Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi mata perlu mendapat pertolongan segera dan adekuat, agar tidak mengganggu penglihatan terlalu lama atau tidak berakibat gangguan penglihatan dan kebutaan. Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa. Konjungtivitis virus biasanya mengenai satu mata. Pada konjungtivitis ini, mata sangat berair. Kotoran mata ada, namun biasanya sedikit. Konjungtivitis bakteri biasanya mengenai kedua mata. Ciri khasnya adalah keluar kotoran mata dalam jumlah banyak, berwarna kuning kehijauan. Konjungtivitis alergi juga mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat berair. Konjungtivitis papiler raksasa adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh intoleransi mata terhadap lensa kontak. Biasanya mengenai kedua mata, terasa gatal, banyak kotoran mata, air mata berlebih, dan kadang muncul benjolan di kelopak mata. Konjungtivitis virus biasanya tidak diobati, karena akan sembuh sendiri dalam beberapa hari. Walaupun demikian, beberapa dokter tetap akan memberikan larutan astringen agar mata senantiasa bersih sehingga infeksi sekunder oleh bakteri tidak terjadi dan air mata buatan untuk mengatasi kekeringan dan rasa tidak nyaman di mata. 1.2 Rumusan Masalah I.2.1 Bagaimana etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan konjungtivitis? I.3 Tujuan I.3.1 Mengetahui etiologi, patogenesis, diagnosis dan penatalaksanaan konjungtivitis

I.4 Manfaat I.4.1 Menambah wawasan mengenai penyakit mata khususnya I.4.2 Sebagai proses pembelajaran bagi dokter muda yang sedang mengikuti kepaniteraan klinik bagian ilmu penyakit mata

BAB II STATUS PASIEN

2.1

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Pendidikan Pekerjaan Status Suku Bangsa Tanggal Periksa No. RM : Ny. T : Perempuan : 33 tahun : Kepanjen : SMA : Ibu rumah tangga : Menikah : Jawa : 19 Desember 2011 : 257402

2.2

ANAMNESIS 1. Keluhan Utama gatal sekali. 2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli mata dengan : Mata sebelah kanan merah dan

keluhan mata sebelah kanan merah dan gatal sekali sejak kurang lebih 4 hari yang lalu. Selain itu pasien mengeluh bahwa mata kanannya sering keluar air mata, ngeres, agak silau jika terkena sinar, namun tidak ada keluhan penurunan tajam penglihatan. Pasien mengatakan kalau setelah bangun tidur mata kadang terasa lengket. Pasien mengatakan baru sembuh dari flu selama sakit mata. Untuk mata kiri pasien tidak merasakan ada keluhan. Pasien mengatakan pernah memakai obat tetes mata yang diteteskan ke mata sebelah kanan (cendo xitrol). Dengan obat tetes tersebut keluhan sempat berkurang namun masih tetap kambuh lagi. 3. Riwayat Penyakit Dahulu yang lalu Alergi makanan (-) Pilek (+) baru sembuh
3

: sakit yang sama (+) +/- 3 bulan

4. Riwayat Penyakit Keluarga

: sakit yang sama dengan pasien (-) Alergi makanan (+) ibu alergi udang

5. Riwayat Pengobatan 6. Riwayat Kebiasaan menggunakan sepeda motor. 2.3 STATUS GENERALIS

: obat tetes mata (cendo xitrol) : pasien sering berkendara

Kesadaran : compos mentis (GCS 456) Vital sign : Tensi Nadi Pernafasan Suhu : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

Abdomen : keadaan hamil 4 bulan 2.4 STATUS OFTALMOLOGIS

Pemeriksaan
AV Tanpa koreksi Dengan koreksi TIO Kedudukan Pergerakan

OD
5/5 Tidak dilakukan N/P Orthophoria

OS
5/5 Tidak dilakukan N/P Orthophoria

Palpebra - edema - hiperemi - trikiasis Konjungtiva - bulbi: injeksi konjungtiva - tarsal: pembesaran papil, hiperemi - injeksi konjungtivitis - injeksi silier Kornea - warna - permukaan - infiltrate Bilik mata depan - kedalaman - hifema - hipopion

