Anda di halaman 1dari 17

suhan Neonatus, Bayi, dan Anak Materi Kuliah 7 , tanggal 7 Mei 2013

PEMERIKSAAN NERVUS CRANIALIS


SEL SARAF SISTEM SARAF PUSAT SISTEM SARAF PUSAT Terdapat 12 pasang syaraf kranial dimana beberapa diantaranya adalah serabut campuran, yaitu gabungan syaraf motorik dan sensorik, sementara lainnya adalah hanya syaraf motorik ataupun hanya syaraf sensorik. + Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). + Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. + Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. 1. NERVUS I : OLFAKTORIUS + Tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya gangguan menghidu, selain itu untuk mengetahui apakah gangguan tersebut disebabkan oleh gangguan saraf atau penyakit hidung lokal. + Cara pemeriksaan 1. Sebelumnya periksa lubang hidung apakah ada sumbatan atau kelainan setempat, misalnya ingus atau polip. 2. Salah satu hidung pasien ditutup, dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan tertentu yang tidak merangsang . 3. Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan. + Contoh bahan : teh, kopi,tembakau,sabun, jeruk. + Adapun kelainan yang bisa didapatkan dapat berupa: 1. Anosmia adalah hilangnya daya penghiduan. 2. Hiposmia adalah bila daya ini kurang tajam 3. Hiperosmia adalah daya penghiduan yang terlalu peka. 4. Parosmia adalah gangguan penghiduan bilamana tercium bau yang tidak sesuai misalnya minyak kayu putih tercium sebagai bau bawang goreng. 5. Kakosmia : parosmia memuakkan 6. Halusinasi olfaktorik : tanpa rangsangan } } } +

2. NERVUS II : OPTIKUS rve = Nervus opticus iasm = Chiasma opticum act = Tractus opticus visual centre (lateral geniculate body) = Corpus geniculatum laterale diation = Radiation optica ortex = kortikales Sehzentrum

+ Pemeriksaan: membandingkan ketajaman penglihatan pemeriksa dengan jalan pasien disuruh melihat benda yang letaknya jauh misal jam didinding, membaca huruf di buku atau koran.

melakukan pemeriksaan dengan menggunakan kartu Snellen. Pasien diminta untuk melihat huruf huruf sehingga tiap huruf dilihat pada jarak tertentu, bila dengan melihat melalui lubang kecil (pin hole) huruf bertambah jelas maka faktor yang berperan mungkin gangguan refraksi. Pemeriksaan pengenalan warna dengan tes ishihara dan stiling atau dengan potongan benang wol berbagai warna. Pemeriksaan medan(lapangan) penglihatan 3. NERVUS OKULOMOTORIUS/N III (MOTORIK) + Merupakan nervus yang mempersarafi otot-otot bola mata ekstena, levator palpebra dan konstriktor pupil. + Cara pemeriksaan : Tes putaran bola mata, menggerkan konjungtiva, palpebra, refleks pupil dan inspeksi kelopak mata. N. III, IV, VI 4. NERVUS TROKHLEARIS/N IV (MOTORIK) + Pemeriksaan pupil dengan menggunakan penerangan senter kecil. + Yang diperiksa adalah : ukuran pupil (miosis bila ukuran pupil < 2 mm, normal dengan ukuran 4-5 mm, pin point pupil bila ukuran pupil sangat kecil dan midiriasis dengan ukuran >5 mm), bentuk pupil, kesamaan ukuran antara kedua pupil (isikor / sama, anisokor / tidak sama), dan reaksi pupil terhadap cahaya (positif bila tampak kontraksi pupil, negative bila tidak ada kontraksi pupil. Dilihat juga apakah terdapat perdarahan pupil (diperiksa dengan funduskopi). 5. NERVUS TRIGEMINUS/N V (MOTORIK DAN SENSORIK) + Merupakan syaraf yang mempersarafi sensoris wajah dan otot pengunyah. Alat yang digunakan : kapas, jarum, botol berisi air panas, kuliper/jangka dan garpu penala. a. Sensibilitas wajah : Rasa raba : pemeriksaan dilakukan dengan kapas yang digulung memanjang, dengan menyentuhkan kapas kewajah pasien dimulai dari area normal ke area dengan kelainan. Bandingkan rasa raba pasien antara wajah kiri dan kanan. Rasa nyeri : dengan menggunakan tusukan jarum tajam dan tumpul. Tanyakan pada klien apakah merasakan rasa tajam dan tumpul. Dimulai dari area normal ke area dengan kelainan. Rasa suhu : dengan cara yang sama tapi dengan menggunakan botol berisi air dingin dan air panas, diuji dengan bergantian (panas-dingin). Pasien disuruh meyebutkan panas atau dingin yang dirasakan Rasa sikap : dilakukan dengan menutup kedua mata pasien, pasien diminta menyebutkan area wajah yang disentuh (atas atau bawah). Rasa getar : pasien disuruh membedakan ada atau tidak getaran garpu penala yang disentuhkan ke wajah pasien.

b. Otot mengunyah Cara : pasien disuruh mengatup mulut kuat-kuat kemudian dipalpasi kedua otot pengunyah (muskulus maseter dan temporalis) apakah kontraksinya baik, kurang atau tidak ada. Kemudian dilihat apakah posisi mulut klien simetris atau tidak, mulut miring. 6. Nervus Abdusens/N VI (motorik) + Fungsi otot bola mata dinilai dengan keenam arah utama yaitu lateral. + Cara seperti N. III : Lateral atas, medial atas, medial bawah, lateral bawah, keatas dan kebawah. Pasien disuruh mengikuti arah pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa sesuai dengan keenam arah tersebut. Normal bila pasien dapat mengikuti arah dengan baik. Terbatas bila pasien tidak dapat mengikuti dengan baik karena kelemahan otot mata. + Nistagmus bila gerakan bola mata pasien bolak balik involunter. 7. Nervus Fasialis/N VII (motorik dan sensorik) + Cara pemeriksaan : dengan memberikan sedikit zat makanan di 2/3 lidah bagian depan seperti gula, garam dan kina. Pasien disuruh menjulurkan lidah pada waktu diuji dan selama menentukan zat-zat yang dirasakan klien disuruh menyebutkan atau ditulis oleh klien. 8. Nervus Akustikus/N VIII (sensorik)

