Anda di halaman 1dari 7

Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 3 , No.

1 2007

57
TINJAUAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LEACHATE DI TEMPAT
PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH PERKOTAAN

Oleh :
Wahyu Purwanta

Pusat Teknologi Lingkungan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknolgi (BPPT)

Abstract

Leachate is defined as a liquid, which flows through waste and extracts suspended
material or their suspension. In most landfill, leachate is consist of liquids that go into the
landfill, which originated from outside the landfill, such as surface drainage, rain water,
ground water, water from spring water and other liquids which produced from waste
decomposition. The existence of pollutant material or minerals in water body that is
originated from leachate will propose the growth of microorganisms, which are harmful for
human health and reduce the aesthetic.
Leachate handling could be done with several methods, such as: utilization of hydrolic
characteristics by ground water adjustment, thus the leachate flows would not go into the
direction of ground water. Another way of leachate handling are: landfill isolation, in order
to prevent the inflow of external water and the outflow of leachate water; site selection of
an area, which has a good capability of pollutant neutralization; leachate recirculation to
be redirected to the solid waste pile; flowing the leachate to domestic waste treatment
system and leachate processing with a certain system.
Some processing techniques that are often to be used are: physical-chemical processing,
such as coagulation-flocculation-settling; aerobic processing (activated sludge,
stabilization pond or aeration pond); anaerobic processing, such as stabilization pond and
utilization of sorption characteristics, such as active carbon. The aerobic stabilization
pond system is suitable for Indonesian condition due to the availability of sunlight, simple,
relatively cheap and their capability of BOD reduction above of 90% and COD reduction
of above 80%.

Kata Kunci : Leachate, TPA sampah, teknologi pengolahan.

1. PENDAHULUAN

Sampah padat di TPA tidak hanya
tersusun ol eh komponen padatan, tetapi juga
mengandung cairan sampah yang didalamnya
terkandung zat-zat kimia, baik organik maupun
anorganik serta sejumlah bakteri pathogen, yang
disebut sebagai leachate, (Damanhuri 1993).
Leachate didefinisikan sebagai cairan
yang menapis melalui limbah dan mengekstrak
material terlarut atau tersuspensinya. Di
kebanyakan TPA, leachate terdiri atas cairan
yang masuk TPA dari sumber-sumber luar,
seperti drainase permukaan, air hujan, air tanah,
dan air dari mata air serta cairan yang diproduksi
dari dekomposisi limbah. Dalam definisi lain,
leachete adalah sebagai limbah cair yang
terbentuk akibat masuknya air eksternal kedalam
timbunan sampah, melarutkan dan membilas
materi -materi terlarut termasuk senyawa organik
dan anorganik hasil proses dekomposisi
(Tchobanoglous, 1993).
Leachate tersebut merupakan cairan yang
terbentuk oleh adanya air hujan yang merembes
kedalam timbunan sampah, serta adanya
kandungan air tanah yang tinggi. Aliran yang
merembes ini akan menimbulkan aliran yang
membawa bermacam-macam zat yang ada
dalam sampah seperti Nitrat, Nitrit, Metan,
Karbon dioksida (CO
2
), Sulfat, Sulfida, NH
3
, air
dan mikroorganisme (Damanhuri, 1993).
Proses dekomposisi secara alamiah pada
awalnya menghasilkan nitrit, CO
2
dan air,
sedangkan pasokan (supply) oksigen yang
dilepaskan oleh mikroorganisme anaerobik akan
membentuk senyawa lain seperti Sulfat,
Amoniak dan Nitrogen. Kualitas dan kuantitas
leachete sangat bervariasi dan fluktuasinya
secara langsung berkaitan dengan banyaknya
curah hujan, komposisi / karakteristik sampah,
umur timbunan dan pola operasional di TPA.
Pengaruh leachate yang dirasakan
masyarakat adalah adanya perubahan warna
atau kekeruhan pada badan air ataupun
keberadaan leachate yang mengandung zat
organik dan bahan terl arut lainnya. Selanjutnya
dengan adanya air hujan akan masuk ke badan
air dan air tanah yang akhirnya akan menjadi
keruh. Adanya bahan pencemar atau mineral di
badan air akan memacu pertumbuhan dan
perkembangbiakan mikroorganisme yang
merugikan kesehatan dan estetika.
Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 2 , No.1 2006



