Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Batubara didefinisikan sebagai sedimen yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan pada masa lampau, akibat adanya faktor tekanan dan suhu sehingga merubahnya menjadi batubara. Batubara merupakan substansi heterogen yang dapat terbakar dan terbentuk dari banyak komponen yang mempunyai sifat saling berbeda. Oleh karena sifat batubara yang dapat dibakar sehingga batubara merupakan salah satu sumber energi yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi dunia termasuk Indonesia. Untuk dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi, sumberdaya batubara harus dilakukan eksplorasi dan eksploitasi sehingga dapat digunakan. Ekplorasi batubara merupakan usaha untuk menemukan sumberdaya batubara di suatu wilayah. Sedangkan eksplotasi batubara adalah kegiatan yang dilakukan baik secara sederhana (manual) maupun mekanis yang meliputi penggalian, pemberaian, pemuatan dan pengangkutan batubara. Terdapat beberapa metode dalam ekploitasi batubara. Penentuan metode ekploitasi yang akan digunakan tersebut berdasarkan beberapa faktor antara lain : keadaan geologi, keadaan lapisan batubara, faktor keekonomisan, dan teknologi. Secara umum eksploitasi dalam tambang batubara dapat dibagi menjadi 2 yaitu tambang di permukaan (surface mining) dan tambang bawah tanah (underground mining). Masing-masing memiliki beberapa metode penambangan yang umum digunakan. Setiap metode yang digunakan tersebut tentunya memiliki perbedaan baik dari segi teknologi yang digunakan, cara kerja maupun dari segi hasil penambangan / efektifitas. Diperlukan pengetahuan mengenai masing-masing metode tersebut sehingga dapat

menentukan metode yang sesuai yang akan diterapkan dalam suatu kegiatan ekploitasi batubara.

1.2 Perumusan Masalah Perumusan masalah dalam penulisan larya ilmiah ini yaitu : 1. Macam-macam metode penambangan apakah yang umum yang digunakan dalam penambangan batubara ? 2. Bagaimanakah gambaran umum kegiatan dari masing-masing metode penambangan tersebut? 3. Faktor apakah yang menjadi parameter dalam menentukan metode penambangan yang akan digunakan dalam suatu operasi penambangan batubara?

1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan 1. Maksud Penulisan a. Mengetahui kegiatan dalam ekploitasi batubara b. Mengetahui metode-metode penambangan, baik pada tambang permukaan maupun tambang bawah permukaan c. Mengetahui gambaran umum kegiatan yang dilakukan dari setiap metode penambangan d. Mengetahui faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam

menentukan metode penambangan yang digunakan dalam suatu pekerjaan penambangan batubara. 2. Tujuan Penulisan a. Dapat memperoleh gambaran tentang kegiatan yang dilakukan selama proses ekploitasi batubara b. Dapat mengetahui metode-metode penambangan, baik pada tambang permukaan maupun tambang bawah permukaan c. Mampu menjelaskan gambaran umum kegiatan yang dilakukan dari setiap metode penambangan . d. Mampu menjelaskan faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan metode penambangan yang digunakan dalam suatu pekerjaan penambangan batubara.

e. Dapat mengetahui kekurangan maupun kelebihan dari masing-masing sistem penambangan

BAB II DASAR TEORI

2.1

Batubara Sebagai Salah Satu Sumber Energi Penimbunan sisa-sisa tumbuhan yang telah mati dengan material sedimen lain, bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebaga pergeseran tektonik) mengubur rawa dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batubara. Penambangan batubara adalah suatu industri global, dimana batubara ditambang secara komersial di lebih dari 50 negara dan batubara digunakan di lebih dari 70 negara. Batubara digunakan diberbagai sektor termasuk pembangkit listrik, produksi besi dan baja, pabrik semen dan sebagai bahan bakar cair. Batubara memainkan peran yang penting dalam membangkitkan tenaga listrik dan peran tersebut terus berlangsung. Untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat tersebut perlu adanya peningkatan dalam ekplorasi maupun eksploitasi batubara itu sendiri. Kegiatan eksplorasi berkaitan dengan kegiatan lapangan yang bertujuan untuk menemukan sumberdaya batubara, menghitung volume cadangannya, dan menentukan lokasi tambang. Sedangkan kegiatan eksploitasi lebih menyangkut hal-hal pada saat akan dilakukan

penambangan (perencanaan), saat penambangan, dan setelah penambangan berlangsung. Salah satunya menentukan metode penambangan yang akan digunakan. Metode yang akan digunakan berpengaruh terhadap hasil produksi batubara, pemilihan metode penambangan yang tepat akan meningkatkan produksi batubara dalam pekerjaan penambangan batubara.