a. Pendengaran : diuji dengan mendekatkan, arloji ketelinga pasien di ruang yang disunyi. Telinga diuji bergantian dengan menutup salah telinga yang lain. Normal klien dapat mendengar detik arloji 1 meter. Bila jaraknya kurang dari satu meter kemungkinan pasien mengalami penurunan pendengaran. b. Keseimbangan : dilakukan dengan memperhatikan apakah klien kehilangan keseimbangan hingga tubuh bergoyang-goyang (keseimbangan menurun) dan normal bila pasien dapat berdiri/berjalan dengan seimbang. 9. Nervus Glosso-faringeus/N IX (motorik dan sensorik) + Cara pemeriksaan dengan menyentuhkan tongspatel ke posterior faring pasien. Timbulnya reflek muntah adalah normal (positif), negative bila tidak ada reflek muntah. + Membedakan manis dan asam di 1/3 anterio lidah 10. Nervus Vagus/N X (motorik dan sensorik) + Cara pemeriksaan : pasien disuruh membuka mulut lebar-lebar dan disuruh berkata aaah kemudian dilihat apakah terjadi regurgitasi ke hidung. Dan observasi denyut jantung klien apakah ada takikardi atau brakardi. 11. Nervus Aksesorius/N XI (motorik) + Cara pemeriksaan : dengan menyuruh pasien menengok kesatu sisi melawan tangan pemeriksa, pemeriksa mempalpasi otot wajah. + Test angkat bahu dengan pemeriksa menekan bahu pasien ke bawah dan pasien berusaha mengangkat bahu ke atas. Normal bila klien dapat melakukannya dengan baik, bila tidak dapat kemungkinan klien mengalami parase. 12. Nervus Hipoglosus (motorik) + Cara pemeriksaan : pasien disuruh menjulurkan lidah dan menarik lidah kembali, dilakukan berulang kali. Normal bila gerakan lidah terkoordinasi dengan baik, parese/miring bila terdapat lesi pada hipoglosus. } PX REFLEK BAYI + Refleks patologik 1) Refleks Babinski Dengan sebuah benda yang berujung agak tajam, telapak kaki digores dari tumit menyusur bagian lateral menuju pangkal ibu jari. Positif bila terjadi dari ibu jari dan biasanya disertai dengan pemekaran jari-jari kaki. 2) Refleks Chaddok Tanda babinski timbul dengan menggoreskan bagian bawah dari maleous lateral kearah depan. 3) Reflek Oppenheim Dengan mengurut tulang tibia dengan ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah mulai dari lutut tengah mulai dari lutut menyusur ke bawah. Positif bila timbul tanda babinski. 4) Refleks Gordon Otot gastrokmius/betis ditekan. Positif bila timbul tanda babinski. + Refleks Rooting Saat pipinya disentuh, bayi akan menggerakan kepalanya menuju arah bagian yang disentuh sambil membuka mulutnya seperti siap menyusu. Menghilang saat bayi berusia 3-4 bulan. Bila tak ada respons atau ada respons tapi lemah, menunjukkan ada kelainan pada saraf otak. Bayi prematur biasanya belum memiliki + Refleks Mengisap (Sucking) Ketika ada benda masuk ke dalam mulutnya bayi akan mengisapnya. Menghilang saat bayi berusia 2-3 bulan. Bila tak ada respons, menunjukkan ada kelainan pada susunan saraf. Bayi prematur yang lahir sebelum usia kandungan 34 minggu biasanya belum memiliki refleks mengisap sehingga butuh alat bantu, seperti pipet agar tetap bisa mendapatkan ASI. + Refleks Menelan Ketika ada benda mengenai langit-langit mulut, bayi menelannya. Bila tidak ada respons, ada kelainan susunan saraf. Bayi baru lahir sebelum usia 1 minggu yang belum memiliki refleks menelan butuh alat bantu, pipa orogastrik yang dipasang dari mulut ke lambung.

