Anda di halaman 1dari 25

TUGAS INDIVIDU MATA KULIAH

LINGKUNGAN TANAMAN PAKAN

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Ir. KARNO, MAppl.Sc

PENGEMBANGAN SILVOPASTURA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIJAUAN PAKAN TERNAK

SANYOTO WAHONO NIM. 23010112410045 (Kelas A)

SEMESTER II MAGISTER ILMU TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

PENDAHULUAN

Pada suatu usaha peternakan terutama ternak ruminansia, permasalahan utama dalam pengembangan utama yang dihadapi adalah penyediaan pakan hijauan yang mencukupi sesuai dengan jumlah ternak yang dipelihara. Sebenarnya ini merupakan masalah klasik, kurangnya ketidaktersediaan hijauan pakan disebabkan karena tidak adanya lahan untuk penanaman hijauan pakan. Luas kepemilikan lahan pertanian oleh peternak skala rumah tangga yang banyak terdapat di Indonesia, hanya mengusahakan pakan seadanya dari lingkungan sekitar seperti di pinggiran sawah, kebun, pekarangan rumah, maupun rumputrumput liar yang tumbuh di pinggir jalan. Kepemilikan lahan yang tidak luas menjadikan adanya persaingan dengan kebutuhan lain manusia, seperti pemukiman dan penanaman tanaman pangan, membuat peruntukan lahan bagi peternakan tidak dipikirkan/diprioritaskan. Keterbatasan lahan merupakan masalah umum dalam pengembangan ternak ruminansia untuk penanaman hijauan pakan, padahal lahan merupakan salah satu komponen penting dalam ekosistem bioindustri peternakan bersama komponen lainnya seperti peternak, ternak, dan teknologi. Walaupun begitu, bukan berarti tidak sama sekali tidak tersedia lahan yang dapat digunakan untuk pengembangan peternakan. Pada dasarnya kegiatan usaha peternakan dapat menjadi bagian dari program-program pemanfaatan lahan dari sektor-sektor lainnya seperti tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, transmigrasi, dan peningkatan desa tertinggal (Soehadji, 1994), sehingga kegiatan di sektor-sektor tersebut dapat dipadukan dan diintegrasikan dengan kegiatan peternakan menjadi suatu usaha tani yang terpadu. Salah satu sistem pengelolaan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ternak adalah dengan melakukan sistem pertanaman campuran atau integrasi ternak dengan tanaman. Penyediaan hijauan pakan untuk ternak rumnansia banyak berasal dari lahan-lahan yang lain yang terintegrasi dengan peternakan. Salah satu peluang integrasi yang dapat dikembangkan untuk pengembangan sapi perah adalah integrasi dengan kehutanan. Hutan-hutan

produki yang berada di daerah dataran tinggi dapat digunakan sebagai tempat untuk menanam hijuan pakan. Konsep ini dikenal dengan sistem silvopastoral. Sistem silvopastoral diharapkan dapat memberikan manfaat secara ekonomi, sosial, lingkungan, dan dapat memberikan kesejahteran bagi masyarakat terutama masyarakat sekitar hutan. Pada tulisan ini akan dibahas konsep silvopastoral dan pemanfaatan dalam pengembangan usaha peternakan berupa penyediaan hijauan pakan ternak sebagai suatu sistem integrasi tanaman kehutanan-ternak yang juga dapat menjaga kelestarian hutan.

PEMBAHASAN

Pengertian Agroforestri Agroforestri adalah suatu sistem tata guna lahan berkelanjutan yang mempertahankan atau meningkatkan hasil total dengan mengkombinasikan tanaman pangan (annual) dengan tanaman pohon (parennial) atau peternakan dalam unit lahan yang sama pada waktu yang bergantian atau pada waktu yang sama dengan melakukan pengelolaan yang sesuai dengan karakteristik sosial, budaya penduduk setempat dan kondisi ekonomi, serta ekologi area (Vergara, 1982). Young (1989) mengatakan bahwa agroforestri adalah gabungan nama untuk sistem tata guna lahan yang didalamnya terdapat tanaman perennial berkayu (pohon, semak) yang tumbuh bersama-sama dengan tanaman herbaceous (tanaman pangan, padang rumput) atau peternakan dan didalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi antara komponen pohon dengan komponen bukan pohon. Nair (1991) mendefinisikan agroforestri adalah sistem penggunaan lahan terpadu yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian dan atau hewan ternak secara bersama-sama atau bergiliran untuk menghasilkan produk terpadu. Agroforestri dapat diklasifikasikan berdasarkan pada berbagai aspek sesuai dengan perspektif dan kepentingannya. Pengklasifikasian ini bukan dimaksudkan untuk menunjukkan kompleksitas agroroforestri dibandingkan budidaya tunggal (monoculture; baik di sektor kehutanan atau di sektor pertanian). Pengklasifikasian ini justru akan sangat membantu dalam menganalisis setiap bentuk implementasi agroforestri yang dijumpai di lapangan secara lebih mendalam, guna mengoptimalkan fungsi dan manfaatnya bagi masyarakat atau para pemilik lahan. Komponen penyusun utama agroforestri adalah komponen kehutanan, pertanian, atau peternakan. Ditinjau dari komponennya, agroforestri dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1) agrisilvikultur (Agrisilvicultural systems) adalah sistem agroforestri yang mengkombinasikan komponen kehutanan (tanaman berkayu/ woody plants) dengan komponen pertanian (tanaman non-kayu); 2) silvopastura (Silvopastural systems) adalah sistem agroforestri yang meliputi komponen kehutanan (tanaman berkayu) dengan komponen peternakan (binatang ternak/ pasture) disebut sebagai sistem silvopastura; 3) agrosilvopastura (Agrosilvopastural systems) adalah pengkombinasian

komponen berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan (binatang) pada unit manajemen lahan yang sama.

