Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, para ahli telah mulai lagi mengembangkan bioteknologi dengan

memanfaatkan prinsip-prinsip ilmiah melalui penelitian. Dalam bioteknologi modern orang berupaya dapat menghasilkan produk secara efektif dan efisien. Rekayasa Genetika atau DNA Rekombinan dapat didefinisikan sebagai pembentukan rekombinasi baru dari material yang dapat diturunkan dengan cara penyisipan DNA dari luar kedalam suatu wahana !ektor tertentu" sehingga memungkinkan penggabungan dan kelan#utan berkembang baru. Dengan teknik DNA rekombinan sekarang, ada kemungkinan untuk menumbuhkan setiap segmen dari setiap DNA pada bakteri. $asil organisme yang telah mengalami rekayasa genetika, yang dilakukan melalui pemindahan atau transfer sebuah atau lebih gen antara species yang sama atau yang berbeda itu, disebut transgenic Shanty, %&&'". (byek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan. )idang kedokteran dan farmasi paling banyak berin!estasi di bidang yang relatif baru ini. Sementara itu bidang lain, seperti ilmu pangan, kedokteran hewan, pertanian termasuk peternakan dan perikanan", serta teknik lingkungan #uga telah melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing Suryo *++,- .,,". /ambu air tanpa bi#i,bisa diperoleh dengan menyemprotkan hormon giberellin pada bunga buah. Giberellin %&-o0idase yang diekspresikan pada bagian polen serbuk sari" sebelum polinasi di bawah kontrol promoter spesifik bagian polen".1ertumbuhan bi#i akan terhambat. Namun kelemahannya buah yang di hasilkan akan kecil-kecil. 2api sebenarnya dengan rekayasa genetik dalam lab yang lebih rumit, DNA Deo0yribonucleaic Acid" tanaman bisa direkayasa hingga bisa dihasilkan buah-buahan tanpa bi#i.

BAB II REKAYASA GENETIKA MENGHASILKAN TANAMAN JAMBU AIR TANPA BIJI

)uah merupakan bagian yang penting dari tanaman karena organ ini merupakan tempat yang sesuai bagi perkembangan, perlindungan, dan penyebaran bi#i. 1ada buah normal, pembentukan buah dimulai dengan adanya proses persarian polinasi" kepala putik stigma" oleh serbuk sari polen" secara sendiri self pollination" atau oleh bantuan angin, serangga penyerbuk polinator", dan manusia cross pollination". Selan#utnya polen berkecambah dan membentuk tabung polen pollen tube" untuk mencapai bakal bi#i o!ule". 1eristiwa bertemunya polen sel #antan" dengan bakal bi#i sel telur" di dalam bakal buah o!ary" disebut pembuahan fertilisasi". 3emudian bakal buah akan membesar dan berkembang men#adi buah bersamaan dengan pembentukan bi#i. Akhirnya akan dihasilkan buah yang fertil berbi#i" 1ardal, %&&*". )iasanya buah partenokarpi ini tanpa bi#i seedless" karena tanpa melalui fertilisasi. 1artenokarpi ini kurang menguntungkan bagi program produksi benih4bi#i , namun tidak bagi pebisnis #enis tanaman komersial hortikultura" karena menghasilkan buah tanpa bi#i atau berbi#i lunak selain itu #uga memberikan kemungkinan untuk perbaikan pembentukan bi#i apabila kondisi lingkungan tidak menguntungkan untuk produksi polen, perkecambahan dan fertilisasi, selain itu pada beberapa tanaman yang tidak mempunyai bi#i dapat memperbaiki kualitas buah tetapi lebih bermanfaat bagi peningkatan kualitas dan produkti!itas buah, sebagai contoh, pada terung partenokarpi dapat meningkatkan kualitas buah, sedangkan pada Actinidia dapat meningkatkan produkti!itas buah dan tidak membutuhkan bantuan serangga penyerbuk pollinator". Selain terung ada pisang, timun, nanas, pir, sukun, dan #ambu#ambuan Anonim, %&&+". 1artenokarpi bukanlah ge#ala yang dapat dise#a#arkan dengan partenogenesis pada hewan. Ge#ala apomiksis pada tumbuhanlah yang lebih tepat sebagai ge#ala yang paralel. 1artenokarpi dapat ter#adi secara alami genetik" ataupun buatan induksi". 1artenokarpi alami ada dua tipe, yaitu obligator apabila ter#adinya tanpa faktor4pengaruh luar dan fakultatif dan fakultatif apabila ter#adinya karena ada faktor4pengaruh dari luar4lingkungan yang tidak sesuai untuk polinasi dan fertilisasi, misalnya suhu terlalu tinggi atau rendah Anonim, %&&+"
2

