Anda di halaman 1dari 120

PENGEMBANGAN WISATA HUTAN

DI KAWASAN HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

FAUZAL BUDHI HANDOYO


41205425111059

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


PEMINATAN KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS NUSA BANGSA 2013

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan skripsi yang berjudul Pengembangan Wisata Hutan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat adalah karya saya dengan arahan dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau di kutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah di sebutkan dalam teks dan di cantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Depok, Maret 2013

Fauzal Budhi Handoyo 41205425111059

ABSTRAK
FAUZAL BUDHI HANDOYO. Pengembangan Wisata Hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Dibimbing Oleh Dosen Pembimbing I : Unu Nitibaskara dan Dosen Pembimbing II : Ricky Avenzora. Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat ditetapkan menjadi kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) untuk hutan pendidikan dan latihan yang pengelolaannya diberikan kepada Fakultas Kehutanan IPB. Keanekaragaman jenis flora dan fauna di HPGW menjadi daya tarik utama yang ditunjang oleh lansekap alam gejala alam menarik seperti Goa Cipeureu yang menjadi obyek unggulan. Penilaian daya tarik objek dengan menggunakan metoda Avenzora (2008) menyatakan bahwa berbagai potensi pada Hutan Pendidikan Gunung Walat ini memiliki nilai yang baik sampai dengan sangat baik. Ketersediaan prasarana, sarana, dan fasilitas di HPGW yang memadai merupakan aspek penting dalam mendukung pelaksanaan kegiatan wisata hutan. Pengunjung atau wisatawan berdasarkan hasil kuesioner menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung atau wisatawan yang datang ke HPGW didominasi oleh laki-laki, berusia 21 30 tahun, dan kedatangan nya dilakukan bersama teman. Pengembangan yang dilakukan di kawasan HPGW menggunakan teknik Visitor Activity Management Program (VAMP) yang merupakan sistem manajemen yang berusaha mengubah orientasi dari produk kepada orientasi pemasaran dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Konsep ini ditunjang dengan berbagai program-program Wisata Hutan yang menarik. Program wisata yang dirancang seperti Tracking With Outbound Recreation (TWOR), AC, HPGW The Soul of Nature, Re-Foe (Recreation and Forester Education). Potensi dan sumberdaya wisata serta program wisata dikemas dalam rancangan media promosi berupa booklet dengan harapan menjadi suatu media promosi HPGW yang tepat sehingga dapat memperkenalkan potensi dan menarik minat pembaca untuk berkunjung ke HPGW. Pengembangan Wisata Hutan di HPGW akan semakin mudah pelaksanaannya dengan melakukan upaya meminimalisir ketidaksiapan beberapa aspek tertentu dalam kawasan, masyarakat, dan pengelola. Kata kunci: kawasan hutan pendidikan gunung walat, pengembangan, potensi wisata dan program wisata.

ABSTRACT FAUZAL BUDHI HANDOYO. Gunung Walat Educational Forest Development, Sukabumi, West Java. Under direction of UNU NITIBASKARA and RICKY AVENZORA. Gunung Walat Educational Forest (HPGW) set into the forest area with special purposes, for education and training. Development of this area is given to the Faculty of Forestry IPB for unlimited period of time. Natural diversity in HPGW become main attraction which is supported by an attractive natural landscape, and natural phenomena, such as Goa Cipeureu as the featured objects. Tourism resources assessment by Avenzoras method (2008) shows that the potensial resources in HPGW categorized as good to very good value. Availability of infrastructure, facilities, and adequate facilities in HPGW is an important aspect in supporting the implementation of Forest Tourism. Visitors or tourists based on the results of the questionnaire, showed that the characteristics of the visitors or tourists who come to HPGW dominated by men, aged 21-30 years, and accompanied with friends. Development carried out in the region used Visitor Activity Management Program (VAMP) technique, which is a management system that seeks to change the orientation of the products to the marketing orientation with an emphasis on meeting the needs and desires of consumers. This concept is supported by a variety of exciting programs Forest Tourism. The program is designed as a tourist Tracking With Outbound Recreation (TWOR), "Awakening Camp (AC)", "HPGW The Soul of Nature", "Re-Foe" (Recreation Forest and Education). Resources, tourism programs is package in the form of booklet as the media campaign. The development of this area will be easier implemented by minimizing the problems of some aspects. Keywords: Gunung Walat Educational Forest, development, tourism potential and tourism programs

RINGKASAN
FAUZAL BUDHI HANDOYO. Pengembangan Wisata Hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing I : Unu Niti Baskara dan Dosen Pembimbing II : Ricky Avenzora. Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan pengelolaannya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.008/Kpts/DJ/I/73 sebagai hutan pendidikan dan secara struktural berada dibawah Unit Kebun Percobaan IPB (Fahutan IPB). Hutan ini berfungsi sebagai hutan pendidikan dan pelatihan (hutan diklat) yang juga berfungsi sebagai kawasan pendidikan, kawasan penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat dan juga sebagai bentuk dari aplikasi dan implementasi tri dharma dari pendidikan tinggi. Kegiatan Penelitian merupakan upaya pengkajian potensi wisata yang dilakukan pada Hutan Pendidikan Gunung Walat yang terdapat di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Obyek penelitian tersebut adalah kawasan hutan di HPGW yang akan dirancang strategi pengembangan wisata hutan pada kawasan tersebut. Pengembangan wisata hutan di HPGW memiliki empat tujuan, yaitu (1) mengetahui potensi dan sumberdaya wisata, baik wisata alam maupun wisata budaya saat ini, (2) mengetahui karakteristik, motivasi, persepsi, dan minat pengunjung atau wisatawan terhadap sumberdaya wisata, (3) mengetahui kesiapan masyarakat dan pengelola dalam pengembangan wisata hutan, (4) merancang konsep ekowisata serta suatu program wisata harian, program wisata bermalam, dan event tahunan serta desain media promosi wisata berupa booklet tentang hutan wisata di Hutan Pendidikan Gunung Walat. Pengelolaan kawasan hutan gunung walat yang luasan nya lebih kurang 359 Ha dilaksanakan oleh Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dengan status hak pakai dimana dalam proses pengelolaan nya Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) bekerjasama dengan berbagai pihak, baik masyarakat setempat di sekitar kawasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Pusat, Perusahaan baik BUMN maupun swasta dan khusus nya Kementrian Kehutanan.

Keanekaragaman jenis flora yang ada ditemukan 20 jenis dari ratusan jenis flora yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat. Jenis flora tersebut diklasifikasikan menjadi empat klasifikasi yaitu pohon (13 jenis), perdu (5 jenis), terna (3 jenis) dan epifit (1 jenis). Jenis-jenis satwa liar yang ada di dalam HPGW diantaranya yaitu Musang, Monyet ekor panjang, Meong congkok, Tupai, Trenggiling, Kelinci liar, Bajing dan Babi hutan. Fauna lain yang terdapat pada kawasan ini adalah berbagai jenis burung diantaranya burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Emprit dan Kutilang. Potensi wisata lainnya adalah goa, lansekap, dan ruang terbuka. Semua potensi tersebut sangat menarik untuk dikemas dalam suatu bentuk rancangan program wisata hutan. Metode yang digunakan dalam pengembangan wisata hutan dilakukan dengan cara menginventarisasi berbagai potensi wisata di HPGW yaitu enam variabel esensial berupa: (1) ekologi, (2) sosial ekonomi, (3) sosial budaya, (4) pengunjung, (5) masyarakat, dan (6) institusi. Variabel essensial tersebut dilakukan investigasi dan analisa sehingga menghasilkan potensi wisata yang selanjutnya dilakukan penilaian dengan menggunakan tujuh indikator penilaian menurut Avenzora (2008) yaitu keunikan, kelangkaan, keindahan, sensitivitas, seasonality, aksesibilitas, dan fungsi sosial. Hasil penilaian potensi akan menghasilkan potensi unggulan HPGW. Potensi unggulan tersebut menjadi dasar pertimbangan dalam perancangan program wisata dan desain media promosi Wisata Hutan di HPGW. Potensi unggulan HPGW yaitu Goa Cipeureu yang dapat ditunjang oleh potensi pendukung lainnya untuk perancangan program wisata. Pengembangan Wisata Hutan di HPGW tidak hanya berdasarkan pada pertimbangan potensi dan sumberdaya wisata, melainkan juga pada aspek prasarana, sarana, dan fasilitas, motivasi dan persepsi pengunjung serta kesiapan masyarakat dan pengelola. Ketiga aspek tersebut menjadi penting dalam tahapan perencanaan agar konsep dan berbagai kebutuhan yang terkait dengan pengembangan wisata hutan di HPGW dapat terlaksana sesuai dengan hasil investigasi dan analisa potensi. Ketersediaan prasarana, sarana, dan fasilitas merupakan aspek penting dalam mendukung pelaksanaan kegiatan Wisata Hutan. Prasarana, sarana, dan fasilitas di di HPGW cukup memadai. HPGW telah memiliki prasarana, sarana dan fasilitas dasar dalam menunjang kegiatan rekreasi dan wisata seperti sarana transportasi laut,

fasilitas kesehatan, MCK, dan peribadatan. Akan tetapi perlu dilakukan pengelolaan yang baik terhadap prasarana, sarana, dan fasilitas tersebut sehingga kondisinya menjadi lebih baik. Pengunjung atau wisatawan berdasarkan hasil kuesioner menunjukkan bahwa karakteristik pengunjung atau wisatawan yang datang ke HPGW didominasi oleh laki-laki, berusia 21 30 tahun, dan kedatangan dilakukan bersama teman. Motivasi utama pengunjung atau wisatawan HPGW adalah untuk melaksanakan kegiatan edukasi dan penelitian. Aktivitas yang sering dilakukan pengunjung adalah foto-foto, duduk-duduk santai, menikmati keindahan bentang alam, mendengarkan suara burung berkicau dan mengunjungi goa Cipeureu, sedangkan persepsi mengenai berbagai fasilitas secara umum menilai puas terhadap fasilitas di kawasan. Masyarakat dan pengelola HPGW secara umum menyatakan setuju dan siap terhadap pengembangan wisata hutan. Kesiapan masyarakat dan pengelola terkait dengan dua aspek, yaitu partisipasi aktif seperti berjualan dan ikut aktivitas pengelolaan kawasan serta partisipasi pasif seperti berperilaku sopan dan ramah terhadap pengunjung. Pengembangan yang dilakukan di kawasan HPGW menggunakan teknik Visitor Activity Management Program (VAMP). Menurut Pitana dan Diarta (2009), VAMP merupakan sistem manajemen yang berusaha mengubah orientasi dari produk (misalnya objek dan wisatawan) kepada orientasi pemasaran dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Berdasarkan hal tersebut kemudian disusun program pengembangan dan pemasaran. Prosesnya diawali dari menyeting tujuan destinasi yang sesuai dengan kegiatan wisatawan, menganalisis karakteristik wisatawan dan mengembangkan beragam pilihan kegiatan dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan wisatawan sebagai konsumen. Konsep VAMP akan ditunjang dengan berbagai program Wisata Hutan yang menarik. Program wisata yang dirancang terdiri atas program wisata harian, program wisata menginap dan event tahunan. Setiap program yang dirancang mengacu kepada hasil penilaian sumberdaya wisata potensial dan keinginan pengunjung yang didapat dari hasil kuesioner serta tujuan yang ingin dicapai dari setiap program. Pada dasarnya program wisata yang ada dapat berjalan apabila berbagai kesiapan terhadap berbagai kebutuhan wisata telah terpenuhi dan memperoleh dukungan dari

masyarakat serta institusi karena semua itu merupakan dasar dalam penyelenggaraan kegiatan wisata. Program wisata yang dirancang seperti Tracking With Outbound Recreation (TWOR), AC, HPGW The Soul of Nature, Re-Foe (Recreation and Forester Education). Potensi dan sumberdaya wisata yang dimiliki oleh HPGW serta program wisata yang telah dirancang perlu dilakukan promosi dengan menggunakan media promosi. Media promosi yang digunakan yaitu berupa booklet dengan sasaran utama adalah berbagai usia. Booklet diharapkan menjadi media promosi HPGW yang tepat sehingga dapat memperkenalkan potensi dan menarik minat pembaca untuk berkunjung ke HPGW. Pengembangan Wisata Hutan di HPGW akan semakin mudah pelaksanaannya dengan melakukan upaya meminimalisir ketidaksiapan beberapa aspek tertentu dalam kawasan, masyarakat, dan pengelola. Masyarakat perlu dilakukan pembinaan dan pelatihan dalam mengelola kawasan untuk aktivitas wisata serta pengadaan fasilitas rekreasi perairan untuk menunjang keamanan dan keselamatan wisatawan sehingga aktivitas ekowisata dapat memberikan manfaat kesenangan sebenarnya bagi pengunjung, kesejahteraan bagi masyarakat dan institusi.

Kata Kunci: HPGW, Pengembangan Wisata Hutan, Program Wisata

Judul Skripsi

Pengembangan Wisata Hutan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Fauzal Budhi Handoyo 41205425111059 Kehutanan Konservasi Sumberdaya Hutan

Nama NIM Program Studi Peminatan

: : : :

Disetujui oleh :

Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Tb. Unu Nitibaskara.,Ir.,MM Tanggal :

Ricky Avenzora.,Dr,.Ir.,M.Sc.F Tanggal :

Diketahui oleh :

Dekan Fakultas Kehutanan

Kajur Program Studi Kehutanan

Tb. Unu Nitibaskara.,Ir.,MM Tanggal :

Tun Susdiyanti.,S.Hut.,M.Pd Tanggal :

Tanggal Lulus:

PRAKATA

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan petunjuk nya, sehingga penulis dapat menyusun Skripsi yang berjudul Pengembangan Wisata Hutan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Ir., Tb. Unu Nitibaskara.,M.M selaku dosen pembimbing I dan Bapak Dr.,Ir., Ricky Avenzora.,M.Sc.F selaku dosen pembimbing II. Bapak Ir. Budi Prihatno.,MS selaku Direktur Eksekutif HPGW, Bapak Dr.Ir. Gunawan Santosa selaku Direktur Program dan Pengembangan HPGW. Bapak Dizy Rizal selaku Manajer Sarana dan Pelayanan Jasa HPGW. Bapak Edy Nugroho dan Bapak Dadang Darusman selaku anggota unit Perlindungan Hutan HPGW yang telah memberikan dukungan kelancaran aktifitas penelitian. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada orang tua serta keluarga atas doa dan kasih sayangnya. Terakhir ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada mahasiswa Ekowisata IPB Angkatan 46 khususnya Iyat Sudrajat, 47 dan 48 yang memberikan doa, keceriaan, semangat dan dukungannya selama proses penulisan skripsi ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat.

Bogor, Maret 2013

Fauzal Budhi Handoyo

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 21 Juli 1981 di Bogor, Jawa Barat. Penulis merupakan anak dari pasangan Ayahanda Achmad Syafii dan Ibunda Sri Rahayu sebagai anak ke dua dari lima bersaudara. Pendidikan taman kanak-kanak dilalui di TK

Bhayangkari 62 Kelapa Dua Depok dari tahun 1985-1986. Pendidikan sekolah dasar dilalui di SDN Tugu IV Kelapa Dua Depok dari tahun 1987-1993. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Islam Yasma PB Soedirman Cijantung Jakarta Timur pada tahun 1993 dan lulus pada tahun 1996. Tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu sekolah menengah atas di SMU Pondok Karya Pembangunan (Jakarta Islamic School) dan menyelesaikan pada tahun 1999. Setelah pendidikan SMU diselesaikan pada tahun yang sama juga penulis diterima di IPB melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) pada Fakultas Kehutanan Program Diploma III Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, selama menjalani kuliah pada Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan penulis mengikuti beberapa praktik diantaranya: Praktik Umum dilaksanakan di (TNGGP) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sub seksi Selabintana pada tahun 2000. Kemudian Praktik Pengelolaan Konservasi yang dilaksanakan pada bulan Juli 2001 di (KBR) Kebun Binatang Ragunan, Jakarta Selatan. Kegiatan Praktik Kerja Lapang dilaksanakan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur pada tahun 2002 dan sebagai syarat kelulusan di Universitas Nusa Bangsa, penulis melaksanakan penelitian skripsi pada tahun 2012 di Hutan Pendidikan Gunung Walat Fakultas Kehutanan Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat dengan judul Pengembangan Wisata Hutan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dibawah bimbingan Bapak Tb Unu Nitibaskara.,Ir.,MM dan Bapak Ricky Avenzora,.Dr.Ir.,M.Sc.F

ii

DAFTAR ISI

PRAKATA.................................................................................................................... i DAFTAR ISI............................................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. vi DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................................. vii I. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 A. Latar Belakang .......................................................................................... 1 B. Tujuan ....................................................................................................... 2 C. Manfaat ..................................................................................................... 2 D. Kerangka Berfikir ..................................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 6 A. Pariwisata .................................................................................................. 6 1. Wisatawan ....................................................................................... 6 2. Motivasi dan Persepsi Wisatawan ................................................... 7 3. Objek dan Daya Tarik Wisatawan ................................................... 8 B. Ekowisata .................................................................................................. 9 C. Hutan Pendidikan .................................................................................... 11 1. Flora ............................................................................................... 12 2. Fauna ............................................................................................. 12 3. Gejala Alam ................................................................................... 12 D. Ruang Terbuka Hijau .............................................................................. 13 E. Potensi Wisata Spiritual .......................................................................... 13 F. Pengembangan ........................................................................................ 13 G. Produk Jasa (Product) ............................................................................. 15 H. Tarif Jasa atau Harga (price)................................................................... 16 I. Tempat atau Lokasi Pelayanan (place) ................................................... 16 J. Promosi (Promotion) .............................................................................. 17 K. Orang atau Partisipan (people)................................................................ 18 L. Sarana fisik (Physical Evidence) ............................................................ 19 M. Proses (Process) ...................................................................................... 19 KONDISI UMUM ............................................................................................ 20 A. Sejarah..................................................................................................... 20 1. Sejarah Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat ..................... 20 2. Sejarah Pengelolaan....................................................................... 22 B. Kondisi Fisik ........................................................................................... 23 1. Letak dan Luas .............................................................................. 23 2. Topografi dan Tanah ..................................................................... 23 3. Iklim dan Cuaca ............................................................................. 24 C. Kondisi Biotik ......................................................................................... 24 1. Fauna ............................................................................................. 24 2. Flora ............................................................................................... 25 D. Sumberdaya Wisata ................................................................................ 26 1. Amenitas ........................................................................................ 26 2. Atraksi Wisata ............................................................................... 27 iii

II.

III.

3. IV.

Potensi Wisata ............................................................................... 28

METODOLOGI ............................................................................................... 33 A. Waktu dan Lokasi ................................................................................... 33 B. Alat dan Objek Penelitian ....................................................................... 33 C. Jenis Data, Metode Pengambilan Data, dan Analisis Data. .................... 34 D. Metode Pengambilan Data ...................................................................... 34 1. Studi Literatur ................................................................................ 34 2. Observasi Lapang .......................................................................... 34 3. Penyebaran Kuesioner ................................................................... 35 E. Analisis Data ........................................................................................... 35 1. Analisis deskriptif kualitatif .......................................................... 35 2. Analisis Deskriptif Kuantitatif ...................................................... 35 F. Metode Penyusunan Media Promosi Wisata .......................................... 36 G. Tahapan Pengerjaan ................................................................................ 38 HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 40 A. Kondisi Saat Ini (Existing Condition) ..................................................... 40 B. Potensi Objek Wisata Kawasan HPGW ................................................. 42 1. Potensi Objek Wisata Alam........................................................... 42 2. Ruang Terbuka Hijau .................................................................... 50 3. Potensi Objek Wisata Spiritual ...................................................... 51 4. Potensi Objek Wisata Buatan ........................................................ 51 C. Nilai Potensi Objek Wisata ..................................................................... 51 1. Penilaian Potensi Obyek Wisata Alam .......................................... 52 2. Ruang Terbuka Hijau .................................................................... 56 3. Nilai Potensi Objek Wisata Spiritual ............................................. 57 4. Nilai Potensi Objek Wisata Spiritual ............................................. 59 D. Karakteristik, Motivasi dan Persepsi serta Minat Wisatawan ................ 59 1. Karakteristik wisatawan ................................................................ 59 2. Motivasi Wisatawan ...................................................................... 61 3. Persepsi Wisatawan ....................................................................... 62 4. Minat Wisatawan ........................................................................... 63 E. Kesiapan dan Harapan Masyarakat ......................................................... 64 1. Kesiapan Masyarakat..................................................................... 65 2. Harapan Masyarakat ...................................................................... 66 F. Kesiapan, Persepsi dan Harapan Pengelola ............................................ 67 1. Kesiapan pengelola ........................................................................ 67 2. Persepsi pengelola ......................................................................... 68 3. Harapan pengelola ......................................................................... 68 G. Pengembangan Wisata Hutan ................................................................. 69 1. Rancangan Kegiatan Wisata .......................................................... 69 2. Rancangan Program Wisata .......................................................... 72 3. Rancangan Desain Booklet ............................................................ 74

V.

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................ 77 A. Kesimpulan ............................................................................................. 77 B. Saran ....................................................................................................... 78 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 80 LAMPIRAN............................................................................................................... 82 iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Potensi Wisata Kawasan HPGW ................................................................. 28 Tabel 2. Alat yang Digunakan dalam Melaksanakan Kegiatan Skripsi .................... 33 Tabel 3. Jenis Data, Metode Pengambilan dan Analisis Data ................................... 34 Tabel 4. Jenis Satwa yang dapat Dijumpai pada Kawasan HPGW ........................... 44 Tabel 5. Nilai Potensi Flora HPGW .......................................................................... 52 Tabel 6. Nilai Potensi Fauna di HPGW ..................................................................... 54 Tabel 7. Nilai potensi gejala alam HPGW ................................................................. 55 Tabel 8. Nilai potensi RTH HPGW ........................................................................... 57 Tabel 9. Nilai potensi objek wisata spiritual.............................................................. 58 Tabel 10. Karakteristik wisatawan HPGW ................................................................ 59 Tabel 11. Sumber informasi dan kejelasan informasi................................................ 61 Tabel 12. Persepsi Wisatawan HPGW ...................................................................... 62 Tabel 13. Minat Wisatawan HPGW .......................................................................... 63 Tabel 14. Minat wisatawan HPGW terhadap kegiatan wisata .................................. 63 Tabel 15. Kesiapan Masyarakat ................................................................................. 65 Tabel 16. Harapan masyarakat................................................................................... 66 Tabel 17. Kesiapan pengelola .................................................................................... 67 Tabel 18. Persepsi pengelola HPGW ......................................................................... 68 Tabel 19. Harapan pengelola ..................................................................................... 68

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka berpikir ...................................................................................... 5 Gambar 2. Kerangka pemikiran ................................................................................... 5 Gambar 3. Alur Kerangka Berfikir .............................................................................. 5 Gambar 4. Visi dan Misi HPGW ............................................................................... 22 Gambar 5. Peta Kawasan HPGW .............................................................................. 23 Gambar 6. Galian Babi .............................................................................................. 25 Gambar 7. Dominan Flora di Hutan Pendidikan Gunung Walat HPGW .................. 26 Gambar 8. Ruang Galeri Sonokeling ......................................................................... 27 Gambar 9. Atraksi Wisata Caving ............................................................................. 27 Gambar 10. Puncak TVRI ......................................................................................... 29 Gambar 11. Potensi Wisata Caving ........................................................................... 30 Gambar 12. Camping Ground .................................................................................... 31 Gambar 13. Toilet dan Jalan Setapak Camping Ground ........................................... 31 Gambar 14. Wisma Wolan 2 dan Wolan 1 ................................................................ 32 Gambar 15. Tahapan Pengerjaan .............................................................................. 39 Gambar 16. Aktivitas Pengunjung HPGW ................................................................ 41 Gambar 17. Monyet Ekor Panjang ............................................................................ 45 Gambar 18. Burung Perenjak Jawa dan Kutilang ...................................................... 46 Gambar 19. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) ................................................ 46 Gambar 20. Tupai kekes (Tupaia javanica) .............................................................. 47 Gambar 21. Kalajengking .......................................................................................... 47 Gambar 22. Tonggeret yang Sudah Mati ................................................................... 48 Gambar 23. Kadal kebun ........................................................................................... 49 Gambar 24. Motivasi Wisatawan di HPGW .............................................................. 62 Gambar 25. Minat Wisatawan terhadap Lama Program Wisata ............................... 64

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Flora dan Manfaatnya di HPGW ........................................................... 83 Lampiran 2. Alur Perancangan Program Wisata ....................................................... 99 Lampiran 3. Program Wisata Hutan dengan Bauran Pemasaran ............................. 100 Lampiran 4. Ittenerary Program TWOR ................................................................. 101 Lampiran 5. Ittenerary Program AC........................................................................ 102 Lampiran 6. Ittenerary Program KSN ..................................................................... 103 Lampiran 7. Ittenerary Program Re-Fo ................................................................... 104

vii

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang memiliki luasan 359

Ha terletak di wilayah Kabupaten Sukabumi, Desa Citalahap, Kecamatan Cibadak, Provinsi Jawa Barat. Fungsi dari Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan pengelolaan nya diserahkan kepada Fakultas Kehutanan IPB Darmaga. Hutan ini berfungsi sebagai hutan pendidikan dan pelatihan (hutan diklat) yang juga berfungsi sebagai kawasan pendidikan, kawasan penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat dan juga sebagai bentuk dari aplikasi dan implementasi Tri Dharma dari pendidikan tinggi. Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang dibangun sejak tahun 1951 s/d 1952 di dalamnya memiliki vegetasi yang heterogen dimana hutan tanaman tersebut di dominasi oleh jenis Damar (Agathis loranhtifolia) yang mempunyai nilai komersial kayu (ekonomis) dan sampai saat sekarang ini penutupan hutan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) telah mencapai prosentase lebih kurang dari 95% dari luasan areal nya dimana penutupan hutan nya relatif cukup baik dan kondisi topografi nya yang sangat bervariasi itu sangat mendukung untuk di kembangkan sebagai kawasan wisata hutan yang lebih baik. Kegiatan wisata yang telah berlangsung di kawasan hutan pendidikan gunung walat adalah kegiatan wisata alam dan wisata spiritual. Kegiatan wisata alam yang di laksanakan seperti kegiatan wisata pada umumnya yaitu seperti menikmati pemandangan alam, rekreasi, dan jungle tracking. Kegiatan wisata spiritual yang di laksanakan yaitu melaksanakan upacara ritual di Goa Cipeureu yang terdapat di hutan pendidikan gunung walat. Kawasan tersebut belum terdapat kegiatan wisata yang spesifik sesuai dengan potensi kawasan sehingga kegiatan wisata di kawasan tersebut cukup banyak di minati oleh wisatawan. Tingginya minat wisatawan tersebut dipengaruhi karena meningkatnya trend back to nature di masyarakat saat ini. Berdasarkan hal tersebut, pengembangan wisata perlu dilakukan untuk mendukung keberlanjutan kawasan hutan pendidikan gunung walat agar tetap ada dan dapat tetap menjadi suatu kawasan hutan dengan tujuan khusus. 1

B.

Tujuan Pelaksanaan Penelitian dilakukan dengan memiliki beberapa tujuan yang harus

di capai. Tujuan di lakukan nya kegiatan penelitian ini, yaitu: 1. Merancang program wisata hutan sebagai bentuk pengembangan kegiatan wisata hutan yang merupakan produk wisata. Perancangan program wisata tersebut harus berdasarkan pengetahuan mengenai: a. b. Kegiatan wisata hutan yang ada saat ini sebagai bahan evaluasi. Potensi sumberdaya wisata hutan untuk menjadi daya tarik dalam wisata hutan. c. Karakteristik serta persepsi dan motivasi wistawan agar tepat sasaran sesuai permintaan wisatawan. d. Persepsi, kesiapan dan harapan masyarakat agar masyarakat dapat berpartisipasi demi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan tersebut. e. Persepsi, kesiapan dan harapan pengelola agar program yang di rancang tepat di terapkan di kawasan wisata tersebut. 2. Merancang booklet wisata hutan sebagai bentuk pengembangan aspek promosi kawasan wisata hutan gunung walat. C. Manfaat Kegiatan penelitian ini di harapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, diantaranya pengelola, masyarakat, dan wisatawan. Manfaat dari kegiatan penelitian yang berjudul Pengembangan Wisata Hutan, yaitu: 1. Bagi pengelola, kegiatan Skripsi ini di harapkan dapat menjadi bahan masukan untuk pengembangan wisata hutan kedepan nya. 2. Bagi masyarakat, jika konsepnya di realisasikan pleh pengelola diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 3. Bagi wisatawan kegiatan Skripsi ini jika konsepnya direalisasikan diharapkan dapat memberikan berbagai pilihan kegiatan wisata yang akan di lakukan

D.

