Anda di halaman 1dari 392

Prosiding

Simposium Nasional Inovasi dan


Pembelajaran Sains 2013
Bandung, 3 - 4 Juli 2013
ISBN : 978-602-19655-4-2
Penerbit :
Program Studi Magister Pengajaran Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
2013
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia



ISBN 978-602-19655-4-2

Prosiding


Simposium Nasional Inovasi dan
Pembelajaran Sains 2013










Bandung, 3- 4 Juli 2013














Himpunan Fisika Indonesia (HFI)
Himpunan Fisika dan Fisika Terapan Indonesia (HF2TI)
Program Magister Pengajaran MIPA ITB

http://portal.fi.itb.ac.id/snips2013
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia



ISBN 978-602-19655-4-2


Panitia Penyelenggara
Acep Purqon
Fourier D.E. Latief
Fatimah A. Noor
Novitrian
Syeilendra Pramuditya
Agus Suroso
Nina Siti Aminah
Wahyu Hidayat
Sidik Permana
Neni Suryetni
Ahmad Rosikhin
Memoria Rosi
Aghust Kurniawan






Dewan Pengarah
Prof. Dr.rer.nat. Umar Fauzi
Dr. Siti Nurul Khotimah, M.Sc
Prof. Dr. I Made Arcana
Prof. Dr. Roberd Saragih







Editor
Acep Purqon
Fourier D.E. Latief
Sparisoma Viridi
Syeilendra Pramuditya
Dede Enan






Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia



ISBN 978-602-19655-4-2
Foto-foto SNIPS 2013





Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 i

Kata Pengantar


Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) yang telah dilaksanakan
pada 3-4 Juli 2013 di kota Bandung merupakan suatu kegiatan ilmiah yang terselenggara berkat
dukungan dari Prorgam Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Teknologi Bandung. Simposium ini merupakan tempat bertukar pikiran para pelaku bidang
pembelajaran sains dan matematika yang meliputi para guru, mahasiswa, dosen, dan peneliti.

Seminar ini diikuti oleh sejumlah peserta yang terdiri dari 4 orang pembicara kunci yang berasal
dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan 93 presenter yang terbagi dalam empat kelompok
presentasi paralel serta partisipan dari berbagai kalangan. Topik-topik yang disampaikan cukup
beragam, di mana sebagian besar dari topik-topik tersebut merupakan hasil penelitian dan
inovasi dalam bidang pengajaran dan pendidikan. Lebih dari 100 peserta dari beberapa kota di
Indonesia seperti Jakarta, Bogor, Bandung, Palangkaraya dan Yogyakarta telah berpartisipasi
dalam SNIPS 2013 ini.

Upaya penyuntingan Prosiding ini telah diupayakan sebaik mungkin, Kami menyadari
sepenuhnya, bahwa masih terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan prosiding ini.
Kritik dan saran sangat kami harapkan guna perbaikan pada penerbitan yang akan datang.

Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung
dan membantu terselenggaranya acara SNIPS 2013 dan terselesaikannya penyuntingan dan
penerbitan Prosiding ini. Semoga acara SNIPS 2013 dan penerbitan Prosiding ini bermanfaat bagi
kita semua. Sampai jumpa dalam SNIPS berikutnya.


Acep Purqon
Ketua SNIPS 2013



Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 ii
Jadwal Simposium
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 iii
Denah Ruang Simposium

Lokasi: Campus Center Timur Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia







Denah pembagian ruang di Campus Center Timur ITB. Terdapat empat ruang presentasi, yaitu
Ruang 1 4. Dua pintu masuk dan keluar, yaitu Pintu 1 dan 2. Dua buah pintu darurat, yaitu
Pintu 3 dan 4. Toilet terletak di luar Campus Center Timur.

Ruang 1 : tempat presentasi paralel
Ruang 2 : tempat presentasi paralel
Ruang 3 : tempat presentasi paralel
Ruang 4 : tempat presentasi utama dan paralel, pembukaan dan penutupan simposium
Ruang P : tempat poster dipasang dan dipresentasikan
Ruang R : tempat makan siang dan rehat kopi
Ruang S : tempat sekretariat SNIPS 2013, meja registrasi terletak di depan Pintu 1

Kapasitas Ruang 1 : 25 orang
Kapasitas Ruang 2 : 25 orang
Kapasitas Ruang 3 : 25 orang
Kapasitas Ruang 4 : 150 orang



Toilet
Ruang 4
Ruang 1
Ruang 2 Ruang 3
Pintu 2
Pintu 1
Pintu 3
Pintu 4
U
Ruang
R
Ruan
g S
Ruang
P
Rump
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 iv

DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Jadwal Simposium ii
Denah Ruang Simposium iii
Daftar Isi iv
Refleksi, Penyadaran, dan Sikap sebagai Tujuan Pembelajaran Kuliah
A. Rusli

1
Pengembangan Model Pembelajaran On-line (e-learning) Menggunakan LMS (Learning
Management System) untuk Pembelajaran Fisika di Sekolah Menengah
Abdul Rajak, Amali Putra, dan Pakhrur Razi

5
Pengembangan Alat Penilaian Kinerja pada Pembelajaran Sains Berbasis Fuzzy
Grading System
Ade Gafar Abdullah, Ana, dan Dadang Lukman Hakim

10
Pengembangan Alat Praktikum Dasar Otomasi Industri Modular
Ade Gafar Abdullah, Mochamad Riza Novian, Irfan Indrawan, Erik Haritman, dan
Dandhi Kuswardhana

14
Pengaruh Bahan Metamaterial Terhadap Perambatan Gelombang Elektromagnetik
Afnar Delivery

18
Studi Literatur Mengenai Diagnosa Pembusukan Pada Kaki Penderita Diabetes
Melitus Dengan Menggunakan Metode Liquid Crystal Thermography (LCT)
Afnar Delivery

21
Hasil dan Analisis percobaan Hukum Ohm, Jembatan Wheatstone dan Rangkaian
RLC
Albar Rabak Pabianan dan Euis Sustini

25
Identifikasi Parameter Kerapatan dan Kekentalan Terhadap Tinggi Zat Cair Yang Naik
Pada Kaki Pipa U serta Pipa Y dengan Menggunakan Konsep Tekanan
Andi Asgar Wahyu dan Inge Magdalena

29
Pembuatan Media Pembelajaran Berupa Animasi Berbasis Komputer Untuk
Meningkatkan Pemahaman Siswa SMA/MA Kelas X Pada Mata Pelajaran Kimia
Konsep Ikatan Kimia
Andri Agustina, Ida Farida Ch. dan Cucu Zenab Subarkah

33
Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui Pembelajaran Berbasis Proyek
pada Konsep Pemisahan Campuran
Andri Arifiadi, Cucu Zenab S, Risa Rahmawati S

37
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 v
Studi Awal Sintesis Material Katoda Lithium Besi Fosfat (LiFePO4) dengan Metode
Solvotermal pada Konsentrasi Tinggi
Anies Sayyidatun Nisa dan Ferry Iskandar

41
Eksplorasi Konsep Barisan dengan Metode Pembelajaran Berbasis Komputer
Anjani Kusumaningsih dan Agus Yodi Gunawan

45
Analisis Keterkaitan Kecerdasan Majemuk Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa SMA Setelah Diterapkan Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk
Aprianti Opi Ceisar, Winny Liliawati, dan Judhistira Aria Utama

49
Rancang Bangun Instrumen Akuisisi Data Temperatur Menggunakan IC LM35DZ
dan Mikrokontroler ATMEGA8535 Berbasis Perangkat Lunak LabVIEW
Arsul Rahman, Hendro, dan Neny Kurniasih

53
Profil Motivasi dan Tingkat Partisipasi Mahasiswa Calon Guru Fisika dalam
Pembuatan Instrumen Soal Pilihan Ganda dan Esei
Asep Sutiadi, Dadi Rusdiana, Andi Suhandi, dan Nuryani R. Rustaman

58
Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek Pada Materi Daur Ulang Minyak Jelantah
Assyifa Junitasari; Cucu Zenab S; dan Risa Rahmawati S

62
Aplikasi Metode Disipasi Termal untuk Analisis Karakteristik Filamen dan Efektivitas
Pencahayaan Berbagai Produk Lampu Pijar
Budi Sigit Purwono dan Enjang Jaenal Mustopa

66
Meningkatkan Kemampuan Multi Representasi dan Translasi Antar Modus
Representasi Konsep-Konsep Listrik Magnet Pada Program Preservice Guru Fisika
P.Sinaga, Andi Suhandi, dan Liliasari

71
Pengembangan Aplikasi Lagu Sistem Periodik Unsur dalam Bentuk Macromedia
Flash pada Materi Sistem Periodik
Eka Yusmaita dan Bayharti

76
Profil Kemampuan Inkuiri Siswa dalam Penerapan Model Pembelajaran Level of
Inquiry
Erlina Megawati, Purwanto, dan Winny Liliawati

80
Penerapan Pemberian Tugas Awal Integrated Reading And Writing dalam
Pembelajran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Literasi Fisika SMP
Ermawati Dewi, Selli Feranie dan Saeful Karim

84
Penerapan Strategi Membaca dan Menulis pada Tugas Awal dalam Pembelajaran IPA
Bertema Ultrasound untuk Meningkatkan Literasi Fisika Siswa SMP
Esti Maras Istiqlal, Saeful Karim dan Selly Feranie

88
Analisis Karakter Peserta Didik Menggunakan Tes Dilema Moral pada Tema Gunung
Meletus
Fanni Zulaiha, Winny Liliawati, dan Taufik Ramlan Ramalis

92
Motor Solenoid Sebagai Alat Bantu dalam Pembelajaran Elektromagnetisme: Studi
Pengaruh Tegangan dan Panjang Kumparan Terhadap Kecepatan Rotasi
Samuel Kamajaya, Bianca Maria Hasiandra, Richard Jason, dan Fourier Dzar
Eljabbar Latief

95
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 vi
Pengaruh Pengenceran HidrogenTerhadap Hasil Penumbuhan Silikon Nanowire
dengan Metode HWC-in Plasma-VHF-PECVD Berbantuan Nanokatalis Perak
Gilang Mardian Kartiwa, Rahmat Awaluddin Salam, Diki Anggoro, dan Toto Winata

99
Penerapan Pembelajaran Terpadu Model Webbed Tema Polusi Cahaya dengan
Menggunakan Model Pembelajaran Susan-Loucks untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Siswa SMP
Hayyah Fauziah, Winny Liliawati, dan Judhistira Aria Utama

103
Penerapan Hands On Activity pada Pembelajaran IPA Bertema Operasi LASIK untuk
Meningkatkan Literasi Fisika Siswa SMP
Henita Septiyani Pertiwi*, Saeful Karim, Selly Feranie

107
Penerapan Video Based Laboratory pada Materi Getaran dan Gelombang untuk
Meningkatkan Kemampuan ICT Siswa SMP
Herni Yuniarti Suhendi, Selly Feranie, dan Ika Mustika Sari

111
Analisis Kemampuan Metakognitif Siswa Dengan Menerapkan Strategi Metakognitif
dalam Pembelajaran Fisika
Hilman Imadul Umam, Iyon Suyana, dan Agus Danawan

115
Analisis Karakter Peserta Didik Menggunakan Tes Dilema Moral pada Tema Efek
Penggunaan Rokok di SMP
Ifa Rifatul Mahmudah, Taufik Ramlan Ramalis, dan Winny Liliawati

119
Studi Perambatan Retakan Pada Material Bertakik Akibat Gaya Tarik Menggunakan
Perangkat Lunak ABAQUS FEA
Irfan Dwi Aditya, Widayani, Sparisoma Viridi, dan Siti Nurul Khotimah

122
Upaya Meningkatkan Kemampuan Creative Problem Solving Matematis Siswa SMA
melalui Situation-Based Learning
Isrokatun

126
Perancangan Alat Pengukuran Keasaman (pH Meter) Menggunakan Sensor Kapasitif
dan Jembatan Schering
Jubaidah, Abdul Rajak, Khairiah, Tri S., Yuni W., Apit N., dan Mitra Djamal

130
Pemodelan Transmittansi Elektron pada Kapasitor MOS bermassa Isotropik dengan
Menggunakan Pendekatan Fungsi Gelombang Airy
Khairiah, Fatimah A. Noor, Mikrajuddin Abdullah, dan Khairurrijal

134
Perbandingan Penerapan Model Pembelajaran Guided Inquiry Dengan Model
Pembelajaran Interactive Demonstration Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Fisika
Siswa SMA
Khumaedah Khasanah, Parlindungan Sinaga, dan Dedi Sasmita

138
Physics Modeling for Medical Purposes: Molecular Dynamics Simulation on Malaria-
Infected Blood Flow in 2-D Channel
Luman Haris, Siti Nurul Khotimah, Freddy Haryanto, Sparisoma Viridi

142
Sintesis Nanopartikel Ekstrak Temulawak Berbasis Polimer Kitosan-TPP dengan
Metode Emulsi
Mersi Kurniati, Tyas Wulandary, Laksmi Ambarsari dan Latifah K Darusman



146
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 vii
Pengaruh Doping Fe pada Oksida Kobalt Perovskit Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-
Millaty Mustaqima, Inge Magdalena Sutjahja, Febry Berthalita, Daniel Kurnia,
Agustinus Agung Nugroho

150
Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berorientasi Kemampuan Berargumentasi
dan Pemahaman Konsep Calon Guru Fisika
Muslim, Andi Suhandi dan Ida Kaniawati

154
Kemampuan Siswa Menghubungkan Tiga Level Representasi Melalui Model MORE
(Model-Observe-Reflect-Explain)
Neng Tresna Umi Culsum, Ida Farida dan Imelda Helsy

159
-Module Pembelajaran Minyak Bumi Berbasis Lingkungan Untuk Mengembangkan
Kemampuan Literasi Kimia Siswa
Nevi Nurzaman, Ida Farida Ch dan Ratih Pitasari

164
Analisis Konsepsi Mahasiswa Terhadap Materi Elektrolisis Menggunakan Instrumen
Tes Three Tier Multiple Choice
Nia Tresnasih, Ida Farida dan Ratih Pitasari

168
Pembuktian Hukum Boyle pada Gas Ideal Berbantuan Data Studio Software dalam
Praktikum Termodinamika
Nofitri, Hadyan Akbar, Sinta Sri Ismawati, Herlin Verina, Vivi Nur Huda Lyjamil,
Mohamad Soleh, Robi Sobirin, dan Irzaman

172
Penggunaan Macromedia Flash Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa
Pada Materi Perkembangan Teori Atom
Nur Alamsah, Heni Rusnayati, dan Chaerul Rochman

176
Model Dinamika Elemen Volume Air pada Self-Siphon dengan Pendekatan Analitik
serta Konfirmasi Eksperimen dan Numerik untuk Konstruksi Ruang Kerja
Parameternya
Nurhayati, Wahyu Hidayat, Novitrian, Fourier Dzar Eljabbar Latief, Sparisoma Viridi,
dan Freddy Permana Zen

180
Representasi Konsep Larutan Penyangga dalam Buku Teks Pelajaran Kimia SMA
Nurul Fajriyah, Cucu Zenab Subarkah dan Siti Suryaningsih

184
Pengaruh Pemberian Integrated Reading and Writing Task pada Pembelajaran
Berbasis Masalah dengan Tema Mesin Uap terhadap Peningkatan Literasi Fisika
Siswa SMP
Pandu Grandy Wangsa P., Selly Feranie, dan Dedi Sasmita

188
Pengaruh Perlakuan Refluks dalam Pembuatan Sol-Gel Nanokristal ZnO Terhadap
Peningkatan Karakteristik Sel Surya Hibrid-nya
Pardi Sampe Tola, Waode Sukmawati, Rahmat Hidayat

192
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SD Karunadipa Palu Pada Konsep
Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) DAN Faktor Persekutuan Terbesar (FPB)
Melalui Pendekatan Kontekstual
Pathuddin

196
Penerapan Strategi Literasi Pada Pembelajaran IPA Bertema Pelangi Untuk
Meningkatkan Literasi Fisika
R. Sinta Harosah, Ridwan Efendi, Selly Feranie


201
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 viii

Permutasi dengan Panjang n Yang Tidak Memuat Pola dengan Panjang Tiga
Rachmad Lasaka dan Djoko Suprijanto

205
Model Percobaan Sederhana untuk Pembelajaran tentang Pengukuran Efisiensi
Konversi dari Energi Mekanik menjadi Energi Listrik
Firman Iqro Bismillah, Zamzam Multazam, dan Rahmat Hidayat

208
Perancangan Automatic Gain Control pada Modem Orthogonal Frequency Division
Multiplexing (OFDM) dalam rentang Frekuensi Audio
Rifki Muhendra dan Maman Budiman

212
Analisis Buku Teks Kimia SMA pada Konsep Kesetimbangan Kimia Ditinjau dari
Kriteria Representasi
Rita Sugiarti dan Ida Farida, Ch.

216
Model Kompartemen untuk Kontaminan Timbal pada Tubuh Manusia dengan Metode
Beda Hingga
Sesya Sri Purwanti, Siti Nurul Khotimah, Freddy Haryanto


220
Pembelajaran Inkuiri dengan Mengkombinasikan Metode Tigata-tigati Bermain Peran
dengan Saitem
Ruswanto

224
Monopoli Napza dan Pedeman Sebagai Upaya Meningkatkan Aktifitas dan Hasil
Belajar Biologi Pada Materi Sistem Syaraf dan Peredaran Darah
Ruswanto

229
Penentuan Percepatan Gravitasi Bumi Dari Eksperimen Bandul Matematis Pada
Simpangan Sudut Besar
Safrudin Kiayi, Neny Kurniasih, dan Hendro

235
Studi Penggunaan Micro-CT Skyscan 1173 untuk Mengetahui Struktur Tulang Kaki
Ayam
Saumi Zikriani Ramdhani, Siti Nurul Khotimah, dan Freddy Haryanto

239
Analisis Prinsip Hukum Charles pada Operasi Mesin Kalor Menggunakan Heat
Engine Apparatus
Sinta Sri Ismawati, Hadyan Akbar, Nofitri, Herlin Verina, Vivi Nur Huda Lyjamil,
Mohamad Soleh, Robi Sobirin, dan Irzaman


243
Kajian Sifat Termal Dan Kristalografi Nanopartikel Biomassa Rotan Sebagai Filler
Bionanokomposit
Siti Nikmatin

247
Pemanfaatan Kulit Rambutan (Nephelium sp.) Untuk Bahan Pembuatan Briket Arang
Sebagai Bahan Bakar Alternatif
Sitti Rahmawati


251
Konversi Energi Listrik (Joule) Menjadi Energi Panas (Kalori) Menggunakan Alat
Electrical Equivalent of Heat (EEH)
Mohamad Soleh, Vivi N. H. Lyjamil, Hadyan Akbar, Sinta S. Ismawati, Nofitri, Herlin
Verlna, Robi Sobirin, dan Irzaman

256
Desain Sensor Keseimbangan Ban Mobil Berbasis Sensor Magnetik Giant
Magnetoresistance
Sony Wardoyo dan Mitra Djamal
260
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 ix

An Observation of a Circular Motion using Ordinary Appliances: Train Toy, Digital
Camera, and Android based Smartphone
Sparisoma Viridi, Tarex Moghrabi, and Meldawati Nasri

265
Rancang Bangun Alat dan Sintesis Material Lithium Besi Fosfat LiFePO
4
dengan
Metode Hidrotermal
Sri Septiyanty Marpaung dan Ferry Iskandar

269
Pembelajaran Konsep Teorema Sisa Pada Pembagian Suku Banyak Dengan Pembagi
Berbentuk ax b
Sukarni Ali dan Iwan Pranoto

273
Tinjauan Penyusunan Partikel Granular Berbentuk Cakram Lingkaran di Bawah
Vibrasi Vertikal
Trisna Utami, Fakhrul Rozi Ashadi, Siti Nurul Khotimah, Sparisoma Viridi

277
Uji Sifat Optik Pada Film Tipis Ba
0
,
55
Sr
0,45
TiO
3

Umar, Faanzir, Abd. Wahidin Nuayi, Ridwan Siskandar, Heriyanto Syafutra, Husin
Alatas dan Irzaman

280
Profil Kecerdasan Majemuk Siswa Setelah Diterapkan Pembelajaran Berbasis
Kecerdasan Majemuk dalam Konsep Tata Surya
Utami Widyaiswari, Winny Liliawati, Taufik Ramlan R.

285
Analisis Coefficient of Performance (COP) pada Pompa Kalor dengan menggunakan
Piranti Termolistrik
Vivi Nur Huda Lyjamil, Nofitri, Hadyan Akbar, Sinta Sri Ismawati, Herlin Verina,
Mohamad Soleh, Robi Sobirin dan Irzaman

290
Desain Alat Ukur untuk Mengukur Kadar Larutan Porfirin+ Fe berbasis GMR
Aisyah Amin dan Mitra Djamal



294
Keanekaragaman spesies reptil di Pulau Banggai Provinsi Sulawesi Tengah
Akhmad dan Djoko Tjahjono Iskandar

298
Pemisahan Tetrafenilporfirin Menggunakan Kromatografi Kolomflash
Aldih Taangga, Alpin Lainua, Phutri Milana, Ciptati, Irma Mulyani dan Veinardi
Suendo

302
Pembuatan Komposit Papan Serat dari Tandan Kosong Kelapa Sawit dan
Karakterisasi Sifat Fisis dan Mekanisnya
Bernart Taangga, dan Widayani

306
Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Laboratorium Terbimbing Pada Konsep
Garam Terhidrolisis
Enok Aas, Risa Rahmawati S, dan Yunita

310
Dinamika Fluida Pada Aliran Laminar di Dalam Pipa Melalui Program Aplikasi
Tinjauan Comsol Multiphysics 4.2
Erwin Abd.Rauf dan Suparno Satira

313
Analisis Struktur Kristal pada Lapis Tipis Ba
0,55
Sr
0,45
TiO
3

Faanzir, Umar, Ridwan Siskandar, Abdul Wahidin Nuayi, Heriyanto Syafutra, Husin
Alatas, dan Irzaman



317
Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 x
Analisis Efesiensi Energi Pada Tungku Berbahan Bakar Sekam Padi
Mukhlis, Indah Rodianawati, Heriyanto Syafutra, Husain Alatas, dan Irzaman


321
Pengembangan Materi Praktikum Elektrokimia Skala Kecil Beserta Video Animasi
Tiga Dunia
Firdaus dan Muhamad Abdulkadir Martoprawiro

325
Konverter DC-AC dengan Multivibrator Digital Untuk Kebutuhan Energi Listrik
Rumah Tangga
Firman Laurensius Nadeak dan Suprijadi

329
Eksperimen Hukum-Hukum Radiasi Termal: Hukum Kuadrat Terbalik, Hukum
Stefan-Boltzmann serta Pengaruh Warna Permukaan terhadap Radiasi Termal
Hadyan Akbar, Vivi Nur Huda, Sinta Sri Ismawati, Mohamad Soleh, Nofitri, Herlin
Verina, Robi Sobirin, dan Irzaman

333
Pembelajaran Tekanan Hidrostatik, Kapilaritas, dan Debit Zat Cair Melalui Power
Point, Video, dan Modul Eksperimen
Islamiani Safitri dan Siti Nurul Khotimah

338
Rancang Bangun Turbin Angin Vertikal Untuk Menggerakkan Pompa Air Skala Kecil
Jasirus Panjaitan dan Widayani

343
Koefisien Gesekan Per Satuan Massa Antara Udara Dan Air Yang Keluar dari Lubang
Kecil Pada Tangki Air
Marten Rantelai dan Triyanta

347
Dekarboksilasi Asam Amino: Sintesis Kadaverin Menggunakan Lisin
Masita, Didin Mujahidin, dan Rino R.Mukti

351
Studi Komputasi Reaksi-Reaksi Kimia Sederhana Dan Visualisasinya Untuk
Pembelajaran Ilmu Kimia
Ridwan dan Muhamad Abdulkadir Martoprawiro

355
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Instruction untuk Meningkatkan
Prestasi Belajar Siswa pada Pembelajaran Fisika
Stevida Sendi, Sutrisno, dan Parlindungan Sinaga

359
Simulasi Pencarian Basis Data dengan Algoritma Grover
Suhadi, J S Kosasih, dan F P Zen

363
Ekstraksi, Isolasi, Pemurnian, dan Karakterisasi Antosianin dari Ubi Jalar Ungu
(Ipomoea batatas L.)
Suryo Jadmiko dan Ciptati

367
Studi awal sintesis partikel CaO dengan menggunakan EG route yang dibantu dengan
pemanasan Microwave
Verry Anggara Musriana, Pipit Uky Vivitasari, dan Ferry Iskandar

371
Pemodelan Sederhana Analisis Hilangnya Energi Listrik pada Proses Transmisi
Listrik Jarak Jauh Sebagai Pelengkap Pemahaman Konsep Listrik Pada Proses
Pembelajaran
Zainuddin dan Euis Sustini

375


Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 1
Refleksi, Penyadaran, dan Sikap sebagai Tujuan Pembelajaran Kuliah
A. Rusli

Abstrak
Sains dan teknologi telah dan makin cepat berkembang sejak awal abad ke 20, dan dampaknya terhadap
hidup sehari-hari makin jelas. Agar masyarakat dapat menyikapi dan mengendalikan dampak sains dan
teknologi itu dengan efektif dan bijaksana, pembelajaran sains memang memerlukan inovasi agar sesuai
dengan perkembangan jaman, baik dari segi sainsnya maupun dari segi sifat mahasiswa yang
mempelajarinya. Pada ICMNS tahun 2008 dan 2010 telah dilaporkan pola penugasan mingguan dalam
perkuliahan Fisika Dasar, yang mengusahakan efektivitas pembelajaran tersebut. Presentasi ini hendak
melaporkan hasil penyempurnaan pola penugasan mingguan tersebut sejak semester ganjil 2012-2013,
yang mengusahakan efektivitas maupun kebijaksanaan mahasiswa, untuk dapat ikut berperan positif di
masyarakat yang akan makin kompleks di masa depan. Penyempurnaan tersebut adalah, dengan
mempertajam arah salah satu dari tiga butir laporan mingguan tersebut, yaitu pendapat pribadi/kelompok.
Tujuan awalnya adalah untuk terutama memperoleh umpan balik tentang pendapat mahasiswa akan
pelaksanaan perkuliahan dalam minggu sebelumnya. Karena adanya masukan berupa pedagogi reflektif
yang bertujuan menyentuh segi afektif mahasiswa dan siswa, telah dilakukan penajaman butir pendapat
pribadi/kelompok itu menjadi tiga butir, yaitu berupa hasil refleksi tentang segi manfaat materi perkuliahan
minggu sebelumnya, hasil refleksi tentang segi risikonya, dan berdasarkan hasil refleksi itu, niat
menerapkan hasil pembelajaran minggu sebelumnya, melalui tindakan kecil tetapi konkret yang dapat
membantu kepentingan umum, terlebih pihak yang lebih lemah. Ternyata refleksi tentang segi positif dan
segi risiko itu dapat menimbulkan tanggapan yang menunjukkan adanya kesadaran, tumbuhnya sikap positif,
dan upaya merefleksi mahasiswa, tetapi ternyata rumusan niat masih menunjukkan kesimpangsiuran
pemahaman. Maka untuk semester ganjil 2013-2014 direncanakan perbaikan perumusan tiga butir baru ini.

Kata-kata kunci: pembelajaran refleksi, penyadaran, sikap
Pendahuluan
Refleksi, penyadaran, dan sikap merupakan
langkah pembelajaran fisika yang dapat
menghadapi makin pesatnya perkembangan ilmu
dan teknologi pada jaman ini. Hipotesis ini tampak
agak terdukung oleh pengamatan selama studi
yang dilaporkan ini. Bahwa ilmu dan teknologi
makin pesat berkembang, dapat dilihat dari makin
tebalnya jilid jurnal ilmiah terkenal seperti Physical
Review Letters, Journal of Rheology yang saya
langgan, malah terindikasi juga dari jumlah
makalah yang diterima website penampung artikel
arXiv.org [1] yang dirawat oleh perpustakaan
Cornell University, Amerika Serikat. Sebagai
gambaran, tampak di arXiv.org bahwa pada satu
hari saja, tanggal 8 J uli 2013, dilaporkan ada 46
makalah yang diterima hari Kamis dan J umat
sebelumnya (4 dan 5 J uli 2013), terdiri atas 27
makalah termasuk tentang Pendidikan Fisika, 6
buah dari bidang khusus lainnya, dan 13 buah
yang diperbaharui oleh penulisnya karena
diperbaiki dan sebagainya.
Di pihak lain, angkatan muda yang sedang
belajar di sekolah dan perguruan tinggi, disebutkan
tergolong Generasi Milenium yang berbeda
cirinya dengan angkatan-angkatan sebelumnya [2].
Salah satu perbedaan yang teramati adalah,
bahwa mahasiswa masa kini cukup gesit
menangani alat elektronik seperti komputer, laptop,
dan tablet, dan cara menanganinya tampak
menunjukkan kemampuan multi-tasking,
berpindah-pindah dari kegiatan yang satu ke
kegiatan yang berikutnya, yang mengindikasikan
pula kebiasaan cepat-beralih-perhatian (short
span of attention). dan sebagainya.
Dua pertimbangan ini dengan jelas
mengindikasikan perlunya pola pembelajaran di
kelas diubah, kalau efektivitasnya ingin
dipertahankan, malahan jika dimungkinkan,
malahan dipertinggi pula, untuk dapat menjadi
modal masa depan yang lebih berharga bagi
mahasiswa sebagainya.
Perubahan ini tampaknya perlu bersifat
pengalihan [3] dari upaya mencapai pemahaman
sains dan pemahaman cara ilmiah (science literacy
dan scientific literacy), menjadi upaya yang
esensinya adalah memperoleh peta kawasan ilmu
dan penyadaran tentang cara ilmiah, bukannya
menjadi ahli di kawasan ilmu dan cara ilmiah itu.
Dengan memiliki suatu peta itu, kiranya lebih
mudah menyadari ahli apa yang perlu dikonsultasi;
ini lebih efisien daripada perlu menangani semua
masalah sendirian saja di dunia yang makin
kompleks ini.
Untuk dapat memperoleh peta dan
penyadaran tersebut, komponen refleksi dalam
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 2
pendidikan perlu ditingkatkan penguasaannya.
Refleksi merupakan suatu kegiatan mental yang
didasarkan pada data dan observasi serta
informasi yang dimiliki, mengolahnya dengan nalar
(rationality) [4], menilai kebenaran dan
kebijaksanaannya dengan hati nurani (conscience)
[5]. Hasil refleksi ini adalah suatu kepahaman
tentang konsep atau konsep-konsep terkait, dan
kaitan-tautannya dengan beberapa hal lain di
lingkungannya. Hasil refleksi ini sebaiknya diikuti
tindakan berupa suatu pilihan dan suatu tindakan,
bukannya hanya berhenti pada pemikiran saja,
agar manfaat bagi masyarakat dapat menjadi lebih
konkret.
Rujukan yang digunakan pada laporan ini
sengaja mengutamakan Wikipedia, karena
keterandalannya yang, walaupun tidak 100%,
tetapi diperkirakan andal setidaknya 90%, untuk
mengajak pembaca ikut memanfaatkannya
sebagai rujukan-cepat-mudah, yang lalu
seperlunya dapat dipakai untuk menemukan (juga
dengan www.scholar.google.com), rujukan yang
lebih ilmiah.
Pembelajaran di Kuliah
Pembahasan ini difokuskan pada perkuliahan
fisika, tetapi kiranya sifatnya cukup generik
sehingga mudah diadaptasi pada pelajaran di
sekolah menengah, dan mungkin juga secara
terbatas di sekolah dasar.
Agar menjadi berfokus pada mahasiswa
(student-centred), perlu disediakan setidaknya satu
pustaka (sedapatnya e-book yang gratis), agar
mahasiswa dapat membandingkan bahasan di
kelas dengan pustaka itu, dan mempertanyakan
perbedaan yang ditemuinya. Melayani pertanyaan-
pertanyaan ini merupakan kesempatan bagus bagi
dosen untuk berangsur meningkatkan
keterampilannya menjawab pertanyaan secara
efektif, dan menemukan pemikiran-pemikiran yang
lebih mendalam dan matang tentang materi
kuliahnya.
Dengan dukungan pustaka itu, dosen lalu
lebih mudah memusatkan pembahasannya pada
beberapa saja dari konsep esensial yang ada di
pustaka itu, dengan tidak lupa menunjukkan kaitan
dan tautan antar-konsep itu, dan menjawab
pertanyaan dengan sekonstruktif mungkin.
Mahasiswa dapat lalu ditugasi menelusuri lebih
lanjut kaitan-kaitan antar konsep itu. Latar
belakang sejarah dan tautan dengan laporan-
laporan ilmu dan teknologi yang dapat ditemukan
di koran, akan terasa manfaatnya, di samping
semoga memperpanjang juga rentang perhatian
mahasiswa. Yang menjadi komponen penting pula
di kelas adalah pelatihan soal dan pembahasan
contoh konkret, menggunakan flashcards [6]
seperti juga dibahas Pak Tony Sumaryada di
SNIPS 2013 ini (EDU-18), memberi kesempatan
berdiskusi antar-mahasiswa sebagai pengakaran-
pendalaman dan penyadaran suatu konsep dan
lainnya. Di akhir pertemuan, dosen perlu menulis
beberapa istilah esensial, dan merangkum esensi
kuliah tersebut, serta mengingatkan beberapa
konsekuensi praktisnya.
Dengan pola pedagogi reflektif ini [7]
tampaknya penyadaran pada mahasiswa dapat
ditumbuhkan, dan semoga secara jangka panjang
sikap hidup reflektif dan terbuka-konstruktif
tertumbuhkan pula padanya. Dengan demikian,
laju perkembangan ilmu dan teknologi dapat
dihadapinya dengan lebih baik dan bijaksana.
Peran Dosen
Peran dosen di kelas, walaupun sudah
dilakukan upaya student-centred, tetap amat
penting. Sikap dosen yang sengaja (atau secara
alamiah) menunjukkan sifat reflektif, sikap terbuka
dalam menerima sebarang pertanyaan, dan
menunjukkan upaya sungguh-sungguh untuk
menawarkan jawabannya, dan jika masih gagal
menemukan jawab yang memuaskan, rela
menjanjikan upaya yang lebih efektif pada sesi
berikutnya, setidaknya menunjukkan pustaka atau
topik Wikipedia yang dapat membantu, senantiasa
bersikap konstruktif (bukan defensif, egosentris,
melainkan meletakkan kepentingan mahasiswa
sebagai pusat upayanya secara bersahabat)
kiranya dapat menunjang keberhasilan jangka
panjang (sering disebut outcome) perkuliahannya.
Refleksi dosen tentang topik-topik esensial
beserta kemudian tautannya satu dengan lainnya,
dan tidak melupakan kesadaran akan luasnya
lingkungan manusia di Bumi, dan luasnya jagad
dibandingkan dengan Bumi, dapat menumbuhkan
pada diri mahasiswa suatu sikap kagum dan sikap
rendah hati. Sebaliknya, kesadaran akan
kompleksitas manusia, baik secara fisik sampai ke
atom dan inti atom yang membentuk dirinya,
maupun secara mental-spiritual tentang
kemampuannya membayangkan hal ihwal Bumi
dan jagad, atom dan inti atom, ihwal benar dan
keliru, ihwal baik dan buruk, kiranya dapat
menuntunnya ke kesadaran tingginya martabat
seorang manusia. Satu langkah berikutnya adalah
kesadaran tentang ihwal bagaimana sains dan
iman kepercayaan intuitif akan Tuhan Pencipta
Alam dapat saling mengasah dan saling
melengkapi. Hal ini dapat menuntunnya pada
penghargaan pada setiap kehidupan dan pada
setiap manusia, lepas dari saling berbedanya
dalam fisik ataupun pemikiran dan kepercayaan.
Hal ini pun akan mendukungnya dalam
menghadapi dunia yang kompleks yang masih
banyak didera konflik dan kesalahpahaman ini.
Akhirnya, sebagai pelatihan aspek psikomotorik
mahasiswa, ditugaskan tugas mingguan seperti
berikut ini.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 3
Tugas Mingguan
Sejak memberi kuliah pada tahun 1969, telah
ditemui masalah bagaimana mengakarkan ilmu
pada para mahasiswa. Sekitar tahun 1993an,
mulai diadakan tugas tertulis mingguan berupa
satu halaman maksimal [8], mula-mula bagi
kelompok ~5 mahasiswa agar menumbuhkan
suasana diskusi, tetapi akhirnya dinilai kelompok
berdua-dua menjadi format yang optimal, dari segi
efektivitas melatih bekerja-baik pada diri
mahasiswa, juga dari segi meringankan beban
kerja mahasiswa dan dosen.
Tugas mingguan itu mula-mula terdiri atas
intisari kuliah minggu sebelumnya, satu
pertanyaan, dan pendapat pribadi kelompok.
Intisari merupakan latihan menemukan esensi
dalam suatu kuliah, dan menjadi butir yang paling
sering dinyatakan berharga oleh mahasiswa. Bagi
dosen, butir ini menjadi umpan balik tentang
efektivitas kuliahnya. Pertanyaan menjadi latihan
kekritisan, menemukan hal yang belum jelas dalam
kuliah. Bagi dosen, butir ini menjadi alat melatih
menjawab secara ringkas tetapi efektif, dan picu
untuk belajar lebih lanjut tentang suatu topik.
Pendapat pribadi menjadi umpan balik pula bagi
dosen, tentang cara membawakan kuliahnya.
sebagainya.
Akan tetapi sejak setahun yang lalu, setelah
menemukan pustaka tentang pedagogi reflektif
tersebut [7], butir ketiga di atas dikembangkan
demi pertimbangan refleksi itu, menjadi 3 butir:
Hasil refleksi tentang manfaat isi kuliah minggu
lalu, hasil refleksi tentang risiko isi kuliah minggu
lalu, dan satu niat kecil yang dapat dilakukan
berdasarkan refleksi itu, yang berguna bagi
kepentingan umum, terlebih bagi pihak yang lebih
lemah. Dua butir pertama merupakan latihan
merefleksi dan menalarkan sisi positif dan sisi
negatif setiap hal yang dipelajari. Butir terakhir
melatihkan sikap mengkonkretkan tindakan atas
dasar refleksi itu. Syarat untuk kepentingan
umum melatihkan sikap berpikir dari sudut
kepentingan masyarakat, untuk mengurangi sikap
egosentris yang secara alamiah ada pada diri
manusia. Syarat pihak yang lebih lemah hendak
menarik perhatian pada fakta bahwa kaum yang
lebih kuat dapat lebih membela kepentingan
dirinya, tetapi kaum yang lebih lemah seringkali
tidak berkemampuan menolong dirinya sendiri,
sehingga merekalah yang lebih memerlukan
perhatian.
Pengalaman selama dua semester yang lalu
menunjukkan bahwa empat dari lima butir isi tugas
mingguan ini cukup mudah ditangkap mahasiswa.
Hanya perumusan niat yang menghasilkan
rumusan yang beraneka ragam, dari penasihatan
kepada Pemerintah atau pihak lain, sampai ke isi
yang memang sesuai dengan yang diminta.
Rupanya petunjuk yang diberikan dosen kurang
efektif atau jelas. Tanggapan terhadap demi
kepentingan umum tampak amat mudah
bergaung di benak mahasiswa, sedangkan
perhatian pada pihak yang lebih lemah ada juga
menimbulkan komentar jangan memanjakan
mereka.
Yang juga menarik adalah bahwa umumnya
mahasiswa setuju bahwa kaum miskin dan kaum
difabel (different ability, cacat) tergolong kaum
lemah dan patut dibantu, dan perempuan juga
tergolong pihak yang lebih lemah; tetapi ada juga
yang berpendapat bahwa sepatutnya perempuan
dianggap lemah karena memang demikian
hakikatnya (!). J elaslah bahwa masih ada
pekerjaan rumah dalam meluruskan beberapa
sikap dan pandangan yang terpengaruh budaya-
budaya tertentu, yang belum konsisten dengan
sains yang ada.
Kesimpulan
Laporan ini telah membahas temuan yang
diperoleh dari tugas mingguan, yang telah
diperluas dari 3 butir menjadi 5 butir. Secara umum
walaupun hanya secara kualitatif, disimpulkan
bahwa perluasan ini cukup efektif, walaupun
diyakini bahwa baru setelah beberapa tahun
dampaknya akan dapat teramati pada mahasiswa
yang sudah lulus sarjana (atau magister).
Beberapa kelemahan akibat kekurangjelasan
instruksi tentang niat konkret dalam tugas
mingguan ini, direncanakan diperhatikan pada
semester selanjutnya.
Refleksi sebagai pendalaman pemahaman,
dan penyadaran sebagai dampaknya, termasuk
pertautan antar-konsep esensial materi
perkuliahan, diperkirakan akan dapat ditumbuhkan
sebagai suatu sikap hidup, asalkan disertai teladan
oleh dosen, dalam segala keterbatasannya.
Perhatian pada kepentingan umum, dan pihak
yang lebih lemah, tampak masih perlu dijabarkan
di masa selanjutnya.
Ucapan terima kasih
Terima kasih diucapkan kepada Lembaga
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Katolik Parahyangan, untuk dukungan
dana, sehingga dapat mengembangkan laporan ini.
Terima kasih pula diucapkan atas kesempatan
yang diberikan mempresentasikan laporan ini pada
Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran
Sains (SNIPS) 2013 tanggal 3 dan 4 J uli 2013 di
Campus Centre Timur, ITB, Bandung.
Referensi
[1] Cornell University Library,
http://arxiv.org/list/physics/new, terakses 8
J uli 2013
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 4
[2] William Strauss & Neil Howe (2003, 2007).
Millenials Go To College: Strategies for a
New Generation on Campus. American
Association of Collegiate Registrars and
Admissions Offices (AACRAO) and Life
Course Associates. Washington, DC
[3] A Rusli, 2010, A Format for the Basic
Physics Lecture Aiming at Science
Awareness: Some Study Results.
Proceedings of the 3
rd
International
Conference on Mathematics and Natural
Sciences (ICMNS), FMIPA, ITB, Bandung.
579 586.
[4] Wikipedia. Rationality.
http://en.wikipedia.org/wiki/Rationality,
terakses 8 J uli 2013
[5] Wikipedia. Conscience.
http://en.wikipedia.org/wiki/Conscience,
terakses 8 J uli 2013
[6] Wikipedia. Flashcard.
http://en.wikipedia.org/wiki/Flashcards,
terakses 8 J uli 2013
[7] J . Subagya, 2012. Paradigma Pedagogi
Reflektif Mendampingi Peserta Didik
Menjadi Cerdas dan Berkarakter, edisi revisi,
terjemahan Ignatian Pedagogy, A Practical
Approach, G S Prakash, India. Kanisius,
J ogjakarta.
[8] A Rusli, 2008. Improving the Learning
Process of Under- and Postgraduate
Students: Some Study Results. Proceedings
of the 2
nd
International Conference on
Mathematics and Natural Sciences (ICMNS),
FMIPA, ITB, Bandung. 1314 1320.

A. Rusli
J urusan Fisika
Fakultas Teknologi Informasi dan Sains
Universitas Katolik Parahyangan, Bandung
arusli@unpar.ac.id



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 5
Pengembangan Model Pembelajaran On-line (e-learning)
Menggunakan LMS (Learning Management System) untuk
Pembelajaran Fisika di Sekolah Menengah
Abdul Rajak*, Amali Putra, dan Pakhrur Razi

Abstrak
Penelitian ini berawal dari kenyataan di sekolah bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam
pembelajaran fisika khususnya materi termodinamika antara lain: sarana laboratorium yang kurang
mendukung, minimnya bahan ajar berbasis ICT, ketersediaan waktu jam pelajaran yang diberikan tidak
sesuai dengan padatnya materi yang akan disampaikan. Mengingat fasilitas ICT seperti komputer dan
internet pada umumnya sudah memadai di sekolah, maka salah satu alternatif adalah menerapkan
pembelajaran berbasis ICT dengan mengembangkan model pembelajaran secara online yang disajikan
dalam paket portal/situs pembelajaran online fisika (e-learning physics). Penelitian ini bertujuan untuk
menghasilkan model pembelajaran online yang valid, efektif dan layak serta dapat mengatasi permasalahan
dalam pembelajaran fisika selama ini. Berdasarkan analisis produk dan data yang telah dilakukan dapat
dikemukakan empat hasil penelitian ini. Pertama, model pembelajaran online yang dihasilkan berupa portal
e-learning yang di dalamnya terdiri dari: pretes, bahan ajar (halaman web, animasi dan video) dan postes
untuk empat kali pertemuan. Kedua, model pembelajaran online memiliki tingkat validitas dengan kategori
baik sekali dengan nilai rata-rata 86,14 untuk uji pakar dosen dan 91,32 untuk uji pakar guru. Ketiga, model
pembelajaran online dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dilihat dari perolehan rata-rata nilai motivasi
71,91 sebelum menggunakan bahan ajar online dan 76,20 sesudah menggunakan bahan ajar online.
Keempat, pada ranah kognitif didapat perolehan nilai rata-rata pretes 79,88 dan nilai rata-rata postes 85,77.
Dengan uji statistik t diperoleh thitung = 4,62 dan ttabel = 2,04 yang menunjukkan bahwa bahan ajar online
dapat meningkatkan hasil dan motivasi belajar siswa.
Kata kunci : model pembelajaran online, e-learning physics
Pendahuluan
Fisika merupakan salah satu bagian dari
sains yang diharapkan dapat memberi kontribusi
dalam membangun sumber daya manusia yang
berkualitas karena fisika memegang peranan
penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Mengingat begitu besarnya peranan
fisika dalam menjawab tantangan global dan
penunjang kemajuan teknologi, maka dituntut
adanya perubahan ke arah yang lebih baik pada
proses pembelajaran fisika, sehingga dapat
meningkatkan mutu pendidikan. Pada kenyataan
saat ini pembelajaran fisika di sekolah masih
rendah dalam segi kualitas. Salah satu hal yang
menunjukkan rendahnya mutu pembelajaran fisika
di sekolah adalah padatnya materi pembelajaran
yang tidak sesuai dengan waktu proses belajar
mengajar di kelas, sehingga menyebabkan
kegiatan pembelajaran tidak efektif dan efisien.
Saat ini layanan internet sudah dapat
dinikmati di lingkungan sekolah baik oleh siswa
maupun guru, selain dari pada itu perangkat yang
mendukung seperti laptop, komputer pun sudah
bukan merupakan barang asing lagi, rata-rata guru
dan siswa sudah memilikinya. Namun, terkadang
fasilitas tersebut belum termanfaatkan secara
maksimal untuk hal-hal yang sifatnya ke arah
pembelajaran. Fasilitas internet oleh siswa saat ini
banyak digunakan untuk mengakses situs-situs
umum seperti jejaring sosial (facebook dan twitter)
yang seharusnya tidak mendominasi aksesnya
setiap hari. Dalam pembelajaran fisika khususnya,
internet banyak memberikan manfaat, salah
satunya adalah dapat dijadikan sebagai wahana
belajar baru di dunia maya dimana siswa dapat
mengakses materi pembelajaran fisika berupa
bahan ajar, modul, lks dan bentuk lainnya yang
dapat memberikan banyak informasi mengenai
fisika dengan mudah dan ekonomis. Berdasarkan
data statistik yang disajikan pada gambar 1,
memperlihatkan bahwa penggunaan fasilitas
internet didominasi pada tingkat pendidikan
menengah atas dan perguruan tinggi.

Gambar 1. Persentase penggunaan internet
berdasarkan tingkat pendidikan [1].

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 6
Teori Dasar
Sistem pembelajaran yang memanfaatkan
fasilitas internet sebagai media dan sumber belajar
bagi siswa adalah sistem pembelajaran e-learning
(electronic learning). Pembelajaran e-learning
merupakan pembelajaran dengan menggunakan
jasa bantuan perangkat elektronik, khususnya
perangkat komputer. Dalam dunia pendidikan saat
ini internet sangat dibutuhkan untuk menggali
sumber-sumber belajar yang up to date. Istilah e-
learning memiliki definisi yang sangat luas. E-
learning terdiri dari huruf e yang merupakan
singkatan dari electronic dan kata learning yang
artinya pembelajaran [2]. Beberapa ahli memiliki
persepsi masing-masing dalam mendefinisikan e-
learning, akan tetapi secara garis besar terdapat
dua persepsi dasar e-learning seperti yang
dikemukakan oleh Munir [3] yakni :
a. Electronic based learning adalah
pembelajaran yang memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi, terutama perangkat
yang berupa elektronik seperti OHP, Slide,
LCD projector, tape dan lain-lain.
b. Internet based learning, adalah pembelajaran
yang menggunakan fasilitas internet yang
bersifat online sebagai instrumen utamanya
(berbasis web).
Perbedaan pembelajaran konvensional
dengan e-learning yaitu: pada pembelajaran
konvensional guru dianggap sebagai orang yang
serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu
pengetahuan kepada pelajarnya, sedangkan di
dalam pembelajaran e-learning fokus utamanya
adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu
dan bertanggungjawab untuk pembelajarannya [4].
Dengan memaksimalkan pemanfaatan
internet di dunia pendidikan melalui pembelajaran
e-learning diharapkan dapat mengubah era lama
dan menciptakan era baru dengan pembelajaran
yang lebih modern dan berkualitas. Hal ini tentu
perlu proses dalam pelaksanaanya, sehingga
dibutuhkan kerja keras dari berbagai segi praktisi
pendidikan untuk dapat mewujudkannya. Untuk
mewujudkan hal tersebut, maka dibutuhkan suatu
software berbasis internet yang dapat mendukung
pembelajaran secara online, software tersebut
adalah LMS (Learning Management System).
LMS adalah perangkat lunak yang digunakan
untuk membuat materi pembelajaran online
(berbasis web) dan sekaligus mengelola proses
pembelajaran. Salah satu software LMS adalah
Moodle. Moodle itu sendiri adalah singkatan dari
Modular Object Oriented Dynamic Learning
Environment yang berarti tempat belajar dinamis
dengan menggunakan model berorientasi objek.
Razi [5] berpendapat bahwa aplikasi LMS
memungkinkan siswa untuk masuk ke dalam
ruang kelas digital dan mengakses materi-materi
pembelajaran serta dapat dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan pengguna (user needs).
Selanjutnya Clark [6] juga menambahkan LMS
sangat cocok untuk pembelajaran yang dilakukan
secara jarak jauh (long distance learning) baik itu
formal maupun non formal, dimana seluruh
aktivitas siswa dapat dimonitor (monitoring) lewat
kelas digital (virtual classroom) yang dapat
dirasakan seperti kelas nyata (real classroom)
dengan tatap muka langsung.
Secara umum Fitur yang ada pada LMS
antara lain:
a. Fitur Kelengkapan Belajar Mengajar: Daftar
mata pelajaran, Silabus, Materi belajar
(Berbasis Text atau Multimedia), Daftar
Referensi atau Bahan Bacaan
b. Fitur Diskusi dan Komunikasi: Forum Diskusi
atau Mailing List, Instant Messenger untuk
Komunikasi Realtime, Papan Pengumuman,
Porfil dan Kontak Instruktur, File and Directory
Sharing
c. Fitur Ujian dan Penugasan: Ujian Online
(Exam), Tugas Mandiri (Assignment), Rapor
dan Penilaian
Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah
penelitian dan pengembangan (Research and
Development/R&D). Pengertian R&D menurut
Sugiyono [7] adalah metode penelitian yang
digunakan untuk menghasilkan produk tertentu,
dan menguji keefektifan produk tersebut.
Pada penelitian ini ada dua hal yang menjadi
objek penelitian. Pertama adalah pada model
pembelajaran online yang disajikan dalam portal
pembelajaran online fisika (e-learning physics)
yang dikembangkan dengan software LMS Moodle
versi 1.9.9. Dan kedua adalah siswa kelas XI SMA
Negeri 3 Padang. Siswa yang menjadi objek
penelitian adalah satu kelas dari 2 kelas XI IPA
yang statusnya kelas internasional. Kelas yang
diambil adalah kelas XI IPA 1 dengan jumlah siswa
sebanyak 31 orang dengan kemampuan awal
yang dianggap telah mewakili kelas XI IPA yang
ada di SMA N 3 Padang.
Penelitian yang dilakukan ini terdiri atas lima
tahapan sesuai yang digambarkan oleh Razi [5]
yakni : 1) Tahap Studi Pendahuluan, 2) Tahap
Pengembangan, 3) Tahap Evaluasi, 4) Tahap
Revisi, 5) Tahap Implementasi (uji coba).
Sedangkan instrumen yang digunakan untuk
mengumpulkan data terdiri dari tiga bagian yaitu:
lembaran penilaian hasil validasi dari tenaga ahli
(dosen dan guru fisika), angket motivasi belajar
yang diberikan kepada siswa sebelum dan
sesudah menggunakan produk dan uji keefektifan
dari tes hasil belajar (pretes dan postes).

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 7
Hasil dan Diskusi
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini
terbagi menjadi 2 yakni :
1. Bentuk tampilan portal e-learning
Bentuk tampilan home dari portal e-learning
yang telah dihasilkan dalam pengembangan ini
disajikan pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Tampilan halaman depan (home) portal
pembelajaran online fisika.
Pada halaman depan moodle sudah tersedia
daftar materi pelajaran yang akan diikuti, untuk
dapat mengikuti pembelajaran peserta diharuskan
untuk registrasi (login) terlebih dahulu, data login
(user name dan password) diberikan oleh
admin yang sekaligus sebagai guru yang
mengelola portal e-learning.
Setelah siswa masuk ke dalam menu
pembelajaran yang disediakan, siswa dapat
mempelajari dan mengunduh (download) bahan-
bahan pembelajaran yang sudah disajikan dalam
bentuk file pdf, powerpoint, flash, dan video. Siswa
juga dapat membaca bahan ajar yang sudah
disediakan dalam bentuk halaman web (web
page). Selengkapnya tampilan bahan ajar yang
sudah diakses siswa seperti disajikan pada
gambar 3.

Gambar 3. Tampilan bahan ajar yang disajikan
dalam p ortal pembelajaran online.
Dalam hal evaluasi, siswa disajikan soal
pretes dan postes dengan tingkat kesulitan yang
sama dan ditampilkan secara random. Siswa diberi
waktu selama 30 menit untuk mengerjakan soal
pretes dan postes sebanyak 20 soal. Tampilan
halaman evaluasinya dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Tampilan halaman evaluasi yang
sedang dikerjakan oleh siswa.
Kemudahan lain yang diberikan oleh portal
e-learning yang dikembangkan adalah
disediakannya menu chating antar siswa dan guru
sehingga memungkinkan untuk berdiskusi
mengenai materi pelajaran yang tidak dimengerti
dan pengelolaan nilai-nilai latihan dan tugas-tugas
siswa. Tampilan pengolahan nilai disajikan pada
gambar 5.

Gambar 5. Tampilan tabel perolehan nilai evaluasi
siswa (tampilan untuk guru sebagai admin)

2. Hasil Perolehan Data Penelitian
Deskripsi data hasil uji validitas disajikan pada
tabel 1 berikut ini.
Tabel 1. Hasil validitas angket dari pakar dosen
dan guru fisika
Nilai Validasi
oleh No.
Aspek yang
dinilai
Dosen Guru
Ket.
1 Validitas Isi 89,00 90,00
Baik
sekali
2
Desain
Instruksional
83,08 92,31
Baik
sekali
3
Komunikasi
Visual
87,00 91,00
Baik
sekali
4 Kebahasaan 85,50 92,00
Baik
sekali
Rata-rata 86,14 91,32
Baik
sekali
Deskripsi nilai rata-rata isian angket motivasi
belajar yang diisi oleh siswa sebelum dan sesudah
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 8
menggunakan model pembelajaran online
ditunjukkan pada tabel 2, dan nilai rata-rata
perolehan pretes dan postes siswa untuk empat
kali pertemuan untuk ditunjukkan pada tabel 3.
Tabel 2. Nilai Rata-rata data Angket Motivasi
Belajar Siswa.
No. Instrumen Angket Nilai Rata-rata
1. Sebelum 71,91
2. Sesudah 76,20
Tabel 3. Nilai rata-rata pretes dan postes siswa
untuk empat kali pertemuan di kelas online
Rata-rata kelas Pertemuan ke-
Tes
1 2 3 4
Rata-
rata
Total
Pre
Tes
84,68 70,32 84,84 79,68 79,88
Pos
Tes
91,13 75,81 93,55 82,58 85,77
Selanjutnya dari hasil perolehan data pada
tabel 3 dilakukan uji t dengan persamaan berikut
[8].

2
( 1)
d
d
M
t
X
N N

(1)
dengan:

N
d
M
d

(2)
dimana :
d = perbedaan pretes dengan postes
(postes pretes)
M
d
= mean dari d
X
d
= deviasi masing-masing subjek (d-Md)
X
2
d
= jumlah kuadrat deviasi
N = jumlah subjek pada sampel (siswa)
Dari hasil perhitungan berdasarkan
persamaan 1 dan 2 diperoleh thitung sebesar 4,62.
Harga ttabel yang didapatkan pada buku Arikunto
[8] dengan derajat kebebasan 30 (jumlah siswa
dikurang 1), dan dengan taraf signifikansi 5 %
diperoleh ttabel = 2,04.
Kesimpulan
Telah dihasilkan model pembelajaran online
(e-learning) yang disajikan dalam portal
pembelajaran dengan software LMS Moodle.
Produk yang dihasilkan memiliki tingkat validitas
yang baik sekali setelah diuji oleh pakar ahli (86,14
untuk dosen dan 91,32 untuk guru). Model
pembelajaran online dapat meningkatkan motivasi
belajar siswa. Dari hasil perolehan nilai kognitif
siswa dapat disimpulkan bahwa secara umum
model pembelajaran online layak dan efektif
diterapkan di sekolah-sekolah menengah yang
sudah memiliki fasilitas komputer dan internet
yang lengkap. Namun dalam hal kognitif,
peningkatan nilai yang diperoleh kurang signifikan
dari segi analisa statistik (diperoleh p-value dari T-
test sebesar 5%). Hal ini dikarenakan peneliti
mengambil sampel siswa pada kelas unggul yang
sudah memiliki pengetahuan yang cukup baik
tentang materi yang diajarkan. Untuk penelitian
kedepannya, peneliti menyarankan untuk validasi
juga dilakukan kepada siswa yang menggunakan
model pembelajaran ini, agar diperoleh data yang
lebih lengkap dan akurat.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terimakasih kepada
berbagai pihak yang telah membantu penelitian ini,
diantaranya kepada pihak SMAN 3 Padang dan
kepada kedua dosen pembimbing penulis.
Referensi
[1] Hasbullah, Perancangan dan Implementasi
Model Pembeajaran E-Learning Untuk
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran di JPTE
FPTK UPI, Jurnal Peningkatan kualitas
pembelajaran UPI (1999).
[2] A. Herman, Mengenal E-Learning, (2005).,
http://www.asep-hs.web.ugm .ac.id (diakses
tanggal 28 Mei 2010).
[3] Munir, Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis
Teknologi Informasi dan Komunikasi,
Bandung: Alfabeta (2009)
[4] Niam. Menuju Pembelajaran Online (E-
Learning), (2009). http://www.scribd.
com/doc/3365808/Pembelajaran-eLearning
(diakses tanggal 28 Mei 2010).
[5] Pakhrur Razi, Pengembangan E-Learning
Physics Menggunakan Learning Management
System (LMS) Untuk Meningkatkan Efektifitas
Belajar Mahasiswa Mata Kuliah
Termodinamika Jurusan Fisika Prosiding
Seminar Nasional Fisika Universitas Andalas
(SNFUA, 2009).
[6] Clark, Ruth Colvin, E-Learning and The
Science of Instruction, (2003) http://www. e-
learningguru.com/books/science_instruction.p
df (diakses tanggal 28 Agustus 2010).
[7] Sugiyono, Metoda Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta
(2008).
[8] A. Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
(2006).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 9
Abdul Rajak*
Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA
Universitas Negeri Padang
rajakphysics89@gmail.com

Amali Putra
Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA
Universitas Negeri Padang
amali_p@yahoo.com

Pakhrur Razi
Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA
Universitas Negeri Padang
rajakphysics89@gmail.com
rozifiitb@yahoo.com

*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 10
Pengembangan Alat Penilaian Kinerja pada Pembelajaran Sains
Berbasis Fuzzy Grading System
Ade Gafar Abdullah*, Ana, dan Dadang Lukman Hakim

Abstrak
Makalah ini memaparkan hasil pengembangan alat penilaian kinerja pada pembelajaran sains melalui
pendekatan pembelajaran project based laboratory (probaslab) berbasis Fuzzy Grading System. Metode ini
dikembangkan untuk mendapatkan suatu proses penilaian kinerja yang bebas dari unsur subyektifitas.
Penelitian ini menggunakan metode pengungkapan pendapat. Proses penilaian kinerja FGS ini telah
menghasilkan proses penilaian yang tidak kaku, lebih adil dan objektif. Unsur pemberian nilai secara
subjektif dalam penilaian kinerja dapat dihindari oleh dosen karena keputusan akhir dapat ditentukan
melalui proses defuzzifikasi yang sepenuhnya diputuskan oleh sistem perangkat lunak.
Kata-kata kunci: fuzzy grading system, project based laboratory, penilaian kinerja, pembelajaran sains.
Pendahuluan
Penilaian atas kinerja mahasiswa dalam
pembelajaran sains merupakan tugas penting
dalam proses pembelajaran. Perkembangan
terbaru di dalam proses pembelajaran telah
mengalami pergeseran yang awalnya
menempatkan guru sebagai pusat proses belajar
menjadi siswa sebagai pusat dari proses belajar
[1]. Pembelajaran yang berpusat pada siswa salah
satunya dapat dilangsungkan dalam wujud project
based laboratory (probaslab) [2]-[4]. Teknik
penilaian kinerja pada pembelajaran probaslab
seringkali mengabaikan kaidah-kaidah sistem
evaluasi yang objektif dan adil bagi mahasiswa.
Makalah ini menyajikan suatu metode
penilaian kinerja yang disimulasikan pada
pembelajaran sains berbasis komputasi cerdas
menggunakan logika fuzzy. Aplikasi logika fuzzy
untuk penilaian proses pembelajaran
diperkenalkan dengan istilah fuzzy grading system
(FGS) [5]. Himpunan fuzzy merepresentasikan
ketidakjelasan konsep cara menilai variable
subjektif dalam evaluasi pembelajaran [1].
Penelitian terkini terkait aplikasi logika fuzzy untuk
penilaian pembelajaran [6][10] membuktikan
bahwa penilaian yang bersifat otentik dan adil
sangat dibutuhkan saat ini, tidak terkecuali untuk
penilaian pembelajaran sains.
Metode
Pengembangan alat penilaian kinerja pada
pembelajaran sains dengan menggunakan FGS ini
diterapkan pada pembelajaran yang menggunakan
pendekatan probaslab, Misalnya pada proses
praktikum fisika, biologi ataupun kimia. Penelitian
ini menggunakan metode teknik pengungkapan
pendapat dengan tujuan mendorong para
mahasiswa mengambil bagian di dalam
keseluruhan proses pembelajaran. Dosen dan
mahasiswa bersama-sama menghasilkan dasar
tata acuan dan kriteria penilaian. Kemudian kriteria
yang telah disetujui disusun dalam skala fuzzy.
Himpunan fuzzy A dalam semesta
pembicaraan dinyatakan dengan fungsi
keanggotaan (membership function)
A
, yang
harganya berada dalam interval [0,1]. Secara
matematika hal ini dinyatakan dengan [11] :
| | : 0,1
A
U (1)
Himpunan fuzzy A dalam semesta
pembicaraan U biasa dinyatakan sebagai
sekumpulan pasangan elemen u (u anggota U)
dan besarnya derajat keanggotaan (grade of
membership) elemen tersebut sebagai berikut [11]:

( ) { } U u u u A
A
e = / ) ( ,
(2)
Tanda / digunakan untuk menghubungkan
sebuah elemen dengan derajat keanggotaannya.
J ika U adalah diskrit,maka A bisa dinyatakan
dengan [11]:
( )
1
/
n
A i i
i
A u u
=
=

(3)
dan jika U adalah kontinyu, maka himpunan fuzzy
dapat dinyatakan dengan [11]:

( ) u u A
U
A
/
}
=
(4)
Untuk membuat model penilaian kinerja
berbasis FGS dapat dilakukan melalui langkah -
langkah : fuzzifikasi., inferencing (rule base) dan
deffuzifikasi.
Fuzzifikasi merupakan suatu proses
mengubah variabel non fuzzy (variabel numerik)
menjadi variabel fuzzy (variabel linguistik).
Misalnya telah sepakati kriteria nilai untuk aspek
kerjasama kelompok : SB: Sangat Baik, B: Baik, S:
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 11
Sedang, K: Kurang, dan SK: Sangat Kurang.
Maka hubungan kriteria nilai tersebut dengan
fungsi keanggotaannya dapat ditulis :
( )
0 0 80
80 5 80 85
1 85 100

s s
< s
< s

( ) /
SB
u
u u u
u
(5)

( )
( )
( )
0 0 70
70 5 70 75
1 75 80
85 5 80 85
0 85 100
/
/
B
u
u u
u u
u u
u

s s
< s
< s
< s
< s

(6)
( )
( )
( )
0 0 50
70 5 50 55
1 55 70
85 5 70 75
0 75 100

s s
< s
< s
< s
< s

/
/
S
u
u u
u u
u u
u
(7)
( )
( )
( )
0 0 35
70 5 35 40
1 40 50
85 5 50 55
0 55 100

s s
< s
< s
< s
< s

/
/
K
u
u u
u u
u u
u
(8)
( ) ( )
1 0 35
40 5 35 40
0 40 100

s s
< s
< s

/
SK
u
u u u
u
(9)
Hubungan antara tingkatan level dengan
fungsi keanggotaan fuzzy terlihat pada gambar 1
yang dibuat dengan menggunakan fungsi
keanggotaan model trapesium.
Setelah proses fuzzifikasi, tahapan
selanjutnya adalah tahapan inferencing, dimana
pada umunya aturan fuzzy dinyatakan dalam
bentuk IF THEN yang merupakan inti dari relasi
fuzzy. Pada tahapan ini dibuat tabel hubungan
antara input dan output sehingga dapat dibuat
rule-base dari program fuzzy-nya.

Gambar 1. Hubungan antara tingkatan level
dengan fungsi keanggotaan fuzzy.
J ika input penilaian kinerja praktikum fisika
dasar adalah : kerjasama dalam kelompok (KDK),
produk hasil proyek (DHP) dan presentasi hasil
proyek (PHP) dan output penilaian kinerja adalah
Nilai Kinerja Praktikum (NKP), maka rule basenya
dapat disusun seperti contoh berikut :
Rule (1): IF KK=SK AND HP=SK AND PHP=SK THEN NKP=E.
Rule (2): IF KK=SK AND HP=SK AND PHP=K THEN
NKP=E. ....dan seterusnya.
Proses defuzzifikasi merupakan proses
pengubahan data-data fuzzy tersebut menjadi
data-data numerik yang dapat dijadikan
kesimpulan hasil penilaian. Terdapat dua metode
defuzzifikasi yaitu metode Mamdani dan metode
Sugeno. Pada penelitian ini digunakan metode
defuzzifikasi Maksimum of Mean (MOM) dari
Mamdani, yang didefinisikan sebagai [11]

1
j
j
o
j
v
v
J
=
=

(10)
( )
j v
v v v = (11)
Dimana :
o
v
: nilai keluaran
J : jumlah harga maksimum
j
v : nilai keluaran maksimum ke-j
( ) v
v

: derajat keanggotaan elemen-elemen


pada fuzzy set v
v : semesta pembicaraan
Hasil dan Diskusi
Aplikasi FGS dalam penilaian kinerja
pembelajaran probaslab disimulasikan pada
proses praktikum fisika dasar. Input dan ouput
penilaian kinerja ditentukan seperti pada Tabel 1.
Tabel 1. Input dan Output Penilaian Kinerja
Variabel Range
Input
Kerjasama Dalam Kelompok
(KDK) 0-100
Produk Hasil Proyek (DHP) 0-100
Presentasi Hasil Proyek (PHP) 0-100
Output Nilai Kinerja Praktikum (NKP) 0100
Langkah berikutnya adalah melakukan
fuzzifikasi input dan output berdasarkan variabel
dan range nilai yang telah ditentukan seperti pada
tabel 1. Dengan menggunakan toolbox fuzzy logic
pada Matlab maka proses fuzzifikasi dapat
dilakukan dengan mudah. Gambar 2
memperlihatkan proses fuzzifikasi input dan output
penilaian.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 12

(a) Fuzzifikasi variabel kerjasama dalam kelompok

(b) Fuzzifikasi variabel produk hasil proyek

(c) Fuzzifikasi variabel presentasi hasil proyek

(d) Fuzzifikasi variabel nilai kinerja praktikum
Gambar 2. Fuzzifikasi input dan output penilaian
kinerja praktikum fisika dasar.
Seperti terlihat pada gambar 2. Kita tidak
terikat untuk mempergunakan salah satu fungsi
keanggotaan, tetapi bisa menggunakan lebih dari
satu fungsi keanggotaan seperti terlihat pada
gambar 2(b) yang memperlihatkan campuran
fungsi keanggotaan trapesium dan triangular untuk
fuzzifikasi variabel DHP. Rentang nilai yang dibuat
dapat didiskusikan secara langsung antara dosen
dan mahasiswa, sehingga dapat terwujud peran
serta mahasiswa dalam proses evaluasi.
Setelah proses fuzzifikasi maka dilakukan
proses inferensing. Untuk membangun kriteria
pada proses ini mahasiswa dapat juga dilibatkan.
Gambar 3 memperlihatkan hasil inferensing,
dimana terbangun 125 rule IF..THEN yang akan
dijadikan patokan dalam hal keputusan penilaian
kinerja.

Gambar 3. Inferensing penilaian kinerja
mahasiswa.
Gambar 4 memperlihatkan surface viewer
yaitu suatu gambar yang menunjukkan kehalusan
dari gradasi warna pada perubahan tingkatan
fuzzy dari rule base yang telah dibuat. Dari
gambar tersebut kita dapat menakar kualitas
aturan penilaian yang telah ditentukan. Perubahan
gradasi warna yang semakin halus berarti
menunjukkan bahwa semakin bagus aturan
penilaian yang dibuat.

