Anda di halaman 1dari 43

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Pendahuluan Insiden terjadinya tumor illeum jarang terjadi, sebaliknya insiden

terjadinya tumor kolon atau rektum relatif umum. Pada kenyataannya, kanker kolon dan rektum saat ini adalah tipe yang paling umum kedua dari kanker internal di Amerika Serikat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal di diagnosis di Amerika Serikat setiap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibanding kan kanker rektal. Insidensnya meningkat sesuai dengan usia, kebanyakan pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun dan makin tinggi pada individu dengan riwayat keluarga mengalami kanker kolon, penyakit usus inflamasi kronis atau polip. Perubahan pada persentase distribusi telah terjadi pada tahun terakhir. Insidens kanker pada sigmoid dan area rektal telah menurun, sedangkan insidens pada kolon asendens dan desendens meningkat. Lebih dari 156.000 orang terdiagnosa setiap tahunnya, kira-kira setengah dari jumlah tersebut meninggal setiap tahunnya, meskipun sekitar tiga dari empat pasien dapat diselamatkan dengan diagnosis dini dan tindakan segera. Angka kelangsungan hidup di bawah lima tahun masih mencapai 40% sampai 50%, terutama karena terlambat dalam diagnosis dan adanya metastase ke jaringan bahkan organ lain. Kebanyakan pasien mengeluh asimtomatis dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan hanya bila mereka menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rektal. Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor resiko telah teridentifikasi, termasuk riwayat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak, rotein dan daging serta rendah serat 1.2. Rumusan Masalah a. Bagaimana pengertian, etiologi, klasifikasi dan stadium

adenocarcinoma recti? b. Bagaimana patofiologi dan terapi dari adenocarcinoma rekti?

1.3.

Tujuan a. Untuk mengetahu pengertian pengertian, etiologi, klasifikasi, dan stadium adenokarcinoma recti b. Untuk mengetahui patofisiologi dan terapi dari adenocarcinoma recti

BAB II LAPORAN KASUS

2.1

Identitas Pasien Nama pasien : Tn. A Usia : 51 Tahun

Jenis kelamin : Laki-laki Alamat Pekerjaan Nama Istri Usia istri : Ngaglik, Malang : Swasta : Ny. S : 48 tahun

Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga Suku Agama Alamat 2.2 Anamnesa 2.2.1 2.2.2 2.2.3 Keluhan Utama Keluhan Penyerta :BAB berdarah : Tidak dapat BAB : Jawa : Islam : Nganglek, Malang

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien menegluh tidak dapat BAB sejak satu bulan yang lalu, bisa BAB hanya bila diberikan obat pencahar dan suplemen serat tambahan, Feses yang dikeluarkan berwarna hitam dan bercampur darah. Darah terkadang beku terkadang disertai darah segar yang mengalir deras Ukuran feses kecil-kecil setelah BAB pasien merasa tidak tuntas atau merasa masih ada yang tersisa di dalam perutnya. Pasien juga merasa terdapat penurunan berat badan selama tiga bulan terakhir dan merasa nafsu makannya mulai menurun.

2.2.4

Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat Mondok : Pasien pernah MRS dan operasi usus buntu

dikarenakan di dalam usus buntunya terdapat tumor saat pasien masih berusia 15 tahun. b. Riwayat Asma : Disangkal

c. Riwayat Kejang Demam : Disangkal d. Riwayat Alergi Obat atau Makanan : Disangkal e. Riwayat Hipertensi : Disangkal f. Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal 2.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga a. Riwayat penyakit serupa b. Riwayat Asma c. Riwayat Kejang Demam : Disangkal : Disangkal : Disangkal

d. Riwayat Alergi Obat atau Makanan : Disangkal e. Riwayat Hipertensi stroke dan hipertensi f. Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal 2.2.6 Riwayat Kebiasaan Waktu luang diisi dengan berkumul bersama keluarga dan mengisi kegiatan di kampungnya karena Tn. A merupakan ketua pengurus Karang Taruna di desanya., 2.2.7 Riwayat Gizi Pasien makan sehari-hari biasanya 2-3 kali sehari dengan nasi, sayur dan lauk. Pasien tidak pernah suka sayur, tetapi setelah pasien mengalami kesusahan BAB pasien mulai mengkonsumsi sayur. Anamnesis Sistem 1. Kulit 2. Kepala : warna kuning, kulit gatal (-) : sakit kepala (-), pusing(-)rambut rontok(-), luka(-), benjolan di leher(-), demam(-) 3. Mata : pandangan mata berkunang-kunang (-), penglihatan kabur (-), ketajaman penglihatan berkurang (-), penglihatan ganda(-) 4. 5. Hidung Telinga : tersumbat (-/-), mimisan(-/-) : pendengaran berkurang (-), berdengung (-), cairan(-), nyeri(-) 6. Mulut : sariawan (-), mulut kering(-), lidah terasa pahit(-) : Ayah pasien meninggal karena

7. 8. 9. 10.

Tenggorokan Pernafasan Kardiovaskuler Gastrointestinal

: nyeri menelan (-), suara serak(-) : sesak nafas (-), batuk(-), mengi(-) : nyeri dada (-), berdebar-debar(-) : mual (-), muntah (-), diare(-), nafsu makan menurun(+), nyeri perut(-), BAB tidak lancer.

11. 12. 13. 14.

Genitourinaria Neurologik Psikiatrik Muskolokeletal

: BAK normal : lumpuh(-), kaki kesemutan(-), kejang (-) : emosi stabil (-), mudah marah(-) : kaku sendi (-), nyeri sendi pinggul (-), nyeri tangan dan kaki(-), nyeri otot(-)

15.

Ekstremitas atas

: bengkak(-), sakit(- ), telapak tangan pucat( -), kebiruan(-), luka(- )

16.

