Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 GENETIKA VIRUS, BAKTERI, TRANSPOSON DAN GENETIKA

SEL EUKARYOTIK GENETIKA VIRUS Virus merupakan genom yang terbungkus di dalam suatu lapisan pelindung, Virus terkecil memiliki diameter hanya 20 nmlebih kecil dari ribosom. Jutaan virus dapat dengan mudah menempati kepala jarum. Bahkan virus yang paling besar sekalipun sukar dilihat dengan mikroskop cahaya. Penemuan Stanley bahwa beberapa virus dapat dikristalkan merupakan berita yang menggairahkah sekaligus membingungkan. Sel yang paling sederhana sekalipun tidak dapat beragregasi menjadi kristal yang teratur. Virus bukan merupakan sel, karena hanya terdiri dari nukleus saja, Virus merupakan penginfeksi yang terdiri dari asam nukleat yang terbungkus di dalam lapisan pelindung dan, di beberapa kasus, di dalam selubung membran. B. Komponen Penyusun Virus Genom Virus Kita biasanya membayangkan bahwa gen terbuat dari DNA

untaigandaheliks ganda yang konvensionaltetapi virus seringkali melanggar anggapan ini. Virus terdiri dari Genom (kumpulan gen) mungkin terdiri dari DNA untai-ganda, DNA untai tunggal, RNA untai-ganda, atau RNA untaitunggal, tergantung tipe virusnya. Suatu virus bisa disebut sebagai virus DNA atau virus RNA, tergantung dari asam nukleat yang mennyusun genomnya. Pada masing-masing kasus, genomnya biasanya tersusun menjadi molekul asam nukleat linear tunggal atau sirkuler, Virus yang terkecil hanya memiliki 4 gen, sedangkan yang besar memiliki beberapa ratus. Kapsid dan Selubung Kulit protein yang menyelubungi genom virus disebut Kapsid, Tergantung dari tipe virusnya, kapsid dapat berbentuk batang (lebih tepatnya heliks), polihedral, atau bentuk yang lebih kompleks. Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer, tetapi jumlah jenis proteinnya biasanya sedikit. Virus mosaik tembakau, misalnya, memiliki kapsid batang yang kaku, yang terbuat lebih dari seribu molekul tetapi dari satu jenis protein saja (gambar 2.1a). Adenovirus, yang menginfeksi saluran pernapasan hewan, memiliki 252

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 molekul protein identik yang tersusun menjadi kapsid polihedral dengan 20 faset segitigasuatu ikosahedron Virus terdiri dari asam nukleat (DNA atau RNA) yang terbungkus di dalam suatu lapisan protein (kapsid) dan kadangkala masih terbungkus lagi di dalam suatu selubung membran. Masing-masing subunit protein yang menyusun kapsid disebut kapsomer. Walaupun virus memiliki berbagai ukuran dan bentuk, mereka memiliki motif struktural yang sama, sebagian besar termasuk dalam keempat contoh yang diperlihatkan di sini. (a) Virus mosaik tembakau memiliki kapsid heliks dengan bentuk keseluruhan seperti batang yang kaku. (b) Adenovirus memiliki kapsid polihedral dengan tanduk glikoprotein nada setiap puncak (c) Virus influenza memiliki selubung luar yang dihiasi oleh tanduk glikoprotein. Genomnya terdiri dari delapan molekul RNA, masing-masing terbungkusdi dalam sebuah kapsid heliks. (d) Faga adalah virus yang menginfeksi bakteri. Faga T-genap, seperti T4, memiliki sebuah kapsid yang kompleks, yang tersusun dari sebuah kepala polihedral dan sebuah perlengkapan ekor. DNA disimpan di kepala, dan bagian ekor berfungsi dalam penginjeksian DNA ini ke dalam C. Penggolongan Virus bakteri

Penggolongan Virus berdasarkan tipe Asam Nukleat yaitu : Kelas* I. dsDNA** Pavovavirus Adenovirus Herpesvirus Contoh penyakit Papiloma (kutil manusia, kanker serviks); polioma (tumor pada hewan lertentu) Penyakit saluran pernapasan; beberapa menyebabkan tumor pada hewan-hewan tertentu Herpes simpleks I (luka di sekeliling mulut); herpes simpleks II (perlukaan genital); varicella zoster (cacar air (chicken pox), ruam); virus Epstein-Barr (mononukleosis, Hmfoma Burkitt) Cacar (smallpox); vaccinia; cacar sapi (cov/pox) Roseola; sebagian besar parvovirus harus mclakukan infeksi bersama-sama dengan adenovirus agar bisa tumbuh Diare; penyakit saluran pernapasan yang ringan