Gambar 4. Surface viewer hasil penilaian kinerja
berbasis FGS.
Untuk mendapatkan output dari proses
komputasi melalui algoritma FGS maka diperlukan
defuzzifikasi sebagai proses untuk mendapatkan
keluaran yang sesuai dengan statment input dan
output yang dibuat. Hasil defuzzifikasi ini dapat
digunakan sebagai aplikasi akhir untuk
memutuskan hasil penilaian kinerja, seperti terlihat
pada gambar 5. Dari aplikasi ini kita dapat
langsung memutuskan hasil penilaian berbasis
FGS ini.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 13

Gambar 5. Defuzzifikasi penilaian kinerja
probaslab.
Kesimpulan
Proses penilaian kinerja pada pembelajaran
sains dengan pendekatan pembelajaran probaslab
berbasis FGS telah menghasilkan proses
penilaian yang tidak kaku, lebih adil dan objektif.
Unsur pemberian nilai secara subjektif dalam
penilaian proses kinerja dapat dihindari oleh dosen
karena keputusan akhir dapat ditentukan melalui
proses defuzzifikasi yang sepenuhnya diputuskan
oleh sistem perangkat lunak.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Universitas Pendidikan Indonesia yang telah
memberikan hibah penelitian inovasi pembelajaran.
Referensi
[1] J . Ma, and D. Zhou, Fuzzy Set Approach to
the Assessment of Student-Centered
Learning, IEEE, 43(2) , 237-241 (2000).
[2] C. S. Lee, J . H. Su, K. E. Lin, J . H. Chang and
G. H. Lin, A Project-based Laboratory for
Learning Embedded System Designs with
Support from the Industry, 38th ASEE/IEEE
Frontiers in Education Conference, 22-25
Oktober, Saratoga Springs, New York, pp1-5,
(2008).
[3] Z. Nedic, A. Nafalski and J . Machotka,
Motivational project-based laboratory for a
common first year electrical engineering
course, European J ournal of Engineering
Education,35( 4), 379392, (2010).
[4] R. Hong Chu, D. Dah-Chuan Lu, S.
Sathiakumar, Project-Based Lab Teaching
for Power Electronic and Drives , IEEE
Transaction On Education, 51(1), 108-113,
(2008).
[5] J . R. Echauz, and G. J . Vachtsevanos, Fuzzy
Grading System, IEEE Transactions on
Education, 38(2), 158-165, (1995).
[6] S. Ingoley and J .W. Bakal, Use of Fuzzy
Logic in Evaluating Students Learning
Achievement, International J ournal on
Advanced Computer Engineering and
Communication Technology (IJ ACECT), 1(2),
47-54, (2012).
[7] T. C. Hsieh, T. I Wang, C. Y. Su and M. C.
Lee, A Fuzzy Logic-based Personalized
Learning System for Supporting Adaptive
English Learning, Educational Technology &
Society 15 (1), 273288, (2012).
[8] L. R. Gupta and A. K. Dhawan, Diagnosis,
Modeling and Prognosis of Learning System
using Fuzzy Logic and Intelligent Decision
Vectors, International J ournal of Computer
Applications, 37(6), 25-29, (2012).
[9] R. Rekik and I. Kallel, Fuzz-Web: A
Methodology Based on Fuzzy Logic for
Assessing Web Sites, International J ournal
of Computer Information Systems and
Industrial Management Applications, 5, 126-
136, (2013).
[10] P. Dewi, O. Sudana and D.
Putra, Comparing Scoring and Fuzzy Logic
Method for Teacher Certification DSS in
Indonesia, International J ournal of Computer
Science Issues, 9(6:2), 309-316, (2012).
[11] S. Kuswadi, Kendali Cerdas Teori dan
Aplikasi Praktisnya, Penerbit Andi,
Yogyakarta, (2007).

Ade Gafar Abdullah*
J urusan Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
ade_gaffar@upi.edu

Ana
J urusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Universitas Pendidikan Indonesia
ana_syarief@yahoo.co.id

Dadang Lukman Hakim
J urusan Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
dadanglh@yahoo.com

*Corresponding author







Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 14
Pengembangan Alat Praktikum Dasar
Otomasi Industri Modular
Ade Gafar Abdullah*, Mochamad Riza Novian, Irfan Indrawan,
Erik Haritman, dan Dandhi Kuswardhana

Abstrak
Makalah ini memaparkan hasil penelitian tentang pengembangan alat praktikum dalam bidang otomasi
industri berbasis perangkat pengontrol terprogram. Peralatan ini dibuat dengan konsep real mobile plant
trainer dan bersifat modular, yaitu peralatan praktikum dasar otomasi industri yang betul-betul nyata seperti
sistem otomasi di industri dan memudahkan ketika berpindah-pindah tempat (bersifat mobile), selain itu alat
praktikum ini bersifat modular yaitu dapat dibongkar pasang sesuai dengan pekerjaan otomasi yang akan
dilakukan. Peralatan praktikum dasar otomasi industri ini memiliki dua kelompok peralatan, yang pertama
peralatan utama yang terdiri dari modul PLC , modul I/O dan modul catu daya, kedua peralatan real plant
yang terdiri dari modul-modul yang digunakan untuk melatih logika dan aplikasi otomasi di industri, modul-
modul ini dapat secara leluasa diperbanyak sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Perangkat modul-
modul real plant dirancang untuk meningkatkan kemampuan aplikasi logika dasar dalam proses otomasi
industri.
Kata-kata kunci: alat praktikum, logika dasar,modular, otomasi industri, real mobile plant.
Pendahuluan
Penyelesaian masalah pengontrolan sistem
otomasi industri yang riil terjadi di industri sering
kali tidak diberikan dalam pembelajaran sehingga
kurang memberikan pengalaman kontekstual
kepada peserta didik. Sumber belajar dan
peralatan praktek sangat minim menjadi penyebab
utama, sehingga peserta didik bekerja tidak
optimal karena perangkat otomasi industri yang
dipunyai laboratorium tidak memadai, sedangkan
untuk menambah fasilitas praktikum dihadapkan
pada biaya peralatan yang sangat mahal karena
biasanya perangkat praktikum otomasi industri
merupakan produk import. Permasalahan ini timbul
disebabkan belum berkembangnya inovasi-inovasi
media pembelajaran untuk bidang otomasi industri.
Lembaga pendidikan masih sangat bergantung
kepada peralatan praktikum produksi luar negeri
yang berharga mahal.
Desain peralatan praktikum dibidang teknologi
otomasi sebagai penunjang pembelajaran banyak
dikembangkan. Kerjasama antara universitas
Arizona dengan Motorolla telah menghasilkan
suatu perangkat lunak untuk management training
course [1]. Telah dikembangkan pula suatu
perangkat keras untuk mendukung pembelajaran
mikroprosessor, dengan membuat suatu pesawat
latih yang mempermudah mahasiswa merancang
suatu personal mikrokomputer [2]. Laboratorium
virtual untuk keperluan praktikum sistem kontrol
dengan contoh kasus couple tank apparatus yang
mempunyai multi input-multi output (MIMO) yang
dilengkapi dengan simulator pengontrolan PID
(Proportional Integral Derivative), general state-
space dan Fuzzy Logic Control juga sudah
dikembangkan [3]. Terdapat juga penelitian terkait
pengembangan simulator sistem otomasi untuk
pengukuran listrik tiga phasa yang diintegrasikan
dengan perangkat lunak Labview. [4]. Penelitian
lainnya telah mengembangkan suatu simulator
untuk mempermudah mahasiswanya memahami
prinsip kerja suatu magnet permanen pada motor
stepper. Dalam penelitiannya tersebut
direkomendasikan bahwa simulator ini sangat
tepat untuk digunakan pada proses pembelajaran
desain mekatronika [5]. Selain itu terdapat juga
penelitian yang mengembangkan perangkat lunak
yang dilengkapi dengan tampilan grafis untuk
interaksi komplek dalam sistem komunikasi dan
fungsi database. Perangkat lunak ini digunakan
untuk mengembangkan proses pembelajaran
tentang otomasi sistem manufaktur [6].
Material dan Metode
Langkah pertama sebelum perakitan dimulai
adalah melakukan identifikasi peralatan dan bahan
yang akan digunakan. Tabel 1. memperlihatkan
peralatan dan bahan yang digunakan.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 15
Tabel 1. Alat dan bahan utama yang digunakan
dalam perakitan modul latih.
Nama Peralatan Spesifikasi
PLC CP1L 20 I/O
Personal Komputer Acer Quadcore
Acrilyc 1 m
2
tebal 50mm
Frame Stainless 3m
Seven segmen 1 buah
Pilot lampu 24Vdc
Soket banana Kuning, merah, hitam
Push button 2 buah
Buzzer 1 buah
Togle switch ON
OFF
8 buah
MCB 2A
Voltmeter 1 buah
Tempat penelitian dilaksanakan di
Laboratorium Elektronika Industri J urusan
Pendidikan Teknik Elektro FPTK UPI. Kegiatan
penelitian lebih difokuskan pada proses desain,
perakitan dan uji coba. Prosedur penelitian ini
dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Tahap awal yang dilakukan adalah dengan
melakukan analisis pengembangan perangkat
simulator, dengan tujuan untuk
mengembangkan modul-modul latih logika
lanjut.
2) Tahap rancang bangun simulator logika lanjut,
dilakukan dengan melakukan proses desain
modul latih menggunakan perangkat lunak
microsoft visio, kemudian diimplementasikan
secara ketat dengan alat dan bahan sesuai
perencanaan.
3) Setelah perangkat keras selesai dibuat, maka
tahap berikutnya membuat rancangan dan
implementasi sistem kontrol waktu nyata
berbasis perangkat lunak open sources dan
perangkat lunak wonderware intouch.
4) Pengujian kinerja alat meliputi pengujian pada
keadaan statis dan pengujian pada keadaan
dinamis.
5) Optimalisasi perangkat simulator dengan
melakukan pengujian kinerja oleh para pakar
dalam bidang otomasi industri, media
pembelajaran dan desain produk. Pengujian ini
bertujuan untuk mendapatkan masukan-
masukan untuk memperbaiki kinerja simulator.
6) Masukan dari para pakar digunakan sebagai
bahan perbaikan simulator dan selanjutnya
dilakukan berbagai optimalisasi baik pada
aspek perangkat keras maupun perangkat
lunaknya.
7) Pembuatan buku manual dan jobsheet sangat
penting dilakukan, karena sebagai produk
inovasi baru memerlukan buku petunjuk
penggunaan dan beberapa jobsheet untuk uji
coba peralatan.
8) Setelah buku petunjuk dan jobsheet selesai
dibuat maka tahap selanjutnya adalah
melakukan ujicoba kinerja alat secara langsung
pada proses pembelajaran.
Pada saat makalah ini dibuat pekerjaan penelitian
baru sampai pada langkah no 4.
Hasil dan diskusi
Alat praktikum dasar otomasi industri yang
dirancang berkonsep mobile, yaitu mudah dibawa
sehingga pengguna tidak mengalami kesulitan jika
menginginkan mengadakan simulasi di depan
kelas ataupun di tempat yang lain. Secara lengkap
gambaran desain kontruksi modul latih tersebut
terlihat pada Gambar 1. Kerangka modul latih ini
memiliki panjang 1300 mm , lebar 500 mm dan
tinggi 1200 mm. Diatas meja terdapat rak yang
memiliki dua tingkat, dimana tingkat pertama
disediakan untuk slot modul utama dan tingkat
kedua digunakan untuk slot modul riil plant.
Gambar 2 memperlihatkan frame dudukan tempat
menyimpan modul utama dan modul real plant.
Masing-masing tingkat dapat menampung 3 modul
latih.
Gambar 1. Desain kontruksi modul latih otomasi
industri terintegrasi HMI
Peralatan terbagi atas dua kelompok yang
pertama kelompok modul utama yang terdiri dari
modul PLC , modul I/O dan modul catu daya,
kedua kelompok modul real plant yang terdiri dari
modul-modul yang digunakan untuk melatih logika
dan aplikasi otomasi di industri. Gambar 2
memperihatkan rancangan modul utama dan
Gambar 3 memperlihatkan rancangan modul real
plant.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 16

1 2 3
4 5 6
7 8 9
10 11
INPUT OUTPUT
12
1 2 3
4 5 6
7 8
SWITCH
1 2
3 4
5 6
7 8
9
10
11
12
COM


Gambar 2. Desain modul utama.
Modul utama disesuaikan dengan jenis PLC
yang digunakan, pada desain awal modul ini
menggunakan PLC OMRON dengan tipe CP1L
yang memiliki 12 terminal input dan 8 terminal
output. PLC CP1L ini cukup sederhana dan
sangat cocok untuk dijadikan perangkat latih
sederhana untuk pembelajaran otomasi industri di
perguruan tinggi. Modul catu daya terdiri dari Mini
Circuit Braker (MCB), power indicator dan
instrumen penunjuk tegangan, tegangan kerja
yang digunakan sebesar 220Volt. Modul catu daya
ini dapat digunakan untuk jenis PLC apapun.
Modul I/O dibuat sesuai dengan jumlah I/O PLC
yang digunakan. Modul ini disediakan untuk
mempermudah menghubungkan perangkat PLC
dengan real plant-nya. Pengguna tinggal
menggunakan kabel konektor untuk
menghubungkan terminal-terminal input ataupun
output dari modul riil plan yang digunakan.

Gambar 3. Desain modul real plant.
Modul-modul real plant dapat dikembangkan
sebanyak mungkin sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran, tetapi harus mempertimbangkan
tingkat kompetensi yang ingin dicapai. Dalam
penelitian ini diberikan tiga contoh modul real plant
yang terdiri dari modul latih logika dasar, dan dua
modul aplikasi industri.
Modul latih logika dasar dibuat dengan tujuan
untuk melatih kemampuan membangun logika
dasar dalam pemrograman PLC sedangkan modul
latih aplikasi industri dibuat dengan tujuan untuk
memperlihatkan secara riil bagaimana proses
kontrol yang terjadi di industri. Secara rinci
gambaran alat praktikum ini sebagai berikut :
Modul real plant, dibuat dengan 3 kasus proses
kontrol industri dengan tingkat kesulitan yang
bertahap mulai dari melatih kemampuan logika
dasar sampai aplikasi timer dan counter yang
dicontohkan pada modul-modul aplikasi industri.
PLC yang digunakan adalah PLC OMRON
CP1L dengan jumlah I/O 20 buah dan
perangkat lunak Cx Programmer. Modul
komunikasi yang digunakan menggunakan
kabel USB.
Modul Monitor kontrol menggunakan software
human machine interface standar industri yaitu
CX Designer dan Wonderware Intouch
Peralatan praktikum dilengkapi sebuah
personal komputer yang diperuntukkan sebagai
alat pemrogram PLC.

Gambar 4. Modul real plant logika dasar dan
visualisasi sistem kontrol real time-nya.
Gambar 4. Memperlihatkan bentuk fisik Modul
real plant logika dasar. Modul ini dibuat dengan
tujuan untuk mempermudah pengguna pemula
dalam memahami sistem logika dasar dalam
pemograman PLC. Modul berisikan deretan lampu
24 VDC dengan jumlah sesuai dengan jumlah
output PLC Omron CP1L. Modul dilengkapi
dengan komponen seven segmen dengan tujuan
untuk mengetahui cara membuat aplikasi dengan
membentuk angka yang ada di seven segment.
Modul traffic light dibuat dengan tujuan untuk
mengetahui sistem kerja lalu lintas di pertigaan
dan untuk mengetahui sistem kontrol traffic light
dalam pemograman PLC. Gambar 5.
memperlihatkan bentuk fisik modul tersebut serta
contoh visualisasi sistem kontrol realtime-nya.
Modul ini berisikan lampu 24 VDC dengan jumlah
sesuai dengan jumlah output PLC Omron CP1L.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 17

Gambar 5. Modul real plant traffic light dan
visualisasi sistem kontrol real time-nya.
Gambaran utuh peralatan praktikum dasar
otomasi industri yang telah dibuat terlihat pada
gambar 6.

Gambar 6. Peralatan praktikum dasar otomasi
industri modular.
Kesimpulan
Peralatan praktikum dasar otomasi industri
modular ini sangat direkomendasikan untuk
dipergunakan sebagai peralatan praktikum sistem
kontrol berbasis PLC dan dapat mendukung
eksperimen sistem kontrol yang lebih kompleks.
Integrasi PLC dengan perangkat HMI dilakukan
untuk memenuhi tuntutan perkembangan teknologi
sistem otomasi industri yang sedang berkembang.
Sehingga peralatan praktikum ini diharapkan
dapat meningkatkan kompetensi penggunanya.
Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai pendukung
utama pembelajaran otomasi industri di perguruan
tinggi.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Universitas Pendidikan Indonesia, yang telah
memberikan bantuan dana penelitian melalui skim
Hibah Penelitian Berpotensi HKI.
Referensi
[1] J . S. Collofello, University/Industry
Collaboration in Developing A Simulation
Based Software Project Management
Training Course, IEEE Transaction on
Education, 43(4), (2000).
[2] J . W. J eon, Designing and Implementing
Personal Microcomputer, IEEE Trans. on
Education, 43(4), (2000)
[3] C. C. Ko, B. M. Chen, Y. Zhuang, K. C. Tan,
Development of a Web Based Laboratory for
Control Experiment on a Coupled Tank
Apparatus, IEEE Trans. on Education, 44,
76-86, (2001).
[4] T. J . Goulart and D. Consonni, Automated
System for Measuring Electrical Three-Phase
Power Components, IEEE Trans. on
Education, 44(4), 336-341, (2001).
[5] T. Kikuchi, T. Kenjo, S. Fukuda, Developing
on Educational Simulation Program for the
PM Stepping Motor, IEEE Trans. onEducation,
45(1), 70-79, (2002).
[6] Y.Chen, A Real Time Control Simulator
Design for Automated Manufacturing System
Using Petri Nets, Proceeding of The 1991
IEEE International Conference on Robotics
and Automation Sacramento, California,
(1991).


Ade Gafar Abdullah*
J urusan Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
ade_gaffar@upi.edu

Mochamad Riza Novian
Program Studi Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
rizanovian@yahoo.com

Irfan Indrawan
Program Studi Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
irvanindrawan@yahoo.co.id

Erik Haritman
J urusan Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
erikharitman@upi.edu

Dandhi Kuswardhana
J urusan Pendidikan Teknik Elektro
Universitas Pendidikan Indonesia
dandhi@upi.edu

*Corresponding author

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 18
Pengaruh Bahan Metamaterial Terhadap Perambatan Gelombang
Elektromagnetik
Afnar Delivery


Abstrak
Pada tahun 1968 Victor Veselago seorang fisikawan asal Uni Soviet mempublikasikan suatu tulisan di jurnal
fisika Uni Soviet edisi Januari Februari 1968. Dalam tulisan itu Veselago menjabarkan dampak, apa yang
terjadi apabila permitivitas, dan permeabilitas suatu bahan atau materi bernilai negatif, bahan ini disebut
juga metamaterial. Dalam dekade terakhir ini asumsi Veselago ini menimbulkan suatu wacana baru
mengenai studi tentang indeks bias negatif. Pada makalah ini akan dicoba untuk menganalisa bagaimana
pengaruh bahan atau materi yang permitivitas dan permeabilitasnya bernilai negatif, terhadap gelombang
elektromagnetik yang arah datangnya tegak lurus terhadap bahan, juga pengaruh bahan tersebut pada
energi gelombang elektromagnetik. Metode yang digunakan untuk menganalisa, adalah dengan melakukan
perhitungan analitik menggunakan teori perambatan gelombang elektromagnetik pada bahan. Hasil dari
perhitungan menunjukan bahwa hukum kekekalan energi tetap berlaku pada metamaterial, dibuktikan
dengan jumlah koefisien refleksi dan transmisi yang bernilai satu. Perbedaan yang mendasar yang
membedakan metamaterial dengan bahan lain terdapat nilai koefisien transmisi dari bahan ini yang bernilai
negatif, sehingga menimbulkan asumsi bahwa koefisien refleksi dari bahan ini, nilainya lebih dari satu.
Kata kunci : Veselago, metamaterial, permitivitas, permeabilitas, indeks bias negatif.
1. Pendahuluan
Pada tahun 1968, Victor Veselago, seorang
fisikawan asal Uni Soviet mempublikasikan suatu
makalah. Dalam makalah itu Veselago membuat
suatu asumsi, yaitu apa yang terjadi apabila
permitivitas, dan permeabilitas suatu bahan atau
materi bernilai negatif. Bagaimanakah sifat bahan
tersebut apabila terpapar gelombang
elektromagnetik[1]. Pada saat itu, asumsi dari
Veselago ini merupakan suatu hal yang
revolusioner, karena tidak ada bahan
alamiataupun buatan yang nilai permitivitas, dan
permeabilitasnya bernilai negatif. Untuk
kedepannya bahan ini disebut bahan
metamaterial.
Asumsi dari Veselago ini menimbulkan suatu
wacana baru mengenai perkembangan studi
mengenai bahan metamaterial.
Pada perkembangan berikutnya, hasil asumsi
dari Veselago menjadi dasar untuk pembahasan
dan perkembangan bahan berindeks bias negatif.
Dalam makalah ini, akan dicoba untuk
menganalisa bagaimana pengaruh bahan atau
materi yang permitivitas, dan permeabilitasnya
bernilai negatif terhadap gelombang elektromag
netik yang arah datangnya tegak lurus
terhadap permukaan bahan. Kondisi tersebut
digunakan untuk menganalisa apakah hukum
kekekalan energi berlaku pada bahan
metamaterial atau tidak. Hukum kekekalan energi
merupakan salah satu hukum fisika yang harus
selalu dipenuhi pada setiap kondisi.
2.Dasar Teori
2.1 Permitivitas, permeabilitas, dan kaitannya
dengan indeks bias.
Permitivitas dilambangkan dengane, adalah
kemampuan suatu bahan non-konduktor
(dielektrik) untuk menyimpan energi potensial
listrik[2].
Permeabilitas dilambangkan dengan
adalah kemampuan suatu bahan magnetik untuk
mengubah fluks magnetik di dalam area yang
dipengaruhi medan magnet[2]. Fluks magnetik
sendiri didefinisikan sebagai penunjuk seberapa
besar atau banyak medan magnet yang
menembus tegak lurus suatu bidang[2].
Indeks bias atau n, adalah perbandingan
antara kecepatan cahaya dengan kecepatan
rambat gelombang saat memasuki medium, yang
dirumuskan dengan persamaan :
n =
c
v
. (1a)
Selain melalui persamaan (1a), indeks bias juga
dapat dirumuskan dengan persamaan :

2
n = . . e (1b)

. . n = e (1c)
Dari Persamaan (1c) inilah kemudian
dikembangkan ide bahwa permitivitas, dan
permeabilitas suatu bahan dapat bernilai negatif.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 19
2.2 Perambatan gelombang elektromagnetik
pada bahan yang memiliki dan e
positif, nilai 1 berbeda dengan 2.
Untuk melakukan analisa pengaruh bahan
yang permitivitas, dan permeabilitasnya bernilai
negatif terhadap gelombang elektromagnetik yang
arah datangnya tegak lurus terhadap permukaan
bahan, mari tinjau dulu suatu kasus mengenai
gelombang elektromagnetik yang arah datang
tegaknya lurus yang merambat pada suatu bahan
yang permitivitas, dan permeabilitasnya bernilai
positif, dan nilai permeabilitas medium satu,
berbeda dengan medium dua.

Gambar 1. Gelombang elektromagnetik yang arah
datangnya tegak dengan medium[2].
Pada gambar 1, anggap bidang x dan y
membentuk suatu batas antara dua medium yang
berhubungan, kemudian ada suatu gelombang
dengan frekuensi , merambat pada arah z dan
terpolarisasi pada arah x, gelombang merambat
dari kiri ke kanan (dari permukaan satu ke
permukaan dua). Dengan kondisi medium satu
nilai e dan positif, dan medium dua juga memiliki
kondisi nilai e dan positif, nilai medium satu
berbeda dengan medium dua ( 1 2 = ). Setelah
itu dihitung nilai koefisien refleksi (R) dan koefisien
transmisi (T) bahan tersebut, dan dianalisa apakah
berlaku hubungan R + T = 1.
Asumsikan z = 0. Persamaan gelombang E
dan B yang datang menjadi :


0 I I E E x =

(1)


0
1
1
I I B E y
v
=

(2)
Persamaan gelombang E dan B yang terpantul
menjadi :


0 R r E E x =

(3)


0
1
1
R r B E y
v
=

(4)
Persamaan gelombang E dan B yang diteruskan
menjadi :


0 T T E E x =

(5)


0
1
2
T T B E y
v
=

(6)
Karena semua komponen sejajar dengan
permukaan antara medium (kedua medium linear
satu sama lain), maka berlaku persamaan:

1 2
1 2
B B

= , dimana
0 E
B
v
= (7)


0 0 0 I R T E E E + = (8)
Jumlahkan persamaan gelombang B :


I R T B B B + = (9)
Maka akan diperoleh persamaan :


0 0 0 . I R T E E E | = (10)
Eliminasi persamaan 9 dengan persamaan 10,
untuk mencari hubungan antara

0I E dengan

0R E ,
dan

0I E dengan

0T E .


0 0
2
1
T I E E
|
| |
=
|
+
\ .
(11)


0 0 2 (1 ) R T E E | = (12)
Dari hasil eliminasi, didapat hubungan antara

0I E
dengan

0T E

melalui persamaan 11, sedangkan
hubungan

0I E dengan

0R E

diperoleh dari
persamaan 12 dengan substitusi

0T E dengan

0I E
dari hasil persamaan 11.


0 0
1
1
R I E E
|
|
| |
=
|
+
\ .
(13)
Kemudian hitung koefisien refleksi dan koefisien
transmisi dari bahan tersebut.
a. Koefisien refleksi.

R
I
I
R
I
= , dimana
2
1 1 0
2
1 1 0
1
. .
2
1
. .
2
R
I
v E
R
v E
e
=
e

(14)

2
2 2 1 1
2 2 1 1
. .
. .
v v
R
v v

+
| |
=
|
\ .
(15)
b. Koefisien transmisi.

T
I
I
T
I
= , dimana
2
2 2 0
2
1 1 0
1
. .
2
1
. .
2
T
I
v E
T
v E
e
=
e
(16)

2 2 1 1
2 2 2 2
2 2 2 2 1 1 1 1
4 . . .
. 2. . . . .
v v
T
v v v v


=
+ +
(17)
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 20
Jumlahkan koefisien refleksi dengan koefisien
transmisi ( R + T).

2 2 2 2
2 2 2 2 1 1 1 1
2 2 2 2
2 2 2 2 1 1 1 1
. 2. . . . .
1
. 2. . . . .
v v v v
R T
v v v v


+ +
+ = =
+ +
(18)
3. Hasil dan Analisa
3.1 Perambatan gelombang elektromagnetik
pada bahan yang memiliki e dan
negatif, nilai | 1| berbeda dengan | 2|.
Untuk mengetahui apakah hukum kekekalan
energi berlaku pada bahan metamaterial, analisa
dan perhitungan yang dilakukan berdasarkan pada
bagian II.2, namun ada beberapa kondisi yang
berbeda.
Diasumsikan bahwa gelombang
elektromagnetik merambat dari medium satu yang
memiliki permitivitas, dan permeabilitas positif (e
dan = +), ke medium dua yang memiliki
permitivitas, dan permeabilitas negatif (e

dan = -
). Nilai permeabilitas medium satu berbeda dengan
permeabilitas medium dua, kedua nilai
permeabilitas apabila dimutlakkan, nilai keduanya
juga berbeda. Pada kondisi ini:

1 2
1 2
B B

= , dimana
0 E
B
v
= (19)
Jumlahkan persamaan gelombang B seperti pada
persamaan 21, maka akan diperoleh persamaan :


0 0 0 . I R T E E E | = (20)
Eliminasi persamaan 8 dengan persamaan 20,
untuk mencari hubungan antara

0I E dengan

0R E ,
dan

0I E dengan

0T E . Hasilnya akan berupa


persamaan :


0 0
2
1
T I E E
|
| |
=
|

\ .
(21)


0 0 2 (1 ) R T E E | = +

(22)
Dari hasil eliminasi, didapat hubungan antara

0I E
dengan

0T E

melalui persamaan 21, sedangkan
hubungan

0I E dengan

0R E

diperoleh dari
persamaan 22 dengan substitusi

0T E dengan

0I E
dari hasil persamaan 21.


0 0
1
1
R I E E
|
|
| | +
=
|

\ .
(23)
Setelah didapat hubungan antara

0I E dengan

0R E ,
dan

0I E dengan

0T E , kemudian hitung koefisien


refleksi dan koefisien transmisi dari bahan
tersebut.
a. Koefisien refleksi.

2
2 2 1 1
2 2 1 1
. .
. .
v v
R
v v


+

| |
=
|
\ .
(24)
b. Koefisien Transmisi.

T
I
I
T
I
=
, dimana
2
2 2 0
2
1 1 0
1
. .
2
1
. .
2
T
I
v E
T
v E
e
=
e
(25)

2 2 1 1
2 2 2 2
2 2 2 2 1 1 1 1
4 . . .
. 2. . . . .
v v
T
v v v v

=
+
26)

2 2 2 2
2 2 2 2 1 1 1 1
2 2 2 2
2 2 2 2 1 1 1 1
. 2. . . . .
1
. 2. . . . .
v v v v
R T
v v v v


+
+ = =
+

(27)
Dari persamaan (27) dapat diketahui bahwa
hukum kekekalan energi berlaku pada bahan
metamaterial, namun ada perbedaan yang
mendasar pada bahan ini, dibanding dengan
bahan biasa yang permitivitas, dan
permeabilitasnya bernilai positif, yaitu pada bahan
metamaterial, nilai koefisien R>1, sedangkan nilai
koefisien T<0, atau negatif.
4. Kesimpulan
Hukum kekekalan energi berlaku pada bahan
metamaterial. Hal tersebut dibuktikan melalui
perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui nilai
hasil penjumlahan koefisien refleksi dan koefisien
transmisi dari gelombang elektromagnetik yang
merambat pada materi tersebut.
Makna fisis dari nilai koefisien R>1 dan T<0,
harus ditelusuri lebih lanjut, belum dapat diketahui
secara pasti apa makna dari hal tersebut, dan apa
dampak hal tersebut pada gelombang
elektromagnetik yang merambat pada bahan
metamaterial.
Referensi
[1] V. Veselago, The Electrodynamics Of
substances With Simultaneously Negative
Values of c and negative, Soviet Physics
Uspekhi, 10(4), (1968).
[2] D. Griffiths, Introduction to Electrodynamics,
The Prentice Hall, New Jersey, (1999).
[3] J.B. Pendry dan D.R. Smith, Physics Today,
57(6), (2004).

Afnar Delivery
Program Studi Fisika,
Institut Teknologi Bandung,
Jl.Ganesha No.10 Bandung 40132, Indonesia
Email: afnardelivery@gmail.com
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 21
Studi Literatur Mengenai Diagnosa Pembusukan Pada Kaki Penderita
Diabetes Melitus Dengan Menggunakan Metode Liquid Crystal
Thermography (LCT)
Afnar Delivery


Abstrak
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penyakit komplikasi pada
penderitanya. Salah satu jenis penyakit komplikasinya adalah Peripheral Vascular Disease (PVD). Penyakit
ini dapat menyebabkan gejala kerusakan saraf, yang dapat menimbulkan rasa sakit seperti tertusuk,
terbakar, dan terjepit. PVD dapat menimbulkan pembusukan, misalnya pada bagian kaki apabila mengalami
trauma atau benturan, namun seringkali penderita diabetes tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami
PVD. Hal ini dapat dicegah dengan melakukan diagnosa pada penderita diabetes melitus dengan
menggunakan metode LCT (Liquid Crystal Thermography). Metode LCT menggunakan Thermochromic
Liquid Crystal (TLC) untuk melakukan diagnosa tersebut. TLC merupakan suatu jenis materi kristal cair yang
peka terhadap perubahan suhu. Karakteristik dari TLC inilah yang dimanfaatkan pada metode LCT untuk
mengukur suhu telapak kaki, sebagai referensi dalam melakukan diagnosa. Pada makalah ini akan dicoba
untuk melakukan studi literatur mengenai kepresisian penggunaan metode LCT sebagai suatu cara untuk
mendiagnosa penderita diabetes apakah terserang PVD atau tidak. Eksperimen pada referensi yang dirujuk
dilakukan dengan membandingkan suhu telapak kaki rata-rata penderita diabetes dengan PVD, penderita
diabetes tanpa PVD, dan non-penderita diabetes dengan pencitraan panas kristal cair. Hasil dari studi
literatur yang dilakukan, menunjukan bahwa penyakit komplikasi PVD pada penderita diabetes dapat
didiagnosa dengan metode LCT.
Kata kunci : diabetes melitus, PVD, LCT, TLC.
Pendahuluan
Penelitian untuk menemukan suatu metode
yang dapat mendiagnosa penderita diabetes yang
mengalami komplikasi PVD terus dikembangkan.
PVD dapat didiagnosa melalui beberapa metode
seperti pencitraan panas, pencitraan optik, dan
MRI, namun metode-metode ini membutuhkan
biaya yang cukup besar. Pengembangan yang
kemudian dilakukan adalah dengan menggunakan
materi TLC, dari materi ini kemudian
dikembangkan suatu metode yang disebut dengan
LCT. Beberapa penelitian sudah dilakukan untuk
menguji metode ini [1]-[2], dari hasil penelitian
tersebut disimpulkan bahwa metode LCT layak
dikedepankan untuk mendiagnosa PVD pada
penderita diabetes melitus, dikarenakan
kepresisian, kepraktisan, dan biaya yang relatif
lebih kecil apabila dibandingkan dengan metode
lain.
Pada makalah ini akan dicoba untuk
menjelaskan bagaimana metode LCT dapat
digunakan untuk mendiagnosa PVD pada
penderita diabetes, serta mengkaji ulang hasil dari
penelitian mengenai metode LCT ini. Makalah ini
terdiri dari dasar teori yang akan menjelaskan
mengenai diabetes melitus, serta cara kerja dari
TLC. Metode penelitian yang akan membahas
eksperimen pada makalah yang dirujuk. Hasil dan
diskusi yang akan membahas mengenai hasil
penelitian dari paper yang dirujuk. Kesimpulan
yang akan membahas apakah metode LCT ini
layak dikedepankan atau tidak, serta saran untuk
metode penelitian lain yang dapat digunakan untuk
mendiagnosa PVD pada penderita diabetes.
Dasar Teori
Diabetes Melitus adalah suatu kondisi dimana
tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai
sumber energi bagi sel tubuh secara normal.
Kadar glukosa di dalam darah dikontrol oleh
hormon insulin, yang dihasilkan oleh pankreas.
Insulin membantu glukosa masuk ke dalam sel
tubuh[2]. Pada penderita diabetes, pankreas tidak
dapat membuat cukup insulin, merupakan diabetes
tipe 1 atau tubuh tidak berespon secara normal
terhadap insulin yang diproduksi merupakan
diabetes tipe 2, hal ini menyebabkan kadar
glukosa dalam darah meningkat, sehingga timbul
gejala banyak buang air kecil, sangat haus,
turunnya berat badan, dan lain-lain[2].
Selain itu, penderita diabetes juga sangat
rentan terhadap penyakit-penyakit lain yang
ditimbulkan dari gangguan sistem metabolisme,
salah satunya antara lain PVD, penyakit ini
menyebabkan perubahan aliran nutrisi dalam
darah dan dapat mengganggu pasokan nutrisi ke
bagian bawah kaki, hal ini dapat mengakibatkan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 22
bagian kaki lebih rentan terhadap pembusukan
apabila adanya faktor pemicu seperti luka atau
benturan[2]. PVD umumnya terjadi pada penderita
diabetes tipe 2, pada perkembangannya untuk
mendiagnosa PVD pada penderita diabetes,
digunakan suatu metode yang disebut LCT[1].
Metode LCT menggunakan bahan TLC yang
dapat memantulkan warna dari suatu benda
sebagai representasi dari suhunya[2] untuk
melakukan diagnosa. TLC merupakan bagian dari
kristal cair. Kristal cair ditemukan pertama kali oleh
Frederick Reinitzer pada tahun 1888, dia
menemukan bahwa zat kolestril benzoat meleleh
pada 145,5C dan menjadi cairan pada 178,5C.
Pada rentang temperatur tersebut, kolestril
benzoat mengalir seperti cairan dan memiliki sifat
optik seperti padatan[3]. Keadaan suatu zat antara
bersifat cair dan padat disebut mesofase atau
disebut kristal cair.
Berdasarkan karakteristiknya, kristal cair
dibedakan menjadi 2 jenis yaitu thermotropic dan
lyotropic, pada metode LCT, jenis kristal cair yang
digunakan adalah jenis kristal cair thermotropic,
hal ini dikarenakan jenis kristal cair ini memiliki
sifat memantulkan warna suatu materi
berdasarkan temperaturnya, sedangkan kristal cair
lyotropic tidak memiliki sifat ini[3]. Kristal cair
thermotropic berdasarkan strukturnya dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu jenis smectic, dan
nematic. Pada metode LCT, struktur kristal cair
yang digunakan adalah nematic, hal ini
diakarenakan susunan kristal pembentuknya
memiliki bentuk, ukuran, dan susunan yang tidak
teratur, sehingga range warna yang dihasilkan dari
proses pemantulan cahaya, akan lebih banyak
dibanding pada bentuk kristal smectic, yang
memiliki bentuk, ukuran, dan susunan kristal yang
lebih teratur[3]. Struktur kristal nematic pun, dibagi
menjadi dua jenis yaitu jenis kristal cholesteric, dan
yang bersifat nematic[3]

Gambar 1. Perbedaan antara jenis liquid crystal
nematic, smectic, dan cholesteric[5].
Pada kristal cair berbentuk cholesteric,
molekul berjajar dalam lapisannya, setiap lapisan
dalam stuktur kolesterik mempunyai arah molekul
yang berbeda dengan lapisan di atas dan di
bawahnya, setelah beberapa lapisan,
arah/orientasi molekul akan berulang kembali, dan
pantulan warna yang dihasilkan oleh TLC
tergantung pada jarak ini[3]. Pantulan cahaya atau
warna akan berubah dengan berubahnya suhu,
sifat dari kristal cair cholesteric ini menjadi prinsip
kerja alat yang menggunakan suhu sebagai
parameter utamanya[3], dan hal inilah yang
dimanfaatkan metode LCT untuk mendiagnosa
pembusukan pada kaki penderita diabetes.
TLC dapat menentukan suhu suatu benda
berdasarkan warna yang dipantulkan dari benda,
hal ini dikarenakan pada TLC terdapat fenomena
difraksi Bragg[3]. Peristiwa difraksi merupakan
pembelokan cahaya oleh benda yang dilalui
cahaya, dalam difraksi Bragg, pembelokan cahaya
terjadi akibat cahaya melalui atom-atom pada
benda, sehingga terjadi pembelokan cahaya[4].
Pada TLC, fenomena difraksi Bragg terjadi akibat
benda yang bersentuhan dengan TLC terkena
paparan sinar sehingga TLC kemudian
memantulkan warna yang merepresentasikan suhu
dari benda tersebut.

Gambar 2. Difraksi Bragg pada TLC[5].
(T) panjang gelombang cahaya yang merupakan
fungsi dari temperatur, dan p (T), yaitu kedalaman
bidang planar TLC yang juga merupakan suatu
fungsi dari temperatur, merepresentasikan
semakin tinggi temperatur maka panjang
gelombang cahaya yang dipantulkan akan
semakin pendek, dari panjang gelombang cahaya
terpanjang yaitu merah, sampai dengan panjang
gelombang cahaya terpendek yaitu ungu, jadi bisa
diasumsikan, semakin tinggi temperatur dari suatu
benda yang diukur suhunya, maka warna dari
benda tersebut akan semakin menuju ungu, dan
pada TLC, pemantulan akan terjadi pada bidang
planar yang semakin dalam[5].
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 23

Gambar 3. Representasi suhu pada suhu[5].
Metode Penelitian
Berdasarkan pada makalah yang dirujuk
eksperimen dilakukan pada tiga kategori, yaitu
penderita diabetes dengan PVD, penderita
diabetes non-PVD, dan non penderita diabetes
melitus[1]. Daerah temperatur permukaan kaki
yang diukur suhunya, menggunakan metode LCT
digambarkan pada gambar berikut ini :

Gambar 4. Parameter permukaan kaki yang diukur
suhunya menggunakan metode LCT[1].
Eksperimen dilakukan dengan menggunakan
suatu seri dari Novatherm detectors. Setiap
detektor terdiri dari membran lateks yang lapisan
dalamnya dilapisi lembaran kristal cair, yang
dipasang pada suatu kotak kedap udara yang
terdapat sumber cahaya di dalamnya[1].
Permukaan telapak kaki yang akan diukur suhunya
kemudian ditempelkan pada detektor ini selama 10
detik, dan direkam pencitraan panasnya dengan
kamera polaroid[1]. Hasil dari pencitraan panas
tersebut kemudian dihitung suhu rata-ratanya, dan
dibandingkan hasilnya.
Hasil dan diskusi
Dari Tabel 1, Mean Foot Temperature (MFT)
atau suhu rata-rata telapak kaki yang diukur
dengan metode LCT dapat membedakan
penderita diabetes PVD dengan penderita
diabetes non-PVD, namun MFT pada penderita
diabetes PVD, dan non-penderita diabetes
ternyata hampir sama. Belum diketahui secara
pasti apa yang menyebabkan hal ini, namun ada
beberapa faktor yang mungkin menyebabkan hal
tersebut, diantaranya kondisi fisik dan psikologis
sampel yang diambil, kondisi alat pencitraan
thermography yang digunakan, serta kemungkinan
faktor peradangan pada kaki penderita diabetes
PVD yang belum pada kondisi yang parah.
Penelitian terakhir yang dilakukan pada tahun
2011 [7], mengemukakan bahwa metode
thermography belum cukup untuk mengetahui
apakah seseorang mengalami PVD atau tidak,
perlu metode lain untuk memperkuat diagnosa
tersebut, diantaranya adalah metode
ultrasonography, untuk mengetahui kondisi kulit
sampel yang diamati, apakah kakinya berpotensi
mengalami peradangan atau pembusukan atau
tidak. Namun untuk diagnosa awal, metode
thermography dapat digunakan, walau ketepatan
diagnosanya belum terlalu baik.

Tabel 1. Hasil pengukuran dengan metode LCT[1]
Penderita Diabetes
PVD Non-PVD Non-
penderita
diabetes
J umlah
sampel
20 30 33
MFT (C) 25,61,9 28,22,9 25,72,1
Kesimpulan
Metode LCT dapat digunakan untuk
mendiagnosa penderita diabetes apakah
mengidap PVD atau tidak Metode ini layak
dikedepankan sebagai suatu langkah awal untuk
mendiagnosa penderita diabetes apakah
mengalami komplikasi PVD atau tidak, kelebihan
lain dari metode ini adalah, metode ini lebih murah
dan praktis apabila dibandingkan dengan metode-
metode lain seperti thermal imaging, optical
imaging, ataupun MRI.
Saran
Untuk menentukan MFT, penulis
menyarankan metode lain yang dapat digunakan
sebagai metode alternatif, yaitu dengan
menggunakan termometer kristal cair.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia


ISBN 978-602-19655-4-2 24

Gambar 5. Termometer kristal cair[6].
Termometer kristal cair dapat digunakan
untuk mengukur suhu telapak kaki, yang kemudian
dihitung suhu kaki rata-ratanya, namun metode
belum dapat dibuktikan ketepatannya dalam
mendiagnosa, karena belum pernah diujicobakan.
Untuk kedepannya mungkin hal ini layak untuk
dikedepankan.
Referensi
[1] Susan J . Benbow, Ah W. Chan, David R.
Bowsher, Gareth Williams, Ian A. Macfarlane,
The Prediction of Diabetic Neuropathic
Plantar foot Ulceration by Liquid-Crystal
Contact Thermography, Diabetes Care, 17:
835-839, (1994).
[2] Bharara, Manish, Liquid Crystal
Thermography in Neuropathic Assessment of
the Diabetic Foot, Bournemouth University,
(2007).
[3] Hallcrest corporation, Handbook of
Thermochromic Liquid Crystal technology,
(1991).
[4] Beiser, Arthur, Concept of Modern Physics,
Tata McGraw-Hill, New York, (2003).
[5] http://wiki.epfl.ch/me301-
tdm/documents/Cours/Mesures%20de%20te
mp%C3%A9rature/slides_liquid%20crystal%2
0thermography%20lct.pdf. Diakses pada 20
Mei 2013.
[6] http://www.sisweb.com/lab/telatemp-liq-crys-
therm.htm. Diakses pada 20 Mei 2013.
[7] Takashi Nagase, Hiromi Sanada, Makoto Oe,
Kimie Takehara, Kaoru Nishide and Takashi
Kadowaki, Screening of Foot Inflammation in
Diabetic Patients by Non-Invasive Imaging
Modalities, Global Perspective on Diabetic
Foot Ulcerations, Dr. Thanh Dinh (Ed.),
(2001). ISBN: 978-953-307-727-7, InTech,
DOI: 10.5772/28225.

Afnar Delivery

Program Studi Fisika, Institut Teknologi Bandung
J l. Ganesha No.10 Bandung 40132, Indonesia
Email: afnardelivery@gmail.com

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 25
Hasil dan Analisis Percobaan Hukum Ohm, Jembatan Wheatstone
dan Rangkaian RLC
Albar Rabak Pabianan*, Euis Sustini

Abstrak
Pada makalah ini dibahas tentang hasil pembuatan dan percobaan Kit praktikum elektronika yang
terintegrasi. Percobaan yang dilakukan antara lain: (1) Pembuktian Hukum Ohm, (2) Jembatan Wheatstone,
(3) Rangkaian RLC Arus Bolak-Balik. Pada pembuktian hukum Ohm dengan variasi sumber tegangan,
semakin besar tegangan semakin besar pula arus listrik dengan nilai pembandingnya adalah nilai resistor.
Pada rangkaian jembatan Wheatstone, nilai RX dapat ditentukan jika arus listrik pada galvanometer = 0 (nol)
itu artinya nilai Rb ~ nilai RX. Pada rangkaian arus bolak-balik RLC seri variasi frekuensi signal generator
pada saat terjadi frekuensi resonansi antara induktor dengan kapasitor, terjadi keluaran istimewa yakni;
tegangan yang minimum, arus listrik yang maksimum, impedansi yang minimum, beda fasa antara tegangan
dengan arus listrik adalah nol (sefasa) dan daya yang maksimum. Pada rangkaian RLC paralel saat terjadi
frekuensi resonansi antara induktor dengan kapasitor, terjadi keluaran yakni; tegangan yang maksimum,
arus listrik yang minimum, impedansi yang maksimum, beda fasa antara tegangan dengan arus listrik adalah
nol (sefasa) dan daya yang maksimum.
Kata-kata kunci: Kit elektronika, terintegrasi, resonansi
Pendahuluan
Pelajaran fisika di sekolah terdapat dua hal
penting yang saling terkait yaitu eksperimen dan
teori. Siswa diharuskan memahami konsep
kemudian diberikan bimbingan melalui
pengembangan keterampilan ilmiah, agar harapan
siswa mampu mengambil suatu kesimpulan.
Pelaksanaan eksperimen bisa berjalan jika
didukung sarana dan prasarana.
Permasalahannya adalah bagaimana merancang
suatu Kit praktikum elektronika yang terintegrasi
dari beberapa judul percobaan rangkaian listrik ac-
dc. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis
termotivasi untuk merancang suatu Kit praktikum
elektronika yang terintegrasi pada rangkaian listrik
searah (DC) dan rangkaian listrik bolak-balik (AC)
di tingkat SMP dan SMA.
Teori
Pada percobaan ini Kit dibuat sebagai berikut:





























Gambar 1. Alur pelaksanaan penelitian
Hukum Ohm
Pada percobaan hk.Ohm dilakukan dengan
memvariasikan sumber tegangan yang
dihubungkan dengan satu hambatan (R)..
Keluaran yakni: tegangan (V) dan arus listrik (I)
yang melalui hambatan (R) diukur dengan
menggunakan voltmeter dan amperemeter. Nilai
hambatan (R) dapat ditentukan dari grafik dengan
menggunakan persamaan berikut:

V
R tan
I
o
A
= =
A
. (1)
Judul
Percobaan
Alat dan
Bahan
1. Pembuktian Hk. Ohm
2. Jembatan Wheatstone
3. Rangkaian RLC
Desain Kit
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 26
Jembatan Wheatstone
Pada percobaan jembatan Wheatstone
dilakukan dengan memvariasikan hambatan (Rb)
maupun hambatan (Rx). Kontak pada batang
konduktor digeser-geser agar jarum galvanometer
menunjuk angka nol (tidak ada arus listrik yang
melalui galvanometer). Maka nilai suatu hambatan
(Rx) pada gambar 2 dapat ditentukan dengan
persamaan:
2
1
L
Rx Rb
L
=
. (2)
Rangkaian RLC
Pengambilan data pada rangkaian RLC seri
dan RLC paralel dengan memvariasikan frekuensi
(f) signal generator sedangkan resistor, induktor,
dan kapasitor tidak diubah-ubah serta frekuensi
resonansi RLC seri = 1582,5 Hz, frekuensi
resonansi RLC paralel = 4099,85 Hz.
a. RLC Seri
Pada rangkaian RLC seri dapat menentukan
beberapa besaran antara lain dengan
menggunakan persamaan:
- Tegangan

( ) ( )
2 2
L C
V I R X X = +
. (3)
- Impedansi

( ) ( )
2 2
L C
Z R X X = +
. (4)
- Beda fasa

( )
L C
X X
tg
R
|

=
. (5)
- Daya

2
P I x Z Cos| = . (6)
b. RLC Paralel
Pada rangkaian RLC paralel dapat
menentukan beberapa besaran antara lain dengan
menggunakan persamaan:
- Arus listrik

2
2
C L
1 1 1
-
X X
I V
R
| |
| |
= +
| |
\ .
\ .
. (7)
- Impedansi

2
L C
2

X
1
-
X
1 1
1
|
|
.
|

\
|
+ |
.
|

\
|
=
R
Z
. (8)
- Beda fasa

1 1
X

1
R
C L
X
t g |
| |

|
\ .
=
. (9)
- Daya

2
V
P Cos
Z
| =
. (10)
Resonansi Dalam Rangkaian RLC
Pada rangkaian RLC impedansi bergantung
pada frekuensi, seperti yang diperlihatkan oleh
persamaan (4) untuk rangkaian seri dan
persamaan (8) untuk rangkaian paralel. Pada
rangkaian ini ada kondisi istimewa yaitu kondisi
resonansi dengan frekuensi resonansi dicapai jika
XL dan XC sama.

LC 2
1
f
t
=
. (11)
Hasil dan diskusi
Hukum Ohm
Nilai R diperoleh dari grafik dengan
menggunakan persamaan (1) pada gambar 8.
berikut:

Gambar 2. Hubungan antara tegangan dengan
arus listrik
Pada gambar diatas terlihat bahwa
kemiringan dari grafik adalah merupakan nilai
hambatan (R) yang konstan, sesuai dengan hk.
Ohm.
Jembatan Wheatstone

Hasilnya seperti pada tabel 1. berikut:
Tabel 1. Hasil eksperimen dan analisis jembatan
Wheatstone.
No R
b
() L
1
(cm) L
2
(cm) R
X
()
1 0,3 3,0 3,0 0,30
2 0,6 3,1 2,9 0,56
3 0,7 3,0 3,0 0,70
4 2,3 3,1 2,9 2,15
5 2,9 3,1 2,9 2,71

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 27
Pada tabel diatas bahwa jarum galvanometer
dapat menunjuk angka nol apabila nilai R
b
~ nilai
R
x
.

Rangkaian RLC
a. RLC Seri
Diperoleh grafik hubungan antara tegangan,
kuat arus listrik, impedansi, beda fasa dan daya
dengan frekuensi dapat dilihat pada gambar
berikut:

Gambar 3. Grafik hubungan antara tegangan
dengan frekuensi.

Gambar 4. Hubungan antara kuat arus listrik
dengan frekuensi.

Gambar 5. Hubungan antara impedansi dengan
frekuensi.

Gambar 6. Hubungan antara beda fasa dengan
frekuensi.

Gambar 7. Hubungan daya dengan frekuensi.
Pada gambar-gambar diatas bahwa saat
terjadi frekuensi resonansi, maka terjadi keluaran
yaitu; tegangan yang minimum, arus listrik yang
maksimum, impedansi yang minimum, beda fasa
nol, dan daya yang maksimum.
b. RLC Paralel
Diperoleh grafik hubungan antara tegangan,
kuat arus listrik, reaktansi, impedansi, beda fasa,
dan daya dengan frekuensi dapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 8. Hubungan antara tegangan dengan
frekuensi.

Gambar 9. Hubungan antara arus listrik dengan
frekuensi.

Gambar 10. Hubungan antara impedansi dengan
frekuensi.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 28

Gambar 11. Hubungan antara impedansi dengan
frekuensi.

Gambar 12. Hubungan antara impedansi dengan
frekuensi.
Pada gambar-gambar diatas bahwa saat
terjadi frekuensi resonansi, maka terjadi keluaran
yaitu; tegangan yang maksimum, arus listrik yang
minimum, impedansi yang maksimum, beda fasa
nol, dan daya yang maksimum.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Perbandingan antara tegangan dengan kuat
arus listrik menghasilkan nilai hambatan
(resistansi) yang konstan.
2. Rangkaian jembatan Wheatstone dapat
menentukan nilai suatu hambatan (Rx).
3. Rangkaian RLC seri pada variasi frekuensi
signal generator pada saat terjadi frekuensi
resonansi antara induktor dengan kapasitor
didapatkan tegangan yang minimum, kuat arus
listrik yang maksimum, impedansi yang
minimum, beda fasa nol, dan daya yang
maksimum.
4. Rangkaian RLC paralel pada variasi frekuensi
signal generator pada saat terjadi frekuensi
resonansi antara induktor dengan kapasitor
didapatkan tegangan yang maksimum, kuat
arus listrik yang minimum, impedansi yang
maksimum, beda fasa nol, dan daya yang
maksimum.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Pemda Provinsi Sulawesi Tengah atas bantuan
beasiswa yang diberikan dan kepada semua pihak
yang telah memberi peranan yang besar baik
bimbingan, motivasi, inspirasi serta diskusi yang
membangun dalam menyelesaikan tulisan ini.
Referensi
[1] Sutrisno, Fisika Dasar, Listrik Magnet dan
Termofisika Listrik, ITB, Bandung (1979).
[2] Young and Freedman, Fisika Universitas,
edisi kesepuluh, jilid 2, Erlangga, Jakarta,
(2000).
[3] Eka Jati B.M dan Priyambodo TK, Fisika
Dasar, Listrik-Magnet, Optika, Fisika Modern,
Andi, Yokyakarta, (2010).
[4] Ahmad Zaelani. dkk, Bimbingan Pemantapan,
Fisika Untuk SMA/MA, Yrama Widya,
Bandung, (2006).
[5] Y. Zemansky, University Physics, Part II,
Sixth Edition, Addison-Wesley Publishing
Company, Inc, New York, (1981).
[6] Robbins and Miller,.., Circuit Analysis
Theory and Practice, 2nd Edition.

Albar Rabak Pabianan*
Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
aqilah_albr@ymail.com
Euis Sustini
Fisika Material Elektronik
Institut Teknologi Bandung
euis@fi.itb.ac.id
*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 29
Identifikasi Parameter Kerapatan dan Kekentalan Terhadap Tinggi Zat
Cair Yang Naik Pada Kaki Pipa U serta Pipa Y Dengan Menggunakan
Konsep Tekanan
Andi Asgar Wahyu* dan Inge Magdalena

Abstrak
Pada proyek akhir ini dilakukan eksperimen untuk melihat pengaruh nilai-nilai koefisien kerapatan dan
kekentalan fluida pada tinggi zat cair yang naik pada kaki-kaki pipa U dan pipa Y berdasarkan konsep
tekanan fluid. Metode yang digunakan adalah pengukuran langsung dengan menggunakan pipa U dan pipa
Y serta perhitungan dengan menggunakan konsep variasi tekanan terhadap ketinggian fluida. Hasil
eksperimen menunjukkan bahwa zat cair yang paling mudah ditarik, yaitu dilihat dari tinggi naiknya zat cair
tersebut pada kaki-kaki pipa, berturut-turut adalah air laut, oli SAE 40, minyak goreng dan minyak tanah.
Selanjutnya hasil analisa data menunjukkan bahwa untuk zat cair yang memiliki nilai koefisien kerapatan
mendekati kerapatan aquades, perbedaan ketinggian zat cair yang naik pada kaki-kaki pipa antara data
hasil eksperimen dan data hasil perhitungan memiliki nilai yang kecil dan positif. Di sisi lain, untuk zat cair
yang memiliki nilai koefisien kerapatan jauh lebih besar dari kerapatan aquades, perbedaan ketinggian zat
cair yang naik pada kaki-kaki pipa antara data hasil eksperimen dan data hasil perhitungan memiliki nilai
yang besar dan negatif. Hal ini menunjukkan bahwa selain nilai kerapatan, faktor lain yang mempengaruhi
tinggi kenaikan zat cair pada kaki-kaki pipa adalah nilai koefisien kekentalannya; nilai koefisien kekentalan
zat cair yang semakin besar menandai gaya gesek yang semakin besar pula antara zat cair dengan dinding
pipa.
Kata-kata kunci : zat cair, koefisien kerapatan, koefisien kekentalan, tekanan, gaya gesek.
Pendahuluan
Mekanika fluida berkaitan dengan fenomena
fluida dalam keadaan statis maupun dinamis [2,4].
Dalam statika fluida, berat cairan merupakan sifat
yang penting, sebab dalam kondisi kesetimbangan
diasumsikan semua gaya eksternal yang berkerja
pada fluida adalah nol sehingga gaya yang bekerja
hanyalah gaya internal atau gaya berat fluida itu
sendiri. Sedangkan dalam aliran fluida sifat yang
penting adalah rapat massa (kerapatan), tekanan
dan kekentalan fluida bersangkutan.
Berdasarkan pemikiran diatas, maka akan
dikaji pengaruh kerapatan dan kekentalan fluida
pada tinggi zat cair yang naik pada kaki-kaki pipa
U dan pipa Y berdasarkan konsep tekanan.
Koefisien Kerapatan ()
Kerapatan () didefiniskan sebagai massa
per-satuan volum [1,3,7] secara matematis
dituliskan :

m
V
= (1)
Nilai koefisien kerapatan suatu zat cair
bervariasi cukup besar antara satu zat cair dengan
zat cair lainnya. Umumnya zat cair mengembang
saat temperatur naik dan menyusut saat
temperatur rendah, tetapi pengaruh temperatur ini
sangat kecil sehingga seringkali diabaikan.
Variasi Tekanan Pada Zat Cair Statik
Tinjau suatu elemen zat cair dengan luas
penampang A, berada pada kedalaman d ke d + h
dimana nilai sama pada semua elemen zat cair.
Elemen zar cair tersebut mendapatkan gaya dari
zat cair diluarnya yang tegak lurus terhadap
permukaannya. Resultan gaya untuk arah
horizontalnya bernilai nol, sedangkan untuk arah
vertikanya bekerja gaya-gaya permukaan dan
gaya berat elemen zat cair itu sendiri. Gaya yang
bekerja pada permukaan bagian bawah elemen
zat cair tersebut adalah j A p

0
sedangkan pada
bagian atasnya j A p

0
seperti Gambar 1.

Gambar 1. Elemen kecil zat cair dalam bejana.
Gaya netto yang bekerja pada elemen zat cair ini
harus nol karena berada dalam keseimbangan[6].
Oleh karena elemen zat cair berada dalam
kesetimbangan maka besar tekanan p
0
pada
kedalaman h dibawah suatu titik dalam cairan
yang tekanannya p
0
lebih besar sebanyak gh.
Dengan demikian dapat dituliskan menjadi:
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 30

gh p p + =
0
(2)
Koefisien Kekentalan (q)
Kekentalan (q) adalah suatu pernyataan
tahanan untuk mengalir dari suatu sistem yang
mendapatkan suatu tekanan. Secara umum
koefisien kekentalan suatu zat cair dapat
ditentukan salah satunya dengan menggunakan
persamaan Poiseuille[5], yakni :

4
8
r p
QL
t
q
A
= (3)
Data dan Pembahasan
Data yang disajikan pada tebel berikut terdiri
atas data kerapatan beberapa jenis zat cair yang
ditentukan melalui pengukuran langsung (kolom 2)
dan kerapatan yang diperoleh dari beberapa
literatur (kolom 3) serta data kekentalan zat cair
berdasarkan beberapa literatur (kolom 4).
Tabel 1. Data kerapatan zat cair yang digunakan
dengan pengukuran langsung menggunakan
Areometer Boume dan kerapatan serta kekentalan
zat cair berdasarkan beberapa literatur.
Data Eksperimen Data Dari Literatur
Jenis zat Cair
(5 kg/m
3
) (5 kg/m
3
) q (cps)
aquades 995 1000 (*) 1 (**)
Air Laut 1070 1025 (*) 1,07 10
-3
(***)
Minyak Tanah 830 820 (*) 1,85 (***)
Minyak Goreng 910 924 (*) 80 (**)
Oli SAE 40 875 887 (*) 556 **)
Sumber : [8,9,10]

Pengukuran dan Perhitungan Tinggi Zat Cair
Dengan Menggunakan Pipa U
Pada eksperimen ini, fluida yang dimasukkan
dalam pipa U hanya satu jenis kemudian pada
salah satu kaki pipa tersebut disambungkan
dengan tabung jarum suntik seperti Gambar 2,
untuk memberikan perubahan tekanan pada kolom
pipa.

Gambar 2. Skema pengukuran dengan pipa U (a)
Tabung pipa U dalam keadaan setimbang, (b)
Salah satu kaki pada tabung pipa U disambungkan
dengan pipa jarum suntik, dimana bila katub jarum
suntik ditarik sejauh x maka zat cair pada kaki pipa
U tersebut akan naik sejauh h.
Dari Gambar 2 (b) dapat dilihat bahwa setelah
katub jarum suntik sejauh ditarik x maka zat cair
akan bergerak naik setinggi h. Hal ini dilakukan
secara berulang untuk beberapat titik.
Sebagai langkah awal zat cair yang
digunakan adalah aquades, dimana nilai
kerapatannya adalah = 995 kg/m
3
, percepatan
gravitasinya ( g ) adalah 9,8 m/s
2
. Nilai perubahan
tekanan (Ap) pada kaki pipa U sebagai hasil
pergeseran katub jarum suntik (x) ditentukan dari
pengamatan tinggi zat cair yang naik dan hasilnya
tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Data pengukuran ketinggian zat cair
aquades dan perhitungan nilai perubahan tekanan.
No x ( 0,05) (cm) h
eks.
( 0,05) (cm) Ap = gh
(Pa)
1 0,1 0,6 59
2 0,2 1,2 117
3 0,3 2,0 195
4 0,4 2,5 244
5 0,5 3,1 302
6 0,6 3,8 371
7 0,7 4,4 429
8 0,8 5,1 497
9 0,9 5,7 556
10 1,0 6,4 624
11 1,1 7,0 683
12 1,2 7.7 751
13 1,3 8.3 809
14 1,4 8.9 868
Data perubahan tekanan (Ap) pada Tabel 2
digunakan sebagai pembanding untuk zat cair
lainnya. Perubahan tekanan pada eksperimen ini
diasumsikan sama besar antara aquades dengan
zat cair lainnya karena katub jarum suntik digeser
dengan jarak x yang sama besar saat mengukur
ketinggian aquades yang naik pada pipa. Selain
dengan pengukuran langsung, tinggi zat cair yang
naik pada pipa juga dapat ditentukan secara
analitik dengan menggunakan persamaan (2).
Data ekperimen dan perhitungan untuk beberapa
jenis zat cair ditampilakan pada Tabel 3.
Tabel 3 Data pengukuran dan perhitungan tinggi
beberapa jenis zat cair yang naik pada kaki pipa U.

Data h eksperimen (h
eks
.) pada Tabel 3 untuk
beberapa jenis zat cair kemudian diplot dalam
garfik seperti pada Gambar 3.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 31

Gambar 3. Grafik perubahan tekanan terhadap
ketinggian beberapa jenis zat cair.
Data pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa untuk
air laut selisih (selisih = h
eks.
h
hit.
) antara h
eks
dan
h
hit.
adalah selalu bernilai positif dengan selisih
yang relatif kecil, sedangkan minyak tanah, minyak
goreng dan oli SAE 40 selisih antara h
eks.
dan h
hit.

selalu bernilai negatif dengan selisih yang relatif
kecil. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa selain
kerapatan zat cair, hal lain yang mempengaruhi
tinggi kenaikan zat cair pada pipa adalah
kekentalannya. Semakin besar kekentalan zat cair,
gaya gesek (gaya adhesi) juga semakin besar,
dimana gaya gesek tersebut bekerja berlawanan
arah dengan arah gerak zat cair, sehingga pada
tekanan yang sama antara satu zat cair dengan
zat cair lainnya ketinggian yang dicapai masing-
masing zat cair tersebut berbeda. Dengan
demikian pada sistem tersebut selain gaya berat
zat cair bersangkutan, gaya gesek adhesi juga
memberikan pengaruh yang besar terhadap tinggi
kenaikan zat cair yang naik pada kedua kaki pipa.
Pada prinsipnya penggunakan tabung pipa U,
selain perbandingan ketinggian zat cair, kerapatan
untuk masing-masing zat cair juga dapat
ditentukan dengan syarat perubahan tekanan ( p)
dan ketinggian (h) zat cair diketahui. Syarat ini
berlaku untuk zat cair dengan nilai koefisien
kekentalan yang tidak jauh berbeda dengan
referensi (eksperimen ini menggunakan aquades
sebagai referensi). Sedangkan untuk zat cair yang
nilai koefisien kekentalan jauh lebih besar dari
referensi diperlukan suatu faktor koreksi sebelum
menentukan kerapatan zat cair tersebut. Hal ini
dapat dilihat dari Gambar 3 dimana regresi linier
antara data eksperimen dan data perhitungan
hampir sama dan cukup baik (R2 > 0,998x).
Pengukuran dan Perhitungan Tinggi Zat Cair
Dengan Menggunakan Pipa Y
Eksperimen menggunakan pipa Y dilakukan
dengan memberikan perubahan tekanan udara
pada kolom pipa yang kedua kakinya telah
dicelupkan pada zat cair berbeda yakni aquades
sebagai referensi dan zat cair lainnya sebagai zat
cair terukur. Ketika katub jarum suntik digeser
sebesar x maka tekanan pada kolom pipa berubah
sebesar Ap, akibatnya zat cair pada kedua kaki
pipa Y tersebut akan bergerak naik setinggi h
1

(untuk aquades) dan h
2
(untuk zat cair lainnya)
seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Skema pengukuran kerapatan dengan
tabung pipa Y.
Dari Gambar 4 dapat dilihat bahwa tinggi zat
cair yang naik pada pipa bergantung pada
besarnya perubahan tekanan pada kolom pipa Y
dimana besar perubahan tekanan bergantung
pada jarak pergeseran katub jarum suntik. Selain
pengukuran dengan pipa Y, tinggi zat cair yang
naik pada kaki 2 (h
2
) pipa juga dapat ditentukan
secara analitik dengan menggunakan persamaan
(2) sebagai dasar analisanya. Persamaan (2)
dapat dituliskan kembali menjadi :

1
2 1
2
h h

= (4)
Dari eksperimen dan perhitungan yang dilakukan
diperoleh data-data pada tabel-tabel bertikut.
Tabel 4 Data pengukuran dan perhitungan tinggi
beberapa zat cair terhadap aquades.

