Anda di halaman 1dari 40

Pelumasan

BAB II
PELUMASAN
Pelumasan atau Lubrication adalah cara yang dilakukan untuk mengurangi gaya
gesek yang terjadi antara dua permukaan yang saling bergesekan dengan cara memberi
minyak pelumas atau oil. Pelumas didefinisikan sebagai zat yang disisipkan diantara dua
permukaan yang saling bergesekan untuk mengurangi besarnya gaya gesek yang terjadi.
Gaya gesek merupakan gaya perlawanan yang terjadi akibat adanya dua permukaan yang
bergesekan.
Bila gambar diperbesar tampak kedua permukaan logam tidak rata, seperti terlihat
pada gambar di bawah ini. Ganbar 2.1a menunjukan pelumasan hidrodinamik diantara
dua permukaan ada lapisan film minyak pelumas, sedangkan Gambar 2.1b menunjukkan
pelumasan lapisantipis !boundary", minyak pelumasnya tidak cukup tebal.

Gambar 2.1. Pelumasan hidrodinamik dan lapisantipis
a. #ydrodynamic lubrication fluid film b. Boundary lubrication

Gambar 2.2. Grafik hubungan antara f dengan $ %&P
Teknik Mesin 1
Pelumasan
Pelumasan #idrodinamik terjadi bila ketebalan lapisan minyak pelumas cukup,
pelumasan ini akan menghasilkan koefisien gesek !f" yang sangat kecil !f ' (,((1" bila
dibandingkan dengan pelumasan boundary !f ' (,1" . #ubungan antara f dengan !$.%&P"
dapat dilihat pada Gambar 2.2. )imana % adalah kecepatan relatif kedua permukaan,
sedangkan P adalah beban bearing per lebar dan $ adalah *iskositas. Bila tanpa minyak
pelumas, maka koefisien gesek menjadi besar, misalnya baja dengan baja f
s
' (,+, dan f
k
' (,-+
.abel 21. /oefisien gesek berbagai macam bahan
%o Bahan
/oef. Gesek
0tatis f
s
/oef. Gesek
/inetis f
k
.
1 Baja di atas Baja (,+, (,-+
2
1luminium di atas Baja
(,21 (,,+
3
.embaga di atas Baja
(,-3 (,32
,
/uningan di atas Baja
(,-1 (,,,
-
0eng di atas Besi .uang
(,4- (,21
2
.embaga di atas Besi .uang
1,(- (,25
+
Gelas di atas Gelas
(,5, (,,(
4
.embaga di atas Gelas
(,24 (,-3
5
.eflon di atas .eflon
(,(, (,(,
1( .eflon di atas Baja (,(, (,(,
Sumber : Sears, Zemansky : 1982, Fisika I Untuk Universitas
Problem besar yang dihadapi dalam perencanaan 6lemen 7esin adalah
bagaimana cara memperkecil kehilangan daya selama terjadinya gesekan antara elemen
elemen mesin yang bergesekan. 0ecara estimasi berdasarkan pengujian, kehilangan daya
akibat gesekan dapat mencapai sepertiga sampai setengah dari produk daya yang
dihasilkan.
Teknik Mesin 2
Pelumasan
Pelumasan juga diperlukan untuk 8 memperkecil keausan, memperkecil timbulnya
panas dan pemuaian, ikut menjaga kebersihan mesin, sebagai media pendingin untuk
mesin dan sebagainya.
/etebalan minimal lapisan pelumas yang diperlukan dan *iskositas merupakan
dua hal yang sangat penting untuk pelumasan. /arena kedua hal tersebut sangat
berpengaruh terhadap unjuk kerja mesin. /etebalan minimum lapisan pelumas akan
dibahas pada sub bab selanjutnya.
2.1. Beberapa Sifat Penting Minyak Pelumas
Beberapa sifat minyak pelumas yang penting yang perlu diketahui disini antara
lain adalah 8
1. Kekentalan !isk"sitas
/ekentalan atau *iskositas minyak pelumas harus sesuai dengan kondisi mesin agar
dapat berfungsi dengan baik, yaitu untuk memperlambat keausan permukaan yang
bergesekan, terutama pada beban yang besar dan pada putaran rendah. 7inyak
pelumas yang terlalu kental sulit mengalir melalui salurannya, sehingga menyebabkan
kerugian daya mesin yang lebih besar. 0ebaliknya minyak pelumas yang terlalu encer
bisa menyebabkan kedua permukaan kontak langsung sehingga koefisisn geseknya
menjadi besar.
2. #itik #uang.
.itik tuang adalah temperatur minyak pelumas, pada saat minyak pelumas sulit
mengalir karena minyak pelumas membentuk jaringan kristal.
3. Kelumasan.
/elumasan merupakan sifat mampu melumasi dari minyak pelumas. 7inyak pelumas
harus memiliki sifat kelumasan yang cukup baik, yaitu dapat membasahi seluruh
permukaan logam yang bergesekan. #al ini berarti dalam segala keadaan selalu
terdapat lapisan minyak pelumas pada permukaan bagian mesin yang bersentuhan,
sehingga gaya gesek menjadi lebih kecil.
,. Stabilitas.
0tabilitas merupakan kesetabilan susunan kimia dari minyak pelumas. Beberapa
minyak pelumas pada temperatur tinggi akan berubah susunan kimianya sehingga
terjadilah endapan yang menyebabkan cincin torak melekat pada alurnya
Teknik Mesin 3
Pelumasan
-. In$eks Kekentalan !is%"sitas In$e&
/ekentalan minyak pelumas berubahubah menurut perubahan temperatur, semakin
tinggi temperatur kekentalan akan menurun. 7inyak pelumas yang baik adalah
minyak pelumas yang tidak banyak berubah *iskositasnya ketika temperaturnya
berubah, sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya, baik dalam keadaan dingin,
pada waktu mesin mulai berputar (start) maupun dalam keadaan panas, pada saat
mesin bekerja.
2.2. !isk"sitas Pelumas $an Unit !isk"sitas
)alam pembahasan tentang teori dan sistem pelumasan, salah satu hal yang perlu
diperhatikan adalah adanya efek dari dalam minyak pelumas itu sendiri yang disebut
*iskositas (effect of the internal resiste of fluid lubrication).

