Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No.

4 Juli 2011: 172-179

AKTIFITAS REPELLENT NYAMUK LOTION KOMBINASI EKSTRAK BATANG Vitex trifolia L. DAN N,N-DIETIL-META-TOLUAMIDA
Mustanir1, Marianne2, Ikhsan Harifsyah1
1

Jurusan Kimia FMIPA Unsyiah, 2Dept.Farmakologi Fakultas Farmasi USU Korespondensi: Dr. Mustanir, M.Sc. Jurusan Kimia FMIPA Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, 23111, email: mustanir_yahya@yahoo.com

ABSTRACT
Study on repellency of Vitex trivolia stem bark combined with DEET in the lotion formula to mosquitoes have been done. Extract of V. trifolia was combined with DEET to produce the lotion. The combined lotion is brown, no odor, with pH of 6,7. This lotions are not irritated, gaves emulsion type of o/w (oil in water) and homogenous, stable during 3 months observation. The effective repellency to Aedes aegypti mosquitoes of combined lotions are 78.8, 83.9 and 84.3% for 5% methanol with 1, 3 and 5% b/v of DEET, respectively. The time protection of the combined lotions are 9.2, 116.3 and 169.0 minutes. Keywords: lotion, mosquito repellent, DEET, Vitex trifolia.

ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian uji aktifitas repellent nyamuk dari lotion kombinasi ekstrak metanol batang Vitex trifolia L. dan DEET. Hasil ekstrak batang V. trifolia dikombinasikan dengan DEET dibuat dalam bentuk lotion. Lotion kombinasi ini berwarna coklat, tidak berbau, pH rata-rata 6,7. Lotion ini tidak merusak kulit, mempunyai tipe emulsi m/a (minyak dalam air) dan merupakan sediaan yang homogen, sangat stabil selama 3 bulan masa pengamatan. Hasil uji daya tolak efektif lotion terhadap nyamuk Aedes aegypti, masingmasing 78,8 ; 83,9; dan 84,3% untuk lotion kombinasi 5% ekstrak metanol dengan 1% DEET, 5% ekstrak metanol dengan 3% DEET dan 5% ekstrak dengan 5% DEET. Sementara lama proteksi rata-rata dari lotion kombinasi tersebut secara berurutan adalah 9,2; 116,3; dan 169,0 menit. Kata kunci: lotion, repellent nyamuk, DEET, Vitex trifolia

PENDAHULUAN Nyamuk merupakan vektor dari beberapa penyakit seperti filariasis, malaria, chikungunya, dan demam berdarah dengue (DBD). Banyaknya korban dan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk menuntut berbagai pihak untuk dapat mencegah dari gigitan nyamuk. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat zat
172

penolak (repellent) nyamuk, namun repellent yang yang tersedia di pasaran saat ini banyak mengandung bahan kimia sintetis. Mempertimbangkan dampak negatif yang ditimbulkan repellent sintesis, mendorong para ilmuwan mencari antinyamuk alternatif yang tidak membahayakan yaitu yang bersumber dari tanaman.

Aktifitas repellent nyamuk kombinasi ekstrak Vitex trifolia L. dan DEET (Mustanir, Marianne, Ikhsan Harifsyah)

