Anda di halaman 1dari 13

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK REFERAT URTIKARIA KRONIS

Dokter Pembimbing Disusun oleh Nim

: dr.J.B.Lengkong,Sp.A :Dianita Kusma Wijaya :030.09.070

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI RUMAH SAKIT ANGKATAN LAUT MINTOHARDJO JAKARTA3 Juni 2013

DEFINISI
Urtikaria yaitu keadaan yang di tandai dengan timbulnya urtika atau edema setempat yang menyebabkan penimbulan di atas permukaan kulit yang di sertai rasa sangat Urtikaria adalah reaksi vascular di kulit akibat bermacam-macam sebab, biasanya di tandai dengan edema setempat yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit, sekitarnya di kelilingi halo (kemerahan). Sinonim : Hives, nettle rash, biduran, kaligata.

ETIOLOGI
Pada penyelidikan ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya. Di duga penyebab urtikaria bermacam-macam, diantaranya : 1. Obat Bermacam macam obat dapat menimbulkan urtika, baik secara imunologi maupun nonimunologik. Hampir semua obat sistemik menimbulkan urtikaria secara imunologi tipe I atau II. Contohnya ialah obat obat golongan penisilin, sulfonamid, analgesik, pencahar, hormon, dan uretik. Adapun obat secara nonimunologi langsung merangsang sel mas untuk melepaskan histamin, misalnya kodein, opium, dan zat kontras. Aspirin menimbulkan urtikaria karena menghambat sintesis prostaglandin dari asam arakidonat.

2. Makanan Peranan makanan ternyata lebih penting pada urtikaria yang akut, umumnya akibat reaksi imunologik. Makanan berupa protein atau berupa bahan lainnya yang dicampurkan ke dalamnya seperti zat warna, penyedap rasa, atau bahan pengawet, sering menimbulkan urtikaria alergika. Contoh makanan yang sering menimbulkan urtikaria adalah telur, ikan, kacang, udang, coklat, tomat, arbey, baby, keju, bawang, dan semangka ; bahan yang dicampurkan seperti asam nitrat, asam benzoat, ragi, salisilat, dan panisilin. CHAM-PION 1969 melaporkan 2% urtikaria kronik disebabkan sensitisasi terhadap makanan. 3. Gigitan/sengatan serangga Gigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan urtikaria setempat, agaknya hal ini menyebab diperantai oleh IgE (Tipe I) dan tipe seluler (tipe IV). Tetapi venom dan toksin bakteri, biasanya dapat pula mengaktifkan komplemen. Nyamuk, kepinding dan serangga lainnya menimbulkan urtika bentuk papular di sekitar gigitan, biasanya sembh dengan sendirinya setelah beberapa hari, minggu, atau bulan. 4. Bahan fotosensitizer Bahan semacam ini, gleseofulvin, fenotiazin, sulfonamin, bahan kosmetik, dan sabun germisin sering menimbulkan urtikaria. 5. Inhalan Inhalan berupa serbuk sari bunga (polen), spora jamur, debu, bulu binatang, dan aerosol, umumnya lebih mudah menimbulkan urtikaria alergi (Tipe I). Reaksi ini sering di jumpai pada penderita atofi dan disertai gangguan nafas. 6. Kontaktan Kontaktan yang sering menimbulkan urtikaria ialah kutu binatang, serbuk tekstil, air liur binatang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, bahan kimia, misalnya insect refelent (penangkis serangga) dan bahan kosmetik. Keadaan ini disebabkan bahan tersebut menembus kulit dan menimbulkan urtikaria.

urtikaria akibat sefalosporin pada seorang apoteker, hal yang jarang terjadi ; karena kontak dengan antibiotik umumnya menimbulkan dermatitis kontak. Urtikaria akibat kontak dengan klorida kobal, indikator warna pada tes provokasi keringat, telah dilaporkan oleh SMITH (1975). 7. Trauma fisik Trauma fisik dapat diakibatkan oleh faktor dingin, yakni berenang atau memegang benda dingin ; faktor panas, misalnya sinar matahari, sinar UV , radiasi, dan panas pembakaran ; faktor tekanan, yaitu goresan, pakain ketat, ikat pinggang, air yang menetes atau semprotan air, vibrasi, dan tekanan berulang-ulang contohnya pijatan, keringat, pekerjaan, demam, dan emosi menyebabkan urtikaria fisik, baik secara imunologik maupun non imunologik. Klinis biasanya terjadi ditempat yang mudah terkena trauma. Dapat timbul urtikaria setelah goresan dengan benda tumpul beberapa menit sampai beberapa jam kemudian. Fenomena ini disebut dermografisme atau fenomena darier. 8. Infeksi dan infestasi Bermacam-macam infeksi dapat menimbulkan urtikaria, misalnya infeksi bakteri, virus, jamur, maupun investasi parasit. Infeksi oleh bakteri, contohnya pada infeksi tonsil, infeksi gigi dan sinusitis. Masih merupakan pertanyaan, apakah urtikaria timbul karena toksik bakteri atau oleh sensitisasi. Infeksi visrus hepatitis, mononukleosis, dan infeksi virus Coxsackie pernah dilaporkan sebagai faktor penyebab. Karena itu pada urtikaria yang idiopatik perlu dipikirkan kemungkinan infeksi virus subklinis. Investasi cacing pita, cacing tambang, cacing gelang, juga Schistosoma atau Echinococcus dapat menyebabkan urtikaria. 9. Psikis Tekanan jiwa dapat memacu sel mas atau langsung menyebabkan peningkatan permeabilitas dan vasodilatasi kapiler. Ternyata hampir 11,5% penderita urtikari menunjukkan gangguan psikis. Penyelidikan memperlihatkan bahwa hipnosis dapat menghambat eritema dan urtikaria. Pada percobaan induksi psikis, ternyata suhu kulit dan ambang rangsang eritema meningkat.