Gambar 2.3. .eori *iskositas pada suatu fluida (Deutschman, 1995 : !9)
9ntuk menerangkan hal ini dilakukan dengan analisis yang menggunakan suatu
cairan minyak pelumas yang ditempatkan diantara dua bidang 1 dan B. Bidang 1
didorong dengan gaya : sehingga bidang 1 bergerak dengan kecepatan u, bidang 1 tidak
slip terhadap minyak pelumasnya, tetapi lapisan pelumas yang menempel pada bidang B
ikut bergerak dengan kecepatan yang sama ! u ", sedangkan lapisan minyak pelumas yang
menempel pada bidang B mempunyai kecepatan nol.
1kibat gerakangerakan pada bagian pelumasnya, maka terjadilah gesekan
gesekan diantara molekulmolekul minyak pelumas. 0esuai dengan #ukum %ewton,
tegangan geser ! " berbanding lurus dengan *iskositas !;" dan perubahan kecepatan !d
u
",
secara matematis dapat ditulis 8 (Deutschman, 1995 : 1!)
"y
"u

dan
h
U
"y
"u

!21"
Teknik Mesin ,
:
u
h
Benda 1
Benda B
Pelumasan
dimana 8 h ' tebal lapisan minyak pelumas
#
F

dimana 1 ' luas penampang bidang 1 , sehingga 8
h
U
#
F

atau
h
U #
F
.

U #
h F
.
.

!22"
9ntuk menentukan unit atau satuan *iskositas dapat menggunakan persamaan !22".
1. 0atuan British !6nglish 0ystem"
U #
h F
.
.

'
( ) ( )
( )
reyn
in
$b%
in
in
in $b%

,
_

2
2
sec .
sec
.
.

2. 0istem <nternasional !<nternational 0ystem"
( ) ( )
( )
&'ise
cm
"yne
cm
cm
cm "yne
U #
h F

,
_


2
2
sec .
sec
.
.
.
.

0atuan =reyn> biasa dikenal dengan satuan ?eynold sesuai dengan nama
penemunya. )emikian juga dengan >poise> , satuan ini ditemukan oleh ahli :isika
Perancis yang bernama Poisenille. /on*ersi dari kedua satuan tersebut adalah 8
1 reyn ' 2,5 @ 1(
2
cp !centipoises" (Deutschman, 1995 : 11)
1 poise ' 1(( cp cp
)isamping *iskositas absolut ! ; ", juga dikenal *iskositas kinematik ! ",
merupakan *iskositas absolut ! ; " per satuan massa jenis ! ".


!23"
st'kes
cm
cm
"yne
cm
"yne

. sec sec .
sec .
2
,
2
2

Teknik Mesin -
Pelumasan
)alam aplikasinya, satuan yang sering dipakai adalah centistokes !c0t".
Aontoh 8 7esran Prima, Biskositas /inematik , ,(
o
A' 144,4, c0t
7esran 0uper, Biskositas /inematik, ,(
o
A ' 142,( c0t
/on*ersi saatuansatuan *iskositas kinematik 8 Aentistokes, <0C Biscosity Grade,
016 Gear Biscosity %umber, 016 Arankcase, Biscosity %umber dan 090 dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.
Teknik Mesin 2
Pelumasan

Gambar 2.,. Perbandingan satuansatuan *iskositas
2.2.1. Pengukuran !isk"sitas $engan Sayb"lt Uni'ersal !is%"meter
0alah satu cara atau metode untuk mengukur dan menghitung *iskositas minyak
pelumas adalah dengan menggunakan peralatan yang disebut = .he 0aybolt 9ni*ersal
Teknik Mesin +
Pelumasan
Biscometer =. #asil pengukuran dan perhitungan *iskositas dengan alat ini, sampai
sekarang menjadi standar unit dari *iskositas pelumas dan dikenal dengan =0aybolt
9ni*ersal 0econd> !090". Persamaan untuk menentukan *iskositas dalam 090 ini adalah
sebagai berikut 8 (Deutschman, 1995 : 1)

,
_


S
S S(
)
14(
. 22 , (
!2,"
( ) 2( (((3- , (
2(
) S( S(
)
!2-"
dimana 8 ; ' *iskositas absolut pada temperatur .
o
: dalam satuan centipoise !cp"
0G
t
' 0pecific Gra*ity pada temperatur .
o
:
0G
2(
' 0pecific Gra*ity pada temperatur 2(
o
:
0 ' 090 !0aybolt 9ni*ersal 0econd".
. ' temperatur minyak pelumas pada saat dilakukan pengetesan,
o
:
Aontoh 0oal dan penyelesaian
1. 0uatu minyak pelumas mempunyai *iskositas ,(( sec.090 pada 1((
o
: , dan --
sec.090 pada 21(
o
:. Aarilah *iskositas absolut pada temperatur 1+(
o
:, bila
spesifc gra*ity pada suhu 2(
o
: sebesar (,53.
2. #itunglah nilai Biskositas absolut dalam satuan reyns dan *iskositas kinematik
dalam satuan centistokes dari minyak pelumas yang mempunyai nilai *iskositas
12( sec 090 pada temperatur 1((
o
:, bila 0G minyak pelumas pada temperatur
2(
o
: sebesar (,45.
Penyelesaian 0oal 1
)engan menggunakan Gambar 2.- yaitu gambar grafik dengan sumbu *ertikal
*iskositas bersatuan 090 dan temperatur bersatuan :ahrenheit, maka akan
diperoleh nilai *iskositas pada suhu 1+(
o
: sebesar 4, sec 090.
0G pada suhu 1+(
o
:
( ) 2( (((3- , (
2(
) S( S(
)
( ) 452 , ( 2( 1+( (((3- , ( 53 , (
1+(
S(
Biskositas absolut pada suhu 1+(
o
:
Teknik Mesin 4
Pelumasan
c& *
S
S S(
)
-+ , 1,
4,
14(
4, 22 , ( 452 , (
14(
. 22 , (
,
_