Poxvirus II. ssDNA (parvovirus)

III. IV.

dsRNA (reovirus) ssRNA yang dapat berfungsi sebagai Mrna Picomavirus

Poliovirus: rhinovirus (pilek biasa); virus

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 Togavirus ssRNA yang berfungsi sebagai cetakan untuk mRNA Rhabdovirus Paramyxovirus Orthomyxovirus VI. ssRNA yang berfungsi sebagai cetakan untuk sintesis DNA (retrovirus) V. enterik (usus) Virus rubella; virus demam kuning; virus ensefalitis

Rabies Campak Virus Influenza Virus tumor RNA (mis: virus leukimia); HIV (virus AIDS)

*) Subkelas dari masing-masing kelas terutama berbeda dalam hal struktur kapsid dan ada tidakaknya salubung membran **) ds = double-standed (untai-ganda. ss = single standed (untai-tunggal) D. Cara Virus Berkembang Biak Virus merupakan parasit intraseluler obligat; mereka hanya dapat bereproduksi di dalam sel inang. Virus yang terisolasi tidak dapat bereproduksi atau melakukan hal-hal lainnya yang ber-hubungan dengan itu, kecuali menginfeksi sel inang yang cocok. Virus tidak memiliki enzim untuk melakukan metabolisme dan tidak memiliki ribosom atau peralatan lainnya untuk membuat proteinnya sendiri. Oleh karena itu, virus yang terisolasi hanya merupakan paketpaket yang berisi sckumpulan gen yang berpindah-pindah dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Setiap tipe virus hanya dapat menginfeksi dan memparasiti beberapa jenis sel inang tertentu. Jenis-jenis inang yang dapat diinfeksi dan diparasiti oleh virus ini disebut kisaran inang. Penentuan inang ini bergantung pada evolusi sistem pengenalan yang dilakukan oleh virus tersebut. Virus mengidentifikasi sel inangnya dengan menggunakan kesesuaian lock-and-key atau lubang-dan-kunci" ancara protein di bagian luar virus itu dengan molekul-molekul reseptor spesifik pada permukaan sel. (Kemung-kinan reseptor muncul pertama kali karena ia menjalankan fungsi yang bermanfaat bagi organisme tersebut.) Beberapa virus memiliki kisaran inang yang cukup luas sehingga dapat melingkupi beberapa spesies.

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203

Virus merupakan parasit intraseluler obligat yang menggunakan peralatan dari sel inangnya untuk bereproduksi. Dalam siklus virus yang paling sederhana (di antara semua siklus virus) ini, parasitnya adalah virus DNA dengan kapsid yang lerdiri dari satu jens protein. 1) Setelah memasuki sel, DNA virus menggunakan nukleotida dari enzim inangnya untuk mereplikasi dirinya sendiri. 2) Virus menggunakan materi inang dan peralatan lainnya untuk memproduksi protein kapsidnya 3) DNA virus dan protein kapsid kemudian tersusun membentuk partikel virus baru, yang meninggalkan sel tersebut Untuk mereplikasi genomnya, virus RNA harus menggunakan

polimerase khusus yang dikode oleh virus, yaitu polimerase yang menggunakan RNA sebagai cetakan. (Biasanya sel tidak memiliki enzim untuk menjalankan proses tersebut.) Adapun tipe genom virusnya, parasit tersebut mengalihkan sumberdaya inangnya untuk produksi yang dilakukan oleh virus. Inang tersebut menyediakan nukleotida-nukleotida untuk mensintesis asam nukleat. Inang ini juga

menyediakan enzim, ribosom, tRNA, asam amino, ATP dan komponen lainnya yang dibutuhkan untuk membuat protein virus yang diarahkan oleh mRNA yang ditranskripsi dari gen-gen virus. Setelah molekul asam nukleat dan kapsomer virus diproduksi, proses penyusunan molekul dan kapsomer ini menjadi virus baru sering kali merupakan proses yang spontan, proses penyusunan sendiri. Tipe siklus reproduktif virus yang paling sederhana selesai ketika ratusan atau ribuan virus muncul dari sel inang yang terinfeksi. Sel inang sering kali hancur pada proses ini. Sebenarnya beberapa gejala infeksi virus pada manusia, seperti pilek dan influenza, adalah hasil dari kerusakan dan kematian seluler serta merupakan hasil dari respons tubuh terhadap penghancuran ini. Progeni virus yang keluar dari sel memiliki potensi untuk menginfeksi sel-sel sekitarnya, dan menyebarluaskan infeksi virus. E. Cara Virus menginfeksi inangnya