+ Refleks Moro. Ketika bayi terkejut/mengalami perubahan posisi secara tiba", bayi bereaksi seperti mau jatuh. Kepalanya tertarik ke belakang, melengkungkan punggung, kedua lengan dan kakinya direntangkan, kemudian dia akan menarik kedua lengganya ke arah dada. Menghilang saat bayi berusia 3-6 bln. Bila tak ada respons, menunjukkan ada kelainan saraf. Bila gerakan tidak simetris/tak sama kuat menandakan ada cidera pada bagian tubuh tertentu, seperti retak tulang kaki atau tangan. + Refleks melangkah (stepping). Ketika tubuh diangkat diposisikan berdiri dia akan melakukan gerakan seperti melangkah. Menghilang saat bayi berusia 3-4 bulan. Bila tidak ada respons, menunjukkan ada kelainan pada motorik kasar, cidera perifer (semua saraf selaian otak dan saraf tulang belakang) atau kemungkinan ada retak pada tulang atau tulang di betis. + Refleks plantar. Ketika telapak kakinya disentuh, jari-jari kakinya akan menekuk dan telapak kakinya bergerak ke dalam menjauhi tulang kering. Menghilang saat bayi berusia 1 tahun. Bila tidak ada respons, menunjukkan ada kelainan pada susunan saraf. Refleks ini tidak muncul bila bayi lahir prematur. + Refleks tonis neck. Ketika dibaringkan dan wajahnya dipaling ke salah satu arah, misalnya kanan, tangannya akan membentuk posisi seperti pemain anggar dalam posisi siap, tangan kanannya lurus dan tangan kiri ditekuk. Refleks ini sering juga disebut fencing reflex. menghilang saat bayi berusia 5-6 bulan. Bila tak ada respons, menunjukkan ada kelainan pada susunan saraf. Sebaliknya bila gerak refleks itu menetap kemungkunan ada kelainan otak. + Refleks menggenggam (palmar grasping/darwinian). Ketika telapak tangannya disentuh, jari-jari menutup dan menggenggam benda yang menyentuh telapak tangannya. Menghilang saat berusia diatas 2 bulan, dan timbul gerakan mengenggam disengaja. Bila tak ada respons atau respons menetap, menunjukkan kelainan saraf otak. Refleks ini juga kurang terlihat pad abayi prematur. + Refleks berenang (swimming). Ketika bayi ditelungkupkan di kolam berisi air, ia akan menggerakkan tubuhnya seperti berenang, tangan mengayuh dan kaki menendang-nendang. Refleks muncul sekitar usia 1 bulan. Menghilang saat usia 6-7 bulan. Bila tak ada respons gangguan motorik kasar dan refleks ini juga belum muncul pada bayi prematur. } FUNGSI LUHUR Kesadaran a. Coma : keadaan tidak sadar yang terendah. Tidak ada respon terhadap rangsangan nyeri, refleks tendon, refleks pupil dan refleks batuk menghilang, inkontinensia urin dan tidak ada aktivitas motorik spontan. b. Soporocoma : keadaan tidak sadar menyerupai koma, tetapi respon terhadap rangsangan nyeri masih ada,refleks tendon dapat ditimbulkan. Biasanya masih ada inkontinensia urin dan belum ada gerakan motorik spontan. c. Delirium : keadaan kacau motorik yang sangat, memberontak, berteriak-teriak dan tidak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu. d. Somnolen/letargi : pasien dapat dibangunkan dengan rangsangan dan akan membuat respon motorik dan verbal yang layak. Pasien akan cepat tertidur lagi bila rangsangan dihentikan. e. Apatis : pasien tampak segan berhubungan dengan sekitarnya, tampak acuh tak acuh. f. Compos Mentis : sadar sepenuhnya, dapat menjawab pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. } PEMERIKSAAN PENUNANG SISTEM SYARAF A. Elektro Encephalografi (EEG) Pengertian: adalah suatu cara untuk merekam aktifitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh. B. Computerized Tomografi (CT Scan) CT Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan otak.

Pemeriksaan ini dimaksudkan utuk memperjelas adanya dugaan yang kuat antara suatu kelainan, yaitu : Gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses. Perubaan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark. Brain atrofi. Hydrocephalus Inflamasi C. Lumbal fungsi Adalah suatu cara pengambilan cairan cerebrospinal melalui fungsi pada daerah lumbal. Tujuan : mengambil cairan cerebrospinal untuk kepentingan pemeriksaan/ diagnostik maupun kepentingan therapi. Indikasi a. Untuk Diagnostik Kecurigaan meningitis Kecurigaan perdarahan sub arachnoid Pemberian media kontras pada pemeriksaan myelografi Evaluasi hasil pengobatan b. Untuk Therapi Pemberian obat antineoplastik atau anti mikroba intra tekal. Pemberian anesthesi spinal. Mengurangi atau menurunkan tekanan CSF D. Elektromyografi (EMG) Pengertian : Adalah suatu cara yang dilakukan untuk mengukur dan mancatat aliran listrik yang di timbulkan oleh otot-otot skeletal. Dalam keadaan istirahat otot tidak melepaskan listrik tetapi bila otot berkontraksi secara volunter potensial aksi dapat di rekam. Tujuan a) Membantu membedakan antara ganguan otot primer seperti distrofi otot dan gangguan sekunder. b) Membantu menentukan penyakit degeneratif saraf sentral. c) Membantu mendiagnosa gangguan neuromuskuler seperti myestenia gravis. E. Angiografi Angiografi dilakukan untuk melihat secara langsung sistem pembuluh darah otak. Prosedur ini umumnya dilakukan di bagian radiologi. Zat kontras dimasukan melalui arteri. Biasanya pada arteri carotis dan arteri vertebra, atau mungkin pada arteri brachialis atau arteri femoralis. Angiografi dapat mendeteksi : 1. Sumbatan pada pembuluh darah serebral pada stroke. 2. Anomali congenetal pembuluh darah. 3. Pergeseran pembuluh darah yang mungkin mengidentifikasikan SOL (Space Occupying Lession) 4. Malformasi vaskuler, seperti pada aneurisme atau angioma.

Pemeriksaan Klinis Neurologi 2

BAB IV Saraf Kranial


Nama-Nama Saraf Otak (Nervus Kranialis) 1. Nervus I : Nervus Olfactorius 2. Nervus II : Nervus Optikus 3. Nervus III : Nervus Okulomotorius 4. Nervus IV : Nervus Troklearis 5. Nervus V : Nervus Trigeminus 6. Nervus VI : Nervus Abdusen 7. Nervus VII : Nervus Fasialis 8. Nervus VIII : Nervus Vestibulokoklearis 9. Nervus IX : Nervus Glosofaringeus 10. Nervus X : Nervus Vagus 11. Nervus XI : Nervus Aksesorius 12. Nervus XII

Nervus

Hipoglosus

1. -

Nervus I (Nervus Olfactorius) Fungsi: penghidu Zat: bau-bauan yang tidak asik (ex. kopi, tembakau) Caranya: pasien tutup mata salah satu lubang hidung ditutup dengan jari pemeriksa lubang hidung yg tidak ditutup menghirup salah satu zat tanyakan zat apa yang dihirup lakukan hal yg sama pada lubang hidung lainnya Penilaian Normosmia: kemampuan menghidu normal Hiposmia: kemampuan menghidu menurun Hiperosmia: meningkatnya kemampuan menghidu. Biasanya pd penderita hiperemis gravidarum, migren. Anosmia: hilangnya penciuman Kakosmia: mempersepsi adanya bau busuk, padahal tidak ada

Penyebab Gangguan Menghidu - Penyakit inflamasi akut atau kronis di hidung perokok berat - Trauma kepala : mungkin disebabkan oleh robeknya filament olfactorius

