Anda di halaman 1dari 38

ASFIKSIA PERINATAL DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

Kode ICD : P 21.9

No Dokumen

No Revisi : 2

Halaman : 1/6

Panduan Praktek Klinis

Tanggal Revisi : 1 Agustus 2012

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Neonatologi

Definisi

Etiologi

Patogenesis

Anamnesis

Pemeriksaan Fisik

Kriteria Diagnosis

dr. Herman Bermawi, Sp.A(K) Kegagalan bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir sehingga terjadinya gangguan pertukaran gas ( O2 dan CO2 ) yang mengakibatkan bayi baru lahir mengalami hipoksia, hiperkarbia dan asidosis metabolik 1. Faktor ibu: diabetes mellitus, hipertensi dalam kehamilan, hipertensi kronik, anemia, perdarahan antepartum, infeksi sistemik, gagal jantung, gagal ginjal, polihidramnion, oligohidramnion. 2. Faktor persalinan: persalinan dengan tindakan, korioamnionitis, kelainan letak, partus lama, ketuban pecah dini, inersia uteri, air ketuban bercampur mekoneum, penggunaan anestesi umum, penggunaan narkotik 4 jam sebelum persalinan. 3. Faktor janin: prematuritas, postmaturitas, malformasi janin, gerakan janin berkurang, bradikardi janin, prolaps tali pusat, trauma lahir, dan sebagainya. Gangguan pertukaran O2 dan CO2 hipoksia dan hiperkarbia asidosis metabolik, hipoglikemia, syok, ensefalopati hipoksik iskemik, gagal ginjal, gagal jantung dan edema otak defisit neurologik, kemunduran intelektual, kematian. Faktor resiko ( etiologi ) perkiraan asfiksia. Riwayat persalinan lahir langsung menangis ( bernapas spontan ) atau tidak. Dinilai appearance (warna kulit), pulse (denyut jantung), grimace (mimik wajah), activity (tonus otot), respiratory effort (usaha nafas) pada menit 1 dan 5, kalau perlu setiap 5 menit sampai menit 20 sesuai dengan kondisi bayi. Penilaian bersamaan dengan langkah-langkah resusitasi. Sambil melakukan resusitasi, menilai APGAR 1 menit, 5 menit, dan 10 menit. Setelah selesai resusitasi, dilanjutkan dengan perawatan pasca resusitasi, dipantau fungsi vital (nadi, pernafasan, kesadaran), mencari komplikasi dan penyakit penyerta serta pemeriksaaan fisik lengkap. 1. Nilai APGAR 0 3 pada menit ke 5 2. Asidosis metabolik atau campuran ( pH darah arteri umbikalsis < 7 ) 1

Pemeriksaan Penunjang Tatalaksana

3. Manifestasi neurologik ( kejang, hipotoni, koma, esefalopatia hipoksik iskemik ) Glukosa darah, hemoglobin, leukosit, diff. count, serta pemeriksaan lain atas indikasi (foto thoraks, ECG,USG). Sebelum melakukan langkah awal resusitasi lakukan penilaian awal: 1. Apakah cukup bulan ? 2. Apakah bernapas atau menagis ? 3. Apakah tonus otot baik ? Bila ada jawaban tidak dari ke tiga pertanyaan ini maka langkah awal resusitasi harus dimulai, sedangkan bila semua jawaban ya maka bayi tersebut hanya dilakukan perawatan rutin saja (jaga kehangatan, bersihkan jalan napas dan keringkan). A. Langkah Awal Resusitasi Letakkan bayi di meja resusitasi dengan alat pemancar panas, letakkan pada posisi yang benar, lakukan penghisapan (bila perlu), keringkan, rangsangan taktil, reposisi dan nilai: pernapasan frekuensi jantung dan warna kulit. B. Ventilasi Tekanan Positip ( VTP ) Ventilasi tekanan positip dapat diberikan dengan balon resusitasi dan sungkup atau dengan balon resusitasi dan intubasi endotrakheal (ETT). 1. Indikasi : Bila bayi apnu/megap-megap atau bernapas tetapi frekuensi jantung <100 kali permenit atau sianosis sentral menetap meskipun diberikan oksigen aliran bebas sampai 100 % 2. Frekuensi : Lakukan ventilasi dengan frekuensi 40-60 kali per menit selama 30 detik dengan oksigen 21 - 100% ( pada bayi cukup bulan dimulai dengan oksigen 21 % dan pada bayi preterm dimulai dengan oksigen lebih dari 21 % yang dapat ditingkatkan sampai dengan target saturasi oksigen preduktal tercapai ) , lalu nilai frekuensi jantung : Frekuensi Jantung: Tindakan: a. Di atas 100 ............... 1. Bila napas spontan dan saturasi oksigen membaik, VTP hentikan bertahap. 2. Bila tidak bernapas, atau megapmegap lanjutkan VTP c. Diantara 60 dan 100... 1. Membaik, pasang pipa orogastrik dan lanjutkan VTP 2. Tidak membaik, evaluasi VTP yang 2

telah dilakukan ( posisi, perlekatan sungkup, jalan napas bersih, mulut terbuka, tekanan pada balon ), per timbangkan intubasi dan lanjutkan lanjutkan b. Di bawah 60 ............. 1. Lanjutkan VTP 2. Mulai kompresi dada C. Kompresi Dada 1. Indikasi: Frekuensi jantung < 60 kali per menit setelah 30 detik mendapat VTP dengan oksigen 100%. 2. Frekuensi: Kompresi dada dilakukan selama 30 detik. Setiap 2 detik dilakukan 3 kali kompresi dada dan 1 kali VTP ( selama 30 detik dilakukan 45 kali kompresi dada dan 15 kali VTP detik). 3. Evaluasi: Setelah 30 detik melakukan tindakan kompresi dada dan ventilasi, periksa frekuensi jantung atau nadi. Bila frekuensi jantung: a. Kurang dari 60 kali per menit : lanjutkan tindakan kompresi dada dan ventilasi dan pemberian epinefrin. b. 60 kali per menit atau lebih : hentikan tindakan penekanan dada tetapi lanjutkan ventilasi dengan oksigen 100%. D. Intubasi Endotrakheal 1. Indikasi : a. Bila cairan amnion bercampur mekoneum dan bayi mengalami depresi napas, tonus otot jelek atau denyut jantung < 100 kali permenit maka intubasi dilakukan pada kesempatan pertama ( perlu elakukan penghisapan melalui trakhea untuk mengeluar kan mekoneum), sebelum memulai tindakan resusitasi yang lain. b. Bila VTP dengan balon dan sungkup tidak efektif (tidak mengembangkan dada) atau memaksimalkan efisiensi VTP, membutuhkan pemberian VTP agak lama, dicurigai ada hernia diafragmatika, pemberian surfaktan dan bayi berat amat sangat rendah (berat lahir kurang dari 1.000 gram). Bila diperlukan kompresi dada, intubasi memudahkan koordinasi kompresi dada dan VTP.

Tindak Lanjut

Indikasi Rawat Indikasi Pulang

E. Obat-obatan Obat-obatan baru diperlukan pada resusitasi neonatus bila tidak memberikan respon dengan pemberian VTP yang adekuat dengan oksigen 100 % dan kompresi dada. 1. Epinefrin a. Indikasi: - Frekuensi jantung tetap di bawah 60 kali per menit walaupun telah dilakukan paling sedikit 30 detik ventilasi adekuat dengan oksigen 100% dan penekanan dada. - Frekuensi jantung nol. Bila detak jantung tidak dapat dideteksi, epinefrin harus diberikan segera pada saat yang sama dengan VTP dan penekanan dada dimulai. b. Pemberian: Dosis 0,1-0,3 ml/kgBB epinefrin 1:10.000 intravena atau 0,3-1 ml/kgBB melalui ETT, dapat diulang setiap 3-5 menit bila frekuensi jantung kurang dari 60 kali per menit. 2. Cairan penambah volume darah Bila bayi tidak memberikan respon terhadap resusitasi dan ada bukti kehilangan darah maka indikasi pemberian cairan penambah volume darah, yaitu garam fisiologis atau ringer laktat dengan dosis 10 ml/kgBB. 3. Nalokson Bila ibu mendapat morphin atau petidin dalam waktu 4 jam terakhir dan tidak ada usaha napas, tetapi frekuensi jantung dan kulit normal langsung diberikan Nalokson 0,1 mg/kgBB intravena melalui vena umbilikalis atau pipa endotrakeal. o Ingatlah, walaupun didapatkan frekuensi jantung nol, penekanan dan ventilasi harus dilanjutkan sampai diambil keputusan medik untuk menghentikan tindakan resusitasi. Resusitasi dihentikan bila semua langkah dilakukan dengan baik selama 15 menit frekuensi jantung tetap nol. Observasi tanda-tanda vital. Awasi komplikasi: hipoglikemia (jittery, iritabel hipotonia, muntah, sianosis), asidosis metabolik (pernapasan cepat dan dalam), hipokalsemia (iritabel, kejang, tremor), infeksi, gagal ginjal, edema otak dan distres pernapasan. Bila ditemui tatalaksana sesuai dengan standar profesinya. Bila mendapat IVFD, pada asfiksia berat dilakukan retriksi cairan ( kebutuhan). Cari penyakit penyerta/penyebab. Semua asfiksia perinatal. Tidak sesak, dengan frekuensi napas 40-60 kali per menit. Tidak ada tanda-tanda infeksi, penyakit penyerta dan komplikasi telah teratasi dan 4