Kerangka Berfikir Pengembangan wisata hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat dikaji

berdasarkan lima variabel esensial dimana variabel esensial tersebut terdiri dari kondisi wisata saat ini (existing condition), ekologi, wisatawan, masyarakat dan pengelola. Variabel existing condition dikaji untuk mengetahui ragam kegiatan wisata yang telah ada dikawasan tersebut. Variabel sumberdaya wisata hutan dikaji untuk mengetahui potensi flora, fauna, gejala alam, ruang terbuka hijau dan objek wisata spiritual yang akan menjadi daya tarik dan atraksi wisata. Pengkajian terhadap wisatawan juga penting untuk mengetahui karakteristik, motivasi dan persepsi wisatawan agar program wisata yang dirancang tepat sasaran sesuai dengan permintaan wisatawan. Masyarakat adalah variabel selanjutnya yang penting untuk dikaji agar dapat diketahui kesiapan dan harapan masyarakat terhadap program wisata hutan yang akan dikembangkan. Hal tersebut disebabkan kegiatan wisata hutan pasti akan melibatkan peran serta masyarakat sekitar kawasan. Selanjutnya, variabel pengelola dikaji untuk mengetahui persepsi, kesiapan dan harapan pengelola agar program yang dirancang tepat diterapkan dikawasan tersebut. Variabel-variabel essensial yang telah ditentukan, kemudian diinvestigasi dan diinventarisasi. Variabel existing condition ragam kegiatan wisata diinventarisasi dan diinvestigasi dengan observasi lapang kemudian dianalisis dengan analisis kualitatif. Variabel sumberdaya wisata diinvestigasi dan diinventarisasi dengan observasi lapang dan studi literatur. Setelah data flora dan fauna, gejala alam, RTH dan objek wisata spiritual didapatkan, data tersebut kemudian dianalisis dengan indikator penilaian potensi alam menurut Avenzora (2008), yang meliputi keunikan, keindahan, kelangkaan, seasonality, aksesibilitas, sensitivitas dan fungsi sosial yang merupakan analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis tersebut kemudian menghasilkan nilai yang menunjukkan sumberdaya potensial wisata hutan yang akan dijadikan suatu acuan untuk merancang beberapa rancangan program wisata hutan. Variable lainnya yang di investigasi adalah wisatawan, pengelola dan masyarakat dengan pembagian kuesioner. Teknik pembagian kuesioner dilakukan dengan cara random sampling dengan pola kuesioner close ended. Hasil investigasi dan inventarisasi kemudian dianalisis dengan analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil analisis tersebut akan 3

menghasilkan data primer yang akan digunakan sebagai pertimbangan dalam perancangan program wisata hutan yang tepat. Program wisata yang telah dirancang kemudian dijadikan sebagai isi dalam rancangan media promosi berupa booklet yang telah dirancang. Perancangan program wisata dan media promosi dilakukan sebagai salah satu cara agar wisata hutan di kawasan hutan pendidikan gunung walat dapat berkelanjutan.

BAGAIMANA CARA MENGEMBANGKAN WISATA HUTAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT

Kondisi wisata saat ini

Ekologi

Masyarakat

Wisatawan

Pengelola

Aktivitas wisata Manajemen wisata

Flora Fauna Gejala alam

Karakteristik Persepsi Kesiapan

Karakteristik Motivasi Persepsi

Karakteristik Persepsi Kesiapan

Investigasi dan Analisis

Observasi: - Metode jelajah - Analisis Vegetasi - Pengukuran fisik sungai

Pembagian Kuisioner: - Closed ended - Random sampling

Sumber daya potensial wisata hutan

Keunikan, Keindahan, Kelangkaan, Seasonality, Aksesibilitas, Sensitivitas, Fungsi Sosial (Avenzora, 2008)

Opsi rancangan program Program wisata terpilih (Harian, Mingguan dan Tahunan)

Output (Media Promosi)

Booklet CorelDRAW dan Adobe photoshop

Tema Nuansa Alam

Sasaran kepada semua kalangan Bahasa sederhana singkat, padat dan jelas

Opsi desain Booklet

Desain Booklet terpilih

Gambar 1. Kerangka berpikir Gambar 2. Kerangka pemikiran 5

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Pariwisata Pariwisata adalah salah satu jenis industri baru yang mampu mempercepat

pertumbuhan ekonomi dan penyediaan lapangan kerja, peningkatan penghasilan, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktif lainnya. Selanjutnya sebagai sektor yang kompleks, ia juga merealisasi industri-industri klasik seperti industri kerajinan tangan dan cendera mata. Penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industry (Wahab dalam Pendit, 2006). Institut of Tourism in Britain dalam Pendit (2006) merumuskan bahwa, pariwisata adalah kepergian orang-orang sementara dalam jangka waktu pendek ke tempat-tempat tujuan di luar tempat tinggal dan pekerjaan sehari-harinya serta kegiatan-kegiatan mereka selama berada di tempat-tempat tujuan tersebut, ini mencakup berpergian untuk berbagai maksud, termasuk kunjungan seharian atau darmawisata / ekskursi. Berdasarkan UU Nomor. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, maka dapat diketahui pengertian wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. Definisi dari pariwisata menurut undangundang tersebut yaitu berbagai macam kegiatan wisata dan didukung dengan berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. 1. Wisatawan Secara sederhana, wisatawan dapat diartikan sebagai orang yang melakukan kegiatan wisata. WTO dalam Marpaung (2003) menjelaskan wisatawan adalah setiap orang yang bertempat tinggal di suatu negara tanpa memandang

kewarganegaraannya, berkunjung ke suatu tempat pada negara yang sama untuk jangka waktu yang lebih dari 24 jam yang tujuan perjalanannya dapat diklasifikasikan pada salah satu hal berikut.

a.

Memanfaatkan waktu luang untuk berekreasi, liburan, kesehatan, pendidikan, keagamaan dan olah raga.

b.

Bisnis atau mengunjungi keluarga dan kerabat. Darmawisata atau excursionist adalah pengunjung sementara yang menempati

kurang dari 24 jam di negara yang di kunjunginya termasuk orang yang berkeliling dengan kapal pesiar, namun tidak termasuk para pesiar yang memasuki negara secara legal contohnya orang yang hanya tinggal di ruang transit pelabuhan udara. Dalam rangka pengembangan wisata penting untuk di mengerti profil wisatawan dengan tujuan untuk menyediakan kebutuhan perjalanan mereka dan menyusun program promosi efektif. Profil wisatawan merupakan karakteristik spesifik dari jenis wisatawan yang berbeda yang berhubungan erat dengan kebiasaan, permintaan dan kebutuhan mereka dalam melakukan perjalanan. Berdasarkan karakteristiknya beberapa profil wisatawan di kategorikan sebagai berikut: kebangsaan, umur, jenis kelamin dan status, kelompok sosial ekonomi, konvensi dan konferensi serta wisatawan dengan minat khusus. 2. Motivasi dan Persepsi Wisatawan Setiap wisatawan yang berkunjung pada suatu kawasan wisata tentunya memiliki motivasi yang mendorongnya untuk melakukan kunjungan wisata tersebut. Motivasi pengunjung perlu diketahui dalam rangka pengembangan wisata kearah yang lebih baik. Chung & Meggison dalam Fahmi (2011) menyatakan bahwa Motivation is defined as/goal-directed behavior. It concern the level of effort one exerts in pursuing a goal... its closely performance (motivasi dirumuskan sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran. Motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan seseorang dalam mengejar suatau tujuan, motivasi berkaitan erat dengan kepuasan dan performansi pekerjaan). Menurut Saroso dalam Fahmi (2011), menjelaskan bahwa motivasi adalah satu set atau kumpulan perilaku yang memberikan landasan bagi seseorang untuk bertindak dalam suatu cara yang diarahkan kepada tujuan spesifik tertentu (specific goal directed way). Kesimpulan yang dapat ditarik, bahwa motivasi adalah aktivitas perilaku yang bekerja dalam usaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang diinginkan (Fahmi, 2011). Motivasi muncul dalam dua bentuk dasar, yaitu motivasi ekstrinsik dan 7

intrinsik. Motivasi ekstrinsik muncul dari luar diri seseorang, kemudian selanjutnya mendorong orang tersebut untuk membangun dan menumbuhkan semangat motivasi pada diri orang tersebut untuk merubah seluruh sikap yang dimilikinya olehnya saat ini ke arah yang lebih baik. Sedangkan motivasi intrinsik adalah motivasi yang muncul dan tumbuh serta berkembang dalam diri orang tersebut, yang selanjutnya kemudian mempengaruhi dia dalam melakukan sesuatu secara bernilai dan berarti. Selain motivasi, persepsi pengunjung perlu diketahui dalam rangka pengembangan wisata. Definisi persepsi Mulyana (2005) adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasikan, dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain persepsi adalah cara kita mengubah energi-energi fisik lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna. Tiga unsur sosio budaya mempunyai pengaruh yang besar dan langsung atas makna-makna yang kita bangun dalam persepsi. Unsur-unsur tersebut adalah sistemsistem kepercayaan (beliefe), nilai (value), sikap (attitude); pandangan dunia (world view), dan organsasi sosial (social organization). Ketika ketiga unsur utama ini mempengaruhi persepsi kita dan makna yang kita bangun dalam persepsi, unsurunsur tersebut mempengaruhi aspek-aspek makna yang bersifat pribadi dan subjektif 3. Objek dan Daya Tarik Wisatawan Suatu kawasan wisata tentunya memiliki sumberdaya dan daya tarik wisata yang membuatnya menjadi suatu kawasan wisata. Daya tarik wisata yang juga disebut objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Dalam kedudukannya yang sangat

menentukan itu maka daya tarik wisata harus dirancang dan dibangun atau dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Membangun suatu objek wisata harus dirancang sedemikian rupa berdasarkan kriteria tertentu (Suwantoro, 2004). Definisi lain dari daya tarik wisata disebutkan Pitana & Gayatri (2005), bahwa daya tarik wisata dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang menarik untuk dilihat atau disaksikan oleh wisatawan. Sesuatu dapat dikatakan sebagai objek wisata apabila objek wisata tersebut memiliki karakter atau sifat yang monumental. Maksudnya keberadaan objek tersebut memiliki periode waktu yang relatif lama dan umumnya diketahui banyak orang. Atraksi wisata merupakan sesuatu yang 8

disuguhkan kepada wisatawan yang dipersiapkan dalam suatu pertunjukkan. Atraksi wisata biasanya berwujud peristiwa, kejadian baik yang terjadi secara periodik ataupun sekali saja, baik yang bersifat tradisional, ataupun yang telah dikembangkan dalam kehidupan masyarakat moderen. Kesemuanya itu menjadi daya tarik yang positif kepada para wisatawan untuk mengunjungi, menyaksikan dan menikmati sehingga memberikan kepuasan maksimal bagi para wisatawan yang telah tergerak hatinya untuk mengunjunginya. Definisi selanjutnya tentang objek wisata adalah sesuatu yang menjadi pusat daya tarik wisatawan dan dapat memberikan kepuasan pada wisatawan, hal yang dimaksud dapat berupa 1) yang berasal dari alam, misalnya pantai, pemandangan alam, pegunungan, hutan, dan lain-lain, 2) yang merupakan hasil budaya, misalnya museum, candi, galeri, 3) yang merupakan kegiatan, misalnya kegiatan masyarakat keseharian, tarian, karnaval, dan lain-lain (Wardiyanta, 2006). Sedangkan potensi wisata adalah segala hal dan dalam keadaan baik yang nyata dan dapat diraba maupun yang tidak teraba, yang diatur dan disediakan sedemikian rupa sehingga dapat bermanfaat dan diwujudkan sebagai kemampuan, faktor dan unsur pendukung yang sangat diperlukan untuk pengembangan kepariwisataan, baik itu berupa suasana, kejadian, benda maupun jasa-jasa. B. Ekowisata Ekowisata berasal dari dua kata, ekologi dan wisata Ekologi yaitu ilmu mengenai hubungan timbal balik antar unsur hayati dengan tata alam di sekitarnya (Erast Haeckel dalam Darsoprajitno, 2002). Hubungan timbal balik ini merupakan irama kehidupan alami yang disebut ekosistem. Jika ekosistem terganggu maka terganggu pula tata alaminya. Hal ini akan meluas hingga mengganggu kehidupan manusia, termasuk unsur-unsur hayati lainnya. Wisata ekologi (ecological tourism atau ecotourism) yaitu kegiatan kepariwisataan yang menggunakan hubungan manusia dengan tata alam yang telah membudaya sebagai sasaran nya. Hal ini berbeda dengan ekologi wisata atau ekologi pariwisata (tourism ecology), sebab istilah ini digunakan untuk mencirikan ilmunya. Jadi ekologi pariwisata adalah ilmunya, sedangkan pariwisata ekologi adalah kegiatannya (Darsoprajitno, 2002). 9

Dawson dalam McCool & Moisey (2008:38), menjelaskan bahwa Ecotourism and nature-based tourism can be defined as forms of sustainable development when they are limited in scale and minimize environmental and social impacts. Ecotourism goals: (i) to benefit local communities without overwhelming their social and economic systems; (ii) to protect the environmental, natural and cultural resources base on which the tourism depends; and (iii) to require the ethical behavior of recreational user and tourist, as well as the supporting commercial recreation and tourism operators (Ekowisata dan wisata berbasis alam dapat di definisikan sebagai bentuk pembangunan berkelanjutan ketika ada batasan skala dan dapat memperkecil dampak lingkungan dan sosial. Tujuan ekowisata: (i) untuk memberikan manfaat pada komunitas lokal tanpa menenggelamkan sistem sosial ekonomi mereka; (ii) untuk melindungi sumberdaya lingkungan, alam dan budaya yang tergantung pada wisata; dan (iii) untuk mengharuskan etika sopan santun pelaku rekreasi dan wisatawan , sama baik dengan dukungan rekreasi komersial dan operator wisata). Selain itu, Avenzora (2008) mendefinisikan ekowisata sebagai konsep dasar dari wisata berkelanjutan yang mempertimbangkan tiga pilar meliputi ekologi, ekonomi, dan sosial budaya yaitu bertanggung jawab terhadap kelestarian areal, memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Definisi lain mengenai ekowisata di kemukakan World Conservation Union (WCU) dalam Nugroho (2011), ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayahwilayah yang lingkungan alamnya masih alami, dengan menghargai warisan budaya dan alamnya, mendukung upaya-upaya konservasi, tidak menghasilkan dampak negatif, dan memberikan keuntungan sosial ekonomi serta menghargai partisipasi penduduk lokal. Menurut Deklarasi Quebec (hasil pertemuan dari anggota TIES di Quebec, Canada tahun 2002), ekowisata adalah sustainable tourism yang secara spesifik memuat upaya-upaya: (a) konstribusi aktif dalam konservasi alam dan budaya (b) partisipasi penduduk lokal dalam perencanaan, pembangunan, dan operasional kegiatan wisata serta menikmati kesejahteraan (c) transfer pengetahuan tentang warisan budaya dan alam kepada pengunjung (d) bentuk wisata independen atau kelompok wisata berukuran kecil (dalam Nugroho, 2011). Menurut Nugroho (2011).

10

Definisi selanjutnya mengenai ekowisata dijelaskan Nugroho (2011), bahwa ekowisata adalah kegiatan perjalanan wisata yang dikemas secara profesional, terlatih, dan memuat unsur pendidikan, sebagai suatu sektor atau usaha ekonomi, yang mempertimbangkan warisan budaya, partisipasi dan kesejahteraan penduduk lokal serta upaya-upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. C. Hutan Pendidikan Hutan pendidikan adalah merupakan salah satu tempat diselenggarakan nya nya kegiatan pendidikan, penelitian dan pelatihan wisata alam. Wisata alam adalah bentuk kegiatan wisata yang memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang berpotensi dan berdaya tarik bagi wisatawan serta yang ditujukan untuk pembinaan cinta alam, baik dalam kegiatan alam maupun setelah pembudidayaan. Kegiatan wisata alam adalah kegiatan rekreasi dan pariwisata, pendidikan, penelitian, kebudayaan dan cinta alam yang dilakukan di dalam objek wisata (Suwantoro, 2004). Hodge dalam Font & Tribe (2000:3) menjelaskan, Viewing or hoping to view wildlife has been ascribed one-third of the overall value of forest for recreation and this is a large attraction sold by tour operators as ecotourism in developing countries. (Melihat atau mengharapkan untuk melihat satwa liar dianggap satu dari tiga nilai keseluruhan dari hutan untuk rekreasi dan ini adalah atraksi yang besar yang dapat di jual operator wisata sebagai ekowisata dalam pembangunan Negara). Lang dalam Font & Tribe (2000:3) menyebutkan bahwa The Director of Forest in the German Government Forestry Office estimates that in about 90% of all german forest it is possible to simultaneously produce valuable timber, to protect soil, climate and watersheds and to allow people access to the forest for recreational purposes. (Kepala dari Kantor Depertemen Kehutanan di Jerman memperkirakan bahwa sekitar 90% dari semua hutan Jerman adalah sangat mungkin untuk secara serentak memproduksi kayu yang berharga, untuk melindungi tanah, iklim dan dataran tinggi yang memisahkan saluran air sungai dan untuk memberikan akses pada hutan untuk tujuan rekreasi). Begitupun di Indonesia jika pengelolaan kawasan hutan dilakukan dangan baik maka akan menunjang pembangunan Negara.

11

At present the development of forest parks for recreation depends on the importance given to the resources by the public sector and the community involvement. (saat ini pembangunan taman hutan untuk rekreasi tergantung pada pentingnya memberikan manfaat pada sumberdaya oleh sektor umum dan keterlibatan komunitas (Sakuras; Eagles and Martens; Ota dalam Font & Tribe, 2000). Jadi, dalam pengembangan suatu kawasan atau mendukung keberlanjutan suatu kawasan tersebut di perlukan kerjasama antara sektor umum dan keterlibatan komunitas lokal yang berada di sekitar kawasan. Hutan dengan segala sesuatu yang terdapat di dalamnya memiliki potensi besar untuk di kembangkan sebagai kawasan untuk kegiatan wisata, tentunya dengan pengelolaan yang baik. Sumberdaya wisata hutan yang dapat menjadi objek dan daya tarik wisata hutan terdiri dari flora, fauna dan gejala alam. 1. Flora Flora merupakan tumbuhan mulai dari Divisio Thallophyta hingga

Pteriodophyta, baik yang masih bersifat liar ataupun yang sudah dibudidayakan, dapat menjadi objek dan daya tarik bagi wisatawan dalam melakukan berbagai kegiatan wisata. Potensi flora sebagai objek atau daya tarik wisata dapat berupa jasa ataupun sekaligus sebagai good (barang) yang bisa di perjual belikan (Avenzora, 2008) 2. Fauna Fauna merupakan satwa mulai dari cacing hingga berbagai jenis mamalia, baik yang masih bersifat liar ataupun yang di domestikasi, dapat menjadi objek dan daya tarik bagi wisatawan dalam melakukan berbagai kegiatan wisata. Potensi fauna sebagai objek dan daya tarik wisata dapat berupa jasa ataupun sekaligus good yang bisa diperjualbelikan (Avenzora, 2008) 3. Gejala Alam Menurut Avenzora (2008), dalam konteks wisata alam beberapa contoh objek wisata yang biasanya dimasukkan dalam terminology gejala alam adalah kawah gunung berapi, air terun, sumber mata air panas, bebatuan geologi, pelangi, petir, goa, sumber mata air, danau, dan berbagai kejadian alam lainnya yang terjadi atau

12

melibatkan hard element alam dan secara fisik dapat dinikmati oleh wisatawan sebagai objek atau daya tarik wisata. Selain itu sumberdaya wisata yang berpotensi menjadi daya tarik wisata adalah ruang terbuka hijau dan objek wisata spiritual. Terkadang dalam suatu hutan terdapat suatu ruang terbuka hijau dan terkadang terdapat hutan yang memiliki hubungan dengan nilai spiritual masyarakat sekitarnya. D. Ruang Terbuka Hijau Menurut Avenzora (2008), ruang terbuka hijau merupakan berbagai areal piknik (baik di areal pantai ataupun pada areal terestrial lain), taman kota, taman wisata taman lingkungan dan tapak perkemahan. E. Potensi Wisata Spiritual Potensi wisata spiritual merupakan berbagai proses ritual yang di lakukan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan spiritual nya yang bukan merupakan dan bukan pula menjadi prosedur baku dari agamanya, meskipun pada umumnya kegiatan-kegiatan tersebut sering berasosiasi dengan suatu agama atau keyakinan tertentu. F. Pengembangan Menurut Sammeng (2001), pengembangan mengisyaratkan suatu proses evaluasi dengan konotasi positif atau sekurang-kuranya bermakna tidak jalan ditempat. Kata pengembangan dapat dikaitkan dengan dua hal, yakni : proses dan tingkat perkembangan sesuatu. Salah satu teknik dalam pengembangan wisata adalah teknik VAMP (visitor activity management program). Menurut Pitana dan Diarta (2009), VAMP merupakan sistem manajemen yang berusaha mengubah orientasi dari produk misalnya objek dan wisatawan, kepada orientasi pemasaran dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dalam Pitana dan Diarta (2009), Visitor Activity Management Program (VAMP) didefinisikan sebagai berikut:

13

A management system with an emphasis on marketing. deciding what people want in a park, then developing and marketing specific experience to match the wants (Richardson and Fulker, 2004). VAMP pertama kali diperkenalkan di Kanada tahun 1990-an dengan menekankan pada pengambilan keputusan tentang apa yang orang atau wisatawan inginkan di objek atau destinasi tertentu. Berdasarkan hal tersebut kemudian disusun program pengembangan dan pemasaran untuk melink-an dengan apa yang diinginkan. Prosesnya termasuk menyeting tujuan destinasi yang sesuai dengan aktivitas wisatawan, menganalisis karakteristik wisatawan dan mengembangkan beragam pilihan aktivitas dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. Menentukan tujuan menejemen kunjungan yang jelas akan membantu menentukan tipe kelebihan, keuntungan dan pengalaman apa yang akan di tawarkan kepada wisatawan sehingga mampu memuaskan konsumen. Inti dari VAMP dan sekaligus juga sebagai masalah utama adalah bagaimana menggeser dari paradigma pemasaran. Pengembangan yang di lakukan menggunakan teknik pemasaran sehingga bauran pemasaran juga perlu diperhatikan. Sebelum beranjak pada bauran pemasaran perlu di ketahui definisi pemasaran itu sendiri. Menurut Kotler dalam Hurriyati (2010), pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial, baik oleh individu atau kelompok, untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk yang bernilai dengan pihak lain. Pernyataan ini menunjukkan bahwa inti dari pemasaran adalah kegiatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan pihak yang berkepentingan, melalui pertukaran yang mampu memberikan kepuasan kepada semua pihak, terutama konsumen sebagai pemakai dari barang atau jasa yang di tawarkan. Produk wisata merupakan jasa maka pemasaran jasa merupakan suatu proses mempersepsikan, memahami, menstimulasi dan memenuhi kebutuhan pasar sasaran yang dipilih secara khusus dengan menyalurkan sumber-sumber sebuah organisasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Payne dalam Hurriyati, 2010). Dengan demikian manajemen pemasaran jasa merupakan proses penyelarasan sumber-sumber sebuah organisasi terhadap kebutuhan pasar. Pemasaran memberi perhatian pada hubungan timbal balik yang dinamis antara produk dan jasa

14

perusahaan, keinginan dan kebutuhan pelanggan serta kegiatan-kegiatan para pesaing. Selanjutnya berbicara mengenai bauran pemasaran, Kotler dalam Hurriyati (2010), mengemukakan definisi bauran pemasaran (marketing mix) sebagai berikut.Marketing mix is the set of marketing tools that the uses to pursue its marketing objective in the target market. Bauran pemasaran adalah sekumpulan alat pemasaran (marketing mix) yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasaran. Bauran pemasaran merupakan unsur-unsur pemasaran yang saling terkait, di baurkan, diorganisir dan digunakan dengan tepat, sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan pemasaran yang efektif sekaligus memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen (Hurriyati, 2010). Zeithaml dan Bitner dalam Hurriyati (2010), mengemukakan konsep bauran pemasaran tradisional yang terdiri dari 4P, yaitu product (produk), price (harga), place (tempat/lokasi), dan promotion (promosi). Sementara itu, untuk pemasaran jasa perlu bauran pemasaran yang diperluas (expanded marketing mix for services) dengan penambahan unsur non-traditional marketing mix, yaitu people (orang), physical evidence (fasilitas fisik) dan process (proses), sehingga menjadi tujuh unsur (7P). masing-masing dari tujuh unsur bauran pemasaran tersebut saling berhubungan dan tergantung satu sama lainnya dan mempunyai suatu bauran yang optimal sesuai dengan karakteristik segmennya. Penambahan unsur bauran pemasaran jasa dilakukan antara lain karena jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk yaitu tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, beraneka ragam dan mudah lenyap. Penjelasan mengenai bauran pemasaran jasa adalah sebagai berikut. G. Produk Jasa (Product) Menurut Hurriyati (2010), produk jasa merupakan suatu kinerja penampilan, tidak berwujud dan cepat hilang. Lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, serta pelanggan lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Sesungguhnya pelanggan tidak membeli barang atau jasa, tetapi membeli manfaat dan nilai dari sesuatu yang di tawarkan.

15

Produk wisata adalah jasa. Salah satu bentuk jasa wisata adalah program wisata. Menurut Sirait (2000), program wisata adalah program perjalanan (tour itinerary) dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari fakta-fakta, urutan-urutan dari bagian perjalanan wisata yang akan menggambarkan suatu rencana yang akan dilaksanakan selama perjalanan wisata tersebut berlangsung. Program perjalanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan orang yang akan melakukan perjalanan dimana terdapat materi atau isi acara yang jelas beserta jadwal dan kelengkapan (equipment) dari perjalanan yang akan dilaksanakan. H. Tarif Jasa atau Harga (Price) Zeithaml dan Bitner dalam Hurriyati (2010), menjelaskan tiga dasar penetapan harga yang biasa digunakan dalam menentukan harga, yaitu penetapan harga berdasarkan biaya (cost-based pricing), penetapan harga berdasarkan persaingan (competition-based pricing) dan penetapan harga berdasarkan permintaan (demandbased) I. Tempat atau Lokasi Pelayanan (Place) Menurut Hurriyati (2010), dalam produksi industri manufaktur, place diartikan sebagai saluran distribusi (zero channel, two level channels dan multilevel channels), sedangkan untuk produksi industri jasa, place diartikan sebagai tempat pelayanan jasa. Tempat dianggap penting karena sebagai lingkungan dimana dan bagaimana jasa akan diserahkan, sebagai bagian dari nilai dan manfaat dari jasa. Lokasi berhubungan dengan keputusan yang dibuat oleh perusahaan mengenai dimana operasi dan stafnya akan ditempatkan, yang paling penting dari lokasi adalah tipe dan tingkat interaksi yang terlibat. Terdapat tiga macam tipe interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan yang berhubungan dengan pemilihan lokasi, yaitu sebagai berikut: 1. 2. 3. Pelanggan mendatangi penyedia jasa Penyedia jasa mendatangi pelanggan, atau Penyedia jasa dan pelanggan melakukan interaksi melalui perantara.

16

Tipe interaksi yang berkaitan dengan perilaku pelanggan dalam mencari penyedia jasa sangat penting untuk memperhatikan letak lokasi. Penyedia jasa yang menginginkan pertumbuhan dapat mempertimbangkan menawarkan jasa mereka di beberapa lokasi. Jika penyedia jasa mendatangi pelanggan, maka letak lokasi menjadi tidak begitu penting meskipun perlu dipertimbangkan pula kedekatan terhadap pelanggan untuk menjaga kualitas jasa yang akan diterima. Sementara itu, dalam kasus penyedia jasa dan pelanggan menggunakan media perantara dalam berinteraksi, maka letak lokasi dapat diabaikan meskipun beberapa media perantara memerlukan interaksi fisik antara mereka dengan pelanggan. J. Promosi (Promotion) Menurut Buchari Alma dalam Hurriyati (2010), promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran. Yang merupakan aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi atau membujuk dan mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Meskipun secara umum bentuk-bentuk promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-bentuk tersebut dapat dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya. Beberapa tugas khusus itu sering disebut bauran promosi ( promotion mix), yaitu mencakup personal selling, mass selling, promosi penjualan, public relation dan direct marketing, word of mouth. Bentuk promosi yang dilakukan dalam pengembangan ini adalah mass selling yaitu dengan menggunakan media massa yang dapat disebarkan pada orang banyak. Salah satu media yang dipakai yaitu booklet. Menurut Oxford University (2005), booklet is a small book consisting of a few sheets, typically with paper covers Booklet adalah buku kecil yang terdiri dari beberapa lembar, yang secara khas memiliki sampul. Untuk membuat sebuah booklet diperlukan kemampuan mendesain. Menurut Ernawati dkk (2008), desain merupakan bentuk rumusan dari suatu proses pemikiran, pertimbangan dan perhitungan dari desainer yang dituangkan dalam wujud gambar. Unsur desain merupakan unsur-unsur yang digunakan untuk 17

mewujudkan desain sehingga orang lain dapat membaca desain tersebut. Maksud unsur disini adalah unsur-unsur yang dapat dilihat atau sering disebut dengan unsur visual. unsur-unsur desain ini terdiri dari atas garis, arah bentuk, tekstur, ukuran, value dan warna. Melalui unsur-unsur visual inilah seorang perancang dapat mewujudkan rancangannya. Dalam company profile (2012), untuk mensinergikan content atau isi booklet dengan desainnya ada beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut: 1. Simplicity Sebuah design company profile haruslah simple atau sederhana, tidak rumit dengan bentuk dan isi /content tulisan. 2. Colour Sinergikan warna dominan perusahaan dengan design company profile yang akan dikerjakan, sehingga secara tidak langsung memberikan efek pencitraan. 3. Balance Komposisi pada sebuah design company profile harus seimbang, bisa berupa perbandingan layout dan komposisi gambar atau tulisan. Dalam prinsip layout balance bukan berarti perbandingannya 50 : 50, namun lebih kepada penerapan design pada medianya. 4. Emphasis Sebuah design company profile yang baik harus mempunyai alur atau urutan penataan pesan yang benar. Pesan pada content dapat dimulai dengan pesan

bertekanan rendah lalu kepada pesan yang bertekanan tinggi. Maksud dari tekanan disini adalah prioritas isi pesan dari sebuah company profile. K. Orang atau Partisipan (People) Orang (people) adalah semua pelaku yang memainkan peranan dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi persepsi pembeli. Elemen-elemen dari people adalah pegawai perusahaan, konsumen dan konsumen lain dalam lingkungan jasa. Semua sikap dan tindakan karyawan, bahkan cara berpakaian karyawan dan penampilan karyawan mempunyai pengaruh terhadap persepsi konsumen atau keberhasilan penyampaian jasa (service encounter). Elemen people ini memiliki 2 apek yaitu: 18

1.

