Anda di halaman 1dari 11

METODELOGI MEKANIKA STATISTIKA

A. TERMINOLOGI DAN METODELOGI 1. Defenisi dan Pendekatan Mekanika Statistika Mekanika statistika menunjukkan bahwa sifat makroskopik sistem banyak partikel sebenarnya berhubungan erat dengan sifat mikroskopik partikel-partikel tersebut. Walaupun mekanika statistik tidak dapat menjelaskan interaksi antar partikel individual, tinjauan terhadap interaksi rata-rata maupun perilaku interaksi partikel dengan peluang terbesar mampu memberikan informasi mengenai besaran-besaran fisis yang menggambarkan sifat makroskopiknya. Di alam, partikel-partikel yang ada dapat diklasifikasikan kepada dua jenis statistik. Jenis statistik partikel pertama adalah golongan partikel-partikel yang memenuhi kaidah statistika Bose-Einstein sedangkan yang kedua adalah partikelpartikel yang memenuhi kaidah statistika Fermi-Dirac. Partikel-partikel yang memenuhi statistik Bose-Einstein disebut partikelpartikel boson yang fungsi gelombangnya simetrik terhadap pertukaran sebarang dua partikelnya. Contohnya antara lain foton, partikel alfa dan atom Helium. Sedangkan partikel-partikel fermion adalah partikel yang memenuhi statistika Fermi-Dirac, yaitu partikel-partikel yang fungsi gelombangnya antisimetrik terhadap pertukaran sebarang dua partikel. Contohnya antara lain proton, neutron dan elektron. Fisika Statistik ( Mekanika Statistika) merupakan cabang ilmu fisika yang mempelajari sistem banyak partikel dari segi pandang statistik pada besaran mikroskopik untuk menjelaskan besaran makroskopik (khususnya energi) berdasarkan mekanika klassik dan kuantum. Sedangkan termodinamika adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara sifat makroskopik sistem, seperti suhu, volume, tekanan, magnet, kompresibilitas dan sifat makroskopik yang lainnya. Fisika statistika menghubungkan sifat empirik dari sistem termodinamika dengan distribusi statistika dari ensembel keadaan mikroskopik. Semua sifat dari sistem termodinamika yang makroskopik dapat ditentukan dari fungsi partisi yang dapat menjumlahkan energi semua keadaan mikroskopiknya.

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

Pada mekanika statistika, keadaan mikro adalah konfigurasi mikroskopik yang spesifik dari sistem termodinamika yang mampu menempati sebuah kemungkinan selama terjadi fluktuasi termal. Sebaliknya, keadaan seperti

makroskopiknya dari sistem menunjukkan sifat mikroskopiknya, tempertur dan tekanan. Keadaan makroskopiknya tertentu dapat

ditunjukkan

dengan distibusi

probabilitas dari

keadaan

menggunakan ensembel

statistika dari semua keadaan mikronya. Distribusi ini menjelaskan tentang probabilitas menemukan sistem dalam keadaan mikroskopik tertentu. Pada batas termodinamika, keadaan mikroskopik yang dijumpai pada sistem makroskopik selama terjadi fluktuasi akan memiliki sifat makroskopik yang sama.
Teori Kinetika Mekanika Klasik Pendekatan Statistika Fisika Atom

FISIKA STATISTIKA
Sifat mikrokopis

Mekanika Kuantum

Termodinamika

2. Diskripsi Makroskopik dan Makroskopik Fisika statistik berangkat dari pengamatan sebuah sistem mikroskopik, yakni sistem yang sangat kecil (ukurannya sangat kecil lebih kurang ukuran Angstrom, tidak dapat diukur secara langsung) sebagai contoh sistem partikel tunggal. Penjelasan sistem partikel tunggal ini dapat dilakukan melalui hukum-hukum mekanika klasik maupun kuantum dan untuk jumlah yang cukup banyak dapat dibantu dengan menggunakan numerik (komputer). Sistem makroskopik merupakan sistem dengan skala besar (dapat diukur), sistem ini dilengkapi dengan variabel makroskopik yaitu variabel yang dapat diukur (tekanan, temperatur, volume, energi, dan sebagainya ). Fisika statistik mencoba untuk menjembatani bagaimana keadaan mikroskopik mampu menjelaskan keadaan makroskopik. Sebagai contoh, ketika kita mengamati sistem N partikel dalam keadaan wujud gas yang suatu saat secara tiba-tiba sistem terkondensasi sehingga sistem berada dalam keadaan fase cair. Jika kita melihat tinjauan mikroskopik, maka kita akan melihat partikel penyusun
Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika 2

sistem pada fase gas akan berubah menjadi partikel penyusun sistem pada fase cair. Perubahan ini dapat diumpamakan sebagai proses reproduksi pertumbuhan partikel penyusun sistem pada fase cair. Mampukah fisika (mekanika, termodinamika, listrik-magnet, gelombang, dan sebagainya) menjelaskan keadaan ini?. Untuk itu perlu dikembangkan konsep baru agar dapat menjelaskan keadaan tersebut. Fisika statistika mencoba untuk menjelaskan keadaan tersebut,

melaluipenggunaaan konsep-konsep dasar fisika (mekanika, termodinamika, listrikmagnet, gelombang, dan sebagainya), perilaku sistem mikroskopik dibangun beserta syarat batas fisisnya. Untuk melakukan estimasi makroskopik berdasarkan fluktuasi perilaku sistem mikroskopik tersebut kita perlu menggunakan konsepkonsep probabilitas yang bersesuaian dengan sistem yang kita bangun. Berbicara tentang sistem makroskopik, berarti kita membicarakan tentang variabel makroskopik yang menjadi ciri dari sistem tersebut. Variabel makroskopik. menjelaskan karakter fisis sistem yang informasinya didapat melalui hasilpengukuran. Pengukuran terjadi ketika sistem berada dalam setimbang dan hal ini berkaitan dengan jumlah kejadian mikro dengan peluang terbesar.

3. Variabel Extensif, Variabel Intensif dan Keterbatasan Termodinamika Dalam termodinamika sistem akan dideskripsikan dengan sejumlah besaran yang menggambarkan keadaan sistem (disebut sebagai besaran keadaan). Keadaan sistem yang ditinjau dalam termodinamika adalah keadaan makroskopik yang dapat berupa keadaan rerata dari partikel-partikel dalam sistem atau berupa keadaan kesuluruhan (total) partikel-partikel dalam sistem. Contoh keadaan makroskopik tersebut adalah temperatur T, jumlah partikel N, volume V , energi dalam U, tekanan p, dan lainnya. Sebaliknya besaran mikroskopik, yang bukan merupakan besaran termodinamika, misalnya adalah posisi masing-masing partikel ~ri, kecepatan masing-masing partikel ~vi, energi kinetik masing-masing partikel Ekidan sebagainya. Besaran-besaran makroskopik tadi dikelompokkan menjadi dua jenis, yang sebanding dengan jumlah partikel dan yang tidak bergantung pada jumlah partikel. Besaran yang sebanding dengan jumlah partikel disebut sebagai besaran ekstensif, misalnya jumlah partikel, volume, energi dalam, dan entropi S.
Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika 3

Sedangkan besaran yang tidak bergantung pada jumlah partikel disebut sebagai besaran intensif, misalnya tekanan, temperatur, panas jenis c, kerapatan _ dan potensial kimia _. Tentu saja, bila suatu besaran ekstensif dibagi dengan besaran ekstensif lainnya, akan didapatkan suatu besaran intensif. Misalnya, kita akan mendapatkan panas jenis c (besaran intensif) sebagai kapasitas panas C (besaran ekstensif) dibagi dengan total massa M atau jumlah partikel N. Besaran intensif yang diperoleh dari besaran ekstensif dibagi dengan jumlah partikel, massa ataupun volume total disebut sebagai rapat besaran ekstensif tersebut dan dituliskan dengan simbol huruf kecil besaran ekstensifnya.

B. PRINSIP DASAR FISIKA STATISTIKA 1. Hukum Termodinamika Terdapat empat Hukum Dasar yang berlaku di dalam sistem

termodinamika, yaitu:

a. Hukum Awal (Zeroth Law) Termodinamika Hukum ini menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling setimbang satu dengan lainnya.

b. Hukum Pertama (First Law) Termodinamika Hukum ini terkait dengan kekekalan energi. Hukum ini menyatakan perubahan energi dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan terhadap sistem.

c. Hukum Kedua (Second Law) Termodinamika Hukum kedua termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai maksimumnya.

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

d. Hukum ketiga (Third Law) Termodinamika Hukum ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol absolut bernilai nol. 2. Interpretasi Probabilistik dari Hukum Pertama Hukum pertama termodinamika menyatakan perubahan energi dalam dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam sistem dan kerja yang dilakukan terhadap sistem.

Perubahan volume akan mengubah tingkat-tingkat energi sebagaimana kasus partikel dalam kotak sedangkan perubahan kalor akan membuat terjadinya perubahan susunan partikel dalam tingkat-tingkat energi. Dengan demikian dapat dituliskan bahwa , merupakan usaha (W) yang menyatakan tingkat pergeseran

energi, dan Kerja sistem yang terkait dengan perubahan tingkattingkat energi. , merupakan energi kalor (Q) yang menyatakan perubahan

populasi sistem. Kalor yang terkait dengan perubahan energi yang karena ada molekul yang melompat dari satu tingkat ke tingkat energi lain. Dalam fisika, khususnya mekanika statistik, distribusi Maxwell-

Boltzmann yang menggambarkan kecepatan partikel dalam gas, di mana partikel bergerak bebas antara tumbukan kecil , tetapi tidak berinteraksi satu sama lain, sebagai fungsi suhu dari sistem, massa partikel, dan kecepatan partikel. Partikel dalam konteks ini mengacu pada atom atau molekul dari gas. Tidak ada perbedaan antara keduanya dalam perkembangan dan hasilnya. Ini merupakandistribusi probabilitas untuk kecepatan sebuah partikel yang berwujud gas - Besaran dari vektor kecepatan, yang berarti pada suhu tertentu, partikel akan memiliki

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

kecepatan yang dipilih secara acak dari distribusi, tapi lebih cenderung berada dalam satu rentang dari beberapa kecepatan yang lain Distribusi Maxwell-Boltzmann berlaku untuk gas ideal di

dalam kesetimbangan termodinamika dengan efek kuantum yang dapat diabaikan dan di kecepatan non-relativistik. Ini membentuk dasar dari teori kinetik gas, yang memberikan penjelasan sederhana dari banyak sifat gas fundamental,

termasuk tekanan dan difusi Namun ada perluasan untuk kecepatan relativistik. C. INTERAKSI KONDISI UNTUK EQUILIBRRIUM Dalam termodinamika, dalam kesetimbangan suatu sistem termodinamik disebut tersebut berada berada dalam

termodinamik bila

sistem

keadaan setimbang mekanis, setimbang termal dan setimbang secara kimia. Dalam kesetimbangan termodinamik, tidak ada kecenderungan untuk terjadi perubahan keadaan, baik untuk sistem maupun untuk lingkungannya. Kesetimbangan mekanis terjadi apabila tidak ada gaya yang takberimbang di bagian dalam sistem, dan juga antara sistem dan lingkungannya. Dalam kesetimbangan termal, semua bagian sistem bertemperatur sama, dan sistem juga memiliki suhu yang sama dengan lingkungannya. Dalam kesetimbangan kimia, suatu sistem tidak mengalami perubahan spontan dalam struktur internalnya, seperti reaksi kimia. Sistem dalam kesetimbangan kimia juga tidak mengalami perpindahan materi dari satu bagian sistem ke bagian sistem lainnya, seperti difusi atau pelarutan. Bila ketiga syarat kesetimbangan tersebut tidak dipenuhi, maka sistem termodinamik disebut berada dalam keadaan tidak setimbang Ketika sistem berinteraksi keadaan mereka akan sering berubah, sistem komposit berkembang ke keadaan keseimbangan. Kami akan menyelidiki apa yang menentukan keadaan akhir. Kita akan melihat bahwa jumlah seperti suhu muncul dalam deskripsi ini keseimbangan sistem.

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

1. Interaksi Panas Suhu

Dinding Diathermal tetap dan = dapat berubah dengan mengikuti persamaan ( ( ) Besarnya nilai ) ( ( ) ) + = Konstanta

. Persamaan ini dapat diturun seperti persamaan dibawah ini,

tergantung besarnya nilai

atau

2. Volume Berubah Tekanan

Dinding Diathermal yang dapat berubah

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

3. Perubahan Antar Partikel Potensial Kimia

Dinding Diathermal dinding tetap permeabel 4. Interaksi Termal dengan Seluruh Equilibrium -Faktor Boltzmann

Tinjau suatu sistem terisolasi mengandung dua macam kelompok partikel. Melalui tumbukan atau interaksi lainnya, energi bisa berpindah antar partikel kedua kelompok, tetapi total energi tetap saja.

Dinding Diathermal tetap

Kolam Panas

Fungsi distribusi Canonical, ( )

Faktor Boltzmann merupakan hasil kunci. Richard Feynman mengatakan: "Hukum dasar ini adalah puncak dari statistik mekanik, dan seluruh subjek baik slidedown sebuah dari puncak, sebagai prinsip yang diterapkan untuk berbagai kasus, atau naik-up ke tempat hukum dasar berasal dan konsep kesetimbangan termal dan suhu mengklarifikasi ".

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

5. Partikel dan energi pertukaran dengan seluruh Equilibrium - Faktor Gibbs

Dinding Diathermal permiabel tetap

Kolam Panas

D. RATA-RATA TERMODINAMIKA

1. Fungsi Partisi Fungsi partisi merupakan suatu fungsi yang menjelaskan sifat-

sifat statistika suatu sistem dalam kesetimbangan termodinamika. Fungsi ini bergantung pada suhu dan parameter-parameter lainnya, seperti volume dan tekanan gas. Kebanyakan variabel-variabel termodinamika dari suatu sistem, seperti energi, energi bebas, entropi, dan tekanan dapat diekspresikan dalam bentuk fungsi partisi atau turunannya. Terdapat beberapa jenis fungsi partisi, masing-masing berhubungan dengan jenis ensembel statistika atau pada energi ensembel bebas yang di berbeda. Fungsi mana sistem partisi dapat

kanonik diaplikasikan

kanonik,

mempertukarkan panas dengan lingkungan pada suhu, volum, dan jumlah partikel tetap. Fungsi partisi kanonik agung diaplikasikan pada ensembel kanonik agung, di mana sistem dapat mempertukarkan panas maupun partikel dengan lingkungan pada suhu, volum, dan potensial kimia tetap. Jenis lain dari fungsi partisi dapat didefinisikan untuk masing-masing keadaan yang berbeda. ( )

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

( )

Dimana Z merupakan fungsi partisi.

2. Total Simbol Untuk Entropi Kumpulan sistem yang identik,

Sistem yang diamati

3. Energi Bebas
( )

( dengan (

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

10

,F

4. Variabel Termodinamika

Jadi

| | |

| | | |

Kemudian, Semua mengikuti turunan dari Z

Dedy L Simarmata | Essay Fisika Statistika

11