,
_



Gambar 2.-. Grafik *iskositas, 090 *s .emperatur
o
:
Penyelesaian 0oal 2
0G pada temperatur 1((
o
:
( ) 2( (((3- , (
2(
) S( S(
)
( ) 4+2 , ( 2( 1(( (((3- , ( 45 , (
1((
S(
Biskositas absolut 1((
o
:
Teknik Mesin 5
Pelumasan
c& *
S
S S(
)
4( , 21
12(
14(
12( 22 , ( 4+2 , (
14(
. 22 , (
,
_


,
_


Biskositas kinematik 1((
o
:
cSt 5 , 2,
4+2 , (
(4 , 21

2.2.2. Pengukuran !isk"sitas $engan !is%"meter B"la (atu)


Pengukuran *iskositas dengan Biscometer bola jatuh dapat dilakukan dengan cara
menjatuhkan bola yang berupa kelereng ke dalam minyak pelumas dengan ketinggihan
minimal +( cm.
Gambar 2.2. 0kema alat *iskometer
Bola jatuh.
0elanjutnya dicatat waktu ! t " yang
diperlukan oleh kelereng untuk menempuh jarak !*ertikal" sejauh +( cm tersebut. )engan
menggunakan #ukum 1rchimedes dan #ukum 0tokes maka besarnya *iscositas minyak
pelumas dapat diketahui.
2.2.2.1. *ukum Ar%)ime$es
#ukum 1rchimedes menyatakan bahwa 8 = 0etiap benda yang tercelup seluruhnya
atau sebagian di dalam fluida maka benda tersebut akan mendapat gaya apung atau gaya
Buoyancy yang arahnya keatas, besarnya gaya apung !:
b
" tersebut sama dengan berat
fluida yang dipindahkan oleh benda. Bila benda yang dimasukkan berbentuk bola dengan
seluruh bagiannya tercelup maka besarnya gaya apung dapat dinyatakan dengan rumus 8
+ , F
% % b
. .

Teknik Mesin 1(
Pelumasan
+ , F
b % b
. .
!2
2"
dimana 8 :
b
' Gaya 1pung atau Gaya Buoyancy pada bola , kg.m&s
2
D
f
' 7assa jenis fluida , kg&m
3
B
f
' Bolume fluida yang dipindahkan, m
3
Besarnya sama dengan Bolume bola, karena bola tercelup
seluruhnya di dalam fluida. B
f
' B
b

g ' Percepatan gra*itasi, m&s
2

2.2.2.2. *ukum St"kes
#ukum stokes mempelajari bagaimana pengaruh fluida kental terhadap benda yang
bergerak didalamnya. Bola yang bergerak dengan kecepatan konstan di dalam fluida
kental akan mendapat gayahambat !:
f
" atau gaya gesekan anatar benda dengan fluida,
yang besarnya dapat dinyatakan dengan persamaan 8sumber E

rv F
%
. . 2
!2.+"
)imana 8 r ' jarijari bola, m
* ' kecepatan bola di dalam fluida, m&s
; ' *iskositas, %.s & m
2
:t ' Gaya gesekan antara benda yang bergerak dengan fluida, %
2.2.2.+. Merumuskan Nilai !is%"sitas $engan !is%"meter B"la,(atu)
Bola kelereng yang dijatuhkan *ertikal dalam fluida, mulamula akan bergerak lurus
berubah beraturan !glbb", kemudian karena adanya hambatan dari fluida, kelereng akan
bergerak lurus beraturan !glb", atau gerak lurus dengan kecepatan konstan. Pada saat
gerak lurus beraturan inilah terjadi kesetimbangan gaya, kearah atas ada :b dan :f
sedangkan kearah bawah ada berat kelereng !F". 0ehingga sesuai dengan hukum 0tokes
maka keadaan tersebut dapat dinyatakan dengan rumus 8
b r
F - F

)ari persamaan G persamma tersebut di atas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut 8
Teknik Mesin 11
Pelumasan

+ , + m rv
b %
. . . . . 2

Bolume bola '
3
. .
3
,
r
disubtitusikan ke persamaan di atas menjadi 8
+ r + r rv
%$ui"a
. . .
3
,
. . . .
3
,
. . . 2
3 3


Bariabel
+ r . . .
3
,
3

dikumpulkan menjadi satu, sehingga didapat didapat 8


( ) + r rv
% b
. . .
3
,
. . . 2
3


Besarnya *iskositas dapat dinyatakan dengan rumus 8
( )
v r
+ r
% b
. . . 2
. . . .
3
,
3


( )
v
+ r
% b
. 5
. . . 2
2


!24"
/ecepatan konstan
t
*

, dimasukkan ke dalam rumus diatas
( )
t
*
+ r
%$ui"a b'$a
. 5
. . . 2
2


( )
t
*
+ r
%$ui"a b'$a
.
. 5
. . . 2
2

'

!25"

#asil dari persamaan !25" masih kurang tepat, oleh karena itu perlu dimasukkan
faktor koreksi tersebut belum memasukkan faktor koreksi !c'rrecti'n %act'r", yang
nilainya ditentukan oleh besarnya diameter kelereng dan diameter pipa.
- 3
5 , ( (5 , 2 . 1(, , 2 1
,
_


,
_

+
,
_


D
"
D
"
D
"
% !21("
Persamaan !25" menjadi 8
Teknik Mesin 12
Pelumasan
( )
t
*
% + r
% b
.
. 5
. . . . 2
2

'

!2.11"