Service People Untuk organisasi jasa, Service people biasanya memegang jabatan ganda, yaitu

mengadakan jasa dan menjual jasa tersebut. Melalui pelayanan yang baik, cepat, ramah, teliti dan akurat dapat menciptakan kepuasan den kesetiaan pelanggan terhadap perusahaan yang akhirnya akan meningkatkan nama baik perusahaan. 2. Customer Faktor lain yang mempengaruhi adalah hubungan yang ada diantara para pelanggan. Pelanggan dapat memberikan persepsi kepada nasabah lain, tentang kualitas jasa yang pernah di dapatnya dari perusahaan. Keberhasilan dari perusahaan jasa berkaitan erat dengan seleksi, pelatihan, motivasi dan manajemen dari sumberdaya manusia. L. Sarana fisik (Physical Evidence) Menurut Hurriyati (2010), sarana fisik merupakan suatu hal yang secara nyata turut mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan menggunakan produk jasa yang ditawarkan. Unsur-unsur yang termasuk di dalam sarana fisik antara lain lingkungan fisik, dalam hal ini bangunan fisik, peralatan, perlengkapan, logo, warna dan barang-barang lainnya yang disatukan dengan service yang diberikan seperti tiket, sampul, label dan lain sebagainya. M. Proses (Process) Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Hurriyati (2010), proses adalah semua prosedur actual, mekanisme dan aliran aktivitas yang digunakan untuk

menyampaikan jasa. Elemen proses ini mempunyai arti suatu upaya perusahaan dalam menjalankan dan melaksanakan aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumennya. Seluruh aktivitas kerja adalah proses, proses melibatkan prosedur-prosedur, tugas-tugas, jadwal-jadwal, mekanisme, aktivitas-aktivitas dan rutinitas-rutinitas dengan apa produk (barang atau jasa) disalurkan ke pelanggan. identifikasi manajemen proses sebagai aktivitas terpisah adalah prasyarat bagi perbaikan jasa. Pentingnya elemen proses ini khususnya dalam bisnis jasa disebabkan oleh persediaan jasa yang tidak dapat disimpan.

19

III.

KONDISI UMUM

A.

Sejarah Sejarah Hutan Pendididikan Gunung Walat (HPGW) yang dibahas dalam

bagian ini terbagi menjadi 2 (dua) yaitu sejarah kawasan dan sejarah pengelolaan kawasan dimana dari sejarah kawasan yang akan dibahas di awali atau di mulai dari terbentuknya kawasan sampai dengan proses legalisasi formal yang terjadi di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat sebagai suatu Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). 1. Sejarah Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Pembangunan Hutan Pendidikan sebagai laboratorium kehutanan berawal pada Tahun 1959 ketika saat itu Fakultas Kehutanan IPB masih merupakan Jurusan Kehutanan dalam Fakultas Pertanian di dalam Universitas Indonesia dan pada tahun 1959 di bangun hutan percobaan di Darmaga yang luasan nya sekitar 50 Ha dan juga di ikuti dengan pembangunan Kampus Kehutanan di Darmaga. Fakultas Kehutanan idealnya memang harus memiliki suatu kawasan laboratorium hutan pendidikan (arboretum) agar dalam kegiatan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik terutama dalam proses kerangka berfikir untuk memahami (menemu kenali) esensi model pengelolaan hutan lestari. Hutan percobaan yang luas nya lebih kurang 50 Ha tersebut dirasakan kurang mencukupi sehingga pada tahun 1960 Fakultas Kehutanan IPB mulai membangun hutan pendidikan di daerah Pasir Madang seluas sekitar 500 Ha. Namun, setelah ditanami lebih kurang seluas 50 Ha lahan tersebut diambil alih oleh PT. Tjengkeh Indonesia. Pada tahun 1961 dilakukan penjajagan dan negosiasi ke Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat untuk dapat mengelola kawasan hutan di komplek hutan gunung walat. Tahun 1963 berdiri Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor bersamaan dengan berdirinya Institut Pertanian Bogor sebagai bentuk dari perwujudan pengembangan pendidikan tinggi pertanian di Universitas Indonesia, menjadi Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian yang lebih mandiri.

20

Tahun 1967 dilakukan penjajakan kerjasama oleh IPB kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dan Direktorat Jenderal Kehutanan, Departemen Pertanian untuk mengusahakan Areal Gunung Walat menjadi Hutan Pendidikan dan dari hasil usaha tersebut pada tahun 1968 komplek hutan pendidikan Gunung Walat mulai di kelola oleh Fakultas Kehutanan IPB. Tahun 1969 diterbitkan Surat Keputusan Kepala Jawatan Kehutanan Daerah Tingkat I Jawa Barat No.7041/IV/69 tertanggal 14 Oktober 1969 dimana dalam keputusan tersebut menyatakan bahwa Komplek Hutan Gunung Walat yang kurang lebih seluas 359 Ha ditunjuk sebagai Hutan Pendidikan yang pengelolaannya diserahkan kepada IPB. tahun 1973 diterbitkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Kehutanan No.291/DS/73 tertanggal 24 Januari 1973 yang berisi tentang pengelolaan hutan pendidikan gunung walat. Tanggal 9 Februari 1973 dilakukan penandatangan surat perjanjian pinjam pakai tanah hutan gunung walat sebagai hutan pendidikan oleh Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat dengan Rektor IPB. Hal tersebut sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.008/Kpts/DII/73 maka kemudian IPB mendapat hak pakai atas Komplek Hutan Pendidikan Gunung Walat. Tahun 1992 Menteri Kehutanan menerbitkan Surat Keputusan No.687/kpts-II/92 tentang penunjukan komplek Hutan Gunung Walat di Daerah Tingkat II Sukabumi Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Barat kurang lebih seluas 359 Ha menjadi Hutan Pendidikan. Tahun 2005 penguatan status HPGW kembali di keluarkan oleh Menteri Kehutanan melalui Surat Keputusan No.188/Menhut-II/2005 tertanggal 8 Juli 2005, tentang penunjukan dan penetapan kawasan hutan produksi terbatas kompleks hutan pendidikan gunung walat yang kurang lebih seluas 359 Ha sebagai kawasan hutan dengan tujuan khusus (HDTK) untuk hutan pendidikan dan latihan gunung walat Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor dalam jangka waktu 20 tahun. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor diberi hak pengelolaan penuh terhadap kawasan hutan pendidikan dan latihan gunung walat yang berada di Desa Citalahap, Kecamatan Cibadak, Sukabumi.

21

2.

Sejarah Pengelolaan Pengelolaan kawasan hutan gunung walat yang luasan nya lebih kurang 359 Ha

dilaksanakan oleh Institut Pertanian Bogor dengan status hak pakai berdasarkan surat keputusan menteri pertanian No.008/Kpts/DJ/I/73 sebagai hutan pendidikan dan secara struktural berada di bawah Unit Kebun Percobaan IPB (Fahutan IPB) dimana dalam proses pengelolaan nya Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) bekerjasama dengan berbagai pihak, baik masyarakat setempat di sekitar kawasan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Pusat, Perusahaan baik BUMN maupun swasta dan khusus nya Kementrian Kehutanan. Sejak ditetapkan nya sebagai kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) kawasan ini dikelola dan digunakan secara intensif oleh civitas akademika Fahutan IPB untuk beberapa kegiatan akademis yaitu pendidikan, penelitian dan pelatihan. Seiring berjalan nya waktu Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) juga digunakan untuk beberapa kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan wisata lingkungan bagi siswa-siswi sekolah, mahasiswa maupun masyarakat umum. Motto Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah Leuweung Sakolaan Sagala Bangsa / (International University Forest), Hutan Pendidikan Gunung Walat dilandasi dengan visi dan misi (Gambar 4). Misi Visi
Terwujudnya Hutan Pendidikan Gunung Walat sebagai media implementasi Tridharma Perguruan Tinggi Fakultas Kehutanan IPB bertaraf internasional bagi pengelolaan hutan lestari. Mewujudkan pengelolaan hutan lestari di kawasan HPGW. Mewujudkan terselenggaranya pendidikan dan penelitian IPTEK bidang pengelolaan sumberdaya hutan dan lingkungan secara efektif Membangun kemitraan antara HPGW dengan para pihak sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat

Gambar 4. Visi dan Misi HPGW

22

B.

Kondisi Fisik Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) memiliki luas kurang

lebih 359 Ha sehingga memiliki kondisi fisik yang terbagi menjadi letak dan luas, topografi dan tanah, serta iklim dan cuaca. Kondisi fisik tersebut akan dibahas secara detail pada bagian ini : 1. Letak dan Luas Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) terletak 2,4 Km dari poros jalan Sukabumi-Bogor (Desa Segog), jarak kawasan tersebut dari simpang Ciawi berjarak 46 Km dan dari Sukabumi 12 Km. Kawasan tersebut jika dilihat secara geografis berada pada 10648'27'' BT - 10650'29'' BT dan 654'23'' LS - 655'35'' LS. Berdasarkan letak administratif pemerintahan, HPGW masuk atau terletak di wilayah Kecamatan Cibadak dan termasuk dalam wilayah Dinas Kehutanan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Luas kawasan hutan pendidikan gunung walat adalah 359 Ha (Gambar 5). Kawasan hutan pendidikan gunung walat terdiri dari tiga blok yaitu blok timur (Cikatomang) seluas 120 Ha, blok barat (Cimenyan) seluas 125 Ha dan blok tengah (Tangkalak) seluas 114 Ha.

Gambar 5. Peta Kawasan HPGW 2. Topografi dan Tanah Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) berada pada ketinggian 557 Mdpl (meter di atas permukaan laut) dengan luasan semula adalah 359 Ha dan kini menjadi sekitar 349 Ha. Kawasan ini terletak pada ketinggian 500-700 Mdpl dengan topografi yang bervariasi dari landai sampai bergelombang terutama di 23

bagian selatan dan bagian utaranya yang memiliki kondisi topografi yang semakin berat atau sedikit curam. Kondisi topografi di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yaitu bergunung (98 Ha), berbukit (42 Ha), bergelombang (23 Ha), berombak (9 Ha) dan datar (4 Ha). Pada punggung bukit kawasan ini terdapat dua patok triangulasi KN 2.212 (67 Mdpl) dan KN 2.213 (72 Mdpl). Tanah di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) merupakan tanah yang sangat kompleks terdiri dari podsolik, latosol dan litiosol. Litiosol berasal dari batu endapan dan bekuan daerah bukit sedangkan bagian di barat daya terdapat areal peralihan dengan jenis batuan karst dimana hal tersebut itulah yang membentuk goa-goa alam karst (gamping). 3. Iklim dan Cuaca Klasifikasi iklim di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) menurut Schmidt dan Ferguson termasuk ke dalam tipe B (14,3-33,3%) dengan nilai Q = 14,3% - 33% dan banyak nya curah hujan tahunan berkisar antara 1600-4400 mm. Suhu udara maksimum di siang Hari 29C dan minimum 19C pada saat malam hari. C. Kondisi Biotik Kondisi biotik yang akan dibahas pada bagian ini antara lain adalah fauna dan flora. Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang memiliki vegetasi yang cukup baik dan luasan yang relatif cukup luas menyebabkan keanekaragaman hayati di kawasan ini relatif cukup baik dari segi flora, fauna serta unsur abiotiknya. 1. Fauna Jenis-jenis satwa liar yang ada di dalam HPGW diantaranya yaitu jenis-jenis mamalia Musang, Monyet ekor panjang, Kera, Meong congkok, Tupai, Trenggiling, Kelinci liar, Bajing dan Babi hutan (Gambar 6). Fauna lain yang terdapat pada kawasan ini adalah berbagai jenis burung diantaranya burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi), Emprit dan Kutilang.

24

Gambar 6. Galian Babi Reptilia yang dapat ditemukan pada kawasan ini diantaranya biawak, ular, kadal dan bunglon. Pada kawasan ini juga dapat ditemukan jenis ikan lubang dimana ikan lubang adalah ikan yang mempunyai jenis yang hampir sama dengan ikan lele yang memiliki warna agak merah dan saat ini mulai sulit ditemukan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) 2. Flora Tumbuhan adalah suatu organisme yang menggunakan cahaya matahari sebagai sumber tenaga untuk membuat makanan yang diperlukan untuk hidup dan tumbuh nya (Panut, 2004). kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) ditumbuhi oleh berbagai vegetasi. Tegakan hutan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) didominasi oleh tegakan damar (Agathis lorantifolia), pinus (Pinus merkusii) (Gambar 7), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jenis lainnya seperti kayu afrika (Maesopsis eminii), rasamala (Altingia excelsa), Dalbergia latifolia, Gliricidae sp, Shorea sp dan akasia (Acacia mangium). Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang memiliki 44 jenis tumbuhan, termasuk 2 jenis rotan, 13 jenis bambu dan 68 jenis tumbuhan obat.

25

Gambar 7. Dominan Flora di Hutan Pendidikan Gunung Walat HPGW Potensi tegakan hutan itu bila di ukur berdasarkan volume nya memiliki 10.855 m3 kayu damar, 9.471 m3 kayu pinus, 464 m3 puspa, 132 m3 sengon dan 88 M3 kayu mahoni. Pohon damar dan pinus juga menghasilkan hasil hutan non kayu yang berupa getah kopal dan getah pinus. D. Sumberdaya Wisata Sumberdaya wisata adalah merupakan sesuatu yang memiliki dimensi ruang, waktu dengan batas-batas dan elemen-elemen tertentu yang memiliki atraksi wisata dan dapat menarik wisatawan untuk berkunjung serta dapat menampung kegiatan berwisata (Avenzora 2005). Pembahasan mengenai sumberdaya wisata dapat dikaji dalam tiga hal yakni amenitas (sarana dan prasarana), atraksi wisata dan potensi wisata yang terdapat pada kawasan Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). 1. Amenitas Amenitas atau yang biasa diartikan sebagai sarana prasarana merupakan salah satu faktor kekuatan yang mendukung dari suatu pengelolaan pariwisata, sarana dan prasarana untuk kebutuhan kegiatan pengunjung seperti penelitian, pendidikan dan wisata yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) cukup memadai. Sarana dan prasarana yang terdapat di HPGW berfungsi untuk memberikan kenyamanan dan kesan yang positif kepada pengunjung. Dimana hal tersebut telah dilakukan oleh pihak pengelola seperti pembuatan ruang galeri (Gambar 8) yang berfungsi memajang berbagai benda yang dihasilkan oleh Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) tetapi disaat ini ruang galeri tersebut tidak 26

digunakan sebagai pajangan apapun sehingga saat ini ruang galeri tersebut di rubah atau dialih fungsi kan sebagai tempat penginapan pengunjung.

Gambar 8. Ruang Galeri Sonokeling 2. Atraksi Wisata Atraksi wisata yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) terbagi menjadi dua yakni atraksi wisata secara langsung dan atraksi wisata secara tidak langsung. Atraksi wisata yang di lakukan secara langsung yang terdapat di HPGW seperti berkemah, outbound, caving (Gambar 9) dan tracking.

Gambar 9. Atraksi Wisata Caving Wisata tracking yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) merupakan suatu bentuk dari kegiatan wisata yang dilakukan di dalam hutan yang didominasi oleh tegakan pinus dan damar. Kegiatan ini melewati berbagai tapak-tapak penting yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) seperti goa dan puncak. Semua jalur tracking di kawasan HPGW memiliki tantangan, daya tarik dan pengalaman tersendiri bagi pengunjung yang akan melakukan kegiatan wisata. Atraksi wisata secara tidak langsung yang terdapat 27

di HPGW seperti menikmati pemandangan alam dan pengenalan alam, kegiatan menikmati pemandangan alam yang dilakukan pengunjung yakni melihat panorama Sukabumi dari puncak TVRI. Kegiatan wisata ini menyuguhkan daya tarik yang berbeda kepada pengunjung. Pengenalan alam yang dilakukan oleh pengunjung yaitu kegiatan mengenal berbagai flora dan fauna yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). 3. Potensi Wisata Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) memiliki beberapa potensi wisata yang dapat dijadikan sebagai suatu daya tarik wisata bagi pengunjung. Potensi wisata yang terdapat pada kawasan HPGW dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Potensi Wisata Kawasan HPGW
No Potensi Wisata Deskripsi Puncak TVRI adalah puncak tertingi pada kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat. Penamaan Puncak TVRI dikarenakan dengan adanya menara salah satu saluran televisi nasional yaitu TVRI. Goa Cipeureu terletak tidak terlalu jauh dari kawasan wisma pengunjung. Goa Cipeureu terdapat di bagian utara dari kawasan HPGW. Camping ground menjadi salah satu potensi wisata yang menarik bagi pengunjung yang menyukai outdoor activity. Wisma Woloan 1 dan 2 desain yang berbeda dengan bangunan wisma lainnya. Wisma ini biasa digunakan oleh pengunjung yang cukup istimewa ketika berkunjung ke kawasan HPGW. Foto

1.

Puncak TVRI

2.

Goa Cipeureu

3.

Camping Ground

4.

Wisma Woloan 1 dan 2

28

Puncak TVRI merupakan suatu lokasi yang menyuguhkan akan pemandangan alam Kota Sukabumi (Gambar 10). Waktu yang baik untuk menuju puncak TVRI adalah pada saat pagi hari, dimana suasana pada pagi hari tersebut mendukung untuk diadakan nya suatu kegiatan perjalanan, dimana pengunjung berjalan menuju puncak TVRI dan saat waktu pagi hari pengunjung dapat menemukan berbagai jenis satwa dan suara kicauan burung serta udara yang masih segar.

Gambar 10. Puncak TVRI Puncak TVRI memiliki beberapa pilihan lokasi untuk melihat pemandangan kota Sukabumi salah satunya pada lokasi batu bilik (diatas tebing). Suasana yang alami dan pemandangan yang menakjubkan dapat menghilangkan rasa kepenatan saat melakukan perjalanan menuju puncak. Perjalanan menuju puncak hingga sampai pada puncak TVRI merupakan potensi wisata yang besar bagi Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW). Goa yang terletak pada perbatasan kawasan bagian barat itu dapat ditempuh dari kantor pengelola 30 menit. Jalur menuju goa memiliki banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan. Potensi tersebut yaitu hutan yang diselimuti dengan pohon pinus dan suara-suara burung yang berkicau jika melewati kawasan tersebut pada pagi hari atau sore hari (Gambar 11).

29

Gambar 11. Potensi Wisata Caving Goa yang memiliki pintu masuk yang kecil dan memiliki aliran air merupakan potensi wisata dimana hal tersebut dapat membuat wisatawan penasaran dengan keadaan bagian dalam goa. Bagian ujung goa belum dapat diketahui hingga saat ini tetapi pada salah satu bagian goa terdapat tujuh mata air yang sangat indah. Jarak tempuh untuk menemukan tujuh mata air yaitu sekitar 2 jam perjalanan dari pintu masuk goa. Goa tersebut terdapat jenis satwa seperti kelelawar dan walet. Goa Cipeureu juga digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan berbagai ritual khusus. Selain itu juga di dalam goa tersebut memiliki suatu daya tarik wisata tersendiri bagi pengunjung yang masuk kedalam goa tersebut. Camping ground menjadi salah satu potensi wisata yang menarik bagi pengunjung yang menyukai outdoor activity. Camping ground yang berada di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) memiliki luas 50 M x 40 M. Kawasan ini pada umumnya, digunakan oleh pengunjung yang bermalam dengan tidak menyewa wisma. Areal camping ground biasanya digunakan oleh pelajar, organisasi pramuka dan lain sebagainya. Pengunjung yang bermalam di camping ground ini akan memiliki kesan tersendiri hidup di alam bebas karena di sekitar camping ground terdapat tegakan pohon pinus dan pohon damar. Hal lain yang di dapatkan adalah udara sejuk yang akan mempengaruhi kesegaran pengunjung dalam melakukan kegiatan selama berada di camping ground (Gambar 12).

30

Gambar 12. Camping Ground Kawasan camping ground juga memiliki fasilitas toilet dan jalur yang tidak sulit (Gambar 13). Jalur menuju camping ground memiliki lebar 2 meter dengan material terbuat dari batu dan sebagian tanah. Jalur tersebut tidak bergelombang sehingga pengunjung tidak terlalu kelelahan. Toilet yang terdapat dikawasan camping ground berjumlah empat pintu. Kamar mandi tersebut dirancang untuk lakilaki dan perempuan dengan letak saling membelakangi. Bagian depan toilet untuk laki-laki dan bagian belakang toilet untuk perempuan. Luas setiap kamar mandi 2M X 2M dengan satu closet dan satu bak air berukuran kecil.

Gambar 13. Toilet dan Jalan Setapak Camping Ground

31

Wisma Woloan 1 dan 2 merupakan wisma yang memiliki desain berbeda dengan bangunan wisma lainnya (Gambar 14). Wisma ini biasa digunakan oleh pengunjung yang cukup istimewa ketika berkunjung ke kawasan HPGW. Wisma Woloan merupakan wisma yang dibangun dengan menggunakan kayu agar memberikan nuansa alami pada bangunan. Wisma Woloan 1 terdiri dari 2 ruang tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, satu kamar mandi, dua teras depan dan belakang. Wisma ini merupakan wisma yang biasa digunakan oleh pengunjung yang ingin bersantai.

Gambar 14. Wisma Woloan 2 dan Woloan 1 Wisma Woloan 1 tidak berbeda jauh dengan wisma Woloan 2. Perbedaan pada Wolan 1 yaitu memiliki jembatan penghubung antara jalan dengan teras wisma tersebut. Hal ini memberi kesan yang menarik pada wisma Woloan 1. Dua tipe rumah yang sama dengan bentuk yang berbeda tersebut menjadikan suatu potensi wisata di kawasan HPGW.

32

IV.

METODOLOGI

A.

Waktu dan Lokasi Kegiatan penelitian / Skripsi ini dilaksanakan di kawasan Hutan Pendidikan

Gunung Walat (HPGW) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Kabupaten Sukabumi. Waktu pelaksanaan kegiatan Skripsi ini dilaksanakan selama 90 hari yaitu pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2012. Lokasi pelaksanaan penelitian dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat IPB, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. B. Alat dan Objek Penelitian Pelaksanaan Skripsi ini menggunakan beberapa alat yang digunakan dalam melengkapi dan menyusun data. Kegiatan Skripsi ini juga memerlukan obyek penelitian sebagai sumber pengamatan. Alat yang digunakan dalam Skripsi dijelaskan dalam Tabel 2. Tabel 2. Alat yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan penelitian
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Peta Alat tulis menulis Tally sheet Kuesioner Kamera digital Jam Laptop Hp Pavilion Dv2 Meteran Binocular Alat Fungsi Menunjukkan lokasi suatu tempat, identifikasi sumberdaya, daya tarik, dan atraksi wisata. Mencatat dan menulis data yang diambil Untuk mencatat data yang diambil Untuk mengambil data responden. Mendokumentasikan kegiatan di lokasi Skripsi Untuk mengetahui lama saat praktik Untuk mengolah data di Lapangan Untuk mengukur panjang atau lebar data yang akan diambil Untuk melihat satwa lebih dekat

Obyek yang diamati adalah potensi fisik, potensi flora, fauna, pengelola, masyarakat, dan wisatawan baik wisatawan aktual maupun wisatawan potensial yang merupakan responden dalam kegiatan penelitian pengembangan wisata hutan.

33

C.

Jenis Data, Metode Pengambilan Data, dan Analisis Data. Kegiatan Skripsi di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Fakultas

Kehutanan Institut Pertanian Bogor terdapat beberapa data yang harus diamati. Data yang diambil pada saat penelitian berkaitan dengan data potensi objek wisata alam, spiritual dan buatan, data wisatawan, masyarakat dan pengelola. Adapun jenis-jenis data yang diambil terdapat pada Tabel 3. Tabel 3. Jenis data, Metode pengambilan dan Analisis data
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jenis Data Existing condition: Kegiatan wisata saat ini Potensi objek wisata alam Potensi objek wisata spiritual Potensi objek wisata buatan Data wisatawan karakteristik, motivasi, persepsi dan minat Data masyarakat: Kesiapan dan harapan masyarakat Data pengelola: Persepsi, kesiapan dan harapan pengelola Kondisi umum kawasan Metode Observasi lapang Observasi lapang dan studi literatur Observasi lapang Observasi lapang Penyebaran kuesioner Penyebaran kuesioner Penyebaran kuesioner Studi literature Sumber Data Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat Wisatawan Masyarakat Pengelola Dokumen Pengelola Analisis Data Kualitatif Kualitatif dan Kuantitatif Kualitatif dan Kuantitatif Kualitatif dan Kuantitatif Kualitatif dan Kuantitatif Kualitatif dan Kuantitatif Kualitatif dan Kuantitatif Kualitatif

D. 1.

Metode Pengambilan Data Studi Literatur Pengambilan data flora dan kondisi umum dilakukan dengan metode studi

literatur. Kegiatan studi literatur dilakukan untuk mendapatkan segala bentuk data dan informasi yang berkaitan dengan pokok permasalahan yang diamati. Studi literatur merupakan kegiatan observasi yang dilakukan dengan menulusuri data berupa arsip dan informasi untuk menunjang penyusunan laporan Skripsi. 2. Observasi Lapang Kegiatan observasi lapang dilakukan dengan pengamatan langsung pada kawasan. Kegiatan ini untuk mendapatkan data potensi objek wisata alam, spiritual dan buatan serta data existing condition kegiatan wisata. Kegiatan observasi lapang ini dilakukan dengan cara pengecekan kondisi sumberdaya berdasarkan data yang ada yang kemudian disesuaikan dengan kondisi sumberdaya pada keadaan sebenarnya di kawasan. Kegiatan observasi ini juga dilakukan dengan cara pengamatan menjelajahi setiap sudut hutan (pada lokasi yang sama dapat dilakukan lebih dari sekali). Pencatatan data yang ditemukan di lapangan dicatat pada thally sheet. 34

3.

Penyebaran Kuesioner Kuesioner yang digunakan dalam pelaksanaan Skripsi ini dibentuk dengan pola

Close ended, pola ini memberikan pilihan aspek jawaban kepada pengunjung sehingga pengunjung dapat memilih jawaban dari aspek yang telah disediakan. Mengutip pendapat Gay, Sumanto (1990) dalam Wardiyanta menyatakan bahwa jumlah sampel terkecil atau batas minimal jumlah sampel yang dapat diterima tergantung pada jenis penelitian dimana penelitian korelasi batas minimal nya adalah 30 subyek penelitian senada dengan Avenzora bahwa responden yang akan diambil untuk mendukung kuesioner sebanyak 30 orang (Avenzora 2010, Komunikasi Pribadi). Jumlah tersebut dianggap telah mewakili populasi yang ada. Selain itu, penyebaran kuesioner menggunakan teknik random sampling. Pada pengambilan sampel secara random, setiap unit populasi, mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Dengan cara random, bias pemilihan dapat diperkecil, sekecil mungkin. Ini merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan sampel yang representatif. E. 1. Analisis Data Analisis Deskriptif Kualitatif Analisis deskriptif kualitatif digunakan dengan cara mendeskripsikan data secara jelas, dilihat dari segi kualitas, berdasarkan data yang diperoleh dari hasil observasi lapang dan studi literatur serta penyebaran kuesioner. Untuk data flora, fauna, gejala alam, ruang terbuka hijau dan objek wisata spiritual, analisis kualitatif yang digunakan berdasarkan penilaian potensi objek wisata menurut Avenzora (2008) yang terdiri dari atas keunikan, keindahan, kelangkaan, aksesibilitas, seasonality, sensitivitas dan fungsi sosial. 2. Analisis Deskriptif Kuantitatif Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan data hasil tabulasi kuesioner wisatawan, masyarakat dan pengelola juga kuesioner penilaian potensi objek wisata yang berdasarkan perhitungan dan penjumlahan sehingga menghasilkan suatu nilai.

35

Setiap parameter dalam kuesioner dinilai berdasarkan skala penilaian 1 sampai 7 yang mewakili pendapat responden terhadap parameter tersebut. Contoh skala penilaian nya 1 = sangat tidak minat, 2 = tidak minat, 3 = agak tidak minat, 4 = Biasa saja, 5 = agak minat, 6 = minat, 7 = sangat minat. Untuk mendapatkan nilai suatu parameter maka dilakukan perhitungan sebagai berikut: p=
Keterangan : P = nilai suatu parameter R1-7 = jumlah responden yang memilih suatu skala penilaian antara 1 - 7 Rt = jumlah total reponden yang diambil

F.