Edukasi

Komplikasi Prognosis

Kepustakaan

bisa minum secara adekuat. Penjelasan mengenai komplikasi jangka panjang dan jangka pendek dari asfiksia perinatal. Penjelasan mengenai faktor risiko asfiksia neonatorum. Asidosis metabolik, hipoglikemia, hipokalsemia, ensefalopati hipoksik iskemik, gagal jantung, gagal ginjal, serta defisit neurologik. Asfiksia berat menyebabkan kematian 20%. Yang hidup, dapat normal atau dengan sequele berupa: gangguan intelektual dan defisit neurologis. 1. American Heart Association and Amercan Academy of Pediatric. Textbook of neonatal resuscitation. Kattwinkel J, penyunting. Edisi ke 6, 2011. 2. Rehan KV, Phibbs RH. Delivery room management. Dalam : MacDonald MG, Seshia MK, Mullett MD, penyunting. Averys Neonatology, pathopysiology & management of the newborn. Edisi ke 6. Philadelphia : Lippincot William & Wilkins, 2005; 302- 26. 3. Sill J. Perinatal asphyxia. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, oncall problem, desease, and drug. Edisi ke 6. New York: Lange McGraw Hill, 2009;624-36. 4. Goldsmith JP. Delivery room resuscitaion of the newborn. Dalam : Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-perinatal medicine. Edisi ke 9. Missouri: Elsevier, 2011;449-74 5. Papile LA, Adcock LM. Perinatal Asphyxia. Dalam : Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi ke 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2008; 518-28.

Newborn Resuscitation Algorithm

BAYI BERAT LAHIR RENDAH DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

Kode ICD : P 07.1

No Dokumen

No Revisi : 2

Halaman:1/5

Tanggal Revisi : Panduan Praktek Klinis Definisi 1 Agustus 2012

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Neonatologi

Etiologi

Patogenesis: Bentuk Klinis (Klasifikasi)

dr. Herman Bermawi SpA(K) Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2.500 gram tanpa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. a. Faktor Ibu : Hipertensi (esensial, renal, kehamilan), kelainan kardiovaskuler (diabetes mellitus, kelainan jantung, kelainan ginjal), perokok dan alkoholisme, kecanduan obat, malnutrisi, kelainan uterus inkompetensi cerviks, infeksi saluran kemih, ketuban pecah dini. b. Faktor Plasenta : Kelainan plasenta (insersi plasenta yang abnormal, fibrosis, infark), abrupsio plasenta, plasenta previa. c. Faktor Janin : Infeksi (rubella, toksoplasma, cytomegalovirus), kelainan kromosom (trisomi 13, 18 dan 21, sindrom Turner), cacat bawaan, arteri umbilikalis tunggal, polihidranmion, kehamilan kembar Gangguan sirkulasi utero plasenta gangguan asupan nutrisi ke janin BBLR. Berdasarkan berat lahir : 1. Berat lahir kurang dari 1000 gr : bayi berat lahir amat sangat rendah 2. Berat lahir kurang dari 1500 gr : bayi berat lahir sangat rendah 3. Berat lahir kurang dari 2500 gr : bayi berat lahir rendah Berdasarkan usia gestasi BBLR dibedakan : 1. 1. Kurang bulan : usia gestasi kurang dari 37 minggu. 2. Cukup bulan : usia gestasi > 37 minggu atau lebih. Berdasarkan berat lahir dan diklasifikasikan menjadi: 1. SMK (sesuai masa kehamilan) 2. KMK (kecil masa kehamilan) 7 usia gestasi maka BBLR dapat

Anamnesis Pemeriksaan fisik

Kriteria Diagnosis Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang Tatalaksana

3. atau BMK (besar masa kehamilan). Keadaan ibu selama hamil (sesuai dengan faktor etiologi), usia gestasi. Pemeriksaan fisis lengkap bayi baru lahir. Pemeriksaan skor Balard untuk menilai usia gestasi, dan diplot pada kurva Lubchenco untuk menilai kesesuaian berat lahir dengan usia gestasi. Berdasarkan berat lahir dan usia gestasi diklasifikasikan sesuai dengan klasifikasi di atas. - Timbang berat bayi - Tentukan masa gestasi (hari pertama haid terakhir, Skor Ballard) - Tentukan bayi sesuai masa kehamilan atau kecil masa kehamilan dengan menggunakan kurve pertumbuhan dan perkembangan intra uterin dari Battalgia dan Lubchenco Usia gestasi <37 minggu prematuritas murni Usia gestasi 36 minggu dismatur Usia gestasi <37 minggu dan berat lahir kurang untuk masa gestasi tersebut gabungan keduanya - Cari faktor penyebab/risiko yang mendasari Glukosa darah, hemoglobin, leukosit, diff. count, serta pemeriksaan lain atas indikasi (foto thoraks, ECG,USG). Indikasi rawat: - Semua bayi berat lahir kurang dari 1.500 gram - Usia gestasi 35 minggu - Bayi dengan komplikasi Perawatan: Dirawat dalam inkubator, jaga jangan sampai hipotermi, suhu bayi 36,5-37,5oC Bayi dengan distres pernapasan pengobatan lihat bab distres pernapasan. Tentukan usia gestasi Bayi BB >1.500 gram tanpa asfiksia dan tak ada tanda-tanda distres pernapasan dirawat gabung Bila bayi <1.500 gram, pindah rawat bagian IKA dan beri ASI/LLM Bayi-bayi KMK (Kecil Masa Kehamilan) diberi minum lebih dini (2 jam setelah lahir) Periksa gula darah dengan dekstrostik bila ada tanda-tanda hipoglikemia Kebutuhan cairan setiap kgBB/24 jam Hari ke 1 : 80 cc Hari ke 2 : 100 cc Hari ke 3 : 120 cc Hari ke 4 : 130 cc Hari ke 5 : 135 cc Hari ke 6 : 140 cc 8

Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari Hari

ke ke ke ke ke ke ke ke

7 8 9 10 11 12 13 14

: : : : : : : :

150 cc 160 cc 165 cc 170 cc 175 cc 180 cc 190 cc 200 cc

Jenis Cairan IVFD : BB >2.000 gram : dekstrose 10% 500 cc + Ca glukonas 10% BB <2.000 gram : dekstrose 7% 500 cc + Ca glukonas 10% Kebutuhan Ca glukonas/hari : 5 cc / kg BB - Mulai hari ke-3 baru ditambahkan NaCl 15% 6 cc/kolf dan KCl sesuai kebutuhan. - Hari kedua diberi protein 1 gram/kgBB/hari, dinaikkan perlahanlahan 1 gram, 2 gram, 2 gram, 3 gram/kgBB/hari. - Pada bayi tanpa distres pernapan (RR <60 x/menit) dapat langsung diberi minum per oral dengan menghisap sendiri atau dengan nasogastrik drip. Bila bayi tidak mentolerir semua kebutuhan peroral, maka diberikan sebanyak yang dapat ditoleransi lambungnya dan sisanya diberikan dengan IVFD. - Pemberian minum tiap 2-3 jam pada bayi dengan BB <1.500 gram secara sonde lambung, kemudian dilanjutkan dengan menghisap langsung ASI dari ibu, secara bertahap 1 x/hari dilanjutkan 2-3 x/hari dan seterusnya akhirnya sampai penuh sampai bayi dipulangkan. - Bayi dengan masa gestasi <32 minggu diberikan: Theophilin per oral dosis awal 6 mg dan dilanjutkan 1,5 mg/kgBB/kali tiap 8 jam sampai masa gestasi 34 minggu. Theophilin juga diberikan pada bayi dengan masa gestasi 33 34 minggu bila bayi tersebut apnu yang disertai bradikardia dan sianosis. Bila bayi belum bisa makan per oral dapat juga diberikan aminophylin IV dosis awal 7-8 mg/kgBB dilanjutkan dosis 2 mg/kgBB tiap 8 jam.

