Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belakangan ini penelitian tentang sejarah fiqih Islam mulai dirasakan penting.

Paling tidak, karena pertumbuhan dan perkembangan fiqih menunjukkan pada suatu dinamika pemikiran keagamaan itu sendiri. Hal tersebut merupakan persoalan yang tidak pernah usai di manapun dan kapanpun, terutama dalam masyarakat-masyarakat agama yang sedang mengalami modernisasi. Di lain pihak, evolusi historikal dari perkembangan fiqih secara sungguh-sungguh telah menyediakan frame work bagi pemikiran Islam, atau lebih tepatnya actual working bagi karakterisitik perkembangan Islam itu sendiri. Kehadiran fiqih ternyata mengiringi pasang-surut perkembangan Islam, dan bahkan secara amat dominan, fiqih -- terutama fiqih abad pertengahan -- mewarnai dan memberi corak bagi perkembangan Islam dari masa ke masa. Karena itulah, kajian-kajian mendalam tentang masalah kesejahteraan fiqih tidak semata-mata bernilai historis, tetapi dengan sendirinya menawarkan kemungkinan baru bagi perkembangan Islam berikutnya. Jika kita telusuri sejak saat kehidupan Nabi Muhammad saw, para sejarahwan sering membaginya dalam dua priode yakni periode Mekkah dan periode Madinah. Pada periode pertama risalah kenabian berisi ajaran-ajaran akidah dan akhlaq, sedangkan pada periode kedua risalah kenabian lebih banyak berisi hukum-hukum. Dalam mengambil keputusan masalah amaliyah sehari-hari para sahabat tidak perlu melakukan ijtihad sendiri, karena mereka dapat langsung bertanya kepada Nabi jika mereka mendapati suatu masalah yang belum mereka ketahui. Sampai dengan masa empat khalifah pertama hukum-hukum syariah itu belum dibukukan, dan belum juga diformulasikan sebagai sebuah ilmu yang sistematis. Kemudian pada masa-masa awal periode tabi'in (masa Dinasti Umayyah) muncul aliran-aliran dalam memahami hukum-hukum syariah serta dalam merespon persoalan-persoalan baru yang muncul sebagai akibat semakin
1

luasnya wilayah Islam, yakni ahl al-hadis dan ahl al-ra'y. Aliran pertama, yang berpusat di Hijaz (Mekkah-Madinah), banyak menggunakan hadis dan pendapatpendapat sahabat, serta memahaminya secara harfiah. Sedangkan aliran kedua, yang berpusat di Irak, banyak menggunakan rasio dalam merespons persoalan baru yang muncul.

B. Rumusan Masalah 1. Siapakah Imam Abu Hanifah itu? 2. Apa prinsip-prinsip hokum islam ? 3. Bagaimana contoh-contoh pemikiran hokum abu hanifah? 4. Bagaimana pengaruh dan perkembangannya?

C. Tujuan 1. Mengetahui Siapakah Imam Abu Hanifah itu 2. Mengetahui Apa prinsip-prinsip hokum islam 3. Mengetahui Bagaimana contoh-contoh pemikiran hokum abu hanifah 4. Mengetahui Bagaimana pengaruh dan perkembangannya

BAB II PEMBAHASAN A. Biografi Imam Abu Hanifah Imam Abu hanifah adalah ulama besar yang mewarnai hazanah ilmu, terutama dalam ilmu fiqih. Keluasan ilmu, pengalaman, kezuhudan, dan keberanian seolah menyatu dalam diri sang imam. Imam Abu Hanifah An-numan bin Stabit merupakan orang yang faqih di negeri Irak, salah satu imam dari kaum muslimin, pemimpin orang-orang alim, salah seorang yang mulia dari kalangan ulama dan salah satu imam dari empat imam yang memiliki madzhab. Dikalangan umat islam beliau sering dikenal dengan nama Imam Abu hanifah. Nasab dari kelahiran bin Stabit bin Zuthi At-taimi Alkufi. Beliau adalah Abu Hanifah An-Numan taimillah bin Tsalabah. Beliau berasal dari keturunan bangsa Persi. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H pada masa Sigharus Shahabah dan para ulama berselisih pendapat tentang tempat kelahiran Abu Hanifah, menurut penuturan anaknya Hamad bin Abu Hadifah bahwa Zuthi berasal dari kota Kabul dan dia terlahir dalam keadaan Islam. Adapula yang mengatakan dari Anbar, yang lainnya mengatakan dari Turmudz dan yang lainnya lagi mengatakan di Babilonia. Abu Hanifah itu mempunyai tinggi badan sedang, memiliki postur tubuh yang bagus, jelas dalam berbicara, suaranya bagus dan enak didengar, bagus wajahnya, bagus pakaiannya dan selalu memakai minyak wangi, bagus dalam bermajelis, sangat kasih sayang, bagus dalam pergaulan bersama rekan-rekannya, disegani dan tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Beliau disibukkan dengan mencari atsar/hadits dan juga melakukan rihlah untuk mencari hal itu. Dan beliau ahli dalam bidang fiqih, mempunyai kecermatan dalam berpendapat, dan dalam permasalahan-permasalahan yang samar/sulit maka kepada beliau akhir penyelesaiannya. Beliau sempat bertemu dengan Anas bin Malik tatkala datang ke Kufah dan belajar kepadanya, beliau juga belajar dan meriwayat dari ulama lain seperti
3