2.2

Eksplotasi Batubara Eksploitasi batubara merupakan kegiatan yang dilakukan baik secara sederhana (manual) maupun mekanis yang meliputi penggalian,

pembersihan, pemuatan dan pengangkutan batubara. Ekploitasi batubara bertujuan untuk mengambil sumberdaya batubara itu sendiri untuk dapat dimanfaatkan. Secara umum kegiatan dalam ekploitasi batubara yaitu : a. Persiapan Persiapan/konstruksi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mempersiapkan fasilitas penambangan sebelum operasi penambangan dilakukan. Pekerjaan tersebut seperti pembuatan akses jalan tambang, pelabuhan, perkantoran, bengkel, mes karyawan, fasilitas komunikasi dan pembangkit listrik untuk keperluan kegiatan penambangan, serta fasilitas pengolahan batubara. b. Penambangan Penambangan adalah kegiatan pengambilan batubara dengan memisahkannya dari material ( batuan, tanah) yang berada diselilingnya dengan menggunakan metode dan alat tertentu. Kegiatan penambangan secara umum penambangan batubara dibagi atas dua bagian yaitu tambang terbuka dan tambang bawah tanah c. Pemuatan dan Pengangkutan Pemuatan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memasukkan atau mengisikan material atau endapan bahan galian hasil penambangan ke dalam alat angkut. Sedangkan pengangkutan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengangkut atau membawa material atau endapan bahan galian dari front penambangan dibawa ke tempat pengolahan untuk proses lebih lanjut. Kegiatan pengangkutan menggunakan Dump Truck dengan kapasitas muatan 20 ton. Selanjutnya batubara tersebut diangkut menuju ke stockpile mini tambang (ROM). 2.3 Metode Penambangan Batubara Secara garis besar sistem penambangan batubara ada 2 yaitu :

2.3.1

Tambang Terbuka a. Gambaran Umum Tambang terbuka (surface mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas

penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi, dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara luar ( Gambar 3.1 ). Kebanyakan tambang

batubara di Indonesia menggunakan metoda tambang terbuka, oleh karena sebagian besar cadangan batubara terdapat pada dataran rendah atau pada daerah pegunungan dengan topografi yang landai dengan kemiringan lapisan batubara yang kecil (<30). Untuk cebakan yang berada di bawah permukaan tetapi relatif masih dangkal, maka metoda penambangan terbuka umumnya akan lebih ekonomis dibandingkan dengan tambang dalam (bawah permukaan).

Gambar 3.1 Tambang Terbuka ( Thompson, R.J., 2005)

Secara garis besar tahapan kegiatan penambangan pada tambang terbuka adalah sebagai berikut: a) Pembersihan lahan (land clearing). Yang dimaksud dengan pembersihan lahan adalah

pembersihan daerah yang akan ditambang dari semaksemak, pepohonan dan tanah maupun bongkah-bongkah

batu yang menghalangi pekerjaan-pekerjaan selanjutnya. Tanah pucuk yang subur (humus) harus ditimbun di tempat tertentu, lalu ditanami rerumputan dan semak-semak agar tidak mudah tererosi, sehingga kelak dapat dipakai untuk reklamasi bekas-bekas tambang. Pembabatan ini bisa dilakukan dengan: (1) Tenaga manusia yang menggunakan alat-alat sederhana seperti kapak, gergaji, arit, cangkul dan lain-lain. (2) Menggunakan alat-alat mekanis yaitu buldoser dengan rooter / ripper, rake blade, rantai dan lain-lain. b) Pengupasan tanah penutup (stripping). Pengupasan tanah penutup dimaksudkan untuk membuang tanah penutup (overburden) agar endapan bahan galiannya terkupas dan mudah untuk ditambang. Ada beberapa macam cara pengupasan tanah penutup yang banyak diterapkan, yaitu: (1) Back filling digging method. Pada cara ini tanah penutup dibuang ke tempat yang endapan bijih atau batubaranya sudah digali. Peralatan yang banyak digunakan adalah power shovel atau dragline. Bila digunakan hanya satu buah peralatan mekanis, power shovel atau dragline saja, disebut single stripping shovel/dragline dan bila menggunakan lebih dari satu buah power shovel/dragline disebut tandem stripping shovel/dragline. Cara back filling digging method cocok untuk tanah penutup yang: Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan batubara atau endapan bijih (satu lapis). Material atau batuannya lunak. Letaknya mendatar (horizontal).