Silvopastura Menurut Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.49/Menhut II/2008, kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap, hutan negara adalah hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah, sedangkan hutan desa merupakan hutan negara yang dikelola oleh desa dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa serta belum dibebani ijin/hak. Pengertian dari pada desa itu sendiri merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan pengembangan hutan desa diharapkan desa desa yang sebagian besar wilayahnya adalah kawasan hutan dapat menghasilkan pendapatan asli desa untuk kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Secara umum hutan desa merupakan hutan negara yang berada di dalam wilayah suatu desa, dimanfaatkan oleh desa untuk kesejahteraan masyarakat desa tersebut. Tanpa adanya upaya peningkatan kualitas ataupun bentuk pelestarian dari hutan desa tersebut maka hutan tersebut tidak memberikan arti yang lebih bagi masyarakat

sekitar. Pemanfaatan kawasan pada hutan antara lain melalui beberapa kegiatan salah satunya adalah budidaya hijauan makanan ternak dalam kawasan hutan (selanjutnya disebut silvopastura)

Silvopastoral merupakan salah satu kegiatan yang ada dalam agroforestri yang mengintergrasikan antara tegakan pohon, tanaman pakan, dan ternak dalam suatu kegiatan yang terstruktur dan menggambarkan berbagai interaksi. Tujuan silvopastoral adalah bagaimana dapat mengoptimalkan ketiga komponen tersebut. Pada sistem tersebut tegakan pohon diatur untuk menghasilkan kayu gelondongan yang bernilai tinggi, dan mengelola vegetasi dibawah tegakan yang berupa tanaman pakan untuk dapat disajikan atau digembalakan oleh ternak. Suatu design sistem silvopastoral yang baik akan memberikan kepuasan yang memenuhi tiga kriteria, yaitu produktivitas, keberlanjutan dan kemampuan beradaptasi

(Ladyman et al., 2003). Kehadiran silvopastoral di hutan merupakan suatu bentuk pengelolaan hutan yang menempatkan kehutanan sebagai suatu bagian dalam kerangka pembangunan wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Masyarakat dilibatkan sebagai bagian dari sistem dalam mengusahakan dan mengelola lahan kehutanan, sehingga tercipta suatu manfaat yang sinergis baik secara ekologi, ekonomi dan sosial bagi masyarakat maupun pengelola hutan (misalnya Perhutani). Silvopasture merupakan manajemen pengelolaan hutan yang menghasilkan output beragam hasil dari areal yang sama. Tujuan utama dari sistem silvopasture adalah untuk menghasilkan kayu berkualitas tinggi dalam jangka panjang bersamaan itu juga dapat dilakukan penggembalaan atau pemanfaatan hijauan pakan ternak yang pada areal yang sama dalam sebagai tujuan jangka pendek. Silvopastoral di Indonesia diarahkan untuk mengoptimalkan produktivitas tanaman pakan untuk menyediakan hijauan pakan. Tanaman pakan yang ada dipanen dengan cara dipotong dan disajikan ke ternak yang berada di kandangmasing-masing peternak yang terletak relatif cukup jauh dari lokasi. Sistem silvopastoral tersebut sebenamya lebih menyerupai perkebunan rumput (Grass estate) yang ditumpangsarikan di bawah tegakan hutan (pinus). Silvopastoral ini lebih dikenal dengan sebutan emulated silvopasture system, yaitu sistem silvopasture yang tidak ada komponen ternaknya.

Pengembangan Silvopastura Ada tiga variasi pilihan pada saat awal pengembangan silvopastoral, antara lain (i) menanam tanaman pakan pada saat umur tanaman kehutanan masih muda, (ii) menanam tanaman pakan pada saat umur tanaman kehutanan sudah dewasa, dan (iii) menanam tanaman pakan secara simultan bersamaan dengan tanaman kehutanan (White, 2005). Sistem silvopasture dapat diterapkan di atas lahan apapun yang mampu secara bersamaan mendukung tumbuhnya pohon dan hijauan. Akan tetapi memerlukan lahan yang relatif luas untuk mempertahankan produki kayu dan produki pakan ternak yang kontinyu. Pengembangan silvopastura dapat dilakukan yang pertama dengan penanaman hijauan pakan di lahan hutan diantara tegakantegakan pohon, kedua menanam satu atau beberapa baris pohon di atas pada padang rumput yang ada dengan dengan pola tertentu. Pada cara pertama silvopasture dapat langsung dengan penanaman hijauan disela-sela tegakan pohon ataupun dengan mengurangi/menebang tegakan pohon yang ada sesuai dengan pola yang dinginkan sebagai lorong-lorong/gang yang akan ditanami hijauan pakan (USDA, 2008).

Komponen Peternakan dalam Silvopasura Sistem Silvopasture memerlukan pengelolaan interaksi tiga-arah antara ternak, pohon, dan hijauan. Namun, ada empat variabel dalam silvopastoral yang membutuhkan manajemen khusus yaitu : pemeliharaan ternak, jenis pohon, kerapatan pohon, dan spesies hijauan. Diperlukan pemahaman yang baik guna keberhasilan mengelola keempat variabel tersebut.