+ + + + Jernih Cembung Cukup -

Jernih Cembung Cukup -

Iris / pupil - warna iris - bentuk pupil - reflek cahaya Lensa - warna - Iris shadow Vitreus Retina

Coklat Bulat, central + jernih Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Coklat Bulat, central + jernih Tidak dilakukan Tidak dilakukan

2.5

DIAGNOSIS Working diagnosis Differential Diagnosis : OD konjungtivitis vernal tipe palpebral : OD konjungtivitis viral OD konjungtivitis bacterial

2.6

PENATALAKSANAAN Planning Diagnosis Planning Therapy Non farmakologi Kompres dingin mata, istirahat cukup, makan teratur, menghindari allergen, menggunanakan obat teratur, tidak menggosok mata, menggunakan kaca mata untuk mengurangi kontak dengan allergen. Farmakologi Penghentian penggunaan cendo citrol OD Cendo Vernacel ED 6 dd gtt I, OD Cenfresh 6 dd gtt I, OD Kontrol 1 minggu lagi : slitlamp, :

2.7

PROGNOSIS Ad vitam Ad Functionam Ad Sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

2.8 Follow Up Anamnesa : gatal berkurang, meta merah berkurang Status oftalmologis Pemeriksaan OD OS

AV Tanpa koreksi Dengan koreksi TIO Kedudukan Pergerakan

5/5 Tidak dilakukan N/P Orthophoria

5/5 Tidak dilakukan N/P Orthophoria

Palpebra - edema - hiperemi - trikiasis Konjungtiva - bulbi: injeksi konjungtiva - tarsal: pembesaran papil, hiperemi - injeksi konjungtivitis - injeksi silier Kornea - warna - permukaan - infiltrate Bilik mata depan - kedalaman - hifema - hipopion Iris / pupil - warna iris - bentuk pupil - reflek cahaya Lensa - warna - Iris shadow Vitreus Retina

+/+/Jernih Cembung Cukup Coklat Bulat, central + jernih Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Jernih Cembung Cukup Coklat Bulat, central + jernih Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Diagnosis OD konjungtivitis vernal akut tipe palpebral Planning Therapy :

Non farmakologi Kompres dingin mata, istirahat cukup, makan teratur, menghindari allergen, menggunakan kaca mata untuk mengurangi kontak dengan allergen,

Farmakologi Cenfresh 6 dd gtt I, OD

BAB III TELAAH KASUS


6

3.1 Anatomi dan Fisiologi Konjungtiva Konjungtiva merupakan membran mukosa tipis yang membatasi permukaan dalam dari kelopak mata dan melipat ke belakang membungkus permukaan depan dari bola mata, kecuali bagian jernih di tengah-tengah mata (kornea). Membran ini berisi banyak pembuluh darah dan berubah merah saat terjadi inflamasi. Konjungtiva terdiri dari tiga bagian: 1. 2. 3. konjungtiva palpebralis (menutupi permukaan posterior dari palpebra). konjungtiva bulbaris (menutupi sebagian permukaan anterior bola mata). forniks (bagian transisi yang membentuk hubungan antara bagian posterior

palpebra dan bola mata). Meskipun konjungtiva agak tebal, konjungtiva bulbar sangat tipis. Konjungtiva bulbar juga bersifat dapat digerakkan, mudah melipat ke belakang dan ke depan. Pembuluh darah dengan mudah dapat dilihat di bawahnya. Di dalam konjungtiva bulbar terdapat sel goblet yang mensekresi musin, suatu komponen penting lapisan air mata pre-kornea yang memproteksi dan memberi nutrisi bagi kornea.

