Anda di halaman 1dari 42

HUMANIORA DALAM ILMU KEDOKTERAN

MELDAWATI

Area Kompetensi
Komunikasi efektif Mawas diri dan Pengembangan Diri Etika, Moral, Medikolegal dan profesionalisme serta Keselamatan Pasien

Sejarah Humaniora
Istilah humaniora yang berasal dari program pendidikan yang dikembangkan Cicero, yang disebutnya humanitas sebagai faktor penting pendidikan untuk menjadi orator yang ideal.

Penggunaan istilah humanitas oleh Cicero mengarah pada pertanyaan tentang makna dalam cara lain bahwasanya pengertian umum humanitas berarti kualitas, perasaan, dan peningkatan martabat kemanusiaan dan lebih berfungsi normatif daripada deskriptif (Sastrapratedja, 1998: 1).

Gellius mengidentikkan humanitas dengan konsep Yunani paideia , yaitu pendidikan (humaniora) yang ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk menjadi manusia dan warga negara bebas. Pada zaman Romawi gagasan tersebut dikembangkan menjadi program pendidikan dasariah

Pengertian
Humaniora, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Balai Pustaka: 1988), adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya

Humaniora suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala hal yang diciptakan atau menjadi perhatian manusia baik itu ilmu filsafat, hukum, sejarah, bahasa, teologi, sastra, seni dan lain sebagainya

Menurut Martiatmodjo : Ilmu Budaya Dasar = Basic Humanities atau pendidikan humaniora. Humaniora ini menyajikan bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi. Martiatmodjo menegaskan bahwa perlunya humaniora bagi pendidik berarti menempatkan manusia di tengah-tengah proses pendidikan.

Pengertian
FILSAFAT Teologia
ILMU HUKUM

Psikologi

HUMANIORA

Sejarah

SENI

BAHASA

Sastra

Humanisme
Aliran pemahaman yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan/ mencita-citakan pergaulan yang lebih baik sikap/ tingkah laku mengenai perhatian manusia dengan menekankan pada perasaan serta martabat individu

Dimana letak peran ilmu humaniora ?

Humaniora merupakan studi yang memusatkan perhatiannya pada kehidupan manusia, menekankan unsur kreativitas, kebaharuan, orisinalitas, keunikan. Humaniora berusaha mencari makna dan nilai, sehingga bersifat normatif. Dalam bidang humaniora rasionalitas tidak hanya dipahami sebagai pemikiran tentang suatu objek atas dasar dalil-dalil akal, tetapi juga hal-hal yang bersifat imajinatif

Humanities sebagai sekelompok ilmu pengetahuan mencakup: bahasa, baik bahasa modern maupun klasik: linguistik: kesusastraan: sejarah, kritisisme, teori dan praktek seni, dan semua aspek ilmu-ilmu sosial yang memiliki isi humanistic dan menggunakan metode humanistic.

Karakteristik Humaniora
J. Drost (2002: 2) dalam artikelnya di KOMPAS, Humaniora, mengatakan bahwa bidang humaniora yang menjadikan manusia (humanus) lebih manusiawi (humanior) itu, pada mulanya adalah trivium yang terdiri atas: - gramatika - logika - retorika

Gramatika (tata bahasa) bermaksud membentuk manusia terdidik yang menguasai sarana komunikasi secara baik. Logika bertujuan untuk membentuk manusia terdidik agar dapat menyampaikan sesuatu sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti dan masuk akal.

Retorika bertujuan untuk membentuk manusia terdidik agar mampu merasakan perasaan dan kebutuhan pendengar, dan mampu menyesuaikan diri dan uraian dengan perasaan dan kebutuhan itu.

Kemudian dari Trivium berkembang ke quadrivium yaitu: - geometri - aritmatika, - musik (teori akustik) - astronomi.

Drost menegaskan bahwa seorang mahasiswa harus memiliki kematangan baik intelektual maupun emosional, agar dapat menempuh studi akademis. Teras kematangan itu adalah kemampuan bernalar dan bertutur yang telah terbentuk.

