakuan campuran subtitusi serbuk gergaji kayu jati untuk bata beton pejal. Komposisi Uji Uji Daya Perbandingan Fas Umur Serbuk No Kuat Tekan Serap Air Semen-Agregat Gergaji 3 1 1:7 0,4 28 hari 0% 3 3 2 1:7 0,4 28 hari 10% 3 3 3 1:7 0,4 28 hari 20% 3 3 4 1:7 0,4 28hari 30% 3 3 5 1:7 0,4 28 hari 40% 3

C. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.

28

Variabel dalam penelitian ini ada tiga macam, yaitu variabel bebas, variabel terikat dan variabel kontrol. 1. Variabel bebas Variable bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 1999:20). Yang menjadi variable bebas dalam penelitian ini adalah subtitusi serbuk gergaji untuk bata beton pejal. 2. Variabel terikat Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 1999:20). Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini adalah kuat tekan bata beton pejal. 3. Variabel kontrol Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan dilihat konstan sehingga penelitian dapat melakukan penelitian bersifat membandingkan (Sugiyono, 1999:20). Sebagai variabel kontrol dalam penelitian ini adalah bata beton pejal dengan subtitusi 0% serbuk gergaji.

29

D. Desain Penelitian

Pengambilan Bahan

Pengujian Bahan

Serbuk gergaji: 1. Berat Jenis

Air: 1. Warna 2.Kejernian

Semen : 1. Kehalusan semen secara manual

Pasir : 1. Berat jenis 2. Berat satuan 3. Kadar lumpur 4. Gradasi

Perencanaan Adukan

Pencampuran bahan sesuai perbandingan FAS

Pembuatan benda uji

Perawatan selama 28 hari

Pengujian benda uji : 1. Kuat tekan 2. Daya Serap air

Analisa Hasil

Kesimpulan

Gambar 3.1 Skema Alur Penelitian

30

E. Prosedur Penelitian Data dalam penelitian ini merupakan hasil uji berat jenis, berat satuan, berat jenis serbuk gergaji, kuat tekan dan serapan air bat beton pejal dengan percobaan (eksperimen), dengan cara membuat bata beton pejal dengan campuran serbuk gergaji kayu jati. Tahap dan prosedur penelitian adalah : a. Tahap Persiapan Tahap persiapan yaitu menyiapkan bahan dan peralatan yang akan digunakan dalam penelitian pembuatan bata beton pejal dengan campuran serbuk gergaji kayu jati. Bahan dan peralatan yang akan digunakan adalah: 1. Bahan 1. Air Air yang dipakai dalam penelitian ini adalah air yang tersedia di laboratorium Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. 2. Semen Dalam penelitian ini semen yang digunakan adalah semen portland jenis I yang ada dipasaran. 3. Agregat Agregat yang dipakai sebagai agregat halus adalah pasir muntilan. 4. Serbuk gergaji Serbuk gergaji yang dipakai adalah hasil penggergajian kayu jati di Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.

31

2. Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Ayakan No. 200 Ayakan No. 200 digunakan untuk pemeriksaan kandungan lumpur dalam pasir. Merknya adalah Tatonas. b. Ayakan Ayakan dengan lubang berturutturut 4,80 mm, 2,40 mm, 1,2 mm, 0,6 mm, 0,3 mm, dan 0,15 mm yang dilengkapi dengan tutup pan dan alat penggetar, digunakan untuk mengetahui gradasi pasir. Merknya adalah Tatonas. c. Timbangan Timbangan digunakan dengan merk Radjin untuk menimbang bahan susun adukan beton. d. Gelas Ukur Gelas ukur digunakan untuk mengukur banyaknya air yang digunakan pada pembuatan bata beton pejal. e. Piknometer Piknometer dengan kapasitas 500 gr digunakan untuk mencari Bj agregat halus. f. Jangka Sorong Jangka sorong digunakan untuk mengukur semua dimensi benda uji. g. Desikator. Desikator digunakan untuk mendinginkan bahan benda uji setelah dikeluarkan dari oven.