Infeksi virus dimulai ketika genom dari virus mulai memasuki suatu sel inang Mekanisme yang digunakan asam nukleat ini untuk masuk ke dalam sel berbeda-

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 beda, tergantung tipe virusnya. Misalnya, faga T-genap menggunakan ekornya yang rumit untuk menginjeksikan DNA ke dalam bakteri (gambar 2.2). Begitu berada di dalam, genom virus tersebut dapat memerintah inangnya, memprogramulang sel tersebut untuk membuat salinan asam nukleat virus itu dan menghasilkan protein virus. Kebanyakan virus DNA menggunakan DNA polimerase dari sel inang untuk mensintesis genom-genom baru yang cetakannya berasal dari DNA virus. 1. Glikoprotein yang menonjol keluar dari selubung virus dapat mengenali dan

kemudian mengikatkan diri pada motekul-molekul (tidak diperlihatkan) reseptor yang spesifik pada permukaan sel inang. 2. Selubung virus bergabung dengan membran plasma sel tersebut, serta kapsid

dan genom virus masuk ke dalam sel. 3. 4. Enzim seluler memisahkan kapsid. Genom virus berfungsi sebagai cetakan untuk membuat untai RNA

komplementer (panah berkelok di bawah cetakan), yang memiliki dua fungsi: 5. dan 6. Berfungsi sebagai mRNA, mRNA ini ditranslasi menjadi protein kapsid dan Berfungsi sebagai cetakan untuk membuat salinan baru dari RNA genom,

glikoprotein untuk selubung virus. Retikulum endoplasmik (RE) sel mensintesis glikoprotein. 7. 8. 9. Vesikula mengangkut glikoprotein ke membran plasma dari sel tersebut Kapsid disusun di sekeliling setiap molekul genom virus. Virus bertunas dari sel. Selubungnya, bertahtakan glikoprotein virus, berasal

dari membran plasma sel tersebut.

GENETIKA BAKTERI
A. GENOM BAKTERI Ada dua fenomena biologi pada konsep hereditas, yaitu: 1). Hereditas yang bersifat stabil : dimana generasi berikut yang terbentuk dari pembelahan satu sel mempunyai sifat yang identik dengan induknya

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 2). Variasi genetik yang mengakibatkan adanya perbedaan sifat dari sel induknya akibat peristiwa genetik tertentu, misal: mutasi. 1. Unit herediter bakteri ( genom bakteri) Kromosom Kebanyakan gen prokariota terdapat pada kromosom, yang terletak dalam suatu bagian pusat sitoplasma, yang dinamakan daerah nuklear atau nukleoid untuk membedakannya dari membran-pengikat nukleus pada sel eukariotik. . Gen bakteri terdapat dalam molekul DNA tunggal (haploid). Berbentuk sirkuler, panjangnya 1mm, beratnya 2-3% dari berat kering satu sel, disusun sekitar 4 juta kpb DNA, makromolekul yang sangat banyak ini dikemas agar tidak berubah dalam bentuk superkoil ( 70-130 superkoil domain) Jumlah nukleoid dalam sel bakteri dapat lebih dari satu, tergantung kecepatan pertumbuhan dan ukuran sel. Nukleoid berisi gen yang penting untuk pertumbuhan bakteri. Plasmid Plasmid merupakan materi genetik di luar kromosom (ekstra kromosomal). Tersebar luas dalam populasi bakteri.Terdiri dari beberapa 100 kpb, beratnya 1-3 % dari kromosom bakteri. Berada bebas dalam sitoplasma bakteri. Kadangkadang dapat bersatu dengan kromosom bakteri. Dapat berpindah dan dipindahkan dari satu spesies ke spesies lain.Jumlahnya dapat mencapai 30 atau dapat bertambah karena mutasi. Macam-macam Plasmid dan peranannya: Pili F dan I. Dua macam pili yang disebut, pili F dan I, diketahui terlibat dalam transfer plasmid dari sel ke sel. Dua kelompok faga RNA diketahui menginfeksi sel yang membawa plasmid yang dapat dipindahkan. Faga ini dapat digunakan untuk melihat adanya pili F dan I pada sel. Dua macam pili ini dapat juga dibedakan secara imunologi. Pili F dilibatkan dalam transfer faktor F dan beberapa plasmid resisten-antibiotik. Pili F juga terdapat pada sel Hfr. Pili I

dilibatkan dalam transfer plasmid resisten-antibiotik, plasmid yang menentukancolicin, dan lainnya.