Mahasiswa yang siap mulai studi di perguruan tinggi adalah dia yang dapat mengendalikan nalar, yaitu dia yang kritis. Seorang yang kritis adalah seorang yang, antara lain, mampu membedakan macam-macam pengertian dan konsep, sanggup menilai kesimpulan kesimpulan tanpa terbawa perasaan.

RELEVANSI HUMANIORA DENGAN PERKEMBANGAN IPTEK

M.T.Zen (2000, 97) Abad ke-21 ini dunia dikuasai 3 bidang teknologi, yaitu 1.teknologi informasi 2.bio-teknologi 3.teknologi Nano.

Teknologi informasi terkait dengan kemajuan di bidang pertelevisian, internet, handphone yang memudahkan penyampaian dan penerimaan informasi dalam akselerasi yang luar biasa. Bioteknologi terkait dengan pemanfaatan di bidang peternakan, pertanian, kedokteran dan teknologi kloning yang memanipulasi gen.

Teknologi Nano ialah memanipulasi struktur molekul dengan memanipulasi atom-atom menjadi molekul-molekul. Teknologi Nano menjadikan ilmuwan mampu mengatur kedudukan atomatom yang membentuk molekulmolekul.

Relevansinya mempelajari humaniora bagi seorang dokter? Dokter adalah salah satu profesi yang berhubungan langsung dengan manusia sebagai lawan interaksinya. Karena itu seorang dokter harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial

Apakah Anda pernah berpikir, ingin jadi dokter seperti apakah Anda kelak? Sudahkah Anda memiliki bayangan dokter ideal itu seperti apa? Mungkin, Anda merasa tertarik melihat dokter yang mempunyai kedudukan yang terhormat dalam masyarakat. Atau mungkin juga Anda takjub melihat banyak dokter yang sejahtera dari segi finansial, segala apa yang menjadi standar kemewahan melekat pada mereka. Atau Anda bangga melihat dokter mampu mempengaruhi jalan hidup seseorang, menyelamatkan nyawa orang-orang di dekat Anda, memberi sentuhan keajaiban dalam takdir kehidupan orang lain.

Pengetahuan humaniora ini berusaha memberi gambaran pada kita bagaimana menjadi seorang dokter yang sejatinya ideal, dokter yang manusiawi, yang berperilaku/berakhlak baik, berkepribadian profesional. Untuk mendapatkan hasil di hilir yang baik, tentu kondisi di hulu sudah harus dipersiapkan sebelumnya. Karena itu disajikan pengetahuan mengenai humaniora yang diharapkan dapat memberikan kontribusi untuk dapat memahami lebih baik tentang makna kehidupan Anda sebagai seorang dokter.

Mungkin saja terdapat anggapan bahwa masalah perilaku/akhlak baik dan sifat belas kasih merupakan bawaan atau sifat lahiriah seseorang, bahkan ia adalah watak alami yang melekat pada seseorang sejak dia dilahirkan, dan berkembang sesuai pengaruh lingkungannya. Menganggap sifat belas kasih atau compassion bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari, tetapi suatu materi yang akan berpindah secara alami melalui proses yang panjang- dari satu manusia ke manusia lain. Tapi bila kita kembali kepada jati diri sebagai manusia yang penuh dengan kekurangan, maka kita tahu bahwa banyak hal yang harus kita pelajari, cermati, hayati dan amalkan dalam hidup ini, apalagi bila dikaitkan dengan jati diri kita sebagai seorang KRISTIANI. Dalam agama kristen diajarkan mengenai kasih secara lengkap dan terperinci.

Bedanya, konsep perbuatan kasih adalah konsep akhirat, jadi berimplikasi tidak hanya di dunia ini saja. Sedangkan, konsep humaniora yang akan kita bahas adalah konsep dunia, khususnya dunia medis jadi implikasinya jelas di dunia medis juga. Namun, sebagai seorang kristen kita tentu percaya bahwa semua aspek kehidupan kita di dunia ini pada akhirnya akan berdampak juga di akhirat kelak.