Berdasarkan penelitian terdahulu (1) didapatkan bahwa ekstrak V. trifolia aktif sebagai repellent nyamuk, sementara ekstrak V. trifolia dalam formula lotion dapat memproteksi terhadap nyamuk selama 2 jam dengan daya tolak efektif (effective repellency, ER) sebesar 6080% (2). Akan tetapi waktu perlindungan yang didapatkan masih relatif sangat singkat, sementara pemakaian repellent nyamuk diharapkan bisa melindungi selama satu malam, atau pada saat berada di luar rumah umumnya lebih dari dua jam. Repellent yang yang beredar di pasaran mengandung bahan sintetis N,N-dietil-meta-toluamida (DEET) lebih dari 13%, seperti yang tertulis pada etiket dari produk repellent yang dipasarankan. Padahal DEET dapat terserap dalam tubuh, dan pengunaan DEET dalam dosis tinggi atau aplikasi yang berulangkali dapat menyebabkan gangguan sensorik dan motorik, neurodegenerasi, dan keracunan sistemik (3-5). Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dilakukan penelitian terhadap lotion ekstrak metanol tumbuhan V. trifolia yang dikombinasikan dengan DEET dalam jumlah minimum dengan variasi konsentrasi 1, 3, dan 5%. Sediaan dalam bentuk lotion mempunyai keunggulan yaitu murah, mudah digunakan, dapat digunakan di dalam maupun di luar rumah. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan pada bulan April 2009 sampai bulan Maret 2010. Sampel yang digunakan adalah batang tumbuhan legundi (V. trifolia) yang diambil di sekitar Darussalam, Banda Aceh. Bioindikator yang digunakan adalah nyamuk Aedes aegypti yang dibiakkan terlebih dahulu. Adapun tiga orang relawan yang terlibat dalam uji

repellent nyamuk efektif adalah mereka yang relatif memiliki kesamaan. Batang V. trifolia yang sudah ditumbuk halus dimaserasi dengan metanol selama 2x24 jam dan disaring, filtratnya dipekatkan dengan rotary evaporator. Lotion dibuat menggunakan komposisi sebagaimana tercantum dalam Tabel 1. Lotion dibuat dengan cara; bahanbahan bagian I dimasukkan ke dalam cawan porselen, dilebur di atas penangas air hingga suhu 700C. Bagian II, kecuali gliserin dilarutkan dalam aquades panas. Kemudian bagian II dimasukkan ke dalam lumpang porselen panas, lalu ditambahkan bagian I kedalam bagian II dengan pengadukan yang konstan sampai suhu turun. Pada suhu 450C ditambahkan ekstrak metanol dari batang V. trifolia yang dicampurkan dengan gliserin sambil diaduk sampai homogen, selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai (6). Pemeriksaan kestabilan meliputi pengamatan terhadap warna, bau, dan pH dari lotion ekstrak metanol dari batang V. trifolia yang dilakukan oleh beberapa orang dan dibandingkan dengan standar. Pemeriksaan ini dilakukan setiap 2 minggu selama 3 bulan terhadap sampel yang disimpan pada suhu kamar. Sementara uji efek lotion terhadap kulit dilakukan dengan cara dioleskan pada bagian belakang telinga kemudian dibiarkan terbuka selama 12 jam dan dilihat perubahan yang terjadi berupa iritasi dan gatal pada kulit (7). Penentuan tipe emulsi dilakukan dengan metode pengujian daya hantar listrik menggunakan multimeter tester. Lotion dimasukkan dalam gelas kimia, kemudian dimasukkan ujung kabel multimeter yang telah diaktifkan kedalam lotion. Diamati gerakan jarum pada skala, bila jarum memberikan simpangan maka tipe emulsi adalah m/a. Bila tidak memberikan simpangan
173

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No. 4 Juli 2011: 172-179

tipe emulsi adalah a/m. Penentuan tipe emulsi ini dilakukan setiap 2 minggu selama 3 bulan. Sementar penentuan homogenitas dilakukan dengan cara sejumlah tertentu lotion dioleskan pada Tabel 1. Bagian I

kaca yang transparan. Lotion yang dioleskan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir-butir kasar (8).

Formula Lotion Repellent Nyamuk Lotion A Bahan DEET 1% Setil alkohol 0,5% Asam stearat 3% Lanolin 1% Ekstrak metanol 5% Gliserin Metil Paraben Trietanolamin Aquades 2% 0,1% 0,75% 86,65%