Ekstremitas bawah : bengkak (-), sakit(-), telapak kaki pucat(-), kebiruan(-), luka(-)

2.3 2.3.1 2.3.2 2.3.3

Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran/GCS Antopometri BB : kg PB : cm : Tampak baik : Compos mentis/ 456

2.3.4

Tanda Vital Tekanan Darah Nadi RR T0ax : 110/70 mmHg : 84 x/menit : 22 x/menit : 36 0C

2.3.3

Head to Toe

1. Kulit : Kuning, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-), petechie (-), eritem (-) 2. Kepala : bentuk mesocephal, massa (-) 3. Mata : conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor (-/-) 4. Hidung : nafas cuping hidung (-/-), rhinorrhea (-/-), epistaksis (-/-)

5. Mulut : mukosa bibir pucat (-/-), sianosis bibir (-/-), bibir kering (-/-)

6. Telinga

: otorrhea (-/-), pendengaran berkurang (-/-)

7. Tenggorokan : tonsil membesar (-/-), pharing hiperemis (-) 8. Leher : lesi kulit (-), pembesaran kelenjar tiroid (-), 9. Thorax : normochest, simetris, pernafasan abdominalthoracal, retraksi (-), massa (-), krepitasi (-), kelainan kulit (-), nyeri (-) Cor: Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tampak (+) : tidak ada data nyeri tekan dan massa : Batas kiri atas : ICS 2 PSL sinistra

Batas kanan atas : ICS 2 PSL dexstra Batas kiri bawah : ICS 4 PSL sinistra Batas kanan bawah : ICS5 MCL dexstra Auskultasi : S1 S2 norma regular, HR 112 x/menit. Suara tambahan (-) Pulmo Inspeksi : retraksi intercostae (-), massa (-) Palpasi : krepitasi (-), nyeri tekan (-) Perkusi : sonor diseluruh lapang paru Auskultasi : Vesikuler + + + + + Rhonki basah -

Abdomen Inspeksi : distended (+), membesar dibagian bawah, terdapat bekas jahitan di region kanan bawah Palpasi Perkusi : nyeri tekan abdomen (+), perut terasa penuh : timpani menurun : bising usus (+ menurun)

Auskultasi

10. Sistem Collumna Vertebralis : Inspeksi Palpasi : deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-) : nyeri tekan (-)

11. Ekstremitas : Akral hangat + + + + Oedem -

12. Pemeriksaan neurologik : Kesadaran Fungsi luhur Fungsi vegetatif Fungsi sensorik : compos mentis/ GCS 456 : tidak ada data : tidak ada data + + Fungsi motorik
Kekuatan Tonus Reflek Fisiologis

+ +

5 5

5 + 5 + + +

Ref.Fisiologis

+ +

+ +

Ref.Patologis

13. Pemeriksaan Rectal Toucher Konsistensi feses keras dan berwarna hitam disertai darah yang menempel pada feses. Terdapat benjolan di rectum dengan diameter kurang lebih 1 cm yang letaknya sepertiga distal dari lubang anus.

2.4 a. b. c. 2.5 2.5.1

Differential Diagnosa Carcinoma Recti Hemoroid Colitis ulceratif Pemeriksaan Penunjang Darah Lengkap
Hasil Unit Nilai Normal

Pemriksaan Hematologi Hb

g/dl

11,5-13,5

Hct Leukosit Trombosit Eritrosit POW MPV PCT Index MCV MCH MCHC Differential Basofil Eosinofil Limfosit Monosit Neutrofil Jumlah Total sel Limfosit Total basofil Total monosit Total eosinofil Total neutrofil

% Ribu/uL Ribu/uL Juta/uL Fl Fl %

34-40 50-14,5 150-440 3,96-5,32 9-13 7,2-11,1

Fl Pg %

75-97 24-30 31-37

% % % % %

0-1 1-6 30-45 2-8 50-70

Ribu/uL Ribu/uL Ribu/uL Ribu/uL Ribu/uL

2.5.2

Carcinoembryogenic Antigen (CEA) Didapatkan hasil : 2,66 ( )

2.5.3

USG Abdomen & Pelvis

2.5.4

Kolonoskopi

2.5.5

Foto Rongent PA

2.5.6

Biopsi

2.6 2.61

Resume Anamnesa Pasien menegluh tidak dapat BAB sejak satu bulan yang lalu, bisa BAB

hanya bila diberikan obat pencahar dan suplemen serat tambahan, Feses yang dikeluarkan berwarna hitam dan bercampur darah. Darah terkadang beku terkadang disertai darah segar yang mengalir deras Ukuran feses kecil-kecil setelah BAB pasien merasa tidak tuntas atau merasa masih ada yang tersisa di dalam perutnya. Pasien juga merasa terdapat penurunan berat badan selama tiga bulan terakhir dan merasa nafsu makannya mulai menurun. Saat berumur 15 tahun pasien pernah masuk rumah sakit dan operasi usus buntu dikarenakan di dalam usus buntunya terdapat tumor. Pasien mengeluh tidak ada mual dan muntah 2.6.2 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik berupa inspeksi didapatkan abdomen yang distended, serta terdapat bekas jahitan di region kanan bawah. Untuk aukultasi didapatkan bising usus yang menurun. Untuk palpasi abdomen terdapat nyeri saat di tekan di seluruh lapang abdomen khususnya bagian bawah. Saat diraba abdomen terasa penuh dengan feses. Pada perkusi terdengar suara timpani yang menurun di seluruh lapang abdomen. Pada pemeriksaan rectal toucher didapatkan feses yang ukurannya mengecil berwarna kehitaman disertai darah, selain itu juga ditemukan benjolan dengan ukuran kurang lebih 1 cm di sepertiga distal. 2.6.3 Pemeriksaan Penunjang

2.7 2.7.1

Diagnosa Holistik Diagnosa Klinis Adenocarcinoma colorecti stage IV

2.7.2

Diagnosa Psikologis Pasien merasa hidupnya saat ini sangat tergantung dengan keluarganya dan

akan banyak merepotkan keluarga karena pasien tidak bisa mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

2.7.3

Diagnosa Sosial Pasien tidak dapat melakukan aktivitas sosialnya dengan baik, karena

pasien saat ini harus banyak istirahat dan akan lebih banyak berbaring ditempat tidur. 2.7.4 Diagnosa Fungsional Derajat fungsional scorenya 4 karena pasien harus rawat inap di rumah sakit, berbaring dan banyak istirahat sehingga pasien tidak dapat melakukan aktifitas sehari-hari. 2.8 2.8.1 Terapi Medikamentosa

