Anda di halaman 1dari 9

Case Report

Koasistensi Bagian Ilmu Bedah dan Radiologi


Keuntungan dan Kerugian Metode Fiksasi
Menggunakan Pin Intrameduler pada Operasi
Fraktur Humerus

Disusun oleh :
KURNIA HIDAYATI
00/138051/KH/04798
Dosen Pembimbing :
drh. Sudarminto, M. P.

BAGIAN KLINIK BEDAH DAN RADIOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
JOGJAKARTA
2005

Keuntungan dan Kerugian Metode Fiksasi Menggunakan Pin Intrameduler


pada Operasi Fraktur Humerus
Oleh:
Kurnia Hidayati
00/138051/KH/04798
Pembimbing:
drh. Sudarminto, M.P.
Intisari
Seekor anjing ras Pug bernama Jessy, betina umur 2 tahun dengan berat
badan 2,5 kg telah dibawa ke Rumah Sakit Hewan FKH UGM pada hari Rabu, 16
November 2005. Pemilik anjing ini adalah Rica Ayu dengan alamat Jedak Kidul
03/07 Klaten. Berdasarkan anamnesa dari pemilik diketahui bahwa anjing Jessy
mengalami luka dan kepincangan setelah berkelahi dengan anjing Rottweiler pada
hari Senin, 14 November 2005.
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan hasil sebagai berikut: ekspresi
muka lesu, keadaan tubuh sedang, frekuensi nafas 52 kali/menit, pulsus 120
kali/menit, suhu tubuh 38,1C, konjungtiva berwarna merah muda, ditemukan
luka terbuka pada bagian scapula sinister. Kaki kiri depan tampak menggantung
saat berdiri dan anjing berjalan pincang. Saat kaki kiri dipalpasi timbul krepitasi
pada bagian tulang humerus. Pemeriksaan fisik lainnya tidak didapatkan
perubahan(normal). Diagnosa yang diberikan adalah Fraktur Humerus Sinister.
Terapi yang diberikan adalah reposisi terbuka(operatif) dengan metode
fiksasi internal menggunakan pin intrameduler dan penjahitan pada luka di bagian
scapula. Kesembuhan dari luka ini tidak diketahui.

Tinjauan Pustaka
Humerus adalah tulang lengan sejati, atau brachium, dan merupakan
tulang terbesar dari ekstremitas anterior. Pada bagian proksimal tulang humerus
membentuk persendian dengan scapula yaitu sendi bahu (scapulohumeralis),
sedangkan pada bagian distal membentuk sendi siku dengan tulang radius-ulna.
Secara umum humerus terdiri atas bagian kepala, leher, dan badan (Miller, 1964).
Fraktur pada tulang humerus biasanya timbul akibat aksi muskuler yang
ekstrim atau sebab traumatik. Patahan yang terjadi dapat di bagian manapun dari
humerus. Bila fraktur berbentuk oblik maka ujung patahan yang tajam dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan di sekitarnya. Reaksi dari adanya
kerusakan pada jaringan mengakibatkan munculnya kebengkakan. Ada atau
tidaknya krepitasi saat pemeriksaan tergantung dari posisi ujung tulang yang
patah. Bila bentuk patahan tulang adalah trensversal dengan sedikit atau tanpa
pergeseran ujumg patahan dari posisi normalnya, maka kesembuhan yang baik
dapat tercapai dengan segera bila daerah tersebut dijaga dari pergerakan yang
berlebih. Pada hewan yang masih muda kesembuhan terjadi lebih cepat (Frank,
1969).
Berdasarkan lokasinya, fraktur pada humerus dapat dibedakan menjadi
Proximal end (bagian proksimal), Shaft (badan/korpus humerus), Supracondylar
(bagian atas condylus), Medial/lateral condyle (medial/lateral condylus),
Intracondylar-T/Y type (Brinker, 1978).
Salah satu metode fiksasi yang dapat digunakan dalam reposisi fraktur
humerus adalah fiksasi internal menggunakan pin intrameduler. Macam-macam
tipe pin antara lain yaitu Steinman pin, Kuentscher nail, Rush pin, Hansen-Street
nail, dan lain-lain, namun yang paling sering digunakan adalah Steinman pin.
Penggunaan pin harus memperhatikan ukuran dari tulang, umur pasien, dan tipe,
lokasi, serta lamanya kejadian fraktur. Pemeriksaan radiografi merupakan
petunjuk terbaik dalam menetukan ukuran pin (Mayer, 1957).
Sebagai salah satu pilihan metode fiksasi, pin intrameduler umumnya
digunakan pada fraktur bentuk transversal, namun dapat juga digunakan untuk
fraktur bentuk lainnya. Pada beberapa kasus mengharuskan penggunaan pin
secara reposisi terbuka (operatif), tetapi pin intrameduler dapat juga dimasukkan