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203

Gambar 6.1 DNA kromosom sirkuler bakteri E. coli sedang mengalami replikasi (sumber: Randall K. Holmes & Michael G. Jobling,2001) Faktor R. Faktor R pertama kali ditemukan di Jepang pada strain bakteri enterik yang mengalami resistensi terhadap sejumlah antibiotik (multipel resisten). Munculnya resistensi bakteri terhadap beberapa antibiotik, sangat berarti dalam dunia kedokteran, dan dihubungkan dengan meningkatnya penggunaan antibiotik untuk pengobatan penyakit infeksi. Sejumlah perbedaan gen-gen resistenantibiotik dapat dibawa oleh faktor R. Plasmid R100 disusun oleh 90 kpb yang membawa gen resisten untuk sulfonamid, streptomisin/spektinomisin, asam fusidat, kloramfenikol, tetrasiklin dan pembawa gen resisten terhadap merkuri. R100 dapat berpindah diantara bakteri enterik dari genus Escherichia, Klebsiella, Proteus, Salmonella, dan Shigella, tetapi tidak akan berpindah ke bakteri nonenterik Pseudomonas. Juga sudah diketahui faktor R dengan gen resisten terhadap kanamisin, penisilin, tetrasikliin, dan neomisin. Beberapa elemen resisten obat pada faktor R merupakan elemen yang dapat bergerak, dan dapat digunakan dalam mutagenesis transposon. Gen-gen untuk sifat yang tidak berhubungan dengan resistensi antibiotik juga dibawa oleh faktor R. Yang terpenting diantaranya menghasilkan pili untuk transfer konjugatif, tetapi faktor R juga membawa gen untuk replikasi dirinya sendiri dan gen untuk mengatur produksi protein yang mencegah pengenalan plasmid lain. Selanjutnya adanya satu faktor R yang menghambat pengenalan dari tipe plasmid lain yang sama, suatu fenomena yang diketahui sebagai ketidakcocokan.

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 Karena faktor R dapat mengalami rekombinasi genetik, gen dari dua faktor R dapat bergabung menjadi satu. Rekombinasi plasmid merupakan suatu alat yang mungkin pertamakali ditimbulkan oleh pembiakan organisme resisten-obat.

Gambar 6.3 Foto elektron mikgrograf sel bakteri E. coli F+ (kiri) dan F- (kanan) selama proses konjugasi seksual (sumber: Brock & Madigan,1991) B. PERTUKARAN MATERI GENETIK PADA BAKTERI Dewasa ini mucul keanekaragaman dan variasi genetik pada bakteri disebabkan oleh proses rekombinasi gen antara jenis bakteri yang satu dengan bakteri lain. Rekombinasi atau pertukaran gen ini melalui berbagai cara yaitu: 1. Transfer Gen Materi genetik dan plasmid dapat berpindah atau dipindahkan melalui berbagai mekanisme sebagai berikut:
a. Transduksi

DNA dari plasmid masuk ke dalam genom bakteriofaga. Oleh bakteriofaga plasmid ditransfer ke populasi bakteri lain. Transduksi biasa terjadi pada bakteri Gram positif seperti Staphylococcus, tapi diketahui pula terjadi pada Salmonella
b. Transformasi

Fragmen DNA bebas dapat melewati dinding sel dan kemudian bersatu dalam genom sel tersebut sehingga mengubah genotipnya. Hal ini biasanya dikerjakan di laboratorium dalam penelitian rekayasa genetika, tapi dapat pula terjadi secara spontan meskipun dalam frekuensi yang kecil.
c. Konjugasi

Transfer unilateral materi genetik antara bakteri sejenis maupun dengan jenis lain dapat terjadi melalui proses konyugasi (mating = kawin). Hal ini dimungkinkan karena adanya faktor F yang menentukan adanya pili seks pada

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 virus bakterial tertentu. Kuman yang mempunyai pili seks disebut kuman F+, dan melalui pilinya materi genetik dari sel donor (F+) termasuk plasmid DNA-nya dapat berpindah ke dalam sel resipien. Jadi gengen tertentu yang membawa sifat resistensi pada obat dapat berpindah dari populasi kuman yang resisten ke dalam kuman yang sensitif. Dengan cara inilah sebagian besar dari sifat resisten obat tersebar dalam populasi kuman dan menimbulkan apa yang disebut multi drug resistance.