2.8.2

Non Medikamentosa

2.9 Tgl 7 Okt 2013

Follow Up S Susah BAB sejak satu bulan yang lalu Hanya bisa BAB jika diberi obat pencahar dan suplemen serat tambahan Feses yang dikeluarkan berwarna hitam dan bercampur darah. Darah terkadang beku terkadang disertai darah segar yang mengalir deras Ukuran feses kecil-kecil Setelah BAB pasien merasa tidak tuntas atau merasa masih ada yang tersisa di dalam perutnya. Pasien juga merasa terdapat penurunan berat badan selama tiga bulan terakhir dan merasa nafsu makannya mulai menurun. O KU: Tampak baik Kesadaran: compos mentis GCS : 456 TD : 110/70 mmHg Nadi:84x/mnt RR : 22 x/mnt Toax: 36oC Abdomen: inspeksi : abdomen yang distended, serta terdapat bekas jahitan di region kanan bawah. auskultasi : BU (+, menurun) palpasi: nyeri tekan (+) di seluruh lapang abdomen khususnya bagian bawah, terasa penuh dengan feses. Perkusi : suara timpani yang menurun di seluruh lapang abdomen. Rectal toucher : didapatkan feses yang ukurannya mengecil berwarna kehitaman disertai darah, selain itu juga ditemukan benjolan dengan ukuran kurang lebih 1 cm di sepertiga distal A DDx: Carcinoma Rekti Hemorroid Colitis Ulceratif P P.Penunjang: Darah lengkap, Foto rotngen Thorax AP, CEA, USG Abdomen & Pelvis Terapi: Infus RL 30 tts/mnt Nutricam 6x250 cc/hari Niflec + Air = 2 ml/ hari Edukasi: Banyak makan sayur dan buah yang mengandung banyak serat.

8 Okt 2013

Batuk mulai Sudah bisa BAB BAB cair Tidak ada darah Nafsu makan meningkat

KU: Tampak baik Kesadaran: compos mentis GCS : 456 TD : 120/70 mmHg Nadi:80x/mnt RR : 22x/mnt Toax: 36oC Abdomen: inspeksi : abdomen yang distended, serta terdapat bekas jahitan di region kanan bawah. auskultasi :BU (+, menurun) palpasi: nyeri tekan (+) di seluruh lapang abdomen khususnya bagian bawah, terasa penuh dengan feses. Perkusi : suara timpani yang menurun di seluruh lapang abdomen. Rectal toucher : didapatkan feses yang ukurannya mengecil berwarna kehitaman disertai darah, selain itu juga ditemukan benjolan dengan ukuran kurang lebih 1 cm di sepertiga distal

Dx OreP.Penunjang: Operatif: DL: Normal Adenocarcin Foto rotngen oma recti Thorax AP: Normal CEA : 2.24 USG Abdomen&Pelvis : Planing penunjang Kolonoskopi Biopsi jaringan Terapi: Infus RL 30 tts/mnt Nutricam 6x250 cc/hari Niflec + Air = 2 ml/ hari Persiapan untuk laparatomi Edukasi: Banyak makan sayur dan buah yang mengandung banyak serat

9 Okt 2013

BAB III KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

3.1 3.1.1

Profil Keluarga Karakteristik Demografi Keluarga Nama Pasien Alamat Bentuk Keluarga Siklus keluarga : Tn. A : Ngaglik, Malang : Nuclear Family : orang tua dengan anak

Struktur Komposisi Keluarga Tabel 1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah Pasien No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Keterangan RS Kepala Keluarga Ibu Anak Adenocarcinoma L 51 SMP Swasta Ya colorekti stage IV P L 48 18 SMP SMA IRT Anak ke 2 Tidak Tidak -

1.

Tn. A

2. 4.

Ny. S An. L

Kesimpulan : Keluarga Tn. A termasuk dalam Nuclear Family yang terdiri dari 4 orang, anak pertama sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sementara anak kedua mereka masih tinggal bersama dalam satu rumah yang beralamtkan di desa ngaglik Malang. Tn. A bekerja sebagai wiraswasta sedangkan Ny. S adalah ibu rumah tangga.

3.1.2

Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup

Lingkungan Tempat Tinggal Tabel 2. Lingkungan Tempat Tinggal

Status kepemilikan rumah : menumpang/kontrak/hibah/milik sendiri Daerah perumahan : kumuh/padat bersih/berjauhan/mewah Kesimpulan
Pasien tinggal di rumah milik sendiri yang memenuhi standar rumah sehat dengan jumlah penghuni lima orang yang merupakan nuclear family

Karakteristik Rumah dan Lingkungan Luas rumah : 18 m2, Luas halaman rumah : 3 m2 Jumlah penghuni dalam satu rumah : 3 orang Jarak antar rumah : - m Rumah 2 lantai, lantai bawah hanya ruang tamu dan dapur sedangkan lantai 2 terdapat 2 buah kamar Lantai rumah dari : keramik Dinding rumah dari : tembok batu bata Jamban keluarga : mandiri Tempat bermain : halaman rumah Penerangan listrik : 900 watt, Pencahayaan cukup baik ( 6 buah jendela yang di atasnya diberi ventilasi), jumlah pintu sebanyak 2 buah (pintu depan, pintu atas) Ketersediaan air bersih : Sumur bor Kondisi rumah : meskipun rumah tampak kecil tetapi bersih. Ventilasi berupa jendela kaca dan ventilasi kayu yang berada di atas jendela.. Halaman depan rumah cukup luas dan diberi banyak bunga yang dirawat baik oleh Ny. S. Tempat pembuangan sampah : di depan rumah kemudian diambil oleh petugas kebersihan setiap pagi.

3.1.3

Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga Jenis tempat berobat cukup jauh jaraknya Asuransi/jaminan kesehatan : Jamsostek : Praktek dokter pribadi dan RS Swasta yang

3.1.4

Sarana Pelayanan Kesehatan Tabel 3. Pelayanan kesehatan Faktor Keterangan Kesimpulan

Cara mencapai pusat pelayanan kesehatan

Jalan kaki Angkot Kendaraan pribadi

Jarak cukup jauh, tetapi pasien juga merasa puas dengan pelayanan RS Pasien merasa senang berobat di rumah sakit swasta karena pelayanannya yang bagus Sangat Memuaskan Memuaskan Cukup Memuaskan Tidak memuaskan

Tarif pelayanan kesehatan

Sangat mahal Mahal Terjangkau Murah Gratis

Kualitas pelayanan kesehatan

3.1.5

Pola Konsumsi Makanan Keluarga (Food Recall) Kebiasaan Makan

Keluarga pasien makan sehari-hari biasanya 3 kali dengan nasi sepiring, sayur, dan lauk yang bervariasi setiap harinya. Pasien tidak suka makan sayur dan jarang sekali makan buah. Tabel 4. Food Recall Nasi Putih Tempe goreng Tahu goreng air putih Nasi putih Ayam goreng Air putih Nasi putih Rawon Air putih