32

h. Oven. Oven merek Gallen Kamp Size Two Oven BS untuk mengeringkan pecahan benda uji pada pengujian daya serap air dan pemeriksaan bahan. i. Mesin Aduk Beton. Mesin aduk beton digunakan untuk mengaduk bahan penyusun bata beton pejal dengan mesin merk The Creteangle Multi Flow dengan motor listrik, berkapasitas 60 liter. j. Cetakan Bata Beton Pejal. Cetakan bata beton pejal yang digunakan adalah dengan ukuran panjang 40 cm, tinggi 20 cm dan lebar 10 cm. k. Karung Goni. Karung goni digunakan untuk menyelimuti bata beton pejal saat perawatan. l. Mesin Uji Tekan. Mesin uji tekan digunakan untuk menguji kuat tekan benda uji bata beton pejal. Dalam penelitian ini dipakai merk Universal Testing Machine (UTM).

b. Tahap Pengujian Bahan Untuk mengetahui karakteristik dari bahan penyusun bata beton pejal dengan campuran serbuk gergaji kayu jati perlu diteliti bahan penyusunnya, dalam hal ini yang diteliti adalah semen, pasir, air dan serbuk gergaji kayu jati. Pengujian bahannya sebagai berikut:

33

1. Pengujian Semen Semen diperiksa dengan mengamati secara visual tentang kemasan dalam keadaan tertutup rapat serta butirannya halus dan tidak terdapat gumpalan/ mengeras. 2. Pengujian Agregat Halus Pengujian agregat halus meliputi berat jenis pasir, berat satuan pasir, kadar lumpur pasir dan pemeriksaan gradasi pasir. a. Pengujian berat jenis pasir 1. Pasir dikeringkan dalam tungku pemanas (oven) dengan suhu sekitar 1050 sampai beratnya tetap. 2. Pasir direndam di dalam air selama 24 jam. 3. Air bekas rendaman dibuang dengan hati-hati sehingga butiran pasir tidak ikut terbuang. Pasir dibiarkan diatas nampan dan dikeringkan sampai tercapai keadaan jenuh kering muka. 4. Pasir diatas sebanyak 500 gram (B0) dimasukkan kedalam piknometer, kemudian dimasukkan air sampai sekitar 90% penuh. Untuk mengeluarkan udara yang terjebak dalam butirbutir pasir, piknometer diputar dan diguling-gulingkan. 5. Air ditambahkan hingga piknometer penuh, kemudian ditimbang (B1). 6. Pasir dikeluarkan dari piknometer kemudian dimasukkan kedalam oven selama 2 x 24 jam, sampai beratnya tetap (B2).

34

7. Piknometer dibersihkan dan diisi air sampai penuh, kemudian ditimbang (B3). b. Pengujian berat satuan satuan pasir 1. Bejana yang akan digunakan ditimbang terlebih dahulu (B1). 2. Pasir dalam keadaan jenuh kering muka dimasukkan kedalam bejana dan ditimbang (B2). 3. Pasir dimasukkan ke dalam bejana dengan dipadatkan dan diratakan dengan mistar perata, kemudian ditimbang berat bejana yang berisi pasir tersebut (B3). c. Pengujian kadar lumpur Langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur adalah: 1. Pasir yang kering oven ditimbang beratnya (B1). 2. Pasir dicuci diatas ayakan No. 200. 3. Pasir yang tertinggal diatas ayakan dipindahkan pada piring dan dimasukkan kedalam oven. 4. Setelah 24 jam, pasir dikeluarkan dari oven dan ditimbang (B2). d. Pemeriksaan gradasi pasir Langkah-langkah pemeriksaan gardasi agregat halus (pasir)

dilakukan sebagai berikut: 1. Pasir yang akan diperiksa dikeringkan dalam oven dengan suhu 1050 sampai beratnya cukup. 2. Ayakan disusun sesuai dengan urutannya, ukuran terbesar diletakkan pada bagian atas, yaitu 4,5 mm, diikuti dengan ukuran