Sedangkan partenokarpi buatan dapat di induksi melalui aplikasi 5at pengatur tumbuh fitohormon" pada kuncup bunga atau melalui polinasi dengan polen inkompatibel atau dapat diserbuki dengan polen yang telah diradiasi sinar 6. )ahkan, kini dengan adanya kema#uan teknologi di bidang biologi molekuler partenokarpi dapat diinduksi secara endogen melalui teknik rekayasa genetika, yaitu dengan cara menyisipkan gen partenokarpi pengkode 7AA4giberelin" ke dalam genom tanaman target melalui proses transformasi genetik. 2anaman transgenik yang telah mengandung gen partenokarpi akan mengekspresikan senyawa auksin pada plasenta dan o!ule atau giberelin pada polen sebelum polinasi. Partenokarpi Alami 1artenokarpi dapat ter#adi secara alami genetik" pada beberapa #enis tanaman sa#a terbatas", misalnya pada pisang triploid", tomat, dan manggis. 1artenokarpi dapat dibedakan men#adi dua tipe, yaitu obligator dan fakultatif. 1artenokarpi disebut obligator apabila ter#adi secara alami genetik" tanpa adanya pengaruh dari luar. $al ini dapat ter#adi karena tanaman tersebut secara genetik memiliki gen penyebab partenokarpi, misalnya pada tanaman pisang yang kebanyakan triploid. 2anaman triploid ini memiliki mekanisme penghambatan perkembangan bi#i atau embrio se#ak awal, sehingga buah yang terbentuk tanpa bi#i. Sedangkan partenokarpi fakultatif apabila ter#adinya karena ada faktor4pengaruh dari luar, misalnya pada tanaman tomat dapat ter#adi pembentukan buah partenokarpi pada suhu dingin atau suhu panas Agostino, %&&8". Partenokarpi Buatan

A Aplika!i "at Pen#atur Tum$u% 1ada awal abad ke-*+ telah diketahui bahwa polinasi tanpa fertilisasi dapat merangsang pembentukan buah. 3emudian, ekstrak polen diketahui pula dapat menginduksi pembentukan dan perkembangan buah. )erikutnya diketahui lagi bahwa auksin dapat menggantikan polinasi dan fertilisasi pada proses pembentukan dan perkembangan buah pada beberapa spesies tanaman. 1ercobaan pada tanaman strawbery, di mana bakal bi#i yang telah dibuahi achenes" dapat dihilangkan tanpa merusak bagian reseptakel ternyata buah tetap tumbuh dan
3

