Anda di halaman 1dari 4

UJPH 3 (2) (2013)

Unnes Journal of Public Health


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph

UJI SENSITIVITAS KERTAS SARING UNTUK IDENTIFIKASI PEWARNA RHODAMIN B PADA MAKANAN JAJANAN Novie Retno Utami
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia.

Info Artikel
Sejarah Artikel: Diterima Februari 2013 Disetujui Februari 2013 Dipublikasikan Maret 2013 Keywords: Identification Traditional Street Food Filter Paper Rhodamine B Sensitivity Test

Abstrak
Makanan tradisional Indonesia mempunyai kekayaan ragam baik macam, bentuk, warna, serta aroma sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Tetapi banyak penemuan makanan yang mengandung pewarna berbahaya seperti rhodamin B. Puskesmas sebagai pelaksanan teknis tidak didukung fasilitas pemeriksaan makanan dan minuman. Metode sederhana menggunakan kertas saring dapat mendeteksi zat pewarna sintetis dalam makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sensitivitas pengujian metode sederhana dengan kertas saring dalam mengidentifikasi zat pewarna Rhodamin B pada makanan jajanan. Jenis penelitian ini menggunakan observasional bersifat analitis dengan menggunakan cara seperti uji diagnostik menggunakan desain cross sectional pada makanan jajanan di Pasar Johar sebanyak 20 buah. Pemeriksaan dilakukan di Laboratorium Kimia Kesehatan, Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta. Hasilnya didapat bahwa 5 sampel (25%) positif mengandung rhodamin B dan 15 sampel (75%) negatif. Berdasarkan metode kromatografi didapat 8 sampel (40%) positif mengandung rhodamin B dan 12 sampel (60%) negatif. Sensitivitas metode kertas saring terhadap metode kromatografi didapat 25%, spesifitas 75%, nilai prediksi positif 40%, nilai prediksi negatif 60%. Kesimpulannya adalah bahwa metode sederhana menggunakan kertas saring tidak dapat digunakan sebagai acuan dalam percobaan identifikasi zat pewarna berbahaya. Saran yang direkomendasikan adalah tetap selektif dalam membeli makanan jajanan tradisional, dan dapat dilanjutkan untuk menemukan metode yang sederhana.

Abstract
Traditional street foods found contains dye substances like rhodamine B with POM 2010 have 70% from samples. Public health center is supporting food and drink laboratory facilities. This simple method is using filter paper can detect synthetic dyes in snack food. This experiment is for to know the sensitivity of the test is simple method with filter paper for identifying dye rhodamine B on street food. This research use to analytical observational with diagnostic test use cross sectional design in Johar Market street snacks food in 20 pieces. Investigation performed center of health laboratory in Yogyakarta. The results found that the sensitivity of filter paper method for chromatographic method obtained 25%, specificity 75%, positive prediction score 40%, negative prediction score 60%. The conclusion of this simple method using filter paper can not be used as a reference in the identification experiment is harmful dyes. Solution for recommendation is public health center to public selected for buying traditional street foods and to be continued for experiment simple method.

2012 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi: Gedung F1 lantai 2 Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang Indonesia 50229 E-mail: fik-unnes-smg@telkom.net

ISSN 2252-6781

Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 3 (2) (2013)

Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 3 (2) (2013)

