Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PRAKTIKUM ORGANIK LANJUT ISOLASI EUGENOL DARI MINYAK CENGKEH

Disusun oleh kelompok 8 1. Bulan Tahta Alfina 2. Yoang Enggaling 3. Lailatus Saidah 4. Lalu Habiburrahman A.K.S 5. Victoria Cressendo 6. Slamet S (115090200111009) (115090200111033) (115090201111011) (115090206111001) (115090207111023) (135090209111004)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Isolasi eugenol dari minyak cengkeh telah banyak dilakukan. Dasar percobaan ini yaitu pemisahan eugenol dari komponen minyak cengkeh lain seperti kariofilena dll dengan metode ekstraksi pelarut yaitu metode pemisahan senyawa dari senyawa lain berdasarkan perbedaan kelarutan dan distribusi. Eugenol termasuk dalam keluarga alilbenzena dari senyawa fenol. Berwarna bening hingga kuning seperti minyak. Dengan titik didih 256 oC dan titik leleh -9oC. Eugenol sedikit larut dalam air, namun mudah larut dalam pelarut organik. Sumber alaminya dari minyak cengkeh. Eugenol banyak diisolasi untuk kebutuhan seperti dalam industri sebagai bahan penyusun parfum dan bahan penyedap. Metil eugenol digunakan sebagai atraktan. Kegunaan lain sebagai stabilisator dan antioksidan dalam pembuatan plastik dan karet. Sebagai penyerap UV, sebagai analgesik, biosida dan antiseptik. Karena banyaknya kegunaan dan manfaat dari eugenol,maka isolasi eugenol banyak dilakukan terutama oleh pihak industri. Pada bidang pendidikan isolasi eugenol dilakukan untuk penelitian terkait untuk kebutuhan ilmu pengetahuan. 1.2 Tujuan Tujuan percobaan ini untuk isolasi eugenol dari minyak cengkeh, menentukan tetapan fisik ( titik didih, berat jenis, uji kimia) dari eugenol serta analisis hasil eugenol dengan spektrofotometri UV-VIS, FT-IR dan GCMS. 1.3 Manfaat Setelah melakukan percobaan diharapkan praktikan mampu mengisolasi eugenol dari minyak cengkeh , mampu menentukan tetapan fisik dari eugenol dan menganalisi menggunakan alat spektrofotometri UV-VIS, FT-IR dan GCMS.

BAB II DASAR TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka Minyak daun cengkeh merupakan komoditi ekspor Indonesia yang memegang peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat produsen minyak daun cengkeh. Minyak cengkeh mengandung banyak senyawa organik,namun yang paling penting adalah eugenol. Eugenol dibutuhkan banyak industri,diantaranya industri kosmetik,farmasi,dan pestisida nabati karena senyawa ini menghasilkan aroma yang khas (Kardinan,2005). Eugenol (C10H12O2) merupakan turunan gualiakol yang mendapatkan tambahan rantai alil yang memiliki nama IUPAC yaitu 2-metoksi-4-(2-propenil)fenol. Eugenol merupakan komponen kimia utama dalam minyak daun cengkeh berkisar 79 90 % (Kardinan,2005). Minyak cengkeh dapat diisolasi dari daun (1-4%), batang (5-10%), maupun bunga (10-20%). Minyak dari cengkeh ini harganya akan mahal bila rendemennya tinggi,dalam artian eugenol yang ada 80-90%. Kelimpahan komponen-komponen dalam minyak cengkeh bergantung dari jenis, asal tanaman, metode isolasi, dan metode analisa yang digunakan. Minyak cengkeh diproses saat keadaan kering untuk teknik pengawetan setelah panen (Srivastava et al,2005). Untuk mengisolasi eugenol,digunakan NaOH 3%. Karena eugenol dan NaOH akan membentuk natrium eugenolat yang dapat larut dalam air. Bagian non eugenol diekstrak dengan eter dan penambagan asam anorganik dan menghasilkan natrium eugenol bebas. Eugenol kemudian dimurnikan dengan penguapan dan penyulingan (Guenther,1990). Pemurnian eugenol dari minyak daun cengkeh digunakan cara ekstraksi. Penggunaan ekstraksi cair-cair kontinu dapat meminimalisir masalah yang timbul seperti pengocokan berulang-ulang,terjadi kenaikan tekanan internal,dan emulsi dalam corong pemisah serta kehilangan pelarut yang lebih besar. Masalah tersebut muncul sebagai akibat penggunaan ekstraksi cair-cair tak kontinu (Vogel,1988). Spektrofotometer UV visible adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitansi,reflektasi,dan absorbansi dari cuplikan sebagai fungsi dan panjang gelombang.

Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang sinambung dan monokromatik (Hendayana,1994). Prinsip kerja spektrofotometer UV visible adalah interaksi yang terjadi antara energi yang berupa sinar monokromatis dari sumber sinar dengan materi yang berupa molekul. Besar energi yang diserap tertentu dan menyebabkan elektron tereksitasi dari ground state ke excited state yang memiliki energi yang lebih tinggi. Serapan tidak terjadi seketika pada daerah ultraviolet-visible untuk semua struktur elektronik,tetapi hanya pada sistem terkonjugasi,struktur elektronik dengan adanya ikatan dan non-bonding elektron (Svehla,1979). Spektrofotometri inframerah adalah suatu metode untuk mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang ada pada daerah panjang gelombang 0,75m-1,0m (Khopkar,2003). Prinsip dari spektrofotometer inframerah adalah ketika molekul dari suatu senyawa diberikan energi radiasi inframerah, maka molekul tersebut akan mengalami vibrasi dengan syarat energi yang diberikan terhadap molekul cukup untuk mengalami vibrasi. Sehingga sejumlah frekuensi akan diserap sedang frekuensi yang lain diteruskan atau ditransmitansikan tanpa diserap. Gambaran antara persen transmitansi lawan frekuensi akan menghasilkan spektrum inframerah (Sastrohamidjojo,2001).

2.2 Tinjauan Bahan 2.2.1 Minyak cengkeh perdagangan Minyak cengkeh berwarna kuning kecoklatan dengan indeks bias 1,528 pada suhu kamar (25oC). Memiliki massa jenis 1,0636 g/mL, titik didih 253oC, dan titik nyalanya 110oC. Minyak cengkeh larut dalam etanol 70% dengan perbandingan 1:2 (Mustikarini,2007). 2.2.2 Larutan NaOH Larutan NaOH berwujud cair, tidak berwarna, larut dalam air, dan memiliki massa molekul relatifnya 40,00 g/mL. Bersifat basa dan stabil namun kaustik terhadap mata dan kulit, memiliki titik didih 102oC, dan titik leleh -4oC sehingga sangat higroskopis (Smith,2010).

2.2.3 Larutan HCl 25% Memiliki nama lain asam muriad dan hidrogen dengan rumus molekul HCl. Senyawa ini bersifat korosif dan menyebabkan iritasi bila terkena mata dan kulit. Tidak mudah terbakar, bau menyengat, berwujud cair, dan berwarna kuning bening. Dengan massa jenis 2,13 dan titik didih pada 85oC, titik lebur sebesar -20oC. Dalam air sangat reaktif namun bersifat stabil (Aryandi,2010). 2.2.4 n-heksana Heksana memiliki rumus molekul C6H14. Dengan titik didih 69oC dan memiliki densitas 0,66 g/mL serta indeks bias 1,374. Heksana berwujud cair (Sax and Lewis,2009). 2.2.5 Larutan KmnO4 1% Memiliki warna ungu, berwujud cair, rasa sedikit manis, tidak berbau, dan dapat larut dalam air. Selain itu larut juga dalam aseton dan metanol serta terurai pada alkohol. Bersifat sebagai pengoksidasi (oksidator kuat) sehingga mudah menjadi oksidanya. Dalam penyimpanan harus dalam wadah gelap dan terhindar dari cahaya (Sax and Lewis,2009). 2.2.6 Lempung aktif Merupakan adsorben yang baik sehingga banyak digunakan dalam proses penyerapan. Adsorben yang selektif dapat menyerap komponen-komponen tertentu (Muslich,2007).

