Anda di halaman 1dari 2

TIPS MENGANALISIS SEDIMEN, DEBIT AIR MENGGUNAKAN MODEL SWAT (SOIL WATER ASSESSMENT TOOL) IFAH LATIFAH

SWAT merupakan kependekan dari Soil Water Assessment Tool. Suatu alat komputansional yang banyak digunakan untuk menganalisis dampak perubahan tataguna lahan pertanian terhadap lingkungan dalam bentuk model. Hasil dari model SWAT dapat berupa jumlah sedimen, debit air, nitrogen, posfor, COD, BOD, dan lain-lain. Karena haasilnya sangat detil, maka data-data yang harus diinputkan juga harus detil. Adapun beberapa tips sebelum memulai menjalankan model SWAT untuk analisis sedimen dan debit air di sutu DAS (daerah aliran sungai) adalah sebagai berikut : 1. Kenali wilayah yang akan diteliti; hal ini sangat penting untuk melihat permasalahan yang sebenarnya di wilayah tersebut. Misalkan, kondisi DAS Jeneberang, Sulawesi Selatan yang sudah menggunakan sediment trap di hulunya, kondisi pengelolaan

pertanian yang masih konvensional, usaha penambangan pasir di willayah tengah DAS. Semuanya dapat dimasukkan ke dalam model sehingga hasilnya lebih tepat. 2. Kumpulkan data series yang lengkap seperti curah hujan harian, suhu udara maksimum dan minimum harian, kelembaban harian, radiasi harian, kecepatan angin harian. Minimal data terkumpul untuk 5 tahun dan merupakan yang terbaru. Misalkan jika menganalisis di tahun 2013 maka usahakan mengumpulkan data series tahun 2008, 2009, 2010, 2011, 2012. Data yang terkumpul tidak disarankan merupakan data hasil pembangkitan, atau data-data kosong. Misalkan dalam waktu setahun terdapat hampir 40% data rusak atau hilang, maka tahun tersebut tidak disarankan untuk digunakan. 3. Kumpulkan peta-peta digital seperti peta tanah, peta tutupan lahan, peta topografi, peta batas wilayah penelitian, peta sebaran titik-titik stasiun curah hujan, iklim. Kumpulkanlah peta digital tersebut dalam format .SHP atau .PRJ. Format tersebut dapat dilihat pada software berbasis GIS, seperti MapWindows , ArcGIS, dll. Kumpulkanlah sebisa mungkin tahuntahun yang terbaru setiap 3 tahun sekali. Jika data input dari tahun 2008 sampai dengan 2012 maka kumpulan peta-peta digital tahun 2012, 2009. Sehingga secara kasar modeler juga dapat mengetahui perbedaannya. 4. Kumpulkan data-data karakteristik tanah yang sesuai dengan peta digital tanah pada nomor sebelumnya. Data-data yang penting adalah %lanau, %liat, %lempung, %batuan, kedalaman tanah, kandungan air, dll. Lebih detil akan lebih baik hasilnya. 5. Kumpulkan data-data karakteristik tutupan lahan yang sesuai dengan peta digital tutupan lahan pada nomor sebelumnya. Data-data yang cukup penting adalah faktor pemupukan, pengairan, pengelolaan tutupan lahan, dll.