(2) Benching system Pada pengupasan tanah dengan sistem jenjang

(benching system) ini pada waktu mengupas tanah penutup sekaligus sambil membuat jenjang. Sistem ini cocok untuk : Tanah penutup yang tebal. Bahan galian atau lapisan batubara yang juga tebal. c) Penambangan atau penggalian bahan galian (mining). Adalah kegiatan pengambilan endapan bahan galian termasuk batubara dari dalam kulit bumi dan dibawa ke permukaan bumi untuk dimanfaatkan atau untuk diproses selanjutnya. b. Macam-macam Metode dalam Sistem Penambangan Terbuka Pengelompokan metode-metode dalam tambang terbuka batubara didasarkan pada letak endapan, dan alat-alat mekanis yang dipergunakan. Teknik penambangan pada umumnya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan topografi daerah yang akan ditambang. Penambangan batubara dengan cara tambang terbuka dilakukan dengan beberapa metode, yaitu : a) Contour Mining Tipe penambangan ini pada umumnya dilakukan pada endapan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan. Penambangan batubara dimulai pada suatu singkapan lapisan batubara dipermukaan atau cropline dan selanjutnya mengikuti garis contour sekeliling bukit atau pegunungan tersebut (Gambar 3.2). Lapisan batuan penutup batubara dibuang kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diangkut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut diatas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit

ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja. Batas ekonomis ini ditentukan oleh beberapa variable antara lain : Ketebalan lapisan batubara Kualitas Pemasaran Sifat dan keadaan lapisan batuan penutup Kemampuan peralatan yang digunakan Persyaratan reklamasi

Gambar 3.2 Ilustrasi Metode Contour Mining (http: tambangindo.blogspot.com/2012/03/metode-penambanganbatubara.html)

Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umumnya memakai peralatan yang mempunyai

mobilitas tinggi atau dikenal mobile equipment. Alat-alat besar seperti : Alat muat : wheel loader, track loader, face shovel, back hoe Alat angkut jarak jauh : off highway dump truck Alat angkut jarak dekat : scraper Alat-alat tersebut dipergunakan untuk pekerjaan

pembuangan lapisan penutup batubara, sedangkan untuk 9

pengambilan batubaranya dapat digunakan dengan alat yang sama atau yang lebih kecil tergantung tingkat produksinya. Kapasitas alat angkut berupa off highway dump truck antara 18 ton sampai 170 ton. Di Indonesia, tipe contour mining diterapkan antara lain di Tambang Batubara Ombilin Sawah Lunto Sumatera Barat. Contour Mining dibagi menjadi beberapa metode, antara lain : (1) Conventional Contour Mining Pada metode ini, penggalian awal dibuat sepanjang sisi bukit pada daerah dimana batubara tersingkap. Pemberaian lapisan tanah penutup dilakukan dengan peledakan dan pemboran atau menggunakan dozer dan ripper serta alat muat front end leader, kemudian langsung didorong dan ditimbun di daerah lereng yang lebih rendah. Pengupasan dengan contour stripping akan menghasilkan jalur operasi yang bergelombang,

memanjang dan menerus mengelilingi seluruh sisi bukit. (2) Block-Cut Contour Mining Pada cara ini daerah penambangan dibagi menjadi blok-blok mengurangi penambangan timbunan yang bertujuan pada untuk saat

tanah

buangan

pengupasan tanah penutup di sekitar lereng. Pada tahap awal blok 1 digali sampai batas tebing (highwall) yang diijinkan tingginya. Tanah penutup tersebut ditimbun sementara, batubaranya kemudian diambil. Setelah itu lapisan blok 2 digali kira-kira setengahnya dan ditimbun di blok 1. Sementara batubara blok 2 siap digali, maka lapisan tanah penutup blok 3 digali dan berlanjut ke siklus penggalian blok 2 dan menimbun tanah buangan pada blok awal. Pada saat blok 1 sudah ditimbun dan

10

diratakan kembali, maka lapisan tanah penutup blok 4 dipidahkan ke blok 2 setelah batubara pada blok 3 tersingkap semua. Lapisan tanah penutup blok 5 dipindahkan ke blok 3, kemudian lapisan tanah penutup blok 6 dipindahkan ke blok 4 dan seterusnya sampai selesai. Penggalian beruturan ini akan mengurangi jumlah lapisan tanah penutup yang harus diangkut untuk menutup final pit. (3) Haulback Contour Mining Metode haulback ini merupakan modifikasi dari konsep block-cut, yang memerlukan suatu jenis angkutan overburden, bukannya langsung menimbunnya. Jadi metode ini membutuhkan perencanaan dan operasi yang teliti untuk bisa menangani batubara dan overburden secara efektif (4) Box-Cut Contour Mining Pada metode box-cut contour mining ini lapisan tanah penutup yang sudah digali, ditimbun pada daerah yang sudah rata di sepanjang garis singkapan hingga membentuk suatu tanggul-tanggul yang rendah yang akan membantu menyangga porsi terbesar dari tanah timbunan. b) Open Pit Mining Open pit mining adalah cara penambangan secara terbuka dalam pengertian umum. Apabila hal ini diterapkan pada endapan batubara dilakukan dengan jalan membuang lapisan batuan penutup sehingga lapisan batubaranya tersingkap dan selanjutnya siap untuk diekstraksi (Gambar 3.3).