2.3 Tinjauan hasil 2.3.1 Eugenol Memiliki rumus molekul C10H12O2 yang dikelompokkan dalam keluarga alil benzena dari senyawa-senyawa fenol. Warnanya bening hingga kuning pucat yang dapat larut dalam alkohol, eter, atau kloroform. Mempunyai berat molekul 164,20 g/mL dan titik didih pada 250255oC (Bulan, 2004).

BAB III METODOLOGI

3.1 Alat Alat-alat yang digunakan dalam percobaan isolasi eugenol dari minyak cengkeh adalah kolom kromatografi, corong pisah, spektofotometer uv-vis, spektofotometer IR, GC,gelas beaker,rotary evaporator, water bath, pipet tetes, gelas ukur, neraca analitik, pelat silika, 3.2 Bahan Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam percobaan isolasi eugenol daari minyak cengkeh yaitu minyak cengkeh perdagangan,larutan NaOH (35g/150mL air), larutan HCl 25%,larutan KMnO4 1%,lempung aktif, etanol, n-heksana

3.3 Cara Kerja Minyak Cengkeh Perdagangan - Diisi dasar kolom refraktometer dengan kapas - Dimasukkan lempung aktif hingga 2/3 bagian - Divakumkan - Dialirkan sampel minyak cengkeh melalui kolom Minyak Cengkeh hasil penjernihan - Dimasukkan 30 mL ke dalam beaker glass - Dimasukkan waterbath suhu 80oC sambil ditambah 30 mL NaOH - Diambil lapisan bawah dengan corong pisah - Ditambahkan 25 mL HCl - Diambil lapisan bawah dengan corong buchner - Lapisan bawah ditambahkan n-heksan untuk diekstrak sebanyak 3x - Dipisahkan lapisan dengan corong pisah - Lapisan bawah(bening) di evaporator - Ditimbang eugenol yang didapatkan Hasil

Uji Sifat Kimia 3 Tetes Eugenol - Ditambahkan 1 mL etanol - DitambahkanKMnO4 - Hilangnya warna pereaksi indikasi ikatan rangkap
Hasil

Analisis Eugenol dengan spektrofotometetri UV-VIS Sampel Eugenol - Dimasukkan dalam kuvet - Dikalibrasi dengan pelarut - Ditentukan spektrumnya dengan UV-VIS Hasil

Analisis Eugenol dengan FT-IR Sampel Eugenol - Diambil dan ditambahkan pellet KBr - Dimasukkan pada FT-IR - Ditentukan pola spektrum dengan FT-IR Hasil

Analisis Eugenol dengan GCMS Sampel Eugenol - Diinjeksikan dengan injektor - Temperatur diatur dan dilakukan penguapan pada sampel - Ditentukan laju rambat dan waktu retensi

Hasil
6

Penentuan Rf dengan Kromatografi Lapis Tipis Eluen (etanol:n-heksana 1:4) - Di masukkan kedalam botol eluen\ - Di masukkan plat yang telah digarisi dan di tetesi sampel pada bagian tengah garis start - Ditutup botol eluen - Ditunngu eluen mencapai garis finish - Dilihat dibawah sinar ultraviolet untuk melihat spot - Dihitung nilai Rf Hasil

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Percobaan

4.1.1 Data Percobaan eugenol Hari, Tanggal Perlakuan Percobaan Selasa, 12/11/2013 a. Dasar kolom diisi dengan kapas Dan itambahkan lempung aktif hingga mencapai 2/3 kolom dan divakum a. Diperoleh padatan lempung aktif hingga 2/3 bagian kolom yang berwarna krem dan Lempung menjadi padat Pengamatan

b. Minyak

cengkeh

perdagangan

b. Diperoleh

hasil

pemurnian

dialirkan pada kolom

minyak cengkeh yang berwarna cokelat bening

c. Diambil

minyak

cengkeh c. Diperoleh 30 mL larutan

sebanyak 30 mL dengan gelas ukur dan dimasukkan ke dalam beaker glass d. Dipanaskan dan ditambah NaOH d. Campuran sedikit demi sedikit sebanyak 30 mL cokelat dengan lapisan; lapisan atas
8

larutan tua 2

berwarna

berwarna kuning

e. Ditambahkan HCl 25 mL ke e. Warna lapisan berubah menjadi dalam lapisan bawah larutan atas warna cokelat dan bawah larutan bening

f. Larutan bawah diekstraksi dengan f. Diperoleh larutan tidak berwana n-heksana sebanyak 3 kali