Data hasil eksperimen yang diperoleh pada Tabel
4, kemudian diplot dalam grafik seperti pada
gambar 5.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 32

Gambar 5. Grafik perbandingan tinggi beberapa
jenis zat cair terhadap aquades.
Hasil eksperimen pada Tabel 4 menunjukkan
bahwa ketinggian zat cair air laut antara hasil
ekperimen dengan perhitungan selisihnya selalu
bernilai positif, sedangkan untuk minyak tanah,
minyak goreng, oli SAE 40 antara hasil eksperimen
dan hasil perhitungan selisihnya selalu bernilai
negatif. Hal ini memberikan gambaran bahwa jika
kekentalan zat cair mendekati kekentalan aquades
(referensi), maka gaya gesek adhesi antara
dinding pipa dengan cair tersebut sangat kecil.
Sedangkan jika kekentalan zat cair lebih besar dari
kekentalan aquades maka gaya gesek adhesi
antara dinding pipa dengan zat cair tersebut
sangat besar. Hal ini terbukti saat pipa Y diangkat
keluar dari wadah ketinggian zat cair aquades dan
air laut pada kedua kaki pipa turun sedikit.
Sedangkan saat aquades dengan minyak tanah
ketinggian aquades pada pipa menurun sementara
ketinggian minyak tanah tidak berubah, demikian
halnya dengan zat cair minyak goreng dan oli SAE
40. Dengan demikian pada sistem zat cair tersebut
selain gaya berat zat cair bersangkutan, gaya
gesek adhesi juga memberikan pengaruh yang
besar terhadap tinggi kenaikan zat cair pada
kedua kaki pipa.
Dari Gambar 5 tampak bahwa linearitas grafik
eksperimen sangat baik (nilai R
2
mendekati angka
1). Dengan demikian tabung pipa Y ini pada
prinsipnya dapat digunakan untuk menentukan
perbandingan kerapatan antara dua zat cair yang
belum diketahui, asalkan koefisien kekentalan
kedua zat cair tersebut tidak terlalu jauh berbeda.
Dalam hal ini nilai perbandingan kerapatan antara
dua zat cair tersebut adalah koefisien regresi linear
dari grafik. Sedangkan bila nilai koefisien
kekentalan kedua zat cair sangat jauh berbeda
diperlukan faktor koreksi untuk ketinggian zat cair
yang naik pada kedua kaki pipa Y, sebelum nilai
perbandingan kerapatan antara dua zat cair
tersebut ditentukan.
Kesimpulan
Dari eksperimen dan perhitungan yang
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa selisih
nilai ketinggian antara hasil eksperimen dan
perhitungan untuk air laut selalu bernilai positif
dengan nilai yang relatif kecil, sedangkan untuk
minyak tanah, minyak goreng, dan oli SAE 40
selisihnya selalu bernilai negatif dengan nilai yang
relatif besar, pada suatu nilai tekanan tertentu,
tinggi zat cair yang naik pada kaki-kaki pipa U
berturut-turut adalah air laut, oli SAE 40, minyak
goreng dan minyak tanah, tinggi zat cair yang naik
pada kaki-kaki pipa bergantung pada nilai
koefisien kerapatannya.
Referensi
[1] Benjamin.E.W, Streeter L.V., Mekanika
Fluida, Edisi Delapan jilid 1, Erlangga,
Jakarta, (1986).
[2] Genick B.M., Basics of Fluids Mechanics,
7449 North Washtenaw Ave Chicago, (2011).
[3] Halliday D., et al., Fundamentals of Physics,
9th Edition, John Wiley dan Sons, USA,
(2011).
[4] Munson.B.R, Young. F.D, Okiishi H.T.,
Fundamentals of Fluid Mechanichs edisi
terjemahan, Erlangga, Jakarta, (2004).
[5] Mikrajuddin, Fisika Dasar I, ITB Bandung,
(2007).
[6] Serwey, Jewett, Fisika untuk Sains dan
Teknik, Salemba Teknika, Jakarta, (2009).
[7] Tipler.P.A., Physics for Scientists and
Engineers 5th Edition, W.H. Freeman and
Company, New York, (2004).
[8] *http://www.engineeringtoolbox.com/liquids-
densities-d_743.html (12 /4/2013, Jam 14:47
wib)
[9] **http://www.vp-scientific.com/Viscosity/
Tables.htm (04-12-2013, Jam11:48 wib)
[10] ***http://www.engineersedge.com/fluid_flow/fl
uid_data.htm (04/12/2012 Jam : 11:57 wib)
Andi Asgar Wahyu*
Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
andi.asgar79@yahoo.co.id
Inge Magdalena Sutjahja
KK Fisika Magnetik dan Fotonik
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung,
e-mail : inge@fi.itb.ac.id
*Corresponding author

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 33
Pembuatan Media Pembelajaran Berupa Animasi Berbasis Komputer
Untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa SMA/MA Kelas X Pada Mata
Pelajaran Kimia Konsep Ikatan Kimia
Andri Agustina, Ida Farida Ch, dan Cucu Zenab Subarkah

Abstrak
Konsep ikatan kimia merupakan konsep yang mendasar dan penting untuk memahami berbagai topik dalam
ilmu kimia. Konsep tersebut dinilai sulit oleh siswa. Kesulitan tersebut terletak pada ketidakmampuan siswa
dalam mengorganisasikan ketiga level pengetahuan secara sistematis. Pada konsep ikatan kimia khususnya,
siswa tidak dapat memvisualisasikan yang terjadi pada level submikroskopik (molekuler) kemudian
menghubungkannya dengan level makroskopik (laboratorium) dan simbolik. Hal tersebut juga diakibatkan
proses belajar yang masih berpusat pada guru, dan kurangnya media pembelajaran yang menarik. Peran
media pembelajaran sebagai alat bantu dapat menjembatani konsep abstrak seolah menjadi konkret
melalui visualisasi. Salah satu teknik visualisasi adalah dengan menggunakan media komputer berupa
animasi. Animasi pada tingkat molekuler dapat mendorong proses pembelajaran yang efektif. Penelitian ini
bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berupa animasi yang digunakan untuk pembelajaran
ikatan kimia di kelas. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D), model
pemrosesan informasi audiovisual digunakan untuk mendesain animasi pembelajaran. Pre-test dan post-test
digunakan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media animasi dalam pembelajaran konsep ikatan
kimia. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa penggunaan media animasi dapat meningkatkan
pemahaman siswa pada konsep ikatan kimia.
Kata-kata kunci: media pembelajaran, animasi, ikatan kimia
Pendahuluan
Ilmu kimia akan menjadi pengetahuan yang
utuh manakala mampu menjelaskan fenomena
kimia melalui tiga level representasi meliputi
representasi makroskopik, submikroskopik dan
simbolik (J honstone dalam Chittleborough et al,
2002). Konsep ikatan kimia merupakan konsep
yang mendasar dan penting untuk memahami
berbagai topik dalam ilmu kimia, juga memiliki
ketiga level representasi tersebut. Berdasarkan
hasil studi pendahuluan di Madrasah Aliyah Negeri
J ampangtengah terhadap 20 orang siswa kelas X
semester I menunjukan sebagian besar siswa
mengalami kesulitan ketika diminta menjelaskan
proses yang terjadi pada terbentuknya ikatan kimia.
Kesulitan tersebut terletak pada ketidakmampuan
siswa dalam mengorganisasikan ketiga level
pengetahuan secara sistematis. Siswa tidak dapat
memvisualisasikan yang terjadi pada level
molekuler (submikroskopik) kemudian
menghubungkannya dengan level makroskopik
dan simbolik (Tasker, 2006). Hal tersebut juga
diakibatkan proses belajar yang masih berpusat
pada guru, dan kurangnya media pembelajaran
yang menarik. Dalam suatu proses belajar
mengajar, dua unsur yang amat penting adalah
metode mengajar dan media pembelajaran. Media
pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan
dan informasi sehingga dapat memperlancar dan
meningkatkan proses dan hasil belajar
(Azhar,2002). Peran media pembelajaran sebagai
alat bantu dapat menjembatani konsep abstrak
seolah menjadi konkret melalui visualisasi. Salah
satu teknik visualisasi adalah dengan
menggunakan media komputer berupa animasi.
Animasi pada tingkat molekuler dapat mendorong
proses pembelajaran yang efektif (Tasker, 2006)
Berdasarkan uraian di atas, peneliti
mengadakan penelitian pembuatan media
pembelajaran dalam bentuk animasi berbasis
komputer pada konsep ikatan kimia. Dengan
pembuatan media pemebelajaran tersebut
diharapkan dapat membantu siswa dalam
memahami konsep ikatan kimia.
Metode
Metode penelitian yang digunakan adalah
penelitian dan pengembangan (Research and
Development/R&D). Pembuatan media animasi
dilakukan dalam tiga tahap. Tahap I, perencanaan:
1). Menganalisis kurikulum supaya media yang
dibuat tidak melenceng dari kurikulum. 2).
Menganalisis buku teks dari berbagai sumber,
seperti buku teks kimia mengenai konsep ikatan
kimia serta dari sumber lain yang mendukung
dengan tujuan menggali konsep yang akan
dikembangkan. 3). Pembuatan skenario atau alur
cerita yang menjadi panduan dalam pembuatan
media animasi. 4).Pembuatan story board atau
papan cerita, dimaksudkan agar mempermudah
pembacaan isi cerita secara visual. Tahap II,
pengintegrasian elemen-elemen media
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 34
menggunakan program aplikasi macromedia flash
professional 8. Pembuatan media ini menuntut
berbagai presentasi grafis, video, dan audio.
Pengintegrasian gambar untuk objek tak bergerak
dari hasil photo atau scan dan pembuatan gambar
vector dengan menggunakan aplikasi Adobe
Photoshop cs dan Coreldraw X4. Tahap III, uji
coba media: tahap ini merupakan tahap uji coba
terbatas dengan menggunakan desain Single one
shot Case Study dan pemberian angket. Media
pembelajaran dalam bentuk animasi tahap awal
(prototype) yang telah dihasilkan, diujikan kepada
siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri
J ampangtengah untuk mendapatkan data. Uji pre-
test dan post-test kemudian dianalisis
menggunakan N-gain untuk mengetahui
signifikansi pembelajaran dengan berbantuan
media. Pemberian angket dilakukan untuk
mengetahui tanggapan dari siswa. Apabila
hasilnya tidak signifikan, maka dilakukan perbaikan
berdasarkan respon siswa. Sehingga dihasilkan
media pembelajaran animasi berbasis komputer
yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran
ikatan kimia di kelas.
Tahapan tersebut diatas dapat digambarkan
seperti berikut:

Gambar 1. Tahapan Penelitian Pembuatan Media
Pembelajaran berupa Animasi berbasis Komputer
pada Konsep Ikatan Kimia.
Hasil dan diskusi
Tahapan proses pemproduksian media
animasi dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan, supaya dihasilkan media
pembelajaran yang benar-benar efektif ketika
diaplikasikan dan digunakan oleh guru dalam
proses pembelajaran. Tahap-tahap proses
pemproduksian media pembelajaran meliputi,
analisis wacana buku teks, identifikasi elemen
media, transformasi hasil analisis wacana ke
dalam bentuk presentasi, pembuatan skenario,
dan pengintegrasian seluruh elemen media
menggunakan program aplikasi macromedia flash
professional 8.
Media pembelajaran ini menyajikan
presentasi dalam bentuk grafis, audio, video dan
animasi. Meliputi proses pembentukan ikatan ion,
ikatan kovalen, pelarutan senyawa ionik, dan
polarisasi ikatan. Berikut tabel hasil yang diperoleh
setelah pengujian dilakukan terhadap siswa kelas
X Madrasah Aliyah Negeri J ampangtengah
kabupaten Sukabumi (N =40).
Tabel 1. Hasil Uji Pre-test dan Post-test
Pre-test Post-test
Konsep/sub
Konsep
M SD M SD
N-
gain
Pembentukan
ikatan ion
4,3 0,6 6,7 0,9 0,4
Pelarutan
senyawa ion
3,8 1,0 6,6 0,8 0,5
Pembentukan
ikatan kovalen
3,5 0,6 5,8 0,6 0,4
Polarisasi ikatan
kovalen
3,4 0,5 5,5 0,5 0,3
Rerata 3,7 0,7 6,1 0,7 0,4
Berdasarkan Tabel 1. di atas, dapat
diinterpretasikan bahwa terdapat peningkatan
pemahaman siswa terbukti dengan peningkatan
skor rerata (M) pre-test terhadap rerata (M) post-
test dengan rerata N-gain sebesar 0,4 kategori
sedang. Skor N-gain terkecil atau nilai dibawah
rerata diperoleh pada konsep polarisasi ikatan
kovalen yaitu sebesar 0,3 dari rerata N-gain 0,4.
Sementara itu skor N-gain tertinggi diatas rerata
diperoleh pada konsep pelarutan senyawa ion
yaitu sebesar 0,5. Sedangkan konsep
pembentukan ikatan ion dan pembentukan ikatan
kovalen memperoleh skor sama dengan rerata
yaitu sebesar 0,4. Dibawah ini adalah grafik yang
menunjukan rerata peningkatan pre-test terhadap
post-test.

Gambar 2. Grafik rerata skor pre-test dan post-test.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 35
Sementara itu, diperoleh tanggapan siswa
melalui angket, seperti yang ditunjukan pada tabel
dibawah ini:
Tabel 2. Tanggapan siswa terhadap media
pembelajaran yang telah dibuat.
Persentase
No Kriteria
S
a
n
g
a
t

b
a
i
k

B
a
i
k

C
u
k
u
p

K
u
r
a
n
g

B
u
r
u
k

1 penggunaan
navigasi
47 47 6 0 0
2 interface (bentuk
tampilan)
46 48 6 0 0
3 kejelasan atau
kualitas isi
26 50 24 0 0
4 bentuk grafis
(gambar diam)
46 39 15 0 0
5 bentuk animasi
(objek bergerak)
72 22 6 0 0
6 kecepatan akses
data.
26 60 14 0 0
7 kesesuaian
warna
26 63 8 3 0
8 ukuran teks 0 59 22 19 0
9 gaya bahasa 27 41 26 6 0
10 pertanyaan dan
format latihan
37 37 20 6 0
Tanggapan siswa mengenai kualitas media
menunjukan bahwa: penggunaan navigasi
(tombol-tombol petunjuk), interface (bentuk
tampilan), kejelasan atau kualitas isi materi, bentuk
grafis, animasi, kecepatan akses data, kesesuaian
warna, ukuran teks, gaya bahasa, pertanyaan dan
format latihan, secara umum menyatakan baik.
Konsep pembentukan ikatan ion, pelarutan
senyawa ionik, pembentukan ikatan kovalen, dan
polarisasi ikatan kovalen, sesungguhnya
merupakan konsep abstrak yang terkadang siswa
sulit untuk memahaminya. Dengan
memvisualisaikan (teknik animasi) pada konsep
tersebut, dapat memperlihatkan hubungan yang
terjadi pada tingkat submikroskopik dengan tingkat
makroskopik. Menurut Sweller (dalam Tasker,
2006), tingkat kompleksitas informasi atau materi
yang sedang dipelajari (muatan kognitif intrinsik),
dapat diminimumkan melalui teknik penyajian
materi yang baik. Ketika muatan kognitif intrinsik
menjadi minimum, diikuit oleh muatan kognitif
ekstrinsik (teknik penyajian materi), maka besar
kemungkinan untuk terjadinya proses konstruksi
(akuisisi skema) pengetahuan, sehingga memori
kerja dapat mengorganisasikan, mengkonstruksi,
mengkoding, mengelaborasi dan
mengintegrasikan materi yang sedang dipelajari
sebagai pengetahuan yang tersimpan dengan baik
di memori jangka panjang. Penyajian secara audio
visual dinilai mampu membantu siswa memahami
konsep yang selama ini dianggap sulit. Menurut
Mayer (1997), bahwa multimedia pembelajaran
harus mempunyai beberapa prinsip dasar
diantaranya: 1). multiple representation principle.
Penjelasan yang menuntut multi representasi baik
visual maupun verbal. 2). contiguity principle.
Penjelasan multimedia harus mempunyai
keterhubungan yang sesuai. 3). split attention
principle. Kata-kata yang disajikan secara auditori
(diucapkan) lebih baik dari pada secara visual
berupa teks dalam layar.
Tanggapan siswa mengenai kualitas media,
secara umum memperoleh tanggapan positif.
Sehingga media yang dibuat layak digunakan
untuk membantu proses pembelajaran di kelas.
Tampilan grafis dalam suatu multimedia bertujuan
untuk memvisualisasikan konsep yang ingin
disampaikan kepada siswa, dan bentuk tampilan
yang menarik bagi siswa dapat membangkitkan
minat dan perhatian (Azhar, 2002). Namun
demikian masih terdapat kekurangan terutama
pada tampilan berupa ukuran teks sebesar 19%
menyatakan kurang sisanya 22% menyatakan
cukup dan 59% menyatakan baik, sehingga
perbaikan media masih harus dilakukan.
Kesimpulan
Proses pembuatan media dilaksanakan
melalui tiga tahap, diantaranya tahap perencanaan,
tahap pengintegrasian media, dan tahap uji coba
media. Bentuk visualisasi yang digunakan adalah
teks, grafis, dan animasi. Pembelajaran dengan
bantuan media animasi dapat meningkatkan
pemahaman siswa pada konsep ikatan kimia
kategori sedang dengan rerata N-gain sebesar 0,4.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Euis Nursaadah, M.Pd atas bimbingan dan
dikusinya yang bermanfaat.
Referensi
[1] Chittleborough, Gail D et all., Constrain to
the development of first year university
chemistry students mental model of chemical
phenomena, Theaching and Learning Forum
2002: Focusing on the Student, (2002).
[2] R. Tasker and D.. Rebecca, Reasearch into
practice: visualization of the molecular world
using animation, J ournal of Chemistry
Education Research and Practice, 7(2), 141-
159, (2006).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 36
[3] A. Arsyad, Media Pembelajaran, Rajawali
press, J akarta, (2002).
[4] R. E. Mayer, dan M. Roxana, A Cognitive
Theory of Multimedia Learning: Implication for
Design Principles, J ournal of Educational
Technologies, (24) 345-376, (1997).
[5] M. Yayon and R. Mamlok, Characterizing
and Representing Students Conceptual
Knowledge of Chemical Bonding, J ournal of
Chemistry Education Research and Practice,
(2012).
[6] Anonim, Simulasi Uji Larutan Elektrolit, URL
http://www.agussuwasono.com/ilearning/Elekt
rolit.swf, [diakses tanggal 5 April 2012]
[7] Anonim, Chemical Bonds, URL
http://www.bcs.whfreeman.com/thelifewire/co
ntent/chp02/0201s.swf,
[diakses tanggal 5 April 2012]
[8] Anonim, Ionic Bonds URL
http://g.web.umkc.edu/gounevt/Animations/An
imations211/IonicvsCovalentBonds.swf,
[diakses tanggal 5 April 2012]

Andri Agustina*
MAN J ampangtengah Purabaya
agustina.andri3@gmail.com
Ida Farida Ch.
Pendidikan Kimia UIN Sunan Gunung Djatii Bandung
farchemia65@gmail.com
Cucu Zenab Subarkah
Pendidikan Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung
zenabsc@gmail.com
*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 37
Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Melalui Pembelajaran
Berbasis Proyek pada Konsep Pemisahan Campuran
Andri Arifiadi*, Cucu Zenab S, dan Risa Rahmawati S

Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis keterampilan proses sains siswa berdasarkan tahapan pembelajaran
berbasis proyek pada konsep pemisahan campuran dengan metode destilasi. Model pembelajaran berbasis
proyek terdiri dari tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode penelitian kelas dan subjek penelitiannya adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2
Talaga kabupaten Majalengka yang terdiri dari 21 orang siswa. Instrumen penelitian terdiri dari deskripsi
pembelajaran, lembar kerja siswa dan penilaian lembar observasi. Data yang diperoleh diolah menggunakan
statistik deskriptif. Berdasarkan analisis data hasil belajar siswa pada tahap perencanaan mendapat nilai
100, tahap pelaksanaan mendapat nilai 67,42 , dan evaluasi mendapat nilai 80.
Kata-kata kunci: Keterampilan proses sains; pembelajaran berbasis proyek; pemisahan campuran
Pendahuluan
Keterampilan Proses Sains (KPS)
merupakan suatu pendekatan belajar-
mengajar yang mengarah pada
pengembangan sejumlah keterampilan
tertentu pada diri siswa agar mampu
memproses informasi atau hal-hal baru yang
bermanfaat baik berupa fakta, konsep,
maupun pengembangan sikap dan nilai
(Dwiyanti, 2005).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka perlu
suatu proses pembelajaran yang dapat
mengembangkan KPS. Pembelajaran yang
memungkinkan terjadinya hal tersebut adalah
dengan pembelajaran berbasis proyek. Beberapa
penelitian mengenai metode proyek sebagai salah
satu metode pembelajaran, diantaranya yaitu:
Donnel (2007) menerapkannya dalam kimia
analitik untuk melatih keterampilan proses sains.
Sedangkan Rahmadani (2012) menerapkannya
dalam konsep pemisahan campuran untuk
meningkatkan keterampilan proses sains dan
penguasan konsep.
Berdasarkan studi pendahuluan di SMP
Negeri 2 Talaga kabupaten Majalengka
memperlihatkan bahwa dalam pembelajaran IPA,
siswa cendrung menghafal teori, konsep, dan
prinsip tanpa menghubungkannya dengan
pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, serta
masih adanya pembelajaran yang berpusat pada
guru dalam pembelajaran IPA. Selain itu disekolah
tersebut tidak ada alat praktikum kimia yang
mendukung untuk melakukan praktikum
pemisahan campuran khususnya dengan metode
destilasi.

Teori
Proyek jika diartikan mempunyai makna
maksud atau rencana.
pengertian pembelajaran proyek adalah
salah satu cara pemberian pengalaman
belajar dengan menghadapkan anak
dengan persoalan sehari-hari yang harus
dipecahkan secara berkelompok (Wena,
2011).
Sehingga siswa mempunyai kemandirian
dalam menyelesaikan tugas yang dihadapi.
Pembelajaran berbasis proyek, dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran berbasis proyek merupakan
pembelajaran yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk menyalurkan,
mengembangkan dan meningkatkan kreativitas
siswa.
selain itu pembelajaran berbasis proyek
memuat tugas yang kompleks berdasarkan
kepada pertanyaan dan menuntut siswa
untuk merancang, membuat keputusan,
melakukan observasi serta memberikan
kesempatan kepada siswa untuk bekerja
secara mandiri (Thomas dalam Wena, 2011).
Karakteristik dari pembelajaran berbasis
proyek ini menunjukan bahwa pembelajaran
tersebut berhubungan erat dengan KPS siswa,
dimana pembelajaran berbasis proyek ini
membantu siswa agar memiliki kemampuan untuk
mengembangakan KPS seperti dalam hal
merencanakan percobaan, melakukan
pengamatan dan menerapkan konsep.
Dengan mengembangakn keterampilan
proses anak mampu menemukan dan
mengembangakan sendiri fakta dan konsep
serta menumbuhkan dan mengembangakan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 38
sikap dan nilai yang dituntut (Semiawan et.al,
1992).
Salah satu konsep yang memungkinkan untuk
diterapkan dalam pembelajaran berbasis proyek
adalah konsep pemisahan campuran. Hal ini
sesuai dengan kompetensi dasar pada konsep
pemisahan campuran.
Salah satu metode pemisahan campuran
yang dapat digunakan dalam kehiduapn
sehari-hari adalah prinsip destilasi (Sarifudin,
2002).
Destilasi yaitu metode pemisahan campuran
yang didasarkan pada perbedaan titik didih. Cara
ini dapat digunakan untuk memisahkan campuran
yang mempunyai titik didih berbeda.
Prosedur
Penelitian yang dilakukan dibagi menjadi tiga
tahap, yaitu:
Perencanaan
Guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok.
Pembagian kelompok berdasarkan hasil nilai
ulangan sebelumnya.
Guru menjelaskan secara rinci rencana proyek
yang akan dikerjakan. Hal ini penting dilakukan
agar pada saat mengerjakan proyek, siswa lebih
mengerti prosedur kerja yang akan dikerjakannya.
Siswa mencari literatur tentang pemisahan
campuran serta teknik pemisahan campuran dan
mencari alat bahan yang diperlukan untuk
dijadikan sebagai literatur dan untuk
menyelesaikan permasalahan proyeknya.
Pelaksanaan
Guru memberikan wacana berdasarkan kelompok
proyek. Dari wacana tersebut, siswa akan
mengidentifikasi masalah dan merumuskannya
dalam sebuah proyek. Wacana yang diberikan
kepada siswa berupa permasalahan yang dapat
mereka temukan sehari-hari. Dari masalah-
masalah tersebut, siswa diharapakan dapat
memecahkan dan memilih dan menggunakan
metode pemisahan campuran yang tepat yaitu
melalui metode destilasi.
Setiap siswa bersama anggota kelompoknya
membuat alat destilasi sederhana sesuai dengan
langkah-langkah yang mereka buat. Guru
membimbing setiap kelompok dan memberikan
bantuan apabila siswa memerlukannya. Setiap
kelompok berdiskusi untuk merancang prosedur
percobaan yang akan mereka lakukan. Setelah
rancangan selesai, rancangan tersebut
dikonsultasikan kepada guru untuk melihat apakah
prosedur mereka sesuai. Setelah alat destilasi
sederhana selesai dan bahan telah tersedia, setiap
kelompok melaksanakan proyek pemisahan
campuran dengan menggunakan metode destilasi
sesuai prosedur yang telah mereka buat dengan
bimbingan guru. Selama mengerjakan proyek,
siswa dibimbing oleh guru untuk mengarahkan
siswa.
Evaluasi
Setiap kelompok mempresentasikan di depan
kelas, lalu sesi tanya jawab dari anggota kelompok
lain. Guru menilai persentasi siswa.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah penelitian kelas. Metode ini dipakai karena
sesuai dengan kebutuhan peneliti yaitu untuk
mendapatkan informasi secara mendalam
mengenai perkembangan keterampilan proses
sains pada model pembelajarn berbasis proyek.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII
SMP Negeri 2 Talaga sebanyak satu kelas
berjumlah 21 siswa yang tebagi 11 orang siswa
laki-laki dan 10 orang siswa perempuan.
Tempat dan Waktu
Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Talaga
di kabupaten Majalengka. Penelitian dilaksanakan
pada hari senin pada tanggal 6 dan 13 Mei 2013.
Waktu yang dilaksanakan dalam penelitian ini
adalah 2x40 menit setiap pertemuan.
Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1. Teknik Pengumpulan Data

Hasil dan Diskusi
Keterampilan proses sains siswa pada setiap
tahap model pembelajaran berbasis proyek dapat
dianalisis berdasarkan perolehan nilai LKS yang
diberikan dalam setiap tahap. Analisis hasil belajar
siswa pada seluruh tahapan pembelajaran untuk
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 39
setiap kelompok belajar tersaji dalam Tabel 2
berikut:
Tabel 2. Nilai rata-rata KPS berdasarkan LKS pada
setiap tahap pembelajaran berbasis proyek
berdasarkan kelompok belajar

Berdasarkan Tabel 2 di atas, terlihat bahwa
tahap perencanaan merupakan tahap terbaik bagi
siswa, hal itu dapat dilihat dari perolehan nilai
rata-rata LKS pada tahap tersebut yang lebih
besar daripada LKS yang lain, yaitu mencapai 100.
Sedangkan tahap pelaksanaan merupakan tahap
yang perolehan nilainya paling rendah, yaitu hanya
mencapai 67,42.
Kelompok belajar yang memperoleh nilai rata-
rata LKS paling tinggi adalah kelompok satu
dengan perolehan nilai 83,66. Sedangkan
kelompok yang memperoleh nilai paling rendah
adalah kelompok empat dengan perolehan nilai
rata-rata 80,79. Secara keseluruhan, nilai rata-rata
yang diperoleh dapat dikategorikan baik sekali,
yaitu dengan nilai 82,47. Tabel di atas dapat
dituangkan ke dalam Gambar 1 berikut:

Gambar 1. Grafik nilai rata-rata KPS berdasarkan
LKS pada setiap pembelajaran berbasis proyek
berdasarkan kelompok belajar.
Nilai rata-rata setiap kelompok belajar secara
keseluruhan dapat disajikan ke dalam Gambar 2
berikut:

Gambar 2. Grafik nilai rata-rata KPS secara
keseluruhan tahapan pembelajaran berbasis
proyek berdasarkan kelompok belajar.
Analisis terhadap aspek proses dilakukan
berdasarkan nilai LKS dalam setiap tahap
pembelajaran terlihat bahwa LKS pada tahap
perencanaan mendapatkan nilai rata-rata terbaik
dengan nilai 100 yang termasuk kategori baik
sekali. Ini berarti pada tahap perencanaan, yaitu
KPS yang dikembangkan adalah menerapakan
konsep atau prinsip yang memiliki karakteristik
menjelaskan sesuatu peristiwa dengan
menggunakan konsep yang telah dimiliki berarti
KPS siswa sangat baik.
Nilai rata-rata paling rendah terdapat pada
tahap pelaksanaan, nilai rata-rata pada tahap
tersebut hanya mencapai 67,42 dengan perolehan
nilai tertinggi didapatkan oleh kelompok satu yaitu
hanya mencapai 70,97dan nilai terendah
didapatkan oleh kelompok dua dengan nilai 63,87.
Ini terjadi karena pada tahap pelaksanaan aspek
KPS yang dikembangkan sangat kompleks. Aspek
KPS yang dikembangkan adalah: a) melakukan
pengamatan yang memiliki karakteristik
menggunakan indera penglihat, pendengar,
pengecap, pembau, dan peraba serta
menggunakan fakta yang relevan dan memadai; b)
menafsirkan pengamatan yang memiliki
karakteristik mencatat setiap pengamatan,
menghubungkanhubungkan hasil pengamatan
dan menyimpulkan; c) merencenakan percobaan
atau penyelidikan yang memiliki karakteristik
menentukan alat dan bahan, menentukan langkah
kerja, menentukan cara mengolah data dan
menentukan apa yang diamati, diukur atau ditulis.
Tahap evaluasi untuk mengembangkan aspek
KPS berkomunikasi yang memiliki karakteristik
membaca grafik atau diagram dan menjelaskan
hasil percobaan mendapatkan nilai rata-rata 80
dengan perolehan nilai tertinggi didapatkan oleh
kelompok tiga yaitu mencapai 86,67 dan nilai
terendah didapatkan oleh kelompok empat dengan
nilai 73,33.
Hal ini menunjukan bahwa secara umum rata-
rata keterampilan proses sains siswa yang dikaji
dalam penelitian ini dikategorikan baik sekali.
Pembelajaran berbasis proyek merupakan
pembelajaran yang meberikan kesempatan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 40
kepada siswa untuk menyalurkan,
mengembangkan dan meningkatkan kreativitas
siswa.
Sejalan dengan pendapat Thomas (dalam
Wena, 2011:144) kerja proyek memuat
tugas-tugas yang kompleks berdasarkan
kepada pertanyaan dan permasalahan yang
sangat menantang, dan menuntut siswa
untuk merancang, memecahkan masalah,
membuat keputusan, melakukan kegiatan
insvestigasi, serta memberi kesempatan
kepada siswa untuk bekerja secara mandiri.
Penerapannya dalam pembelajaran berbasis
proyek siswa dapat bekerja sama, saling
menghargai dan berkomunikasi dengan teman
kelompoknya. Melalui pembelajaran berbasis
proyek siswa merancang sendiri proyek yang
harus mereka kerjakan, sehingga akan timbul rasa
ingin tahu dari setiap siswa dan akan melakukan
yan terbaik untuk menyelesaikan tugasnya.
Kesimpulan
Kemampuan siswa dalam menyelesaikan
lembar kerja siswa (LKS) setiap tahap pada model
pembelajaran berbeda-beda tetapi secara
keseluruahan nilai yang didapatkan baik. Pada
tahap perencanaan mendapat nilai rata-rata 100
dengan kategori baik sekali, tahap pelaksanaan
mendapat nilai rata-rata 67,42 dengan kategori
baik, tahap evaluasi menadapat nilai rata-rata 80
dengan kategori baik sekali. Keterampilan proses
sains siswa setelah mengikuti proses
pembelajaran berbasis proyek dikategorikan baik
sekali dengan nilai rata-rata 82,47. Dengan
demikian hasil belajar seluruh kelompok
dikategorikan baik sekali.
Ucapan terima kasih
Sebagai rasa syukur, penulis mengucapkan
terima kasih kepada Prodi Pendidikan Kimia
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD
Bandung atas dukungannya pada penelitian ini.



Referensi
[1] Donnel, M.C., OConnor, C. and Serry, M.K.,
Developing Practical Chemistry Skills by
Means of Students-driven Problem Based
Learning Mini-Projects, J ournal Chemistry
Education Research and Practice 8(2), 130-
139, (2007).
[2] Dwiyanti Gebi dan Siswaningsih,
Keterampilan Proses Sains Siswa Smu
Kelas II Pada Pembelajaran Kesetimbangan
Kimia Melalui Metoda Praktikum Kimia, Tesis
Magister, Universitas Pendidikan Indonesia,
(2005).
[3] Rahmadani Sri, Pembelajaran Berbasis
Proyek untuk meningaktkan Keterampilan
Proses Sains dan Penguasan Konsep Siswa
SMK Pada Pemisahn Campuran, Tesis
Magister, Universitas Pendidikan Indonesia,
(2012).
[4] Sarifudin Asep, Alat Destilasi Sederhana
Sebagai Wahana Pemanfaatan Barang
Bekas dan Media Edukasi Bagi Siswa SMA
untuk Berwirausaha Di Bidang Pertania,
Skripsi Sarjana, Institut Pertanian Bogor,
(2002).
[5] Semiawan Conny dkk, Pendekatan
Keterampilan Proses, Rasindo, J akarta,
(1992).
[6] Wena Made, Strategi Pembelajaran Inovatif
Kontemporer, Bumi Aksara, J akarta, (2011).


Andri Arifiadi*
Prodi Pendidikan Kimia
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN SGD Bandung
andriarifiadi@ymail.com
Cucu Zenab Subarkah
Prodi Pendidikan Kimia
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN SGD Bandung
Risa Rahmawati S.
Prodi Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN SGD Bandung
*Corresponding author


Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 41
Studi Awal Sintesis Material Katoda Lithium Besi Fosfat (LiFePO
4
)
dengan Metode Solvotermal pada Konsentrasi Tinggi
Anies Sayyidatun Nisa, dan Ferry Iskandar*

Abstrak
Lithium Besi Fosfat (LiFePO4) yang merupakan material katoda baterai lithium ion telah berhasil disintesis
dengan metode solvotermal. Proses sintesis dilakukan pada konsentrasi tinggi untuk meningkatkan efisiensi
sintesis. Bahan prekursor yang digunakan ialah LiOHH
2
O, FeSO
4
7H
2
O, H
3
PO
4
dan asam sitrat dengan
perbandingan mol 3:1:1:0,5. Penambahan asam sitrat dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan
oksidasi pada Besi (II) menjadi Besi (III). Hasil sampel dikarakterisasi menggunakan XRD dan didapatkan
puncak-puncak difraksi LiFePO
4
. Dengan menggunakan karakterisasi spektrometer FT-IR diketahui bahwa
terbentuk ikatan Fe-O, PO
4
dan ikatan karbon pada sampel.
Kata kunci: Baterai lithium ion, konsentrasi tinggi, LiFePO
4
, solvotermal.
Pendahuluan
Lithium Besi Fosfat (LiFePO
4
) merupakan
material katoda dari baterai lithium ion yang
memiliki kapasitas teoritik yang cukup tinggi yaitu
170 mAh/g. Selain itu LiFePO
4
memiliki kelebihan
tegangan stabil di ~3,5 V, murah karena bahan
dasarnya (besi) melimpah di alam, tidak memiliki
efek memori, dan ramah lingkungan. Namun
material ini memiliki kekurangan yaitu konduktivitas
elektronik dan koefisien difusi ion lithiumnya yang
rendah. Ada banyak cara yang sudah
dikembangkan untuk meningkatkan konduktivitas
elektronik dan ionik dan meningkatkan performa
katoda seperti coating karbon, coating dengan
logam atau logam oksida, doping dengan ion, dan
optimasi ukuran partikel dan morfologi [1]. Sintesis
LiFePO
4
telah dilakukan dengan berbagai metode
seperti solid state [2], sol-gel [3], spray pyrolisis [4],
microwave [5], karbotermal [6], hidrotermal [7],
solvotermal [8].
Metode solvotermal merupakan metode yang
baik digunakan untuk sintesis material ini karena
menghasilkan produk yang baik terutama dari segi
kemurniannya. Selain itu dengan menggunakan
metode ini maka akan memudahkan variasi kondisi
seperti suhu pemanasan dan waktu pemanasan
yang memengaruhi kualitas produk yang
didapatkan. Dari penelitian-penelitian sebelumnya
telah dilakukan pengamatan mengenai faktor suhu,
waktu pemanasan dan pH larutan prekursor [8].
Namun, belum ada penelitian mengenai pengaruh
peningkatan konsentrasi larutan prekursor dan
sintesis material dari larutan prekursor
berkonsentrasi tinggi. Sintesis yang dilakukan
harus memiliki efisiensi yang tinggi agar energi
yang digunakan tidak banyak terbuang. Salah satu
cara mengefisienkan proses sintesis ini adalah
dengan meningkatkan konsentrasi larutan
prekursor yang digunakan agar mendapatkan
produk dengan kuantitas yang lebih besar. Oleh
karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan
sintesis dengan konsentrasi tinggi agar prosesnya
lebih efisien.
Teori
Material katoda LiFePO
4
memiliki struktur
berbentuk olivine dengan simetri orthorhombic.
Struktur olivine terdiri dari FeO
6
yang berbentuk
octahedra dan PO
4
yang berbentuk tetrahedra.
Lithium berada pada kisi kosong dekat dengan
FeO
6
. FeO
6
dan PO
4
saling menempel dan
membentuk zigzag skeleton. Pada kedua bentuk
ini terjadi sharing oksigen.
PO
4
melakukan edge-sharing dengan 1 FeO
6

dan 2 LiO
6
. Struktur PO
4
ini yang membuat fasa
LiFePO
4
tetap stabil saat proses pelepasan ion
lithium pada interkalasi [9]. Dalam proses
deinterkalasi pada katoda, ketika ion lithium
meninggalkan katoda maka akan dihasilkan satu
bentuk fasa FePO
4
yaitu isostruktural dengan
heterosite. Proses pelepasan ion lithium ini terjadi
karena adanya kontraksi pada bidang ab. Proses
yang terjadi saat interkalasi dan deinterkalasi pada
katoda LiFePO
4
adalah sebagai berikut.


xe xLi FePO Li LiFePO


x 4 ) 1 ( 4
(1)
Pelepasan ion lithium ini terjadi melalui proses
bi-phasic yang menghasilkan struktur akhir FePO
4
.
Struktur FePO
4
ini mengalami penyusutan volume
sebesar 6.8% dan kenaikan rapat massa sebesar
2.59% dibandingkan dengan struktur LiFePO
4

sebelumnya. Namun, perubahan ini tidak terlalu
berpengaruh pada katoda dan dikategorikan stabil.
Proses penyisipan dan pelepasan ion lithium pada
LiFePO
4
terbatas sampai 0,6 Li
+
/mol dengan
keadaan arus rendah [10].
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 42
Eksperimen
Prekursor yang digunakan dalam eksperimen
ini terdiri dari LiOHH
2
O (Merck), FeSO
4
7H
2
O
(Merck), H
3
PO
4
(Bratachem) dan asam sitrat
(Bratachem) dengan perbandingan mol 3:1:1:0,5.
Asam sitrat berfungsi untuk meminimalisasi
oksidasi Fe
2+
menjadi Fe
3+
. Bahan-bahan
dilarutkan dalam pelarut yang terdiri dari ethylene
glycol dan air dengan perbandingan 3:2 di 100 ml.
Prekursor dimasukkan ke dalam autoclave dan
dilakukan pemanasan pada suhu 180C selama 8
jam dengan proses pengadukan. Selanjutnya
larutan didinginkan, disentrifugasi selama 30 menit
pada 2500 rpm. Endapan yang didapatkan dicuci
menggunakan aquadest, disaring dan dikeringkan
pada suhu 70C selama 30 menit.

Gambar 1. Skema metode sintesis LiFePO
4
.
Variasi konsentrasi prekursor yang telah
berhasil disintesis ialah:
Tabel 1. Variasi konsentrasi prekursor.
Bahan
Larutan
Li
(M)
Fe
(M)
PO
4

(M)
Asam
Sitrat
(M)
A 0.3 0.1 0.1 0.05
B 0.6 0.2 0.2 0.1
Perbandingan 3 1 1 0.5

Karakterisasi material yang digunakan ialah
dengan menggunakan XRD Philips Analytical
PW1710 BASED dengan spesifikasi radiasi Cu K
( = 1.54 ) pada 40 kV dan 35 mA untuk
menentukan jenis material yang dihasilkan dan
untuk mengukur diameter kisi kristal. Selain itu
digunakan juga FT-IR untuk mengetahui ikatan
kimia yang ada pada material dan fasa material.
FT-IR yang digunakan memiliki spesifikasi
spektrometer Bruker ALPHA.
Hasil dan Diskusi
Gambar 2 merupakan serbuk sampel setelah
melalui proses pengeringan. Serbuk berwarna abu
kehijauan yang menandakan Fe
2+
tidak teroksidasi
menjadi Fe
3+
. Jika Fe
2+
teroksidasi maka serbuk
yang dihasilkan cenderung berwarna coklat
kemerahan. Hal ini menunjukan bahwa asam sitrat
benar berfungsi untuk meminimalisasi proses
oksidasi besi.

Gambar 2. Serbuk sampel LiFePO
4
hasil
pengeringan.
FT-IR berfungsi sebagai karakterisasi awal
untuk mengetahui ikatan-ikatan yang terbentuk
pada sampel. Dari hasil FT-IR (gambar 3, dan 4) 2
jenis larutan yang berbeda konsentrasi didapatkan
bahwa sampel sudah sama dengan referensi FT-
IR LiFePO
4
. Selain itu didapatkan juga bahwa
sudah terbentuk ikatan Fe-O pada rentang 500-
640 cm
-1
, PO
4
pada rentang 940-1120 cm
-1
. Pada
konsentrasi Li 0.3 M muncul puncak ikatan karbon
di rentang 1200-1800 cm
-1
. Hal ini dimungkinkan
adanya ethylene glycol yang tidak tercuci dengan
baik sehingga muncul puncak karbon.

Gambar 3. Hasil FT-IR larutan prekursor dengan
konsentrasi LiOH 0.3 M.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 43

Gambar 4. Hasil FT-IR larutan prekursor dengan
konsentrasi LiOH 0.6 M.
Hasil XRD yang didapatkan pada gambar 5
menunjukan kecocokan dengan referensi
JCPDS#81-1173 pada sampel dengan konsentrasi
LiOH 0.3 M dan 0.6 M. Dapat disimpulkan bahwa
sintesis ini sudah berhasil dilakukan pada
konsentrasi cukup tinggi yaitu 6 kali lipat
dibandingkan yang dilakukan oleh Miao dkk [11].
Dari data diharapkan semakin tinggi konsentrasi
prekursornya maka kristalinitasnya cenderung
semakin tinggi. Selain itu impuritas yang
didapatkan pun diharapkan akan semakin
berkurang dengan meningkatnya konsentrasi
prekursor. Dengan menggunakan persamaan
Scherrer dari sudut intensitas tertinggi (25,6)
untuk masing-masing konsentrasi didapatkan
ukuran kristal ialah 55.92 nm dan 73.15 nm.

Gambar 5. Hasil XRD tiga jenis sampel.
Kesimpulan
Material LiFePO
4
telah berhasil disintesis
dengan metode solvotermal pada
konsentrasi LiOH dalam larutan prekursor 0.3 M
dan 0.6 M. Dari hasil FT-IR didapatkan bahwa
terbentuk ikatan Fe-O, PO
4
. Dari hasil XRD
didapatkan bahwa sampel sudah sesuai dengan
data JCPDS#81-1137. Semakin tinggi konsentrasi
maka kemurnian dan kristalinitasnya cenderung
meningkat. Sintesis ini masih memungkinkan
dilakukan pada konsentrasi yang lebih tinggi.
Ucapan terima kasih
Penelitian ini dibiayai oleh Program Mobil
Listrik Nasional tahun 2013 dari DIKTI Mendiknas.
Referensi
[1] Y. Zhang, Q.-Y. Huo, & P.-p. Du, Advances
in new cathode material LiFePO
4
for lithium-
ion batteries, Synthetic Metals 162, 1315-
1326 (2012).
[2] A. K. Padhi, K. S. Nanjundaswamy, and J. B.
Goodenough, Phospho-olivines as Positive-
Electrode Materials for Rechargeable Lithium
Batteries, J. Electrochem. Soc.144, 4 (1997).
[3] F. Croce, A. DEpifanio, J. Hassoun, A.
Deptula, T. Olczac, and B. Scrosati, A Novel
Concept for the Synthesis of an Improved
LiFePO
4
Lithium Battery Cathode,
Electrochemical and Solid-State Letters 5, A-
47-A50 (2002).
[4] S. L. Bewlay, K. Konstantinov, G. X. Wang, S.
X. Dou, and H. K. Liu, Conductivity
Improvements to Spray-Produced LiFePO
4
by
Addition of a Carbon Source, Material Letters
58, 1788-1791 (2004).
[5] M. Higuchi, K. Katayama, Y. Azuma, M.
Yukawa, and M. Suhara, Synthesis of
LiFePO
4
Cathode Material by Microwave
Processing, Journal of Power Source 119-
121, 258-261 (2003).
[6] J. Barker, M. Y. Saidi, and J. L. Swoyer,
Lithium Iron(II) Phospho-Olivines Prepared
by a Novel Carbothermal Reduction Method,
Electrochemical and SolidState Letters 6, A-
53-A55 (2003).
[7] S. Yang, P. Y. Zavalij, and M. S. Wittingham,
Hydrothermal Synthesis of Lithium Iron
Phosphate Cathodes, Electrochemistry
Communications 3, 505-508 (2001).
[8] L. Wang, W. Sun, X. Tang, & X. Huang,
Nano particle LiFePO
4
prepared by
solvothermal process, Journal of Power
Sources , 1-7 (2013)
[9] O. Toprakci, A.K. Toprakci, X. Zhang,
Fabrication and Electrochemical
Characteristics of LiFePO
4
Powders for
Lithium Ion Batteries, KONA Powder and
Particle Journal (2010)
[10] G.-A. Nazri, & Gianfranco, Lithium Batteries
Science and Technology, Springer
[11] W. Miao, W. Zhaohui, & Y. LiXia,
Morphology-controllable solvothermal
synthesis of nanoscale LiFePO
4
in binary
solvent, Chinese Science Bulletin , 4170-
4175 (2012).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 44

Anies Sayyidatun Nisa
Kelompok Keahlian Fisika Material Elektronik, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
anies.s.nisa@s.itb.ac.id
Ferry Iskandar*
Kelompok Keahlian Fisika Material Elektronik,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
ferry@fi.itb.ac.id

*Corresponding author

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 45
Eksplorasi Konsep Barisan Dengan Metode Pembelajaran Berbasis
Komputer
Anjani Kusumaningsih* dan Agus Yodi Gunawan

Abstrak
Perkembangan ilmu dan teknologi sangat mempengaruhi dunia pendidikan saat ini. Telah banyak
diperkenalkan model pembelajaran berbasis teknologi, yaitu pembelajaran berbasis komputer atau CBL
(Computer Based Learning), dengan tujuan mempermudah penyampaian materi tanpa mengurangi inti dari
materi tersebut. Dengan media komputer di dalam proses pembelajaran, diharapkan proses belajar
mengajar menjadi lebih kreatif dan kompetitif, khususnya dalam bidang matematika diharapkan siswa dapat
mengeksplorasi kemampuannya dalam bermatematika serta menginterpretasikannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam penelitian ini kita akan membahas salah satu topik pembelajaran matematika pada
tingkat sekolah menengah, yakni mengenai konsep-konsep dasar teori barisan yang difokuskan pada
barisan Fibonacci dan barisan yang diturunkan dari persamaan beda, ditinjau dari aspek geometris dan
analitis. Selanjutnya, akan dibuat simulasi sederhana menggunakan aplikasi komputer untuk
memvisualisasikan konsep barisan tersebut.
Kata Kunci : CBL (Computer Based Learning), Barisan, Fibonacci, Persamaan Beda, Geometris, Analitis
Pendahuluan
Penelitian dilakukan berdasarkan studi literatur
mengenai konsep dasar barisan dan peranannya
dalam berbagai aspek. Pada penelitian ini
difokuskan pada barisan Fibonacci dan barisan
yang diturunkan dari persamaan beda, yang
kemudian dibuat simulasinya. Pemahaman konsep
barisan dan persamaan beda merujuk pada buku
[1-3], pembahasan simulasi numerik merujuk pada
buku [4], dan proses pemrograman untuk
membuat simulasi merujuk pada buku [5-6].
Tujuan dari penelitian ini adalah membuat
suatu program simulasi sederhana mengenai
konsep dasar barisan yang dapat dikembangkan
siswa untuk mengeksplorasi macam-macam
bentuk barisan. Visualisasi dari simulasi ini penting
untuk membantu siswa dalam memahami konsep
kekonvergenan suatu barisan. Konsep-konsep
dasar teori barisan yang terkait akan dijelaskan
dalam bagian Teori dan hasilnya akan dibicarakan
dalam bagian Hasil dan diskusi.
Teori
Di sekolah menengah barisan diperkenalkan
sebagai kumpulan bilangan yang terurut dengan
pola atau aturan tertentu. Barisan memiliki anggota
yang disebut suku, dimana setiap suku berikutnya
bergantung pada suku-suku sebelumnya sesuai
dengan aturan dalam barisan tersebut. Pada
dasarnya barisan merupakan sebuah fungsi
dengan anggota himpunan asal (domain) adalah
himpunan bilangan asli dan anggota himpunan
kawan (kodomain) adalah himpunan suku-suku
barisan tersebut.
Pada bilangan real, suatu barisan dapat
dinyatakan sebagai suatu fungsi pada bilangan
asli, N , dengan daerah hasil (range) dalam
bilangan real, R . J adi, barisan adalah fungsi
R : N X dimana untuk setiap N e n nilai
fungsi ( ) n X ditulis sebagai
( ) :
n
n x X = ,
dan disebut suku ke- n barisan X . Notasi yang
digunakan adalah
X, { }
n
x , { } :
n
x neN .
Dalam barisan, salah satu metode untuk
menentukan suku ke- n adalah dengan metode
rekursif yaitu metode matematika yang digunakan
untuk menentukan suku dalam barisan
menggunakan satu atau lebih suku-suku
sebelumnya. Barisan yang menggunakan fungsi
rekursif adalah barisan Fibonacci. Barisan ini
pertama kali dipelajari oleh Leonardo da Pisa
ketika membahas pertumbuhan ideal dari populasi
kelinci.
Sepasang kelinci dewasa melahirkan
sepasang bayi kelinci hanya satu kali setiap
bulan. Setiap pasang bayi kelinci
membutuhkan waktu satu bulan untuk
tumbuh menjadi kelinci dewasa dan
kemudian melahirkan sepasang bayi kelinci
lagi bulan berikutnya. Tentukan banyaknya
pasangan seluruh kelinci dewasa setelah
beberapa bulan jika diasumsikan setiap
kelinci tidak pernah mati.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 46
Misalkan f
n
adalah banyaknya pasangan kelinci
dewasa pada bulan ke-n dan b
n
adalah banyaknya
pasangan bayi kelinci pada bulan ke- n . Kita
asumsikan pada saat bulan ke-0 hanya ada
sepasang bayi kelinci, sehingga
0
0 f = . Maka
berlaku
1 1 n n n
f f b

= + . Karena
1 2 n n
b f

= , maka
diperoleh

1 2
,
n n n
f f f

= + (1)
dengan
0
0 f = dan
1
1 f = .
Tabel 1. Banyaknya pasangan bayi kelinci,
n
b ,
banyaknya pasangan kelinci dewasa,
n
f , dan
banyaknya total pasangan kelinci, ( )
n n
b f + ,
sebagai fungsi dari n bulan.
n
n
b
n
f ( )
n n
f b + n
n
b
n
f ( )
n n
f b +
0 1 0 1 6 5 8 13
1 0 1 1 7 8 13 21
2 1 1 2 8 13 21 34
3 1 2 3 9 21 34 55
4 2 3 5 10 34 55 89
5 3 5 8 11 55 89 144
Barisan dari banyaknya pasangan kelinci
dewasa pada bulan ke- n ,
{ } { } , 8 , 5 , 3 , 2 , 1 , 1 , 0 =
n
f , inilah yang kemudian
disebut dengan barisan Fibonacci dan persamaan
(1) dikenal sebagai fungsi rekursif untuk barisan
Fibonacci.
Hal menarik dari barisan Fibonacci adalah rasio
dari barisan ini yang mendekati ke suatu konstanta
tertentu untuk n yang besar, sehingga barisan
akan mendekati barisan Geometri dengan rasio r .
Tabel 2: Rasio barisan Fibonacci,
1 n n
f f .
n
n
f
1 n n
f f n
n
f
1 n n
f f
0 0 - 8 21 1.61539
1 1 - 9 34 1.61905
2 1 1 10 55 1.61768
3 2 2 11 89 1.61818
4 3 1.5 12 144 1.61798
5 5 1.66667 13 233 1.61806
6 8 1.6 14 377 1.61803
7 13 1.625 15 610 1.61804
Misalkan
n
n
f = , maka berdasarkan
persamaan (1) kita peroleh

1 2
2
2
1
1 0
n n n




= +
= +
=

sehingga diperoleh solusi yang memenuhi adalah
( ) 618033 . 1 2 5 1 ~ = . Dengan demikian,
kita peroleh

1
n
1
lim 1.618033
n
n
n
f
r
f

= = = ~ .
Bilangan 618033 . 1 ~ r tersebut disebut dengan
golden ratio.
Selanjutnya, persamaan beda menggambar-
kan perubahan waktu dari suatu fenomena atau
kejadian. Pada penelitian ini membahas mengenai
persamaan beda yang menggambar-kan
perubahan suatu waktu bergantung tepat pada
kejadian sebelumnya.
Misalkan
n
x adalah banyaknya populasi pada
generasi ke- n , maka banyaknya populasi pada
generasi ke- 1 + n ,
1 + n
x , adalah sebuah fungsi dari
generasi ke- n , yaitu
n
x .
( )
n n
x f x =
+1
. (2)
Misalkan
0
x adalah nilai awal, maka dapat
dibentuk sebuah barisan
( ) ( ) ( ) , , , ,
0
3
0
2
0 0
x f x f x f x
dengan

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
2 3
0 0 0 0
, ,
dst.
f x f f x f x f f f x = =

J ika fungsi f pada persamaan (2) kita ganti
dengan fungsi g , yaitu fungsi dari dua variabel
R R : Z
+
g dengan
+
Z adalah himpunan
bilangan bulat tak negatif dan R adalah himpunan
bilangan real, maka kita peroleh:
( )
n n
x n g x ,
1
=
+
. (3)
Kasus sederhana persamaan beda linear untuk
persamaan (3), yang disebut sebagai persamaan
beda linear homogen orde satu, dapat ditulis
sebagai berikut:
,
1 n n n
x a x =
+
,
0
0
x x
n
= n n s s
0
0 , (4)
dengan solusi

0
1
0
n
n i
i n
x a x

=
(
=
(
(

[
.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 47
Dan persamaan beda linear tak homogen dapat
ditulis sebagai berikut:
,
1 n n n n
b y a y + =
+
,
0
0
y y
n
= n n s s
0
0 , (5)
dengan solusi

0 0
1 1 1
0
1
n n n
n i i j
j n i n i j
y a y a b

= = = +
( (
= +
( (
(

[ [
.
Dengan asumsi bahwa 0 =
n
a dan
n
a dan
n
b
adalah fungsi yang bernilai real untuk n n s s
0
0 .
Pada persamaan diferensial, skema numerik
digunakan untuk mendekati solusi dari persamaan
diferensial. Skema numerik ini akan mendiskritisasi
persamaan diferensial menjadi sebuah persamaan
beda. Pada penelitian ini digunakan Metode Euler
untuk mencari solusi numerik dari persamaan
diferensial biasa orde satu.
Misalkan diberikan persamaan diferensial orde
satu sebagai berikut:
( ) ' ,
t t
x g t x = , (6)
dengan kondisi awal
0
0
x x
t
= dan dalam selang
waktu b t t s s
0
.
Diskritisasi interval | | b t ,
0
dengan membagi
sebanyak N subinterval dengan ukuran yang
sama, yang didefinisikan sebagai

0
b t
h
N

= ,
sehingga waktu t didefinisikan sebagai
N
t t t t , , , ,
2 1 0
dengan jh t t
j
+ =
0
.
Metode Euler akan mengaproksimasi
persamaan diferensial sebagai
( ) ' ,
t h t
t t
x x x
x g t x
t h
+
A
= = =
A
,
sehingga diperoleh
( )
t t h t
x t hg x x , + =
+
,
dimana nh t t + =
0
untuk 1 , , 2 , 1 , 0 = N n ,
sehingga diperoleh

( )
( )
nh t nh t h n t
x nh t hg x x
+ + + +
+ + =
0 0 0
,
0 1
.
Selanjutnya, dengan mensubstitusikan
n nh t
x x =
+
0
diperoleh persamaan beda
( )
n n n
x n hg x x ,
1
+ =
+
.
(7)
Persamaan (7) inilah yang kemudian digunakan
untuk memperoleh solusi numerik untuk
menghampiri solusi persamaan diferensial yang
sebenarnya.
Hasil dan diskusi
Hasil baru dalam penelitian ini adalah membuat
alat bantu visualisasi konsep barisan dalam bentuk
program sederhana (Visual Basic), dimana
program ini dapat dipahami oleh siswa tingkat
sekolah menengah.
Beberapa simulasi dibuat untuk menampilkan
grafik dari beberapa contoh barisan. Pada Gambar
1 memperlihatkan plot untuk ilustrasi barisan
Fibonacci,
1 2 n n n
f f f

= + . Dapat diduga bahwa
barisan ini merupakan barisan divergen. Pada
Gambar 2, memperlihatkan plot untuk rasio
barisan Fibonacci,
1 n n
f f . Terlihat bahwa grafik
menuju suatu nilai tertentu, sehingga untuk nilai n
yang sangat besar barisan Fibonacci merupakan
bentuk barisan Geometri. Pada Gambar 3,
memperlihatkan plot untuk persamaan beda linear
homogen orde satu, ,
1 n n n
x a x =
+
dengan 10 = n ,
5
1
= x , dan 3 = a , dimana barisan monoton naik
dan tak terbatas. Dan pada Gambar 4,
memperlihatkan plot untuk solusi persamaan
diferensial,
t t
kx x = ' , dengan 5 = k , 2
0
= x ,
01 . 0 = h , dan 100 = n , yang memperlihatkan
bahwa solusi numerik akan mendekati solusi
analitik.
Dari simulasi yang telah dibuat siswa dapat
mengeksplorasi pemahamannya mengenai konsep
barisan beserta peranannya, dengan cara
mengubah input sendiri dan membuat analisis
mengenai perubahan yang terjadi pada barisan
tersebut.

Gambar 1. Simulasi barisan Fibonacci, n = 11, , a
= b = 1, 0
0
= f , dan 1
1
= f .
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 48

Gambar 2. Simulasi rasio barisan Fibonacci,
11 = n , 1 = = b a , dan 1
1 0
= = f f .

Gambar 3. Simulasi persamaan beda linear
homogen orde satu, 10 = n , 5
1
= x , dan 3 = a .

Gambar 4. Simulasi solusi persamaan diferensial,
t t
kx x = ' , dengan 5 = k , 2
0
= x , 01 . 0 = h , dan
100 = n .
Kesimpulan
Melalui visualisasi dengan menggunakan
media komputer dari simulasi konsep barisan yang
telah dibuat, siswa dapat mengeksplorasi
kemampuannya mengenai barisan sehingga siswa
mengetahui macam-macam bentuk barisan dan
kekonvergenannya.
Berbagai macam bentuk barisan dengan pola
atau aturan yang kompleks membuat siswa
mengetahui bahwa barisan tidak hanya terbatas
pada barisan Aritmatika dan barisan Geometri saja.
Referensi
[1] Dunlap, Richard A., The Golden Ratio and
Fibonacci Numbers, World Scientific
Publishing Co.Pte.Ltd., London, (1997).
[2] Elaydi, Saber, An Introduction to Difference
Equations Third Edition, Springer
Science+Business Media, Inc., USA, (2005).
[3] Kelley, Walter G. and Allan C. Peterson,
Difference Equations An Introduction with
Applications, 2nd Edition, Academic Press,
USA, (2001).
[4] Mathews, J ohn H., Numerical Methods for
Mathematics, Science, and Engineering, 2nd
Edition, Prentice Hall, Inc., USA, (1987).
[5] Suryantoro, FI. Sigit, Visual Basic 2010
Programming, Wahana Komputer, Semarang,
(2012).
[6] Zak, Diane, Programming With Microsoft
Visual Basic 2010, Course Technology,
Boston, USA, (2012).


Anjani Kusumaningsih*
Program Studi Magister Pengajaran Matematika
Institut Teknologi Bandung
anjanikusumaningsih.ssi@gmail.com
Agus Yodi Gunawan
KK Matematika Industri dan Keuangan
Institut Teknologi Bandung
aygunawan@math.itb.ac.id
*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 49
Analisis Keterkaitan Kecerdasan Majemuk Terhadap Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa SMA Setelah Diterapkan Pembelajaran Berbasis
Kecerdasan Majemuk
Aprianti Opi Ceisar*, Winny Liliawati, dan J udhistira Aria Utama

Abstrak
Siswa SMA cenderung memiliki pemahaman yang rendah mengenai materi astronomi. Salah satu
penyebabnya adalah kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas belum dapat menumbuhkan
minat siswa untuk mempelajari astronomi. Sebagian besar Guru mengalami kesulitan dalam mengajarkan
materi astronomi, padahal materi astronomi sangat penting untuk dipelajari dan digali potensinya karena
astronomi memiliki daya tarik yang sangat kuat sehingga dapat menumbuhkan minat siswa untuk
mempelajari sains. Untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar dapat dilakukan dengan menciptakan
kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan, sesuai dengan kebutuhan, dan tepat sasaran. Menurut
Howard Gardner, setiap individu memiliki kecerdasan yang kompleks dan beragam. Setiap individu
memungkinkan untuk dapat memiliki lebih dari satu jenis kecerdasan. Untuk mengetahui profil kecerdasan
yang dikemukakan oleh Howard Gardner dapat dilakukan dengan mengisi angket profil kecerdasan
majemuk yang diadaptasi dari angket kecerdasan majemuk Thomas Amstrong. Pembelajaran berbasis
kecerdasan majemuk merupakan suatu pembelajaran yang menggabungkan aspek-aspek kecerdasan
majemuk dengan materi yang akan diajarkan, yaitu materi astronomi. Keterkaitan antara kecerdasan
majemuk dengan kemampuan berpikir kritis siswa dapat terlihat di dalam kegiatan belajar mengajar yang
dapat ditinjau langsung dengan lembar observasi aktivitas kecerdasan majemuk dan lembar observasi
aktivitas kemampuan berpikir kritis. Untuk dapat lebih mengetahui keterkaitan antara kecerdasan majemuk
dengan kemampuan berpikir kritis siswa, pada tahap akhir pembelajaran dilakukan test kemampuan berpikir
kritis siswa yang terdiri dari beberapa sub-kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam pembelajaran ini, siswa
benar-benar dituntut untuk berperan aktif, karena aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar sangat
mempengaruhi hasil penelitian yang diperoleh.
Kata-kata kunci: Kecerdasan Majemuk, Berpikir Kritis, Astronomi.
Pendahuluan
Siswa SMA cenderung memiliki pemahaman
yang rendah mengenai materi astronomi. Salah
satu penyebabnya adalah kegiatan belajar
mengajar yang terkesan seadanya. Hal tersebut
sesuai dengan penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa sebagian besar Guru kesulitan
dalam mengajarkan materi Astronomi di sekolah
(Winny, 2008 dalam Taufik Ramlan et al., 2009).
Sebagian besar Guru mengalami kesulitan dalam
mengajarkan materi astronomi karena dampak dari
perubahan kurikulum 2006 (KTSP) yang kembali
menggabungkan materi astronomi ke dalam mata
pelajaran geografi dengan proporsi yang jauh lebih
sedikit jika dibandingkan dengan materi kebumian.
Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba
menerapkan suatu pembelajaran berbasis
kecerdasan majemuk dalam materi astronomi.
Teori kecerdasan majemuk merupakan suatu teori
kecerdasan yang dikemukakan oleh Howard
Gardner. Pembelajaran berbasis kecerdasan
majemuk merupakan suatu pembelajaran yang
menggabungkan aspek-aspek kecerdasan
majemuk dengan materi astronomi yang akan
diajarkan. Penerapan pembelajaran berbasis
kecerdasan majemuk diharapkan dapat membuat
siswa lebih tertarik dan antusias dalam kegiatan
pembelajaran sehingga akan berpengaruh pada
kemampuan memahami materi yang diajarkan.
Pada tahapan selanjutnya, peneliti menganalisis
keterkaitan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh
siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa
setelah diterapkan pembelajaran berbasis
kecerdasan majemuk.
Teori
Teori kecerdasan majemuk merupakan salah
satu perkembangan yang paling penting dan
paling menjanjikan dalam dunia pendidikan. Hal
tersebut selaras dengan apa yang dikatakan oleh
J ulia J asmine dalam bukunya Mengajar dengan
Metode Kecerdasan Majemuk yang menyatakan
bahwa teori kecerdasan majemuk merupakan
validasi tertinggi bahwa perbedaaan individu
adalah penting. Teori kecerdasan majemuk
memandang bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh
setiap individu bersifat kompleks dan beragam.
Dengan kata lain, setiap individu memungkinkan
memiliki lebih dari satu jenis kecerdasan.
Howard Gardner menyatakan delapan jenis
kecerdasan yang mungkin di miliki oleh setiap
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 50
individu, diantaranya: kecerdasan Verbal-
Linguistik; kecerdasan Logis-Matematis;
kecerdasan Visual-Spasial; kecerdasan Kinestetik;
kecerdasan Musikal; kecerdasan Interpersonal;
kecerdasan Intrapersonal; dan kecerdasan
Naturalis. Selaras dengan pernyataan Howard
Gardner, Mark R. Kaser mendeskripsikan
kecerdasan majemuk seperti gambar dibawah ini :

Gambar 1. Kecerdasan Majemuk oleh Mark R.
Kaser
Berdasarkan gambar tersebut, dapat dijelaskan
bahwa kecerdasan verbal-linguistik merupakan
kemampuan individu dalam menggunakan bahasa
baik lisan maupun tulisan secara tepat dan akurat.
Kecerdasan logis-matematis merupakan
kemampuan ilmiah suatu individu dalam berhitung,
menggunakan angka-angka dan berpikir kritis.
Kecerdasan visual-spasial merupakan kemampuan
individu untuk memahami bentuk dan gambar juga
kemampuan untuk menginterpretasikan dimensi
ruang yang tidak dapat dilihat. Kecerdasan
kinestetik kemampuan individu dalam
menggunakan seluruh bagian tubuh untuk
menyelesaikan masalah atau membuat sesuatu.
Kecerdasan musikal merupakan kapasitas yang
dimiliki oleh individu dalam memahami pola musik
dan irama. Kecerdasan interpersonal berkaitan
dengan kemampuan individu dalam konsep
interaki dengan olang lain disekitarnya.
Kecerdasan intrapersonal berkaitan dengan
kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing
individu dalam hal memahami dirinya sendiri.
Sedangkan kecerdasan naturalistik berkaitan
dengan kemampuan individu dalam memahami
alam semesta.
Setiap jenis kecerdasan majemuk memiliki
aspek-aspek tertentu, sehingga untuk membuat
suatu pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk
diperlukan pengkajian dari masing-masing aspek
kecerdasan majemuk yang kemudian dikaitkan
dengan materi pelajaran dan kegiatan
pembelajaran. Pembelajaran berbasis kecerdasan
majemuk merupakan suatu pembelajaran yang
mengupayakan penggabungan aspek-aspek
kecerdasan majemuk dengan materi pembelajaran
yang akan diberikan, dan menuntut siswa untuk
berperan aktif di dalam kegiatan pembelajaran.
Sebagai contoh, pada tahap aktivitas kecerdasan
musikal, Guru menyajikan beberapa lagu dan
video mengenai Tata surya. Pada tahap aktivitas
kecerdasan kinestesis, siswa membuat pemodelan
tata surya secara sederhana, dan sebagainya.
Setelah dilakukan pembelajaran berbasis
kecerdasan majemuk, dilakukan analisis mengenai
keterkaitan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh
siswa terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.
Menurut Ennis (2010) berpikir kritis adalah berpikir
secara rasional (beralasan) dan reflektif dengan
menekankan pembuatan keputusan pada sesuatu
yang harus diyakini atau dilakukan. Terdapat dua
belas sub-kemampuan berpikir kritis
dikelompokkan oleh Costa (1985, dalam Yuniar
2010), diantaranya: memfokuskan pertanyaan,
menganalisis argumen, bertanya dan menjawab
pertanyaan klarifikasi dan pertanyaan yang
menantang, mempertimbangkan apakah sumber
dapat dipercaya atau tidak, mengobservasi dan
mempertimbangkan hasil observasi, mendeduksi
dan mempertimbangkan hasil deduksi,
menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi,
membuat dan mengkaji nilai-nilai hasil
pertimbangan, mendefinisikan istilah dan
mempertimbangkan definisi, memutuskan suatu
tindakan, berinteraksi dengan orang lain,
mengidentifikasi asumsi.
Untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis
yang dimiliki oleh masing-masing siswa, pada
tahap akhir penelitian dilakukan post test berupa
soal astronomi yang mengandung beberapa aspek
kemampuan berpikir kritis. Selain itu, aspek-aspek
kemampuan berpikir kritis juga digabungkan
dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Sebagai contoh, aspek sub-kemampuan berpikir
kritis siswa mengenai berinteraksi dengan orang
lain dapat ditinjau dalam kegiatan diskusi.
Hasil dan Diskusi
Pada tahap awal penelitian, sebanyak 35 siswa
mengisi angket profil kecerdasan majemuk yang
diadaptasi dari angket kecerdasan majemuk
Thomas Amstrong. Berikut ini merupakan
gambaran profil kecerdasan majemuk siswa kelas
X.7 SMAN di Kota Bandung.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 51

Gambar 2. Profil Kecerdasan Majemuk.
Data tersebut menunjukkan bahwa siswa memiliki
jenis kecerdasan yang beragam. Hasil tersebut
menunjukkan adanya beberapa siswa yang
memiliki lebih dari satu jenis kecerdasan. J enis
kecerdasan yang paling dominan dimiliki oleh
siswa adalah kecerdasan naturalis dengan
presentase 21% sedangkan jenis kecerdasan
yang paling sedikit dimiliki oleh siswa adalah
kecerdasan visual-spasial dengan presentase
sebesar 4%.
Pada tahap selanjutnya, dilakukan
pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk.
Pada tahap ini digunakan 2 jenis lembar observasi
yaitu lembar observasi aktivitas kecerdasan
majemuk dan lembar observasi aktivitas
kemampuan berpikir kritis. Seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya bahwa pembelajaran
berbasis kecerdasan majemuk merupakan inovasi
pembelajaran yang menggabungkan karakteristik
dari masing-masing aspek kecerdasan dengan
materi astronomi yang akan diajarkan, sehingga
pada pelaksanaannya aktivitas siswa mengenai
kecerdasan majemuk dinilai melalui lembar
observasi untuk mengetahui berapa besar
partisipasi dan antusias siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Berikut ini tabel data mengenai
aktivitas kecerdasan majemuk siswa kelas X.7
SMAN di Kota Bandung.
Tabel 1. Presentase Aktivitas Kecerdasan
Majemuk.
Verbal -
Linguistik
Logis-
Matematis
Visual -
Spasial
Kinestetis Musikal Interpersonal Intrapersonal Naturalis
LogisMatematis 36% 48% 43% 40% 75% 41% 70% 35%
Kinestetis 33% 43% 49% 45% 80% 49% 73% 30%
Visual-Spasial 27% 33% 35% 50% 75% 61% 67% 17%
Naturalis 32% 38% 39% 55% 73% 35% 64% 27%
Interpersonal 37% 44% 40% 59% 75% 39% 67% 44%
Musikal 36% 49% 49% 53% 81% 38% 79% 31%
Intrapersonal 44% 36% 42% 50% 67% 63% 67% 50%
Verbal-Linguistik 27% 44% 38% 44% 75% 44% 67% 25%
Kecerdasan
Majemuk yang
dicapai
Dominan

Data tersebut menunjukkan bahwa masing-masing
aspek kecerdasan majemuk terlaksana dengan
persentase partisipasi siswa yang berbeda-beda
dalam setiap kegiatan pembelajarannya. Antusias
tertinggi siswa terjadi pada tahap pembelajaran
yang melibatkan kecerdasan musikal, terlihat dari
nilai presentase yang dimiliki oleh masing-masing
kelompok dengan kecerdasan majemuk yang
dominan. Data presentase aktivitas kecerdasan
majemuk yang dominan dapat disajikan dalam
bentuk lain, seperti berikut ini :

Gambar 3. Aktivitas Kecerdasan Majemuk.
Semua kelompok kecerdasan majemuk yang
dominan memiliki partisipasi yang sangan besar
dalam kegiatan pembelajaran yang melibatkan
kecerdasan musikal. Kelompok dengan
presentase tertinggi adalah kelompok kecerdasan
musikal dengan presentase sebesar 81%.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan memang
banyak menyajikan lagu-lagu dan video-video
yang berhubungan dengan materi astronomi.
Penyajian lagu dan video seperti the planets
song dan pembentukan tata surya dalam
pembelajaran dirasakan besar manfaatnya. Musik
dan video yang disajikan dapat merangsang
kemauan siswa untuk belajar dan membantu siswa
dalam memahami materi yang diajarkan. Sebagai
contoh, siswa dapat lebih mudah dalam
memahami karakter dari masing-masing planet
melalui musik dan video yang ditayangkan.
Selain lembar observasi aktivitas kecerdasan
majemuk, pada kegiatan pembelajaran juga
digunakan lembar observasi aktivitas kemampuan
berpikir kritis siswa. Masing-masing sub-aspek
kemampuan berpikir kritis tersebut dihubungkan
dengan kegiatan pembelajaran yang akan
dilaksanakan. Diperoleh presentase aktivitas
kemampuan berpikir kritis sebagai berikut :

Gambar 4. Aktivitas Kemampuan Berpikir Kritis.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 52
Masing-masing siswa ikut berpartisipasi dalam
aktivitas kemampuan berpikir kritis. Partisipasi
tertinggi berasal dari kelompok dengan
kecerdasan visual-spasial yang dominan dengan
presentase sebesar 51%. Setelah dianalisis,
kelompok ini memiliki nilai presentase tertinggi
karena dalam pembelajaran terdapat banyak
kegiatan yang menampilkan video yang menuntut
siswa untuk dapat mengobservasi dan
mempertimbangkan hasil observasinya. Masing-
masing sub-aspek kemampuan berpikir kritis
memiliki proporsi yang berbeda-beda pada setiap
pertemuannya karena disesuaikan dengan materi
yang diajarkan.
Setelah dilaksanakan kegiatan pembelajaran,
tahap akhir dari penelitian ini adalah tahap tes
kemampuan berpikir kritis. Soal dengan 6 aspek
kemampuan berpikir kritis dibuat dalam 31 soal
pilihan ganda, dan diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 5. Kemampuan Berpikir Kritis.
Masing-masing siswa dalam kelompok kecerdasan
tertentu memiliki presentase test kemampuan
berpikir kritis yang cukup baik. Presentase terbesar
dimiliki oleh kelompok dominan kecerdasan
interpersonal sebesar 67% dan presentase
terendah dimiliki oleh kelompok dominan
kecerdasan intrapersonal sebesar 59%. Kelompok
dominan kecerdasan intrapersonal memiliki
presentase yang kecil karena pada proses
pembelajaran, kelompok ini pun memiliki
presentase aktivitas yang kecil. Sementara itu,
presentasi yang tinggi dimiliki oleh kelompok
dominan kecerdasan interpersonal karena menurut
mereka materi yang diberikan cukup dapat
dipahami dengan mudah, meskipun nilai
presentasi aktivitas kelompok ini tidak terlalu besar
hanya sebesar 45%.
Kesimpulan
Untuk mengetahui keterkaitan antara
kecerdasan majemuk dan kemampuan berpikir
kritis siswa, peneliti menggunakan angket
kecerdasan majemuk, melaksanakan
pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk
dengan meninjau aktivitas kecerdasan majemuk
dan aktivitas kemampuan berpikir kritis, kemudian
melakukan test kemampuan berpikir kritis.
Kecerdasan yang dominan dimiliki oleh siswa
adalah kecerdasan naturalis dengan presentase
21% dan yang terendah adalah kecerdasan visual-
spasial sebesar 4%. Semua kelompok memiliki
presentase aktivitas kecerdasan majemuk paling
tinggi pada aspek kecerdasan musikal, dengan
perolehan tertinggi sebesar 81% yaitu kelompok
dominan kecerdasan musikal. Aktivitas
kemampuan berpikir kritis siswa dimiliki oleh
kelompok visual-spasial sebesar 51%. Masing-
masing siswa dalam kelompok kecerdasan tertentu
memiliki presentase test kemampuan berpikir kritis
yang cukup baik. Presentase terbesar dimiliki oleh
kelompok dominan kecerdasan interpersonal
sebesar 67% dan presentase terendah dimiliki
oleh kelompok dominan kecerdasan intrapersonal
sebesar 59%.
Referensi
[1] W. Liliawati dan D. Herdiwijaya, Analisis
Kebutuhan Astronomi Terintegrasi Berbasis
Kecerdasan Majemuk (TKM) untuk
Membekalkan Literasi Astronomi. Bandung,
Prosidings Seminar Himpunan Astronomi
Indonesia, (2011).
[2] Muhammad Yaumi, Pembelajaran Berbasis
Multiple Intelligences, J akarta, Dian Rakyat,
cetakan pertama, (2012)
[3] Yuniar, Ratna. 2010. Keterampilan Berpikir
Kritis. Online : http://fisikasma-
online.blogspot.com/2010/12/keterampilan-
berpikir-kritis.html, diakses 23 Mei 2012 09:03
pm.