11

Gambar 3.3 Ilustrasi metode Open Pit Mining (http: tambangindo.blogspot.com/2012/03/metode-penambanganbatubara.html)

Peralatan yang dipakai pada penambangan secara open pit dapat bermacam-macam tergantung pada jenis dan keadaan batuan penutup yang akan dibuang. Dalam memilih peralatan perlu dipertimbangkan : (1) Kemiringan lapisan batuan Pada lapisan dengan kemiringan cukup tajam pembuangan lapisan tanah penutup dapat menggunakan alat muat baik berupa face shovel, front end loader atau alat muat lainnya (2) Masa operasi tambang Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal atau dalam dan dilakukan dengan menggunakan beberapa bench. Peralatan yang digunakan untuk pembuangan lapisan tanah penutup batubara dapat dibedakan sebagai berikut : 12

Peralatan yang bersifat mobile antara lain track shovel, front end loader, bulldozer, scrapper Peralatan yang bersifat bekerja secara continue membuang lapisan tanah penutup tanpa dibantu alat angku Terdapat 2 metode dalam penambangan secara open pit, tergantung pada kondisi lapisan batubara yang akan ditambang, yaitu : (1) Metode Untuk Lapisan Tebal Pada cara ini penambangan tanah dimulai dengan dan

melakukan

pengupasan

penutup

penimbunan dilakukan pada daerah yang sudah ditambang. Sebelum dimulai, harus tersedia dahulu daerah singkapan yang cukup untuk dijadikan daerah penimbunan pada operasi berikutnya. Pada cara ini, baik pada pengupasan tanah penutup maupun penggalian batubaranya, digunakan sistem jenjang (benching system). (2) Metode Untuk Lapisan Miring Cara ini dapat diterapkan pada lapisan batubara yang terdiri dari satu lapisan (single seam) atau lebih (multiple seam). Pada cara ini lapisan tanah penutup yang telah dapat ditimbun di kedua sisi pada masing-masing pengupasan. c) Stripping Mining Strip mining merupakan pertambangan kupas atau pertambangan baris yang secara khusus merupakan sistem tambang terbuka atau tambang permukaan untuk batubara. Sistem penambangan ini pada dasarnya terbagi dua, yaitu tambang area dan tambang kontur. Pertambangan kupas adalah merupakan operasi pengupasan tanah atau batuan

13

penutup lapisan batu bara dengan bentuk pengupasan barisbaris serjajar (Gambar 3.4). Strip mining pada umumnya digunakan untuk endapan batubara yang memiliki

kemiringan endapan (dip) kecil atau landai dimana sistem penambangan yang lain sulit untuk diterapkan karena keterbatasan batubaranya penutupnya jangkuan alat-alat. Selain itu endapan

harus tebal, terutama bila lapisan tanah juga tebal. Hal ini dimaksudkan untuk

mendapatkan perbandingan yang masih ekonomis anatara jumlah tanah penututp yang harus dikupas dengan jumlah batubara yang dapat digali (economic stripping ratio).

Gambar 3.4 Ilustrasi metode Striping Mining (http: tambangindo.blogspot.com/2012/03/metode-penambangan-batubara.html)

2.3.2 Tambang Dalam / Bawah Permukaan 1) Gambaran Umum Tambang bawah tanah mengacu pada metode

pengambilan batubara yang dilakukan dengan membuat 14

terowongan menuju lokasi keterdapatan lapisan batubara tersebut. Karena letak cadangan yang umumnya berada jauh dibawah tanah, jalan masuk perlu dibuat untuk mencapai lokasi cadangan. Jalan masuk dapat dibedakan menjadi beberapa macam: Ramp, jalan masuk ini berbentuk spiral atau melingkar mulai dari permukaan tanah menuju kedalaman yang dimaksud. Ramp biasanya digunakan untuk jalan kendaraan atau alat-alat berat menuju dan dari bawah tanah. Shaft, yang berupa lubang tegak (vertikal) yang digali dari permukaan menuju cadangan batubara. Shaft ini kemudian dipasangi semacam lift yang dapat difungsikan mengangkut orang, alat, atau hasil penambangan. Adit, yaitu terowongan mendatar (horisontal) yang

umumnya dibuat disisi bukit atau pegunungan menuju ke lokasi terdapatnya lapisan batubara Pada penambangan batubara dengan metode tambang dalam yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan lubang bukaan seaman mungkin agar terhindar dari

kemungkinan : Keruntuhan atap batuan Ambruknya dinding bukaan lubang (rib spalling) Penggelembungan lantai lapisan batubara (floor heave) Penambangan batubara secara tambang dalam

kenyataannya sangat ditentukan oleh cara mengusahakan agar lubang bukaan dapat dipertahankan selama mungkin pada saat berlangsungnya penambangan batubara dengan biaya rendah atau seekonomis mungkin. Untuk mencapai keinginan tersebut maka pada setiap pembuatan lubang bukaan selalu diusahakan agar : Kemampuan penyangga dari atap lapisan 15