Peranan Silvopastura terhadap Ternak Ternak (ruminansia) dalam sistem silvopastura memberikan kontribusi berupa pendapatan, mengkonsumsi gulma, dan merupakan salah satu faktor utama dalam pengelolaan antara rumput/legum, dan pohon/hijauan. Ternak yang merumput (digembalakan dalam silvopastura) juga dapat mengurangi kebutuhan

akan pupuk karena adanya peningkatan efektivitas hara tanah melalui daur ulang (dalam kotoran dan urine) dari unsur-unsur seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan sulfur yang disimpan dalam padang rumput hijauan. Pohon yang tumbuh dalam sistem silvopastura menyediakan tempat naungan yang nyaman bagi ternak pada saat cuaca buruk. Hal ini secara signifikan dapat meningkatkan kinerja ternak selama masa sangat panas atau dingin. Pada beberapa kasus, pakan hijauan tumbuh di bawah teduhan pohon, tiupan angin di bawah pohon cenderung lebih lambat dan karenanya, hijauan yang dihasilkan lebih rendah kandungan seratnya dan lebih mudah dicerna dari pada yang tumbuh di tempat terbuka. Pola makan ternak yang digembalakan dalam silvopastura perlu untuk diperhatikan. Walaupun makanan utamanya adalah hijauan atau legume yang terdapat di bawah/diantara pohon tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan mencoba memakan daun-daun pohon yang dapat dijangkau. Konsumsi daun biasanya terjadi pada pohon yang belum begitu tinggi ataupun daun pohon yang tumbuh di batang bagian bawah. Hal ini apabila dibiarkan berlarut-larut dapat menjadi masalah serius sehingga tujuan utama sistem silvopastura tidak tercapai. Kerusakan pohon selain menyebabkan berkurangnya hasil dan kualitas kayu yang dihasilkan juga menjadikan manajemen penggembalaan/defoliasi hijauan yang dirancang tidak sesuai harapan. Ternak juga tidak bisa merumput dengan nyaman oleh panas cuaca/terik matahari karena pohon banyak yang rusak, dan yang utama pertumbuhan hijauan dan legume kualitasnya akan menurun. Maka sudah semestinya terutama pada sistem penggembalaan (grazing) perlu ditentukan kapan ternak dapat mulai digembalakan dengan melihat pertumbuhan pohon yang ada. Hal ini tentunya tidak begitu perlu diperhatikan apabila dengan sistem cut and carry.

Sistem Penggembalaan Sistem pemeliharaan dengan cara penggembalaan perlu dilakukan manajemen penggembalaan (grazing), tapi apabila dengan sistem cut and carry yang diperlukan manajemen pemotongan hijauan. Sistem penggembalaan

dibedakan menjadi dua; (1) Penggembalaan secara terus-menerus pada suatu lahan tertentu (continuous stocking); dan (2) Penggembalaan secara rotasi (rotational grazing). Continuous stocking, ternak dipelihara di suatu lahan tunggal tertentu dalam jangka waktu yang lama. Pakan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif dengan menyesuaikan populasi ternak berdasarkan produki hijauan. Penggembalaan secara terus-menerus pada lokasi yang sama dapat menciptakan lahan rumput yang kurus dan rusak (undergrazing) serta dapat menyebabkan erosi tanah. Namun, keuntungan sistem ini memungkinkan ternak untuk selektif memilih rumput tanaman kualitas yang paling diinginkan atau tinggi. Praktek ini umumnya tidak dianjurkan untuk sistem silvopasture. Cara penggembalaan secara rotasi (rotational grazing) membagi lahan silvopastura menjadi beberapa bagian/petak dimana setiap bagian akan mendapat giliran untuk penggembalaan pada waktu tertentu, selanjutnya pada periode waktu berikutnya pindah ke lahan berikutnya. Periode penggembalaan di setiap petak umumnya berkisar selama 1 hari sampai dengan 1 minggu menyesuaikan kondisi lahan. Seterusnya akan berpindah ke lahan berikutnya, dan akhirnya kembali ke lahan awal yang mana hijauan sudah tumbuh kembali.

Pembagian lahan penggembalaan secara rotational grazing

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rotational grazing : Sesuaikan waktu rotasi dengan pertumbuhan hijauan. Jangan menggunakan jadwal waktu yang kaku tapi haris fleksibel dengan kondisi lahan. Menjamin berlangsungnya proses fotosintesis yang cukup. Pindahkan ternak ke petak yang baru sebelum mereka merumput dari pertumbuhan hijauan di petak yang telah dimakan. Kualitas hijauan akan menurun seiring meningkatnya umur hijauan sehingga penting untuk merencanakan skema pengelolaan grazing guna mendapatkan kualitas hijauan yang terbaik. Tambahkan suplemen mineral yang cukup dalam sistem silvopasture.

Peranan Silvopastura terhadap Penyediaan Pakan Pemanfaatan kawasan pada hutan antara lain melalui beberapa kegiatan salah satunya adalah budidaya hijauan makanan ternak. Integrasi peternakan dan kehutanan dalam bentuk budidaya hijauan makanan ternak merupakan salah satu bentuk dari pemberdayaan masyarakat setempat, dimana menurut Peraturan Menteri Kehutanan nomor P.49/Menhut II/2008, pemberdayaan masyarakat setempat merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat setempat untuk mendapatkan manfaat sumberdaya hutan secara optimal dan adil melalui pengembangan kapasitas dan pemberian akses dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Kriteria kawasan hutan yang dapat ditetapkan sebagai areal kerja hutan desa adalah hutan lindung dan hutan produki yang belum dibebani hak pengelolaan atau ijin pemanfaatan dan berada dalam wilayah administrasi desa yang bersangkutan. Kriteria tersebut berdasarkan rekomendasi dari Kepala KPH atau kepala dinas kabupaten/kota yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang kehutanan. Dengan adanya integrasi dengan bidang peternakan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani yang tinggal di kawasan hutan tersebut, karena dengan integrasi hutan desa dikembangkan untuk dapat memberikan hasil pada peternakan demikian juga sebaliknya peternakan dapat