Selasa, 18/11/2013

a. Larutan lapisan bawah dirotary a. Tidak evaporator eugenol

menghasilkan

larutan

b. Ditimbang gelas ukur 100 mL b. Diperoleh bobot sebesar 137.02 g kosong c. Larutan lapisan atas dimasukkan c. Diperoleh larutan sebanyak 25 mL

ke dalam gelas ukur yang telah d. Diperoleh berat total 161.13 g ditimbang d. Ditimbang larutan + gelas ukur 100 mL e. Larutan di uji sifat fisiknya dan bobot larutan 25 mL

sebanyak 24.12 g e. Diperoleh massa jenis larutan eugenol 0.9647 g/mL

dengan ditimbang larutan sampel f. Diperoelh larutan berwarna hitam untuk mengukur berat jenis f. Larutan diuji sifat ketika ditambahkan KMnO4 peak-peak menunjukkan yang gugus spesifik

kimianya g. Diperoleh

dengan penambahan etanol dan KMnO4 g. Larutan di identifikasi denganspektrofotometer UV dan IR Selasa, 26/11/2013 a. Larutan metode sampel diuji

spesifik senyawa eugenol dengan uji spektrofotometer UV dan IR

dengan a. Diperoleh spot eugenol dengan yaitu RF 0.25 dan puncak pada
9

kromatografi,

kromatografi lapisan tipis (KLT) dan GC

kromatogram yang menunjukkan senyawa eugenol

4.1.2 Data Uji Identifikasi Uji sifat fisik dan kimia eugenol Sifat Fisik Bobot jenis eugenol sebanyak 0.9647 g/mL Sifat kimia Larutan berwarna hitam dan endapan berwarna cokelat ketika ditambahkan KMnO4 Uji Spektrofotometer IR Frekuensi yang muncul (cm-1) 443,60 557,39 597,89 648,04 746,40 794,40 817,76 850,55 914,20 995,20 1033,77 1122,49 1149,50 1207,36 1234,36 1269,07 1367,44 1433,01 1458,08 1514,02 1608,52 1639,38 2842,88 2937,38 3002,96 3076,25 3448,49 3510,20

Uji Spektrofotometer UV Sampel maks 281,50 nm Absorbansi 0.688

Eugenol

Uji Kromatografi Lapisan Tipis (KLT) Sampel Jarak Spot 1 cm Jarak garis start-finish 4 cm Rf 0.25