Gambar 1. Anatomi Konjungtiva 3.2 Definisi Konjungtivitis

Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme (virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia. 3.3 Etiologi Konjungtivitis Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat: Infeksi oleh virus atau bakteri Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang Iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari.

3.4 Klasifikasi Konjungtivitis 1. Berdasarkan waktu: Akut kronis

2. Berdasarkan penyebabnya: Konjungtivitis akut bacterial Konjungtivitis blenore Konjungtivitis gonore Konjungtivitis difteri Konjungtivitis folikuler Konjungtivitis angular Konjungtivitis mukokataral Blefarokonjungivitis

Konjungtivitis akut viral Keratokonjungtivitis epidemika Demam faringokonjungtiva Keratokonjungtivitis herpetik Keratokonjungtivitis New Castle Konjungtivitis hemoragik akut

Konjungtivitis akut jamur Konjungtivitis akut alergik Konjungtivitis vernal

3.4

Konjungtivitis flikten Definisi Konjungtivitis Vernalis Konjungtivitis vernalis adalah konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas

(tipe I) yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. 3.5 Klasifikasi Konjungtivitis Vernalis Terdapat dua bentuk utama konjngtivitis vernalis (yang dapat berjalan bersamaan), yaitu : 1. Bentuk palpebra : terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar ( Cobble Stone ) yang diliputi sekret yang mukoid. Konjungtiva tarsal bawah hiperemi dan edem, dengan kelainan kornea lebih berat dari tipe limbal. Secara klinik, papil besar ini tampak sebagai tonjolan besegi banyak dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler di tengahnya. 2. Bentuk Limbal : hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan degenarasi epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil. 3.6 Etiologi Konjungtivitis vernal terjadi akibat alergi dan cenderung kambuh pada musim panas. Konjungtivitis vernal sering terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai sebelum masa pubertas dan berhenti sebelum usia 20. 3.7 Patofisiologi Konjungtiva mengandung epitel skuamosa yang tidak berkeratin dan substansia propria yang tipis, kaya pembuluh darah. Konjungtiva juga memiliki kelenjar lakrimal aksesori dan sel goblet. Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen. Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi, menyebabkan degranulasi dari sel mast dan permulaan dari reaksi bertingkat dari peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast, juga mediator lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat, prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan segera menstimulasi nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi konjungtiva.

Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang insterstitial yang banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemia dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobblestone. Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel kornea. Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertropi yang menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells limbus. Kondisi yang terakhir ini mungkin berkaitan dengan konjungtivalisasi pada penderita keratokonjungtivitis dan dikemudian hari berisiko timbulnya pterigium pada usia muda. Di samping itu, juga terdapat kista-kista kecil yang dengan cepat akan mengalami degenerasi. 3.8 Gambaran Histopatologik Tahap awal konjungtivitis vernalis ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel-sel PMN, eosinofil, basofil, dan sel mast. Hasil penelitian histopatologik terhadap 675 konjungtivitis vernalis mata yang dilakukan oleh Wang dan Yang menunjukkan infiltrasi limfosit dan sel plasma pada konjungtiva. Prolifertasi limfosit akan membentuk beberapa nodul limfoid. Sementara itu, beberapa granula eosinofilik dilepaskan dari sel eosinofil, menghasilkan bahan sitotoksik yang berperan dalam kekambuhan konjungtivitis. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan adanya reaksi hipersensitivitas. Tidak