berkembang setelah achenes tersebut diganti dengan olesan senyawa lanolin yang berisi auksin. 9ebih lan#ut, telah dibuktikan bahwa kandungan dan sintesis auksin pada bakal bi#i achenes" berlangsung hingga *' hari setelah pembuahan. $al ini membuktikan bahwa auksin dibutuhkan selama perkembangan buah. :at pengatur tumbuh :12" lain, seperti giberelin dan sitokinin #uga terbukti dapat menggantikan peran bi#i dalam perkembangan buah. Namun, untuk efisiensi partenokarpi perlu kombinasi atau pengulangan aplikasi :12 tersebut. :at pengatur tumbuh berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kandungan auksin 7AA" endogen dalam bakal buah o!ary", baik setelah polinasi dan fertilisasi ataupun setelah aplikasi :12 dari luar. 3adar auksin selama perkembangan bakal buah berbeda-beda untuk setiap tanaman, tetapi umumnya meningkat pada saat %& hari setelah pembungaan anthesis" baik pada bunga yang diserbuki atau yang disemprot auksin. 1eningkatan kadar 7AA pada bakal buah akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan buah pada fase awal pembungaan. ;ekanisme inilah yang mengilhami para ahli bioteknologi pertanian dalam pembentukan buah partenokarpi melalui rekayasa genetika. B Manipula!i Ploi&i 'Alteration in (%romo!ome! Num$er) 1artenokarpi dapat pula diinduksi secara genetik, yaitu melalui manipulasi #umlah ploidi kromosom" pada tanaman. $al ini dapat ditempuh dengan persilangan biasa, misalnya antara tanaman semangka dikotil sebagai induk #antan4 penyerbuk" dengan tanaman tetraploid sebagai induk betina" menghasilkan hybrid <*" triploid yang ternyata dapat menghasilkan buah partenokarpi tanpa bi#i seedless". 1ada tanaman triploid ini bakal bi#i o!ule" terhambat se#ak awal perkembangannya, sehingga embrio tidak berkembang. Akibatnya tanaman hanya menghasilkan buah tanpa bi#i dengan integumen yang rudimenter tidak berkembang". ( Meto&e DNA Rekom$inan 'Reka*a!a Genetika) 1ada beberapa tahun terakhir, beberapa metode telah dicoba dan dikembangkan untuk menghasilkan partenokarpi melalui rekayasa genetika tanaman. 1embentukan buah partenokarpi melalui teknik DNA rekombinan dapat ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu *" menghambat perkembangan embrio4bi#i tanpa mempengaruhi pertumbuhan buah dan %" ekspresi fitohormon pada bagian o!ary4 o!ule untuk memacu perkembangan buah partenokarpi.
4

=ara pendekatan pertama ditempuh melalui penggunaan gen yang bersifat merusak sel cytoto0ic". Gen ini akan menghasilkan senyawa toksik terhadap sel-sel embrio4 bi#i, sehingga akan menghambat bahkan merusak perkembangan embrio4bi#i. 1ertumbuhan buah tetap berlangsung, tetapi tidak menghasilkan bi#i. Sebagai contoh, penggunaan gen barnase yang diisolasi dari bakteri )acillus amyloli>uefaciens atau kombinasi gen sitotoksik, misalnya gen iaa; dan iaa$ dari bakteri yang mengekspresikan senyawa toksik kadar tinggi terhadap sel-sel embrio4bi#i. 3ombinasi ekspresi dua gen ini akan merubah triptofan men#adi 7AA melalui senyawa indoleacetamide. 3adar 7AA tinggi ini akan bersifat toksik terhadap sel-sel bi#i atau embrio tanaman. )eberapa ahli #uga menggunakan gen regulator yang dapat mengekspresikan senyawa toksik yang mempengaruhi perkembangan embrio atau endosperm. Gen barnase akan menghasilkan en5im ribonuklease pada bagian bi#i di bawah kontrol promoter spesifik bagian kulit bi#i. 2etapi pembentukan partenokarpi melalui cara pendekatan ini kurang berhasil dan tidak berkembang, karena hingga kini belum ada data hasil percobaan yang mendukung keberhasilan teknik ini. 1embentukan )uah 1artenokarpi melalui Rekayasa Genetika =ara pendekatan kedua dalam menghasilkan partenokarpi adalah melalui pengekspresian senyawa fitohormon 7AA atau analognya pada bagian bakal buah o!ary" terlihat lebih efektif. =ara kedua ini didasari oleh pengetahuan sebelumnya bahwa aplikasi fitohormon se#enis auksin4 giberelin dapat menggantikan peran bi#i dalam merangsang pembentukan dan perkembangan buah. 7nduksi buah partenokarpi melalui penggunaan gen pengkode giberelin telah berhasil, yaitu giberellin %&-o0idase yang diekspresikan pada bagian polen serbuk sari" sebelum polinasi di bawah kontrol promoter spesifik bagian polen". )uah partenokarpi dapat terbentuk sebelum fertilisasi anthesis". 2elah berhasil digunakan promoter bagian regulator defh+ deficiens homologue +" dari Antirrhinum ma#us untuk mengekspresikan gen iaa; pengkode 7AA" dari 1seudomonas syringae p! sa!astanoi pada bagian plasenta dan bakal bi#i. Gen kimerik defh+-iaa; ini telah berhasil menginduksi buah partenokarpi pada beberapa tanaman dari famili Solanaceae seperti terung, temba-kau, dan tomat. 2anaman hibrid <*" terung yang mengandung gen defh+-iaa; menun#ukkan peningkatan produksi pada musim dingin. Dari semua tanaman transgenik partenokarpi tersebut ditemukan kadar ekspresi auksin yang sangat rendah pada mRNA yang diekstrak dari kuncup bunga. Dari hasil percobaan ternyata terdapat faktor penting di dalam pembuatan buah partenokarpi melalui
5