Minyak Cengkeh (eugenol) Sampel Minyak Cengkeh (eugenol) Uji GC-MS

Waktu retensi 9.846 menit

10

4.2 Analisa Hasil 4.2.1 Analisa Prosedur Percobaan kali ini bertujuan untuk mengisolasi eugenol dari minyak cengkeh dan mengetahui sifat fisik dan kimia serta analisis menggunakan spektrofotometri Uv-Vis, IR serta menggunakan GCdan KLT. Prinsip percobaannya adalah dengan pemisahan minyak cengkeh dengan pengotor-pengotornya menggunakan kolom kromatografi, kemudian kandungan eugenol dipisahkan dari komponen lainnya dalam minyak cengkeh dengan metode ekstraksi pelarut. Metode ekstraksi pelarut merupakan proses pemindahan satu atau lebih komponen dari satu fasa ke fasa yang lain berdasarkan pada perbedaan kelarutan dalam senyawa polar dan non polar. Pertama-tama dilakukan penyaringan minyak cengkeh pada kolom kromatografi yang telah terisi kapas dan lempung aktif, lempung aktif digunakan sebagai penyaring pengotor yang ada dalam minyak cengkeh perdagangan. Metode ekstraksi dilakukan dengan penambahan NaOH ke dalam minyak cengkeh, fungsinya untuk mengikat eugenol yang bersifat non polar menjadi garam Na-eugenolat yang bersifat polar sehingga nantinya eugenol dapat dipisahkan. Na-eugenolat yang diperoleh kemudian ditambahkan HCl agar eugenol dapat terpisah kembali dengan mensubtitusi ion Na+ menjadi H+ sehingga menghasilkan eugenol dan NaCl. Penggunaan larutan n-heksan bertujuan untuk melarutkan eugenol yang dimungkinkan tidak ikut terambil ketika proses ekstraksi. Larutan KMnO4 digunakan untuk identifikasi pada uji sifat kimia eugenol yaitu untuk mengetahui adanya ikatan rangkap non aromatic. Larutan etanol digunakan untuk mengetahui bagaimana kelarutan eugenol dalam pelarut polar. Untuk mengisolasi eugenol, pertama-tama minyak cengkeh perdangan dipisahkan dengan pengotornya menggunakan kolom kromatografi. Minyak cengkeh yang diperoleh kemudian diam il se anyak engkeh dipanaskan dalam mL dengan gelas ukur dan dimsukkan ke gelas kimia ater ath dengan suhu , dan ditam ahkan larutan inyak a

sebanyak 30mL sedikit demi sedikit sambil diaduk sehingga akan membentuk 2 lapisan. Lapisan atas berwarna kuning bening dan lapisan bawah yang mengandung Na-eugenolat berwarna coklat tua. Pemanasan dan pengadukan bertujuan untuk meningkatkan energi kinetik pada molekul sehingga akan lebih banyak bertumbukan dan reaksi akan lebih cepat terjadi. Diinginkan agar pembentukan Na-eugenolat maksimal.

11

Kemudian dilakukan pemishan 2 lapisan dengan menggunakan corong pisah. Lapisan bawah yang merupakan Na-eugeolat dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan kemudian ditambahkan 25mL HCl hingga pH larutan menjadi 3, pengecekan pH dilakukan dengan menggunakna kertas lakmus yang akan berubah warna menjadi merah ketika pH 3. Penambahan HCl dilakukan hingga pH 3 karena pada pH tersebut eugenol akan menarik H + secara optimal sehingga akan terbetuk 2 lapisan. Lapisan bawah merupakan NaCl yang berwarna putih dan lapisan atas merupakan eugenol yang berwarna kecoklatan. Reaksi yang terjadi adalah eksotermis sehingga akan menghasilkan panas, diinginkan kemudian dilakukan pemisahan dengan menggunakan corong pisah. Lapisan atas yang merupakan eugenol dimasukkan ke dalam botol sampel sedangkan lapisan bawah dilakukan proses ekstraksi kembali sebanyak 3 kali dengan menggunakan larutan n-heksan. Eugenol yang masih tertinggal akan larut dalam pelarut n-heksan sehingga kemudian perlu dilakukan pemisahan n-heksan dengan eugenol menggunakan rotary evaporator. Prinsip proses tersebut serupa dengan penyulingan cara destilasi, hanya saja pada rotary evaporator dilakukan pemutaran botol yang berisi sampel dengan kecepatan yang konstan agar membantu proses penguapan pelarut yang digunakan dan memisahkan sampel dalam botol tersebut. Proses kerja juga dibantu dengan suhu pada bejana yang berisi air dan didihkan pada suhu yang sesuai dengan titik didih pelarut yang digunakan. Uap yang dihasilkan diubah menjadi larutan dalam bentuk larutan yang digunakan sebagai pelarut sampel. Eugenol dalam botol sampel dan eugenol hasil pemisahan dengan n-heksan dimasukkan ke dalam gelas ukur untuk dilakukan uji fisik. Diperoleh volume eugenol dan dilakukan penimbangan untuk mengetahui massanya, sehingga dapat diketahui massa jenis eugenol hasil isolasi. Dalam uji kimia, eugenol diambil sebanyak 3 tetes ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan etanol dan larutan KMnO4. Dalam analisis dengan menggunakan spektrofotometer Uv-Vis, diambil 5mL eugenol dan diencerkan hingga menjadi 50mL pada labu ukur dengan menggunakan pelarut n-heksan. Larutan tersebut yang kemudian diukur nilai absorbansinya dengan spektrofotometer Uv-Vis. Dalam analisis dengan menggunakan spektrofotometer IR, dibuat pellet terlebih dahulu dengan menggunakan KBr yang kemudian ditetesi dengan eugenol. Sehingga akan didapatkan spectrum dari eugenol.