Makan Pagi

Makan Siang

Makan Malam

Penerapan pola gizi seimbang Tn. A mengaku dari dulu tidak suka mengkonsumsi sayur tetapi

setelah terjadi gangguan BAB beberapa bulan yang lalu Tn. A mulai sering mengkonsumsi sayur dan buah-buahan secara rutin. 3.1.6 Pola Dukungan Keluarga Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga

Keluarga Tn. N cukup harmonis dan saling mendukung. Setiap masalah yang timbul biasanya didiskusikan dan diselesaikan bersamasama dengan istri dan anaknya. Anaknya yang saat ini tinggal dengan suaminya sering sekali datang ke rumah Tn. A untuk menjenguk Tn. A dan Ny. S. Faktor penghambat terselesaikannya masalah dalam keluarga Menurut penulis untuk saat ini tidak ada penghambat menyelesaikan masalah dalam keluarga. 3.2 3.2.1 Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga Fungsi Holistik Fungsi Biologis Tn. A terserang adenocarcinoma colorekti stadium IV Fungsi Psikologis Pasien merasa hidupnya saat ini sangat tergantung dengan keluarganya dan akan banyak merepotkan keluarga karena pasien tidak bisa mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Fungsi Sosial Pasien sering bermain dengan anak-anak tetangga dan saudaranya yang tinggal di sebelah rumahnya. 3.2.2 Fungsi Fisiologis Adaptation Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut Growth Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut Affection dalam

Menggambarkan hubungan ksih saying dan interaksi antar anggota keluarga Resolve Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. Nama Umur : Tn. A : 48 thn

Kedudukan di keluarga : Kepala Rumah Tangga KETERANGAN Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga say menerima dan mendukung keinginan saya melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Jumlah skor : 10 Nama Umur : Ny. S : 38 Thn A Sering/selalu Kadangkadang Jarang/ tidak

Kedudukan di keluarga : Istri dan Ibu KETERANGAN A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya Sering/selalu Kadangkadang Jarang /tidak

membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga say menerima dan mendukung keinginan saya melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Jumlah skor : 10 Nama Umur : AN. L : 18 Thn

Kedudukan di keluarga : Anak ke II KETERANGAN Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya G Saya puas dengan cara keluarga say menerima dan mendukung keinginan saya melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru A Saya puas dengan cara keluarga saya mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama Jumlah skor : 10 APGAR skor keluarga Ny. I : (10+10+10)/3 = 10 Kesimpulannya, fungsi fisiologis keluarga Ny. I Baik A Sering/selalu Kadangkadang Jarang /tidak

5.2.3

Fungsi Patologis

Fungsi patologis dari keluarga TN. A dinilai dengan menggunakan alat berupa kuisioner S.C.R.E.E.M sebagai berikut: SUMBER Social PATOLOGIS Tn. A merupakan ketua pengurus karang taruna di desanya dan selalu aktif setiap melakukan kegiatan atau acara yang diselenggarakan di desanya Sehari-hari mereka menggunakan bahasa jawa meskipun bahasa jawa yang digunakan bahasa jawa kasar. Pemahaman keluarga ini terhadap agama cukup bagus semua keluarga menggunakan kerudung dan dapat membaca Al-Quran dengan baik. Tingkat ekonomi keluarga ini termasuk menengah ke bawah. Mereka menggunakan jamsostek untuk menanggung biaya RS dan sisanya merupakan hasil patungan dari seluruh anggota keluarga besar Tn. A Tn. A dan Ny. S memiliki pendidikan sedikit rendah yaitu keduanya merupakan lulusan dari SMP Kesadaran keluarga ini terhadap kesehatan cukup rendah. Tn.A jarang sekali ke RS karena Tn. A takut dengan jarum suntik. Mereka hanya meminum jamu jika mereka sakit. KET -

Culture

Religious

Economic

Educational

Medical

Kesimpulan : Keluarga Tn. A memiliki fungsi fisiologis berupa economic, educational dan medical. 5.2.4 Pola Interaksi Keluarga

Tn. A Keterangan An. L Ny. S = Hubungan baik

Kesimpulan : Hubungan antara anggota keluarga di kelurga Tn. A baik dan sangat harmonis serta saling mendukung. 5.2.5 Genogram

3.3

Identifikasi Lingkungan Rumah

a.

Identifikasi Faktor Perilaku Keluarga Keluarga An. A cukup peduli dengan kesehatan karena mereka biasa

menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan sesuatu hal ini terlihat dari adanya wastafel yang ada di ruang tengah di rumahnya. Selain itu mereka juga selalu ke dokter jika mengalami sakit. Ny. S merupakan pensiunan PNS yang sebelumnya bekerja di universitas pendidikan kedokteran dan mengaku sangat menjaga kesehatan keluarganya. Dari keterangan tersebut maka penulis mengambil kesimpulan bahwa anggota keluarha An. A memiliki pengetahuan kesehatan yang cukup baik. a. Identifikasi Faktor Non-Perilaku Rumah yang dihuni oleh keluarga An. A masuk dalam kategori yang memenuhi standar kesehatan, luas bangunan cukup lebar dengan halaman yang luas, luas rumahnya 9x10 m, pencahayaan dan ventilasi rumah yang baik hanya saja jarak rumah dengan jalan raya cukup dekat dan tidak terdapat pohon atau tanaman sebagai penyaring udara. Untuk kebutuhan air sehari-hari diperoleh dari sumur galian sedalam 15 m jarak antara sumur dengan septic-tank lebih dari 10 m karena septic-tank letaknya berada di belakang rumah. Untuk pembuangan sampah dilakukan oleh petugas kebersihan setiap harinya.

Faktor Perilaku

Faktor Non-Perilaku

Pemaham Keluarga paham dengan kesehatan an Peduli dengan kesehatan An. A Membeli obat dan pergi ke dokter An. A dan Keluarga

Lingkungan rumah baik & memenuhi standar

Lingkun gan Gen

Sikap

Bukan merupakan penyakit keturunan Jarak dengan PelYanKes cukup dekat

Tindakan

YanKes

6.2 a.