Atha bin Abi Rabbah yang merupakan syaikh besarnya, Asy-Syabi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj al-Araj, Amru bin Dinar, Thalhah bin Nafi, Nafi Maula Ibnu Umar, Qotadah bin Diamah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Hamad bin Abi Sulaiman guru fiqihnya, Abu Jafar Al-Baqir, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Muhammad bin Munkandar, dan masih banyak lagi. Dan ada yang meriwayatkan bahwa beliau sempat bertemu dengan 7 sahabat. Pada zaman kerajaan Bani Abbasiyah tepatnya pada masa pemerintahan Abu Jafar Al-Manshur yaitu raja yang ke-2, Abu Hanifah dipanggil kehadapannya untuk diminta menjadi qodhi (hakim), akan tetapi beliau menolak permintaan raja tersebut karena Abu Hanifah hendak menjauhi harta dan kedudukan dari sultan (raja) maka dia ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara dan wafat dalam penjara. Dan beliau wafat pada bulan Rajab pada tahun 150 H dengan usia 70 tahun, dan dia dishalatkan banyak orang bahkan ada yang meriwayatkan dishalatkan sampai 6 kloter.

B. Pemikiran Imam Abu hanifah tentang Fiqih Pemikiran fiqh dari mazhab ini diawali oleh Imam Abu Hanifah. Imam Hanifah dikenal sebagai imam Ahlurrayi serta faqih dari Irak yang banyak dikunjungi oleh berbagai ulama di zamannya. Mazhab Imam Hanafi dikenal menggunakan rayu, qiyas, dan istihsan. Dalam memperoleh suatu hukum yang tidak ada dalam nash, kadang-kadang ulama mazhab ini meninggalkan qaidah qiyas dan menggunakan qaidah istihsan. Alasannya, qaidah umum (qiyas) tidak bisa diterapkan dalam menghadapi kasus tertentu. Mereka dapat mendahulukan qiyas apabila suatu hadits mereka nilai sebagai hadits ahad. Yang menjadi pedoman dalam menetapkan hukum Islam (fiqh) di kalangan Mazhab Hanafi adalah Al-Quran, sunnah Nabi SAW, fatwa sahabat, qiyas, istihsan, ijmai. Sumber asli dan utama yang digunakan adalah Al-Quran dan

