Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Hipertensi merupakan penyakit kelainan metabolic kronik yang banyak ditemukan dalam masyarakat dan dihadapi pada pelayanan kesehatan. Penyakit ini dapat diturunkan dalam keluarga, tidak dapat disembuhkan, mempunyai sasaran organ tertentu yaitu jantung, otak, mata, dan ginjal. Tanpa penanganan yang adekuat akan berakhir dengan komplikasi kematian. Hipertensi adalah penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup sehingga yang berperan dalam pengelolaannya tidak hanya dokter, perawat, dan ahli gizi tetapi akan lebih baik melibatkan pasien dan keluarganya. Dengan adanya penyuluhan kepada pasien dan keluarganya akan membantu keikutsertaan mereka dalam usaha memperbaiki hasil pengelolaan hipertensi. Pelayanan kedokteran dengan pendekatan keluarga merupakan gabungan antara pelayanan kedokteran dan pendekatan keluarga. Pengertian pelayanan keluarga adalah pelayanan yang dilakukan oleh dokter yang berwenang sesuai dengan latar belakang pendidikannya di bidang kedokteran, baik yang diajalankan sendiri ataupun bersama dalam organisasi, dengan cara memelihara, meningkatkan kesehatan, mencegah, memberikan tindakan yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan untuk menyembuhkan dan menyelesaikan masalah kesehatan dari pengguna jasa individu, keluarga dan ataupun kelompok komunitas. Keadaan dan masalah penderita hipertensi, melibatkan dokter sebagai pemberi jasa, benar benar dituntut untuk memberikan pelayanan sesuai dengan cara cara yang digariskan dalam pengertian diatas. Di pihak lain pengguna jasa berkewajiban pula untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan secara perorangan, keluarga, dan lingkungannya. Oleh karna itu dalam penatalaksanaan hipertensi dibutuhkan bukan semata mata pendekatan organobiologik namun juga pendekatan keluarga. 1.2 EPIDEMIOLOGI

Ada beberapa jenis hipertensi atau yang biasa disebut dengan tekanan darah tinggi. Jenis jenis penyakit darah tinggi yang umum terjadi ada 2 yakni Tekanan darah tinggi Primer dan Sekunder.

Sedangkan empat jenis lainnya sangat jarang terjadi namun tetap perlu diwaspadai. Keempat jenis hipertensi yang jarang ditemukan adalah Hipertensi Maligna, Hipertensi Sistolik Terisolasi, White Coat Hypertention, dan Hipertensi Resisten. Tekanan Darah Tinggi Primer Hampir 95% dari semua kasus hipertensi yang ditemukan adalah tekanan darah tinggi Primer atau disebut juga Hipertensi Esensial. Penyebabnya adalah gabungan dari beberapa faktor yakni gen, gaya hidup, berat badan, dan lainnya. Biasanya dokter menyarankan untuk melakukan modifikasi pada gaya hidup dan pola makan. Jika perubahan gaya hidup tidak menurunkan tekanan darah, dokter biasanya akan memberikan obat-obatan untuk menormalkan tekanan darah. Tekanan Darah Tinggi Sekunder Hipertensi sekunder disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor penyebab hipertensi sekunder yang paling umum adalah kerusakan dan disfungsi ginjal. Penyebab lainnya adalah tumor, masalah pada kelenjar tiroid, kondisi selama kehamilan, dan lain lain. Biasanya hipertensi jenis ini bisa disembuhkan jika penyebabnya lebih dulu disembuhkan. Tekanan Darah Tinggi Maligna Ini adalah jenis hipertensi yang paling parah dan cepat berkembang. Hipertensi maligna sangat cepat untuk merusak organ dalam tubuh. Jika dalam lima tahun hipertensi maligna tidak diobati, konsekuensinya adalah kematian yang disebabkan oleh kerusakan otak, jantung, dan gagal ginjal. Namun, hipertensi jenis ini dapat diobati dengan catatan pengobatan dilakukan secara intensif dan berkelanjutan. Seseorang yang menderita hipertensi jenis ini merasakan kebas di sekujur tubuh, penglihatan kabur, kecemasan, dan sangat kelelahan. Tekanan Darah Tinggi Sistolik Terisolasi Jenis hipertensi ini disebabkan oleh umur, mengonsumsi tembakau, diabetes, dan diet yang salah. Pada hipertensi ini, arteri menjadi kaku sehingga menyebabkan sistolik (tekanan darah saat jantung berkontraksi) sangat tinggi sedangkan diastolik (tekanan darah saat jantung istirahat) normal. White Coat Hypertension Hipertensi jenis ini hanya terjadi jika pasien sedang berada di pusat klinik atau rumah sakit. Jenis tekanan darah tinggi ini disebabkan oleh kegugupan saat akan diperiksa oleh pihak rumah sakit. Di luar rumah sakit, tekanan darah pasien ini sangat normal. Jika terjadi hal yang sama dalam pemeriksaan ulang maka jenis hipertensi ini tidak perlu diobati. Hipertensi Resisten Penderita hipertensi resisten tidak merespon obat apapun lagi. Hipertensi dikatakan resisten jika 3 jenis obat tidak sanggup menurunkan tekanan darah. Maka diperlukan 4 macam jenis obat untuk menurunkan tekanan darah.