)imana 8

' *iskositas, %.s & m


2
r ' Harijari bola, m
g ' percepatan gra*itasi, m&s
2
f ' faktor koreksi
b

' 7assa jenis bola, kg&m


3
%

' 7assa jenis fluida, kg&m


3

2.2.+. In$e& !isk"sitas
%ilai *iskositas sangat dipengaruhi oleh temperatur, untuk beberapa pelumas tipe
gas dan udara nilai *iskositasnya naik dengan adanya kenaikan temperature, sedangkan
untuk pelumas cair atau fluida nilai *iskositasnya turun dengan adanya kenaikan
temperatur. )engan mengetahui hal tersebut, maka untuk menjaga agar tidak terjadi
penurunan *iskositas yang terlalu besar, maka kenaikan temperatur yang terlalu besar
harus dihindari.
Berkaitan dengan berubahnya nilai *iskositas terhadap temperatur, maka dikenal
adanya istilah =<nde@ Biskositas> atau Viscosity Index ! B< " , yang menyatakan
kepekaan *iskositas terhadap perubahan temperatur. Persamaan untuk menghitung B<
adalah sebagai berikut 8
I 1(( *
. /
U /
,I

!212"
dimana 8
B< ' <nde@ *iskositas, I
J ' *iskositas pelumas standar, yang mempunyai nilai B< ' ( I pada 1((
o
:
# ' *iskositas pelumas standar, yang mempunyai nilai B< ' 1(( I pada 1((
o
:
9 ' *iskositas pelumas yang diukur B< G nya dengan dipanaskan 1((
o
:
1rti nilai B< dan prosedur untuk menghitungnya dapat diuraikan sebagai berikut 8
Teknik Mesin 13
Pelumasan
1. Arti nilai !I
B< ' 1(( I, berarti minyak pelumas yang mempunyai perubahan *iskositas yang
kecil dengan terjadinya kenaikan temperatur.
B< ' ( I, berarti minyak pelumas yang mempunyai perubahan *iskositas yang
besar dengan terjadinya kenaikan temperatur
2. Pr"se$ur untuk mengeta)ui !I
9kur *iskositas pelumas pada temperatur 1((
o
: dan 21(
o
:. Biskositas yang didapat dari
temperatur 1((
o
: adalah 9. sedangkan pada temperatur 21(
o
: adalah K.
)ari pelumas standar yang mempunyai nilai B< ' 1((I, pilih salah satu yang
mempunyai nilai *iskositas sama dengan pelumas yang tidah dikenal pada temperatur
21(
o
:. /emudian ambil angka *iskositas pelumas standar ini pada temperatur 1((
o
:,
beru simbul #.
0ama dengan cara di atas, namun dengan pelumas standar yang mempunyai nilai B< ' (
I. /emudian ambil angka *iskositas pelumas standar ini pada temperatur 1((
o
:, beri
simbul J
)engan memasukkan harga 8 9, # dan J, ke dalam persamaan 212 , maka dapat
dihitung nilai B< pelumas yang tidak dikenal tersebut.

Gambar 2.+. <lustrasi prosedur untuk menentukan B<
Teknik Mesin 1,
1(( : 21( :
L
U
*
090
o
:
Pelumasan

Gambar 2.4. Perbandingan nilai B< pada berbagai minyak pelumas.
Aontoh 0oal dan Penyelesaian 8
1. Aarilah B< minyak pelumas yang setelah diadakan pengukuran dengan 0aybolt
9ni*ersal Biscometer diketahui *iskositasnya 8 54 sec.090 pada 21(
o
: dan 1,((
sec.090 pada 1((
o
:.
2. 0uatu minyak pelumas 016 2- F, berapa *iskositas kinematiknya E )alam
satuan centistokes.
a. Pada temperatur 1((
o
A
b. Pada temperatur ,(
o
A
Penyelesaian S"al 1.
9ntuk menyelesaian soal 1 tersebut di atas dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
dengan menggunakan rumus dan dengan menggunakan tabel
%. -engan menggunakan rumus Empiris
7encari nilai 9 dan K.
9 adalah *iskositas dalam 090 pada temperatur 1((
o
: dari pelumas tidak dikenal
yang besarnya adalah 1,(( sec.090. Hadi 9 ' 1,((
K adalah *iskositas dalam 090 pada temperatur 21(
o
: dari pelumas tidak dikenal
yang besarnya adalah 45 sec.090. Hadi K ' 45
7encari nilai J dan #
J ' (,212( K
2
L 12,(+( K G +21,2
' 2(2, sec.090
Teknik Mesin 1-
Pelumasan
# ' (,(,(4 K
2
L 12,-24 K G ,+-,,
' 522 sec.090
Hadi nilai *iskositas tak dikenal didapat dengan rumus 8
I 2( I 1((
522 2(2,
1,(( 2(2,
I 1((

* *
. /
U /
,I
b. -engan menggunakan #abel 2.2
7encari nilai 9 dan K.
9 adalah *iskositas dalam 090 pada temperatur 1((
o
: dari pelumas tidak dikenal
yang besarnya adalah 1,(( sec.090. Hadi 9 ' 1,((
K adalah *iskositas dalam 090 pada temperatur 21(
o
: dari pelumas tidak dikenal
yang besarnya adalah 45 sec.090. Hadi K ' 45
7encari %ilai J dan J #.
Berdasarkan nilai K ' 45, maka diperoleh dari tabel besarnya J dan J# dengan
interpolasi antara nilai 4- s&d 5(.
J ' 2(2- dan J # ' 1(55
Hadi nilai B< minyak pelumas yang tidak dikenal tersebut adalah 8
I 2( I 1((
1(55
1,(( 2(2,
I 1((