PENDAHULUAN Makanan jajanan tradisional merupakan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat menurut golongan etnik dan wilayah spesifik, diolah dari resep yang dikenal masyarakat secara turun temurun (Haslina, 2004 : 8). Makanan tradisional Indonesia mempunyai kekayaan ragam yang luar biasa. Baik macam, bentuk, warna, serta aroma sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia. Seperti gethuk, geplak, klepon, dan jajanan lain yang ada di pasar saat ini telah dimodifikasi dan dikemas menjadi paket buah tangan dengan warna yang menarik (Wahyu Utami dan Andi Suhendi, 2009: 148). Dalam pemakaiannya seringkali terjadi penyalahgunaan pemakaian zat pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna yang digunakan untuk tekstil dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan pangan. Hal ini jelas berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada zat pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan tersebut antara lain disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk pangan, dan disamping itu harga zat pewarna untuk industri jauh lebih murah dibandingkan dengan harga zat pewarna untuk pangan (Wisnu Cahyadi, 2009: 63). Rhodamin B adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri tekstil dan kertas. Pewarna sintetis ini berbentuk serbuk kristal berwarna merah keunguan dan di dalam larutan akan berwarna merah terang berpendar. Zat pewarna sintetis ini sangat berbahaya apabila terhirup, mengenai mata dan kulit, serta tertelan. (Desi Wijaya, 2011: 30). Sehubungan dengan berbagai kelemahan atas penggunaan pewarna sintetis pada bahan makanan dan minuman di Indonesia, pemerintah menerbitkan larangan pemanfaatan pewarna tertentu yang tertuang pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 235/Menkes/Per/ VI/79, tanggal 19 juni 1979 tentang Larangan Penggunaan Bahan Pewarna (Wisnu Cahyadi, 2009: 63). Laporan Badan POM (2009: 55) total sampel yang diuji 1847 sampel, 546 sampel (29,56%) dinyatakan tidak memenuhi syarat. Dari 124 sampel makanan yang positif mengandung rhodamin B 74 buah atau mencapai 60%. Laporan tahunan Badan POM (2010: 52) dilakukan operasi gabungan pengamanan makanan di 7 Kab/Kota termasuk Kota Semarang diambil 118 sampel dari DIPA yang positif mengandung rhodamin B 28 buah atau 23,7%, sedangkan
2

sampel dari pihak ketiga berjumlah 20 buah yang positif mengandung rhodamin B 14 buah mencapai 70%. Jenis makanan berbahaya yang mengadung rhodamin B antara lain aneka kue, arum manis, brondong, es cincau, es serut, gula kelapa, jajanan dan jipang, kolang kaling, koyah asem suka rasa/ permen, krupuk bawang barokah sm, krupuk terasi super, krupuk usus, kue moho, kuping gajah, manisan sirsak, rengginang, terasi. Standar pemisahan pewarna sintetis berdasarkan Berdasarkan SNI 01-28951992 (2011: 2) dari Badan Standar Nasional tentang cara uji pewarna tambahan makanan menjelaskan cara uji kualitatif pewarna makanan. Uji kualitatif tersebut berisi prinsip, peralatan, cara kerja, dari beberapa metode diantaranya metode kromatografi kertas menggunakan wol, metode menggunakan kolom poliamida, metode menggunakan kolom poliamida I dan metode TLC scanner. Dalam penelitian ini hanya akan menggunakan salah satu cara uji kualitatif dengan metode kromatografi menggunakan benang wol. Menurut Nollet (2004) dalam karya ilmiah Aziz Eko H (2008:9) diantara berbagai jenis teknik kromatografi, kromatografi lapis tipis (KLT) adalah yang paling cocok untuk analisis obat di laboratorium farmasi. Kromatografi Lapis Tipis digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion organik, kompleks senyawa-senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa-senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawa-senyawa organik sintetik. Puskesmas sebagai sebuah lembaga atau institusi di bidang kesehatan dibawah pengawasan Dinas Kesehatan yang memiliki Standar Pelayanan Minimal (SPM). Kota Semarang Memiliki 37 Puskesmas Induk dan 33 Puskesmas Pembantu. Menurut surat edaran Mendagri No. 100/756/OTODA, yang tentang rancangan kewenangan wajib dan standar pelayanan minimal salah satunya penyelenggaraan pelayanan alat kesehatan serta makanan dan minuman (Anonim,2013). Namun dalam penyelenggaraan puskesmas berdasarkan kepmenkes No. 128 Tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas yang mengandung tugas pokok dan fungsi dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 741/ Menkes/Per/VII/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di Kabupaten/Kota tidak terdapat penyelengaraan identifikasi makanan berbahaya. Metode sederhana yang dilaporkan oleh Babu S dan Induskhelar S dari India dapat mendeteksi zat pewarna sintetis dengan peralatan yang sederhana dan terjangkau. Sehingga tidak