10. Genetik Faktor genetik ternyata berperan pentik pada urtikaria dan angioedema, menunjukkan penurunan autosoma dominan. Diantaranya ialah angioneurotik edema herediter, familial cold urtikaria, familial lokalized heat urtikaria, vibratory angioedema, heredo-familial symdrom of urtikaria deafness and amyloidosis, dan erythropoietic protoporphyria. 11. Penyakit sistemik Beberapa penyakit kolagen dan keganasan dapat menimbulkan urtikaria, reaksi lebih sering disebabkan reaksi kompleks antigen-antibody. Penyakit vesiko-bulosa, misalnya pemfigus dan dermatitis herpetiformis duhring sering menimbulkan urtikaria. Sejumlah 7-9% penderita lupus eritematosus sitemik dapat mengalami urtikaria. Beberapa penyakit sistemik yang sering disertai urtikaria antara lain limfoma, hifertiroid, hepatitis, urtikaria pigmentosa, artritis pada demam rematik, dan artritis reumatoid zuvenilis.

KLASIFIKASI
1. berdasarkan lamanya serangan berlangsung a. urtikaria akut serangan berlangsung kurang dari 6 minggu sering terjadi pada anak muda, umumnya laki-laki lebih sering daripada perempuan b. urtikaria kronik serangan berlangsung lebih dari 6 minggu sering pada wanita usia pertengahan

2. Berdasarkan morfologi klinis a. urtikaria popular berbentuk papu b. urtikaria gutata besarnya sebesar tetesan air c. urtikaria girata ukuranya besar-besar

3. berdasarkan penyebab urtikaria dan mekanisme terjadinya a. Urtikaria atas dasar reraksi imunologik i. Bergantung pada IgE (reaksi alergi tipe I) Pada Atofi Antigen spesifik (polen, obat, venom)

b. Ikut sertanya komplemen Pada reaksi sitotoksik (reaksi alergi tipe II) Pada reaksi kompleks imun (reaksi alergi tipe III) Defisiensi tipe I esterase inhibitor (genetik)

c. Reaksi alergi tipe IV (urtikaria kontak) d. Urtikaria atas dasar reaksi non imunologik angsung memacu sel mas sehingga terjadi pelepasan radiator (misalnya obat golongan opiat dan bahan kontras) Bahan yang menyebabkan perubahan metabolisme asam

arakidonat (aspirin, obat anti-inflamasi non-steroid golongan azodyes) Trauma fisik, misalnya dermo grafisme, rangsangan dingin, panas atau sinar dan bahan kolinergik e. Urtikaria yang tidak jelas penyebab dan mekanismenya, digolongkan idiopatik

BENTUK-BENTUK KLINIS URTIKARIA 1. URTIKARIA AKUT Urtikaria akut hanya berlansung selama beberapa jam atau beberapa hari. yang sering terjadi penyebabnya adalah: Adanya kontak dengan tumbuhan ( misalnya jelatang ), bulu binatang/ makanan. Akibat pencernaan makanan, terutama kacang-kacangan, kerangan-kerangan dan strouberi. Akibat memakan obat misalnya aspirin dan penisilin.