Kekuatan lantai lapisan batubara Kemampuan daya dukung pillar penyangga

Ada dua tahap utama dalam metode tambang bawah tanah: a) Development Pada tahap development, semua yang digali adalah batuan tak berharga. Tahap development termasuk pembuatan jalan masuk dan penggalian fasilitas-fasilitas bawah tanah lain. b) Production Pada tahap ini cadangan batubara mulai digali untuk diekstraksi menuju ke permukaan yang selanjutkan akan dilakukan proses lebih lanjut. 2) Macam-macam Metode Permukaan Berdasarkan teknik pengambilan batubaranya, metode tambang dalam secara umum terbagi dua, yaitu Room & Pillar (RP) dan Long Wall (LW). a) Room & Pillar Pada metode penambangan Room & Pillar, batubara diekstraksi dengan meninggalkan pilar yang difungsikan sebagai penyangga ruang kosong (room) pada lapisan batubara di dalam tanah. Ruang kosong itu sendiri terbentuk sebagai akibat terambilnya batubara pada lapisan yang bersangkutan (Gambar 3.5). Adapun ukuran pilar ditentukan dengan menghitung kekuatan batuan atap, lantai serta karakteristik lapisan batubara, yang dalam hal ini adalah tingkat kekuatan/kekerasannya. Pada praktiknya, area yang akan ditambang dibagi terlebih dulu ke dalam bagian bagian yang disebut panel, dimana pengambilan batubara dilakukan di dalamnya. Barrier pillar berfungsi untuk memisahkan panel panel penambangan, sedangkan panel pillar berfungsi untuk dalam Sistem Penambangan Bawah

16

menahan ruang kosong pada panel saja. Dengan demikian, meskipun masih terdapat resiko runtuhan atap pada suatu panel, tapi keberadaan barrier pillar akan memberikan jaminan keamanan melalui penyanggaan area tambang secara keseluruhan. Room & Pillar adalah metode penambangan yang sederhana dan tidak memerlukan biaya yang besar. Akan tetapi, cara ini hanya akan menghasilkan recovery batubara yang rendah, umumnya maksimal 60%, disamping

memerlukan kondisi lapisan batubara yang landai (flat) dan relatif tebal. Selain itu, Room & Pillar hanya bisa diterapkan pada penambangan lapisan batubara yang dekat dengan permukaan tanah karena tekanan batuannya belum begitu besar. Seiring makin dalamnya lokasi penambangan berarti tekanan batuan akan membesar, serta potensi emisi gas dan keluarnya air tanah akan bertambah. Pada kondisi demikian, Room & Pillar sudah tidak layak lagi untuk dilakukan sehingga diperlukan metode lain yang lebih aman dan ekonomis, yaitu Long Wall.

Gambar 3.5 Ilustrasi Metode Room & Pillar (http: coalmodel.blogspot.com/2009/12/coal-mining-methods.html)

17

b) Long Wall Pada metode ini, penambangan dilakukan setelah terlebih dulu membuat 2 buah lorong penggalian pada suatu blok lapisan batubara. Lorong yang satu terhubung dengan lorong peranginan utama (main shaft in-take), berfungsi untuk menyalurkan udara segar serta untuk pengangkutan batubara. Lorong ini sebut dengan main gate. Sedangkan lorong satunya lagi yang disebut dengan tail gate terhubung dengan lorong pembuangan utama (main shaft outtake/exhaust), berfungsi untuk menyalurkan udara kotor keluar tambang serta untuk pengangkutan material ke lapangan penggalian (working face) (Gambar 3.6). Udara kotor yang dimaksud disini adalah udara yang telah melewati lapangan penggalian, sehingga telah tercampur dengan debu batubara dan gas gas seperti metana, karbondioksida, CO, atau gas yang lain tergantung dari kondisi geologi di lokasi tersebut.

Gambar 3.6 Metode Long Wall (World Coal Institute. 2009)

18

Bila ditinjau dari arah kemajuan lapangan (working face), maka terdapat 2 metode pada Long Wall, yaitu advancing Long Wall (maju) dan retreating Long Wall (mundur). (1) Advancing Long Wall Pada advancing Long Wall penggalian maju untuk main gate dan tail gate dilakukan bersamaan dengan penambangan batubara, seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah ini. Pada Advancing Long Wall seiring dengan majunya kedua lorong serta lapangan penggalian, lokasi yang batubaranya telah diambil akan

meninggalkan ruang yang terisi dengan batuan atap yang telah diambrukkan. Bekas lapangan penggalian itu disebut dengan gob. Pada metode ini, pekerjaan penting yang harus dilakukan adalah menjaga agar main gate dan tail gate tetap tersekat dengan sempurna terhadap gob sehingga sistem peranginan atau ventilasi dapat berjalan dengan baik. Kelebihan metode ini adalah produksi dapat segera dilakukan bersamaan dengan penggalian lorong main gate dan tail gate. Namun seiring dengan semakin majunya penggalian, maintenance kedua lorong menjadi semakin sulit dilakukan karena tekanan lingkungan yang bertambah akibat keberadaan gob yang meluas. Selain membawa resiko ambrukan, tekanan batuan tersebut juga akan menyebabkan dinding lorong yang merupakan sekat antara kedua lorong dengan gob menjadi mudah retak dan rusak sehingga angin dapat mengalir masuk ke dalam gob. Karena di gob juga terdapat banyak serpihan atau bongkahan batubara yang tersisa, maka masuknya angin ke lokasi ini secara otomatis akan meningkatkan

