Anda di halaman 1dari 16

BAB I LAPORAN KASUS

Data pasien Nama Umum Agama Alamat Suku Status Nomor Registrasi Tanggal MRS : Ny. Ninik yatini : 50 tahun : Islam : Jati - Sidoarjo : Jawa : Menikah : 17-60-13 : 17 Januari 2013

Subyektif Keluhan Utama: Sesak Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan sesak sejak dua minggu yang lalu. Sesaknya hilang muncul, muncul terutama saat kerja, dan semakin memberat dalam dua minggu ini. Pasien juga mengeluh batuk sejak dua minggu sebelum masuk urun Rumah Sakit. Batuk tidak berdahak. Pasien juga mengeluh sering ngingsrong, nafsu makan dan berat badan menurun dejak dua minggu terakhir. Pasien juga mengeluh badan panas sejak tiga hari sebelum masuk Rumah Sakit. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat sakit sesak seperti ini sebelumnya disangkal. Riwayat sesak kambuhkambuhan sebelumnya disangkal. Riwayat pengobatan sebelumnya disangkal. Riwayat Hipertensi disangkal, riwayat diabetes melitus disangkal.

Riwayat penyakit keluarga: Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita sakit seperti yang diderita pasien.
1

Riwayat sosial: Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga

Obyektif Keadaan Umum Kesadaran Tensi Nadi Suhu RR : Baik : Compos Mentis : 130/80 mmHg : 100x/mnt : 37 C : 28x/mnt

Kepala/Leher Anemis (-), Icterus (-), cyanosis (-), Dyspnue (+) Peningkatan JVP (-) Pembesaran KGB (-)

Thorax Pulmo : I: dinding dada simetris, deviasi trachea ke kanan, vosa jungularis (+), retraksi (+), kontraksi otot bantu pernapasan (+), dinding dada kiri tampak lebih kembung dan tertinggal saat bernapas. P: fremitus vocal dada kiri menurun, fremitus raba dada kiri sedikit tertinggal P: dada kanan sonor, dada kiri terdengar lebih redup A: suara napas vesikuler di seluruh lapangan paru, tapi suara napas di dada kiri menjauh hamper menghilang. Ronkhi -/-, Whezing -/-

Cor : I: ictus cordis tidak tampak P: ictus Cordis teraba di spase intercostalis 5 midclavicula line sinistra P: RHM terletak ICS 5 parasternal Sinistra, LHM di ICS 5 MCL Sinistra A: S1S2 tunggal, M(-), G(-)

Abdomen I: flat, soufel, jejas (-) P: nyeri tekan (-), H/L tidak teraba, pembesaran hepar (-) P: thympani, nyeri ketuk (-) A: BU (+) normal,

Extremitas Motorik: 5 5 Odema: ----5 5

Asessment: Effusi Pleura (S) Planning: Planning therapy: O2 2-3 lpm nasal canul Inf. NS 7 tpm Inj. Ranitidin 2x1 amp

Planning diagnosis: Lab: DL, RFT, LFT, GDA EKG Foto thorax PA

Hasil Laboratorium 17/1/2013 GDA BUN SK SGOT SGPT WBC RBC HGB : 101,6 mg/dl : 7,3 : 0,4 : 43,2 : 61,6 : 8,83 : 3,94 : 9,05

Hari kedua perawatan 18/1/2013 S: sesak (+), batuk (+) O: dyspnue (+), RR:26, T: 130/80, N: 90x/mnt, S: 37 C A: Efusi pleura (S) ec pneumonia dd TB paru Pdx: sputum BTA, LFT/bilirubin, LED Ptx: Inf. RL : PZ 20 tpm Ceftriaxone 2x1 gram IV Antrain 2x1 amp IV Salbutamol 3 x 1 OBH 3 x CI Punksi Efusi pleura 750 ml

Hari ketiga perawatan 19/1/2013 S: sesak (+), batuk (+) O: kesadaran: CM, T: 110/70, N: 100x/mnt, RR:24x/mnt, S: 37 C Dyspnue (+), dada kiri tampak tertinggal saat bernapas Pulmo: ves/ves menurun, Rh:-/-, Wh: -/A: Efusi Pleura (S) P: terapi tetap