diperlukan adanya pelarut ataupun tersedianya peralatan khusus. Dalam melakukan percobaan ini dapat dikerjakan di rumah ataupun lapangan. Metode ini telah diujicobakan pada obat dan kosmetik untuk mengidentifikasi adanya dyes dalam bahan tersebut. Akan tetapi, hasil uji dengan metode tersebut perlu dikonfirmasi lebih lanjut dengan uji yang dikerjakan di laboratorium dengan menggunakan metode konvensional (Wisnu Cahyadi, 2009: 74). Dari latar belakang di atas yaitu adanya penemuan makanan yang mengandung rhodamin B oleh Badan POM selama tahun 2009-2010 dengan presentase 60-70% dari total sampel yang diambil, sedangkan semua puskesmas di Kota Semarang yang berjumlah 37 puskesmas induk dan 33 puskesmas pembantu tidak terdapat pelayanan pemeriksaan makanan dan adanya metode sederhana untuk mengidentifikasi keberadaan pewarna makanan Rhodamin B, Maka penulis merumuskan masalah yaitu bagaimana sensitivitas antara metode sederhana kertas saring dengan metode kromatografi untuk identifikasi pewarna rhodamin B pada makanan jajanan tradisional? Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sensitivitas pengujian metode sederhana dengan kertas saring untuk mengidentifikasi keberadaan zat pewarna Rhodamin B pada makanan jajanan. METODE PENELITIAN Penelitian ini hanya menguji secara kualitatif dan dilihat sensitivitas metode sederhana menggunakan kertas saring tersebut dibandingkan dengan uji standar sebagai baku emas yaitu kromatografi menggunakan benang wol dalam mengidentifikasi zat pewarna rhodamin B dalam makanan jajanan tradisional. Jenis penelitian ini menggunakan observasional bersifat analitis dengan menggunakan cara seperti uji diagnostik menggunakan desain cross sectional. Variabel bebas menggunakan uji kualitatif pada makanan jajanan di Pasar Johar dengan metode kertas saring dan kromatografii sebagai baku emasnya. Kemudian akan diiuji sensitivitas kedua metode dan akan dianalisis. Sampel dalam penelitian ini adalah makanan jajanan dengan kriteria inklusi dalam penellitian ini yaitu makanan yang berwarna merah mencolok. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel dihitung menggunakan rumus besar sampel untuk proporsi tunggal yaitu perkiraan sensitivitas 75% dan spesifitas 80%, penyimpangan untuk
3