10

hanya di konjungtiva bulbi dan tarsal, tetapi juga di fornix, serta pada beberapa kasus melibatkan reaksi radang pada iris dan badan siliar . Fase vaskular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasia jaringan ikat meluas ke atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Kolagen maupun pembuluh darah akan mengalami hialinisasi. Epiteliumnya berproliferasi menjadi 510 lapis sel epitel yang edematous dan tidak beraturan. Seiring dengan bertambah besarnya papil, lapisan epitel akan mengalami atrofi di apeks sampai hanya tinggal satu lapis sel yang kemudian akan mengalami keratinisasi. Pada limbus juga terjadi transformasi patologik yang sama berupa pertumbuhan epitel yang hebat meluas, bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel (acanthosis). Horner-Trantas dot`s yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri atas eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi, namun masih ada sel PMN dan limfosit. 3.9 Gejala Pasien umumnya mengeluh tentang gatal yang sangat dan bertahi mata berserat-serat. Biasanya terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lain-lain) dan kadang-kadang pada pasien muda juga. Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papil raksasa berbentuk poligonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler. Mungkin terdapat tahi mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda Maxwell-Lyons). Pada beberapa kasus, terutama pada orang negro turunan Afrika, lesi paling mencolok terdapat di limbus, yaitu pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (arcus) sering terlihat pada kornea dekat papilla limbus. Bintik bintik Tranta adalah bintik-bintik putih yang terlihat di limbus pada beberapa pasien dengan konjungtivitis vernalis selama fase aktif dari penyakit ini.

11

Sering tampak mikropannus pada konjungtivitis vernal palpebra dan limbus, namun pannus besar jarang dijumpai. Biasanya tidak timbul parut pada konjungtiva kecuali jika pasien telah menjalani krioterapi, pengangkatan papilla, iradiasi, atau prosedur lain yang dapat merusak konjungtiva. 3.10 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa kerokan konjungtiva untuk mempelajari gambaran sitologi. Hasil pemeriksaan menunjukkan banyak eosinofil dan granula-granula bebas eosinofilik. Di samping itu, terdapat basofil dan granula basofilik bebas. 3.11 Diagnosa Banding Konjungtivitis
Tanda Tajam penglihatan Silau Sakit Mata merah Sekret Lengket kelopak Pupil Tensi Konjungtivitis Normal Tidak ada Pedes, rasa kelilipan Injeksi konjungtival Serous, mukos,purulen Terutama pagi hari Normal Normal, tidak terkena Iritis Turun nyata Nyata Sakit Injeksi siliar Tidak ada Tidak ada Mengecil Biasanya normal atau rendah (pegal) normal Keratitis Turun nyata Nyata Sakit Injeksi siliar Tidak ada Tidak ada Mengecil

Diagnosa Banding Tipe Konjungtivitis yang lazim


Klinik&sitologi Gatal Hiperemia Eksudasi Adenopati preurikular Pewarnaan kerokan & eksudat Sakit tenggorokan Viral Minim Profuse Minim Lazim Bakteri Minim Sedang Menguncur Jarang Klamidia Minim Sedang Menguncur Lazim hanya konjungtivitis inklusi PMN, Plasma sel Tidak pernah Atopik (alergi) Hebat Sedang Minim Tidak ada

Monosit Kadang

Bakteri, PMN Kadang

Eosinofil Tak pernah

12

3.12 Penatalaksanaan Konjungtivitis Alergi Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan seperti ringan sampai ada kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan menjadi tingkat sedang. Penyakit ringan sampai sedang biasanya mempunyai konjungtiva yang bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler yang ringan dengan sedikit sekret mukoid. Kasus yang lebih berat mempunyai giant papila pada konjungtiva palpebranya, folikel limbal, dan perisai (steril) ulkus kornea. 1. Alergi ringan Konjungtivitis alergi ringan identik dengan rasa gatal, berair, mata merah yang timbul musiman dan berespon terhadap tindakan suportif, termasuk air mata artifisial dan kompres dingin. Air mata artifisial membantu melarutkan beragam alergen dan mediator peradangan yang mungkin ada pada permukaan okuler.