Hari keempat Perawatan 20/1/2013 S: sesak (+), Batuk (+) berkurang O: KU lemah, kesadaran: CM, T: 120/80, N:88x/mnt, RR: 20x/mnt, S: 37 C, pmx fisikidem hari ketiga A: efusi Pleura (S) P:txx tetap Hari Kelima Perawatan 21/1/2013 S: Sesak (+) ringan, batuk (-) O: KU baik. CM A: TB Paru + efusi pleura (S) Ptx: punksi EP 950 ml Pdx: citologi cairan pleura, foto thorax PA KRS kontrol poli

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan Pleura adalah membran tipis terdiri dari dua lapisan yaitu pleura visceralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan ini bersatu di daerah hilus arteri dan mengadakan penetrasi dengan cabang utama bronkus, arteri, dan vena bronkialis, serabut saraf dan pembuluh limfe. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesotelial, jaringan ikat, pembuluh darah kapiler dan pembuluh getah bening. Pleura sering mengalami pathogenesis seperti terjadinya efusi pleura, misalnya hidrothoraks dan pleuritis eksudativa karena infeksi, hemotothoraks bila rongga pleura berisi darah, kilothoraks (cairan limfe), piothoraks atau empyema thorachis bila berisi nanah, pneumothoraks bila berisi udara. Penyebab dari kelainan patologi pada rongga pleura bermacam-macam, terutama karena infeksi tuberculosis atau non tuberculosis, keganasan, trauma dan lain-lain

2.2 Patofisiologis Patofisilogis terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui mesotelial masuk ke dalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura. Proses penumpukan cairan dalam pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses peradangan oleh kuman akan terbentuk pus/nanah, sehingga terjadi empyema/piothoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah di sekitar pleura dapat menyebabkan hematothoraks. Efusi dapat berbentuk transudate, terjadi karena penyakit lain bukan karena masalah primer paru seperti gagal jantung kongesif, sirhosis hati, sindrom nefrotik, hipoalbumin oleh beberapa keadaan. Efusi eksudat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam

rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah karena mikobakterium tuberkulosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa tuberkulosa. Sebab lain seperti parapneumonia, parasit (amuba, paragonimiosis, ekinokokkus), jamur, pneumonia atipik (virus, mikoplasma, fever, legionella), keganasan paru, proses imunologik seperti pleuritis lupus, pleuritis rematoid, sarkoidosis, radang sebab lain seperti pankreatitis, asbestosis, pleuritis uremia dan akibat radiasi.

2.3 Diagnosis Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis baik dan pemeriksaan fisik yang teliti, diagnosis pasti ditegakkan melalui pungsi percobaan, biopsi dan analisa cairaan pleura. 2.3.1 Foto Toraks (X Ray) Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi dari pada bagian medial. Bila permukaannya horizontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dalam paru-paru sendiri. Kadang-kadang sulit membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). Perlu pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus. Cairan bebas akan mengikuti posisi gravitasi. Cairan dalam pleura bias juga tidak membentuk kurva, karena terperangkap atau terlokalisasi. Keadaan ini sering terdapat pada daerah bawah paru-paru yang berbatasan dengan permukaan atas diafragma. Cairan ini dinamakan juga sebagai efusi subpulmonik. Gambarannya pada sinar tembus sering terlihat sebagai diafragma yang terangkat. Jika terdapat bayangan dengan udara dalam lambung, ini cenderung menunjukkan efusi subpulmonik. Begitu juga dengan bagian kanan dimana efusi subpulmonik sering terlihat sebagai bayangan garis tipis (fisura) yang berdekatan dengan diafragma kanan. Untuk jelasnya bias dilihat dengan foto dada lateral dekubitus, sehingga gambaran perubahan efusi tersebut menjadi nyata. Cairan dalam pleura kadang-kadang menumpuk mengelilingi lobus paru (biasanya lobus bawah) dan terlihat dalam foto sebagai bayangan konsolidasi parenkim lobus, bias juga mengumpul di daerah paramediastinal dan terlihat dalam foto sebagai fisura interlobaris, bisa juga terdapat secara paralel dengan sisi jantung, sehingga terlihat sebagai kardiomegali. Cairan seperti empiema dapat juga terlokalisasi. Gambaran yang terlihat adalah sebagai bayangan dengan densitas keras di atas diafragma, keadaan ini sulit dibedakan dengan tumor paru. Hal lain yang dapat terlihat dari foto dada pada efusi pleura adalah terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan.