Tindak lanjut

a. Observasi ketat tanda-tanda vital dan kemampuan minum serta pertambahan berat badan. b. Awasi komplikasi yang mungkin timbul: hipotermia, hipoglikemia, hipokalsemia, polisitemia, hiperbilirubinemia, perdarahan peri-intra ventrikuler, perdarahan paru dan enterokolitis nekrotikan dan infeksi. c. Pastikan komplikasi yang dicurigai dengan pemeriksaan penunjang - USG transfontanela (perdarahan peri-intra ventrikuler) 9

Indikasi Pulang Edukasi Komplikasi

Prognosis: Kepustakaan

- Dekstro stick (hipoglikemia) - Hematokrit (polisitemia) - Kadar bilirubin - Darah rutin dan CRP (infeksi) Bayi sudah dapat minum secara adekuat sesuai dengan kebutuhan dan tidak ada komplikasi. Penjelasan mengenai komplikasi jangka panjang dan jangka pendek dari BBLR dan perawtan metode kangguru. Hipotermia Hipoglikemia Infeksi Perdarahan peri-intravekuler Enterokolitis nekrotikan Pada BBLR murni ( BBLR karena prematuritas ) prognosis semakin buruk bila usia gestasi semakin muda. 1. Papageorgiou A., Pelausa E., Kovacs L. The extremely Low-BirthWeight infant. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology, pathophysiology & management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkin, 2005;459-89. 2. Anderson M.S., Hay W.W. Intrauterine growth restriction and the small-for-gestational-age infant. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology, pathophysiology & management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2005;490-522. 3. Grider D.L, Robinson T.L. Management of the extremely Low Birth Weight infant during the first week of life. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem, desease, and drug. Edisi 6. Newyork : Lange McGraw Hill, 2011;163-74. 4. Rao R. Intrauterine Growth Restriction (Small for Gestational Age). Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem, desease, and drug. Edisi 6. Newyork : Lange McGraw Hill, 2011;558-67. 5. Lee. K.G. Identifying the high-risk newborn and evaluating gestational age, prematurity, postmaturity, large-for-gestational-age, and small-for-gestational-age infants. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;41-58. 6. Stewart J.E., Martin C.R., Joselow M.R. Follow-up care of very low birth weight infants. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008; 159-63. 10

7. Kliegman R.M. Intrauterine Growth Restriction. Dalam : Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-perinatal medicine. Edisi ke 9. Missouri: Elsevier, 2011; 245 - 76 8. American Heart Association and Amercan Academy of Pediatric. Textbook of neonatal resuscitation. Kattwinkel J, penyunting. Edisi ke 6, 2011. 9. The low birthweight infant. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Publishing, 2008 ; 77 86

11

INFEKSI PADA NEONATUS DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG No Dokumen No Revisi : 2

Kode ICD : P 38

Halaman : 1/6

Panduan Praktek Klinis

Tanggal Revisi : 1 Agustus 2012

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

Definisi:

Etiologi:

dr. Herman Bermawi Sp.A(K) Sindroma klinis dari infeksi lokal / sistemik pada bayi yang terjadi dalam bulan pertama kehidupan. Tersangka infeksi adalah bila bayi baru lahir mempunyai faktor resiko / predisposisi untuk infeksi adalah: Suhu ibu >38oC Leukosit ibu >15.000/mm3 Air ketuban keruh dan bau busuk Ketuban pecah >12 jam Partus kasep Bakteri, virus dan jamur. Tersering bakteri, jenis bakteri penyebab bervariasi tergantung tempat dan waktu

Patogenesis:

Infeksi dapat terjadi intrauterine melalui sirkulasi darah ibu janin melewati plasenta/ korioamnionitis atau pada saat persalinan atau paska lahir melalui kulit, saluran napas, konjungtiva, saluran cerna dan umbilikus yang menjadi tempat kolonisasi kuman yang ada di sekitar, yang dapat berlanjut menjadi infeksi lokal( omfalitis, oftalmia neonatorum gonoroeka, bronkopneumonia ) maupun sistemik ( sepsis, meningitis ) karena invasi mikroorganisme tersebut. Bentuk Klinis Tersangka infeksi, klinis sepsis, sepsis, meningitis, omfalitis, oftalmia neonatorum gonoroeka Anamnesis Faktor resiko atau faktor predisposisi infeksi ( suhu ibu > 38o C, leukosit ibu > 15.000/mm3 , air ketuban keruh & berbau busuk, ketubah pecah > 12 jam, partus kasep ), perawatan tali pusat, pemberian zalf mata setelah melahirkan. Pemeriksaan Fisis & Tergantung bentuk klinis ( infeksi lokal / sistemik ) : Gejala Klinis 1. Omfalitis : indurasi & eritema sekitar umbilikus, bau busuk kadang kadang terdapat pus. 2. Oftalmia neonatorum gonoroeka : timbul umur 2 5 hari, pada mata ditemukan edema kelopak mata, palpebra/konjungtiva merah Sekret pus, banyak, bisa mengenai satu mata atau dua mata. 12

Kriteria Diagnosis:

3. Bronkopneumonia : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler dapat normal atau menurun dan jarang ditemukan ronki. 4. Gastroenteritis : diare, muntah perut kembung dan tanda tanda dehidrasi. 5. Klinis sepsis, didapatkan gejala sepsis, namun tidak didukung hasil pemeriksaan laboratorium. Gejala klinis sepsis terdiri atas: a. Gejala umum: bayi tampak lemah, terdapat gangguan minum yang disertai penurunan berat badan, keadaan umum memburuk hipotermi/hipertermi b. Gejala SSP: letargi, iritabilitas, hiporefleks, tremor, kejang, hipotoni/hipertoni, serangan apnea, gerak bola mata tidak terkoordinasi. c. Gejala pernapasan: dispnu, takipnu, apnu, dan sianosis d. Gejala TGI: muntah, diare, meteorismus, hepatomegali e. Kelainan kulit: purpura, eritema, pustula, sklerema f. Kelainan sirkulasi: pucat/sianosis, takikardi/aritmia, hipotensi, edema, dingin. g. Kelainan hematologi: perdarahan, ikterus, purpura 6. Sepsis : gejala klinis sepsis ditambah lebih dari satu pemeriksaan laboratorium yang positip ( lekosit < 5000/mm3 atau > 34.000/mm3, I/T ratio 0,2 atau lebih, mikro LED>15 mm/jam, CRP > 9mg/dL ) 7. Meningitis : sepsis ditambah hasil pemeriksaan cairan serbrospinal yang positip Ditemukan gejala klinis atau gejala klinis ditambah dengan hasil pemeriksaan penunjang yang positip. 1. Omfalitis : gejala klinis 2. Oftalmia neonatorum gonoroeka : gejala klinis + ditemukan diplo kokus gram negatip intra & ekstraseluler di sekret mata 3. Bronkopneumonia : gejala klinis + gambaran infiltrat pada foto thorak. 4. Gastroenteritis : gejala klinis 5.Tersangka infeksi : bila bayi baru lahir mempunyai faktor resiko / predisposisi untuk infeksi, yaitu : suhu ibu >38oC, leukosit ibu > 25.000/mm3 , air ketuban keruh dan bau busuk, ketuban pecah > 12 jam dan partus kasep 6. Klinis sepsis : gejala klinis 7. Sepsis : gejala klinis + lebih dari 1 hasil pemeriksan laboratorium yang positip atau kultur darah yang positip. 8. Meningitis : gejala klinis sepsis + hasil pmeriksan cairan serebrospi nalis : o Tes Pandy : + atau ++ o Jumlah sel : umur 0 s/d 48 jam : >100/mm3 umur 2 s/d 7 hari : >50/mm3 umur >7 hari : >32/mm3 13

o Diff. count :

PMN meningkat, protein meningkat dan glukosa menurun

Pemeriksaan Penun Jang

Tatalaksana:

Darah : Hb, lekosit, diff. count, trombosit, mikro LED, dan kultur dan tes resisintesi LCS : Protein, sel diff. count, pengecatan gram dan kultur Urin : Rutin dan kultur dan tes resistensi USG transfontanela : terutama untuk melihat komplikasi meningitis ( ventrikulitis dan hidrosefalus ) 1. Omfalitis Bersihkan tali pusat dengan alkohol 70 % dan povidon iodin Beri antibiotika ampisilin dan gentamisin 2. Oftalmia Neonatorum gonoroeka Isolasi, irigasi mata dengan ringer laktat, beri antibiotika ceftriakson dosis tunggal 25-50 mg/kgBB ( maksimal 125 mg ). Profilaksis : Salep mata tetrasiklin diberikan segera pada semua bayi baru lahir 3. Bronkopneumonia a. Pemberian cairan # IVFD dekstrose 71/2 % atau 10 % + Ca glukonas sesuai degan kebutuhan bayi # Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 3 % sebanyak 30 cc/kolf # Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi # Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium bikarbo nat ( 4 : 1 ) Bila dapat diperiksa analisa gas darah, asidosis da dikoreksi langsung dengan pemberian cairan Natrium Bikarbonat 4,2 % secara perlahan-lahan # Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 2-3 g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu formula b. Terapi oksigen c. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2 har, gentamisin diganti dengan ceftazidim. 4. Gastroenteritis a. Pemberian Cairan: # GEAD ringan-sedang Diberikan IVFD. # GEAD berat Dengan asidosis: dekstrose 5% 480 cc + Bicnat 7% 10-20cc Tanpa asidosis atau asidosis telah teratasi: dekstrose 5% 500 cc + NaCl 3% sebanyak 30 cc Jumlah dan kecepatan pemberian pada dehidrasi berat: # 4 jam pertama 100 cc/kgBB atau 25 tetes/kgBB/menit (mikrodrip) 14