Dari enam jenis hipertensi yang ada memang hanya dua jenis yang paling sering ditemukan. Namun perlu dilakukan pemeriksaan yang akurat untuk mengetahui jenis hipertensi

1.3 TUJUAN PENULISAN Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk pelayanan kedokteran dengan pendekatan keluarga pada penderita hipertensi. Salah satunya dengan menganalisis penyebab, prilaku atau gaya hidupnya apakah telah mendukung pengobatan farmakologik atau tidak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 DEFINISI Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, gagaL jantung dan aneurisma arterial, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis.

Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik), angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan sebagai "normal". Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. 2.2 KLASIFIKASI Untuk menilai apakah seseorang itu menderita penyakit hipertensi atau tidak haruslah ada suatu standar nilai ukur dari tensi atau tekanan darah. berbagai macam klasifikasi hipertensi yang digunakan di masing-masing negara seperti klasifikasi menurut Joint National Committee 7 (JNC 7) yang digunakan di negara Amerika Serikat, Klasifikasi menurut Chinese Hypertension Society yang digunakan di Cina, Klasifikasi

menurut European Society of Hypertension (ESH) yang digunakan negara-negara di Eropa, Klasifikasi menurut International Society on Hypertension in Blacks (ISHIB)yang khusus digunakan untuk warga keturunan Afrika yang tinggal di Amerika. Badan kesehatan dunia, WHO juga membuat klasifikasi hipertensi. Di Indonesia sendiri berdasarkan konsensus yang dihasilkan pada Pertemuan Ilmiah Nasional Pertama Perhimpunan Hipertensi Indonesia pada tanggal 13-14 Januari 2007 belum dapat membuat klasifikasi hipertensi sendiri untuk orang Indonesia. Hal ini dikarenakan data penelitian hipertensi di Indonesia berskala nasional sangat jarang. Karena itu para pakar hipertensi di Indonesia sepakat untuk menggunakan klasifikasi WHO dan JNC 7 sebagai klasifikasi hipertensi yang digunakan di Indonesia. Klasifikasi Hipertensi menurut WHO Kategori Sistol (mmHg) Diastol (mmHg) Optimal < 120 < 80 Normal < 130 < 85 Tingkat 1 (hipertensi ringan) 140-159 90-99 Sub grup : perbatasan 140-149 90-94 Tingkat 2 (hipertensi 160-179 100-109 sedang) Tingkat 3 (hipertensi berat) 180 110 Hipertensi sistol terisolasi 140 < 90 Sub grup : perbatasan 140-149 < 90 Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7 Kategori Sistol (mmHg) Dan/atau Diastole (mmHg) Normal <120 Dan <80 Pre hipertensi 120-139 Atau 80-89 Hipertensi tahap 1 140-159 Atau 90-99 Hipertensi tahap 2 160 Atau 100 Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia Kategori Normal Pre hipertensi Hipertensi tahap 1 Hipertensi tahap 2 Sistol (mmHg) <120 120-139 140-159 160 Dan/atau Dan Atau Atau Atau Diastole (mmHg) <80 80-89 90-99 100

Hipertensi sistol terisolasi

140

Dan

< 90

Mengingat pengukuran tekanan darah mudah dilakukan dan karakteristik penduduk Indonesia berbeda dengan penduduk lainnya maka sudah seharusnya Indonesia memiliki klasifikasi hipertensi sendiri.