sunnah Nabi SAW, sedangkan yang lainnya merupakan dalil dan metode dalam meng-istinbat-kan hukum Islam dari kedua sumber tersebut. Tidak ditemukan catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Imam Abu Hanifah menulis sebuah buku fiqh. Akan tetapi pendapatnya masih bisa dilacak secara utuh, sebab muridnya berupaya untuk menyebarluaskan prinsipnya, baik secara lisan maupun tulisan. Berbagai pendapat Abu Hanifah telah dibukukan oleh muridnya, antara lain Muhammad bin Hasan asy-Syaibani dengan judul Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir. Buku Zahir ar-Riwayah ini terdiri atas 6 (enam) bagian, yaitu: 1. Bagian pertama diberi nama al-Mabsut; 2. Bagian kedua al-Jami al-Kabir; 3. Bagian ketiga al-Jami as-Sagir; 4. Bagian keempat as-Siyar al-Kabir; 5. Bagian kelima as-Siyar as-Sagir; dan 6. Bagian keenam az-Ziyadah. Keenam bagian ini ditemukan secara utuh dalam kitab al-Kafi yang disusun oleh Abi al-Fadi Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi (w. 344 H.). Kemudian pada abad ke-5 H. muncul Imam as-Sarakhsi yang mensyarah al-Kafi tersebut dan diberi judul al-Mabsut. Al-Mabsut inilah yang dianggap sebagai kitab induk dalam Mazhab Hanafi. Disamping itu, Mazhab Hanafi juga dilestarikan oleh murid Imam Abu Hanifah lainnya, yaitu Imam Abu Yusuf yang dikenal juga sebagai peletak dasar usul fiqh Mazhab Hanafi. Ia antara lain menuliskannya dalam kitabnya al-Kharaj, Ikhtilaf Abu Hanifah wa Ibn Abi Laila, dan kitab-kitab lainnya yang tidak dijumpai lagi saat ini. Ajaran Imam Abu Hanifah ini juga dilestarikan oleh Zufar bin Hudail bin Qais al-Kufi (110-158 H.) dan Ibnu al-Lulu (w. 204 H). Zufar bin Hudail semula termasuk salah seorang ulama Ahlulhadits. Berkat ajaran yang ditimbanya dari Imam Abu Hanifah langsung, ia kemudian terkenal sebagai salah seorang tokoh
5

fiqh Mazhab Hanafi yang banyak sekali menggunakan qiyas. Sedangkan Ibnu alLulu juga salah seorang ulama Mazhab Hanafi yang secara langsung belajar kepada Imam Abu Hanifah, kemudian ke pada Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani.

C. Metode Imam Abu Hanifah Dalam Menetapkan Hukun Islam Fiqih Imam Abu Hanifah memiliki cara yang modern dan manhaj tersendiri dalam kencah perfiqihan. Imam Asy-yafii berkata, semua orang dalam hal fiqih bergantung kepada Imam Abu Hanifah. Imam Malik setelah berdiskusi dengan Imam Abu Hanifah berkata, Sungguh ia seorang ahli fiqih. Imam Abu Hanifah memiliki manhaj tersendiri dalam meng-istinbat hukum. Beliau pernah berkata, saya mengambil dari kitab Allah, jika tidak ada maka dari sunnah Rasulullahdan njika tidak ada pada keduanya saya akan mengambil pendapat sahabat, dan saya tidak akan keluar dari pendapat mereka dan mengambil pendapat orang lain, jika sudah sampai kepada pendapat ibrahim, Asy-syabi, Al-Hasan, Ibnu Sirin, dan Saad Al-Musayyib maka saya akan berijtihad seperti mereka berijtihad. Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa manhaj Imam Abu Hanifah dalam meng-istinbat hukum adalah sebagai berikut: 1. Al-Quran Al-Quran merupakan sumber utama Syariat dan kepadanya di kembalikan semua hukum dan tidak ada satu sumber hukum suatu pun, kecuali di kembalikan kepadanya. Dan tidak ada perbedaan antara imam dalam memandang dan memposisikan Al-Quran sebagai sumber hukum, Al-Quran memperoleh kedudukan tinggi dalam mengatasi semua sumber hukum untuk semua keadaan.

2. Sunnah Sunnah sebagai penjelas kandungan Al-Quran, menjelaskan yang global dan alat dawah Rasulullah dalam menyampaikan risalah Tuhannya. yang mana sunnah ini menempati posisi kedua diantara prinsip-prinsip dasar yang digunakan dalam proses pengambilan hukum, dengan persyaratan bahwa sunnah atau hadis yang digunakan harus Marfu. 3. Ijma Ijma ( Pendapat Sahabat ) merupakan hukum islam terpenting yang ketiga yaitu pendapat para sahabat mengenai beberapa materi hukum yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah, dalam hal ini Ijma para Sahabat lebih di utamakan dari pada pendapat pribadi Abu Hanifah dan Murid-muridnya. Karena mereka hidup satu zaman dengan Rasulullah sehingga lebih memahami sebab turunnya ayat, kesesuaian setiap Ayat dan Hadis, dan merekalah yang membawa Ilmu Rasulullah kepada Umatnya. 4. Qiyas Beliau menggunakan Qias ketika tidak ada Nash Al-Quran atau Sunnah, atau ijma Sahabat, beliau menggali Illat dan jika menemukannya ia akan mengujinya terlebih dahulu, lalu menetapkan dan menjawab masalah yang terjadi dengan menerapkan Illat yang ditemukan. Karena Imam Abu Hanifah tidak harus menerima rumusan hukum dari murid-muridnya yang tidak memiliki bukti yang jelas dari sumber-sumbernya. 5. Istihsan Istihsan ( Preferensi ) secara sederhana adalah suatu bukti yang lebih disukai dari pada bukti yang lainnya, karena ini lebih disukai dengan situasinya walaupun bukti yang digunaka ini bisa jadi secara teknis lebih lemah dari pada bukti lain yang digunakan. yaitu menunggalkan qiyas Dhahir dan mengambil hukum yang lain,m karena qiyas zhahirterkadang tidak dapat diterapkan dalam suatu masalah, oleh karena itu perlu mencari Illat lain dengan cara qiyas khafi
7