Aplikasi humaniora di dalam ilmu kedokteran


Praktek kedokteran
Pelayanan kesehatan Pendidikan kedokteran

Penelitian

Berbicara tentang humaniora, berarti berbicara tentang beberapa aspek yang memiliki pengertian yang saling berkaitan, di antaranya mengenai humanisme, etika, kebudayaan dan perilaku. Humaniora memberikan wadah bagi lahirnya makna intrinsik nilai-nilai humanisme. Humanisme sendiri adalah aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan/mencitacitakan pergaulan yang lebih baik. Ada juga yang berpendapat humanisme sebagai sikap/tingkah laku mengenai perhatian manusia dengan menekankan pada rasa belas kasih serta martabat individu.

Pengertian etika yang dipahami lebih luas di kalangan medis selama ini selalu menjadi jargon seorang dokter. Etika kedokteran dalam kamus kedokteran Stedman dirumuskan sebagai principles of correct professional conduct with regard to the rights of the physician himself, his patients, and his fellow practitioners. Dengan kata lain etika dalam kedokteran merupakan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku profesional yang tepat berkaitan dengan hak dirinya sebagai dokter, hak pasiennya, dan hak teman sejawatnya

Menurut Profesor U Mia Tu dari Myanmar dalam orasinya tentang humanisme dan etika dalam berbagai bidang kedokteran, terminologi humanisme awalnya dikaitkan dengan pergeseran filosofi dan budaya selama masa renaisans Eropa. Belakangan, maknanya bergeser menjadi sebuah sikap yang berkenaan dengan perhatian manusia pada sesamanya dengan menekankan pada compassion -belas kasihan- dan martabat individual.

Secara tidak langsung, humanisme menyatakan suatu penghargaan kepada pasien sebagai seorang individu; menunjukkan belas kasih dan mengerti akan rasa takut dan khawatir dalam diri pasiennya; menyatakan suatu komunikasi yang berarti kepada pasien sebagai seseorang dan bukannya sebagai sebuah penyakit. Lebih lanjut dia mengatakan, humanisme dalam kedokteran lebih dari sebuah etika. Lebih dari sekedar menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan fisik dan mental pasien karena kelalaian diri. Lebih dari yang sekedar tertulis dalam sumpah Hippocrates.

Dasar pengaplikasian (dokter bernama Assi Bal )


Adanya kekhawatiran akibat: Pemisahan antara jasad dan jiwa Pemisahan antara pencegahan dan pengobatan Penghambaan diri terhadap teknologi modern Berlebihan dalam mengejar spesialisasi Perbedaan dalam tingkat pelayanan kesehatan

Humanisme dan etika dalam praktek kedokteran


Saat hal yg dikaitkan dengan profesi dokter, kita diyakinkan bahwa masalah sosialnya berakar pada sikap humanisme, belas kasih terhadap penderitaan pasien, dan keinginan untuk memberikan pelayanan kesehatan. Dokter praktek dan spesialis saat ini memiliki hubungan dokter-pasien one-to-one yang unik dan sangat pribadi, melibatkan kepatuhan, ketergantungan, dan kepercayaan yang utuh dari pasien terhadap otoritas, pengetahuan dan keterampilan dokternya. Dengan otoritas tersebut terciptalah unsur kewajiban sosial untuk melayani dengan belas kasih kepada mereka yang percaya dan bergantung kepada kita.

Tetapi martabat dan status profesi dokter dulunya tidak setinggi seperti yang kita lihat sekarang. Misalnya pada jaman India kuno, hanya dokter kerajaan yang memiliki status yang tinggi. Dokter pada jaman itu dianggap tidak berdarah murni dan tidak pernah diundang pada acara-acara sesajian untuk dewa-dewa. Kasta Brahmana tidak seharusnya menerima makanan dari seorang dokter karena dianggap najis/kotor (Rao & Radhalaksmi,1960). Pada masa kekaisaran Roma, dokter adalah pekerja berat, orang liar, orang asing, dan pengobatan dianggap sebagai pekerjaan rendah. Di Inggris abad ke-18, dokter bedah dan ahli obatobatan dianggap seperti pedagang dan termasuk kelas pinggiran. Bahkan sekurangnya di abad 19, dokter di Perancis sangat miskin dan statusnya juga rendah (Starr, 1949).