58
2. LAJU TIMBULAN LEACHATE

Leachate adalah limbah cair yang timbul
akibat masuknya air eksternal ke dalam
timbunan sampah, melarutkan dan membilas
materi -materi terlarut atau merupakan hasil
proses dekomposisi sampah berbentuk cair yang
berwarna coklat kehijauan dan merupakan
pencemar potensial ke lingkungan apabila TPA
tidak dikelola secara memadai. Dari sana dapat
diramalkan bahwa kuantitas dan kualitas
leachate akan sangat bervariasi dan berfluktuasi.
Timbulan leachate (lechate generation)
dipengaruhi oleh curah hujan (presipitasi harian),
aliran permukaan, infiltrasi, evaporasi,
transpirasi, temperatur, komposisi sampah,
kelembaban dan kedalaman/ketinggian
tumpukan sampah di TPA (Leckie, 1979).
Secara umum timbulan leachate dapat dihitung
berdasarkan persamaan berikut (Qasim, 1994);

PERC = P (R/O) (AET) ( ? ST)
dimana,
PERC = perkolasi
P = presipitasi (curah hujan)
R/O = surface run off
AET = evapotranspirasi aktual
? ST = perubahan kelembaban tanah


3. KOMPOSISI & KARAKTERISTIK

Secara umum komponen (unsur-unsur)
kimia dan bakteri yang terkandung dalam
leachate dapat dilihat dalam tabel 1 berikut :

Tabel 1. Komposisi Penyusun Leachate

KADAR (ppm)
No. KOMPONEN
RENDAH TINGGI
1. pH 6,0 6,5
2.
Kesadahan
CaCO3
890 7600
3.
Alkalinitas
CaCO3
730 9500
4. Ca 240 2330
5. Mg 64 410
6. Na 85 1700
7. Fe total 8,7 220
8. Besi ferro 6,5 87
9. Klorida 96 2350
10. Sulfat 84 730
11. Phosphate 0,3 29
12. Organik N 2,4 465
13. NH4-N 0,22 480
14. BOD 2170 3030
Sumber : Qasim (1994)
Kualitas leachate menurut Qasim (1994)
dipengaruhi oleh komposisi sampah, ketebalan
timbulan sampah, laju air, cara operasional TPA
(aerobik, semi aerobik, anaerobik), umur TPA
dan interaksi leachate dengan TPA. Sementara
dari Damanhuri (1995) selain faktor di atas juga
ditambahkan faktor kondisi saat sampling. Tabel
2 memperlihatkan karakteristik leachate dari TPA
di luar negeri (Chian & De Walle, 1976) serta
Tabel 3 memperlihatkan kualitas leachate di
beberapa TPA di Indonesia dan China.
Dari kedua tabel tersebut terlihat bahwa
leachate mempunyai karakteristik yang khas
yaitu;
Leachate dari TPA yang muda bersifat
asam, berkandungan organik yang tinggi,
mempunyai ion-ion terlarut yang juga tinggi
serta rasio BOD/COD relatif tinggi.
Leachate dari TPA yang sudah tua sudah
mendekati netral, mempunyai kandungan
karbon organik dan mineral yang relatif
menurun serta rasio BOD/COD relatif
menurun.
Dengan membandingkan kualitas leachate
dari TPA di China dan hasil pemantauan
leachate di beberapa TPA telah dilakukan di
Indonesia sejak tahun 1988 (Damanhuri 1995)
dapat disampaikan bahwa :
Leachate dari TPA di Indonesia mempunyai
karakter tidak asam dibanding dengan TPA
yang ada di China.
Meskipun nilai COD TPA di Indonesia lebih
rendah dibanding nilai COD TPA yang ada
di China, namun sesuai dengan Kep-
03/MENKLH/II/91 COD yang terkandung
melebihi baku mutu efluen limbah cair yang
ditentukan sehingga penanganan leachate
merupakan suatu keharusan sebelum
dilepas ke lingkungan.