19

potensi swabakar. Disamping itu, kelemahan metode Long Wall maju yang lain adalah rentan terhadap fenomena geologi yang tidak menguntungkan yang muncul di dalam tambang, misalnya patahan atau batubara menghilang (wash out). Tidak sedikit

penggalian Long Wall maju terpaksa harus terhenti dan pindah ke lokasi lain dikarenakan faktor geologi tersebut. (2) Retreating Long Wall Pada Long Wall mundur, main gate dan tail gate dibuat terlebih dulu pada blok lapisan batubara yang ingin ditambang, dengan panjang lorong dan lebar area penggalian ditentukan berdasarkan kondisi geologi serta teknik penambangan yang sesuai di lokasi tersebut. Penambangan dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi penyangga besi (steel prop) dan link bar untuk menopang atap lapangan, serta coal pick untuk ekstraksi batubara. Sedangkan kereta tambang (mine car) digunakan sebagai alat transportasi batubara. Untuk lebih meningkatkan efisiensi penambangan, mekanisasi

tambang dalam secara menyeluruh atau sebagian (semi mekanisasi) dapat dilakukan dengan terlebih dulu memperhatikan kondisi geologi dan perencanaan

penambangan secara jangka panjang. Mekanisasi pada lapangan penggalian misalnya melalui kombinasi

penggunaan drum cutter dan penyangga berjalan (selfadvancing support), sedangkan pada fasilitas transportasi batubara misalnya dengan menggunakan belt conveyor. Apabila kegiatan penggalian batubara di suatu blok sudah selesai, maka safety pillar akan disisakan untuk menjamin keamanan tambang dari bahaya ambrukan. Pada saat itu, tail gate dan main gate harus

20

disekat (sealing) sempurna untuk mencegah masuknya aliran udara segar sehingga proses oksidasi batubara pada gob terhenti. Di dalam lokasi yang telah disekat, kadar gas metana akan terus bertambah, sedangkan oksigen akan menurun. Dibandingkan dengan Long Wall maju yang dapat segera berproduksi, diperlukan waktu yang lebih lama dan biaya material yang mencukupi pada Long Wall mundur untuk persiapan lapangan penggaliannya. Meskipun demikian, dengan maintenance lorong dan pengaturan sistem ventilasi yang relatif mudah menyebabkan Long Wall mundur lebih aman dari resiko ambrukan dan swabakar. Selain itu, kondisi geologi yang akan dihadapi saat penggalian di lapangan nantinya dapat diprediksi lebih dulu ketika dilakukan penggalian lorong dalam rangka persiapan lapangan. Dengan demikian, langkah antisipasi untuk mengatasi fenomena geologi yang tidak menguntungkan yang mungkin timbul pada saat penambangan dapat

diperhitungkan dengan baik.

21

2.4

Kerangka Berpikir Peningkatan Kebutuhan Energi

Peningkatan Eksplorasi Pencarian Sumberdaya baru Perhitungan Potensi Cadangan Penentuan Lokasi Penambangan

Perencanaan Kegiatan Penambangan

Penentuan Metode Penambangan

FAKTOR YANG MENJADI PERTIMBANGAN : Karakteristik spasial dari endapan Kondisi geologi Sifat geoteknik Konsiderasi ekonomi Faktor teknologi Faktor lingkungan Metode Penambangan yang sesuai Tambang Terbuka Contour Mining Open Pit Mining Stripping Mining Tambang Dalam Room and Pillar Longwall