Aprianti Opi Ceisar*
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
apriantiopiceisar@gmail.com

Winny Liliawati
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
winny_liliawaty@yahoo.co.id

J udhistira Aria Utama
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
judhistira@yahoo.com

*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 53
Rancang Bangun Instrumen Akuisisi Data Temperatur
Menggunakan IC LM35DZ dan Mikrokontroler ATMEGA8535
Berbasis Perangkat Lunak LabVIEW
Arsul Rahman*, Hendro, dan Neny Kurniasih

Abstrak
Telah dibuat instrumen akuisisi data temperatur dengan menggunakan sebuah komputer. Sistem instrumen
ini terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Sistem perangkat keras yang dimaksud adalah sensor
temperatur LM35DZ, pengkondisi sinyal, mikrokontroler ATMEGA8535, dan sebuah komputer. Sedangkan
perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah dan memperagakan hasil pengukuran adalah berbasis
LabVIEW. Informasi temperatur ditampilkan dalam bentuk digital, analog, dan grafik secara real time.
Kelebihan lain dari instrumen ini ialah data temperatur dapat disimpan ke dalam format file. Berdasarkan
analisis data, instrumen ini memiliki spesifiaksi akurasi 99,6 %, presisi 0,1C, resolusi 0,1C, dan sensitivitas
50 mV/C, dengan jangkauan pengukuran 0C 100C.
Kata-kata kunci: temperatur, akuisisi data temperatur, mikrokontroler, sensor temperatur
Pendahuluan
Salah satu besaran fisis di alam adalah
temperatur. Temperatur sering digunakan dalam
penelitian baik di bidang ilmu fisika, kimia, biologi
dan ilmu lainnya. Seiring dengan kemajuan
teknologi, alat ukur temperatur mulai
menggunakan sistem akuisisi data. Sistem akuisisi
data merupakan sistem instrumentasi elektronik
yang terdiri dari sejumlah elemen yang secara
bersama-sama bertujuan melakukan pengukuran,
menyimpan, dan mengolah hasil pengukuran.
Secara sederhana, sistem akuisisi data terdiri dari
sensor, perangkat keras akusisi data, dan sebuah
komputer [1]. J ika dibandingkan dengan
pengukuran konvensional, sistem akuisisi data
berbasis komputer dapat melakukan pengolahan,
visualisasi, dan penyimpanan data pengukuran [2].
Salah satu perangkat lunak yang dapat digunakan
dalam membuat sistem akuisisi data berbasis
komputer yang cukup terkenal adalah LabVIEW.
Perangkat lunak ini dibuat oleh perusahaan
National Instrument (NI). Dengan memakai
pemrograman ini pembuatan program instrumen
akuisisi data menjadi lebih mudah dan cepat.
Perusahaan National Instrumen juga memproduksi
perangkat keras akuisisi data. Namun harganya
mahal sehingga menyulitkan untuk kegiatan
eksperimental dalam penelitian yang bersifat
mandiri. Penelitian tentang akuisisi data yang
berhubungan dengan LabVIEW sebenarnya telah
pernah dilakukan oleh Didik K, Katherin I [3],
namun masih pada tahap perancangan sistem
perangkat keras akuisisi data.
Pada penelitian ini dilakukan suatu
perancangan sistem instrumen akuisisi data
temperatur yang cukup murah dan memiliki fungsi
umum. Fungsi umum tersebut antara lain dapat
menampilkan besaran temperatur, menampilkan
grafik temperatur terhadap waktu secara real time,
melakukan proses pencuplikan, dan penyimpanan
data. Dalam perancangan instrumen ini dibatasi
hanya menggunakan satu masukan (input)
temperatur.
Teori
Untuk membuat instrumen ini, maka beberapa
elemen atau komponen dan rangkaian elektronika
harus diintegrasikan agar dapat saling
berhubungan satu dengan yang lain melakukan
suatu kerja sehingga tujuan atau fungsi sistem
tercapai. Secara keseluruhan diagram blok
instrumen ini ditunjukkan pada Gambar 1 berikut :


Gambar 1. Diagram blok sistem akuisisi data
dengan komputer.
Pada Gambar 1 sensor temperatur yang
digunakan dengan tipe LM35DZ. Sensor
temperatur ini memiliki keistimewaan yaitu memiliki
sensitivitas linear sebesar 10 mV/
o
C dan
jangkauan maksimal operasi temperatur antara -
55
o
C sampai +150
o
C [4]. Pada penelitian ini
tegangan keluaran sensor ini dijadikan sebagai
temperatur referensi.
Mikrokontroler adalah sebuah rangkaian
terintegrasi yang di dalamnya terkoneksi
mikroprosesor, memori, port I/O, dan peripheral
lainnya. Dalam penelitian ini digunakan
ProgramADC
sensor
temperatur
pengkondisi
Sinyal
ADC mikrokontroler
ATMEGA8535

komputer

Program
LabVIEW

Serial Com USART
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 54
mikrokontroler keluarga AVR tipe ATMEGA8535.
Salah satu kelebihan dari mikrokontroler ini adalah
telah terintegrasi dengan rangkaian ADC (Analog
to Digital Converter) dan memiliki USART yang
telah terprogram untuk komunikasi serial dengan
interface lain. Dalam penelitian ini jumlah pin dari
port ADC yang digunakan hanya satu pin karena
sensor temperatur yang digunakan hanya satu.
Agar ADC mikrokontroler ATMEGA8535
dapat bekerja, maka dibuat alur program ADC
seperti ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Alur kerja pemrograman mikrokontroler
ATMEGA8535.
Untuk membuat program ADC mikrokontroler dari
gambar 2 dalam penelitian ini digunakan
perangkat lunak CodeVision AVR.
Sinyal keluaran dari sensor temperatur harus
disesuaikan dengan kebutuhan input ADC
mikrokontroler. Untuk menyesuaikannya dibuat
rangkaian pengkondisi sinyal (Signal Conditioning).
Skema rangkaiannya ditampilkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Rangkaian pengkondisi sinyal.
Pada Gambar 3, besar penguatan bergantung
pada tegangan maksimum masukan ADC sebesar
5 V. Karena dalam rancangan instrumen ini,
rentang skala temperatur yang dibuat adalah 0
o
C
sampai 100
o
C dimana ketika temperaturnya 100

o
C tegangan keluaran sensor sebesar 1000 mV,
maka penguatan rangkaian pengkondisi sinyal
harus diatur sebesar 5 kali.
Untuk mengolah dan menampilkan data yang
dikirimkan oleh mikrokontroler digunakan program
perangkat lunak LabVIEW. Program LabVIEW
tersebut terdiri dari jendela Block Diagram dan
jendela Front Panel.,

Gambar 4. J endela Block Diagram.


Gambar 5. jendela Front Panel.
Perancangan program LabVIEW dibagi atas
beberapa bagian. Pertama, program komunikasi
serial yang berfungsi untuk membuka komunikasi
data dengan mikrokontroler, Kedua, program
konversi ADC ke temperatur, Ketiga, program
indikator, terdiri atas penampil besaran temperatur
dalam mode digital dan analog, penampil grafik
temperatur terhadap waktu, dan penampil
temperatur maksimum dan minimum. Program
yang terakhir adalah program kontrol, terdiri atas
program penyimpanan data, program pengatur
temperatur maksimum-minimum dan program
pencuplikan data.
Dalam penelitian ini program LabVIEW tidak
memberikan perintah kepada mikrokontroler, tetapi
hanya menerima input data dari mikrokontroler
Agar program LabVIEW dapat mengkonversi
data keluaran ADC menjadi besaran temperatur
maka dibuat persamaan konversinya. Persamaan
konversi ini diperoleh melalui eksperimen
menggunakan medium air dan es dengan cara
mencatat temperatur yang diperoleh dari sensor
temperatur yang dimulai dari 0
o
C sampai
mencapai titik didih air dan secara bersamaan
mencatat data keluaran ADC di komputer. Dari
hubungan data keluaran ADC (d
ADC
) terhadap
temperatur keluaran sensor (T
s
) dapat ditentukan
persamaan konversinya melalui grafik. Dalam

VCC
VCC
1K5
150K
150K
0,1 F
R
2
=10K
R
1
=2K
10K
3
2
8
4
1
+
-
LM358
LM35DZ
1
2
3
300 nF


vo
Inisialisasi port A,
ADC, USART
Baca sensor temperatur
Baca data digital
hasil konversi
Konversi
ADC selesai
Kirim data digital
ke komputer
Selesai
Mulai
Konversi ADC
N
Y
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 55
aplikasinya persamaan konversi tersebut
dimasukan ke dalam program LabVIEW untuk
diolah menjadi besaran temperatur yang
ditampilkan melalui monitor komputer.
Selanjutnya adalah melakukan karakterisasi
instrumen. Karakterisasi instrumen terdiri atas
beberapa bagian. Pertama membuat grafik dari
pengukuran temperatur yang diperoleh dari
monitor komputer/instrumen (T
ins
) terhadap
temperatur keluaran dari sensor (T
s
) secara
bersamaan. Kedua, menentukan besaran
spesifikasi instrumen yang dibuat. Besaran
spesifikasi tersebut terdiri dari besaran presisi,
akurasi, resolusi dan sensitivitas. Penentuan
besaran presisi dan akurasi dilakukan dengan
mengukur temperatur yang ditampilkan di monitor
komputer secara berulang. Besaran presisi
diketahui dari hasil perhitungan kesalahan mutlak
temperatur (S
T
) menggunakan program aplikasi
Microsoft Excel. Untuk besaran akurasi diperoleh
dari perhitungan kesalahan relatif temperatur yang
ditampilkan di monitor komputer dengan
menggunakan persamaan :
% 100 x
T
T
S
relatif Kesalahan . (1)
Besaran resolusi diperoleh dari perbandingan
antara rentang skala temperatur dari
instrumen yang dibuat sebesar 100
o
C terhadap
resolusi ADC mikrokontroler ATMEGA8535
sebesar 10 bit. Sedangkan besaran sensitivitas
ditentukan dengan mengukur tegangan yang
dimasukkan ke ADC (v
inADC
) terhadap temperatur
yang ditampilkan di monitor komputer (T
s
).
Kemudian dibuat grafik hubungan antara tegangan
temperatur di monitor komputer terhadap tegangan
yang dimasukkan ke ADC. Selanjutnya
menentukan persamaan grafiknya.
Hasil dan Diskusi
Dari hasil perancangan perangkat keras
akuisisi data temperatur diperoleh rangkaian
seperti Gambar 6.


Gambar 6. Rangkaian perangkat keras akuisisi
data.
Sedangkan hasil perancangan program
perangkat lunak akusisi data temperatur
menggunakan program LabVIEW diperlihatkan
pada Gambar 7.

Gambar 7. Tampilan instrumen akuisisi data
temperatur menggunakan program LabVIEW.
Hasil pengukuran hubungan antara data
keluaran ADC (d
ADC
) terhadap temperatur yang
diperoleh dari keluaran sensor temperatur (T
s
)
ditampilkan melalui Gambar 8 berikut.


Gambar 8. Grafik hubungan d
ADC
- T
s
.
Pada Gambar 8 diperoleh persamaan grafik
seperti ditunjukkan pada Persamaan (2).

89 , 1
s
10,14T
ADC
d . (2)
Persamaan (2) dapat dituliskan ke dalam bentuk
Persamaan (3) yang merupakan persamaan
konversi.

10,14
89 , 1
s
T

ADC
d
. (3)
Hasil pengujian temperatur yang ditampilkan
di monitor komputer (T
ins
) terhadap temperatur
keluaran dari sensor temperatur (T
s
) diperlihatkan
pada Gambar 9.

Gambar 9. Grafik karakterisasi T
ins
- T
s.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 56
Dari grafik pada Gambar 9 diperoleh hubungan
dari kedua variabel yang dituliskan pada
persamaan (4).

055 , 0 000 , 1
s
T
ins
T . (4)
Pengujian karakterisasi instrumen diperoleh
hasil antara lain : Pengujian tingkat presisi dari
instrumen di tampilkan melalui Gambar 10.

Gambar 10. Grafik kesalahan mutlak pengukuran
temperatur melalui instrumen.
Pada Gambar 10 diketahui bahwa kesalahan
mutlak terkecil sebesar 0
o
C saat temperatur 0
o
C
dan kesalahan mutlak terbesar adalah 0,195
o
C
saat temperatur 36,0
o
C. Hasil perhitungan
kesalahan mutlak rata-rata 0,036 C, sehingga
dapat diketahui bahwa tingkat kepresisian
instrumen ini sebesar 0,095 C 0,1 C. Hasil
pengujian tingkat akurasi instrumen ditampilkan
melalui Gambar 11 berikut.

Gambar 11. Grafik Kesalahan relatif pengukuran
temperatur menggunakan instrumen.
Pada Gambar 11 terlihat kesalahan relatif
terendah adalah 0 % pada temperatur 0C, dan
kesalahan relatif tertinggi adalah 4,7 % pada
temperatur 2C. Hasil perhitungan kesalahan
relatif rata-rata diperoleh 99,56 %, sehingga dapat
diketahui bahwa tingkat akurasi instrumen ini
adalah 99,6 %. Dari hasil perhitungan diperoleh
pula tingkat resolusi instrumen sebesar 0,1 C.
Untuk hasil pengukuran sensitivitas ditampilkan
melalui grafik seperti ditunjukkan pada Gambar 12.

Gambar 12 Grafik hubungan antara T
ins
v
in ADC

Pada Gambar 12 diperoleh persamaan seperti
dituliskan melalui Persamaan (5).
0,126
ADC in
20,14v
ins
T . (5)
Pada Persamaan (5) diperoleh sensitivitas
instrumen adalah 20,14C/V 20C/V. Nilai
besaran sensitivitas tersebut dapat dituliskan
dalam bentuk lain yaitu 0,02C/mV atau 50 mV/ C.
Kesimpulan
Instrumen akuisisi data temperatur dengan
menggunakan komputer, sensor temperatur IC
LM35DZ, mikrokontroler ATMEGA8535, serta
perangkat lunak LabVIEW, diperoleh hasil
pengukuran dengan akurasi 99,4 %, presisi 0,1 C,
resolusi 0,1 C, dan sensitivitas 50 mV/C atau 5
mV/0,1C dengan jangkauan pengukuran 0C
sampai 100C.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang telah
memberikan bantuan beasiswa selama pendidikan
berlangsung.
Referensi
[1] Larsen, LabVIEW for Engineers, Holly Stark
(editor), Penerbit Prentice Hall, New J ersey,
p.142, (2011).
[2] National Instruments, What Is Data
Acquisition, http://www.ni.com/data-
acquisition/what-is/. [accessed 28 J une 2013]
[3] D. Kusanto, K. Indriawati, "Perancangan
Sistem Akuisisi Data Sebagai Alternatif Modul
DAQ LabVIEW Menggunakan Mikrokontroler
ATMEGA8535", URI
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-
Undergraduate-12713-Paper.pdf [accessed
28 J une 2013]
[4] Afrie S, 20 Aplikasi mikrokontroler
ATMEGA8535 & ATMEGA16 menggunakan
BASCOM-AVR, Penerbit Andi, Yogyakarta, p.
41, (2011).

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 57


Arsul Rahman*



Hendro
KK Fisika Teori Energi Tinggi dan Instrumentasi
Program Studi Fisika FMIPA ITB
e-mail : hendro@fi.itb.ac.id

Neny Kurniasi
KK Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Program Studi Fisika FMIPA ITB
e-mail : neny@fi.itb.ac.id

* Correspondens author

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 58
Profil Motivasi dan Tingkat Partisipasi Mahasiswa Calon Guru Fisika
dalam Pembuatan Instrumen Soal Pilihan Ganda dan Esei
Asep Sutiadi
*
, Dadi Rusdiana, Andi Suhandi, dan Nuryani R. Rustaman

Abstrak
Tujuan penulisan ini mendeskripsikan dan menganalisis profil motivasi dan tingkat partisipasi mahasiswa
calon guru fisika dalam pembuatan instrumen soal pada perkuliahan Evaluasi Pembelajaran Fisika (EPF).
Subyek penelitian deskriptif ini melibatkan seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan EPF semester
ganjil 2012/2013, yaitu 15 orang. Perkuliahan dirancang berbentuk workhshop. Data dikumpulkan
menggunakan kuisioner model Glynn dan Koballa, kemudian diolah menggunakan kriteria persentase. Hasil
analisis menunjukkan bahwa (i) profil pencapaian motivasi calon guru fisika dalam membuat instrumen soal
pilihan ganda dan esei berkatagori sedang; (ii) profil partisipasinya juga berkatagori sedang, (iii) kemampuan
mahasiswa dalam membuat instrumen soal PG termasuk katagori tinggi, sedangkan kemampuan membuat
instrumen soal esei termasuk sedang; (iv) motivasi dan tingkat partisipasi mahasiswa berkecenderungan
kuat dan berpengaruh positif terhadap kemampuan membuat instrumen soal PG dan esei.
Kata-kata kunci: Motivasi, tingkat partisipasi, calon guru fisika, instrumen soal.
Pendahuluan
Tujuan matakuliah Evaluasi Pembelajaran
Fisika (EPF) adalah membekali calon guru fisika
untuk memiliki kemampuan dalam merancang dan
membuat instrumen penilaian [1]. Faktor penentu
untuk mencapai keberhasilan tujuan dalam
perkuliahan EPF bukan hanya dari faktor dosen
saja, tetapi dibutuhkan partisipasi [2] dan motivasi
[3] mahasiswa calon guru fisika sebagai pebelajar.
Motivasi merupakan sesuatu yang dibutuhkan
untuk melakukan aktivitas [4]. Hal lainnya yang
dibutuhkan dalam proses belajar adalah
partisipasi aktif pebelajar dalam setiap tahapan
proses belajar [5,6].
Calon guru fisika diharapkan ketika mengikuti
perkuliahan EPF, cukup termotivasi [7] dan
berpartisipasi aktif [8]. Dua faktor tersebut yang
akan menjadi pembeda setelah lulus nanti.
Motivasi yang lebih baik dalam belajar akan
menunjukkan hasil yang baik [9]. Motivasi
merupakan kekuatan, baik dari dalam maupun dari
luar yang mendorong seseorang untuk mencapai
tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya
[10]. Keaktifan pebelajar ditunjukkan dengan
partisipasinya. Keaktifan itu dapat terlihat dari
beberapa perilaku misalnya mendengarkan,
mendiskusikan, membuat sesuatu, menulis
laporan, dan sebagainya [3]. J errold [2]
berpendapat bahwa partisipasi dapat diwujudkan
dengan berbagai hal, diantaranya (a) keaktifan
pebelajar di dalam kelas. Misalnya aktif mengikuti
pelajaran, memahami penjelasan, bertanya,
mampu menjawab pertanyaan dan sebagainya. (b)
kepatuhan terhadap norma belajar. Misalnya
mengerjakan tugas sesuai dengan perintah,
datang tepat waktu, memakai pakaian sesuai
dengan ketentuan, dan sebagainya.
Metode Penelitian
Penelitian deskriptif-analisis ini melibatkan
seluruh mahasiswa yang sedang mengikuti
perkuliahan Evaluasi Pembelajaran Fisika (EPF)
semester ganjil 2012/2013, yaitu sebanyak 15
orang. Subyek penelitian terdiri dari 11 orang laki-
laki dan 4 orang wanita yang kesemuanya sudah
menyelesaikan matakuliah prasyarat. Calon guru
fisika tersebut dilatihkan tentang cara-cara menulis
soal dalam bentuk pilihan ganda dan bentuk esei.
Sebelumnya mahasiswa juga diperkenalkan
dengan karakteristik dan teknik pembuatan soal-
soal bentuk pilihan ganda dan esei.
Kegiatan perkuliahan dirancang dalam bentuk
workshop [1]. Data motivasi dikumpulkan
menggunakan kuisioner motivasi hasil rancangan
Glynn dan Koballa (2006), terdiri dari 4 skala
jawaban, yaitu sangat kuat, kuat, lemah, dan
sangat lemah. J umlah item kuisioner adalah 30
item pernyataan. Kuisioner terbagi menjadi lima
faktor, yaitu faktor 1 intrinsic motivation and
personal relevance (10 item); faktor 2 self efficacy
and assessment anxiety (9 item); faktor 3 self
determination (4 item); faktor 4 career motivation
(2 item); dan faktor 5 grade motivation (5 item).
Pernyataan unfavourable terdapat pada faktor 3
sebanyak 5 item.
Data terkait partisipasi juga dikumpulkan
menggunakan kuisioner, yang terbagi menjadi tiga
kelompok pernyataan, yaitu partisipasi kelas
secara individual, partisipasi dalam diskusi
kelompok, dan pernyataan bebas tentang kegiatan
apasaja yang biasa dilakukan selama perkuliahan.
J awaban kuisioner partisipasi kesatu dan kedua
terdiri dari empat skala jawaban, yaitu selalu,
sering, kadang-kadang, dan tidak pernah.
Data kuisioner dianalisis menggunakan kriteria
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 59
persentase. Butir soal buatan calon guru fisika
dianalisis dengan menggunakan kaidah analisis
butir soal yang dibuat oleh Direktorat
Pengembangan SMA tahun 2010 yang terdiri dari
aspek materi, konstruksi dan bahasa/budaya.
Masing-masing aspek analisis butir soal tersebut
dikembangkan lagi menjadi 18 kriteria untuk
analisis butir soal PG dan 13 kriteria untuk analisis
butir soal esei.
Hasil dan diskusi
Profil Motivasi
Rerata capaian motivasi calon guru fisika
dalam proses pembuatan instrumen soal pilihan
ganda dan esei adalah 76,50% dan ini masuk
katagori sedang. Pengelompokkan kriteria motivasi
responden menjadi motivasi tinggi, sedang dan
rendah dapat dilihat pada gambar 1. Berdasarkan
gambar 1 diperoleh fakta bahwa responden
mengelompok pada kelompok motivasi sedang.

Gambar 1. Capaian tingkat motivasi.
Berdasarkan jenis kelamin diproleh informasi
bahwa rerata capaian motivasi perempuan lebih
tinggi dari capaian motivasi laki-laki, yaitu 81%
berbanding 75%. Namun keduanya berada pada
katagori sedang.
Instrumen motivasi rancangan Glynn dan
Koballa (2006) tersusun atas 5 faktor, yaitu (i)
Faktor 1 motivasi instrinsik dan tujuan pribadi
belajar (intrinsic motivation and personal
relevance); (ii) Faktor 2 kepercayaan diri dan
kecemasan penilaian (self efficacy and
assessment anxiety); (iii) Faktor 3 penentuan
nasib sendiri (self determination); (iv) Faktor 4
motivasi kerja (career motivation); dan (v) Faktor 5
motivasi berprestasi (grade motivation). Profil
capaian kelima faktor motivasi ditampilkan pada
gambar 2.

Gambar 2. Capaian lima faktor motivasi.
Secara garis besar komponen yang terkait
motivasi adalah intrinsik dan ekstrinsik. Namun
kedua komponen tersebut dapat diperluas.
Sebagai contoh Personal Relevance bisa
merupakan intrinsik jika pebelajar telah
menetapkan tujuannya sebelum pembelajaran.
Tapi jika pebelajar menetapkannya setelah melihat
pebelajar lain, maka termasuk ekstrinsik. Self
determination, career motivation dan grade
motivation merupakan bagian dari intrinsik, karena
pebelajar berkewajiban bertanggung jawab dalam
hasil pembelajarannya. Self efficacy bisa
merupakan intrinsik jika peserta didik memang
telah memiliki kepribadian percaya diri pada setiap
kondisi. Tapi bisa menjadi ekstrinsik jika ia memiliki
percaya diri akibat dari pengaruh luar, misalnya ia
merasa yang paling pintar daripada peserta didik
yang lain. Anxiety bisa dirasakan peserta didik dari
dalam (intrinsik) jika ia merasa tidak bisa mengikuti
pelajaran. Tapi bisa menjadi ektrinsik jika ia
melihat peserta didik yang lain lebih baik dalam
pelajaran dibandingkan dengannya.
Profil Partisipasi
Rerata capaian partisipasi calon guru fisika
dalam proses pembuatan instrumen soal pilihan
ganda dan esei adalah 65,30% dan ini masuk
katagori sedang. Pengelompokkan kriteria
partisipasi responden berdasarkan item partisipasi
yang diamati pada tabel 1.
Berdasarkan tabel 1 diperoleh fakta bahwa
partisipasi responden dalam perkuliahan EPF
masih didominasi dengan hanya mendengarkan
(85%). Partisipasi dalam bentuk mengajukan
pertanyaan muncul 68%, mengorganisasikan ide
65%, dan ikut serta aktif mengorganisasi kelompok
58%. Namun mahasiswa juga mengakui bahwa
mereka sering kacaukan suasana diskusi (43%),
melamun (43%), dan mengajukan topik lain di luar
yang sedang dibahas (38%).

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 60
Tabel 1. Tingkat partisipasi mahasiswa.
Jenis Partisipasi Persentase
Mendengarkan 85
Ajukan pertanyaan 68
Mengorganisasi ide 65
Mengorganisasi
kelompok 58
Kacaukan kegiatan 43
Melamun 43
Ajukan topik lain 38

Apa yang dilakukan mahasiswa calon guru
fisika saat berdiskusi untuk membuat instrumen
soal PG dan esei? Fakta yang teramati masih
menunjukkan fenomena baik, yaitu dibuktikan
dengan masih mengusulkan ide (72%),
berpendapat terhadap topik yang dibahas (85%),
dan tetap fokus berdiskusi hingga diperoleh
kesepakatan (83%). Namun pada saat harus
melaporkan hasil diskusi mahasiswa calon guru
langsung sibuk masing-masing (77%).
Ketika mahasiswa ditanya terkait kegiatan
apa saja yang biasa mereka lakukan selain yang
ditanyakan dalam kuisioner, maka deskripsinya
ditampilkan pada gambar 3. Kondisi ini cukup
memprihatinkan, karena jumlah anggota kelas
tidak banyak dan kegiatan kuliah dirancang dalam
bentuk workshop. Asumsinya setiap mahasiswa
mengikuti setiap tahapan workshop. Namun masih
ada yang sms-an (40%), mengerjakan tugas lain
(6,67%), mengantuk (33,33%) dan ikut charge
hp/laptop secara gratis (6,67%). Dikhawatirkan
kondisi ini akan berpengaruh negatif terhadap
pencapaian kemampuan mereka dalam
merancang dan membuat instrumen penilaian
prestasi belajar.


Gambar 3. Kegiatan mahasiswa selain mengikuti
kuliah.
Gambaran tingkat motivasi dan tingkat
partisipasi mahasiswa calon guru dalam
perkuliahan EPF ketika membuat instrumen soal
PG dan esei ditampilkan pada gambar 4. Terlihat
bahwa profil partisipasi memiliki rerata lebih kecil
dibandingkan dengan rerata profil motivasinya.
Dengan kata lain motivasi individual mahasiswa
lebih baik baik daripada tingkat partisipasinya.

Gambar 4. Motivasi dan partisipasi mahasiswa.
Profil capaian tingkat motivasi, partisipasi,
kemampuan membuat soal PG, dan kemampuan
membuat soal esei ditampilkan pada gambar 5.
Berdasarkan Gambar 5 terlihat bahwa rerata
capaian motivasi 76,50% dan rerata capaian
partisipasi mahasiswa 65,30%. Capaian rerata
kemampuan membuat soal PG 80,71% dan
kemampuan membuat soal esei 72,02% [1].

Gambar 5. Profil motivasi dan partisipasi serta
kemampuan membuat instrumen.
Hasil uji statistik [11] menunjukkan bahwa
motivasi dan partisipasi berpengaruh terhadap
kemampuan calon guru fisika dalam membuat
instrumen soal PG sebesar 54%. Sedangkan
kemampuan membuat instrumen soal esei secara
statistik dipengaruhi oleh motivasi dan partisipasi
sebesar 50%. Fakta ini sudah cukup untuk
menyimpulkan bahwa tingkat motivasi dan
partisipasi berkecenderungan kuat dan
berpengaruh positif terhadap kemampuan calon
guru fisika dalam membuat instrumen soal PG dan
esei.
Kesimpulan
Profil motivasi calon guru fisika dalam
membuat instrumen soal bentuk PG dan esei
adalah 76,50% dengan katagori sedang.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 61
Profil tingkat partisipasi calon guru fisika
dalam membuat instrumen soal PG dan esei
adalah 65,30% dengan katagori sedang.
Profil kemampuan calon guru fisika dalam
membuat instrumen soal PG sebesar 80,71% dan
instrumen soal esei sebesar 72,02%.
Motivasi dan tingkat partisipasi
berkecenderungan kuat dan berpengaruh positif
terhadap kemampuan membuat instrumen soal PG
sebesar 54% dan untuk soal esei 50%.
Referensi
[1] Asep Sutiadi, Analisis Kemampuan Calon
Guru Fisika dalam Membuat Instrumen Soal
PG dan Esei, Prosiding Seminar Nasional
Pendidikan Fisika 2013 (LPF 2013), 8 J uni,
IKIP PGRI, Semarang, Indonesia.
[2] Moh Usman dan Lilis Setiawati, Upaya
Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,
Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung,
(2002).
[3] AM Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar, Penerbit Rajawali, J akarta, (1990).
[4] Asri Laksmi Riani, Dasar-Dasar
Kewirausahaan, Penerbit UNS Press,
Surakarta, (2005).
[5] Sri Esti, Psikologi Pendidikan, Penerbit
Grafindo, J akarta, (1989).
[6] E. Nasution, Teknologi Pendidikan, Penerbit
PT Bumi Aksara, Bandung, (1982).
[7] Elida Prayitno, Motivasi dalam Belajar,
Penerbit P2LPTK, J akarta, (1989).
[8] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya, Penerbit Rineka Cipta,
J akarta, (2010).
[9] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,
Penerbit PT Bumi Aksara, J akarta, (2011).
[10] HB Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya,
Penerbit PT Bumi Aksara, J akarta, (2006).
[11] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian
suatu Pendekatan Praktik, Penerbit PT
Rineka Cipta, J akarta, (2006).



Asep Sutiadi*
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
aseps@upi.edu
Dadi Rusdiana
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
Andi Suhandi
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
Nuryani R. Rustaman
J urusan Pendidikan Biologi
Universitas Pendidikan Indonesia

*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 62
Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pada Materi Daur Ulang Minyak Jelantah
Assyifa J unitasari
*
; Cucu Zenab S; Risa Rahmawati S

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja mahasiswa dalam pembelajaran berbasis proyek pada
materi daur ulang minyak jelantah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kelas.
Subjek penelitian adalah mahasiswa Semester 2 Prodi Pendidikan Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung
yang berjumlah 90 orang. Instrumen penelitian terdiri dari deskripsi pembelajaran, rubrik penilaian proyek,
lembar pemandu kegiatan. Data yang diperoleh diolah menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan
analisis data, nilai rata-rata kinerja mahasiswa sebesar 146,8 dari skor ideal 177. Sedangkan untuk setiap
tahapannnya, perencanaan proyek mencapai nilai rata-rata sebesar 26,5 dari skor ideal 40, pengerjaan
proyek mencapai nilai rata-rata sebesar 22 dari skor ideal 22, penyajian hasil proyek mencapai nilai rata-rata
sebesar 10,3 dari skor ideal 12, dan pengerjaan laporan proyek mencapai nilai rata-rata sebesar 80,2 dari
skor ideal 100.
Kata Kunci : Pembelajaran berbasis proyek, daur ulang minyak jelantah
Pendahuluan
Kelompok mata pelajaran IPA, termasuk di
dalamnya kimia, diselenggarakan di sekolah dalam
rangka mengenalkan IPA secara utuh baik proses
maupun produk kepada para peserta didik,
begitupun di perguruan tinggi. Mata kuliah Kimia
diharapkan dapat menjadi wahana bagi
mahasiswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam
sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut
untuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Mata kuliah Kimia juga merupakan salah satu mata
kuliah dalam rumpun MIPA yang diharapkan dapat
menjadi jembatan pengetahuan mahasiswa untuk
dapat menganali lingkungan sekitarnya. Karena
sebagian besar materi yang terdapat dalam kimia
sangat erat hubungannya dengan kehidupan
sehari-hari, sehingga setelah mahasiswa
mempelajari kimia, selain menguasai dan
memahami teori yang disampaikan pada
perkuliahan, mahasiswa juga diharapkan dapat
mengaplikasikan teori-teori tersebut kedalam
kehidupan sehari-hari.
Hasil studi pendahuluan pada mahasiswa
pendidikan kimia menunjukkan bahwa ternyata
masih banyak mahasiswa yang belum
mendapatkan motivasi untuk belajar. Praktikum
masih dianggap sebagai tugas tambahan kuliah
saja, tidak menjadikan jembatan untuk memahami
suatu teori, dan ternyata masih banyak mahasiswa
yang belum mendapatkan pemahaman yang
mendalam bahwa teori kimia dapat diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu model pembelajaran yang
menyajikan tantangan berupa tugas proyek diawal
pembelajaran adalah model Pembelajaran
Berbasis Proyek (Project-Based Learning).
Misalnya dalam proyek menghasilkan suatu zat
baru dalam praktikum, merancang alat praktikum,
menyusun prosedur praktikum, dan lain-lain. Model
pembelajaran berbasis proyek menyajikan lima
tahapan pembelajaran. Tahap pertama adalah
penyajian tugas proyek, tahap kedua adalah
pengoganisasian mahasiswa untuk belajar, tahap
ketiga adalah penanaman pemahaman konsep,
tahap keempat adalah pembuatan dan penyajian
tugas proyek, tahap kelima adalah penguatan dan
tindak lanjut belajar.
Teori
Belajar berbasis proyek (project-based
learning) adalah sebuah model atau strategi
pembelajaran yang inovatif, yang menekankan
belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang
kompleks. Fokus pembelajaran terletak pada
konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti dari suatu
disiplin studi, melibatkan siswa dalam investigasi
pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas
bermakna yang lain, memberi kesempatan siswa
bekerja secara otonom mengkonstruk
pengetahuan mereka sendiri, dan mencapai
puncaknya menghasilkan produk nyata [1].
Pembelajaran berbasis proyek memiliki
potensi yang amat besar untuk membuat
pengalaman belajar yang lebih menarik dan
bermakna untuk siswa usia dewasa, seperti siswa,
apakah mereka sedang belajar di perguruan tinggi
maupun pelatihan transisional untuk memasuki
lapangan kerja [2]. Di dalam pembelajaran
berbasis proyek siswa menjadi terdorong lebih aktif
didalam belajar mereka, instruktut berposisi di
belakang dan siswa berinisiatif, instruktur memberi
kemudahan dan mengevaluasi proyek baik
kebermaknaannya maupun penerapannya untuk
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 63
kehidupan mereka sehari-hari. Produk yang dibuat
siswa selama proyek memberikan hasil yang
secara otentik dapat diukur oleh guru atau
instruktur di dalam pembelajarannya. Oleh karena
itu, di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, guru
atau instruktur tidak lebih aktif dan melatih secara
langsung, akan tetapi instruktur menjadi
pendamping, fasilitator, dan memahami pikiran
siswa.
Cara-cara daur ulang minyak jelantah
diantaranya melalui pemanfaatan arang
tempurung kelapa, tepung beras, mengkudu, lidah
buaya, bawang merah dan pembuatan biodiesel
dari jelantah.
Hasil dan Diskusi
Kinerja Mahasiswa dalam Pembelajaran
Berbasis Proyek dinilai pada saat pembelajaran
berlangsung baik saat pertemuan tatap muka
secara langsung maupun pertemuan secara
mandiri, penilaian ini dicantumkan pada rubrik
penilaian proyek perkelompok kerja. Pada
pertemuan tatap mula ke-1 dilakukan penilaian
pada tahapan perencanaan proyek, pada
pertemuan tatap muka ke-2 dilakukan penilaian
pada tahapan penyajian hasil proyek dan tahapan
pengerjaan laporan proyek, dan pada pertemuan
secara mandiri dilakukan penilaian pada tahapan
pengerjaan proyek. Hasil kinerja mahasiswa dalam
pembelajaran berbasis proyek dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Kinerja Mahasiswa dalam
Pembelajaran Berbaisis Proyek.
No.
Skor
Kinerja
Mahasiswa
Nilai Interpretasi
IA 136 76,8 Rendah
IB 150 84,7 Sedang
IIA 153 86,4 Sedang
IIB 152 85,9 Sedang
IIIA 146 82,5 Sedang
IIIB 145 81,9 Sedang
IVA 159 89,8 Tinggi
IVB 153 86,4 Sedang
VA 140 79,1 Sedang
VB 134 75,7 Rendah
Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa kinerja
mahasiswa dalam pembelajaran berbasis proyek,
mendapatkan nilai terendah sebesar 75,7 yaitu
pada kelompok kerja VB dan nilai tertinggi sebesar
89,8 yaitu pada kelompok kerja IVA. Sedangkan
nilai rata-rata keseluhan sebesar 82,9. Hal ini
disebabakan karena adanya beberapa mahasiswa
yang belum terbiasa dengan pembelajaran
berbasis pyoyek dan ada juga beberapa
mahasiswa yang tidak terbiasa belajar secara
berkelompok, sehingga kerjasama antar anggota
kelompok berkurang. Selain itu waktu pengerjaan
proyek cenderung kurang cukup, sehingga
mahasiswa mengerjakan proyek kurang maksimal.
Tahap perencanaan proyek adalah tahap
yang termasuk kedalam fase ketiga yaitu
penanaman pemahaman konsep, pada tahap ini
mahasiswa dituntut untuk merencanakan secara
garis besar, mengenai hal-hal yang harus
diperhatikan dalam pengerjaan proyek. Pada
tahap perencanaan proyek mahasiswa diberikan
lembar pemandu kegiatan untuk memudahkan
aktivitas pengerjaan proyek selanjutnya. Hasil
tahap perencanaan proyek pada kinerja
mahasiswa dalam pembelajaran berbasis proyek
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Tahap Perencanaan Proyek
No.
Skor
Perencanaan
Proyek
Nilai Interpretasi
IA 20 50 Rendah
IB 28 70 Sedang
IIA 29 72,5 Sedang
IIB 34 85 Tinggi
IIIA 26 65 Sedang
IIIB 28 70 Sedang
IVA 35 87,5 Tinggi
IVA 28 70 Sedang
VA 21 52,5 Sedang
VB 16 40 Rendah
Berdasarkan Tabel 2 terlihat bahwa tahap
perencanaan proyek pada kinerja mahasiswa
dalam pembelajaran berbasis proyek, kelompok
kerja mahasiswa yang mendapatkan nilai terendah
sebesar 40 yaitu pada kelompok kerja VB dan nilai
tertinggi sebesar 87,5 yaitu pada kelompok kerja
IVA. Sedangkan nilai rata-rata keseluhan sebesar
66,25. Kesulitan sebagian besar mahasiswa untuk
mencapai skor ideal terdapat dalam jenis kegiatan
menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan
untuk menyelesaikan proyek, kebanyakan
mahasiswa tidak melampirkan sumber relevan
pada kajian teori yang merupakan salah satu
indikator ketercapaian kegiatan proyek, sehingga
nilai yang didapatkan tidak bisa mencapai hasil
sempurna, hal ini disebabkan karena mahasiswa
kurang memiliki pengetahuan secara luas
mengenai proyek yang dikerjakan.
Tahap pengerjaan proyek adalah tahap yang
termasuk kedalam fase keempat yaitu pembuatan
dan penyajian tugas proyek, pada tahap ini
mahasiswa dituntut untuk mengerjakan proyek
secara mandiri dengan melakukan uji coba
eksperimen. Karena pada tahap ini, mahasiswa
melakukan pertemuan secara mandiri dengan
kelompok kerja masing-masing, maka mahasiswa
harus merekam seluruh kegiatan yang dilakukan
dengan video, dan diserahkan kepada peneliti
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 64
dalam jangka waktu yang telah ditentukan, untuk
dilakukan penilaian. Pada tahap pengerjaan
proyek mahasiswa diberikan lembar pemandu
kegiatan untuk memudahkan aktivitas pengerjaan
proyek selanjutnya. Hasil tahap pengerjaan
proyek pada kinerja mahasiswa dalam
pembelajaran berbasis proyek dapat dilihat pada
Tabel 3.
Tabel 3. Nilai Tahap Pengerjaan Proyek.
No.
Skor
Pengerjaan
Proyek
Nilai Interpretasi
IA 22 88 Sedang
IB 23 92 Tinggi
IIA 22 88 Sedang
IIB 22 88 Sedang
IIIA 22 88 Sedang
IIIB 21 84 Rendah
IVA 23 92 Tinggi
IVA 22 88 Sedang
VA 22 88 Sedang
VB 21 84 Rendah
Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa tahap
pengerjaan proyek pada kinerja mahasiswa dalam
pembelajaran berbasis proyek, kelompok kerja
mahasiswa yang mendapatkan nilai terendah
sebesar 84 yaitu pada kelompok kerja IIIB dan VB
dan nilai tertinggi sebesar 92 yaitu pada kelompok
kerja IB dan IVA. Sedangkan nilai rata-rata
keseluhan sebesar 88. Kesulitan sebagian besar
mahasiswa untuk mencapai skor ideal terdapat
dalam jenis kegiatan menguji kualitas produk yang
telah dibuat, kebanyakan mahasiswa kesulitan
dalam membandingankan kejernihan minyak
jelantah awal dengam hasil daur ulang yang telah
dilakukan yang merupakan salah satu indikator
ketercapaian kegiatan proyek, sehingga nilai yang
didapatkan tidak bisa mencapai hasil sempurna,
hal ini disebabkan karena tidak adanya alat khusu
untuk menguji kejernihan suatu zat misalnya
sperektofotometri.
Tahap penyajian hasil proyek adalah tahap
yang termasuk kedalam fase keempat yaitu
pembuatan dan penyajian tugas proyek, pada
tahap ini mahasiswa dituntut untuk menyajikan
hasil proyek yang sudah dikerjakan pada tahap
sebelumnya dengan melaukan presentasi di depan
kelas dengan menggunakan media berserta video
pengerjaan proyek yang telah dibuat sebelumnya.
Pada tahap pengerjaan proyek mahasiswa
diberikan lembar pemandu kegiatan untuk
memudahkan aktivitas pengerjaan proyek
selanjutnya. Hasil tahap penyajian hasil proyek
pada kinerja mahasiswa dalam pembelajaran
berbasis proyek dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Tahap Penyajian Hasil Proyek
No.
Skor
Penyajian
Hasil
Proyek
Nilai Interpretasi
IA 11 91,67 Sedang
IB 9 75 Rendah
IIA 11 91,67 Sedang
IIB 9 75 Rendah
IIIA 10 83,3 Sedang
IIIB 10 83,3 Sedang
IVA 11 91,67 Sedang
IVA 12 100 Tinggi
VA 10 83,3 Sedang
VB 10 83,3 Sedang
Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa tahap
penyajian hasil proyek pada kinerja mahasiswa
dalam pembelajaran berbasis proyek, kelompok
kerja mahasiswa yang mendapatkan nilai terendah
sebesar 75 yaitu pada kelompok kerja IB dan IIB
dan nilai tertinggi sebesar 100 yaitu pada
kelompok kerja IVB. Sedangkan nilai rata-rata
keseluhan sebesar 85,8. Kesulitan sebagian besar
mahasiswa untuk mencapai skor ideal terdapat
dalam jenis kegiatan mempresentasikan produk
proyek yang telah diuji di depan kelas dengan
menggunakan media, kebanyakan mahasiswa
kesulitan dalam penyampain isi materi dan
kesesuaian isi materi itu sendiri yang merupakan
salah satu indikator ketercapaian kegiatan proyek,
sehingga nilai yang didapatkan tidak bisa
mencapai hasil sempurna, hal ini disebabkan
karena masih kurangnya kemampuan mahasiswa
dalam berkomunikasi di depan kelas, dan
kurangnya sumber relevan yang didapatkan untuk
melengkapi isi materi yang disampaikan dalam
presentasi.
Tahap pengerjaan laporan proyek adalah
tahap yang termasuk kedalam fase kelima yaitu
penguatan dan tindak lanjut belajar, pada tahap ini
mahasiswa dituntut untuk membuat laporan dari
hasil proyek yang telah dibuat dan telah diperbaiki
setelah melakukan presentasi. Pada tahap
pengerjaan proyek mahasiswa diberikan lembar
pemandu kegiatan untuk memudahkan aktivitas
pengerjaannya. Hasil tahap pengerjaan laporan
proyek pada kinerja mahasiswa dalam
pembelajaran berbasis proyek dapat dilihat pada
Tabel 5.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 65
Tabel 5. Nilai Tahap Pengerjaan Laporan Proyek.
No.
Skor
Pengerjaan
Laporan
Proyek
Nilai Interpretasi
IA 83 83 Rendah
IB 90 90 Sedang
IIA 91 91 Tinggi
IIB 87 87 Sedang
IIIA 88 88 Sedang
IIIB 86 86 Sedang
IVA 90 90 Sedang
IVA 91 91 Tinggi
VA 87 87 Sedang
VB 87 87 Sedang
Berdasarkan Tabel 5 terlihat bahwa tahap
pembuatan laporan proyek pada kinerja
mahasiswa dalam pembelajaran berbasis proyek,
kelompok kerja mahasiswa yang mendapatkan
nilai terendah sebesar 83 yaitu pada kelompok
kerja IA dan nilai tertinggi sebesar 91 yaitu pada
kelompok kerja IIA dan IVB. Sedangkan nilai rata-
rata keseluhan sebesar 88. Kesulitan sebagian
besar mahasiswa untuk mencapai skor ideal
terdapat indikator ketercapaian kegiatan proyek,
yaitu kajian teori, manfaat produk, simpulan dan
saran, serta cara penulisan, sehingga nilai yang
didapatkan tidak bisa mencapai hasil sempurna,
hal ini disebabkan karena sebagian besar
mahasiswa tidak mencantumkan sumber rujukan
pada kajian teori, tidak mencantumkan manfaat
yang lebih luas pada manfaat produk, pada bagian
simpulan dan saran hanya mencantumkan
sebagian kecil dari keseluruhan, dan cara
penulisan yang belum sesuai dengan standar
penulisan ilmiah.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data, hasil temuan,
dan pembahasan yang telah dikemukakan dapat
ditarik kesimpulan bahwa penerapan model
pembelajaran berbasis proyek dapat
mengembangkan kinerja dalam belajar pada
materi daur ulang minyak jelantah pada tingkat
mahasiswa. Hal ini ditunjukkan dengan nilai
sebagaian besar kelompok mencapai interpretasi
sedang dengan nilai rata-rata sebesar 82,8.
Sedangkan untuk setiap tahapannnya, perecanaan
proyek mencapai nilai rata-rata sebesar 66,25,
pengerjaan proyek mencapai nilai rata-rata
sebesar 88, penyajian hasil proyek mencapai nilai
rata-rata sebesar 85,8, dan pengerjaan laporan
proyek mencapai nilai rata-rata sebesar 88.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Alloh SWT yang telah memberikan kemudahan
dalam penyelesaian penelitian ini, orang tua
penulis yang telah memberikan doa dan dukungan,
dosen pembimbing yang telah senantiasa
memberikan saran untuk perbaikan penelitian ini.
Penulis juga berterima kasih kepada panitia
penyelenggara SNIPS 2013 atas dikusinya yang
bermanfaat.
Referensi
[1] Gaer, S., What is a project-based learning ?,
J akarta: PT Gramedia Pustaka, (1989).
[2] Hung, D.W., & Wong, A.F.L., Activity Theory
as a Framework for Project Work In learning,
Enfironment. Educational Technology, 40 (2),
33-37, (2000).


Assyifa J unitasari*
Mahasiswa Prodi Pendidikan Kimia
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
assyifajunitasari@hotmail.com
Cucu Zenab S.

Dosen Pembimbing Prodi Pendidikan Kimia
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
zenabsc@gmail.com

Risa Rahmawati S.
Dosen Pembimbing Prodi Pendidikan Kimia
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
sunaryarisar@gmail.com
*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 66
Aplikasi Metode Disipasi Termal untuk Analisis Karakteristik Filamen
dan Efektivitas Pencahayaan Berbagai Produk Lampu Pijar
Budi Sigit Purwono*, dan Enjang Jaenal Mustopa

Abstrak
Lampu pijar sebagai alat penerangan buatan tidak hanya menghasilkan energi cahaya, proporsi energi kalor
yang dihasilkan lebih besar. Dengan menggunakan metode disipasi termal, dapat dipisahkan nilai kalor yang
dihasilkan filamen lampu pijar. Pada penelitian ini akan diteliti bagaimana perubahan nilai resistansi filamen
lampu pijar ketika menyala. Metode ini juga dapat mengetahui tingkat kenaikan suhu filamen lampu ketika
menyala. Sekaligus akan diteliti proporsi energi kalor (termal) lampu terhadap energi listrik yang diserap
lampu pijar. Tingkat proporsi energi kalor lampu pijar terhadap energi listrik yang diserap menunjukkan
tingkat efektivitas pencahayaan lampu pijar. Akan dianalisis pula pengaruh pola bentuk filamen terhadap
resistansi dan efisiensi lampu pijar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap kelompok daya lampu
memberikan perbedaan dalam menghasilkan proporsi energi kalor lampu, terhadap tingkat kenaikan
resistansi filamen, terhadap nilai kenaikan suhu filamen, dan terhadap efisiensi pencahayaan lampu pijar.
Juga dianalisis pengaruh pelilitan (coiling) filamen terhadap efektivitas pencahayaan lampu pijar.
Kata kunci: Disipasi Termal, Efektivitas Lampu Pijar, Filamen
Pendahuluan
Hingga kini, lampu pijar masih banyak
digunakan oleh masyarakat di Indonesia, karena
sangat ekonomis dan tidak berbahaya pada saat
proses produksi [1]. Berbagai merk dan jenis
produk lampu pijar beredar di masyarakat dibuat
dengan spesifikasi fabrikasi yang berbeda,
termasuk di dalamnya adalah tingkat energi panas
yang dianggap sebagai energi residu [2].
Merujuk pada hukum pergeseran Wien
tentang radiasi benda hitam, bahwa semakin tinggi
suhu benda semakin besar proporsi radiasi
gelombang cahaya tampak [3]. Tujuan utama
penelitian ini adalah menyelidiki proporsi energi
cahaya yang dihasilkan oleh berbagai produk
lampu pijar di Indonesia. Akan diteliti nilai kenaikan
resistansi filamen lampu pijar ketika penyalaan;
nilai kenaikan temperatur kawat filamen. Di
samping itu juga akan diteliti pengaruh bentuk
filamen terhadap resistansi dan efektivitas
pencahayaan lampu pijar.
Metode Penelitian
Disipasi termal diterapkan untuk memisahkan
dan menghitung energi kalor yang dihasilkan
lampu pijar menggunakan kalorimeter khusus.
Lampu yang diteliti adalah yang ada di pasaran
Indonesia pada daya lampu 15 Watt, 25 Watt, dan
40 Watt. Diwakili oleh produk dari 12 merk (tiap
merk diwakili oleh 5 buah lampu) jenis kaca lampu
bening (clear envelope). Merk lampu pijar diganti
menggunakan kode huruf secara acak untuk
menghindari hal-hal yang merugikan produsen.


Alat dan bahan yang digunakan adalah:
1. Lampu pijar
2. Termometer digital (ketelitian 0,1C)
3. Kalorimeter untuk diisi air dan lampu pijar
4. Stopwatch
5. Multimeter digital
6. Neraca CMC (ketelitian 0,01 gram)

Gambar 1. Diagram Rangkaian Kalorimeter
A. Pengukuran Kenaikan Resistansi Filamen
Lampu Pijar
Pengukuran hambatan awal (R
a
)
menggunakan ohm-meter saat lampu off.
Kemudian saat penyalaan dalam kalorimeter, ukur
arus (I) dan tegangan (V). Hambatan kerja (R
r
)
dengan persamaan R
r
= V/I. Sehingga rasio
kenaikan resistansi filamen adalah R
r
/R
a
.
B. Pengukuran Kenaikan Temperatur Filamen
Lampu Pijar
Mengacu pada sifat kenaikan linear resistansi
terhadap temperatur suatu bahan, dengan
persamaan:
T R R
a
A = A o (1)
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 67
Atau:
( ) ( )
0
T T R R R
a a r
= o (2)
Dengan nilai Tungsten 4, 5 x 10
-3
/C, maka nilai
kenaikan temperatur filamen saat menyala (T)
dapat ditentukan dengan persamaan:

( )
o
a
a r
R
R R
T

= A
(3)
C. Menghitung Proporsi Energi Kalor (Q) dan
Energi Cahaya (E
c
) Lampu Pijar
Langkah untuk menghitung proporsi energi
kalor (Q) dan energi cahaya (E
c
) lampu pijar
adalah sebagai berikut:
1. Menentukan besar energi listrik yang diserap
lampu pijar (
W
L
) selama proses penyalaan
selama 10 menit (600 s), menggunakan
persamaan:
t I V W
L
= (4)
2. Menghitung besar energi kalor (Q) yang
dihasilkan oleh lampu pijar dalam kalorimeter,
menggunakan persamaan:
0
( . .
(
)( )
lepas
a a Al Al k k cu cu
p p
Q ma T
m c m c m c m c
m c T T
= A
= + + +
+
(5)
Keterangan indeks:
a = air pengisi kalorimeter
Al = Alumunium kalorimeter dan ulir lampu
k = kaca lampu
Cu = tembaga kabel dan penyangga filamen
P = plastik pembungkus kabel

3. Membandingkan nilai energi kalor terhadap
energi listrik yang diserap lampu pijar:

% 100%
L
Q
Q
W
| |
=
|
\ .
(6)
Maka, proporsi energi cahaya yang dihasilkan
oleh lampu pijar dapat dinyatakan :

% 100%
L
c
L
W Q
E
W
| |
=
|
\ .
(7)
Hasil dan Diskusi
A. Pengukuran Kenaikan Resistansi Filamen
Lampu Pijar
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh nilai
kenaikan resistansi filamen tiap kelompok daya
lampu yang digambarkan pada Gambar 2, 3, dan 4
berikut:

Gambar 2. Perbandingan hambatan awal (R
a
) dan
hambatan riil (R
r
) pada lampu pijar 15 Watt.


Gambar 3. Perbandingan hambatan awal (R
a
) dan
hambatan riil (R
r
) pada lampu pijar 25 Watt.

Gambar 4. Perbandingan hambatan awal (R
a
) dan
hambatan riil (R
r
)pada lampu pijar 40 Watt.
Rerata tingkat kenaikan nilai resistansi filamen
pada 15 W adalah 9,22x; pada 25 W adalah
12,48x; sedangkan pada lampu 40 W adalah
13,05x.
Terlihat hubungan yang berbanding lurus.
Semakin besar daya listriknya, semakin besar
rasio kenaikan resistansi. Dalam kata lain, semakin
besar arus pada filamen, semakin tinggi
suhunya[4], maka akan menghasilkan pemuaian
panjang filamen yang lebih besar, dan resistansi
filamen lebih besar[5].
Sifat ini disebut sebagai sifat linearitas
hambatan bahan terhadap temperatur, seperti
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 68
dinyatakan dalam Persamaan 1. Dimana R adalah
resistansi akhir, R
0
adalah resistansi hambatan
awal, dan adalah koefisien pertambahan
hambatan terhadap suhu, dan T adalah kenaikan
suhu bahan.

B. Kenaikan Suhu Filamen Lampu Pijar
Dengan mengetahui nilai koefisien hambatan
suatu bahan terhadap temperatur, diperoleh nilai
kenaikan suhu (T) kawat filamen. Nilai rerata tiap
kelompok daya listrik adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Rerata kenaikan suhu filamen pada lampu
15 Watt.

Tabel 2. Rerata kenaikan suhu filamen pada lampu


25 Watt.


Tabel 3. Rerata kenaikan suhu filamen pada lampu
40 Watt.

Nilai ralat tingkat kenaikan suhu filamen
lampu (ralat T) diperoleh dari standar deviasi
pada pengambilan data berulang nilai perhitungan
kenaikan suhu (T) filamen lampu. Dari Tabel 1, 2,
dan 3 di atas, rerata nilai pertambahan suhu pada
lampu 15 Watt adalah 1.826,45 C, pada 25 Watt
sebesar 2.550,79 C, sedangkan pada 40 Watt
sebesar 2.677,46 C. Dari nilai rerata pertambahan
suhu, terlihat pola semakin besar nilai daya listrik
lampu, semakin besar nilai kenaikan suhu filamen
lampu pijar tersebut.

C. Proporsi Energi Kalor Lampu Pijar
Pada bagian ini, akan diteliti nilai
perbandingan besar energi kalor (Q) yang
dihasilkan lampu pijar bila dibandingkan terhadap
energi listrik (
W
L
) yang diserap oleh lampu pijar
ketika beroperasi. Sama seperti pada bagian
sebelumnya, kelompok lampu 15 W sebanyak 6
merk; kelompok 25 W sebanyak 9 merk; dan
kelompok 40 W sebanyak 6 merk.
Hasilnya terlihat pada Gambar 5, 6, dan 7
berikut:

Gambar 5. Proporsi Energi kalor (Q) terhadap


Energi Cahaya (E
c
) pada lampu pijar 15W.


Gambar 6. Proporsi Energi kalor (Q) terhadap
Energi Cahaya (E
c
) pada lampu pijar 25W.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 69

Gambar 7. Proporsi Energi kalor (Q) terhadap
Energi Cahaya (E
c
) pada lampu pijar 40W.
Dari Gambar 5, 6, dan 7, rerata proporsi
energi kalor lampu pijar pada tiap kelompok lampu
pijar 15 Watt sebesar 96,52%, pada 25 Watt
sebesar 95,20%, dan pada 40 Watt sebesar
94,93%. Terlihat pola hubungan antara daya listrik
lampu terhadap nilai proporsi energi kalor yang
dihasilkan adalah berbanding terbalik. Semakin
besar daya listrik lampu pijar, maka nilai
persentase kalor yang dihasilkan semakin kecil.
D. Pengaruh Pelilitan Filamen Terhadap Efisiensi
Lampu Pijar
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi
lampu pijar dipengaruhi oleh faktor pelilitan
(coiling) kawat filamen. Pada kelompok daya 40
Watt memiliki diameter lilitan filamen besar, pada
25 Watt lebih kecil, dan pada lampu 15 Watt
berlilitan. Diperoleh nilai pada daya 40 Watt
menghasilkan efisiensi pencahayaan 5,07%, pada
25 Watt 4,80%, dan 15 Watt adalah 3,48%. Jika
dibandingkan dengan pengukuran langsung
menggunakan lux-meter, metode disipasi termal
menghasilkan nilai yang lebih tinggi rata-rata 2,3%.
Hal ini dikarenakan metode disipasi termal lebih
dikhususkan untuk pengukuran energi kalor lampu,
dan energi cahaya yang dihitung tidak hanya pada
spektrum cahaya tampak.
Agrawal (2011) dalam jurnal penelitiannya
menyebutkan dua buah parameter pada bentuk
penggulungan filamen (coiling factor), yakni rasio
pitch dan rasio mandrel [6].

Gambar 8. Parameter dalam gulungan kawat
filamen. (Agrawal: 2011).

Di mana h adalah jarak antara lilitan kawat, dan
nilai Rasio Pitch (K
p
) adalah
2.
h
r
. Sedangkan
Rasio Mandrel (K
m
) didefinisikan
2.
m
r
. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Agrawal (2011),
menyebutkan bahwa peningkatan nilai resistansi
karena faktor-faktor rasio pelilitan tergolong kecil
[6].
Faktor reaktansi induktif juga hanya menambah
resistansi filamen dengan orde 10
-4
ohm, sangat
kecil. Tetapi faktor pelilitan berpengaruh signifikan
terhadap peningkatan suhu filamen. Pada kuat
arus listrik yang sama, panas yang dihasilkan oleh
tiap satu lilit kawat akan saling memanasi lilitan
kawat terdekatnya. Pelilitan kawat juga
memperbesar permukaan tangkap (covered area)
radiasi panas yang dihasilkan oleh filamen [6].
Sehingga temperatur kawat filamen yang digulung
lebih tinggi dibandingkan tanpa pelilitan. Dengan
suhu filamen lampu yang lebih tinggi maka
semakin besar proporsi energi cahaya tampak
yang dihasilkan suatu lampu pijar [3], [7].
Kesimpulan
Kenaikan nilai resistansi filamen lampu pijar
kelompok daya listrik 15 Watt adalah 9,22 kali
hambatan semula; pada 25 Watt sebesar 11,21
kali; dan pada 40 Watt sebesar 13,05 kali. Rerata
nilai pertambahan suhu filamen pada lampu 15
Watt adalah 1.826,45 C, pada 25 Watt sebesar
2.550,79 C, sedangkan pada 40 Watt sebesar
2.677,46 C. Rerata proporsi energi kalor yang
dihasilkan oleh lampu pijar pada kelompok daya
listrik 15 Watt adalah 96,52 %; pada 25 Watt
adalah 95,20 %; dan pada 40 Watt sebesar
94,93%. Metode disipasi termal dapat digunakan
untuk pendekatan pengukuran efisiensi
pencahayaan lampu pijar dengan faktor koreksi
rerata +2,3%.
Referensi
[1] Istiawan, Saptono, Ruang Artistik Dengan
Pencahayaan Niaga Swadaya, Jakarta,
(2006)
[2] Maclsaac, Dan, Gary Karner, and Graydon
Anderson, "Basic Physics of the Incandesent
Lamp (Lightbulb)". The Physics Teacher 37,
no. 9 (December 1999): 520 525, (1999).
[3] Tipler, Paul A, Fisika Untuk Sains dan
Teknik, (Terjemah), Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
637, (1991).
[4] Marikani, A., Physics, PHI Learning Pvt. Ltd.
New Delhi. p: 104 (2009).
[5] Hewitt, Paul G. Conceptual Physics (11th
Edition). Pearson Longman. Singapore, 538,
(2010).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 70
[6] Agrawal D. C., The Coiling Factor in the
Tungsten Filament Lamps, Department of
Farm Engineering, Banaras Hindu University,
5, June: 444, (2011).
[7] Peet, Mathew, Tungsten Filament Lamp, A
Case Study. Department of Engineering
Material, University of Sheffield. 4
th
Ed., p.2,
(1999).





Budi Sigit Purwono*
Magister Pengajaran Fisika
Institut Teknologi Bandung
budisp81@gmail.com

Enjang Jaenal Mustopa
Kelompok Keilmuan Fisika Bumi dan Sistem
Kompleks, FMIPA
Institut Teknologi Bandung
enjang@fi.itb.ac.id

*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 71
Meningkatkan Kemampuan Multi Representasi dan Translasi Antar
Modus Representasi Konsep-Konsep Listrik Magnet Pada Program
Preservice Guru Fisika
P. Sinaga, Andi Suhandi, dan Liliasari

Abstrak
Program persiapan guru perlu mempertimbangkan tuntutan sekolah saat ini dan basis pengetahuan yang
berkembang. Memahami tentang bagaimana proses belajar dan strategi pengajaran apa yang mendukung belajar
tingkat tinggi serta mengevaluasi pendekatan apa untuk mempersiapkan guru yang dapat membantu mereka
mendapatkan body of knowledge dan keterampilan. Permasalahan dalam penelitian ini ialah bagaimanakah
meningkatan kemampuan membuat multi representasi konsep dan kemampuan mentranslasi antar jenis
modus representasi mahasiswa program preservice guru Metode penelitian yang digunakan ialah pre
eksperimen dengan desain one group pre test post- test . Data penelitian diperoleh dengan menggunakan
instrumen penelitian berupa soal uraian terbatas , angket, dan one on one semi structure interview. Hasil
pengolahan data menunjukkan bahwa kemampuan membuat multi representasi konsep pada pokok
bahasan listrik magnet meningkat dengan rata rata prosentase gain yang dinormalisasi <g> = 70% dengan
kriteria tinggi. Kemampuan mentranslasi meningkat dengan rata rata persentase gain yang dinormalisasi
<g>=40% dengan kritria sedang. Hubungan korelasional antara kemampuan mahasiswa dalam membuat
multi representasi konsep dengan kemampuan translasi antara jenis modus representasi dinyatakan dengan
harga koefisien korelasi r = 0,31 dan harga koefisien determinasi 9,6% yang menyatakan bahwa
kemampuan dalam membuat multi representasi sedikit pengaruhnya terhadap kemampuan mentranslasi
antar modus representasi.
Kata kunci : multi representasi , translasi antar modus representasi, modus representasi konsep
Latar Belakang
Ketika menyajikan berbagai informasi kepada
siswa, representasi tunggal tidak dapat
menyampaikan semua informasi yang diperlukan
dan karenanya multi representasi harus digunakan
jika pelajar diharapkan mampu melakukan
melampaui tingkat yang paling dasar [1], [2].
Mengingat kemampuan siswa dalam memahami
konsep fisika salah satu faktornya ditentukan oleh
bagaimana konsep itu direpresentasikan baik
secara lisan maupun tulisan maka sangat penting
para calon guru dipersiapkan agar memiliki
kompetensi membuat multi representasi konsep
atau hukum hukum fisika dan mampu mentranslasi
dari satu modus representasi ke jenis modus
representasi yang lain..
Permasalahan dalam penelitian ini ialah 1)
Bagaimanakah peningkatan kemampuan membuat
multi representasi konsep dan kemampuan
mentranslasi antar jenis modus representasi pada
pokok bahasan listrik magnet mahasiswa antara
sebelum dan sesudah embedding writing in the
disciplinea activity pada perkuliahan fisika sekolah
III .2) Kesulitan kesulitan apakah yang dialami oleh
mahasiswa dalam membuat multi representasi
konsep fisika dan mentranslasi antar jenis modus
representasi konsep fisika dan 3) Bagaimanakah
relasi korelasional antara kemampuan membuat
multi representasi konsep dengan kemampuan
mentranslasi antar jenis modus representasi
konsep fisika
Teori
Pendidikan dirasa semakin penting bagi
keberhasilan individu dan bangsa, dan semakin
banyak bukti menunjukkan bahwa diantara semua
sumber pendidikan khususnya kemampuan guru
merupakan kontributor penting untuk siswa
belajar. Selain itu, tuntutan pada guru semakin
meningkat. Para guru tidak semata harus mampu
untuk menjaga ketertiban dan memberikan
informasi berguna kepada siswa, namun mereka
juga harus memiliki kemampuam untuk
mempasilitasi para siswa untuk mempelajari materi
yang lebih kompleks dan untuk mengembangkan
keterampilan lebih luas.
Program persiapan guru perlu
mempertimbangkan tuntutan sekolah saat ini dan
basis pengetahuan yang berkembang. Memahami
tentang bagaimana proses belajar dan strategi
pengajaran apa yang mendukung belajar tingkat
tinggi dan untuk mengevaluasi pendekatan apa
untuk mempersiapkan guru yang dapat membantu
mereka mendapatkan body of knowledge dan
keterampilan.Tujuan dari program persiapan guru
adalah untuk membantu melengkapi semua siswa
mencapai potensi terbesarnya, menimbulkan
sejumlah pertanyaan penting, misalnya:1) Apa
jenis pengetahuan yang harus dimiliki guru , materi
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 72
subjek apa yang perlu dikuasai dan pengetahuan
tentang proses belajar dan perkembangan siswa?
2) Keterampilan apa yang diperlukan guru dalam
rangka memberikan pengalaman pembelajaran
produktif' untuk suatu kelompok siswa yang
beragam , untuk menawarkan umpan balik
informatif pada ide-ide siswa, dan kritis
mengevaluasi praktek pengajaran mereka sendiri
dan memperbaiki diri sendiri? 3) Apa komitmen
guru profesional yang perlu untuk membantu
setiap anak sukses dan terus mengembangkan
pengetahuan dan keterampilan mereka sendiri,
baik sebagai individu maupun sebagai anggota
suatu profesi kolektif? [3]
Siswa belajar dengan berbagai cara,
representasi yang berbeda cocok (compatible)
dengan cara belajar yang berbeda. Besaran
besaran fisika dan konsep konsep fisika dapat
divisualisasikan dan dipahami lebih baik dengan
representasi yang kongkrit. Tiap representasi
konsep fisika dan penggunaan konsep konsep
kunci dari fisika dapat membantu pemahaman
siswa, namun di pihak lain dapat juga menyulitkan
siswa. Penelitian sebelumnya yang berkaitan
dengan kesulitan siswa terhadap jenis
representasi tertentu di antaranya ialah terdapat
dalam, [4], [5], [6], [7] .
Fungsi multi presentasi dapat dibagi ke
dalam tiga kelas yang luas. Pertama, multi
representasi dapat mendukung pembelajaran
yang memungkinkan untuk informasi tambahan
atau peranannya melengkapi (peran
komplementer). multi representasi dalam hal ini
memungkinkan informasi yang berbeda untuk
direpresentasikan dengan cara yang yang paling
sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Kedua,
multi representasi dapat digunakan sehingga satu
modus representasi mengatasi keterbatasan
interpretasi dari modus representasi lain.
Seringkali peserta didik dapat menemukan
representasi kompleks bentuk baru dan
kemungkinan salah menafsirkankan informasi
yang terkandung didalamnya. Dalam hal ini siswa
dapat menggunakan modus representasi yang
kedua, yang lebih akrab atau mudah untuk
ditafsirkan. Cara kedua yang menghambat
interpretasi dapat dicapai dengan mengandalkan
sifat inherent dari satu representasi untuk
membantu peserta didik mengembangkan
interpretasi yang dimaksudkan dari representasi
kedua. Ketiga Multi representasi dapat mendukung
pembangunan pemahaman yang lebih mendalam ketika
pebelajar menghubungan representasi representasi
tersebut untuk mengidentifikasi fitur invarian apa
yang di bagi dari domain dan apa sifat representasi
individual [8].

Metodologi Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan pertanyaan
penelitian yang dikaji maka dipilih metode
penelitian pre eksperimen dengan desain one
group pre test post test. Sample penelitian ialah
mahasiswa program preservice guru fisika peserta
perkuliahan Fisika Sekolah III yang jumlahnya 18
orang. Instrumen pre test dan post test berupa
soal uraian terbatas pada domain listrik magnet.
J umlah soal 22 buah dengan perincian 6 soal
untuk mengukur multi representasi konsep dan 16
soal lainnya untuk mengukur kemampuan
mentranslasi antar jenis modus representasi
Instrumen lain yang digunakan ialah angket
(questioner) dan one on one semi structure
interview. sedangkan data hasil angket
dideskripsikan.
Hasil dan Pembahasan
Peningkatan kemampuan multi representasi
konsep
Data hasil pre test dan post test, persentase
rata rata dan gain yang dinormalisasi dari
kemampuan multirepresentasi konsep konsep
listrik magnet untuk hukum coulomb dinyatakan
dalam Gambar 1 Persentase rata rata pre test
ialah 43,7% , persentase rata rata post test ialah
83,3% dan persentase rata rata gain yang
dinormalisasi ialah 70% dengan kategori tinggi.

