Anda di halaman 1dari 12

FITOTERAPI ANTI KANKER DAN ANTI TUMOR

A. Kanker 1. Definisi Karsinogenesis merupakan proses tahapan yang meliputi inisiasi, promosi, konversi dan progresi atau kemajuan. Pertumbuhan sel normal dan sel kanker dikendalikan secara genetik oleh keseimbangan atau ketidakseimbangan onkogen, protoonkogen dan tumor supresor produk protein gen. Mutasi genetik dapat mengubah sel normal menjadi sel

kanker. Apoptosis dan penuaan selular adalah salah satu mekanisme kematian sel yang normal

(Dipiro, 2008). Kanker sendiri merupakan istilah umum untuk sekelompok gangguan yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang abnormal dan tidak terbatas. Setiap tumor primer berasal dari sel aberrant yang diikuti dengan mutasi tunggal.

Kanker sering dikenal oleh masyarakat sebagai tumor, padahal tidak semua tumor adalah kanker. Tumor adalah segala benjolan tidak normal atau abnormal. Tumor dibagi dalam 2 golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. (Russel, 2008) 2. Mekanisme Terjadinya Kanker Secara singkat kanker terjadi melalui tiga tahap yaitu tahap inisiasi, promosi, dan progresi. Tiap-tiap tahap ini menentukan perkembangan kanker di dalam tubuh manusia. a. Inisiasi Inisiasi adalah kondisi awal yang memungkinkan terjadinya perkembangan kanker di dalam tubuh. Suatu sel dapat rentan menjadi kanker ketika dirangsang oleh zat kimia karsinogen yang menempel pada reseptor sel. Zat kimia yang menempel pada reseptor ini kemudian akan berinteraksi dengan DNA dan mengakibatkan perubahan-perubahan struktur DNA atau mutasi. Zat kimia juga mengakibatkan gangguan pada sel khusus yang berperan dalam menekan pertumbuhan kanker dalam tubuh yaitu protooncogene dan tumor suppressor gene. Protooncogene adalah bentuk tidak aktif dari oncogene yang berperan dalam memicu perkembangan sel kanker, sedangkan tumor suppressor gene adalah gen yang berperan dalam menekan perkembangan sel-sel tumor. Pada proses inisiasi, paparan zat kimia akan mengaktifkan protooncogene menjadi oncogene dan menonaktifkan tumor suppressor gene. Sel-sel yang telah terinisiasi ini akan menjadi sangat rentan dan berpotensi menjadi kanker. Namun, sel inisiasi tidak akan berkembang tanpa adanya pemicu dari agen-agen promotor di dalam tubuh. b. Promosi Sel-sel terinisiasi di dalam tubuh merupakan sel yang sangat rentan terhadap gangguan. Sel terinisiasi dapat menjadi kanker apabila berinteraksi dengan agen promotor di dalam tubuh seperti hormon

polypeptida, hidrokarbon halogen, tingginya konsumsi kalori, dan keberadaan xenobiotic di dalam tubuh seperti sakarin, phorbol asetat, fenobarbital, butyl hidroksitoluen, estradiol, dan nafenopin. Namun, perkembangan sel inisiasi menjadi kanker dapat menghilang dengan sendirinya apabila diikuti dengan berkurangnya paparan agen-agen promotor tersebut di dalam tubuh melalui proses metabolisme. Sel inisiasi dapat menjadi kanker apabila terjadi interaksi secara terus menerus oleh agen promotor. Jadi proses promosi ini sangat tergantung kapada faktor fisiologis, seperti umur, pola makan, dan faktor hormon di dalam tubuh (individual susceptibility). Agen promotor tidak berikatan secara langsung dengan DNA pada sel inisiasi. Agen promotor biasanya berikatan dengan reseptor

permukaan sel. Pada ikatan ini akan merangsang pengeluaran enzim kinase yang berperan dalam fosforilasi dan aktivasi transkripsi tumor suppressor gene seperti CREB, Myc, dan E2F. Proses regulasi transkripsi DNA sangat tergantung kepada reseptor sitoplasma bersama ligan. Pada proses reseptor sitoplasma biasanya meliputi interaksi protein, fosforilasi, dan proses perubahan transkripsi DNA melalui interaksi transkripsi faktor. Pada kasus ini, pada sel yang telah terinisiasi banyak agen promotor yang menyebabkan gangguan pada proses sinyal-sinyal transkripsi DNA. Gangguan sinyal ini kemudian akan menyebabkan gangguan transkripsi DNA dan pembelahan sel yang tidak terkontrol. c. Progresi Pada proses ini, terjadi perkembangan neoplasma yang ditandai dengan pertumbuhan sel secara drastis, invasi sel-sel baru, metastatis, respon hormonal, dan perubahan morfologi secara independen. (Dipiro, 2008) 3. Gejala Kanker Ada 7 gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk memastikan ada atau tidaknya kanker, yaitu:

a.

Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.

b. c. d. e.

Alat pencernaan terganggu dan susah menelan. Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor). Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, menjadi semakin besar dan gatal.

f. g.

Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh. (Barbara, 2009)

4. Nomenklatur Kanker Nomenklatur dari kanker sangat kompleks dan tidak konsisten. Hal ini dicoba untuk diklasifikasikan menjadi tiga karakteristik, yang semuanya berpengaruh pada prognosis dan pengobatan: a. Jaringan asal (histologi) b. Organ asal c. Jinak atau ganas

(Russel,2008)

5. Jenis jenis Kanker Ada banyak jenis kanker yang sering ditemukan pada masyarakat, namun secara umum ada beberapa yang sangat sering ditemukan seperti : a. Kanker payudara Kanker payudara adalah kanker ganas yang berasal dari jaringan payudara. b. Kanker prostat Kanker prostat adalah suatu neoplasma ganas yang berasal dari kelenjar prostat. c. Kanker kolorektal Kanker kolorektal adalah neoplasma ganas yang melibatkan usus besar, rektum dan anus. d. Kanker paru paru Kanker paru paru adalah suatu tumor padat yang berasal dari sel epitel bronkial. e. Limfoma Limfoma adalah suatu kelompok heterogen dari kanker ganas yang berasal dari sel imun yang berada di jaringan limfoid. (Barbara, 2009) 6. Prevelensi Kanker

(Russel, 2008)

Ada banyak variasi dalam insiden dan prevalensi kanker untuk situs anatomi, jenis kelamin, usia dan kelompok ras serta etnis dan geografis yang berbeda. (Russel, 2008) 7. Investigasi dan Diagnosis Diagnosis dari kanker ganas biasanya secara histologi. Namun, semua teknik invesrigasi modern dieksploitasi. Tujuan investigasi dapat mencakup: a. Skrining

b. Penggambaran atau pencitraan c. Karakterisasi d. Penanda tumor e. Pengklasifikasian dan monitoring f. Prognosis (Russel, 2008) B. Terapi Konvensional (Terapi Farmakologi) 1. Agen alkilasi polifungsional Menghambat sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehingga membentuk ikatan silang DNA. Mengganggu fungsi sel dengan melakukan transfer gugus alkali pada gugus amino, karboksil, sulfhidril, atau fosfat. Contoh obat: klormethin, klorambusil, siklofosfamid. 2. Antimetabolit Menghambat enzym-enzym asam nukleat efek lebih toksis pada selsel yang sedang berproliferasi, menghambat mitosis (Spindle poisons) mempengaruhi mikrotubulus yang berperan Contoh: Merkaptopurin, Azathioprin. 3. Anti Mitotika Golongan ini menghambat sintesa asam nukleat. Beberapa dalam proses mitosis.

antimetabolit memiliki struktur analog dengan molekul normal sel yang diperlukan untuk pembelahan sel, beberapa yang lain menghambat enzim yang penting untuk pembelahan. Secara umum aktifitasnya meningkat pada sel yang membelah cepat. Contoh: Vinblastin, Vinkristin. 4. Antibiotika Menghambat sintesa DNA dan RNA. Contoh: Daktinomisin, Antrasiklin. 5. Hormonal dan lain lain Obat ini memiliki selektifitas relatif untuk jaringan tumor dan toksisitasnya relatif rendah. Obat ini dapat menyerang sel tertentu secara langsung, dan dapat pula digabungkan dengan zat radioaktif atau kemoterapi tertentu. Misalnya estrogen diberikan pada kanker prostat

(guna meniadakan efek hormon pria), androgen diberikan pada kanker payudara. (Vishal, 2007) C. Fitoterapi 1. Alkaloid Tanaman a. Vinblastin Mekanisme kerjanya melibatkan penghambatan polimerisasi tubulin yang mengganggu perakitan mikrotubulus, yang merupakan bagian penting dari sitoskleton dan gelendong mitosis. Hasil dari efek penghambatan ini adalah menyebabkan pembelahan sel berhenti dan kemudian menyebabkan kematian sel (Vishal, 2007). Contoh tanaman yang mengandung senyawa ini adalah

Catharantus roseus (Heinrich, 2009). b. Vinkristin Mekanisme kerjanya dianggap identik dengan vinblastin dalam fungsi sebagai racun gelendong mitosis untuk menangkap sel sel dalam fase M dari siklus sel (Vishal, 2007). Contoh tanaman yang mengandung senyawa ini adalah

Catharantus roseus (Heinrich, 2009). c. Vinorelbin Mekanisme kerja vinorelbin dianggap identik dengan vinblastin dan vinkristin yaitu menghambat mitosis sel pada fase M melalui penghambatan polimerisasi tubulin (Vishal, 2007). Contoh tanaman yang mengandung senyawa ini adalah