4. TEKNOLOGI PENANGANAN
LEACHATE

Dari data Yang tertera pada Tabel 2 dan
Tabel 3 tersebut di atas belumlah dapat
diandalkan untuk menentukan besaran beban
organik yang dibutuhkan dalam perancangan
suatu pengolah limbah di Indonesia. Dibutuhkan
suatu pemantauan yang lebih bervariasi lagi dari
TPA lain yang terletak dalam geografi yang lebih
luas, termasuk leachate dari TPA yang terletak di
daerah rawa dan sebagainya.
Penanganan leachate yang sudah dapat
dilakukan dengan berbagai cara, antara lain;

Memanfaatkan sifat -sifat hidrolis dengan
pengaturan air tanah sehingga aliran
leachate tidak menuju kearah air tanah

Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 2 , No.1 2006



59
Tabel 2. Kualitas leachate sesuai dengan umur TPA

Umur TPA Parameter
1 tahun 5 tahun 16 tahun
BOD 7500-28000 4000 80
COD 10000-40000 8000 400
pH 5,2-6,4 6,3 -
TDS 100-79 - -
DHL 600-9000 - -
Alkalinitas (CaCO
3
) 800-4000 5810 2250
Hardness (CaCO
3
) 3500-5000 2200 540
Total P 25-35 12 8
Ortho P 23-33 - -
NH4-N 56-482 - -
Nitrat 0,2-0,8 0,5 1,6
Kalsium 900-11700 308 109
Khlorida 600-800 1330 70
Sodium 450-500 810 34
Potasium 295-310 610 39
Sulfat 400-650 2 2
Mangan 75-125 0,06 0,06
Magnesium 160-250 450 90
Besi 210-325 6,3 0,6
Seng 10-30 0,4 0,1
Tembaga - < 0,5 < 0,5
Kadmium - < 0,05 < 0,05
Timbal - 0,5 1,0
Sumber : Chian & De Walle (1976)

Tabel 3. Gambaran variasi kualitas leachate dari beberapa TPA
Kota/TPA pH COD N-NH4 N-NO2 DHL
Bogor

7,5
8
28723
4303
770
649
0
0,075
40480
24085
Cirebon

7
7
3648
13575
395
203
0,225
0,375
10293
12480
Jakarta


7,5
7
8
6839
413
1109
799
240
621
0
0,075
0,35
13680
3823
1073
Bandung
(Leuwigajah)
6
7
58661
7379
1356
738
6,1
2,775
26918
20070
Yogyakarta 6 6166 162 0,225 3540
Surabaya 8,03 24770 155 0,077 6030
China
Umur 1 th
Umur 5 th
Umur 16 th
5,2-6,4
6,3
-
10000-40000
8000
400
56-482
-
-
-
-
-
600-9000
-
-
Sumber : Diolah dari berbagai sumber.










Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 2 , No.1
2006



60
Mengisolasi TPA tersebut agar air eksternal
tidak masuk dan leachate-nya tidak keluar
Mencari lahan yang mempunyai tanah
dasar dengan kemampuan baik untuk
menetralisir cemaran.
Mengembalikan leachate (resirkulasi) ke
arah timbunan sampah.
Mengalirkan leachate menuju pengolah ai r
domestik.
Mengolah leachate dengan pengolahan
tersendiri.
Di negara maju biasanya masalah
leachate ini ditangani dengan diolah seperti
halnya air limbah biasa. Beberapa jenis
pengolahan yang biasa digunakan;
Pengolahan fisik-kimiawi biasanya
koagulasi-flokulasi-pengendapan.
Pengolahan secara aerobik ; lumpur aktif,
kolam stabilisasi atau kolam aerasi.
Pengolahan secara anaerobik, biasanya
kolam stabilisasi.
Pemanfaatan sifat-sifat sorpsi seperti
karbon aktif.

4.1 Pengendapan dengan kapur

Salah satu cara dalam pengolahan
leachate adalah dengan mengendapkan melalui
proses sedimentasi dengan bantuan presipitasi
kapur (lime). Kapur dalam jumlah yang
mencukupi harus ditambahkan dengan asam
karbonik bebas dan dengan asam karbonik dari
bikarbonat guna menghasilkan kalsium karbonat
yang bertindak sebagai koagulan.
Efeknya mulai terlihat pH = 7 dengan dosis
1 6 mg/l
Salah satu hasil yang didapat;
Penyisihan COD = 61 % dari 18.550 mg/L
Penyisihan BOD = 51,7% dari 10.910
mg/L
Penyisihan Fe = 98,8 % dari 312 mg/L
Penyisihan Zn = 97,1 % dari 21 mg/L
Penyisihan Hg = 57,1 % dari 0,007 mg/L

4.2 Koagulasi -flokulasi

Sama dengan prinsip sedimentasi dengan
pembubuhan kapur, pada prinsip ini hanya
koagulan yang digunakan bisa alumunium sulfat
[ Al (SO
4
)] dan ferri khloride [Fe Cl
3
]. Hasil dari
uji tersebut antara lain;
Koagulan alumunium sulfat.
Dosis 100 mg/L menyisihkan COD < 10%
dan Fe sampai 60%
Dosis 1000 mg/L menyisihkan COD < 10%
dan Fe sampai 96%
Koagulan ferri khloride.
Dosis 100 mg/L menyisihkan COD sampai
12% dan Fe sampai 21%
dosis 1000 mg/L menyisihkan COD sampai
16,3% dan Fe sampai 95%














Gambar 1 : Unit pengolah leachate di TPA
Piyungan Yogyakarta berupa aerated lagon.