Identifikasi Lingkungan Rumah Lingkungan Luar Rumah Keluarga An. A terdiri dari lima orang yang tinggal dalam satu rumah

berukuran 9x10 m. jarak antar rumah satu dengan yang lainnya cukup berdekatan. Rumah memiliki halaman yang cukup luas dengan pagar pembatas. Jarak rumah dengan jalan raya sangat dekat dan tidak terdapat tanaman disekitarnya. Saluran pembuangan air hujan dan limbah rumah tangga menjadi satu kemudian tersalur ke got depan rumah. Pembuangan sampah dirumah dilakukan dengan cara dikumpulkan di tong sampah kemudian setiap pagi akan diambil oleh petugas kebersihan sekitar. Halaman belakang rumah tampak kotor karena keluarga ini memelihara unggas berupa ayam dan entok. b. Lingkungan Dalam Rumah

Dinding rumah sudah terbuat dari batu bata, lantai rumah menggunakan keramik. Rumah ini terdiri dari 6 ruangan yaitu 1 kamar tidur utama, 1 kamar tidur anak, 1 kamar mandi, 1 ruang tamu, 1 ruang makan, 1 ruang keluarga, 1 garasi mobil dan 1 dapur dan 1 kamar mandi. Ruang tamu dan ruang keluarga menjadi satu tetapi dibatasi oleh lemari hias. Rumah ini memiliki 3 pintu untuk keluar masuk, satu di bagian depan dan belakang menuju halaman belakang lainnya di pintu garasi mobil. serta dilengkapi beberapa jendela. Keluarga ini sudah mempunyai fasilitas MCK keluarga dan fasilitas air bersih dari sumur galian sedalam 15 m. Ventilasi dan pencahayaan yang cukup baik. Halaman yang cukup luas. Denah Rumah An. A

9m

Halaman

Ruang Tamu

Ruang Keluarga

Kamar Utama

10 m Kamar Anak musholah

Dapur

Tangga

Garasi

Kamar Mandi

Keterangan : Indoor - Luas rumah 90 m2. - Lantai sudah menggunakan keramik. - Pencahayaan, sirkulasi udara, dan ventilasi cukup baik. Outdoor - Halaman rumah cukup luas tetapi jaraknya dengan jalan raya sangat dekat dan tidak terdapat tanaman atau pohon sebagai penyaring udara. - Sumber air bersih dari sumur galian. - Saluran pembuangan air dan limbah rumah tangga langsung menuju selokan.

- Saluran jamban menuju septic tank. 7.4 Matrikulasi Masalah Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks. No . Daftar Masalah P Kondisi rumah yang sangat dekat dengan 5 I S 5 SB 4 2 T Mn 2 R Mo Ma 3 3 Jumlah IxTxR 3.600

1.

jalan raya dan halaman belakang yang kotor akibat unggas 2. Tidak ada tanaman atau pohon yang berfungsi sebagai penyaring 5 5 3 2 2 3 3 2.700 memelihara

udara dari jalan raya Keterangan : I P S SB T R Mn Mo Ma : Importancy (pentingnya masalah) : Prevalence (besarnya masalah) : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah) : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah) : Technology (teknologi yang tersedia) : Resources (sumber daya yang tersedia) : Man (tenaga yang tersedia) : Money (sarana yang tersedia) : Material (pentingnya masalah)

Kriteria penilaian : 1 2 3 4 5 : tidak penting : agak penting : cukup penting : penting : sangat penting

Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga An. A adalah sebagai berikut : 1. Keluarga An. A kurang mengetahui pentingnya jarak rumah dengan jalan raya, karena hal ini dapat mempengaruhi lingkungan dan udara yang masuk ke dalam rumah. Selain itu keluarga An. A juga kurang mengerti kondisi kondisi halaman belakang yang kotor akibat memelihara unggas. 2. Keluarga An. A kurang mengetahui pentingnya adanya pohon atau tanaman sebagai filter atau penyaring udara yang berasal dari kendaraan bermotor. Kesimpulan : Kurangnya perhatian mengenai lingkungan rumahnya.

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

4.1

Anatomi Rectum

Gambar 1. Anatomi Rectum Secara anatomi rektum terbentang dari vertebre sakrum ke-3 sampai garis anorektal. Secara fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian ampula dan sfingter. Bagian sfingter disebut juga annulus hemoroidalis, dikelilingi oleh muskulus levator ani dan fasia coli dari fasia supra-ani. Bagian ampula terbentang dari sakrum ke-3 ke difragma pelvis pada insersi muskulus levator ani. Panjang rrektum berkisa 10-15 cm, dengan keliling 15 cm pada rectosigmoid junction dan 35 cm pada bagian ampula yang terluas. Pada orang dewasa dinding rektum mempunyai 4 lapisan : mukosa, submukosa, muskularis (sirkuler dan longitudinal), dan lapisan serosa. Perdarahan arteri daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis superior, media, dan inferior. Arteri hemoroidalis superior yang merupakan kelanjutan dari a. mesenterika inferior, arteri ini bercabang 2 kiri dan kanan. Arteri hemoroidalis merupakan cabang a. iliaka interna, arteri hemoroidalis inferior cabang dari a. pudenda interna. Vena hemoroidalis superior berasal dari plexus hemoroidalis internus dan berjalan ke arah kranial ke dalam v. mesenterika

inferior dan seterusnya melalui v. lienalis menuju v. porta. Vena ini tidak berkatup sehingga tekanan alam rongga perut menentukan tekanan di dalamnya. Karsinoma rektum dapat menyebar sebagai embolus vena ke dalam hati. Vena hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke v. pudenda interna, v. iliaka interna dan sistem vena kava. Pembuluh limfe daerah anorektum membentuk pleksus halus yang mengalirkan isinya menuju kelenjar limfe inguinal yang selanjutnya mengalir ke kelenjar limfe iliaka. Infeksi dan tumor ganas pada daerah anorektal dapat mengakibatkan limfadenopati inguinal. Pembuluh rekrum di atas garis anorektum berjalan seiring dengan v. hemoroidalis seuperior dan melanjut ke kelenjar limfe mesenterika inferior dan aorta. 4.2 Fisiologi Rectum Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Seorang yang mempunyai kebiasaan teratur akan merasa kebutuhan membung air besar kira-kira pada waktu yang sama setiap hari. Hal ini disebabkan oleh refleks gastro-kolika yang biasanya bekerja sesudah makan pagi. Setelah makanan ini mencapai lambung dan setelah pencernaan dimulai maka peristaltik di dalam usus terangsang, merambat ke kolon, dan sisa makanan dari hari kemarinnya, yang waktu malam mencapai sekum mulai bergerak. Isi kolon pelvis masuk ke dalam rektum, serentak peristaltik keras terjadi di dalam kolon dan terjadi perasaan di daerah perineum. Tekanan intra-abdominal bertambah dengan penutupan glottis dan kontraksi diafragma dan otot abdominal, sfinkter anus mengendor dan kerjanya berakhir. Jenis gelombang peristaltik yang terlihat dalam usus halus jarang timbul pada sebagian kolon, sebaliknya hampir semua dorongan ditimbulkan oleh pergerakan lambat kearah anus oleh kontraksi haustrae dan gerakan massa. Dorongan di dalam sekum dan kolon asenden dihasilkan oleh kontraksi haustrae yang lambat tetapi berlangsung persisten yang membutuhkan waktu 8 sampai 15 jam untuk menggerakkan kimus hanya dari katup ileosekal ke kolon transversum, sementara kimusnya sendiri menjadi berkualitas feses dan menjadi lumpur setengah padat bukan setengah cair.