# 20 jam berikutnya 150 cc/kgBB atau 7 tetes/kgBB/menit b. Obat-obatan: Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin. Anti jamur : Nystatin bila ada indikasi. c. Minum: Langsung diberikan ASI begitu bayi dapat minum, bila bayi mendapat PASI di rumah diberikan susu yang sama dengan pengenceran setengah kemudian penuh. 5. Tersangka infeksi Pada bayi langsung diberikan Ampisilin dan gentamisin Bila selama observasi ditemukan tanda infeksi baik klinis dan laboratoris, antibiotika diganti dengan Ceftazidime. 6. Sepsis dan klinis sepsis a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi. b. Terapi oksigen bila diperlukan c. Antibiotik : Ceftazidime. Bila dicurigai infeksi oleh karena stafilokokkus maka diberikan sefalosporin generasi ke-2, 50 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian, bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau keadaan umum semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotika yang lebih poten, misal nya meropenem, atau sesuai dengan hasil tes resistensi. Antibiotika diberikan 7-10 hari (antibiotik dihentikan setelah klinis membaik 5 hari) 7. Meningitis a. Pemberian cairan sesuai dengan kebutuhan bayi. b. Terapi oksigen bila diperlukan c. Antibiotik : Ceftazidime Bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau keadaan umum semakin memburuk, pertimbangkan pindah ke antibiotika yang lebih poten, misalnya meropenem, atau sesuai dengan hasil tes resistensi. Antibiotika diberikan 21 hari Tindak lanjut Pemeriksaan USG transfontanel dilakukan pada kasus sepsis neonatorum dengan kecurigaan meningitis dan meningitis. Pada meningitis diulangi pada hari ke 7, 14 dan pada hari ke 21 untuk melihat kemajuan pengobatan atau komplikasi meningitis berupa ventrikulitis. Penjelasan mengenai faktor risiko infeksi dan penatalaksanaan serta komplikasi. Tersangka infeksi, omfalitis bronkopneumnia, sepsis meningitis ventrikulitis. Baik bila didiagnosis dan diterapi lebih awal. Mortalitas 5-10%. Pada 15

Edukasi:

Komplikasi

Prognosis

prematur dan BBLR mortalitas lebih tinggi. Kepustakaan 1. Schelonka R.L., Freij B. J., McCracken G.H. Bacterial and fungal infections. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology, pathophysiology & management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2005;1235-73. 2. Asril Aminullah. Sepsis pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;170-87. 3. Naglie R. Infectious Diseases. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem, desease, and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill, 2003;434-68. 4. Puopolo K.M. Bacterial and fungal infections. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;274-300. 5. Edwards M. S. Postnatal bacterial infections. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8. Misouri : Mosby Elsevier, 2006;791-829. 6. Infection. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Publishing, 2008 ; 61 76 7. Klein J.O., Nizet V. Bacterial sepsis and meningitis. Dalam: Remington JS, Jerome O, Klein MD, penyunting. Remingtons Infectious Disease of the Fetus and Newborn Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saunders Company, 2001;222-75. 8. Barnett E.D., Klein J.O. Bacterial infections of the respiratory tract. Dalam: Remington JS, Jerome O, Klein MD, penyunting. Remingtons Infectious Disease of the Fetus and Newborn Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saunders Company, 2001;276-95. 10. ORyan M.L., Nataro J.P., Cleary T.G., Microorganisms responsible for neonatal diarrhea. Dalam: Remington JS, Jerome O, Klein MD, penyunting. Remingtons Infectious Disease of the Fetus and Newborn Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saunders Company, 2001;359-418. 11. Embree J.E. gonococcal infections. Dalam: Remington JS, Jerome O, Klein MD, penyunting. Remingtons Infectious Disease of the Fetus and Newborn Infant. Edisi 5. Philadelphia : WB Saunders Company, 2001;516-23.

16

Dosis pemberian antibiotika berdasarkan berat badan dan umur


Dosis < 1200 0 4 mgg 7,5 / 12 jam 25 / 12 jam 50 / 12 jam 50 / 12 jam 50 / 8 jam 2,5 / 18 jam 20 / 12 jam 40 / 8 jam 7,5 / 48 jam (mg/kg BB) 1200 0 7 hari 7,5 / 12 jam 25 / 12 jam 50 / 12 jam 50 / 12 jam 50 / 8 jam 2,5 / 12 jam 20 / 12 jam 40 / 8 jam 7,5 / 24 jam Dan s/d 2000 > 7 hari 7,5 / 8 jam 25 / 8 jam 50 / 8 jam 50 / 8 jam 50 / 8 jam 2,5 / 8 jam 20 / 12 jam 40 / 8 jam 7,5 / 12 jam interval > 0 7 hari 10 / 12 jam 25 / 8 jam 50 / 8 jam 50 / 8 jam 50 / 8 jam 2,5 / 12 jam 20 / 12 jam 40 / 8 jam 7,5 / 12 jam pemberian 2000 > 7 hari 10 / 8 jam 25 / 6 jam 50 / 6 jam 50 / 8 jam 50 / 8 jam 2,5 / 8 jam 20 / 8 jam 40 / 8 jam 15 / 12 jam

Antibiotika Amikasin Ampisilin Ampisilin* Ceftazidim Ceftazidim* Gentamisin Meropenem Meropenem* Metronidazol

Cara pemb. IV / IM IV IV IV IV IV / IM IV IV IV

Keterangan : Tanda astriks ( * ) : dosis untuk meningitis bakterialis.

17

DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

GAWAT NAPAS PADA NEONATUS No Dokumen Tanggal Revisi : No Revisi : 2

Kode ICD : P 22.0 Halaman : 1 / 4

Panduan Praktek Klinis Batasan:

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

1 Agustus 2012 dr. Herman Bermawi, Sp.A(K) Kumpulan dari 2 atau lebih gejala gangguan ventilasi paru yang ditandai dengan frekuensi napas > 60 kali/menit; merintih pada waktu ekspirasi; retraksi interkostal, subkostal, supra-sternal, epigastrium; pernapasan cuping hidung dan sianosis. 1. Gangguan traktus respiratorius: Hyaline Membrane Disease (HMD), Transient Tachypnoe of the Newborn (TTN), infeksi (Pneumonia), Sindrom Aspirasi, Hipoplasia Paru, Hipertensi Pulmonal, Kelainan Kongenital (Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre Robin Syndrome), Pleural Effusion, Kelumpuhan syaraf frenikus, dll 2. Gangguan diluar traktus respiratorius: Kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP Hipoksia dan hiperkarbia asidosis respiratorik asidosis metabolik gangguan fungsi organ dengan segala akibatnya. Transient Tachypnoe of the Newborn, Penyakit Membran Hyalin, Pneumonia, Sindroma Aspirasi Mekoneum, Pneumothoraks, Hernia Diafragmatika, Kelumpuhan Syaraf Frenikus. Masa gestasi, cara persalinan, nilai APGAR, air ketuban bercampur mekoneum, faktor resiko atau faktor predisposisi infeksi ( suhu ibu > 38o C, leukosit ibu > 15.000/mm3 , air ketuban keruh & berbau busuk, ketubah pecah > 12 jam, partus kasep ).