dengan metode tertutup. Secara umum bila bentuk patahan transversal dan dapat
dipalpasi dan direduksi dari luar, pin dapat dimasukkan dengan metode tertutup
(normograde) (Mayer, 1957).

Gbr. 1. Pemasangan pin secara normograde dan retrograde pada humerus


(Fossum, 2002)

Penggunaan pin intrameduler pada fraktur humerus dapat dilakukan secara


tertutup (normograde) maupun secara terbuka (retrograde). Saat memasukkan pin
intrameduler secara retrograde pada humerus, pin didorong ke arah proksimal dari
permukaan fraktur sampai menembus sendi bahu, kemudian setelah tulang
direposisikan ke posisi normalnya, pin didorong masuk kembali ke arah distal
humerus. Sedangkan penempatan pin secara normograde biasanya dalam bentuk

reposisi tertutup. Pin didorong dari proksimal ke distal dimulai dari sisi
craniolateral tuberisitas mayor. Fragmen fraktur bagian proksimal dipalpasi
melalui permukaan kulit dan diusahakan untuk mereposisikan dengan bagian
distal, kemudian pin didorong masuk sampai bagian paling distal dari humerus
(Fossum, 2002).
Pengambilan pin dilakukan setelah 4-5 minggu, dimana kalus yang
terbentuk sudah cukup kuat (Shuttleworth, 1975).

TEMUAN KLINIS
Anjing jenis Pug bernama Jessy, betina umur 2 tahun dengan berat badan
2,5 kg. Keluhan dari pemilik adalah anjing tersebut berjalan pincang dan ada luka
di bagian atas kaki kiri depan. Dari anamnesa diketahui bahwa 2 hari sebelumnya
anjing tersebut berkelahi dengan anjing Rottweiler. Hasil pemeriksaan fisik adalah
sebagai berikut : ekspresi muka lesu, keadaan tubuh sedang. Frekuensi nafas 52
kali/menit, pulsus 120 kali/menit, suhu tubuh 38,1C, konjungtiva berwarna merah
muda, limphoglandula tidak ada pembengkakan, pernafasan thoracoabdomen,
sistole dan diastole jantung dapat dibedakan, anus bersih, refleks pupil dan patella
normal. Kaki kiri depan menggantung ketika berjalan dan terdapat luka sepanjang
kurang lebih 7cm. Palpasi pada bagian humerus terjadi krepitasi dan rasa sakit.
Diagnosa untuk kasus ini adalah vulnus dan fraktur humerus sinister. Terapi yang
diberikan adalah penjahitan pada vulnus dan reposisi terbuka dengan pemasangan
pin intrameduler.

Gbr.2. Anjing Jessy

PEMBAHASAN
Untuk kasus vulnus dan fraktur humerus sinister pada anjing Jessy ini
terapi yang diberikan mula-mula adalah reposisi terbuka (operatif) dengan
pemasangan pin intrameduler untuk fiksasi fraktur humerus. Untuk operasi
tersebut, premedikasi yang diberikan adalah atropin sulfat 0,025% sebanyak
0,4ml. Anastesi yang digunakan adalah ketamin 10% dan xylazin 2% sebanyak
0,62ml. Anjing diposisikan rebah lateral dengan kaki kiri di atas, kemudian
dipasangi duk yang menutupi badannya. Incisi dilakukan melalui sisi craniolateral
dari tulang humerus.