Metode Penyusunan Media Promosi Wisata Media promosi yang dihasilkan adalah booklet. Media promosi tersebut dibuat

dengan menggunakan software CorelDRAW dan PhotoShop. Rancangan desain pada booklet meliputi ukuran, tulisan, warna, foto atau gambar, isi materi dan elemen pendukung lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian berikut: 1. Ukuran Pembuatan booklet program wisata hutan berukuran 21 x 15 cm dengan bentuk persegi panjang. Ketebalan booklet menyesuaikan dengan isi booklet yang akan disampaikan. 2. Tulisan Jenis tulisan yang digunakan akan disesuaikan dengan penggunaan EYD serta penulisan menggunakan bahasa secara formal dan non formal. Kemudian tulisan yang akan digunakan pada booklet akan menggunakan huruf-huruf yang mudah untuk dimengerti oleh pembaca. 3. Warna Warna yang digunakan dalam desain booklet menggunakan warna yang sesuai dengan Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Warna cerah atau warna khas akan memperindah rancangan booklet sesuai dengan dasar-dasar pemilihan warna. Selain itu digunakan warnawarna gelap sebagai penyeimbang dalam mengkombinasikan warna agar penampilan booklet lebih menarik untuk dibaca. 36

4.

Foto atau Gambar Penggunaan foto ataupun gambar pada booklet diperoleh melalui kumpulan

gambar yang merupakan hasil observasi baik asli ataupun hasil modifikasi Adobe Photoshop CS4. Gambar memiliki kedudukan istimewa dalam komposisi booklet karena foto mewakili 1000 kata. 5. Isi atau Materi Isi atau materi yang terdapat pada booklet terdiri dari cover depan dengan kandungan gambar, logo, nama Hutan Pendidikan Gunung Walat serta potongan beberapa foto. Bagian kedua merupakan cover penutup yang terdiri dari beberapa potongan gambar dengan komposisi warna. Serta pada isi booklet terdiri dari kata pengantar, daftar isi, gambar satu obyek yang khas di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, potensi, program wisata hutan dan informasi. Isi atau materi dalam booklet bertujuan untuk menggambarkan secara singkat Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor agar pembaca dapat mengerti dan memahami media promosi tersebut. Seluruh komponen tersebut akan tergabung menjadi sebuah booklet yang memiliki informasi agar bermanfaat sebagai media promosi terhadap para pembaca. 6. Elemen Pendukung Lainnya Elemen pendukung dalam booklet diperoleh dari perancangan aplikasi. Elemen tersebut berupa ilustrasi gambar yang memiliki hubungan dengan simbol yang akan diberi komposisi informasi. Penataan elemen-elemen booklet dibantu dengan menggunakan software Photoshop CS4. Penataan elemen-elemen pendukung bertujuan untuk memberikan kesesuaian komposisi booklet agar terlihat lebih rapi dan menarik.

37

G. H. Tahapan Pengerjaan Tahapan pengerjaan dari kegiatan skripsi ini terdiri dari lima tahap. Persiapan dimulai dengan studi literatur untuk menentukan problem statement dan variabel esensial beserta parameter yang digunakan dalam kegiatan skripsi. Tahapan kedua yang dilakukan yaitu inventarisasi dari setiap parameter dalam variabel esensial. Inventarisasi dilakukan dengan menggunakan observasi, kuesioner, studi literatur. Tahapan kedua ini menghasilkan data yang berkaitan dengan parameter dari setiap variabel esensial. Tahap ketiga yaitu analisis, data yang dihasilkan pada tahapan kedua kemudian dianalisis (penelaahan dan penguraian data hingga menghasilkan simpulan) dengan menggunakan analisis kualitatif untuk variabel existing condition dan sumberdaya wisata. Analisis kuantitatif dan kualitatif untuk variabel wisatawan, masyarakat dan pengelola sehingga dapat diketahui kesimpulan setiap data yang menjadi dasar dalam perumusan suatu rancangan program wisata yang tepat. Tahap keempat yaitu sintesis yang dilakukan dengan memadukan dan saling mengkaitkan data-data variable yang telah dianalisis tadi sehingga menghasilkan konsep program wisata yang di rancang. Tahapan terakhir dari pelaksanaan Skripsi ini yaitu merencanakan berbagai opsi-opsi program wisata dan output berupa desain media promosi. Tahapan tersebut menghasilkan program wisata terpilih dan desain media promosi berupa booklet (Gambar 15).

38

Tahapan Proses

Jenis Aktivitas

Hasil

PERSIAPAN
Tahap I

Studi Literatur

- Penetuan problem statement - Penentuan variabel esensial dan parameter

INVENTARISASI

Observasi Kuesioner Studi literatur Dokumentasi

- Data parameter aspek ekologi - Data parameter aspek wisatawan - Data parameter aspek masyarakat - Data parameter aspek pengelola

Tahap II

ANALISIS
Tahap III

- Pendeskripsian data secara kualitatif - Pendeskripsian data secara kuantitatif

Sumberdaya potensial wisata

SINTESIS
Tahap IV

Penilaian sumberdaya potensial wisata menggunakan indikator penilaian

Sumberdaya wisata yang digunakan

PERENCANAAN

- Penentuan opsi-opsi program wisata - Penentuan opsi-opsi rancangan desain output media promosi

- Program wisata terpilih - Desain output media promosi terpilih

Tahap V

Gambar 15. Tahapan Pengerjaan

39

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejak ditetapkannya sebagai kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) kawasan ini dikelola dan digunakan secara intensif oleh civitas akademika Fakultas Kehutanan IPB untuk beberapa kegiatan akademis yaitu pendidikan, penelitian dan pelatihan. Seiring berjalan nya waktu Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) juga digunakan untuk beberapa kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan wisata lingkungan bagi siswa-siswi sekolah, mahasiswa maupun masyarakat umum. Menurut Ricardson dan Fluker dalam Pitana dan Diarta (2009), destinasi wisata didefinisikan sebagai a significant place visited on a trip, with some form actual or perceived boundary. The basic geographic unit for the production of tourism statistics. Selama wisatawan berada di destinasi wisata, wisatawan tersebut

mengkonsumsi produk yang berupa jasa atau pelayanan, walaupun terdapat produk barang yang ditawarkan seperti souvenir tapi hal tersebut bukan merupakan produk utama yang dikonsumsi wisatawan. Salah satu produk jasa yang dikonsumsi wisatawan adalah kegiatan yang akan dilakukannya atau dilihatnya. Pengembangan yang dilakukan di kawasan hutan pendidikan gunung walat menggunakan teknik Visitor Activity Management Program (VAMP). Dimana pengembangan yang dilakukan adalah pengembangan kegiatan wisata hutan yang dirancang menjadi suatu program wisata hutan. A. Kondisi Saat Ini (Existing Condition) Kegiatan wisata yang biasa dilakukan pengunjung di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat seperti tracking (menikmati keindahan bentang alam) dimana semua jalur di kawasan HPGW memiliki tantangan, daya tarik dan pengalaman tersendiri bagi pengunjung, wisata caving di Goa Cipeureu dan berkemah di camping ground HPGW (Gambar 16). Kegiatan berkemah biasanya kegiatan internal kelompok pengunjung itu sendiri bukan merupakan program wisata yang disediakan pengelola. Pengelola hanya menyediakan tempat dan fasilitas yang diperlukan.

40

Gambar 16. Aktivitas Pengunjung HPGW Kegiatan wisata yang biasanya dilakukan pengunjung di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat seperti foto-foto, duduk-duduk santai, menikmati keindahan bentang alam dan menikmati suara burung berkicau. Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa terbatasnya pilihan kegiatan wisata yang ditawarkan pengelola pada wisatawan. Wisatawan yang melakukan kunjungan kedua kali akan melakukan kegiatan wisata yang sama seperti pada saat pertama kali wisatawan tersebut berkunjung ke kawasan tersebut. Jika hal tersebut dibiarkan dan tidak disiasati (dipikirkan), wisatawan akan merasa bosan dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak berkunjung lagi karena pengalaman yang wisatawan tersebut dapatkan akan sama dengan pengalaman saat kunjungan sebelumnya. Hal tersebut sangat disayangkan mengingat potensi kawasan yang cukup besar, akan sangat sia-sia jika tidak dikemas atau dirancang menjadi sebuah program wisata yang akan menjadi alternatif pilihan kegiatan wisatawan yang bermanfaat bagi wisatawan.

41

B.

Potensi Objek Wisata Kawasan HPGW Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat memiliki potensi objek wisata yang

dapat dijadikan daya tarik wisata hutan bagi wisatawan. Potensi objek wisata tersebut terdiri dari potensi objek wisata alam seperti flora, fauna, gejala alam dan ruang terbuka hijau, potensi objek wisata spiritual dan potensi objek wisata buatan. 1. a. Potensi Objek Wisata Alam Flora Begitu banyak jenis flora atau tumbuhan yang tersebar di muka bumi. Setiap jenis memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Tumbuhan yang memiliki daya tarik berupa manfaat atau keindahan morfologinya merupakan ciptaan Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Dalam bidang pariwisata nilai-nilai spirit juga harus bisa tersampaikan pada wisatawan bukan sekedar untuk mencari kesenangan semata saja, karena rekreasi sebenarnya adalah pada saat kita mengingat kembali pada sang pencipta. Keanekaragaman jenis flora yang ada ditemukan 20 jenis dari ratusan jenis flora yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat. Jenis flora tersebut diklasifikasikan menjadi empat klasifikasi yaitu pohon, perdu, terna dan epifit. Untuk klasifikasi jenis pohon ditemukan 13 jenis. Untuk jenis perdu ditemukan 5 jenis. Untuk jenis terna ditemukan 1 jenis. Untuk epifit ditemukan 1 jenis. Pada kawasan ini terdapat 1 tipe ekosistem hutan yaitu hutan tanaman atau sekunder dimana untuk tipe ekosistem hutan tanaman didominasi oleh Damar (Agathis lorantifolia). Ilustrasi pohon damar adalah tinggi pohon tersebut mencapai 60 m dan diameter batang bisa mencapai lebih dari 200 cm. batangnya tidak berbanir, dengan warna kulit coklat-kelabu, bulat memanjang. Tajuk kurang melebar, berbentuk kerucut tajam dan sangat rapat. Bagian pangkal batang terdapat benjolanbenjolan besar yang mengeluarkan getah yang menyerupai lilin yang meleleh (Heyne,1985). Ketebalan kulit berkisar antara 1 - 1,5 cm, mengandung banyak damar, tanpa alur memanjang, sedikit mengelupas, kelupasan-kelupasannya berbentuk kepingan-kepingan bulat tebal. Ranting nya bulat, pada bagian ujung menjadi pipih, kuncup ujung tidak lancip. Daun nya berhadapan, helaian daun sedikit demi sedikit menyempit menjadi tangkai daun yang pendek dan membujur. Kerucut 42

buah berbentuk bola, sampai diameter 8 cm. sisik buahnya berbentuk kerucut pendek seperti baji. Biji buah berbentuk telur panjang memiliki pertumbuhan optimum pada lereng-lereng gunung yang drainase nya baik dengan ketinggian tempat tumbuh antara 300 1.200 m dpl. Setiap jenis dari flora yang ditemukan di kawasan ini memiliki manfaat yang dapat di gunakan untuk kepentingan manusia (Lampiran 1). Manfaat tersebut seperti dapat digunakan sebagai obat, dikonsumsi, sebagai bahan bangunan dan sebagai nya. Seperti pohon damar yang menghasilkan kopal yang digunakan sebagai cat, vernis dan lain-lain. b. Fauna Fauna atau satwa di muka bumi ini sangat banyak jumlahnya, dari mulai yang bersel satu hingga bersel banyak, dari yang tidak bertulang belakang hingga yang bertulang belakang. Keberagaman jenis satwa merupakan bukti tanda kekuasan Sang Maha Pencipta. Sang Pencipta menciptakan satwa di muka bumi ini tentu ada manfaatnya untuk kepentingan manusia, tidak ada yang sia-sia dimana setiap satwa juga memiliki keunikannya masing-masing. Adanya manfaat dan keunikan dari setiap jenis satwa dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan jika satwa-satwa tersebut digunakan dalam pengembangan wisata. Daya tarik tersebut itulah yang dapat memberikan kepuasan bagi wisatawan. Wisatawan yang merasa puas karena dapat merasakan manfaat dari daya tarik tersebut baik secara material maupun immaterial. Seiring berjalan nya waktu kondisi Hutan Pendidikan Gunung Walat yang selama ini telah berubah dan mengalami perubahan dalam pengembangan sarana prasarana membuat satwa-satwa hutan agak relatif sulit ditemukan. Tercatat di kawasan ini ada 9 jenis mamalia, 3 jenis burung, 5 jenis reptil dan 2 dari filum arthropoda (Tabel 4).

43

Tabel 4. Jenis satwa yang dapat dijumpai pada Kawasan HPGW


No 1. Kelas Mamalia Nama Jenis a. Monyet Ekor Panjang b. Kera c. Tupai d. Musang e. Trenggilng f. Meong Congkok g. Kelinci Liar h. Babi Hutan a. Burung Elang Jawa b. Emprit c. Kutilang a. Biawak b. Ular Hijau c. Ular Tanah d. Kadal e. Bunglon Kalajengking a. Tonggeret b. Jangkrik Ditemukan Jumlah 5 1 4 4 2 6 5 1 1 1 1 1 1 1 3 Frekuensi 2 1 3 2 1 2 2 1 1 1 1 1 1 1 1

2.

Aves

3.

Reptil

4. 5.

Arachnida Serangga

Berdasarkan hasil pengamatan, satwa hutan yang berhasil ditemukan dari jenis Mamalia yang ditemukan di kawasan ini adalah monyet ekor panjang, kera, tupai, bajing dan babi hutan. Menurut pengelola dan berdasarkan data sekunder yang diperoleh satwa tersebut memang ada di kawasan tersebut tetapi keberadaan satwa tersebut sekarang agak relatif sulit ditemukan. Kawasan ini terdapat beberapa jenis burung seperti burung elang jawa, emprit dan kutilang, satwa filum Arthropoda yang ditemukan di kawasan ini adalah dari kelas Arachnida dan kelas Insecta. Jenis satwa Arachnida yang ditemukan adalah kalajengking dan jenis satwa Insecta yang ditemukan adalah tonggeret yang selalu mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring jika waktu sore tiba dan reptil yang dapat di jumpai dikawasan ini adalah kadal kebun. Monyet ekor panjang adalah satwa liar di kawasan ini yang paling mudah dijumpai. Jenis mamalia ini biasanya memulai aktivitasnya pada pagi hari sekitar pukul 06.00-09.00. pada siang hari biasanya mereka beristirahat di atas pepohonan. Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) memiliki bulu berwarna coklat ke abu-abuan dengan wajah berwarna abu-abu kecoklatan serta jambang di pipi berwarna abu-abu, terkadang terdapat jambul di atas kepala. Hidungnya datar dengan 44

ujung hidung menyempit. Monyet ini memiliki gigi seri, gigi taring dan geraham untuk mengunyah makanan seperti manusia. Monyet ekor panjang ini hidup berkelompok dengan anggota antara 5 sampai 30 ekor lebih. Kelompok tersebut memiliki satu monyet jantan sebagai pemimpin kelompok dan ukuran tubuhnya lebih besar. Dalam kelompok tersebut terdiri dari beberapa pejantan dan betina yang biasanya menggendong anaknya, jumlah betina leih banyak dari pejantan. Seekor pejantan biasanya melakukan perkawinan dengan betina sekaligus dimana keberadaan Monyet Ekor Panjang dikawasan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung (Gambar 17).

Gambar 17. Monyet Ekor Panjang Burung perenjak jawa (Prinia familliaris) dan kutilang (Pycnonotus aurigaster) merupakan jenis aves yang relatif mudah sekali ditemukan di kawasan ini (Gambar 18). Burung perenjak jawa memiliki ukuran agak relatif besar (13 cm) berwarna zaitun serta ekor panjang dengan garis sayap putih khas serta ujung hitam dan putih. Tubuh bagian atas nya coklat zaitun, tenggorokan dan dada tengah nya putih dimana sisi dada dan sisi tubuh berwarna abu-abu, perut dan tungging berwarna kuning pucat dan bersuara keras bernada tinggi cwuit-cwuit-cwuit. Sedangkan kutilang berukuran sedang (20 cm) bertopi hitam dengan tunggir berwarna keputihputihan dan tungging nya jingga kuning. Dagu dan kepala atas nya berwarna hitam, kerah, tunggir, dada serta perut nya putih. Sayapnya yang hitam dan ekor nya berwarna coklat dan suara nya yang merdu dan nyaring bersuara cuk-cuk dan cang-kur yang di ulangi cepat. Kedua burung tersebut biasanya terlihat di rantingranting pohon pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB, aktifitas yang sedang dilakukannya yaitu mencari makan dan burung tersebut sangat aktif bergerak dimana makanan ke dua burung tersebut adalah buah-buahan dan serangga kecil. 45

Gambar 18. Burung Perenjak Jawa dan Kutilang Elang Jawa. Keberadaan burung elang jawa di kawasan ini sangat sulit ditemukan, terkadang burung elang jawa ini terlihat di langit di atas Hutan Pendidikan Gunung Walat yang sampai saat ini pengelola belum dapat menemukan sarang burung tersebut (Gambar 19). Pada saat pengamatan, burung elang ini ditemukan sedang memutar langit di dekat kawasan HPGW arah menara TVRI dimana burung ini ditemukan pada pagi hari sekitar pukul 10.00 WIB.

Gambar 19. Burung Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) Tupai Kekes. Tupai kekes (Tupaia javanica) yang ditemukan di kawasan HPGW jumlah nya 7 ekor, habitat satwa tersebut yaitu di pepohonan dan semaksemak (Gambar 20). Tupai kekes merupakan hewan diurnal atau hewan yang aktif di siang hari dimana pada saat pengamatan tupai ini ditemukan pada siang hari pukul 14.08 WIB. Tupai ini bertubuh kecil ramping dimana panjang kepala dan tubuh nya sekitar 15 cm atau kurang dan ekornya sekitar 15 cm. Warna rambut nya kuning, coklat keabu-abuan dengan bintik-bintik bulu kehitaman. Warna rambut sisi perut

46

dan di bawah kaki kekuningan sampai keputihan. Ekornya panjang dan melebar, namun tidak menebal serta warna rambut ekornya coklat kuning dengan bintik-bintik kehitaman dan makanan tupai ini adalah serangga serta buah-buahan.

Gambar 20. Tupai kekes (Tupaia javanica) Kalajengking. Kalajengking termasuk pada satwa filum Arthropoda atau hewan berbuku-buku. Kalajengking yang ditemukan di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat ini dapat ditemukan pada serasah-serasah daun dipermukaan tanah dan pada saat pengamatan, satwa ini hanya ditemukan satu ekor (Gambar 21). Warna kalajengking adalah hitam pekat, kalajengking ini memiliki bisa yang terdapat pada sengat di ujung ekornya bisa tersebut digunakan untuk membunuh atau melumpuhkan mangsanya dan untuk kalajengking di kawasan ini tidak terlalu bahaya bagi manusia sengatannya hanya akan menghasilkan efek lokal seperti rasa sakit dan pembengkakan.

Gambar 21. Kalajengking 47

Tonggeret. Tonggeret (Cicada) merupakan bagian dari kelas serangga yang dapat mengeluarkan bunyi sangat nyaring dan asal bunyi nyaring tersebut akan sangat nyaring terdengar di pepohonan kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat mulai sekitar pukul 14.00 hingga sore hari. Menurut pengelola tonggeret yang nama jawanya gareng pung ini dapat memberitahukan bahwa musim hujan akan berlalu dan akan masuknya musim kemarau dimana yang paling menakjubkan adalah tonggeret ternyata hidup sekitar 6 sampai 7 tahun dibawah tanah dalam bentuk pupa. Setelah keluar dari pupa berbentuk mirip seperti jangkerik besar lengkap dengan sayapnya yang merupakan tonggeret dewasa. Cangkang pupa yang ditinggalkan tonggeret ini berwarna coklat dan terlihat renyah, masa dewasanya sangat singkat sekitar 2 minggu dan bunyi nyaring yang serangga ini hasilkan ternyata adalah untuk menarik perhatian betina untuk dapat berkembang biak.

Gambar 22. Tonggeret yang sudah mati Kadal Kebun. Kadal kebun (Mabuya multifasciata) merupakan jenis reptil yang ditemukan di kawasan ini, kadal kebun ini biasanya ditemukan di daerah perkebunan, rerumputan, persawahan, semak-semak dan sekitar aliran air (Gambar 23). Kadal ini sangat gesit dimana kepala seperti menyatu dengan leher, panjang nya sekitar 22 cm sebagian tubuhnya adalah ekor serta sisi atas tubuh reptil ini berwarna coklat tembaga keemasan. Sisi bawah tubuh berwarna abu-abu keputihan atau kekuningan dan kulit tubuhnya juga terdiri dari sisik-sisik.

48

Gambar 23. Kadal kebun c. Gejala Alam Gejala alam atau kejadian alam terdapat banyak di bumi ini, mulai yang terbentuk dari hard element yang dapat kita sentuh sampai soft element yang hanya dapat dirasakan. Gejala-gejala alam tersebut seperti air terjun, sumber mata air, pelangi, angin, petir, pelangi dan sebagainya. Tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan gejala alam tersebut semuanya terbentuk oleh alam dengan Kuasa Tuhan dimana setiap gejala alam atau kejadian alam tersebut merupakan tanda-tanda kebesaran sang pencipta. Gejala alam yang terdapat di alam ini memiliki pesonanya tersendiri karena dari setiap gejala alam tersebut terdapat nilai estetika dan nilai manfaat, nilai estetika dan nilai manfaat tersebut dapat digunakan untuk kepentingan manusia. Salah satunya dalam bidang pariwisata dan gejala alam tersebut dapat dimanfaatkan menjadi daya tarik bagi wisatawan agar wisatawan tertarik untuk datang melihat dan merasakan gejala alam tersebut. Gejala alam yang berpotensi untuk menjadi daya tarik wisata di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah Goa Cipeureu dan jenis batuan karst dimana batuan karst tersebut itu yang membentuk goa alam karst, Goa Cipeureu seharusnya dijadikan objek wisata tambahan gejala alam dari kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat terdapat Goa Cipeureu yang memiliki aliran air dan tujuh mata air yang sangat indah. Dimana kawasan ini ditumbuhi dengan semak-semak dan pohon sengon serta suara-suara burung yang berkicau jika akan melewati kawasan tersebut pada pagi hari atau sore hari.

49

Sampai saat ini Goa Cipeureu yang berada di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat belum dikembangkan oleh pengelola kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat dimana sekitar goa tersebut masih berbatu dan ditumbuhi tanaman perdu, jika dilihat dari segi potensinya goa Cipeureu tersebut sangat berpotensi menjadi objek wisata tambahan di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat. 2. Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau merupakan salah satu potensi sumberdaya wisata yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan wisata. Terdapat banyak contoh ruang terbuka hijau seperti bumi perkemahan, taman, padang rumput dan sebagainya. Walaupun keberadaannya terkadang tidak memiliki daya tarik apapun, ruang terbuka hijau adalah suatu sarana untuk dilaksanakannya berbagai kegiatan wisata yang akan dilakukan. Terdapat beberapa ruang terbuka hijau yang berada di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat seperti bumi perkemahan (camping ground), lapangan rumput atau taman. Bumi perkemahan menjadi salah satu destinasi wisata yang ada di Hutan Pendidikan Gunung Walat, luas bumi perkemahan ini sekitar 2.000 m2. Lokasi bumi perkemahan ini berada di atas kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat lokasi nya yang tidak jauh dari kantor pengelola HPGW, di sekitar camping ground terdapat tegakan pohon pinus dan pohon damar dimana hal lain yang di dapatkan adalah udara sejuk yang akan mempengaruhi kesegaran pengunjung dalam melakukan kegiatan selama berada di camping ground. Kawasan camping ground juga memiliki fasilitas toilet dan jalur yang tidak sulit, toilet yang terdapat di kawasan camping ground berjumlah empat pintu. Kamar mandi tersebut dirancang atau diperuntukkan untuk laki-laki dan perempuan dengan letak saling

membelakangi. Bagian depan toilet untuk laki-laki dan bagian belakang toilet untuk perempuan dimana luas setiap kamar mandi 2 m x 2 m dengan satu closet dan satu bak air berukuran kecil.

50

3.

Potensi Objek Wisata Spiritual Potensi wisata spiritual yang terdapat di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung

Walat adalah Goa Cipeureu yang terdapat di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat, area wisata spiritual ini di pilih sebagai objek tambahan wisata yang akan menjadi daya tarik wisatawan dikarenakan saat berkunjung penulis menemukan sesaji yang berada di depan mulut goa Cipeureu. Menurut pengelola HPGW, Goa Cipeureu memang sering digunakan oleh masyarakat sekitar kawasan untuk melakukan berbagai ritual-ritual khusus dengan membawa sesaji dan diletakkan di depan mulut Goa Cipeureu. 4. Potensi Objek Wisata Buatan Potensi wisata buatan yang terdapat di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah wisma woloan 1 dan wisma woloan 2, area wisma ini dibuat sebagai tambahan objek wisata yang menjadi objek daya tarik wisata tambahan untuk wisatawan. Area wisma ini dibangun dengan menggunakan kayu agar memberikan nuansa alami dan kehangatan. Wisma woloan 1 terdiri dari 2 ruang tidur, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 kamar mandi dan 2 teras depan dan belakang. Wisma Woloan 1 tidak berbeda jauh dengan wisma woloan 2 perbedaan woloan 1 yaitu memiliki jembatan penghubung antara jalan dengan teras wisma tersebut dimana hal ini memberikan kesan yang menarik pada wisma woloan 1. Dua tipe rumah yang sama dengan bentuk yang berbeda tersebut menjadikan suatu potensi wisata di kawasan HPGW. C. Nilai Potensi Objek Wisata Penilaian mengenai potensi objek wisata hutan dilakukan oleh tiga orang assessor yang dianggap mengerti mengenai objek yang dinilai. Penilaian ini berdasarkan pada metode penilaian potensi menurut Avenzora (2008) yang terdiri dari keunikan, kelangkaan, keindahan, seasonality, sensitifitas, aksesibillitas dan fungsi sosial. Objek penilaian berupa potensi wisata alam seperti flora, fauna, gejala alam, ruang tebuka hijau dan potensi wisata spiritual. Penilaian terhadap jenis sumberdaya wisata tersebut dilakukan dengan tujuan mengetahui kelayakan sumberdaya wisata tersebut untuk dijadikan sebagai sumberdaya utama dalam wisata hutan.

51

1. a.

Penilaian Potensi Obyek Wisata Alam Flora Penilaian potensi flora yang berada di kawasan Hutan Pendidikan Gunung

Walat dilakukan pada ke dua puluhan jenis tumbuhan yang ditemukan di kawasan tersebut. Tumbuhan yang akan dinilai terdiri dari pohon, perdu, terna dan epifit. Dari penilaian kedua puluh jenis tersebut terpilihlah lima jenis flora yang memiliki nilai tertinggi (Tabel 5). Tabel 5. Nilai Potensi Flora HPGW
No 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Keunikan Kelangkaan Keindahan Seasonality Sensitivitas Aksesibilitas Fungsi Sosial Bandotan 4,4 4,2 4,0 3,0 2,0 6,9 5,6 Manggis 4,6 4,1 4,0 5,0 2,0 6,9 4,0 Jenis Flora Pinus 4,6 3,8 5,0 2,4 2,9 6,9 6,4 Damar 4,7 4,1 4,0 3,6 2,0 6,9 6,4 Meniran 4,3 4,3 4,1 3,0 3,0 6,9 4,0

Diantara kelima jenis flora tersebut yang memiliki keunikan tertinggi adalah pohon damar dengan nilai 4,7 yang di kategorikan agak unik. Hal tersebut disebabkan pohon ini memiliki kulit batang yang berwarna menarik. Selain itu damar memiliki getah yang dapat dimanfaatkan untuk bahan baku korek api, plastik, plester, pernis, lak, dan sebagainya sehingga hingga saat ini pemanfaatan damar masih dilakukan oleh masyarakat. Damar juga memiliki kandungan chloroform yang dapat digunakan untuk mengawetkan binatang dan tumbuhan untuk pemeriksaan secara mikroskopis. Untuk indikator penilaian kelangkaan, flora yang memiliki nilai kelangkaan tertinggi adalah meniran, dengan nilai 4,3 yang sebenarnya dikategorikan biasa saja. Semak semusim, tumbuh tegak, bercabang banyak, dengan tinggi 30-100 cm. Batang masif, berwarna hijau, berbentuk bulat, licin, tidak berambut, diameter lebih kurang 3 mm, dan bergetah berwarna putih. Daun majemuk dan letaknya berseling. Anak daun berjumlah 15-24, berwarna hijau, berbentuk bulat telur, dengan panjang 1,5 cm dan lebar 7 mm, tepi rata, ujung tumpul, dan pangkal membulat. Bunga berwarna putih, tunggal, dan terdapat di dekat tangkai anak daun. Bunga jantan keluar di bawah ketiak daun, sedangkan bunga betina keluar di atas ketiak daun. Buah kotak, berbentuk bulat pipih, berdiameter kurang lebih 2-2,5 mm, dan berwarna

52

hijau keunguan. Biji kecil, keras, berbentuk ginjal, dan berwarna hijau. Akar tunggang dan berwarna putih. Keberadaan tumbuhan ini tidak mendominasi hutan. Untuk indikator keindahan jenis flora yang memiliki nilai tertinggi adalah pinus dengan nilai 5,0 yang di kategorikan agak indah. Hal tersebut disebabkan karena pinus merupakan pohon yang memiliki tajuk pohon berbentuk pyramidal. Komposisi warna daun dan batang nya indah dilihat mata. Kesan sejuk ditimbulkan jika melihat populasi hutan pinus. Untuk indikator seasonality, jenis flora yang mendapatkan nilai tertinggi adalah Manggis. Nilai untuk seasonality pohon ini yaitu 5,0 dengan kategori agak musiman. Manggis merupakan pohon buah yang memiliki musim-musim tertentu untuk berbuah dimana musim berbuah buah manggis 2 sampai 3 bulan. Indikator sensitivitas jenis flora yang memiliki nilai tertinggi adalah pinus dengan nilai 2,9 yang dikategorikan agak tidak sensitif. Meskipun dikategorikan demikian, pohon pinus tetap yang paling sensitif diantara kelima jenis flora diatas. Hal tersebut disebabkan pohon pinus memiliki zat kerosin pada batangnya yang merupakan bahan yang mudah terbakar. Jadi jika berekreasi atau melakukan kegiatan berkemah di hutan pinus, harus membuat api unggun yang tidak berdekatan dengan pohon pinus. Indikator aksesibilitas kelima jenis flora tersebut memiliki nilai yang sama yaitu 6,9 yang dikategorikan sangat terjangkau. Jenis-jenis flora tersebut sangat mudah untuk dikunjungi oleh wisatawan karena letaknya yang dekat dengan jalan setapak atau jalan utama yang dilalui wisatawan. Indikator fungsi sosial jenis flora yang memiliki nilai tertinggi adalah pinus dan damar dengan nilai 6,4 yang dikategorikan bermanfaat. Pohon ini dikategorikan bermanfaat karena banyak masyarakat sekitar yang menggunakan pohon ini untuk berbagai keperluan hidup. Masyarakat memanfaatkan keberadaan pohon damar dan pinus sebagai mata pencaharian yaitu penyadap dan pengolah getah kedua pohon tersebut.