Etiologi:

Patogenesis:

Bentuk Klinik:

Anamnesis:

18

Pemeriksan Fisik & Gejala Klinis

Tergantung Bentuk Klinis : 1. Transient Tachypnoe of the Newborn : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler normal 2. Penyakit Membran Hyalin : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler menurun dan tanda-tanda bayi kurang bulan. 3. Bronkopneumonia : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler dapat normal atau menurun dan jarang ditemukan ronki. 4. Sindroma Aspirasi mekoneum : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler dapat normal atau menurun, meconeum staining, dada dapat tampak lebih cembung. 5. Pnemothoraks : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesiku ler menurun, sela iga melebar dan dada tampak lebih cembung, asimetris gerakan dinding dada. 6. Hernia Diafragmatika : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler menurun, dada tampak lebih cembung, perut skapoid, dapat terdengar peristaltik usus pada thoraks. 7. Kelumpuhan Syaraf Frenikus : dispnu, takipnu, retraksi, merintih, sianosis, vesikuler menurun dan sering ditemui palsi brakial Palsi ( farese/paralise Erb ) Ditemukan gejala klinis atau gejala klinis ditambah dengan hasil pemeriksaan penunjang yang positip. 1. Transient Tachypnoe of the Newborn : gejala klinis + foto thorak ( hiper inflasi paru, peri hillar cuffing, cairan dl fisura interlobularis, diafragma lebih datar, kardiomegali ringan ) 2. Penyakit Membran Hyalin : gejala klinis + foto thorak ( infiltrat retikulogranuler, air bronchogram, batas jantung paru kabur, kollaps seluruh paru ) 3. Bronkopneumonia : gejala klinis + foto thorak (infiltrat tak spesifik ) 4. Sindroma Aspirasi Mekoneum : gejala klinis + foto Thorak ( diafragma datar, sela iga lebar, bercak infiltrat kasar ) 5. Pneumothorak : gejala klinis + foto thorak ( radiolusen dan kolaps parsial atau total paru yang terkena, pergeseran mediastinum, pen dataran diafragma ) + transiluminasi positip, terutama pada bayi kecil. 6. Hernia Diafragmatika : gejala klinis + foto thorak ( tampak gambaran usus di rongga thorak ) 7. Farese Syaraf Frenikus : gejala klinis + foto thorak ( elevasi diafragma sisi farese, pergeseran mediastinum dan atelektassis ) + USG ( gangguan / berkurang gerakan diaragma sisi farese ) Darah : Hb, lekosit, Diff.count, trombosit, mikro LED dan CRP. Radiologi ( foto toraks dan ultrasonografi ) Transiluminasi 19

Kriteria Diagnosis:

Pemeriksaan Penunjang :

Tatalaksana:

1. Suportif, umumnya sama pada semua gawat napas, yaitu : a. Pemberian cairan # IVFD dekstrose 71/2 % atau 10 % + Ca glukonas sesuai degan kebutuhan bayi # Mulai hari ke 3 ditambahkan NaCl 15 % sebanyak 6 cc/kolf # Bila ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi # Bila ada asidosis berikan cairan dekstrose dan natrium bikarbo nat ( 4 : 1 ) Bila dapat diperiksa analisa gas darah, asidosis da dikoreksi langsung dengan pemberian cairan Natrium Bikarbonat 4,2 % secara perlahan-lahan # Bila belum bisa makan per oral beri larutan asam amino 1-3 g/kgBB/hari. Bila sudah bisa minum per oral beri ASI atau susu formula b. Terapi oksigen ( intra nasal, head box, buble CPAP, ventilator ) 2. Antibiotika : Ampisilin dan gentamisin, bila tidak ada perbaikan dalam 2 hari, gentamisin diganti dengan ceftazidim. 3. Terapi khusus, tergantung dari etiologi gawat napas : a. Pneumothorak : # Tidak ada tension pneumothorak : berikan oksigen 100 % selama 12 jam pada bayi aterm ( nitrogen washing ) # Dengan tension pneumothorak dilakukan pemasasangan kateter interkostal dengan kontinuous suction ( WSD ) # Jika keadaan kritis dapat dilakukan aspirasi dengan menggunakan wing needle no.21 dan spuit 5 cc serta three way stopcock ( diagnosis dan terapi ) b. Hernia Diafragmatika : operatif ( repair diafragma ) c. Farese Syaraf Frenikus : konservatif ( bayi dimiringkan ke sisi farese ), operatif bila setelah 1 bulan tidak ada perbaikan ( plikasi diafragma )

Tindak lanjut:

1. Pengamatan rutin : a. Tanda-tanda vital. b. Awasi tanda-tanda kegagalan pernapasan, infeksi, asidosis. c. Pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi. d. Diamati kemampuan minum dan pertumbuhan berat badan. 2. Pengamatan khusus : sesuai bentuk klinik dan kemungkinan munculnya komplikasi

Indikasi Pulang:

Tidak sesak dengan frekuensi nafas 40-60 kali per menit, minum baik, tidak ada tanda infeksi dan penyakit penyebab telah terkendali 20

Edukasi :

Penjelasan mengenai faktor risiko komplikasi yang mungkin timbul. Tergantung bentuk klinis.

dan penatalaksanaan serta

Komplikasi : Prognosis: Kepustakaan

Tergantung dengan bentuk klinis dan baik bila tanpa komplikasi 1. Whitsett J.A., Rice W.R., Warner B.B., Wert S.E., Pryhuber G.S. Acute Respiratory Disorders. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology Pathophysiology & Managementof the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2005;553-77. 2. Truog W.E., Golombek S.G., Principles of Management of Respiratory Problems. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology Pathophysiology & Managementof the Newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2005;600-21. 3. Bany-Mohammed F, Gomella T.L. Hyaline Membrane Disease. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem desease, and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill, 2003;524-52. 4. M.Sholeh Kosim. Gangguan Nafas pada bayi baru lahir. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;126-46. 5. Bhakta K.Y. Respiratory Distress Syndrome. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;323-30. 6. Rodriguez R.J., Martin R.J., Fanaroff A.A. Respiratory Distress Syndrome and its management. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins NeonatalPerinatal Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;1097-107. 7. Respiratory disorder. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Publishing, 2008 ; 92-110.

21

DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

IKTERUS NEONATORUM No Dokumen No Revisi

Kode ICD : P 59.9 Halaman : 1/ 6

Tanggal Revisi Panduan Praktek Klinis Batasan:

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

Etiologi:

Patogenesis:

dr. Herman Bermawi, Sp.A(K) Ikterus neonatorum adalah keadaan klinis pada bayi yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera akibat akumulasi bilirubin tak terkonyugasi yang berlebih. Hiperbilirubinemia bila kadar bilirubin plasma lebih dari 5 - 7 mg/dL a. Hiperbilirubin indirek: - Timbulnya ikterus pada hari 1 kehidupan: inkompatibilitas golongan darah (Rh, ABO), infeksi intra uterin (TORCH) - Timbulnya ikterus pada hari ke 2 - 5 : inkompatibilitas golongan darah, infeksi, polisitemia, darah ekstra vasasi (hematom sefal, perdarahan intra kranial), kelainan morfologi RBC, defisiensi enzim G6PD, SGNN - Timbulnya ikterus pada hari ke 5 - 10 : breast meal jaundice, infeksi, hipothyroid, galaktosemia - Timbulnya ikterus pada hari ke > 10 : breast milk jaundice, infeksi ( sepsis ), peningkatan sirkulasi enterohepatik ( obstruk si usus) b. Hiperbilirubinemia direk: - Timbul pada hari 1-9 : Neonatal hepatitis, sepsis neonatal, infeksi intra uterin. - Timbul pada hari > 10 : obstrusi saluran empedu (bile flug syndrome, atresia biliaris, kista duktus kholedokus), neonatal hepatitis dan stenosis pilorus. Pemecahan eritrosit berlebihan produksi bilirubin meningkat/gangguan proses transportasi bilirubin di hepar/gangguan konyugasi bilirubin di hepar peningkatan bilirubin indirek Gangguan ekskresi oleh hepar peningkatan bilirubin direk a. Ikterus fisiologis b. Ikterus non fisiologis : ikterus terjadi sebelum 24 jam , peningkatan kadar bilirubin > 0,5 mg /dL/jam, terdapat penyakit atau kelaianan patologis yang mendasarinya, setiap peningkatan kadar bilirubin yang membutuhkan foto terapi dan ikterus yang bertahan 8 hari pada bayi cukup bulan atau 14 hari pada bayi kurang bulan. 22

Bentuk Klinik:

Anamnesis dan pemeriksaan fisis:

- Lakukan anamnesis riwayat kehamilan ( penyakit yang diderita ibu selama kehamilan), riwayat persalinan ( masa gestasi, cara persalinan ), faktor resiko infeksi ( sepsis ), golongan darah ibu dan ayah, kapan timbulnya ikterus, riwayat ikterus pada anak sebelumnya - Terlihat kuning pada sclera, mukosa dan kulit. - Cari manifestasi klinis dari penyakit atau kelainan patologis yang menyebabkan ikterus untuk memperkirakan ikterus fisiologis atau non fisiologis. Sesuai dengan etiologi diatas. Untuk mencari etiologi perlu dilakukan : - Anamnesis sedini dan secermat mungkin mengenai riwayat kehamilan dan persalinan - Ikterus timbul pada hari 1: periksa kadar bilirubin, darah tepi lengkap, golongan darah ibu dan bayi, Coomb test - Ikterus timbul pada hari ke 2 atau hari ke 3: periksa kadar bilirubin, periksa darah tepi lengkap, golongan darah ibu dan bayi, Coomb test (bila peningkatan bilirubin >5 mg% dalam 24 jam, karena masih ada kemungkinan penyebabnya inkompabilitas ABO atau Rh), pemeriksaan enzim G6PD - Ikterus timbul pada hari ke 4 atau lebih: periksa kadar bilirubin, periksa darah tepi, pemeriksaan enzim G6PD Ditujukan pada etiologi ikterus Darah : Kadar bilirubin, hemoglobin, lekosit, Diff.count, trombosit, mikro LED, golongan darah ibu dan anak, kultur dan Coomb test - Foto terapi atau transfusi tukar bila ada indikasi berdasarkan Grafik AAP pada bayi dengan masa gestasi > 35 minggu dan berdasarkan tabel terlampir untuk bayi preterm dan bayi berat blahir rendah. - Foto terapi dihentikan bila kadar bilirubin tidak meningkat lagi dan kadarnya lebih dari 3 mg/dL dibawah garis resiko. - Tranfusi tukar dilakukan dengan golongan darah yang sesuai dengan golongan darah ibu dan anak. Jumlah darah diberikan 2 kali volume darah bayi. Sebelum dan sesudah tranfusi tukar lakukan terapi sinar.