memberikan kontribusi kepada hutan desa. Budidaya hijauan makanan ternak pada hutan desa merupakan salah satu bentuk pemanfaatan kawasan, karena dengan budidaya hijauan makanan ternak maka telah dilakukan kegiatan untuk memanfaatkan ruang tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi secara optimal dengan tidak mengurangi fungsi utamanya. Tanaman yang terdapat pada hutan desa tidak selalu murni berupa kayukayuan, tetapi terpadu atau dikombinasikan dengan berbagai jenis tanaman lainnya, misalnya tanaman pertanian, tanaman perkebunan, tanaman pakan ternak (silvopastura), dan sebagainya Hijauan pakan ternak merupakan pakan asal tanaman (rumput, tanaman kacang kacangan ataupun rambanan) yang dapat digunakan untuk memberi pakan hewan. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua macam bentuk, yakni hiajuan segar dan hijauan kering. Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan sangat penting, sebab hijauna mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan, khususnya di Indonesia bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa, karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah yang besar. Budidaya hijauan makanan ternak merupakan salah satu bentuk pengembangan hutan desa, karena pengembangan hutan desa (silvopastura) dapat dilakukan dengan (1). Penanaman tanaman tanaman keras (tanaman hutan multiguna), tanaman perkebunan yang cocok dan tanaman buah buahan, (2). Penanaman sela penutup termasuk legum penyubur tanah, rumput gajah sebagai pakan ternak, (3). Penanaman palawija dan holtikultura. Kebutuhan hijauan makanan ternak (HMT) masih sulit dipenuhi oleh masing-masing peternak, karena hanya memiliki lahan sempit dan sangat tergantung pada musim. Apalagi dengan meningkatnya kepemilikan ternak misalnya sapi, peternak akan menghabiskan waktu untuk pemeliharaan dan pengelolaan sapi, tidak memiliki waktu lagi untuk menyediakan pakan hijauan. Dengan masih banyaknya lahan tidur, tanah-tanah sela di antara pokok tanaman perkebunan besar maupun hutan milik Perhutani, jerami padi/jagung di daerah produki yang belum dimanfaatkan, limbah industri, seperti kulit gabah, dedak

padi/ bekatul dari penggilingan padi, dedak atau bungkil jagung dari industri minyak jagung, cangkang kernel dari industri minyak sawit, kulit coklat, dan sebagainya, yang semuanya dapat dimanfaatkan menjadi makanan ternak, tetapi tentu saja harus diproses lebih lanjut yang memerlukan teknologi dan manajemen yang handal. Tujuan dari pengembangan hutan desa ini dimaksudkan untuk

merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas lahan, serta kelestarian sumber daya alam agar dapat memberi manfaat yang sebesar besarnya bagi masyarakat, sehingga kesejahteraan hidup meningkat. Manfaat lain peran peternakan bagi hutan desa dari pengembangan hutan desa dengan budidaya hijauan makanan ternak dilihat dari segi sosial ekonomi meliputi mampu meningkatkan pendapatan masyarakat tani di pedesaan karena dengan hijauan makanan ternak kebutuhan ternak akan pakan dapat tercukupi secara terus menerus untuk pertumbuhan dan pertambahan bobot badan yang pada akhirnya ternak tersebut dihargai dengan harga yang cukup tinggi, dapat memanfaatkan secara optimal dan lestari lahan yang tidak produktif untuk usaha tanaman pakan, tanaman pakan seperti legum dan rumput tidak terlalu membutuhkan lahan yang kaya unsur hara seperti tanaman lain, tetapi dengan kombinasi limbah ternak berupa kotoran dan diolah menjadi pupuk maka dapat meningkatkan kualitas tanah tersebut. Rumputrumputan jenis King Grass dan Setaria digunakan untuk tanaman penguat teras dan untuk memenuhi kebutuhan hijauan makanan ternak (HMT) pemilik lahan. Manfaat lain dapat membantu dalam keanekaragaman hasil pertanian yang diperlukan masyarakat, karena dengan budidaya tanaman pangan, limbah dari hasil pertanian tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak, sedangkan limbah dari peternakan berupa kotoran akan menjadi pupuk dengan kualitas tinggi karena berupa pupuk organik tanpa merusak struktur tanah dan lingkungan. Disamping itu hijauan pakan ternak dapat berfungsi ganda, selain sebagai pakan, juga sebagai tanaman konservasi tanah dan air. Manfaat lain dari hijauan makanan ternak adalah sebagai tanaman konservasi lahan baik sebagai tanaman penguat teras di lahan miring maupun sebagai tanaman reklamasi pada tanah yang rusak, sebagai tanaman penutup di tanah tanah perkebunan. Kebutuhan ternak

akan hijauan dalam hal ini ternak sapi adalah 10% dari bobot badan, pada umumnya peternak memliki ternak sapi dengan bobot 250 300kg, maka kebutuhan akan hijauan sebesar 25 30 kg, dan untuk masyarakat yang tinggal di desa pada umumnya memiliki ternak sebagai usaha sampingan sehingga hanya memiliki 2 3 ekor tiap kepala keluarga. Sedangkan hijauan makanan ternak yang dapat dihasilkan dalam 1 ha sebanyak 400 ton untuk rumput gajah. Peternakan dalam hutan desa akan memiliki nilai yang tinggi apabila dalam pengelolaan ternak dengan sistem dikandangkan, selain pakan selalu tersedia melalui budidaya hijauan makanan ternak serta limbah tanaman pertanian maupun perkebunan, pemberiannya dapat terukur untuk masing masing ternak, kotoran dari ternak dengan sistem di kandangkan dapat dengan mudah dikumpulkan untuk kemudian dijadikan pupuk bagi tanaman pertanian, dapat pula di olah menjadi produk biogas. Dengan pemanfaatan biogas bagi masyarakat di sekitar, maka pengeluaran untuk bahan bakar dapat ditekan, selain itu pemanfaatan kayu bakar untuk keperluan memasak dapat berkurang sehingga kelestarian hutan dapat terjaga, dengan mengurangi kegiatan penebangan pohon untuk kayu bakar bagi masyarakat sekitar. Salah satu model silvopastura yang telah lama ada di Indonesia yaitu pemeliharaan ternak ruminansia pada lahan budidaya kelapa sawit. Pada dasarnya pengembangan usaha budidaya ternak potong ruminansia dapat dilakukan pada daerah-daerah integrasi yang berbasis tanaman pangan, hortikultura, perkebunan atau kawasan hutan lindung. Namun dalam hal ketersediaan pakan Hijauan Makanan Ternak (HMT) sering ditemukan kendala yang sering terjadi berupa bila musim hujan jumlah ketersedian pakan HMT akan melimpah atau surplus dan sebaliknya bila musim kemarau panjang maka ketersediaan HMT mengalami kekurangan. Pada areal perkebunan kelapa sawit banyak terdapat jenis gulma yang dapat digunakan sebagai hijauan untuk pakan ternak ruminansia seperti Axonopus compressus, Paspalum conjugatum, Ottochloa nodosa, Brachiraria milliformis, Brachiaria mutica, Ischaenum mucunoides, Centrosema pubescens dan spesies lainnya. Ternak ruminansia memakan hampir semua jenis gulma yang sering dijumpai di perkebunan kelapa sawit diantaranya yang paling disukai