2.3 PATOGENESIS

MEKANISME HIPERTENSI Renin adalah suatu enzim protein yang dilepaskan oleh ginjal bila tekanan arteri turunsangat rendah.kemudian, enzim ini meningkatkan tekanan arteri melalui beberapa cara,jadimembantu mengoreksi penurunan awal tekanan.Renin di sintesis dan di simpan dalam bentuk inaktif yang disebut prorenin didalam sel-sel jukstoglomerular (sel JG) Di ginjal.sel JG merupakan modifikasi dari sel otot polos yangterletak di dinding arteriol aferen,tepat di proksimal glomeruli. Bila tekanan arteri turun, reaksiintrinsic didalam ginjal itu sendiri menyebabkan banyak molekul prorenin didalam sel JG teruraidan melepaskan renin.Rennin bekerja secara enzimatik pada protein plasma lain,yaitu suatu globulin yangdisebut substrat rennin (atau angiotensinogen), untuk melepaskan peptida asam amino-10, yaitu angiotensin I . Angiotensin I memiliki sifat vasokonstriktor yang ringan tetapi tidak cukup untuk menyebabkan perubahan fungsional yang bermakna dalam fungsi sirkulasi. Renin menetapdalam darah selama 30 menit sampai 1 jam dan terus menyebabkan pembentukan angiotensin Iselama waktu tersebutDalam beberapa detik setelah pembentukan angiotensin I, terdapat dua asam aminotambahan yang memecah dari angiotensin untuk membentuk angiotensin II peptida asamamino-8. Perubahan ini hampir seluruhnya terjadi selama beberapa detik sementara darahmengalir melalui pembuluh kecil pada paru-paru, yang dikatalisis oleh suatu enzim, yaitu enzimpengubah, yang terdapat di endotelium pembuluh paru yang disebut Angiotensin Converting Enzyme (ACE). Angiotensin II adalah vasokonstriktor yang sangat kuat, dan memiliki efek-efek lain yang juga mempengaruhi sirkulasi. Angiotensin II menetap dalam darah hanya selama 1 atau2 menit karena angiotensin II secara cepat akan diinaktivasi oleh berbagai enzim darah danjaringan yang secara bersama-sama disebut angiotensinaseSelama angiotensin II ada dalam darah, maka angiotensin II mempunyai dua pengaruhutama yang dapat meningkatkan tekanan arteri. Pengaruh

yang pertama, yaitu vasokontriksi,timbul dengan cepat. Vasokonstriksi terjadi terutama pada arteriol dan sedikit lebih lemah padavena. Konstriksi pada arteriol akan meningkatkan tahanan perifer, akibatnya akan meningkatkantekanan arteri. Konstriksi ringan pada vena-vena juga akan meningkatkan aliran balik darah venake jantung, sehingga membantu pompa jantung untuk melawan kenaikan tekanan.Cara utama kedua dimana angiotensin meningkatkan tekanan arteri adalah denganbekerja pada ginjal untuk menurunkan eksresi garam dan air.Pengaruh lain angiotensin II adalah perangsangan kelenjar adrenal, yaitu organ yangterletak diatas ginjal, yang membebaskan hormon aldosteron. Hormon aldosteron bekerja pada tubula distal nefron, yang membuat tubula tersebut menyerap kembali lebih banyak ion natrium(Na+) dan air, serta meningkatkan volume dan tekanan darah.

2.4 DASAR DIAGNOSIS a. - Keluhan Pasien: sakit kepala, sesak napas, berdebar

2.5 KOMPLIKASI Dalam perjalannya penyakit ini termasuk penyakit kronis yang dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi antara lain : Stroke Gagal jantung Ginjal Mata Hubungan stroke dengan hipertensi dapat dijelaskan dengan singkat, bahwa tahanan dari pembuluh darah memiliki batasan dalam menahan tekanan darah yang datang. Apalagi dalam otak pembuluh darah yang ada termasuk pembuluh darah kecil yang otomatis memiliki tahanan yang juga kecil. Kemudian bila tekanan darah melebihi kemampuan pembuluh darah, maka pembuluh darah ini akan pecah dan selanjutnya akan terjadi stroke hemoragik yang memiliki prognosis yang tidak baik. Dengan demikian kontrol dalam penyakit hipertensi ini dapat dikatakan sebagai pengobatan seumur hidup bilamana ingin dihindari terjadinya komplikasi yang tidak baik. 2.6 PENATALAKSANAAN Dalam mengelola penyakit hipertensi ini, mempunyai tujuan untuk dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Tujuan terapi adalah mempertahankan tekanan sistolik dibawah 140 mmHg dan tekanan

diastolik di bawah 90 mmHg juga mengontrol faktor resiko. Dan hal ini dapat terjadi dengan modifikasi gaya hidup dan atau pemberian obat antihipertensi : Langkah-langkah yang dianjurkan untuk merupah gaya hidup antara lain : Menurunkan berat badan bila terdapat kelebihan berat-badan. Membatasi/menghilangkan alkohol. Meningkatkan aktifitas fisik aerobik (30-45 menit/hari) Diet Berhenti merokok dan mengurangi asupan lemak dalam makanan. Sedang penggunaan obat-obatan dapat diberikan baik itu dosis tunggal maupun kombinasi. Macam obat antihipertensi yaitu : ACE Inhibitor Beta bloker Calsium antagonis Diuretika