2. URTIKARIA KRONIS Biasanya berlangsung beberapa minggu, beberapa bulan, atau beberapa tahun. pada bentuk urtikaria ini jarang didapatkan adanya faktor penyebab tunggal. 3. URTIKARIA PIGMENTOSA Yaitu suatu erupsi pada kulit berupa hiperpigmentasi yang berlangsung sementara, kadang-kadang disertai pembengkakan dan rasa gatal. 4. URTIKARIA SISTEMIK ( PRURIGO SISTEMIK ) Adalah suatu bentuk prurigo yang sering kali terjadi pada bayi kelainan khas berupa urtikaria popular yaitu urtikaria yang berbentuk popular-popular yang berwarna kemerahan. Berdasarkan penyebabnya, urtikaria dapat dibedakan menjadi: Heat rash yaitu urtikaria yang disebabkan panas Urtikaria idiopatik yaitu urtikaria yang belum jelas penyebabnya atau sulit dideteksi Cold urtikaria adalah urtikaria yang disebabkan oleh rangsangan dingin. Yang timbul setelah beberapa menit atau beberapa jam setelah terpapar hawa dingin/ air dingin. Dapat ringan/setempat, sampai berat (disertai hipotensi, hilangnya kesadaran dan sesak nafas) Dermografik urtikaria (urtikaria fisik) bila timbul akibat tekanan berbentuk linier sesuai dengan bagian tekanan/garukan/goresan. Tes dermografisme positif (digarus,digores akan keluar urtikaria). Urtikaria alergika, bila karena alergi makanan Aquagenic urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan oleh rangsangan air Solar urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan sengatan sinar matahari Vaskulitik urtikaria Cholirgening urtikaria yaitu urtikaria yang disebabkan panas, latihan berat dan stress, bentuknya kecil-kecil tersebar dan sangat gatal Urtikaria kronis, bila tiap hari terkena urtikaria selama 6 minggu berturut-turut

PATOFISIOLOGI
Etilogi (obat, makanan, serangga, dll sebagai alergen Berikatan dengan IgE Menempel pada sel mast

Mediator peradangan (histamine, triptase, kimase, dan sitokin)

dilatasi pembuluh darah di bawah kulit

peningkatan permeabilitas pembuluh darah

eritema

Cairan keluar

pembuluh darah jaringan subkutan

merangsang ujung saraf perifer kulit

Edema lokal

edema yang terjadi tidak berbatas tegas dan tidak gatal (angioedema)

gatal

GEJALA KLINIK
Anamnesis Sensasi tidak nyaman ketika panas Rasa gatal ekstrim (pruritus) selama reaksi hives. Sensasi gatal yang menusuk yang dapat dirasakan sedikit sakit atau tidak nyaman. Sensasi terbakar pada kulit. Flushing of the skin (hangat/memerah)

Pinpoint hives (berukuran seperti ujung pena, berwarna merah) Small wheals atau raised welts atau edema setempat General anhidrosis atau menurunnya fungsi keringat Serangan berat sering disertai dengan gangguan sistemik seperti nyeri perut, diare, muntah-muntah dan nyeri kepala; dijumpai pada umur 15-25 tahun

Pemeriksaan Fisik Klinis tampak bentol (plaques edemateus) multipel yang berbatas tegas, berwarna merah dan gatal. Bentol dapat pula berwarna putih di tengah yang dikelilingi warna merah. Warna merah bila ditekan akan memutih. Ukuran tiap lesi bervariasi dari diameter beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter, berbentuk sirkular atau serpiginosa (merambat).Tiap lesi akan menghilang setelah 1 sampai 48 jam, tetapi dapat timbul lesi baru. Pada dermografisme lesi sering berbentuk linear, pada urtikaria solar lesi terdapat pada bagian tubuh yang terbuka. Pada urtikaria dingin dan panas lesi akan terlihat pada daerah yang terkena dingin atau panas. Secara klinis urtikaria kadang-kadang disertai angioedema yaitu pembengkakan difus yang tidak gatal dan tidak pitting dengan predileksi di muka, daerah periorbita dan perioral, kadang-kadang di genitalia. Kadang-kadang pembengkakan dapat juga terjadi di faring atau laring sehingga dapat mengancam jiwa.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemerikasaan darah, urin, dan feses rutin untuk menilai ada tidaknya infeksi yang tersembunyi atau kelainan pada alat dalam. Cryoglobulin dan cold hemolysin perlu diperiksa pada dugaan urtikaria dingin.