53

b.

Fauna Jenis fauna yang ditemukan di Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat

hanya sedikit jumlahnya dimana penilaian potensi fauna yang dilakukan adalah pada jenis monyet ekor panjang, kera, burung elang jawa dan burung perenjak jawa (Tabel 6). Tabel 6. Nilai Potensi Fauna di HPGW
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Indikator Keunikan Kelangkaan Keindahan Seasonality Sensitivitas Aksesibilitas Fungsi Sosial Monyet Ekor Panjang 4,2 4,2 4,0 2,0 3,9 7,0 1,5 Kera 4,8 4,5 4,6 2,5 4,0 6,9 2,0 Jenis Fauna Burung Elang Jawa 4,4 5,3 5,0 4,2 4,9 2,0 2,0 Perenjak 4,1 4,2 4,0 2,0 4,8 6,8 1,5

Indikator keunikan jenis fauna yang memiliki nilai keunikan tertingi adalah kera dengan nilai 4,8 yang dikategorikan agak unik. Hal tersebut disebabkan warna rambut kera dewasa hitam pekat tetapi pada saat masih muda, kera tersebut berwarna jingga. Indikator kelangkaan jenis fauna yang memiliki nilai kelangkaan paling tinggi adalah elang jawa dengan nilai 5,3 yang dikategorikan agak langka. Elang jawa merupakan burung endemik pulau jawa. Saat ini keberadaan burung elang jawa sulit ditemukan, Badan Konservasi Dunia PBB mengkategorikan nya terancam punah. Konvensi perdagangan internasional untuk flora dan fauna yang terancam punah memasukkannya dalam Apendiks 1 yang berarti mengatur perdagangan nya ekstra ketat. Berdasarkan kriteria keterancaman terbaru dari IUCN, elang jawa dimasukkan kedalam kategori endangered atau terancam punah. Indikator keindahan jenis fauna yang memiliki nilai keindahan tertinggi adalah elang jawa dengan nilai 5,0 yang dikategorikan agak indah. Pada saat terbang memutar kemudian meluncur kemudian terbang memutar lagi. Indikator seasonality jenis fauna yang memiliki nilai tertinggi adalah burung elang jawa dengan nilai 4,2 yang dikategorikan biasa saja. Walaupun seasonality burung ini dinilai biasa saja, burung elang jawa tersebut tidak dapat dinikmati wisatawan setiap hari dan setiap saat. Burung ini hanya mucul pada saat-saat

54

tertentu. Pada saat pengamatan, burung ini terlihat pada pagi hari sekitar pukul 11.30 burung ini biasanya terbang untuk mencari mangsa. Indikator sensitivitas, jenis fauna yang memiliki nilai tertingi adalah burung elang jawa juga. Nilai untuk sensitivitas burung ini yaitu 4,9 yang dikategorikan agak sensitif. Burung ini sensitif jika berdekatan dengan manusia kecuali yang telah dilatih, sehingga sarang burung ini pun sangat sulit ditemukan manusia dan biasanya terdapat ditempat-tempat yang tidak terjangkau manusia. Indikator aksesibilitas jenis fauna yang memiliki nilai tertinggi adalah monyet ekor panjang dengan nilai 7,0 yang dikategorikan sangat terjangkau. Mamalia ini sangat mudah untuk ditemui karena mamalia selalu berkeliaran di sekitar kawasan HPGW, jika wisatawan ingin melihat monyet ini dari dekat wisatawan hanya cukup memberi nya makan monyet tersebut pasti akan datang mendekat. Indikator fungsi sosial semua jenis fauna tersebut dikategorikan tidak bermanfaat. Nilai manfaat dari semua jenis fauna tersebut tidak dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar, masyarakat sekitar pun tidak ada yang menggunakan jenis-jenis fauna tersebut untuk kepentingan apapun. c. Gejala Alam Gejala alam yang terdapat di HPGW terdiri dari bentang alam, tujuh mata air dan goa Cipeureu. Gejala-gejala alam tersebut dinilai untuk mengetahui potensi unggulan dari gejala alam tersebut (Tabel 7). Tabel 7. Nilai potensi gejala alam HPGW
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Indikator Keunikan Kelangkaan Keindahan Seasonality Sensitivitas Aksesibilitas Fungsi Sosial Gua Cipeureu 5,8 6,1 6,1 3,3 4,3 2,0 4,7 Gejala Alam Tujuh Mata Air 5,2 4,1 5,7 6,0 3,6 5,5 4,3 Bentang Alam 4,4 5,3 5,0 4,2 4,9 6,3 2,0

Indikator keunikan, gejala alam yang memiliki nilai keunikan tertinggi adalah Goa Cipeureu dengan nilai 5,8 yang dikategorikan unik. Goa Cipeureu dinyatakan unik karena bagian atas tebing tersebut merupakan daerah kapur yang terdapat celah yang berbentuk lorong dengan terdapat keunikan pada stalaktit dan stalakmit serta aliran sungai pada dalam goa. Pengunjung dapat melakukan aktivitas susur goa (caving).

55

Indikator kelangkaan, gejala alam yang memiliki nilai tertinggi adalah Goa Cipeureu juga, dengan nilai 6,1 yang dikategorikan langka. Goa Cipeureu merupakan satu-satunya goa yang terdapat pada HPGW sehingga keberadaan goa tersebut selalu dijaga untuk mencegah kerusakan. Indikator keindahan, gejala alam yang memiliki nilai tertinggi adalah Goa Cipeureu dengan nilai keindahan 6,1 yang dikategorikan indah. Goa Cipeureu memiliki keindahan pada keanekaragaman bentuk stalaktit dan stalakmit dengan warna alamiyang elok. Indikator seasonality, gejala alam yang memiliki nilai tertinggi adalah Tujuh Mata Air dengan nilai 6,0 yang dikategorikan musiman. Mata Air ini akan memiliki debit air yang tinggi pada saat musim hujan sedangkan pada musim kemarau, debit air ini kecil. Indikator sensitivitas, gejala alam yang memiliki nilai sensitivitas yang tertinggi adalah Bentang Alam dengan nilai 4,9 yang dikategorikan biasa saja. Meskipun memiliki nilai sensitivitas yang tertinggi dibandingkan gejala alam lainnya, kualitas dan kuantitas gejala alam air terjun ini tidak berubah secara permanen atau ada kerusakan meskipun adanya kehadiran wisatawan yang melakukan kontak fisik dengan gejala alam ini. Indikator aksesibilitas, gejala alam yang memiliki nilai tertinggi adalah Goa Cipeureu dengan nilai 2,0 yang di kategorikan Sulit dijangkau. Letak Goa Cipeureu tergolong sulit untuk dijangkau. Wisatawan yang ingin menikmati goa harus melakukan perjalanan sekitar 2 km melewati hutan dan telah terdapat jalan setapak untuk menuju goa tersebut. Indikator fungsi sosial, gejala alam yang memiliki nilai tertinggi adalah Goa Cipeureudengan nilai 4,7 yang dikategorikan agak bermanfaat. Goa bermanfaat sebagai daerah kantung air dan sering digunakan oileh masyarakat sebagai lokasi untuk melakukan persemedian atau ritual adat. 2. Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka hijau di Hutan Pendidikan Gunung Walat yang menjadi objek penilaian potensi ruang terbuka hijau yaitu taman dan bumi perkemahan. Berikut hasil penilaian yang telah dilakukan (Tabel 8).

56

Tabel 8. Nilai potensi RTH HPGW


No 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Keunikan Kelangkaan Keindahan Seasonality Sensitivitas Aksesibilitas Fungsi Sosial Gejala Alam Taman 4,1 3,6 4,2 2,0 2,2 6,8 2,3 Bumi perkemahan 4,0 3,7 4,1 3,6 2,1 6,7 4,0

Hasil penilaian menunjukkan indikator keunikan yang memiliki nilai tertinggi adalah taman dengan nilai 4,1 yang dikategorikan biasa saja. Taman di kawasan ini tidak jauh berbeda dengan taman lain pada umumnya di lokasi lain. Indikator kelangkaan yang memiliki nilai tertinggi adalah bumi perkemahan (camping ground) dengan nilai 3,7 yang dikategorikan biasa saja. Bumi perkemahan sejenis seperti ini masih dapat di temukan di kawasan lain. Indikator keindahan, ruang terbuka hijau yang memiliki nilai tertinggi yaitu taman dengan nilai 4,2 yang dikategorikan biasa saja. Taman di kawasan ini ditanami tumbuhan-tumbuhan bunga yang dapat menambah nilai estetika sebuah taman sebagai tempat rekreasi. Indikator seasonality, ruang terbuka hijau yang memiliki nilai tertinggi adalah bumi perkemahan dengan nilai 3,6 yang dikategorikan biasa saja. Keberadaan dan kualitas bumi perkemahan tidak dipengaruhi oleh waktu-waktu tertentu. Indikator sensitivitas, ruang terbuka hijau di kawasan HPGW ini dikategorikan tidak sensitif. Kunjungan wisatawan ke lokasi ini tidak mempengaruhi secara permanen dan signifikan dari perubahan kualitas ruang terbuka hijau ini. Indikator aksesibilitas, ruang terbuka hijau yang memiliki nilai tertinggi adalah taman dengan nilai 6,8 yang dikategorikan terjangkau. Lokasi taman sangat mudah dikunjungi wisatawan karena letak nya yang tidak terlalu jauh dari wisma HPGW. Indikator fungsi sosial, ruang terbuka hijau yang memiliki nilai tertinggi adalah bumi perkemahan 4,00 yang dikategorikan biasa saja. Bumi perkemahan ataupun taman, kedua ruang terbuka hijau tersebut tidak memiliki manfaat bagi kepentingan masyarakat sekitar. 3. Nilai Potensi Objek Wisata Spiritual Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat terdapat satu objek wisata spiritual yaitu Area Goa Cipeureu. Berikut adalah hasil penilaian Area Gua Cipeureu (Tabel 9). 57

Tabel 9. Nilai potensi objek wisata spiritual


No 1 2 3 4 5 6 7 Indikator Keunikan Kelangkaan Keindahan Seasonality Sensitivitas Aksesibilitas Fungsi Sosial Objek Wisata Spiritual Goa Cipeureu 5,0 5,4 4,0 4,0 3,8 5,6 5,0

Hasil penilaian rata-rata menyimpulkan area Goa Cipeureu dinilai agak berpotensi, dengan nilai 4,7. Keunikan dari area goa Cipeureu ini bernilai agak unik. Hal tersebut disebabkan adanya keunikan kepercayaan dan tata nilai yang menjadi sumber kepuasan wisata spiritual seperti adanya legenda area goa Cipeureu. Indikator kelangkaan, area goa Cipeureu ini dinilai agak langka karena adanya kepercayaan dan tata nilai yang berkaitan dengan objek spiritual ini merupakan representasi tentang eksistensi individu tertentu yang dianggap mempunyai sejarah penting dalam eksistensi populasi dan atau tata nilai masyarakat yang ada pada saat ini di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat. Keindahan area goa Cipeureu tersebut dinilai biasa saja. Hal tersebut disebabkan keindahan bentuk, komposisi dan nuansa fisik objek wisata spiritual tersebut terlihat biasa. Nilai seasonality objek (gua Cipeureu) ini dikategorikan biasa saja, karena objek ini dapat ditampilkan dan dinikmati oleh wisatawan setiap hari dan tidak ada waktu-waktu tertentu. Sensitivitas objek ini dinilai biasa saja. Hal tersebut disebabkan tata nilai yang terkait dengan objek wisata spiritual tersebut tidak akan berubah Karena adanya interaksi wisatawan yang belum memahami aturan khusus dalam kegiatan wisata spiritual tersebut. Aksesibilitas menuju lokasi area goa Cipeureu tersebut dinilai terjangkau. Hal tersebut disebabkan lokasi goa Cipeureu tersebut dapat dijangkau dengan kendaraan umum dalam waktu maksimal 1 jam dari ibu kota kabupaten. Wisatawan pun hanya perlu melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit untuk menuju lokasi area goa Cipeureu dari kantor pengelola.

58

Fungsi sosial dari area goa Cipeureu dinilai agak bermanfaat. Area goa Cipeureu tersebut hingga saat ini di gunakan sebagai salah satu area ritual khusus untuk masyarakat setempat melakukan pemberian sesaji pada setiap malam yang dianggap berarti seperti malam satu syuro atau malam jumat legi dengan tujuan untuk berdoa dan meminta berkah. 4. Nilai Potensi Objek Wisata Spiritual Aspek wisatawan yang dikaji meliputi karakteristik, motivasi, persepsi dan minat. Aspek-aspek tersebut perlu diketahui karena pengembangan wisata yang dilakukan menggunakan teknik visitor activity management program (VAMP) yang menggunakan pendekatan pemasaran sehingga program wisata yang dikemas nantinya harus sesuai dengan pasar sasaran yang telah dikaji. Hal tersebut dilakukan untuk kepuasan pengunjung dan agar wisata hutan dapat berkelanjutan. D. 1. Karakteristik, Motivasi dan Persepsi serta Minat Wisatawan Karakteristik wisatawan Karakteristik wisatawan dapat menunjukkan gambaran sasaran wisatawan yang akan dituju dari segi umur, asal daerah, pendidikan terakhirnya, pendapatan nya dan sebagainya. Perancangan program wisata harus memperhatikan karakteristik wisatawan tersebut dengan maksud agar tujuan wisata dapat sampai sesuai dengan sasaran sehingga wisatawan merasa puas (Tabel 10). Tabel 10. Karakteristik wisatawan HPGW
No 1. Karaketristik Wisatawan Jenis Kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan Status Pernikahan: a. Belum Menikah b. Menikah Umur : a. < 20 Tahun b. 21 30 Tahun c. 31 40 Tahun d. 41 50 Tahun e. > 50 Tahun Asal Daerah : a. Kabupaten Sukabumi b. Provinsi Jawa Barat c. Pulau Jawa d. Luar Pulau Jawa e. Mancanegara Persentase (%) 57 43 87 13 23 67 10 17 63 20 -

2.

3.

4.

59

Tabel 10. Lanjutan


No 5. Karaketristik Wisatawan Pendidikan Terakhir : a. SD b. SMP c. SMA d. PT Pekerjaan : a. Pelajar / Mahasiswa b. Pegawai Negeri Sipil c. Karyawan d. Wiraswasta e. Lainnya Pendapatan : a. < Rp. 500.000,00 b. Rp. 500.000,00 Rp. 1.000.000,00 c. Rp. 1.000.000,00 Rp. 5.000.000,00 d. > Rp. 5.000.000,00 Jenis Kunjungan : a. Sendiri b. Keluarga c. Teman d. Rombongan Jumlah Kunjungan : a. 1 Kali b. 2 3 Kali c. 3 5 Kali d. Lebih dari 5 Kali Persentase (%) 47 53 37 10 43 10 37 20 43 10 13 67 10 47 37 3 13

6.

7.

8.

9.

Hutan Pendidikan Gunung Walat merupakan destinasi wisata yang banyak di kunjungi wisatawan dari daerah perkotaan seperti Bogor, Sukabumi dan Jakarta. Kawasan nya yang sudah terlihat alami menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan khususnya yang berasal dari daerah perkotaan yang penuh dan sesak. Jenis kelamin yang mendominasi kunjungan ke kawasan ini adalah laki-laki dengan persentase 57%, sedangkan wisatawan yang berjenis kelamin perempuan hanya 43%. Laki-laki yang mendominasi karena wisata di kawasan ini tergolong wisata yang membutuhkan fisik yang kuat dan keberanian untuk menuju objek wisata yang akan dituju seperti puncak TVRI dan Goa Cipeureu sehingga biasanya diminati oleh lakilaki. Status pernikahan yang mendominasi adalah status belum menikah dengan persentase 87% sedangkan yang berstatus menikah sebanyak 13%. Hal tersebut disebabkan orang yang sudah berkeluarga biasanya cenderung tidak mengajak keluarganya pada kawasan yang sedikit menantang seperti kawasan ini. Umur yang mendominasi kunjungan pada kawasan ini yaitu pada umur 20 - 30 tahun sebesar 67%.

60

Wisatawan yang paling banyak mengunjungi Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah wisatawan yang berasal dari daerah luar kabupaten sukabumi seperti dari Bogor dan Jakarta dengan persentase 63%. Hal tersebut disebabkan karena di daerah kota tinggal wisatawan tersebut jarang terdapat destinasi wisata yang masih terlihat alami. Pendidikan terakhir wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini didominasi oleh lulusan Perguruan Tinggi dengan persentase 53%. Pendidikan yang mereka tempuh dapat meningkatkan kesadaran akan manfaat yang akan didapatkan jika berkunjung ke tempat yang masih alami seperti penyegaran kembali otak karena adanya supply oksigen yang lebih banyak. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini didominasi oleh wisatawan yang telah bekerja sebagai karyawan dengan persentase 43% sehingga pendapatan wisatawan didominasi oleh wisatawan yang berpenghasilan Rp. 1.000.000,00 Rp. 5.000.000,00. Wisatawan yang berkunjung paling banyak bersama teman-temannya sebanyak 67% dan wisatawan paling banyak adalah yang baru mengunjungi kawasan ini satu kali dengan persentase 47%. 2. Motivasi Wisatawan Motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu kegiatan, salah satunya adalah kegiatan wisata. Motivasi untuk berkunjung timbul dalam diri wisatawan, berangkat dari informasi awal mengenai kawasan wisata yang didapatkan. Informasi mengenai kawasan dapat berasal dari berbagai sumber dengan tingkat kejelasan yang berbeda (Tabel 11). Tabel 11. Sumber informasi dan kejelasan informasi
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sumber Informasi Pribadi Teman Koran / Majalah Leaflet / Booklet Radio Website Jejaring sosial Televisi HPGW Kadar Nilai 4,6 5,1 3,3 3,3 3,3 4,6 4,0 3,4 Keterangan Agak Jelas Agak Jelas Agak Tidak Jelas Agak Tidak Jelas Agak Tidak Jelas Agak Tidak Jelas Biasa Saja Agak Tidak Jelas

Wisatawan yang berkunjung ke Hutan Pendidikan Gunung Walat menyatakan bahwa informasi mengenai kawasan tersebut paling banyak berasal dari teman dengan kadar informasinya 5,1 yang dikategorikan agak jelas (Gambar 24). Informasi mengenai Hutan Pendidikan Gunung Walat berarti menyebar dengan cara dari mulut ke mulut. Hal tersebut menunjukkan bahwa selama ini promosi wisata Hutan Pendidikan Gunung Walat melalui media lain terutama leaflet, booklet dan 61

website tidak efektif. Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pengelola terhadap teknik promosi wisata ke depannya.

15%

penilitian dan pendidikan wisata


58%

21 %

Olah raga MICE

Gambar 24. Motivasi Wisatawan di HPGW Motivasi wisatawan yang berkunjung ke Hutan Pendidikan Gunung Walat bervariasi dimana untuk motivasi yang mendominasi adalah untuk penelitian dan pendidikan dengan persentase sebesar 58%, wisata 21%, olahraga 15 % dan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) sebesar 6%. 3. Persepsi Wisatawan Persepsi adalah cara kita mengubah energi-energi fisik lingkungan kita menjadi pengalaman yang bermakna, makna tersebut bersifat pribadi dan subjektif. Persepsi wisatawan yang dikaji adalah persepsi wisatawan terhadap daya tarik potensi objek wisata di kawasan Hutan Pendidikan Gunung Walat, apakah menurut wisatawan menarik atau tidak (Tabel 12). Tabel 12. Persepsi Wisatawan HPGW
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Parameter Keindahan alam Gua Cipeureu Bumi perkemahan Wisma woloan 1 dan 2 Flora Fauna Ritual Khusus Goa Cipeureu Bentang alam Kadar Nilai 5,7 5,7 5,2 5,4 5,1 4,6 4,7 5,0 Keterangan Menarik Menarik Agak Menarik Agak Menarik Agak Menarik Agak Menarik Agak Menarik Agak Menarik

Berdasarkan hasil pengkajian, persepsi pengunjung terhadap daya tarik potensi objek wisata yang memiliki kadar nilai tertinggi yaitu keindahan alam dan goa Cipeureu. Hal tersebut disebabkan karena kondisi alam kawasan tersebut masih 62

alami dengan hawanya yang sejuk dan pesona air didalam gua Cipeureu yang indah. Kedua daya tarik tersebut paling banyak di sukai wisatawan terutama wisatawan yang berasal dari daerah perkotaan. 4. Minat Wisatawan Minat merupakan kecenderungan hati terhadap sesuatu. Pengetahuan minat wisatawan perlu diketahui sebagai pertimbangan dalam perancangan program yang akan dibuat sehingga dapat tepat sesuai keinginan wisatawan. Pengetahuan minat tersebut meliputi minat terhadap potensi objek wisata, minat terhadap kegiatan wisata yang akan dirancang dan minat terhadap lama program yang akan dirancang dan minat terhadap lama program yang akan dirancang (Tabel 13). Tabel 13. Minat Wisatawan HPGW
Parameter Keindahan alam Gua Cipeureu Bumi perkemahan Wisma woloan 1 dan 2 Flora Fauna Ritual Khusus Goa Cipeureu Bentang alam Kadar Nilai 5,5 5,5 4,6 4,2 4,8 4,7 4,7 4,7 Keterangan Berminat Berminat Agak Berminat Biasa Saja Agak Berminat Agak Berminat Agak Berminat Agak Berminat

Pengetahuan terhadap persepsi tidak cukup untuk mengenal wisatawan sebagai sasaran pasar yang dituju. Hal tersebut disebabkan persepsi wisatawan terhadap daya tarik suatu objek wisata, dapat menjamin minat seseorang untuk mengunjungi objek wisata tersebut. Berdasarkan hasil pengkajian, wisatawan cenderung lebih berminat untuk menikmati keindahan alam HPGW dan gua Cipeureu. Hal tersebut disebabkan daya tarik kedua potensi objek tersebut yang paling banyak menarik bagi wisatawan. Berikutnya adalah pengkajian terhadap minat wisatawan pada kegiatan wisata yang akan di rancang (Tabel 14). Tabel 14. Minat wisatawan HPGW terhadap kegiatan wisata
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kegiatan Wisata Tracking Camping Mengamati Flora dan fauna Outbound Recreation MICE Persentase Minat 70 % 56,6% 53.4% 66.6% 50%

Wisatawan Hutan Pendidikan Gunung Walat paling berminat untuk mengikuti kegiatan Tracking, outbound recreation dan MICE. Meskipun ketiga kegiatan tersebut yang paling diminati, tetap tidak menutup kemungkinan untuk melakukan 63

kegiatan lainnya karena masih terdapat wisatawan yang berminat mengikuti kegiatan-kegiatan lain tersebut. Selain pengkajian terhadap minat wisatawan pada potensi objek wisata dan kegiatan wisata, pengkajian pun dilakukan juga pada minat wisatawan terhadap lama program yang akan dirancang (Gambar 25).

3%

30%

23%

10% 7% 27%

1/2 Hari 1 Hari 2 Hari 1 Malam 3 Hari 2 Malam 1 Minggu Event tahunan

Gambar 25. Minat Wisatawan terhadap Lama Program Wisata Lama program wisata yang paling diminati di HPGW adalah program event tahunan, program 3 hari 2 malam dan program 1 hari dan program setengah hari. Dari hasil-hasil tersebut dapat diketahui peluang-peluang sebagai dasar acuan pengembangan yang akan dilakukan. Hasil-hasil pengkajian terhadap minat tersebut ibarat kata kunci untuk memuaskan wisatawan demi wisata hutan yang berkelanjutan. E. Kesiapan dan Harapan Masyarakat Masyarakat merupakan sekelompok orang yang menetap pada suatu lokasi, dalam pengembangan wisata hutan yang menggunakan pendekatan pemasaran ini. Masyarakat bukan tokoh utama yang diutamakan, masyarakat hanya sebagai elemen pendukung dalam pengembangan wisata hutan di kawasan HPGW ini. Tokoh utama sebenarnya adalah wisatawan yang merupakan pasar sasaran (target) yang dituju untuk menjual program wisata yang telah dirancang, karena itu aspek masyarakat yang dikaji hanya meliputi kesiapan dan harapan masyarakat dalam pengembangan wisata hutan. Meskipun masyarakat bukan merupakan fokus utama yang dikaji,

64

pengembangan wisata hutan ini diharapkan dapat melibatkan masyarakat demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. 1. Kesiapan Masyarakat Aspek kesiapan masyarakat perlu dikaji dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar kesiapan masyarakat untuk dapat terlibat dalam pengembangan wisata hutan. Variabel masyarakat tidak bisa diabaikan karena masyarakat adalah elemen pendukung yang sangat penting bagi terlaksananya suatu kegiatan wisata. Jika tidak terdapat dukungan dari masyarakat, kegiatan wisata di suatu destinasi wisata akan sulit dilakukan (Tabel 15). Tabel 15. Kesiapan Masyarakat
No. 1. Kesiapan Partisipasi Aktif a. Penjual makanan b. Pemandu c. Penjual souvenir d. Memberikan informasi e. Bekerjasama dengan pengelola Partisipasi pasif a. Keramahan b. Kesopanan c. Mendukung kelestarian d. Menjaga nama baik kawasan Kadar Kesiapan 5,6 5,0 4,9 5,9 5,7 6,4 6,4 6,3 6,2 Keterangan Siap Agak siap Agak siap Siap Siap Siap Siap Siap Siap

2.

Hasil dari kajian aspek masyarakat mengenai kesiapan dalam partisipasi aktif maupun secara pasif, yaitu masyarakat menyatakan siap. Kesiapan tersebut memperlihatkan juga bahwa masyarakat terbuka untuk melayani wisatawan. Kesiapan masyarakat untuk berpartispasi dalam kegiatan wisata hutan kedepannya tidak semuanya menyatakan siap. Terdapat beberapa hal yang dirasakan masyarakat kurang siap, yaitu menjadi pemandu dan menjual souvenir. Dalam hal menjadi pemandu, masyarakat menyatakan agak siap dikarenakan kurangnya kemampuan (skill) masyarakat untuk melakukan kegiatan tersebut. Dalam hal menjual souvenir masyarakat menyatakan agak siap dikarenakan masyarakat tidak memiliki modal untuk membuka usaha tersebut, karena untuk usaha menjual souvenir harus memiliki modal yang relatif cukup besar. Solusi dalam permasalahan tersebut yaitu dengan mengadakan pelatihan-pelatihan untuk mengasah kemampuan masyarakat menjadi lebih baik lagi. Pengelola juga memberikan masyarakat peluang untuk bekerjasama dalam usaha menjual souvenir.

65

2.