adalah Ottochloa nodosa, Paspalum spp, Brachiaria mutica, Mikania micrantha, dan berbagai jenis kacangan penutup tanah (Purba et al., 1997). Pada umur tanaman di bawah 3 tahun, rumput alam yang tumbuh di kawasan kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak adalah: rumput pahitan (Axonopus compressus), krakapan, patikan, wedhusan, prenthulan, kenthangan, teki, trinyo dan sedikit legume Calopo. Sedangkan di area perkebunan kelapa sawit milik perusahaan besar, pada saat umur tanaman diatas 3 tahun sangat sedikit dijumpai rumput alam, umumnya ditumbuhi tanaman penutup tanah (cover crop) berupa legume Calopogonium mucunoides (Wijaya dan Utomo, 2001). Selama ini gulma dipandang sebagai pesaing terhadap tanaman utama dan dikendalikan secara kimiawi maupun mekanis dengan biaya sebesar 10% dari biaya pemeliharaan. Selama 5 tahun pertama setelah kelapa sawit ditanam, bobot gulma yang diperoleh mencapai 10-15 ton/ha (Purba et al., 1997). Sampai saat ini pemanfatan gulma sebagai pakan ternak ruminansia umumnya bersifat konvensional yaitu dengan menggembalakan ternak di areal perkebunan. Ketersediaan pakan hijauan pada areal kelapa sawit berumur 1 5 tahun (sebelum menghasilkan) diperkirakan mampu mendukung 3 5 ekor domba/ha setara lebih kurang 2 ekor sapi bakalan. Pada saat kelapa sawit berumur diatas 6 tahun (mulai menghasilkan) kerapatan dan jenis gulma mulai berkurang dan merupakan factor pembatas. Di areal perkebunan kelapa sawit keberadaan rumput unggul diharapkan membantu mencukupi kebutuhan HMT baik dari segi kualitas dan kuantitasnya yang sulit ditemui jika hanya dari rumput alam saja. Rumput raja ( Pennisetum purpureophoides), adalah sumber hijauan pakan yang sangat baik untuk kebutuhan ternak. Seperti diketahui bahwa produktivitas ternak sangat dipengaruhi oleh sumber pakan yang dikonsumsi. Dari jumlah pokok pohon kelapa sawit yang tertanam sebanyak 130 batang per hektar akan berkurang atau tidak seluruhnya produktif. Pada umumnya yang tersisa sebanyak 120 batang per hektar. Penanaman rumput raja dilakukan di lokasi kebun yang tanaman sawitnya mati atau ditebang akibat tidak produktif juga di sekitar alur-alur yang ada di lokasi kebun. Kalau kematian pohon kelapa sawit rata-rata 10 pohon/ha, maka

akan tersedia lahan kosong 10 x 760 m2, yang dapat ditanami 760/10.000 x 2.000 = 1.520 rumput/ha (Sitompul, 2003). Pada musim penghujan produksi rumput akan meningkat (180 ton/ha/tahun). Dibandingkan dengan rumput unggul lainnya, rumput Raja mempunyai produksi tertinggi dengan rata-rata berat basah 189,34 ton/ha/tahun.

Pola Tanam pada Silvopastura Pola penanaman antara pohon dan hijauan dibentuk sedemikian rupa untuk memberikan ruang bagi masuknya sinar matahari untuk mengoptimalkan pertumbuhan masing-masing sehingga nantinya dapat diperoleh kayu yang berkualitas dari pohon yang ditanam dan hijauan pakan ternak. Pada silvopastura akan menjadikan berkurangnya jumlah pohon guna memberikan ruang bagi

bertunas dan tumbuhnya hijauan, hal ini berbeda dengan budidaya hutan secara murni dimana pohon dapat ditanam lebih padat. Sedangkan pada silvopastura yang berasal dari padang rumput, maka setelah penanaman pohon perlu dilakukan pemeliharaan selama 2 sampai 3 tahun untuk menjaga bibit pohon dapat tumbuh dengan baik, terutama gangguan dari gulma atau tanaman perdu dan semak yang mudah tumbuh ataun bahkan dengan hijauan sehingga kontrol kompetisi hijauan perlu diperhatikan. Pengaturan jarak dan kepadatan tanam antara pohon dan hijauan sepenuhnya tergantung pada tujuan silvopastura yang dilaksanakan. Seberapa banyak hijauan yang ingin diperoleh untuk mencukupi kebutuhan ternak yang dipelihara dan kayu yang dinginkan. Pada permulaan, pohon dapat ditanam lebih banyak/lebih rapat kemudian dapat dilakukan penjarangan seiring dengan bertambahnya umur tanaman dengan menyesuaikan kondisi lahan, kompetisi tanaman, dan pancaran sinar matahari pada masing-masing tanaman. Pohon yang ditanam berbaris sering mengalami pertumbuhan yang kurang baik karena tidak memiliki setidaknya satu sisi yang mendapat sinar matahari penuh. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan pertumbuhan, baris tunggal atau ganda umumnya lebih disukai dari tiga baris atau beberapa pohon. Pada silvopastura pohon berdaun jarum seperti pinus atau cemara populasi pohon yang