12

Dalam analisis menggunakan GC, yang digunakan adalah larutan eugenol yang telah diencerkan sebelumnya, sehingga akan dihasilkan waktu retensi eugenol. Sedangkan dalam analisis menggunakan KLT terlebih dahulu membuat larutan pengembang sebagai fasa geraknya yaitu larutan n-heksan dan methanol dengan perbandingan 4:1. Kemudian plat KLT yang sudah ditetsi sampel eugenol direndam hingga tanda batas atas. Plat tersebut kemudian dilihat dalam sinar UV agar hasilnya telihat. Prinsip kerja spektrofotometri UV-Vis adalah adanya interaksi antara energy dan sinar monokromatis dengan materi yang berupa molekul. Ketika sinar dilewatkan pada sampel, maka aka nada sinar yang diserap dan ada yang diteruskan. Sinar yang diserap akan menghasilkan transisi elektronik dari electron pada gugus fungsi yang menyerap. Nilai

absorbansi akan sebanding dengan nilai konsentrasinya sehingga dapat diketahui absorbansi dan konsentrasi berdasarkan grafik. Prinsip kerja spektrofotometri IR adalah ketika radiasi elektromagnetik(sinar IR) dilewatkan pada sampel, maka aka nada yang diserap dan akan ada yang diteruskan. Radiasi yang diserap akan menghasilkan transisi elektronik sehingga membuat molekul mengalami vibrasi dan rotasi. Hasil yang diperoleh adalah spectra yang dapat menunjukkan gugus fungsi berdasarkan bilangan gelmbangnya. GC (gas cromathografy) merupakan teknik yang dapat digunakan untuk analisis suatu campuran dan menguji kemurnian suatu senyawa di dalam GC terdapat fase gerak dan fase diam. Gas tersebut dilewatkan pada sampel sehingga dapat membawa komponen sampel yang berupa uap. Kemudian sampel diteruskan ke detector, sehingga dapat dianalisis dan kemudian diampilkan dalam computer dalam bentuk grafik. Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

13

4.2.2 Analisa Hasil Hasil yang diperoleh dari percobaan isolasi eugenol dari minyak cengkeh berupa larutan eugenol sebanyak 25 mL dengan penyetaraan bobot sebesar 24.12 g. Hasil tersebut diperoleh dari hasil ekstraksi pertama tanpa ekstraksi menggunakan n-heksana. Hasil ekstraksi pertama merupakan hasil yang masih dikatakan murni eugenol, karena pada ekstraksi menggunakan n-heksana tidak menghasilkan minyak atsiri eugenol. Larutan eugenol diidentifikasi dengan uji sifat fisik, kimia, dan analisa menggunakan spektrofotometer serta kromatografi. Hasil uji sifat fisik menghasilkan bobot jenis eugenol 1 mL sebesar 0.9647 g/mL. Hasil tersebut menggunakan pelarut n-heksana di dalam labu takar 10 mL. Penentuan uji ini ditujukan untuk mendapatkan bobot jenis dari senyawa eugenol. Hasil yeng diperoleh berbeda jauh dari bobot jenis eugenol murni, yaitu sebesar 1.0651 g/mL (Anny,2002). Hasil tersebut karena masih adanya pengotor atau masih belum murninya minyak cengkeh yang digunakan. Pengujian sifat kimia dilakukan dengan tujuan mengetahui gugus fungsi spesifik eugenol dengan mereaksi sampel dengan alkohol dan larutan KMnO4. Hasil yang diperoleh berupa larutan berwarna hitam dengan endapan cokelat. Endapan cokelat terbentuk menandakan adanya gugus aromatik tunggal eugenol dan juga menunjukkan kekhasan adanya senyawa eugenol dalm sampel yang dianalisa. Identifikasi senyawa eugenol dalam sampel dilakukan juga dengan