Di samping itu gambaran foto dada dapat juga menerangkan asal mula terjadinya efusi pleura yakni bila terdapat jantung yang membesar, adanya masa tumor, adanya densitas parenkim yang lebih keras pada pneumonia atau abses paru. Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan dalam rongga pleura. Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penuntun waktu melakukan aspirasi cairan terutama pada efusi yang terlokalisasi. Pemeriksaan CT scan dada dapat membantu. Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan sekitarnya, sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.

2.3.2 Torakosentesis Aspirasi cairan pleura (torakosentesis) berguna sebagai sarana untuk diagnostik maupun terapeutik. Pelaksanaanya sebaiknya dilakukan pada pasien dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah paru sela iga garis aksilaris posterior dengan memakai jarum abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc pada setiap kali aspirasi. Aspirasi lebih baik dilakukan berulang-ulang dari pada satu kali aspirasi sekaligus yang dapat menimbulkan pleura shock (hipotensi) atau edema paru akut. Edema paru dapat terjadi karena paru-paru mengembang terlalu cepat. Mekanisme sebenarnya belum diketahui betul, tapi diperkirakan karena adanya tekanan intra pleura yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan aliran darah melalui permeabilitas kapiler yang abnormal. Komplikasi lain torakosentesis adalah: pneumotoraks (ini yang paling sering udara masuk melalui jarum), hemotoraks (karena trauma pada pembuluh darah interkostalis) dan emboli udara yang agak jarang terjadi. Dapat juga terjadi laserasi pleura viseralis, tapi biasanya ini akan sembuh sendiri dengan cepat. Bila laserasinya cukup dalam, dapat menyebabkan udara dari alveoli masuk ke vena pulmonalis, sehingga terjadi emboli udara. Untuk mencegah emboli udara ini terjadi emboli pulmoner atau emboli sistemik, pasien dibaringkan pada sisi kiri di bagian bawah, posisi kepala lebih rendah dari leher, sehingga udara tersebut dapat terperangkap di atrium kanan. Menegakkan diagnosis cairan pleura dilakukan pemeriksaan: Warna cairan. Biasanya cairan pleura berwarna agak kekuning-kuningan (serous-santokrom). Bila agak kemerah-merahan, dapat terjadi trauma, infark paru, keganasan dan adanya kebocoran aneurism aorta. Bila kuning kehijauan dan agak purulen, ini menunjukkan adanya empiema. Bila merah coklat ini menunjukkan adanya abses karena amuba.

Biokimia. Secara biokimia efusi pleura terbagi atas transudat dan eksudat yang perbedaannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Di samping pemeriksaan tersebut di atas, secara biokimia diperiksa juga cairan pleura: Kadar ph dan glukosa. Biasanya merendah pada penyakit-penyakit infeksi, artritis reumatoid dan neoplasma. Kadar amilase biasanya meningkat pada pankreatitis dan metastasis adenokarsinoma. Transudat. Dalam keadaan normal cairan pleura yang jumlahnya sedikit itu adalah transudat. Transudat terjadi apabila hubungan normal antara tekanan kapiler hidrostatik dan koloid osmotik menjadi terganggu, sehingga terbentuknya cairan pada satu sisi pleura akan melebihi reabsorpsi oleh pleura lainnya. Biasanya hal ini terdapat pada: 1). Meningkatnya tekanan kapiler sistemik, 2). Meningkatnya tekanan kapiler pulmoner, 3). Menurunnya tekanan koloid osmotik dalam pleura, 4). Menurunnya tekanan intrapleura. Penyakit-penyakit yang menyertai transudat adalah: 1 ). Gagal jantung kiri (terbanyak) 2). Sindrom nefrotik, 3).Obstruksi vena cava superior, 4). Asites pada sirosis hati (asites menembus suatu defek diafragma atau masuk melalui saluran getah bening), 5). Sindrom Meig (asites dengan tumor ovarium), 6). Efek tindakan dialysis peritoneal, 7). Ex vacuo effusion, karena pada pneumotoraks, tekanan intra pleura menjadi sub-atmosfir sehingga terdapat pembentukan dan penumpukan transudat. Eksudat. Eksudat merupakan cairan yang terbentuk melalui membran kapiler yang permeabelnya abnormal dan berisi protein berkonsentrasi tinggi dibandingkan protein transudat. Terjadinya perubahan permeabilitas membrane adalah karena adanya peradangan pada pleura: infeksi, infark paru atau neoplasma. Protein yang terdapat dalam cairan pleura kebanyakan berasal dari saluran getah bening. Kegagalan aliran protein getah bening ini (misalnya pada pleuritis tuberkulosa) akan menyebabkan peningkatan konsentasi protein cairan pleura sehingga menimbulkan eksudat.