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
pre post gain
p
e
r
s
e
n
t
a
s
e

Gambar 1. Gain multi representasi konsep.


Untuk melihat adakah faktor lain yang
mempengaruhi kemampuan mahasiswa dalam
membuat multi representasi konsep tersebut,
mahasiswa diberikan test yang sama untuk konsep
yang berbeda yaitu pada konsep medan listrik,
ternyata persentase jumlah mahasiswa yang
menjawab benar untuk tiap jenis modus
representasi masing masing pada konsep Hk
Coulomb dan medan listrik hasilnya berbeda,
seperti pada Tabel 1. Data penelitian ini
menunjukkan bahwa kemampuan membuat multi
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 73
representasi konsep fisika selain bergantung pada
domainnya juga bergantung pada pemahaman
konsep fisikanya.
Tabel 1. Kemampuan multi representasi untuk
konsep yang berbeda.
Jenismodusrepresentasi Hk
Coulomb
Medan
Listrik
Teks(narasi) 75% 50%
Modusgrafik 94% 31%
Moduspersamaan
matematik
100% 81%
Modusgambar 63% 25%
Modusdiagrampiktorial 81% 25%
Modustabel 69% 56%

Hal itu sesuai dengan penelitian sebelumnya


oleh [9] dan [10] yang menyatakan bahwa
meskipun representasi eksternal memberikan banyak
manfaat untuk siswa, namun ada kesulitan tambahan
yang dialami siswa. Siswa tidak hanya harus memahami
representasi individu dan hubungan mereka ke domain,
tetapi juga hubungan antara beberapa representasi.
Karena kesulitan yang dihadapi peserta didik ketika
mencoba untuk memahami dan menerjemahkan antara
beberapa representasi, peserta didik sering mengabaikan
multi representasi dan cenderung memperlakukan
representasi dalam isolasi. Hasil angket dan
wawancara tentang membuat multi representasi
konsep setelah mahasiswa mempelajari , berlatih
dan mengerjakan tugas tugas yang berkaitan
dengan membuat multi representasi konsep fisika,
sebagian besar menyatakan bahwa pemahaman
mendalam terhadap konsep fisika yang mau
direpresentasikan sangat menentukan
kemampuan mereka dalam membuat multi
representasi. Kesulitan lain yang dialami
mahasiswa dalam membuat multi representasi
misalnya ketika membuat representasi hukum
Coulomb dengan menggunakan jenis modus
representasi tabel, mereka semuanya mengalami
kesulitan dalam hal : membuat tabel sedemikian
hingga pembaca dapat dengan jelas melihat
langsung hubungan antara variabel yang
tercantum dalam tabel tersebut, dan menentukan
variabel apa saja yang akan ditampilkan dalam
tabel. Tenyata bahwa tiap jenis modus
representasi ada kesulitannya tersendiri yang
dihadapi oleh mahasiswa.
Kemampuan mentranslasi antar modus
representasi
Kemampuan mahasiswa program preservice
guru fisika dalam membuat translasi antar modus
representasi pada domain listrik magnet
dinyatakan pada Gambar 2 . Persentase rata rata
pre test 33%, persentase rata rata post test ialah
60%, dan persentase rata rata gain yang
dinormalisasi ialah 40% dengan kriteria sedang.
Untuk melihat lebih detail tentang
kemampuan translasi antar jenis modus
representasi, Gambar 3 menampilkan secara rinci
gain untuk tiap tanslasi. Kemampuan mentranslasi
dari modus teks (narasi) ke modus representasi
lainnya (diagram piktorial, grafik, persamaan
matematik, dan tabel) persentase rata rata gain
yang dinormalisasinya ialah 56% dengan kriteria
sedang. Kemampuan mentranslasi dari modus
representasi gambar ke jenis modus representasi
lainnya (teks, dan diagram piktorial) persentasi
rata rata gain yang dinormalisasinya ialah 64%
dengan kriteria sedang. Kemampuan mentranslasi
dari modus representasi persamaan matematik ke
jenis modus representasi lainnya (teks, diagram
piktorial, grafik, dan gambar) prosentase rata rata
gain yang dinormalisasinya ialah 18% dengan
kriteria rendah.
Kemampuan mentranslasi dari modus
representasi diagram piktorial ke jenis modus
representasi lainnya (teks, matematik dan tabel)
persentase rata rata gain yang dinormalisasinya
36% dengan kriteria sedang. Kemampuan
translasi dari modus representasi FBD ke jenis
representasi lainnya (teks, matematik) prosentase
rata rata gain yang dinormalisasinya ialah 41%
dengan kriteria sedang. Kemampuan mentranslasi
dari modus representasi grafik ke jenis modus
representasi lainnya (teks , matematik) dengan
persentase rata rata gain yang dinormalisasinya
23% dengan kriteria sedang. Berdasarkan
penelitian ini ditemukan bahwa untuk domain listrik
magnet translasi dari modus representasi
matematika ke jenis modus representasi lainnya
merupakan translasi yang paling sulit yang dialami
oleh mahasiswa.
0
10
20
30
40
50
60
pre post gain
P
e
r
s
e
n
t
a
s
33
60
40

Gambar 2. Peningkatan kemampuan translasi


antar modus representasi.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 74

Gambar 3. Kemampuan mentranslasi dari tiap


jenis modus representasi.
Hasil angket dan wawancara yang berkaitan
dengan translasi antar jenis modus representasi
sebagian besar mahasiswa (87%) menyatakan
kadang kadang mengalami kesulitan tergantung
pada apakah mereka memahami konsep yang
terkandung pada modus representasi asal yang
diberikan. Apabila mereka tidak memahami
konsepnya maka mereka tidak memiliki ide untuk
melakukan translasi dari modus representasi asal
ke modus representasi lainnya.
Hubungan korelasional antar kemampuan
membuat multi representasi dan kemampuan
translasi antar jenis modus representasi
dinyatakan oleh persamaan regresi Y =37 +0,26
X, dengan koefisien korelasi r =0,31 dan harga
koefisien determinasinya ialah 9,6%. Hal itu
menyatakan bahwa kemampuan mahasiswa
dalam membuat multi representasi kecil
pengaruhnya terhadap kemampuan mahasiswa
dalam mentranslasi antar modus representasi
Kesimpulan
Kemampuan membuat multi representasi
konsep pada pokok bahasan listrik magnet
meningkat dengan rata rata persentase gain yang
dinormalisasi 70% dengan kriteria tinggi.
Kemampuan membuat multi representasi konsep
fisika dipengaruhi oleh pemahaman mahasiswa
terhadap konsep fisika yang mau
direpresentasikan dan juga tiap jenis modus
representasi memiliki kesulitan yang berbeda
beda. Kemampuan mentranslasi antar modus
representasi meningkat dengan kriteria gainnya
sedang. Kemampuan mentranslasi antar modus
representasi sangat dipengaruhi oleh tingkat
pemahaman mahasiswa terhadap konsep fisika
yang mau direpresentasikan secara verbal.
Hubungan korelasional antara kemampuan
membuat multirepresentasi konsep dengan
kemampuan translasi antara jenis modus
representasi dinyatakan dengan harga koefisien
determininasi 9,6% yang menyatakan bahwa
kemampuan mahasiswa dalam membuat multi
representasi konsep fisika hampir tidak
berpengaruh terhadap kemampuan mentranslasi
antar modus representasi.
Ucapan Terima Kasih
Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada
bapak Dr. Aloysius Rusli yang telah menyediakan
waktu untuk mendiskusikan artikel ini dan atas
saran saran yang berharganya.
Referensi
[1] T. de J ong, et al., "Acquiring knowledge in
science and mathematics: the use of multiple
representations in technology-based learning
environments," in Learning with multiple
representations, M. W. Van Someren, et al.,
Eds., ed Oxford: Elsevier Science Ltd., p.9,
(1998).
[2] D. H. J onassen, "Implications of multi-image
for concept acquisition," Education
Communication and Technology Journal, 27,
291-302, (1979).
[3] Linda Darling Hammond & J ohn Bransford,
Preparing Teachers for a Changing World,
what teachers should learn and be able to
do. J ossey Bass a wiley Inprint, (2005).
[4] Meltzer, D.E., The relationship between
mathematics preparation and conceptual
learning gains in physics: A possible hidden
variable in diagnostic pretest scores. Am. J .
Phys., 70, (2002).
[5] Nguyen, N. and D.E. Meltzer, Initial
understanding of vector concepts among
students in introductory physics courses, Am.
J . Phys., 71, (2003).
[6] Beichner, R.J ., Testing student interpretation
of kinematics graphs, Am. J .Phys., 62,
(1994).
[7] Flores, S., S.E. Kanim, and C.H. Kautz,
Student use of vectors in introductory
mechanics, Am. J . Phys., 72, (2004).
[8] Ainsworth, "The functions of multiple
representations," Computers & Education, 33,
131-152, (1999).
[9] Sinaga, Andi Suhandi, dan Liliasari,
Meningkatkan Kemampuan penggunaan
representation tool pada pokok bahasan
gelombang melalui writing in the discipline
activity, Prosiding seminar nasional
penelitian, pendidikan dan penerapan MIPA.
UNY, (2013).
[10] Ainsworth, "DeFT: A conceptual framework
for considering learning with multiple
representations," Learning and Instruction,
16, 183-198, (2006).
P
e
r
s
e
n
t
a
s
e
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3 - 4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 75
P. Sinaga*
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI
e-mail : parlinsinagabdg@yahoo.com

Andi Suhandi
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI

Liliasari
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA UPI


*Corresponding author



















Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 76
Pengembangan Aplikasi Lagu Sistem Periodik Unsur dalam Bentuk
Macromedia Flash pada Materi Sistem Periodik
Eka Yusmaita*, dan Bayharti

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi lagu sistem periodik dalam bentuk macromedia flash agar
siswa dapat mengenal nama dan lambang unsur dengan mudah dan menyenangkan. Sistem periodik
merupakan salah satu materi kimia yang dirasakan sulit oleh siswa karena memiliki perbendaharaan kata
yang khusus. Pada materi sistem periodik, siswa kesulitan untuk mengenali dan menyebutkan unsur-unsur
yang terdapat pada golongan atau periode tertentu. Berdasarkan kondisi tersebut, salah satu solusi yang
ditawarkan oleh guru di sekolah adalah menyusun jembatan keledai sistem periodik unsur dengan metode
mnemonik. Pada kenyataanya, pemanfaatan metode ini masih terbatas pada unsur-unsur tertentu. Oleh
karena itu, dirancanglah suatu aplikasi lagu sistem periodik dengan metode mnemonik. Lagu tersebut
berjudul Periodic Table Song (Dicta Song). Berdasarkan analisis psikologi siswa pada sekolah menengah,
maka tema yang diangkatkan pada lirik lagu ini adalah persahabatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian
pengembangan yang meliputi 3 tahap yaitu pendefinisian (define), perancangan (design) dan
pengembangan (develop). Perolehan analisis data melalui uji coba terbatas terhadap 24 orang siswa SMA
sebesar 81,11%. Hal ini menunjukkan bahwa lagu Dicta Song layak untuk digunakan pada pembelajaran
kimia di sekolah.
Kata-kata kunci: lagu, sistem periodik unsur, mnemonik
Pendahuluan
Kimia merupakan salah satu bidang Ilmu
Pengetahuan Alam (IPA) yang sering terkesan sulit.
Salah satu alasan dari kesan sulit ini adalah kimia
memiliki perbendaharaan kata yang khusus [1].
Berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada
guru kimia SMA diketahui bahwa siswa sangat
bergantung pada tabel Sistem Periodik Unsur
(SPU). Hal ini dibuktikan dengan seringnya siswa
menanyakan boleh atau tidaknya membawa tabel
SPU saat ulangan harian maupun ujian semester.
Sebagai alternatif bagi siswa dalam
menghafal unsurunsur pada tabel SPU maka
dirancanglah suatu aplikasi lagu sistem periodik
yang diberi nama Periodic Table Song (Dicta
Song). Tujuan dari pembuatan aplikasi lagu sistem
periodik ini adalah untuk mempermudah siswa
dalam menyebutkan nama dan lambang unsur-
unsur kimia. Aplikasi ini dibuat dalam bentuk
macromedia flash terdiri dari dua versi. Kedua
versi lagu tersebut memiliki irama yang sama,
yaitunya irama jazz dengan durasi 3 menit 35 detik.
Versi pertama lagu ini menampilkan lambang
unsur-unsur beserta cara pelafalannya sesuai
kaidah IUPAC, sedangkan versi kedua dari lagu ini
dirancang dengan metode mnemonic. Lirik lagu
yang diciptakan pada versi kedua mengangkat
tema persahabatan yang didasarkan pada kondisi
psikologi siswa sekolah menengah.


Teori
Aplikasi lagu sistem periodik unsur
merupakan suatu media pembelajaran kimia yang
mengkombinasikan unsur sains dan seni. Psikolog
Rauscher dan Shaw (1994) dari University of
California membuktikan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara musik dengan penguasaan
keterampilan sains siswa. Penelitian dari kedua
pakar ini menunjukkan bahwa siswa yang
mendapat program musik, inteligensinya
meningkat sebasar 46% dibandingkan siswa yang
tidak mendapat program musik. Di samping itu,
Schiller menyatakan bahwa mendengarkan musik
dapat mengurangi stres, mengaktifkan kedua
belahan otak, dan meningkatkan penalaran
temporal spasial. Musik dapat memberikan banyak
manfaat seperti merangsang pikiran, memperbaiki
konsenstrasi dan ingatan, meningkatkan aspek
kognitif, dan membangun kecerdasan emosional
[2]. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Hariyadi [3], dan Salbiah [4] diketahui bahwa
musik juga dapat meningkatkan daya ingat, dan
konsentrasi siswa. Musik dapat meningkatan
produksi hormon endorphin yang diproduksi oleh
bagian hipotalamus otak [5].
Analisis yang dilakukan terhadap media
sistem periodik yang beredar melalui video you
tube, charta, dan poster menunjukkan bahwa
media tersebut belum cukup memadai untuk
membantu siswa mengetahui seluruh unsur pada
tabel SPU. Di samping itu, metode jembatan
keledai yang diterapkan oleh guru di kelas masih
terbatas pada unsur-unsur golongan tertentu. Oleh
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 77
sebab itu, sebagai alternatif bagi siswa dalam
menghafal unsurunsur pada tabel SPU maka
dirancanglah suatu aplikasi lagu sistem periodik
agar siswa dapat mengenal nama dan lambang
unsur-unsur dengan mudah dan menyenangkan.
Penelitian ini merupakan penelitian
pengembangan. Pengembangan perangkat
penelitian ini disarankan oleh Thiagarajan, semmel
dan semmel (1974) yang dikenal dengan model 4-
D meliputi 4 tahap yaitu pendefinisian (define),
perancangan (design) pengembangan (develop)
dan Penyebaran (desseminate) [6]. Pelaksanaan
pada penelitian ini dibatasi sampai uji coba
terbatas pada tahap pengembangan.
Hasil dan Diskusi
Luaran dari penelitian ini adalah terciptanya
aplikasi lagu sisem periodik unsur yang dirancang
dengan menggunakan software makromedia flash.
Ada 3 tahap yang dilalui dalam penelitian ini.
Tahap pertama adalah pendefinisian (define) yang
meliputi, (1) analisis kebutuhan, (2) analisis siswa
dan (3)analisis konsep. Analisis kebutuhan adalah
analisis mengenai kesenjangan antara hal-hal
yang sudah diketahui siswa dengan apa yang
seharusnya akan dicapai siswa [6]. Berdasarkan
hasil interview siswa kelas XI diketahui bahwa
materi sistem periodik unsur tergolong materi
yang cukup sulit. Menanggapi permasalahan
tersebut, upaya yang telah dilakukan oleh guru
adalah membuat jembatan keledai unsur, namun
pemanfaatan metode ini masih terbatas pada
unsur-unsur golongan tertentu. Oleh sebab itu,
untuk menutupi kesenjangan tersebut maka
dirancanglah sebuah lirik lagu sistem periodik
unsur dengan metode mnemonik.
mnemonic adalah suatu cara menghafal atau
metode Jembatan keledai untuk mengingat
informasi. Jembatan keledai sering berupa
kata atau suku kata yang ditambahkan pada
susunan kata yang ingin dihafal agar
terbentuk kalimat dengan arti yang menarik
atau masuk akal [7]
Berdasarkan analisis siswa, secara psikologis
perlakuan pada anak usia remaja memerlukan
pendekatan yang berbeda dalam proses
pembelajaran. Salah satu perkembangan bahasa
dan kognitif siswa pada masa remaja awal adalah
menggemari literatur yang mengandung sisi
fantastik dan estetik [8]. Kedua sisi ini dapat
diterapkan pada musik. Musik dapat dijadikan
suatu media dalam pembelajaran jika di dalam
penyampaian musik itu sendiri terdapat informasi
pengajaran.
Berdasarkan analisis konsep, materi sistem
periodik unsur merupakan materi yang diajarkan
secara berkelanjutan dari kelas X sampai kelas XII.
Pada setiap tingkat, materi ini memiliki Standar
Kompetensi (SK) dan kompetensi Dasar (KD) yang
berbeda. Pada kelas X Standar Kompetensi yang
harus dicapai adalah memahami struktur atom,
sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia. Pada
kelas XI Standar Kompetensinya adalah
memahami struktur atom untuk meramalkan sifat
sifat periodik unsur, struktur molekul, dan sifat-sifat
senyawa. Sedangkan pada kelas XII Standar
Kompetensi yang harus dicapai adalah memahami
karakteristik unsurunsur penting, kegunaan dan
bahayanya, serta terdapatnya di alam. Siswa akan
mengalami kesulitan di kelas XII jika materi
prasyarat sistem periodik dari kelas X dan XI tidak
mereka pahami. Analisis konsep ini dilakukan
dengan tujuan mengidentifikasi konsep-konsep
utama yang diajarkan dan menyusunnya secara
sistematis sesuai dengan urutan penyajiannya.
Konsep penyusunan lirik lagu sistem periodik
unsur ini disusun dari atas ke bawah berdasarkan
golongan. Golongan yang terdapat pada tabel
SPU terdiri dari 2 yakni, golongan A (utama) dan
golongan B (transisi).
Tahap kedua dari penelitian ini adalah
perancangan (design). Tujuan tahap ini adalah
untuk menyiapkan prototipe aplikasil lagu sistem
periodik unsur. Tahap ini terdiri atas 3 langkah
yaitu, (1) pembuatan story board, (2) proses
rekaman dan (2) perancangan media. Berikut
tampilan aplikasi lagu sistem periodik dalam
bentuk macromedia flash.

Gambar 1. Versi I aplikasi lagu sistem periodik
dalam bentuk macromedia flash.
Pada versi I lagu ini, semua unsur pada tabel
SPU ditampilkan. Agar mempermudah fokus siswa
melihat tampilan versi I ini, ketika unsur tertentu
dinyanyikan maka secara otomatis ada stick yang
berfungsi sebagai penunjuk lambang unsur. Pada
bagian bawah tabel SPU terdapat teks yang
menunjukkan cara pelafalan masing-masing unsur.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 78

Gambar 2. Versi II aplikasi lagu sistem periodik
dalam bentuk macromedia flash.
Versi II aplikasi lagu sistem periodik ini
menampilkan lirik lagu dengan tema persahabatan.
Lambang masing-masing unsur ditampilkan secara
bergantian berdasarkan lirik lagu yang
dinyanyikan.
Tahapan terakhir adalah tahap
pengembangan (develop), tujuan dari tahapan ini
adalah untuk menghasilkan perangkat
pembelajaran yang sudah direvisi berdasarkan
masukan para ahli. Tahap ini meliputi: (1) validasi
media, (2) revisi media, (3) uji coba terbatas.
Setelah proses perancangan selesai, aplikasi lagu
sistem periodik unsur dalam bentuk macromedia
flash divalidasi oleh validator yang terdiri atas guru
dan dosen. Tujuan validasi ini adalah melihat
aspek kesesuaian media dengan kurikulum, aspek
tampilan dan tata bahasa media, serta aspek
kepraktisan media tersebut. Masukan dari validator
menjadi rujukan dalam melakukan revisi terhadap
media tersebut. Uji coba terbatas dilakukan
terhadap 24 orang siswa SMA. Uji coba ini
dilakukan dengan cara memutarkan aplikasi lagu
sistem periodik secara keseluruhan dihadapan
siswa dan kemudian meminta mereka untuk
mengisi angket terkait tanggapan mereka
terhadap tampilan lagu.
Angket tanggapan siswa disusun dalam
bentuk skala Likert. Data yang diperoleh melalui
angket dalam bentuk skala kualitatif dikonversi
menjadi skala kuantitatif. Untuk pernyataan yang
bersifat positif kategori SS (sangat setuju) diberi
skor 5, ST (Setuju) diberi skor 4, RG (Ragu-ragu)
diberi skor 3, TS (Tidak Setuju) diberi skor 2 dan
STS(Sangat Tidak Setuju) diberi skor 1 [9].
Ada 15 item pernyataan yang diberikan pada
angket ini, semua pernyataan tersebut
dikelompokkan berdasarkan kisi-kisi angket.
Penyebaran angket ini dilakukan di luar jam
pembelajaran.
Berdasarkan sebaran angket yang telah
diberikan kepada siswa menunjukkan bahwa
aplikasi lagu sistem periodik unsur mendapat
tanggapan yang positif. Lagu Dicta song yang
disusun berdasarkan metode mnemonic menurut
siswa sangat menyenangkan sehingga siswa
menjadi termotivasi dan semangat untuk belajar
kimia. Mereka menginginkan agar metode ini dapat
juga diterapkan pada pembelajaran materi yang
lain.
Tabel 1. Rekapitulasi tanggapan siswa terhadap
aplikasi lagu sistem periodik unsur.
No Kisi-kisi angket
% rata-
rata
Kategori
1
Kesesuaian
tampilan
penyajian
83.06 setuju
2
Kesesuaian
dengan kurikulum
81.67 setuju
3 Kepraktisan 79.33 setuju
4
Bahasa yang
komunikatif
79.17 setuju
Melalui tabel tersebut dapat diketahui bahwa
persentase tanggapan siswa terhadap media
aplikasi lagu sistem periodik unsur dalam bentuk
macromedia flash secara keseluruhan adalah
setuju, perolehan rata-ratanya sebesar 81,11%.
Kesimpulan
Periodic Table Song (Dicta Song) dirancang
sebagai alternatif bagi siswa dalam menghafal
unsurunsur pada tabel SPU. Berdasarkan
tanggapan siswa yang diperoleh dari hasil angket
dapat disimpulkan bahwa siswa memberikan
tanggapan positif (baik) terhadap media aplikasi
lagu sistem periodik unsur tersebut.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Dikti yang telah mendanai penelitian ini dalam
Program Kreatifitas Mahasiswa Penelitian. Penulis
juga berterima kasih kepada Hartati, Neneng dan
Olan Yoga Pratama sebagai rekan penulis dalam
pembuatan aplikasi lagu sistem periodik unsur.
Referensi
[1] Chang, Raymond, Kimia Dasar, Konsep-
Konsep Inti, J akarta: Erlangga, (2005).
[2] Schiller, Pam, Star Smart, Memompa
Kecerdasan Sejak Dini, alih bahasa
Damaring Tyas. J akarta: Erlangga, (2005)
[3] Hariyadi, Ajie, Efektivitas Penggunaan Media
Audio Program Musik Terhadap Peningkatan
Kemampuan Daya Ingat Siswa, Skripsi pada
FIP UPI Bandung: tidak diterbitkan, (2010).
[4] Salbiah, Septia, Pengaruh Musik Klasik
Terhadap Konsentrasi Belajar Anak di Dalam
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 79
Kelas, Skripsi pada FIP UPI Bandung: tidak
diterbitkan, (2012).
[5] Campbell, D., Efek Mozart,, Memanfaatkan
Kekuatan Musik untuk Mempertajam Pikiran,
Meningkatkan kreativitas, dan menyehatkan
tubuh, J akarta : Gramedia, (2001).
[6] Trianto, Model Pembelajaran Terpadu:
konsep, strategi, dan implementasinya dalam
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP),
J akarta: Bumi Aksara, (2012).
[7] Santrock, J ohn W., Psikologii Pendidikan
Alih Bahasa : Tri Wibowo. J akarta: Prenada
Media Group, (2008).
[8] Toharudin, Uus, Membangun Literasii Sains
Peserta Didik, Bandung: humaniora, (2011).
[9] Sugiyono, Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan
R&D Bandung: Alfa Beta, (2012).

Eka Yusmaita*
Mahasiswa Pendidikan Kimia
Universitas Negeri Padang
ekayusmaita@gmail.com
Bayharti
Dosen jurusan kimia
Universitas Negeri Padang
*Corresponding author








Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 80
Profil Kemampuan Inkuiri Siswa dalam Penerapan Model Pembelajaran
Level of Inquiry
Erlina Megawati, Purwanto, dan Winny Liliawati

Abstrak
Pembelaran Fisika pada umumnya masih menggunakan metode ceramah. Akibatnya siswa cenderung pasif
dan kemampuan inkuiri siswa tidak terlatih. Hal ini bertentangan dengan ketentuan Badan Standar Nasional
Pendidikan (BNSP) yang menyatakan bahwa pembelajaran fisika harus dilaksanakan secara inkuiri ilmiah
untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi. Maka dilakukan
penelitian pembelajaran fisika dengan menggunakan model pembelajaran level of inquiry untuk melihat
kemampuan inkuiri siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif sedangkan desain
penelitiannya yaitu One-Shot Case Design. Lembar observasi dan Lembar Kerja Sisiwa (LKS) digunakan
sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan inkuiri siswa. Sampel dalam penelitian diambil dengan
teknik purposive sample. Hasil penelitian yang dilakukan pada 30 siswa menunjukan kemampuan inkuiri
siswa dalam penerapan model level of inquiry berada pada kategori terampil dengan nilai IPK sebesar
81,68%. Kemampuan inkuiri siswa pada level discovery learning sebesar 80,93%. Kemampuan inkuiri siswa
pada level interactive demonstration sebesar 77,22%. Kemampuan inkuiri siswa pada level inquiry lesson
sebesar 88.83%. IPK kemampuan inkuiri siswa pada level inquiry lab 78,125% dan IPK pada level
hypothetical inquiry sebesar 77,29%.Berdasarkan analisis data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
dengan menggunakan model pembelajaran level of inquiry kita dapat melatih dan mengembangkan
kemampuan inkuiri siswa.
Kata kunci: Level of Inquiry, Kemampuan inkuiri.
Pendahuluan
Pembelajaran Fisika pada hakekatnya
dilaksanakan secara inkuiri ilmiah
(BNSP,2006:159-160). Model pembelajaran yang
dianggap sesuai adalah Level of inquiry melatih
kemampuan berinkuri siswa dari tingkat paling
rendah sampai tingkat paling tinggi. Hal ini sesuai
dengan yang dikemukakan Wenning (2010) pada
jurnal Levels of inquiry: Using inquiry spectrum
learning sequences to teach science.
Hasil studi pendahuluan di salah satu SMA
Negeri di kota Bandung menunjukan hal yang
berbeda dengan ketentuan di atas. Pembelajaran
fisika di sekolah ini masih menggunakan metode
ceramah dan bersifat teacher centre dan
kemampuan inkuiri siswa tiddak muncul. Sehingga
berdasarkan literatur tersebut, maka peneliti
malakukan penelitian dengan menerapkan model
level of inquiry dalam pembelajaran fisika.
Tujuannya adalah untuk mengetahu kemampuan
siswa dalam berinkuiri.
Teori
Wenning (2010) dalam jurnal Levels of
inquiry: Using inquiry spectrum learning sequences
to teach science mengelompokan inkuiri ke dalam
lima level berdasarkan peningkatan kecerdasan
intelektual siswa dan pergeseran pengontrol
pembelajaran dari guru ke siswa. Kelima level
inkuiri tersebut adalah discovery learning,
interactive demonstration, inquiry lesson, inquiry
lab dan hypothetical inquiry.
Kemampuan - kemampuan siswa yang
seharusnya muncul dalam pembelajaran fisika
tersebut diklasifikasikan kedalam lima jenis
kemampuan (Wenning, 2010) yang ditunjukan
tabel berikut:
Level inkuiri Kemampuan Siswa yang
Discovery
learning
Kemampuan paling dasar
Mengamati
Merumuskan konsep
Memperkirakan
Menarik kesimpulan
Mengkomunikasikan hasil
Mengelompokkan hasil
Demonstrasi
interaktif
Kemampuan dasar
Memprediksi
Menjelaskan
Memperoleh dan mengolah data
Merumuskan dan merevisi
penjelasan ilmiah menggunakan
logika dan bukti
Mengenali dan menganalisis
penjelasan pergantian dan model
Inkuiri leson
kemampuan menengah
Mengukur
Mengumpulkan dan mencatat
data
Membangun sebuah tabel data
Merancang dan melakukan
penyelidikan ilmiah
Menggunakan teknologi dan
matematika selama investigasi
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 81
Mendeskripsikan hubungan
Inquiry lab
Kemampuan terpadu:
Mengukur besaran
Menetapkan hukum empiris
berdasarkan bukti dan logika
Merancang dan melakukan
penyelidikan ilmiah
Menggunakan teknologi dan
matematika selama investigasi
Hypothetical
inquiry
Kemampuan lanjutan:
Sintesis penjelasan hipotetis
kompleks
Menganalisis dan mengevaluasi
argumen ilmiah
Menghasilkan prediksi melalui
proses deduksi
Merevisi hipotesis dan prediksi
dalam terang bukti baru
memecahkan masalah yang
kompleks dunia nyata
J ika berdasarkan tingkat kemampuan siswa
maka siswa akan memperoleh nilai paling tinggi
pada awal penerapan level of inquiry atau pada
level discovery learning dan memperoleh nilai
kemampuan inkuiri paling rendah pada level paling
tinggi dari level of inquiry, yaitu level hypothetical
inquiry.
Penilaian kemampuan inkuiri siswa dilakukan
dengan mencari Indeks Prestasi Kelompok (IPK).
Kemuadian IPK yang merupakan data kualiatif
diinterpretasikan menurut Panggabean pada tebel
sebagai berikut :
Tabel 2. Kategori Tafsiran Indeks Prestasi
Kelompok.
Kategori IPK Interpretasi
0,00% - 30% Sangat kurang terampil
31,00% - 54% Kurang terampil
55,00% - 74% Cukup terampil
75% - 89,00% Terampil
90% - 100,00% Sangat terampil
Peneliti menggunakan kelima level inkuiri
dalam pembelajaran fisika sselama empat kali
pertemuan. Pada pertemuan pertama diterapkan
dua level inkuiri yaitu discovery learning dan
interactive demonstration. Pada hari kedua sampai
keempat berurutan dari inquiry lesson sampai
hypothetical inquiry.
Pertanyaan penelitian yang muncul adalah
Bagaimana profil kemampuan inkuisi siswa SMA
pada setiap level inkuiri dalam penerapan model
level of inquiry?
Metode penelitian yang digunanakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif. Sedangkan
desain penelitian yang digunakan peneliti adalah
one -shoot case study.
Sampel dalam penelitian ini semua siswa di
salah satu kelas X di SMAN di Kota Bandung.
Sampel tersebut diambil dengan menggunakan
teknik sampling purposive yang merupakan salah
satu jenis teknik nonprobability sampling.
Hasil dan Diskusi
Gambaran mengenai kemampuan berinkuiri
siswa yang terlihat selama proses pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajarn level of
inquiry untuk setiap level kegiatan berinkuiri
secara rinci ditunjukkan pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Rekapitulasi Nilai IPK Kemampuan inkuiri
Siswa
Level Inquiry NIlai IPK Kategori
Discovery learning 83,2% Terampil
Interactive
demonstration
77,22 % Terampil
Inquiry lesson 88,83% Terampil
Inquiry lab 78,125% Terampil
Hypothetical Inquiry 77,29% Terampil
Rata rata
Kemampuan Inkuiri
Siswa
80,93% Terampil

Data pada Tabel 3 disajikan kemabali dalam
bentuk grafik sebagai berikut :
83,2
77,22
88,83
78,125
77,29
70
75
80
85
90
N
i
l
a
i

I
P
K

AspekKemampuanInkuiri
Discovery
Learning
Interactive
demonstration
Inquirylesson
Inquirylab

Gambar 1. Grafik Rekapitulasi IPK Kemampuan
Inkiri Siswa pada 88,83 Setiap Level.
Dari Gambar 1 diperoleh informasi bahwa
kemampuan inkuiri siswa yang terlihat selama
proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran level of inquiry berada pada kategori
terampil dengan rata-rata nilai IPK sebesar 80,93%.
Diperoleh informasi pula dari tabel 4.7 bahwa
kelima level inkuiri tersebut berada pada kategori
yang sama yaitu terampil. Hasil penelitian tersebut
menunjukan bahwa IPK dari level inkuiri terendah
ke level inkuiri tertinggi mengalami penurunan dan
peningkatan.
Berdasarkan tabel 2, discovery learning tidak
menjadi level dengan IPK tertinggi sebagaimana
dijelaskan dalam teori. Begitupun dengan
hypothetical inquiry yang tidak menjadi level
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 82
dengan IPK terendah. IPK terendah justru
diperoleh siswa pada level interactive demontration.
Dari tabel terlihat terjadinya penurunan IPK
dari level discovery learning ke level interactive
demonstration. Hal ini dikarenakan mulai terjadinya
pergeseran pihak pengontrol pembelajaran dari
guru ke siswa. Pergeseran ini menuntut siswa
dengan kemampuan intelektual yang lebih tinggi
dibading ketika siswa masih berada pada level
discovery learning. Keadaan yang demikian
membuat siswa yang belum terbiasa berinkuiri
mengalami kesulitan. Selain itu, waktu
pembelajaran yang mendesak pada saat
penerapan level interactive demonstration
membuat guru juga mengalami kesulitan untuk
memaksimalkan perannya untuk memberikan
bimbingan sebagaimana mestinya. Mendesaknya
waktu pembelajaran dikarenakan penerapan level
discovery learning yang melebihi ketentuan
sehingga waktu untuk penerapan level interactive
demonstration menjadi berkurang. Waktu yang
mendesak membuat kelas tidak kondusif karena
konsentrasi siswa mulai terpecah memikirkan
pelajaran yang selanjutnya.
Dari level interactive demonstration ke level
inquiry lesson, IPK kemampuan inkuiri siswa
mengalami kenaikan. Hal ini dikarenakan siswa
dapat memaksimalkan kemampuannya untuk
berperan sebagai pihak yang mengontrol
pembelajaran sesuai ketentuan pada level inquiry
lesson. Kemampuan siswa ini tidak terlepas dari
akibat dari penerapan dua level sebelumnya yang
membuat siswa mulai terbiasa berinkuiri. Selain itu,
guru dapat mengoptimalkan penerapan level
inquiry lesson dengan alokasi waktu yang tersedia.
Kondisi kelas cukup kondusif, sehingga guru dan
siswa dapat melaksakan perannya masing
masing sesuai ketentuan level inquiry lesson.
Penurunan IPK kembali terjadi ketika level
inkuiri meningkat dari inquiry lesson ke inquiry lab.
Diketahui bahwa IPK inquiri lab hanya 72,125%.
Penurunan IPK ini disebabkan karena
permasalahan yang disajikan dalam pembelajaran
semakin kompleks dan kontrol guru semakin
berkurang. Level ini menuntut kemampuan
intelektual siswa yang lebih tinggi dan menuntut
siswa untuk dapat mengintrol pembelajaran.
Tuntutan dalam level ini belum sepenuhnya dapat
dipenuhi oleh siswa.
Dari level inquiry lab ke hypothetical inquiry,
IPK kemampuan inkuiri siswa kembali mengalami
penurunan walaupun tidak signifikan. Penyebab
penurunan IPK ini hampir sama dengan penyebab
penuruan IPK pada level inquiry lesson.
Perbedaannya, pada level ini siswa yang
dihadapkan dengan permasalahan yang lebih
kompleks lagi mengalami kesulitan untuk dapat
memecahkan masalah tersebut. Kesulitan ini
diakibatkan siswa kurang memahami hukum
kekakalan energi tentang kesetaraan kalor listrik
yang berkaitan dengan permasalahan yang
disajikan oleh guru. Pada penerapan level ini guru
menyajikan permaalahan bagaimana prinsip kerja
teko listrik dan membuktikan kesetaraan kalor
listrik.
Kesimpulan
Berdasarkan data hasil maka diperoleh
kesimpulan sebagai beriku :
Profil kemampuan inkuiri siswa pada level
discovery learning berada pada ketegori terampil
dengan IPK sebesar 83,2%. Pada level interactive
demonstration, kemampuan inkuiri siswa berada
pada kategori terampil dengan IPK 77,22%.
Dengan IPK sebesar 88,83%, maka profil
kemampuan inkuiri siswa pada level inquiry lesson
berada pada kategori terampil. Sedangkan profil
inkuiri siswa pada level inquiry lab dan hypothetical
inquiry juga berada pada kategori terampil dengan
IPK masing masing sebesar 78,125% dan
77,29%.
Berdasarkan profil setiap level inkuiri tersebut,
maka diperoleh profil rata rata kemampuan
inkuiri siswa berada pada kategori terampil dengan
IPK sebesar 80,93%.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Mr.
Wenning serta kang Rahmat, Ibu Yusnim, dan
siswa siswi X-9, SMAN 6 Kota Bandung, J urusan
Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan
Indonesia, Institut Teknologi Bandung, serta teman
teman semua yang telah banyak membantu
dalam penelitian ini.
Referensi
[1] S. Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan, (edisi revisi). J akarta: PT. BUMI
AKSARA, (2011).
[2] BSNP, Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan
Dasar Dan Menengah, J akarta:BSNP, (2006),
[Tersedia Online ]
http://litbang.kemdikbud.go.id/sekretariat/cont
ent/BUKUST~1(4).pdf [12-03-2013]
[3] Depdiknas, Kurikulum 2004 Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Fisika, (2003), .
[Tersedia Online]
http://sasterpadu.tripod.com/sas_store/Fisika.
pdf [23 -02-2013]
[4] R. R. Hake, Analizing Change/Gain Score,
USA: Dept: Of Physics, Indiana University,
(1998).
[5] R. Hidayat, Profil Kemampuan Berinkuiri
Siswa SMP Dan Hasil Belajar Siswa Setelah
Diterapkan Model Pembelajaran Level Of
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 83
Inkquiry, Skripsi J urusan Pendidikan FIsika
FPMIPA UPI. Bandung: tidak diterbitkan,
(2012).
[6] Kamus Bahasa Indonesia Onlie [Tersedia
Online]
http://kamusbahasaindonesia.org/motivasi#ix
zz2J TIzSZIC [ 31-01-2013 ]
[7] S. Munaf, Evaluasi Pendidikan Fisika,
Bandung : J urusan Pendidikan Fisika
FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
(2001).
[8] L. P. Panggabean, Penelitian Pendidikan,
Bandung : J urusan Pendidikan Fisika
FPMIPA UPI Bandung, (1996).
[9] N. Rustaman, Perkembangan Penelitian
Pembelajaran Berbasis Inkuiri Dalam
Pendidikan Sains, (2005), [Tersedia Online]
http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDI
DIKAN_IPA/195012311979032-
NURYANI_RUSTAMAN/PenPemInkuiri.pdf
[12-03-2013]
[10] A. Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan.
J akarta: RAJ AGRAFINDO PERSADA, (2009).
[11] A. Sudrajat, Pembelajaran Inkuiri, (2011),
[Tersedia Online]:
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/0
9/12/pembelajaran-inkuiri/ [30-01-2013]
[12] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan,
Bandung: Alfabeta, (2010).
[13] C.J . Wenning, Levels of inquiry: Hierarchies
of pedagogical practices and inquiry
processes, J ournal Of Physics Teacher
Education Online, (2005). [Tersedia Online] :
http://www.phy.ilstru.edu/jpteo [30-01-2013]
[14] C.J . Wenning, (2012). The Levels of Inquiry
Model of Science Teaching, J ournal Of
Physics Teacher Education, (2012), Online.
[Tersedia Online]:
http://www.phy.ilstru.edu/jpteo [30-01-2013]


Erlina Megawati
Purwanto
Winny Liliawati

*Corresponding author




Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 84
Penerapan Pemberian Tugas Awal Integrated Reading And Writing
dalam Pembelajran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Literasi
Fisika SMP
Ermawati Dewi, Selli Feranie, dan Saeful Karim
Abstrak
Pengetahuan awal sebelum pembelajaran dapat menentukan hasil pembelajaran yang dilakukan oleh siswa.
Pengetahuan awal dapat diperoleh melalui kegiatan membaca teks sains sebelum pembelajaran dimulai.
Hasil studi pendahuluan mengungkapkan bahwa kemampuan pemahaman membaca teks sains siswa
salah satu SMP di Bandung rendah. Rendahnya pemahaman membaca teks sains menyebabkan kurangnya
pengetahuan awal yang diperoleh siswa sehingga dapat mempengaruhi pemahaman konsep dan scientific
inquiry. Kemampuan membaca, pemahaman konsep dan scientific inquiry berkaitan dengan kemampuan
literasi siswa. Artinya, jika kemampuan membaca, pemahaman konsep dan scientific inquiry rendah, maka
kemampuan literasi fisikanya rendah. Kemampuan literasi fisika meliputi aspek context, knowledge,
competencies, sesuai dengan kemapuan literasi IPA yang diukur PISA 2006. Salah satu usaha untuk
meningkatkan kemampuan literasi fisika adalah memberikan tugas awal integrated reading and writing
(pemberian bahan bacaan IPA yang disertai dengan didalamnya tercangkup strategi membaca dan menulis
yang diberikan sebelum pembelajaran) sebagai pengetahuan awal, serta dengan menerapkan pembelajaran
berbasis masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan literasi fisika siswa
SMP setelah diterapkan strategi literasi pada pembelajaran berterma alat ukur gerak pada kendaraan
bermotor. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain penelitian one grup pretest
posttest design. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kemampuan literasi sain merujuk pada jenis
soal PISA 2006, dengan tema Alat Ukur Gerak Pada Kendaraan Bermotor. Sampel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN di kota Bandung. Hasil analisis data diperoleh rata rata nilai
hasil posttest sebesar 74,48 lebih tinggi dibanding dengan rata-rata pretest sebesar 48,38, artinya terdapat
peningkatan kemampuan literasi fisika setelah diterapkan strategi literasi pada pembelajaran bertema Alat
Ukur Gerak pada Kendaraan Bermotor dengan bersarnya nilai peningkatan 0,51 pada kategori.
Kata-kata kunci: integrated reading and writing, literasi fisika.
Pendahuluan
Kebiasaan teks book dalam pembelajaran
fisika seharusnya dapat membatu anak anak
untuk meningkatkan pemahaman konsep dan
scientific inquiry. Namun, berdasarkan studi
pendahuluan terungkap bahwa kemampuan
pemahaman membaca anak Indonesia rendah. Ini
secara tidak langsung menunjukkan kemampuan
literasi fisika rendah Pengembangan pembelajaran
untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa
telah banyak dilakukan. Hanya saja
pengembangan belum terfokus pada penerapan
strategi literasi. Douglas Fisher, et.al
mengungkapkan ada tujuh strategi literasi yang
dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan
literasi fisika (1).
Makalah ini membahas tentang penerapan
strategi literasi dalam pembelajaran. Penerapan
strategi literasi pada penelitian ini terintegrasi
dalam dua tahap pembelajaran, yaitu tahap pra
pembelajaran berupa tugas awal Integrated
Reading and Writing dan tahap pelaksanaan
pembelajaran menggunakan pembelajaran
berbasis masalah. Agar mendapatkan keutuhan
pemahaman konsep, pembelajaran literasi
difokuskan pada satu tema yaitu Alat Ukur Gerak
Pada Kendaraan Bermotor
Literasi Fisika Integreted Reading and Writing,
Pembelajaran Berbasis Masalah literasi fisika
literasi fisika merupakan kemampuan untuk
memahami konsep fisika, menjelaskan fenomena
fisika secara ilmiah, dan mengaplikasikan konsep
fisika untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi fisika menuntut siswa memahami
secara keseluruhan. Hobson (2003) dalam
jurnalnya yang berkaitan dengan pembelajaran
untuk meningkatkan kemampuan literasi fisika
yaitu :
1. Harus konseptual, tidak hanya terpaku pada
aljabar saja. Misalnya, mengaplikasikan sistem
metriks dan grafik untuk memperkirakan
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
2. Menggunakan pembelajaran interaktif atau
teknik berinkuiri sehingga siswa terlibat dalam
proses pembelajaran sains.
3. Fokus terhadap tema yang relevan.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 85
4. Melatihkan kebiasaan sains. Melatihkan siswa
untuk selalu bertanya Bagaimana cara
kerjanya?
5. Tidak hanya mengajarkan fisika kontemporer.
6. Terdapat topik sosial tentang energi dan
lingkungan.
Berdasarkan pemaparan diatas, jelaslah
bahwa secara keseluruhan pembelajaran literasi
fisika harus tematik agar peningkatan kemampuan
literasi fisika dapat tercapai.awal Integrated
Reading and Writing merupakan tugas awal yang
diberikan kepada siswa berupa tugas membaca
dan menulis yang disertai instruksi-instruksi untuk
mengkonstruksi pemahaman konsep melalui
bacaan. Tugas awal ini berfungsi untuk
memberikan pengetahuan awal pada siswa. Tugas
awal Intergrated Reading and Writing ini diadaptasi
dari jurnal Improving Middle school Students
Science Literacy through Reading Fusion (Zhihui
Fang, 2010) dengan format:
1. Part A Reading, Pada Bagian ini siswa
diberikan sumber bacaan yang berkaitan
dengan materi yang akan diajarkan saat
pembelajaran dikelas berlangsung.. Bahan
acaan dapat dimbil dari buku teks fisika atau
lebih baik guru yang membuat sendiri
disesuaikan dengan kondisi siswa.
2. Part B Conceptual Contruction. Bagian ini siswa
diberikan pertanyaan pertanyan untuk
mengkonstruksi konsep yang ada pada bacaan.
Siswa diharuskan menulis jawaban jawaban
dari pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang
disusun berkaitan dengan sumber bacaan yang
ada pada part A.
3. Part C Concept Mapping and Conclusion. Pada
Bagian ini siswa diminta untuk menuliskan peta
konsep dari sumber bacaan yang diberikan.
Selain itu siswa juga diminta memberikan
kesimpulan berdasarkan bacaan tersebut.
Berdasarkan format integrated reading and
writing yang diberikan diatas, terlihat bahwa siswa
tidak hanya dilatihkan untuk memahami bacaan,
tetapi juga untuk menuliskan kembali apa yang
dibaca. Larry dkk berpendapat bahwa kemampuan
membaca dan menulis itu saling berkaitan.
Membaca dan menulis merupakan langkah
pembelajaran yang dinamis ( Shawn dkk :1997).
Sesson et.al. ( NSTA 2013) dalam handbook
presentasinya mengungkapkan bahwa
kemampuan membaca dan menulis point penting
dalam berinkuari. Lebih lanjut, diungkapkannya
bahwa membaca dan menulis merupakan bagian
dari pekerjaan ilmuan.
Sesuai tuntutan literasi fisika yang menuntut
siswa untuk memiliki pengetahuan yang itu,
diperlukan sebuah model pembelajaran yang
sesuai dengan tuntutan literasi sains. Model
pembelajaran yang dirasa cocok dan dapat
mengintegrasikan strategi literasi adalah model
pembelajran berbasis masalah. Model
pembelajaran berbasis masalah Pembelajaran
berbasis masalah ditandai dengan adanya
pemberian masalah dalam pembelajaran. Masalah
yang dihadirkan dalam pembelajaran merupakan
masalah nyata yang ada dalam kehidupan sehari
hari. Menurut Gallagher (dalam Wahyuni : 2010)
pembelajaran ini melibatkan peserta didik dalam
proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif,
berpusat kepada mahasiswa, yang
mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah dan kemampuan belajar mandiri. Heller et
al (1999) berpendapat bahwa yang terpenting
dalam pembelajaran berbasis masalah adalah
pemahaman terhadap masalah yang disajikan
sehingga siswa dapat menyelesaikan malasalah
lain dengan baik. Kemampuan yang paling penting
dalam pembelajaran berbasis masalah adalah
memvisualisikan situasi, mengidentifikasi masalah
sebenarnya dan mengidentifikasi masalah yang
relevan (1999 :19).
Adapun strategi pembelajaran berbasis
masalah menurut Heller et al. (1999:2) yang
dikembangkan di Universitas Minnesota mencakup
diantaranya adalah:
1. Memvisualisasikan masalah, masalah di
visualisasikan berdasarkan pengetahuan yang
dimiliki secara kualitatif termasuk didalamnya
mencari informasi terkait masalah.
2. Mengaitkan permasalahan dengan konsep
fisika, pada strategi ini memungkinkan siswa
untuk menyederhanakan masalah berdasarkan
konsep konsep fisika yang dimilikinya.
3. Merencanakan solusi, setelah
merepresentasikan masalah, selanjutnya
meraencanakan solusi terhadap masalah yang
diberikan sesuai dengan pengetahuan yang
logis.
4. Menjalankan rencana solusi, melaksanakan
apa yang sudah direncanakan termasuk
didalamnya melakukan pengamatan,
pengukuran dan eksplorasi yang disajikan
dalam bentuk data.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi solusi,
mengecek keteraksanaan rencana solusi
dengan mengevaluasi terlebih dahulu solusi
yang dilakukan apakah masuk akal atau tidak.
Hasil dan Diskusi
Pelaksanaan penelitian dengan menerapkan
strategi literasi berlangsung selama empat kali
pertemuan, dengan dua kali pertemuan digunakan
untuk test dan dua kali pertemuan digunakan
untuk treatment. Sebelum pelaksanaan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 86
pembelajaran dikelas dengan menggunakan
Problem Based Learning, siswa diberikan tugas
rumah berupa Integrated Reading and Writing
yang merupakan teks bacaan yang didalamnya
terdapat strategi membaca dan menulis sesuai
dengan materi pembelajaran. Tugas Integrated
Reading and Writing untuk treatment pada
pertemuan kedua diberikan pada pertemuan
pertama setelah dilaksanakannya pretest.
Sedangkan tugas Integrated Reading and Writing
pada pertemuan ketiga diberikan setelah
pembelajaran pada pertemuan kedua selesai.
Setiap pertemuan disampaikan materi yang
berbeda-beda sesuai dengan rencana
pembelajaran yang dibuat. Selain itu materi yang
disampaikan disesuaikan dengan tema yang dipilih,
yaitu alat ukur gerak pada kendaraan bermotor
Tes dilakasanakan pada pertemuan pertama
sebelum pembelajaran dan pertemuan terakhir
setelah pembelajaran. Soal yang digunakan pada
pretest sama dengan soal yang digunakan pada
postes yang berjumlah 15 soal. Soal yang dibuat
disesuaikan dengan tema pembelajaran.
Peningkatan literasi siswa dapat dilihat
berdasarkan hasil pretest dan postest. Adapun
rekapitulasi presentasi peningkatan litersi sain
siswa sebelum dan sesudah diterapkannya
strategi literasi pada pembelajaran bertema Alat
Ukur Gerak pada Kendaraan Bermotor dapat
dilihat pada tabel 4.1
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Peningkatan
Kemapuan Literasi Fisika.

Dari Tabel 1 dapat diketahui apakah siswa
mengalami peningkatan literasi atau tidak setelah
mendapatkan treamen berupa penerapan strategi
literasi pada pembelajaran bertema Alat Ukur
Gerak Pada Kendaraaan Bermotor. Hasil
rekapilutasi secara lengkap dapat dilihat pada
lampiran. Secara umum, setelah pembelajaran
siswa mengalami peningkatan kemampuan literasi,
hal ini ditunjukan dengan meningkatnya skor
presentase siswa sebelum dan sesudah
dilaksanakannya treatment. Peningkatan skor
presantase sebesar 26,67 % dari hasil pretest.
Setelah dilakukan pengolahan data, diperoleh juga
nilai gain ternormalisi sebesar 0,5109. Gain
ternormalisasi ini menunjukan angka peningkatan
kemapuan literasi setelah dilaksanakannya
treatment. Artinya, peningkatan kemapuan literasi
siswa secara umum sebesar 51,09 % pada
kategori sedang.
Tingkat literasi fisika untuk aspek attitudes
setelah pembelajaran dengan menggunakan
strategi literasi dapat diketahui. Hal ini dapat dilihat
dari hasil pengisian soal berupa pernyataan yang
bertujuan untuk mengetahui ketertarikan siswa
terhadap pembelajaran bertema alat ukur gerak
pada kendaraan bermotor yang telah dipelajari.
Banyaknya soal berjumlah tiga buah berupa
pernyataan yang menunjukan kondisi ketertarikan
siswa. Adapun rekapitulasi hasil kemampuan
literasi untuk aspek attitude dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Peningkatan
Kemampuan Literasi aspek Atittude.

Secara umum, setelah pembelajaran siswa
mengalami peningkatan kemampuan literasi fisika.
Selain itu berdasarkan aspek attitude diperoleh
bahwa siswa merasa tertarik mempelajari fisika
dengan penggunaan integrated reading and writing
dengan pembelajaran bertema. Pada grafik dapat
dilihat bahwa setelah diterapkannya treatment
siswa yang merespon penting meningkat. Ini
membuktikan bahwa adanya respon positif siswa
terhadap pembelajran yang telah dilaksanakan.
Ketertarikan siswa dalam mempelajari fisika
merupakan hal positif. Pembelajaran akan lebih
bermakna ketika siswa memberikan respon yang
baik. Pada penelitian ini ketertarikan siswa pada
pembelajaran dikarenakan siswa lebih memahami
bacaan pada tugas awal yang diberikan, karena
pertanyaan pertanyaan pengarah pada bacaan
merupakan bagian dari pemberian strategi
membaca. Pemberian pertanyaan pengarah ini
dimaksudkan untuk mengcontruksi pemahaman
siswa sehingga,
pemberian tugas awal ini tidak hanya
membatu siswa dalam memahami bacaan, tetapi
membantu siswa memahami konsep-konep yang
ada pada tugas awal. Hal ini dapat mempermudah
siswa melaksanakan pembelajaran dikelas karena
secara umum siswa sudah memiliki pengetahuan
awal. Hanya saja, masih ada siswa yang belum
terbiasa mendapatkan tugas awal berupa
Integreted Reading and Writing, ada beberapa
siswa yang tidak mengerjakannya secara
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 87
makasimal. Pembelajaran menggunakan PBM
sangat mempengaruhi kemampuan literasi fisika.
Dalam PBM, siswa diberikan masalah yang
berkaitan dengan tema pembelajaran. Tema
pembelajaran ini dibuat se-contextual mungkin
agar siswa merasa tertarik dan merasa sangat
penting mempelajari fisika. Dengan pembelajaran
menggunakan PBM, dapat meningktkan
kemampuan scientific inquiry siswa. Pembelajaran
berbasis masalah yang dilakukan lebih efektif
karena siswa sebelumnya sudah memiliki
pengetahuan awal. Pengetahuan awal membantu
guru untuk melaksanakan pembelajaran secara
efektif . Pengetahuan awal yang dimiliki siswa juga
membantu meningkatkan rasa percaya diri siswa.
Hal ini terlihat dari antusias siswa dalam
melaksanakan pembelajaran. Siswa lebih mudah
menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
Kesimpualan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
terhadap siswa kelas VII di salah satu SMP Negeri
di Kota Bandung mengenai penerapan pemberian
tugas awal integrated reading and writting ada
pembelajaran bertema Alat ukur gerak pada
kendaraan bermotor untuk meningkatkan literasi
fisika siswa SMP dapat disimpulkan bahwa:
Literasi fisika siswa untuk aspek context,
competencies dan knowledge setelah
diterapkannya strategi literasi pada pembelajaran
bertema Alat ukur Gerak pada Kendaraan
Bermotor di SMP mengalami peningkatan dengan
kriteria sedang.
Ketertarikan siswa terhadap materi
pembelajaran bertema alat ukur gerak pada
kendaraan bermotor setelah diterapkannya
pemberian tuga awal Integrated Reading and
Writting pada pembelajaran berbasis masalah
Siswa mengalami respon yang positif dari siswa.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kepada J urusan
Pendidikan Fisika FPMIPA UPI atas sarana dan
prasarananya dalam melakukan penelitian ini.
Terima kasih juga kepada rekan rekan yang
tergabung dalam penelitian ini.
Referensi
[1] D. Fisher, et.al., Seven Literacy Strategies
That Work. 28, (3), 70-73, (2002).
[2] Z. Fang, Improving Middle School Student
Science Literacy Through Reading Infusion.
J ournal of Education Research.103, 262-
273.Kho Ping Hoo dan Bastian Tito, Wiro
Sableng mantu di pulau Es, Penerbit Cerita
Silat, Solo, Cetakan Ketiga, 1985, p. 23,
(2010).
[3] Hobson, Art., Physics Literacy, Energy and
The Environment. J ournal IOP J ournal of
Physics Education, 38, 109-114, (2003).
[4] P. Heller, and K. Heller, Cooperative group
problem solving in physics, University of
Minnesota, (1999), Full text available online
at:
http://groups.physics.umn.edu/physed/Resear
ch/CGPS/GreenBook.html
[5] Larry, et al., Reading to Learn Writting to
science activities from the elementary school
classrom. AETS Conference Proceding,
(1997).
[6] Sesson, et.al., Integreting Literacy Strategis
into the Science Intruction Program,
Handbook presentasion From Carolina
Curriculum Ledership Series, (2013).

Ermawati Dewi*
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
ermawatiidewii@gmail.com
Selli Feranie
J urusan Pendidika Fisika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
Saeful Karim
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia



* Corresponing author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 88
Penerapan Strategi Membaca dan Menulis
pada Tugas Awal dalam Pembelajaran IPA Bertema Ultrasound
untuk Meningkatkan Literasi Fisika Siswa SMP
Esti Maras Istiqlal*, Saeful Karim, dan Selly Feranie

Abstrak
Berdasarkan studi pendahuluan dalam pembelajaran IPA pada siswa SMP di Kota Bandung diketahui
bahwa pemahaman bacaan sains siswa masih rendah, ini berdampak pada kemampuan scientific inquiry
dan pemahaman konsep pembelajaran IPA yang dimiliki siswa. Tiga kemampuan ini dapat meningkatkan
kemampuan literasi siswa. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan tersebut yaitu dengan cara menerapkan strategi membaca dan menulis pada pemberian tugas
awal. Strategi membaca dan menulis pada pemberian tugas awal dalam penelitian ini, yaitu pemberian tugas
awal terdiri dari bahan bacaan yang meliputi strategi membaca dan menulis dengan menggunakan metode
SQRW (Survey, Question, Reading and Writing) dan model pembelajaran yang dapat meningkatkan
kemampuan scientific inquiry dan pemahaman konsep, yang difokuskan pada materi pembelajaran fisika.
Kemampuan literasi yang diukur, yakni competencies, knowledge, context dan attitude (PISA, 2006).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan strategi membaca dan menulis pada pemberian tugas
awal dalam pembelajaran IPA bertema ultrasound untuk meningkatkan literasi fisika. Bentuk penelitian yang
digunakan Quasi Experiment, dengan rancangan one group pretest posttest design. Sampel penelitianya
yaitu siswa SMP kelas VIII di Kota Bandung. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh N-gain sebesar 0,61,
artinya terdapat peningkatan kemampuan literasi dalam kategori sedang setelah diterapkannya strategi
membaca dan menulis pada pemberian tugas awal. Sebagai tambahan diperoleh nilai rata-rata posttest
sebesar 80,54 lebih tinggi dibanding nilai rata-rata pretest yaitu 50,45. Penerapan strategi membaca dan
menulis pada tugas awal dapat meningkatkan literasi fisika siswa.
Kata-kata kunci: strategi membaca dan menulis, literasi fisika
Pendahuluan
Berdasarkan studi literasi internasional PISA
(Programme International Student Assessment)
tahun 2006 menunjukkan kemampuan literasi
sains anak Indonesia yang berumur 15 tahun,
berada pada peringkat 50 dari 57 negara peserta
(Balitbang, Kemdikbud: 2011) [9]. Selama Program
Pengalaman Lapangan (PPL) di salah satu
Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kota
Bandung, penulis melakukan studi pendahuluan
capaian literasi fisika terhadap 40 siswa, jumlah ini
sudah cukup mewakili populasi berdasarkan buku
Sugiyono dengan menggunakan teknik purposive
sampling.
Abad ke-21 dikenal dengan abad
pengetahuan. Kemampuan belajar, kemampuan
berpikir, membuat keputusan dan memecahkan
masalah sangat diperlukan dalam kehidupan.
Selain itu juga setiap pelajaran tidak luput dari
kegiatan membaca dan menulis, tidak terkecuali
dengan pelajaran IPA [6]. Dengan pendidikan IPA
diharapkan dapat memiliki memberikan
pengalaman nyata kepada siswa dan membantu
untuk memiliki kemampuan scientific inquiry,
pemahaman konsep dan pemahaman membaca
[1], yang difokuskan pada materi pembelajaran
fisika. Siswa yang memiliki ketiga kemampuan
tersebut diharapkan dapat meningkatkan literasi
fisika.
Penelitian yang dilakukan oleh beberapa
peneliti sebelumnya membahas strategi membaca
dan menulis terhadap prestasi belajar siswa.
Penelitian ini ingin mengetahui pemberian tugas
awal strategi membaca dan menulis pada dalam
pembelajaran IPA bertema ultrasound untuk
meningkatkan literasi fisika siswa SMP.
Teori
Membaca menurut Anderson adalah
melafalkan lambang-lambang bahasa tulis.
Sedangkan menurut Poerwodarminto membaca
adalah melihat sambil melisankan suatu tulisan
dengan tujuan ingin mengetahui isinya [6,7]. Dapat
disimpulkan kalau membaca adalah proses
melisankan/melafalkan serta memahami bacaan
atau sumber bacaan untuk memperoleh pesan
yang ingin disampaikan penulis.
Tujuan utama membaca yaitu untuk mencari
dan memperoleh informasi, mencakup isi serta
memahami makna bacaan [9]. Strategi membaca
dan menulis ini menggunakan metode membaca
SQRW (Survey, Question, Reading, Writing) [3]
yang diberikan sebelum proses pembelajaran
sebagai tugas awal baca-tulis yang bertujuan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 89
untuk mengetahui pengetahuan awal siswa.
Menurut Pintrinch mengatakan bahwa
pengetahuan awal yang tidak akurat dapat
menghalangi perkembangan siswa dan
kekurangan pengetahuan awal tidak
memungkinkannya untuk maju [6,7]. Dari
pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan awal sangat berperan sekali dalam
proses pembelajaran. Sedangkan ketika proses
pembelajaran berlangsung penelitian ini
menggunakan model pembelajaran berbasis
masalah.
Pembelajaran berbasis masalah adalah
model pembelajaran yang menggunakan masalah
dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan
keterampilan masalah, serta untuk memperoleh
pengetahuan dan konsep yang esensial dari
materi pembelajaran [6,7,8]. Peran guru dalam
pembelajaran berbasis masalah adalah
menyajikan masalah, mengajukan masalah tidak
dapat dilaksanakan tanpa guru mengembangkan
lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya
pertukaran ide secara terbuka. Dalam tahapan
PBM siswa diharapkan untuk mencapai
kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order
thinking skills).
PBM memiliki karakteristik-karakteristik
sebagai berikut: (1) belajar dimulai dengan suatu
masalah, (2) memastikan bahwa masalah yang
diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa,
(3) mengorganisasikan pelajaran diseputar
masalah, bukan diseputar disiplin ilmu, (4)
memberikan tanggungjawab yang besar kepada
pebelajar dalam membentuk dan menjalankan
secara langsung proses belajar mereka sendiri, (5)
menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut
pebelajar untuk mendemonstrasikan apa yang
telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk
atau kinerja [3].
Berdasarkan pemaparan diatas bahwa
dengan menerapkan strategi membaca dan
menulis pada tugas awal diharapkan siswa dapat
memiliki kemampuan literasi. Konsep scientific
literacy mendasari penelitian yang dilakukan oleh
Korpan et al. (Toharudin dkk, 2011:4), termasuk
pemahaman mengenai cara siswa membaca
bahan bacaan sains untuk dapat menggali
informasi dan melakukan penelitian secara kritis
terhadap bahan bacaan tersebut [6,7,8]. Siswa
yang memiliki kemampuan pemahaman bacaan
yang baik maka akan memiliki kemampuan
scientific inquiry dan kemampuan pemahaman
konsep fisika yang baik juga.
Adapun metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode eksperimen semu
(quasi experiment). Dengan menggunakan metode
ini, keberhasilan atau keefektifan strategi
membaca dan menulis yang diujikan, dilihat dari
perbedaan nilai tes kelompok eksperimen sebelum
diberi perlakuan. Penelitian ini hanya
menggunakan satu sampel penelitian yaitu,
kelompok kelas eksperimen saja tanpa
menggunakan kelas kontrol sebagai pembanding.
Kelompok eksperimen merupakan kelompok yang
diberi perlakuan yaitu penerapan strategi
membaca dan menulis pada tugas awal.
Sedangkan desain penelitian yang digunakannya
adalah one group pretest-posttest design. Secara
umum digambarkan pada tabel berikut:
Tabel 1. Design Penelitian.
Pretest Treatment Posttest
O
1
X O
2
Keterangan :
O
1
=Test awal sebelum diberi perlakuan
X =Treatment ( Perlakuan dengan menerapkan
strategi membaca dan menulis pada
tugas awal)
O
2
=Test akhir setelah diberi perlakuan
Pembelajaran dilaksanakan sebanyak dua
kali pertemuan pada bulan Mei 2013. Populasi
pada penelitian ini yaitu kelas VIII salah satu SMP
Negeri di Kota Bandung. Instrument yang
digunakan sebagai tes awal (pretest) dan tes akhir
(posttest) dalam penelitian ini telah di-judgement
dan diujicobakan terlebih dahulu, berupa soal
pilihan ganda sebanyak 15 soal untuk mengukur
kemampuan literasi fisika. Pada penelitian ini data
yang dianalisis adalah data hasil tes literasi fisika
untuk aspek context, competencies dan knowledge.
Untuk aspek attitudes dianalisis secara terpisah,
bentuk soal berupa pernyataan untuk mengetahui
ketertarikan/respon siswa pada materi fisika
tersebut.
Untuk melihat peningkatan literasi fisika
secara keseluruhan maka dihitung nilai gain <g>
dengan menggunakan skor pretest dan posttest.
Nilai gain yang dinormalisasi merupakan
perbandingan antara persentase nilai gain yang
diperoleh siswa dengan persentase nilai gain
maksimum yang diperoleh.
Hasil dan diskusi
Aspek literasi fisika dalam penelitian ini
meliputi aspek context, competencies, knowledge
dan attitudes (PISA, 2006). Persentase rata-rata
tes literasi fisika dengan menerapkan strategi
membaca dan menulis pada tugas awal dalam
pembelajaran bertema ultrasound disajikan pada
tabel 1 berikut.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 90
Tabel 1. Persentase rata-rata tes literasi fisika.
Pretest
(%)
Posttest
(%)
N-gain
(%)
50,45 80,54 0,61

Persentase rata-rata tes literasi tersebut
hanya untuk tiga aspek, yaitu context,
competencies dan knowledge. Sedangkan aspek
attitudes diolah secara terpisah. Soal literasi ini
diberikan pada saat pretest dan posttest, jumlah
soal sebanyak 15 soal dengan lima pengecoh.
Berdasarkan tabel 1. Diatas tampak bahwa rata-
rata pretest(%) yaitu sebesar 50,45 lebih kecil
daripada rata-rata posttest(%) yaitu sebesar 80,54.
Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan
persentase rata-rata pretest dan posttest.
Besarnya peningkatan literasi fisika ini juga
ditunjukkan oleh peningkatan nilai gain
ternormalisasi, yaitu sebesar 0,61 dalam kategori
sedang.
Nilai gain yang diperoleh dalam penelitian ini
dalam kategori sedang. Hal ini dapat disebabkan
beberapa hal diantaranya, siswa baru pertama kali
mendapatkan soal literasi fisika, strategi membaca
dan menulis ini belum secara umum digunakan
oleh guru bahkan model pembelajaran berbasis
masalah jarang digunakan guru untuk tingkat SMP.
Hasil aspek attitudes bertujuan untuk
mengetahui respon/ketertarikan siswa terhadap
isu-isu atau penyelidikan ilmiah. Sama halnya
dengan tiga aspek literasi diatas, aspek attitudes
ini juga diberikan pada saat pretest dan posttest.
Aspek ini terdiri dari tiga butir pernyataan yang
memiliki empat pilihan, yaitu sangat penting (SP),
penting (P), kurang penting (KP) dan tidak penting
(TP). Hasil rata-rata aspek attitudes disajikan pada
tabel 2 berikut.
Tabel 2. Hasil pretest dan posttest aspek attitudes.
Kategori
Pernyataan
No. Skor
SP
(%)
P (%) KP
(%)
TP
(%)
pretest 2,78
61,11 25,00 11,11
1.
posttest 27,78
72,22 2,78 0,00
pretest 5,56
52,78 27,78 13,89
2.
posttest 30,56
66,67 5,56 0,00
pretest 5,56
58,33 25,00 11,11
3.
posttest 33,33
66,67 2,78 0,00
Tabel 2. diatas menunjukkan adanya
peningkatan dari tiap pernyataan untuk aspek
attitudes. Peningkatan ini menunjukkan bahwa
secara keseluruhan penerapan strategi membaca
dan menulis pada tugas awal ini dapat membuat
siswa tertarik untuk mempelajari materi
pembelajaran bertema ultrasound khususnya dan
materi pelajaran fisika lainnya.
Dari hasil data rata-rata untuk semua aspek
literasi fisika dapat dikatakan bahwa secara umum
literasi fisika siswa mengalami peningkatan setelah
diterapkannya strategi membaca dan menulis.
Peran strategi membaca dan menulis pada tugas
awal yang diberikan sebelum pembelajaran dapat
membantu siswa ketika pembelajaran berlangsung
dengan menggunakan model pembelajaran
berbasis masalah.
Dengan pengetahuan yang didapat siswa dari
tugas awal tersebut, siswa dapat menyelesaikan
masalah yang dihadapinya dengan cara
mengaitkan pengetahuan fisika yang dipelajari
dengan fenomena-fenomena yang terjadi di
lingkungan sekitar. Serta memperoleh pengalaman
belajar yang menjadikan proses belajar lebih
bermakna. Salah satu bukti dari teori Bruner,
bahwa dengan penemuan maka siswa akan lebih
lama mengingat pengetahuan yang dimilikinya.
Seperti hasil strategi membaca dan menulis
pada tugas awal dapat dilihat pada tabel 3 dalam
kategori cukup yang menunjukkan peningkatan
pengetahuan awal yang dimiliki siswa selama
proses pembelajaran. Dapat digambarkan pada
saat proses pembelajaran yang tiap pertemuannya
bereksperimen dalam satu kelompok para siswa
memahami masalah yang dihadapi, mengaitkan
permasalahan, memprediksi solusi dan
menjalankan rencana solusi terlebih dahulu untuk
mengisi LKS berbasis masalah yang diberikan oleh
guru, sehingga data yang teramati sesuai dengan
prediksi atau dapat menghasilkan data yang akurat.
Data yang didapat kemudian dipresentasikan di
depan kelas kemudian berdiskusi bersama-sama
dengan kelompok yang lain. Para siswa menjadi
tertarik terhadap pembelajaran seperti ini sehingga
pelajaran fisika terasa lebih bermakna.
Tabel 3. Rata-rata nilai tugas awal tiap pertemuan.
Pertemuan Ke-
Nilai Rata-rata
Tugas Awal
1.
61,01
2.
77,52
Rerata Nilai
Tugas Awal
69,27

Strategi membaca dan menulis ini efektif
untuk memiliki kemampuan pemahaman bacaan
teks sains, scientific inquiry dan pemahaman
konsep untuk meningkatkan kemampuan literasi
fisika. Keuntungan pembelajaran fisika dengan
strategi membaca dan menulis pada tugas awal
diantaranya: (1) membuat siswa memiliki
pengalaman untuk mengaitkan pengetahuan
dengan masalah dunia nyata; (2) membentuk
sikap ilmiah; (3) dapat mengkonstruksi
pengetahuan awal siswa; (4) memiliki kemampuan
memprediksi.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 91
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis soal literasi fisika
diperoleh bahwa kemampuan literasi fisika siswa
SMP setelah diterapkannya strategi membaca dan
menulis pada tugas awal dalam pembelajaran IPA
bertema ultrasound mengalami peningkatan
dengan diperoleh nilai gain sebesar 0,61 dengan
kategori sedang. Besarnya peningkatan literasi
fisika ditunjukkan oleh hasil nilai rata-rata posttest
sebesar 80,54 lebih tinggi dibanding nilai rata-rata
pretest yaitu 50,45. Ini menunjukkan bahwa
penerapan strategi membaca dan menulis pada
tugas awal dapat meningkatkan literasi fisika siswa.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
SMP Negeri 45 Bandung atas dukungannya dalam
proses penelitian ini.
Referensi
[1] Z. Fang, Improving Middle School Student
Science Literacy Through Reading Infusion.
J ournal of Education Research, 103, 262-273,
(2010).
[2] Hobson, Art., Physics Literacy, Energy and
The Environment. J ournal IOP J ournal of
Physics Education, 38, 109-114, (2003).
[3] S. Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan, J akarta: Bumi Aksara, (2009).
[4] M. D., Gardiantari, Penerapan Strategi
Pembelajaran Problem Solving Dengan
Reading Infusion Untuk Meningkatkan
Prestasi Belajar Siswa SMP, Skripsi Sarjana
pada FPMIPA UPI Bandung, (2013). tidak
diterbitkan.
[5] M. Hastia, Penerapan Model Pembelajaran
Inkuiri Terbimbing Untuk Meningkatkan
Literasi Sains Siswa SMP, Skripsi Sarjana
pada FPMIPA UPI Bandung, (2012), tidak
diterbitkan.
[6] Badan Penelitian dan Pengembangan,
Kajian Kebijakan Kurikulum Mata Pelajaran
IPA, J akarta: Departemen Pendidikan
Nasional, (2007).
[7] Program for Internasional Student
Assessment. Assessing Scientific, Reading
and Mathematical Literacy. By the
government of Organisation for Economic Co-
operation Development, (2006).