baik antara antara 200 hingga 400 pohon per hektar. Luas area yang tertutup pohon (kanopi) dalam sistem silvopasture bervariasi antara 25 hingga 60 persen, yang menyediakan ruang terbuka yang lebih besar untuk produki hijauan (USDA, 2008). Menurut USDA (2008) ada beberapa pola tanam pohon-hijauan yang direkomendasikan : 1) Penanaman Pohon Satu Baris (Single Row-Planting) Pola tanam terdiri dari pohon yang berjarak sekitar 8 sampai 12 feet dalam baris dan 16 sampai 30 feet antara baris (gang). Jarak yang terlalu dekat akan menyulitkan pemasukan peralatan ke dalam sistem dan dapat berpotensi mengurangi produki hijauan jika pohon tidak dipangkas supaya lebih tipis dan pada waktu yang tepat. Semakin lebar jarak baris cenderung mendukung produki hijauan lebih banyak.

Penanaman Pohon Satu Baris (Single Row-Planting) 2) Penanaman Pohon Dua Baris (Double Row-Planting) Jarak antar pohon dalam satu baris antara 8 sampai 10 feet. Dalam pola ini, baik hijauan dan pohon hidup berdampingan dan dapat berkontribusi pada sistem silvopasture dengan sangat produktif. pengaturan lebar antar baris dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan maupun peralatan yang akan digunakan dalam pengelolaannya.

Penanaman Pohon Dua Baris (Double Row-Planting) 3) Penanaman Jarak baris ganda (Multiple Row Spacing) Jarak baris ganda memiliki dua hingga tiga baris pohon dengan jarak cukup dekat (8 feet x 10 feet atau 10 feet x 10 feet) dengan sebuah gang selebar 20 sampai 40 feet antara set baris pohon sebagai tempat untuk produki hijauan.

Penanaman Jarak baris ganda (Multiple Row Spacing)

4) Penanaman sistem tiga dan empat pohon dalam baris (Triple and Quadruple) Sistem ini merupakan pengembangan dari double row-planting dengan penambahan jumlah pohon dalam satu baris. Dalam prakteknya, sistem ini menyebabkan ruang untuk tumbuh pohon lebih sempit dan pada pohon yang

ada di tengah baris, dimana sinar matahari tidak dapat dapat menjangkau pohon yang ada di tengah karena terhalang pohon yang dipinggir dan kompetisi yang lebih besar untuk mendapatkan nutrisi dari tanah.

Penanaman sistem tiga dan empat pohon dalam baris (Triple and Quadruple) 5) Penanaman secara Blok (Block Planting) Penanaman secara blok mempunyai jarak antar pohon yang lebih lebar (pada 12 feet x 12 feet atau 15 feet x 15 feet). Sistem ini dianggap lebih cenderung untuk poduksi kayu, menyebabkan hijauan lebih sensitif terhadap kerapatan kanopi sehingga perlu dilakukan pemangkasan secara berkala untuk mempertahankan produki hijauan.

Penanaman secara Blok (Block Planting)

Komponen Silvopastura Penerapan silvopasture memerlukan pengelolaan interaksi tiga-arah antara ternak, pohon, dan hijauan. Namun, ada empat variabel dalam silvopastoral yang membutuhkan manajemen independen : pemeliharaan ternak, jenis pohon, kerapatan pohon, dan spesies hijauan. Keberhasilan dalam mengintegrasikan dan mengelola komponen dependen dan independen memerlukan pemahaman yang baik tentang biologi dan dinamika komponen sendirian maupun kombinasi.

Nilai strategis silvopastura Sistem diakui dapat memberikan manfaat secara ekologis, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat. Kehadiran silvopastoral di hutan merupakan suatu bentuk pengelolaan hutan yang menempatkan kehutanan sebagai suatu bagian dalam kerangka pengembangan pembangunan wilayah untuk meningkatkan

kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Berikut ini adalah beberapa manfaat yang diperoleh dari sistem silvopastoral.

Diversifikasi produki hutan dan peningkatan produktivitas lahan Hijauan yang dihasilkan dari sistem silvopastoral merupakan suatu bentuk diversifikasi produk yang dihasilkan dari lahan kehutanan. Produk hutan yang dihasilkan oleh lahan kehutanan tidak hanya produk konvensional hutan, yaitu kayu pinus dan getah pinus, tetapi ada produk lain yaitu pakan ternak. Hal ini memperlihatkan bahwa sistem silvopastoral merupakan salah satu bentuk dalam pengelolaan hutan bersama masyarakat yang baik, dimana salah satu karakterisk terpenuhi, yaitu memaksimalkan produk non kayu yang dapat digunakan untuk menjawab masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dalam hal ini adalah kebutuhan hijauan pakan. Konservasi tanah dan air Salah satu penyebab terjadinya banjir dan kekeringan adalah kesalahan dalam pengelolaan hutan, dimana banyak hutan dibuka digunakan untuk keperluan pertanian tanaman pangan dan sayuran tanpa didukung oleh pengelolaah yang baik. Hal ini yang menyebabkan turunnya fungis hidrologis hutan. Lahan langsung dibuka dan dibiarkan tanpa vegetasi yang lain, sehingga pada saat terjadi hujan air langsung hanya sedikit yang dapat diserap dan sebagian besar pergi menjadi air permukaan, selanjutnya tentunya menjadi banjir yang melanda daerah yang lebih rendah. Selain itu, bersama aliran air tersebut ikut terbawa topsoil tanah yang kaya akan hara dan bahan organik. Tanah-tanah cepat mengalami asam, karena banyak kation-kation tanah yang tercuci. Sebaliknya pada musim kemarau terjadi kekeringan dan kekurangan yang lebih cepat terjadi. Hal ini disebabkan rendahnya daya tangkap lahan pada saat hujan, sehinga air yang ditampung dalam jumlah yang lebih kecil. Keberadaan tanaman pohon dan semak, seperti dalam kombinasi silvopastoral, tidak diragukan lagi dapat memproteksi terhadap erosi dan melindungi lahanlahan peranian. Selain itu, tanaman tersebut dapat meningkatkan serapan air dan kemampuan retensi (kecepatan infiltrasi dan kapasitas lapang) tanah. Hasilnya akan lebih besar ketersediaan air bagi tanaman, periode pertumbuhan yang dapat