sensitivitas dan spesivitas masing-masing adalah 25% dan interval kepercayaan yang dikehendaki 95% (0,05), dengan jumlah total sampel 20 buah. Adapun alat dan bahan yang digunakan ada dua macam. Alat dan bahan yang digunakan untuk pengujian dengan metode penetapan zat pewarna menggunakan kertas saring adalah : gelas ukur, kertas saring, dan air. Sedangkan alat dan bahan untuk pengujian dengan metode penetapan zat pewarna menggunakan kromatografi adalah : gelas ukur, botol aquades, gelas ukur 50 ml, neraca analitik, water bath (pemanas air), makanan jajanan yang telah dilarutkan, aquades, kertas kromatoografi, NH4OH 10%, KHSO4 10% Prosedur penelitian dibagi menjadi beberapa tahap. Pada pengambilan sampel antara lain: 1. Mencari makanan berwarna merah yang mencolok, 2. Tambahkan air ke dalam makanan yang diletakkan di cawan, 3. Aduk hingga makanan tercampur. Pada perlakuan dengan metode penetapan zat pewarna menggunakan kertas saring antara lain : 1. Terlebih dahulu membuat ekstraksi dengan cara gerus 10 gram sampel hingga rata dengan penambahan 50 ml larutan amonia 2% di dalam etanol 70%., 2. biarkan selama 2 jam, kemudian diputar-putar, 3. Pindahkan cairan ke dalam cawan porselin dan larutkan residu dalam air yang telah ditambah asam asetat hingga dalam keadaan asam. 4. Panaskan larutan di penangas air dengan ditambah aseton 70%, 5. Larutan diujikan dalam spot pada 2 cm dari ujung kertas saring yang berukuran 20 x 20 cm, 6. Kertas saring dimasukkan ke dalam gelas yang diisi air, 7. Biarkan merembes sampai tinggi gelas, 8. Kertas saring diangkat dan dikeringkan di udara, 9. Setelah kering, kertas dilipat dua dan dilipat lagi menjadi tiga sehingga terdapat 8 bagian antara spot asli dengan batas pelarut. Perlakuan dengan metode penetapan zat pewarna menggunakan kromatografi antara lain : 1. Ekstrak/ rendam benang wol dengan eter atau petroleum, 2. Geruslah 10 gram sampel hingga rata dengan penambahan 50 ml larutan ammonia 2 % di dalam etanol 70%, 3. biarkan untuk beberapa lama, kemudian diputar-putar, 4. Pindahkan cairan ke dalam cawan porselin dan uapkan di atas penangas air., 5. Larutkan residu air yang telah ditambahkan sedikit asam asetat, 6. Tarik zat warna dengan benang wol, 7. Cuci berulang-ulang benang wol dengan air bersih, 8. Larutkan benang wol dengan ditambah aseton 70% dan panaskan cairan hingga didapat endapan , 9. Totolkan pada kertas kromatografi, serta totolkan juga zat warna pembanding yang

Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 3 (2) (2013)

Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 3 (2) (2013)

cocok, 10. Masukkan kertas tersebut ke dalam bejana kromatografi yang terlebih dahulu sudah dijenuhkan dengan uap elusi. Jarak rambatan elusi 12 cm dari tepi bawah kertas. Elusi dengan eluen I (etilmeilketon : aseton = 70 : 30 : 30) dan eluen II (2 gr NaCl dalam 100 ml etanol 50%). Keringkan kertas kromatografi di udara pada suhu kamar. Amati bercak yang timbul, 11. Bandingkan Rf bercak contoh dengan Rf bercak standar. Perhitungan penentuan zat warna dapat dilakukan dengan cara mengukur nilai Rf dari masing-masing bercak tersebut, dengan cara membagi jarak zat terlarut oleh jarak gerak pelarut. pembuatan baku pembanding. Ditimbang 25,00 mg rhodamin B, kemudian dilarutkan dalam 25,0 ml etanol 96 % p.a (Azizahwati, dkk., 2007). Hasil tersebut dapat dipertegas juga dengan penampakan bercak dipertajam menggunakan lampu UV 254nm dan 366nm serta visualisasi dengan menggunakan pereaksi semprot H2SO4 dan HCl pekat. Bila Rf =1, dan nilai hRf yang sama, adanya pemadaman pada UV 254nm, fluorensensi pada UV 366nm, warna merah muda dengan pereaksi semprot HCl dan warna jingga dengan pereaksi semprot H2SO4. berarti bahwa zat pewarna tersebut adalah Rhodamin B. Hasil uji lapangan menggunakan tabel 2x2 (Himam Sohibul H, 2008) Hasil analisa dan pemeriksaan kemudian diolah secara diskriptif. Struktur dasar uji hasil uji menunjukkan tabulasi hasil uji sederhana dan baku emas. Positif benar (PB) = hasilnya menyatakan terdapat pewarna Rhodamin B dan dalam kenyataannya memang terdapat Rhodamin B. positif semu (PS) = hasilnya menunjukkan terdapat pewarna Rhodamin B padahal sebenarnya sampel tidak mengandung Rhodamin B, negatif semu (NF) = menunjukkan tidak mengandung Rhodamin B sedangkan sebenarnya sampel terdapat Rhodamin B, negatif benar (NB) = hasil uji menunjukkan tidak mengandung Rhodamin B dan sampel memang tidak mengandung Rhodamin B. Pengolahan data secara deskriptif akan ditampilkan dengan presentase (Suhermin Ari P,2012). Hasil pemeriksaan sensitivitas dapat dimasukkan dengan rumus [PB/(PB+NF)], spesifitas [NB/(PS+NB)], nilai prediksi positif [PB/(PB+PS)], nilai prediksi negatif [NB/ (NF+NB)]. HASIL DAN PEMBAHASAN Penambahan zat pewarna sintetis pada makanan umumnya untuk alasan mengembalikan warna yang hilang atau rusak selama pengolahan serta membuat makanan terlihat lebih menarik,
4