Kadar protein dalam efusi (s/dl) Kadar protein dalam efusi Kadar Protein dalam serum Kadar LDH dalam efusi (t.u) Kadar LDH dalam efusi Kadar LDH dalam serum Berat jenis cairan efusi Rivalta

Transudat <3 < 0,5

Eksudat >3 >0,5

< 200

>200

< 0,6

>0,6

< 1,016 Negatif

>1,016 Positif

2.4 Pengobatan Efusi Pleura Efusi yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui sela iga. Bila cairan pusnya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya multilokular, perlu tindakan operatif. Mungkin sebelumnya dapat dibantu dengan irigasi cairan garam fisiologi atau larutan antiseptik (betadine). Pengobatan secara sistemik hendaknya segera diberikan, tetapi ini tidak berarti bila tidak diiringi pengeluaran cairan yang adekuat. Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura maligna), dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketnya pleura viseralis dan pleura parientalis. Zat-zat yang dipakai adalah tetrasiklin (terbanyak dipakai) bleomisin, korinebakterium parvum, Tio-tepa, 5 Fluorourasil. Prosedur Pleurodesis Pipa selang dimasukkan pada ruang antar iga dan cairan efusi dialirkan ke luar secara perlahan-lahan. Setelah tidak ada lagi cairan yang keluar, masukkan 500 mg tetrasiklin (biasanya oksitetrasiklin) yang dilarutkan dalam 20 cc garam fisiologis ke dalam rongga pleura, selanjutnya diikuti dengan 20 cc garam fisiologis. Kunci selang selama 6 jam dan selama itu pasien diubah-ubah posisinya, sehingga tetrasiklin dapat didistribusikan kesaluran rongga pleura. Selang antar iga kemudian dibuka dan cairan dalam rongga pleura kembali dialirkan keluar sampai tidak ada lagi yang tersisa. Selang kemudian dicabut. Jika dipakai zat korinebakterium parvum, masukkan 7 mg yang dilarutkan dalam 20 cc

10

garam fisiologis dengan cara seperti tersebut di atas. Komplikasi tindakan pleurodesis ini sedikit sekali dan biasanya berupa nyeri pleuritik atau demam.

2.5 Penyakit-Penyakit Dengan Efusi Pleura 2.5.1 Pleuritis Tuberkulosa Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang sero-santokrom dan bersifat eksudat. Penyakit ini kebanyakan terjadi sebagai komplikasi tuberkulosis paru melalui focus subpleura yang robek atau melalui aliran getah bening. Sebab lain dapat juga dari robeknya saluran ke arah saluran getah bening yang menuju rongga pleura, iga atau kolumna vertebralis (menimbulkan penyakit Pott). Dapat juga secara hematogen dan menimbulkan efusi pleura bilateral. Cairan efusi yang biasanya serous, kadang-kadang bisa juga hemoragik. Jumlah lekosit antara 5002.000 per cc. Mula-mula yang dominan adalah sel polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit. Cairan efusi sangat sedikit mengandung kuman tuberkulosis, tapi karena reaksi hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, pada dinding pleura dapat ditemukan adanya granuloma. Diagnosis utama berdasarkan adanya kuman tuberkulosis dalam cairan efusi (biakan) atau dengan biopsi jaringan pleura. Pada daerah-daerah di mana frekuensi tuberkulosis paru tinggi dan terutama pada pasien usia muda, sebagian besar efusi pleura adalah karena pleuritis tuberkulosa walaupun tidak ditemukan adanya granuloma pada biopsi jaringan pleura. Pengobatan dengan obat-obat anti tuberculosis (Rifampisin, NH, Pirazinamid/ Etambutol/Streptomisin) memakan waktu 6- 12 bulan. Dosis dan cara pemberian obat seperti pada pengobatan tuberkulosis paru. Pengobatan ini menyebabkan cairan efusi dapat diserap kembali, tapi untuk menghilangkannya eksudat ini dengan cepat dapat dilakukan torakosentesis. Umumnya cairar diresolusi dengan sempurna, tapi kadang-kadang dapat diberikan kortikosteroid secara sistematik. (Prednison I mg/kg BB selama 2 minggu kemudian dosis diturunkan secara perlahan).