6. Al-Urf Al-Urf ( Adat Istiadat ) yaitu perbuatan yang sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin dan tidak ada Nash, baik dari Al-Quran, Sunnah, atau perbuatan Sahabat, dan berupa adat yang baik serta tidak bertentangan dengan Nash sehingga dapat dijadikan Hujjah Madzhab Imam Hanafi tersebar dibanyak Negri, bahkan menjadi mazdhab resmi di Irak terutama sekitas Sungai Eufrat. Mazdhab Imam Hanafi mulai tertsebar di Kufah kemudian ke Bagdad, Mesir, Syam, Persia Romawi, Yaman, India, Cina, Bukharo, Kaukakus, Afghanistan, Turkistan. Madzhab Abu Hanifah ermunculan sejak masa kejayaan islam Bani Abasiyyah pada awal abad ke-2 tepatnya pada tahun 150 H. Dalam istimbatnya, imam Abu Hanifah tetep mempergunakan qiyas sebagai dasar pegangannya, jika tidak bisa dengan qiyas, maka beliau berpegang kepada istihsan selama dapat dilakukan, jika tidak bisa, baru beliau berpegang kepada adat dan Urf.

D. Pemikiran Yang Khas Abu Hanifah Dalam Hukum Islam Kota kufah yang letaknya jauh dari madinah sebagai kota tempat tinggal Rasuluulah SAW, yang tidak banyak mengetahui seluk beluk As-Sunnah, membuat pembendaharaan Al-Hadis berkurang. Disamping itu Kota Kufah yang letaknya ditengah kebudayaan persi dengan kondisi sosial kemasyarakatannya telah mencapai tingkat peradaban cukup tinggi, banyak bermunculan berbagai macam persoalan kemasyarakatan yang memerlukan penetapan hukumnya, padahal persoalan tersebut belum pernah terjadi dimasa Nabi, Sahabat dan Tabiin, sehingga untuk menghadapinya diperlukan Ijtihad atau Al-rayu. Faktor itulah yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan dalam perkembangan pemikiran hukum Islam di Kufah dengan di Madinah. Imam Abu Hanifah salah satu dari Imam besar yang hidup pada masa Daulah Bani Abasiyah. Pendapat beliau berbeda dengan Imam Madzhab yang lainnya.
8

Dikarenakan pendapat-pendapat hukumnya di pengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, yaitu Kota yang berada ditengah-tengah kebudayaan Persia. Karena itulah madzhab ini lebihbanyak menggunakan pemikiran rasional. Dan Imam Abu Hanifah sangat selektif dalam menerima Hadis, dalam menyelesaikan berbagai macam bentuk persoalan yang muncul beliau mempergunakan Al-rayu sebagai dasar penetapan hukum. Adapun dalam bidang Al-Hadist beliau sedikit sekali, artinya hanya sebagian saja yang beliau terima. Shugni Mahmashani berpendapat bahwa pengetahuan Imam Abu Hanifah yang mendalam dalam bidang Hukum ditambah dengan profesinya sebagai saudagar, memberikan peluang yang sangat luas baginya untuk memperlihatkan berbagai macam ketentuan hukum secara praktis, sehingga menyebabkan keahlian yang dimilikinya, memperluas dirinya dalam menguasai beberapa pandangan dalam logika dalam penerapan hukum Syariah melalui Qiyas dan Istihsan. kemudian dari pandangan beliau. beliau dikenal dengan sebutan Al-Rayu, hal ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut : 1. Abu hanifah hanya hanya menerima Al-Quran dan menolak sebagian Alhadist yang keshohihannya di ragukan, sekalipun Ulama lainnya sudah melakukan Ijtihad sesuai dengan situasi dan kondisi. 2. Abu Hanifah hanya bertuju pada Al-Quran semata dengan melalui Al-Qiyas dalam upaya agar ayat-ayat Al-Quran dapat di sesuaikan pada berbagai macam situasi dan kondisi. Abu Hanifah belajar fiqih kepada Ulama ang mengikuti aliran irak dan menggunakan rayu. Beliau dianggap representative untuk mewakili pemikiran aliran rayu, sehingga ia termasuk seorang generasi pengembang ahli Rayu. dalam berijtihad abu hanifah menggunakan metode rayu untuk memecahkan masalah hukum islam akan tetapi masih berlandaskan Al-Quran, Sunnah, Ijma, Qiyas, dan Istihsan. Adapun pemikiran Abu Hanifah yang menonjol ( Khas ) dalam menetapkan hukum dari Imam yang lain adalah.
9