sehingga bisa membangkitkan selera orang untuk memakannya. Zat warna sintetis juga membuat makanan terkesan lebih alami dan segar seperti keadaan aslinya, padahal sebenarnya hanya artifisial atau buatan (Desi Wijaya, 2011: 28). Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organic sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu persenyawaan antara dulu yang kadang-kadang berbahaya dan seringkali tertinggal dalam hal akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen tidak boleh lebih dari 0,0004 persen, kandungan timbal tidak boleh lebih dari 0,0001 dan logam berat lainnya tidak boleh ada (Wisnu Cahyadi, 2009: 63). Berdasarkan sifat kelarutannya, zat pewarna makanan dikelompokkan menjadi dua, yaitu dye dan lake. Dye umumnya bersifat larut dalam air dan biasanya dijual di pasaran dalam bentuk serbuk, butiran, pasta, atau cairan. Sedangkan lake merupakan gabungan antara zat tertentu. Saat ini sudah puluhan pewarna sintetis yang digunakan pada hampir di seluruh industri makanan. Penggunaan zat warna sintetis dalam jangka waktu yang panjang secara akumulatif akan menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi tubuh. Hal ini dikarenakan tubuh tidak dirancang untuk menangani zat-zat warna sintetis tersebut (Desi Wijaya, 2011: 29). Ide dari metode sederhana ini didasarkan pada kemampuan zat pewarna tekstil yang berbeda dengan zat pewarna pangan sintetis, diantaranya karena daya kelarutannnya dalam air yang berbeda. Zat pewarna tekstil seperti rhodamin B bersifat tidak larut air. Prinsip kerjanya adalah kromatografi kertas dengan pelarut air (PAM, destilasi, atau air sumur). Setelah zat pewarna diuji di ujung kertas rembesan (elusi), air dari bawah akan mampu menyerat zat-zat pewarna yang larut dalam air (zat pewarna pangan). Lebih jauh dibandingkan dengan zat pewarna tekstil. Cara kerja analisis ini adalah melarutkan suatu zat pewarna ke dalam air destilasi kemudian larutan tersebut diujikan (spot) pada 2 cm dari ujung kertas saring yang berukuran 20 x20 cm. Selanjutnya kertas saring tersebut dimasukkan ke dalam gelas yang telah diisi air secukupnya (diletakkan 1-1,5 cm dari dasar gelas). Air akan terhisap secara kapiler atau