* *
. /
U /
,I
Penyelesaian S"al 2
Berdasarkan Gambar 2., maka pelumas 016 2- F mempunyai *iskositas kinematik
sebesar 8
a. 5,2- s&d 12,-( centistokes ! pada temperatur 1((
o
A atau 21(
o
:"
b. +4,( s&d 1,4 centistokes ! pada temperatur ,(
o
A atau 1(,
o
:"
.abel 2.2 %ilai J dan J# untuk menghitung B< dari 0aybolt 9ni*ersal Biscosity
0aybolt 9ni*ersal
Biscosity !090"
J )
!J#"
0aybolt 9ni*ersal
Biscosity !090"
J )
!J#"
,(
,-
-(
--
2(
13+,5
22-,1
,22,(
-52,(
+4(,(
3(,4
44,4
122,5
2-2,4
3--,(
15-
2((
2(-
21(
21-
45,2
1(333
1(431
11335
114-4
2315
2223
+(1-
+3+2
++,-
Teknik Mesin 12
Pelumasan
2-
+(
+-
4(
4-
5(
5-
1((
1(-
11(
11-
12(
12-
13(
13-
1,(
1,-
1-(
1--
12(
12-
1+(
1+-
14(
14-
15(
5+2,1
1142
1355
122+
142-
211-
23+-
22,2
2524
322(
3-23
3434
,123
,,54
,4,-
-2(2
--+(
-5,-
2335
2+,(
+1-1
+-+3
4((2
4,-(
45(,
53+(
,22,1
-+4
+(2
432
5++
1125
1244
1,-+
123,
1415
2(13
2214
2,3(
22-(
244(
3114
332-
3221
3442
,12(
,,,2
,+33
-(32
-3,1
-2-4
-54-
22(
22-
23(
23-
2,(
2,-
2-(
2--
22(
22-
2+(
2+-
24(
24-
25(
25-
3((
3(-
31(
31-
32(
32-
33(
33-
3,(
3,-
12345
1253(
13,41
1,(,,
1,212
1-2(1
1-+52
12,(,
1+(15
1+2,2
1424,
14533
15-53
2(223
2(5,-
2123+
223,(
23(-,
23++4
2,-13
2-22(
22(1+
22+4,
2+-23
243-2
251-2
412-
4-12
45(+
5313
5+22
1(1,4
1(-+2
11(2(
11,25
11522
12352
1242+
133-1
134,3
1,3,,
1,4-,
1-3+3
1-5(1
12,32
12541
1+-32
14(54
14225
152,5
15434
2(,3-
( Sumber : (Deutschman, 1995 : 10)
%ilai Biskositas <nde@ juga dapat dihitung dengan menggunakan grafik pada
Gambar 2.5. 0ebagai contoh 8 Perkirakan nilai Biskositas <nde@ untuk suatu minyak
pelumas yang mempunyai nilai *iskositas kinematik, M ' -,(- c0t pada suhu 1((
o
A , dan
M ' 22,43 c0t pada suhu ,(
o
A.
Penyelesaian 8 #itung perbandingan nilai *iskositas kinematik pada suhu 1((
o
A
dan ,(
o
:. )iperoleh M
1((
& M
,(
' (,2212. !sebgai sumbu *ertikal". 0umbu horisontalnya
M
1((
' -,(- !sebagai sumbu horisontal". )engan membaca grafik maka diperoleh nilai B<
sekitar 1--.
Teknik Mesin 1+
Pelumasan
Gambar 2.5. Grafik untuk mencari nilai B<
2.+. Pelumasan ("urnal Bearing $an ."lling Bearing
Pelumasan sangat penting untuk mengurangi gaya gesek, menurunkan tingkat
keausan, mengurangi timbulnya panas, mengurangi pemuaian dan ikut membantu
kebersihan diantara dua logam yang bergesekan. )alam bab ini akan dibahas pelumasan
pada journal bearing dan rolling bearing.
2.+.1. Pelumasan ("urnal Bearing
)alam pemilihan cara pelumasan sangat perlu diperhatikan 8 konstruksi, kondisi
kerja, dan letak bearing. .empat pelumasan, bentuk serta kekasaran alur juga merupakan
Teknik Mesin 14
Pelumasan
faktorfaktor penting. Hadi cara pelumasan yang tepat juga banyak didasarkan pada
pengalaman.
2.+.1.1. #ipe Pelumasan
)alam pelaksanaan pelumasan untuk elemen mesin !bearing" dikenal ada dua tipe
yang sangat penting, yaitu 8 Pelumasan #idrostatik dan Pelumasan #idrodinamik
1. Pelumasan *i$r"statik
)alam aplikasinya pelumasan pada journal bearing banyak bertipe #idrodinamik,
namun perlu juga diketahui secara singkat tipe pelumasan #idrostatik, sebagaimana
terlihat pada Gambar 12.3. Poros yang menyangga beban aksial berputar dengan putaran
!n" rpm. , pelumas masuk dengan tekanan Po melalui saluran masuk secara aksial,
kemudian mengisi bagian lekuk dari poros !recess", pelumas yang balik dari lekuk poros
mengalami penurunan tekanan dan mengalir melalui bagian samping poros dan keluar
kembali ke reser*oir.
#alhal yang perlu diperhatikan pada pelumasan #idrostatik adalah 8 besarnya
beban yang disangga, tekanan masuk minyak pelumas, dan juga perhatikan pada saat
start, jangan langsung pada putaran yang tinggi.
.ipe pelumasan #idrostatik banyak digunakan pada journal bearing aksial !thrust
bearing", dimana gaya angkat pelumas !oil lift" dibutuhkan pada saat start dari bearing
yang menerima beban besar, dan pada bearing yang berputar pelan, terutama pada saat
start dan saat berhenti.
Teknik Mesin 15
Pelumasan

