Anda di halaman 1dari 10

untitled, not yet

Selama hidup, aku mengenal 3 laki-laki yang memberikan sumbangan besar dalam metamorfosisku. Aku memahami apa yang orang bilang sebagai proses

menjadi dewasa setelah mereka datang silih berganti memberikan makna dan cerita. Seorang remaja tidak akan pernah menjadi dewasa, dia hanya bertambah tua setiap harinya. Tetapi dalam penuaannya, orang bisa bersikap dewasa sekali waktu untuk membantunya mempertahankan diri dari luka dan menyembunyikan kepedihan. Setiap hari yang baru akan diiringi orang-orang yang baru. Seringkali ia membawa cerita happy ending, tetapi tidak ada salahnya mengambil pelajaran dari pengalaman yang sad ending. Meskipun bukan cara seperti ini yang aku harapkan untuk aku bisa mengenal diriku sendiri, tapi kisah mereka, kisahku, menuntun keakuanku.

satu
2005, hari pertama X IPA 1 Nah, semuanya, satu persatu silahkan maju ke depan kelas, perkenalkan diri dan alasan masuk ke SMA ini. diperbolehkan menggunakan bahasa Inggris. kamu, Wali kelasku mengajar pelajaran Geografi, namanya Bu Nanik. Perawakannya mirip ibuku, wajah keibuan pertengahan 50an dengan postur gemuk khas ibu-ibu. Hari ini hari pertama pelajaran SMA dimulai dan Bu Nanik langsung memperkenalkan kami pada SIG atau Sistem Informasi Geografis. Untungnya, sebelum kebablasan, seorang anak laki-laki di Yang bisa bahasa Inggris, Dari depan kanan coba. Iya,

depanku mengingatkan pentingnya saling kenal sebelum resmi memulai pelajaran. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Aku sudah kenal separuh isi kelas karena rata-rata mereka lulusan SMP yang sama denganku. Sisanya rata-rata dari SMP kecamatan atau pindahan luar kota. Seorang laki-laki maju setelah ditunjuk Bu Nanik.

Selamat pagi temen-temen, nama saya Deni dari SMP Karangsari I. Alasan saya masuk SMA ini karena kebetulan nilai saya cukup buat masuk sini, hhe Halo Deniiiii. seisi kelas serempak berseru. dan memandang berkeliling. Aku maju giliran ke-8. Aku tersenyum

Aku memutuskan

mencoba kemampuan conversationku dan berkenalan ala British. Beberapa anak yang maju setelah Deni aku kenali sebagai tetangga kelas sewaktu SMP : Pipit, Iwan, Lusi, Indah. Sampai sebelum giliranku, anak-anak masih

antusias menanggapi perkenalan anak-anak di depan kelas dan kadang-kadang menanyakan pertanyaan iseng. Morning guys. kataku bersemangat Morniiiing.. yang lain berteriak Hi, hello, my name is Kina, Im from SMP 1, and I chose this school because its one of our citys favorite high Wooooo..you english goooddd seru anak berkacamata di pojokan kelas. Aku tersenyum mendengar vocabnya yang celamitan. Good, Kina. Any questions, kids? Bu Nanik melempar pandangan. Anak berambut jabrik yang aku kenali sebagai Tito mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Rumahnya mana Kina? Udah punya pacar belom? sahut teman sebangkunya

Pertanyaannya mbok ya yang mutu sedikit to yoo yooKalau tidak ada pertanyaan yang bermutu, Kina silahkan kembali ke kursi, Bu Nanik geleng-geleng prihatin. pertanyaan mereka. Kelas bertambah riuh setiap murid perempuan maju ke depan kelas. Aku membuka tas dan menemukan note book berisi agenda hari ini yang ratarata berisi deadline penulisan artikel majalah remaja. Aku sedang menandai prioritas agenda waktu tiba-tiba seisi kelas sunyi. Aku mendongak dan Aku cuma tersenyum garing tanpa menjawab

melihat seseorang sedang maju didepan kelas sambil menenteng keranjang. Ehem! Dia terbatuk sekali, tersenyum, dan menatap seisi kelas satu persatu. Untuk pertama kalinya aku merasa aneh dengan reaksi tubuhku

yang langsung terpaku dan memfokuskan diri, seolah-olah menunggu katakata yang akan keluar dari mulutnya. Hi everyoneMy name is Ibnu, Im coming from Sulawesi. Im here because my father moved here. And I want you guys to know my best friend, Busang, Dia mengangkat keranjangnya agar semua orang bisa melihatnya. Apaan tuh? celetuk seseorang di belakang sana. Is that a kitten, Ibnu? tanya Bu Nanik penasaran. Keranjang yang dia bawa hanya memiliki satu pintu dan sulit melihat isi didalamnya. Dia

tersenyum dan membuka keranjang. Seekor anak kucing mengintip dari pintu keranjang dan perlahan berjalan kearah tangannya yang terulur. Yes, Maam,