Kriteria diagnosis:

Diagnosis banding: Pemeriksaan penunjang : Tatalaksana:

Edukasi

Penjelasan mengenai faktor resiko dan penatalaksanaan serta komplikasi 23

Komplikasi : Prognosis : Kepustakaan

kern ikterus baik bila tanpa komplikasi 1. Maisels M.J. Jaundice. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology, pathophysiology & managementof the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincot William & Wilkins, 2005;768-846. 2. Abdulrahman Sukadi. Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;147-69. 3. Gilmore M.M. Hyperbilirubinemia. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem, desease, and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill, 2003;244-50. 4. Martin C.R., Cloherty J.P., Neonatal hyperbilirubinemia. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2008;181-212. 5. Wong R.J., DeSandre G.H. Sibley E., Stevenson D.K. Neonatal Jaundice and Liver Disease. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;1419-65. 6. Jaundice. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S,penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Publishing, 2008 ; 130 - 41

24

PANDUAN TERAPI SINAR PADA BAYI USIA > 35 MINGGU ( Sumber : AAP ) Keterangan: Kadar bilirubin yang digunakan adalah bilirubin total. Jangan dikurangi dengan bilirubin direk. Faktor risiko adalah: penyakit hemolitik isoimun, def. G6PD, asfiksia, letargi yang nyata, instabilitas suhu, sepsis, asidosis atau kadar albumin <3 g/dl (bila diukur) Untuk bayi usia 35-37 6/7 minggu bila keadaan umum bayi dapat dipertimbangkan kadar bilirubin pada garis risiko sedang, trutama pada usia yang lebih mendekati batas 37 6/7. Fototerapi dapat dilakukan sampai kadar bilirubin total 2-3 mg/dl dibawah garis pedoman.

25

PANDUAN TRANFUSI TUKAR PADA BAYI USIA > 35 MINGGU ( Sumber : AAP ) Keterangan: Garis putus-putus pada 24 jam pertama menunjukkan keaadan tanpa patokan pasti karena terdapat terdapat pertimbangan klinis dan tergantung respon terhadap fototerapi. Transfusi tukar dianjurkan segera dilakukan bila bayi menunjukkan tanda-tanda ensefalopati bilirubin akut atau bila kadar bilirubin total 5 mg/dl di atas garis pedoman. Faktor risiko adalah: penyakit hemolitik isoimun, def G6PD, asfiksia, letargi yang nyata, instabilitas suhu, sepsis, asidosis. Hitung kadar albumin serum dan hitung rasio bilirubin/albumin. Gunakan kadar bilirubin total.

26

Rasio bilirubin total / albumin sebagai penunjang untuk memutuskan transfusi tukar

Rasio B /A Saat Transfusi Tukar Harus Rasio BT/Alb Bayi > 38 0/7 mg Bayi 35 0/7 mg 36 6/7 mg dan sehat atau > 38 07 mgJika resiko tinggi atau iso imune hemolytic disease atau Defisiensi G6PD Bayi 35 0/7 37 6/7 mg, jika resiko tinggi atau IsoimMune hemolytic desease atau defisiensi G6PD 8,0 7,2 Dipertimbangkan Rasio BT/Alb 0,94 0,84

6,8

0,80

Pedoman terapi sinar dan transfusi tukar bayi berat lahir rendah berdasarkan berat badan Bilirubin Total [ mg/dL ( umol/L ) ] Berat Badan ( g ) < 1500 1500 1.999 2000 2.499 Terapi Sinar 5 8 ( 85 140 ) 8 12 ( 140 200 ) 11 14 ( 190 240 ) Transfusi tukar 13 16 ( 220 275 ) 16 18 ( 275 300 ) 18 20 ( 300 340 )

Pedoman terapi sinar dan transfusi tukar bayi berat lahir rendah berdasarkan masa gestasi Bilirubin Total [ mg/dL ( umol/L ) ] Masa gestasi ( mg ) 36 32 28 24 Terapi sinar 14,6 (250) 8,6 (150) 5,8 (100) 4,7 (80) Transfusi tukar bayi sehat 17,5 (300) 14,6 (250) 11,7 (200) 8,8 (150) Tranfusi tukar bayi sakit 20,5 (350) 17,5 (300) 14,6 (250) 11,7 (200)

27

KEJANG PADA NEONATUS DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG No.Dokumen No. Revisi : 2

KODE ICD: P90 Halaman: 1 / 3

Panduan Praktek Klinis

Tanggal revisi : 1 Agustus 2012

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

dr. Herman Bermawi, Sp.A(K) Definisi Kejang pada BBL secara klinis adalah perubahan paroksimal dari fungsi neurologik (misalnya perilaku, sensorik, motorik dan fungsi autonom sistem syaraf) yang terjadi pada bayi berumur sampai dengan 28 hari pertama kehidupan. Kejang pada neonatal banyak penyebabnya, antara lain: a. Kelainan metabolik: hipoglikemi, hipomagnesemi, hiponatremi, defisiensi B6, Kern Icterus b. Infeksi intrakranial c. Perdarahan intrakranial d. Hipoksik iskemik ensefalopati e. Kelainan bawaan / kelainan perkembangan : lissencephali, pachygiria dan polimicrogyria d. Idiopatik Loncatan muatan listrik yang berlebihan / depolarisasi dari neuron susunan saraf pusat akibat masuknya natrium melalui membran sel. Repolarisasi terjadi akibat keluarnya natrium dari membran sel. Depolarisasi yang berlebihan ini dapat terjadi akibat : a. Gangguan produksi energi dapat mengakibatkan gangguan mekanisme pompa natrium kalium untuk mempertahankan potensial membran. Hipoksik-iskemik dan hipoglikemia dapat menyebabkann penurunan produksi energi b. Neurotransmiter eksitatori yang berlebih dibandingkan dengan inhibitori akan mengakibatkan depolarisasi yang berlebihan c. Neuro transmiteri inhibitori yang kurang dibandingkan dengan eksitatori juga akan mengakibatan depolarisasi yang berlebihan d. Kalsium dan mgnesium berinteraksi dengan membran sel yang menginhibisi pergerakan narium. Jadi hipokalsemia dan hipomagnesemia menyebabkan peningkatan masuknya natrium / depolarisasi. a. Subtle b. Tonik c. Klonik d. Mioklonik 28