Gambar 2.1(. 0kema pelumasan #idrostatik untuk poros *ertikal


Gambar 2.11. 0kema pelumasan #idrostatik untuk poros horisontal
Teknik Mesin 2(
Pelumasan
2. Pelumasan *i$r"$inamik
0ecara sederhana tipe pelumasan hidrodinamik dapat didefinisikan sebagai suatu
sistem pelumasan diantara dua bidang yang saling bergerak relatif, yang akan
menghasilkan daya angkat bagi kedua bidang tersebut yang cukup mampu untuk
mendukung beban yang terdapat pada kedua bidang tersebut, sehingga kedua bidang
yang terdiri dari metal tidak saling bergesekan.
#alhal yang perlu diperhatikan pada Pelumasan #idrodinamik
Pelumasnya harus dapat memenuhi #ukum %ewton dalam hal aliran fluida yang *iscos
!*iscous flow".
1liran harus laminer
Pelumasnya harus bersifat tidak termampatkan !in compressible"
Biskositas pelumas harus sama sepanjang lapisan film pelumas
Gaya inersian dari gerakan percepatan harus kecil
Japisan pelumas harus tipis, sehingga efek dari kelengkungan bantalan !bearing
cur*ature" dapat diabaikan.
Bearing diasumsikan mempunyai kelebaran yang terbatas, dan juga bebas dari
kebocoran pada ujungujung bearing
7empunyai daya adhesi*e yang baik antara pelumas dengan permukaan bearing.
2.+.1.2. /ara,%ara Pelumasan
0ecara garis besar pelumasan pada mesin dapat dikelompokkan menjadi 8
1. Pelumasan .angan
9ntuk beban ringan, kecepatan rendah, atau kerja yang tidak terus menerus.
/ejelekan cara ini adalah aliran minyak pelumas tidak tetap dan pelumasan menjadi
tidak teratur.
2. Pelumasan .etes
9ntuk beban ringan dan sedang. Pelumasan dilakukan dari sebuah tempat !kaleng" ,
minyak pelumas diteteskan dalam jumlah yang tetap dan teratur melalui sebuah katup
jarum.
Teknik Mesin 21
Pelumasan
Gambar 2.12. Aara pelumasan 8 0umbu, Percik dan Aincin
3. Pelumasan 0umbu
Aara ini menggunakan sebuah sumbu yang dicelupkan dalam mangkok minyak,
sehingga minyak terisap oleh sumbu tersebut. Pelumasan ini dipakai seperti
pelumasan tetes.
,. Pelumasan Percik
)ari suatu bakpenampung, minyak pelumas dipercikkan, cara ini dipergunakan
untuk melumasi torak dan silinder motor bakar torak.
-. Pelumasan Aincin
Pelumasan ini menggunakan cincin yang digantungkan pada poros, sehingga cincin
berputar bersama poroas sambil mengangkat minyak pelumas dari bawah. Aara ini
dipakai untuk beban sedang.
2. Pelumasan Pompa
Pompa dipergunakan untuk mengalirkan minyak ke dalam bearing. Aara ini dipakai
untuk melumasi bearing yang sulit letaknya seperti bearing utama motor yang
berputar tinggi. Aara pelumasan ini cocok untuk beban besar dengan kecepatan
tinggi.
Teknik Mesin 22
Pelumasan

Gambar 2.13. 0irkulasi pelumasan dengan pompa pada motor bakar
Gambar 2.1,. 0irkulasi pelumasan pompa dengan tangki di atas
Teknik Mesin 23
Pelumasan
Gambar 2.1-. 0irkulasi pelumasan pada bensin
Gambar 2.12. 0kema 0irkulasi pelumasan pada motos bensin
Teknik Mesin 2,
Pelumasan
+. Pelumasan Gra*itasi
0ebuah tangki diletakkan di atas bearing, minyak dialirkan oleh gaya gra*itasi. Aara
ini dipakai untuk kecepatan sedang dan tinggi dengan kecepatan keliling sebesar 1( G
1- m&s..
4. Pelumasan Aelup
0ebagian dari bantalan dicelupkan dalam minyak. Aara ini cocok untuk bearing
dengan poros tegak, seperti pada turbin air. Pada kasus ini perlu diberikan perhatian
pada besarnya daya gesekan karena tahanan minyak, kenaikan temperatur dan
kemungkinan masuknya kotoran atau benda asing
5. Pelumasan 0pray
0esuai dengan namanya pelumasan ini dilakukan dengan jalan menyemprotkan
minyak pelumas ke bagianbagian yang diinginkan, seperti terlihat pada gambar di
bawah ini.
.

Gambar 2.1+. 0kema 0irkulasi pelumasan dengan spray
0elain cara pelumasan yang harus tepat, perlu diperhatikan juga jumlah minyak
pelumas dalam mesin. Humlah minyak pelumas dalam mesin harus cukup, tidak boleh
melebihi batas maksimum dan tidak boleh kurang dari batas minimum. Biasanya diberi
ukuran batas batas tersebut, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Teknik Mesin 2-
Pelumasan

Gambar 2.14. 1lat ukur *olume minyak pelumas
2.+.1.+. Analisis Pelumasan ("urnal Bearing
Pada bab ini akan dijelaskan secara singkat tentang torsi dan daya yang
diakibatkan oleh gesekan, juga dibahas perencanaan tentang 8 ketebalan, kapasitas dan
kenaikan temperatur minyak pelumas pada journal bearing. Beban !load" pada poros akan
mengakibatkan ketebalan lapisan minyak pelumas menjadi tidak rata, sebagaimana
terlihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 2.15. /etebalan minyak pelumas pada journal bearing
2.+.1.+.1. *ukum Petr"ff0s
#ukum PetroffNs dapat digunakan untuk menghitung besarnya torsi dan daya yang
hilang akibat adanya gesekan pada Hournal Bearing
Teknik Mesin 22
Pelumasan
/etika poros berputar dalam journal bearing yang, seperti pada Gambar 2.1 , maka akan
terjadi tegangan geser antara poros dengan permukaan Hournal Bearing bagian dalam,
yang dapat dinyatakan dengan persamaan 8
h
U

!212"
Gaya gesek yang terjadi 8
h
U
# # F . .
.orsi gesek yang terjadi 8
1 1 %
r
h
U
# r F ) . .
#arga 9 dapat dinyatakan dengan rumus 8
1
r U .
, sedang
2(
. . 2 n

dan
/ r #
1
. . . 2
Hadi besarnya .orsi akibat gaya gesek dapat dinyatakan dengan persamaan 8
1 1 1 %
r
n
r / r
h
U
) .
2(
. . 2
. . . . . 2 .