2. A. B. C. A.

Nervus II (Nervus Optikus) Pemeriksaan terdiri dari: Ketajaman Penglihatan (visual acuity) Lapangan Pandang (visual field) Funduskopi (pemeriksaan oftalmoskopik) Cara Melakukan Tes Nervus II Ketajaman Penglihatan

o Pemeriksaan kasar: pasien diminta untuk mengenali benda yang letaknya jauh. Ex: jam dinding, Tanya jam berapa, membaca buku/Koran o Pemeriksaan yg teliti: dgn menggunakan gambar snellen (optic snellen) seperti kalau mau pakai kaca mata. Penderita disuruh membaca gambar snellen pada jarak 6 meter. Tentukan baris ke berapa sampai penderita tidak mampu lagi membacanya. B. Lapangan Pandang Caranya (metode konfrontasi Donder): o Penderita duduk/berdiri berha-dapan dengan pemeriksa o Penderita & pemeriksa masing-masing menutup salah satu mata yang berhadapan (ex. penderita tutup mata kiri, sedangkan pemeriksa tutup mata kanan, atau sebaliknya). o Mata penderita & pemeriksa yang tidak tertutup harus saling ber-tatapan (menghadap ke depan), jgn melirik o Pemeriksa lalu menggerakkan jari tangannya di bidang pertengahan antara pemeriksa & penderita. Gerakan dilakukan dari luar ke dalam. Gangguan lapangan pandang - Lapangan pandang menyempit - Hemianopsia C. Funduskopi (Pemeriksaan Oftalmoskopik) o Menilai keadaan N.II, terutama papil nya. Papil adalah tempat serabut N.II memasuki mata o Penilaian terhadap papil: - Papil normal: bentuk lonjong, warna jingga muda, di bagian temporal sedikit pucat, batas dengan retina jelas, pembuluh darah muncul di tengah, bercabang ke atas & bawah - Papil atrofi primer: warna papil pucat, batas tegas, pembuluh darah berkurang. - Sembab papil: disebabkan oleh radang aktif / bendungan,disertai perburukan visus yang hebat. Pada sembab papil perlu ditentukan besarnya penonjolan, dinyatakan dalam dioptri. Penyebab Gangguan Nervus II: o Neuritis optika o Neuritis retrobulbar o Papilitis o Neuropati optic iskemik (ex. pada hiper-tensi dan arthritis) o Neuropati karena tekanan (ex. tumor, anerisma, gangguan hormonal tiroid) o Neuropati optic o/ infiltrasi (ex. karsinoma) o Defisiensi/intoksikasi (ex. def. vitamin B12, B1, intoksikasi etambutol, kloramfenikol) 3. Nervus III (Nervus Okulomotorius), Nervus IV (Nervus Troklearis), Nervus VI (Nervus Abdusen) Fungsi N.III, IV, dan VI saling berkaitan dan diperiksa bersama-sama. Fungsinya ialah menggerakkan otot mata ekstraokuler dan mengangkat kelopak mata. Srabut N.III mengatur otot pupil Otot bola mata yg dipersarafi N. III, IV, VI: N.III : menginervasi m. rektus internus (medialis), m. rektus superior, m. rektus inferior, m. levator palpebrae; serabut visero-motoriknya mengurus m. sfingter pupile (yaitu mengurus kontraksi pupil) dan m. siliare (mengatur lensa mata) N.IV : menginervasi m. oblikus superior. Kerja otot ini menyebabkan mata dapat dilirikkan ke bawah dan nasal. N.VI : menginervasi m. rektus eksternus (lateralis). Kerja otot ini menyebabkan lirik mata kea rah temporal.

a.

b. o

o o

Bagan Gerak Bola Mata

c. Cara Pemeriksaan 1) Ptosis o Ptosis adlh kelopak mata terjatuh, mata tertutup, tdk dapat dibuka, akibat kelumpuhan N.III (otot m. levator palpebrae) o Untuk menilai tenaga m. levator pal-pebrae pasien diminta pejamkan mata, kemudian disuruh membuka matanya. Waktu pasien membuka mata, pemeriksa menahan gerakan ini dengan jalan memegang (menekan enteng) pada kelopak mata. Dengan demikian dapat dinilai kekuatan mengangkat kelopak mata. 2) Pupil o Perhatikan besarnya pupil pada mata kiri dan kanan. Bila sama : isokor ; bila tidak sama : anisokor o Perhatikan bentuk pupil, apakah bundar dan rata tepinya (normal) atau tidak. o Miosis : pupil mengecil, dipersarafi oleh serabut parasimpatis dari N.III. Dapat dijumpai pada waktu tidur, tingkat tertentu dari koma, iritasi N.III, dan kelumpuhan saraf simpatis (sindrom Horner). o Midriasis : pupil melebar, dipersarafi oleh serabut simpatis (torakolumbal). Dijumpai pada kelumpuhan N.III, misalx oleh desakan tumor atau hematom, pd fraktur dasar tulang tengkorak. 3) Refleks Pupil (Reaksi Cahaya Pupil) o Terdiri atas: 1. Refleks Cahaya Langsung (RCL) 2. Refleks Cahaya Tak Langsung (RCTL) o Caranya: - Pasien disuruh melihat benda yang jauh. - Mata disenter (diberi cahaya) dan lihat apa ada reaksi pupil. Pada keadaan normal, pupil akan mengecil : RCL (+); bila pupil mata yang TIDAK disinari ikut juga mengecil : RCTL (+). - Apabila RCL (-) dan RCTL (+) : kerusakan pada N.II - Apabila RCL (-) dan RCTL (-) : kelumpuhan N.III. 4) Refleks Akomodasi o Penderita diminta melihat jauh, kemudian diminta melihat dekat. o Mis. jari pemeriksa atau benda (ex. pulpen) yang ditempatkan di dekat matanya. o Refleks Akomodasi (+) bila pupil mengecil : NORMAL o Refleks Akomodasi (-) bila terdapat kelumpuhan N.III. 5) Kedudukan (Posisi) Bola Mata o Eksoftalmus: mata menonjol Eksoftalmus bilateral dijumpai pada tirotoksikosis. o Enoftalmus: bola mata seolah-olah masuk ke dalam