B Komposisi (b/v) 3% 0,5% 3% 1% 5% 2% 0,1% 0,75% 84,65%

C 5% 0,5% 3% 1% 5% 2% 0,1% 0,75% 82,65%

II

Bioindikator nyamuk A. aegypti dibiakkan dengan mengambil larva nyamuk betina yang terdapat di bak penampungan air kemudian dipindahkan kedalam wadah terbuka yang berisi air bersih. Larva diberi makan dengan campuran biskuit anjing dan serbuk jamur (ragi) dengan perbandingan 3:1. Larva nyamuk yang sudah jadi pupa kemudian dimasukkan kedalam kurungan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Pupa dibiarkan berkembang menjadi nyamuk dan siap untuk dikembangbiakkan. Setelah nyamuk dewasa diberi larutan sukrosa 10% dan diberi darah dari tikus yang ditempatkan dalam kurungan nyamuk sebagai protein untuk pematangan telur pada nyamuk betina (9). Pengujian aktifitas repellent nyamuk Pengujian repellent nyamuk dilakukan terhadap tiga orang relawan yang relatif memiliki kesamaan usia, warna kulit, golongan darah, dan jenis kelamin. Nyamuk dewasa betina diletakkan pada kurungan (45 cm x 38 cm x 38 cm). Sebelum pengujian, kulit
174

dari relawan dicuci untuk menghilangkan kotoran dan bau dari tangan relawan, kemudian lotion kombinasi untuk pengujian diusapkan mulai dari siku hingga ujung jari. Setelah pemakaian lotion, tangan tidak boleh digosok, dijamah atau dibasahi. Tangan yang satu lagi dioleskan dengan kontrol blanko, yaitu semua bahan lotion kecuali ekstrak V. trifolia dan DEET. Kedua tangan relawan dimasukkan dalam kurungan nyamuk untuk pengujian (10). Setiap pengujian aktifitas daya repellent nyamuk diulangi sebanyak tiga kali dengan relawan yang berbeda guna mempertinggi keakuratan data. Karakterisasi ekstrak metanol V. trifolia dilakukan dengan cara membandingkan fragmentasi kromatogram sampel yang direkam alat kromatografi gas spektroskopi massa (KG-SM) dibandingkan dengan spektrum senyawa standar yang terdapat dalam data National Institute Standart of Technology (NIST)-62 menggunakan perangkat lunak Wiley229, PESTICD Library.

Aktifitas repellent nyamuk kombinasi ekstrak Vitex trifolia L. dan DEET (Mustanir, Marianne, Ikhsan Harifsyah)

Persentase daya tolak efektif (effective repellency) ditentukan dengan menggunakan persamaan (1).

(1) Keterangan : ER = Persen tolak daya efektif NC = Jumlah nyamuk pada kontrol NT = Jumlah nyamuk pada perlakuan (11). HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstraksi 3.000 g batang V. trifolia menggunakan pelarut metanol menghasilkan ekstrak metanol sebesar 43,6 g (1,45 % b/v), ekstrak metanol ini difraksinasi dengan n-heksana menghasilkan ektrak n-heksana sebesar 12,0 g (0,40 % b/v), residu dari ekstrak n-heksana difraksinasi lagi dengan etil asetat menghasilkan 12,40

g (0,41% b/v) ekstrak etil asetat. Persen yield ekstrak metanol lebih besar dari ekstrak n-heksana dan etil asetat karena ekstraksi dengan mengunakan pelarut metanol yang bersifat sangat polar memecah dinding sel tumbuhan sehingga komponen metabolit yang terkandung terekstrak hampir semua, ekstrak n-heksana dan etil asetat lebih sedikit dari ekstrak metanol karena pelarut n-heksana yang bersifat nonpolar akan mengekstrak senyawa yang bersifat nonpolar dan etil asetat yang bersifat semipolar mengekstrak komponen senyawa yang semi polar. Ekstrak methanol batang V. trifolia mempunyai ciri-ciri yaitu: warna ekstrak coklat, berbentuk seperti pasta dan tidak berbau. Ekstrak dibuat tiga jenis lotion dengan mengacu pada komposisi lotion pada Tabel 1; lotion A, B, dan C dengan kandungan DEET masingmasing 1, 3, dan 5% DEET.