Etiologi

Patogenesis

Bentuk Klinis

Anamnesis

Pemeriksaan Fisik

Kriteria Diagnosis

Pemeriksaan penunjang Penatalaksanaan

a. Riwayat kejang dalam keluarga b. Riwayat kehamilan : infeksi TORCH, preeklamsia, gawat janin c. Riwayat persalinan : asfiksia, trauma persalinan, ketuban pecah sebelum waktunya d. Riwayat paska natal : infeksi, ikterus, infeksi tali pusat, waktu timbulnya kejang dan bentuk klinis kejang. a. Bila penderita dalam keadaan kejang identifikasi bentuk klinis kejang. b. Tanda vital c. Pemeriksaan kepala : jejas persalinan, ubun-ubun besar ( tegang atau membonjol ), hydrosefalus ( lingkaran kepala dan transiluminasi ), pemeriksaan mata ( korioretinitis yang dapat disebabkan infeksi sitomegalovirus, rubela dan toksoplasmosis ) d. Pemeriksaan tali pusat : omfalitis a. Apabila ditemukan manifestasi klinis dari kejang ( tergantung bentuk klinis kejang ) b. Dilanjutkan dengan mencari etiologi kejang berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan gula darah, elektrolit, hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis,trombosit, kultur darah, kadar bilirubin bila ada ikterus, USG kepala dan EEG a. Jalan napas bersih dan terbuka serta beri bantuan respirasi dan terapi oksigen bila diperlukan. b. Pasang jalur intara vena dan beri cairan dekrose 10 % dengan dosisi rumatan. c. Bila ada hipoglikemia, tangani hipoglikemianya. d. Bila ada hipokalsemi, berikan kalsium glukonas 10% 3 cc/kgBB diberikan secara perlahan-lahan melalui drip (10 cc Ca glukonas + 90 cc dekstrose 10 % + NaCl 15% 6 cc) e. Bila ada kejang, berikan phenobarbital loading dose 20 mg/kgBB IM kemudian dilanjutkan dengan 3 mg/kgBB/kali setiap 12 jam per oral/IM, kalau dosis awal kejang belum teratasi bisa diberikan lagi dosis 10 mg/kgBB. - Bila masih kejang berikan phenobarbital 10 mg/kgBB (max 40 mg/kgBB) - Bila masih kejang berikan phenytoin 15-20 mg/kgBB intravena selama 30 menit dilanjutkan maintenance 3-5 mg/kgBB/hari (2 kali pemberian) f. Bila gagal, berikan lorazepam 0,05-0,1 mg/kgBB intravena ulangi 23 dosis tiap 15 menit (dosis maksimal 0,1 mg/kg BB). Bila loraze pam tidak tersedia dapat diberikan diazepam 0,1-0,3 mg / kg BB/ intravena pada bayi tanpa ikterus atau umur >7 hari dan dilanjutkan dengan 0,2 mg/kgBB/kali g. Bila hipomagnesemi MgSO4 0,25 cc/kgBB IM 29

h. Bila dicurigai defisiensi piridoksin diberikan piridoksin 25-50 mg IV (bila semasa hamil ibu banyak makan vitamin B6) Edukasi Penjelasan mengenai faktor resiko, penatalaksaan serta komplikasi

Komplikasi : Prognosis :

Gangguan neurodevelopmental Prognosis secara umum untuk bertahan hidup adalah sekitar 85%, akan tetapi prognosis untuk neurodevelopment jangka panjang adalah 50% terdapat sekuele. 1. Hill A. Neurological and neuromuscular disorders. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology, pathophysiology & managementof the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2005;13841409. 2. Gatot I. Sarosa. Kejang dan spasme. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Badan Penerbit IDAI, 2008;226-50. 3. Pathak A. Neonatal Seizures. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem, desease, and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill, 2003;496-500. 4. Plessis A.J. Neonatal seizures. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2008;483-98. 5. Scher M.S. Seizures in Neonates. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006;956-65. 6. Neurological disorders. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Publishing, 2008 ; 206 - 224 7. Volpe J.J. Neonatal Seizures. Dalam: Volpe J.J. Neurology of the newborn, penyunting. Edisi 5. Philadelphia : WB Saunders, 2008; 203-44.

Kepustakaan

30

DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

NEONATAL HIPOGLIKEMI No.Dokumen No. Revisi : 2

KODE ICD: P70.4 Halaman: 1/ 2

Panduan Praktek Klinis Definisi

Tanggal revisi 1 Agustus 2012

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

dr. Herman Bermawi, Sp.A(K) Kondisi bayi dengan kadar glukose darah kurang nilai normal ( < 45 mg/dL ) yang dapat menimbulkan gejala (simptomatis) atau tidak (asimptomatis). 1. Berkurangnya persediaan/simpanan dan produksi glukosa : BBLR sesuai masa kehamilan dan kecil masa kehamilan, asfiksia perna tal dan hipotermia. 2. Peningkatan pemakaian glukosa : bayi dari ibu DM, polisitemia, eritroblastosis fetalis, sindroma Beckwith-Wiedermann. 3. Lain lain : Insufiensi adrenal, sepsis, penyakit glikogen dan transfusi tukar. Simptomatis dan asimptomatis berupa : apatis, hipotoni, muntah, sianosis, apnu, twitching/kejang, nistagmus dan temperatur tidak stabil. Cari faktor resiko : bayi dari ihu DM, neonatus besar masa kehamilan, neonatus kecil masa kehamilan, bayi prematur/postmatur, neonatus puasa, polisitemia dan eritroblastosis. Dapat asimptomatik atau simptomatik ( apatis, hipotoni, muntah, sianosis, apnu, twitching / kejang, nistagmus dan temperatur tidak stabil ). Berdasarkan pemeriksan fisik dan pemeriksaan laboratorium yaitu bi la kadar gula darah < 45 mg/dL. Pemeriksaan gula darah, elektrolit, hemoglobin, hematokrit, leukosit, hitung jenis,trombosit, kultur darah Curigai dan antisipasi hipoglikemia neonatus dengan faktor resiko. a. Bila hipoglikemia asimptomatik pemberian makanan sedini mungkin, bila dua kali pemberian makan dini (interval 2 jam) tidak berhasil berikan IVFD dekstrose 10% b. Bila hipoglikemia simptomatik berikan dekstrose10% dengan inisial 2 cc/kgBB diboluskan selama 5 menit (8-10 mg/kgBB/menit) dilanjutkan IVFD dekstrose 10% (jumlah cairan sesuai umur dan berat badan) atau infus Glukose 10 % dengan GIR 6-8 mg/kg/mnt. Monitor kadar gula darah setiap 2 jam dalam 6 jam pertama, selanjutnya setiap 4 jam. Bila 2 kali pemeriksaan kadar gula darah stabil tidak perlu dimonitor lagi. Bila kadar gula darah 31

Etiologi & patogenesis

Bentuk klinis

Anamnesis

Pemeriksaan fisik

Kriteria diagnosis Pemeriksaan penunjang Penatalaksanaan

Edukasi Prognosis Kepustakaan

normal tidak tercapai dalam 4 jam, maka diberi dekstrose 12%. Bila 4 jam belum tercapai kadar gula darah normal, maka ditambahkan Hidrokortison 5 mg/kgBB dalam cairan infus setiap 12 jam atau prednison 2 mg/kgBB dibagi 3 dosis. Dalam keadaan lanjut (menjadi progresif) baru dipertimbangkan penyebab yang jarang seperti inborn error of metabolism, tumor pankreas dan lain-lain Penjelasan mengenai factor risiko dan penatalaksanaan serta Komplikasi Tergantung etiologi dan respon terhadap terapi 1. Ogata E.S. Carbohydrate homeostasis. Dalam: MacDonald MG,Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology pathophysiology & managementof the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2005;876-91. 2. Gilmore M.M. Hypoglicemia. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD,Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedur, on-call problem, desease, and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill, 2003;262-6. 3. Wilker R.E. Hypoglicemia and hyperglicemia. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;540-9. 4. Kalhan S.C., Parimi P.S. Disorders of carbohydrate metabolism. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA, Walsh MC, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8. Missouri : Mosby Elsevier, 2006; 1467-90. 5. Hypoglycemia. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Publishing, 2008 ; 158 163.

32

DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

JEJAS AKIBAT PERSALINAN No Dokumen : Tanggal Revisi : No Revisi : 2

Kode ICD : P12.3 Halaman : 1 / 4

Panduan Praktek Klinis

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

1 Agustus 2012 dr. Herman Bermawi, Sp.A(K) Gangguan pada struktur atau fungsi tubuh yang terjadi akibat efek samping proses persalinan 1. Ibu : primi para, ibu dengan CPD, prolong atau rapid labour, oligohydramnion, malpresentasi janin 2. Persalinan : vacum ekstrasi, forceps ekstraksi, versi ekstraksi 3. Janin : BBLR, prematuritas, makrosomia, kelainan kongenital 1. Paralisis Ducchene Erb Etiologi: Kelainan ini terjadi karena trauma jaringan syaraf yang keluar dari segmen vertebrae servilkalis V-VI. Trauma ini dikarenakan adanya kesukaran pada waktu mengeluarkan bahu pada presentasi kepala atau kesulitan mengeluarkan kepala pada presentasi bokong Diagnosis: Pemeriksaan fisik: Lengan adduksi dan endorotasi Ekstensi sendi bahu Pronasi sendi bahu Fleksi pergelangan tangan Tidak didapat refleks moro, bisep maupun radius. Tindakan: Immobilasi selama 2-3 minggu dengan posisi tangan diletakkan di atas perut. Mulai fisioterapi setelah 7 - 10 hari. Sembuh total dapat sampai 18 bulan 2. Paralisis Klumpke Etiologi: Kelainan ini terjadi karena trauma jaringan syaraf yang keluar dari segmen vertebrae servilkalis VII-VIII & thorakal I. Trauma ini dikarenakan adanya kesukaran pada waktu mengeluarkan bahu pada presentasi kepala atau kesulitan mengeluarkan kepala pada presentasi bokong 33

Definisi:

Etiologi/faktor risiko

Bentuk Klinis

Diagnosis: Gambaran klinis: pergelangan tangan lumpuh, paresis otot-otot tangan, refleks memegang kurang dan biasanya terdapat gangguan sensorik. Tindakan: Pergelangan tangan diletakkan dalam posisi netral, diberi genggaman. Dalam keadaan ringan dapat sembuh sendiri dalam 36 minggu. Bila tidak sembuh perlu pemeriksaan saraf dan konsultasi ke bedah ortopedi 3. Paralisis plexus brakialis total Gabungan dari paralisis Ducchene Erb dan Klumpke, seluruh lengan lumpuh dan semua refleks meghilang. 4. Paralisis N. Phrenikus Etiologi: Kelainan ini terjadi karena trauma jaringan syaraf yang keluar dari segmen vertebrae servilkalis III-V & thorakal I. Trauma ini dikarenakan adanya kesukaran pada waktu mengeluarkan bahu pada presentasi kepala atau kesulitan mengeluarkan kepala pada presentasi bokong. Umumnya penderita mengalami juga paralisis pleksus brakialis. Diagnosis: Diagnosis ditegakkan dengan: Pemeriksaan klinis Gambaran radiologis. Pada fluoroskopi atau USG akan terlihat gerakan yang tertinggal pada diafragma yang mengalami paralisis Gambaran klinis: Ditemukan pada bayi dengan trauma pleksus brakialis Jam-jam pertama setelah lahir terjadi kesukaran bernapas Takipnu dan sianosis Kasus yang berat gejala muncul segera setelah lahir. Pernapasan paradokdal atau gerakan see saw Pemeriksaan fisik didapatkan gerakan melemah pada hemi thoraks yang parese. Suara napas melemah pada auskultasi pada hemidiafragma yang terkena Radiologi : Pada foto thoraks tampak elevasi ( tampak lebih tinggi ) hemidiafragma yang lumpuh. Pada fluoroskopi atau USG akan terlihat gerakan diafragma yang mengalami paralisis tertinggal 34

Diagnosis banding: Hernia diafragmatika Eventrasi diafragma kongenital Penatalaksanaan: Tidak ada penatalaksanaan khusus Bayi ditidurkan miring pada posisi yang sakit Terapi oksigen Cairan nutrisi parenteral Rangsangan listrik perkutaneus pada N. Frenikus Antibiotika diberikan bila ada indikasi. Tindakan bedah dilakukan bila terdapat gangguan pernapasan yang berat dan terapi konservatif tidak ada perbaikan selama 1 bulan. 4 Paresis Saraf Fasialis Perifer Etiologi: Trauma lahir N. fasialis perifer terjadi akibat penekanan yang keras pada syaraf tersebut. Penekanan ini dapat terjadi karena jepitan daun cunam sekitar foramen stilomastoideum atau pada waktu serabut saraf melewati ramus mandibula. Dapat juga terjadi penekanan oleh os sacrum pada persalinan yang lama. Diagnosis: Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditemui dan adanya riwayat trauma pada persalinan. Gejala Klinis: Gambaran klinis tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf Dapat terlihat segera setelah lahir, lebih jelas lagi pada hari kedua atau ketiga Bila ringan tampak muka asimetri saat menangis Pada kerusakan yang berat atau komplit, kelopak mata terbuka pada waktu menangis, mata akan terbuka lebih lebar pada sisi yang sakit pada keadaan istirahat dan plika nasolabialis mendatar serta muka tampak asimetris Pengobatan: Tidak ada terapi spesifik Bila paralisis komplit pengobatan terutama ditujukan agar kornea mata tidak mengalami kekeringan dengan memberikan tetes metilselulose 1% secara berkala setiap 4 jam Fungsi N. Fasialis harus diobservasi ketat, bila tidak ada menunjukkan perbaikan sampai hari ke 7-10 dilakukan tes elektrodiagnostik untuk melihat apakah ada syaraf yang mengalami degenerasi atau terputus. Bila ada, maka harus dilakukan bedah syaraf. Pada paresis yang ringan biasanya akan sembuh sendiri dalam 3 minggu.. 35

Prognosis: Kepustakaan

Edukasi : penjelasan mengenai factor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi Pada paresis yang ringan biasanya akan sembuh sendiri dalam 3 minggu. 1. Gilmore M.M. Traumatic delivery. Dalam: Gomella TL, Cunningham, MD, Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedures, on-call problems, desease, and drug. Edisi 5, Newyork : Lange McGraw Hill, 2003;314-20. 2. Abdulhayoglu E. Birth Trauma. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6, Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2008;228 -36. 3. Mangurten H.H. Birth Injuries. Dalam: Fanaroff and Martins Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8, Mosby Elsevier, 2006;52960. 4. Birth injury. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, penyunting. Essential Neonatal Mediceine. Edisi 4. Australia : Blackwell Pub lishing, 2008 ; 35 - 40.

36

DEPARTEMEN IKA RSMH PALEMBANG

PERDARAHAN PARU No.Dokumen Tanggal revisi No. Revisi : 2

KODE ICD: P26.9 Halaman: 1/ 2

Panduan Praktek Klinis Definisi Etiologi

Ditetapkan oleh, Ketua Divisi Perinatologi

1 Agustus 2012 dr. Herman bermawi, Sp.A(K) Terdapatnya darah di saluran napas yang disertai perburukan klinis penderita dan bukan disebabkan oleh trauma 1. Meningkatnya tekanan kapiler paru: gagal jantung, hipoksia, transfusi, pemberian lemak intra vena, meningkatnya aliran darah paru dan hiperplasia pulmoner 2. Menurunnya tekanan onkotik intravaskuler : prematuritas, hidrops fetalis, overload cairan, hipoproteinemia 3. Menurunnya aliran limfe ; fibrosis paru, edema jaringan interstitial paru 4. Meningkatnya permeabilitas kapiler paru : sepsis, emboli, dan keracunan oksigen Peningkatan tekanan kapiler paru/menurunnya tekanan onkotik intravaskuler/menurunnya aliran limfe/meningkatnya permeabilitas paru peningkatan cairan jaringan intertitial paru distensi kerusakan sel endotel dan alveolar paru cairan dan darah masuk ke alveoli perdarahan paru. a. Pemeriksaan Fisik Terdapat darah atau keluar dari endotracheal tube atau dari laring pada bayi yang tidak diintubasi. Hipoaktif, pucat, takikardi, hipotensi, sesak, sianosis, vesikuler melemah. Pada perdarahan masif klinis penderita cepat memburuk. Mungkin dapat ditemui manifestasi perdarahan di tempat lain. b. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan hematologi (kadar hemoglobin, hematokrit, lekosit, hitung jenis, trombosit, clotting time, prothrombin time, partial thromboplastin time, trombin time, 2. Analisis gas darah. c. Radiologi : foto thoraks: pada perdarahan lokal terdapat infiltrat ( pachy, linier atau noduler ) dan pada perdarahan masif didapati gambaran adio opaque pada kedua lapangan paru dengan air bronchogram Umum : 1. Bersihkan jalan napas 2. Perbaiki tekanan darah 37

Patogenesis

Diagnosis

Penatalaksanaan

3. Koreksi asidosis 4. Transfusi darah (bila perlu) 5. Obati penyebab yang mendasari Khusus : 1. Ventilator terpasang: a. Bersihkan jalan napas melalui ETT b. Tingkatkan FiO2 c. Tingkatkan PEEP sampai 6-8 cmH2O d. Pertimbangkan untuk meningkatkan PIP 2. Bila tidak menggunakan ventilator: a. Bersihkan jalan nafas b. Pertimbangkan pemasangan ventilator Edukasi : Penjelasan mengenai factor risiko dan penatalaksanaan serta komplikasi Komplikasi : Prognosis : Kepustakaan Gagal napas, syok dan penyakit paru kronik. Mortalitas sampai 50% 1. Whitsett J.A., Rice W.R., Warner B.B., Wert S.E., Pryhuber G.S. Acute Respiratory Disorders. Dalam: MacDonald MG, Mullet MD, Seshia M, penyunting. Averys Neonatology, pathophysiology & management of the newborn. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Walkins, 2005;573-4. 2. Pulmonary hemorrhage. Dalam: Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE, penyunting. Neonatology, management, procedures, on-call problems, desease ,and drug. Edisi 5. Newyork : Lange McGraw Hill, 2004;304-5. 3 Louis N.A. Pulmonary hemorrhage. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal care. Edisi 6. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins, 2008;366-68. 4. Jobe A.H. The respiratory system. Dalam: Martin RJ, Fanaroff AA. Walsh MG, penyunting. Fanaroff and Martins Neonatal-Perinatal Medicine. Edisi 8. Sint Louis : Mosby Elsevier, 2006;1127. 5. Massive pulmonary haemorrhage. Dalam : Levene MI, Tudehope DI, Sinha S, penunting. Essential Neonatal Medicine, Edisi 4. Australia: Blackwell Publishing, 2008; 104.

38