Esti Maras Istiqlal*
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
esti.canopus38@gmail.com
Saeful Karim
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
ainindiyadinantiputri@yahoo.co.id
Selly Feranie
J urusan Pendidikan Fisika FPMIPA
Universitas Pendidikan Indonesia
sferanie@yahoo.com
*Corresponding author


Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 92
Analisis Karakter Peserta Didik Menggunakan Tes Dilema Moral pada
Tema Gunung Meletus
Fanni Zulaiha*, Winny Liliawati, dan Taufik Ramlan Ramalis

Abstrak
Fenomena sosial seperti kenakalan remaja, kurangnya rasa toleransi terhadap perbedaan, kurangnya
kepekaan terhadap masalah sosial, dan berbagai kasus moral lainnya, telah menjadi masalah yang tak
kunjung selesai hingga kini. Sesungguhnya, masalah tersebut dapat diatasi melalui kontribusi pendidikan,
khususnya pada pembelajaran SAINS. Ternyata, pembelajaran SAINS tidak hanya dapat digunakan untuk
meningkatkan kemampuan kognitif peserta didik. Namun, pembelajaran SAINS juga dapat digunakan untuk
mengetahui karakter peserta didik selama pembelajaran. Untuk dapat menganalisis karakter siswa dalam
suatu pembelajaran SAINS, dapat digunakan instrumen berupa Tes Dilema Moral. Tujuan dari penelitian ini
adalah mengetahui karakter yang tertanam selama proses pembelajaran dengan tema gunung meletus.
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan instrumen Tes Dilema
Moral. Tes Dilema Moral merupakan instrumen yang bertujuan untuk mengetahui karakter yang dimiliki oleh
peserta didik. Sampel penelitian ini adalah 31 orang siswa sebuah sekolah menengah pertama negeri di
kota bandung yang dipilih secara random. Hasil penelitian menunjukan bahwa 87,96% siswa memiliki moral
knowing (pengetahuan moral), dan 75,60 % siswa memiliki moral feeling (perasaan moral). Berdasarkan
hasil yang diperoleh tersebut, dapat disimpulkan komponen karakter yang baik yang terlihat setelah proses
pembelajaran SAINS adalah moral knowing (pengetahuan moral) dan moral feeling (perasaan moral). Selain
itu, instrumen Tes Dilema Moral ini dapat digunakan sebagai alternative instrumen untuk mengetahui
karakter peserta didik selama proses pembelajaran.
Kata-kata kunci: Pembelajaran SAINS, Karakter Peserta, Tes Dilema Moral.
Pendahuluan
Dari sekian banyak masalah yang dihadapi
oleh sekolah, masalah yang sangat
mengkhawatirkan adalah masalah tentang
kenakalan remaja. Salah satu contoh kenakalan
remaja yang sering terjadi adalah tawuran antar
pelajar. Data dari Komnas Anak, jumlah tawuran
pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada
enam bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan
J uni, sudah terjadi 139 tawuran kasus tawuran di
wilayah J akarta. Sebanyak 12 kasus
menyebabkan kematian. Pada 2011, ada 339
kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal
dunia [4]. Melihat fenomena ini, sudah jauh-jauh
hari pemerintah melalui UU No 20 Tahun 2003
tentang sisdiknas pasal 3 yang berisi pendidikan
nasional berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. J adi,
sudah jelas bahwa salah satu fungsi dari system
pendidikan nasional adalah membentuk karakter
siswa [1].
Melihat kenyataan tersebut, ternyata adanya
ketidaksesuaian antara fakta yang terjadi dengan
fungsi dari sistem pendidikan nasional itu sendiri.
Artinya, bahwa fungsi sistem pendidikan nasional
belum berfungsi secara baik. Disinilah kemudian
muncul ide-ide dalam melakukan inovasi dalam
pembelajaran yang didalamnya mengintegrasikan
karakter baik pada peserta didik untuk mencapai
tujuan sistem pendidikan nasional. Namun, untuk
dapat mengetahui apakah dalam inovasi-inovasi
pembelajaran SAINS tersebut sudah terlihat atau
belum karakter yang baik pada peserta didik,
tentunya membutuhkan instrumen yang dapat
melihat hal tersebut. Dalam penelitian ini,
instrumen yang digunakan untuk dapat melihat
karakter yang baik dari suatu proses pembelajaran
SAINS adalah dengan menggunakan instrumen
Tes Dilema Moral.
Teori
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup
dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, dan negara [5]. Karakter
menggambarkan tingkah laku dengan
menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik
secara eksplisit maupun implisit. Untuk
mengetahui adanya karakter baik dalam diri
peserta didik, pada penelitian ini, peneliti
menggunakan instrumen berupa Tes Dilema Moral.
Tes Dilema Moral merupakan instrumen yang
bertujuan untuk mengetahui karakter yang dimiliki
oleh peserta didik [6]. Komponen karakter yang
baik menurut Lickona yaitu, moral feeling
(perasaan moral), moral knowing (pengetahuan
moral) dan moral action (tindakan moral) [2].
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 93
Komponen karakter yang baik tersebut memiliki
aspek-aspkek moral. Aspek-aspek moral knowing
(pengetahuan moral) antara lain yaitu kesadaran
moral, mengetahui nilai moral, penentuan
perspektif, pemikiran moral, pengambilan
keputusan, dan pengetahaun pribadi. Sedangkan
untuk aspek moral feeling (perasaan moral), yaitu
hati nurani, harga diri, empati, mencintai hal yang
baik, kendali diri, dan kerendahan hati. Komponen
karakter yang baik yang terakhir adlah moral action.
Aspek moral action (tindakan moral) yaitu
kompetensi, keinginan, dan kebiasaan [3]. Soal
Tes Dilema Moral yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan soal Tes Dilema Moral
yang sudah mengalami modifikasi dari bentuk Tes
Dilema Moral yang ada.
Sampel penelitian pada penelitian ini yaitu 31
siswa kelas VIII di sekolah menengah pertama
negeri (SMPN) di kota Bandung. Pemilihan sampel
dilakukan secara acak (random sampling).
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif.
Model pembelajaran yang digunakan ketika
melakukan Pembelajaran terpadu model webbed
tema gunung meletus adalah Susan-Louck
Hoursley. Pada tahap invited dan purpose of
thinking, peserta didik diberikan pengalaman
melalui video yang ditampilkan oleh guru pada
saat pembelajaran [6]. Video tersebut berupa
video proses gunung meletus, peristiwa hujan abu,
dan kondisi wilayah serta korban di pengungsian.
Penayangan video ini bertujuan untuk menstimulus
munculnya karakter baik dari diri peserta didik.
Pada akhir pembelajaran, peserta didik diberikan
satu soal Tes Dilema Moral. Tes ini merupakan
salah satu alternative instrument yang dapat
digunakan oleh para pendidik yang ingin
mengetahui karakter peserta didiknya selain
menggunakan instrument lembar observasi.
Hasil dan Diskusi
Setelah melakukan penelitian selama tiga kali
pertemuan, diketahui bahwa hanya dua komponen
karakter yang baik saja yang muncul setelah
pembelajaran, yaitu moral knowing (pengetahuan
moral) dan moral feeling (perasaan moral). Moral
action hanya bisa diketahui jika adanya
penambahan jam untuk melakukan kegiatan di luar
lingkungan sekolah, atau dibuat sebuah kegiatan
yang dapat memunculkan komponen karakter baik
tersebut. Persentase terlihatnya aspek moral
knowing (pengetahuan moral) dan moral feeling
(perasaan moral) dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.




Tabel 1. Persentase Aspek Moral Knowing
(Pengetahuan Moral) Peserta Didik di SMP.
No
Aspek Moral Knowing
(Pengetahuan Moral)
Persentase
Moral awareness
1
(Kesadaran moral)
100%
Knowing moral values
2
(Mengetahui nilai moral)
46,20%
Perspective taking
3
(Penentuan perspektif)
97,90%
Moral reasoning
4
(Pemikiran moral)
100%
Decision making
5
(Pengambilan Keputusan)
95,70%

Rata-rata 87, 96 %
Dari tabel 1, diketahui bahwa tidak semua
aspek Moral Knowing terlihat pada peserta didik.
Aspek Moral Knowing (Pengetahuan Moral) yang
dominan terlihat adalah moral awareness
(kesadaran moral) dan moral reasoning (pemikiran
moral). Sebaliknya, aspek moral knowing
(pengetahuan moral) yaitu knowing moral values
(mengetahui nilai moral) kurang terlihat dominan.
Artinya hanya sebagian peserta didik saja yang
sudah mengetahui nilai-nilai moral dalam
kehidupan. Nilai-nilai moral yang dimaksud seperti
tanggung jawab, kejujuran, dan lain sebagainya.
Ternyata diperlukan adanya pemasukan nilai-nilai
moral dalam kehidupan pada saat pembelajaran.
Tabel 2. Persentase Aspek Moral Feeling
(Perasaan Moral) Peserta Didik di SMP.
No
Aspek Moral Feeling
(Perasaan Moral)
Persentase
Conscience
1
(Hati nurani)
86%
Empathy
2
(empati)
62,40%
Loving the good
3
(mencintai hal yang baik)
78,50%
Rata-rata 75,60%
Seperti halnya aspek moral knowing
(pengetahuan moral), ternyata aspek moral feeling
(perasaan moral) pun tidak semuanya terlihat
pada peserta didik. Hanya ada tiga aspek moral
feeling (perasaan moral) yang dominan terlihat,
yaitu conscience (hati nurani), emphaty (empati)
dan loving the good (mencintai hal yang baik). Dari
ketiga aspek yang terlihat ternyata tidak ada satu
pun aspek moral feeling (perasaan moral) yang
terlihat pada semua peserta didik. Hal ini berkaitan
dengan data dari Tabel 1 yang menyatakan bahwa
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 94
peserta didik kurang mengetahui nilai-nilai moral
dalam kehidupan. Sehingga, tentu saja hal ini
berpengaruh terhadap aspek moral feeling yang
dimiliki oleh peserta didik.
Selain hal-hal tersebut di atas, kurang
terlihatnya beberapa aspek komponen karakter
yang baik ini disebabkan pada saat pembelajaran,
peserta didik tidak memperhatikan dengan baik
video yang ditampilkan oleh guru, padahal tujuan
dari ditayangkannya video tersebut salah satunya
yaitu untuk menstimulus munculnya karakter baik
dari diri peserta didik.
Kesimpulan
Komponen karakter yang terlihat dari peserta
didik adalah moral knowing (pengetahuan moral)
dan moral feeling (perasaan moral). Aspek
komponen karakter yang baik yang dominan
terlihat yaitu kesadaran moral dan pemikiran moral.
Selain itu, instrumen tes dilema moral ini dapat
digunakan sebagai alternative instrumen untuk
mengetahui karakter peserta didik selama proses
pembelajaran.
Referensi
[1] R. Apriliaswati, Strategi mebangun
kecerdasan moral dalam pembelajaran
bahasa di sekolah, J urnal Visi Ilmu
Pendidikan, 228-240.
[2] T. Lickona, Educating for character. J akarta,
PT Bumi Aksara, (2012).
[3] http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/20/p
ancasila-sebagai-paradigma-pembangunan-
pendidikan-557806.html [accessed 22 J une
2013]
[4] http://hizbut-
tahrir.or.id/2012/11/05/kriminalitas-remaja-di-
sekitar-kita/ [accessed 22 J une 2013]
[5] http://pustaka.pandani.web.id/2013/03/penger
tian-karakter.html [accessed 22 J une 2013]
[6] Z. Darmiyati, Pendidikan Karakter,
Yogyakarta: UNY Press, (2011).

Fanni Zulaiha*
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
fanni.zulaiha@gmail.com
Winny Liliawati
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
Taufik Ramlan Ramalis
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia

*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 95
Motor Solenoid Sebagai Alat Bantu dalam Pembelajaran
Elektromagnetisme: Studi Pengaruh Tegangan dan Panjang Kumparan
Terhadap Kecepatan Rotasi
Samuel Kamajaya, Bianca Maria Hasiandra, Richard J ason, dan Fourier Dzar Eljabbar Latief*

Abstrak
Topik bahasan elektromagnet dalam mata pelajaran fisika merupakan salah satu topik yang cukup penting
karena sangat banyak teknologi saat ini yang berbasis pada prinsip elektromagnetisme. Namun demikian
seringkali topik ini agak sukar dipahami dan menjadi kurang menarik. Perangkat motor solenoid dapat
menjadi salah satu piranti yang digunakan dalam menyampaikan topik bahasan mengenai
elektromagnetisme. Teknologi motor solenoid ini dapat ditemukan pada kipas angin dan pompa. Prinsip
kerja alat ini adalah mengubah energi yang dihasilkan solenoid menjadi energi kinetik. Sejumlah energi
hilang akibat adanya gaya gesek dalam bentuk energi panas,sehingga motor solenoid harus didesain agar
seefektif mungkin. Pada penelitian ini, akan ditentukan pengaruh tegangan dan panjang kumparan pada
kecepatan rotasi dari solenoid sehingga dapat didesain motor soleonoid yang lebih efisien. Pada motor
solenoid, terdapat banyak variabel yang dapat mempengaruhi kecepatan rotasi dari motor solenoid sehingga
akan ditentukan beberapa batasan penelitian. Pertama, lengan poros memiliki panjang 1 cm. Listrik yang
digunakan berasal dari sumber tegangan searah. Jumlah solenoid yang diteliti sebanyak 3 buah dengan
jarak antar solenoid dibuat sama panjang. Panjang bahan ferromagnetik yang digunakan besarnya sama.
Kumparan divariasikan pada nilai panjang 3 cm dan 5 cm. Sedangkan tegangan divariasikan pada beberapa
nilai pada selang 10.5 V 18 V. Dari hasil percobaan, diperoleh bahwa kumparan dengan panjang 3 cm
menghasilkan kecepatan yang lebih besar. Semakin tinggi arus yang digunakan, semakin besar pula
kecepatan putaran motor tersebut. Pada kumparan 3 cm, pertambahan kecepatan terhadap tegangan
adalah 1,22 (rad/s)/V. pertambahan kecepatan teradap tegangan pada kumparan 5 cm adalah sebesar
1,65(rad/s)/V. Hubungan-hubungan antar parameter tersebut dapat digunakan pada proses pembelajaran di
kelas, di mana siswa dapat melakukan percobaan sendiri, melakukan pengambilan data, representasi data
dan pengolahannya, serta mengambil kesimpulan dari percobaan tersebut
Kata-kata kunci: motor solenoid, elektromagnetisme, kumparan, elektromekanik.
Pendahuluan
Topik bahasan fenomena elektromagnetisme
dalam mata pelajaran fisika merupakan salah satu
topik yang cukup penting karena sangat banyak
teknologi saat ini yang berbasis pada prinsip
tersebut. Namun demikian seringkali topik ini agak
sukar dipahami dan menjadi kurang menarik.
Padahal sangat banyak sekali perangkat sehari-
hari yang menggunakan prinsip tersebut, misalnya
kipas angin, pompa air, mesin cuci, yang bekerja
berdasar pada prinsip kerja motor solenoid. Energi
yang digunakan oleh motor solenoid ini tidak
seluruhnya berubah menjadi energi kinetik, tetapi
ada energi yang hilang akibat adanya gaya gesek
dalam bentuk energi panas. Untuk meningkatkan
jumlah energi yang digunakan untuk rotasi, motor
solenoid ini harus didesain sedemikian rupa
sehingga jumlah energi yang hilang dalam bentuk
energi panas dapat dibuat sekecil mungkin.
Penelitian ini bertujuan menentukan penga-
ruh tegangan dan panjang kumparan pada
kecepatan rotasi dari solenoid. Tujuan lain dari
penelitian ini adalah mengamati parameter-
parameter apa saja yang terkait dengan performa
kerja motor solenoid (dalam hal ini adalah
kecepatan putaran), yang dapat dijadikan
pengembangan bahan ajar materi elektromag-
netisme, khususnya terkait kemampuan penga-
matan dan analisis.
Teori
Medan magnet akan terbentuk di sekitar
kawat konduktor yang dialiri oleh arus listrik. Pada
sebuah batang besi yang dililit dengan kawat
konduktor akan terbentuk lintasan arus kecil yang
memiliki ukuran sebesar atom. Ketika sebuah
elektron mengorbit di sekitar inti atom, maka akan
terbentuk sebuah loop arus listrik yang sangat kecil.
Semua bagian batang besi ini akan bersifat
magnetik karena sebuah loop arus listrik
mempunyai medan magnet dan semua atom
memiliki elektron yang berevolusi pada orbitnya.
Pergerakan elektron pada orbitnya dan spin (rotasi
elektron di sekitar sumbu porosnya) dari elektron
tersebutlah yang berpengaruh terhadap
terbentuknya medan magnet.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 96
Solenoid elektromekanik
Solenoid elektromekanik terdiri dari kumpar-
an yang terinduksi secara elektromagnetik, yang
menyelubungi piston yang dapat bergerak. Pis-ton
ini harus terbuat dari bahan ferromagnetik.
Kumparan didesain sedemikian rupa agar piston
tersebut dapat bergerak keluar masuk kumparan.
Skema solenoid elektromekanik dapat dilihat pada
Gambar 1.

Gambar 1. Solenoid elekromekanik [1].
Gaya yang diberikan pada piston berbanding
lurus dengan perubahan induktansi kumparan
yang terjadi karena perbedaan posisi piston dan
arus yang mengalir pada kumparan. Gaya yang
diberikan pada piston akan menyebabkan piston
bergerak ke arah yang menyebabkan induktansi
kumparan membesar. Solenoid elektromekanik ini
disebut juga solenoid linear apabila piston
bergerak secara linear. Solenoid linear memiliki
tiga jenis yaitu: pull force, push force, dan hold
force. Saat solenoid diberi tenaga, jenis pull akan
menarik piston, jenis hold akan mempertahankan
posisi piston sedangkan jenis push akan
mendorong piston. Besarnya gaya yang dihasilkan
dipengaruhi berbagai faktor diantaranya: jumlah
lilitan kumparan, ukuran solenoid, karakter
magnetik dari piston, rongga antara solenoid
dengan piston, dan langkah piston. Dapat
dikatakan bahwa besarnya gaya berbanding
terbalik dengan jarak kuadrat piston dari solenoid
(rongga) [2].
Desain motor solenoid
Motor solenoid yang digunakan dalam
percobaan ini dapat dibagi menjadi tiga bagian
sistem, yaitu: sistem mekanik, sistem elektrik, dan
alat pengukur kecepatan.
Sistem Mekanik: pada motor solenoid, silinder
yang digunakan berjumlah tiga buah, setiap
silinder menggunakan paku yang dihubungkan ke
poros engkol. Poros engkol yang digunakan
dibentuk menjadi tiga lengan dengan sudut antar
lengan sebesar 120 derajat dan radius sepanjang
1 cm. Pada ujung poros dipasangkan roda gila
(flywheel) sebagai penstabil putaran. Dimensi
keseluruhan motor solenoid ini adalah: panjang 25
cm, tinggi 25 cm.
Sistem Elektrik: pada setiap percobaan
digunakan tiga buah solenoid dengan masing
masing 1000 lilitan percobaan pertama
menggunakan solenoid dengan tinggi 3 cm dan
percobaan kedua menggunakan solenoid dengan
tinggi 5 cm. Pada saat poros engkol berputar,
lengan poros engkol akan mengenai sikat
disekitarnya yang berbentuk setengah lingkaran.
Sikat ini berfungsi sebagai saklar untuk
mengalirkan arus dari poros engkol ke solenoid.
Saat solenoid mendapat arus maka timbul medan
magnet di dalam solenoid yang menarik paku yang
menyebabkan poros engkol berputar. Saat paku
sudah ada pada posisi paling rendah, kontak poros
engkol dengan sikat terlepas sehingga paku dapat
berputar naik keatas karena tidak tertarik medan
magnet solenoid. Mekanisme ini diilustrasikan
pada Gambar 2.

Gambar 2. Skema mekanisme sikat dan poros
engkol.
Alat Pengukur Kecepatan: untuk mengukur
kecepatan putaran motor solenoid, digunakan
sistem sensor fotodioda. LED inframerah dan
fotodioda dipasang bersebelahan pada rangka
kayu menghadap roda gila. Prinsip dari alat
pengukur kecepatan ini adalah ketika fotodioda
menerima cahaya inframerah hasil pantulan dari
roda gila maka terjadi perubahan potensial listrik.
Perubahan potensial listrik ini lalu diolah oleh IC
LM 393 menjadi data high dan low yang keluar
dari pin 1. Pin 1 ini kemudian disambung-kan
dengan komputer melalui port audio. Skema
fotodioda pengukur kecepatan dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar 3. Skema sensor fotodioda.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 97
Bagian sisi dalam roda gila (flywheel) dilapis
dengan kertas berwarna hitam, lalu diberi garis
putih seperti pada Gambar 4. Sedangkan wujud
motor solenoid setelah semua sistem dirangkai
pada rangka kayu tampak pada Gambar 5.

Gambar 4. Sisi sebelah dalam dari roda gila.

Gambar 5. Tampak keseluruhan motor solenoid.
Bagian sisi yang berwarna putih akan
memantulkan sinar inframerah sehingga dapat
diterima oleh fotodioda. Fotodioda akan
menangkap sinar inframerah satu kali selama roda
gila berputar satu putaran. Saat motor solenoid
sudah berputar dengan kecepatan konstan,
komputer lalu merekam data yang dihasilkan oleh
IC LM 393 dengan software Audacity. Rekaman
tersebut memiliki sample rate sebesar 44100
sampel perdetik. Dengan demikian, periode roda
gila dapat diukur dari data yang telah direkam.
Data yang dihasilkan oleh alat pengukur
kecepatan kemudian direkam ke komputer dalam
bentuk audio digital. Dalam percobaan ini,
perangkat lunak Audacity berguna untuk merekam
dan menampilkan bentuk gelombang suara.
Rekaman tersebut lalu difilter untuk
menghilangkan noise dengan menggunakan effect
low pass filter. Noise ini kemungkinan terjadi
karena kontak antara sikat dan poros engkol yang
menyebabkan bunga api. Bunga api menghasilkan
gelombang elektromagnetik yang dapat
mengganggu medan listrik di sekitar sensor.
Selanjutnya, dari rekaman tersebut dipilih sepuluh
gelombang penuh dan dihitung berapa jumlah
frame yang dibutuhkan untuk membentuk 10
gelombang penuh tersebut (mis: t
f
). Nilai periode T
diperoleh dari t
f
/(38400010). Kecepatan motor
solenoid dapat dihitung dengan persamaan
berikut:
2 T . (1)
Dalam percobaan ini, dilakukan pengukuran
kecepatan motor solenoid dengan kumparan dan
tegangan yang berbeda-beda. Pengukuran dibagi
menjadi dua tahap. Pertama mengukur kecepatan
motor solenoid dengan panjang kumparan 5cm.
Kedua mengukur kecepatan motor solenoid
dengan panjang kumparan 3cm. Setiap jenis
kumparan dicoba dengan catu daya DC
bertegangan 12 V, 17 V, 21 V, 25 V. Setiap
percobaan diulangi sebanyak tiga kali.
Hasil dan Diskusi
Dalam setiap percobaan, Sumber tegangan
dihubungkan dan ditunggu sampai motor berpu-tar
dengan kecepatan konstan, kemudian te-gangan
dan arus diukur. Data hasil percobaan dapat
dilihat pada Tabel 1. Plot antara tegangan dengan
kecepatan sudut untuk masing-masing panjang
lilitan solenoid 3 cm dan 5 cm dapat dilihat pada
Gambar 6.

Gambar 6. Grafik besar tegangan terhadap
kecepatan sudut putaran motor solenoid.
Dari hasil regresi didapatkan bahwa
pertambahan kecepatan untuk tegangan yang
berbeda-beda adalah sekitar 1,2225 (rad/s)/V
untuk kumparan 3 cm; dan sekitar 1.6557 (rad/s)/V
untuk kumparan 5cm. Tegangan yang terukur
berbeda dengan tegangan catu daya. Hal ini
dikarenakan hambatan dalam catu daya tidak
berbeda jauh dengan hambatan dalam motor
solenoid sehingga tegangan catu yang keluar dari
catu daya mengalami penurunan.
Hal ini juga disebabkan karena arus yang
mengalir masuk ke kapasitor lebih kecil dari pada
arus yang keluar dari kapasitor, sehingga kapasitor
yang harusnya menjadi penstabil tegangan tidak
dapat menstabilkan tegangan.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 98
Tabel 1. Hasil pengukuran kecepatan sudut motor dengan menggunakan kumparan 3 dan 5 cm.
Panjang solenoid 3 cm Panjang solenoid 5 cm
arus waktu frek kec.sdt Arus waktu frek kec.sdt
perc.
ke
Teg.
(V)
(A) (s) (Hz) (rad/s) (A) (s) (Hz) (rad/s)
1 1.7395 5.74877 36.121 1.93607 5.16511 32.4533
2 1.72653 5.79195 36.392 1.96047 5.10083 32.0494
3
10.5 0.46
1.73453 5.76526 36.224
0.48
2.04016 4.90157 30.7975
rata-rata (kec.sdt) 36.24555 0,06% 31.76676 0,43%
1 1.56952 6.37138 40.033 1.60804 6.21873 39.0735
2 1.57071 6.36654 40.002 1.60179 6.243 39.2259
3
13.5 0.54
1.56566 6.3871 40.131
0.6
1.60017 6.24935 39.2658
rata-rata (kec.sdt) 40.05536 0,02% 39.18840 0,04%
1 1.47339 6.78707 42.644 1.54859 6.45748 40.5736
2 1.52362 6.56331 41.239 1.53424 6.51786 40.953
3
16 0.57
1.4781 6.76545 42.509
0.63
1.53726 6.5051 40.8728
rata-rata (kec.sdt) 42.13047 0,29% 40.79975 0,08%
1 1.35718 7.36822 46.296 1.3958 7.16437 45.015
2 1.39002 7.19414 45.202 1.4003 7.14133 44.8703
3
18 0.6
1.36755 7.31236 45.945
0.65
1.40039 7.14086 44.8674
rata-rata (kec.sdt) 45.81431 0,19% 44.91757 0,03%

Arus yang terukur sebenarnya berubah-ubah
karena kontak sikat dengan poros engkol tidak
menyala secara konstan sehingga multimeter
menghitung rata-rata arus tersebut berdasarkan
sampel yang dia ukur per-detiknya. Hal ini juga
menyebabkan arus yang terukur jauh lebih kecil
daripada jika dihitung menggunakan V = I R.
Kesimpulan dan usulan pengembangan
Dalam percobaan ini dapat disimpulkan
beberapa hal sebagai berikut: pada tegangan yang
sama, panjang kumparan 3 cm akan menghasilkan
kecepatan yang lebih besar dibandingkan panjang
kumparan 5 cm. Hal ini bersesuaian dengan
perumusan medan magnet pada solenoid yang
berbanding terbalik dengan panjang lilitan. Pada
kumparan 3 cm, pertam-bahan kecepatan ter-
hadap tegangan adalah 1,22 (rad/s)/V. Pertam-
bahan kecepatan teradap tegangan pada kum-
paran 5 cm adalah sebesar 1,65 (rad/s)/V. Untuk
mengembangkan percobaan ini lebih lanjut dapat
dicoba percobaan inti besi yang berbeda
ukurannya atau poros engkol yang berbeda
panjang lengannya. Direkomendasikan pula untuk
melakukan pengukuran kecepatan sudut putaran
menggunakan sensor cahaya yang memiliki
ketelitian yang tinggi.

Referensi
[1] http://en.wikipedia.org/wiki/File:Commercial_S
olenoid_Dawes_1920.png. Diakses pada
Minggu, 14 April 2013 pukul 15.52.
[2] http://www.gwlisk.com/design-guide.aspx.
Diakses Senin, 8 J uli 2013 pukul 19.08
Samuel Kamajaya
Program Studi Teknik Tenaga Listrik
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, ITB
samuel.kamajaya@gmail.com
Bianca Maria Hasiandra
Program Studi Teknik Telekomunikasi
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, ITB
Institut Teknologi Bandung
bianca.hasiandra@students.itb.ac.id
Richard J ason
Program Studi Teknik Tenaga Listrik
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika
Institut Teknologi Bandung
richard_jazon@yahoo.com
Fourier Dzar Eljabbar Latief*
Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
fourier@fi.itb.ac.id
*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 99
Pengaruh Pengenceran HidrogenTerhadap Hasil Penumbuhan Silikon
Nanowire dengan Metode HWC-in Plasma-VHF-PECVD Berbantuan
Nanokatalis Perak
Gilang Mardian Kartiwa*, Rahmat Awaluddin Salam, Diki Anggoro, dan Toto Winata

Abstrak
Telah ditumbuhkan material silicon nanowire (SiNW) diatas substrat gelas dengan metode HWC-in plasma-
VHF-PECVD dan berbantuan nanokatalis perak. Dua jenis nanokatalis masing-masing dibuat dengan
menguapkan 10 dan 2,5 mg perak dianil pada suhu 380
0
C dengan durasi yang berbeda, yaitu 40 menit dan
1 menit. Nanokatalis ini kemudian dipakai untuk penumbuhan nanowire dengan metode HWC-in plasma-
VHF-PECVD. Selama proses penumbuhan, akan dicoba dialirkan gas hidrogen dengan flowrate tertentu.
Hal ini lazim disebut dilution atau pengenceran. Sementara itu, parameter penumbuhan lain seperti suhu,
tekanan, dan daya rf dibuat tetap dan dipilih sesuai dengan parameter optimal dari penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya. Kemudian dilakukan karakterisasi SEM, FTIR, dan XRD, dan disimpulkan bahwa
hidrogen dengan flowrate 35 sccm dapat mengurangi jumlah ikatan H Si dan O Ag serta
memunculkan satu buah peak Si dan empat peak Ag pada hasil XRD, sementara dilution dengan flowrate
hidrogen diatas 40 sccm akan membuat plasma tidak bisa dinyalakan.
Kata-kata kunci: pengenceran hidrogen, penumbuhan berkatalis, silikon nanowire
Pendahuluan
Istilah nanowire biasa digunakan untuk
menunjukkan material berstruktur wire dalam
ukuran nano. Dalam hal ini, diameter nanowire
ideal adalah sekitar 1 hingga 100 nm dan panjang
hingga beberapa m[1]. karena ukurannya yang
berskala nano, maka dimensi nanowire ini akan
bersesuaian dengan skala karakteristik dari
berbagai fenomena menarik yang ada pada dunia
fisika zat padat antara lain panjang gelombang
cahaya, jari-jari exciton Bohr, mean free path dari
fonon, dan lain-lain[2]. Hal ini menyebabkan
banyak sifat fisis material nanowire yang berbeda
dari sifat fisis material yang sama dalam ukuran
besar (bulk). Beberapa aplikasi nanowire yang
dimungkinkan antara lain sebagai material
elektronik seperti sel surya[3], dan fotokatalis[4].
Beberapa penelitian mengenai penumbuhan
silikon nanowire yang pernah dilakukan dengan
metode HWC-in plasma-VHF-PECVD ini adalah
penelitian oleh Hidayat (2012), Anggoro (2012),
dan Salam (2013). Ketiga penelitian tersebut telah
berhasil menumbuhkan silikon nanowire namun
dengan laju penumbuhan yang terbatas. Diduga
hal ini diakibatkan oleh adanya oksida perak pada
nanokatalis yang bersifat menghambat proses
penumbuhan. Hasil dari ketiga penelitian
sebelumnya juga menunjukkan silikon nanowire
yang masih berstruktur amorf. Karena itu, pada
penelitian kali ini akan dicoba penumbuhan silikon
nanowire dengan dilution atau pengenceran oleh
gas hidrogen.

Eksperimen
Penumbuhan silikon nanowire dilakukan
dengan menggunakan bantuan nanokatalis.
Nanokatalis yang digunakan dibuat dengan cara
menganiling lapisan tipis perak yang dibuat
dengan metode evaporasi termal. Pada penelitian
kali ini disiapkan dua jenis lapisan tipis perak,
dimana masing-masing dibuat dengan
menguapkan 10 mg dan 2,5 mg perak sehingga
didapat lapisan tipis dengan ketebalan yang
berbeda. Kedua lapisan tipis ini kemudian dianiling
pada suhu 380
0
C selama 40 menit untuk lapisan
tipis 10 mg perak dan 1 menit untuk lapisan tipis
2,5 mg perak.Lapisan tipis yang diberi perlakuan
aniling akan terpecah dan membentuk droplet
berukuran nano yang disebut nanokatalis.
Nanokatalis ini berfungsi sebagai tempat
tumbuhnya wire. Kemudian kedua nanokatalis ini
dipakai pada proses penumbuhan silikon nanowire.
Penumbuhan silikon nanowire dilakukan
dengan metode HWC-in plasma-VHF-PECVD.
Nilai parameter penumbuhan yang dipakai
merupakan nilai optimum yang didapat dari
penelitian sebelumnya[5]. Secara umum, penelitian
yang dilakukan kali ini dapat dilihat pada tabel 1:
Tabel 1. Rancangan percobaan
Sampel
Q Hidrogen
(sccm)
Katalis
A 35 10 mg
B 0 2,5 mg
C 41 2,5 mg
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 100
Hasil dan Diskusi
Diameter nanokatalis yang digunakan akan
sangat mempengaruhi struktur wire yang didapat,
karena diameter wire akan mengikuti diameter
nanokatalisnya. Hasil penumbuhan nanokatalis
yang dibuat dengan menganiling lapisan tipis
perak pada suhu 380
0
C selama 40 menit dapat
dilihat pada gambar berikut:


Gambar 1. Citra SEM nanokatalis yang dianiling
selama 40 menit.
Dari gambar diatas terlihat bahwa nanokatalis
yang terbentuk masih memiliki ukuran yang kurang
ideal (diatas 100 nm). Setelah dilakukan
pengelompokan, diketahui bahwa jumlah
nanokatalis berkisar pada ukuran 80 hingga 120
nm. Sebaran diameter nanokatalis yang terbentuk
pada sampel ini dapat dilihat pada grafik berikut:

Gambar 2. Sebaran ukuran nanokatalis perak.
Nanokatalis lalu digunakan dalam proses
penumbuhan, dengan urutan eksperimen seperti
yang tertera pada tabel 1. Ketiga sampel nanowire
tersebut kemudian dikarakterisasi dengan
menggunakan FTIR, XRD, dan SEM. Hasil
karakterisasi dari sampel nanowire ini kemudian
dianalisis. Hasil karakterisasi FTIR terlhat sebagai
berikut:

Gambar 3. Kurva FTIR sampel A (merah), sampel
B (hijau), dan nanokatalis (biru).
Kurva diatas menunjukkan ikatan Si - H pada
wilayah 810 hingga 950 cm
-1
. Namun peak pada
daerah tersebut dapat juga merupakan peak milik
Ag = O[6](850-1010 cm
-1
). Meskipun tidak dapat
ditentukan secara pasti, namun perbandingan
kurva transmitansi sampel A dan B pada wilayah
tersebut menunjukkan bahwa sampel A (dengan
dilute) memiliki puncak yang lebih kecil, dan hal ini
sesuai dengan yang diharapkan karena pada
kasus ini, baik ikatan Si H maupun Ag = 0
merupakan ikatan yang ingin direduksi dengan
perlakuan pengenceran hidrogen. Sementara itu,
puncak pada wilayah 600 hingga 800 cm
-1

merupakan puncak milik Ag H yang berasal dari
nanokatalis. Pengurangan puncak ini terjadi
sebagai akibat dari pengenceran hidrogen, karena
ikatan H H memiliki energi ikat yang lebih kuat
dibandingkan Si H maupun Ag = 0, sehingga
kehadiran gas hidrogen selama penumbuhan akan
memutus kedua ikatan tersebut.
Sementara itu, hasil XRD yang dilakukan
pada kedua sampel juga menunjukkan perbedaan
yang signifikan. Sampel A menunjukkan satu
puncak Si dan empat Ag, sedangkan sampel B
tidak menujukkan puncak difraksi sama sekali.
Perbandingan hasil XRD kedua sampel dapat
dilihat pada grafik 4:
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 101



Gambar 4. Perbandingan hasil XRD sampel A
(biru) dan B (merah).
Seperti dijelaskan sebelumnya, kehadiran gas
hidrogen akan memutus ikatan Si H maupun Ag
= 0. Ikatan Si H akan memberikan struktur amorf
seperti yang terlihat pada hasil XRD sampel B.
Pemutusan ikatan oleh gas hidrogen membuat Si
dan Ag yang sudah tidak berikatan akan berikatan
dengan sesamanya, membentuk ikatan Si Si
dan Ag Ag yang akan memberikan struktur
berupa kristal. Akibatnya, pengenceran akan
memunculkan puncak pada hasil XRD yang
menunjukkan tingkat kristalinitas yang lebih baik.
Perubahan struktur kimia yang terjadi dapat
dijelaskan sebagai berikut:
2 2
2 2 2 SiH H Si H
2 2
2 2 2 2 AgO H Ag H O .
Puncak yang muncul pada grafik 4 dapat dilihat
pada tabel berikut:

Tabel 2. Daftar puncak yang muncul pada Gambar
4.
2 Unsur dan indeks hkl
38.1
0
Ag (111)
44.4
0
Ag (200)
70.5
0
Si (400)
77.3
0
Ag (311)
81.5
0
Ag (222)

Diketahui Ag = 0 berikatan lebih lemah
daripada Si H sehingga lebih mudah terputus
selama proses pengenceran, hal ini menjelaskan
mengapa puncak Ag muncul lebih banyak
daripada puncak Si.
Terakhir, dilakukan pula karakterisasi SEM
kepada kedua sample. Hasil citra SEM dapat
dilihat pada gambar berikut:


Gambar 5. Citra SEM sampel A.
Perbedaan yang cukup signifikan dapat dilihat dari
perbandingan hasil SEM kedua sampel. Sampel A
yang ditumbuhkan dengan melakukan
pengenceran menunjukkan adanya struktur wire
yang tumbuh, meskipun diameternya masih cukup
besar (sekitar 120 nm) sehingga masuk ke dalam
kategori whisker. Sementara pada sampel B yang
ditumbuhkan tanpa pengenceran, struktur wire
nampak tak teramati bahkan dengan perbesaran
40.000 kali.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 102


Gambar 6. Citra SEM sampel B.
Yang menarik adalah, bahwa pada percobaan kali
ini flowrate total
2 4
QH QSiH dijaga tetap
sebesar 70 sccm . Artinya penumbuhan sampel B
(tanpa pengenceran) dilakukan dengan flowrate
silan sebesar 70 sccm sementara penumbuhan
sampel A hanya menggunakan 35 sccm gas silan
namun dengan dicampur hidrogen sebesar 35
sccm pula. Artinya laju penumbuhan nanowire
tidak selalu ditentukan oleh tingkat flowrate silan.
Perbedaan laju penumbuhan kedua sampel
dapat dijelaskan sebagai berikut: seperti yang
sudah dijelaskan bahwa pengenceran hidrogen
dapat meningkatkan kristalinitas nanokatalis perak
dengan menghilangkan oksidanya. Sementara itu,
gas silan yang sudah terdeposisi akan lebih
mudah untuk berdifusi masuk kedalam nanokatalis
yang sudah bersih karena ikatan Si O lebih
mudah terbentuk daripada Ag Si. Penghilangan
oksida dari nanokatalis membuat Si lebih mudah
berdifusi. Secara keseluruhan, pengenceran
hidrogen akan meningkatkan laju penumbuhan
nanowire. Adapun ukuran wire yang tidak ideal
pada sampel A disebabkan karena diameter
nanokatalis yang memang kurang baik.
Berbeda dengan Sampel A dan B. Sampel C
yang ditumbuhkan dengan dilute 41 sccm gas
hidrogen gagal dilakukan karena plasma tidak
menyala. Kemungkinan, nilai 41 sccm hidrogen
dan 29 sccm silan merupakan rasio yang tidak
ideal dimana hidrogen terlalu mendominasi ruang
dalam chamber. Karena plasma yang muncul
selama proses penumbuhan merupakan kumpulan
ion-ion dan radikal dari silan. Rasio hidrogen
terhadap silan yang berlebihan menunjukkan
kerapatan silan yang sangat rendah sehingga tidak
sanggup untuk memunculkan plasma. Akibatnya
penumbuhan tidak dapat dilakukan.
Kesimpulan
Dari percobaan diatas, disimpulkan bahwa
pengenceran hidrogen dapat meningkatkan laju
penumbuhan silikon nanowire dengan
membersihkan oksida yang ada pada nanokatalis.
Pengenceran hidrogen juga mengurangi ikatan
Si H dan Ag O sehingga sekaligus
meningkatkan kristalinitas wire. Namun pemberian
hidrogen yang terlalu besar justru akan
menyebabkan plasma tidak dapat muncul dan
penumbuhan tidak dapat dilakukan..
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Prof. Toto Winata, Ph.D selaku pembimbing,
Rahmat A. Salam, M.Si , dan Diki Anggoro,M.Si
atas segala dukungan dan bantuan hingga
eksperimen ini dapat terlaksana.
Referensi
[1] Hochbaum, A.I, and Yang, P. Chem. Rev,
110, 527-546 (2010).
[2] Law, M., Goldberger, J., Yang, P. D.Annu.
ReV. Mater. Res., 34, 83 (2004)
[3] Garnett, E.C, Brongersma, M.L, Cui, Y., and
McGehee: Annu. Rev. Matter. Res., 41, 269-
295 (2011).
[4] A. Fujishimam and K. Honda, Nature, 238, 37
(1972).
[5] Anggoro, D.Studi Awal Penumbuhan Silikon
Nanowire dengan Metode HWC-in plasma-
VHF-PECVD Berbantuan Nanokatalis Perak
Dengan Optimasi Daya, Magister
Thesis,Institut Teknologi Bandung, Bandung,
p.26. (2012).
[6] Stuart, Barbara. Infrared Spestroscopy:
Fundamentals and Applications, John Wiley
& Sons, Ltd, p.98, (2004).

Gilang Mardian Kartiwa*
gilangmk@gmail.com
*Corresponding author

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 103
Penerapan Pembelajaran Terpadu Model Webbed Tema Polusi Cahaya
Dengan Menggunakan Model Pembelajaran Susan-Loucks
untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Smp
Hayyah Fauziah*, Winny Liliawati, dan J udhistira Aria Utama

Abstrak
Model pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan dalam
tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sebagaimana salah satu prinsip yang tertera dalam KTSP,
yaitu beragam dan terpadu. Untuk mewujudkan hal ini, maka model pembelajaran yang dilakukan dapat
disajikan secara terpadu. Namun, berdasarkan hasil studi pendahuluan menunjukkan bahwa implementasi
dari pembelajaran terpadu masih belum banyak diterapkan oleh pihak sekolah. Oleh karena itu, dilakukan
penelitian dengan menerapkan pembelajaran terpadu model webbed tema polusi cahaya untuk
meningkatkan hasil belajar siswa SMP. Pada pelaksanaannya, model pembelajaran yang digunakan yaitu
model pembelajaran Susan-Loucks yang terdiri dari empat tahap, yaitu : tahap Invited, tahap explore and
discover, tahap propose explanations and solutions, dan yang terkahir tahap taking action. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experimental design dengan desain penelitian one group
pretest-postest design. Sampel pada penelitian ini yaitu salah satu kelas VIII SMP Negeri di Kabupaten
Bandung. Data penelitian diperoleh melalui hasil belajar yang berdasarkan pada lima ranah dalam new
taxonomy for sains education. Namun hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa siswa di sekolah
tersebut mengalami peningkatan yang rendah dalam hasil belajar mengenai Polusi Cahaya dengan nilai
rata-rata gain dinormalisasi sebesar 0,221 dengan kategori rendah. Berdasarkan hasil yang diperoleh
tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran terpadu model webbed pada tema polusi
cahaya belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan penanaman karakter siswa SMP.
Kata Kunci :New Taxonomy For Science Education, Model Belajar Susan-Loucks, Hasil Belajar.
Pendahuluan
Pembelajaran terpadu merupakan salah satu
implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk
digunakan pada semua jenjang pendidikan untuk
dapat meningkatkan mutu pendidikan. Seperti
yang diungkapkan oleh Zuhdan (2007), .selama
ini sebagian besar pembelajaran didasarkan pada
tiga ranah Taksonomi Bloom dengan berorientasi
pada contents maupun procces. Namun, dalam
pelaksanaanya pun tidak seimbang. Oleh karena
itu, lima ranah pendidikan dalam new taxonomy for
science education dipandang sebagai acuan
pengembangan tiga ranah Bloom yang mampu
meningkatkan aktivitas pembelajaran dan sikap
positif terhadap mata pelajaran itu. [5]
Berdasarkan studi literatur tersebut, penulis
meneliti tentang penerapan pembelajaran terpadu
model webbed dengan menggunakan model
pembelajaran Susan-Loucks pada tema polusi
cahaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
Sampel pada penelitian ini adalah siswa SMP
kelas VIII di salah satu sekolah di Kabupaten
Bandung Barat.
Teori
Pembelajaran terpadu model webbed
merupakan suatu pembelajaran yang
mengintegrasikan dua atau lebih bidang mata
pelajaran yang berlandaskan pada suatu tema.
Melalui pembelajaran terpadu ini beberapa konsep
yang relevan untuk dijadikan tema tidak perlu
dibahas berulang kali dalam bidang kajian yang
berbeda, sehingga penggunaan waktu untuk
pembahasannya lebih efisien dan pencapaian
tujuan pembelajaran pun diharapkan akan tercapai
secara efektif. Konsep pembelajaran tematik
dipandang sebagai model pembelajaran yang
dapat memberikan pengalaman yang bermakna
kepada siswa.
Karakteristik dari pembelajaran terpadu model
webbed diantaranya, berpusat pada siswa,
pemberian pengalaman langsung, pembelajaran
bermakna, holistik (memahami suatu fenomena
dari segala sisi), dan fleksibel (dapat dikaitkan
dengan lintas mata pelajaran, dan penentuan topik
atau tema dapat menggunakan lebih dari satu
cara).
Pembelajaran sains yang didasarkan pada
tiga ranah dalam Taksonomi Bloom dengan
berorientasi baik pada konten maupun proses,
nyatanya dilaksanakan secara tidak seimbang
karena lebih menitikberatkan pada ranah kognitif
saja. Sehingga pembelajaran pun terkesan kurang
menyenangkan, monoton, siswa menjadi pasif,
kreatifitas siswa tidak berkembang dan
pembelajaran menjadi kurang efektif.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 104
Untuk mengurangi permasalahan tersebut,
dikenal taksonomi baru yang dikembangkan oleh
Allan J .MacComark dan Robert E.Yager yaitu new
taxonomy for science educationsebagai
pengembangan dari taksonomi Bloom yang terdiri
dari lima ranah atau lima domain, yaitu domain
knowing and understanding, domain science
process skill, domain imagine and creativity,
domain attitude and value, dan yang terakhir
domain connection and applying.
Sebagai implementasi dari taksonomi untuk
pendidikan sains, digunakan model pembelajaran
Susan-Loucks Horsley. Model pembelajaran ini
dipandang sebagai salah satu model pembelajaran
yang berorientasi konstruktivistik yang baik dan
merefleksikan keunikan kualitas sains dan
teknologi secara bersamaan melalui empat
tahapan pembelajaran.[5] Tahapan - tahapan
pembelajaran tersebut, yaitu : tahap Invited (tahap
mengundang anak untuk belajar), tahap explore
and discover (tahap anak menggali pengetahuan
dan temuan mereka), tahap propose explanations
and solutions (tahap saat siswa menyiapkan
penjelasan atas apa yang mereka pelajari), dan
yang terkahir tahap taking action (tahap saat siswa
mencari tahu kegunaan temuan mereka).
Metode penelitian yang digunakan pada
penelitian ini yaitu Pre-Experimental Design.
Sedangkan desain penelitian yang digunakan yaitu
One Group Pretest-Postest Design. Penelitian
dilakukan dengan perlakuan atau treatment
sebanyak tiga kali pertemuan. Sebelum dilakukan
perlakuan (treatment), siswa diberikan pretest
terlebih dahulu untuk mengetahui sejauh mana
pengetahuan siswa mengenai polusi cahaya.
Setelah semua perlakuan (treatment) selesai
dilakukan, siswa diberi posttest untuk mengukur
sejauh mana peningkatan atau perubahan
pengetahuan siswa berkaitan dengan polusi
cahaya.
Penelitian ini menggunakan desain prosedur
penelitian yang mengacu padadesain Research
and Development ( R&D Design ) dari Brog & Gall
dalam Yeni H, yang sudah mengalami modifikasi
(gambar 1).










Studi
Pendahuluan
Perancangan
Program
Pengembangan
Program
Studi
Kepustakaan :
- KTSP dan
kurikulum 2013
- Pembelajaran
IPA Terpadu
- New Taxonomy
for Science
Education








Studi Lapangan
:
- Tuntutan
pengembangan
kurikulum
- Pembelajaran
IPA di
lapangan
Penyusunan
Perencanaan
Pembelajaran
Terpadu :
- Penetapan
Tema
Penghubung
- Penetapan
SK, KD dari
berbagai mata
pelajaran
- Penyusunan
perangkat
pembelajaran
- Penetapan
populasi dan
sampel

Draft Program
Pembelajaran :
- RPP
- Instrumen tes
- Lembar
Observasi

Pengujian
Program :
J udgement ahli
terhadap
Instrumen

- Revisi


- Uji Coba
Instrumen


- Analisis


- Uji Coba
Instrumen
Terbatas

Pelaksanaan
Program :
- Pretest
- Treatment
penerapan
pembelajaran
terpadu
- Postest

Gambar 1. Alur Penelitian Research and
Development (R& D Design).
Adapun instrument yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari instrumen tes soal terpadu
untuk domain knowedge dan lembar observasi
untuk procces of science domain serta lembar
keterlaksanaan model pembelajaran Susan-
Loucks.
Pengolahan data dilakukan terhadap data tes
soal pilihan ganda pretest dan postest. Teknik
pengolahan data instrumen adalah dengan
menggunakan analisis kuantitatif yaitu menghitung
gain yang dinormalisasikan yaitu perbandingan
dari skor gain aktual dengan skor gain maksimum.

1
1 2
T S
T T
g
i


Dengan T
1
adalah skor tes awal (pretest),
T
2
adalah skor tes akhir (posttest),
S
i
adalah skor ideal.

selanjutnya menentukan kriteria efektivitas model
pembelajaran berdasarkan kriteria rata-rata gain
ternormalisasi yang tercantum pada tabel berikut.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 105
Tabel 1. Kriteria rata-rata nilai gain (R.R. Hake,
1998).
GAIN KLASIFIKASI
TINGGI
SEDANG
RENDAH
Hasil dan diskusi
Pada penelitian ini, Perlakuan atau treatment
dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan.
Pertemuan pertama membahas materi dengan
judul mengenal polusi cahaya, terdiri dari definisi
polusi cahaya, sumber cahaya, sifat cahaya,
proses pembentukan dan penyebab terjadinya
polusi cahaya. Pertemuan kedua membahas
materi dengan judul dampak polusi cahaya
terhadap berbagai bidang yaitu bidang astronomi,
ekologi, lingkungan, biotik, kesehatan manusia dan
bidang ekonomi. Selanjutnya, pertemuan ketiga
membahas materi dengan judul pencegahan polusi
cahaya, terdiri dari fungsi pencahayaan, jenis
polusi cahaya, tindakan pencegahan, jenis lampu,
dan jenis tudung lampu.
Model pembelajaran Susan-Loucks yang
digunakan terdiri dari empat tahap. Tahap pertama
disebut dengan tahap invited, yaitu berupa
penyajian demonstrasi atau fenomena. Tahap
kedua disebut dengan tahap explore and discover
yaitu menyelidiki, mengamati dan menemukan
solusi untuk menjawab pertanyaan mereka sendiri
terkait dengan fenomena atau demonstrasi yang
dimunculkan. Tahap ketiga, murid menyiapkan
penjelasan dan penyelesaian, berkaitan dengan
apa yang mereka pelajari. Tahap terakhir yaitu
memberi kesempatan kepada murid untuk mencari
kegunaan temuan mereka dari pembelajaran yang
telah dilakukan dan menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Hasil belajar merupakan kemampuan individu
yang diperoleh setelah proses belajar berlangsung.
Hasil belajar yang diperoleh tersebut dapat berupa
perubahan tingkah laku, pengetahuan,
pemahaman, sikap dan keterampilan siswa
sehingga lebih baik dari sebelumnya. Data hasil
penelitian untuk mengukur hasil belajar diperoleh
dari tes berisi 28 soal berkaitan dengan tema
polusi cahaya yang digunakan untuk mengukur
domain dalam new taxonomy for science
education, yaitu knowledge domain (pengetahuan
dan pemahaman).
Berdasarkan nilai posttest yang diperoleh,
siswa dikelompokkan ke dalam tiga kelompok,
yaitu kelompok tinggi, kelompok sedang dan
kelompok rendah dengan masing-masing
kelompok berjumlah 9 orang. Pengelompokkan ini
dimaksudkan untuk mengetahui perbandingan gain
dari setiap kelompok tersebut.
Tabel 2. Rata-rata Skor Pretest dan Posttest
Berdasarkan Kelompok Tinggi, Sedang dan
Rendah.
Kelompok Tinggi
Nama <g> Kategori
NR 0.636 Sedang
KNA 0.545 Sedang
NCA 0.334 Sedang
WO 0.25 Rendag
SI -0.199 Rendah
SN 0.364 Sedang
YM 0.364 Sedang
ZK 0.364 Sedang
SA 0.222 Rendah
Rata-rata 0,320 Sedang

Kelompok Sedang
Nama <g> Kategori
TNF 0.125 Rendah
NSF 0.000 Rendah
AR 0.384 Sedang
ANA 0.333 Sedang
ET 0.273 Rendah
SN 0.199 Rendah
IS 0.111 Rendah
ATKD 0.000 Rendah
ZNM 0.000 Rendah
Rata-rata 0.158 Rendah

Kelompok Rendah
Nama <g> Kategori
RSK -0.143 Rendah
ATIP 0.308 Sedang
LRN 0.250 Rendah
MR 0.181 Rendah
HNA 0.231 Rendah
MMS 0.230 Rendah
VEP 0.000 Rendah
GSA 0.000 Rendah
GN 0.000 Rendah
Rata-rata 0.117 Rendah
Dari hasil pengelompokkan tersebut, gain
ternormalisasi pada kelompok tinggi bernilai 0,320
dengan kategori sedang, kelompok sedang bernilai
0,158 dengan kategori rendah dan kelompok kecil
bernilai 0,117 dengan kategori rendah. Secara
keseluruhan diluar pengelompokkan, nilai gain
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 106
ternormalisasi untuk penelitian ini yaitu 0,22117
dengan kategori rendah
Kesimpulan
Berdasarkan data hasil penelitian yang
diperoleh pada penerapan pembelajaran terpadu
model webbed pada tema polusi cahaya dengan
menggunakan model pembelajaran Susan-Loucks,
nilai gain ternormalisasi yang diperoleh yaitu
0,22117 dengan kategori sedang. Dengan begitu,
penerapan pembelajaran ini belum menunjukkan
adanya peningkatan hasil belajar yang siginfikan
terhadap hasil belajar siswa SMP.
Ucapan terima kasih
Penulis ingin mengucapkan terima kasih
siswa-siswa kelas 8 SMP Negeri 1 Lembang yang
turut membantu dan mendukung dalam
penyelesaian penelitian ini.
Referensi
[1] Cage, Bob & Turpin Tammye, The Effects of
an Integrated, Activity-Based Science
Curriculum on Students Achievement,
Sciences Procces Skill, and Science
Atitudes, Lousiana (USA)
[2] Depdiknas, Model Pembelajaran Terpadu
IPA, SMP/MTs /SMP LB, Puskur Kurikulum
Balitbang Diknas, (2006).
[3] Muqoyyanah, et.al., Efektivitas dan Efisiensi
Model Pembelajaran IPA Terpadu Tipe
Integrated Dalam Pembelajaran Tema
Cahaya, Semarang. J urnal Pendidikan Fisika
Indonesia, (2009).
[4] M. Yasin, Implikasi Pembelajaran Sains
Terpadu (Integrated Science Instruction) di
SMP, J urnal Pemikiran Alternatif
Kependidikan, (2009).
[5] Zuhdan K. Prasetyo, Taksonomi untuk
Pendidikan Sains dan Implementasinya
dalam Model Pembelajaran SLH,
Yogyakarta. Seminar Nasional MIPA-
FPIMIPA UNY, (2007).


Hayyah Fauziah*
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
hayyah.fauziah@students.upi.edu

Winny Liliawati
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia

J udhistira Aria Utama
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
judhistira@yahoo.co.id


*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 107
Penerapan Hands On Activity pada Pembelajaran IPA Bertema Operasi
LASIK untuk Meningkatkan Literasi Fisika Siswa SMP
Henita Septiyani Pertiwi*, Saeful Karim, dan Selly Feranie

Abstrak
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dalam pembelajaran IPA disalah satu SMP di Kota Bandung,
ditemukan fakta bahwa kemampuan berhipotesis siswa masih rendah. Hal ini menyebabkan pemahaman
konsep siswa dalam pembelajaran IPA masih rendah. Kemampuan berhipotesis dan pemahaman konsep ini
merupakan sebagian dari kemampuan literasi. Dengan demikian, kemampuan literasi siswa juga menjadi
rendah. Untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa, penulis menerapkan strategi pembelajaran hands
on activity yaitu dengan memberikan lembar kerja siswa yang diawali dengan pemberian masalah serta
prediksi dan penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep, yang
difokuskan pada materi pembelajaran fisika. Kemampuan literasi fisika yang diukur terdiri dari empat aspek,
yaitu context, knowledge, competencies, dan attitudes. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana
peningkatan literasi fisika siswa setelah diterapkannya hands on activity pada pembelajaran IPA bertema
operasi LASIK. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain penelitian adalah one
group pretest posttest design. Sampel dari penelitian ini adalah kelas VIII salah satu SMP Negeri di Kota
Bandung tahun pelajaran 2012/2013. Hasil penelitian yang diperoleh setelah diterapkan hands on activity
yaitu hasil tes literasi fisika dengan rata-rata nilai pretest 62,63 dan rata-rata nilai posttest 90,10. Hal ini
berarti hasil tes literasi fisika siswa mengalami peningkatan sebesar 0,74 dengan kategori tinggi. Jadi secara
umum dapat disimpulkan bahwa penerapan hands on activity dapat meningkatkan literasi fisika siswa SMP.
Kata-kata kunci: Hands On Activity, Literasi Fisika, SNIPS 2013, prosiding
Pendahuluan
Berdasarkan survei internasional PISA
(Programme for International Student Assessment)
yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation for
Economic Co-operation and Development)
menunjukkan kemampuan literasi sains anak
Indonesia yang sampelnya diambil secara acak
berada pada tingkat rendah. Skor rata-rata
prestasi literasi membaca di negara Indonesia
berada pada peringkat ke 48 dari 56 negara
peserta. Sedangkan skor rata-rata literasi sains di
negara Indonesia berada pada peringkat ke 50
dari 57 negara peserta [5]. Berdasarkan hasil
Balitbang 2011, penulis ingin mengetahui
bagaimana literasi fisika siswa di Kota Bandung.
Pada saat Program Pengalaman Lapangan (PPL)
disalah satu SMP Negeri di Kota Bandung, penulis
melakukan studi pendahuluan literasi fisika kepada
satu kelas yang berjumlah 40 siswa.[5] Penulis
memberikan soal literasi yang berisi teks bacaan
dan beberapa soal untuk menguji kemampuan
berhipotesis siswa serta pemahaman konsep
mereka. Ternyata dari hasil jawaban siswa, hanya
27% siswa yang menjawab dengan benar.
Berdasarkan hasil studi literatur, penulis
menemukan fakta bahwa kemampuan berhipotesis
siswa di kelas ini masih rendah. Rendahnya
kemampuan berhipotesis ini menandakan
rendahnya pemahaman membaca dan
pemahaman konsep. Karena kemampuan
berhipotesis, pemahaman membaca, dan
pemahaman konsep merupakan bagian dari
literasi, maka literasi fisika siswa juga rendah. Oleh
karena itu penulis ingin mengetahui peningkatan
literasi fisika siswa setelah diterapkannya hands on
activity.
Teori
Hands on activity adalah suatu pembelajaran
yang dirancang untuk melibatkan siswa dalam
menggali informasi dan bertanya, beraktivitas dan
menemukan, mengumpulkan data dan
menganalisis, serta membuat kesimpulan sendiri
[6]. Siswa diberi kebebasan dalam membangun
pemikiran dan hasil temuan selama melakukan
aktivitas. Kegiatan ini menunjang sekali
pembelajaran kontekstual dengan karakteristik
yaitu kerjasama, saling menunjang, gembira,
belajar dengan bergairah, pembelajaran
terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa
aktif, menyenangkan, tidak membosankan, sharing
dengan teman, siswa kritis, dan guru kreatif.(Hatta
dalam Dedi: 2010).[6]
Pengertian hands-on yang dikutip dari tulisan
David L Haury and Peter Rillero, 1994 sebagai
berikut:
- Hands on adalah seluruh aktivitas dan
pengalaman langsung siswa dengan fenomena
alam.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 108
- Hands on sains adalah belajar dari materi-materi
(benda-benda) dan proses alam melalui
observasi langsung dan eksperimen.
- Hands on membiarkan siswa untuk
mempraktikan sains secara menyeluruh.
- Hands on adalah suatu aktivitas dimana siswa
memiliki objek (makhluk hidup maupun benda
mati) yang secara langsung dapat dipergunakan
untuk penelitian.[7]
Strategi pembelajaran hands on memiliki
beberapa kelebihan sebagai berikut:
- Dapat meningkatkan pembelajaran
- Dapat meningkatkan motivasi untuk belajar
- Dapat kesenangan dalam belajar
- Dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian
dalam komunikasi
- Dapat meningkatkan cara berfikir sendiri dan
mengambil keputusan sendiri berdasarkan
penemuan langsung dan eksperimen
- Dapat meningkatkan kreativitas dan daya
tangkap/persepsi
Dalam pembelajaran sains khususnya fisika
harus diajarkan dengan cara mengilhami
pemahaman dan antusiasme siswa, serta relevan
dengan kebutuhan budaya dan sosial siswa dan
masyarakat. Secara khususnya pembelajaran
fisika harus bersifat konseptual, melibatkan siswa
dalam proses pembelajaran, difokuskan pada
beberapa tema, kebiasaan ilmiah yang
menanamkan pikiran dengan tema berulang
seperti bagaimana kita tahu?, mencakup tema-
tema sosial seperti energi, sumber daya, dan
lingkungan. Topik sosial yang sesuai dengan fisika
yaitu:
- Materialis dan mekanik Newtonian semesta
- Otomotif
- Efisiensi transportasi
- Uap listrik Pembangkit listrik (bagaimana cara
kerjanya, aliran energi, efisiensi energinya)
- Penggunaan sumber daya dan pertumbuhan
penduduk
- Penipisan ozon
- Pemanasan global
- Pencarian kecerdasan diluar angkasa dan
pertanyaan Fermi (dimana semua orang? Dan
akankan peradaban teknologi bertahan?)
- Penafsiran fisika kuantum dan kontras dengan
fisika Newton
- Radioaktif dan usia geologi
- Paparan radiasi pengion
- Menangani resiko masyarakat dengan teknologi
- Sejarah energi fisi
- Proyek Manhattan (fisi pertama)
- Senjata fusi
- Bukti untuk Big Bang
- Masa depan energi.[1]
Pada penelitian ini penulis mengambil tema
literasi tentang menangani resiko masyarakat
dengan teknologi yaitu operasi LASIK. Penulis
mengadopsi soal literasi fisika dari PISA 2006
yang menyatakan bahwa literasi fisika yang diukur
terdiri dari empat aspek, yaitu context, knowledge,
competencies, dan attitudes [1]. Objek penelitian
ini adalah siswa kelas VIII di salah satu SMP
Negeri di Kota Bandung. Penulis memberikan satu
set soal literasi yang didalamnya mencakup
strategi pembelajaran hands on activity. Soal yang
diberikan berupa teks bacaan, soal pilihan ganda,
kolom sikap, serta LKS (Lembar Kerja Siswa) yang
membantu siswa untuk mengaplikasikan
pengetahuan awal yang dimiliki siswa dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Pengetahuan awal siswa ini didapat dari tugas
bacaan teks sains yang diberikan sebelum
pembelajaran berlangsung. Teks bacaan ini
berfungsi untuk mengkonstruk pengetahuan siswa
yang terdiri dari bahan bacaan, pemahaman
konsep, dan kemampuan siswa dalam membuat
peta konsep serta membuat kesimpulan.
LKS yang diberikan berisi masalah yang
harus dipecahkan oleh siswa, kolom prediksi
sebelum siswa membuktikan solusinya dengan
bereksperimen, dan hasil jawaban pemecahan
masalah dari eksperimen yang telah dilakukan.
Kemudian siswa menyamakan apakah hasil
prediksi siswa sebelum dilakukan eksperimen
dengan hasil jawaban siswa setelah dilakukan
eksperimen sama atau tidak. Sebagai evaluasinya
siswa diberi posttest berupa teks bacaan literasi
fisika dengan pilihan ganda. Sebelum
pembelajaran dimulai, siswa diberi pretest juga
untuk mengetahui pengetahuan awal siswa.
Peningkatan literasi siswa dilihat dari hasil pretest
dan posttest siswa.
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode
quasi eksperimen. Metode ini merupakan metode
penelitian yang masih terdapat variabel luar yang
ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel
terikat. Metode ini digunakan karena penulis tidak
mampu mengontrol semua variabel yang ikut
berpengaruh terhadap hasil yang ingin dicapai.
Karena jumlah kelas yang diberikan perlakuan
hanya satu kelas dan tanpa ada kelompok
pembanding maka desain penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah one group
pretest posttest design.
Hasil dan Diskusi
Peningkatan literasi fisika siswa diukur melalui
rata-rata gain yang dinormalisasi dari hasil skor
pretest dan posttest. Instrumen yang digunakan
untuk mengukur literasi fisika siswa berjumlah 15
butir soal yang terdiri dari aspek context,
knowledge, competencies dan kolom attitudes.
Hasil literasi fisika siswa pada aspek knowledge,
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 109
competencies dan attitudes ditunjukkan pada tabel
berikut.
Hasil Pretest dan Posttest
Tes
Nilai
Rata-
Rata
<g> Kategori
Pretest 62,63
Posttest 90,10
0,74 Tinggi
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa rata-rata
skor tes akhir (posttest) literasi fisika siswa lebih
besar daripada rata-rata skor tes awal (pretest).
Peningkatan literasi fisika siswa ditunjukkan
dengan perolehan nilai gain sebesar 0,74 dengan
kategori tinggi.
Hasil literasi fisika siswa pada aspek attitudes
ditunjukkan pada tabel berikut.
Pretest dan Posttest Aspek Attitudes
Pernyataan SP P KP TP
Pre
test:
18,1
8%
Pre
test:
81,82
%
Pre
test:
-
Pre
test:
-
Pembelajaran
fisika membuat
saya ingin
mempelajari
lebih banyak
mengenai
pemanfaatan
operasi LASIK.
Post
test:
51,5
2%
Post
test:
48,48
%
Post
test:
-
Post
test:
-
Pre
test:
48,4
8%
Pre
test:
39,40
%
Pre
test:
12,1
2%
Pre
test:
-
Pelajaran fisika
membuat saya
tahu
bagaimana
cara kerja
operasi LASIK.
Post
test:
78,7
9%
Post
test:
21,21
%
Post
test:
-
Post
test:
-
Pre
test:
12,1
2%
Pre
test:
27,27
%
Pre
test:
60,6
1%
Pre
test:
-
Saya dapat
menyelesaikan
masalah
sederhana
dalam
kehidupan
sehari-hari
yang berkaitan
dengan konsep
alat optik.
Post
test:
36,3
6%
Post
test:
63,64
%
Post
test:
-
Post
test:
-
Keterangan:
SP: Sangat Penting P : Penting
KP: Kurang Penting TP: Tidak Penting
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa literasi
fisika siswa pada aspek attitudes menunjukkan
respon yang sangat baik. Sebagian besar siswa
tertarik dengan pembelajaran bertema Operasi
LASIK.
Hasil jawaban LKS siswa pada saat
pembelajaran dengan menerapkan hands on
activity dapat dilihat pada tabel berikut.
Nilai Rata-Rata LKS Siswa
Pertemuan
ke
Nilai Rata-
rata
Prediksi
Sesuai : 80%
1

88,3
Tidak Sesuai :
20%
Sesuai : 90%
2 92,2
Tidak Sesuai :
10%
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa
sebagian besar siswa memiliki kemampuan
memprediksi (hipotesis) yang baik setelah
diterapkannya hands on activity. Siswa dapat
mengerjakan LKS melalui bimbingan dari guru
ketika pembelajaran berlangsung.
Deskripsi pelaksanaan pembelajaran hands
on activity dijelaskan sebagai berikut: Guru
memulai pembelajaran dengan memberikan LKS
yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang
membangkitkan rasa ingin tahu siswa serta
membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis.
Setelah siswa berhipotesis, siswa melakukan
penyelidikan untuk menguji hipotesis. Setelah
siswa melalukan percobaan atau penyelidikan,
siswa berdiskusi dan menarik kesimpulan dari hasil
percobaan. Selama diskusi guru memberikan
kebebasan kepada siswa untuk bertanya ataupun
memberikan tanggapan. Guru membimbing siswa
menarik kesimpulan dengan memberikan kata
kunci atau pertanyaan pancingan. Di akhir
pembelajaran, guru membimbing siswa untuk
menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran dan
memberikan tes evaluasi kepada siswa. Dalam
model ini, kemampuan literasi fisika siswa dilatih
selama proses penyelidikan. Model seperti yang
dijelaskan tersebut mampu menumbuhkan
kemampuan berhipotesis siswa serta
meningkatkan literasi fisika siswa.
Kesimpulan
Penerapan hands on activity dalam
pembelajaran IPA khususnya fisika, mampu
meningkatkan kemampuan literasi fisika siswa. Hal
itu ditunjukkan selama pembelajaran terjadi
peningkatan jumlah siswa yang menjawab hasil
prediksi sesuai dengan kesimpulan setelah
penyelidikan. Agar diperoleh hasil yang lebih baik,
disarankan agar guru lebih selektif dalam
penentuan pemberian masalah yang akan
diberikan serta untuk meningkatkan kerja sama,
bertanya ataupun memberikan tanggapan,
diperlukan variasi metode dalam mengajar
menggunakan strategi pembelajaran hands on
activity, sehingga literasi fisika siswa dapat
ditingkatkan.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 110
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ibu Selly Feranie atas dukungan finansialnya pada
penelitian ini dan Bapak Saeful Karim atas
dukungannya dalam keikutsertaan dalam kegiatan
ilmiah ini. Penulis juga berterima kasih kepada
teman-teman fisika yang telah berkontribusi
terhadap selesainya penelitian ini.
Referensi
[1] Hobson, Art, Physics Literacy, energy and
the environment, J ournal of Physics
Education 38 (2), 109-114 (2003).
[2] Amir Sahri, Pirus Lidas, dan Kika Kari,
Penerapan parameter tak tentu dalam
statistik pendidikan, Prosiding Seminar
Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains
2013 (SNIPS 2013), 22-23 J uni, Bandung,
Indonesia, pp. 111-114.
[3] S. Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi
Pendidikan, J akarta: Bumi Aksara, (2009).
[4] Program for Internasional Student
Assessment. (2006). Assessing Scientific,
Reading and Mathematical Literacy. By the
government of Organisation for Economic Co-
operation Development.
[5] Badan Penelitian dan Pengembangan. (2011).
Survei Internasional PISA. J akarta:
Depdikbud.
[6] Dedi, Hands On Activity Dalam
Pembelajaran Sains, (2010), [Online].
Tersedia:
http://ayoetea.blogspot.com/2010/07/hands-
on-activity-dalam-pembelajaran.html.
[2 J uni 2013].
[7] Haury, David L, dkk., Perspectives of Hands
on Science Teaching, (1994), [Online].
http://www.ncrel.org/sdrs/areas/issues/conten
t/cntareas/science/eric/eric-toc.html.
[2 J uni 2013].