diperpanjang, total produki tanaman akan meningkat, dan tentunya tanah akan terlindungi oleh vegetasi sepanjang tahun. Keberadaan tanaman pakan di tegakan tanaman kehutanan dapat membantu mempertahankan nutrisi hara dibandingkan dengan tanpa tanaman pakan, dan selanjutnya akan meminimalkan kehilangan hara dari lahan kehutanan (Michel et al, 2003) Peningkatan pendapatan Sistem silvopastoral secara tidak langsung dapat membantu menggerakan roda ekonomi pedesaan. Keberadaan kebun rumput pada areal kehutanan, bagi peternak sapi perah dapat melakukan efisiensi dan efektivitas dalam pengadaan hijauan pakan. Biaya dan waktu yang diperlukan dalam pengadaan hijauan pakan besar, dan akan lebih meningkat lagi pada saat musim kemarau. Biaya yang untuk pengadaan hijauan pakan dapat ditekan waktu yang dicurahkan lebih sedikit, sehingga mereka dapat mencurahkan waktu lainnya dapat dicurahkan untuk melakukan usaha yang lain. Kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati Kehadiran peternak yang mengelola atau melakukan tumpangsari tanaman pakan di lahan kehutan berkewajiban membantu mengawasi dan menjaga tanaman kehutan dari percurian kayu. Perambahan hutan oleh masyarakat biasanya disebabkan oleh ketidaksejahteraan masyarakat yang tinggal di daerah sekitar hutan. Kehadiran usaha ternak sapi perah dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, sehingga perambahan hutan dapat diminimalkan . Selain itu, peternak yang menanam rumput memelihara tegakan tanaman hutan, seperti pengendalian gulma dan pemberian pupuk. Pengelolaan hutan yang baik adalah pengelolaan hutan yang mempertahankan peranan hutan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup serta melindungi sumber keanekaragam hayati. Keanekaragaman hayati lebih meningkat setelah dilakukan dalam bentuk sistem integrasi bahwa pada sistem silvopastoral lebih banyak keragaman tanaman dibandingkan dengan padang rumput yang terbuka.

Masalah yang Perlu Dipecahkan Pemanfaatan daerah kehutanan untuk penanaman rumput bukan tidak mempunyai permasalah, seperti umumnya permasalahan dalam pengembangan silvopastoral di daerah lain, permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan silvopastoral meliputi: terjadi persaingan antara tanaman kayu dengan tanaman pakan, persintensi tanaman pakan terhadap naungan, dan permasalahan kesuburan tanah. Keterbatasan utama dalam pengembangan sistem silvopastoral adalah kerusakan tanaman muda oleh pengembalaan ternak, persistensi tanaman pakan yang disebabkan oleh naungan, mempertahankan kesuburan tanah, dan invasi gulma. Kerusakaan tanaman muda oleh ternak dan invasi gulma tidak terjadi dalam pengembangan silvopastoral. Hal ini dikarenakan pada sistem silvopastoral tidak menerapkan sistem penggembalaan ternak secara langsung, tetapi menggunakan pengelolaan sistem potong dan angkut (cut and carry system), dan ternak tetap dikandangkan di masing-masing peternak. Pengendalian gulma dilakukan bersamaan pada saatpemanenan rumput, jenis jenis tumbuhan yang tidak dapat dikonsumsi oleh ternak dan berpotensi akan menggangu pertumbuhan tanaman pakan dibabat atau dicabut. Gulma yang sering hadir adalah kirinyuh (Chromolaena odorata), gulma ini apabila dibiarkan akan berpotensi mengurangi potensi produki hijauan. Bamualim et al. (1990) melaporkan bahwa C. odorata telah menginvasi padang penggembalaan alam dan sudah mengurangi potensi ketersediaan pakan di Nusa Tenggara. Pemotongan gulma ini secara rutin bersamaan dengan waktu panen akan membantu pengendaliannya dan gulma ini tidak tahan terhadap intensitas pemotongan. Persaingan antara tanaman kayu dengan tanaman pakan Penanaman dua atau lebih jenis tanaman sama atau berbeda pada suatu hamparan yang sama tentunya akan menghasilkan berbagai interaksi diantara jenis tanaman. Ada enam jenis interaksi, yaitu neutralisme, kompetisi, amensalisme, dominasi, komensalisme, dan protokooperasi. Interaksi yang berupa kompetisi