merembes ke atas, dan air dibiarkan merembes sampai tinggi gelas. Kertas saring diangkat dan dikeringkan di udara. Jika mengandung zat pewarna rhodamin B maka zat pewarna tersebut tidak akan naik dari kertas saring. Bila akan menganalisis zat pewarna yang terdapat dalam pangan, harus diekstraksi dulu hingga mendapat larutan dengan konsentrasi 1gr/l larutan zat pewarna. Berikut ini merupakan hasil dengan metode kertas saring: Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa 5 sampel (25%) makanan positif mengandung rhodamin B dan 15 sampel (75%) makanan negatif. Makanan yang positif mengandung rhodamin B adalah bolu kukus II, kue moho, kue ku I, kue ku II, dan cenil. Hal tersebut terbukti bahwa spot makanan yang positif mengandung rhodamin B tetap pada tempatnya setelah kertas saring dicelupkan dalam air. Sedangkan sampel yang tidak mengandung rhodamin B didapatkan pada kertas saring tidak tampak warna pada spot. Namun hal tersebut perlu diujikan pada metode kromatografi untuk mendapatkan hasil yang baik. Kromatografi lapis tipis (KLT) telah banyak digunakan pada analisis pewarna sintetik. KLT merupakan metode pemisahan yang lebih mudah, cepat, dan memberikan resolusi yang lebih baik dibandingkan kromatografi kertas. Kromatografi Lapis Tipis dapat digunakan untuk memisahkan berbagai senyawa seperti ion-ion organik, kompleks senyawa-senyawa organik dengan anorganik, dan senyawa-senyawa organik baik yang terdapat di alam dan senyawasenyawa organik sintetik. Pada hakekatnya KLT melibatkan dua fase yaitu fase diam (sifat lapisan) dan fase gerak (campuran larutan pengembang). (Anonim, 2004). Berikut merupaka hasil dari identifikasi menggunakan kromatografi: Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa 8 sampel (40%) makanan positif mengandung rhodamin B dan 12 sampel (60%) makanan negatif. Sampel positif dapat dilihat adanya warna pada kertas kromatografi lapis tipis yang sejajar dengan baku pembanding dari rhodamin B. Sampel makanan yang positif mengandung rhodamin b adalah bolu kukus II, kue moho, getuk I, getuk II, cendol, apem, dadar gulung, dan kue ketela.sedangkan warna yang negatif, tampak pada kertas kromatografi tidak muncul warna ataupun jika muncul warna merah akan lebih tinggi dari warna rhodamin B. Rhodamin B merupakan zat warna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam produk-produk pangan. Rhodamin B bersifat karsinogenik sehingga dalam penggunaan jangka
5

panjang dapat menyebabkan kanker. Uji toksisitas rhodamin B telah dilakukan terhadap mencit dan tikus dengan injeksi subkutan dan secara oral. Rhodamin B dapat menyebabkan karsinogenik pada tikus ketika diinjeksi subkutan, yaitu timbul sarcoma lokal. Sedangkan secara IV didapatkan LD50 89,5 mg/kg yang ditandai dengan gejala adanya pembesaran hati, ginjal, dan limfa diikuti perubahan anatomi berupa pembesaran organnya (Merck Index, 2006). Pewarna sintetis tidak dapat digunakan secara sembarangan. Di Negara maju, pewarna sintetis ini harus melalui proses sertifikasi terlebih dahulu sebelum digunakan pada bahan makanan, sehingga sering disebut certified color. Proses sertifikasi ini meliputi pengujian kimia, biokimia, toksikologi, dan analisis media terhadap zat warna tersebut. Di Amerika Serikat penggunaan zat warna sintetis telah diatur sekitar tahun 1906 dengan nama FDA (Food and Drug Administration). Di Indonesia, peraturan penggunaan zat warna sintetis mulai dibuat pada tahun 1973 melalui SK Menkes RI No. 11332/73/ SK. Sedangkan peraturan tentang zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur melalui SK Menteri Kesehatan RI Nomor 722/ Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan pangan (Wisnu Cahyadi, 2009: 63). Berdasarkan laporan Direktorat Keamanan Pangan Indonesia, penyebaran KLB keracunan makanan menurut jenis pangan penyebab dari pangan jajanan pada tahun 2007 hanya 18 kasus, sedangkan pada tahun 2008 naik menjadi 31 kasus. Jumlah kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan yang dilaporkan Balai Besar/ Balai POM pada tahun 2007 di Semarang terdapat 15 buah sedangkan pada tahun 2008 menjadi 16 buah. Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, pengaruh zat pewarna sintetis relative merugikan kesehatan. Pengaruh tersebut terlihat jelas, khususnya pada anak-anak yang sering tertarik dengan makanan yang bewarnawarni. Terdapat peningkatan akademis dan penurunan masalah kedisiplinan siswa setelah bahan pangan yang mengandung pewarna sintetis dihilangkan dari makanan mereka. Dari hasil perbandingan antara metode kertas saring dengan metede kromatografi adalah Sensitivitas = (2/8) = 0,25 atau 25% Spesifitas = (9/12) = 0,75 atau 75% Nilai prediksi positif = (2/5) = 0,4 atau 40% Nilai prediksi negatif = (9/15) = 0,6 atau 60%

Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 3 (2) (2013)

Novie Retno Utami / Unnes Journal of Public Health 3 (2) (2013)

Tabel 1. Hasil identifikasi menggunakan kertas saring MAKANAN JAJANAN TRADISIONAL FREKUENSI PRESENTASE (%) Positif 5 25 Negatif 15 75 Total 20 100 Tabel 2 hasil identifikasi menggunakan metode kromatografi MAKANAN JAJANAN TRADISIONAL FREKUENSI PRESENTASE (%) Positif 8 40 Negatif 12 60 Total 20 100 Tabel 3 hasil sensitivitas menggunakan metode kertas saring dengan kromatografi Metode kromatografi kertas Total Positif Negatif Metode kertas saring Positif 2 3 5 Negatif 6 9 15 Total 8 12 20 Berdasarkan Tabel 3 untuk sensitivitas metode kertas saring terhadap metode kromatografi didapat dua buah dari delapan total positif-negatif sampel yang menggunakan metode kromatografi atau 25%. Sedangkan spesifitas didapatkan sembilan buah dari dua belas sampel total total positif-negatif yang menggunakan metode kromatografi atau 75%. Hasil nilai prediksi positif didapatkan dua buah dari lima hasil total positif-negatif menggunakan metode kertas saring atau 40%. Sedangkan nilai prediksi negatif didapatkan enam dari 15 sampel total total positif-negatif menggunakan metode kertas saring 60%. Hal tersebut menandakan bahwa metode sederhana menggunakan kertas saring tidak dapat digunakan sebagai acuan dalam percobaan identifikasi zat pewarna berbahaya karena hanya memiliki sensitivitas 25%. Bila hasil metode sederhana kertas saring didapatkan sensitivitas 25%, dengan demikian variabel ini tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi zat pewarna makanan rhodamin B pada makanan jajanan tradisional. Walaupun spesifitas tinggi yaitu 75% dengan nilai p 0,508, tetap belum memenuhi ketentuan untuk digunakan sebagai tolak ukur. Sensitivitas dari kertas saring rendah bisa diakibatkan beberapa alasan antara lain karena kualitas kertas yang jelek, kualitas baku banding dari rhodamin B yang tidak murni, dan kadar dari pewarna pada sampel makanan yang sedikit. Prosedur dalam pemeriksaan telah sesuai namun dari ketersediaan alat dan bahan
6

tradisional di Pasar Johar kota Semarang menggunakan metode kertas saring dan kromatografi kertas sebagai baku emas dapat disimpulkan bahwa sensitivitas metode kertas saring terhadap metode kromatografi didapat 25%. Hal tersebut menandakan bahwa metode sederhana menggunakan kertas saring tidak dapat digunakan sebagai acuan dalam percobaan identifikasi zat pewarna berbahaya. UCAPAN TERIMAKASIH Dosen beserta staf akademisi Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini. Kepala dan staf Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Yogyakarta yang telah memberi ijin dan membantu dalam melaksanakan penelitian . Bapak dan Ibu yang telah memberikan kasih sayang dan doa demi keberhasilan penelitian. Suami dan anakku yang telah memberikan semangat dan dorongan dalam menyelesaikan penelitian. DAFTAR PUSTAKA Ari Suhermin P, 2012, Pengukuran dan Statistik dalam Epidemiologi, http://berbagi. net/content/view/417/85/ diakses tanggal 12 Oktober 2012. Balai Besar POM Semarang, 2008, Laporan Tahunan, Semarang: Badan POM Republik Indonesia , 2009, Laporan Tahunan, Semarang: Badan POM Republik Indonesia , 2010, Laporan Tahunan, Semarang: Badan POM Republik Indonesia Cahyadi Wisnu, 2009, Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, Jakarta: Bumi Aksara.