Harapan Masyarakat Harapan masyarakat dalam program pengembangan wisata hutan juga perlu

diperhatikan, hal tersebut dilakukan agar dalam pengembangan wisata hutan dapat mempertimbangkan juga hal-hal yang menjadi harapan masyarakat agar

pengembangan wisata hutan dapat bermanfaat bagi semua pihak (Tabel 16). Tabel 16. Harapan masyarakat
No. 1. 2. 3. Harapan Adanya lapangan kerja baru Peningkatan kesejahteraan Peningkatan wawasan Kadar Harapan 6,8 6,8 6,8 Keterangan Sangat berharap Sangat berharap Sangat berharap

Hasil kajian mengenai harapan masyarakat secara umum masyarakat menyatakan sangat berharap. Masyarakat sangat berharap akan adanya lapangan kerja baru, masih banyak pemuda masyarakat sekitar yang belum bekerja. Biasanya mereka mengandalkan penghasilan dari bekerja serabutan yang tidak dapat ditentukan hasilnya. Sehingga diharapkan dengan adanya pengembangan wisata dikawasan ini dapat juga memberdayakan masyarakat sekitar kawasan untuk terlibat dalam pelaksanaan program wisata. Masyarakat juga sangat berharap adanya peningkatan kesejahteraan, dengan adanya kegiatan wisata dikawasan tersebut diharapkan masyarakat sekitar dapat merasakan manfaatnya. Karena dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang, wisatawan tersebut akan membelanjakan uangnya kepada usaha-usaha masyarakat sekitar seperti makanan, souvenir dan sebagainya. Untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan selama tinggal di kawasan wisata tersebut. Uang yang dibelanjakan oleh wisatawan tersebut tidak akan berhenti beredar, akan tetapi berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Uang tersebut baru akan berhenti dari peredaran apabila uang tersebut tidak lagi memberi pengaruh terhadap perekonomian kawasan wisata tersebut. Semakin cepat uang itu berpindah dari tangan satu ke tangan lain dan semakin lama uang itu beredar, maka akan semakin besar pengaruhnya terhadap perekonomian masyarakat sekitar kawasan tersebut. Selain itu masyarakat sekitar juga sangat berharap adanya peningkatan wawasan, dengan banyaknya wisatawan yang datang ke kawasan tersebut maka akan semakin besar peluang masyarakat untuk belajar secara tidak langsung. Masyarakat akan belajar hal-hal baru dengan berinteraksi dengan wisatawan tersebut sehingga wawasan masyarakat dapat bertambah. 66

F.

Kesiapan, Persepsi dan Harapan Pengelola Pengembangan wisata yang dilakukan harus mempertimbangkan kesiapan,

persepsi dan harapan dari pengelola kawasan. Aspek-aspek tersebut perlu diketahui karena pengelola merupakan tuan rumah yang memiliki wewenang atas kawasan yang dikelolanya. 1. Kesiapan pengelola Aspek kesiapan pengelola perlu dikaji dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar kesiapan pengelola dalam rangka pengembangan wisata hutan. Pengelola sebagai subjek yang berperan dalam perealisasian program wisata yang telah dirancang (Tabel 17). Tabel 17. Kesiapan pengelola
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kesiapan Sumberdaya manusia Menyediakan sarpras dan fasilitas yang dibutuhkan Memberikan informasi Mengajak masyarakat untuk terlibat Pemantauan kegiatan yang berlangsung Promosi Berinteraksi dengan pengunjung Kadar Kesiapan 6,0 6,0 6,0 5,0 5,5 6,0 6,0 Keterangan Siap Siap Siap Agak Siap Agak Siap Agak Siap Agak Siap

Pengelola menyatakan siap untuk menyediakan sumberdaya manusia jika dibutuhkan dalam pelaksanaan program wisata kedepannya. Pengelola juga menyatakan siap untuk menyediakan sarana, prasarana dan fasilitas yang merupakan penunjang terlaksananya kegiatan wisata. Pengelola juga menyatakan siap dalam memberikan informasi, melakukan pemantauan dan pendampingan dalam kegiatan wisata yang berlangsung dan melakukan promosi program wisata yang telah dirancang. Adapun pengelola menyatakan agak siap untuk mengajak masyarakat untuk terlibat dalam pelaksanaan program wisata dikarenakan pengelola

mempertimbangkan latar belakang pendidikan masyarakat yang masih rendah dalam bidang wisata dan pengelola menyatakan sangat siap dalam berinteraksi dengan wisatawan lebih baik lagi.

67

2.

Persepsi pengelola Persepsi pengelola yang dipertimbangkan dalam perancangan program wisata

ini adalah mengenai lama program yang sebaiknya dirancang di Kawasan HPGW dimana pengelola lebih memahami kondisi kawasan (Tabel 18). Tabel 18. Persepsi pengelola HPGW
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Parameter Program setengah hari Program 1 hari Program 2 hari 1 malam Program 3 hari 2 malam Program 1 minggu Program event tahunan Kadar Nilai 4,5 6,0 5,5 3,5 3,5 6,0 Keterangan Agak Setuju Setuju Setuju Biasa Saja Biasa Saja Setuju

Pengelola menyetujui program yang akan dirancang di kawasan HPGW adalah program 1 hari, program 2 hari 1 malam dan program event tahunan. Pengelola menyatakan agak setuju dengan program setengah hari karena pengelola lebih menyetujui program satu hari yang memiliki waktu yang lebih panjang. Pengelola lebih menyetujui program bermalam 2 hari 1 malam dan pengelola setuju dengan program event tahunan karena diperkirakan akan baik untuk lebih meningkatkan eksistensi kawasan ini di masyarakat luas. 3. Harapan pengelola Aspek harapan pengelola dikaji untuk mengetahui apa yang menjadi harapan pengelola dengan adanya pengembangan wisata. Harapan pengelola juga perlu diketahui untuk menjadi indikator keberhasilan program wisata yang akan dilaksanakan bagi pengelola (Tabel 19). Tabel 19. Harapan pengelola
No. 1. 2. Parameter Peningkatan jumlah wisatawan Peningkatan kesejahteraan Kadar Harapan 7,0 7,0 Keterangan Sangat Berharap Sangat Berharap

Pengelola menyatakan sangat berharap adanya peningkatan jumlah wisatawan dan peningkatan kesejahteraan jika terlaksananya program wisata dikemudian hari. Adanya peningkatan jumlah wisatawan akan berbanding lurus dengan adanya peningkatan jumlah pendapatan, dengan adanya peningkatan jumlah pendapatan maka kesejahteraan pengelola juga meningkat.

68

G.

Pengembangan Wisata Hutan Pengembangan yang dilakukan di kawasan HPGW menggunakan teknik

Visitor Activity Management Program (VAMP). Menurut Pitana dan Diarta (2009), VAMP merupakan sistem manajemen yang berusaha mengubah orientasi dari produk (misalnya objek dan wisatawan) kepada orientasi pemasaran dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen. Berdasarkan hal tersebut kemudian disusun program pengembangan dan pemasaran. Prosesnya diawali dari menyeting tujuan destinasi yang sesuai dengan kegiatan wisatawan, menganalisis karakteristik wisatawan dan mengembangkan beragam pilihan kegiatan dan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan wisatawan sebagai konsumen. Karena pengembangan kawasan ini menggunakan pendekatan pemasaran maka setiap unsur bauran pemasaran harus diperhatikan. Menurut Hurriyati (2010), bauran pemasaran merupakan unsur-unsur pemasaran yang saling terkait, dibaurkan, diorganisir dan digunakan dengan tepat, sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan pemasaran yang efektif sekaligus memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Unsur bauran pemasaran jasa terdiri produk (product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion), orang (people), fasilitas fisik (physichal evidence) dan proses (process). Setiap unsur tersebut harus dikaji karena bauran pemasaran jasa merupakan sebuah sistem yang saling berkaitan satu sama lain sehingga produk wisata berupa program wisata dapat tepat dirancang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan wisatawan. 1. Rancangan Kegiatan Wisata Kawasan HPGW memiliki potensi wisata yang menarik bagi wisatawan baik potensi objek wisata alam, spiritual dan buatan. Adanya berbagai potensi tersebut maka akan dirancang beberapa kegiatan wisata yang dapat dilakukan di kawasan tersebut. a. Treking (Tracking) Trekking merupakan salah satu kegiatan berupa berjalan kaki dengan maksud menikmati pemandangan dan sumberdaya yang ada di sekitar perjalanan, kegiatan trekking ini akan dilakukan Tracking With Outbound Recreation (TWOR). Kegiatan trekking sebenarnya telah dilakukan di HPGW tetapi kegiatan trekking yang baru ini 69

telah dilakukan modifikasi dimana kegiatan ini dilakukan dengan mengelilingi kawasan, mengunjungi setiap potensi objek wisata yang terdapat di kawasan ini. b. Rekreasi Outbound (Outbound Recreation) Kegiatan ini akan dilakukan pada program Tracking With Outbound Recreation (TWOR) bersama kegiatan trekking. Kegiatan outbound ini sebagai kegiatan yang disisipkan selama melakukan kegiatan trekking dalam kawasan HPGW. Kegiatan out bound yang dilakukan seperti ice breaking, spider web, perahu terbalik, trust fall, blind lead, high rope, pipa bocor, flying fox dan doorprize at river. Kegiatan outbound ini dilakukan di beberapa lokasi selama melakukan kegiatan trekking. Kegiatan ice breaking dilakukan di jalan menuju bumi perkemahan depan aula matoa. Kegiatan spider web dilakukan di belakang kantor pengelola samping wisma pinus. Kegiatan perahu terbalik, flying fox dan trust fall dilakukan di bumi perkemahan. Kegiatan blind lead dilakukan selama perjalanan peserta dari bumi perkemahan menuju hutan. Kegiatan high rope dilakukan di taman dekat pos jaga HPGW. Kegiatan pipa bocor dilakukan di area pinggir sungai dan kegiatan terakhir adalah doorprize at river dilakukan di area pinggir sungai. kegiatan-kegiatan outbound tersebut sebagai pelatihan dan rekreasi bagi para peserta. c. Berkemah Kegiatan berkemah atau camping merupakan salah satu kegiatan yang akan dilakukan dalam program Awakening Camping (AC). Kegiatan berkemah ini dilakukan di bumi perkemahan (camping ground) yang terletak di bagian barat HPGW. Kegiatan berkemah yang akan dilakukan selama 2 hari satu malam dimana camping ground ini telah di fasilitasi toilet laki-laki dan perempuan. d. Mengenal Flora Bermanfaat Kegiatan mengenal flora bermanfaat merupakan bagian dari program Awakening Camping (AC) dan program Recreation and Forester Education (ReFoe). Kegiatan ini berisi pemberi materi mengenai tentang berbagai manfaat yang dapat digunakan manusia dari tanaman-tanaman yang tumbuh di hutan. Pemberian materi akan disampaikan oleh instruktur secara langsung, diskusi dan evaluasi dilakukan setelah rangkaian materi telah selesai diberikan. Tanaman-tanaman yang menjadi objek penjelasan dapat dipilih secara bebas oleh peserta. Lokasi pelaksanaan 70

kegiatan ini menyesuaikan dengan lokasi tumbuh jenis tanaman yang dipilih peserta. Seperti tanaman obat di petak koleksi tumbuhan obat HPGW. e. Pengamatan mamalia Kegiatan pengamatan mamalia merupakan bagian dari program Awakening Camping (AC). Kegiatan ini berisi pemberi materi mengenai mamalia yang terdapat di HPGW, peserta diajak langsung untuk melihat mamalia secara lebih dekat. Mamalia yang terdapat di kawasan ini diantaranya monyet ekor panjang dan kera, mamalia ini mudah ditemukan pada pagi hingga siang hari. Setelah diberikan materi, peserta diajak untuk berdiskusi dan evaluasi. f. Penanaman pohon Kegiatan penanaman pohon merupakan merupakan bagian dari program Awakening Camping (AC) dan program Recreation and Forester Education (Re-Foe). Kegiatan ini merupakan wisata pendidikan konservasi bagi pelajar dan mahasiswa. Peserta akan diberikan masing-masing satu bibit pohon hutan seperti damar (Agathis lorantifolia). Untuk melakukan penanaman sebelumnya telah disediakan lubanglubang penanaman di area penanaman. Selain belajar menanam pohon, peserta belajar juga mengenai pembibitan dan persemaian pohon juga pemeliharaan pohon setelah ditanam. g. Berdoa Di Area Gua Cipeureu Kegiatan berdoa di area gua Cipeureu ini merupakan bagian dari program Awakening Camping (AC). Kegiatan ini dilakukan di area gua Cipeureu. Kegiatan ini sebagai penambah nilai spirit bagi para peserta. Kegiatan berdoa ini ditujukan bukan meminta pada penunggu gua Cipeureu tetapi meminta kepada Tuhan dan bertujuan mendoakan agar para peserta diberikan kekuatan, kesehatan sehingga dapat menyelesaikan kegiatan nya. h. Lomba Fotografi Lomba fotografi merupakan bagian kegiatan dari program event tahunan bertemakan HPGW The Soul of Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa. Lomba fotografi ini mengacu pada tema event, sehingga hal yang menjadi objek foto

71

adalah segala potensi objek yang berada di kawasan HPGW dimana lomba ini dibuka untuk umum. i. Lomba Melukis Lomba melukis ini merupakan bagian dari acara event tahunan bertemakan HPGW The Soul of Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa lomba ini dibuka untuk umum. Objek lukisan ini adalah tidak ditentukan dimana segala hal yang terdapat di kawasan HPGW ini diperbolehkan dijadikan objek lukisan. j. Lomba Membuat Karya Seni Kegiatan ini juga merupakan bagian dari acara event tahunan yang bertemakan HPGW The Soul of Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa. Peserta lomba ini harus berkelompok maksimal 5 orang. Karya seni tersebut harus dibuat dari bahan alam seperti dedaunan, batu, tanah dan sebagainya. k. Acara Hiburan Acara hiburan merupakan bagian acara event tahunan bertemakan HPGW The Soul of Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa. Acara hiburan ini terdiri dari penampilan kesenian Jawa Barat dan penampilan peserta dan pengisi acara tersebut dari peserta. l. Talkshow Acara ini menghadirkan pembicara-pembicara dari pihak HPGW, aktivis lingkungan dan mahasiswa. Tema yang diangkat dari talkshow ini sama dengan tema acara keseluruhan yaitu HPGW The Soul of Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa. Tema ini membahas tentang suistanable tourism yang memperhatikan aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya. Acara Talkshow ini akan mengundang para mahasiswa fakultas kehutanan yang ada di pulau jawa. 2. Rancangan Program Wisata Hasil pengembangan wisata hutan dengan menggunakan Visitor Activity Management Program (VAMP) adalah program wisata yang merupakan produk wisata. Pengkajian terhadap variabel wisatawan yang berperan sebagai pasar sasaran telah dilakukan karena teknik yang digunakan ini menggunakan pendekatan

72

pemasaran. Variabel lain seperti existing condition, potensi objek wisata, masyarakat dan pengelola pun turut dikaji karena variabel-variabel ini saling berkaitan dalam rangka perancangan program wisata. Penentuan perancangan program berdasarkan variabel-variabel yang saling terkait dapat dilihat dalam alur perancangan program (Lampiran 3). Pengembangan wisata yang menggunakan teknik pemasaran ini juga memperhatikan bauran pemasaran lain seperti harga (price), tempat (place), promosi (promotion), orang (people), fasilitas fisik (physichal evidence) dan proses (process) agar terbentuknya produk wisata yang utuh yang akan ditawarkan pada wisatawan (Lampiran 4). a. Program Wisata TWOR (Tracking With Outbound Recreation) Program wisata TWOR merupakan program wisata 1 hari yang dirancang di kawasan HPGW, sesuai namanya program ini berisi kegiatan trekking dan outbound. Kegiatan ini hanya dilakukan di kawasan HPGW dimana peserta untuk program wisata ini minimal 15 orang dan maksimal 40 orang. Jarak yang ditempuh dalam program ini adalah sekitar 1 km. (Lampiran 4). b. Program Wisata AC Program wisata AC merupakan program wisata 2 hari 1 malam yang dirancang di kawasan HPGW dimana untuk program wisata ini peserta minimal 20 orang dan maksimal 40 orang, lokasi kegiatan utama ini adalah di bumi perkemahan (camping ground), kemudian di hutan tanaman, sungai dan area gua Cipeureu (Lampiran 5). c. Program Wisata HPGW The Soul of Nature Program event tahunan ini dirancang di kawasan HPGW selama 3 hari. Acara ini berisi acara perlombaan, hiburan dan Talkshow. Acara ini akan diselenggarakan pada bulan liburan siswa dan mahasiswa yaitu sekitar bulan juni dimana acara ini dibuka untuk umum dan peserta untuk acara ini adalah umum tidak ada batasan usia (Lampiran 6). d. Program Wisata Re-Foe (Recreation and Forester Education) Program Re-Foe ini merupakan program satu hari yang dirancang di kawasan HPGW, kegiatan ini merupakan kegiatan rekreasi dan pendidikan mengenai pemeliharaan hutan yang mencakup pengenalan manfaat tumbuhan hutan dan 73

penamaan pohon. Peserta untuk program ini adalah minimal 5 orang dan maksimal 10 orang (Lampiran 7). 3. Rancangan Desain Booklet Booklet yang dirancang merupakan media promosi yang menawarkan program wisata yang terdapat di kawasan HPGW. kertas yang digunakan adalah kertas artpaper dengan ukuran 21 cm x 15 cm. Untuk tipe huruf yang digunakan bervariasi. Booklet tersebut terdiri dari 22 halaman yang berisi daftar isi, prakata, peta kawasan, pendahuluan, potensi-potensi objek wisata dan program-program wisata yang ditawarkan. Bagian awal dari sebuah booklet yaitu sampul atau cover booklet. Sampul merupakan bagian pertama yang dapat dilihat oleh calon wisatawan, oleh karena itu desain sampul harus menarik agar calon wisatawan dapat tertarik untuk membaca booklet sampai ke isi booklet. Sampul booklet didesain dengan foto-foto yang dipilih merupakan foto-foto terbaik yang telah didapat dari hasil dokumentasi. Selanjutnya adalah halaman untuk daftar isi dan prakata. Daftar isi berfungsi untuk menginformasikan isi keseluruhan dari booklet. Prakata berisi catatan dari penyusun booklet. Halaman selanjutnya adalah peta kawasan tersebut, peta berfungsi untuk memberikan gambaran letak dimana kawasan tersebu berada, adanya peta akan memudahkan calon wisatawan untuk berkunjung karena peta dapat menjadi petunjuk jalan. Halaman selanjutnya adalah pendahuluan, pendahuluan ini berisi kata-kata yang memberikan penjelasan mengenai kawasan HPGW secara umum. Pengantar ini menggunakan paragraf yang bersifat persuasif (ajakan), bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yan mudah di pahami. Halaman selanjutnya adalah foto-foto potensi objek wisata yang terdapat di kawasan HPGW, potensi-potensi yang terdapat di kawasan tersebut terdiri dari potensi objek wisata alam yang terdiri dari flora, fauna, gejala alam, ruang terbuka hijau dan objek wisata buatan. Potensi-potensi objek wisata tersebut yang akan menjadi daya tarik bagi calon wisatawan untuk berkunjung ke kawasan tersebut dimana foto-foto yang dipilih merupakan foto-foto terbaik hasil dokumentasi di lapangan. 74

Halaman selanjutnya adalah program-program wisata yang ditawarkan untuk wisatawan, program-program yang ditawarkan terdiri dari program satu hari yaitu TWOR (Tracking With Outbound Recreation) dan Re-Foe (Recreation and Forester Education) di kawasan HPGW. selanjutnya ada program 2 hari 1 malam AC (Awakening Camp) dan terakhir ada program event tahunan HPGW yang bertemakan HPGW Soul the Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa Halaman selanjutnya adalah tentang penyusun, halaman ini berfungsi untuk memberitahukan profil dari pembuat booklet. Bagian terakhir adalah penutup yang berisi alamat kawasan HPGW dan contact person yang dapat dihubungi calon wisatawan jika ingin berkunjung ke kawasan HPGW. Contact person di cantumkan agar calon wisatawan dapat menghubungi pihak kawasan (pengelola) secara langsung jika ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kawasan tersebut. Isi dari booklet tersebut merupakan informasi-informasi mengenai kawasan HPGW yang dirangkum untuk menarik datangnya wisatawan, untuk mensinergikan content atau isi dengan desainnya ada beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut: a. Kesederhanaan (Simplicity) Booklet telah dirancang dengan model sederhana dengan bentuk persegi panjang. Ukurannya tidak terlalu besar, sekitar 21 x 15 cm. Bentuk dan isinya tidak rumit sehingga memudahkan calon wisatawan untuk mendapatkan informasi secara baik. b. Warna (Colour) Booklet tersebut didominasi oleh warna hijau yang disesuaikan dengan kondisi alam kawasan HPGW yang sudah terlihat alami, warna yang dipilih tersebut secara tidak langsung dapat memberikan efek pencitraan. c. Keseimbangan (Balance) Komposisi booklet yang telah dirancang terdiri dari desain, tulisan dan gambar. Ketiga aspek tersebut telah diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan booklet yang menarik.

75

d.

Penekanan (Emphasis) Booklet yang telah dirancang ini memiliki alur atau urutan penataan pesan yang

telah diatur, pesan pada isi dimulai dengan pesan bertekanan rendah lalu kepada pesan yang bertekanan tinggi. Pesan bertekanan rendah dimulai dari pengantar, pesan bertekanan tinggi yaitu mengenai program wisata karena prioritas isi booklet ini yaitu mempromosikan program wisata kepada calon wisatawan.

76

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. 1.

Kesimpulan Kegiatan wisata yang terdapat di kawasan HPGW merupakan kegiatan wisata harian, kegiatan wisata yang biasa dilakukan pengunjung di HPGW seperti menikmati keindahan alam, berfoto-foto dan duduk-duduk santai.

2.

Sumberdaya wisata atau potensi objek wisata yang terdapat di kawasan HPGW terdiri dari potensi objek wisata alam, potensi objek wisata spiritual dan potensi objek wisata buatan. Potensi objek wisata alam terdiri dari flora, fauna, gejala alam dan ruang terbuka hijau. Flora yang terdapat di kawasan tersebut terdiri dari jenis pohon terna, perdu, liana dan epifit. Berdasarkan penilaian potensi flora, flora yang memiliki nilai rata-rata tertinggi seperti Damar, Fauna yang memiliki nilai rata-rata yang tinggi di kawasan tersebut adalah Monyet Ekor Panjang, Kera dan Tonggeret. Gejala alam yang memiliki nilai rata-rata yang tinggi adalah gua Cipeureu dan bentang alam. Ruang terbuka hijau yang memiliki nilai rata-rata tinggi yaitu bumi perkemahan. Potensi objek wisata spiritual dikawasan ini yaitu area Gua Cipeureu. Potensi objek wisata buatan yaitu Wisma Woloan dan Ruang Joglo.

3.

Wisatawan dikaji berdasarkan karakteristik, motivasi, persepsi dan minat. Karakteristik wisatawan yang mengunjungi kawasan HPGW sebagian besar adalah laki-laki dikarenakan termasuk wisata alam yang biasanya lebih diminati laki-laki. Wisatawan yang datang ke kawasan ini umumnya belum menikah, usianya sekitar 20-30 tahun. Wisatawan tersebut pada umum nya dari kalangan pelajar, mahasiswa dan karyawan. Motivasi utama wisatawan berkunjung ke kawasan ini adalah untuk rekreasi. Persepsi wisatawan terhadap potensi objek wisata hutan tergolong agak menarik. Minat wisatawan terhadap kegiatan wisata yang ingin dilakukan yaitu trekking, outbound, camping dan pengenalan flora dan fauna. Lama waktu program yang diminati adalah program satu hari, program 3 hari 2 malam dan event tahunan.

4.

Masyarakat menyatakan siap untuk berpartisipasi secara aktif dan secara pasif dalam rangka pengembangan wisata hutan ini. Dengan adanya pengembangan 77

wisata hutan ini, masyarakat sangat berharap terhadap adanya lapangan kerja baru dan adanya peningkatan kesejahteraan. 5. Pengelola menyatakan siap untuk mendukung segala hal yang diperlukan dalam hal tersebut. Pengelola juga sangat berharap adanya peningkatan jumlah wisatawan dan adanya peningkatan kesejahteraan dengan adanya

pengembangan wisata hutan. Persepsi pengelola terhadap lama program wisata yang dirancang, pengelola menyetujui program satu hari, program 2 hari 1 malam dan program event tahunan. 6. Program wisata yang telah dirancang terbagi menjadi program wisata harian, program wisata menginap dan program wisata tahunan. Program-program tersebut dirancang berdasarkan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan seperti trekking, outbound recreation, camping, pengamatan flora dan fauna, kegiatan penanaman pohon, perlombaan dan talkshow serta acara hiburan. Program wisata yang merupakan produk wisata yang telah dirancang tersebut yaitu TWOR, AC, Re-Foe dan HPGW The Soul of Nature, Leuweng Sakolaan Sagala Bangsa. 7. Booklet yang dirancang sebagai media promosi berisi program wisata yang terdapat di kawasan HPGW. Kertas yang digunakan adalah kertas artpaper dengan ukuran 21 cm x 15 cm. B. Saran Pengembangan wisata hutan di kawasan HPGW harus mempertimbangkan beberapa saran yang dapat menjadi bahan masukan dalam penyempurnaan keberlangsungan program wisata hutan antara lain : 1. Sumberdaya wisata HPGW sangat menarik berupa keanekaragaman hayati yang berpadu dengan gejala alam seperti goa serta bentang alam, namun pengelolaan sumberdaya wisata tersebut belum maksimal karena keterbatasan pengelola serta fokus pengelolaan yang belum mengarah pada wisata hutan. 2. Dalam penyelenggaraan program wisata diperlukan banyak sumberdaya manusia yang terlibat. Permasalahan kurangnya sumberdaya manusia yang mengelola kawasan ini dapat diatasi dengan penambahan pegawai atau pemberdayaan masyarakat sekitar. 78

3.

Adanya perencana yang dapat selalu memberikan inovasi baru terhadap perancangan program.

4.

Kegiatan promosi harus terus ditingkatkan untuk mendapatkan pasar sasaran baru dengan menggunakan inovasi-inovasi teknik dan media promosi booklet khusus wisata hutan di HPGW.

5.

Perbaikan sarana, prasarana serta fasilitas dan penambahan fasilitas perlu dilakukan seprti shelter dan MCK di dekat pintu 3 untuk menunjang terselenggaranya program wisata.

79

DAFTAR PUSTAKA

Avenzora R. Editor. 2008. Ekoturisme Teori dan Praktik. Penerbit BRR NAD-Nias. Company Profile. 2011. Tips Desain Booklet Company Profile Bagian 2. http://companyprofile.co.id [02 Oktober 2012] Darsoprajitno S. 2002. Ekologi pariwisatan Tata Laksana Pengelolaan Objek dan Daya Tarik Wisata. Angkasa. Bandung. Ernawati, Izweni, Nelmira W. 2008. Tata Busana. Direkorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta. Fahmi I. 2011. Manajemen: Teori, Kasus dan solusi. Alfabeta. Bandung. Font X, Tribe J. 2000. Forest Tourism and Recreation: Case Studies in Environmental Management. CAB International. Oxfordshire, UK. Hermosilla AC, Fay C. 2006. Memperkokoh Pengelolaan Hutan Indonesia Melalui Pembaruan Penguasaan Tanah. World Agroforestry Centre. Bogor. Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Departemen Kehutanan (DEPHUT). Jakarta Hurriyati R. 2010. Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Alfabeta. Bandung Keputusan Menteri Kehutanan RI No: 687/Kpts II/1989. Departemen Kehutanan (DEPHUT). Jakarta. Marpaung H. 2003. Kepariwisataan. Alfabeta. Bandung. McCool. SF, Moisey RN. 2008. Tourism, Recreation and Sustainability 2nd Edition: Linking Culture and the Environment. CAB International. Oxfordshire, UK Mirmanto E, Wiriadinata H, Royyani MF, Ichikawa S, Ismirza. Merajut Pesona Flora Hutan, Pegunungan Tropis Di Gunung Salak. LIPI Pusat Penelitian Biologi, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Gunung Halimun Salak National Park Management Project, JICA. Mulyana D. 2005. Komunikasi Antar Budaya. Rosda. Bandung. Nugroho I. 2011. Ekowisata dan Pembangunan Berkelanjutan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Oxford University. 2005. Oxford American Dictionary. Oxford University Press. Inggris: Oxford. Pendit NS. 2006. Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. PT. Pradnya Paramita. Jakarta. Pitana IG, Diarta IKS. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Andi. Yogyakarta. 80

Pitana IG, Gayatri PG. 2005. Sosiologi Pariwisata. Andi. Yogyakarta. Sammeng AM. 2001. Cakrawala Pariwisata. Balai Pustaka. Jakarta. Sirait MT, Susdiyani, Budhi DK. 2007. Perencanaan dan Pengoprasian Perjalanan Wisata. Bumi Aksana. Jakarta. Suwantoro G. 2004. Dasar-dasar Pariwisata. Andi. Yogyakarta. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Depertemen Kebudayaan dan Pariwisata (DEPBUDPAR). Jakarta. Wardiyatna, M.H.2006. Metode Penelitian Pariwisata. Andi. Yogyakarta. .