(persaingan) dan dominasi merupakan jenis interaksi yang tidak diharapkan dalam sistem pertanaman campuran. Pada sistem silvopastoral, persaingan sumberdaya (cahaya, air, hara, dan ruang hidup) akan terjadi antara tanaman pohon dengan tanaman pakan. Persiangan ini lebih disebut dengan persaingan interspesies (inter spesific competition), yaitu persaingan antar tanaman yang berbeda spesies (Moenandir, 1993) . Pengaruh naungan dapat diminimalisasi dengan cara mengelola tegakan hutan dan memilih spesies tanaman pakan yang tahan naungan. Menurut Nasrum (1983) rumput gajah masih dapat bertahan dengan tingkat naungan 50% dibawah tegakan hutan jati. Pengelolan tegakan untuk meningkatkan transmisi cahaya dapat dimodifikasi seperti mengatur kepadatan tanaman maupun dengan penjarangan. Jarak tegakan tanaman yang lebar akan membantu meningkatkan transmisi cahaya dan produki hijauan pakan, tetapi kadang kala pada kepadatan tegakan yangrendah, pohon biasanya cenderung mempunyai banyak percabangan yang mengurangi kualitas kayu yang dihasilkan. Persintensi tanaman pakan terhadap naungan Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih tanaman pakan yang akan dikembangkan dalam sistem silvopastoral, antara lain (i) apakah cocok untuk sistem penggembalaan atau sistem potong dan angkut, (ii) apakah cocok dengan kondisi lingkungan dan iklim setempat, (iii) apakah akan berproduki dengan baik pada kondisi ternaungi dan cekaman kelembaban, (iv) bagaimana responnya terhadap pengelolaan yang intensif, dan (v) bagaimana persistensi tanaman pakan dalam jangka waktu yang lama terhadap kondisi lingkungan tersebut (Nowak et al., 2003). Kehadiran cahaya matahari akan berpengaruh terhadap produki bahan kering melalui proses fotosintesisnya, dimana fotosintesis merupakan mekanisme penggunaan cahaya matahari yang dikonversi oleh tanaman dalam bentuk energi yang dapat digunakan dalam sistem biologis. Umumnya rerumputan meningkat produkinya sejalan dengan dilakukan penjarangan pada tanaman utama yang menaunginya. Produki bahan kering mempunyai hubunngan yang sangat dekat

dengan intensitas transmisi cahaya matahari. Tetapi walaupun begitu ada beberapa jenis tanaman pakan yang meningkat dengan meningkatnya tingkat naungan sampai tingkat intensitas cahaya matahari tertentu dan tingkat transimisi cahaya matahari 45% merupakan tingkat cahaya minumum yang potensial untuk memungkinkan tanaman pakan tetap tumbuh pada sistem silvopastoral (Ladyman et al., 2003) Kesuburan tanah Kesuburan tanah menjadi permasalahan yang nampaknya harus cukup mendapat perhatian karena akan mengganggu terhadap keberlanjutan silvopastoral ini. Hal ini disebabkan bahwa silvopastoral bukan merupakan suatu sistem dengan siklus yang tertutup. Pada saat pemanenan dengan sistem potong clang angkut terjadi pengangkutan nutrient tanah dalam bentuk hijauan pakan dan tidak ada usaha untuk mengembalikannya kembali lagi, baik berupa pemberian pupuk kimia maupun organik. Sikap sebagian peternak yang tidak melakukan pemupukan ini disebabkan oleh dua alasan mendasar, yaitu lahan hutan yang masih sangat subur dan jarak kandang yang relatif jauh dengan lokasi kebun rumput di hutan. Lahan yang subur sampai hari ini masih dapat mendukung pertumbuhan dan produki tanaman pakan sehingga peternak belum mersa perlu melakukan pemupukan, sedangkan lokasi kebun yang jauh berada di hutan manjadi kendala dalam pengangkutan kotoran ternak yang bulky. Padahal kotoran ternak sebagai pupuk organik belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan kotoran ternak tersebut menjadi sumber pencemaran. Kesadaran peternak untuk memberikan pemupukan hara perlu dibangun untuk mempertahankan kesuburan tanah.

DAFTAR PUSTAKA Bumualim, A, J Nuluc, dan Rc Gutterdge. 1990. Usaha perbaikan pakan ternak sapi di Nusa Tenggara, Jurnal Litbang Pertanian, 12 (2) : 38-44. Ladyman, K.P., M.S. Kerley, R.L. Kallenbach, H.E. Garrett, J .W. Van Sambeek, and N .E . Navarrete-Tindall. 2003 . Quality and quantity evaluations of shade grown forages . AFTA 2003 C.on Proceedings. 175 - 181. Michel, G.A., V.D. Nam, P. K. R. Nair and S. C. Allen. 2003. Silvopasture as an aproach torducing ntrient pllution from psturelands in Florida. In: AFTA 2005 Conference Proceedings. 1-5 . Moenandir, J. 1993. Persaingan tanaman budidaya dengan gulma: Ilmu GulmaBuku ketiga. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. 101 . Nair PKR. 1991. State-of-the-art of agroforestry system. J. Forest Ecology Manage. 45:5-29 Nowak, J., A. Blount and S Workman. 2002. Circular 1430, integrating timber, forage and livestock production-benefits of silvopasture . School of Forest R Resources and Conservation, Florida Cooperative Extension Service, University of Florida. Purba, A., S.P. Ginting, Z. Poeloengan, K. Simanihuruk dan Junjungan. 1997. Nilai nutrisi dan manfaat pelepah kelapa sawit sebagai pakan domba. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit 5 (3) : 161-177 . Sitompul, D. 2003. Desain pembangunan kebun dengan sistem usaha terpadu ternak sapi Bali . Prosiding Lokakarya Nasional : Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Bengkulu, 9-10 September 2003. P. 81-88. USDA. 2008. Silvopasture : Establishment & Management for Principles for Pine Forest in The Southeastern United States. National Agroforestry Centre. Vergara, 1982 New Directions in Agroforestry: The Potential of Tropical Legume Trees. A Working Group on Agroforestry Environment and Policy Institute. Hawai, USA. 36 p.) White, L. 2005. Silvopasture literature review. Agroforestry Unit Saskatchewan Foret Centre. Canada. 36 of

Widjaja, E., dan B.N. Utomo. 2001. Pemanfaatan limbah kelapa sawit solid sebagai pakan tambahan temak ruminansia di Kalimantan Tengah. Prosiding Seminar Nasional Petemakan dan Veteriner. Bogor, 17-18 September 2001. P. 262-268. Young. 1989. Agroforestry for Soil Conservation. ICRAF Science and Practise of Agroforestry. 276 p