Gambar 6.4 Mekanisme pertukaran materi gentik pada bakteri, A) Transformasi, fragmen DNA lepas dari bakteri donor yang diterima oleh bakteri penerima B) Transduksi perpindahan materi genetik melalui bakteriofage (virus). C) Konyugasi perpindahan materi genetik dengan kontak langsung melalui hubungan sitoplasma (sumber: Randall K. Holmes & Michael G. Jobling,2001)
d.

Transposisi

Transposisi adalah pemindahan rantai DNA pendek (hanya beberapa urutan saja) antara satu plasmid ke plasmid lain, atau dari kromosom ke plasmid dalam sel tersebut

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203

TRANSPOSON
Pada awal tahun 1940-an, peneliti telah menemukan kalau beberapa urutan DNA dapat berubah posisi. Urutan yang dapat berpindah ini disebut dengan elemen genetik yang transposabel atau singkatnya disebut transposon. Penelitian menunjukkan bahwa elemen ini ada pada prokariotik dan eukariotik. Elemen transposabel ini ditemukan oleh B. McClintock melalui analisa ketidakstabilan genetik pada maizena yang berkaitan dengan kerusakan kromosom dan ditemukan pada bagian dimana elemen transposabel ini berada. Pada analisa McClintock, kerusakan dideteksi dengan hilangnya penanda genetik tertentu. Pada beberapa eksperimen, McClintock menggunakan penanda yang mengkontrol deposisi pigmentasi pada aleuron, membran terluar dari endosperm biji maizena. Penanda tersebut adalah alel pada lokus Cpada lengan pendek dari kromosom 9. Alel yang disebut CI ini, adalah inhibitor dominan dari pewarnaan aleuron sehingga biji yang memiliki alel ini akan menjadi tidak berwarna. McClintock memfertilisasikan bunga betina CC dengan polen dari bunga jantan CI CI, menghasilkan biji yang endospermnya CI CC. Walaupun banyak dari biji ini tersebut tidak berwarna, beberapa juga menunjukkan adanya pigmen ungu kecoklatan. McClintock beranggapan bahwa alel inhibitor CI telah hilang beberapa saat selama pembentukan endosperm, sehingga klon dari jaringan yang dapat membentuk pigmen dapat muncul. Genotip dari klon ini kemungkinan adalah CC dan yang hilang adalah alel CI . Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa alel ini hilang akibat kerusakan kromosom. Kerusakan pada suatu lokasi akan melepaskan segmen kromosom dari sentromernya sehingga membentuk fragmen asentrik. McClintock menemukan bahwa kejadian seperti ini secara berkala muncul akibat kerusakan bagian tertentu pada kromosom 9. Dia memberi nama faktor yang menyebabkan kerusakan ini Ds (disosiasi). Pada ekperimen tersebut, kromosom yang membawa alel CI juga membawa faktor Ds. Jika sendirian, faktor ini tidak mampu untuk mempengaruhi kerusakan kromosom. Ds diaktifkan oleh

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 faktor lain yang disebut Ac (aktivator). Dua faktor inilah yang menyebabkan ketidakstabilan genetik pada kromosom 9. Baik Ac maupun Ds adalah bagian dari elemen transposabel. Elemen ini secara struktur saling terhubung dan dapat memasuki lokasi berbeda pada kromosom. Ketika salah satu dari elemen ini masuk atau berada dekat sebuah gen, fungsi dari gen tersebut telah berubah. Bahkan fungsi dari gen tersebut bisa benarbenar hilang. Oleh karena itu, McClintock menyebut Ac dan Ds sebagai elemen pengontrol. Kadang-kadang, mutasi yang diakibatkan oleh elemen kontrol ini tidak tetap. Sebagai contoh, salah satu mutasi dari lokus bronze yaitu bz-m2. Mutasi ini diakibatkan oleh insersi dari elemen Ac dan akan berbalik jika