22

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Perbandingan Sistem Penambangan Terbuka dan Bawah Permukaan Sistem penambangan yang umum digunakan dalam eksploitasi batubara secara umum terdiri dari dua macam yaitu, yaitu sistem tambang terbuka dan sistem tambang bawah tanah. Dimana tambang terbuka adalah suatu kegiatan penambangan batubara dengan cara membuka dan menggali lahan yang sangat luas hingga membentuk suatu lubang terbuka yang sangat lebar. Sedangkan tambang bawah tanah adalah suatu kegiatan penambangan batubara denga cara membuat lubang/terowongan bawah tanah dengan tanpa membuka lahan di atasnya secara luas. Masing-masing sistem memiliki kalebihan dan kekurangan masing-masing 1. Sistem Tambang Terbuka Metode tambang terbuka merupakan kegiatan penambangan yang diterapkan terhadap endapan bahan galian yang terletak di dekat permukaan bumi. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari sistem ini adalah : Produksi tinggi Konsentrasi operasi (kegiatan) tinggi Ongkos operasi per ton bijih yang ditambang rendah Kegiatan eksplorasi dan keadaan geologi lebih mudah Leluasa dalam pemilihan alat gali/muat Recovery tinggi Perencanaan lebih sederhana Kondisi kerja lebih baik /karena berhubungan dengan udara luar Relatip lebih aman Pemakaian bahan peledak leluasa dan effisien Sedangkan kekurangan dari penggunaan sistem ini pada eksploitasi batubara antara lain yaitu :

23

Gangguan pada kemantapan lereng tambang Susah mencari tempat untuk menimbun material penutup

(overburden) yang tidak mengganggu kegiatan penambangan dan memperparah kerusakan lingkungan, karena volume material yang akan ditimbun sangat banyak. 2. Sistem Tambang Bawah Permukaan Tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining) adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau aktifitas penambangannya dilakukan di bawah permukaan bumi, dan tempat kerjanya tidak langsung berhubungan dengan udara luar. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari sistem ini adalah : Masalah sosial maupun kerusakan lingkungan akibat pekerjaan penambangan relatif dapat dihindari Tidak terlalu memakan tempat / lokasi untuk keperluan dumping area Sedangkan kekurangan dari penggunaan sistem ini pada eksploitasi batubara antara lain yaitu : Investasi awal yang besar Tingkat keterambilan batubara yang tidak setinggi pada tambang terbuka Resiko terjadinya keruntuhan yang mengancam jiwa para pekerja tambang.

3.2

Faktor Dalam Penentuan Metode Penambangan Dalam usaha pertambangan, merupakan hal yang penting untuk memilih metode yang paling cocok dengan karakteristik (alam, geologi, lingkungan) dari endapan yang akan ditambang. Metode tersebut hendaklah yang layak teknis, ekonomis, biaya rendah dan menghasilkan keuntungan yang maksimum. Tujuan utama dalam pemilihan suatu metode untuk menambang suatu endapan mineral adalah dalam rangka merancang suatu sistem eksploitasi yang paling sesuai dengan kondisi sebenarnya. 24

Sistem penambangan adalah suatu cara atau teknik yang dilakukan untuk membebaskan atau mengambil endapan bahan galian yang mempunyai arti ekonomis dari batuan induknya untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat memberikan keuntungan yang besar dengan memperhatikan keamanan dan keselamatan kerja yang terbaik serta meminimalisasi dampak lingkungan yang dapat ditimbulkannya. Agar dapat tercapai hal-hal yang terdapat dalam defenisi sistem penambangan di atas, maka cara penambangan yang diterapkan harus dapat menjamin : 1. Ongkos penambangan yang seminimal mungkin. 2. Perolehan atau mining recovery harus tinggi. 3. Efisiensi kerja harus tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh : - Jenis alat yang digunakan. - Sinkronisasi kerja yang baik. - Tenaga kerja yang terampil. - Organisasi dan manajemen yang baik. Dalam menentukan metode penambangan yang akan dilakukan ada beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain yaitu : a. Karakteristik spasial dari endapan Faktor-faktor ini merupakan faktor penting yang dominan karena umumnya sangat menentukan dalam pemilihan metode penambangan antara tambang terbuka dengan tambang bawah tanah, penentuan tingkat produksi, metode penanganan material, dan bentuk tambang dalam badan bijih. Factor-faktor tersebut meliputi : Ukuran (dimensi, terutama tinggi dan tebal) Bentuk (tabular, lenticular, massive, irregular) Orientasi (dip/inklinasi) Kedalaman (rata-rata dan nilai ekstrem, yang akan berimbas pada stripping ratio) b. Kondisi geologi Karakteristik geologi, baik dari badan bijih maupun batuan samping, akan mempengaruhi pemilihan metode penambangan, terutama dalam 25

pemilihan antara metode selektif dan nonselektif serta pemilihan system penyanggaan pada system penambangan bawah tanah. c. Sifat geoteknik Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan mekanika batuan) untuk bijih dan batuan sekelilingnya. Hal-hal ini akan mempengaruhi pemilihan peralatan pada system penambangan terbuka dan pemilihan klas metode dalam system tambang bawah tanah (swasangga, berpenyangga atau ambrukan) d. Konsiderasi ekonomi Faktor-faktor ini akan mempengaruhi hasil, investasi, aliran kas, masa pengembalian dan keuntungan. Faktor ini meliputi : Cadangan (tonase dan kadar), Produksi, Umur tambang, Produktivitas, Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok e. Faktor teknologi Kondisi paling cocok antara kondisi alamiah endapan dan metode penambangan adalah yang paling diinginkan. Sedangkan metode yang tidak cocok mungkin tidak banyak pengaruhnya pada saat penambangan, tetapi kemungkinan akan mempengaruhi pada kegiatan pendukung tambang/terusannya (pengolahan, peleburan, dll). Yang termasuk dalam faktor teknologi adalah : Perolehan tambang, Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih), Ke-fleksibilitas-an metode dengan perubahan kondisi, Selektifitas metode untuk memisahkan bijih dan waste, Konsentrasi atau dispersi pekerjaan, Modal, pekerja dan intensitas mekanisasi