35

ayakan yang lebih kecil yaitu berturut-turut 2,4 mm, 1,2 mm, 0,6 mm 0,33 mm, 0,15 mm. 3. Pasir dimasukkan kedalam ayakan yang paling atas, dan diayak dengan cara digetarkan selam kurang lebih 10 menit. 4. Pasir yang tertinggal pada masing-masing ayakan dipindahkan pada masing-masing wadah dan ditimbang. 5. Gradasi pasir diperoleh dengan menghitung jumlah komulatif persentase butiran yang lolos pada masing-masing ayakan. Nilai modulus halus butir dihitung dengan menjumlahkan persentase komulatif butir tertinggal, kemudian dibagi seratus. 3. Air Pemeriksaan air hanya dilakukan untuk sifat-sifatnya saja, dengan mengamati secara visual yaitu air tidak warna, tidak berbau. Sedangkan cara kimia tidak dilakukan pemeriksaan. 4. Serbuk gergaji Pemeriksaan berat jenis serbuk gergaji diambil dari potongan kayu jati gergajian yang berukuran 50 x 50 x 20 mm. Kayu jati tersebut ditimbang beratnya (Wk), kemudian kayu jati dicari volume dari dimensi ukuran tersebut (Vk). Berat jenis kayu jati adalah hasil bagi berat kayu jati (WK) dengan volume dimensi kayu tersebut (VK). Untuk pemeriksaan kadar air, kayu di oven dan ditimbang beratnya didapat berat kayu setelah di oven. Kadar air didapat dari selisih berat mula-mula dengan berat kering tungku dibagi dengan berat kering tungku dikali seratus persen.

36

c. Tahap Pembuatan Adukan Agregat halus (pasir), semen, air dengan perbandingan tertentu dan campuran subtitusi serbuk gergaji 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dibuat adukan bata beton pejal. Pembuatan adukan bata beton pejal dilakukan dengan urutan sebagai berikut: 1. Perbandingan volume semen-agregat dikonversikan terlebih dahulu kedalam perbandingan berat berdasarkan berat satuan masing-masing bahan. Berdasarkan perbandingan campuran tersebut, dihitung keperluan nahan susun bata beton pejal, agar semen, agregat halus, serbuk gergaji kayu jati dan air untuk sekali adukan cukup membuat enam bata beton pejal. 2. Semen, agregat halus, serbuk gergaji kayu jati dan air ditimbang atau ditakar sesuai dengan hasil hitungan kebutuhan bahan susun bata beton pejal kemudian dimasukkan kedalam mesin pengaduk yang telah dibersihkan. Bahan diaduk, hingga rata, warnanya hingga sama dan siap dituangkan dalam cetakan. 3. Adukan bata beton pejal tersebut digunakan untuk enam benda uji dengan ukuran panajng 40 cm, lebar 10 cm dan tinggi 20 cm. Dalam penelitian ini jumlah benda uji yang dibuat sebanyak 30 buah dengan 5 kali adukan.

37

d. Tahap Pembuatan Benda Uji dan Perawatan Benda Uji Adukan bata beton pejal dimasukkan kedalam cetakan benda uji yang telah dilapisi dengan minyak pelumas. Adukan mortar dimasukkan dengan tiga tahap yaitu memasukkan sepertiga kemudian dipadatkan sebanyak 25 kali, tahap kedua dan ketiga sama. Cetakan dibuka pada waktu mortar berumur satu hari dari waktu pembuatan. Setelah itu bata beton pejal dilakukan perawatan selama 28 hari dengan menyiram dengan air. Setelah umur 28 hari dilakukan pengukuran volumenya, kemudian dilakukan uji kuat tekannya dan serapan air pada bata beton pejal.

e. Tahap Pengujian Bata Beton pejal Pada penelitian ini benda uji hanya diuji kuat tekannya dan serapan air bata beton pejal. Cara pengujiannya yaitu sebagai berikut: a. Pengujian kuat tekan bata beton pejal Tahap pengujian kuat tekan bata beton pejal adalah: 1. Benda uji diukur panjang, lebar, dan tingginya. 2. Letakkan benda uji dalam mesin tekan secara sentris. 3. Jalankan mesin tekan dengan pembebanan yang konstan berkisar antara 2 sampai 4 kg/ cm2. 4. Lakukan pembebanan sampai benda uji hancur, kemudian catat beban maksimal yang terjadi selama pengujian. Kuat tekan bata beton pejal (fc) dapat diketahui dari perbandingan beban maksimum (Pmak) dengan luas penampang (A) bata beton pejal.

38

b. Pengujian serapan air bata beton pejal. Tahap pengujian serapan air bata beton pejal adalah: 1. Bata beton pejal yang sudah dibuat dioven selama 24 jam dan ditimbang beratnya. (B1). 2. Bata beton pejal direndam dalam air selama 24 jam, kemudian diangkat dan ditimbang beratnya (B2).