Enoftalmus bisa dijumpai pd Sindrom Horner (yang disebabkan oleh kerusa-kan serabut simpatis leher) o Strabismus: posisi bola mata tidak simetris akibat adanya kontraksi atau tarikan yang berlebihan dari otot mata. Disebut juga juling/jereng. - Strabismus konvergen: lirikan ke medial disebabkan oleh ke-lumpuhan m. rectus eksternus yang dipersarafi N.VI - Strabismus divergen: lirikan ke lateral disebabkan oleh kelum-puhan m. rectus internus yang dipersarafi N. III. 6) Gerakan Bola Mata o Penderita disuruh mengikuti jari pe-meriksa yang digerakkan kea rah lateral, medial-atas, bawah, dan kea rah yang miring. o Perhatikan apakah mata pasien bias mengikutinya dan perhatikan bagai-mana gerakan bola mata. o Pada pemeriksaan gerakan bola mata juga diperhatikan adanya diplopia (melihat kembar). Diplopia dijumpai pada kelumpuhan otot penggerak bola mata. o Perhatikan pula adanya nistagmus. Nistagmus adalah gerak bolak-balik bola mata yang involunter dan ritmik. Caranya: penderita disuruh terus melirik ke satu arah (ex. ke kanan/kiri/ atas/bawah) selama 5-6 detik. Jika ada nistagmus, akan terlihat dalam jangka waktu tersebut. 4. Nervus V (Nervus Trigeminus) a. Bagian Motorik o Mengurus otot-otot u/ mengunyah, yaitu m. masseter, m. temporalis; m. pterigoid medialis (bfx u/ menutup mulut); m. pterigoid lateralis (bfx u/ menggerakkan rahang bawah ke samping) o Cara pemeriksaan - Pasien disuruh merapatkan giginya sekuat mungkin dan kita raba m. masseter dan m. temporalisnya. - Kemudian pasien disuruh membuka mulut dan diperhatikan apakah ada deviasi dari rahang bawah, lalu mulut ditutup rapat (untuk menilai m. pterigoid medialis) - Pasien diminta untuk menggerakkan rahang bawahnya kiri dan kanan (untuk menilai m. pterigoideus lateralis) - Bila terdapat parese di sebelah kanan, rahang bawah tidak dapat digerakkan ke samping kiri. Begitu pula sebaliknya. b. Bagian Sensorik 1. Mengurus sensibilitas wajah melalui 3 cabang: - Cabang (ramus) oftalmik : mengurus sensibilitas dahi, mata, hidung, kening, selaput otak, sinus paranasalis dan sebagian mukosa hidung - Cabang (ramus) maksilaris : mengurus sensibilitas rahang atas, gigi atas, bibir atas, pipi, palatum durum, sinus maksilaris dan mukosa hidung. - Cabang (ramus) mandibularis : mengurus sensibilitas rahang bawah, gigi bawah, bibir bawah, mukosa pipi, 2/3 bag. Depan lidah, sebagian dari telinga (eksternal), meatus, dan selaput otak. 2. Cara Pemeriksaan: - Bagian sensorik N.V diperiksa dengan menyelidiki rasa raba, rasa nyeri, dan suhu pada daerah yang dipersarafinya (wajah). Cara melakukannya akan dibahas pada BAB SISTEM SENSORIK. - Waktu memeriksa sensibilitas N.V juga periksa refleks kornea yang akan dibahas pada BAB SISTEM REFLEKS.

Daerah Sensibilitas N.V, cabang I, II, III (I) (II) (III) Ramus Oftalmik Ramus Maksilaris Ramus Mandibularis

5. Nervus VII (Nervus Fasialis) Saraf otak N.VII mengandung 4 macam serabut: a. Serabut somato-motorik : mempersarafi otot-otot wajah kecuali m. levator palpebrae (N.III), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah. b. Serabut visero-motorik (parasimpatis) : datang dari nucleus salivatorius superior. Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung, sinus paranasal, dan glandula submaksilar serta sublingual dan lakrimalis. c. Serabut visero-sensorik : menghantar impuls dari alat pengecap di 2/3 bagian depan lidah (bersama-sama dengan N.V cab. Ramus mandibularis; sedangkan 1/3 bagian posterior oleh N.IX). d. Serabut somato-sensorik : rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan raba) dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh N.V. Secara anatomis, bagian motorik saraf ini terpisah dari bagian yang menghantar sensasi dan serabut parasimpatis, yaitu: a. Motorik: inervasi otot wajah b. Sensasi: sensasi eksteroseptif dari gendang telinga, sensasi pengecapan 2/3 bagian anterior lidah c. Parasimpatis: kelenjar ludah dan air mata Pemeriksaan a. Fungsi Motorik (sering dilakukan di klinik) o Suruh penderita mengangkat alis dan kerutkan dahi. - Pada kelumpuhan jenis supranuklir sesisi, penderita dapat mengangkat alis dan mengerutkan dahi - Pada kelumpuhan jenis perifer tampak adanya asimetri o Suruh penderita pejamkan mata - Lumpuh berat : tidak dapat pejamkan mata - Lumpuh ringan : tenaga pejaman kurang kuat - Hal ini dapat dinilai dengan jalan mengangkat kelopak mata dengan tangan pemeriksa, sedangkan pasien disuruh memejamkan mata o Suruh penderita menyeringai, senyum, menunjukkan gigi geligi, memonyong-kan bibir, menggembungkan pipi o Gejala Chovstek - Dibangkitkan dgn jalan mengetok N.VII di bagian depan telinga