rekayasa genetika, yaitu terletak pada penggunaan bagian regulator regulator region" dalam konstruksi gen kimera. )agian regulator merupakan informasi genetik yang sangat penting dalam mengontrol ekspresi gen interest baik secara temporal atau spatial. Dua parameter ini sangat penting dalam memperoleh partenokarpi dan meyakinkan ekspresi yang optimal dari gen partenokarpi tanpa menghambat pertumbuhan !egetatif buah" pada tanaman transgeniknya. Dengan demikian, semua gen regulator yang digunakan diarahkan ekspresinya ke bagian o!ary dan bagian-bagiannya. Sebagai contoh gen kimera defh+-iaa;, bagian regulator defh+ promoter" dapat mengontrol ekspresi gen iaa; pengkode 7AA" hanya pada bagian plasenta, o!ule, dan bagian o!ule. ?kspresi 7AA pada bagian o!ule ditu#ukan untuk menggantikan peran bi#i dalam memacu pertumbuhan buah, sedangkan ekspresi 7AA pada bagian plasenta untuk meyakinkan bahwa partenokarpi ter#adi sebelum polinasi anthesis". $al ini dimaksudkan membandingkan dengan buah hasil penyerbukan biasa atau aplikasi :12. D Meto&e Pem$entukan Bua% Jam$u Air Tanpa Bi+i )eberapa #enis tanaman mempunyai kemampuan untuk membentuk buah tanpa melalui proses polinasi dan fertilisasi. )uah yang terbentuk tanpa melalui polinasi dan fertilisasi ini disebut buah partenokarpi. )uah partenokarpi dapat dibuat dengan memotong benang sari pada bunga yang siap mekar, sehingga dalam bunga itu hanya terdapat putik sa#a. 3emudian bunga tersebut ditutup dengan kapas lalu ditetesi dengan 5at tumbuh seperti 7AA atau GA. 1enetesan 7AA atau GA dilakukan setiap hari sampai tampak adanya perubahan secara morfologi Anonim, %&&+". /ambu air adalah tumbuhan dalam suku #ambu-#ambuan atau ;yrtaceae yang berasal dari Asia 2enggara. /ambu air sebetulnya berbeda dengan #ambu semarang Sy5ygium A>ueum", kerabat dekatnya yang memiliki pohon dan buah hampir serupa. )eberapa kulti!arnya bahkan sukar dibedakan, sehingga kedua-duanya kerap dinamai dengan nama umum #ambu air atau #ambu sa#a. Anonim %&*&" /ambu air tanpa bi#i,bisa diperoleh dengan menyemprotkan hormon giberellin pada bunga buah. Giberellin %&-o0idase yang diekspresikan pada bagian polen serbuk sari" sebelum polinasi di bawah kontrol promoter spesifik bagian polen".1ertumbuhan bi#i akan terhambat. Namun kelemahannya buah yang di hasilkan akan kecil-kecil. 2api sebenarnya