Pola praktek dokter pada awal abad delapanbelas bersifat biaya pelayanan tunggal yaitu seorang dokter memberikan pelayanan medis dan untuk itu dia dibayar, baik berupa uang maupun berupa hasil-hasil pertanian seperti yang masih terdapat di negara-negara berkembang di beberapa daerah dan desa yang miskin. Ini adalah masa dokter pedesaan atau dokter kuno atau dokter keluarga yang mengetahui dengan baik keluarga tersebut, berkeliling ke rumah-rumah, dan bertindak sebagai teman dan penuntun yang dapat dipercaya, di samping merawat orang-orang sakit dalam keluarga itu. Perkembangan kota-kota besar dan rumah-rumah sakit di abad 18 dan 19 membuat dokter-dokter desa perlahan menghilang dan semakin banyak dokter menetap di daerah kota untuk berpraktek. Hilangnya dokter pedesaan atau dokter keluarga memulai timbulnya pelayanan dehumanisasi di rumah-rumah sakit.

Dalam dekade terakhir abad 20, pola praktek di negara-negara industri berubah sama sekali dengan ekonomi berorientasi pasar. Dari praktek mandiri, sekarang kebanyakan dokter praktek berkelompok di bawah persetujuan formal penggunaan fasilitas dan peralatan medis bersama-sama dan pendapatan didistrubusikan sesuai perjanjian awal dengan melibatkan personalia kesehatan. Kalangan bisnis melihat pasar besar dalam lapangan kesehatan, hasilnya adalah meningkatnya komersialisasi layanan medis dan bertumbuhnya industri medis yang kompleks. Kedokteran tidak lagi merupakan industri rakyat seperti saat dokter berpraktek mandiri. Manager di bidang kesehatan ini ekonom dan CEO (pejabat eksekutif), yang semakin sering memutuskan jenis praktek pelayanan dan jenis organisasi dibandingkan para dokter.

Harga-harga obat melambung dan penggunaan peralatan medis yang canggih berkonsekuensi dengan pembayaran yang tinggi. Telah dikatakan, semakin dokter bergantung pada teknologi semata, semakin mereka kehilangan rasa kemanusiaannya, yang berujung pada pelayanan dehumanisasi. Hal tersebut ditambah dengan ketakutan akan tuntutan malapraktek, dokter membayar asuransi untuk dirinya, yang tentu berdampak pada pasien sehingga biaya layanan kesehatan semakin tinggi. Perubahan ini mewarnai sikap dan tingkah laku profesi yang menekankan pada aspek finansial dan teknologi dalam terapi dan merusak panggilan altruistik dan humanistik sang dokter.

Lagi menurut Profesor Tu, seorang dokter di Myanmar menelaah sebuah film bergenre kedokteran, berjudul Patch Adam. Dia tertarik pada kritik sang pemain, yang berperan sebagai dr. Hunter Adam: Anda bahkan tidak melihat kepada pasien saat Anda berbicara pada mereka dan saat dia berbicara melawan Badan Medis: Kematian bukanlah musuh, saudara-saudara, tapi sebuah kelalaian. Anda menangani penyakit, hasilnya kalah atau menang. Anda menangani pasien, anda akan menang bagaimanapun hasil akhirnya.

Dokter seperti apa yang ideal menurut anda?

Sendi-sendi yang harus dipijak Dokter Muslim


IMAN AKAL
ILMU PENGETAHUAN

Rujukan
Mya Tu, U: Humanism and Ethics in Medical Practice, Health Service, Medical Education and Medical Research, dalam The First Myanmar Academy of Medical Science Oration, 2001 Prasetya, J.T.,: Ilmu Budaya Dasar, Rineka Cipta, Jakarta, 1998Assi Bal, Z.A.: Dokterdokter, Bagaimana Akhlakmu, Gema Insani Press, Jakarta, 1992 Samil, RS. Etika Kedokteran Indonesia. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohrdjo. Jakarta. 2001