F. Pengumpulan Data a. Berat jenis pasir Berat jenis pasir =

B2 ( B3 + B0 B1 )

Keterangan: B2 = berat pasir kering oven B3 = berat piknometeryang berisi air B1= berat piknometer berisi air + pasir B0 = berat benda uji dalam keadaan jenuh kering muka = 500 gram b. Berat satuan agregat Berat satuan = Keterangan: B1 = berat bejana kosong B2 = berat bejana berisi agregat pasir B3 = berat berat bejana berisi air
B2 B1 B3 B1

39

c. Kandungan lumpur pada pasir Kandungan lumpur = Keterangan: B1 = berat pasir kering oven B2 = berat pasir kering oven setelah dicuci B1 B2 x100% B1

d. Berat jenis kayu jati

K =
Keterangan:

WK VK

K = Berat jenis kayu jati (gram/ cm3)

Wk = Berat kayu jati (gram) Vk = Volume kayu jati (gram)

e. Kuat tekan bata beton pejal Kuat tekan (fc) = Keterangan: fc =Kuat tekan bata beton pejal (MPa) P = Beban maksimum tertahan (KN) A = Luas permukaan benda uji (mm2)

P A

40

f. Serapan air Serapan air = Keterangan:

B2 B1 x100% B1

B1 = Berat benda uji dalam kering mutlak B2 = Berat benda uji setelah rendam

G. Analisis Data Hasil Pengujian

Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini dengan analisis regresi. Analisis regresi ini digunakan untuk menyelidiki hubungan atau keterkaitan masing-masing variabel, yaitu hubungan variabel bebas dan variabel terikat. Data yang dihasilkan pada penelitian ini adalah nilai kuat tekan dan daya serap air. Dalam menganalisis data hasil penelitian dilakukan dengan cara curve fitting yaitu dengan jalan ditentukan terlebih dahulu bentuk kurva yang paling tepat dan sesuai untuk memiliki data yang dihadapi. Untuk itu dibuat diagram pencar (scatter diagram) dari data yang ada. Titik-titik data percobaan diplotkan dalam suatu system koordinat. Data hasil pengujian pada penelitian ini dihitung dan diolah dengan menggunakan alat Bantu computer dengan perangkat lunak program aplikasi

Microsoft Office Excel 2003 for Windows.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pemeriksaan terhadap bahan susun bata beton pejal, rencana kebutuhan bahan adukan, kuat tekan dan serapan air diperoleh hasil sebagai berikut : 1. Air Pemeriksaan air dilakukan secara visual yaitu mengamati air secara langsung mengenai sifat-sifatnya yaitu, tidak berwarna, tidak berbau, jernih/ tidak mengandung lumpur dan benda terapung lainnya sehingga air dapat digunakan untuk campuran adukan bata beton pejal. Menurut SK-SNI-S-041989-F air harus bersih, tidak mengandung lumpur, minyak dan benda terapung lainnya yang dapat dilihat secara visual. Dari hasil pengamatan secara visual terlihat air tidak berwarna, tidak mengandung lumpur dan tidak berbau, sehingga air yang dipakai dalam penelitian sebagai bahan pencampur adukan bata beton pejal.

2. Semen Pemeriksaan secara visual menyimpulkan bahwa semen dalam keadaan baik yaitu berbutir halus, tidak terdapat gumpalan-gumpalan, sehingga semen dapat digunakan sebagai bahan susun beton. Hasil pengamatan semen diperoleh kemasannya masih baik, tidak terdapat cacat/ robek dan butiranbutiran semen tidak terjadi gumpalan-gumpalan, sehingga semen dapat dipakai dalam adukan bata beton pejal.

41

42

3.