pH Losion Kombinasi
8 7,5 7 6,5

pH

6 5,5

pH Losion A pH Losion B pH Losion C

5
4,5 4 1 2 3 4 5 6 Minggu 7 8 9 10 11

Gambar 1. Grafik kestabilan pH dari lotion kombinasi Guna menjamin keamanan produk saat dipakai maka dilakukan uji keasaman. Tingkat keasaman lotion selama tiga bulan pengukuran dapat dilihat pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa masing-masing formulasi lotion mempunyai pH yang relatif stabil yaitu antara 6,5-6,8. Tingkat keasaman dengan nilai pH dari lotion tersebut berada pada pH fisiologis kulit normal
175

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No. 4 Juli 2011: 172-179

yaitu antara 4,5 sampai dengan 7, sehingga aman digunakan pada kulit. Formula lotion di atas dapat diaplikasikan sebagai lotion repellent nyamuk. Sementara uji fisik efek pH dari lotion terhadap kulit dilakukan terhadap tiga orang relawan dengan cara mengoleskan lotion pada bagian belakang telinga. Setelah dibiarkan selama 12 jam dari ketiga relawan tidak ditemukan adanya iritasi dan gatal-gatal akibat pengaruh keasaman dari lotion. Penentuan tipe emulsi lotion dilakukan dengan menggunakan alat multimeter tester dan didapatkan multimeter memberikan simpangan antara 12-17 Ampere, mengindikasikan adanya daya hantar listrik oleh lotion. Adanya daya hantar listrik dapat disimpulkan bahwa emulsi yang terbentuk adalah minyak dalam air (m/a), air sebagai fase luar dan minyak fase dalamnya. (12). Tipe m/a untuk suatu lotion cukup ideal agar tidak menyebabkan kulit menjadi berminyak saat lotion diaplikasikan sehingga berpotensi mudahnya berkembang

mikroorganisme, disamping juga mengakibatkan mudahnya pakaian menjadi kotor. Hasil pemeriksaan kestabilan dari lotion metanol dilakukan setiap dua minggu selama tiga bulan memperlihatkan sediaan lotion yang dioleskan pada kaca transparan tetap homogen dan tidak terlihat adanya butiran-butiran kasar serta lotion terdispersi secara merata di atas kaca uji (8). Disamping itu juga didapatkan bahwa tidak terjadi perubahan pada lotion tersebut, baik dalam hal fase, warna, dan bau pada masing-masing formula lotion kombinasi. Uji sifat daya repellent efektif terhadap nyamuk Aedes aegypti Berdasarkan hasil penelitian uji daya repellent efektif terhadap nyamuk yang dilakukan sampai didapatkannya hinggapan pertama dari lotion kombinasi, dengan mengunakan persamaan (1) maka dihasilkan seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah rata-rata hinggapan nyamuk untuk lotion kombinasi ekstrak metanol dengan DEET. Jumlah hinggapan nyamuk (ekor) ER(%) Lotion Sampel Kontrol (-) kontrol (+) A B C 4 6 6 23 23 20 0 0 0 78,8 83,9 84,3

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa sekalipun tidak signifikan, lotion C menunjukkan daya menolak nyamuk yang paling baik, dengan ER 84,3%, dibandingkan lotion A dan B masingmasing hanya memberikan ER sebesar 78,8 dan 83,9%. Nilai ER yang dihasilkan relatif sama sekalipun penambahan DEET dilakukan 1, 3, dan 5%. Sementara uji daya tolak efektif terhadap nyamuk yang dilakukan terhadap lotion ekstrak metanol dengan
176

konsentrasi 5% tanpa penambahan DEET memberikan nilai ER sebesar 59,3%. Jadi penambahan 1, 3, dan 5% b/v DEET mampu meningkatkan ER masing-masing sebesar 19, 25 dan 25%. Hal ini menunjukkan peningkatan nilai ER yang sangat besar, sehingga diperkirakan bahwa senyawa aktif dari V. trifolia berkerja secara sinergis dengan DEET. Penambahan senyawa DEET dalam jumlah yang seminimal mungkin, dikombinasi dengan ekstrak

Aktifitas repellent nyamuk kombinasi ekstrak Vitex trifolia L. dan DEET (Mustanir, Marianne, Ikhsan Harifsyah)