PEMERIKSAAN PENUNJANG LAIN


1. Pemerikasaan gigi, telinga-hidung-tenggorok, serta usapan vagina perlu untuk menyingkirkan adanya infeksi fokal. 2. Pemerikasaan kadar IgE, eosinofil dan komplemen. 3. Tes kulit, meskipun terbatas kegunaannya dapat dipergunakan untuk membantu diagnosis. Uji gores (scratch test) dan uji tusuk (prick test), serta tes intradermal dapat dipergunakan untuk mencari alergen inhalan, makanan dermatofit dan kandida. 4. Tes eleminasi makanan dengan cara menghentikan semua makanan yang dicurigai untuk beberapa waktu, lalu mencobanya kembali satu demi satu. 5. Pemeriksaan histopatologis, walaupun tidak selalu diperlukan, dapat membantu diagnosis. Biasanya terdapat kelainan berupa pelebaran kapiler di papilla dermis, geligi epidermis mendatar, dan serat kolagen membengkak. 6. Pada tingkat permulaan tidak tampak infiltrasi selular dan pada tingkat lanjut terdapat infiltrasi leukosit, terutama di sekitar pembuluh darah. 7. Pada urtikaria fisik akibat sinar dapat dilakukan tes foto tempel. 8. Suntikan mecholyl intradermal dapat digunakan pada diagnosis urtikaria kolinergik. 9. Tes dengan es (ice cube test) 10. Tes dengan air hangat

DIAGNOSIS
Diagnosis dapat ditegakkan dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan klinis yang cermat serta melakukan observasi sederhana sampai mengamati reaksi, agaknya dapat ditegakkan diagnosis urtikaria dan penyebabnya. Tes yang kadang-kadang dipakai (biasanya hanya untuk tujuan penelitian) meliputi injeksi asetilkolin ke dalam tubuh, misalnya suntikan mecholyl intradermal. Sebuah injeksi intradermal dari salah satu 0.05 mL dari 0.002% carbamylcholine chloride (carbachol) atau 0.05 mL dari 0.02% (0.01 mg) methacholine dapat digunakan menghasilkan sesuatu yang melebar mengandung karakteristik edema setempat. Akibat ini terjadi pada sekitar 51% pasien. Bagaimanapun, tidak semua orang dengan urtikaria kolinergik akan menunjukkan reaksi terhadap prosedur tes spesifik ini. Kejadian ini juga terjadi pada seseorang tanpa kondisi ini, tetapi biasanya kecil dan tanpa edema.

DIAGNOSIS BANDING
1. Angioedema herediter Kelainan ini merupakan kelainan yang jarang tidak disertai urtikaria. Pada kelainan ini terdapat edema subkutan atau submukosa periodik disertai rasa sakit dan terkadang disertai edema laring. Edema biasanya mengenai ekstremitas dan mukosa

gastrointestinalis yang sembuh setelah 1 sampai 4 hari. Pada keluarga terdapat riwayat penyakit yang serupa. Diagnosis ditegakkan dengan menemukan kadar komplemen C4 dan C2 yang menurun dan tidak adanya inhibitor C1-esterase dalam serum.

2. Sengatan serangga multiple Pada sengatan serangga akan terlihat titik di tengah bentol, yang merupakan bekas sengatan serangga.

KOMPLIKASI
Lesi-lesi urtikaria bisa sembuh tanpa komplikasi. Namun pasien dengan gatal yang hebat bisa menyebabkan purpura dan excoriasi yang bisa menjadi infeksi sekunder. Penggunaan antihistamin bisa menyebabkan somnolens dan bibir kering. Pasien dengan keadaan penyakit yang berat bisa mempengaruhi kualitas hidup

PENATALAKSANAAN
Non medikamentosa Pengobatan yang paling utama adalah ditujukan pada penghindaran faktor penyebab dan pengobatan simtomatik. Bila pada penderita terjadi gangguan saluran cerna (seperti gejala yang tersebut di atas) maka sangat mungkin alergi makanan ikut berperanan memperberat gangguan urtikaria yang ada. Untuk menanganinya lakukan eliminasi makanan beresiko (lihat topik mencari penyebab alergi makanan) dalam waktu 3 minggu secara ketat dan dilakukan evaluasi Medikamentosa Kombinasi antihistamin penghambat H1 dan antihistamin penghambat H2. antihistamin penghambat H1 non sedasi dan sedasi (pada malam hari) atau antihistamin penghambat H1 dengan antidepresan trisiklik. Pada kasus berat dapat diberikan antihistamin penghambat H1 dengan kortikosteroid jangka pendek.

PROGNOSIS
Ad vitam Ad sanationam Ad fungtionam : bonam :dubia ad malam :bonam

PENCEGAHAN
Pencegahan dilakukan dengan cara menghindari papaan allergen contohnya menghindari

paparan serangga, lalat dan tungau. Hewan peliharaan divaksinasi harus benar agar tidak alergi kontrak dari mereka. Ruang tamu harus bebas dari debu dan polusi udara. Vitamin C harus dikonsumsi secara teratur untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Diet seimbang diperlukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta latihan rutin yang dianjurkan untuk menjaga tubuh dalam kondisi sehat. Beberapa orang mengalami reaksi alergi pada konsumsi makanan tertentu, mereka harus diidentifikasi dengan benar dan dihilangkan dari diet untuk mencegah terjadinya urticaria.