b. o o o -

o o -

Bila positif : kontraksi otot yang dipersarafinya Pada tetani gejala Chovstek (+) Fungsi Pengecapan Suruh penderita julurkan lidah, letakkan bubuk gula/garam/kina (dilakukan secara bergantian dan diselingi istirahat) pada 2/3 lidah bagian depan Penderita disuruh menyebutkan apa yang ia rasakan Ageusi : hilangnya rasa pengecapan (pada 2/3 lidah anterior) akibat kerusakan N.VII sebelum percabangan korda timpani Gangguan N. VII Kerusakan sesisi pada UMN N.VII (lesi pada traktus piramidalis atau korteks motorik) akan mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah bagian bawah (kurang dapat mengangkat sudut mulut, menyeringai, perlihatkan gigi, tersenyum). Pada wajah bagian atas tidak mengalami kelumpuhan (penderita masih dapat mengangkat alis, mengerutkan dahi, dan menutup mata). Pada lesi LMN : semua gerakan otot wajah (baik yang volunteer maupun involunter) semuanya lumpuh. Pada Bells Palsy : kelumpuhan N.VII jenis perifer yang timbul secara akut, tanpa adanya kelainan neurologik lain. Pada Sindrom Guillain Barre : kelumpuhan N.VII perifer yang bilateral, muka tampak simetris. Perlu dicurigai bila pasien tidak dapat memejamkan kedua matanya. Beberapa penyebab gangguan N.VII Strok (kebanyakan menyebabkan gangguan jenis sentral Gangguan jenis perifer: Paralisis idiopatis (Bells palsy) Tumor di sudut serebelopontin Otitis media Meningitis karsinomatosa Tumor parotis Fraktur dasar tulang tengkorak Beberapa penyebab gangguan pengecapan (N.VII, N.IX) Meningitis viral Pasca influenza Merokok Mulut kering Penyakit sistemik Defisiensi vitamin B12 dan A Obat-obatan (amitriptilin, ACE- inhibitor)

6. Nervus VIII (Nervus Vestibulokoklearis) Terdiri dari Saraf Vestibularis & Saraf Koklearis a. Saraf Vestibularis Berhubungan dengan: o Batang otak : serabut dari inti vestibularis mengadakan hubungan dengan inti saraf otak III, IV, dan VI (yg mengurus otot ekstraokuler). Sistem vestibuler memainkan peranan dalam mengurus gerak terkonjugasi bola mata yang reflektoris terhadap gerakan serta posisi kepala. o Medulla Spinalis : hubungan dengan medulla spinalis terjadi melalui traktus vestibulo-spinalis lateralis dan medialis. Berperan mengatur tonus otot ekstensor badan dan anggota gerak terhadap gravitasi, dan mempertahankan sikap tegak.

o o o o o o o -

o o -

Serebelum : bagian vestibuler dari serebellum (archicerebellum) berperan dalam mempertahankan keseimbangan. Serebrum : hubungannya dengan korteks serebri masih belum berhasil dibuktikan. Gangguan saraf vestibularis: Vertigo, terbagi atas 2 tipe Perifer: sekeliling berputar, nistagmus horizontal, lebih berat Sentral: orangnya yang seperti berputar, nistagmus vertikal, lebih ringan Nistagmus : gerak infolunter yang bersifat ritmik dari bola mata (gejala objektif vertigo) Salah tunjuk, kehilangan keseimbangan Pemeriksaan saraf vestibularis Cara khusus untuk menimbulkan nistagmus: Manuver Nylen-Barany atau Manuver Hallpike Tes kalori Elektronistagmografi Tes untuk menilai keseimbangan: Tes Romberg yang dipertajam : penderita berdiri dengan kaki yang satu di depan kaki yg lain (tandem); tumit kaki yang satu berada di depan jari kaki lainnya. Lengan dilipat pada dada dan mata lalu ditutup untuk menilai adanya disfungsi vestibular. Pada orang normal mampu berdiri dalam sikap Romberg yang dipertajam selama 30 detik atau lebih. Tes melangkah di tempat (strepping test) : penderita disuruh jalan di tempat dengan mata tertutup, sebanyak 50 langkah dengan kecepatan seperti berjalan biasa. Tes ini dapat mendeteksi gangguan sistem vestibular. Hasil tes dianggap abnormal bila kedudukan akhir penderita beranjak lebih dari 1 m dari tempatnya semula, atau badan berputar lebih 30. Salah tunjuk : penderita disuruh menyentuh telunjuk pemeriksa dengan menggunakan telunjuknya. Pada gangguan vestibular didapatkan salah tunjuk, demikian juga dengan gangguan serebellar. Penyebab gangguan sistem vestibular: Gangguan jenis perifer Neuritis vestibular Vertigo posisional benigna Mabuk kendaraan Trauma Obat-obatan (ex. streptomisin) Labirintis Penyakit meniere Tumor di fossa posterior Gangguan jenis sentral Strok atau iskemia batang otak Migren basilar Trauma Perdarahan atau lesi di serebellum Lesi lobus temporalis Neoplasma

b. Saraf Koklearis Gangguan Saraf Koklearis o Gangguan ada saraf koklearis dapat menyebabkan tuli, tinnitus, atau hiperakusis. Ada 2 macam ketulian, yaitu: 1. Tuli perseptif atau tuli saraf