Pergerakan massa adalah jenis pristaltik yang termodifikasi yang ditandai timbulnya sebuah cincin konstriksi pada titik yang teregang di kolon transversum, kemudian dengan cepat kolon distal sepanjang 20 cm atau lebih hingga ke tempat konstriksi tadi akan kehilangan haustrasinya dan berkontraksi sebagai satu unit, mendorong materi feses dalam segmen itu untuk menuruni kolon. Kontraksi secara progresif menimbulkan tekanan yang lebih besar selama kira-kira 30 detik, kemudian terjadi relaksasi selama 2 sampai 3 menit berikutnya sebelum terjadi pergerakan massa yang lain dan berjalan lebih jauh sepanjang kolon. Seluruh rangkaian pergerakan massa biasanya menetap hanya selama 10 sampai 30 menit, dan mungkin timbul kembali setengah hari lagi atau bahkan satu hari berikutnya. Bila pergerakan sudah mendorong massa feses ke dalam rektum, akan timbul keinginan untuk defekasi. Sebagian besar waktu, rectum tidak berisi feses, hal ini karena adanya sfingter yang lemah 20 cm dari anus pada perbatasan antara kolon sigmoid dan rectum serta sudut tajam yang menambah resistensi pengisian rectum. Bila terjadi pergerakan massa ke rectum, kontraksi rectum dan relaksasi sfingter anus akan timbul keinginan defekasi. Pendorongan massa yang terus menerus akan dicegah oleh konstriksi tonik dari 1) sfingter ani interni; 2) sfingter ani eksternus. Keinginan berdefekasi muncul pertama kali saat tekanan rectum mencapai 18 mmHg dan apabila mencapai 55 mmHg, maka sfingter ani internus dan eksternus melemas dan isi feses terdorong keluar. Satu dari refleks defekasi adalah refleks intrinsic (diperantarai sistem saraf enteric dalam dinding rectum. Ketika feses masuk rectum, distensi dinding rectum menimbulkan sinyal aferen menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menimbulkan gelombang peristaltic dalam kolon descendens, sigmoid, rectum, mendorong feses ke arah anus. Ketika gelombang peristaltic mendekati anus, sfingter ani interni direlaksasi oleh sinyal penghambat dari pleksus mienterikus dan sfingter ani eksterni dalam keadaan sadar berelaksasi secara volunter sehingga terjadi defekasi. Jadi sfingter melemas sewaktu rectum teregang

Sebelum tekanan yang melemaskan sfingter ani eksternus tercapai, defekasi volunter dapat dicapai dengan secara volunter melemaskan sfingter eksternus dan mengontraksikan otot-otot abdomen (mengejan). Dengan demikian defekasi merupakan suatu reflex spinal yang dengan sadar dapat dihambat dengan menjaga agar sfingter eksternus tetap berkontraksi atau melemaskan sfingter dan megontraksikan otot abdomen. Sebenarnya stimulus dari pleksus mienterikus masih lemah sebagai relfeks defekasi, sehingga diperlukan refleks lain, yaitu refleks defekasi parasimpatis (segmen sacral medulla spinalis). Bila ujung saraf dalam rectum terangsang, sinyal akan dihantarkan ke medulla spinalis, kemudian secara refleks kembali ke kolon descendens, sigmoid, rectum, dan anus melalui serabut parasimpatis n. pelvikus. Sinyal parasimpatis ini sangat memperkuat gelombang peristaltic dan merelaksasi sfingter ani internus. Sehingga mengubah refleks defekasi intrinsic menjadi proses defekasi yang kuat Sinyal defekasi masuk ke medula spinalis menimbulkan efek lain, seperti mengambil napas dalam, penutupan glottis, kontraksi otot dinding abdomen mendorong isi feses dari kolon turun ke bawah dan saat bersamaan dasar pelvis mengalami relaksasi dan menarik keluar cincin anus mengeluarkan feses. Refleks dalam Proses Defekasi dibagi menjadi dua, antara lain: a. Refleks Defekasi Intrinsik Berawal dari feses yang masuk rektum sehingga terjadi distensi rektum, yang kemudian menyebabkan rangsangan pada fleksus mesenterika dan terjadilah gerakan perilstaltik. Feses tiba di anus, secara sistematis spingter interna relaksasi maka terjadilah defekasi b. Refleks Defekasi Parasimpatis Feses yang masuk ke rektum akan merangsang saraf rektum yang kemudian diteruskan ke spinal cord. Dari spinal cord kemudian dikembalikan ke kolon desenden, sigmoid dan rektum yang menyebabkan intensifnya peristaltik, relaksasi spinter internal, maka terjadilah defekasi.

4.3

Definisi Carcinoma Rectum Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu

pada tubuh, dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas (FKUI, 2008 : 268). Cancer adalah istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan malignan dalam setiap bagian tubuh. Pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan manusia yang menjadi hospesnya.