elemen Ac dihilangkan. Sedangkan mutasi yang lain yaitubz-m1, disebabkan oleh insersi dari Ds. Namun reversi pada kasus ini hanya terjadi jika elemen Ac ada di bagian manapun pada genom. Inilah perbedaan dari kedua alel tersebut. Elemen Ac dapat aktif sendiri namun Ds tidak. Ketika suatu transposon dapat mengaktifkan dirinya sendiri, hal ini disebut berfungsi secara autonom, sedangkan jika tidak maka disebut nonautonom Ketidakstabilan genetik juga dapat ditemukan pada bakteri dan pada kasus ini juga ditemukan adanya elemen transposabel. Transposon pada bakteri yang paling sederhana adalah rangkaian insersi atau elemen IS. Elemen IS yang homolog terkadang berkombinasi dengan gen lain untuk membentuk tansposon gabungan, yang ditandai dengan simbol Tn. Simbol ini juga digunakan untuk menandai transposon yang tidak mengandung elemen IS, seperti elemen yang disebut sebagai Tn3. Seperti halnya transposon gabungan, elemen ini juga mengandung gen yang yang tidak penting untuk transposisi. Elemen IS merupakan elemen yang terorganisasi secara kompak, biasanya merupakan urutan sandi tunggal dengan urutan yang sama atau hampir sama dan pendek pada kedua ujungnya. Ujung urutan ini selalu berorientasi secara invert sehingga disebut inverted terminal repeat yang panjangnya berkisar antara 9 sampai 40 pasang nukleotida. Ketika elemen IS masuk ke dalam kromosom atau plasmid, elemen ini membuat duplikat dari urutan DNA pada lokasi insersi. Hasil pengkopian dari

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 duplikasi terletak pada masing-masing sisi dari elemen tersebut dan disebut sebagai duplikasi lokasi target. Elemen IS memediasi integrasi episome ke dalam kromosom bakteri. Tansposon gabungan terbentuk ketika dua elemen IS saling menginsersi. Urutan ini dapat diubah oleh kerja sama dari elemen yang mengapitnya. Sebagai contoh, pada Tn9, elemen IS yang mengapit langsung berorientasi dengan yang lainnya sedangkan Tn5 dan Tn10 berorientasi terbalik. Masing-masing transposon gabungan ini membawa gen yang resistan terhadap antibiotik. Tn9 resistan terhadap chloraphenicol, Tn5 resistan terhadap kanamycin dan Tn10 resistan terhadap tetracycline. Hal ini menunjukkan bahwa kadang elemen IS pengapit pada transposon gabungan tidak identik. Pada Tn5, elemen yang terletak di kiri, disebut IS50L tidak mampu untuk menstimulasi transposisi namun elemen yang berada di kanan yaitu IS50R mampu melakukannya. Perbedaannya adalah perubahan pasangan nukleotida tunggal menghalangi IS50L untuk mensintesis faktor transposisi yang penting. Faktor ini merupakan protein yang disebut transposase yang disintesis oleh IS50R. Sedangkan Tn3 merupakan elemen dari kelompok transposons yang memiliki ulangan ujung terbalik sepanjang 38-40 pasang nukleotid, lebih besar daripada elemen IS dan biasanya mengandung gen yang dibutuhkan untuk transposisi. Transposisi pada Tn3 berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah transposase memediasi penggabungan antara dua molokul sehingga membentuk struktur yang disebut cointegrate. Selama proses ini, transposon mengalami replikasi dan masing-masing membentuk sambungan

pada cointegrate. Pada tahap kedua, pengkode tnpR memutuskan mediasi rekombinasi pada lokasi yang spesifik antara dua Tn3 elemen. tahapan ini muncul pada urutan di Tn3 yang disebut res, lokasi resolusi, dan menyebabkan timbulnya dua molekul, masing-masing dengan kopian dari transposon.

GENETIKA EUKARYOTIK
Genom eukaryot mempunyai organisasi yang lebih kompleks dibangdingkan dengan genom prokaryot. Molekul DNA utama pada eukaryot berupa molekul untai ganda dengan struktur linear. Ukuran genom eukaryot, khususnya eukaryot tingkat tinggi, jauh lebih besar dibandingkan dengan ukuran