Gbr.3. Incisi di craniolateral

Muskulus brachiocephalicus diretraksi ke cranial, perpanjangan vena


cephalica diretraksikan ke cranial. Setelah tulang humerus dapat terekspos, bagian
proksimal humerus diangkat dan ditahan menggunakan duk klem. Kemudian
dilakukan pemasangan pin secara retrograde.

Gbr.4. retraksi vena cephalica

Gbr.5. Fraktur humerus

Pin didorong ke atas sampai menembus tuberositas mayor sampai kulit.


Fragmen tulang yang patah diaposisikan kemudian pin didorong masuk kembali

sampai mencapai bagian distal humerus. Luka irisan operasi ditutup kembali
dengan

menjahit

muskulus

brachiocephalicus

dan

muskulus

pectoralis

superficialis menggunakan catgut chromic secara sederhana tunggal, fascia dijahit


dengan catgut plain secara sederhana tunggal, subkutan dijahit dengan catgut plai
secara sederhana menerus, dan kulit dijahit dengan katun secara sederhana
tunggal. Bekas jahitan diolesi dengan iodium tincture dan disuntik dengan
ampicillin10%. Luka pada bagian scapula dijahit dengan jalan dibersihkan
terlebih dahulu dengan PK, dibuat luka baru pada kedua tepi luka, kemudian
dijahit dengan benang katun secara sederhana tunggal.

Gbr.6. Pemasangan pin intrameduler

Gbr.7. Penutupan luka

Metode fiksasi dengan pin intrameduler banyak digunakan dalam kasus


fraktur tulang panjang seperti humerus. Fiksasi dengan metode ini mempunyai
beberapa kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan metode fiksasi dengan pin intrameduler:
-

fiksasi dengan metode terbuka dan pemasangan pin intrameduler akan


lebih stabil dibandingkan fiksasi tertutup saja sehingga fiksasi lebih kuat.

Pemasangan lebih mudah dibandingkan bila menggunakan skrup, plat,


atau alat fiksasi internal lainnya.

Kesembuhan fraktur lebih pasti karena aposisinya lebih bagus bila


dibandingkan fiksasi eksternal.

Kekurangan metode fiksasi menggunakan pin intrameduler:


-

Pada banyak kasus fiksasi harus dilakukan secara reposisi terbuka,


sehingga harus dilakukan pembedahan.

Setelah terjadi kesembuhan, pin harus diambil lagi sehingga diperlukan

proses operatif lagi walaupun sederhana


-

Bila dibandingkan dengan fiksasi eksternal (misalnya gips atau spalk),


biaya yang harus dikeluarkan lebih banyak untuk proses operasi.
KEsIMPULAN
Bahwa dengan pemasangan pin intramedular fraktur tulang humerus akan

lebih stabil dan lebih mudah dilakukan melalui operai terbuka daripada
pemasangan bone plates, sekrup ataupun internal fiksasi lainnya. Kesembuhan
fraktur humerus (humeral shaft) akan lebih cepat dibandingkan dengan fiksasi
dari luar saja (spalk/gips). Setelah terjadi kesembuhan, pin harus diambil lagi
sehingga diperlukan proses operatif kembali.

DAFTAR PUSTAKA
Brinker, W. O., 1978. Small Animal Fractures. 3 rd Revision. College of Veterinary
Medicine Michigan State University. Continuing Education Service,
Michigan
Fossum, T. W., 2002. Small Animal Surgery. second edition. Mosby, Inc., St.
Louis, Missouri
Frank, E. R., 1973. Veterinary Surgery. Sixth edition. Burgest Publishing
Company, Minnesota
Miller, E. M., 1964. Anatomy of The Dog. W. B. Sanders Company. Philadelphia,
London
Mayer, K.,1957. Canine Surgery : A Text and Reference Work. American
Veterinary publication, Inc., Illinois
Shuttleworth, A. C., 1975. Clinical Veterinary Surgery. Charles C. Thomas
Publisher, USA