81

LAMPIRAN

82

Lampiran 1. Flora dan Manfaatnya di HPGW


No 1. Nama Jenis Mangga (Mangifera indica) Kondisi Pohon buah . tingginya antara 10 - 40 m, tersebar di seluruh nusantara. Di Jawa tumbuh di ketinggian hingga 1.200 m dpl. Kayunya agak berat, berwarna putih ke kuning-kuningan, agak lunak dan memiliki lingkaran-lingkaran tahun yang jelas dimana daun muda berwarna coklat. Batang mangga tegak, bercabang agak kuat. Kulit batang nya tebal dan kasar berwarna coklat keabuan, kelabu tua. Daun berbentuk jorong sampai lanset, hijau tua berkelip berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung melancip. Kelopak bunga biasanya bertajuk 5, warnanya kuning pucat. Buah berwarna hijau kekuningan. Biji berwarna putih, gepeng dan memanjang tertutup. Pohon tinggi 10 20 m dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 m dpl. Kayunya agak ringan dan kasar, berurat lurus dan berwarna coklat-merah-muda mengkilat dengan sedikit lembayung. Daunnya majemuk menyirip ganda yang tumbuh berseling dengan panjang 20 80 cm, sedangkan anak daun nya berbentuk bulat telur bergerigi dan berwarna hijau tua di permukaan atas. Perdu tinggi sekitar 1,5 - 4 m. berasal dari amerika bagian tropis. Daunnya tunggal, letaknya tersebar, bulat telur (ovatus) sampai lonjong, daunnya berwarna merah sangat indah yang terdapat dibawah bunga-bunga majemuknya. Batang nya berkayu, bercabang, bergetah putih seperti susu. Pohon tingginya sekitar 20 30 m kayunya memiliki bunga yang berwarna coklat, jaringan padat dan serat lurus. Kayunya agak padat, serat kasar, warnanya kelabu kekuning-kuningan. Daun tunggal tersebar, helai daun agak tebal seperti kulit, kaku, bertepi rata, bulat telur terbalik sampai jorong (memanjang). Buah majemuk (syncarp) berbentuk gelendong memanjang panjangnya hingga 100 cm, pada sisi luar membentuk duri pendek lunak dimana biji berbentuk bulat lonjong sampai jorong agak gepeng serta panjangnya 2 s/d 4 cm. Manfaat Buah nya dapat di konsumsi. Seduhan kulit batangnya digunakan untuk memberikan efek warna hijau pada pakaian dan bahan anyaman. Daunnya yang muda dapat dimakan mentah sebagai rujak atau sebagai acar.

2.

Mindi (Melia azedarach)

Pohon ini sebagai tumbuhan peneduh. Daunnya bila diletakkan dalam buku dapat melindunginya dari ngengat dan serangga lain. Daunnya digunakan sebagai obat luar terhadap sakit kepala.

3.

Racunan (Euphorbia pulcherrima)

Perdu ini digunakan sebagai tanaman hias, getahnya digunakan untuk menutup luka daunnya dapat dimakan sebagai lalab.

4.

Nangka (Artocarpus altissima)

Kayu nya digunakan keperluan pembuatan bahan bangunan jembatan dan buahnya dikonsumsi.

untuk kapal, serta dapat

*Sumber : Heyne, 1987.

83

Lampiran 1. Lanjutan
No 5. Nama Jenis Wiyu (Garuga pinnata) Kondisi Pohon tingginya 10 45 m, diameter 100 150 cm . tersebar di seluruh nusantara , di Jawa tumbuh pada ketinggian kurang dari 500 m dpl. Kayunya berwarna seperti lumpur dengan serat-serat kasar tidak keras. Batang utama tegak lurus, kulit batang berwarna kelabu. Daun majemuk menyirip ganjil terdiri atas 4 15 pasang anak daun , bentuk lonjong. Anak daun jorong, tepi daun rata dan ujung lancip. Bunga sangat kecil warna kekuning-kuningan. Buahnya berbentuk bulat mirip alpukat dimana warna buah hijau kehitam-hitaman. Perdu berbunga tunggal dan rangkap, mahkota bunga terdiri dari 5 lembar atau lebih berwarna merah. Tangkai putik berbentuk silinder panjang dikelilingi tangkai sari. Daun berbentuk bulat telur yang lebar, tulang daun menyirip. Manfaat Kayu nya dapat digunakan untuk bahan bangunan rumah, papan, jendela, kotak pengemas, papan langit-langit. Lantai, bok dan bahan kerajinan mainan anak. Kulit papagan dapat dijadikan sebagai obat sesudah melahirkan. Rebusan daun dijadikan pewarna hitam pada anyaman tikar pada masyarakat tanaman ini ditanam sebagai pohon peneduh dan penghijauan.

6.

Kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis)

7.

Sono keling (Dalbergia latifolia)

Pohon tinggi 20 - 40 m dan gemang 84 cm. di Jawa tumbuh di 250 500 m dpl. Kayunya berwarna coklat tua kehitam-hitaman atau keungu-unguan dengan pita yang lebih muda warnanya atau coklat ke kuningkuningan. Kayunya keras, padat, kuat dan awet. Pepagan berwarna abu-abu kecoklatan sedikit pecah-pecah membujur halus. Daunnya majemuk menyirip gasal. Anak daun berbentuk menumpul lebar. Bunga-bunga kecil 0,5-1 cm panjangnya, terkumpul dalam malai di ketiak, buah polong berwarna coklat, lanset memanjang, meruncing di pangkal dan ujungnya. Berisi 1-4 butir biji yang lunak kecoklatan.

Akarnya untuk menurunkan panas demam yang keras. Daunnya dapat mematangkan bisul. Daun atau bunganya dan gula batu sebagai obat pereda penyakit kencing bernanah. Bunganya dilumatkan dalam cuka dapat memperlancar haid. Kuntumkuntum bunganya di usapkan pada bengkak-bengkak pada lipatan paha akan menyusutkan nya. Bunganya sebagai pewarna merah makanan. Kayunya digunakan untuk membuat perabot rumah tangga terutama untuk meja, almari, hiasan dinding dan pahatan. Venirnya yang bernilai dekoratif digunakan untuk melapisi permukaan kayu lapis mahal. Kayu ini juga kuat dan awet, sehingga digunakan untuk konstruksi rumah seperti kusen, pintu dan jendela. Kayunya juga digunakan untuk peralatan seperti gagang kapak, palu, bajak dan garu serta untuk mesin-mesin giling-gilas. Daun-daun sonokeling dimanfaatkan untuk pakan ternak dan pupuk hijau. Perakaran sonokeling bersifat mengikat nitrogen dengan demikian dapat memperbaiki kesuburan tanah.

*Sumber : Heyne, 1987.

84

Lampiran 1. Lanjutan
No 8. Nama Jenis Pinus (Pinus merkusii) Kondisi Pohon. Pohonnya ramping lurus, tingginya hingga 60 m. tumbuh pada 250-2.000 m dpl. Batangnya beralur, berwarna coklat tua. Daun nya berbentuk jarum. Getahnya berwarna putih yang likat sekali, memiliki buah jantan dan betina (strobilus) Manfaat Batang pohon nya digunakan untuk tiang balok dan papan. Kayunya sangat tahan lama dalam tanah tidak membusuk. Bilah kayu yang tebal nya dim dan panjang nya 1,5 kaki oleh orang batak di gunakan sebagai obor. Penyulingan getah kasar menghasilkan minyak terpentin. Sepotong akarnya yang berkayu digunakan untuk obat kolera, sepotong kecil akarnya yang digiling dengan sedikit jahe menjadi obat sesak nafas. Akar bertepungnya yang digosokkan pada gusi dapat menghilangkan rasa nyeri pada gisi yang sakit. Daunnya digunakan sebagai obat penawar dapat meringankan dan menenangkan rasa sakit, daun nya bila dicampur kapur sirih menjadi salep untuk obat bengkak, encok dan pegal linu. Daun-daun yang segar untuk membersihkan kepala dari ketombe. Daun nya yang ditumbuk dengan daun Caesalpinia pulcherrima dan adas untuk obat cacing. Merokok dengan daun kecubung untuk mengobati asma. Ekstrak biji kecubung berkhasiat untuk batuk yang menahun. Tumbuhan ini adalah merupakan tumbuhan yang di tanam untuk memperbaiki tanah. Dimana kayunya juga dapat digunakan untuk bangunan rumah, kayunya yang muda baik untuk pembuatan korek api dan daunnya digunakan sebagai pakan kambing.

9.

Kecubung (Datura fastuosa)

Perdu. Tingginya 6-7 kaki. Cabangcabang nya menyebar luas, gemuk, bengkok dan berkayu. Daun berhadapan bentuk bulat bercangap, bunganya berwarna ungu atau putih berbentuk seperti terompet. Buahnya kotak bulat berduri, bijinya banyak berwarna coklat bulat pipih.

10.

Sengon (Albizzia falcata)

11.

Mahoni (Swietenia mahagoni)

Pohon. Sangat tinggi 20-40 m, garis tengah batang 53-110 cm. batang nya lurus, kulit kelabu, mahkota daun seperti paying. Ditemukan di Pulau Band. Tumbuh pada ketinggian 1.500 m dpl. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda, bunga berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Buah sengon berbentuk polong, pipih dan tipis. Pohon. Tinggi pohon 19-25 m, besar batang sekitar 30-60 cm. pohon ini berasal dari Antillen dan Cuba, yang didatangkan pada tahun `1870 dan 1880 langsung dari Jamaica ke Kebun Raya. Kulit luar berwarna cokelat kehitaman beralur dangkal seperti sisik. Buahnya berbentuk kotak, bulat telur, berlekuk lima, warna nya cokelat. Daun nya kecil dan daun nya majemuk menyirip genap

Kayunya digunakan sebagai bahan baku bangunan dan buahnya dapat digunakan sebagai obat.

*Sumber : Heyne, 1987.

85

Lampiran 1. Lanjutan
No 12. Nama Jenis Nyamplung (Calophyllum inophyllum) Kondisi Pohon besar dengan tinggi 10-20 m. batang bengkok, mengandung damar dan ranting mudanya gundul. Daun bertangkai sepanjang 1,5-2,5 cm. helaian daun berbentuk memanjang atau bulat memanjang sampai elips atau bulat telur terbalik, bagian ujung (tumpul, membulat atau melekuk kedalam), kaku seperti kulit, berkilau dan berukuran 10-21 x 6-11 cm. bunga keluar di ketiak daun, anak tangkai bunga putih, berkelamin dua, berbau harum Manfaat Bagian dari jenis ini yang sering dipakai sebagai obat adalah bagian kayu gelam, getah, daun, inti biji, kulit batang, kulit buah atau minyaknya. Bagian kayu gelamnya berguna sebagai obat pembersih pada wanita bersalin, beser keputihan dan penyakit kotor. Getahnya berguna sebagai obat rematik, sendi-sendi yang kaku, pereda kejang dan tapal pada lambungnya. Daunnya berguna sebagai obat tetes pada sakit radang mata, inti bijinya berguna sebagai obat kudis, kulit batangnya berguna sebagai obat demam nifas, kulit buahnya berguna sebagai obat disentri dan minyaknya berguna sebagai obat kanker dan rambut rontok. . Bagian yang sering digunakan adalah akar, biji, getah, atau kulit batangnya. Akar dan kulit batangnya berguna sebagai pencahar, getahnya berguna sebagai obat luka dan sakit perut; sedangkan bijinya berguna sebagai obat masuk angin dan kudis.

13.

Bintaro (Cerbera manghas L., C. Lactaria Ham)

Pohon dengan tinggi 20 m. Batang tegak, berkayu, bulat, dan berbintikbintik hitam. Daun tunggal, tersebar, lonjong, tepi rata, ujung dan pangkal meruncing, tipis, licin, pertulangan menyirip, panjang 15-20 cm, lebar 35 cm, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, berkelamin dua, terletak di ujung batang, tangkai silindris, panjang 11 cm, dan berwarna hijau, kelopak tidak jelas, tangkai putik sepanjang 2-2,5 cm, jumlah empat, kelapa sari coklat, kepala putik hijau keputih-putihan, mahkota berbentuk terompet, ujung pecah menjadi lima, halus, dan berwarna putih. Buah kotak, lonjong, masih muda hijau dan setelah tua kehitaman. Biji pipih, panjang, dan berwarna putih. Akar tunggang dan berwarna coklat. .

*Sumber : Heyne, 1987.

86

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


14. Bayam duri (Amaranthus spinosus L.) Herba semusim, berduri banyak, berdiri tegak, dengan tinggi mencapai 30-100 cm. Batang tidak berkayu, berduri, berwarna hijau sampai kemerahan, kerapkali bercabang banyak, dengan bagian pangkal polos dan bagian atas sedikit berambut. Daun tunggal, bertangkai panjang, letaknya berseling, berwarna kehijauan, berbentuk bulat telur memanjang sampai lanset, panjang 1,5-6 cm dan lebar 1-3 cm, ujung daun tumpul, pangkal runcing, tepi rata dan kadang-kadang bergerigi, dan pertulangan daun di punggung menonjol. Pada ketiak daun terdapat sepasang duri keras yang mudah terkelupas. Bunga berkelamin tunggal, bunga betina berkumpul dalam tukal yang rapat berbentuk bola di ketiak dan bunga jantan berbentuk bulir yang dapat bercabang pada pangkalnya, keluar di ketiak daun atau ujung batang, dan berwarna hijau keputihan. Buah bulat panjang, dan berwarna hijau. Biji kecil dan berwarna hitam. Akar tunggang dan berwarna kuning.

Manfaat
Bagian yang sering digunakan sebagai obat adalah akar, batang, daun atau herba/seluruh bagian tumbuhannya. Akarnya dapat digunakan sebagai obat batu empedu, demam, diare, disentri, kencing/buang air kecil tidak lancar, kencing nanah, keputihan (leukorea), radang rahim, radang saluran nafas (bronkitis), rematik, sakit gigi, sakit kerongkongan, sakit tenggorokan, TBC kelenjar, dan terlambat haid; batangnya berguna sebagai obat melancarkan air susu ibu/ASI (laktagogum) dan TBC kelenjar; daunnya dapat digunakan sebagai obat bisul, bisul yang keras/tidak mau pecah, bronkitis, demam, demam nifas, digigit ular berbisa, disentri, eksim (dermatitis), gusi bengkak berdarah, haid tidak teratur, kulit bernanah, kurang darah (anemia), kutil (veruka), luka, luka terbakar, melancarkan air susu ibu/ASI (laktagogum), mimisan (epistaksis), pemeliharaan badan sehabis melahirkan, radang saluran nafas (bronkitis), sakit dada, selesma, siklus haid tidak teratur, dan wasir (hemoroid); sedangkan herbanya dapat digunakan sebagai obat ASI (air susu ibu) sedikit, batu dalam empedu, bisul, berak/buang air besar mengandung darah (melena), kencing sakit (disuria), diare, digigit ular berbisa, disentri, eksim (dermatitis), keputihan (leukorea), melancarkan ASI (laktagogum), pegal linu, radang kulit bernanah (pioderma), radang saluran nafas kronis (bronkitis akut), rematik, sakit dada, sakit tenggorokan, TBC kelenjar, dan wasir (hemoroid).

*Sumber : Heyne, 1987.

87

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


15. Paku sepat (Nephrolepis cordifolia) Terna merumpun, dengan tinggi 2070 cm. Batang merayap di atas tanah membentuk stolon, berkulit licin, dan berwarna coklat kemerahan. Daun majemuk, roset akar, menyirip genap, tangkai berbulu, anak daun berbentuk lonjong, ujung dan pangkal tumpul, panjang 2-5 cm, lebar 0,5-1 cm, tepi bergerigi halus, permukaan kasar, dan berwarna hijau. Sorus bulat, pada sisi daun yang fertil, sepanjang tepi daun, dan berwarna coklat muda. Akar serabut dan berwarna kuning kecoklatan. Herba kecil atau besar, rimpang biasanya pendek dan merayap. Daun berbentuk oblong atau oval dengan lekukan yang dalam pada pangkalnya atau berbentuk dua segitiga. Tangkai daun melekat pada helai daun dibagian tepi atau dibagian agak tengah daun sebelah bawah. Bunga majemuk bertangkai. Spatha pada bagian bawahnya saling berlekatan membentuk tabung, sedangkan bagian atasnya tidak. Spadiks lebih pendek dari Spatha nya. Pohon dengan tinggi mencapai 40 m. Batang tegak, berkayu, bulat, jauh di atas tanah baru bercabang, permukaan kasar, dan berwarna coklat keputihan. Daun bagian yang muda dan bagian sisi bawah daun berbulu vilt rapat, berbentuk bintang. Daun bertangkai pendek, kadangkadang duduk, elip atau sedikit bulat telur, dengan ujung yang berbentuk baji dan bagian pangkal yang menyempit, pada cabang yang berbunga, 23-40 x 11-21 cm. Daun yang muda sering coklat kemerahmerahan. Bunga majemuk, tersusun dari anak payung menggarpu, di ujung, berambut serupa tepung, ditutupi dengan kelenjar. Bunga kurang lebih 1 cm garis tengahnya, jarang berbilangan 5, biasanya berbilangan 6-7. Kelopak bentuk lonceng, pada waktu menjadi buah membesar dan melembung. Mahkota bentuk jantera corong, dengan tabung pendek, putih, kadang-kadang agak ros, leher tidak berambut.

Manfaat
Bagian jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah akar atau herba/seluruh bagian tumbuhannya. Akarnya dapat digunakan untuk mengobati demam/penurun panas; sedangkan seluruh bagian tumbuhannya berguna untuk mengobati infeksi saluran kemih.

16.

Bira (Alocasia indica)

Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah akar atau tangkai daunnya. Akarnya berguna sebagai perangsang kulit, obat pemerah, mengobati luka akibat digigit ular dan borok ganas, sedangkan tangkai daunnya yang dapat digunakan sebagai obat gosok untuk mencegah pembengkakan kaki para wanita nifas.

17.

Jati (Tectona grandis L.f.)

Bagian dari jenis ini yang sering dipakai sebagai obat adalah arang kayu, daun atau akarnya. Arang kayunya berguna sebagai obat berak/buang air besar mengandung darah pada anakanak dan perut mulas; daunnya berguna sebagai obat kolera, radang amandel, dan radang tenggorokan; sedangkan akarnya berguna sebagai obat sakit perut, perut mulas, luka memar, dan luka terkena benda tajam.

*Sumber : Heyne, 1987. 88

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


18. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) Pohon dengan tinggi mencapai 5-15 m. Batang tegak, pepagan/kulit batang berwarna abu-abu tua, berbau khas, dan kayunya berwarna merah coklat muda. Daun tunggal, kaku seperti kulit, letak berseling, dan panjang tangkai daun 0,5-1,5 cm dengan 3 buah tulang daun yang tubuh melengkung; dan helai daunnya berbentuk elips memanjang, panjang 4-14 cm, lebar 1,5-6 cm, ujung runcing, tepi rata, permukaan atas licin dan berwarna hijau, permukaan bawah bertepung berwarna keabu-abuan, dan daun mudanya berwarna merah pucat, tetapi ada varietas yang berwarna hijau ungu. Bunga kecil-kecil, berwarna hijau putih, berkumpul dalam rangkaian berupa malai, panjang tangkai bunga 4-12 mm, berambut halus, tertekan pada permukaan, keluar dari ketiak daun atau ujung percabangan, helai tenda bunga sesudah berkembang tersobek secara melintang dan terpotong agak jauh dari dasar bunga, dan benangsari lingkaran ketiga mempunyai kelenjar di tengah-tengah tangkai sari. Buah buni, berbentuk bulat memanjang dengan panjang sekitar 1 cm, dan berwarna merah. Perdu dengan tinggi 3-8 m. Batang memiliki kulit berwarna kekuningan. Daun letaknya bersilang berhadapan dan bertangkai. Helaian daun berbentuk bulat telur lebar hingga elip, berukuran 10-40 x 5-17 cm, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi rata, permukaan atas berwarna hijau atau hijau kekuningan. Bunga berbentuk bongkol, bertangkai, rapat, banyak, berbilang 5-6, dan berbau harum. Mahkota bunga berbentuk tabung atau terompet, berwarna putih, diameter tabung 1 cm, dan bertaju sempit. Buah berbentuk bongkol, terdapat kelenjar-kelenjar bulat di seluruh permukaan buah, berwarna coklat atau coklat kehitaman.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah kulit batang, daun, dan akarnya. Untuk penyimpanan, kulit batang dijemur dengan menggunakan pelindung. Kulit akarnya berguna untuk mengobati mencret dan sakit perut; sedangkan kulit batangnya berguna untuk mengobati asma/sesak nafas kronis, asma/sesak nafas, batuk, batuk rejan, bisul, demam, diare, buang air besar lendir dan darah, eksim, gatal di sekitar kelamin dan dubur, kadas, kencing nanah, keracunan makanan, luka berdarah, luka terbentur/terkupul (trauma), maag, malaria, masuk angin, membersihkan usus, mencret, mengeluarkan keringat, monopause, muntah-muntah, nyeri lambung, obat kuat bagi wanita, perut kembung, radang kulit, radang saluran nafas, rematik sendi kronis, rematik, sakit jantung, sakit limpa, sakit perut karena dingin, sakit perut, sakit pinggang (lumbago), sariawan, sariawan pada anakanak, sariawan usus, tekanan darah tinggi (hipertensi), tidak nafsu makan (anoreksia), dan tulang keropos. Bagian dari jenis ini yang sering dipakai sebagai obat adalah buah, daun atau putik bunganya. Buahnya berguna sebagai obat amandel, batuk rejan, beri-beri, malaria, batuk, penurun panas (antipiretik), flu, peluruh keringat (diaforetik), antelmintik, emenagogum, pelembut kulit, peluruh dahak/batuk, limpa bengkak, penyakit gula, penyakit hati, luka-luka, cuci rambut, dan peluruh kencing (diuretik); daunnya berguna sebagai obat jantung mengipas, kencing manis, tekanan darah tinggi, kegemukan, dan radang usus; sedangkan putik bunganya berguna sebagai obat radang lambung.

19.

Mengkudu (Morinda citrifolia)

*Sumber : Heyne, 1987.

89

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


20. Tanjung (Mimusops elengi) Pohon dengan tinggi mencapai 20 m. Batang lurus dan berdiameter mencapai 15 cm; tebal kulit 16 mm, kulit luar agak kasar dan berwarna abu-abu kecoklatan, kulit dalam berwarna coklat kehitaman dan apabila dilukai mengeluarkan getah jernih; dan kayu gubalnya berwarna coklat tua. Cabang-cabang bulat, gundul, berwarna coklat tua, dan berlentisel. Daun tunggal, berseling, bertangkai sepanjang 5-10 mm, dan gundul. Helaian daun berbentuk bulat telur atau jorong, berukuran 1113 x 3,5-4 cm, bersisi tidak seimbang, pangkal rata, ujung berekor, tepi rata, dan gundul pada kedua permukaan; ibu tulang daun rata di bagian atas dan menonjol di bagian bawah; tulang daun sekunder menyirip, berjumlah 7-10 pasang dan jelas; tulang daun tersier berbentuk jala, dan jelas; kuncup lateral kecil, berwarna hitam, dan terdapat di ketiak daun. Bunga dalam berkas, keluar di ketiak daun, bertangkai sepanjang 0,3-1,2 cm, berbau agak sedap; kelopak bunga sepanjang 0,3 cm, terbagi 8, dalam 2 baris, yang paling luar 4, dan berwarna kecoklatan; mahkota bunga sepanjang 0,3 cm, terbagi 8, di sebelah belakang terdapat daun tambahan, dan berwarna putih; benangsari berbulu, berselingan dengan 8 staminodia. Buah keras, berdaging, dan berbentuk bulat telur. Biji satu, pipih pada sisinya, dan berwarna hitam kecoklatan.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering dipakai sebagai obat adalah daun, bunga, atau kulit batangnya. Daunnya berguna sebagai obat asma dan sesak nafas; bunganya berguna sebagai obat kudis, eksim, demam nifas, dan kencing nanah; sedangkan kulit batangnya berguna sebagai obat eksim, mencret, sekorbut, dan pengelat (astringen), radang tenggorokan, sakit kepala, sariawan, radang hidung, dan penurun panas.

*Sumber : Heyne, 1987.

90

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


21. Kunyit (Curcuma domestica Val.) Herba berbatang semu hijau atau agak keunguan. Daun 3-8 helai, panjang tangkai beserta pelepah daun sampai 70 cm; helaian daun berbentuk lanset lebar, ujung runcing berekor, berukuran 28-85 x 10-25 cm, kedua permukaan berwarna hijau, hanya bagian atas dekat tulang utama agak keunguan. Bunga terminalis, tangkai bunga berbulu, bersisik, panjang 16-40 cm; tenda bunga 10-19 cm, lebar 5-10 cm; daun kelopak berambut, berbentuk lanset, berukuran 4-8 x 2-3,5 cm; daun kelopak bagian bawah berbentuk bulat telur, berwarna hijau, makin keatas semakin menyempit serta memanjang, agak putih atau keunguan; kelopak berbentuk tabung, panjang 9-13 mm, bercuping 3, tipis seperti selaput; tajuk bagian bawah berbentuk tabung, panjang 20 mm, berwarna krem, dan bagian dalam berbulu; tajuk bagian ujung berbelah, putih atau merah jambu, berukuran 10-15 x 11-14 mm; bibir kelopak berbentuk bulat telur, berukuran 1620 x 15-18 mm, berwarna jingga atau kuning keemasan dengan tepi coklat dan di tengah kemerahan. Rimpang hampir bulat sampai bulat panjang, lebar 0,5-3 cm, panjang 2-6 cm, tebal 1-5 mm, bercabang-cabang, agak rapuh, berwarna kuning jingga kemerahan hingga kuning jingga kecoklatan, kadang-kadang terdapat pangkal upih daun dan pangkal akar; bekas patahan agak rata, berdebu agak kuning jingga hingga coklat kemerahan.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah rimpangnya yang berguna sebagai obat radang umbai usus buntu, radang rahim, radang amandel, tidak datang haid lagi, radang gusi, radang hidung, sembelit, sakit mata, diare, tekanan darah tinggi, tekanan darah rendah, campak, demam kuning, keputihan, kudis, disentri, koreng, asma, eksim, gatal-gatal, bengkakbengkak dan encok.

*Sumber : Heyne, 1987.

91

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


22. Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Herba berbatang semu, dengan tinggi mencapai 2 m dan berwarna hijau atau coklat tua. Daun 2-9 helai dan bertangkai dengan panjang 43-80 cm. Helaian daun berbentuk bulat memanjang sampai lanset, berukuran 31-84 x 10-18 cm, dan permukaan atas berwarna hijau atau coklat keunguan. Bunga lateral, tangkai bunga ramping berbulu dengan panjang 10-37 cm; sisik berbentuk garis, berbulu halus, panjang 4-12 cm, dan lebar 2-3 cm; berbentuk bulir bulat memanjang, panjang 9-23 cm, lebar 4-6 cm, dan berdaun pelindung banyak, panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga; mahkota bunga berbentuk bulat tabung, berwarna merah, ungu atau putih dengan bagian ujung ungu, bagian bawah berwarna hijau muda atau agak putih, panjang 3-8 cm, dan lebar 1,5-3,5 cm; kelopak bunga berwarna putih, berbulu, dengan panjang 8-13 mm; mahkota bunga berbentuk tabung, panjang keseluruhan 4,5 m; tabung mahkota berwarna putih atau kekuningan, panjang 2-2,5 cm; helaian bunga berbentuk bulat telur atau bulat memanjang, berwarna putih dengan ujung berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25-2 cm, dan lebar 1 cm; bibir mahkota berbentuk bulat telur sungsang, berwarna jingga hingga merah, panjang 14-18 mm, dan lebar 14-20 mm; benang sari berwarna kuning muda, panjang 1216 mm, lebar 10-15 mm; tangkai sari sepanjang 3-4,5 mm, lebar 2,5-4,5 mm, kepala sari berwarna putih dengan panjang 6 mm, dan tangkai putih sepanjang 3-7 mm. Buah berbulu dengan panjang 2 cm. Rimpang terbentuk dengan sempurna, bercabang kuat, bulat atau jorong, keras, rapuh, berdiameter mencapai 6 cm, tebal 2-5 cm; permukaan luar berkerut, berwarna coklat kuning sampai coklat kuning pucat, melengkung tidak beraturan, dan tidak rata; bekas patahan berdebu dan berwarna kuning jingga hingga coklat jingga.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah rimpangnya, yang berguna sebagai obat kejang jantung, jerawat, ambeien, malaria, diare, kurang darah, darah rendah, radang lambung, radang ginjal, demam kuning, sembelit, kencing darah, eksim, kurang nafsu makan, kejang jantung, getah empedu terganggu, cacar air, cacingan, dan ayan.

*Sumber : Heyne, 1987. 92

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


23. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Perdu dengan tinggi 1,5-3,5 m. Batang berduri dengan panjang duri 0,3-1,2 cm, dan bercabang banyak. Daun bertangkai dengan tangkai daun kearah ujung kadang-kadang bersayap sedikit; sayap beringgit melekuk kedalam, panjang 0,5-2,5 cm. Helaian daun berbentuk bulat telur elips atau bulat telur memanjang dengan pangkal bulat dan ujung tumpul melekuk kedalam sedikit, tepi beringgit dengan panjang daun 2,5-9 cm. Bunga berdiameter 1,5-2,5 cm, daun mahkota dari luar berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bulat, berwarna hijau kekuningan, berdiameter 3,5-5 cm, tebal kulit 0,20,5 cm, dan daging buah berwarna kuning kehijauan.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah buah, ekstrak buah, akar, getah, kulit buah, atau daunnya. Buahnya berguna sebagai obat pereda sakit, rematik, batuk berdahak, biang keringat, abses tenggorokan, sakit tenggorokan, pembengkakan usus, selaput lendir hidung yang bengkak, nyeri haid dan demam. Ekstrak buahnya berguna sebagai obat diare dan pembengkakan dinsing poros usus. Akarnya berguna sebagai obat ambeien dan disentri. Getahnya berguna sebagai obat sakit tenggorokan. Kulit buahnya berguna sebagai obat luka pada mulut dan kerongkongan serta untuk pengharum. Daunnya berguna sebagai obat malaria. Tumbuhan ini tidak memerlukan persyaratan dan cara pemeliharaan yang khusus. Jenis ini dapat berkembang biak sendiri, tetapi di tempat yang sangat teduh tidak tumbuh dengan baik dan akhirnya mati. Cara perbanyakannya adalah dengan biji yang diterbangkan oleh angin atau dapat juga dengan sisa potongan rimpang yang masih tertinggal didalam tanah. Tumbuhan ini merupakan gulma yang berbahaya bagi tanaman budidaya dan sulit untuk diberantas, serta mengakibatkan kesuburan tanah menurun karena banyak menyerap unsur hara nitrogen dalam tanah. Hama dan penyakit adalah hama penghisap daun alang-alang dan hama penghisap rimpang, yaitu kutu putih dan belalang.