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 genom prokaryot. Bahan genetik utama jasad eukaryot terletak di dalam inti sel (nucleus) dan dikemas sedemikian rupa membentuk struktur yang disebut kromosom. Jumlah kromosom pada kelompok jasad eukaryot sangat bervariasi, mulai dari dua buah pada khamir Schizosaccharomyces pombe, sampai mencapai 250 buah pada sejenis kepiting (hermit crab). Selain kromosom, beberapa sel eukaryot juga mempunyai DNA di luar kromosom yaitu DNA pada mitokondria dan pada kloroplas (pada sel tumbuhan hijau). Beberapa sel eukaryot juga mempunyai plasmid alami yang disebut plasmid 2 m. DNA mitokondria dan pada kloroplas berupa molekul DNA lingkar dan replikasinya berlangsung secara indeenden, tidak tergantung pada replikasi kromosom. Organisasi gen pada mitokondria lebih mirip organisasi gen pada bakteri sehingga diduga mitokondria merupakan jasad prokaryot endosimbion yang dalam proses evolusi berkembang menjadi bagian struktur sel eukaryot seperti yang dikenal sekarang(Triwibowo, 2010). Informasi genetik pada eukaryot dapat terletak pada kedua untaian ganda DNA, artinya masing-masing untaian DNA dapat berfungsi sebagai bagian yang mengkode sesuatu (coding region) maupu yang tidak membawa informasi (noncoding region). Seperti halnya pada prokaryot ukuran molekul DNA yang menyusun kromosom eukaryot jauh lebih panjang dibandingkan ukuran selnya. Sebagai contoh jika molekul DNA kromosom pada satu sel manusia disambung secara linear maka dapat encapai panjang sekitar 1,74 m, sedangkan ukuran sel manusia hanya beberapa micron. Kromosom sel manusia mempunyai kandungan nukleotida yang berkisar antara 48 juta pasangan basa sampai sekitar 240 juta pasangan basa pada kromosom terbesar, yaitu 1, 2, dan 3. Oleh karena itu, DNA utama pada sel eukaryot ikemas dengan sistem yang sangat efisien dan kompak. Dimana DNA pada sel eukaryot dikemas oleh dengan menngunakan protein histon. Menurut Triwibowo (2010), gen pada jasad eukaryot dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu : Gen kelas I, yaitu gen-gen yang mengkode rRNA5,85, rRNA 18S, dan rRNA 28S. Ketiga molekul rRNA tersebut digunakan dalam pembentukan ribosom. Gen kelas II, yaitu gen-gen yang mengkode sintesis semua molekul protein. Gen-gen tersebut lebih dahulu akan disalin (ditranskripsi)

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 menjadi molekul mRNA, selanjutnyamRNA akan ditanslasi menjadi rangkaian asam amino yang menyusun suatu protein. Gen kelas III, yaitu gen-gen yang mengkode pembentukan molekul tRENA, dan rRNA 5S. Molekul tRNA digunakan untuk membawa asram amino yang akan disambungkanmenjadi molekul protein dalam protein translasi.

Menurut Triwibowo (2010), pada eukaryot ada beberapa hal utama yang merupakn ciri umum pada semua gen yang terinterupsi (mengandung interon) adalah :

Urutan bagianbagian gen yang terinterupsi dalam genom adalah sama dengan urutan pada produk RNA hasil transkripsi.Gen yang terinterupsi mempunyai struktur yang sama pada semua jaringan, baik berekspresikan maupun tidak. Intron dalam gen-gen inti sel pada umumnya mempunyai kodon terminasi dalam semua kerangka baca (reading frame). Pada dasarnya sistem transkripsi maupun translasi pada prokariot maupun eukariot sama. Sama-sama memerlukan DNA templat, RNA polimerase, NTP (ribonukleotida) dan molekul protein regulator. Bahkan keduanya pula terdapat tahapan inisiasi, elongasi, dan terminasi. Tapi di sini saya akan menjelaskan lebih banyak tentang eukariot. Pada proses transkripsi, perbedaan yang paling mendasar antara prokariot dan eukariot adalah tempatnya. Pada eukariot terdapat di inti sel dan pada prokariot di sitoplasma. Hal ini dikarenakan menurut struktur selnya, eukariot mempunyai membran inti dan prokariot tidak. Sehingga diketahui pula pada eukariot gen-gennya tersebar pada kromosom. Selain itu eukariot bersifat monosistronik, artinya satu transkrip yang dihasilkan hanya mengkode satu macam produk ekspresi. Sedangkan pada prokariot bersifat polysistronik yang dalam satu transkrip mengkode beberapa macam produk ekspresi. Pada struktur gen eukariot pun berseling-seling : Intron (sekuen mengkode tidak spesisifik) Ekson (sekuen mengkode spesifik) Intron, dan pada prokariot tidak. Produknya pun pada eukariot terdapat tiga macam RNA polimerase yaitu tRNA, rRNA, dan mRNA. Sedangkan pada prokariot menghasilkan produk satu macam RNA saja. Pada proses inisiasi pada eukariot, tipe enzim RNA polimerase pada eukariota lebih kompleks. Dari 3 tipe enzim yang paling banyak dipelajari adalah polimerase yang akan menghasilkan mRNA. mRNA harus mengalami pemasakan