h
n r /
)
1
%
. 1-
. . . .
3 2

!213"
dimana 8 .
f
' .orsi akibat gesekan, lbf.in
; ' Biskositas absolute, reyns
J ' Panjang Hournal Bearing, in
r
j
' ?adius poros !Hournal", in
n ' putaran, rpm
h ' /etebalan lapisan film minyak pelumas =radial clearance>
)aya yang ditimbulkan akibat gesekan tersebut !:riction #P" dapat dinyatakan dengan
rumus 8
Teknik Mesin 2+
Pelumasan
(2- . 23
.n )
F
%
.2
!2
1,"
2.+.1.+.2. 1rafik,grafik untuk Peren%anaan Bearing
)alam sub bab ini dapat dihitung besarnya 8 ketebalan minimum lapisan film
minyak pelumas, daya yang hilang karena gesekan, kapasitas aliran pelumas, kapasitas
aliran pelumas melalui ujungujung bearing dan kenaikan temperatur pelumas.
0ebelum membahas hal tersebut, terlebih dahulu perlu diketahui 8 perbandingan
panjang journal bearing !J" dan diameter poros !)", sudut kontak bearing !", aliran
pelumas dan distribusi tekanan sekeliling bearing. (Deutschman, 1995 : 23)

Gambar 2.2(. )iagram *ariasi tekanan sekeliling bearing
Perhitungan ini menggunakan grafikgrafik !design charts" yang dihasilkan dari
percobaan dan penelitianpenelitian ?aimondi dan Boyd. 9ntuk pengeplotan ke dalam
grafikgrafik tersebut diperlukan terlebih dahulu tentang factor karakteristik bearing
!bearing characteristic number" yang dipakai sebagai absis dalam grafikgrafik
Teknik Mesin 24
Pelumasan
?aymondi. ?umus untuk mencari faktor karakteristik bearing adalah sebagai berikut 8
(Deutschman, 1995 : 25)
2
n
c
r
S
1
O .
. O
2

,
_

!2
1-"
dimana 8 0N ' :aktor karakteristik bearing
r
j
' ?adius poros !Hournal", in
c ' /etebalan lapisan pelumas !radial clearance", in
; ' Biskositas absolute, reyns
nN ' /ecepatan relati*e antara poros dengan bearing, rps
P ' Beban per proyeksi luasan poros, lbf&in
2
9ntuk menghitung besarnya 8
. /etabalan 7inimum Japisan 7inyak Pelumas !h
o
"
)aya yang #ilang akibat Gesekan !:
#P
"
/apasitas 1liran 7inyak Pelumas 7elalui Bearing !P"
/apasitas 1liran 7inyak Pelumas 7elalui 9jungujung Bearing !P
s
"
/enaikan .emperatur 7inyak Pelumas !."
akan lebih mudah memahami halhal tersebut di atas, disini akan diberikan contoh soal.
S"al 1.
0uatu journal bearing parsial dengan sudut kontak ' 14(
o
yang beroperasi dalam
kondisi putaran 32(( rpm, beban F ' 12(( lbf, *iskositas absolute pelumas ; ' 2 @ 1(
+
reyns, radial clearance c ' (,((2 in, radius poros r
j
' 2 in dan panjang bearing J ' , in.
#itung 8
a. :aktor karakteristik bearing !0N"
b. /etabalan 7inimum Japisan 7inyak Pelumas !h
o
"
c. )aya yang #ilang akibat Gesekan !:
#P
"
d. /apasitas 1liran 7inyak Pelumas 7elalui Bearing !P"
e. /apasitas 1liran 7inyak Pelumas 7elalui 9jungujung Bearing !P
s
"
Teknik Mesin 25
Pelumasan
f. /enaikan .emperatur 7inyak Pelumas !."
S"al 2.
Pada sebuah Hournal bearing yang panjangnya 2 in dengan diameter poros 1,- berputar
dengan kecepatan n ' 1-(( rpm. Bila minyak pelumas yang dipakai mempunyai
*iskositas 4( reyns dengan ketebalan minimum (,(1 in maka hitunglah 8
a. .orsi yang terjadi dalam peristiwa tersebut
b. /erugian daya dalam satuan satuan #P
c. Helaskan faktorfaktor yang mempengaruhi kerugian daya pada journal bearing.
d. 0eandainya tanpa diberi minyak pelumas, apa yang terjadi. )iskusikan Q
S"al +.
)iskusikan caracara pelumasan yang lain, selain tersebut di atas.
Penyelesaian S"al 1 2
a. Besarnya faktor karakteristik bearing adalah sebagai berikut 8
2
n
c
r
S
1
O .
. O
2

,
_

dimana 8
2si
r
-
2
1
1((
, . 2 . 2
12((
. . 2

Hadi 8 12 , (
1((
2( . 1( . 2
.
((2 , (
2
O
+
2

,
_

S
b. /etebalan minimum lapisan minyak pelumas
)engan menggunakan grafik pada Gambar 2.13, maka diperolah nilai 8
35 , (
c
h
'
h
o
' (,35 . c ' (,35 . (,((2 in ' (,(((+4 in
Teknik Mesin 3(
Pelumasan

Gambar 2.21. #ubungan antara !0N" dengan ketebalan minium minyak pelumas.
c. )aya yang hilang akibat gesekan
)engan menggunakan grafik pada Gambar 2.1,, maka diperolah nilai 8
2 , 2 . %
c
r
1
/oefisien gesek !f" diperoleh 8
22 , (
2
((2 , ( . 2 , 2 . 2 , 2

1
r
c
%
Teknik Mesin 31
Pelumasan
/emudian dihitung torsi gesek 8
.
f
' f.F.r
j
' (,((22 . 12(( . 2 ' +,(, lbf.in
)aya yang hilang alkibat gesekan 8
.2
n )
F
%
.2
, , (
((( . 23
32(( . (, , +
((( . 23
.

Gambar 2.22. #ubungan antara !0N" dengan koefisien gesek !f".
Teknik Mesin 32
Pelumasan
Gambar 2.23. #ubungan antara !0N" dengan kapasitas aliran !P"
d. /apasitas aliran minyak pelumas melalui bearing !P"
)engan menggunakan grafik pada Gambar 2.1-, maka diperolah nilai 8
2 , 3
O. . .

