Anda di halaman 1dari 16

Hafal Al-Quran adalah keistimewaan dan kebanggaan tersendiri bagi

setiap muslim. Hal ini karena fadhilah dan keutamaan yang sangat
banyak, yang diberikan oleh Allah kepada mereka para penghafal Al-
Quran, dan tidak diberikan kepada selain mereka. Cukuplah bagi
seorang penghafal Al-Quran keutamaan dan kebanggaan, bahwa Allah
telah berfirman, "Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan
Kamilah yang akan menjaganya." Artinya bahwa seorang penghafal Al-
Quran telah dijadikan oleh Allah sebagai sarana untuk menjaga kitab
suci-Nya di atas dunia.

Namun untuk menjadi seorang penghafal Al-Quran, tentu tidak mudah.


Karena selain dibutruhkan keuletan dan kesabaran, tetapi juga trik dan
cara agar Al-Quran bisa dihafal dengan baik. Di sini tidak akan
dipaparkan bagaimana cara menghafal Al-Quran, tetapi sekedar
berbagi dengan anda beberapa pengalaman atau lebih tepatnmya
"penerawangan" terhadap sebagian fenomena para orang tua Mesir
dalam mendidik anaknya menghafal Al-Quran. Semoga, nantinya bisa
bermanfaat bagi yang menulis dan membaca tulisan ini.

Sebagian anak-anak di Mesir dididik menghafal Al-Quran dengan keras


dan tidak dimanja-manja. Ada juga yang hanya menyerahkan anaknya
ke katâtîb (tempat-tempat mengajar ngaji). Anehnya, hasil didikan
mereka sangat efektif. Anak-anak kecil di Mesir banyak yang
menghafal al-Quran. Hal yang sangat biasa ditemukan anak-anak
berumur 7 sampai 10 tahun yang menghafal Al-Quran 30 juz.
Fenomena ini agak berbeda dengan komunitas masyarakat Indonesia,
dimana sebagian orang walaupun sudah tua, mereka masih belum
bisa membaca Al-Quran dengan baik. Wajar, kalau alasannya karena
bahasa Al-Quran bukan bahasa Asli. Tetapi rasanya, kalau didikannya
benar, Insyaallah orang Indonesia tidak kalah keahliannya dalam
membaca Al-Quran dan tidak kurang kekuatan hafalan mereka dari
orang-orang Arab.

Di antara rahasia mengapa mereka anak-anak kecil itu mampu


menghafal Al-Quaran dengan baik adalah, karena para orang tua
mendidik anaknya bersahabat dengan Al-Quran sejak kecil. Anak-anak
dituntun menghafal Al-Quran sejak ia belum mengetahui baca tulis.
Oleh karena itu, tidak jarang kita menemukan anak kecil yang mereka
memiliki banyak hafalan Al-Quran, namun ketika kita suruh tunjukkan
di dalam mushaf Al-Quran, mereka tidak tahu ayat mana yang mereka
baca. Artinya, mereka sudah menghafal Al-Quran, walaupun belum
bisa membacanya.

Inilah sebenarnya metode yang tepat untuk mengajarkan Al-Quran


kepada anak kecil. Mereka tidak disuruh menghafal Al-Quran sesudah
bisa membaca sendiri Al-Quran itu. Tetapi mereka dituntun oleh orang
tuanya untuk menghafal setiap hari beberapa ayat secara konsisten,
tanpa melihat Mushaf. Dituntun dan dituntun sedikit demi sedikit
sampai ia bisa. Setelah mereka beranjak besar, kemudian diajar baca-
tulis Al-Quran, mereka akan mengerti sendiri mana ayat yang mereka
baca.

Al-Quran memang diajarkan turun-temurun dengan cara seperti itu.


Begitulah dahulu para Sahabat menerima Al-Quran dari Rasulullah
Saw. Sebab hafalan mereka, Al-Quran sampai kepada kita sekarang ini,
persis seperti waktu diturunkannya. Para shahabat rata-rata orang
Ummi, tidak tahu baca-tulis, namun mereka memiliki kekuatan hafalan
yang prima. Salah satu faktor penyebab hal ini adalah, kurangnya alat
dan sarana tulis-menulis kala itu, sehingga mereka lebih
mengandalkan hafalan untuk mennyimpan teks-teks syair, khutbah,
pusisi, perjanjian-perjanjian, dan sebagainya. Mereka juga mendidik
anaknya untuk menghafal syair-syair sejak kecil, tanpa melihat tulisan
dari ungkapan yang ia ucapkan. Jadi, pelajaran yang dapat kita ambil
dari hal ini adalah bahwa kemampuan membaca tidak harus sejalan
dengan kemampuan menghafal. Belajar menghafal harus diajarkan
sejak mereka belum bisa tulis baca.

Di sekolah-sekolah Al-Azhar, anak-anak tamatan SD diwajibkan


menghafal 17 juz. Kemudian ditingkat SMP sampai perguruan tinggi,
mereka harus hafal Al-Quran. Masa-masa kecil inilah mereka dididik
untuk menghafal Al-Quran. Karena pada masa itu otak mereka masih
bersih, sehingga bagai mengukir di atas batu. Sulit, namun sekali
tergores susah hilangnya. Sekali lagi bahwa, yang saya tulis ini adalah
sisi positif dari kehidupan mereka dari sisi pandang pribadi saya,
semoga kita dapat mengambilnya menjadi pelajaran. Wallhu a’lâ wa
a’lamWallhu a’lâ wa a’lam

Prev: Ramadan Bingkisan Surga

Ibu, Ayah Ajari Aku Al-Quran

Monday, 27 April 2009 | Gentong Ilmu

Saya teringat ketika saya bekerja disebuah perusahaan swasta di Jakarta, ada seorang
ayah yang mengatakan “bila anak diselimuti oleh Al-Qur’an maka anak kita akan
dilindungi oleh Allah dari kehidupan dan perkembangan zaman yang yang semakin
brutal”

Ungkapan itu membuat saya berfikir dan coba lebih memperhatikan fenomena saat ini,
banyak orang tua yang sangat khawatir terhadap pergaulan yang bebas dan pendidikan
yang tidak menghasilkan banyak hal positif bagi perkembangan anak-anak. Walaupun
sudah diberikan dan dipilihkan tempat yang terbaik bagi perkembangan anak–anak
mereka, satu hal yang sangat penting bagi orang tua adalah, berharap anaknya kelak
menjadi yang terbaik. Namun harapan demi harapan tertinggal nan jauh disana, tetap saja
anak–anak sekarang menghadapi kesulitan mendapatkan culture yang Islami. Padahal
banyak sekolah yang berlabel Islami, bila dilihat hasilnya hanya sekedar polesan nama
saja. Output dari pendidikan yang ada sama seperti pendidikan pada umumnya, ini
membuktikan bahwa kita harus memiliki terobosan–terobosan baru dalam melahirkan
generasi rabbani.

Sekolah yang kita cintai ini (RUMAH TAHFIDZ) Jakarta Islamic School, memiliki
responsibility yang sangat besar untuk “Melahirkan generasi khalifah Qur’ani, Menjadi
Khalifah Hafidz dan Hafidzoh, Memiliki Pengetahuan yang luas (International), Akhlaq
yang mulia, Cerdas, menjadi Pelajar yang sukses dan memiliki jasad yang kuat."

Al-Qur’an dapat membuat anak menjadi CERDAS, itu karena otak akan terus berproses
bila anak senang dan mencintai Al-Qur’an. Bila ia mencintai dan biasa membaca dan
mengkaji isi Al-Qur’an dimasa tuanya tak akan mudah pikun apalagi dia menghafal Al-
Qur’an maka Allah menjamin orang tuanya akan diberikan penghargaan oleh Allah yaitu
Al-Qur'an SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT, seperti kisah dibawah ini :

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua
mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-
Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : "Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia
akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, "Kenalkah kamu
kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Betapa bahagianya kita sebagai orang tua, yang memiliki anak sholeh, cerdas dan lebih–
lebih sebagai asset dunia dan akhirat yang hakiki, yang menjamin pertemuan kita dengan
Allah kelak di surga-Nya amiin.
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah
bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-
Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca
mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di
tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar
dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami
memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

Subhanallah, sungguh luar biasa, kita sedang diberikan kesempatan oleh Allah SWT,
untuk berinvestasi, investasi yang tak terhitung nilainya.
Anak adalah detik, anak adalah menit, anak adalah jam, anak adalah hari, anak adalah
malam, anak adalah segalanya dalam kehidupan kita. Anak adalah hati kita, pikiran kita,
penglihatan kita, pendengaran kita, tangan dan kaki kita, hembusan nafas kita, sampai dia
adalah sosok yang selalu muncul dalam mimpi kita, dan dia adalah tesesan air mata kita,
dia adalah isi pikiran kita, dia adalah isi do’a–do’a kita yang tak terlewatkan, harta
sebesar atom dalam panggung dunia ini.
Semangat hidup hadir karena dia, senyum manis mekar karenanya, mata terbuka disiang
dan malam hari karena keberadaanya, tangan yang berat ringan karena motivasinya, kaki
yang lumpuh berlari kencang karena dorongannya, rasa malas yang menyelimuti hilang
karena amanah yang ada, karena dia adalah KUNCI PINTU SURGA, dia adalah investasi
kehidupan yang akan menjamin kita bertemu atau tidak dengan Sang Pencipta.

Marilah kita bersama, membangun generasi masa depan, yang akan menjadi pelita
penyinar terang dalam kehidupan sejati. Saling membahu dan tolong menolong dalam
mempersiapkan generasi qur’ani, yang akan mengizzahkan islam dipersada ini.

Ada beberapa tips yang bisa diterapkan, untuk menambah perbendaharaan metode–
metode yang sudah ada dirumah yang perlu saya sampaikan, semoga dengan beberapa
tips ini akan memberikan solusi dalam belajar menghafal Al-Qur’an di lingkungan rumah
kita, agar mempermudah pengakraban anak–anak kita dengan Al-Qur’an :

1. Perhatian dan partisipasi orang tua. Dalam mendidik anak mencintai Al-Qur’an,
kita (orang tua) harus memberikan perhatian khusus pada anak.
2. Lingkungan harus kondusif, lingkungan keluarga dan sekitar bisa memberikan
nuansa yang baik dalam upaya mempelajari, menghafal dan memahami Al-Qur’an.
Tempat menghafal membutuhkan tempat yang kondusif, tenang, aman tidak ada
ganguan dari luar.
3. Memperhatikan pergaulan sehari–harinya, kita berusaha menghadirkan lingkungan
qur’ani setiap waktu dilingkungan rumah kita.
4. Anak harus dibiasakan membaca Al-Qur’an secara teratur dan istiqomah.
5. Berikan waktu khusus untuk menghafal, contohnya setiap selesai sholat magrib,
isya’dan subuh.
6. Berikan target khusus untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an, contohnya
membaca Al-Qur’an 5 ayat setiap setelah atau sebelum sholat (memiliki jadwal khusus )
7. Membiasakan sebelum mengjerjakan setiap pekerjaan (belajar) diusahakan untuk
menghafal Al-Qur’an minimal 1 ayat.
8. Dalam mempelajari Al-Qur’an harus memakai metode yang bervariatiaf, diselingi
cerita (bisa cerita tentang isi Al-Qur’an), bermain, atau bisa dengan alat–alat yang
mendukung untuk mempelajari Al-Qur’an tersebut (visual/vidio, kaset,dll), dengan begitu
anak akan menjadi senang dan mudah mempelajari dan memahami Al-Qur’an.
9. Orang tua ( Ayah dan Ibu ) harus saling bahu membahu dalam menjadikan dan
mensukseskan anak dalam mempelajari, Menghafal Al-Qur’an.
10. Orang tua dan guru disekolah harus membangun komunikasi yang efektif, dalam
rangka mengembangkan dan memberikan dukungan penuh kepada anak–anak disekolah
dan dirumah.

Saya yakin guru dan semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anak–
anaknya, amanah ini harus dijaga dan dipelihara karena dia adalah salah satu kunci kita
masuk kedalam surga.
Oleh karena itu rasanya penting untuk saling berbagi dalam hal ini, sekolah adalah salah
satu tempat menimba ilmu, belajar untuk mengerti dan memahami, belajar untuk
menerapkannya, belajar untuk menyampaikan kepada orang lain. Rumah juga adalah
tempat belajar yang efektif, tepat dan cepat, karena mereka bersama guru yang pertama,
guru yang dimuliakan Allah, guru tercinta, guru yang menjadi kunci mereka masyuk
surga, dia adalah Ibunya, dia adalah Ayahnya.
Amin Yaa Robbal ‘Alamin.

Wallahu a’lam bissowaf

Mendidik Anak Menurut Al-Qur'an

Oleh : Riwayat

Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS. Lukman: 13).
Dari ayat tersebut dapat kita ambil pokok pikiran sebagai berikut, pertama orang tua wajib
memberi pendidikan kepada anak-anaknya. Kedua dalam mendidik prioritas pertama
adalah penanaman akidah, pendidikan akidah diutamakan agar menjadi kerangka dasar
dan landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh.

Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang, hal ini
dapat kita cermati dari seruan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa”
(Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan sebuah ungkapan yang penuh muatan
kasih sayang, sentuhan kelembutan dalam mendidik anak-anaknya. Indah dan
menyejukkan. Kata Bunayya, mengandung rasa manja, kelembutan dan kemesraan, tetapi
tetap dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, dan bukan berarti mendidik dengan keras.

Mendidik anak dengan keras hanya akan menyisakan dan membentuk anak berjiwa keras,
kejam dan kasar, kekerasan hanya meninggalkan bekas yang mengores tajam kelembutan
anak, kelembutan dalam diri anak akan hilang tergerus oleh pendidikan yang keras dan
brutal. Kepribadian anak menjadi kental dengan kekerasan, hati, pikiran, gerak dan
perkataannya jauh dari kebenaran dan kesejukan.
Kelembutan, kemesraan dalam mendidik anak merupakan konsep Al-Quran, apapun
pendidikan diberikan kepada anak hendaknya dengan kelembutan dan kasih sayang.
Begitu juga dalam prioritas mendidik diutamakan mendidik akidahnya terlebih dahulu,
dengan penyampaian lembut dan penuh kasih sayang. Mudah-mudahan anak akan
tersentuh dan merasa aman di dekat orang tuanya, kenapa dalam mendidik perlu
diutamakan akidah terlebih dahulu? Kenapa tidak yang lain? Jawabnya adalah karena
akidah merupakan pondasi dasar bagi manusia untuk mengarungi kehidupan ini. Akidah
yang kuat akan membentengi anak dari pengaruh negatif kehidupan dunia. Sebaliknya
kalau akidah lemah maka tidak ada lagi yang membentengi anak dari pengaruh negatif,
apakah pengaruh dari dalam diri, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya.

Kenapa harus akidah? Karena dengan akidah anak selamat dunia dan akherat, akidah
adalah modal dasar bagi anak menapaki kehidupan, dapat dibayangkan apa yang terjadi
jika seorang anak tidak mempunyai akidah yang kuat, pasti anak-anak itu akan mudah
terserang berbagai virus-virus kekejian, kemungkaran, kemunafikan, dan kemaksiatan
kepada Allah, imunitas keimanan anak akan lemah, dan pada akhirnya anak terjebak
dalam kelamnya dunia ini. Terbawa arus deras gelapnya kehidupan, tenggelam dalam
kubangan kemaksiatan, kegersangan hidup dan kesengsaraan batin.

Akidah adalah asas untuk membangun Islam. kalau asasnya sudah bagus maka Islam akan
tegak dalam diri anak, kenapa dewasa ini banyak anak-anak yang tidak tegak agamanya,
tidak kuat akidahnya sehingga banyak terjadi penyelewengan, semua itu terjadi akibat
pemahaman akidah yang dangkal, sehingga mudah goyah pendiriannya dan akhirnya
roboh. Memang kalau kita perhatikan orang tua jaman sekarang tidak banyak yang
menekankan pendidikan akidah kepada anak-anaknya. Orang tua tidak merasa sedih dan
takut kalau anaknya terjebak kepada keimanan yang rapuh, orang tua tidak pernah
mengeluh kalau anaknya tidak membaca Al-Quran, menghafal Al-Quran, tetapi orang tua
akan marah kalau anaknya tidak pergi les matematika, les fisika, les komputer, orang tua
tidak merasa takut kalau anaknya tidak pergi mengaji, bayaran iuran mengaji terlambat,
orang tua khawatir kalau anaknya belum bayar iuran bulanan les matematika, fisika dan
lain sebagainya. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa sikap orang tua terhadap
pendidikan masih tebang pilih, kurang adil dalam mendidik anak-anaknya, para orang tua
terkesan berat sebelah, padahal pendidikan seharusnya diterima anak secara utuh, baik
pendidikan yang berupa keduniaan dan keakheratan, di antaranya adalah pendidikan
akidah.

Untuk itu, langkah awal dalam mendidik anak adalah penanaman akidah, tidak yang lain.
Kalau akidah anak sudah kuat maka apa saja bangunan keahlian yang akan di dirikan
dalam diri anak akan kokoh, apakah menjadi tentara, polisi, dosen, pengusaha, ilmuwan
dan lain sebagainya. Kalau akidah sudah kuat, kalaupun menjadi polisi ia akan menjadi
polisi yang beriman, tentara beriman, hakim beriman, ilmuwan beriman, presiden yang
beriman, yang pasti pondasi keimanan akan bersemayam dalam dirinya.

Dalam ayat di atas, juga tergambar bahwa mendidik anak bukan hanya tanggung jawab
ibu tetapi juga menjadi tanggung jawab bapak. Selama ini kebiasaan dalam masyarakat
kita dalam mendidik anak lebih berat kepada kaum ibu, dengan alasan ibulah yang sering
bertemu dan bercengkerama dengan anak, sedangkan bapak lebih diidentikkan dan
diposisikan sebagai kepala rumah tangga, lebih khusus diletakkan pada tanggung jawab
dalam aspek ekonomi dan finansial sedangkan aspek edukasi terabaikan. Sehingga yang
terjadi adalah peran bapak dalam mendidik anak terabaikan, akibat lebih jauh adalah anak
menjadi kurang interaksinya dengan bapaknya, anak akan mendekat dan bertemu wajah
dan berbicara dengan bapaknya kalau ada perlu, ketika akan meminta uang jajan. Padahal,
dalam konsep Al-Quran peran bapak dalam mendidik anak sangat besar, hal ini dapat kita
cermati dari peran Lukman dalam mendidik anak-anaknya. Peran Yaqub dan Ibrahim
dalam mendidik anak-anaknya. Untuk itu sudah saatnya orang tua mulai berbagi dan
berkerjasama dalam mendidik anak, perlu duduk bersama membicarakan langkah dan
metode yang tepat untuk anak-anaknya.

Setelah akidah anak kuat, orang tua perlu menekankan pendidikan pada aspek ibadah
seperti salat, berdakwah dengan memberi contoh terlebih dahulu, seperti mencegah diri
dari yang mungkar dan selalu melakukan kebaikan. Setelah itu memberi nasehat kepada
orang lain untuk meninggalkan kemungkaran dan mengerjakan kebaikan. Dan yang tidak
kalah penting adalah sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Sebab hidup itu ibarat di
lautan, kadang-kadang ombak besar dan menggila dan menghempaskan kapal kita, lain
waktu lautan menjadi sangat bersahabat sehingga kapal kita dapat berlayar dengan tenang
tanpa gangguan. Demikian juga hidup, tidak selamanya bahagia, tidak selamanya sedih,
kadang dalam kemiskinan, terkadang dalam keadaan kaya. Untuk itu sebagai orang tua
yang bijak perlu mendidik anak-anaknya untuk bersabar menghadapi berbagai cobaan
hidup. Allah berfirman,”Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Lukman: 17)

Ayat di atas, memberi pengajaran kepada para orang tua untuk selalu memantau salat
anak, apakah salatnya sudah dilaksanakan dengan baik, lengkap syarat, rukunya, apakah
salatnya sudah dilaksanakan liam kali seharisemalam, atau masih ada yang tinggal? Orang
tua di tuntut untuk peduli terhadap ibadah salat anaknya. Sebab salat adalah tiang agama,
kalau anak-anaknya telah mendirikan salat dengan baik dan benar rukun syaratnya, berarti
anak-anak kita telah menegakkan agama, sebaliknya kalau anak-anak kita masih banyak
meninggalkan salat, salatnya masih asal-asalan, maka anak-anak kita telah mulai
meruntuhkan agama. Akibat dari tidak terkontrolnya salat anak oleh orang tua akan
berujung kepada lahirnya sikap acuh terhadap kebaikan dan mendekat dan tertariknya
untuk melakukan kemungkaran. Karena pada dasarnya mendirikan salat mencegah
seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.”Bacalah apa yang Telah diwahyukan
kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu
mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat
Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Ankabut:45).

Orang tua yang berperan mendidik dan mengontrol salat anak-anaknya, penekanan dalam
mendidik anak setelah akidah adalah mendirikan salat, setelah salat didirikan, maka
dilanjutkan dengan mengarahkan pada pendidikan dakwah, penyampaian kebenaran dan
pencegahan kemungkaran. Menyebarkan kebaikan, dan memberantas kemungakaran, baik
dengan cara memberi contoh, dengan lisan, maupun perbuatan. Menanamkan dalam diri
anak untuk selalu sabar menghadapi berbagai cobaan kehidupan dengan sabar semua akan
menjadi baik, dengan sabar pikiran menjadi cemerlang, dengan sabar akan banyak jalan
penyelesaian, sebab hanya dengan sabar orang akan terselamatkan, dengan sabar manusia
menjadi dekat dengan Tuhan, karena kesabaranlah Allah menjadi cinta.

Dan tidak kalah pentingnya adalah mendidik akhlak anak. Orang tua yang sadarkan
pentingnya kepribadian anak-anaknya akan berusaha menjadi teladan yang terbaik bagi
anak-anaknya. Baik dalam perkataan maupun perbuatan, dalam taraf perkembangan jiwa
dan kepribadiannya, anak meniru apa yang dilihatdan dengar. Kalau orang tua kurang
hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, hingga anak-anaknya mengetahui dan
mendengar, maka anak secara reflek akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.
Maka benar kata Rasulullah Saw bahwa anak terlahir dalam keadaan fitrah orang tuanya
yang akan membentuk anak-anaknya, apakah menjadi Nasrani, Yahudi maupun Majusi,
menjadikan anak yang soleh, berakhlak mulia atau berakhlak buruk. Peran orang tua
sangat besar terhadap pembentukan karakter kepribadian anak-anaknya. Di sisi lain,
masyarakat sekitar dan pendidikan juga memberi andil yang besar dalam membentuk
karakter dan akhlak anak, untuk itu para orang tua hendaknya lebih-hati-hati dan selektif
dalam mencarikan lingkungan bermain dan pendidikan untuk buah hatinya.

Paparan di atas, dapat dipahami beberapa hal penting, pertama, mendidik menjadi
tanggung jawab kedua orang tua. Kedua, pendidikan pertama yang harus diberikan kepada
anak adalah penanaman akidah yang benar. Ketiga, setelah pendidikan akidah, langkah
pendidikan berikutnya adalah mendidik anak agar mencintai dan mendirikan salat lima
waktu dengan sadar tanpa ada paksaan. Keempat, mendidik anak untuk berjiwa
pendakwah, yaitu suka memberi contoh dalam berbuat baik dan meninggalkan
kemungakaran. Kelima, menekankan pendidikan kepada aspek akhlak yang mulia, seperti,
sabar, qanaah, tawadhu, dermawan dan akhlak mahmudah lainnya. Allahu A’lam.

KAMI MEWASIATKAN KEPADA SETIAP ORANG (MUSLIM) AGAR MENDIDIK


ANAK-ANAKNYA
UNTUK MENGHAFAL AL-QUR’AN

Oleh
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin

Pertanyaan.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Sebagaimana yang anda
ketahui bahwa Al-Qur’an Al-Karim itu mempunyai peranan penting yang tampak
jelas dalam perilaku keluarga muslim dan masyarakat. Apakah Anda mempunyai
saran dalam hal yang penuh berkah ini, terutama dikarenakan kaum muslimin
tidak mempunyai keinginan untuk memasukkan anak-anaknya ke dalam halaqah
jama’ah tahfizh Al-Qur’an.?

Jawaban.
Sungguh engkau sangat bagus wahai penanya dan tidak ada tambahan lagi atas
apa yang telah engkau sebutkan.

Tidak ragu lagi bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah, dan hanya membacanya
karena Allah bisa mendapatkan pahala, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka dia mendapat
satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali
lipat, saya tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif satu
huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf” [Hadits dikeluarkan oleh
At-Tirmidzi dari Abdullah Ibn Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu no. 2910 Kitab
Fadhail Al-Qur’an, bab: 16. Imam At-Tirmidzi berkata : Ini hadits hasan
shahih, hadits ini dishahihkan juga oleh Al-Albani, lihat Shahih Al-Jami
5/340]

Jika halnya seperti ini maka seharusnya setiap muslim itu memperhatikan
Al-Qur’an, memperhatikan membacanya, tajwidnya dan selalu sering membacanya
agar dia termasuk dalam golongan orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan
sebenar-benarnya, seyogyanya menetapkan jadwal harian untuk membacanya,
sehingga tidak ada hari yang berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.

Bila dia mempunyai waktu khusus seperti ba’da shalat Shubuh dan ba’da shalat
Maghrib, dia mengambil mushaf dan terus membacanya –bila tidak hafal- dia
membaca apa yang mudah baginya setiap hari. Dengan cara seperti ini berarti
dia telah memperhatikan Al-Qur’an dan tidak meninggalkannya, karena
sesungguhnya Allah mencela orang-orang yang meninggalkannya di dalam
firmanNya.

“Artinya : Dan Rasul berkata, “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah


menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diacuhkan” [Al-Furqan : 30]

Artinya mereka berpaling dari Al-Qur’an.

Meninggalkannya adalah berpaling darinya, tidak membacanya sesuai dengan


yang semestinya dan lain-lain, ini berhubungan dengan orang awam.
Begitu juga kami wasiatkan kepada orang muslim yang baik terhadap dirinya
sendiri dan yang cinta kepada sesama, agar mendidik anak-anaknya untuk
menghafal Kitab Allah semenjak usia dini, menjadikan mereka cinta terhadap
Kitab Allah dan mengajarkannya sejak kecil sehingga mereka tumbuh terdidik
di atas pemahaman Kitab Allah.

Sesungguhnya Jam’iyah Khairiyah banyak tersebar di negeri ini (Saudi


Arabia), di setiap daerah ada sekolah untuk pengajaran Al-Qur’an. Anak-anak
–biasanya- mempunyai waktu senggang di sore hari setelah ba’da Ashar, mereka
tidak mempunyai kesibukan, oleh sebab itu si ayah seharusnya membawa
anak-anaknya dan menggabungkan mereka pada sekolah-sekolah ini serta
mendorong dan memberi semangat mereka untuk hal itu meskipun dengan
diiming-imingi hadiah untuk hadir di sana dan menghafalnya.

Dengan hal seperti itu berarti Allah Ta’ala memberi manfaat terhadap mereka
dan mereka memberi manfaat terhadap orang tuanya. Pembicaraan tentang
manfaat ini sudah dikenal oleh semua (orang), bukan di sini tempat bagi
penjelasannya.

[Disalin dari buku 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an, edisi Indonesia 70 Fatwa
Tentang Al-Qur’an, Penyusun Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, hal. 22-24
Darul Haq]

sumber http://www.almanhaj.or.id
Oleh Ahmad Zain An Najah, MA
(dari ahmadzain.wordpress.com/2007/04/25/sukses-belajar-2/)

Sesuatu yang paling berhak dihafal adalah Al Qur’an, kerana Al Qur’an adalah
Firman Allah, pedoman hidup umat Islam, sumber dari segala sumber hukum, dan bacaan
yang paling sering dulang-ulang oleh manusia. Oleh kerananya, seorang penuntut ilmu
hendaknya meletakkan hafalan Al Qur’an sebagai prioriti utamanya.

Berkata Imam Nawawi : “ Hal Pertama ( yang harus diperhatikan oleh seorang
penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, kerana ia adalah ilmu yang terpenting,
bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadis dan fiqh kecuali bagi siapa yang
telah hafal Al Quran. Kalau sudah hafal Al Quran jangan sekali- kali menyibukkan diri
dengan hadis dan fiqh atau material lainnya, kerana akan menyebabkan hilangnya
sebahagian atau bahkan seluruh hafalan Al Quran. “

Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal :
66

Di bawah ini beberapa langkah efektif untuk menghafal Al Qur’an yang


disebutkan para ulama, diantaranya adalah sebagai berikut :

• Langkah Pertama : Pertama kali seseorang yang ingin menghafal Al Qur’an


hendaknya mengikhlaskan niatnya hanya kerana Allah sahaja. Dengan niat ikhlas,
maka Allah akan membantu menjauhkan anda dari rasa malas dan bosan. Suatu
pekerjaan yang diniatkan ikhlas, biasanya akan terus dan tidak berhenti. Berbeza
kalau niatnya hanya untuk mengejar material atau hanya ingin ikut perlumbaan,
atau kerana yang lain.

• Langkah Kedua : Hendaknya setelah itu, ia melakukan Solat Hajat dengan


memohon kepada Allah agar dimudahkan di dalam menghafal Al Qur’an.
Waktu solat hajat ini tidak ditentukan dan doa’anyapun diserahkan kepada
masing-masing peribadi. Hal ini sebagaimana yang diriwayat Hudzaifah ra, yang
berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم


إذا Øزبه أمر صلى

“ Bahwasanya Rasulullah saw jika ditimpa suatu masalah beliau langsung
mengerjakan solat. “()

• Langkah Ketiga : Memperbanyak do’a untuk menghafal Al Qur’an. ()

Do’a ini memang tidak terdapat dalam hadis, akan tetapi seorang muslim boleh
berdo’a menurut kemampuan dan bahasanya masing-masing. Mungkin anda boleh
berdo’a seperti ini :

اللهم وفقني Ù„Øفظ القرآن الكريم


ورزقني تلاوته أناء الليل وأطراف
النهار على الوجه الذي يرضيك عنا يا
أرØÙ… الراØمين .

“ Ya Allah berikanlah kepadaku taufik untuk menghafal Al Qur’an, dan berilah
aku kekuatan untuk terus membacanya siang dan malam sesuai dengan ridha dan
tuntunan-Mu , wahai Yang Maha Pengasih “.
• Langkah Keempat : Menentukan salah satu metode untuk menghafal Al
Qur’an. Sebenarnya banyak sekali metode yang boleh digunakan untuk
menghafal Al Qur’an, Masing-masing akan mengambil metode yang sesuai
dengan dirinya. Akan tetapi di sini hanya akan disebutkan dua metode yang sering
dipakai oleh sebahagian penghafaz, dan terbukti sangat efektif :

Metode Pertama : Menghafal per satu halaman ( menggunakan Mushaf Madinah ). Kita
membaca satu lembar yang mahu kita hafal sebanyak tiga atau lima kali secara benar,
setelah itu kita baru mulai menghafalnya. Setelah hafal satu lembar, baru kita pindah
kepada lembaran berikutnya dengan cara yang sama. Dan jangan sampai pindah ke
halaman berikutnya kecuali telah mengulangi halaman- halaman yang sudah kita hafal
sebelumnya. Sebagai contoh : jika kita sudah menghafal satu lembar kemudian kita
lanjutkan pada lembar ke-dua, maka sebelum menghafal halaman ke-tiga, kita harus
mengulangi dua halaman sebelumnya. Kemudian sebelum menghafal halaman ke-empat,
kita harus mengulangi tiga halaman yang sudah kita hafal. Kemudian sebelum meghafal
halaman ke-lima, kita harus mengulangi empat halaman yang sudah kita hafal. Jadi, tiap
hari kita mengulangi lima halaman : satu yang baru, empat yang lama. Jika kita ingin
menghafal halaman ke-enam, maka kita harus mengulangi dulu empat halaman
sebelumnya, yaitu halaman dua, tiga, empat dan lima. Untuk halaman satu kita tinggal
dulu, kerana sudah terulangi lima kali. Jika kita ingin menghafal halaman ke-tujuh, maka
kita harus mengulangi dulu empat halaman sebelumnya, yaitu halaman tiga, empat, lima,
dan enam. Untuk halaman satu dan dua kita tinggal dulu, kerana sudah terulangi lima
kali, dan begitu seterusnya.

Perlu diperhatikan juga, setiap kita menghafal satu halaman sebaiknya ditambah satu ayat
di halaman berikutnya, agar kita boleh menyambungkan hafalan antara satu halaman
dengan halaman berikutnya.

Metode Kedua : Menghafal per- ayat , yaitu membaca satu ayat yang mahu kita hafal
tiga atau lima kali secara benar, setelah itu, kita baru menghafal ayat tersebut. Setelah
selesai, kita pindah ke ayat berikutnya dengan cara yang sama, dan begiu seterusnya
sampai satu halaman. Akan tetapi sebelum pindah ke ayat berikutnya kita harus
mengulangi apa yang sudah kita hafal dari ayat sebelumnya. Setelah satu halaman, maka
kita mengulanginya sebagaimana yang telah diterangkan pada metode pertama . ()

Untuk memudahkan hafalan juga, kita boleh membahagi Al Qur’an menjadi


tujuh hizb ( bahagian ) :

1. Surat Al Baqarah sampai Surat An Nisa’


2. Surat Al Maidah sampai Surat At Taubah
3. Surat Yunus sampai Surat An Nahl
4. Surat Al Isra’ sampai Al Furqan
5. Surat As Syuara’ sampai Surat Yasin
6. Surat As Shoffat sampai Surat Al Hujurat
7. Surat Qaf sampai Surat An Nas

Boleh juga dimulai dari bagian terakhir yaitu dari Surat Qaf sampai Surat An Nas,
kemudian masuk pada bahagian ke-enam dan seterusnya.

• Langkah Kelima : Memperbaiki Bacaan.

Sebelum mulai menghafal, hendaknya kita memperbaiki bacaan Al Qur’an agar


sesuai dengan tajwid. Perbaikan bacaan meliputi beberapa hal, diantaranya :

a) Memperbaiki Makhraj Huruf. Seperti huruf ( dzal) jangan dibaca ( zal ), atau huruf (
tsa) jangan dibaca ( sa’ ) sebagaimana contoh di bawah ini :

ثم —— > سم / الذين —- > الزين

b) Memperbaiki Harakat Huruf . Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat di bawah ini :
1/ وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ
رَبُّهُ بِكَلِمات ( البقرة : 124 ) —- > )
إبراهيمُ ﴾

2/ وَكُنْت ُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا م


َا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا
تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ
الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ( المائدة :
116 )

وَكُنْت ُ < ——— > كُنْتَ

3/ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْØ-


َقِّ Ø£ÙŽØَقُّ أَنْ يتَّبَعَ أَمْ Ù…
َنْ لَا يَهِدِّي إِلَّا أَنْ
يُهْدَى ( ونس : 35 ) —- > أم من لا
يَهْدِي

4/ رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ


أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ ( فصلت :29 ) —– > الَّذِين

5/ فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا
أَنَّهُمَا فِي النَّارِ
خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ
جَزَاءُ الظَّالِمِينَ ï´¾ الØشر: 17)
—– > خالدِين فيها

• Langkah Keenam : Untuk menunjang agar bacaan baik, hendaknya hafalan yang
ada, kita tasmi’kan kepada orang lain, agar orang tersebut membenarkan jika
bacaan kita salah. Kadang, ketika menghafal sendiri sering terjadi kesalahan
dalam bacaan kita, kerana kita tidak pernah mentasmi’kan hafalan kita kepada
orang lain, sehingga kesalahan itu terus terbawa dalam hafalan kita, dan kita
menghafalnya dengan bacaan tersebut bertahun-tahun lamanya tanpa mengetahui
bahwa itu salah, sampai orang lain yang mendengarkannya akhirnya
memberitahukan kesalahan tersebut.

• Langkah Ketujuh : Faktor lain agar bacaan kita baik dan tidak salah, adalah
memperbanyak untuk mendengar kaset-kaset bacaan Al Qur’an murattal dari
syeikh yang mantap dalam bacaannya. Kalau boleh, tidak hanya sekadar
mendengar sambil mengerjakan pekerjaan lain, akan tetapi mendengar dengan
serius dan secara teratur. Untuk diketahui, akhir-akhir ini – Alhamdulillah –
banyak program TV yang menyiarkan secara langsung pelajaran Al Qur’an
murattal dari seorang syeikh yang mantap.

• Langkah Kelapan : Untuk menguatkan hafalan, hendaknya kita mengulangi


halaman yang sudah kita hafal sesering mungkin, jangan sampai kita sudah
merasa hafal satu halaman, kemudian kita tinggal hafalan tersebut dalam tempoh
yang lama, hal ini akan menyebabkan hilangnya hafalan tersebut. Diriwayatkan
bahwa Imam Ibnu Abi Hatim, seorang ahli hadis yang terkenal dengan kuatnya
hafalannya. Pada suatu ketika, ia menghafal sebuah buku dan diulanginya berkali-
kali, mungkin sampai tujuh puluh kali. Kebetulan dalam rumah itu ada nenek tua.
Kerana seringnya dia mengulang-ulang hafalannya, sampai nenek tersebut bosan
mendengarnya, kemudian nenek tersebut memanggil Ibnu Abi Hatim dan
bertanya kepadanya : Wahai anak, apa yang sedang engkau kerjakan ? “Saya
sedang menghafal sebuah buku “ , jawabnya. Berkata nenek tersebut : “
Jangan seperti itu, saya saja sudah hafal buku tersebut hanya dengan mendengar
hafalanmu.” . “ Kalau begitu, saya ingin mendengar hafalanmu “ kata
Ibnu Abi Hatim, lalu nenek tersebut mulai mengeluarkan hafalannya. Setelah
kejadian itu berlalu setahun lamanya, Ibnu Abi Hatim datang kembali kepada
nenek tersebut dan meminta agar nenek tersebut menngulangi hafalan yang sudah
dihafalnya setahun yang lalu, ternyata nenek tersebut sudah tidak hafal sama
sekali tentang buku tersebut, dan sebaliknya Ibnu Abi Hatim, tidak ada satupun
hafalannya yang lupa. () Cerita ini menunjukkan bahwa mengulang-ulang hafalan
sangatlah penting. Barangkali kalau sekadar menghafal banyak orang yang
mampu melakukannya dengan cepat, sebagaimana nenek tadi. Bahkan kita sering
mendengar seseorang boleh menghafal Al Qur’an dalam hitungan minggu
atau hitungan bulan, dan hal itu tidak terlalu sulit, akan tetapi yang sulit adalah
menjaga hafalan dan mengulanginya secara konsisten.

• Langkah Kesembilan : Faktor lain yang menguatkan hafalan adalah


menggunakan seluruh panca indera yang kita miliki. Maksudnya kita menghafal
bukan hanya dengan mata saja, akan tetapi dengan membacanya dengan mulut
kita, dan kalau perlu kita lanjutkan dengan menulisnya ke dalam buku atau papan
tulis. Ini sangat membantu hafalan seseorang. Ada beberapa teman dari Morocco
yang menceritakan bahawa cara menghafal Al Qur’an yang diterapkan di
sebagian daerah di Morocco adalah dengan menuliskan hafalannya di atas papan
kecil yang dipegang oleh murid, setelah mereka menghafalnya di luar kepala, baru
tulisan tersebut dicuci dengan air.

• Langkah Kesepuluh : Menghafal kepada seorang guru.

Menghafal Al Qur’an kepada seorang guru yang ahli dan mapan dalam Al Qur’an
adalah sangat diperlukan agar seseorang boleh menghafal dengan baik dan benar.
Rasulullah saw sendiri menghafal Al Qur’an dengan Jibril as, dan mengulanginya
pada bulan Ramadlan sampai dua kali katam.

• Langkah Kesebelas : Menggunakan satu jenis mushaf Al Qur’an dan jangan


sekali-kali pindah dari satu jenis mushaf kepada yang lainnya. () Kerana mata kita
akan ikut menghafal apa yang kita lihat. Jika kita melihat satu ayat lebih dari satu
posisi, jelas itu akan mengaburkan hafalan kita. Masalah ini, sudah dihimbau oleh
salah seorang penyair dalam tulisannya :

العين تØÙ チ ظ قبل الأذن ما تبصر Ù チ اختر


لن٠チ سك مصØÙ チ عمرك الباقي .

“ Mata akan menghafal apa yang dilihatnya- sebelum telinga- , maka pilihlah satu
mushaf untuk anda selama hidupmu. “()

Yang dimaksud jenis mushaf di sini adalah model penulisan mushaf. Di sana ada
beberapa model penulisan mushaf, diantaranya adalah : Mushaf Madinah atau terkenal
dengan Al Qur’an pojok, satu juz dari mushaf ini terdiri dari 10 lembar, 20 halaman,
8 hizb, dan setiap halaman dimulai dengan ayat baru. Mushaf Madinah ( Mushaf Pojok )
ini paling banyak dipakai oleh para pengahafal Al Qur’an, banyak dibagi-bagikan
oleh pemerintah Saudi kepada para jama’ah haji. Cetakan-cetakan Al Qur’an
sekarang merujuk kepada model mushaf seperti ini. Dan bentuk mushaf seperti ini paling
baik untuk dipakai menghafal Al Qur’an.

Disana ada model lain, seperti mushaf Al Qur’an yang dipakai oleh sebahagian orang
Mesir, ada juga mushaf yang dipakai oleh sebahagian orang Pakistan dan India, bahkan
ada model mushaf yang dipakai oleh sebagian pondok pesantren tahfidh Al Qur’an di
Indonesia yang dicetak oleh Manar Qudus , Demak.

• Langkah Keduabelas : Pilihlah waktu yang tepat untuk menghafal, dan ini
tergantung kepada peribadi masing-masing. Akan tetapi dalam suatu hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, disebutkan bahwasanya Rasulullah saw
bersabda :

إن الدين يسر ØŒ ولن يشاد الدين Ø£Øد


إلا غلبه ، فسددوا وقاربوا و أبشروا
ØŒ واستعينوا بالغدوة والروØØ© وشئ من
الدلجة
“ Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada yang mempersulit diri dalam agama
ini kecuali dia akan capai sendiri, makanya amalkan agama ini dengan benar, perlahan-
perlahan, dan berilah khabar gembira, serta gunakan waktu pagi, siang dan malam
( untuk mengerjakannya ) “ ( HR Bukhari )

Dalam hadis di atas disebutkan waktu pagi, siang dan malam, ertinya kita boleh
menggunakan waktu-waktu tersebut untuk menghafal Al Qur’an. Sebagai contoh : di
pagi hari, sehabis solat subuh sampai terbitnya matahari, boleh kita gunakan untuk
menghafal Al Qur’an atau untuk mengulangi hafalan tersebut, waktu siang siang,
habis solat zuhur, waktu petang habis solat Ashar, waktu malam habis solat Isya’ atau
ketika melakukan solat tahajud dan seterusnya.

• Langkah Ketigabelas : Salah satu waktu yang sangat tepat untuk melakukan
pengulangan hafalan adalah waktu ketika sedang mengerjakan solat –solat
sunnah, baik di masjid mahupun di rumah. Hal ini kerana waktu solat, seseorang
sedang fokus menghadap Allah, dan fokus inilah yang membantu kita dalam
mengulangi hafalan. Berbeza ketika di luar solat, seseorang cenderung untuk
bosan berada dalam satu posisi, ia ingin selalu bergerak, kadang matanya melihat
kanan atau kiri, atau kepalanya akan melihat ketika ada sesuatu yang menarik,
atau bahkan kawannya akan menghampirinya dan mengajaknya berbual-bual.
Berbeza kalau seseorang sedang solat, kawannya yang punya kepentingan
kepadanya-pun terpaksa harus menunggu selesainya solat dan tidak berani
mendekatinya, dan begitu seterusnya.

• Langkah Keempatbelas : Salah satu faktor yang mendukung hafalan adalah


memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih ) . Biasanya seseorang yang
tidak memperhatikan ayat-ayat yang serupa ( mutasyabih ), hafalannya akan
tumpang tindih antara satu dengan lainnya. Ayat yang ada di juz lima umpamanya
akan terbawa ke juz sepuluh. Ayat yang mestinya ada di surat Surat Al-Maidah
akan terbawa ke surat Al-Baqarah, dan begitu seterusnya. Di bawah ini ada
beberapa contoh ayat-ayat serupa ( mutasyabihah ) yang seseorang sering
melakukan kesalahan ketika menghafalnya :

- ﴿ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ


اللَّهِ ﴾ البقرة 173 < ———— > ﴿ وَمَا
أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ )
المائدة 3 ØŒ والأنعام 145ØŒ Ùˆ النØÙ„ 115

- ( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا


يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير
الØÙ‚ ) البقرة : 61

( إن الذين يكفرون بآيات اللَّهِ


وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّين بغير
ØÙ‚ ) آل عمران : 21

( ذلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا


يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
وَيَقْتُلُونَ الأنبياء بغير ØÙ‚ ) Ø
¢Ù„ عمرن : 112

Untuk melihat ayat –ayat mutasyabihat seperti ini secara lebih lengkap boleh
dirujuk buku – buku berikut :

1. Duurat At Tanzil wa Ghurrat At Ta’wil fi Bayan Al Ayat Al Mutasyabihat


min Kitabillahi Al Aziz , karya Al Khatib Al Kafi.
2. Asrar At Tikrar fi Al Qur’an, karya : Mahmud bin Hamzah Al Kirmany.
3. Mutasyabihat Al Qur’an, Abul Husain bin Al Munady
4. ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, karya Abu Dzar Al Qalamuni
• Langkah Kelimabelas : Setelah hafal Al Qur’an, jangan sampai ditinggal
begitu saja. Banyak dari teman-teman yang sudah menamatkan Al Qur’an di
salah satu pondok pesantren, setelah keluar dan sibuk dengan studinya yang lebih
tinggi, atau setelah menikah atau sudah sibuk pada suatu pekerjaan, dia tidak lagi
mempunyai program untuk menjaga hafalannya kembali, sehingga Al-Qur’an
yang sudah dihafalnya beberapa tahun di pesantren akhirnya hanya tinggal
kenangan saja. Setelah ditinggal lama dan sibuk dengan urusannya, ia merasa
berat untuk mengembalikan hafalannya lagi. Fenomena seperti sangat banyak
terjadi dan hal itu sangat disayangkan sekali. Boleh jadi, ia mendapatkan ijazah
sebagai seorang yang bergelar ” hafiz ” atau ” hafizah “, akan tetapi
jika ditanya tentang hafalan Al- Qur’an, maka jawapannya adalah kecewa.

Yang paling penting dalam hal ini bukanlah menghafal, kerana banyak orang mampu
menghafal Al Qur’an dalam waktu yang sangat singkat, akan tetapi yang paling
penting adalah bagaimana kita menjaga hafalan tersebut agar tetap terus ada dalam dada
kita. Di sinilah letak perbezaan antara orang yang benar-benar istiqamah dengan orang
yang hanya rajin pada awalnya saja. Kerana, untuk menjaga hafalan Al Qur’an
diperlukan kemahuan yang kuat dan istiqamah yang tinggi. Dia harus meluangkan
waktunya setiap hari untuk mengulangi hafalannya. Banyak cara untuk menjaga hafalan
Al Qur’an, masing-masing tentunya memilih yang terbaik untuknya.

Diantara cara untuk menjaga hafalan Al Qur’an adalah sebagai berikut :

Mengulangi hafalan menurut waktu solat lima waktu. Seorang muslim tentunya tidak
pernah meninggalkan solat lima waktu, hal ini hendaknya dimanfaatkan untuk
mengulangi hafalannya. Agar terasa lebih ringan, hendaknya setiap solat dibagi menjadi
dua bahagian, sebelum solat dan sesudahnya.

Sebelum solat umpamanya: sebelum azan, dan waktu antara azan dan iqamah. Apabila
dia termasuk orang yang rajin ke masjid, sebaiknya pergi ke masjid sebelum azan agar
waktu untuk mengulangi hafalannya lebih panjang.

Kemudian setelah solat, yaitu setelah membaca zikir ba’da solat atau zikir pagi pada
solat shubuh dan setelah zikir selepas solat Asar. Seandainya saja, ia mampu mengulangi
hafalannya sebelum solat sebanyak seperempat juz dan sesudah solat seperempat juz
juga, maka dalam satu hari dia boleh mengulangi hafalannya sebanyak dua juz setengah.

Kalau istiqamah seperti ini, maka dia boleh menghatamkan hafalannya setiap dua belas
hari, tanpa menyita waktunya sama sekali. Kalau dia mampu menyempurnakan setengah
juz setiap hari pada solat malam atau solat-solat sunnah lainnya, bererti dia boleh
menyelesaikan setiap harinya tiga juz, dan boleh mengkhatamkan Al Qur’an pada
setiap sepuluh hari sekali. Banyak para ulama dahulu yang menghatamkan hafalannya
setiap sepuluh hari sekali.

Ada sebahagian orang yang mengulangi hafalannya pada malam saja, yaitu ketika ia
mengerjakan solat tahajud. Biasanya dia menghabiskan solat tahajudnya selama dua jam.
Cuma kita tidak tahu, selama dua jam itu berapa juz yang ia dapatkan. Menurut ukuran
umum, kalau hafalannya lancar, biasanya ia boleh menyelesaikan satu juz dalam waktu
setengah jam. Bererti, selama dua jam dia boleh menyelesaikan dua sampai tiga juz
dengan dikurangi waktu sujud dan ruku.

Ada juga sebagian teman yang mengulangi hafalannya dengan cara masuk dalam halaqah
para penghafal Al Qur’an. Kalau halaqah tersebut berkumpul setiap tiga hari sekali,
dan setiap peserta wajib mendengarkan hafalannya kepada temannya lima juz bererti
masing-masing dari peserta mampu mengkhatamkan Al Qur’an setiap lima belas hari
sekali. Inipun hanya boleh terlaksana jika masing-masing dari peserta mengulangi
hafalannya sendiri-sendiri dahulu.

————————————————————-

( ) Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I,
hal : 66
( ) Hadis riwayat Abu Daud ( no : 1319 ), disahihkan oleh Syekh Al Bani dalam Sahih
Sunan Abu Daud , juz I, hal. 361

( ) Untuk mengetahui secara lebih lengkap tentang derajat hadis tersebut boleh dirujuk :
Abu Umar Abdullah bin Muhammad Al Hamadi, Al Asinatu Al Musyri’atu fi At
Tahdhir min As Solawat Al Mubtadi’ah, ( Kairo, Maktabah At Tabi’in, 2002 )
Cet Pertama, hal. 97 -120

( ) Ibid, hal.21-39

( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Ashal Nidham Li Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo,
Maktabah Al Islamiyah, 2002 ) Cet. Ke-Tiga, Hal. 13

( ) Ali bin Umar Badhdah, Kaifa Tahfadu Al Qur’an, hal. 6

( ) Ibid. hal 12

( ) Abu Dzar Al Qalamuni, ‘Aunu Ar Rahman fi Hifdhi Al Qur’an, ( Kairo, Dar


Ibnu Al Haitsam, 1998 ) Cet Pertama, hal.16

( ) Abu Abdur Rahman Al Baz Taufiq, Op. Cit, Hal. 15

Share This

This entry was posted on Tuesday, May 29th, 2007 at 11:40 am and is filed under Al Quran & Tafsir. You
can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback
from your own site.

6 Responses to “15 langkah efektif untuk menghafal Al-Quran”

1. Says:
May 31st, 2007 at 1:37 am

assalamualaikum…

zai ada jumpa al-quran online …

semoga berbahagia selalu..zai attached kat sini ek jeehan…

http://www.e-quran.net/pages.asp?dil=&syf=440

tata..salam

2. Says:
May 31st, 2007 at 11:43 am

W’salam wrmth Zai,


Tq very much sbb bagi link tu…
Kalau ada link lain yg berguna or relevant with this topic, forward kat Jeehan yer?

Tq again.

3. Says:
July 16th, 2007 at 11:10 pm

Assalamualikum wrt,

Dearest Jeehan,
Well Done. I’v been looking 4 petua2 menghafal Al-Quran ni, InsyaAllah will
follow thru…Can u help to print it so I can make like a booklet which we can
carry it wherever we go and read it at any time and of course will share with
others…

May Allah Bless & IN HIS Care Always. Tak