spektrofotometer UV dan IR. Spektrofotometer UV menghasilkan peak yang menunjukkan panjang gelombang maksimum eugenol dalam percobaan sebesar 281.50 nm. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan yang diujicoba oleh Widiani (2005) dengan menghasilkan peak pada panjang gelombang 283.76 nm. Untuk pembacaan panjang gelombang eugenol secara teoritis sebesar 285 nm, dengan penunjukkan panjang gelombang spesifik untuk cincin aromatik 6 sebesar 215 nm, gugus OH sebesar 35 nm, dan OCH3 sebesar 35 nm (Pavia, 2001). Hasil spektrofotometer IR menghasilkan banyak peak dari senyawa eugenol yang dianalisa. Hasil tersebut dapat diinterpretasikan dengan melihat gugus fungsi spesifik pada bilangan gelombang yang sesuai (Pavia ,2001);

Ikatan

Tipe senyawa

Frukuensi
-1

literatur Frekuensi pengamatan (cm-1) 3510.20-3448.49 3076.25 3002.96-2842.88


14

(cm ) (Pavia 2001) O-H C-H C-H Alkohol, fenol alkena alkana 3650-3600 3100-3000 3000-2850

C=C C=C C-O

alkena aromatik Alkohol, karboksilat eter, ester,

1680-1600 1600 dan 1475 asam 1300-1000

1608.52 1514.02 1269.07-1122.49

Hasil tersebut dapat dikatakan senyawa yang dianalisa dari minyak cengkeh berupa senyawa eugenol dengan gugus fungsi spesifik tersebut. Identifikasi senyawa eugenol dilakukan juga dengan metode kromatografi lapisan tipis dan instrumen GC. Kromatografi Lapisan Tipis atau KLT memiliki prinsip kerja pemisahan senyawa dengan menggunakan fase diam dan fase gerak yang disesuaikan dengan sifat kepolaran sampel yang dianalisa. KLT adalah metode analisa kromatografi yang paling cepat untuk analisanya. Lapisan tipis KLT atau fase diam yang biasa digunakan berupa silika gel yang memiliki ciri tidak mudah bereaksi dengan senyawa ataupun pereaksi yang bersifat reaktif. Hasil analisa dengan KLT menghasilkan nilai Rf senyawa eugenol 25 (Rf x 100). Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan nilai Rf menurut Harborne (1986) yaitu 31 dengan menggunakan eluen campuran n-heksana dengan kloroform perbandingan 3:2. Hasil tersebut menunjukkan positif adanya eugenol dalam sampel minyak cengkeh. Identifikasi selanjutnya menggunakan instrumen GC atau kromatografi gas dengan prinsip berdasarkan titik didih. Kerja dari alat tersebut pemisahan molekul dari suatu campuran yang diinjeksikan ke dalam injector, lalu dialirkan dengan gas pembawa dengan membawa gas hasil penguapan senyawa ke dalam kolom. Proses pemisahan terjadi di dalam kolom yang merupakan fase diam dan memisahkan komponen-komponen senyawa dari sampel cuplikan yang digunakan (Sastrohamidjojo,1985). Hasil yang diperoleh dengan analisa ini berupa penentuan waktu retensi senyawa eugenol, yaitu 9.846 menit. Hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil yang diperoleh dengan menunjukkan puncak eugenol waktu retensi 9.490 menit (Devi ,2010).