2.5.2 Efusi Pleura Karen Gangguan Sirkulasi 2.5.2.1 Gangguan kardiovaskular Payah jantung (decompensatio cordis) adalah sebab terbanyak timbulnya efusi pleura. Penyebab lain: perikarditis kontritiva dan sindrom vena kava superior. Patogenisnya adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorbsi
11

pembuluh darah subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongga pleura dan paru-paru meningkat. Tekanan hidrostatik yang meningkat pada seluruh rongga dada dapat juga menyebabkan efusi pleura yang bilateral, tapi yang agak sulit menerangkan adalah kenapa efusi pleuranya lebih sering terjadi pada sisi kanan. Terapi ditujukan pada payah jantungnya. Bila kelainan jantungnya teratasi dengan istirahat, digitalis, diuretik dll, efusi pleura juga segera menghilang. Kadang-kadang torakosentesis diperlukan juga bila pasien amat sesak.

2.5.2.2 Emboli pulmonal Efusi pleura dapat terjadi pada sisi paru yang terkena emboli pulmonal. Keadaan ini dapat disertai infark paru ataupun tanpa infark. Emboli menyebabkan menurunnya aliran darah arteri pulmonalis, sehingga terjadi iskemia maupun kerusakan parenkim paru dan memberikan peradangan dengan efusi yang berdarah (wama merah). Pada bagian paru yang iskemik terdapat juga kerusakan pleura viseralis, keadaan ini kadang-kadang disertai rasa sakit pleuritik yang berarti pleura parietalis juga ikut terkena. Di samping itu permeabilitas antara satu ataupun kedua bagian pleura akan meningkat, sehingga cairan efusi mudah terbentuk. Adanya nyeri pleuritik dan efusi pleura pada emboli pulmonal tidak berarti infark paru juga harus terjadi. Cairan efusi biasanya bersifat eksudat, jumlahnya tidak banyak dan biasanya sembuh secara spontan, asal tidak terjadi emboli pulmonal lainnya. Efusi pleura dengan infark paru jumlah cairan efusinya lebih banyak dan waktu penyembuhan juga lebih lama. Pengobatan ditujukan terhadap embolinya yakni dengan memberikan obat antikoagulan dan mengontrol keadaan trombositnya.

2.5.2.3 Hipoalbuminemia Efusi pleura juga terdapat pada keadaan hipoalbuminemia seperti sindrom nefrotik, malabsorbsi atau keadaan lain dengan asites serta edema anasarka. Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotic protein cairan pleura dibandingkan dengan tekanan osmotik darah. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat. Pengobatan adalah dengan memberikan diuretik dan restriksi pemberian garam. Pengobatan yang terbaik adalah dengan memberikan infus albumin.

12

2.5.3 Efusi Pleura Neoplasma Neoplasma primer ataupun sekunder (metastasis) dapat menyerang pleura dan umumnya menyebabkan efusi pleura. Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah sesak napas dan nyeri dada. Gejala lain adalah akumulasi cairannya kembali dengan cepat walaupun dilakukan torakosentesis berkali-kali. Efusi bersifat eksudat, tapi sebagian kecil (10%) bisa sebagai transudat. Warna efusi bisa sero-santokrom ataupun hemoragik (terdapat lebih dari 100.000 sel eritrosit per cc). Didalam cairan ditemukan sel-sel limfosit (yang dominan) dan banyak sel mesotelial. Pemeriksaan sitologi terhadap cairan efusi atau biopsy pleura parietalis sangat menentukan diagnosis terhadap jenis-jenis neoplasma. Terdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura pada neoplasma yakni: Menumpuknya sel-sel tumor akan meningkatkan permeabilitas pleura terhadap air dan protein. Adanya massa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran pembuluh darah vena dan getah bening, sehingga rongga pleura gagal dalam memindahkan cairan dan protein. Adanya tumor membuat infeksi lebih mudah terjadi dan selanjutnya timbul hipoproteinemia.

Efusi pleura karena neoplasma biasanya unilateral, tetapi biasanya juga bilateral karena obstruksi saluran getah bening, adanya metastasis dapat mengakibatkan pengaliran cairan dari rongga pleura via diafragma. Keadaan efusi pleura dapat bersifat maligna. Keadaan ini ditemukan 10-20% karsinoma bronkus, 8% dari limfoma maligna dan leukemia. Jenis-jenis neoplasma yang menyebabkan efusi pleura adalah: mesothelioma, karsinoma bronkus, neoplasma metastatik, dan limfoma maligna.