Pasir Muntilan Pemeriksaan sifat pasir ini meliputi pemeriksaan berat jenis, berat satuan, gradasi, kadar air pasir dan pemeriksaan kadar lumpur pasir. Hasil penelitian masing-masing pemeriksaan tersebut yaitu: a. Berat jenis Pemeriksaan berat jenis dilakukan dua kali pengujian terhadap sample I dan sample II. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat jenis rata-rata pasir dari kedua sample adalah 2,56 gram/cm3. Hasil pemeriksaan berat jenis pasir secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 1. Pasir Muntilan termasuk dalam agregat normal (berat jenisnya antara 2,5-2,7), sehingga dapat dipakai untuk beton normal dengan kuat tekan 15-40 MPa (Tjokrodimuljo 1996: 15). Berat jenis pasir ini digunakan dalam merencanakan adukan bata beton pejal. b. Berat satuan Pemeriksaan berat satuan pasir dilakukan pada pasir dalam keadaan SSD. Pada penelitian ini digunakan piknometer yang berbentuk silinder dengan volume 1000 cm3 dan berat piknometer 250,70 gr. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat satuan pasir 1,563 gram/cm3. Pengujian berat satuan ini bertujuan untuk menentukan berat agregat dalam kondisi padat. Hasil pemeriksaan berat satuan dapat dilihat pada lampiran 2. c. Gradasi pasir Menurut SK-SNI-T-15-1990-03, Pasir Muntilan telah memenuhi syarat sebagai bahan penyusun beton normal. Hasil pemeriksaan Modulus Halus

43

Butir didapatkan sebesar 2,993 (batas Modulus Halus Butir pasir yang diijinkan 1,5 - 3,8). Dalam peraturan SK-SNI-T-15-1990-03, kekasaran pasir dibagi menjasi empat kelompok menurut gradasinya, yaitu pasir kasar (zona I), pasir agak kasar (zona II), pasir agak halus (zona III), dan pasir halus (zona IV). Berdasarkan pembagian gradasi tersebut pemeriksaan gradasi pasir masuk pada zona II yaitu pasir agak kasar. Pemeriksaan gradasi pasir Muntilan dapat dilihat dalam gambar 4.1 dan data selengkapnya pada lampiran 2.
GRADASI PASIR MUNTILAN PADA ZONA II (Pasir agak Kasar) Prosenrtase Lolos Ayakan (%)
100

80

60

40

Batas Atas Zone II


20

Batas Bawah Zone II Gradasi Pasir

0 0.15

0.3

0.6

1.2

2.4

4.8

10

Lubang Ayakan (mm)

Gambar 4.1. Gradasi Pasir Muntilan dan Batasan Gradasi Pasir Zone II menurut SK SNI-T-15-1990-03

d. Kadar lumpur Pemeriksaan kadar lumpur didapatkan sebesar 3,76% (lampiran 3), menurut SK-SNI-S-04-1989-F kadar lumpur maksimum pasir ialah 5%. Dengan demikian pasir muntilan dapat digunakan sebagai bahan susun bata beton pejal, karena kandungan lumpur dibawah yang disyaratkan

44

dibawah 5%. Untuk pasir dengan kandungan lumpur lebih dari 5%, maka sebelum dipakai hendaknya dicuci terlebih dahulu.

4. Serbuk Gergaji Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sifat fisik dari bahan serbuk gergaji yang digunakan dalam penelitian yaitu serbuk gergaji kayu jati. Pemeriksaan sifat serbuk gergaji ini meliputi pemeriksaan berat jenis, kadar air dan berat satuan yaitu: a. Berat jenis Pemeriksaan berat jenis, berat isi dan kadar air kayu jati dan serbuk gergaji kayu jati dilakukan dua kali yaitu terhadap sample I dan sample II. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat jenis rata-rata sebesar 0,69 gram/cm3, berat isi rata-rata sebesar 0,67 gram/cm3 dan kadar air rata-rata kayu jati sebesar 14,16%, sedangkan hasil pemeriksaan kadar air rata-rata serbuk gergaji yang belum direndam sebesar 12,85%, yang sudah direndam dan dikeringkan kembali sebesar 16,85%. Berat jenis serbuk gergaji yang di

dapat lebih kecil dari berat jenis pasir, sehingga mengakibatkan berat volume campuran menjadi menurun. Hasil pemeriksaan selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 4.

b. Berat satuan Pada penelitian ini digunakan piknometer yang berbentuk silinder dengan volume 1000 cm3 dan berat piknometer 250,70 gram. Dari hasil pemeriksaan diperoleh berat satuan serbuk gergaji 0,24 gram/cm3.