4.3 Proses lumpur aktif

Selain pengolahan secara fisik-kimiawi
seperti diatas, leachate juga dapat diolah
dengan mengkombinasikan dengan proses
biologis memanfaatkan mikroorganisme seperti
dalam activated sludge (lumpur aktif). Cara ini
banyak diterapkan di lapangan, dan sangat
efektif terutama bila diawali dengan
pengendapan mineral (logam berat) dengan
pembubuhan kapur; salah satu hasilnya adalah
penyisihan;
BOD = 99,1 % dari 12.000 mg/L
COD = 94,9 % dari 18.000 mg/L
Cd = 87,5 % dari 0,08 mg/L
Cr = 75 % dari 0,28 mg/L
Fe = 99,2 % dari 376 mg/L
Ni = 60,2 % dari 1,91 mg/L
Pb = 85,4 % dari 0,82 mg/L
Zn = 97,4 % dari 22 mg/L
Hg = 28,9 % dari 0,006 mg/L

4.4 Kolam Stabilisasi Aerobik

Kolam stabilisasi aerobik (aerobic
stabilization ponds) adalah proses pengolahan
limbah cair secara alami dalam wujud kolam
yang lebar dengan melibatkan algae dan bakteri
dan dalam kondisi aerobik hingga kedalaman
kolamnya. Ada dua tipe utama, tipe pertama
bertujuan memaksimumkan produksi algae,
pada jenis ini kolam dibatasi dengan kedalaman
150 cm 450 cm. Pada tipe kedua, ditujukan
untuk produksi oksigen sebanyak -banyaknya,
dan kedalaman kolam hingga 1,5 meter.
Agaknya sistem ini cocok untuk kondisi
Indonesia karena relatif tersedia sinar matahari,
sederhana dan relatif murah. Beberapa hasil
dari negara yang memiliki musim dingin adalah;

Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 2 , No.1
2006



61
TPA Lingen (Jerman), dengan waktu
kontak 100 hari diperolah penyisihan BOD
sebesar 99,8%
TPA Ugley (Inggris), waktu kontak 100 hari
diperoleh penyisihan BOD 99,7% dan COD
97,1%
TPA Peslan (Perancis), total penyisihan
BOD (diakhiri dengan pembubuhan kapur)
adalah 96% dan COD sebesar 80%

4.5 Kolam Stabilisasi Anaerobik

Secara teori, kolam anaerobik digunakan
untuk pengolahan limbah kandungan organik
tinggi yang juga sangat tinggi konsentrasi
padatannya. Waktu kontak 15 hari dengan
beban 1 2 kg COD/m3/hari diperoleh
penyisihan COD antara 85 90 % dari COD
masuk rata-rata 27.000 mg/L (TPA San Liberale
Italy).
Pada penelitian skala laboratorium
terhadap kemungkinan terolahanya leachate
antara lain menghasilkan :
Aerasi leachate selama 10 14 hari dapat
menurunkan COD sampai 85%, kombinasi
dengan dilanjutkan karbon aktif
menghasilkan penurunan COD hingga 90%.
Timbunan sampah yang sudah menjadi
kompos ternyata juga mampu menurunkan
pencemar organik, pada simulasi dengan
umpan COD 2500 mg/l dan dioperasikan
secara anaerobik menghasilkan penyisihan
COD 80%.
Cara resirkulasi leachate sudah banyak
diterapkan dalam pengelolaan leachate. Ada
dua keuntungan dari cara ini, yaitu;
Mempercepat proses evaporasi.
Mereduksi cemaran organik leachate.

