Anda di halaman 1dari 8

b. bagaimana hubungan usia dan jenis kelamin dengan keluhan utama ?

herdwin amel tiara


Gejala Tuan M menunjukkan ada gangguan memori dan gangguan kognitif lainnya. Gejala ini menunjukkan ny.l mengalami dimensia yang memang sering terjadi pada umur 65 tahun. Laki laki lebih sering mengalami dimensia dibanding wanita.

Kejadian meningkat dengan meningkatnya usia (angka harapan hidup). Onsetnya terjadi pada sekitar usia 60 tahun.

5. bagaimana interpretasi dan mekanisme abnormal (dihubungkan dengan gejala utama) dari Pemeriksaan laboratorium ?indri sabrina amel febrina

Pemeriksaan Kolesterol total GDS TG

Normal 200 <110 200mg%

Ny.l 260 mg% 140 mg/dl 120 mg%

Interpretasi meningkat Meningkat Normal

Mekanisme Hiperkolesterolemia Terdapat hubungan antara Hiperkolesterolemia dengan nilai IMT. Namun pada kasus ini tidak bisa ditentukan karena tidak ada data BB dan TB. Faktor resiko dapat berupa genetic, pola makan, obesitas, faktor kebiasaan merokok, kurang keteraturan olahraga dan stress. Namun semua data ini tidak bisa di periksa karena data tidak lengkap. Belum ditemukan hubungan yang jelas antara risk factor tersebut dengan Parkinson. Namun terdapat penelitian yang menunjukkan korelasi antara hiperkolesterolemia dengan hipertensi yang diderita Ny. L. Pada hiperkolesterolemia terdapat influx kolesterol LDL pada tunika intima yang melebihi kadar normal bila LDL teroksidasi dengan molekul oksigen bebas yang terbentuk dari reaksi enzimatik dan non enzimatik didalam tubuh maka akan memicu perlengketan dan masuknya monosit dan limfosit T kedalam tunika intima pembuluh darah melalui permukaan endothelium terbentuklah makrofag yang akan memfagosit kolesterol LDL yang teroksidasi terbentuklah

foam cell memicu pelepasan sitokin interferon gamma, TNF-a dan IL-1 Aterosklerosis lumen pembuluh darah menyempit resistensi vascular sistemik hipertensi

1. Etiologi zaza febrina sabrina amel 2. Faktor resiko amel tiara beauty Faktor resiko tidak diketahui, tapi sebagian besar pasien yang etiologinya dapat diidentifikasi adalah pasien yang menerima antagonis dopamine. Selain itu, beberapa hal yang dapat menyebabkan gejala Parkinson antara lain: o Obat, spt: fenotiazin, benzamid, metildopa, dan reserpin, metoklopramid, SSRI, Amiodarone, Diltiazem, asamValproat o Keracunan logam berat (Mn) o Anoksia (keracunan CO) o Pasca trauma, dll. Faktor resiko pada Parkinson Dimensia yaitu : 1. Faktor demografi Usia tua Laki-laki > perempuan

2. Faktor kerusakan motor Worse motor impairment Axial motor imapairment dan bradykinesia

3. Faktor kognitif Worse global cognitive function Auditory verbal learning and non verbal reasoning Kelancaran verbal Executive function and verbal learning

4. Faktor psikiatrik Adanya psyhcosis

5. Faktor lingkungan Merokok Perlindungan hormone estrogen

3. Manifestasi klinis amel uli herdwin

Manifestasi klinis Common presentation Gejala psikotik Penurunan ingatan

Lewy body dimensia

PD Dimensia

Alzhaimer

Gejala psychotic dan ada/tidak gejala parkinsonian Halusinasi pengelihatan, dengan atau tanpa delusi Penurunan ingatan /memory

Gejala Parkinson

Penurunan ingatan / memory

Penurungan ingatan/memory

Penurunan ingatan/memory secara global dan progresif

Kelainan bicara Gejala Parkinson

Biasanya keterlambatan bahasa Tremor : ada, 20-50% Kaku : sering Gait abnormality : dideteksi awal penyakit

Hypophonia, dan disatria Tremor : ada, 75 % Kaku : Sering Gait abnormality : dideteksi awal atau terlambat pada penyakit