45

Pengujian berat satuan ini bertujuan untuk menentukan berat serbuk gergaji dalam kondisi padat Hasil pemeriksaan berat jenis serbuk gergaji dapat dilihat pada lampiran 5.

5. Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji Untuk mendapatkan perbandingan bahan susunan bata beton pejal yang tepat, kebutuhan bahan susunan bata beton pejal dihitung berdasarkan perbandingan berat yang diperoleh dari konversi kebutuhan bahan dalam volume. Dalam perhitungan rencana kebutuhan bahan ini faktor air semen diambil 0,4 dan kandungan udara 1%. Kebutuhan bahan untuk tiap adukan benda uji dan perhitungan rencana adukan (mix design) dapat dilihat pada tabel 4.1 dan perhitungan selengkapnya pada lampiran 7. Tabel 4.1 Rencana Adukan dan Perhitungan Kebutuhan Bahan Tiap Adukan (Mix Design) Benda Uji Bata beton pejal Kebutuhan bahan (Kg) Perbandingan Subtitusi serbuk Campuran gergaji Serbuk gergaji Pc Ps 1 Pc : 7 Ps 0% 0.000 1.787 12.510 1 Pc : 7 Ps 10% 0.179 1.608 12.510 1 Pc : 7 Ps 20% 0.357 1.430 12.510 1 Pc : 7 Ps 30% 0.536 1.251 12.510 1 Pc : 7 Ps 40% 0.715 1.072 12.510 Jumlah 1.787 7.149 62.551

Air 0.715 0.715 0.715 0.715 0.715 3.574

6.

Kebutuhan Bahan Tiap 1 M3 Mortar Setiap Adukan Bata Beton Pejal Kebutuhan bahan susun dalam m3 adukan bata beton pejal dapat dilihat pada tabel 4.2 serta hasil hitungan bahan susun bata beton pejal selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 7.

46

Tabel 4.2. Kebutuhan bahan tiap 1 m3 bata beton pejal terhadap perbandingan berat semen. Perbandingan berat semen 1 Pc : 7 Ps 1 Pc : 7 Ps 1 Pc : 7 Ps 1 Pc : 7 Ps 1 Pc : 7 Ps Kebutuhan bahan (Kg)/ m3 Subtitusi serbuk gergaji Serbuk gergaji Pc Ps 0% 10% 20% 30% 40% 0.000 28.683 57.367 86.050 114.733 286.833 258.149 229.466 200.783 172.100 2007.828 2007.828 2007.828 2007.828 2007.828 Air 114.733 114.733 114.733 114.733 114.733

7. Kuat Tekan Bata Beton Pengujian kuat tekan dilakukan pada saat mortar telah berumur 28 hari, dengan 3 buah benda uji untuk setiap kadar serbuk gergaji dan menggunakan mesin uji desak (Compression Tension Machine ) merk Indotest. Hasil pengujian kuat tekan bata beton pejal dengan bahan tambah serbuk gergaji pada lampiran 8. Data yang diperoleh dari penelitian kuat tekan

ditampilkan dalam bentuk grafik. Kemudian ditentukan jenis kurva yang sesuai. Untuk menyatakan hubungan antara persentase serbuk gergaji dengan kuat tekan bata beton pejal dipilih jenis kurva non linier. Hubungan antara persentase serbuk gergaji dengan kuat tekan bata beton pejal dapat dilihat pada gambar 4.2 dan data selengkapnya pada lampiran 8.

47

HUBUNGAN ANTARA PERSENTASE SERBUK GERGAJI DENGAN KUAT TEKAN

8
Kuat Tekan (MPa)

7 6 5 4 3 2
0 10 20 30 40
y = 6.9355e 2 R = 0.9454
-0.0111x

Persentase Serbuk Gergaji (%)