15

BAB IV PENUTUP

5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, eugenol dapat diisolasi dengan metode ekstraksi asam basa. Hasil dari isolasi eugenol dilakukan uji identifikasi dengan spektofotometri UV-Vis,spektofotometri IR, Gass Chromatography, kromatografi lapis tipis, dan uji sifat kimia. Pada uji sifat kimia diperoleh endapan hitam ketika eugenol direaksikan dengan etanol dan larutan KMnO4, sedangkan berat jenis eugenol diperoleh sebesar 0,9647 g/mL. Pada Uji identifikasi dengan spektofotometri UV-Vis diperoleh panjang gelombang maksimum sebesar 281,850nm dengan absorbansinya 0,688. Pada Spektofotometri IR diketahui eugenol mengandung gugus fungsi OH, -OCH3 sedangkan pada waktu retensi yang diukur dengan GC sebesar 9,846 menit dan hasil Rf yang diukur dengan KLT menghasilkan Rf sebesar 0,25.

5.2 Saran Sebaiknya untuk praktikan yang akan datang lebih mengerti bagaimana cara pembacaan hasil analisis yang dilakukan dengan instrumentasi.

16

DAFTAR PUSTAKA

Anny S. 2002. Pengolahan Lanjut Minyak Atsiri dan Penggunaannya Dalam Negeri. Workshop Nasional Minyak Atsiri 30 Oktober 2002, Dirjen Industri Kecil Dagang Menengah, Depperinda g. Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. Jakarta: Agro Media Pustaka. Aryandi,G.T.,2010,MSDS HCl,Lab Sains,Bandung Bulan,R.,2004,Reaksi Asetilasi Eugenol Dan Oksidasi Metil Isoeugenol,USU Digital Library,Sumatera Utara Devi R. 2010. Sintesis Metil Eugenol Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Turunan Benzofenon Yang Berfungsi Sebagai Senyawa Tabir Surya. Gradien 6 (1): 532-536 Guenther,E.,1990,Minyak Atsiri,Diterjemahkan oleh R.S. Ketaren dan R. Mulyono,UI Press,Jakarta Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: Institut Teknologi Bandung. Harvey D. 2000. Modern Analytical Chemistry. Toronto: McGraw Hill. Hendayana,S.,A. Kadarohman,A.A. Sumarna,A. Supriatna,1994,Kimia Analitik

Instrumen,IKIP Semarang Press,Semarang Kardinan,A.,2005,Tanaman Penghasil Minyak Atsiri,ArgoMedia Pustaka,Jakarta Khopkar,S.M.,2003,Konsep Kimia Analitik,UI Press,Jakarta Muslich,P.S.,R.I.R. Hayuningtyas,2007,Kinetika Adsorpsi Isotermal B-Karoten Dari Olein Kelapa Sawit Mustikarini,S.,2007,Sintesis Ionofor 5-kloro-2-4-2-trihiroksiazobenzena dan Studi Infregnasi Resin Pavia DL, Lampman GM, Kriz GS. 2001. Introduction to Spectroscopy. Washington: Thomson Learning Inc. Sastrohamidjojo H. 1985. Kromatografi. Yogyakarta: Liberty. Sastrohamidjojo,H.,2001,Spektroskopi,Liberty,Yogyakarta Sax,N.,R.Lewis,2009,Hawleys Condensed Chemical Dictionary,Van Vestrand Reinhold,New York Smith,R.D.,2010,Material Safety Data Sheets,Science Lab Inc,Texas Srivastava,A.K.,S.K. Srivastava,K.V. Syamsundar,2005,Bud and Leaf Essential Oil Composition of Syzygium aromaticum From India and Madagascar,Flavour Fragr.J.,20,page 51-53

17

Svehla,G.,1979,Textbook of Macro and Semimacro Qualitative Inorganic Analysis,Longman Group Co,New York Vogel,A.L.,1988,Elementary Practical Organic Chemistry,Longmans Green Co,New York Widiani, Trianisa Atika. 2005. Pengaruh Iradiasi Gamma Terhadap Sifat Fisika-Kimia Eugenol. Jakarta: Universitas Pancasila.

18

LAMPIRAN

Perhitungan rendemen Rendemen = Volume eugenol yang diperoleh x 100% Volume minyak cengkeh = 25 mL/ 30mL x 100% = 83,3%

Perhitungan Rf Rf = jarak noda/ jarak garis start hingga finish = 1 cm /4 cm = 0,25

19