2.5.3.1 Mesotelioma Mesotelioma adalah tumor primer yang berasal dari pleura. Tumor ini jarang ditemukan, bila tumor masih terlokalisasi, biasanya tidak menimbulkan efusi pleura, sehingga dapat digolongkan sebagai tumor jinak. Sebaliknya bila ia tersebar (difus digolongkan sebagai tumor ganas karena dapat menimbulkan efusi pleura yang maligna.

13

2.5.3.2 Karsinoma bronkus Jenis karsinoma ini adalah yang terbanyak menimbulkan efusi pleura. Tumor bisa ditemukan dalam permukaan pleura karena penjalaran langsung dari paru-paru melalui pembuluh getah bening. Efusi dapat juga terjadi tanpa adanya pleura yang terganggu, yakni dengan cara obstruksi pneumonitis atau menurumya aliran getah bening. Terapi operasi terhadap tumomya masih dapat dipertimbangkan, tetapi bila pada pemeriksaan sitology sudah ditemukan cairan pleura, pasien tidak dapat dioperasilagi. Untuk mengurangi keluhan sesak napasnya dapat dilakukan torakosentesis secara berulang-ulang. Tapi sering timbul lagi dengan cepat, sebaiknya dipasang pipa torakotomi pada dinding dada (risikonya timbul empiema). Tindakan lain untuk mengurangi timbulnya lagi cairan adalah dengan pleurodesis, memakai zat-zat seperti tetrasiklin, talk, sitostatka, kuinakrin.

2.5.3.3 Neoplasma metastatik Jenis-jenis neoplasma yang sering bermetastasis ke pleura dan menimbulkan efusi adalah: karsinoma payudara (terbanyak), ovarium, lambung, ginjal, pankreas dan bagian-bagian organ lain dalam abdomen. Efusi dari pleura yang terjadi dapat bilateral. Gambaran foto toraks mungkin tidak terlihat bayangan metastasis di jaringan paru, karena implantasi tumor dapat mengenai pleura viseralis saja. Pengobatan terhadap neoplasma metastatik ini sama dengan karsinoma bronkus yakni dengan kemoterapi dan penanggulangan terhadap efusi pleuranya.

2.5.3.4 Limfoma maligna Kasus-kasus limfoma maligna (non-Hodgkin dan Hodgkin) ternyata 30% bermetastasis ke pleura dan juga menimbulkan efusi pleura. Di dalam cairan efusi tidak selalu terdapat sel-sel ganas seperti pada neoplasma lainnya. Biasanya ditemukan sel-sel limfosit karena sel ini ikut dalam aliran darah dan aliran getah bening melintasi rongga pleura. Di antara sel-sel yang bermigrasi inilah kadangkadang ditemukan sel-sel yang ganas limfoma maligna. Terdapat beberapa jenis efusi berdasarkan penyebabnya yakni: Bila efusi terjadi dari implantasi sel-sel limfoma pada permukaan pleura, cairannya adalah eksudat, berisi sel limfosit yang banyak dan sering hemoragik.

14

Bila efusi pleura terjadi karena obstruksi saluran getah bening, cairannya bisa transudat atau eksudat dan ada limfosit. Bila efusi terjadi karena obstruksi duktus torasikus, cairannya akan berbentuk kilus. Bila efusi terjadi karena infeksi pleura pada pasien limfoma maligna karena menurunnya resistensi terhadap infeksi, efusi akan berbentuk empiema akut atau kronik.

Seperti pada neoplasma lainnya, efusi pleura yang berulang (efusi maligna) pada limfoma maligna kebanyakan tidak responsif terhadap tindakan torakostomi dan instilasi dengan beberapa zat kimia. Keadaan dengan efusi maligna ini mempunyai prognosis yang buruk.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Isselbacher; dkk. Harrison: Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit dalam. Volume 4. Edisi 13. Jakarta; EGC, 2012. 2. Sudoyo, Aru, dkk. Ed. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi V. Jakarta: InternalPublishing, 2009. 3. Mansjoer, Arif, dkk. Ed. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Edisi ketiga. Jakarta: Media Aesculapius, 2001. 4. ---------. Pedoman Diagnosis dan Terapi bagian Ilmu Penyakit Paru. Edisi III. Surabaya: RSUD dr. Soetomo, 2005.

16