Anda di halaman 1dari 5

Hari/tanggal Waktu

: Kamis, 12/12/2013 : 14.00 16.30 WIB

LAPORAN PRAKTIKUM TOKSIKOLOGI VETERINER

EVALUASI EFEK TOKSIKAN TERHADAP FRAGILITAS SEL DARAH MERAH

Dosen Penanggung jawab Drh. Huda S. Darusman, M.Si

KELOMPOK IV : HAYATULLAH FRIO M. RIZKA SEPTARINA BUDIARTI ERLANDA SATRIA TRI APRIYADI HIDAYAT MOH. ADIS MAWADDAH PS B04100109 B04100110 B04100111 B04100112 B04100113 ____________ ____________ ____________ ____________ ____________

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN FARMAKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

PENDAHULUAN Pendahuluan Sistem peredaran darah merupakan alat transportasi nutrisi dan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Penyususn system peredaran darah yaitu: sel darah merah, sel darah putih, trombosit, pembuluh darah dan lain-lain. Sel darah merah memegang peran penting dalam system peradaran dan mengedarkan banyak zat penting yang dibutuhkan tubuh. Akan tetapi sel darah merah memiliki banyak sifat yang salah satunya adalah fragilitas yaitu berkaitan dengan ketahanan atau reaksi membrane sel darah merah dalam melawan tekanan. Sel darah merah dapat rusak (lisis) atau dikena dengan hemolysis. Sifat fragilitas sel darah merah dapat berkaitan dengan penyakit-penyakit yang dapat menyerang sel darah merah. Terdapat banyak penyakit pada sel darah merah, salah satunya penyakit yang berkaitan dengan toksisitas atau yang disebabkan oleh toksik. Apabila sel darah merah terkena toksik seperti saponin dan sodium nitrit yang bersifat toksik terhadap fragilitas sel darah merah. Sehingga sel darah merah menjadi lisis atau rusak, kemudian lama-kelamaan dapat terjadi anemia. Untuk itu diperlukan pengetahuan untuk mengetahui senyawa apa saja yang dapat bersifat toksik bagi tubuh terutama senyawa toksik yang ada di sekitar kita.

TUJUAN .Mahasiswa dapat mengetahui cara mengevaluasi efek sodium nitrit terhadap fragilitas sel darah merah.

TINJAUAN PUSTAKA

ALAT DAN BAHAN Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, pipet. Bahan yang dipakai adalah heparin, sodium nitrit (NaNO3), aquades dan NaCl.

METODE Percobaan ini dilakukan dengan mengawali dengan memasukan heparin ke dalam tabung. Darah yang akan diuji yaitu darah yang diambil dari jantung dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Tabung yang berisi darah disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5-10 menit dan akan terbentuk cairan plasma dan endapan darah. Cairan plasma yang terbentuk dikeluarkan kemudian darah dicuci dengan menggunakan NaCl fisiologis. Pellet dengan NaCl fisiologis disuspensik menjadi 3 % atau 1:20 dan ditambah 0,2 mL aliquots sel kedalam 1,8 mL larutan NaCl konsentrasi 0.5, 1, 1.5, 2, 2.5, 3, 3.5, 4, 4.5, 5, 5.5, 6, 6.5, 7, 7.5, 8, 8.5, 9. Kemudian dimasukkan sodium nitrit (NaNO3) ke dalam aliquot dan dibiarkan selama 30 menit. Tabung tersebut disentrifuse 3000 rpm selama 5 menit. Supernatannya diambil kemudian diukur hemolisa darah dengan spektofotometer pada absorbansia 450 nm. Persentase hemolisis dihitung berdasarkan rasio bsorbansi. Salin sebagai kontrol negatif. Untuk mendapat lisis 100%. Ke dalam RBC tambahkan aquabidest dengan perbandiangan 1:1. Persen hemolisis : absorbansi tube secara hemolisis x 100 absorbansi tube secara individual

HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 kelompok praktikum sore A (isotop) Tabung Konsentrasi 1 1 2 0,5 3 0,25 4 0,125 5 0,0625 6 Nacl 7 Aquades Tabel 2 kelompok praktikum sore B (fifarm) Tabung Konsentrasi 1 1 2 0,5 3 0,25 4 0,125 5 0,0625 6 Nacl 7 Aquades Hasil Absorbsi 1 0,049 0,054 0,04 0,049 0,069 1