- Dapat disebabkan oleh lesi di: a. reseptor di telinga dalam b.nervus koklearis c. inti serta serabut pendengaran di batang otak d.korteks auditif - Pada tuli saraf, konduksi udara dan konduksi tulang sama - sama berkurang, sehingga perbandingan hantarannya biasanya tidak berubah (Tes Rinne (+)). Akan tetapi, Tes Swabach memendek dan Tes Weber didapatkan lateralisasi ke arah yang sehat. - Terdapat kehilangan pendengaran, terutama untuk nada yang tinggi dan huruf mati yg tajam, seperti s & t 2. Tuli Konduktif (Tuli Obstruktif, Tuli Transmisi) - Disebabkan oleh gangguan telinga luar dan telinga tengah - Dapat pula disebabkan oleh sum-batan liang telinga luar, missalnya oleh serumen, air, darah, dll. - Gangguan di nasofaring yg menga-kibatkan obstruksi pada tuba Eustachii dapat menyebabkan tuli konduktif. - Gangguan terutama pada konduksi udara, sedang konduksi tulang tidak berubah, malah dapat bertambah, karenanya Tes Rinne (-). Disamping itu Tes Swabach memendek dan pada Tes Weber didapatkan lateralisasi ke sisi yang tuli. - Terdapat gangguan pendengaran, terutama pada nada yang rendah. o Tinitus : bunyi berdenging di telinga yang disebabkan oleh eksitasi atau iritasi alat pendengaran, sarafnya, inti serta pusat yang lebih tinggi. Obat-oabatan seperti kina, salisilat, dan streptomisin dapat menyebabkan tinnitus. Pemeriksaan Saraf Koklearis 1. Tes Swabach - Pada tes ini, pendengaran penderita dibandingkan dengan pendengaran pemeriksa (yg normal). - Garpu tala dibunyikan lalu ditempatkan di dekat telinga penderita. - Setelah penderita tak medengar bunyi lagi, garpu tala tersebut diletakkan di dekat telinga pemeriksa. - Bila masih terdengar bunyi oleh pemeriksa : swabach memendek (untuk konduksi udara). - Kemudian garpu tala dibunyikan lagi dan pangkalnya ditekankan pada tulang mastoid penderita. - Bila penderita sudah tidak mendengar bunyi lagi, maka garpu tala di-tempatkan pada tulang mastoid pemeriksa. - Bila pemeriksa masih mendengar bunyinya swabach memendek (untuk konduksi tulang). 2. Tes Rinne - Pada pemeriksaan ini dibandingkan konduksi tulang dgn konduksi udara. - Pada telinga normal, konduksi udara lebih baik daripada konduksi tulang. - Pada pemeriksaan, biasanya digunakan garpu tala frekuensi 128, 256 a/ 512 Hz. - Garpu tala dibunyikan pada pangkalnya ditekan pada pada tulang mastoid penderita. - Bila penderita sudah tidak mendengar lagi, garpu tala didekatkan pada telinga penderita. Jika masih terdengar bunyi, maka konduksi udara lebih baik dari konduksi tulang RINNE (+) - Bila tidak terdengar lagi bunyinya segera setelah garpu tala dipindahkan dari tulang mastoid ke dekat telinga RINNE (-) 3. Tes Weber - Garpu tala yang dibunyikan ditekankan pangkalnya pada dahi penderita tepat di tengah. - Penderita disuruh mendengarkan bunyinya dan menentukan pada telinga mana bunyi lebih keras terdengar. - Pada orang normal, kerasnya bunyi sama pada telinga kiri dan kanan.

Pada tuli saraf, bunyi lebih keras terdengar pada telinga yang sehat. Pada tuli konduktif, bunyi lebih keras terdengar pada telinga yg tuli. TES WEBER BERLATERALISASI ke kiri (atau ke kanan), bil bunyi lebih keras terdengar di telinga kiri (atau kanan) Tuli Perseptif (Tuli Saraf) : pendengaran berkurang, Rinne (+), weber lateralisasi ke telinga yang sehat Tuli Konduktif : pendengaran berkurang, Rinne (-), weber lateralisasi ke telinga yang tuli.

7. Nervus IX (Nervus Glosofaringeus), Nervus X (Nervus Vagus) Pendahuluan - N.IX dan X diperiksa bersamaan, karena kedua saraf ini berhubungan erat satu sama lain, sehingga gangguan fungsinya jarang tersendiri, kecuali pada bagian yang perifer sekali. - Pembentukan suara (fonasi) dilakukan oleh pita suara, yang dipersarafi oleh N. laringeus rekurens (cabang dari N.X). - Pengucapan (artikulasi) kata-kata diurus oleh otot-otot mulut (masseter, pterigoideus lateralis, orbikularis oris), otot lidah, otot laring dan faring. Jadi, artikulasi merupakan kerja sama antara saraf otak V, VII, IX, X dan XII. Kelumpuhan nervus-nervus tersebut dapat mengakibatkan disartria Gangguan N.IX dan X - Disartria (cadel, pelo) : gangguan pengucapan akibat kelumpuhan N.V, VII, IX, X - Disfagia (salah telan) : akibat kelumpuhan N.IX, X - Disfonia (suara serak) : akibat kerusakan N. Laringeus rekurens (cabang N.X) - Afonia : suara tidak ada sama sekali Pemeriksaan N.IX, X - Fungsi Motorik o Perhatikan kualitas suara pasien. Apakah suara normal/disfonia/afonia. o Minta pasien menyebutkan: AAAAAA.. pembentukan suara dilakukan oleh pita suara yang dipersarafi cabang N.X (N. Laringeus Rekurens), apabila lumpuh disfonia o Artikulasi yang kurang baik (cadel) akibat adanya kelumpuahan N.V, VII, IX, X disartria. o Pada kelumpuhan N.IX, X, palatum molle tidak sanggup menutup jalan ke hidung waktu bicara : suara hidung (bindeng/ sengau) o Kelumpuhan N.IX, X : disfagia (salah telan/ keselek) o Sekukan (hiccup, singultus) : kontraksi diafragma yang menyebabkan udara diinspirasi dengan kuat, dan bersamaan dengan itu, terdapat pula spasme faing dan berhentinya inspirasi karena menutupnya glottis. o Pengecapan : tesnya sulit dilakukan karena N.IX mempersarafi 1/3 bagian posterior lidah (sedangkan 2/3 anterior lidah dipersarafi oleh N.V dan N.VII) - Fungsi Autonom N.X merupakan inhibitor dari jantung; paralysis menyebabkan takikardi, iritasi menyebabkan bradikardi. Oleh karena itu, pada pemeriksaan N.X perlu diperiksa frekuensi nadi. Beberapa Penyebab Gangguan N.IX dan X - Anerisma a. vertebralis - Strok bilateral (hemiparese dupleks) - Idiopatis - Hal yang menyebabkan gangguan pada m. Laringeus rekurens: anerisma aorta, tumor di mediastinum, tumor di bronkus 8. Nervus XI (Nervus Aksesorius) Pendahuluan