Aphasia dan paraphasia

Tremor : Only in late disease

Kaku : Only in late disease

Gait abnormality late in disease

Meskipun gejala yang disampaikan di bawah ini bukan hanya milik penderita parkinson, umumnya penderita parkinson mengalami hal itu. 1. Gejala Motorik a. Tremor/bergetar Gejala penyakit parkinson sering luput dari pandangan awam, dan dianggap sebagai suatu hal yang lumrah terjadi pada orang tua. Salah satu ciri khas dari penyakit parkinson adalah tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat. Namun, jika orang itu diminta melakukan sesuatu, getaran

tersebut tidak terlihat lagi. Itu yang disebut resting tremor, yang hilang juga sewaktu tidur. Tremor terdapat pada jari tangan, tremor kasar pada sendi

metakarpofalangis, kadang-kadang tremor seperti menghitung uang logam atau memulung-mulung (pil rolling). Pada sendi tangan fleksi-ekstensi atau pronasi-supinasi pada kaki fleksi-ekstensi, kepala fleksi-ekstensi atau menggeleng, mulut membuka menutup, lidah terjulur-tertarik. Tremor ini menghilang waktu istirahat dan menghebat waktu emosi terangsang (resting/ alternating tremor). Tremor tidak hanya terjadi pada tangan atau kaki, tetapi bisa juga terjadi pada kelopak mata dan bola mata, bibir, lidah dan jari tangan (seperti orang menghitung uang). Semua itu terjadi pada saat istirahat/tanpa sadar. Bahkan, kepala penderita bisa bergoyang-goyang jika tidak sedang melakukan aktivitas (tanpa sadar). Artinya, jika disadari, tremor tersebut bisa berhenti. Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi, namun semakin berat penyakit, tremor bisa terjadi pada kedua belah sisi. b. Rigiditas/kekakuan Tanda yang lain adalah kekakuan (rigiditas). Jika kepalan tangan yang tremor tersebut digerakkan (oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu pada pergelangan tangan, terasa ada tahanan seperti melewati suatu roda yang bergigi sehingga gerakannya menjadi terpatah-patah/putus-putus. Selain di tangan maupun di kaki, kekakuan itu bisa juga terjadi di leher. Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus lagi seperti break-dance. Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan dengan postur yang membungkuk. Untuk mempertahankan pusat gravitasinya agar tidak jatuh, langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-pendek. Adanya hipertoni pada otot fleksor ekstensor dan hipertoni seluruh gerakan, hal ini oleh karena meningkatnya aktifitas motorneuron alfa, adanya fenomena roda bergigi (cogwheel phenomenon). c. Akinesia/Bradikinesia Kedua gejala di atas biasanya masih kurang mendapat perhatian sehingga tanda akinesia/bradikinesia muncul. Gerakan penderita menjadi serba lambat.

Dalam pekerjaan sehari-hari pun bisa terlihat pada tulisan/tanda tangan yang semakin mengecil, sulit mengenakan baju, langkah menjadi pendek dan diseret. Kesadaran masih tetap baik sehingga penderita bisa menjadi tertekan (stres) karena penyakit itu. Wajah menjadi tanpa ekspresi. Kedipan dan lirikan mata berkurang, suara menjadi kecil, refleks menelan berkurang, sehingga sering keluar air liur. Gerakan volunter menjadi lambat sehingga berkurangnya gerak asosiatif, misalnya sulit untuk bangun dari kursi, sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek, bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat. Bradikinesia mengakibatkan berkurangnya ekspresi muka serta mimik dan gerakan spontan yang berkurang, misalnya wajah seperti topeng, kedipan mata berkurang, berkurangnya gerak menelan ludah sehingga ludah suka keluar dari mulut. d. Tiba-tiba Berhenti atau Ragu-ragu untuk Melangkah Gejala lain adalah freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau mulai melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik; dan start hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah. Bisa juga terjadi sering kencing, dan sembelit. Penderita menjadi lambat berpikir dan depresi. 13Bradikinesia mengakibatkan kurangnya ekspresi muka serta mimic muka. Disamping itu, kulit muka seperti berminyak dan ludah suka keluar dari mulut karena berkurangnya gerak menelan ludah. e. Mikrografia Tulisan tangan secara gradual menjadi kecil dan rapat, pada beberapa kasus hal ini merupakan gejala dini. f. Langkah dan gaya jalan (sikap Parkinson) Berjalan dengan langkah kecil menggeser dan makin menjadi cepat (marche a petit pas), stadium lanjut kepala difleksikan ke dada, bahu membengkok ke depan, punggung melengkung bila berjalan. g. Bicara monoton

Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang monoton dengan volume suara halus ( suara bisikan ) yang lambat.

h. Dimensia Adanya perubahan status mental selama perjalanan penyakitnya dengan deficit kognitif.

i.

Gangguan behavioral Lambat-laun menjadi dependen ( tergantung kepada orang lain ), mudah takut, sikap kurang tegas, depresi. Cara berpikir dan respon terhadap pertanyaan lambat (bradifrenia) biasanya masih dapat memberikan jawaban yang betul, asal diberi waktu yang cukup.

j.

Gejala Lain Kedua mata berkedip-kedip dengan gencar pada pengetukan diatas pangkal hidungnya (tanda Myerson positif)

2.

Gejala non motorik a. Disfungsi otonom

- Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan
hipotensi ortostatik.

- Kulit berminyak dan infeksi kulit seborrheic - Pengeluaran urin yang banyak - Gangguan seksual yang berubah fungsi, ditandai dengan melemahnya hasrat seksual,
perilaku, orgasme. b. Gangguan suasana hati, penderita sering mengalami depresi c. Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat d. Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan tidur (insomnia) e. Gangguan sensasi,

- Kepekaan kontras visuil lemah, pemikiran mengenai ruang, pembedaan


warna, penderita sering mengalami pingsan, umumnya disebabkan oleh hypotension badan orthostatic, suatu kegagalan sistemsaraf otonom untuk melakukan penyesuaian tekanan darah sebagai jawaban atas perubahan posisi

- Berkurangnya atau hilangnya kepekaan indra perasa bau ( microsmia atau


anosmia), 4. Prognosis amel indri risha Tidak ada pengobatan untuk memperlambat atau menghentikan kerusakan sel otak yang disebabkan oleh demensia Parkinson. Fokus pengobatan untuk mengobati gejala. Seperti jenis demensia lain yang merusak sel-sel otak , penyakit Parkinson dan demensia Parkinson akan lebih buruk dari waktu ke waktu dan kecepatan perkembangan dapat bervariasi. Jika dalam rencana pengobatan termasuk obat-obatan , penting untuk mengidentifikasi obat yang bekerja terbaik bagi pasien dan dosis yang paling efektif . Pertimbangan pengobatan yang melibatkan obat-obatan termasuk isu-isu berikut : Cholinesterase inhibitor : Obat andalan untuk mengobati saat perubahan pikiran dalam Alzheimer. Dapat membantu gejala demensia Parkinson. Obat antipsikotik harus digunakan dengan sangat hati-hati dalam demensia penyakit Parkinson . Meskipun kadang dokter meresepkan obat ini untuk gejala perilaku yang dapat terjadi pada Alzheimer, obat ini dapat menyebabkan efek samping yang serius pada sebanyak 50% dari pasien dengan demensia Parkinson dan demensia dengan Lewy bodies. Efek samping mungkin termasuk perubahan mendadak dalam kesadaran, gangguan menelan, kebingungan akut, delusi episodic atau halusinasi, atau penampilan atau memburuknya gejala Parkinson . L-dopa dapat diresepkan untuk mengobati gejala gerakan Parkinson . Namun, dapat memperburuk halusinasi dan kebingungan pada mereka dengan demensia Parkinson atau dementia dengan Lewy bodies . Antidepresan dapat digunakan untuk mengobati depresi , yang umum di kedua demensia penyakit Parkinson dan demensia dengan badan Lewy . Antidepresan yang paling umum digunakan adalah selektif serotonin reuptake inhibitor ( SSRI ) . Clonazepam mungkin diresepkan untuk mengobati gangguan tidur REM .

5. SKDI amel uli zaza

6. 3A. Bukan gawat darurat Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.