2. Alergi sedang Konjungtivitis alergi sedang identik dengan rasa gatal, berair dan mata merah yang timbul musiman dan berespon terhadap antihistamin topikal dan/atau mast cell stabilizer. Penggunaan antihistamin oral jangka pendek mungkin juga dibutuhkan. Mast cell stabilizer mencegah degranulasi sel mast; contoh yang paling sering dipakai termasuk sodium kromolin dan Iodoxamide. Antihistamin topikal mempunyai masa kerja cepat yang meredakan rasa gatal dan kemerahan dan mempunyai sedikit efek samping; tersedia dalam bentuk kombinasi dengan mast cell stabilizer. Antihistamin oral, yang mempunyai masa kerja lebih lama, dapat digunakan bersama, atau lebih baik dari, antihistamin topikal. Vasokonstriktor tersedia dalam kombinasi dengan topikal antihistamin, yang menyediakan tambahan pelega jangka pendek terhadap injeksi pembuluh darah, tapi dapat menyebabkan rebound injeksi dan inflamasi konjungtiva. Topikal NSAID juga digunakan pada konjungtivitis sedang-berat jika diperlukan tambahan efek antiperadangan. 3. Alergi berat

13

Penyakit alergi berat berkenaan dengan kemunculan gejala menahun dan dihubungkan dengan peradangan yang lebih hebat dari penyakit sedang. Konjungtivitis vernal adalah bentuk konjungtivitis alergi yang agresif yang tampak sebagai shield coneal ulcer. Rujukan spesialis harus dipertimbangkan pada kasus berat atau penyakit alergi yang resisten, dimana memerlukan tambahan terapi dengan kortikosteroid topikal, yang dapat digunakan bersama dengan antihistamin topikal atau oral dan mast cell stabilizer. Topikal NSAID dapat ditambahkan jika memerlukan efek anti-inflamasi yang lebih lanjut.

Kortikosteroid punya beberapa resiko jangka panjang terhadap mata termasuk penyembuhan luka yang terlambat, infeksi sekunder, peningkatan tekanan intraokuler, dan pembentukan katarak. Kortikosteroid yang lebih baru seperti loteprednol mempunyai efek samping lebih sedikit dari prednisolon. Siklosporin topikal dapat melegakan dengan efek tambahan steroid dan dapat

dipertimbangkan sebagai lini kedua dari kortikosteroid. Dapat terutama sekali berguna sebagai terapi lini kedua pada kasus atopi berat atau konjungtivitis vernal. 3.13 Komplikasi Konjungtivitis

Penyakit radang mata yang tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan menimbulkan komplikasi. Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya: 1. glaukoma 2. katarak 3. ablasi retina 4. komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat mengganggu penglihatan 3.14 Prognosa Konjungtivitis

Bila segera diatasi, konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun jika bila penyakit radang mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina.

14

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosa OD kunjungtivitis vernal akut tipe palpebra dan penatalaksanaannya adalah dengan pemberian obat tetes dan roboransia. Konjungtivitis yaitu adanya inflamasi pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva. Konjungtivitis vernalis adalah konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I) yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. Terdapat dua bentuk utama konjngtivitis vernalis (yang dapat berjalan bersamaan), yaitu bentuk palpebra dan bentuk limbal.

4.2 Saran Pemberian KIE kepada masyarakat mengenai konjungtivitis dan

penanganannya perlu dilakukan untuk menghindarkan terjadinya penularan terhadap pasien atau keluarga pasien yang lain.

15

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas DSM, Sidarta,. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 1998 2. http://www.scribd.com/doc/29896570/Definisi-Etiologi-Klasifikasi-DanPatofisiologi-Konjungtivitis 3. James Bruce, et al, Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta. 2006 4. https://online.epocrates.com/u/291168/Acute+conjunctivitis/Summary/Hig hlights 5. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2000 6. Medicastore. Konjungtivitis Vernalis. Available on: http://www.medicastore.com/penyakit/865/Keratokonjungtivitis_Vernal.html 7. Wahid, Dian Ibnu. Konjungtivitis Vernalis. Available on : http://diyoyen.blog.friendster.com/2009/05/konjungtivitis-vernalis/.

16