o o

Saraf otak ini hanya terdiri dari serabut motorik (somatomotorik). Saraf XI menginervasi otot sternokleidomastoi-deus dan otot trapezius. Otot sternokleidomastoideus menyebabkan gerakan menoleh (rotasi) pada kepala. Otot trapezius menarik kepala ke sisi yang sama. Ia juga mengangkat, menarik dan memutar scapula, serta membantu mengangkat lengan dari posisi horizontal ke atas. Pemeriksaan Pemeriksaan Otot Sternokleidomastoideus Pasien disuruh menggerakkan bagian badan (persendian) yang digerakkan oleh otot yang ingin kita periksa, dan kita tahan gerakan ini Untuk mengukur tenaga otot sternokleido-mastoideus dapat dilakukan dengan hal berikut: kita suruh pasien menoleh misalnya ke kanan. Gerakan ini kita tahan dengan tangan kita yang ditempatkan di dagu. Bandingkan kekuatan otot kiri dan kanan.

Pemeriksaan N.XI (otot sternokleidomastoideus) Pasien disuruh menolehkan kepala dan pemeriksa menahannya untuk menilai tenaganya - Pemeriksaan Otot Trapezius o Tenaga otot diperiksa sebagai berikut: tempatkan tangan kita di atas bahu penderita. Kemudian penderita disuruh mengangkat bahunya, dan kita tahan. Dengan demikian dapat dinilai kekuatan ototnya. o Untuk memeriksa kedua otot trapezius, pasien disuruh mengekstensikan kepalanya, dan gerakan ini kita tahan. Jika terdapat kelumpuhan otot trapezius satu sisi, , kepala tidak dapat ditarik ke sisi tersebut, bahu tidak dapat diangkat dan lengan tidak dapat dielevasi ke atas dari posisi horizontal.

Pemeriksaan N.XI (otot trapezius) Pasien disuruh mengangkat bahu dan kita tahan, untuk menilai tenaganya Gangguan pada N XI dan Penyebabnya - Gangguan N XI dapat terjadi karena lesi supra-nuklir, nuklir atau infranuklir.

- Lesi supranuklir (sentral,upper motor neuron) dapat terjadi karena kerusakan di korteks, atau traktus piramidalis (di kapsula interna dan batang otak), misalnya oleh gangguan peredaran darah (strok). - Lesi nuklir (perifer) didapatkan pada siringobulbi, dan ALS (amiotrofik lateral sclerosis). Pada lesi nuklir ini, selain parese, juga didapatkan atrofi dan fasikulasi pada otot. - Lesi infranulkir (perifer, lower motor neuron) dapat terjadi karena kerusakan di ekstrameduler (di dalam tengkorak, di foramen jugulare, dan di leher. Hal ini menyebabkan paralysis dengan atrofi 9. Nervus XII (Nervus Hipoglosus) Pendahuluan Saraf XII mengandung serabut somato-motorik yang menginervasi otot ekstrinsik dan otot intrinsic lidah. Fungsi otot ekstrinsik lidah ialah menggerakkan lidah, dan otot intrinsik mengubah-ubah bentuk lidah Inti saraf ini menerima serabut dari korteks traktus piramidalis dari satu sisi, yaitu sisi kontralateral. Dengan demikian ia sering terkena pada gangguan peredaran darah di otak (strok) Pemeriksaan Inspeksi: suruh penderita membuka mulut dan perhatikan lidah dalam keadaan istirahat dan bergerak Minta pasien menjulurkan lidahnya, perhatikan apakah posisi lidah simetris atau mencong Pada parese satu sisi, lidah dijulurkan mencong ke sisi yang lumpuh Jika terdapat kelumpuhan pada dua sisi, lidah tidak dapat digerakkan atau dijulurkan. Terdapat disartria (cadel, pelo) dan kesukaran menelan. Selain itu juga didapatkan kesukaran bernapas, karena lidah dapat terjatuh ke belakang, sehingga menghalangi jalan napas. Untuk menilai tenaga lidah kita suruh pasien menggerakkan lidahnya ke segala jurusan dan perhatikan kekuatan geraknya. Kemudian pasien disuruh menekankan lidahnya pada pipinya. Kita nilai daya tekannya ini dengan jalan menekankan jari kita pada pipi sebelah luar. Jika terdapat parese lidah bagian kiri, lidah tidak dapat ditekankan ke pipi sebelah kanan, tetapi ke sebelah kiri dapat.

N.XII kiri lumpuh

Gangguan Pada N.XII Dan Penyebabnya - Lesi N.XII dapat bersifat supranuklir, misalnya pada lesi di korteks atau kapsula interna, yang dapat disebabkan oleh misalnya pada strok. Dalam hal ini didaptkan kelumpuhan otot lidah tanpa adanya atrofi dan fasikulasi.

- Pada lesi nuklir, didapatkan atrofi dan fasikulasi. Hal ini dapat disebabkan oleh siringobulbi, ALS, radang, gangguan peredaran darah dan neoplasma - Pada lesi infranuklir didapatkan atrofi. Hal ini disebabkan oleh proses di luar medulla oblongata, tetapi masih di dalam tengkorak, misalnya trauma, fraktur dasar tulang tengkorak, meningitis, dll

Catatan: Untuk pembahasan Bab V sampai Bab VIII, silahkan lanjutkan pada "Pemeriksaan Klinis Neurologi 3", "Pemeriksaan Klinis Neurologi 4", dan "Pemeriksaan Klinis Neurologi 5"

1. 2. 3. 4. 5.

Referensi Bahan Kuliah Sistem Neuropsikiatry, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, 2004. Harsono, Kapita Selekta Neurologi, Penerbit Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 2007. Lumbantobing S, Neurologi Klinik, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2007. Mahar Marjono, Neurologi Klinis Dasar, Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 2008. Protap SMF Ilmu Penyakit Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, 2000.