Henita Septiyani Pertiwi*
J urusan Pendidikan Fisika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
heni_forsyte@yahoo.com

Saeful Karim
J urusan Pendidikan Fisika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
ainindiyadinantiputri@yahoo.co.id
Selly Feranie
J urusan Pendidikan Fisika
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
sferanie@yahoo.com
*Corresponding author




Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 111
Penerapan Video Based Laboratory pada Materi Getaran dan
Gelombang untuk Meningkatkan Kemampuan ICT Siswa SMP
Herni Yuniarti Suhendi*, Selly Feranie, dan Ika Mustika Sari

Abstrak
Berdasarkan studi lapangan di salah satu SMP Negeri di kabupaten Bandung, ditemukan bahwa proses
pembelajaran masih berpusat pada guru dan lebih menekankan pada transfer pengetahuan dari guru
kepada siswa sehingga tidak menempatkan siswa sebagai pengkontruksi pengetahuan. Selain itu,
pengetahuan mereka dalam bidang ICT-pun masih rendah. Oleh karena itu, dilakukan penelitian penerapan
Video Based Laboratory untuk mengetahui peningkatan kemampuan ICT siswa. Alat pengumpul data
berupa soal tes kemampuan ICT. Penelitian ini menggunakan metode quasy experiment dengan desain
penelitian one group pretest-posttest design dan sampel penelitiannya adalah kelas VIII salah satu SMP
Negeri di Kabupaten Bandung tahun ajaran 2010/2011. Pengolahan data kemampuan ICT dilakukan dengan
menghitung rata-rata-rata gain ternormalisasi skor pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukan bahwa
terdapat peningkatan kemampuan ICT siswa berdasarkan nilai rata-rata gain ternormalisasi, diperoleh gain
ternormalisasi sebesar 0,89. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan Video Based Laboratory dapat
meningkatkan kemampuan ICT siswa.
Kata-kata kunci: Video Based Laboratory, kemampuan ICT
Pendahuluan
Hampir semua bidang pekerjaan di dunia telah
dikendalikan oleh komputer. Siswa yang tidak
memiliki kecakapan dalam mengoperasikan
program-program komputer diperkirakan akan
mengalami kesulitan yang lebih besar untuk
menghadapi kehidupannya pada masa kini dan
masa yang akan datang. Oleh karena itu,
kemampuan untuk mengoperasikan aplikasi
komputer harus dilatihkan. Selain itu, sudah
menjadi pendapat umum bahwa fisika merupakan
salah satu pelajaran yang kurang diminati [1].
Salah satu penyebabnya adalah fisika banyak
mempunyai konsep yang bersifat abstrak sehingga
sukar membayangkannya. Agar konsep-konsep
yang abstrak itu lebih mudah dipahami diperlukan
penyajian langsung berupa menunjukkan
fenomena. Penunjukkan fenomena dapat berupa
demonstrasi, simulasi, model, grafik real-time dan
video. Teknik-teknik visualisasi tidak hanya
memungkinkan siswa untuk mengamati
bagaimana benda berperilaku dan berinteraksi,
tetapi juga memberikan visualisasi yang mereka
dapat tangkap, dan mempertahankan esensi dari
fenomena fisik itu lebih efektif daripada deskripsi
verbal [2]. Untuk proses visualisasi, komputer
menjaga peran penting. Penelitian menggunakan
komputer untuk menangkap gambar dari video
diawali oleh [3], Siswa beichner menangkap
beberapa serial gambar dan menggunakan
bahasa pemograman komputer untuk
mengumpulkan data jarak terhadap waktu
sehingga mereka bisa menganalisis gerak dengan
data tersebut. Penggunaan peralatan video-based
laboratory atau VBL [4] telah meningkat di
beberapa tahun terakhir ini dengan pengenalan
pengolahan video yang rendah biaya, terlihat dari
[5] yang mendemontrasikan bagaimana QuickTime
dapat menganalisis video gerak tabrakan mobil
dari Physics and Automobile Collisions Videodisc
[6] dengan mengumpulkan data gerak dari
tabrakan tersebut ke program Excel menghasilkan
grafik dan analisis gerak dari peristiwa tersebut.
Penelitian lain yang dilakukan oleh [7]
menggunakan MBL dapat dengan mudah
mengumpulkan data dua dimensi benda/bagian
dari benda yang menjadi objek dalam video itu.
Dan terakhir [8] menggunakan Video Analyzer and
Visual Space-Time yang memungkinkan siswa
untuk mengumpulkan, menganalisis, dan data
model gerak dua dimensi dari peristiwa yang
diamati terjadi di luar kelas.
Terkait dengan studi literatur telah dilakukan
penulis mencoba untuk memberi solusi untuk
menyelesaikan masalah tersebut dengan
menerapkan Video Based Laboratory. Kesulitan
untuk melakukan praktikum karena penggunaan
laboratorium terbatas hanya di sekolah dan tidak
semua konsep fisika dapat dieksperimenkan di
laboratorium dapat teratasi karena pada saat
proses pembelajaran guru menyajikan masalah
berupa video yang berisi eksperimen bandul
sederhana. Kemudian video eksperimen tersebut
diolah oleh sebuah perangkat lunak yang bernama
tracker sehingga menghasilkan data dan grafik.
Dari video dan data hasil tracker tersebut siswa
dapat mengetahui dan menjelaskan variabel-
variabel getaran dan gelombang. Tak hanya itu,
pada saat penerapan Video Based Laboratory ini
siswa dilatihkan untuk mengoperasikan ms. office
excel dan ms. office powerpoint. Dengan begitu
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 112
akhirnya siswa tidak hanya menghapal konsep
yang ada tetapi paham terhadap konsep yang
diajarkan. Konsep-konsep yang tadinya abstrak-
pun menjadi konkret karena adanya visualisasi dari
video tersebut. Ditambah lagi kemampuan ICT
siswa bisa meningkat dalam hal mengoperasikan
software. Tujuan umum penelitian ini adalah
mengetahui peningkatan kemampuan ICT siswa
pada konsep getaran dan gelombang setelah
diterapkan Video Based Laboratory.
Teori
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah eksperimen semu. Metode penelitian
eksperimen semu adalah metode penelitian yang
secara khas meneliti mengenai keadaan praktis
yang di dalamnya tidak mungkin untuk mengontrol
semua variabel yang relevan. Tujuannya adalah
untuk memperoleh informasi yang merupakan
perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh
dengan eksperimen yang sebenarnya dalam
keadaan yang tidak memungkinkan untuk
mengontrol atau memanipulasi semua variabel
yang relevan [9]. Metode eksperimen semu
digunakan untuk menyelidiki pengaruh penerapan
Video Based Laboratory dalam meningkatkan
kemampuan ICT. Adapun desain penelitian yang
digunakan adalah One Group Pretest-Posttest
Design yaitu dengan memberikan perlakuan
kepada subyek penelitian tanpa dibandingkan
dengan kelas kontrol atau dengan kata lain suatu
rancangan pretest dan posttest yang dilaksanakan
pada satu kelompok saja tanpa pembanding.
Kelas ini mendapatkan dua kali tes yaitu tes
sebelum mendapat perlakuan (pretest) dan tes
setelah mendapatkan perlakuan (posttest). Subyek
penelitian ini adalah siswa kelas VIII pada salah
satu SMP Negeri di kabupaten Bandung tahun
ajaran 2010/2011 berjumlah 27 orang yang dipilih
secara purposive sampling.
Instrumen yang digunakan dalam seluruh
rangkaian kegiatan penelitian ini, terdiri atas : satu
set tes konseptual getaran dan gelombang untuk
mengevaluasi konsepsi siswa pada saat sebelum
dan sesudah pembelajaran, satu set tes
kemampuan ICT untuk mengevaluasi kemampuan
siswa dalam mengoperasikan ms. office excel dan
ms. office powerpoint pada saat sebelum dan
sesudah pembelajaran, video eksperimen seperti
ditunjukkan pada Gambar 1, serta software
Tracker untuk menyajikan gejala fisika secara
nyata beserta representasinya baik berupa data
kuantitatif dan grafiknya secara simultan hasil
analisis dari video eksperimen seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 1. Contoh video eksperimen yang
digunakan.

Gambar 2. Software Tracker yang digunakan untuk
menganalisis video eksperimen.
Pengaruh penerapan Video Based Laboratory
dalam pembelajaran Fisika terhadap peningkatan
kemampuan ICT ditinjau berdasarkan
perbandingan rata-rata gain yang dinormalisasi
dari nilai pretes dan postes yang dicapai oleh
kelompok eksperimen. Untuk perhitungan gain
yang dinormalisasi, g, dan pengklasifikasiannya
digunakan persamaan yang dirumuskan oleh [10]
seperti berikut:

<g> = (1)
S
post
, S
pre
dan S
MI
adalah skor tes akhir, skor tes
awal dan skor maksimum ideal.
Hasil dan diskusi
Kemampuan ICT siswa yang dikembangkan
dalam penelitian ini meliputi : kemampuan untuk
mengoperasikan sistem teknologi, sistem teknologi
ini dibatasi yaitu hanya mengoperasikan ms. office
excel dan ms. office powerpoint. Secara
keseluruhan, peningkatan aspek kemampuan ICT
dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 113
Tabel 1. Rekapitulasi rata-rata gain yang
dinormalisasi untuk kemampuan ICT siswa.
Kelas <g> Kategori
Eksperimen 0.89 Tinggi
Berdasarkan Tabel 1, melalui penerapan Video
Based Laboratory, peningkatan kemampuan ICT
mempunyai nilai rata-rata gain yang dinormalisasi
pada kategori tinggi yaitu berkisar antara
0,7<g1,0. Sehingga, dapat dikatakan bahwa
penerapan Video Based Laboratory dapat
meningkatkan kemampuan ICT siswa.
Peningkatan aspek kemampuan ICT dalam
mengoperasikan ms. office excel pada setiap
pembelajaran dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2. Rekapitulasi rata-rata gain yang
dinormalisasi untuk kemampuan ICT pada aspek
mengoperasikan ms. office excel.
Kelas <g> Kategori
Eksperimen 0.83 Tinggi
Sedangkan untuk peningkatan aspek
kemampuan ICT dalam mengoperasikan ms. office
powerpoint pada setiap pembelajaran dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:
Tabel 3. Rekapitulasi rata-rata gain yang
dinormalisasi untuk kemampuan ICT pada aspek
mengoperasikan ms. office powerpoint.
Kelas <g> Kategori
Eksperimen 0.93 Tinggi
Berdasarkan Tabel 2 dan 3, kedua
kemampuan ini mempunyai nilai rata-rata gain
yang dinormalisasi pada kategori tinggi yaitu
berkisar antara 0,7<g1,0. Sehingga, dapat
dikatakan bahwa penerapan Video Based
Laboratory dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam mengoperasikan ms. office excel dan ms.
office powerpoint.
Adapun aspek kemampuan ICT dalam
mengoperasikan ms. office excel yang dimaksud
meliputi aspek memasukkan data, membuat grafik,
menganalisis grafik dan menyimpan data.
Sedangkan untuk aspek kemampuan ICT dalam
mengoperasikan ms. office powerpoint yang
dimaksud meliputi aspek membuat tulisan pada
slide powerpoint, sistematika penulisan, membuat
tabel, menyalin grafik, mendesain slide powerpoint,
membuat animasi, menyimpan data. Peningkatan
yang dihasilkan dalam setiap pembelajaran dapat
dilihat pada dua tabel dibawah ini:



Tabel 4. Rekapitulasi rata-rata gain yang
dinormalisasi untuk aspek Kemampuan ICT Siswa
dalam Mengoperasikan Ms. Office Excel.
Aspek kemampuan ICT dalam
mengoperasikan Ms. Office Excel
Persentase
rata-rata
ketercapaian
skor
m.e1 m.e2 m.e3 m.e4
Pretest 1.96 1.56 1.00 1.78
postest 2.89 2.70 2.67 2.85
<g> 0.74 0.76 0.78 0.80
Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi
Data pada Tabel 5 dapat diubah ke dalam bentuk
diagram seperti di bawah ini:

Gambar 3. Diagram batang nilai rata-rata gain
yang dinormalisasi untuk aspek kemampuan ICT
siswa dalam mengoperasikan ms. office excel.
Dari Tabel 4 dan gambar 3 di atas terlihat
bahwa secara umum setiap aspek kemampuan
ICT siswa dalam mengoperasikan ms. office excel
mengalami peningkatan yang diperlihatkan melalui
nilai rata-rata gain ternormalisasi yang memiliki
kategori tinggi yaitu berkisar antara 0,7<g1,0.
Adapun peningkatan tersebut terjadi karena
beberapa hal dibawah ini :
1. LKS yang dibuat sudah jelas dan runut.
2. Ketika mengerjakan LKS panduan guru
membimbing siswa dengan melakukan
simulasi yang sesuai dengan perintah dari
LKS panduan.
Adapun untuk peningkatan kemampuan ICT
siswa dalam mengoperasikan ms. office
powerpoint dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5. Rekapitulasi rata-rata gain yang
dinormalisasi untuk aspek Kemampuan ICT Siswa
dalam Mengoperasikan Ms. Office Powerpoint.
Aspek kemampuan ICT dalam mengoperasikan Ms. Office Powerpoint Persentase
rata-rata
ketercapaian
skor
m.p1 m.p2 m.p3 m.p4 m.p5 m.p6 m.p7
Pretest 2 2 1.26 1 1.22 1.07 1,78
postest 3 2.8 2.81 2.78 3 2.93 2,89
<g> 1 0.8 0.91 0.89 0.93 0.89 0,76
Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 114
Data pada Tabel 5 dapat diubah ke dalam
bentuk diagram seperti di bawah ini:



Gambar 4. Diagram batang nilai rata-rata gain
yang dinormalisasi untuk aspek kemampuan ICT
siswa dalam mengoperasikan ms. office
powerpoint.
Dari Tabel 5 dan gambar 4 di atas terlihat
bahwa secara umum setiap aspek kemampuan
ICT siswa dalam mengoperasikan ms. office
powerpoint mengalami peningkatan yang
diperlihatkan melalui nilai rata-rata gain
ternormalisasi dengan kategori tinggi yaitu berkisar
antara 0,7<g1,0, peningkatan tersebut terjadi
karena beberapa hal dibawah ini :
1. LKS yang dibuat sudah jelas dan runut.
2. Ketika mengerjakan LKS panduan guru
membimbing siswa dengan melakukan
simulasi yang sesuai dengan perintah dari
LKS panduan.
Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan dan analisis
terhadap data hasil penelitian dapat diperoleh
kesimpulan bahwa setelah diterapkan video based
laboratory, kemampuan ICT siswa meningkat
dengan kategori peningkatan tinggi yang
diindikasikan oleh nilai rata-rata gain ternormalisasi
sebesar 0,89. Adapun kemampuan ICT terbagi
menjadi dua bagian, yaitu : kemampuan dalam
mengoperasikan ms. office excel dan power point
dengan masing-masing nilai rata-rata gain
ternormalisasinya adalah 0,83 dan 0,93.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih atas DIA
BERMUTU Batch III Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia atas dukungan
finansialnya pada penelitian ini dan SNIPS ITB
2013 atas dukungannya dalam keikutsertaan
dalam kegiatan ilmiah ini. Penulis juga berterima
kasih kepada Douglas Brown atas sofware tracker
yang bermanfaat.
Referensi
[1] Afrizal Mayub, E-Learning Fisika Berbasis
Macromedia Flash MX, Penerbit Graha Ilmu,
Yogyakarta, 2005, p. 2
[2] R. R. Jr. Cadmus, A video technique to
facilitate the visualization of Physical
Phenomena, American Journal of Physics
58(4), 397-399 (1990).
[3] R. J. Beichner, The effect of simultaneous
motion presentation and graph generation in
a kinematics lab, The Physics Teacher 27:
803-815 (1990).
[4] A. Rubin, Communication Association of
Computing Machinery, 36(5), 64 (1993).
[5] D. L. Wagner, Using digitized video for
motion analysis, The Physics teacher 32:
240-243 (1994).
[6] D. A. Zollman, Physics and Automobile
Collisions Video Disc, Wiley Distributed by
Ztek Co , New York, 1984.
[7] P. W. Laws, Calculus-based physics without
lectures, Physics Today Vol 24, Number 24-
pp. 1 (1991).
[8] L. T. Escalada, R. Grabhorn, and D. A.
Zollman, Applications of interactive digital
video in a physics classroom, Journal of
Educational Multimedia and Hypermedia 5(1),
73-97 (1996).
[9] Luhut P. Panggabean, Penelitian Pendidikan
(Diktat), Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas
Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan
Indonesia, Bandung, 1996. P. 21
[10] R. R. Hake, Interactive-Engagement Versus
Tradisional Methods : A Six Thousand-
Student Survey of Mechanics Tes Data For
Introductory Physics Course, Am. J. Phys. 66
(1) 64-74 (1998).
Herni Yuniarti Suhendi*
Pendidikan Fisika Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia
herni.suhendi144713@yahoo.com
Selly Feranie
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
sferanie@yahoo.com
Ika Mustika Sari
Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam
Universitas Pendidikan Indonesia
Ikafis02@yahoo.com
*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 115
Analisis Kemampuan Metakognitif Siswa Dengan Menerapkan
Strategi Metakognitif dalam Pembelajaran Fisika
Hilman Imadul Umam*, Iyon Suyana, dan Agus Danawan


Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kesadaran dan kemampuan siswa dalam mengontrol
kemampuan kognitifnya sehingga kesadaran siswa untuk belajar sangat rendah dan menyebabkan prestasi
belajar khususnya pada pelajaran fisika menjadi kurang maksimal. Proses pembelajaran belum bisa
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengetahui bagaimana seharusnya ia belajar, mengetahui
kemampuan dan modalitas yang dimiliki, dan mengetahui strategi terbaik untuk belajar efektif sehingga
menyebabkan kemandirian siswa untuk belajar sangat rendah. Kemandirian belajar dapat dibangun ketika
siswa memiliki kesadaran dalam mengelola dan mengatur kemampuan kognitifnya dalam merespon situasi
atau persoalan. Kesadaran tersebut dapat dimiliki oleh siswa ketika ia memiliki kemampuan metakognitif.
Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan kemampuan metakognitif siswa SMA setelah
diterapkannya strategi pembelajaran metakognitif. Kemampuan metakognitif yang diukur dalam penelitian ini
terkait pada pengetahuan dan keterampilan metakognitif. Pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan
deklaratif, prosedural, dan kondisional. Sedangkan untuk keterampilan metakognitif meliputi keterampilan
mengidentifikasi, merencanakan, monitoring tindakan, dan evaluasi. Metode penelitian yang digunakan pada
penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan desain penelitian One-Group Pretest-Posttest Design.
Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah tes pengetahuan metakognitif, jurnal belajar, dan
lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan
pengetahuan metakognitif dilihat dari nilai N-gain. Sedangkan untuk keterampilan metakognitif terlihat
adanya peningkatan dari persentase jumlah siswa yang melakukan tiap tahapan keterampilan metakognitif.
Peningkatan kemampuan metakognitif tersebut terjadi karena strategi pembelajaran metakognitif dapat
diimplementasikan dengan kategori sangat baik berdasarkan hasil observasi. Dengan kata lain strategi
pembelajaran metakognitif mampu meningkatkan kemampuan metakognitif siswa SMA khususnya pada
pembelajaran fisika.
Kata kunci: Strategi pembelajaran metakognitif, Kemampuan metakognitif.
Pendahuluan
Proses pembelajaran yang berlangsung harus
mampu memberikan kesepatan kepada siswa
merekontruksi pengetahuannya secara sadar [1].
Kesadaran siswa dalam melakukan aktivitas
pembelajaran sangat menentukan minat dan
kemauan siswa untuk lebih memahami dan
memaknai apa yang mereka pelajari [2]. Upaya
untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman
terhadap proses pembelajaran harus dilakukan
dengan langkah-langkah strategi kreatif dari
pendidik dalam melangsungkan proses
pembelajaran [3]. Namun pada kenyataanya, hasil
studi empirik yang dilakukan peneliti menunjukan
bahwa proses pembelajaran belum bisa
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengetahui bagaimana seharusnya ia belajar,
mengetahui kemampuan dan modalitas yang
dimiliki, serta mengetahui strategi terbaik untuk
belajar efektif, yang menyebabkan kesadaran
siswa untuk belajar sangat rendah.
Berdasarkan studi empirik tersebut maka
diperlukan strategi pembelajaran yang mampu
membimbing siswa berperan aktif dalam
merekontruksi pengetahuannya secara sadar.
Salah satu strategi pembelajaran yang mampu
meningkatkan kesadaran siswa untuk memahami
apa yang mereka perlukan dalam pembelajaran
adalah strategi metakognitif [4]. Strategi
metakognitif merupakan cara untuk meningkatkan
kesadaran mengenai proses berpikir tentang
aktivitas belajar yang dilakukan oleh seseorang,
sehingga ketika kesadaran tersebut terwujud maka
orang tersebut akan mampu mengawal
pemikirannya dengan merancang, memantau, dan
menilai apa yang dipelajarinya [1]. Ketika siswa
mampu merancang, memantau, dan merefleksi
proses belajar mereka secara sadar, maka siswa
akan lebih percaya diri dan lebih mandiri dalam
belajar. Kemandirian belajar dapat dibangun ketika
siswa memiliki kesadaran dalam mengelola
kemampuan kognitifnya dalam merespon
persoalan. Kesadaran tersebut dapat dimiliki oleh
siswa ketika ia memiliki kemampuan metakognitif
[5]. Sehingga bisa dikatakan bahwa strategi
pembelajaran metakognitif mampu meningkatkan
kemampuan metakognitif siswa.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 116
Teori
Kemampuan metakognitif merupakan
pengetahuan seseorang tentang kognisinya sendiri
serta kemampuan dalam mengatur dan
mengontrol aktivitas kognisinya dalam belajar [1].
Kemampuan metakognitif meliputi dua komponen,
yaitu pengetahuan metakognitif (metacognitive
knowledge), dan pengalaman atau regulasi
metakognitif (metacognitive experience or
regulation) [6]. Sedangkan menurut Mulbar
(2008), kemampuan metakognitif dapat dibedakan
menjadi pengetahuan metakognitif dan
keterampilan metakognitif. Pengetahuan
metakognitif meliputi pengetahuan deklaratif,
prosedural, dan kondisional. Sedangkan
keterampilan metakognitif meliputi keterampilan
identifikasi, perencanaan, monitoring tindakan, dan
evaluasi.
Pada penelitian ini kemampuan metakognitif
yang menjadi tinjauan adalah kemampuan
metakognitif menurut Mulbar, yang meliputi
Pengetahuan dan keterampilan metakognitif.
Instrumen penelitian yang digunakan adalah
instrumen tes pengetahuan metakognitif, jurnal
belajar untuk menilai keterampilan metakognitif,
dan lembar observasi keterlaksanaan strategi
pembelajaran metakognitif. Langkah-langkah
strategi pembelajaran metakognitif yang
dilaksanakan pada penelitian ini adalah langkah-
langkah strategi pembelajaran metakognitif
menurut Blakey&Spence (1990) yang meliputi (1)
Mengidentifikasi apa yang kamu ketahui dan
apa yang kamu tidak ketahui, (2) berbicara
tentang berpikir, (3) membuat jurnal berpikir, (4)
membuat perencanaan dan regulasi diri, (5)
melaporkan kembali proses berpikir, dan (6)
evaluasi diri [7].
Metode penelitian yang digunakan pada
penelitian ini adalah pre-eksperimental dengan
desain penelitian One-Group Pretest-Posttest
Design. Desain yang digunakan dalam penelitian
ini dapat digambarkan pada tabel 1 berikut:
Table 1. Desain penelitian one-group pretest-
postest design.
Pretest Treatment Postest
O
1
X O
2

O
1
=Pretest (sebelum diberi perlakuan)
O
2
=Postest (setelah diberi perlakuan)
X = Treatment atau perlakuan terhadap
sempel
Adanya peningkatan kemampuan
metakognitif dapat dilihat dari peningkatan
pengetahuan dan keterampilan metakognitif siswa.
Peningkatan pengetahuan metakognitif dapat
diihat dari hasil pretest dan postest pengetahuan
metakognitif. Kegiatan yang dilakukan setelah
pretest adalah melakukan langkah-langkah
pembelajaran dengan menggunakan strategi
metakognitif. Siswa diberikan jurnal belajar
sebagai bahan catatan kegiatan belajarnya.
Didalam jurnal tersebut ada kolom-kolom yang
harus diisi terkait mengidentifikasi persoalan,
merancang apa yang akan dilakukan,
memonitoring, dan mengevaluasi apa yang sudah
dilakukan siswa
Hasil dan Diskusi
Pelaksanaan penelitian dilakukan selama tiga
kali pertemuan pembelajaran. Keterlaksanaan
strategi metakognitif selama proses pembelajaran
memiliki peranan sangat penting karena akan
mempengaruhi peningkatan kemampuan
metakognitif siswa. Hasil pengamatan observer
mengenai keterlaksanaan strategi metakognitif
dalam pembelajaran disajikan pada tabel 2 berikut
ini:
Table 2. Rekapitulasi hasil observasi keterlaksana-
an proses pembelajaran.
Keterlaksanaan
Pembelajaran
Kegiatan
Guru
Kegiatan
Siswa
Pertemuan I 100% 82%
Pertemuan II 91% 91%
Pertemuan III 100% 100%

Dari hasil observasi, keterlaksanaan strategi
pembelajaran metakognitif sudah dikategorikan
sangat baik, hal tersebut dapat terlihat dari
persentase kegiatan guru dan siswa yang sudah
terlaksana lebih dari 80%. Baiknya keterlaksanaan
strategi pembelajaran metakognitif sangat
mempengaruhi kemampuan metakognitif siswa.
Pengetahuan metakognitif siswa yang meliputi
pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural,
dan pengetahuan kondisional mengalami
peningkatan skor tes setelah diberikan
pembelajaran dengan menggunakan strategi
metakognitif. Berikut disajikan hasil pretest dan
postest untuk setiap komponen pengetahuan
metakognitif pada diagram berikut ini:




Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 117

Gambar 1. Skor Pretest dan postest pengetahuan
metakognitif.
Dari diagaram tersebut terlihat bahwa setiap
komponen pengetahuan metakognitif mengalami
peningkatan setelah diterapkanya strategi
pembelajaran metakognitif. Dari hasil pretest dan
postest kemudian ditentukan nilai N-gain untuk
melihat seberapa besar peningkatan dari setiap
komponen metakognitif tersebut. Nilai N-gain yang
didapat dari setiap komponen metakognitif dapat
dilihat dari tabel 3 berikut ini:
Pengetahuan Metakognitif
Deklaratif Prosedural Kondisional
Nilai
N-gain
0,72 0,66 0,54

Nilai N-gain paling besar didapat oleh
pengetahuan deklaratif, hal tersebut menunjukan
bahwa strategi pembelajaran metakognitif dapat
melatih siswa untuk bisa mengaitkan dan
menggunakan pengetahuan yang mereka miliki
dalam menyelesaikan suatu persoalan yang
sedang dihadapi. Secara keseluruhan setiap
komponen pengetahuan metakognitif memiliki
peningkatan yang cukup besar, sehingga
menunjukan bahwa strategi pembelajaran
metakognitif mampu meningkatkan pengetahuan
metakognitif siswa.
Selain pengetahuan metakognitif,
keterampilan metakognitif dari siswa pun
mengalami peningkatan dari tiap pertemuan.
Peningkatan keterampilan metakognitif tersebut
dilihat dari persentase jumlah siswa yang
melakukan setiap komponen keterampilan
metakognitif. Komponen keterampilan metakognitif
pada penelitian ini meliputi keterampilan
mengidentifikasi, keterampilan perencanaan,
keterampilan monitoring tindakan, dan
keterampilan mengevaluasi. Untuk keterampilan
mengidentifikasi peningkatan persentase jumlah
siswa yang melakukan identifikasi persoalan yang
diberikan bisa diliha dari diagram berikut :
RerataPersentaseJumlahSiswayang
MelakukanIdentifikasi
77,4
83,9
93,5
22,6
16,1
6,5
0
50
100
PertemuanI PertemuanII PertemuanIII
Melakukan TidakMelakukan

Gambar 2. Rerata persentase jumlah siswa yang
melakukan identifikasi.
Dari diagram tersebut terlihat bahwa
persentase jumlah siswa yang melakukan
identifikasi dari tiap pertemuan meningkat. Hal
tersebut menunjukan bahwa strategi metakognitif
mampu meningkatkan keterampilan identifikasi
dari siswa.
Setelah siswa melakukan identifikasi
persoalan, kemudian siswa diintruksikan untuk
membuat rencana tindakan sebagai bentuk
persiapan dalam menghadapi pembelajaran
berikutnya. Persentase jumlah siswa yang
membuat perencanaan dapat dilihat dari diagram
dibawah ini,
RerataPersentaseJumlahSiswayang
MembuatPerencanaan
70,9
83,9 87,1
29,1
16,1 12,9
0
50
100
PertemuanI PertemuanII PertemuanIII
Membuat TidakMembuat

Gambar 3. Rerata persentase jumlah siswa yang
membuat perencanaan.
Dari diaram tersebut menunjukan bahwa
strategi metakognitif mampu meningkatkan
keterampilan siswa dalam membuat perencanaan.
Kemudian setelah siswa membuat rencana
tindakan, tahap berikutnya siswa melakukan
monitoring tindakan dari perencanaan yang sudah
dibuat. Siswa melaksanakan apa yang sudah
direncanakannya kemudian mengontrol dan
memonitoring rencana tindakannya dengan cara
mencecklist dilembar monitoring, rencana mana
saja yang dilaksanakan dan tidak dilaksanakan.
Peningkatan dari tahapan monitoring tindakan ini
dapat dilihah pada diagram berikut ini.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 118
RerataPersentaseJumlahSiswayang
MelakukanEvaluasi
45,1
74,2
87,1
54,9
25,8
12,9
0
50
100
PertemuanI PertemuanII PertemuanIII
Melakukan Tidakmelakukan
Gambar 4. Rerata persentase monitoring tindakan
tiap pertemuan.
Pada tahap monitoring tindakan, data yang
didapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu rencana
tindakan yang dilakukan seluruhnya, sebagian,
dan tidak dilakukan seluruhnya. Dari diagram
tersebut terlihat adanya peningkatan jumlah siswa
yang melaksanakan seluruh rencananya dari tiap
pertemuan. Hal itu menunjukan bahwa strategi
metakognitif mampu meningkatakan kesadaran
siswa dalam melakukan kontrol dan monitoring
tindakan.
Setelah siswa melakukan identifikasi sampai
melaksanakan rencana tindakannya, tahapan akhir
yang dilakukan siswa adalah mengevaluasi semua
tindakan yang sudah dilakukan. Sama seperti
keterampilan metakognitif lainnya, pada tahap
evaluasi ini juga persentase jumlah siswa yang
melakukan evaluasi meningkat dari tiap
pertemuan. Peningkatan jumlah siswa yang
melakukan evaluasi dapat dilihat dari diagram
berikut ini.
Rera ta Per s enta s eJuml a hSi s wa ya ng
Mel a kuka nEva l ua s i
45,1
74,2
87,1
54,9
25,8
12,9
0
50
100
Pe rte mu a n I Pe rte mua nI I Pe rte mua n I I I
Me l a k uka n Ti da kme l a kuk a n
Gambar 5. Rerata jumlah siswa yang melakukan
evaluasi.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi
metakognitif mampu meningkatkan kemampuan
metakognitif siswa. Hal tersebut terlihat dari
adanya peningkatan pengetahuan metakognitif
dan keterampilan metakognitif siswa. Peningkatan
pengetahuan metakognitif dapat dilihat dari nilai N-
gain dari setiap komponen pengetahuan
metakognitif. Keuntungan dari strategi metakognitif
ini ketika diterapkan dalam pembelajaran adalah
meningkatnya kesadaran akan pentingknya belajar
yang dirasakan siswa, sehingga siswa bisa mandiri
dalam melaksanakan pembelajaran. J ika
dibandingkan dengan metode atau strategi lain,
strategi metakognitif ini sangat student oriented
karena lebih berfokus pada pengembangan
kesadaran dan kemandirian siswa untuk belajar.
Pada saat strategi ini diterapkan maka siswa akan
sadar akan pentingnya belajar.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang sudah membantu dalam
kegiatan ilmiah ini, khususnya kepada Bpk. Iyon
Suyana yang selalu membimbing dalam penulisan
karya ilmiah ini dan umumnya kepada jurusan
pendidikan fisika UPI Bandung.
Referensi
[1] Romli, M., Strategi Membangun Metakognisi
Siswa SMA dalam Pemecahan Masalah
Matematika. Jurnal Aksioma. 2(2), 1-16
(2010).
[2] Hamdani. Strategi Belajar Mengajar,
Penerbit Pustaka Setia, Bandung, (2011).
[3] Arikunto, S. Manajemen Penelitian. Penerbit
Rineka Cipta, J akarta, (2006).
[4] Daryaee, A. Malkhalifeh-Rostamy, M.
Amiripour, P. Executive Actions with
Emphasis on Meta-Cognitive Skills for
Mathematics classrooms. Modern Journal of
Education. 1, (4/5), 16-22 (2012)..
[5] Lidinillah. Perkembangan Metakognitif dan
Pengaruhnya Pada Kemampuan Belajar
Anak. URL:
http://file.upi.edu/Direktori/KD- [Accessed 6
J anuari 2013]
[6] Livingston, J .A. Metacognition: An Overview.
URL
http://gse.buffalo.edu/fas/shuell/cep564/Metac
og.html
[Accessed 13 November 2012]
[7] Blakey, Elaine & Spence, Sheila, Developing
Metacognition. New York: ERIC
Clearinghouse on Information Resources
Syracusa NY, (1990).

Hilman Imadul Umam*
Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
Hilman.imadul@student.upi.edu

Iyon Suyana
Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia

Agus Danawan
Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia

*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 119
Analisis Karakter Peserta Didik Menggunakan Tes Dilema Moral pada
Tema Efek Penggunaan Rokok di SMP
Ifa Rifatul Mahmudah*, Taufik Ramlan Ramalis, dan Winny Liliawati

Abstrak
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting dalam membentuk karakter seseorang. Namun,
krisis moral yang terjadi saat ini menyuguhkan fakta terbalik dari yang seharusnya. Tidak bisa menutup mata,
masih banyak, masih banyak krisis moral yang menggemparkan dunia pendidikan, salah satunya berkaitan
dengan perilaku merokok di kalangan peserta didik SMP. Penanaman karakter di lingkungan sekolah sangat
perlu karena akan menetaskan generasi mendatang yang mencerminkan karakter bangsa tersebut. Untuk
mengetahui sejauh mana penanaman karakter yang dapat ditanamkan pada peserta didik, sebanyak 27
peserta didik di salah satu SMP di Kota Bandung diberikan pembelajaran menggunakan pembelajaran
terpadu model Webbed dengan perangkat pembelajaran model pembelajaran Sousan Loucks Horsley. Pada
akhir proses kegiatan belajar mengajar, peserta didik diberikan alat evaluasi berupa 3 buah soal tes dilema
moral dengan tema efek penggunaan rokok. Tes dilema moral adalah tes studi kasus yang dapat mengukur
moral feeling, moral knowing, dan moral behavior peserta didik. Dengan adanya tes dilema moral ini, peneliti
mendapatkan profil karater peserta didik dengan menganalisis jawaban setiap peserta didik secara garis
besar. Dari hasil penelitian, diketahui sebanyak 87,63% peserta didik memiliki moral knowing dan 82,09%
memiliki moral feeling. Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakter
peserta didik dapat dianalisis menggunakan tes dilema moral.
Kata Kunci : Karakter peserta didik, Tes Dilema Moral, Moral feeling, dan Moral knowing
Pendahuluan
Berdasarkan UU nomor 20 tahun 2003
tentang Sisdiknas pasal 3 menyebutkan bahwa
Pendidikan Nasional berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan membentuk
karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa [1]. Sejalan dengan tujuan itu,
pendidikan karakter mulai diterapkan dalam sistem
pendidikan Indonesia. Sebagai bagian dari medan
pendidikan, pendidikan sains bersama unsur
pendidikan lainnya turut mengembangkan karakter
untuk mengatasi carut marut moral peserta didik
Indonesia. Di salah satu SMP Kayuagung, warga
sekolah dikejutkan oleh sejumlah peserta didik
merokok di lingkungan sekolah [2]. Perilaku
merokok ternyata sudah dilakukan banyak remaja,
bahkan dari penggunanya semakin meningkat.
Dari data dari Tobacco Control Support Center,
J umlah perokok remaja (15-19 tahun) mengalami
peningkatan 12,9% dalam waktu 15 tahun (1995-
2010) [3]. Dari fakta tersebut, terlihat bahwa
karakter yang baik belum tertanam di kalangan
remaja, khususnya peserta didik SMP. Padahal
seharusnya, karakter yang baik harus memiliki
komponen moral knowing, moral feeling, dan moral
action dalam setiap tingkah laku dalam kehidupan
sehari-hari.
Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti
bermaksud menganalisis karakter peserta didik
melalui tes dilema moral.
Karakter dan Tes Dilema Moral
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau
kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil
internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang
diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk
cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak [4].
Mendidik karakter adalah mendidik tiga aspek
kepribadian manusia: moral knowing, moral feeling
or attitudes, dan moral behavior [5]. Karakter yang
baik memiliki tiga komponen berupa moral knowing,
moral feeling, dan moral action. Ketiga komponen
tersebut terdiri dari aspek-aspek yang berbeda.
Moral knowing terdiri dari kesadaran moral,
mengetahui nilai moral, penentuan perspektif,
pemikiran moral, pengambilan keputusan dan
pengetahuan pribadi. Moral feeling terdiri dari hati
nurani, harga diri, empati, mencintai hal yang baik,
kenali diri, dan kerendahan hati. Moral action terdiri
dari kompetensi, keinginan, dan kebiasaan [6].
Pada proses penelitian, sebanyak 27 orang
peserta didik SMP di Kota Bandung dipilih secara
acak sebagai sampel penelitian. Sampel diberikan
pembelajaran dengan materi bertema efek
penggunaan rokok yang dikemas menggunakan
pembelajaran terpadu model webbed dan
perangkat pembelajaran menggunakan model
pembelajaran Susan Loucks-Horsley. Di setiap
akhir pembelajaran, sampel diberikan satu buah
instrumen tes dilema moral yang berkaitan dengan
tema. Tes dilema moral merupakan tes studi kasus
yang berbentuk uraian. Tes ini dimaksudkan untuk
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 120
melihat karakter yang terdapat dalam diri siswa
setelah dilakukannya pembelajaran. Pembelajaran
yang diberikan dikemas sedemikian rupa sehingga
dapat menstimulus munculnya karakter setiap
peserta didik. Tes Hasil jawaban peserta didik
dikelompokkan dan dianalisis menjadi sebuah
deskripsi yang menceritakan karakter peserta didik.
Hasil dan Diskusi
Setelah peserta didik diberikan instrumen tes
dilema moral, akan didapatkan jawaban yang
bervariasi dari setiap peserta didik. J awaban-
jawaban inilah yang kemudian dianalisis apakah
sudah mengandung aspek-aspek karakter yang
baik ataukah belum terlihat. Peneliti membatasi
moral-moral yang teramati, yakni hanya moral
knowing dan moral feeling. Hal ini dikarenakan
untuk moral action berkaitan dengan tindakan
nyata yang harus dilakukan sampel penelitian
sehingga bila pengukurannya hanya
menggunakan sebuah tes berupa soal, hasil yang
didapat kurang dapat mewakili karakter
sesungguhnya yang dimiliki siswa.
Dari penelitian ini, dapat diketahui persentase
aspek-aspek yang sudah terlihat dalam diri peserta
didik yang tersaji dalam tabel di bawah.
Tabel 1. Persentase moral knowing yang dimiliki
peserta didik.
No.
Aspek moral
knowing
Persentase
1 Kesadaran Moral 96.29%
2 Mengetahui nilai
moral
80.16%
3 Penentuan
perspektif
66.67%
4 Pemikiran moral 96.29%
5 Pengambilan
keputusan
98.76%
Total 396.04%
Rata-rata 87.63%
Moral knowing yang sudah terlihat dalam diri
peserta didik dalam penelitian ini adalah
kesadaran moral, mengetahui nilai moral,
penentuan perspektif, pemikiran moral, dan
pengambilan keputusan. Tidak semua aspek dari
moral knowing terlihat dalam diri siswa. Hal ini
dikarenakan soal tes yang diberikan belum cukup
menggali aspek-aspek lainnya.
Aspek pengambilan keputusan yang terlihat
dalam diri peserta didik memiliki persentase
terbesar. Hal ini menandakan bahwa kemampuan
peserta didik dalam mengambil keputusan dalam
suatu kondisi yang dialaminya sangat tinggi serta
dapat memikirkan konsekuensi dari keputusan
yang diambilnya. Namun, aspek penentuan
perspektif dalam diri peserta didik masih rendah
yang menandakan bahwa peserta didik belum
dapat memposisikan dirinya menjadi orang lain
dalam suatu kondisi. Hal ini terjadi karena
pembelajaran yang diberikan sebagai upaya
stimulus untuk membangkitkan karakter belum
maksimal.
Tabel 2. Persentase moral feeling yang dimiliki
peserta didik.
No. Aspek Moral Feeling Persentase
1 Hati nurani 100%
2 Empati 88.89%
3
Mencintai Hal yang Baik 87.65%
4
Kerendahan Hati 51.85%
Total 328.39%
Rata-rata 82.09%
Moral feeling yang sudah terlihat dalam diri peserta
didik dalam penelitian ini adalah hati nurani,
empati, mencintai hal yang baik, dan kerendahan
hati. Tidak semua aspek dari moral feeling terlihat
dalam diri siswa. Hal ini dikarenakan soal tes yang
diberikan belum cukup menggali aspek-aspek
lainnya.
Aspek hati nurani yang terlihat dalam diri
peserta didik memiliki persentase terbesar. Hal ini
menandakan bahwa peserta didik sudah
mengetahui apa yang baik dan melakukan apa
yang baik dalam sebuah kondisi. Sedangkan untuk
aspek kerendahan hati, belum semua peserta didik
menyisipkan aspek kerendahan hati dalam
bertingkah laku. Hal ini terjadi karena
pembelajaran yang diberikan sebagai upaya
stimulus untuk membangkitkan karakter belum
maksimal.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan
bahwa ada beberapa aspek karakter yang baik
dalam diri peserta didik. Aspek yang terlihat dari
moral knowing adalah kesadaran diri,
pengetahuan nilai moral, penentuan perspektif,
pemikiran moral, dan pengambilan keputusan.
Sedangkan untuk moral feeling, aspek yang
terlihat adalah hati nurani, empati, mencintai hal
yang baik, dan kerendahan hati.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Medianta Tarigan atas bimbingannya dan
kerja samanya sehingga penelitian ini dapat
berjalan dengan lancar.
Referensi
[1] UU sistem pendidikan nasional, p. 3
[2] Tribunnews, "Guru Aniaya Peserta didik yang
Merokok di sekolah", update 06.02.2013, URI
http://id.berita.yahoo.com/guru-aniaya-siswa-
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 121
yang-merokok-di-sekolah-221421221.html
[accessed 6 Feb 2013]
[3] Arman, "J umlah perokok anak semakin
meningkat", update 3.06.2013, URI
http://www.indonesiatobacco.com/2013/06/ju
mlah-perokok-anak-semakin-meningkat.html
[accessed 3 J une 2013]
[4] Deni Kurniawan, "Pembelajaran Terpadu",
Penerbit Pustaka Cendikia Utama, Bandung,
2011, p. 13
[5] Darmiyati Zuchdi, "Pendidikan Karakter",
Penerbit UNY Pres, Yogyakarta, 285, (2011).
[6] Thomas Lickona, "Educating for Character",
Penerbit UNY Pres, J akarta, 86, (2013).

Ifa Rifatul Mahmudah*
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
ifa.rifatul@student.upi.edu
Taufik Ramlan Ramalis
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
Winny Liliawati
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 122
Studi Perambatan Retakan Pada Material Bertakik Akibat Gaya Tarik
Menggunakan Perangkat Lunak ABAQUS FEA
Irfan Dwi Aditya*, Widayani, Sparisoma Viridi, dan Siti Nurul Khotimah

Abstrak
Studi mengenai mekanika patahan (fracture mechanics) sangat penting untuk memahami peristiwa
kerusakan pada material. Perangkat lunak ABAQUS FEA yang berbasiskan metoda beda hingga cukup baik
digunakan untuk mempelajari mikromekanik material. Dengan program ini, distribusi stress dan strain pada
material yang mendapat gaya luar dapat diperlihatkan. Dengan adanya takik pada bahan, secara umum
takik akan menjadi lokasi pusat stress sehingga menjadi tempat awal retakan. Pada penelitian ini dilakukan
studi perambatan retakan pada material epoxy bertakik akibat gaya tarik melalui simulasi 3 dimensi. Sampel
bertakik ditahan di satu ujung dan diberi gaya tarik pada ujung yang lain. Dari hasil simulasi diketahui bahwa
distribusi stress berubah terhadap waktu sedangkan perambatan retakan cenderung mengarah ke ujung
yang ditarik. Proses retakan yang terjadi dijelaskan dengan keseimbangan energi antara energi yang
diserap sampel dan energi yang dilepas sampel pada saat terbentuknya retakan.
Kata-kata kunci: ABAQUS FEA, epoxy, perambatan retakan, takik, simulas
Pendahuluan
Pada tahun 1983, the National Bureau of
Standards (sekarang National Institute for Science
and Technology) dan Battelle Memorial Institute [1]
mengestimasi kerugian akibat retakan di Amerika
berkisar 119 milyar dollar per tahun pada tahun
1982. Untuk mengantisipasi hal ini, maka
dilakukan studi mengenai mekanika retakan yang
diinisiasi salah satunya oleh A.A Griffith (1893-
1963). Sekitar tahun 1920, Griffith melakukan studi
mengenai retakan pada kaca. Dengan
memanfaatkan studi tentang retakan sebelumnya
yang dilakukan oleh Inglis mengenai konsentrasi
stress disekitar lubang berbentuk elips [2], Griffith
melakukan studi mengenai prediksi perilaku
retakan. Hingga saat ini, telah banyak studi
mengenai mekanika retakan. Diantaranya
dilakukan oleh Sansoz dkk, yang pada
penelitiannya dilakukan studi mengenai
perambatan retakan dari takik dengan metoda
beda hingga dua-dimensi [3].
Pada penelitian kali ini kami melakukan studi
mengenai perambatan retakan pada material
bertakik dengan metoda beda hingga tiga- dimensi
dengan menggunakan perangkat lunak Abaqus
yang berbasiskan metoda beda hingga sebagai
fondasi analisanya.
Teori dan Model
a. Teori
Retakan terjadi ketika stress pada tingkat
atomik melebihi kekuatan kohesi material [4]. Pada
studinya Griffith mengemukakan gagasan bahwa
dalam memprediksi retakan pada material
pendekatan melalui kesetimbangan energi lebih
tepat dibandingkan pendekatan tinjauan stress
disekitar retakan.

Gambar 1. Daerah yang tidak terbebani di sekitar
retakan [4].

Ketika retakan telah merambat dengan
kedalaman a, maka daerah di sekitar retakan yang
berdekatan dengan permukaan bebas terlepas
dari beban (load).
Gambar 1 menunjukkan ilustrasi dari proses
ini. Ketika retakan menjalar, daerah segitiga di
sekitar retakan, dengan lebar a serta tinggi a
akan terlebas dari beban sedangkan bagian
material lainnya akan tetap mengalami tekanan
penuh (full stress). Parameter dipilih agar
memenuhi solusi Inglis, yaitu =. Total energi
regangan (strain energy, U) yang dilepas pada
proses perambatan retakan pada kedua daerah
segitiga dinyatakan dengan

2
2
.
2
U a
E

(1)
dengan ialah nilai stress yang diaplikasikan, dan
E ialah Modulus Young material.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 123
Dalam pembentukan retakan, ikatan antar
atom pada suatu material harus diputus, hal
tersebut memerlukan energi. Energi yang diserap
oleh material untuk melepas ikatan ini, disebut
juga energi permukaan (surface energy, S) ialah
a S 2 , (2)
di mana merupakan energi permukaan
(joule/meter
2
) dan faktor 2 diperlukan karena
dihasilkan dua buah permukaan bebas yang
terbentuk dari retakan. Seperti ditunjukkan oleh
Gambar 2, energi total yang terlibat pada proses
pembentukan retakan ini ialah penjumlahan energi
yang diserap untuk membentuk permukaan baru
(positif) dengan strain energy yang dilepaskan
(negatif).

Gambar 2. Kurva kesetimbangan energi retakan,
yaitu jumlah energi regangan U dan energi
permukaan S [4].

b. Simulasi
Simulasi pada studi ini dilakukan dengan
menggunakan perangkat lunak ABAQUS FEA.
ABAQUS FEA [5-6]

(sebelumnya ABAQUS) adalah
paket perangkat lunak untuk analisis elemen
hingga, awalnya dirilis pada tahun 1978.
Adapun spesifikasi dimensi model simulasi
diberikan dalam Gambar 3. Sedangkan spesifikasi
mekanik material yang digunakan, dalam simulasi
ini epoxy, parameter fisisnya diberikan dalam
Tabel 1.
Dengan menggunakan perangkat lunak
ABAQUS FEA, model simulasi dibagi menjadi
mesh dengan ukuran yang bervariasi. Mesh pada
bagian takik dibuat lebih halus (kecil) agar analisa
pada bagian tersebut lebih rinci. Sedangkan gaya
yang digunakan pada pengujian material simulasi
ini ialah stress () sebesar 5 x 10
7
Pa.

Gambar 3. Spesifikasi dimensi model (ketebalan
0.005 m).
Tabel 1. Nilai karakteristik mekanik material
(epoxy) [7].

Sifak mekanik Nilai
Massa Jenis 1.25 Mg m
-3

Modulus Young 3.5 GPa
Poisson Ratio 0.39
Max Principal Stress Damage 50 Mpa
Fracture Energy 0.3 kJ m
-2

Hasil dan diskusi
a. Distribusi stress pada material bertakik
Hasil simulasi distribusi stress pada material
bertakik ditunjukkan dalam Gambar 4 berikut.

Gambar 4. Distribusi Stress pada material bertakik.
Nampak bahwa stress lebih terkonsentrasi
pada daerah takik. Semakin jauh dari daerah takik,
stress semakin kecil. Hal ini sesuai dengan teori
yang ditunjukkan oleh Gambar 1 dimana daerah
di sekitar retakan akan terbebas dari beban (load)
dan garis beban akan bertumpuk pada daerah
ujung takik.
b. Perambatan retakan
Pada simulasi perambatan retakan,
digunakan metoda XFEM sebagai dasar
analisanya, karena metoda ini dapat melibatkan
diskontinuitas pada sistem. Berikut hasil simulasi
perambatan retakan pada ABAQUS FEA.



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 124

(a)

(b)
Gambar 5. Distribusi stress serta penjalaran
retakan (a) awal simulasi (increment: 3; step time:
0.15) dan (b) akhir simulasi (increment:104; step
time :1).
Nampak dalam proses perambatan retakan,
tekanan di sekitar retakan menurun hingga
mencapai nilai yang stabil seperti Gambar 5(b)
sebagaimana dilaporkan sebelumnya [3]. Hal ini
juga berkaitan dengan pelepasan energi strain
yang dilakukan material sehingga daerah sekitar
retakan tidak terbebani. Material yang
disimulasikan bersifat linier =E, maka apabila
nilai strain menurun, maka nilai stress pun akan
menurun.
Sedangkan arah retakan ditentukan dengan
proses kesetimbangan energi pada material
tersebut. Setelah proses retakan dimulai,
gerakannya ditentukan dengan menyeimbang-kan
energi yang hilang karena adanya gaya eksternal
hingga tampak seperti Gambar 5(b) Hal ini sesuai
dengan apa yang dikemukakan Goldman pada
penelitiannya [8].
Dengan memplot energi strain terhadap waktu,
nampak bahwa energi strain dari sistem semakin
besar seiring berjalannya waktu hingga akhir
simulasi dimana terjadi kesetimbangan stress.
Namun karena energi strain ini merupakan proses
pelepasan energi, maka diberi tanda negatif
sehingga diperoleh kurva sebagai berikut seperti
dalam Gambar 6.
Energi strain membesar dengan tren
polinomial pangkat dua. Hal ini sesuai dengan teori
yang ditunjukkan pada Persamaan (1) dan
Gambar 2. Karena energi strain pada simulasi ini
berubah dengan tren polinomial pangkat dua
terhadap waktu (sama seperti tren perubahan
energi strain terhadap panjang retakan), maka
dapat disimpulkan bahwa panjang retakan
berubah secara linier terhadap waktu.

Gambar 6. Plot energi strain terhadap waktu.
Kesimpulan
Dari studi simulasi perambatan retakan pada
material bertakik diperoleh informasi yang sesuai
dengan teori dimana konsentrasi stress akan lebih
banyak pada daerah takik. Pada proses
perambatan retakan, distribusi stress berubah
terhadap waktu karena proses penyeimbangan
energi retakan pada material. Energi strain pada
material seiring berjalannya waktu simulasi
semakin besar dengan tren polinomial pangkat
dua sesuai dengan teori.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Institut Teknologi Bandung atas dukungan
finansialnya pada penelitian ini melalui Program
Riset RIK-ITB tahun 2013.
Referensi
[1] Anderson, T.L., Fracture Mechanics:
Fundamentals and Applications, CRC Press,
Boca Raton, (1991).
[2] Barsom, J.M., ed., Fracture Mechanics
Retrospective, American Society for Testing
and Materials, Philadelphia, (1987).
[3] F. Sansoz, B. Brethes, dan A. Pineau,
Propagation of short fatigue cracks from
notches in a Ni base superalloy: experiments
and modelling, Fatigue Fract Engng Mater
Struct 25, 4153, 41-53, (2011).
[4] Anderson T.L. Fracture Mechanics
Fundamentals and Applications, Third
Edition. Taylor &Francis,173-254, (2005).
[5] Product Index". SIMULIA web site. Dassault
Systmes. Archived from the original on 29
May 2010. Retrieved 7 July 2010.
[6] "Abaqus FEA". SIMULIA web site.
Dassault [accessed 15 June 2013].
[7] Hull, D. and Clyne, T.W., An Introduction to
Composite Materials 2nd ed, Cambridge
University Press, (1996).
[8] T. Goldman, A. Livne, dan J. Fineberg, Phys.
Rev. Lett. 104,114301, (2010).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 125

Irfan Dwi Aditya*
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
irfan.aditya@fi.itb.ac.id
Widayani
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
widayani@fi.itb.ac.id
Sparisoma Viridi
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id
Siti Nurul Khotimah
Kelompok Keilmuan Fisika Nuklir dan Biofisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
nurul@fi.itb.ac.id

*Penulis korespondensi



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 126
Upaya Meningkatkan Kemampuan Creative Problem Solving Matematis
Siswa SMA melalui Situation-Based Learning
Isrokatun*

Abstrak
Pada pembelajaran di kelas, frekuensi guru bertanya kepada siswa jauh lebih tinggi jika dibandingkan siswa
yang bertanya kepada guru. Pembelajaran lebih menekankan pada belajar menjawab pertanyaan daripada
belajar menyajikan pertanyaan, sehingga menyebabkan kurangnya kesadaran siswa terhadap masalah. Hal
ini mengakibatkan lemahnya kemampuan problem finding, sehingga kemampuan idea finding dan problem
solving siswa juga lemah. Oleh karenanya, kemampuan creative problem solving (CPS) menjadi sangat
perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika. Aspek-aspek kemampuan CPS yaitu objective finding,
fact finding, problem finding, idea finding, solution finding, dan acceptance finding. Keenam aspek tersebut
merupakan tahapan proses berpikir CPS. Untuk tujuan tersebut, diperlukan pembelajaran matematika yang
lebih menggali kemampuan dalam menyajikan masalah serta menyelesaikan permasalahan yang
dimunculkan oleh siswa itu sendiri, yaitu dengan menggunakan Situation-Based Learning (SBL). Penelitian
ini didesain secara quasi eksperimen dengan mengggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan berupa pembelajaran SBL dan kelompok kontrol
mendapatkan pembelajaran konvensional. Dari hasil penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan
kemampuan CPS matematis siswa yang mendapat pembelajaran SBL lebih baik daripada siswa yang
mendapat pembelajaran konvensional secara signifikan. Kemampuan CPS matematis terkuat yang dimiliki
siswa yaitu pada aspek objective finding, sementara kemampuan CPS matematis terlemah yang dimiliki
siswa pada aspek acceptance finding.
Kata-kata kunci: CPS matematis, situation-based learning, aspek CPS terkuat, aspek CPS terlemah
Pendahuluan
Dalam pembelajaran di kelas, guru banyak
bertanya kepada siswa dengan frekuensi yang
tinggi tetapi dengan level yang rendah. Metode
pembelajaran yang digunakan lebih pada belajar
untuk menjawab, daripada belajar untuk
menyajikan permasalahan sehingga tidak
mengembangkan kesadaran siswa terhadap
masalah dan kemampuan dalam problem solving
(menyelesaikan masalah). Oleh sebab itu,
kemampuan Creative Problem Solving (CPS)
menjadi hal yang sangat perlu untuk
dikembangkan dalam pembelajaran matematika.
Kemampuan CPS matematis adalah kemampuan
matematis yang terdiri atas kemampuan: 1)
objective finding; 2) fact finding; 3) problem finding;
4) idea finding; 5) solution finding; dan 6)
acceptance finding. Untuk setiap aspek
kemampuan tersebut, siswa memulainya dengan
aktivitas berpikir divergen dan diakhiri dengan
aktivitas berpikir konvergen [1]; [2]; [3]; [4].
Guna mengembangkan kemampuan tersebut,
perlu kiranya melakukan pembelajaran matematika
yang lebih menggali kemampuan siswa dalam
menyajikan masalah serta menyelesaikan
permasalahan yang dimunculkan oleh siswa itu
sendiri secara kreatif. Salah satu pembelajaran
yang dapat mengatasi permasalahan ini, yaitu
dengan menggunakan Situation-Based Learning
(SBL). Proses pembelajaran SBL ini dapat
diterapkan melalui bahan ajar yang didesain
berdasarkan karakteristik situation-based learning,
supaya siswa lebih mengembangkan kreativitas
dan produktivitas berpikirnya. Tugas guru di sini
lebih berperan sebagai motivator dan fasilitator.
Teori
1. Situation-Based Learning (SBL)
Situation-Based Learning merupakan
pendekatan baru yang kuat dan fleksibel dalam
membangun paradigma pembelajaran yang
konstruktivistik [5]. Menurut Lave; Lave dan
Wenger; Greeno, Smith, dan Moore, hal ini karena
ada banyak hal yang dapat siswa pelajari dari
sebuah situasi, tempat di mana ia belajar [6].
Tujuan dari SBL adalah untuk mengembangkan
kemampuan siswa dalam problem posing, problem
understanding, dan problem solving dari sudut
pandang matematika.
Situation-Based Learning adalah
pembelajaran yang terdiri dari 4 tahapan proses
pembelajaran, yaitu 1) creating mathematical
situations; 2) posing mathematical problem; 3)
solving mathematical problem; dan 4) applying
mathematics, sebagaimana digambarkan dalam
diagram berikut [7]; [8]; [9]; [10].
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 127

Gambar 1. Model Situation-Based Learning.
Creating mathematical situations adalah
prasyarat. Posing mathematical problem adalah
inti, sedangkan solving mathematical problem
adalah tujuan, sementara applying mathematics
adalah penerapan proses pembelajaran terhadap
situasi baru. Adapun langkah-langkah
pembelajaran SBL adalah sebagai berikut [10].
1) Guru mengkreasi sebuah situasi
Pada langkah ini, guru mengkreasi suatu situasi
matematis. Dari situasi matematis tersebut,
diharapkan muncul berbagai pertanyaan dari
siswa, tentunya pertanyaan yang bersifat
matematis, melalui kegiatan mengobservasi
dan menganalisis. Situasi di sini dimulai dari
situasi yang sederhana, kemudian berkembang
ke situasi yang lebih kompleks.
2) Siswa menyajikan problem matematis
Dengan kegiatan menyelidiki dan menebak,
siswa melakukan kegiatan problem posing
matematis. Tugas guru di sini adalah
menempatkan masalah-masalah yang
dimunculkan siswa ke dalam level-level tertentu,
sesuai dengan tingkat kesulitannya.
3) Siswa menyelesaikan problem matematis
Dari permasalahan yang telah dikemukakan
oleh siswa pada langkah pembelajaran ke-2,
guru bersama siswa memilah-milah level
masalah yang ada, masalah manakah yang
sekiranya perlu ditindak lanjuti untuk
diselesaikan. Masalah yang diselesaikan
diawali dari masalah sederhana sampai pada
masalah kompleks. Guru di sini berperan untuk
membimbing, mengarahkan, dan merangsang
siswa dengan teknik scaffolding. Teknik
scaffolding dilakukan dengan cara memberi
petunjuk/arah/cara penyelesaian akan tetapi
tidak secara langsung.
4) Applying mathematics
Adalah sebuah proses penerapan (applying)
konsep matamatika yang telah siswa temukan
melalui kegiatan no.2 dan no.3. Langkah
pembelajaran applying mathematics ini
diharapkan dapat menjadi kebiasaan positif,
yang akhirnya menjadi sebuah (atau salah
satu) cara siswa dalam menyelesaikan setiap
permasalahan matematis.


2. Pembelajaran konvensional
Pembelajaran konvensional yang dimaksud
pada penelitian ini adalah model pembelajaran
yang digunakan oleh guru dalam proses
pembelajaran sedemikian hingga peranan siswa
masih kurang, pengajaran lebih berpusat pada
guru, dan proses belajar lebih mengutamakan
pada metode ekspositori (memberi informasi).
3. Kemampuan CPS matematis siswa
Kemampuan CPS matematis mempunyai 6
aspek, setiap aspek dimulai dari aktivitas divergen
dan diakhiri dengan aktivitas konvergen. Aspek
kemampuan dalam proses CPS matematis adalah
sebagai berikut [1]; [2]; [3]; [4]. Osborn-Parnes
creative problem solving process (OFPISA):
1) Objective finding
Upaya mengidentifikasi situasi ke dalam bentuk
yang menantang.
2) Fact finding
Upaya mengidentifikasi semua data-data yang
masih berkaitan dengan konteks situasi,
mencari dan mengidentifikasi informasi yang
tidak terdapat pada situasi tetapi penting.
3) Problem finding
Upaya mengidentifikasi semua statement
problem yang mungkin, kemudian memilah-
milah mana yang penting.
4) Idea finding
Upaya mengidentifikasi beberapa solusi dari
statement problem, yang mungkin.
5) Solution finding
Menggunakan daftar solusi yang telah dipilih
pada tahap idea finding, memilih solusi yang
terbaik untuk menyelesaikan problem.
6) Acceptance finding
Upaya meningkatkan daya dukung, melakukan
rencana aksi, dan mengimplementasikan solusi.
4. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
apakah peningkatan kemampuan CPS matematis
siswa yang mendapat pembelajaran SBL lebih
baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran
konvensional.
5. Populasi dan sampel penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh
siswa SMA di J awa Tengah pada kategori sekolah
peringkat tinggi. SMA N 1 Tegal kelas XI IPA
terpilih sebagai subyek pada penelitian ini. Dari
seluruh kelas XI IPA yang ada, dipilih 2 kelas
secara acak sebagai sampel penelitian, yaitu 1
untuk kelas eksperimen dan 1 untuk kelas kontrol.
Ditetapkan bahwa, kelas XI IPA 3 (30 siswa)
sebagai kelas eksperimen, dengan mendapatkan
pembelajaran SBL dan kelas XI IPA 1 (29 siswa)
sebagai kelas kontrol dengan mendapatkan
pembelajaran konvensional.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 128
6. Desain penelitian
Penelitian ini adalah penelitian quasi
eksperimen dengan menggunakan kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol yang dikenal
dengan pretestpostest control group design [11];
[12]; [13]. Kelompok eksperimen mendapatkan
perlakuan berupa pembelajaran SBL dan
kelompok kontrol mendapatkan pembelajaran
konvensional. Adapun desain penelitian ini, dapat
digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2. Desain Penelitian
Keterangan:
O =pretes=postes
X =pembelajaran SBL
Hasil dan diskusi
Setelah kedua kelas diberi perlakuan berbeda,
yaitu pembelajaran SBL di kelas eksperimen dan
pembelajaran konvensional di kelas kontrol, maka
diperoleh hasil pencapaian kemampuan CPS
matematis sebagai berikut.
Tabel 1. Kemampuan CPS matematis siswa.

Berdasarkan hasil pretes, kedua kelompok
berangkat dengan kemampuan CPS matematis
awal yang sama secara signifikan (telah diuji
statistik). Rerata kemampuan CPS matematis awal
kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran
SBL (16,07) tidak berbeda dengan kelompok siswa
yang mendapatkan pembelajaran konvensional
(15,66). Setelah postes, rerata kemampuan CPS
matematis akhir kelompok siswa yang
mendapatkan pembelajaran SBL (84,23) lebih
tinggi daripada kelompok siswa yang
mendapatkan pembelajaran konvensional (63,14).
Kedua kelompok mengalami peningkatan
(gain ternormalisasi) kemampuan CPS matematis
yang berarti. Kelompok siswa yang mendapatkan
pembelajaran SBL mengalami peningkatan
kemampuan CPS matematis (0,67) pada kategori
sedang dan peningkatan kemampuan CPS
matematis kelompok yang mendapatkan
pembelajaran konvensional sebesar 0,46, juga
berada pada kategori sedang.
Untuk dapat mengetahui peningkatan pada
kelompok mana yang lebih baik, apakah kelompok
siswa yang mendapatkan pembelajaran SBL
ataukah kelompok siswa yang mendapatkan
pembelajaran konvensional, maka dilakukan uji
statistik. Adapun hasil uji statistik yang dimaksud,
adalah sebagai berikut:
Tabel 2. Uji statistik terhadap gain kemampuan
CPS matematis.

Dari tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa
peningkatan kemampuan CPS matematis
kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran
SBL lebih baik daripada kelompok siswa yang
mendapatkan pembelajaran konvensional secara
signifikan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
meskipun kedua kelompok siswa memiliki
kemampuan CPS matematis awal yang sama,
tetapi kelompok siswa yang mendapatkan
pembelajaran SBL dapat melampaui kemampuan
yang dicapai oleh kelompok siswa kontrol pada
saat postes,. Hal ini diperjelas lagi, bahwa
peningkatan (gain ternormalisasi) kemampuan
CPS matematis yang dicapai oleh kelompok siswa
yang mendapatkan pembelajaran SBL lebih baik
daripada kelompok siswa yang mendapatkan
pembelajaran konvensional.
Penjelasan mengenai perolehan skor siswa di
kelas eksperimen dalam tiap aspek kemampuan
CPS matematis, serta pada aspek manakah
kemampuan CPS matematis siswa ini yang terkuat
atau bahkan terlemah, adalah sebagai berikut.
Tabel 3. Kemampuan CPS matematis siswa di
kelas eksperimen dilihat per aspek.