Gambar 4.2. Hubungan antara Persentase Serbuk Gergaji dengan Kuat Tekan Dari gambar 4.2 hubungan antara persentase serbuk gergaji dan kuat tekan bata beton pejal, dapat dilihat bahwa kuat tekan bata beton pejal akan semakin menurun dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran. Kuat tekan tertinggi terjadi pada persentase serbuk gergaji 0%, kemudian kuat tekan akan semakin menurun sampai pada persentase serbuk gergaji 40%. Untuk kuat tekan bata beton pejal tertinggi sebesar 6,858 MPa dan kuat tekan terendah sebesar 4,135 MPa. Dari hasil penelitian bata beton bejal dengan persentase serbuk gergaji 0% termasuk dalam bata beton pejal mutu II. Berdasarkan gambar 4.2 terlihat bahwa pada persentase 0% bata beton pejal relatif lebih kuat dibanding dengan bata beton pejal dengan penambahan serbuk gergaji. Penurunan kuat tekan ini disebabkan adanya subtitusi serbuk gergaji yang mengurangi jumlah semen, maka akan mengakibatkan berkurangnya pasta semen sehingga kuat tekannya rendah.

48

Hal yang memberikan perbedaan dalam penurunan kuat tekan bata beton pejal yang pertama adalah pada saat pemadatan dilakukan, semakin padat pembuatan dan banyaknya persentase penggunaan serbuk gergaji akan

mengurangi pasta semen, sehingga pasta semen yang diperlukan untuk pengikatan akan berkurang. Yang kedua adalah setelah bata beton pejal mengeras air bebas dan air ikat akan keluar dari dinding bata beton pejal yang kemudian akan menguap. Panas yang terjadi pada bata beton pejal akibat reaksi antara semen dan air mengakibatkan penguapan air dari serbuk gergaji akan bertambah besar dan penguapan yang terjadi tidak hanya terjadi pada air bebas saja, tetapi air ikat pada serbuk gergaji akan ikut menguap. Penguapan air yang keluar dari rongga sel dan dinding sel akan mengakibatkan serbuk gergaji kayu jati akan menyusut volumenya. Penyusutan volume tersebut akan megakibatkan berkurangnya lekatan yang baik antara serbuk gergaji dengan pasta seman, yang mengakibatkan menurunnya kuat tekan bata beton pejal. Selain itu serbuk gergaji kayu jati memiliki sifat-sifat kimia berupa selulosa, lignin dan zat ektraktif, dimana kandungan zat ekstraktif yang tinggi akan menghambat proses hidrasi semen yang mengakibatkan penurunan pasta semen dan memperlemah lekatan antara agregat halus (pasir) dengan pasta semen. Pengerasan semen akan terhambat apabila bahan baku kayu yang merupakan serbuk gergaji kayu yang mempunyai ekstraktif yang tinggi.

49

8. Serapan Air Pengujian daya serapan air bata beton pejal dilakukan terhadap 3 benda uji pada setiap variasi campuran. Hasil pengujian daya serap air bata beton pejal dengan bahan tambah serbuk gergaji pada lampiran 9. Data yang diperoleh dari penelitian serapan air bata beton pejal ditampilkan dalam bentuk grafik. Kemudian ditentukan jenis kurva yang sesuai. Untuk menyatakan hubungan antara persentase serbuk gergaji dengan serapan air bata beton pejal dipilih jenis kurva linier. Hubungan antara persentase serbuk gergaji dengan serapan air dapat dilihat pada gambar 4.4.
HUBUNGAN ANTARA PERSENTASE SERBUK GERGAJI DENGAN SERAPAN AIR
25 Serapan Air (%) 20 15 10 5 0 5 10 15 20 25 30 35 40 Persentase Serbuk Gergaji (%)

y = 0.274x + 8.8135 2 R = 0.986

Gambar 4.4. Hubungan antara Berat Serbuk Gergaji dengan Serapan Air

Dari gambar 4.4 hubungan antara persentase serbuk gergaji dan serapan air bata beton pejal, dapat dilihat bahwa serapan air bata beton pejal akan semakin meningkat dengan bertambahnya kandungan serbuk gergaji dalam campuran. Serapan air terendah terjadi pada persentase serbuk gergaji 0%, kemudian serapan air akan meningkat sampai pada persentase serbuk 40%.