Karakteristiknya adalah kecenderungan untuk menghancurkan jaringan setempat, menginvasi jaringan disekitarnya dan menyebar lewat metastase. Kanker timbul karena gangguan regulasi selular yang normal. Kerapkali penyakit kanker kambuh kembali setelah dilakukan operasi pengangkatan. Karsinoma mengacu kepada tumor malignan jaringan epitel, sarkoma hingga tumor malignan jaringan ikat. (Sue Hinchliff, 1999:68) Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa

abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker, 2001 : 72). Karsinoma Recti merupakan salah satu dari keganasan pada kolon dan rektum yang khusus menyerang bagian Recti yang terjadi akibat gangguan proliferasi sel epitel yang tidak terkendali. 4.4 Etiologi Pada dasarnya penyebab timbulnya carsinoma recti sampai sekarang belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang menjadi pendukung timbulnya kanker recti, seperti: polipotus, familial, defisiensi imonologik, kolitis, Ulserasi, granulomatis kolitis. Insiden keganasan ini diberbagai daerah berbeda dan ternyata ada hubungannya dengan faktor lingkungan terutama kebiasaan makan (diit). Masyarakat yang diitnya rendah selulosa tinggi protein hewani dan lemak mempunyai insiden yang tinggi terjadinya kanker recti, sebaliknya masyarakat yang diitnya banyak mengandung serat, insiden terjadinya carsinoma recti rendah. Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, tetapi faktor risiko telah teridentifikasi termasuk riwayat kanker kolon atau polip pada keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak protein dan daging serta rendah serat.

Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.

Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar

Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.

Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar, khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.

Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker colorectal.

Usia di atas 50: Kanker colorectal biasa terjadi pada mereka yang berusia lebih tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas.

4.5

Manifestasi Klinis Adapun tanda yang mungkin dialami pada pasien dengan carsinoma recti,

kembung, feses yang kecil atau bentuk pita, adanya mukus dan darah yang segar pada fases. Gejala tergantung dari lokalisasi, jenis keganasan penyebaran dan komplikasi yang terjadi. Jenis pertumbuhan adenocarsinoma rektum sangat lembat, diperkirakan untuk mencapai dua kali lipat membutuhkan waktu 620 hari dan biasanya bersifat asimlomatik. Kanker yang terletak pada rektum dapat menimbulkan tenesmus dan keinginan defakasi yang terus menerus. Metastase besarnya kelenjar regional dahulu yang sulit diraba dari luar. Metastase kehati menimbulkan pembesaran hati yang berbenjol-benjol, nyeri

tekan dan juga bisa terjadi ikterus. Metastase ke paru-paru dapat menimbulkan batuk, akan tetapi hal ini jarang terjadi. 4.6 Patofisiologi Proses keganasan mulai dari dalam sel-sel yang melapisi dinding usus. Tumor terjadi pada daerah yang berbeda-beda di dinding usus besar dalam proposi perkiraan berikut 16% pada kolon asenden, 8% pada kolon transversal, 20% 30% pada kolon desenden dan sigmoid, serta 40% 50% pada rektum. Hampir semua kanker rektum berkembang dari polip ademotosa. Kanker biasanya tumbuh tidak terdeteksi hingga gejala-gejala secara perlahan-lahan dan sifatnya berbahaya terjadi. Secara lokal kanker rektum biasanya menyebar lebih kedalam lapisan-lapisan dinding perut, yang dimulai dari orang-orang lain yang berdekatan. Kanker ini membesar atau menyebar melalui sistim sirkulasi yang masuk dari pembuluh-pembuluh darah. Tempat-tempat metastase yang lain adalah termasuk kelenjar-kelenjar adrenal, ginjal, kulit, tulang dan otot. Disamping penyebaran secara langsung melalui sistim sirkulasi dan lymphatik, kanker rektum juga menyebar melalui peredaran peritoneal. Penyebaran terjadi ketika kanker diangkat dan sel-sel kanker berpisah dari kanker dan menuju lubang peritonial. 4.7 Stadium Stadium penyait pada kanker rektal hampir mirip dengan stadium pada kanker kolon. Awalnya, terdapat Duke's classification system, yang menempatkan klanker dalam 3 kategori stadium A, B dan C. sistem ini kemudian dimodofikasi oleh Astler-Coller menjadi 4 stadium (Stadium D), lalu dimodifikasi lagi tahun 1978 oleh Gunderson & Sosin. Pada perkembangan selanjutnya, The American Joint Committee on Cancer (AJCC) memperkenalkan TNM staging system, yang menempatkan kanker menjadi satu dalam 4 stadium (Stadium I-IV). 1. Stadium 0 Pada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam rektum.yaitu pada mukosa saja. Disebut juga carcinoma in situ. 2. Stadium I

Pada stadium I, kanker telah menyebar menembus mukosa sampai lapisan muskularis dan melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi tidak menyebar kebagian terluar dinding rektum ataupun keluar dari rektum. Disebut juga Dukes A rectal cancer. 3. Stadium II Pada stadium II, kanker telah menyebar keluar rektum kejaringan terdekat namun tidak menyebar ke limfonodi. Disebut juga Dukes B rectal cancer. 4. Stadium III Pada stadium III, kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi tedak menyebar kebagian tubuh lainnya. Disebut juga Dukes C rectal cancer. 5. Stadium IV Pada stadium IV, kanker telah menyebar kebagian lain tubuh seperti hati, paru, atau ovarium. Disebut jugaDukes D rectal cancer

Gambar 7. Stadium Ca Recti I-IV Tabel 1. Stadium Carcinoma Rectal Berdasarkah Hasil Gambaran CT-Scan

Stadium T1 T2

Deskripsi Intraluminal polypoid mass; no thickening of bowel wall Thickened rectal wall >6 mm; no perirectal extension Thickened rectal wall plus invasion of adjacent muscle or

T3a

organs Thickened rectal wall plus invasion of pelvic side wall or

T3b

abdominal wall T4 Distant metastases, usually liver or adrenal Tabel 2. TNM/Modified Dukes Classification System

TNM Stadium

Modified Dukes Stadium A B1 B2 C1 C2 C2 D Limited to submucosa Limited to muscularis propria Transmural extension T2, enlarged mesenteric nodes T3, enlarged mesenteric nodes Invasion of adjacent organs Distant metastases present Deskripsi

T1 N0 M0 T2 N0 M0 T3 N0 M0 T2 N1 M0 T3 N1 M0 T4 Any T, M1

4.8

Pemeriksaan Penunjang Ada beberapa tes pada daerah rektum dan kolon untuk mendeteksi kanker

rektal, diantaranya ialah 1) Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan CEA (Carcinoma Embrionik Antigen) dan Uji faecal occult blood test (FOBT) untuk melihat perdarahan di jaringan 2) Digital rectal examination (DRE) dapat digunakan sebagai pemeriksaan skrining awal. Kurang lebih 75 % karsinoma rektum dapat dipalpasi pada pemeriksaan rektal pemeriksaan digital akan mengenali tumor yang terletak sekitar 10 cm dari rektum, tumor akan teraba keras dan menggaung.