5. SISTEM PENGELOLAAN

Pengelolaan leachate merupakan bagian
dari pengelolaan TPA secara keseluruhan. Pada
dasarnya keberhasilan penanganan leachate
dimulai sejak suatu lahan dipilih, dan terus
menerus sampai lahan itu ditutup karena penuh.
Oleh karenanya usaha penanganan masalah
leachate dapat dikelompokkan dalam beberapa
tahap, yaitu:
Tahap pemilihan lokasi.
Tahap perancangan dan penyiapan site.
Tahap lama masa pengoperasian.
Tahap elama jangka waktu tertentu setelah
TPA tidak digunakan lagi.
Di Indonesia saat ini telah mempunyai
standar tentang cara pemilihan lokasi sebuah
TPA sampah kota, yaitu SNI No. 03-3241-1994
tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA. Aspek
pencegahan pencemaran leachate dalam
standar ini mendapatkan porsi yang baik,
melalui pertimbangan bahwa;
Lahan sebuah TPA biasanya terletak di luar
kota yang kadangkala berdekatan dengan
perumahan penduduk yang belum terjangkau
oleh sistem PDAM yang baik, sehingga
masalah pencemaran leachate perlu
dipertimbangkan.
Hujan di Indonesia yang cukup tinggi.
Pengelolaan leachate pada dasarnya sangat
tergantung kepada karakteristiknya,
sedangkan karakteristik leachate juga sangat
tergantung bagaimana leachate tersebut
terbentuk/ terakumulasi. Secara ideal suatu
pengolahan leachate harus dilak ukan uji
keterolahan terlebih dahulu (treatability) dan
dibuat juga skala pilotnya.
Langkah awal dalam pengelolaan
leachate adalah memperhatikan sistem lapisan
bawah TPA (liners system). Tujuan dari disain
sistem liners adalah untuk mencegah dan
meminimisasi infiltrasi leachate ke lapisan tanah
dibawahnya sehingga mencegah kontaminasi ke
air tanah. Umumnya sistem liners ini juga untuk
mencegah larinya gas ke udara tanpa terkumpul
dalam gas storage yang telah disediakan.
Sebagai ilustrasi pada lapisan pali ng bawah
suatu TPA hendaknya merupakan compacted
clay liner (CCL) (tebal 60 cm), diatasnya dilapisi
flexible membrane liner (FML) 40 mm, kemudian
baru diletakkan pasir-kerikil (untuk pengumpulan
leachate) setebal 30 cm, dilapisi lagi dengan
geotextile, kemudian dilapisi tanah setebal 60
cm dan baru lapisan sampah kota. Teknik dan
sistem liners sangat bervariasi tergantung pada
kondisi dan karakteristik tanahnya. Pada wilayah
yang dibawahnya sama sekali tidak ada akuifer
air tanah, maka compacted clay sudah cukup.

















Gambar 2. Sistem liners TPA Sanitary Landfill.

Pada dasarnya tanah asli di bawah TPA
mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi
dan mendegradasi pencemar, namun adanya

Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 2 , No.1
2006



62
lapisan liner tambahan akan lebih menjamin hal
tersebut diatas. Tanah lempung mempunyai
kemampuan yang baik dalam menahan
pencemar anorganik (seperti logam berat)
melalui mekanisme sorpsi. Penggunaan
campuran tanah yang bersifat alkalin sebagi
tanah penutup akan menaikkan pH leachate,
sehingga proses dekomposisi akan lebih cepat,
terutama guna mendorong konversi karbon
organik ke pembentukan gas metan disamping
memungkinkan logam-logam tertentu menjadi
terendapkan.
Selain sistem liners, juga perlu
diperhatikan adalah kemiringan teras (slope)
dan sistem perpipaan pengumpul leachate.
Untuk mencegah terakumulasinya leachate di
suatu tempat di dasar TPA, maka suatu seri
teras yang berslope harus dibuat didasar TPA,
sehingga leachate dapat dialirkan melalui pipa-
pipa. Jaringan perpipaan pengumpul leachate
merupakan bagian pent ing dari sistem
pengelolaan leachate.
Secara umum sekali leachate terbentuk,
maka opsi pengelolaannya adalah;
- Daur ulang (leachate recycling)
- Penguapan (leachate evaporation)
- Diolah dan dibuang (treat and disposal )
- Dibuang ke sistem air buangan kota



6. KESIMPULAN

Penanganan leachate di TPA dapat
dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
Memanfaatkan sifat -sifat hidrolis dengan
pengaturan air tanah sehingga aliran
leachate tidak menuju ke arah air tanah.
Mengisolasi TPA tersebut agar air eksternal
tidak masuk dan leachate-nya tidak keluar.
Mencari lahan yang mempunyai tanah dasar
dengan kemampuan baik untuk menetralisir
cemaran.
Mengembalikan leachate (resirkulasi) ke
arah timbunan sampah.
Mengalirkan leachate menuju pengolah air
buangan domestik.
Pengolahan leachate dengan mengalirkan
pada suatu artificial wetland
Mengolah leachate dengan pengolahan
sendiri, yang biasa digunakan adalah :
Pengolahan kimia fisika, biasanya
koagulasi-flokulasi-pengendapan.
Pengolahan secara aerobik ; proses
lumpur aktif, kolam stabilisasi atau kolam
aerasi.
Pengolahan secara anaerobik, biasanya
kolam stabilisasi.
Pemanfaatan sifat-sifat sorpsi seperti
karbon aktif.
Pengolahan leachate dengan
mengalirkan pada suatu artificial wetland.

Di negara maju biasanya masalah
leachate ini ditangani dengan diolah seperti
halnya air limbah biasa. Pengelolaan leachate
pada dasarnya sangat tergantung kepada
karakteristiknya, sedangkan karakteristik
leachate juga sangat tergantung bagaimana
leachate tersebut terbentuk/ terakumulasi.
Secara ideal suatu pengolahan leachate harus
dilakukan uji keterolahan terlebih dahulu
(treatability) dan dibuat juga skala pilotnya.
Penelitian laboratorium dan lapangan
telah banyak mencatat bahwa proses resirkulasi
leachate akan mempercepat stabilitas timbunan.
Dari sana disimpulkan bahwa pengembalian
leachate ke massa sampah akan dapat
menurunkan beban organik sampai 90%.
Resirkulasi pada prakteknya di beberapa TPA
juga dapat mengurangi bau dan lalat serta
memperbanyak gasbio yang terbentuk.


DAFTAR PUSTAKA

Damanhuri, E, (1995) Teknik Pembuangan
Akhir (TPA), Diktat Kuliah, TL-ITB
Damanhuri, T.P, (1993), Pengelolaan Lindi
di TPA Sampah Dalam Kaitannya Dengan
Pencegahan Pencemaran Lingkungan,
Proceeding Seminar Nasional Pengelolaan
Lingkungan Tantangan Masa Depan,
Jurusan Teknik Lingkungan ITB, ISBN 979-
8456-00-9
De Walle, F.B., Chian, E.S, (1978) Gas
Production from Solid Waste in Landfill,
Journal of the Environmental Engineering
Division, ASCE, v.104 p.p 415
Eleazer, W.E., Odle, W.S., Wang, Y.S. and
Barlaz, M.A. (1997). Biodegradability of
municipal solid waste components in
laboratory-scale landfill. Environ. Sci.
Technol. 31:911-917.
Farquhar, G.J., & Rovers, F.A., (1973) Gas
Production During Refuse Decomposition,
Water, Air and Soil Pollution, 2 p 483-495
Institute of Wastes Management
Sustainable Landfill Working Group
(IWMLWG) (1999). The Rational and
Operation of the Flushing Bioreactor.
Krol, A., Rudolph, V. and Swarbrick, G.
(1994). Landfill : A Containment Facility or
a Process Operation. Paper presented at
the 2nd National Hazard & Solid Waste
Convention, Melbourne.
Leckie, J.O, Pacey, J.G, & Halvadakis,
(1979), Landfill Management with Moisture
Control, Journal Environmental Division,
105 p 337-355
Wahyu Purwanta : Tinjauan Teknologi Pengolahan Leachate Di Tempat . JAI Vol. 2 , No.1
2006



63
Mc Bean, E.A, FA. Rovers & G.J, Farquhar
(1995), Solid Waste Landfill Engineering &
Design, Prentice Hall PTR, Englewood
Cliffs
Merz, R.C & R.Stone, (1970), Special
Studies of a Sanitary Landfill, U.S
Department of Health, Education and
Walfare, Washington DC
Purwasasmita, M., (1989), Teknik
Pengelolaan Sampah Terpadu Dengan
Konsep KIS, Pusat Penelitian Teknologi
ITB, Bandung
Qasim, S.R, & Chiang, W., (1994), Sanitary
Landfill Leachate, Technomic Publication
Tchobanoglous, G., Theisen, H., Vigil, S,
(1993), Integrated Solid Waste
Management, McGraw Hill Book, Co,
Singapore