50

Untuk serapan air terendah pada persentase serbuk gergaji 0% sebesar 9,25% dan serapan air tertinggi pada persentase 40% sebesar 20.515%. Dari hasil penelitian serapan air diperoleh hasil dibawah daya serapa maksimal 35%. Data selengkapnya mengenai serapan air bata beton pejal terdapat pada hasil pemeriksaan mengenai serapan air pada lampiran 13. Ada bebarapa faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan serapan air pada bata beton pejal yaitu antara lain sifat dari serbuk gergaji kayu jati yang higroskopis atau mudah menyerap air. Serbuk gergaji kayu jati merupakan bahan yang berpori, sehingga air dengan mudah terserap dan mengisi pori-pori tersebut. Hal lain dari penggunaan serbuk gergaji kayu jati pada bata beton pejal yang mempengaruhi serapan air ialah saat bata beton diangin-anginkan, air yang terdapat pada rongga sel dan dinding sel yang terdapat pada bata beton akan menguap. Peguapan air disebabkan oleh panas hidrasi yang timbul akibat reaksi air dan semen, sehingga mengakibatkan volume serbuk gergaji akan menyusut. Penyusutan pada serbuk gergaji kayu jati akan menyebabkan bata beton berpori. Bata beton yang berpori akan memiliki daya serapa air yang besar.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Penambahan serbuk gergaji kayu jati sebagai subsitusi semen pada bata beton pejal akan menyebabkan terjadinya pengaruh penurunan nilai kuat tekan dan peningkatan daya serap air. 2. Bata beton pejal yang menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi semen mengalami penurunan kuat tekan bata beton dengan bertambahnya persentase serbuk gergaji kayu jati. Kuat tekan tertinggi pada persentase serbuk gergaji 0% adalah 6,858 MPa, sedangkan kuat tekan terendah untuk subsitusi semen pada persentase serbuk gergaji 40% adalah 4,135 MPa. 3. Bata beton pejal menggunakan serbuk gergaji sebagai subsitusi semen mengalami kenaikan serapan air dengan bertambahnya persentase serbuk gergaji kayu jati. Serapan air terendah untuk subsitusi semen pada persentase serbuk gergaji 0% adalah 9,25%, sedangkan serapan tertinggi untuk subsitusi semen pada persentase serbuk gergaji 40% adalah 20,515%.

51

52

B. Saran Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan pada penelitian ini baik pada pelaksanaan penelitian maupun pada hasil yang diperoleh, maka diberikan saran-saran sebagai berikut : 1. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang kuat tekan dan serapan air dengan subtitusi bahan tambah serbuk gergaji yang lebih rendah. 2. Diperlukan adanya suatu cara untuk mengolah serbuk gergaji sehingga kandungan zat ekstraktif dan zat-zat lain yang berpengaruh buruk pada pengerasan semen dapat dieliminer sekecil mungkin.

53

DAFTAR PUSTAKA

Andrias, dkk. 1996. Pengembangan Teknologi Pengolahan Serbuk Gergaji sebagai Bahan Pengisi pada Pembuatan Bata Beton Cetak. Balai Industri Ujung Pandang

Frick, H. Koesmartadi, CH. 1999. Ilmu bahan Bangunan. Yogyakarta: Kanisius

Kemino. 1996. Penelitian Limbah Industri Pengolahan Kayu sebagai Bahan Pembuat Bata Cetak. Jurnal Penelitian Pemukiman I Vol. XII No. 1-2

Pusat Pelatihan MBT. 1995. Petunjuk Praktek Asisten teknisi Laboratorium Pengujian Beton. Bandung

Murdock. L.J. dan Brook K.M, 1979. Bahan dan Praktek Beton. Jakarta: Erlangga

Neville, A.M. 1977. Properties of concrete. Pittman Publishing Limited: London

Pedoman Penulisan Skripsi. 2003. FT Unnes

Sjostrom, Eero. 1995. Kimia Kayu Dasar-dasar dan Penggunaan. Edisi kedua. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Sugiyono, Dr. 2002. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabeta

Tjokrodimuljo, K. 1996. Teknologi Beton. Yogyakarta. Nifiri

Tenget, D dan Wegeneer G, 1995. Kayu Kimia Ultrastruktur Reaksi-reaksi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

54

Wiryomartono, Suwarno. 1976. Konstruksi Kayu. Yogyakarta : UGM Yayasan Lembaga Pendidikan Masalah Bangunan. 1989. Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (SK SNI S-04-1989-F). Bandung: Departemen Pekerjaan Umum

Yayasan Lembaga Pendidikan Masalah Bangunan. 2002. Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (SK SNI 03-6821-2002). Bandung: Departemen Pekerjaan Umum