Hasil Absorbsi 0,140 0,190 0,145 0,159 0,3 0,041 1

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengevaluasi toksik terhadap fragilitas sel darah merah pada tabung yang telah diberikan perlakuan yang berbeda beda. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat spektrofotometer untuk mengetahui nilai absorbansinya, nilai absorbansi digunakkan untuk mengukur kadar Hb. Darah yang lisis akibat keadaan lingkungan yang tidak fisiologis akan mengeluarkan Hb, semakin banyak sel darah merah yang lisis akan semakin banyak pula jumlah Hb. Pada tabung ke-1 hingga tabung ke-5 diberikan NaNO2 dengan konsentrasi yang berbeda-beda dan tabung ke-6 NaCl fisiologi serta tabung ke-7 aquades. Kemudian hasil praktikum kelompok A akan dibandingkan dengan hasil kelompok B. Konsentrasi yang berbeda-beda pada pemberian NaNO2 di setiap tabung akan memperlihatkan nilai absorbansi yang berbeda-beda pula. Semakin tinggi konsentrasi NaNO2 yang digunakkan maka semakin banyak Hb yang diikat oleh NaNO2 menjadi metHb sehingga konsentrasi Hb yang bebas akan semakin sedikit akibatnya ketika diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer akan semakin kecil . Hasil yang didapat pada tabel 1, pada tabung ke-1 hasil yang didapat adalah nilai absorbsi terhadap Hb sempurna 1, hal ini menunjukkan banyaknya Hb, seharusnya dengan konsentrasi NaNO2 yang tinggi menghasilkan nilai absorbansi yang kecil. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan praktikan pada saat menguji filtrat hasil sentrifuge, karena jika yang terambil adalah dibagian bawah maka akan menyebabkan nilai absorbsi sempurna. Selain itu, keadaan sel darah yang sudah lisis juga dapat mempengaruhi hasilnya. Pada tabung ke-2 hingga ke-5 seharusnya jumlah Hb semakin banyak sehingga nilai absorbsi semakin tinggi, namun pada hasil yang didapat terjadi penurunan nilai absorbsi pada tabung ke-4 yaitu 0,04 sedangkan pada tabung ke-3 sebesar 0,054. Penurunan ini dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan saat melakukan uji tidak membedakan tabung reaksi pada mesin spektrofotometer, faktor lain yang dapat mempengaruhi adalah keadaan fisiologis sel darah yang kemungkinan rusak. Ada kemungkinan lain bahwa jumlah RBC yang dimasukan pada awal pengujian disetiap tabung tidak sama seperti tidak dihomogenkan sebelumnya. Tabung ke-6 nilai absorbansinya besar karena sifat NaCl fisiologis yang lebih asam menyebabkan Hb banyak karena tidak terikat oleh NaNO2 menjadi metHb. Pemberian NaCl dijadikan kontrol negatif. Sedangkan pada tabung ke-7 diberikan akuades menunjukan nilai absorbansi 1 atau nilai absorbansi maksimal. Hal ini menunjukan bahwa Hb akan lisis sempurna karena sifat aquades yang memiliki pH basa (kontrol positif). Perbandingan dengan kelompok B pada tabel 2, juga terjadi penurunan pada tabung ke-3 dengan nilai absorbsi 0,145 setelah tabung ke-2 0,190. Tetapi

pada tabung ke-5 nilai absorbsi meningkat namun tidak sampai melebihi nilai tabung ke-3. Nilai absorbsi pada tabung aquades menunjukkan hasil yang sama antara kedua kelompok, yaitu dengan nilai absorbsi sempurna 1. . KESIMPULAN Semakin tinggi jumlah hemoglobin yang terkandung dalam darah maka nilai absorbsi semakin tinggi. Hal yang dapat mempengaruhi jumlah hemoglobin pada praktikum ini adalah keadaan sel darah merah dan pengambilan supernatan yang benar. Semakin tinggi konsentrasi NaNO2 yang digunakkan maka semakin banyak Hb yang diikat oleh NaNO2 menjadi metHb sehingga konsentrasi Hb yang bebas akan semakin sedikit akibatnya ketika diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer akan akan menunjukan hasil yang semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA