Anda di halaman 1dari 15

SEJARAH PERKEMBANGAN ARSITEKTUR DUNIA

LOG BOOK

KLASIK/YUNANI
GAYA IONIC

OLEH: AULIA KURNIA PUTRI (I0212025)

PRODI ARSITEKTUR JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan B. Tujuan Penulisan

BAB II EKSPLORASI
A. SEJARAH YUNANI
1. Masa Awal Yunani Gaya arsitektur Yunani, tersebar tidak hanya di Yunani, tapi juga di asia dan afrika. Informasi bangunan pada masa awal yaitu hanyalah sisa-sisa tembok melingkar disekitar kota dan istana, yang dikenal dengan nama cyclopean, ditemukan di daerah Yunani maupun didaerah jajahan Yunani, seperti di itali dan sardinia. Tembok itu terdiri dari batu besar berbentuk polygonal yang disusun secara pas satu sama lain. Struktur ini dibangun tanpa menggunakan semen. Salah satu yang tertua dibangun dengan batu-batu besar dengan bentuk aslinya, tidak dipotong, disusun dan diperkuat dengan batu yang lebih kecil pada celahcelahnya.

Gambar 1. cyclopean wall (kiri) dan gerbang masuk di Myecenre Sumber gambar: History of Architectural Styles (1987) by T. Roger

Mengenai bangunan di istana, dari informasi yang didapatkan pada puisi homeric, bahwa bangunan itu dikelilingi oleh tembok cyclopean, dan memiliki halaman dalam dan luar, yang kemudian dikelilingi oleh serambi dan kamarkamar. Tetrastoon adalah halaman atau taman di rumah yang dikelilingi oleh gang di sekelilingya. Pada tiap sisi tetrastoon, terdapat tiang-tiang, sehingga keindahan tetrastoon dapat langsung dipandang dari luar. Orang Yunani dan orang Mediterania lainnya bisanya bersantai di tetrastoon untuk berjemur. Selain itu, mereka juga sering menenun, memintal, bermain, mengasuh bayi dan beristirahat di tetrastoon. Pada Abad Pertengahan, tetrastoon dikembangkan menjadi kloister di biara-biara.

Gambar 2. Rekonstruksi tetrastoon d Pompeii Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/1a/ Ricostruzione_del_giardino_della_casa_dei_vetii_di_pompei_%28mostra_al_giardino_di_boboli%2C_2007%29_01.JP G diakses 16 November 2013

2. Yunani Kuno: Arkaik Pada periode ini, orang Yunani tak lagi berminat membangun istana bagi para raja. Alih-alih, mereka lebih suka membangun kuil bagi para dewa. Kemungkinan orang Yunani memperoleh gagasan ini dari orang Mesir, yang sudah membangun kuil dewa sejak lama. Pada masa itu, memang banyak orang Yunani yang bkerja di Mesir. Kuil Yunani adalah bangunan Yunani yang paling terkenal. Kuil Yunani menggabungkan tradisi rumah megaron Yunani dengan gaya kuil Mesir sehingga menghasilkan bentuk kuil baru yang sederhana namun elegan. Kuil-kuil Yunani tertua, dibangun sekitar tahun 800 SM, dibuat dari kayu. Bentuknya berupa bangunan segi empat dengan beranda di keempat penjurunya yang disertai oleh tiang dari batang pohon. Atapnya kemungkinan berupa jerami atau rerumputan, atau bisa juga atap genting. Pada kuil Yunani Arkaik awal, tiang dan atapnya dibuat dari kayu. Supaya kayunya tidak membusuk, di bawah tiap tiang ditaruh batu datar, sedangkan untuk membantu tiang menahan beban bangunan, di bagian atas tiang ditaruh potongan kayu. Namun dengan cepat orang Yunani mulai membangun kuil dari batu kapur, karena lebih indah dan tahan lama. Kuil batu awal memiliki tiang yang tebal dan besar, serta kapital (potongan kayu atau batu pada bagian atas tiang). Untuk membuat kuil yang lebih indah, para arsitek Yunani mulai membangun kuil di atas platform batu kecil yang dilengkapi tangga. Fasad (bagian depan) kuil Yunani Arkaik dibangun mirip dengan kuil kayu lama, hanya bahan bakunya saja yang berbeda. Di antara tiang batu dan pedimen (atap berbentuk segitiga), terdapat serangkaian garis vertikal yang disebut triglif, dan di antara garis-garis itu terdapat ruang yang disebut metope. Para arsitek Yunani tidak melakukan banyak perubahan desain kuil ketika terjadi pergantian bahan baku dari kayu menjadi batu. Ini karena kuil merupakan bangunan suci untuk memuja para dewa, dan orang Yunani takut para dewa akan merah jika terjadi banyak perubahan pada kuil. Bagi orang Yunani, kuil melambangkan bagaiman dunia seharusnya berlangsung. Mereka percaya bahwa manusia harus mengubah kekacauan menjadi keberaturan, yang sekaligus juga membuat para dewa senang. Konsep ini

dilambangkan oleh kuil, karena kuil adalah bangunan yang indah dan beraturan yang dibuat dari batu-batu yang tak beraturan. Selain itu, pada sebuah kuil, semakin atas, maka rancangannya juga semakin rumit. Ini melambangkan bahwa di atas (di langit) ada para dewa, yang mengingatkan orang Yunani bahwa kuil adalah bangunan yang suci. Pada perkembangan selanjutnya, gaya doric dikenalkan oleh suku doric, menyebabkan gaya lama perlahan-lahan ditinggalkan. Bersamaan dengan gaya ionic yang muncul pada kisaran periode ini. Dipercaya bahwa gaya doric hanya berkembang pada daerah doric saja, begitu pula gaya ionic hanya berkembang pada daerah ionic, namun tetaplah tidak ada ketentuan mengenai siapa menggunakan gaya apa. Gaya-gaya tersebut bebas digunakan oleh suku daerah mana saja.

Gambar 3. Reruntuhan kuil periode Arkaik, Kuil Poseidon di Sounion Sumber gambar: http://onthespot7hariini.blogspot.com/2011/12/7-kuil-yunani-yang-paling-terkenal.html - diakses 16 November 2013

3. Yunani Klasik Ketika terjadi pergantian periode dari Arkaik ke Klasik, tidak muncul banyak perubahan pada arsitektur. Yang unik adalah bahwa pada masa kini, ada lebih banyak kuil dari perode Arkaik dibandingkan dari periode Klasik yang masih bertahan. Dalam beberapa alasan, jenis arsitektur ini dibangun dengan tiga tujuan: sebagai tempat berlindung (fungsi rumah tinggal, sebagai wadah penyembahan Tuhan (fungsi rumah peribadatan) dan tempat berkumpul (balai kota, dsb). Untuk alasan kedua dan ketiga inilah bangunan ini dibuat sedetail mungkin dan seindah mungkin dengan memberi ornamen-ornamen hiasan yang rumit. Seiring waktu berlalu, bangunan menjadi lebih rumit dan lebih rinci. Beberapa peradaban yang tumbuh dari batu dan lumpur turut memperkaya ragam bentuk Arsitektur Klasik, misalnya candi dan kuburan orang-orang Mesir. Perkembangan gaya doric dan ionic, sekitar awal abad 6 sm, membentuk periode ketiga dari arsitektur yunani, yang ditandai oleh banyak bangunan. Akan tetapi tidak ada bangunan gaya ionic yang masih berdiri sekarang. Seni yunani mencapai masa kejayaan pada masa setelah perang persia, yang merupakan imbas dari keinginan untuk membangun kembali kota athena.

Salah satu kuil Klasik terkenal yang masih ada yaitu Parthenon di Athena, yang rancangannya menggabungkan gaya lama (Doria) dan gaya baru (Ionia). Dan juga bangunan Erechteium yang bergaya ionic. Parthenon adalah kuil bagi dewi Athena Parthenos ("Athena Suci"). Kuil ini dibangun pada tahun 440-an SM dari uang iuran Liga Delos, sebuah perkumpulan yang dipimpin oleh kota Athena. Kuil ini dimaksudkan untuk menjadi salah satu kuil terbaik yang pernah dibangun. Keseluruhan bangunanya dibuat dari marmer, bahkan gentingnya juga. Di bagian depannya terdapat delapan tiang dan pada metopenya terdapat relief yang indah. Supaya Parthenon nampak mengarah ke langit, arsiteknya melengkungkan banyak garisnya ke arah atas pada bagian tengahnya. Pada periode ini ditemukan pula gaya ionic yang terdapat pada sebuah bangunan penting pada masa itu. Bangunan itu bernama Erechtheium, yang merupakan gabungan dari 3 kuil, 1 didedikasikan untuk Erectheus, 2 untuk Minerva Polias sebagai pelindung kota, dan 3 untuk Nymph Pandrosus, salah satu putri dari Cecrops. Terdapat pula patung Caryatide sebagai pengganti dari kolom.

Gambar 4. Kuil Parthenon (kiri), Kuil Erechteium (kanan) Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e8/Parthenon-2008_entzerrt.jpg (kiri) sepuluhhal.blogspot.com (kanan) diakses 16 November 2013

4. Yunani Hellenistik Pada periode Hellenistik, orang Yunani tetap membuat kuil, namun mereka juga mulai membangun bangunan umum besar lainnya. Mereka membangun banyak teater dan gimnasium, dan karena banyak pertempuran, mereka juga membangun benteng. Setelah Aleksander Agung menaklukan Asia Barat pada tahun 300-an SM, arsitektur Yunani menyebar ke Asia Barat dan bahkan hingga ke India. Pada masa itu orang mulai berminat pada perencanaan kota, dan banyak kota baru yang dimulai dengan terlebih dahulu merancang jalan dan alun-alun secara cermat. Setelah sekitar tahun 250 SM, tidak banyak lagi bangunan yang dibuat, karena kerajaan-kerajaan Hellenistik tidak lagi cukup kaya untuk membiayai pembangunan.

Gambar 5. Rekonstruksi Altar Pergamon yang kini berada di Museum Pergamon, Berlin. Altar Pergamon sendiri dibangun pada masa Hellenistik. Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2d/Pergamonmuseum_Pergamonaltar.jpg diakses 16 November 2013

B. CIRI UMUM KUIL YUNANI


Tipikal bentuk dari kuil tidak berubah, walaupun pada tiap gaya memberikan detail arsitektur yang berbeda untuk memunculkan karakteristiknya masing-masing. Perbedaan ini mudah untuk dikenali. Gaya-gaya ini biasanya merujuk pada gaya kolomnya, karena perbedaan paling mencolok terdapat pada kolomnya (capital kolom). Sejak masa yunani hingga romawi, 3 gaya (doric, ionic, dan corinthian) dikembangkan. Gaya doric mempunyai karakter kesederhanaan dan kekuatan, gaya ionic yaitu keanggunan dan kehalusan, gaya corinthian yaitu keringanan dan kaya akan dekorasi. Berdasarkan urutan itu, doric dan ionic merupakan yang paling awal dan paling sering digunakan di yunani, dan banyak terdapat pada kuil-kuil besar. Corinthian datang setelahnya, dan sering digunakan untuk bangunanbangunan kecil, ketika masa romawi barulah gaya corinthian diaplikasikan pada bangunan berskala besar untuk memenuhi keinginan romawi yang agung. Walaupun memiliki perbedaan bentuk dan karakter, keseluruhan struktur memiliki prinsip yang sama.

Gambar 6. perbandingan 3 gaya kolom Sumber gambar: http://atpic.files.wordpress.com/2010/07/image5.png diakses 16 November 2013

1. Crepidoma dan Stylobate

Gambar 7. Bagian crepidoma dan stylobate kuil Yunani Klasik Sumber gambar: http://threes.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20:greek-columns&catid=67:artdesign&Itemid=42 diakses 16 November 2013

Crepidoma adalah platform yang diletakkan diatas euthynteria (pondasi). Crepidoma biasanya memiliki 3 tigkat, tingkatan tersebut berkurang ukurannya secara bertahap membentuk pijakan (tangga) pada beberapa sisi bangunan. Stylobate adalah pijakan paling atas dari Crepidoma, dimana pada platform ini kolom didirikan. Juga sebagai lantai kuil. 2. Kolom: Capital, Shaft, dan Base

Gambar 8. Bagian kolom pada kuil Yunani Klasik Sumber gambar: http://threes.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20:greek-columns&catid=67:artdesign&Itemid=42 diakses 16 November 2013

Sebagai transisi ke entablature, kolomnya memiliki Capital, yang kemudian dianggap sebagai kepala dari kolom, dan sekaligus ciri khusus yang membedakan antara doric, ionic, dan corinthian.

Gambar 9. Capital gaya: Doric (kiri), Ionic (tengah), Corinthian (kanan) Sumber gambar: http://threes.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20:greek-columns&catid=67:artdesign&Itemid=42 diakses 16 November 2013

Shaftnya selalu berbentuk lingkaran, dan makin mengecil pada atas kolom, disebut diminution (pengurangan). Kolomnya tidak membentuk garis lurus, tapi bentuk kurva hiperbolis disebut entasis, kolom ini membesar membentuk kurva di bagian tengahnya. Diminution bertujuan untuk menahan beban, sedangkan entasis memberikan kesan elastis dan kokoh.

Gambar 10. entasis dan diminution pada shaft Sumber gambar: dokumentasi pribadi

Bagian shaft dihiasi dengan flutasi, yang mengelilingi kolom. Flutasi adalah saluran vertikal yang memberikan efek bentuk kolom yang bervariasi, efek pembayangan yang berbeda, dan secara mengagumkan menekankan bentuk lingkaran kolom. Flutasi pada tiang juga memberi nuansa ritme pada kuil, yang oleh para arsitek Yunani kuno dianggap sebagai aspek penting dari kuil. Orang Yunani kemungkinan melakukan ini karena pada awalnya tiang dibuat dari batang kayu, dan ketika pembangun kuil mengupas kulit pohon, pada batang tersebut muncul sisa-sisa potongan berbentuk vertikal. Ketika orang Yunani menggunakan batu, mereka tetap membuat bentuk sisa-sisa potongan itu karena dapat membuat tiang terlihat lebih tipis, tinggi, dan elegan.

Gambar . tiang yang di flutasi Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d6/Templo-Evora_1.JPG diakses 16 November 2013

Sebagai bagian dari kolom, kecuali pada gaya doric, terdapat base atau kaki dari kolom, yang menempel pada stylobate.

Gambar . perbandingan base pada gaya Doric, Ionic, dan Corinthian Sumber gambar: http://threes.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20:greek-columns&catid=67:artdesign&Itemid=42 diakses 16 November 2013

3. Entablature: Architrave, Frieze, dan Cornice Bagian atas kapital kolom terdapat entablature yang terdapat di bagian depan dan belakang kuil, terbagi menjadi 3 bagian: architrave, frieze, dan cornice. Diatasnya diperkenalkan pediment.

Gambar . Bagian Entablature pada kuil Yunani Klasik Sumber gambar: http://threes.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20:greek-columns&catid=67:artdesign&Itemid=42 diakses 16 November 2013

Kata architrave mengambil dari bahasa yunani arche dan trabs, yang berarti balok utama. Pada tiap-tiap gaya memiliki architrave yang berbeda, bagian

architrave gaya doric hanya berupa bidang kosong, sedangkan gaya ionic dan corinthian terdapat 3 garis horizontal pada architrave nya .

Gambar . architrave pada: gaya corinthian (kiri), gaya ionic (tengah), dan gaya doric (kanan) Sumber gambar: http://1.bp.blogspot.com/zKM_R5SLTWQ/UZtHH91BRwI/AAAAAAAAA94/HsactdyMAgA/s1600/Roman+Orders.jpg diakses 16 November 2013

Frieze terletak pada bagian atas architrave. Frieze memiliki pola khusus yang disebut triglif dan metope. Triglif berselang-seling dengan metope di bagian depan kuil. Triglif adalah tiga buah garis vertikal, dan di antara tiap triglif terdapat metope. Terkadang metope nampak polos tanpa hiasan apapun, misalnya metope yang terdapat di kuil di Agrigento. Pada metope di kuil lainnya terdapat hiasan, seperti di kuil di Sisilia yang memiliki metope dengan relief yang menggambarkan adegan Perseus yang membunuh Medusa. Di kuil Parthenon, releif pada metopenya menggambarkan pertempuran antara suku Lapith melawan para Kentaur.

Gambar . Triglif adalah tiga garis vertikal di atas tiang, dan metope adalah ruang berbentuk segi empat di antara tiap triglif Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/94/RomanDoricOrderEngraving.jpg diakses 16 November 2013

Slope geison Sima

Horizontal geison
Gambar . bagian cornice Sumber gambar: http://www.studyblue.com/notes/note/n/exam-2/deck/6412200 diakses 16 November 2013

Bagian atas frieze terdapat cornice. Terdiri dari geison (horizontal geison dan slope geison), sima (diatas slope geison), dan pedimen. Bagian sima seringkali dihiasi dengan bentuk cipratan air atau kepala singa. Pedimen adalah bagian berbentuk segitiga yang berada di bawa atap pada kuil Yunani. Tiap kuil memiliki dua pedimen, masing-masing berada di depan dan belakang kuil. Pada awalnya, pedimen kemungkinan polos, namun dengan cepat orang Yunani mulai menghiasinya dengan pahatan batu. Salah satu pedimen tertua, di kuil Artemis di pulau Korfu, dihiasi dengan relief Medus, monster perempuan yang mengerikan dari mitologi Yunani.

Gambar . Patung dari pedimen kuil Zeus di Olympia, kini berada di Museum Arkeologi Olympia Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/e0/Olympia.The_entire_frieze.jpg diakses 16 November 2013

Di kemudian hari, para pemahat Yunani mulai membuat satu adegan lengkap dari cerita terkenal, biasanya dari kisah mitos yang populer. Pathenon memiliki pedimen yang dihiasi kisah kelahiran dewi Athena, serta kisah persaingan antara dewi Athena dan dewa Poseidon dalam menjadi dewa pelindung kota Athena. Salah satu hal yang sulit dalam membuat pahatan di pedimen adalah menyesuaikan posisi dan gaya tokoh yang akan dipahat dengan sisi miring yang pada pada pedimen.

Gambar . Rekonstruksi pedimen Parthenon Sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d0/ Reconstruction_of_the_east_pediment_of_the_Parthenon_2.jpg diakses 16 November 2013

C. KUIL YUNANI GAYA IONIC


1. Masa Awal Gaya Ionic Bangsa ionian memiliki treaty port di delta sungai nil. Dari tetangga (bangsa asia) bangsa ionian terlihat mengadopsi sebuah ide bahwa kolom haruslah memiliki base dan kapital. Dengan karakter yunani, mereka membuat simple volute, kapital dengan bentuk gulungan kertas, which had been ubiquotous from palestine to persia, dan dikembangkan ke dalam bentuk dekoratif yang menarik. Sekitar abad 5 SM, gaya ionic telah digunakan di athena sebagai antithesis dengan doric, bentuknya lebih cocok digunakan pada kuil yang lebih kecil. Orang Yunani mulai beralih dari gaya Doria ke gaya baru yang disebut gaya Ionia. Kuil Ionia memiliki tampilan yang lebih rumit dan mewah daripada Doria. Keanggunan dari gaya ionic diekspresikan pada detailnya, melalui banyaknya ukiran, kekayaan dan ornamen yang indah dan lebih halus. Ide untuk menggabungkan gaya kapital kolom hadir pada masa hellenistik sekitar abad 4 SM, ketika telah banyak bangunan berlantai 2. Masa ini juga dikatakan sebagai masa keemasan arsitektur ionic. Karena ketika dilakukan renovasi besar-besaran oleh Alexander the Great, sang arsitek diantaranya yaitu Pytheos dan Hermogenes menggunakan gaya ionic.

Gambar . kuil Athena Nike Sumber gambar: Great Architecture of the World (1975) by John Julius Norwich

Kuil Athena Nike, terletak pada gerbang masuk menuju akropolis, merupakan salah satu bangunan ionic masa awal yang masih bertahan di athena. Kuil ini dibangun pada tahun 448 SM, setelah perdamaian dengan Persia, dan dibangun tahun 427 SM oleh Callicrates. Dibongkar oleh bangsa turki pada abad 17, kemudian dibangun kembali tahun 1836 dan pada 1935. Terlihat kekurangan pada bagian samping kolom, terlihat bahwa kolom ini didesain untuk dilihat hanya dari depan saja. Gaya ionic bentuknya bersumber dari gaya doric. Karakteristik utamanya sama dengan doric, hanya tampilannya yang berbeda. Gaya ionic memiliki lebih banyak ukiran, bentuknya lebih kaya dan lebih elegant, dan dalam hal corak lebih ringan dan lebih anggun daripada doric. Gaya doric diibaratkan sebagai laki-laki, sedangkan ionic diibaratkan sebagai perempuan.

Gambar . gaya ionic Sumber gambar: Great Architecture of the World (1975) by John Julius Norwich

2. Crepidoma dan Stylobate 3. Kolom: Capital, Shaft, dan Base Perkembangan kapital kolom

Gambar . kapital arkaik Sumber gambar: History of Architectural Styles (1987) by T. Roger

Gambar . kapital ionic Sumber gambar: History of Architectural Styles (1987) by T. Roger

Kapital arkaik, pada awalnya volute agak naik dan sedikit menggantung diantara kolom dan entablature. Bagian spiral pada volute were rudimentary. Terdapat pula ukiran daun diatas volute. Kapital ionic, kapitalnya mengalami perkembangan dari bentuk sebelumnya. Bagian volute lebih dibuka dan diturunkan sehingga terlihat menyatu dengan kolom. Diberi ornamen pada echinus (ruang diantara volute dan kolom). Ciri kolom ionic Kolom gaya ionic pada dasarnya memiliki tinggi 8-9 kali diameternya. Biasanya memiliki 24 flutasi. Adiacent flutasi berada terpisah oleh fillet dan dikelilingi pada atas dan bawahnya. Di kuil Ionia, tiangnya memiliki basis tempatnya ditegakkan, jadi tiang tidak langsung diletakkan di atas lantai. Tiangnya juga memiliki lebih banyak flutasi daripada tiang Doria. Pada bagian atas tiang, terdapat lengkungan ganda dari batu, tepat di bawah arkitraf. Pada arkitraf terdapat friz yanng saling menyambung, alih-alih triglif dan metope. kolomnya mengalami diminution sebesar one-sixth of the diameter and an interval of 1 1/3, dan mencapai tinggi of from 5 1/4 to 6 times the diameter. Tinggi entablature dan pediment dikurangi mencapai 1/3 tinggi kolom. Secara keseluruhan bentuknya dibuat lebih elegan. Kolom ionic memiliki less diminished shaft dan parabolic curve yang lebih kecil daripada doric. Kolomnya memiliki base, yang merupakan bagian penting, memiliki moulding atau plain cavetto dengan torus diatasnya, atau torusnya diletakkan diatas diatas 2 cavetti. Kapital kolomnya berupa chusion-like band yang ujungnya berbentuk spiral dan coiled dengan elastic force. Ketika dilihat tampak depan maupun belakangnya terbentuk volutes, kedua sisi tersebut melebihi diameter kolom, dan surpass architrave di breadth. Bentuk gulungan ini, tampak sampingnya terlihat bertemu di satu titik tengah dan membentuk gelombang ke echinus.

4. Entablature: Architrave, Frieze, dan Cornice

Gambar . entablature pada gaya ionic Sumber gambar: http://atpic.files.wordpress.com/2010/07/image9.png - diakses pada 20 Otober 2013

BAB III KESIMPULAN


Daftar Pustaka
Smith, T. Roger.1987.History of Architectural Styles.London: Omega Books Ltd. Norwich, John Julius.1975.Great Architecture of the World.London: Mitchell Beaziey Publisher Ltd http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Arkaik - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Klasik - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Hellenistik - diakses 16 November 2013 http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_klasik - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Flutasi - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Pedimen - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Triglif_dan_Metope - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Ionia - diakses 16 November 2013 http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Arsitektur/Tetrastoon - diakses 16 November 2013 http://en.wikipedia.org/wiki/Crepidoma - diakses 16 November 2013 http://en.wikipedia.org/wiki/Architrave - diakses 16 November 2013 http://en.wikipedia.org/wiki/Ancient_Greek_temple - diakses 16 November 2013

Anda mungkin juga menyukai