Catharantus roseus (Heinrich, 2009). d. Epipodopilotoksin Aksi utama senyawa ini melibatkan penghambatan topoisomerase II, yang mengakibatkan kerusakan untaian DNA yang disebabkan oleh pembentukan kompleks ternari obat, DNA dan enzim (Vishal, 2007). Contoh tanaman yang mengandung senyawa ini adalah

Podophyllum peltatum dan Podophyllum hexandrum (Heinrich, 2009).

e. Kamptotesin Aktivitas dari kamptotesin ini menghambat aktivitas dari topoisomerase I, yang merupakan enzim utama yang bertanggung jawab untuk memotong dan menyambung untai tunggal DNA. Penghambatan enzim ini dapat merusak DNA (Vishal, 2007). Contoh tanaman yang mengandung senyawa ini adalah

Camptotheca acuminate (Heinrich, 2009). f. Taksol Fungsi senyawa ini sebagai racun gelendong mitosis melalui afinitas yang tinggi dalam mengikat mikrotubulus dengan peningkatan tubulin polimerisasi. Hasilnya adalah penghambatan mitosis dan pembelahan sel (Vishal, 2007). Contoh tanaman yang mengandung senyawa ini adalah Taxus brevifolia (Heinrich, 2009). 2. Antitumor dari Mikroba a. Antrasiklin Mekanisme kerjanya yaitu melalui interkalasi dengan DNA, mempengaruhi transkripsi dan replikasi secara langsung. Senyawa ini dapat diisolasi dari Streptomyces peucetius var caesius (Vishal, 2007). b. Mitoksantron Mekanisme kerja dari mitoksantron yaitu berikatan dengan DNA dan menyebabkan putusnya untaian DNA dengan akibat terhentinya sintesis DNA dan RNA. Senyawa ini dapat diisolasi dari Streptomyces caepitosus (Vishal, 2007). c. Daktinomisin Mekanisme kerjanya yaitu terikat pada posisi guanin pada DNA, mengalami interkalasi antara pasang basa guanin dan sitosin sehingga menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta protein. Senyawa ini dapat diisolasi dari Streptomyces parvullus (Vishal, 2007).

d. Mitomisin Menghambat sintesa DNA dengan menukar gugus alkali sehingga membentuk ikatan silang DNA. Senyawa ini dapat diisolasi dari Streptomyces caespitosus (Vishal, 2007). e. Blomisin Mekanisme kerjanya yaitu menghambat sintesis DNA, ikatanikatan DNA untuk selanjutnya terjadi pemutusan untai tunggal dan ganda. Senyawa ini dapat diisolasi dari Streptomyces venticulus (Vishal, 2007). 3. Bahan Alam Antikanker dari Laut a. Briostatin-1 Senyawa ini memodulasi aktivitas protein kinase C dan uji fase I menunjukkan aktivitas terhadap beberapa tipe tumor. Briostatin-1 selanjutnya telah diteliti secara ekstensif dalam uji klinis fase II sebagai senyawa tunggal dan data menunjukkan bahwa senyawa ini mungkin memiliki potensi jika dikombinasi dengan senyawa sitotoksik lainnya. Senyawa ini diperoleh dari organisme laut briozoa, Bugula neritina. b. Didemnin B Senyawa ini menginduksi apoptosis (kematian sel terprogram) dalam sejumlah besar lini sel. Senyawa ini diperoleh dari organisme laut yaitu Tridedemnum solidum dan Aplidium albicans (senyawa depsipeptida yang mirip dengan didemnin B). c. Dolastatin-10 Senyawa ini bekerja sebagai inhibitor penggabungan

mikrotubulus, yang kini sedang dalam uji klinis. Senyawa ini dapat diperoleh dari Dolabella auricularia, suatu moluska herbivore dari Samudera Hindia.

d. Ekteinasidin-743 Ekteinasidin-743 memiliki aktivitas yang sangat kuat terhadap sejumlah besar tipe tumor pada model hewan; senyawa ini berikatan pada lekuk kecil heliks ganda DNA dan menghambat proliferasi sel sehingga menghasilkan apoptosis sel kanker. Senyawa ini dapat ditemukan pada tunikata dari laut karibia dan mediterania yaitu Ecteinascidia turbinata. (Heinrich, 2009)

Sumber :

Barbara G. Wells, dkk. 2009. Pharmacotherapy Handbook Seventh Edition. The McGraw-Hill Companies : USA Dipiro, Joseph T dkk. 2008. Pharmacotherapy : A Phatophysiologic Approach Seventh Edition. The McGraw-Hill Companies : USA Heinrich, Michael dkk. Farmakognosi dan Fitoterapi. EGC : Jakarta Russel J Greene dan Norman D Haris. 2008. Pathology and Therapeutics for Pharmacists : A Basis for Clinical Pharmacy Practice Third Edition. Pharmaceutical Press : London Vishal. 2007. Basic & Clinical Pharmacology 10th Edition. The McGraw-Hill Companies : USA