1.Sangat rasional, mementingkan maslahat dan manfaat 2.Lebih mudah dipahami dari pada madzhab lainna 3.Lebih liberal sikapnya terhadap warga negara yang non Muslim. Hal ini dipahami karena cara beristimbat abu hanifah selalu memikirkan dan memperhatikan apa yang ada di belakang Nashang tersurat yaitu illat-illat dan maksud-maksud hukum. Sedang untuk masalah-masalah yang tidak ada nashnya beliau menggunakan Qiyas, Istihsan, Urf. Beliau merupakan ulama yang besar dan memiliki kecerdasan,berjiwa ikhlas dan juga tegas dalam kesehariannya, mempunyai kepribadian yang gampang bergaul dan juga punya daya tarik tersendiri sehingga tidak mengherankan lagi pada saat beliau meninggal ribuan orang menyatakan Tazkiyyah. Akan tetapi meski beliau termasuk ulama besar dan talah dan sersohor beliau tidak lantas sombong dan merasa mendominasi kebenaran. Dan masih banyak lagi riwayat yang menerangkan tentang kealiman dan kezuhudannya.

E. Wilayah Pengaruh Munculnya madzhab-madzhab itu mulai pada zaman Harun Ar-Rosyid. Ketika beliau menjadi kholifah. Ketika beliau menunjuk Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) sebagai qodhi setelah tahun 170 H. Maka kekuasaan kehakiman ada di tangannya. Kemudian Harun Ar-Rosyid tidak menunjuk qodhi di negeri Iraq, Khurosan, Syam dan Mesir sampai di Afrika kecuali orang yang dipilih oleh Abu Yusuf. Dia tidak menunjuk melainkan pengikut Abu Yusuf dan dan orang-orang yang menisbatkan pada madzhabnya yang baru, yaitu madzhab hanafi. Orangorang awam dipaksa untuk mengambil hukum dengan mereka dan mengambil fatwa mereka. Sampai tersebar madzhab hanafi di negeri ini.

Abu hanifah meninggalkan karya- karya besar yaitu Fiqh Akbar, Al-alim wa almutalim dan musnad fiqh akbar tetapi belum di kodifikasikan. Disamping itu mendirikan membentuk badan-badan yang terdiri dari tokoh- tokoh cendekiawan
10

yang ia sendiri sebagai ketuanya, badan ini berfungsi memusyawarahkan dan menetapkan ajaran islam dalam berbagai tulisan dan mengalihkan syariat islam kedalam undang-undang. Madzhab hanafi berkembang karena kegigihan murid-muridnya menyebarkan ke masyarakat luas, namun kadang-kadang ada pendapat murid yang bertentangan dengfan pendapat gurunya, maka itulah salah satu ciri khas fiqih Hanafiyah yang terkadang memuat bantahan gurunya terhadap ulama fiqih yang hidup di masanya. Para pengikut imam hanafi tersebar di berbagai Negara seperti Irak, Turki, Asia Tengah, Pakistan, India, Tunisia, Turkistan, Syria, Mesir,dan Libanon. Mazdhab hanafi pada masa khalifah bani Abbasiyah merupakan mazhab yang banyak dianut oleh umat islam dan pada masa pemerintahan utsmani, mazhab ini merupakan mazdhab resmi Negara. Sekarang penganut mazdhab ini tetap termasuk golongan mayoritas di samping madzhab Syafii.