24.

Alang-alang (Imperata cylindrical)

Terna tegak dengan tinggi 30-180 cm. Daun berbentuk pita, 180 cm x 3 cm, tegak, bagian ujung runcing; permukaan daun kasar, berbulu halus, pendek, jarang dan hijau. Bunga berupa bulir majemuk, putih, menguncup, 6-39 cm; bunga bersusun, pada satu tangkai terdapat dua bulir, panjang bulir 3 mm, berbulu halus, pendek, padat pada bagian pangkal, dan berwarna putih; bunga sempurna terletak di atas, bunga mandul terletak di bawah. Biji berbentuk jorong, panjang 1 mm, dan berwarna coklat tua. Rimpang kaku, tumbuh menjalar, batangnya padat, dan bukunya berbulu jarang.

*Sumber : Heyne, 1987.

93

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


25. Bandotan (Ageratum conyzoides) Terna semusim, tumbuh tegak atau di bagian bawah berbaring, dengan tinggi 30-90 cm. Batang bulat, bercabang, berambut panjang, dan bila menyentuh tanah akan keluar akar. Daun bertangkai dan letaknya berhadapan bersilang. Helaian daun berbentuk bulat telur, pangkal membulat, ujung runcing, tepi bergerigi, panjang 5-13 cm dan lebar 0,5-6 cm, dan kedua permukaan daun berambut panjang dengan kelenjar yang terletak di permukaan di bawah daun. Bunga majemuk berkumpul 3 atau lebih, berbentuk malai rata, keluar di ujung tangkai, tangkai berambut, dengan mahkota berbentuk lonceng dan berwarna putih atau ungu. Buah kecil, bulat panjang, dan berwarna hitam. Akar serabut dan berwarna putih.

Manfaat
Bagian yang sering digunakan sebagai obat adalah akar, batang, daun atau herba/seluruh bagian tumbuhannya, baik dalam keadaan segar atau yang telah dikeringkan. Akarnya berguna sebagai obat malaria dan demam; batangnya berguna untuk perawatan rambut, mengobati radang telinga, dan rematik; daunnya berguna sebagai obat dipteri, perawatan rambut, radang telinga, rematik, sakit perut, dan sakit tenggorokan; sedangkan herbanya berguna sebagai obat kencing/buang air kecil tidak lancar, badan lelah sehabis bekerja berat, bengkak karena memar, bisul, bisul eksema, borok, demam, diare, disentri, eksim (dermatitis), influensa, keseleo, luka, malaria, memar, mencegah kehamilan, mimisan (epistaksis), mulas (kolik), muntah, pegal linu, pendarahan rahim, perawatan rambut, perut kembung (meteorismus), radang paru-paru (pneumonia), radang telinga tengah (otitis media), sakit telinga akibat radang, sakit tenggorokan, sariawan, dan tumor rahim. Disamping itu jenis ini juga berguna untuk mengobati batuk, lepra/kusta, menyegarkan badan (tonik dan stimulan), radang usus (enteritis), dan sakit kulit.

*Sumber : Heyne, 1987.

94

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


26. Manggis (Garcinia mangostana L.) Pohon besar, dengan tinggi mencapai 25 m dan diameter 45 cm, serta apabila dilukai mengeluarkan getah kuning. Daun bertangkai sepanjang 1-1,5 cm; helaian daun berbentuk jorong sampai jorong memanjang, berukuran 12-23 x 4,5-12 cm, pangkal meruncing, tepi rata, permukaan atas agak berkilau dan bagian bawah agak pucat, daun muda berwarna kemerahan, dan tulang cabang menyirip hampir sejajar. Bunga berwarna putih hingga putih kemerahan, tumbuh sendiri-sendiri atau berpasangan, serta bunga jantan dan betina dihasilkan dalam satu pohon. Buah bila masak berwarna kemerahan atau ungu kemerahan, berbentuk bulat, banyak mengandung air, meliputi biji-biji, berdiameter 810 mm, ada 5-8 rongga di bagian dalam, berisi biji yang terbungkus daging; daging buah berbentuk juring atau segmen, dan setiap buah terdiri dari 5-8 segmen. Biji terdapat dalam rongga buah, 1-2 biji, dan beberapa biji bukan biji sejati. Perdu dengan tinggi mencapai 2-5 m. Batang bergetah berwarna putih agak keruh, mempunyai tonjolan-tonjolan bekas daun yang gugur, dan kulit batangnya licin. Daun tunggal, permukaan atas helai daun berwarna hijau dan permukaan bawahnya lebih pucat, berbentuk bulat telur melebar, panjang 5-15 cm dan lebar 6-16 cm, berlekuk 3-5, pangkalnya berbentuk jantung, ujung meruncing, pertulangan daun utama menjari dengan 5-7 garis, dan panjang tangkai daun 3,5-15 cm. Bunga berwarna hijau kekuningan, berkelamin tunggal, dan berumah satu (baik jantan maupun betina tersusun dalam rangkaian berupa cawan). Buah kotak, berbentuk bulat, berdiameter 3-4 cm, dan bila masak berwarna kuning yang terbagi dalam 3 ruangan masing-masing terdiri dari 1 biji. Biji kotak, berbentuk bulat telur, jika tua berwarna hitam mengkilat dan jika kering akan retak. Akar tunggang.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah dinding buah, damar, akar, atau kulit buahnya. Dinding buahnya berguna sebagai obat astrinjen, diare, obat kumur, dan obat gosok gigi; damarnya berguna sebagai obat sembelit; akarnya berguna sebagai obat haid tidak teratur; dan kulit buahnya berguna sebagai obat diare, disentri, amandel, dan sariawan.

27.

Jarak pagar (Jatropha curcas L.)

Bagian yang sering digunakan sebagai obat adalah biji, buah, daun, getah batang atau minyak dari buahnya. Bijinya berguna sebagai obat memperkuat dan memperbaiki tumbuhnya rambut (tonik); daunnya berguna sebagai obat bengkak terpukul, jamur pada kaki, kencing nanah, kerion (penyakit bagian kulit yang berambut), luka, memar, patah tulang (fraktur), pembersih darah, penyubur rambut, rematik, sakit gigi, sakit perut pada anak-anak, sakit telinga, sembelit, terkilir, dan Trichomonal vaginitis; buahnya berguna sebagai obat cacingan, eksim (dermatitis), gatal-gatal, luka, pencahar ringan, dan sakit perut pada anak-anak; getah batangnya berguna sebagai obat borok, eksim (dermatitis), gusi berdarah, dan kudis; sedangkan minyak dari buahnya berguna sebagai obat borok.

*Sumber : Heyne, 1987. 95

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


28. Daun kaki kuda (Centella asiatica Urb.) Herba merayap dengan panjang 0,10,8 m. Daun berbentuk ginjal, berukuran 1-7 x1,5-9 cm, setiap roset terdapat 2-10, bagian pangkal (melekuk dalam, melebar, beringgir), tangkai daun sepanjang 1-50 cm, dan bagian pangkal berbentuk pelepah. Bunga berjumlah 3, bertangkai dengan panjang 0,5-5 cm, tegak hingga membengkok kebawah; daun pembalut 2-3; daun mahkota kemerahan; bagian pangkal pucat, dengan panjang 1-1,5 mm. Buah berbentuk bulat telur, panjang 3 mm, berlekuk dua, berusuk, dan berwarna merah muda kekuningan. Akar rimpang pendek dan merayap.

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya, yang berguna sebagai obat ayan, urat saraf terganggu, masuk angin, lepra, batuk, bronkitis, radang jantung, radang ginjal, radang lambung, radang paru-paru, radang susu, radang umbai usus buntu, radang anak telinga, lambung lemah, kurang nafsu makan, asma, gusi berdarah, gusi bengkak, luka, koreng, borok, keputihan, sembelit, rajasinga, malaria, tifus, kencing nanah, tekanan darah tinggi, darah kotor, batuk kering, keracunan jengkol, eksim, cacingan, keracunan singkong, trakoma, penyakit kulit, sakit perut, radang usus, sariawan, tuberkulosis, susah tidur, dan peluruh air seni. Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah akar, daun, atau herba/seluruh bagian tumbuhannya, baik dalam keadaan segar atau yang setelah dikeringkan. Akarnya berguna untuk mengobati batuk berdahak, radang saluran nafas (bronkitis), dan rematik; daunnya berguna untuk mengobati arik, bengkak (edema), kencing nanah (gonore), luka, dan susah tidur (insomnia); sedangkan herbanya dapat digunakan sebagai obat batu ginjal, cacingan (askariasis), gatal di sekitar kelamin dan dubur, kencing berdarah, lemah syaraf, luka, panas tinggi pada anak-anak, radang kulit bernanah, radang kulit karena virus, radang lambung, radang saluran nafas (bronkitis), radang usus, rematik, sakit kuning, dan susah tidur (insomnia).

29.

Putri malu (Mimosa pudica L.)

Semak kecil dengan tinggi 0,3-1,5 m. Batang bersegi empat, menjalar, berbulu, dan berduri. Daun kecilkecil, tersusun majemuk 5-26 pasang, bersifat sangat peka (bila daun disentuh akan menutup (sensitif plant)), berduri, berbentuk lonjong, ujung lancip, dan berwarna hijau (ada yang berwarna kemerah-merahan). Bunga bulat seperti bola, bertangkai, dan berwarna merah muda sampai ungu. Buah berbentuk polong berukuran 1-2 x 0,4 cm.

*Sumber : Heyne, 1987.

96

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


30. Rumput gajah

Manfaat
Bagian dari jenis ini yang sering digunakan sebagai obat adalah masuk angin, peluruh air seni, Perut kembung,

(Pennisetum purpureum Seumach)

Herba berumur pendek, berumpun kuat, pada buku-buku bagian bawah keluar akar, dengan tinggi 0,1-0,9 m. Batang besar, menempel, pipih, dan bergaris. Daun dalam 2 baris; pelepah daun menempel kuat, berlunas; lidah seperti selaput, pendek; helaian daun berbentuk garis, berukuran 15-50 x 1-5 cm, tepi kasar pada bagian ujung, pangkal berbulu panjang. Bunga bertipe bulir, terkumpul 2-12; poros bulir bersayap, berlunas, panjang 2,5-17 cm; anak bulir berdiri sendiri, duduk, rapat, menutup secara genting, panjang 4-7 mm; benang sari 3; kepala sari pendek; tangkai putik 2; kepala putik sempit dan berwarna keputihan. Pohon bertajuk rimbun dengan tinggi mencapai 25 meter. Batang berdiameter 1,3 m. Daun tunggal, berbentuk jorong sampai elips atau bulat telur sungsang, berukuran 5-15 x0,35-0,65 cm, pangkal runcing, ujung runcing sampai tumpul, tepi rata, permukaan atas berwarna coklat kehijauan dan berkilau, permukaan bawah berwarna coklat tua, ibu tulang daun menonjol pada permukaan bawah, tulang daun sekunder menyirip sebanyak 6-10 pasang, urat daun halus, dan tangkai daun 5-12 mm. Bunga berbentuk malai, keluar dari ranting, berbau harum; kelopak bunga berbentuk cangkir melebar dan berukuran 1 mm; mahkota bunga berwarna putih dan berukuran 2,5-3,5 mm; benangsari terbagi dalam 4 kelompok, panjang 3 mm, dan berwarna kuning lembayung. Buah bertipe buni, berwarna merah gelap, berbentuk bulat, dan berdiameter 8-9 mm.

31.

Salam

(Syzygium polyanthum)

Bagian dari jenis ini yang sering dipakai sebagai obat adalah daunnya, yang berguna sebagai obat diare, sakit mata, radang mata, dan lambung lemah (maag).

*Sumber : Heyne, 1987.

97

Lampiran 1. Lanjutan No Nama Jenis Kondisi


32. Patikan kebo (Euphorbia hirta L.) Terna tegak atau memanjat dengan tinggi 20 cm. Batang berambut, percabangan selalu keluar dari pangkal batang dan tumbuh keatas, dan berwarna merah atau keunguan. Daun berbentuk jorong (lonjong) meruncing sampai tumpul, tepi daun bergerigi. Bunga berbentuk bola keluar dari ketiak daun, bertangkai pendek, dan berwarna dadu atau merah kecoklatan. Bunga mempunyai susunan satu bunga betina dikelilingi oleh lima bunga yang masing-masing terdiri atas empat bunga jantan. Tumbuhan ini bergetah putih.

Manfaat
Bahan yang digunakan sebagai obat adalah daun, getah atau herba/seluruh bagian tumbuhan nya. Daunnya berguna sebagai obat bisul, kencing nanah, kurang darah (anemia), rajasinga/sifilis, dan tekanan darah rendah; getahnya dapat digunakan untuk mengobati mata gatal; sedangkan herbanya berguna untuk mengobati asma, batuk, berak/buang air besar mengandung darah (melena), diare, disentri, disentri amuba, disentri karena panas dalam, eksim (dermatitis), gatal-gatal (pruritis), herpes zoster, maag, melancarkan air susu ibu/ASI (laktagogum), radang ginjal, radang saluran nafas (bronkitis), radang usus (enteritis), sakit tenggorokan, sariawan, dan selesma. Bagian yang sering digunakan sebagai obat adalah akar, biji, daun atau herba/seluruh bagian tumbuhannya. Akarnya berguna sebagai obat keracunan singkong; bijinya berguna untuk mengobati pendarahan rahim; daunnya berguna sebagai obat bisul, diare, disentri, keputihan (leukorea), keracunan singkong, mimisan (epistaksis), sariawan, dan tinja tipis; sedangkan herbanya berguna untuk mengobati berak/buang air besar mengandung darah (melena), bisul, diare, disentri basiler, gangguan pencernaan (dispepsia), darah haid terlalu banyak, radang hati (hepatitis), keputihan (leukorea), melancarkan air susu ibu/ASI (laktagogum), mimisan (epistaksis), pendarahan rahim di luar waktu haid, sariawan, dan wasir berdarah.

33.

Harendong (Melastoma candidum)

Perdu dengan tinggi 0,5-4 m. Batang tegak dan banyak bercabang. Daun tunggal, bertangkai, dan letaknya berhadapan bersilang. Helaian daun berbentuk bundar telur memanjang sampai lonjong dengan panjang 2-20 cm dan lebar 0,75-8,5 cm, ujung lancip, pangkal membulat, tepi rata, permukaan berambut pendek yang jarang dan kaku sehingga teraba kasar, dengan 3 tulang daun yang melengkung, dan berwarna hijau. Bunga majemuk, keluar di ujung cabang berupa malai rata dengan jumlah bunga tiap malai 4-18, serta mahkota terdiri dari 5 helai dan berwarna ungu kemerahan. Buah berwarna ungu tua kemerahan, jika masak akan merekah dan terbagi-bagi dalam beberapa bagian, dan berwarna ungu tua kemerahan. Biji kecil sekali berupa bintik-bintik dan berwarna coklat.

*Sumber : Heyne, 1987.

98

Lampiran 2. Alur Perancangan Program Wisata


Potensi Obyek Wisata Wisatawan Masyarakat Pengelola

Gejala Alam

Flora

Karakteristik

Kesiapan

Kesiapan

Fauna

Ruang Terbuka Hijau Obyek Wisata Buatan

Motivasi

Harapan

Persepsi Harapan

Obyek Wisata Spiritual

Persepsi Minat

Goa Cipeureu Camping Ground Aula Bentang Alam Flora dan Fauna

Karakteristik : Laki-Laki, 21 - 30 tahun Motivasi : Pendidikan dan Penelitian Kegiatan pengamatan

Siap berpartisipasi secara aktif dan pasif Masyarakat berharap memperoleh nilai manfaat untuk meningkatkan kesejahteraan

Siap memberi dukungan Menyetujui Program wisata 1 hari, bermalam,dan event tahunan

Fasilitas Fisik Promosi Proses

Program TWOR Program AC Program HPGW The Soul of Nature Program Re - Foe

Harga Orang Tempat

99

Lampiran 3. Program wisata hutan dengan bauran pemasaran


Program Tracking with Outbound Recreation (TWOR) Sasaran Karyawan Perusahaan, Instansi. Tujuan Pelatihan dan rekreasi. Memberikan suasana penyegaran dan motivasi baru untuk menghadapi tantangan ke depan. Prasyarat Pengelola menyediakan sumberdaya manusia untuk instruktur. Penambahan fasilitas MCK dan shelter di lokasi dekat pintu 3. Penyediaan fasilitas keselamatan. Perbaikan jalan setapak. Pengelola menyediakan sumberdaya manusia untuk instruktur dan panitia acara. Penyediaan fasilitas keamanan dan keselamatan. Perbaikan jalan setapak, MCK dan musholla. SOP Peserta harus membawa perlengkap-an pribadi yang dibutuhkan. Peserta harus mentaati aturan program wisata dari instruktur. Harga Rp.150.000,/peserta Tempat Di HPGW: Pos-pos di: Hutan tanaman, bumi perkemahan, lokasi sungai. Orang Instruktur harus memiliki skill dalam bidang outbound. Panitia harus ramah dan bersahabat. Panitia tahu kode etik dan berpenampilan baik. Fasilitas Fisik - 1 x lunce - 1 x coffe break - Peralatan pendukung standard internasional - Facilitator - Dokumentasi - Medical Team - Certifficate - Insurance - Tiket masuk. Proses Selama kegiatan berlangsung, instruktur harus pintar mengelola waktu, profesional dalam kegiatan, mengerjakan tugas sesuai tupoksi dengan optimal, dan bersikap baik pada peserta. Selama kegiatan berlangsung, Instruktur dan pihak panitia harus pintar mengelola waktu, profesional dalam kegiatan, mengerjakan tugas sesuai tupoksi dengan optimal, dan bersikap baik pada peserta.

Awakening Camp (AC)

Karyawan Perusaha-an, instansi.

Pelatihan, pendidikan, dan rekreasi. Memberikan energi baru dalam berfikir untuk menemukan terobosan dalam menghadapi sebuah permasalahan.

Peserta harus membawa perlengkap-an pribadi yang dibutuhkan kegiatan camping. Peserta harus mentaati aturan program wisata dari instruktur.

Rp.400.000,/peserta

Di HPGW: Kegiatan utama di bumi perkemahan, Di sungai dan hutan tanaman.

Instruktur dan Panitia acara harus memiliki skill dalam bidang ini. Memiliki kemampuan dalam membina hubungan yang baik dengan peserta, ramah dan bersahabat. Panitia tahu kode etik dan berpenampilan baik.

- 2 X lunce - 2 X coffe break - 1 X dinner - 1 X brekfast - T-Shirt -Peralatan pendukung - Facilitator - Dokumentasi - Tenda dome - Medical Team - Certifficate - Insurance - Tiket masuk.

100

Lampiran 4. Ittenerary Program TWOR


Waktu 08.00-08.20 Kegiatan Pembukaan dan pengarahan Deskripsi Kegiatan Instruktur membuka dan memberikan arahan terhadap kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan ini merupakan kegiatan perkenalan yang dapat menambah keakraban. Peserta diajak berjalan menuju lokasi bumi perkemahan. Lokasi Lokasi lapangan dekat Pos jaga perlindungan hutan HPGW Aula Matoa

08.20-09.00

Ice breaking

09.00-09.10

Trekking

09.10-10.00

Spider web

10.00-10.50

Perahu terbalik

10.50-11.40

Trust fall

11.40-12.10 12.10-12.20

Ishoma Blind lead

Kegiatan outbound yang menggunakan tali membentuk jaring laba-laba sebagai medianya. Kegiatan outbound yang menggunakan plastik hitam sebagai media yang digunakan sebagai perahu. Kegiatan outbound dimana peserta menjatuhkan dirinya sendiri dengan di jaga peserta lain. Istirahat, sholat, dan makan. Kegiatan outbound dimana peserta harus ditutupi matanya dan berjalan berangkai dengan mengikuti pemimpin yang memandunya lewat suara. Kegiatan outbound dimana kelompok peserta bersaing untuk menjadi paling panjang. Peserta diajak untuk ke area sungai sampay. Kegiatan outbound yang menggunakan pipa yang berlubang-lubnag sebagai medianya. Kegiatan pencerdasan spiritual.

Jalan setapak di belakang ruang galeri sonokeling. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Aula Matoa dan Masjid HPGW. Jalan setapak depan Wisma Woloan menuju bumi perkemahan. Taman hutan pinus. Jalan setapak. Daerah pinggiran sungai yang landai. Lokasi dekat Pos jaga perlindungan hutan HPGW. Jalan setapak. Musholla dan shelter bawah. Bumi perkemahan Sawah atau sungai. Bumi perkemahan. Area sekitar sungai. Aula Matoa.

12.20-12.50

High rope

12.50-13.05 13.05-13.55

Trekking Pipa bocor

13.55-14.55

Renungan

14.55-15.05 15.05-15.30 15.30-16.20 16.20-17.10 17.10-17.30 17.30-17.50 17.50-18.00

Trekking Ishoma Flying fox Survival boat Doorprize Diskusi dan evaluasi Penutupan.

Peserta diajak menuju arah jalan lain HPGW. Istirahat, sholat, dan makan. Kegiatan outbound dimana peserta harus meluncur dari ketinggian. Kegiatan outbound yang menggunakan bambu yang diikat sebagai medianya. Kegiatan hiburan. Kegiatan diskusi dan evaluasi seluruh kegiatan yang telah dilakukan. Instruktur menutup acara.

101

Lampiran 5. Ittenerary Program AC


Waktu Kegiatan HARI PERTAMA 08.00-08.20 Pembukaan dan pengarahan 08.20-08.50 08.50-09.50 09.50-11.30 Persiapan peserta Ice breaking Trekking Deskripsi Kegiatan Instruktur membuka dan memberikan arahan terhadap kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Peserta mempersiapka diri dan peralatan yang akan dibutuhkan. Kegiatan ini merupaka kegiatan perkenalan yang dapat menambah keakraban. Peserta diajak berjalan mengelilingi kawasan sambil melihat satwa dan mengenal manfaat flora yang ditemukan. Peserta dipersilahkan untuk istirahat, sholat, dan makan. Peserta lalu menuju lokasi gua cipereu menikmati keindahan sensasi mata air / aliran air di dalam gua Peserta dipersilahkan untuk istirahat, sholat, dan makan. Peserta diajak berdoa atas karunia yang diberikan oleh Allah SWT di Gua Cipereu. Peserta dipersilahkan untuk membersihkan diri. Peserta dipersilahkan untuk sholat magrib, makan malam, kemudian sholat isya. Lokasi Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Jalan setapak. Musholla. Gua Cipereu.

11.30-12.10 12.10-14.50

Ishoma Menikmati sensasi air terjun Ishoma Berdoa di Makam Acara bebas

14.50-15.20 15.20-16.30 16.30-18.00

Shelter Gua Cipereu. Gua Cipereu. Kembali ke bumi perkemahan. Masjid HPGW dan Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Musholla Bumi perkemahan. Bumi perkemahan. Bumi perkemahan.

18.00-19.10

Shoma

19.10-21.00 21.00-03.00

Api unggun Berkemah

Kegiatan hiburan dan games ringan. Peserta dipersilahkan tidur di dalam tenda.

HARI KEDUA 03.00-05.30 Renungan 05.30-07.00 07.00-07.30 07.30-10.00 Senam pagi dan senam otak Isma Pemberian materi

Peserta diajak untuk sholat malam dan setelah itu renungan. Peserta diajak untuk senam kebugaran dan senam otak. Peserta istirahat dan sarapan pagi. Peserta diberikan materi tentang pentingnya kecerdasan IQ,EQ, dan SQ. Peserta juga diberikan training motivasi. Kegiatan outbound dimana kelompok peserta bersaing untuk menjadi paling panjang. Kegiatan outbound dimana peserta menjatuhkan dirinya sendiri dengan di jaga peserta lain. Peserta dipersilahkan untuk istirahat, sholat dan makan. Kegiatan outbound yang menggunakan tali membentuk jaring laba-laba sebagai medianya. Peserta dipersilahkan untuk mengemas, karena kegiatan langsung dilanjutkan ke area pos 2.

10.00-10.50 10.50-11.40

High rope Trust fall

11.40-12.10

Ishoma

12.10-13.00

Spider web

13.00-13.30

Beres-beres

102

Lampiran 6. Ittenerary Program KSN


Waktu Kegiatan HARI PERTAMA 08.00-08.20 Pembukaan dan pengarahan 08.20-14.00 Hunting photo Deskripsi Kegiatan Panitia membuka dan memberikan arahan terhadap kegiatan perlombaan fotografi yang akan dilakukan. Peserta dipersilahkan untuk berpencar mengambil gambar apapun yang terdapat di kawasan HPGW. Peserta dipersilahkan untuk kembali berkumpul ditempat semula. Selanjutnya penutupan. Panitia membuka dan memberikan arahan terhadap kegiatan perlombaan melukis dan lomba membuat karya seni yang akan dilakukan. Peserta lomba melukis berpencar untuk mencari objek lukisan yang akan dilukis. Peserta lomba karya seni membuat karya seni dari bahan-bahan alam yang terdapat di kawasan HPGW. Peserta dipersilahkan untuk kembali berkumpul ditempat semula. Selanjutnya penutupan oleh panitia. Pembukaan dari ketua panitia lalu dilanjutkan sambutan dari Direktur dan Pengelola HPGW. Persembahan Tarian khas Jawa Barat sebagai pembuka kegiatan. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari pihak Perhutani, Ketua Paguyuban yang bebasiskan konservasi, aktivis lingkungan. Talk show ini membahas tentang sustainable tourism yang harus memperhatikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Persembahan lagu khas Jawa Barat Peserta dipersilahkan untuk istirahat, sholat, dan makan. Persembahan Teater yang menceritakan kisah kehidupan masyarakat Jawa Barat Pegumuman lomba fotografi, melukis, dan membuat karya seni. Pemberian hadiah tak terduga untuk peserta yang terpilih dari seluruh peserta dengan harus menjawab pertanyaan dari panitia. Acara ditutup secara resmi oleh panitia. Lokasi Aula Matoa.

Kawasan HPGW Aula Matoa

14.00-14.20

Penutupan

HARI KEDUA 08.00-08.20 Pembukaan dan pengarahan

Aula Matoa.

08.20-14.00

Lomba melukis dan lomba membuat karya seni Penutupan

Kawasan HPGW

14.00-14.20

Aula Matoa.

HARI KETIGA 09.00-09.20 Pembukaan dan sambutansambutan. 09.20-09.30 Acara hiburan 09.30-11.30 Talk Show

Aula Matoa.

Aula Matoa. Aula Matoa.

11.30-11.50 11.50-12.10 12.10-13.00 13.00-13.30 13.30-13.45

Acara hiburan Ishoma Acara hiburan Pengumuman lomba. Doorprise

Aula Matoa. Aula Matoa. Aula Matoa. Aula Matoa. Aula Matoa.

13.45-14.00

Penutupan.

Aula Matoa.

103

Lampiran 7. Ittenerary Program Re-Foe


Waktu 08.00-08.20 Kegiatan Pembukaan dan pengarahan Deskripsi Kegiatan Instruktur membuka dan memberikan arahan terhadap kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan ini merupaka kegiatan perkenalan yang dapat menambah keakraban. Peserta diajak berkeliling kawasan HPGW untuk mengenal jenis-jenis tumbuhan hutan beserta manfaat yang dapat diperolehnya. Peserta juga dapat melakukan pengamatan satwa jika ditemukan. Peserta dipersilahkan istirahat, sholat dan makan. Kegiatan menanam bibit pohon dan mendengarkan penjelasan dari instruktur. Lokasi Shelter dekat pos jaga perlindungan hutan. Shelter dekat pos tiket. Kawasan HPGW dan petak koleksi tumbuhan. Musholla dan shelter. Lahan penanaman dan dekat pos jaga perlindungan hutan HPGW Lahan dekat pos jaga perlindungan hutan HPGW Lahan dekat pos jaga perlindungan hutan HPGW Lahan dekat Pos jaga perlindungan hutan HPGW

08.20-09.00 09.00-11.30

Ice breaking Pengenalan tumbuhan

11.30-12.10 12.10-13.50

Ishoma Penanaman bibit pohon.

13.50-14.20

Diskusi

Kegiatan diskusi, tanya jawab mengenai pengetahuan tentang hutan dan tumbuhan juga kegiatan yang telah dilaksanakan. Kegiatan pemberian pertanyaan mengenai pengetahuan tentang tumbuhan dan hutan. Peserta yang dapat menjawab pertanyaan mendapatkan hadiah. Penutupan oleh instruktur.

14.20-14.30

Doorprise

14.30-14.40

Penutupan

104