26

f. Faktor lingkungan Faktor lingkungan yang dimaksud tidak hanya berupa lingkungan fisik saja, tetapi juga meliputi lingkungan social-politik-ekonomi. Pemanfaatan secara ekonomis potensi cadangan batubara disebut dengan penambangan batubara, yang terbagi menjadi penambangan terbuka (surface mining) dan penambangan bawah tanah atau tambang dalam (underground mining). Bila terdapat singkapan batubara (outcrop) di permukaan tanah pada suatu lahan yang akan ditambang, maka metode penambangan yang akan dilakukan, yaitu metode terbuka atau bawah tanah, ditetapkan berdasarkan konsep pemilihan tertentu yaitu : a. Konsep konsensional atau kedalaman Jika letak endapan bijih dangkal dipilih tambang terbuka Jika letak endapan bijih dalam dipilih tambang dalam b. Konsep ekonomis/keuntungan Cut off grade (COG) Cut off grade (COG) mempunyai dua pengertian yaitu : Kadar endapan bahan galian yang masih memberikan

keuntungan apabila endapan ditambang (tidak diperlukan pencampuran endapan bahan galian) Kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih memberikan keuntungan apabila endapan ditambang (diperlukan pencampuran: mixing/blending) Cut off grade (COG) akan menentukan batas-batas cadangan sehingga dapat dihitung besar cadangan oleh karena itu akan berakibat umur cadangan makin lama. Break even stripping ratio (BESR) BESR yaitu perbandingan antara keuntungan kotor dengan ongkos pembuangan O/B. Untuk menghitung besarnya nilai BESR digunakan rumus : BESR = Cost Penggalian Bijih / Cost Penggalian OB

27

Untuk memilih system penambangan digunakan istilah BESR1 bagi open pit yaitu overall stripping ratio. BESR-1 > 1 = Tamka, BESR-1 < 1 = Tamda, BESR = 2 = Bisa Tamka/Tamda.

28

BAB IV PENUTUP
Pekerjaan yang dilakukan dalam eksploitasi batubara terdiri dari tahap persiapan, penambangan, pemuatan dan pengangkutan. Secara umum penambangan batubara terdapat tambang terbuka dan tambang bawah

permukaan yang masing-masingnya memiliki beberapa macam metode yaitu : 1. Tambang terbuka, metodenya antara lain yaitu: a) Contour Mining b) Open Pit Mining c) Stripping Mining 2. Tambang Dalam / Bawah Permukaan a) Room and Pillar b) Long Wall Dalam menentukan metode penambangan yang akan digunakan dalam eksploitasi batubara terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Karakteristik spasial dari endapan Kondisi Geologi Sifat Geoteknik Konsiderasi Ekonomi Faktor Teknologi Faktor Lingkungan Masing-masing sistem penambangan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing serta sesuai dengan karakteristik dari endapan yang akan ditambang. Pada tambang terbuka misalnya, meskipun investasinya lebih kecil dan memiliki tingkat keterambilan batubara (recovery) di atas 90%, tapi kurang bersahabat dari segi lingkungan dan terkadang menimbulkan gesekan dengan masyarakat sekitar terkait polusi debu maupun masalah kepemilikan lahan. Sebaliknya untuk tambang dalam, meskipun masalah sosial maupun kerusakan lingkungan relatif dapat 29

dihindari, tapi kekurangannya adalah investasi awal yang besar, dan tingkat keterambilan batubara yang tidak setinggi pada tambang terbuka.

30

DAFTAR PUSTAKA
1. Hamrin, Hans. 1999. Underground Mining Methods, Sweden : Atlas Copco 2. Mitra, Rudrajit and Saydam, Serkam. 2012. Surface Coal Mining Methods in Australia, Sidney Australia : inTech. 3. Sukandarumidi. 2008. BATUBARA DAN GAMBUT, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. 4. Thompson, R.J.. 2005. Surface Strip Coal Mining Hand Book, USA : SACMA. 5. World Coal Institute. 2009. Sumberdaya Batubara : Tinjauan Lengkap Mengenai Batubara, World Coal Institute. 6. http:tambangindo.blogspot.com/2012/03/metode-penambangan-batubara.html 7. http: coalmodel.blogspot.com/2009/12/coal-mining-methods.html

31