dengan rekayasa genetik dalam lab yang lebih rumit, DNA Deo0yribonucleaic Acid" tanaman bisa direkayasa hingga bisa dihasilkan buah-buahan tanpa bi#i. Aplikasi fitohormon se#enis auksin4 giberelin dapat menggantikan peran bi#i dalam merangsang pembentukan dan perkembangan buah.1enggunaan gen pengkode auksin, giberelin atau sitokinin iaa;, iaa$ atau ipt" dari Agrobacterium tumefaciens di bawah kontrol se>uen regulator spesifik bagian o!ary telah berhasil. Gen iaa; mengkode senyawa triptofan %-monoo0igenase yang akan meru-bah triptofan men#adi indoleaceta-mide 7A;", lalu men#adi indole acetic acid 7AA" dan amonia menggunakan promoter G$. dari kedelai atau AG98 Agamous-like 8" dari Arabidopsis atau 19?.@ dari tembaka. G$. merupakan promoter inducible auksin di bagian o!ary, AG98 spesifik pada perkembangan karpela dan 19? .@ spesifik untuk o!ary. 2elah berhasil digunakan promoter bagian regulator defh+ deficiens homologue +" dari Antirrhinum ma#us untuk mengekspresikan gen iaa; pengkode 7AA" dari 1seudomonas syringae p! sa!astanoi pada bagian plasenta dan bakal bi#i. Gen kimerik defh+-iaa; ini telah berhasil menginduksi buah. :at pengatur tumbuh :12", seperti giberelin dan sitokinin #uga terbukti dapat menggantikan peran bi#i dalam perkembangan buah. Namun, untuk efisiensi partenokarpi perlu kombinasi atau pengulangan aplikasi :12 tersebut. :at pengatur tumbuh berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap kandungan auksin 7AA" endogen dalam bakal buah o!ary".

BAB III KESIMPULAN

Rekayasa Genetika atau DNA Rekombinan dapat didefinisikan sebagai pembentukan rekombinasi baru dari material yang dapat diturunkan dengan cara penyisipan DNA dari luar kedalam suatu wahana !ektor tertentu" sehingga memungkinkan penggabungan dan kelan#utan berkembang baru. Rekayasa genetika merupakan suatu cara memanipulasikan gen untuk menghasilkan makhluk hidup baru dengan sifat yang diinginkan. Rekayasa genetika disebut #uga pencangkokan gen atau rekombinasi DNA. Dalam rekayasa genetika digunakan DNA untuk menggabungkan sifat makhluk hidup. )eberapa cara telah dilakukan untuk teknik penciptaan buah tanpa bi#i diantaranya yaitu dengan teknologi penyilangan tanaman %N dan ,N hingga menghasilkan tanaman triploid yang seedless, sinar radiasi, dan menggunakan penyemprotan giberelin yang dilakukan pada bunga buah yaitu pada saat bunga mekar. /ambu air tanpa bi#i,bisa diperoleh dengan menyemprotkan hormon giberellin pada bunga buah. Giberellin %&-o0idase yang diekspresikan pada bagian polen serbuk sari" sebelum polinasi di bawah kontrol promoter spesifik bagian polen".1ertumbuhan bi#i akan terhambat.

DA,TAR PUSTAKA

3ompas, %&&8. ;ikroorganisme 9ingkungan Akuatik. ?disi @ (ktober %&**. 9eung R. %&&8. Genetic =are in Asia, ;akalah 1lenary 3ongres Nasional, di /akarta, *& A ** September. 1elc5ar, *+BB. ;irobiologi 9an#ut. /akarta 1ardal, /umali. Saptowo. %&&*. 1embentukkan )uah 1artenokarpi melalui Rekayasa Genetika.