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 terlebih dahulu yang melibatkan proses yang kompleks disebut prosesing. Prosesing meliputi penambahan tudung pada ujung 5 dan ekor pada ujung 3, dan pemotongan (splicing) hasil awal transkrip mRNA (pre-mRNA) berukuran sangat besar. Ada 3 elemen yang ditambahkan dalam polimerisasi tersebut, yaitu: TATA box (Goldberg-Hognessbox) Posisinya 30 pasang basa (pb) sebelum titik transkripsi (-30). Konsensus urutan ini adalah heptanukleotida (tersusun atas 7 nukleotida) yang hanya mengandung A dan T (TATAAAA). TATA box bertanggung jawab terhadap penempelan awal supaya terjadi denaturasi pita ganda DNA. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa pasangan A-T tidak sestabil pasangan G-C, karena pasangan A-T hanya mempunyai dua ikatan hidrogen dan G-C mempunyai tiga ikatan hidrogen. CAAT box Terletak sebelum promoter, pada beberapa gen sekitar 80 nukleotida sebelum titik transkrip (-80). Urutan nukleotidanya adalah GGCCAATCT. CAAT bersama dengan TATA box mempengaruhi efisiensi promoter. DNA enhancer

Lokasinya bervariasi (jauh di hulu gen, sesudah gen, bahkan di dalam gen itu sendiri). Selain enhancer, elemen pengatur lain yang dapat mempengaruhi ekspresi suatu gen adalah silencer, yang dapat menghambat ekspresi suatu gen. Suatu elemen dapat bersifat sebagai enhancer maupun sebagai silencer, tergantung pada protein yang menempel. Contohnya saja sistem hormon tiroid, elemen yang menentukan tanggapan hormon tiroid akan bersifat sebagai silencer jika receptor hormon tiroid terikat pada elemen tersebut tanpa bersama-sama dengan ligannya (hormon tiroid). Faktor lain yang disebut trans-acting factors

Perlengkapan ini memfasilitasi penempelan (tahap inisiasi) trans-acting factor

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203 berupa protein, pada manusia faktor transkripsi ini diberi nama TFIIA, TFIIB, dst. Salah satu TF yaitu TFIID terikat pada TATA box disebut TATA-binding protein (TBP). Pada proses translasi mRNA eukariota berumur lebih panjang (jam) dibanding mRNA prokariota (menit). Pada ujung 5 mRNA eukariota ditambahkan tudung yaitu 7-metilguanosin. Fungsi tudung ini adalah untuk efisiensi translasi. mRNA eukariota mempunyai urutan pengenal 5-ACCAUGG disekitar kodon inisiasi AUG. Urutan ini disebut urutan Kozak (Marilyn Kozak). Pada prosesnya tidak memerlukan amino acid formylmethionine pada waktu inisiasi, tetapi kodon startnya tetap AUG, sehingga tRNA awal adalah tRNA-met. Faktor protein untuk inisiasi, elongasi dan terminasi sama dengan pada prokariota, tetapi jumlah yang diperlukan lebih banyak. Pada eukariota mempunyai ER. Struktur ER memungkinkan ribosom menyalurkan proein yang baru disintesis ke dalam saluran yang ada pada ER. Lain halnya dengan prokariot yang tidak mempunyai ER.

TUGAS MATA KULIAH GENETIKA NAMA : ANA FATMASARI NIM : J1C111203

DAFTAR PUSTAKA

Alawi ,2012. Genetika Virus. http://alwifatur.blogspot.com/2012/05/genetika-virus-makalah.html Diakses pada tanggal 17 Mei 2013 Aprilisa,2013.Transposable. http://aprilisa.wordpress.com/bio-inside-2/transposable-element transposon/ Diakses pada tanggal 17 Mei 2013 Campbell, Campbell, dkk. dkk. 2002. 2002. Biologi Biologi Jilid Jilid 1. 2. Penerbit Penerbit Erlangga. Erlangga. Jakarta. Jakarta.

William Stansfield. 2007. Genetika Edisi Keempat. Erlangga. Jakarta. Suryo. 2005. Genetika Strata 1.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Yuwono, Tribowo. 2010. Biologi Molekuler. Penerbit Erlangga. Jakarta.