BAB III KASUS DAN ANALISIS KASUS 3.1 PROFIL PUSKESMAS Pada kasus ini kami mengobservasi pasien hipertensi dalam wilayah kerja PKM Dahlia yang bertempat di jalan seroja no 3 (0411- 838303) . Wilayah kerja puskesmas tersebut meliputi 4 kelurahan yaitu kampong Buyang, mattoanging, Bontomarannu, dan tamarunang, yang total penduduknya 19.139 jiwa. Puskesmas ini memiliki 23 tenaga kerja dan 90 kader aktif dari 111 kader kesehatan. Puskesmas ini memiliki layanan pokok yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 3.2 KASUS A. IDENTITAS Nama pasien : Bp. Suradi dan ibu Murba (suami istri) Umur : 67 th (suradi) dan 63 th (Murba) Kuratif Kesehatan ibu dan anak Promosi kesehatan Kizi Kesehatan lingkungan Surveillance ( Pencegahan Penyakit)

Agama : Islam Pekerjaan : Pensiunan dan IRT TB / BB : - Bp. Suradi : 162 cm / 70 kg - Ibu Murba : 154 cm / 60 kg Tekanan darah : Bp. Suradi : 160/110 (HT sejak 2007) - Ibu Murba : 150/100 (HT sejak 2008) Alamat : No RM : Tanggal Kunjungan : B. ANAMNESIS Keluhan utama : Kontrol Tekanan Darah Keluhan tambahan : tidak ada Riwayat penyakit sekarang: penderita datang untuk control tekanan darah, kegiatan ini sudah sering dilakukan ( seminggu 2 kali ) setelah penderita didiagnosis hipertensi. Penderita mengeluh kadang kadang sakit kepala, pusing, dan berdebar debar . Pasien tidak merasa ada penyakit lain di dirinya. Riwayat penyakit terdahulu : pasien mengaku tidak pernah merasakan ada penyakit lain, pernah di suspek asam urat namun beliau merasa sembuh setelah meminum obat obatan tradisional. Silsilah keluarga : keluarga ini terdiri dari pasangan suami istri dengan empat anak dan tujuh cucu. Riwayat penyakit keluarga : istri juga menderita hipertensi dan hemorroid, menurut pengakuan pasien selain itu tidak ada anggota keluarga yang lain yang mengalami hipertensi. Lifestyle pasien : pasien berolahraga tiap hari ,menjaga pola makan, tidur dan istirahat teratur, menghindari stress, dan tidak merokok. C. PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran umum : baik Vital sign : tekanan darah pak suradi : 160/110 ; ibu murbah : 150/100 TB/BB : pak suradi : 162 cm / 70 kg ; ibu Murba : 154 cm/ 60 kg

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Belum pernah dilakukan E. DIAGNOSIS : Hipertensi F .DIAGNOSIS BANDING : Penyakit Jantung Koroner G. TERAPI Perencanaan Pengobatan : Berdasarkan hasil investigasi dan perhitungan bmi pak Suradi yakni : 70/(1,62)2= 26, 7 ( Gol obese 1 ) dan ibu Murbah yakni : 60/(1,54)2 = 25,3 (Gol obese 1) Edukasi : pengetahuan tentang hipertensi termasuk faktor resiko, penyebab, gejala, dan komplikasi yang dapat ditimbulkan. Pengaturan diet : pasien dianjurkan diet rendah garam dan rendah lemak Saran untuk medical check up : gula darah, HDL/LDL, asam urat, kreatinin, SGOT/SGPT, EKG Terapi obat : 1. nifedipine Dosis : Dosis tunggal : 5-10 mg. Dosis rata-rata : 5-10 mg, 3 kali sehari. Interval di antara 2 dosis pemberian tidak kurang dari 2 jam. 2. Vitamin H. FOLLOW UP

Cek tanda tanda vital Cek gejala sebelumnya Cek hasil lab Planning : 1. Kalau berhasi pertahankan terapi 2. kalau tidak berhasil : - cari dan tangani factor lainnya - tambahkan dosis obat - konsul

3.3 ANALISIS KASUS

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 KESIMPULAN 4.2 SARAN a. Mahasiswa : memahami dan lebih mengerti dari kasus yang ada serta dapat mengambil manfaatnya. Dapat membandingkan kasus yang diperoleh antara teori dan praktek serta dapat memberikan solusinya bagi anggota keluarga penderita. Menimbulkan kesadaran pada pasien akan pentingnya pemeriksaan rutin ke pelayanan kesehatan. Selain itu meningkakan profesionalisme mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat. b. Puskesmas : puskesmas diharapkan tetap melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui penyuluhan dalam usaha promotif dan preventif kesehatan masyarakat khususnya penyakit penyakit yamg dapat menimbulkan komplikasi. Selain itu puskesmas bersama mahasiswa dapat selalu memantau kemajuan pasien terutama mengenai pengobatan hipertensi pada penderita tersebut. DAFTAR PUSTAKA