Uwaaaaaa..lucunyaaaaaa. seru anak-anak perempuan nyaris histeris. Satu persatu maju kedepan berebut mengelus si anak kucing yang beringsut ketakutan melihat banyak tangan berusaha menyentuhnya. Yaelahhh, kirain apaan kata Iwan kecewa yang langsung diamini anakanak laki-laki lainnya. Aku pecinta kucing. Ralat, aku pernah jadi pecinta kucing. Itu sebelum tanganku dicakar almarhum kucingku sampai membentuk tanda samurai X yang baru hilang beberapa minggu setelahnya. Jadi sekarang aku resmi berhenti jadi pecinta kucing. Di tengah keributan, aku terlonjak

menyadari tiba-tiba anak kucing itu sudah bergelayut di kakiku. Aku berdiri kaku tanpa berani bergerak. Si anak kucing mengeong manja sambil mengitari kakiku. Well, he likes you, dia tersenyum dan mengangkat si anak kucing, menggendongnya, lets be friends, dia mengulurkan tangannya. Ibnu, next time dont bring any pets in my class, okay? Semuanya ke kursi masing-masing ya. Ayo giliran selanjutnya, Ups! Understood, Maam, Dia tersenyum dan kembali ke kursinya. Kelas mulai tenang kembali dan berlanjut ke perkenalan-perkenalan

selanjutnya yang tidak aku perhatikan. Sejak aku menyambut uluran tangan itu, mataku tidak pernah berhenti mengekorinya.

2006, tahun kedua SMA

Walaupun sejak hari pertama masuk SMA mataku ngga pernah berhenti mengekori Ibnu kemanapun dia pergi, tapi otakku ngga sanggup mengikuti kecerdasan otaknya. Alhasil, aku harus puas memandangi dia

nongkrong di depan XI IPA 1 dari jendela XI IPA 4, atau melihatnya main futsal di depan kelasku, atau mengawasinya berjalan dari pintu belakang kelasku. Aku ngga pernah bisa melebarkan topik pembicaraan kearah yang lebih menjurus dan hanya berputar-putar di lingkaran setan topik organisasi sekolah. Kali ini, aku sedang menyorakinya bermain basket dari jendela kelas. Perawakannya tinggi, jadi olah raga apapun bukan masalah. Otaknya encer, makanya selalu masuk kelas unggulan. Bukan berarti aku bego, kelasku

masuk urutan kelas favorit kedua paralel, jadi sebenernya bukan salah otakku juga. Shot! seruku bersemangat. Bahkan keringatnya terlihat bersinaran dibawah sengatan matahari. Pandanganku memuja. Heran deh buk, ngapain si ngeliatin dia melulu? Jijik tau ngeliatnya, Redna, mengaku sahabat tapi paling parah kalau soal membesarkan hati sahabatnya sendiri. Aku melempar pandangan membunuh. Cant you see that, honey?? Hes just too perfect! Shot lagi! Assa!! Euwkk!! Manusia jangkung putih otak encer tapi freak kucing gitu kamu bilang perfect?? Weh, justru disitulah letak kesempurnaan ciptaan Tuhan yang satu ini, my dear friend, dia penyayang berarti tuh, buktinya dia pelihara anak kucing dan bukannya ayam yang bisa dia makan sewaktu-waktu.

Berarti babeh guweh itu psycho maksud el gara-gara miara ayam puluhan ekor?? Siapa yang tau apa yang bakal bokap el lakuin ke ayam-ayam malang itu. Hiiyy Kalo gitu biar babeh tak suruh jualan daging kucing aja wes. Aku melempar buku paket ke kepalanya, Psycho! Redna menangkap buku itu dan membuka-buka asal. Dia

menggumamkan sesuatu yang kedengaran seperti gue belom ngerjain peer, shit! Shooottt!!!!! Yeahh, good job boy!!! aku semakin bersemangat menyoraki pertandingan basket iseng-iseng berhadiah kartu Yugi-Oh antara kelasku dengan kelas Ibnu. Kartu Yugi-Oh itu kartu game yang tren di kalangan para cowok. Mirip kartu remi sih menurutku, tapi otakku belum sanggup mencerna cara kerja kartu-kartu itu. Semua kamu sorakin. Sebenernya dukung siapa sih Na? Ngga ngerti deh mana yang kawan mana yang lawan, protes Redna. Dukung yang menang dong. Aku meringis. Bilang aja sih Na kalo kamu suka sama si jangkung, Aku ngga khawatir kok dia disamber orang. kataku sok bijak Yee, itu mah aku percaya. Disekolah ini mana ada si yang ngga tau kalo kamu suka Ibnu, APAAA????? Aku shock!

APAAAA??? Kata siapa??? Selamat tinggal harga diri. Inget waktu pembagian majalah sekolah? Kamu nulis apa coba di kolom messenger? Kolom messenger?? Kolom salam-salam?? Buat X IPA 1 Ibnu Jundi, moga2 kita sekelas terus ya XXKinaXX. Ih amit-amit banget deh aku waktu bacanya, Loh lohhhhkok bisa tau??? Aku kan nulisnya Pake sandi, potong Redna, tapi sandi eloh itu udah kadaluarsa sayaaangggnenek-nenek salto juga tau kali sandinya cuma mundurin satu huruf dibelakang huruf yang eloh tulis. Omaigat, jadi selama ini kamu ngga tau kalo semua orang uda tau?? Aku menggeleng hopeless ples speechless. Apa kabar rasa malu???

Aku terduduk lemas di meja dan mulai mengumpulkan puing-puing nyawaku yang tercecer. Eh tunggu. Kayaknya ada satu orang deh yang ngga tau, Redna tiba tiba membangkitkan semangatku. Sape sape??? Mungkin ini bisa sedikit menyelamatkan harga diriku, hiks Ibnu. HAHAHA KAMPRET!!! Aku menyambar kapur dan melemparinya sepenuh hati.