/ n c r
4
1
s
in
* * * * / n c r 4
1
3
(+ , 3 , 2( ((2 , ( 2 2 , 3 O. . . . 2 , 3
e. /apasitas aliran minyak pelumas melalui ujungujung bearing !P
s
"
)engan menggunakan grafik pada Gambar 12.12, maka diperolah nilai 8
-4 , (
4
4
s
Teknik Mesin 33
Pelumasan
Gambar 2.2,. #ubungan !0N" dengan kapasitas aliran yang keluar dari ujung bearing !Ps"
Hadi 8
s
in
* 4 4
s
3
+4 , 1 (+ , 3 -4 , ( . -4 , (
f. /enaikan .emperatur 7inyak Pelumas !."
)engan menggunakan Gambar 2.1+, maka diperoleh nilai 8
12
. . .

2
) 5 6
'

dimana 8 H ' kon*ersi energi panas !mechanical eRui*alent of heat"


! 1 B.9 ' ++4 lbf.ft ' ++4 . 12 lbf.in "
A
o
' 0pecific heat pelumas ! (,,2 B.9&lbf.
o
: "
' berat jenis pelumas ! (,(3 lbf&in
3
"
Hadi 8
F
* * * 5 6
2
)
'
'
2 , 1(
,2 , ( (3 , ( 12 +44
1(( . 12
. .
. 12

Teknik Mesin 3,
Pelumasan
Gambar 2.2-. #ubungan !0N" dengan kenaikan temperatur minyak pelumas !."
2.3. !isk"sitas $an Pelumasan Pa$a ."lling Bearing
9njuk kerja yang baik (satisfactory performance) dari rolling bearing sangat
tergantung pada 8 penggunaan pelumas yang tepat, frekuensi pelumasan, rumah bearing
dan saluran pelumasan.
Teknik Mesin 3-
Pelumasan

Gambar 2.22. Jokasi pelumas pada ball bearing
Pelumas yang dapat dipakai untuk rolling bearing adalah 8 fet !grease" dan oli.
Pelumasan dengan fet baik digunakan untuk putaran yang rendah, tidak membutuhkan
sistem =sealing> yang rendah dan dapat pula dilakukan dengan >prepacked>.
7etode pelumasan dengan oli sangat banyak *ariasinya tergantung dari pembuat
yang merencanakannya. 0alah satu cara yang sederhana adalah berdasarkan
*iskositasnya.
2.3.1. !isk"sitas Minyak Pelumas untuk ."lling Bearing
Pada sub bab ini akan dibahas tentang 8 besarnya *iskositas yang diperlukan, tipe
pelumassnnya dan dengan 016 berapaE. 9ntuk memahami hal tersebut berikut ini akan
diberikan contah penggunaannya.
S"al 2
)iketahui diameter bearing !)" ' -( mm, putaran poros !n" ' -((( rpm, temperatur
operasi&kerja !." ' 1-(
o
:. Berapa *iscositas minyak pelumas yang dipakai, dan tipe
pelumas dengan 016 berapa E
Penyelesaian 8
#arga ).% ' -( @ -((( ' 2-(.(((
7asukkan harga ).% tersebut dalam grafik !Gambar 12.1(". pada koordinat ).%
*alue, kemudian tarik garis ke atas sejajar dengan ordinat =operating
Teknik Mesin 32
Pelumasan
temperature>, selanjutnya tarik garis sejajar dengan garis titiktitik pada bidang
lengkung.
Gambar 2.2+. Grafik pemilihan minyak pelumas berdasarkan *iskositas
)ari ordinat =operating temperature> , ambil titik berdasarkan temperatur 1-(
o
:,
tarik garis titiktitik pada bidang lengkung, sehingga diperoleh perpotongan
dengan garis ).% di titik 1.
)ari titik 1 tarik garis ke koordinat =*iscosity 090 1((
o
:> , sehingga diperoleh
harga *iskositas pelumas 1+( 090 dengan dasar&basis 1((
o
:.
0elanjutnya masukkan ke grafik 090 *s temperature ! Gambar 12.11" sehingga
diperoleh tipe pelumas dengan 016 tertentu.

2.3.2. Pelumasan Bantalan 1elin$ing
Teknik Mesin 3+
Pelumasan
Pelumasan bantalan gelinding terutama dimaksud untuk mengurangi gesekan dan
keausan antara elemen gelinding dan sangkar, membawa keluar panas yang terjadi,
mencegah korosi dan menghindari masuknya debu. Aara pelumasan ada dua macam yaitu
pelumasan gemuk dan pelumasan minyak.
Pelumasan minyak merupakan 0angat cocok untuk kecepatan tinggi atau
temperatur tinggi, yang paling populer diantaranya adalah pelumasan celup. Pada cara
ini, dengan poros mendatar, minyak harus diisikan sampai tengahtengah elemen
gelinding yang terendah. 1dalah suatu keharusan bahwa temperatur minyak dijaga tetap.
9ntuk maksud ini dipakai pipa pendingin atau sirkulasi air. 9ntuk poros tegak, tinggi
permukaan minyak harus sedemikian rupa hingga 3(-( I dari elemen gelinding
tercelup dalam minyak.
9ntuk mencegah kebocoran pelumas serta masuknya benda asing, maka di dalam
bearing terdapat alat penyekat, beberapa penyekat yang sering dipakai adalah 8
1. /in%in,4
7erupakan cincin dengan penampang lingkaran. Aincin dipasang pada alur yang
dibuat pada bidang atau batas yang akan dirapatkan sedemikian rupa hingga jika dikenai
tekanan dari sebelah dalam, cincin akan mengalami deformasi yang akan mencegah
kebocoran. Bahan yang digunakan adalah karet sintetis, karet alam dan plastik.
2. Sil Minyak
7erupakan suatu kesatuan yang terdiri atas karet sintetis dengan bentuk
penampang tertentu, cincin logam dan cincin pegas. 0il minyak dapat menyekat lebih
rapat daripada cincinC, serta dapat dipergunakan pada poros yang berputar maupun
bergerak bolakbalik.
+. Sil Mekanis
0il ini cocok untuk menyekat cairan, gas dan uap meskipun tekanan dan
kecepatannya tinggi. Bagian utama dari sil ini adalah 8 cincin diam, cincin berputar,
pegas dan paking.
Teknik Mesin 34
Pelumasan

Teknik Mesin 35
Pelumasan



Teknik Mesin ,(