V. trifolia mampu meningkatkan daya tolak efektif terhadap nyamuk dalam jumlah cukup signifikan, sehingga memberi peluang bagi pengurangan kadar kandungan DEET dalam lotion yang dijual bebas disubstitusi dengan ekstrak V. trifolia yang relatif lebih aman untuk diaplikasikan pada manusia. Lotion repellent nyamuk di pasaran mengandung DEET lebih dari 13%. Padahal penggunaan DEET, yang merupakan bahan korosif, dalam konsentrasi tinggi dan aplikasi berulangkali harus dihindari karena dapat menimbulkan berbagai efek yang membahayakan manusia (5). Uji daya tolak efektif nyamuk juga dilakukan terhadap lotion ekstrak metanol V. trifolia dengan konsentrasi 10 dan 20% tanpa penambahan DEET. Hasil pengujian didapatkan efek menolak nyamuk dengan nilai ER masing-masing 77,3 dan 80,2% untuk 10 dan 20% ekstrak metanol V. trifolia. Bila nilai daya tolak efektif ini dibandingkan dengan lotion dengan konsentrasi ekstrak 5% yang ditambah DEET 1% bisa memberikan nilai ER sampai 78,8%. Hal ini dikarenakan pengaruh dari ekstrak V. trifolia yang bersifat menolak nyamuk dan disinergikan dengan penambahan

senyawa DEET yang sudah terbukti efektif menolak nyamuk (4). Penelusuran senyawa kimia dengan mengunakan KG-SM terhadap ekstrak V. trifolia dihasilkan senyawa antara lain: dodekanamida, N,N-bis(2hidroksietil), asam miristat, metil heksadekanoat, asam palmitat, asam 9-oktadekanoat, metil ester, asam heksadekanoat, 2-hidroksi-1(hidroksimetil) etil ester, flavon-4-OH, 5-OH, 7-di-O-glukosida, asam heksadekanoat, 1-(hidroksimetil)-1,2etanedil ester, cis-13-oktadesenal, dan asam 9-oktadekanoat. Sifat repellent yang dihasilkan oleh ekstrak metanol V. trifolia kemungkinan disebabkan karena dalam ekstrak metanol V. trifolia terdapat senyawasenyawa aktif seperti dodekanamida dan N,N-bis (2-hidroksietil). Struktur senyawa ini mirip dengan senyawa DEET, dan penambahan DEET akan memperkuat sifat daya tolak dari lotion kombinasi tersebut. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa terjadi perbedaan waktu proteksi yang signifikan pada lotion A dengan waktu proteksi hanya 9,2 menit, sementara lotion B mempunyai waktu proteksi sampai 136,7 menit, dan lotion C dengan waktu proteksi 169 menit.

Tabel 3. Rekapitulasi jenis lotion dengan aktivitas daya repellent nyamuk dan waktu proteksi No. Lotion ER (%) Waktu Proteksi (Menit) 1 A 78,8 9,2 2 B 83,9 116,3 3 C 84,3 169 Peningkatan waktu proteksi disebabkan pengaruh penambahan DEET, dengan penambahan DEET kedalam lotion dapat meningkatkan waktu proteksi dari lotion tersebut. Sebagai perbandingan bahwa kadar DEET 30% memberikan waktu proteksi selama 6 jam, kadar 15% memberikan waktu proteksi selama 5 jam, kadar 10% memberikan waktu proteksi selama 3 jam, dan kadar 5% memberikan waktu proteksi selama 2 jam (13). Lotion C yang merupakan kombinasi 5% ekstrak metanol V. trifolia dengan 5% DEET mampu
177