Gambar 3. Pemeriksaan colok dubur pada Ca Rekti 3) Dapat pula dengan Barium Enema yaitu Cairan yang mengandung barium dimasukkan melalui rektumkemudian dilakukan seri foto x-rays pada traktus gastrointestinal bawah.

Gambar 4. Pemeriksaan Barium Enema 4) Sigmoidoscopy, yaitu sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rektum dan sigmoid apakah terdapat polip kakner atau kelainan lainnya.

Alat sigmoidoscope dimasukkan melalui rektum sampai kolon sigmoid, polip atau sampel jaringan dapat diambil untuk biopsi.

Gambar 5. sigmoidoscopy

5) Colonoscopy yaitu sebuah prosedur untuk melihat bagian dalam rektum dan sigmoid apakah terdapat polip kanker atau kelainan lainnya.

Alat colonoscope dimasukkan melalui rektum sampai kolon sigmoid, polip atau sampel jaringan dapat diambil untuk biopsi.

Gambar 6. Colonoscopy Jika ditemuka tumor dari salah satu pemeriksaan diatas, biopsi harus dilakukan. Secara patologi anatomi, adenocarcinoma merupakan jenis yang paling sering yaitu sekitar 90 sampai 95% dari kanker usus besar. Jenis lainnya ialah karsinoma sel skuamosa, carcinoid tumors, adenosquamous carcinomas, dan undifferentiated tumors. Ketika diagnosis rectal cancer sudah dipastikan, maka dilakukan prosedur untuk menetukan stadium tumor. Hal ini termasuk computed tomography scan (CT scan) dada, abdomen, dan pelvis, complete blood count (CBC), tes fungsi hepar dan ginjal, urinanalysis, dan pengukuran tumor marker CEA

(carcinoembryonic antigen). Tujuan dari penentuan stadium penyakit ini ialah untuk mengetahui perluasan dan lokasi tumor untuk menentukan terapi yang tepat dan menentukan prognosis. 4.9 Penatalaksanaan Berbagai jenis terapi tersedia untuk pasien kanker rektal. Beberapa adalah terapi standar dan beberapa lagi masih diuji dalam penelitian klinis. Tiga terapi standar untuk kanker rektal yang digunakan antara lain ialah : 4.9.1 Pembedahan

Pembedahan merupakan terapi yang paling lazim digunakan terutama untuk stadium I dan II kanker rektal, bahkan pada pasien suspek dalam stadium III juga dilakukan pembedahan. Meskipun begitu, karena kemajuan ilmu dalam metode penentuan stadium kanker, banyak pasien kanker rektal dilakukan presurgical treatment dengan radiasi dan kemoterapi. Penggunaan kemoterapi sebelum pembedahan dikenal sebagaineoadjuvant chemotherapy, dan pada kanker rektal, neoadjuvant chemotherapy digunakan terutama pada stadium II dan III. Pada pasien lainnya yang hanya dilakukan pembedahan, meskipun sebagian besar jaringan kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien masih membutuhkan kemoterapi atau radiasi setelah pembedahan untuk membunuh sel kanker yang tertinggal. Tipe pembedahan yang dipakai antara lain :

Eksisi lokal : jika kanker ditemukan pada stadium paling dini, tumor dapat dihilangkan tanpa tanpa melakukan pembedahan lewat abdomen. Jika kanker ditemukan dalam bentuk polip, operasinya dinamakan polypectomy.

Reseksi: jika kanker lebih besar, dilakukan reseksi rektum lalu dilakukan anastomosis. Jiga dilakukan pengambilan limfonodi disekitan rektum lalu diidentifikasi apakah limfonodi tersebut juga mengandung sel kanker.

Gambar 8. Reseksi dan Anastomosis

Reseksi dan kolostomi :

Gambar 9. Reseksi dan Kolostomi 4.9.2. Radiasi Sebagai mana telah disebutkan, untuk banyak kasus stadium II dan III lanjut, radiasi dapat menyusutkan ukuran tumor sebelum dilakukan pembedahan. Peran lain radioterapi adalah sebagai sebagai terapi tambahan untuk pembedahan pada kasus tumor lokal yang sudah diangkat melaui pembedahan, dan untuk penanganan kasus metastasis jauh tertentu. Terutama ketika digunakan dalam kombinasi dengan kemoterapi, radiasi yang digunakan setelah pembedahan menunjukkan telah menurunkan resiko kekambuhan lokal di pelvis sebesar 46% dan angka kematian sebesar 29%. Pada penanganan metastasis jauh, radiesi telah berguna mengurangi efek lokal dari metastasis tersebut, misalnya pada otak. Radioterapi umumnya digunakan sebagai terapi paliatif pada pasien yang memiliki tumor lokal yang unresectable. 4.9.3. Kemoterapi Adjuvant chemotherapy, (menengani pasien yang tidak terbukti memiliki penyakit residual tapi beresiko tinggi mengalami kekambuhan), dipertimbangkan pada pasien dimana tumornya menembus sangat dalam atau tumor lokal yang bergerombol ( Stadium II lanjut dan Stadium III). terapi standarnya ialah dengan

fluorouracil, (5-FU) dikombinasikan dengan leucovorin dalam jangka waktu enam sampai dua belas bulan. 5-FU merupakan anti metabolit dan leucovorin memperbaiki respon. Agen lainnya, levamisole, (meningkatkan sistem imun, dapat menjadi substitusi bagi leucovorin. Protopkol ini menurunkan angka kekambuhan kira kira 15% dan menurunkan angka kematian kira kira sebesar 10%. 4.10 Prognosis Secara keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai berikut :

Stadium I - 72% Stadium II - 54% Stadium III - 39% Stadium IV - 7%

50% dari seluruh pasien mengalami kekambuhan yang dapat berupa kekambuhan lokal, jauh maupun keduanya. Kekambuhan lokal lebih sering terjadi pada. Penyakit kambuh pada 5-30% pasien, biasanya pada 2 tahu pertama setelah operasi. Faktor faktor yang mempengaruhi terbentuknya rekurensi termasuk kemampuan ahli bedah, stadium tumor, lokasi, dan kemapuan untuk memperoleh batas - batas negatif tumor.

BAB V PEMBAHASAN

BAB VI KESIMPULAN

6.1

Simpulan

6.2

Saran