Eko Azis Hastomo, 2008, Analisis Rhodamin B Dan Metanil Yelow Dalam Jelly Di Pasar Kecamatan Jebres Kotamadya Surakarta Dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis, Skripsi: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Haslina, 2004, Nilai Gizi, Daya Cerna Protein dan Daya Terima Patilo sebagai Makanan Jajanan yang di Perkaya dengan Hidrolisat Protein Ikan Mujair, Tesis: Universitas Negeri Diponegoro Semarang. Himam Sohibul H, 2008, Kromatografi Lapis Tipis , http: //d4him. files. Wordpres com/2009/02/paper-kromatografi-lapis-tipis. pdf diakses 6 Februari,2013 Merck Index, 2006, Chemistry Constant Companion, Now with a New Additon, Ed 14Th, 1410, 1411, Merck & Co., Inc, Whitehouse Station, NJ, USA. Sistem keamanan pangan terpadu, http :// www. Pom .go. id/ surv/ events/ foodwatch %20 1st%20edition.pdf, diakses tanggal 5 Mei 2011 SNI 01-2895-1992, http://sisni.bsn.go.id/ index.php?/sni_main/sni/detail_sni/3285 diakses tanggal 5 Mei 2011. Soekidjo Notoadmojo, 2005, Metodologi Penelitian dan Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Tata-tata kerjapuskesmas, Monday, 18 February 2013, http: // puskesmasprimaryhealthcare.wordpress.com/ author/puskesmasprimaryhealthcare/pages2/ diakses tgl 19 Februari 2013 Utami Wahyu dan Suhendi Andi, 2009, Analisis Rhodamin B Dalam Jajanan Pasar Dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis, Jurnal Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 10, No. 2, 2009: 148 155. Wijaya Desi, 2011, Waspada Zat aditif dalam Makananmu (Inilah Biang Kerok Beragam Serangan Penyakit Mematikan), Yogyakarta, Buku Biru

seperti kertas saring yang memiliki kapilaritas yang rendah. Kertas saring yang lebih baik seperti kertas whatman ,namun harganya lebih mahal dibandingkan dengan kertas saring biasa. Ketersediaan bahan banding rhodamin B yang tidak murni dan terdapat campuran zat lain dapat mempengaruhi hasil penyerapan. Pewarna rhodamin B yang murni yaitu tidak mudah larut dalam air dan jika diuji pada kertas saring, maka tidak akan terserap tinggi seperti pewarna pangan. Ada pula zat pewarna non pangan lain yang berwarna merah pada makanan selain rhodamin B yang dapat mempengaruhi hasil penyerapan pada kertas saring. Selain itu, kadar zat pewarna dalam makanan yang sedikit juga dapat mempengaruhi dalam identifikasi pada kertas saring. Dari segi spesifitas metode kertas saring menghasilkan 75% yang mendekati perkiraan yaitu 80%, berarti kemampuannya sangat baik dalam memperkirakan sampel makanan tidak mengandung rhodamin. Kromatografi sebagai baku emas memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi dalam mengidentifikasi keberadaan pewarna rhodamin B dalam makanan jajanan tradisional meskipun dalam jumlah sedikit. Dalam memastikan keberadaan zat pewarna juga diperiksa di sinar UV 365nm. SIMPULAN Berdasarkan identifikasi adanya zat pewarna rhodamin B dalam makanan jajanan