11

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Nama lengkap Abu Hanifah adalah Numan bin tsabit bin Zuhdi, dilahirkan di kufah th.80 H/699M dan wafat th.150 H/767M dan di kota inilah beliau dibesarkan. beliau termasuk dalam golongan bangsa Persia, yang mana ayah Abu Hanifah sendiri adalah seorang pedagang sutra asli Persia. Abu Hanifah dalam menentukan hukum menggunakan dasar islam yang di mulai dari Al-Quran apa bila tidak ada didalamnya maka diambil sunnah Nabi SAWdan apabila tidak diketemukan pemecahan hukumnya juga maka kemudian baru menggunakan Ijma, Qiyas, dan Istihsan sampai akhirnya beliau harus berijtihad seperti ulama sebelumnya. Karena tidak ada pemecahan hukumnya didalam dasar agama tersebut. Pemikiran Fikih Abu Hanifah adalah Rayu atau pemikiran yang rasional dalam menentukan suatu masalah hukum islam. Karena beliau belajar dari Guru fiqihnya yang juga menggunakan aliran Rayu sehingga beliau dikenal dengan sebutan Ahlur-rayu. Adapun pemikirannya yang khas adalah berfikir rasional, mementingkan maslahat dan manfaat. Sehingga mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat muslim, pemikiran yang khas ini hanya terjadi pada masalah-masalah furu bukan masalah-masalah pokok syariat Islam. Karena hal itu sudah dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah.

B. Saran Segala puji bagi Allah SWT,yang karena karunianya,akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah kami.semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmatnya kepada kami untuk membuat karya yang lebih baik untuk waktu-waktu yang akan datang. Kami berharap sekali-kritik dan saran dari para pembanca sangat kami harapkan.semoga dapat menjadi khazana baru buat kami untuk karya kami berikutnya
12

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur hanya untuk Allah SWT. Yang telah memberikan taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat dan salam senantiasa dicurahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan segenap keluarganya serta orang-orang yang meneruskan risalahnya sampai akhir zaman. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kebaikan makalah ini sangat diharapkan dari para pembaca. Akhir kata, semoga karya tulis sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bengkulu, November 2013

Penulis

13

MAKALAH
MATERI PAI III

Imam Abu Hanifah dan Mazhab Hanafi

Di susun oleh : Sumi Laita Sari Era Kusnanti

Dosen Pembimbing : Pasma Chandra, M.Pd.I

JURUSAN PENDIDIKAN GURU AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU (IAIN)


2013

14

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2 C. Tujuan ....................................................................................... 2


BAB II PEMBAHASAN

A. Biografi imam abu hanifah ..................................................... 3 B. Pemikiran imam abu hanifah tentang fiqh ............................. 4 C. Metode imam abu hanifah dalam menetapkan hokum islam .... 6 D. Pemikiran yang khas dari imam abu hanifah dalam menetapkan hokum islam .......................................................................... 8

E. Wilayah Pengaruh ..................................................................... 10


BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................ 12 B. Saran .......................................................................................... 12


DAFTAR PUSTAKA

ii 15

DAFTAR PUSTAKA

Asy-syurbasi, ahmad. 1993. Sejarah dan biografi empat imam mazhab. Jakarta. Pt bumi aksara. Idris ramulyo, mohd. 2004. Asas-asas hokum islam. Jakarta. Smar grafika. Rosyada, dede. 1999. Hokum islam dan pranata sosial. Jakarta. Pt raja grafindo. Persada. Al-Mansur, Asep Saifudin. 1984. Kedudukan Mazhab dalam Syariat Islam. Pustaka Al Husna : Jakarta Pusat Arifin, Bey.1985.Menuju Kesatuan Paham Tentang Mazhab. Surabaya: PT Bina Ilmu. Djazuli.2006. Ilmu Fiqh : Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum Islam.Jakarta: Kencana. Chalil, Moenawar. 1994. Biografi Empat Sreangkai Imam Mazhab. Jakarta: Bulan Bintang. Hasbi Ash Shiddieqy, T.M. Pengantar Ilmu Fiqh. Jakarta:PT Bulan Bintang.1999. Naim Ngainun, Sejarah Pemikiran Hukum Islam , Yogyakarta: TERAS, juni 2009.

iii 16

Anda mungkin juga menyukai