Jurnal Farmasi Indonesia Vol. 5 No. 4 Juli 2011: 172-179

memberikan waktu proteksi 2 jam dan 49 menit. Perbedaan konsentrasi DEET antara lotion A, B dan C tidak menyebabkan meningkatnya ER secara signifikan, namun berbeda nyata dalam kemampuan meningkatkan waktu proteksi. Hal ini menguatkan penelitian Fradin (14) yang menyimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi DEET tidak meningkatkan kemampuan proteksi namun hanya memperpanjang waktu proteksi. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Lotion dari kombinasi ekstrak metanol V. trifolia dengan DEET efektif menolak nyamuk dengan memberikan ER masing-masing sebesar 78,8; 83,9; dan 84,3% untuk konsentrasi ektrak metanol V. trifolia 5% dengan penambahan DEET sebesar 1, 3 dan 5 %. Lotion kombinasi yang dihasilkan berwarna coklat, tidak berbau, dan pH rata-rata 6,7. Lotion ini tidak merusak kulit, tipe emulsi adalah m/a (minyak dalam air), homogen dan stabil selama 3 bulan pengamatan. Lama waktu proteksi rata-rata dari lotion kombinasi 5% ekstrak metanol dengan 1; 3 dan 5% b/v DEET berturut-turut adalah 9,16; 116,25 dan 169 menit.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mustanir, Nasution R. Isolasi senyawa bioaktif repellent nyamuk dari ekstrak aseton batang tumbuhan Legundi (Vitex Trivolia). Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 2008; 19(2): 174-179. 2. Mustanir, Nasution R, Bachtiar T. Senyawa bioaktif penolak (repellent) nyamuk dari ekstrak n-heksana dan metanol kulit batang Vitex Trifolia dalam formula lotion. Prosiding Seminar Nasional MIPANet 13-14 Agustus 2009. Bali; 2009. 3. Al-Sagaff I, Sammar A, Shahid A, Rehana Z, Fouzia E. Toxic effects of diethyltoluamide and dimethylphthalate creams as mosquito repellents on rabbits skin, Journal of Anatomical Society of India 2001; 50(2): 148-152. 4. Bell JW, Veltri JC, Page BC. Human exposures to N,N-diethyl-m-toluamide insect repellents reported to the American Association of Poison Control Centers 1993-1997. Int J Toxicol 2002; 21: 341-352. 5. Tjahyadi S. Daya repelen beberapa minyak esensial dan DEET terhadap Culex. JKM 2008; 7(2): 181-186. 6. Balsam MS, Sagarin E. Cosmetic nd Science and Technology. 2 edition. New York: John Wiley and Sons; 1972. 7. Wasitaatmadja SM. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia; 1997. 8. Badan Standar Nasional. Standar Nasional Indonesia (SNI) Repellent Nyamuk, Lotion dan Repellent Nyamuk Gel. Jakarta: Badan Standar Nasional; 2006. 9. Rajkumar S, Jebanesan A. Ovicidal activity of Solanum tricobatum Linn. (Solanaceae) leaf extract against Culex quinquefasciatus Say. and Culex Tritaeni or Hynchus Gile (Deptera: Celicidae). International Journal of Tropical Insect Science 2004; 24(4): 340-342. 10. Harold SH. Method of Testing Chemical Insects. Volume II. London: Burgess Publishing Company; 1960.

2.

3.

UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih disampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M), Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan Nasional RI melalui dana penelitian sesuai dengan surat perjanjian pelaksanaan Insentif Riset Unggulan Strategis Nasional No. Kontrak 096/H11-P2T/A.01/2009, tanggal 27 Februari 2009 sehingga terlaksananya penelitian ini.
178

Aktifitas repellent nyamuk kombinasi ekstrak Vitex trifolia L. dan DEET (Mustanir, Marianne, Ikhsan Harifsyah) 11. Xue RD, Barnard DR, Ali A. Laboratory evaluation of 21 insect repellents as larvasides and oviposition deterrents of Aedes albopictus (Diptera: Culicidae). Journal of the American Mosquito Control Association 2006; 22(1), 126-130. 12. Voigt R. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi Kelima. Yogyakarta: UGM; 1994. 13. Katz TM, Miller JH, Hebert AA. Insect repellents: historical persectives and new developments. J. Am. Acad. Dermatol 2008; 58(5): 865-871. 14. Fradin MS, Day JF. Comparative efficacy of insect repellents against mosquito bites. N Engl J Med 2002; 347: 13-18.

179