Persentase perolehan skor untuk tiap aspek
kemampuan CPS matematis siswa, dapat dilihat
pada Tabel 3. Aspek CPS matematis terkuat yang
dimiliki siswa adalah aspek objective finding
(65,5%). Objective finding merupakan aspek
kemampuan CPS matematis melalui upaya
mengidentifikasi situasi ke dalam bentuk yang
menantang, dengan indikator kemampuan, yaitu
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 129
mampu menganalisis dan mengidentifikasi apa
yang diketahui dari suatu situasi yang dihadapi.
Sementara aspek CPS matematis terlemah yang
dimiliki siswa adalah aspek acceptance finding
(38%). Acceptance finding merupakan aspek
kemampuan CPS matematis melalui upaya
meningkatkan daya dukung jawaban yang
diperoleh, melakukan rencana aksi penyelesaian,
serta mengimplementasikan solusi, dengan
indikator kemampuan yaitu mampu
mengembangkan rencana aksi penyelesaian,
mempertimbangkan rencana-rencana yang
mendukung perolehan jawaban sebelumnya, serta
mengungkapkan rencana dukungan jawaban
tersebut.
Kesimpulan
Peningkatan kemampuan CPS matematis
kelompok siswa yang mendapatkan pembelajaran
SBL lebih baik daripada kelompok siswa yang
mendapatkan pembelajaran konvensional. Aspek
CPS matematis terkuat yang dimiliki siswa adalah
aspek objective finding, sedangkan aspek CPS
matematis terlemah yang dimiliki siswa adalah
aspek acceptance finding
Ucapan terima kasih
Ucapan terima kasih kepada DIKTI atas
bantuan hibah disertasi. Ucapan terima kasih juga
diberikan kepada kepala sekolah, guru matematika,
dan siswa SMA N 1 Tegal, J awa Tengah atas
bantuan, kerja sama, dan partisipasi dalam
penelitian ini.
Referensi
[1] G. Ellyn, Creative Problem Solving, The Co-
Creativity Institute, Illinois, (1995).
[2] W.E. Mitchell dan T.F. Kowalik, Creative
Problem Solving, Genigraphict Inc.,
NUCEA,(1999).
[3] T. Proctor, Theories of Creativity and the
Creative Problem Solving Process (2007),
Available at http:// www.google. co.id/
search?q=proctor. [Accessed 12 April 2012].
[4] Isrokatun, Creative Problem Solving (CPS)
Matematis. Rusgianto, et al (Editor),
Kontribusi Pendidikan Matematika dan
Matematika dalam Membangun Karakter
Guru dan Siswa, 2012, Yogyakarta,
Department of Mathematics Education-FMIPA
UNY, pp. MP 437-MP 448.
[5] A.U. Tarek, D. Thomas, M. Hermann, dan P.
Maja, Situation Learning or What Do
Adventure Games and Hypermedia Learning
have in Common, (2000), Available at
http://www. google. co.id/ search?
q=situations-based+learning [Accessed 17
April 2012].
[6] J .R. Anderson, L.M. Reder, dan H.A. Simon,
Situated Learning and Education, J ournal of
Educational Researcher 25 (4), 5-11 (1996).
[7] X. Xia, C. L, B. Wang, dan Y. Song,
Experimental Research on Mathematics
Teaching of Situated Creation and Problem-
based Instruction in Chinese Primary and
Secondary School", J ournal of Front. Educ 2
(3), 366-377 (2007).
[8] X. Xia, C. L, dan B. Wang, Research on
Mathematics Instruction Experiment Based
Problem Posing, J ournal of Mathematics
Education 1 (1), 153-163 (2008).
[9] Isrokatun, Meningkatkan Kesadaran Siswa
terhadap Adanya Masalah Matematis melalui
Pembelajaran Situated Creation and
Problem-Based Instruction (SCPBI).
Rusgianto, et al (Editor), Lets Have Fun with
Mathematics, 2012, Yogyakarta, HIMA-
FMIPA UNY, pp. 333-343.
[10] Isrokatun, Situation-Based Learning untuk
Meningkatkan Kesadaran Siswa terhadap
Adanya Masalah Matematis, J urnal
Penelitian dan Pembelajaran Matematika V
(2), 61-68 (2012).
[11] J .C. Fraenkel dan N.E. Wallen, How to
Design and Evaluate Research in Education,
McGraw-Hill Inc., New York, (1990).
[12] H.E.T. Ruseffendi, Statistika Dasar untuk
Penelitian Pendidikan, IKIP Bandung Press.,
Bandung,(1998).
[13] Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi
(Mixed Methods), Alfabeta, Bandung, 2011.

Isrokatun*
SPs Prodi Pendidikan Matematika
Universitas Pendidikan Indonesia
isrokatun@gmail.com

*Corresponding author




Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 130
Perancangan Alat Pengukuran Keasaman (pH Meter)
Menggunakan Sensor Kapasitif dan Jembatan Schering
Jubaidah*, Abdul Rajak, Khairiah, Tri S., Yuni W., Apit N., dan Mitra Djamal

Abstrak
Kadar keasaman merupakan salah satu parameter fisika yang harus dipantau karena sifatnya yang korosif.
Untuk itu diperlukan suatu alat ukur untuk menentukan tingkat keasaman cairan dengan menggunakan
prinsip pengukuran konduktivitas cairan. Alat ukur yang rancang menggunakan sensor kapasitif plat
tembaga dan diterintegrasikan dengan Jembatan Schering dan mikrokontroler ATMEGA8535 sebagai
pengkondisi sinyal. Hasil pengukuran kadar keasaman air tersebut diperoleh melalui interface (antarmuka)
port serial dan diproses dengan software (perangkat lunak) code vision AVR, sehingga dapat ditampilkan
pada LCD digital. Dalam pengujian alat, pengambilan data dilakukan dengan pengukuran secara langsung
dan divalidasi menggunakan pH meter digital sebagai pembanding. Diperoleh hubungan antara nilai pH
dengan tegangan keluaran pada jembatan schering adalah berbanding terbalik, yang berarti bahwa semakin
tinggi kadar keasaman larutan, maka semakin tinggi pula tegangan keluaran yang dihasilkan. Sensor
kapasitif plat tembaga hanya mampu mengukur kadar keasaman larutan sampai konsentrasi 25 %.
Kata-kata kunci: tingkat keasaman, pH meter, jembatan schering.
Pendahuluan
Tingkat keasaman berhubungan erat dengan
konduktivitas dan tekanan osmotik air.
Konduktivitas dari larutan bergantung pada jumlah
ion dan mobilitas ion di dalam larutan. Kekuatan
konduktivitas larutan dinyatakan melalui
pergerakan ion-ion di dalam medan listrik. Jika
jumlah ion meningkat, maka aliran arus di dalam
larutan juga meningkat [1]. Kemampuan kapasitor
dalam menyimpan suatu muatan listrik disebut
kapasitansi. Pada umumnya, nilai kapasitansi
sebuah kapasitor ditentukan oleh bahan dielektrik
yang digunakan. Air merupakan salah satu bahan
dielektrik yang apabila diletakkan diantara dua plat
kapasitor keping sejajar akan mempengaruhi nilai
kapasitansi dari kapasitor tersebut. Penelitian
analisis sensor kapasitif sebelumnya yang telah
dilakukan oleh A. Nawawi [2] menggunakan plat
seng untuk mengukur derajat keasaman
menggunakan rangkaian pengkondisi sinyal
jembatan schering. Namun, alat yang dihasilkan
masih memiliki kelemahan yaitu untuk derajat
keasaman yang tinggi, alat belum berfungsi
dengan baik.
Dari latar belakang tersebut maka peneliti
merancang dan merealisasikan serta menguji
sensitifitas suatu alat ukur tingkat keasaman suatu
cairan menggunakan prinsip pengukuran
konduktivitas dengan sensor plat tembaga yang
terintegrasi dengan Jembatan Schering sebagai
pengkondisi sinyal berbasis mikrokontroler
ATMega8535 dan hasil pengukuran kadar
keasaman air tersebut diperoleh melalui inter-face
(antarmuka) yang ditampilkan melalui sebuah
display.
Teori
Syarat kesetimbangan dalam suatu rangkaian
jembatan arus bolak-balik dapat dicapai apabila
tanggapan detektor adalah nol atau menunjukan
harga nol. Pengaturan setimbang untuk
mendapatkan tanggapan nol, dilakukan dengan
mengubah salah satu atau lebih dari lengan
lengan jembatan [3].

Gambar 1. Rangkaian jembatan arus bolak-balik
[4].
Persyaratan kesetimbangan jembatan arus bolak-
balik pada gambar 1 terjadi bila:

1 1 2 2
I Z I Z (1)
Agar arus detektor nol (kondisi setimbang),
maka:

1 4 2 3
Z Z Z Z (2)
atau jika menggunakan admitasi sebagai
pengganti impedansi, maka:

1 4 2 3
YY Y Y (3)
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 131
Persamaan (2) adalah persamaan umum
untuk kesetimbangan arus bolak-balik dan
persamaan (3) digunakan bila terdapat komponen-
komponen paralel dalam lengan-lengan jembatan.
Rangkaian jembatan schering merupakan
salah satu rangkaian jembatan arus bolak balik
yang dipakai secara luas untuk pengukuran
kapasitansi. Sebuah rangkaian jembatan schering
ditunjukan pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Rangkaian jembatan schering.
Lengan 1 mengandung suatu kombinasi
paralel dari sebuah tahanan dan sebuah kapasitor,
lengan 3 berisi sebuah kapasitor standar.
Kesetimbangan terjadi bila jumlah sudut fasa
lengan 1 dan lengan 4 sama dengan jumlah sudut
fasa lengan 2 dan lengan 3, yaitu 900 . biasanya
dalam pengukuran besaran yang tidak diketahui,
akan memilki sudut fasa yang lebih kecil dari 900,
maka lengan 1 perlu diberi suatu sudut kapasitif
yang kecil dengan menghubungkan kapasitor C1
paralel terhadap R1.
Syarat kesetimbangan dalam rangkaian
jembatan schering dapat dicapai apabila
tanggapan detektor adalah nol. Pengaturan
kesetimbangan untuk mendapatkan tanggapan nol
dapat dilakukan dengan mengubah salah satu
atau lebih dari lengan-lengan jembatan [3].
Sehingga kapasitor C1 atau resistor R2 dibuat
variabel untuk mengatur kesetimbangan.
Alternatif lain untuk mendapatkan nilai
kesetimbangan dari jembatan schering adalah
dengan cara menurunkan persamaan
kesetimbangan dengan cara memasukan nilai-nilai
impedansi dan admitansi ke dalam persamaan (2)
yang memenuhi kedalam persamaan :


2 3 1 x
Z Z Z Y (4)
Sesuai dengan gambar di atas, maka dapat
diketahui masing impedansi dari lengan-lengan
jembatan schering sehingga diperoleh :

1
3
2
R
Cx C
R
(5)
Persamaan (5) dapat digunakan untuk
membuat rangkaian jembatan schering menjadi
seimbang dengan catatan nilai Cx dalam hal ini
kapasitansi sampel sudah terukur dengan
menggunakan kapasitansimeter. Sehingga
komponen variabel di ruas kanan dapat ditentukan
dengan nilai yang diharapkan, dalam hal ini kami
memilih R2 sebagai hambatan variabel.
Rancangan alat yang dibuat terdiri beberapa
blok rangkaian yaitu sensor kapasitif, rangkaian
pengkondisi sinyal jembatan schering, rangkaian
peyearah, rangkaian ADC (Analog to Digital
Converter), mikrokontroler, dan display digital.

Gambar 3. Blok diagram rancangan alat.
Sensor yang akan dirancang terbuat dari
plastik berbentuk balok, dan pada kedua sisinya
akan dipasang plat tembaga secara sejajar, seperti
yang diperlihatkan pada gambar 4. Sensor
kapasitif dihubungkan pada rangkaian jembatan
schering sebagai pengganti dari kapasitansi Cx.
Sensor kapasitif yang akan dirancang terbuat plat
tembaga (Cu)

Gambar 4. Rancangan sensor kapasitif.
Rangkaian jembatan schering dihubungkan
pada sumber tegangan AC, dengan menggunakan
trafo CT 2 Ampere sebagai penurun tegangan
(step down). Sensor kapasitif yang telah dirancang
(gambar 4), dihubungkan ke rangkaian jembatan
schering sebagai pengganti dari kapasitansi Cx.
Larutan asam cuka (CH3COOH) kemudian
dimasukan ke dalam sensor kapasitif, maka akan
diperoleh nilai tegangan (Vd) yang terbaca pada
display sebagai nilai tegangan pada bahan (asam
cuka) yang terpolarisasi.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 132


Gambar 5. (a) Rangkaian jembatan schering, (b)
sensor kapasitansi
Bahasa yang digunakan untuk pemrograman
mikrokontroler ATMega8535 adalah bahasa
assembler menggunakan software CodeVision-
AVR dibuat sebagai perangkat lunak yang
dirancang agar dapat menampilkan data pada
display.
Hasil dan Diskusi
Hasil rangkaian yang sudah dibuat kemudian
dikemas dalam box plastik dengan ukuran (30 x
20) cm. Lebih detail hasil alat yang telah dibuat
diperlihatkan pada gambar berikut ini :

Gambar 6. Alat pengukuran kadar keasaman
larutan yang telah dibuat.
Data pH referensi diperoleh dari hasil
pengukuran cairan asam menggunakan pH meter
standar tipe SevenCompact di laborato-rium
Sekolah Farmasi ITB . Data diambil dengan tiga
kali pengukuran yang rata-ratanya ditampil-kan
pada tabel berikut ini.






Tabel 1. Hasil pengukuran pH larutan asam
dengan menggunakan pHmeter digital sebagai pH
referensi.
No Konsentrasi Asam (%) pH Suhu (
o
C)
1 5 2,88 26,6
2 10 2,67 26,7
3 15 2,58 26,73
4 20 2,52 26,8
5 25 2,47 26,83
6 30 2,42 26,87
7 35 2,39 26,9
8 40 2,35 26,93
9 45 2,33 26,97
10 50 2,31 27,03

Nilai kapasitansi cairan juga diukur sebanyak
tiga kali pengukuran. Nilai rata-ratanya seperti
pada tabel berikut.
Tabel 2. Hasil pengukuran nilai kapasitansi dan
nilai hambatan R2 yang harus disetting.
1 5 1,4 710
2 10 2,39 420
3 15 2,75 360
4 20 3,04 330
5 25 3,98 250
6 30 4,64 220
7 35 5,06 200
8 40 4,86 210
9 45 7,43 130
10 50 9,08 110
No
Konsentrasi
Larutan Asam
(%)
Rata-Rata
C
s
(nF)
Nilai R
2
(K)

Dengan menggunakan persamaan {16} maka
diperoleh nilai hambatan R2 yang harus disetting
agar diperoleh kesetimbangan.

Gambar 7. Kurva hubungan antara konsentrasi
larutan 5-50% dan tegangan keluaran.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 133
Dari kurva di atas terlihat ada hubungan linear
antara larutan di konsentrasi 5% - 25% dan 30% -
50%. Dilihat dari tabel untuk pengukuran ke-1, 2
dan 3 pada konsentrasi 30% - 50% terdapat
fluktuatif yang tidak signifikan, peneliti mengambil
kesimpulan bahwa pada konsentrasi tersebut
kadar keasaman larutan sudah tinggi dan tidak
dapat lagi dibaca oleh sensor. Sehingga kami
membatasi untuk hubungan kelinearan antara
konsentrasi dan tegangan hanya sampai pada
konsentrasi 25%. Sehingga kurvanya menjadi :

Gambar 8. Tandline hubungan antara pH larutan
dengan tegangan dan persamaan yang dihasilkan
kurva.
Dari kurva di atas diperoleh hubungan antara
tegangan dengan nilai pH larutan, yaitu
berbanding terbalik. Dari garis trendline tersebut
didiperoleh persamaan antara tegangan dan pH
larutan asam yaitu :
y = 0,025 x2 0,247 x + 3,09
dimana :
y : pH larutan
x : tegangan keluaran
Dari persamaan inilah yang akan menjadi
dasar untuk pemograman di komputer untuk hasil
tampilan pada display.
Tabel 3. Perbandingan pengujian pengukuran alat
dengan referensi.

Keterangan :
Error = |pH referensi-pH terukur|/(pH referensi)
100%
Kesimpulan
Telah direalisasikan alat pengukur kadar
keasaman larutan dengan menggunakan sensor
kapasitif. Diperoleh hubungan antara nilai pH
dengan tegangan keluaran pada jembatan
schering adalah berbanding terbalik, yang berarti
bahwa semakin tinggi kadar keasaman larutan,
maka semakin tinggi pula tegangan keluaran yang
dihasilkan. Dari data pengukuran kapasitansi
diperoleh semakin tinggi konsentrasi larutan asam,
maka kapasitansinya semakin tinggi, karena
larutan asam memiliki sifat konduktifitas yang baik.
Sensor kapasitif plat tembaga yang dibuat hanya
mampu mengukur kadar keasaman larutan sampai
konsentrasi 25 %.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menucapkan terima kasih kepada
Laboratorium Farmasi ITB yang telah
menyediakan pH meter digital untuk digunakan
sebagai alat ukur pembanding standar. Serta
terkhusus terima kasih penulis sampaikan kepada
Ahmad Nawawi atas diskusinya yang bermanfaat.
Referensi
[1] Kuswandi, B, E Pisesidartha, H Budianto,
Maisara dan N Novita, Pemanfaatan Baterai
Bekas Sebagai Elektroda Konduktansi
Sederhana, Jurnal Ilmu Dasar, 2(1), 34-40
(2001).
[2] Nawawi, Ahmad, Realisasi Alat Ukur Tingkat
Keasaman Air Menggunakan Plat Sejajar
Berbasis Komputer Dengan Komunikasi
Serial, Skripsi Jurusan Fisika. Fakultas MIPA
Universitas Lampung, Bandar Lampung
(2011).
[3] Cooper, W. D., Instrumentasi Elektronik dan
Teknik Pengukuran, Edisi ke 2. Erlangga.
Jakarta, (1994).
[4] Jones, L.D. dan A. Foster Chin, Elektronik
Instrumens and Measurements, Second
Edition. Prentice-Hall international. Singapore
(1995).

Jubaidah*, Tri S., Yuni W., Mitra Djamal
Fisika Teoritik Energi Tinggi dan Instrumentasi
Institut Teknologi Bandung
jubaidah@students.itb.ac.id

Abdul Rajak, Khairiah, Apit N.,
Fisika Material Elektronik
Institut Teknologi Bandung
*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 134
( ) ( )
( ) ( )

>
< s + +
< s +
< s
<
=
.
0
0 0
3
3 2 1 2 1
2 1 1
1
d z eV
d z d z d d
d z d z d h
d z z
z
z V
ox
t a b t a t a t b
b a t a b
b t a
k k k k k k k k |
k k k k k
k k |
Pemodelan Transmittansi Elektron pada Kapasitor MOS bermassa
Isotropik dengan Menggunakan Pendekatan Fungsi Gelombang Airy
Khairiah, Fatimah A. Noor, Mikrajuddin Abdullah, dan Khairurrijal

Abstrak
Pada makalah ini telah dikembangkan pemodelan transmittansi elektron pada kapasitor metal-oksida-
semikonduktor (MOS) berbasis material konstanta dielektrik tinggi (high-k material) dengan menggunakan
struktur n
+
Poly-Si/HfSiO
x
N/Trap/SiO
2
/Si bermassa isotropik. Lapisan HfSiO
x
N/SiO
2
berskala nanometer yang
digunakan sebagai gerbang oksida dalam kapasitor MOS menyebabkan terbentuknya perangkap muatan
pada antarmuka HfSiO
x
N/SiO
2
. Hal

ini

merupakan salah satu masalah utama dalam penggunaan material
high-k pada divais MOS karena dapat mempengaruhi kinerja divais. Untuk itu diperlukan pemodelan
transmittansi yang melibatkan efek perangkap muatan. Transmittansi dimodelkan secara analitik dengan
menggunakan pendekatan fungsi gelombang Airy dimana dalam pemodelannya melibatkan efek kopling
antara energi kinetik longitudinal dan transversal yang direpresentasikan oleh kecepatan fasa elektron di
gerbang. Transmittansi dihitung untuk beberapa variasi parameter yaitu, kecepatan elektron, lebar dan
kedalaman perangkap muatan. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa transmittansi bertambah seiring
dengan berkurangnya kecepatan elektron, dan mencapai nilai tertinggi saat dihitung tanpa melibatkan efek
kopling. Diperoleh pula bahwa transmittansi membesar seiring dengan bertambahnya lebar dan kedalaman
perangkap muatan. Lebih lanjut, pemodelan transmittansi yang telah dikembangkan dapat digunakan untuk
menghitung arus bocor dalam divais MOSFET.
Kata kunci: Transmittansi, kecepatan elektron, massa isotropik, fungsi Airy.
Pendahuluan
Sekarang ini perkembangan divais elektronik
berskala nanometer berkembang dengan sangat
pesat dengan kinerja yang semakin mengagumkan.
Peningkatan untuk kerja divais ini dipicu oleh
jumlah transistor yang semakin banyak dalam
sebuah chip rangkaian terpadu (integrated circuit).
Kerapatan transistor yang semakin besar akan
diperoleh jika ukuran transistor semakin kecil.
Usaha pengecilan ukuran transistor diikuti dengan
peningkatan untuk kerjanya suatu saat akan
mencapai titik jenuh ketika ukuran transistor tidak
dapat diperkecil lagi sedangkan tuntutan
peningkatan untuk kerja tidak berhenti [1]. Oleh
karena itu, saat ini, ruang lingkup penelitian
material sebagai komponen utama divais
diarahkan pada pencarian material baru yang
memiliki sifat-sifat unggul yang bersesuaian
dengan divaisnya.
Saat ini, transistor efek medan metal-oksida-
semikonduktor (MOSFET) dibuat sangat kecil
untuk mencapai kinerja yang baik dengan biaya
rendah. Akibatnya, pengurangan ukuran dari
MOSFET akan menyebabkan penyusutan lapisan
SiO
2
sampai berukuran nanometer. Hal ini akan
menimbulkan hal yang tidak diinginkan di mana
arus bocor yang besar akan timbul dan disipasi
daya menjadi tinggi bila ketebalan SiO
2
kurang dari
1,5 nm [2]. HfSiO
x
N dengan konstanta dielektrik
tinggi (high-) merupakan
bahan yang diharapkan untuk menggantikan SiO
2
[2,3]. Namun, masalah penting dari menggunakan
HfSiO
x
N adalah terbentuknya perangkap muatan
pada antar muka HfSiO
x
N/SiO
2
[4].
Beberapa model telah dikembangkan untuk
mempelajari transmitansi dan arus bocor dalam
MOSFET berbasis material high- [4-7]. Namun
adanya perangkap muatan disertai dengan efek
kopling antara energi kinetik transversal dan
longitudinal dari gerak elektron tidak dibahas
dalam pemodelan-pemodelan tersebut. Dalam
makalah ini, dikembangkan pemodelan
transmittansi dalam kapasitor MOS bermassa
isotropik berbasis material high- (HfSiO
x
N)
dengan melibatkan efek kopling dan perangkap
muatan pada antar muka high- /SiO
2
dengan
menggunakan pendekatan fungsi gelombang Airy.
Struktur n
+
Poly-
Si/HfSiO
x
N/perangkap/SiO
2
/Si(100) digunakan
dalam perhitungan transmittansi.
Teori
Gambar 1 menampilkan profile potensial yang
digunakan dalam pemodelan yang kami lakukan
yang secara matematika dapat dinyatakan sebagai
berikut




(1)
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 135
( )

>
< s +
< s +
< s +
< +
=
. ) exp(
) ( ( ) ( (
) ( ( ) ( (
0 ) ( ( ) ( (
0 ) ( exp( ) ( exp(
3 5
3 2
2 1
1
1 1
d z z i I
d z d z HB z GA
d z d z FB z EA
d z z DB z CA
z z i B z i A
z
i i
i i
i i
k

q q
c c
k k

di mana,
( ) ( )
,
2 3 1 2 1 b a b a b t
ox
d d d d d
eV
k k k k k k

+ +
=

|
a
dan |
b
adalah ketinggian penghalang HfSiO
x
N
dan SiO
2
, h adalah kedalaman perangkap muatan.
Ketebalan HfSiO
x
N, perangkap, dan SiO
2
adalah
d
1
, (d
2
-d
1
), dan (d
3
-d
2
).
1
k ,
2
k , and
3
k adalah
konstanta dielektrik HfSiO
x
N, trap, dan SiO
2
, e
adalah muatan elektron, dan V
ox
adalah tegangan
oksida.


Gambar 1. Profil potensial dari kapasitor n
+
poly-
Si/HfSiO
x
N/perangkap(trap)/SiO
2
/p-Si ketika
diberikan tegangan bias mundur.

Fungsi gelombang untuk masing-masing
daerah I, II, III, IV dan V dalam Gambar 1 adalah








(2)

Pemodelan diawali dari persamaan
Hamiltonian yang menggambarkan gerak elektron
dalam material isotropik seperti yang diberikan
dalam Ref. [8]. Persamaan Schrdinger pdalam
arah-z, yang mengandung bentuk kopling antara
transversal dan longitudinal yang diwakili oleh
kecepatan elektron di dalam n
+
Poly-Si, mudah
didapat dengan menggunakan metode separasi
variable. Dengan menggunakan syarat batas di
setiap antar muka [9] dan mengikuti metode dalam
Refs. [2,7], transmittansi dengan mudah dapat
diperoleh.
Hasil dan diskusi
Untuk menghitung transmittansi dalam
kapasitor n
+
Poly-Si/HfSiO
x
N/trap/SiO
2
/Si(100)
digunakan parameter sebagai berikut: |
a
= 1.5 eV,
|
b
= 3.34 eV, d
1
= 2.5 nm, (d
3
-d
2
)= 0.5 nm, k
a
= 13.5,
and k
b
= 3.9 [2]. Massa efektif elektron di dalam
HfSiO
x
N, perangkap, dan SiO
2
digunakan sebesar
as 0.20 m
0
, 0.35 m
0
, dan m
0
. Gambar 2
mengilustrasikan transmitansi elektron sebagai
fungsi energi elektron untuk variasi kedalaman
perangkap muatan. Lebar perangkap (w) dan
kecepatan fasa elektron (v
e
) adalah 0,1 nm dan
1x10
5
m/s. Dari gambar terlihat bahwa
transmittansi meningkat seiring dengan
bertambahnya energi elektron. Terlihat juga bahwa
saat energi lebih besar dari penghalang potensial,
transmittansi berosilasi seperti yang ditunjukkan
dalam inset. Dari gambar terlihat juga bahwa
transmittansi yang dihitung tanpa melibatkan efek
perangkap muatan memberikan hasil yang lebih
rendah dari yang mempertimbangkan efek
perangkap muatan, untuk energi kurang dari 1 eV.

Gambar 2. Hubungan antara Transmittansi dengan
Energi Elektron dengan variasi kedalaman
perangkap muatan.

III
HfSiO
x
N
Trap
SiO
2
p-Si
n
+
polySi
Ef=0
eV
OX
0 d
1
d
2 d
3
I II IV V
V(z)
z
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 136

10
9

10
8
10
7
10
6
10
5
10
4
10
3
10
2
10
1
1
0 2 4 6 8 10
TanpaTrap
w1=0.1nm
w2=0.2nm
w3=0.3nm
T
r
a
n
s
m
i
t
t
a
n
s
i
Energi Elektron (eV)
10
9

10
8
10
7
10
6
10
5
10
4
10
3
10
2
10
1
1
3 4 5 6 7 8 9 10
T
r
a
n
s
m
i
t
t
a
n
s
i
Energi Elektron(Ev)
Si(100)
v
e
=1x10
5
m/s
h=0,1eV

Gambar 3. Transmittansi vs energi elektron untuk
variasi lebar perangkap muatan.
Pengaruh lebar perangkap muatan terhadap
transmittansi ditunjukkan dalam Gambar 3.
Kedalaman perangkap muatan dan kecepatan
elektron digunakan sebesar 0,1 eV dan 1x10
5
m/s.
Dari gambar terlihat bahwa transmittansi
cenderung membesar seiring dengan
bertambahnya lebar perangkap muatan dan
berosilasi saat elektron bergerak dengan energi
lebih besar dari penghalang potensial.

10
-6
-80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80
10
-8
10
-4
10
-10
Tanpa efek kopling
v
e
= 1x10
5
m/s
v
e
= 3x10
5
m/s
v
e
= 2x10
5
m/s
T
r
a
n
s
m
i
t
t
a
n
s
i
Sudut Elektron (
0
)

Gambar 4. Transmittansi elektron sebagai fungsi
dari sudut datang elektron untuk variasi kecepatan
elektron.
Gambar 4 menunjukkan pengaruh sudut
datang elektron dan kecepatan elektron terhadap
transmittansi. Terlihat bahwa elektron memiliki nilai
transmittansi terbesar saat elektron bergerak
menembus penghalang pada sudut 0
o
.
Hal ini
berarti bahwa elektron dapat mudah menembus
penghalang saat elektron bergerak dalam arah
tegak lurus terhadap antar muka lapisan. Dari
gambar terlihat juga bahwa seiring dengan
berkurangnya kecepatan elektron, transmittansi
membesar, dan mencapai nilai maksimum saat
dihitung dengan tanpa melibatkan efek kopling.
Kesimpulan
Dalam paper ini telah dikembangkan
pemodelan transmittansi elektron dalam struktur
n
+
Poly-Si/HfSiO
x
N/trap/SiO
2
/Si(100) bermassa
isotropik dengan melibatkan efek kopling antara
energi kinetik transversal dan longitudinal, yang
direpresentasikan oleh kecepatan elektron di
n
+
Poly-Si, dan perangkap muatan. Diperoleh
bahwa transmittansi cenderung membesar seiring
dengan bertambahnya kedalaman dan lebar
perangkap muatan. Transmitansi mencapai nilai
tertinggi saat elektron bergerak tegak lurus
terhadap antar muka lapisan. Diperoleh pula
bahwa transmittansi bertambah seiring dengan
berkurangnya kecepatan elektron, dan mencapai
nilai tertinggi saat dihitung tanpa melibatkan efek
kopling. Lebih lanjut, pemodelan transmittansi
yang telah dikembangkan dapat digunakan untuk
menghitung arus bocor dalam divais MOSFET.
Ucapan Terima Kasih
Penelitian ini didukung secara finansial oleh
Hibah Desentralisasi DIKTI dan Riset Inovasi KK
ITB tahun 2013.
Referensi
[1] Khairurrijal, Material dan Devais MOS:
Keadaan Kini dan Perspektif Masa depan,
Pidato Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi
Bandung, 27 Mei 2011.
[2] F. A. Noor, M. Abdullah, Sukirno, Khairurrijal,
A. Ohta, and S. Miyazaki, Electron and hole
components of tunneling currents through an
interfacial oxide-high-k gate stack in metal-
oxide-semiconductor capacitors, Journal of
Applied Physics 108, 093711-1/4 (2010).
[3] N. A. Chowdhury and D. Misra, Charge
Trapping at Deep States in HfSilicate Based
High-k Gate Dielectrics, Journal of
Electrochemical Society 154(2), G30-G37
(2007).
[4] A. Bouazra, S. A. B. Nasrallah, A. Poncet,
and M. Said, Current tunnelling through MOS
devices, Materials Science and Engineering
28(5), 662-665 (2008).
[5] G. D. Wilk, R. M. Wallace, and J. M.
Anthony," High-k Gate Dielectrics: Current
Status and Materials Properties
Considerations, Journal of Applied Physics
89(10), 5243-5275 (2001).
[6] Y. Zhao and M. H. White, Modeling of Direct
Tunneling Current through Interfacial Oxide
and High-k Gate Stacks< Solid State
Electronics 48(10-11), 1801-1807 (2004).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 137
[7] F. A. Noor, M. Abdullah, Sukirno, and
Khairurrijal, Comparison of Electron
Transmittances and Tunneling Currents in an
Anisotropic Ti
Nx
/HfO
2
/SiO
2
/p-Si(100) Metal
OxideSemiconductor (MOS) Capacitor,
Journal of Semiconductors 31(12), 124002-
1/5 (2010).
[8] L. F. Mao, The effects of the injection-
channel velocity on the gate leakage current
of nanoscale MOSFETs, IEEE Electron
Devices Letters 28(2), 161-163 (2007).
[9] K. Y. Kim and B. Lee, Transmission
Coefficient of an Electron through a
Heterostructure Barrier Grown on Anisotropic
Materials, Physical Review B 58(11), 6728-
6731 (1998).










Khairiah
Kelompok Keilmuan Fisika Material Elektronik
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
Khairiah.1214@gmail.com
Fatimah A. Noor*
Kelompok Keilmuan Fisika Material Elektronik
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
fatimah@fi.itb.ac.id
Mikrajuddin Abdullah
Kelompok Keilmuan Fisika Material Elektronik
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
din@fi.itb.ac.id
Khairurrijal
Kelompok Keilmuan Fisika Material Elektronik
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
krijal@fi.itb.ac.id

*Corresponding author


Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 138
Perbandingan Penerapan Model Pembelajaran Guided Inquiry Dengan
Model Pembelajaran Interactive Demonstration Untuk Meningkatkan
Prestasi Belajar Fisika Siswa SMA
Khumaedah Khasanah*, Parlindungan Sinaga, dan Dedi Sasmita

Abstrak
Pembelajaran fisika yang dikehendaki Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ialah pembelajaran
melalui proses penemuan dan menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung sehingga
dapat meningkatkan prestasi belajar. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan bahwa sebagian besar
pembelajaran fisika untuk kelas XI dilaksanakan dengan metode ceramah. Dalam metode ceramah
pembelajaran berlangsung satu arah dan lebih menekankan penyampaian materi pembelajaran, akibatnya
proses pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi siswa, hal ini dilihat dari hasil belajar siswa yang
rendah dari hasil nilai ulangan siswa kelas XI IPA pada Ujian Akhir Semester (UAS) tahun ajaran 2012/2013
sebanyak 68,3% siswa masih berada di bawah KKM, sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi belajar
siswa masih tergolong rendah. Pembelajaran dengan inquiry dapat dijadikan solusi dari permasalahan
tersebut. Interactive demonstration dan guided inquiry merupakan model pembelajaran inquiry sederhana
yang dalam proses pembelajarannya lebih menekankan pencarian pengetahuan secara aktif yang dapat
dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa dan untuk mengetahui model pembelajaran mana yang lebih signifikan
dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 dan XI IPA 5
salah satu SMA negeri di kota Bandung tahun ajaran 2012/2013 yang berjumlah 40 orang siswa pada
masing-masing kelas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi experiment dengan
menggunakan the static group pretest-posttest design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi belajar
siswa meningkat dengan peningkatan rata-rata nilai gain yang dinomalisasi yaitu sebesar 0,753 dan 0,683.
Pada pembelajaran sains berorientasi inquiry, model pembelajaran guided inquiry lebih signifikan dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa dibandingkan model pembelajaran interactive demonstration dengan
taraf signifikansi 1%.
Kata-kata kunci: interactive demonstration, guided inquiry, prestasi belajar siswa
Pendahuluan
IPA adalah studi mengenai alam sekitar,
dalam hal ini berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang alam secara sistematis, sehingga IPA
bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan
yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu
proses penemuan [1], hal itu diperkuat oleh Bruner
menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat
terjadi melalui belajar penemuan. Pengetahuan
yang diperoleh melalui belajar penemuan dapat
bertahan lama dan mempunyai efek transfer yang
lebih baik. Belajar penemuan dapat meningkatkan
penalaran dan kemampun berpikir secara bebas,
dan melatih keterampilan-keterampilan kognitif
untuk menemukan dan memecahkan masalah [2].
Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan bahwa
sebagian besar pembelajaran fisika untuk kelas XI
dilaksanakan dengan metode ceramah. Dalam
metode ceramah pembelajaran berlangsung satu
arah dan lebih menekankan penyampaian materi
pembelajaran, akibatnya proses pembelajaran
menjadi kurang bermakna bagi siswa, hal ini dilihat
dari hasil belajar siswa yang rendah dari hasil nilai
ulangan siswa kelas XI IPA pada Ujian Akhir
Semester (UAS) tahun ajaran 2012/2013
sebanyak 68,3% siswa masih berada di bawah
KKM, sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi
belajar siswa masih tergolong rendah.
Salah satu model pembelajaran yang
dipandang dapat membantu dan memfasilitasi
siswa untuk menguasai konsep melalui belajar
penemuan sehingga dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa adalah dengan menggunakan model
pembelajaran inquiry. Pembelajaran inquiry
merupakan model pembelajaran fisika yang perlu
dikembangkan di sekolah dasar dan menengah.
Dari aspek psikologi dan falsafah, mengajarkan
Fisika dengan model pembelajaran inquiry
memungkinkan siswa untuk menggunakan segala
potensinya (kognitif, afektif, dan psikomotor) [3].
Teori
Inkuiri merupakan proses bertahap, bertingkat
dan berkesinambungan dan dalam
pembelajarannya harus disesuaikan dengan
kemampuan siswa. Wenning menyatakan terdapat
lima model pembelajaran bertingkat dalam
kegiatan pembelajaran sains berorientasi inquiry
yaitu discovery learning, interactive demonstration,
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 139
inquiry lesson, inquiry lab (guided inquiry lab,
bounded inquiry lab, dan free inquiry lab), dan
hypothetical inquiry (pure hypothetical inquiry dan
apllied hypothetical inquiry), Dari kelima model
pembelajaran bertingkat dalam kegiatan
pembelajaran sains berorientasi inquiry,
pembelajaran inquiry yang sederhana yang dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa dan dalam
proses pembelajarannya melakukan kegiatan
praktikum adalah model pembelajaran interactive
demonstration dan model pembelajaran guided
inquiry [4].
Perbedaan dari kedua model pembelajaran
tersebut terletak pada proses yang dilakukan
dalam pemecahan masalah melalui belajar
penemuan yang dilakukan melakukan kegiatan
praktikum. Pada guided inquiry proses yang
dilakukan dalam pemecahan masalah melalui
belajar penemuan yang dilakukan melakukan
kegiatan praktikum dilakukan langsung oleh siswa
sedangkan model pembelajaran interactive
demonstration proses pembelajaran dengan
menggunakan eksperimen yang dilakukan oleh
guru melalui kegiatan demonstrasi. E. Usman
Effendi dan J uhaya S Praja menyatakan Prestasi
belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang
bulat. Prestasi belajar ditandai dengan perubahan
seluruh aspek tingkah laku yaitu aspek motorik,
aspek kognitif sikap, kebiasaan, keterampilan
maupun pengetahuannya [5].
Penelitian ini menggunakan metode penelitian
quasi experiment dengan menggunakan the static
group pretest-posttest design [6]. Sampel
penelitian adalah siswa kelas XI IPA 2 dan XI IPA
5 salah satu SMA negeri di kota Bandung tahun
ajaran 2012/2013 yang berjumlah 40 orang siswa
pada masing-masing kelas. Kelas eksperimen 1
diberikan perlakuan berupa penerapan model
pembelajaran guided inquiry dan kelas eksperimen
2 diberikan perlakuan berupa penerapan model
pembelajaran interactive demonstrasi, masing-
masing kelas mendapat diberikan, untuk mengukur
prestasi belajar siswa. Instrumen yang digunakan
yaitu berupa soal pilihan ganda sebanyak 25 soal
mengenai materi fluida statis.
Hasil dan diskusi
1. Peningkatan Prestasi Belajar Siswa
Berdasarkan hasil tes pada kelas eksperimen
1 diperoleh perbandingan antara nilai pretest,
postest, gain, dan gain yang dinormalisasi seperti
pada gambar 1. Peningkatan prestasi belajar
siswa yang diambil berdasarkan tes diperoleh gain
yang dinormalisasi sebesar 0,748. Kesimpulan
yang dapat diambil adalah penerapan model
pembelajaran guided inquiry dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa dengan kriteria tinggi [7].
0
20
40
60
80
100
Pretest Postest gain <g>
32,2
82,9
50,75
74,5
P
r
e
s
e
n
t
a
s
e
Nilai
Kelas eksperimen 1
Gambar 1. Diagram peningkatan prestasi belajar
kelas eksperimen 1.
Berdasarkan hasil tes pada kelas eskperimen
2 diperoleh perbandingan antara nilai pretest,
postest, gain, dan gain yang dinormalisasi seperti
pada gambar 2. Peningkatan prestasi belajar
siswa yang diambil berdasarkan tes diperoleh gain
yang dinormalisasi sebesar 0,674. Kesimpulan
yang dapat diambil adalah penerapan model
pembelajaran Interactive demonstration dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa dengan
kriteria sedang [7].
0
20
40
60
80
Pretest Postest gain <g>
30,3
77,5
47,2
67,4
P
r
e
s
e
n
t
a
s
e
Nilai
Kelas ekperimen 2
G
ambar 2. Diagram peningkatan prestasi belajar
kelas eksperimen 2.
2. Perbandingan Peningkatan Prestasi Belajar
Siswa Pada Model Pembelajaran Guided
Inquiry Dan Interactive Demonstration.
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui
apakah treatment yang diberikan, yaitu model
pembelajaran guided inquiry di kelas eksperimen 1
mampu meningkatkan prestasi belajar siswa
secara signifikan, dibandingkan dengan model
pembelajaran interactive demonstration di kelas
eksperimen2,maka dilakukan uji hipotesis proses
pengujian hipotesis ini dilakukan dalam dua
tahapan yaitu uji normalitas dan uji t.

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 140
1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui
apakah data gain ternormalisasi pada kedua kelas
eksperimen terdistribusi normal ataukah tidak.
Penentuan normalitas data pada kedua kelas
eksperimen ini ditentukan melalui nilai Chi-kuadrat.
Hasil pengolahan data Chi-kuadrat ditunjukkan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil Uji Normalitas terhadap skor postest.
Normalitas
kelas 2
hitung

2
tabel
Distribusi
Kelas
eksperimen 1
9,36 11,34 Normal
Kelas
eksperimen 2
10,32 13,28 Normal

2) Uji Homogenitas Dua Variansi
Uji homogenitas dua variansi bertujuan untuk
mengetahui apakah data gain ternormalisasi pada
kedua kelas eksperimen benar-benar homogen
atau tidak. Hasil uji homogenitas dua variansi dari
gain ternormalisasi ditunjukkan pada tabel 2 di
bawah ini.
Tabel 2. Hasil Uji Homogenitas dua variansi.
Homogenitas
Kelas
hitung
F
tabel
F Interpretasi
Kelas
eksperimen 1
Kelas
eksperimen 2
1,17 2,14 Homogen

Berdasarkan hasil uji homogenitas pada
Tabel 2 maka dapat dikatakan bahwa data gain
ternormalisasi pada kedua kelas eksperimen
adalah homogen.
Berdasarkan tabel 2, data kedua kelas terdistribusi
normal dan homogen. J adi dilakukan uji t. Uji t
dilakukan pada taraf kepercayaan 99%
(signifikansi 0,01)

Tabel 3 Hasil uji hipotesis dengan uji t.
Jenis
Pengujian
Nilai t Hasil
perhitungan
Nilai t
dari
Referensi
tabel
Kesimpulan
Uji t

3,46 2,64 Signifikan

Hasil uji hipotesis yang ditunjukkan pada
tabel 3, menyatakan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara peningkatan prestasi belajar
siswa kelas eksperimen 1 dan dikelas eksperimen
2, Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa
pada taraf kepercayaan 99% (signifikansi 0,01),
model pembelajaran guided inquiry secara
signifikan dapat lebih meningkatkan prestasi
belajar siswa (kelas eksperimen 1) dibanding
penggunaan model pembelajaran interactive
demonstration (kelas eksperimen 2).
3. Peningkatan prestasi belajar Siswa Pada
Setiap Ranah Kognitif yang di Uji
Peningkatan prestasi belajar ini juga dianalisis
dari peningkatan tiap jenjang kognitif menurut
Bloom [2], yang pada penelitian ini dibatasi hanya
dari jenjang Hapalan (C1) sampai dengan jenjang
analisis (C4). Cara menganalisisnya adalah
dengan mengelompokkan instrumen tes prestasi
belajar berdasarkan tiap jenjang kognitifnya,
kemudian dihitung nilai gain yang dinormalisasinya.
Berikut ini adalah rekapitulasi rata-rata skor pretest,
posttest, serta gain yang dinormalisasi untuk tiap
jenjang kognitif.
Tabel 4. Rekapitulasi Skor prestasi belajar siswa
tiap aspek Kelas Eksperimen 1.
Aspek
Pretest
Rerata
Skor
(%)
Postest
Rerata
Skor
(%)
Rerata
<g>
Hafalan, C1 26,25 85 0,76
Pemahaman, C2 18 80 0,74
Penerapan, C3 38 85 0,7
Analisis, C4 34,4 70 0,5

Untuk kelas ekperimen 2 rekapitulasi rata-
rata skor pretest, posttest, serta gain yang
dinormalisasi untuk tiap jenjang kognitif dapat
dilihat pada tabel 5
Tabel 5. Rekapitulasi Skor prestasi belajar siswa
tiap aspek Kelas Eksperimen 1.
Aspek Pretest
Rerata
Skor
(%)
Postest
Rerata
Skor
(%)
Rerata
<g>
Hafalan, C1 36 82 0,7
Pemahaman, C2 20 72,5 0,65
Penerapan, C3 30 90,4 0,8
Analisis, C4 27 66 0,41

Dari hasil pengolahan data, gambaran
peningkatan setiap aspek prestasi belajar tia
jenjang kognitif untuk kelas eksperimen dapat
dilihat pada gambar 3
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 141
0
10
20
30
40
50
60
70
80
C1
(%)
C2
(%)
C3
(%)
C4
(%)
76
74
70
50
70
65
80
41
G
a
i
n

y
a
n
g

d
i
n
o
r
m
a
l
i
s
a
s
i
jenjang kognitif
Kelas
eksperimen1
Kelas
eksperimen2

Gambar 3. Diagram peningkatan prestasi belajar
tiap jenjang kognit.
Berdasarkan gambar 3, tampak bahwa pada
umumnya kelas eksperimen 1 mengalami
peningkatan yang lebih besar dibandingkan
dengan kelas eksperimen 2, hanya pada aspek
penerapan (C3) kelas eksperimen 1 lebih rendah
dari kelas eksperimen 2 . Perbedaan peningkatan
paling besar terjadi pada aspek penerapan (C3)
dengan selisih gain yang dinormalisasi 10 (dalam
persen). Selain itu, jika diperhatikan lagi ternyata
terdapat perbedaan kecenderungan peningkatan
pada kedua kelas tersebut. Peningkatan yang
terjadi di kelas eksperimen 1 cenderung menurun
seiring semakin tingginya tingkatan kognitif, artinya
semakin tinggi tingkatan kognitif yang diujikan,
semakin kecil peningkatanya. Sedangkan pada
kelas eksperimen 2, hal ini tidak terjadi karena
aspek penerapan (C3) nilainya jauh lebih besar
hafalan (C1) dan pemahaman (C2) artinya tidak
ada hubungan antara besarnya peningkatan
dengan tingkatan kognitif yang diujikan.
Kesimpulan
Penerapan model pembelajaran guided
inquiry dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
dengan rata-rata nilai gain yang dinormalisasi
sebesar 0,748 dan Penerapan model
pembelajaran interactive demonstration dapat
meningkatkan prestasi belajar dengan rata-rata
nilai gain yang dinormalisasi sebesar 0,674. Model
pembelajaran guided inquiry secara signifikan
lebih dapat meningkatkan prestasi belajar fisika
siswa SMA dibandingkan dengan model
pembelajaran interactive demonstration dengan
taraf signifikansi 1%.
Referensi
[1] Depdiknas, Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan Sekolah Menengah Atas,
J akarta: Depdiknas, (2006).
[2] Sukmadinata, NS., Metode Penelitian
Pendidikan. Bandung, PT Remaja
Rosdakarya, (2011).
[3] Mazdarwan.2011.Beberapa metode belajar
Fisika [online]. tersedia :
http://www.scribd.com/doc/77307110/Bebera
pa-Metode-Belajar-Fisika[12-05-2012
[4] Wenning, CJ . (2012). The Levels of Inquiry
model of Science Teaching. J ournal Of
Physics Teacher Education Online. [Online].
Tersedia : http://www.phy.ilstru.edu/jpteo [17-
05-2012]
[5] Hipni,R. 2011. Pengertian prestasi belajar.
[online]. tersedia :
http://hipni.blogspot.com/2011/10/pengertian-
prestasi-belajar-definisi.html [30-0-2012]
[6] S. Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan, J akarta: Bumi Aksara, (2012).
[7] Hake, RR. (2002). Relationship of Individual
Student Normalized Learning Gains in
Mechanic with Gender, High-School Physics,
and Pretest Scores on Mathematics and
Spatial Visualization. [Online] Tersedia:
http://www.physics.indiana.edu/~hake/PERC2
002h-Hake.pdf [21-05-2012]
[8] Margono, S., Metodologi Penelitian
Pendidikan, J akarta : PT. Rineka Cipta,
(2004).



Khumaedah Khasanah*
Fakultas Pendidikan Matematikan dan IPA
Universitas Pendidikan Indonesia
uum_kk@yahoo.co.id

Parlindungan Sinaga
Fakultas Pendidikan Matematikan dan IPA
Universitas Pendidikan Indonesia

Dedi Sasmita
Fakultas Pendidikan Matematikan dan IPA
Universitas Pendidikan Indonesia

*Corresponding author




Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 142
Physics Modeling for Medical Purposes: Molecular Dynamics
Simulation on Malaria-Infected Blood Flow in 2-D Channel
Luman Haris
*
, Siti Nurul Khotimah, Freddy Haryanto, dan Sparisoma Viridi


Abstract
Physics modeling has been widely used in many fields including biophysics. It utilizes numerical method and
physics law to mimic the original system. It has benefits as well as unique features that differ with the case.
This work uses malaria blood flow as study case to explain the step of physics modeling in which molecular
dynamics was used. Through two dimensional physics model, initial orientation angle and initial vertical
position dependence was found. There was also an indication that the cluster had the tendency to rotate as
a response to the obstructed channel. Final angle of 0
0
and 180
0
are favorable for unhindered cluster.
Kata-kata kunci: physics modeling, real system, model, unique features.
Introduction
Physics modeling has been widely used in
medical field to discover new features of some
existing medical tools and diseases [1-3]. It utilizes
numerical methods as its governing mechanism.
Physics modeling can be used to simulate a
condition that is otherwise difficult to achieve.
Physics model can also simplify sophisticated
medical system through analogy and assumptions.
Aside from these benefits, there are also some
features of the model itself although it is also
depends on the case. This work aims to explain
the step needed to create and utilize physics
model for medical purposes. Malaria blood flow
simulation using molecular dynamics technique will
be used as study case. The focus would be the
unique features generated by physics model of
malaria blood flow.
Methods
The first step in physics modeling is assessing
the real system behavior. The understanding of its
mechanism must be grasped in order to reanimate
it in physics point of view. In this case, we have to
assess blood flow mechanism within capillary
vessel due to malaria. This mechanism is
illustrated in figure 1.

Figure 1. Biological model of malaria blood flow [4].
This model involves several hematocrites;
erythrocyte, leukocyte, and platelet, both normal
and infected. The flow is interrupted due to the
clumping formed by blood cell interaction resulting
in capillary clogging and rupture. This interaction is
caused by the protein expressed on the blood cell
surface, enabling it to bind the other blood cells.
Further readings on malaria can be obtained in
some parasitology literatures [4-7].
There are several things that must be noted.
First, the objects can be classified into two groups
which are normal and infected. Second, the
expressed proteins on the blood cell surface
enable them to bind the surrounding blood cells.
Third, protein also exists on endothelial cell, a. k. a
capillary wall, enabling the wall to bind blood cells.
Having assessed the involved objects and the
phenomenon, it is high time to construct the
corresponding physics analogy. The goal is to
transform the previous model, shown in figure 1,
into a much simpler physics model. First, blood cell
geometry is simplified into perfect sphere called
grains. Then, proteins are represented as charge
that is uniformly spreading inside or outside the
grain. Hence, allowing the grain to interact with the
other grains forming clumping. The different value
of charge will determine the interaction types.
Malaria infection only affects erythrocyte and
platelet; therefore, the model can be further
simplified resulting in figure 2. Moreover, the wall
can also be represented by two charged plates in
order to simplify the calculation that is encountered
in the previously created model where the wall is
considered as considerably large sphere [8].

Figure 2. Physics model created based on
biological model. It also shows all of the possible
interactions between blood cells. E, T, Tz, and S
represent erythrocyte, platelet, Trophozoite, and
Schizont respectively.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 143
Once physics model has been constructed, it
is time to set parameters and numerical method
along with its governing equations. Currently, there
are not any literatures that are able to point out the
exact value of infected blood cells parameters.
However, their value, relative to normal
erythrocytes, can be approximated; giving a certain
degree of freedom in determining the value. They
have been given in the previous paper [8, 9]. Since
we will be using molecular dynamics method to
determine the blood cells movement, we have to
determine the corresponding physics law to mimic
the real system mechanism. In accordance with
the previously created model, it is easier just to use
electrostatic force or Coulomb force to mimic the
interactions between blood cells, and Stokes force
to mimic plasma flow within the channel. There is
also normal force that is used for numerical
purposes. By applying Newtons 2
nd
law of motion,
acceleration may be obtained which will be
integrated numerically to acquire the grains next
position. In this work, Euler method will be used as
the numerical integration method. The molecular
dynamics numerical algorithm, both forces
formulation and Euler method formulation, can be
seen in the previous paper [9].
The last step in physics modeling is
recognizing the unique features of the proposed
model. Simulation must be carried out to obtain
these features. In this work, two dimensions
simulation had been done using simplified form of
three dimensions model depicted in figure 2.
Furthermore, four grains and two interactions will
be involved in it. The illustration is provided within
figure 3. The scheme involves a pair of grains
resembling rosetting interaction which will be called
grain binary afterward, and two schizonts that is
bound to the wall resembling cytoadherence
interaction. The initial position of all of the grains
are given exactly as shown in figure 3. The binary
grain center of mass will be varied vertically (y)
between 0.175 h and 0.825 h where the value of h
can be anything. In this work, h is given value of 2.
On the contrary, the position of both schizonts is
fixed during the simulation.

Figure 3. Two dimensions simulation scheme for
recognizing the model features. Red grain, purple
grain, and blue grains are normal erythrocyte,
trophozoite stadium erythrocyte, and schizont
stadium erythrocytes respectively.
There is one quantity that is of note; binary
angle . Rotation unexpectedly appeared as
torque is not considered in the governing laws.
Hence, it is advisable to check its relation with the
other quantities. In this work, the relation between
binary angle and vertical position will be
considered. The simulation will be carried out over
1000 with five variations of grain binary vertical
position and 19 angle variations from 0 to 180 .
The binary angle is defined according to the
illustration in figure 4.

Figure 4. Binary angle definition.
All of the necessary parameters can be seen in
the undergraduate thesis [10].
Result and Discussion
The results of the simulation are given in
figure 5. They show the dependency between
binary angle and vertical position (y). If both
quantities are independent of each other, the result
would be exactly the same. Although some binary
angles appears to give out the same result for
each variations of binary vertical position, the
overall result shows that these quantities are
dependent of each other.

(a)
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 144

(b)

(c)

(d)

(e)
Figure 5. Binary angle changes at (a) y
0
=0.5 h,
(b) y
0
=0.575 h, (c) y
0
=0.65 h, (d) y
0
=0.725 h,
and (e) y
0
=0.8 h. Schizonts charge (q) =0.
It is also shown in figure 6 (emphasizing the
phenomenon shown also in figure 5) that the
binary angle tends to change to a certain value
before saturating.

Figure 6. Binary angle changes over t =1000. It
shows that binary angle fluctuates and saturated
for t >100.
Supporting this finding, some visualizations have
been made as qualitative proofs. They are
narrowed down to show only 0
0
, 50 , and 80 .
The result in figure 6 will be simplified into that in
figure 7 while the visualizations themselves will be
provided in figure 8.

Figure 7. Reduced result of binary changes to only
0 (red), 50 (green), and 80 (blue).

Figure 8. From left collumn to right collumn, binary
changes for initial binary angle
0
0 , 50 , and
80 respectively.
They are taken at different time scale with
simulation time due to technical limitation. The
visualizations for 0
0
are taken (upper to
lower) at t=0, t=4, t=8, and t=11, 50
0
are taken
at t=0, t=5, t=7, and t=34, while 80
0
are taken
at t=0, t=3, t=7, and t=34.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 145
Conclusion
Physics model has been made for malaria
blood flow case. It exhibits two unique features
such as binary angle and vertical position
dependency and grain binary tendency to rotate to
get through obstructed channel. It is also found
that final binary angles 0 and 180 are favorable to
pass through it.
Acknowledgement
The authors would like to give the utmost
thanks to Simposium Nasional Inovasi dan
Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013) and
FMIPA for the opportunity to present this paper as
well as to Riset dan Inovasi KK ITB with contract
no. 241/I.1.C01/PL/2013 for supporting this work.
References
[1] Guang-Mao, L., et al., "Numerical Simulation
of LVAD Inflow Cannulas with Different Tip",
International J ournal of Chemical Engineering
(1687806X), 1-8, (2012).
[2] Liu, Y., et al., "Numerical investigations of
MRI RF field induced heating for external
fixation devices", BioMedical Engineering
OnLine, 12(1), 1-14 (2013).
[3] Park, Y., et al., "Refractive index maps and
membrane dynamics of human red blood
cells parasitized by Plasmodium falciparum",
Proceedings of the National Academy of
Sciences, 105(37): p. 13730-13735, (2008).
[4] Dhangadamajhi, G., S.K. Kar, and M. Ranjit,
"The Survival Strategies of Malaria Parasite in
the Red Blood Cell and Host Cell
Polymorphisms", Malaria Research and
Treatment, 9, (2010).
[5] Gilles, H.M. and D.A., "Warrell, Bruce-
Chwatt's Essential Malariology. An Arnold
Publication Series", Hodder Arnold. 12-44,
(1999).
[6] J ohn, D.T., et al., "Markell And Voge's
Medical Parasitology", Saunders Elsevier.
102-112, (2006).
[7] Schofield, L. and G.E. Grau, "Immunological
processes in malaria pathogenesis", Nat Rev
Immunol, 5(9), 722-735, (2005).
[8] Haris, L., et al., "Two-Dimensional Coulomb
Model of Capillary Vessel in the Case of
Cerebral Malaria Using Molecular Dynamics",
12th AOCMP and 10th SEACOMP
Proceedings, The Convergence of Imaging
and Therapy,12, 170-172, (2012).
[9] Haris, L., S. Viridi, and S.N. Khotimah,
Formulasi Interaksi antara Eritrosit dan
Trombosit pada Peristiwa Malaria Serebral
menggunakan Metode Dinamika Molekular.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi
Pembelajaran dan Sains 2012, (2012).
[10] Haris, L., Molecular Dynamics Simulation in
Determining Clogging Probability within
Capillary Vessel due to Cerebral Malaria, in
Physics Department, Institut Teknologi
Bandung: Bandung, 98, (2013)

Luman Haris*
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
ignlumen@gmail.com

Siti Nurul Khotimah
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
nurul@fi.itb.ac.id
Freddy Haryanto
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
freddy@fi.itb.ac.id
Sparisoma Viridi
Nuclear Physics and Biophysis Research Division
Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id
* Penulis korespondensi



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 146
Sintesis Nanopartikel Ekstrak Temulawak Berbasis Polimer Kitosan-TPP
dengan Metode Emulsi
Mersi Kurniati*, Tyas Wulandary, Laksmi Ambarsari dan Latifah K Darusman

Abstrak
Telah dilakukan penyalutan ekstrak temulawak dengan mengunakan kitosan. Penyalutan dengan
menggunakan partikel nano dapat mengoptimalisasi penyerapan ekstrak temulawak dalam mencapai target.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk pembuatan nanopartikel ekstrak temulawak adalah emulsi
dengan perlakuan sonikasi menggunakan ultrasonics processor (Cole-Parmer 20 kHz 130 watt). Penelitian
ini menggunakan variasi konsentrasi TPP (0,5% dan 1%) dan waktu sonikasi (30 menit dan 60 menit). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada penambahan 0,5% TPP dengan waktu sonikasi 30 menit menghasilkan
ukuran partikel sebesar 430 nm hingga 2900 nm dan untuk waktu sonikasi selama 60 menit sebesar 422 nm
hingga 4700 nm, sedangkan pada konsentrasi TPP 1% dengan waktu sonikasi 30 menit ukuran partikel
yang dihasilkan adalah 444 nm hingga 4200 nm dan untuk waktu sonikasi selama 60 menit sebesar 418 nm
hingga 2300 nm. Hasil menggunakan SEM memperlihatkan bahwa partikel yang dihasilkan berupa bulatan
menyerupai bola dan berkerut, hasil analisis XRD menunjukkan adanya struktur amorf, dan keberadaan
ekstrak temulawak dalam penyalut dapat diketahui berdasarkan hasil FTIR. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa sampel dengan konsentrasi TPP 1% dengan waktu sonikasi 60 menit, menunjukkan
hasil yang terbaik berdasarkan ukuran, kehomogenan, dan keberadaan ekstrak temulawak dalam penyalut
kitosan.
Kata-kata kunci: sonikasi, temulawak, kitosan, TPP
Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara
megabiodiversitas terbesar di dunia dan juga
dikenal sebagai gudangnya tumbuhan obat
(herbal). Salah satu tanaman herbal yang dapat
dimanfaatkan dalam teknologi nanobiomedis
adalah temulawak. Ekstrak temulawak diketahui
memiliki khasiat sebagai antibakteri [1], antijamur
[2], dan antioksidan [3]. Akan tetapi, konsumsi
ekstrak temulawak secara oral dapat mengurangi
efisiensi penyerapan oleh tubuh disebabkan
hilangnya sebagian senyawa aktif ekstrak
temulawak akibat proses pencernaan. Salah satu
upaya yang telah dikembangkan untuk mengatasi
permasalahan tersebut adalah penyalutan dengan
metode enkapulasi. Enkapsulasi dengan
menggunakan partikel nano menyebabkan ekstrak
mudah menyebar dalam darah dan lebih akurat
dalam mencapai target [4]. Salah satu penyalut
yang aman digunakan adalah kitosan yang
merupakan hasil ekstraksi limbah kulit hewan
golongan Crustacea [5].
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
kelarutan ekstrak temulawak dengan metode
nanoenkapsulasi sehingga diharapkan dapat
meningkatkan penyerapan dalam tubuh. Metode
ini merupaka modifikasi metode menurut Kim et al.
2006 yang diawali dengan pembuatan nanokitosan
kemudian nanokitosan dicampur ekstrak
temulawak dan selanjutnya disonikasi.

Teori
Perkembangan teknologi nanopartikel
semakin dinamis setelah diketahui bahwa sistem
nanopartikel sangat bermanfaat dalam bidang
medis [6] telah membuktikan bahwa nanosuspensi
Cuscuta chinensis yang merupakan herbal
tradisional Cina dapat mengurangi resiko
hepatotoksisitas secara signifikan pada tikus akibat
konsumsi asetaminofen.
Metode yang umum digunakan dalam
pembuatan nanopartikel adalah atrisi dan pirolisis.
Metode lain yang berkembang yaitu metode
sonokimia dengan memanfaatkan gelombang
ultrasonik. Penggunaan gelombang ultrasonik
diyakini dapat menghasilkan material mikro/nano
dengan dispersi yang seragam [7] dengan metode
emulsifikasi jika dibandingkan penggunaan
magnetik stirer yang hanya menghasilkan
mikrosfer.
Enkapsulasi dalam ukuran kecil memiliki
keuntungan, antara lain melindungi senyawa dari
penguraian dan mengendalikan pelepasan
senyawa aktif, misalnya obat. Pelepasan obat
terkendali dilakukan agar penggunaan obat lebih
efisien, untuk memperkecil efek samping, serta
untuk mengurangi frekuensi penggunaan [8].
Senyawa aktif yang dienkapsulasi umumnya yang
mudah bereaksi dengan senyawa lain atau
cenderung tidak stabil, atau memiliki waktu paruh
eliminasi yang singkat. Polimer yang bisa
digunakan pada proses enkapsulasi suatu
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 147
senyawa aktif adalah yang bersifat kompatibel dan
biodegradabel. Polimer yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kitosan [9].
Semakin lama waktu pemberian gelombang
ultrasonik pada suatu larutan, proses terpotongnya
rantai kimiawi bahan juga terus berjalan.
Degradasi ultrasonik tercepat terjadi pada polimer
dengan molekul terbesar [10]. Semakin lama
proses sonikasi ini akan menyamaratakan energi
yang diterima partikel diseluruh bagian sisi larutan,
sehingga ukuran partikel semakin homogen.
Hasil dan Diskusi
Metode penelitian dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut: ekstraksi temulawak, pembuatan
nanopartikel kitosan [11], pembuatan nanopartikel
temulawak [3] dan terakhir karakterisasi XRD,
SEM dan FTIR. Ekstrak temulawak dengan alkohol
70%, kitosan dengan derajat deasetilasi 80,45%
dan bobot molekul 800 kD. Variasi waktu sonikasi
dan konsentrasi TPP diberikan seperti pada Tabel
1.
Tabel 1. Pengkodean sampel.
Kode
sampel
TPP(%)
Waktu
(menit)
A1 0.5 30
A2 0.5 60
A3 1.0 30
A4 1.0 60
Penambahan tripolifosfat (TPP) bertujuan untuk
membentuk ikatan silang ionik antara molekul
kitosan sehingga dapat digunakan sebagai bahan
penjerap [12].
Hasil XRD (Gambar 1), menunjukkan
keempat sampel bersifat amorf karena terdapat
pola difraksi dengan puncak 21,04 pada sampel
A1; 20,62 pada sampel A2; 20,14 pada sampel
A3; dan 19,48 pada sampel A4. Hal tersebut
bersesuaian dengan data kitosan dan kurkumin
dalam J CPDS. Pergeseran puncak yang terlihat
pada keempat sampel menunjukkan bahwa
keempat sampel telah mengalami perubahan
struktur kristal menjadi bentuk amorf. Nilai derajat
kristalinitas yang diperoleh untuk sampel A1
25,99%; sampel A2 25,99%; sampel A3 26,50%;
dan sampel A4 29,34%. Besarnya nilai derajat
kristalinitas bertambah besar seiring dengan
banyaknya konsentrasi TPP dan lamanya waktu
sonikasi



2 theta
Gambar 1. Pola XRD nanopartikel temulawak.


A1

A2

A3

A4
Gambar 2. Morfologi SEM.
Pada Gambar 2 terlihat bahwa sampel A4
menghasilkan ukuran partikel yang paling kecil dan
distribusi ukuran partikelnya lebih homogen
dibandingkan dengan kode sampel A1, A2, dan A3.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 148
Kerutan pada partikel semakin berkurang dengan
bertambahnya TPP dan waktu sonikasi.
Perbedaan ukuran yang diperoleh memperlihatkan
bahwa penambahan TPP dan waktu sonikasi
cenderung mempengaruhi ukuran partikel dan
meningkatkan kehomogenan ukurannya. Distribusi
ukuran partikel dilakukan dengan PSA. Tabel 2
menunjukkan distribusi ukuran partikel pada
keempat sampel.
Tabel 2. Distribusi ukuran partikel.
Kode
sampel
Diameter
(nm)
A1 430 - 2900
A2 422 - 4700
A3 444- 4200
A4 418 - 2300
Karakterisasi FTIR dalam penelitian ini
digunakan untuk mengetahui keberadaan ekstrak
temulawak yang disalut oleh kitosan.
Hasil FTIR yang diperoleh (Gambar 3),
menunjukkan bahwa keempat sampel terdapat
gugus fungsi hidroksil pada bilangan gelombang
masing-masing 3350,62 cm
-1
; 3370,05 cm
-1
;
3341,62 cm
-1
; dan 3378,00 cm
-1
. Gugus fungsi
amida pada penelitian ini muncul dalam bilangan
gelombang 1567,15 cm
-1
pada sampel A1; 1564,70
cm
-1
pada sampel A2; 1557,33 cm
-1
pada sampel
A3; dan 1559,86 cm
-1
pada sampel A4. Gugus
fungsi khas yang dimiliki kurkumin seperti C=O,
C=C, C-O, dan C-H tekuk juga terdapat pada
keempat sampel. Terjadi sedikit perubahan
bilangan gelombang dari keempat sampel, hal ini
menunjukkan adanya interaksi kembali antar
gugus fungsi akibat penambahan TPP dan waktu
sonikasi.

4000.0 3600 3200 2800 2400 2000 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 450.0
-1.0
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17.4
%T
Laboratory Test Result
Kitosan 2%+TPP 1%+temulawak 5% (30 mnt)
Kitosan 2%+TPP 0.5%+temulawak 5% (30mnt)
Kitosan 2%+TPP 0.5%+temulawak 5% (60mnt)
Kitosan 2%+TPP 1%+temulawak 5% (60mnt)


Gambar 3. Pola spektra FTIR sampel A1, A2, A3,
A4
Kesimpulan
Kelarutan ekstrak temulawak meningkat
dengan penambahan kitosan-TPP. Konsentrasi
TPP 1% dan waktu sonikasi 60 menit
menunjukkan hasil yang lebih baik dengan ukuran
418 nm hingga 2300 nm . Hasil XRD menunjukkan
pola kristalografi dengan struktur amorf, morfologi
SEM menunjukkan partikel berbentuk bola dan
berkerut. Hal ini menyatakan bahwa temulawak
belum tersalut optimal oleh kitosan-TPP. Spektrum
FTIR memperlihatkan munculnya gugus fungsi
temulawak dan kitosan.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Hibah Penelitian Unggulan IPB atas dukungan
finansial pada penelitian ini.
Referensi
[1] Rukayadi Y, Hwang J K., In vitro activity of
xanthorrhizol against Streptococcus mutans
biofilms, Journal Compilation The Society for
Appl. Microbiol. 42:400404, (2006).
[2] Rukayadi Y, Hwang J K., In vitro antimycotic
activity of xanthorrhizol isolated from
Curcuma xanthorrhiza Roxb. against
opportunistic filamentous fungi, Phytother.
Res. 21: 434438, (2007).
[3] Lim et al., Antioxidant and antiinflammatory
activities of xanthorrhizol in hippocampal
neurons and primary cultured microglia, J. of
Neurosci. Res. 82:831838, (2005).
[4] Poulain N, Nakache E., Nanoparticles from
vesicles polymerization II. evaluation of their
encapsulation capacity, J. Polym. Sci. 36:
30353043, (1998).
[5] Hu Z, Chan WL, Szeto YS., Nanocomposite
of chitosan and silver oxide and its
antibacterial property, J Appl Polym Sci. 108:
5256, (2007).
[6] Yen FL, Wu TH, Lin LT, Cham TM, Lin CC.,
Nanoparticles formulation of Cuscuta
chinensis prevents acetaminophen-induced
hepatotoxicity in rats, Food and Chem Tox.
46:17711777, (2008).
[7] Hielscher, T. Ultrasonic Production of Nano-
Size Dispersions and Emulsions, dalam:
Proceedings of European Nanosystems
Conference ENS05., (2005).
[8] Babtsov et al. penemu; Tagra
Biotechnologies Ltd. 30 Sept 2002. Method of
microencapsulation. US patent 6 932 984.
[9] UI-Ain Q, Sharma S, Khuller GK, Garg SK.,
Alginate-based oral drug delivery system for
tuberculosis pharmakokinetics and
therapeutics effects, (2003).
[10] J in Li, J un Cai, Lihong Fan. Effect of
Sonolysis on Kinetics and Physicochemical
Properties of Treated Chitosan, Journal of
Applied Polymer Science, 109, 2417-2425
Aristoteles Rancha, diskusi, 17 May 2013,
(2008).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 149
[11] M. Kurniati, AL. Kencana, J ajang J , A.
Maddu, Chitosan against sonication
treatment. viscosity and molecular weight
chitosan, Prosiding. Seminar Nasional Sains
II : 293-301, (2010).
[12] Mi FL, Shyu SS, Lee ST, Wong TB., Kinetic
study of chitosan-tripolyphosphate complex
reaction and acid-resistive properties of the
chitosan-tripolyphosphate gel beads prepared
by in-liquid curing method, J Polym Sci.
37:1551-1564, (1999).

Mersi Kurniati*
Biophysics Division
Institut Pertanian Bogor
mersi_kurniati@yahoo.com
Tyas Wulandary
Department of Physics
Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Institut Pertanian Bogor
Laksmi Ambarsari
Department of Biochemistry
Faculty of Mathematics and Natural Sciences
Institut Pertanian Bogor
Latifah K Darusman
Pusat Studi Biofarmaka
Institut Pertanian Bogor

*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 150
Pengaruh Doping Fe pada Oksida Kobalt Perovskit Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
Millaty Mustaqima, Inge Magdalena Sutjahja*, Febry Berthalita,
Daniel Kurnia, Agustinus Agung Nugroho

Abstrak
Oksida kobalt perovskit berbentuk polikristalin dengan komposisi senyawa Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
dan Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
telah berhasil disintesis dengan metode reaksi padatan (solid-state reaction). Kondisi
preparasi senyawa adalah tekanan atmosfer dan dua kali proses pemanasan, yaitu pada temperatur 1000
0
C
dan 1100
0
C masing-masing selama 10 jam dan 20 jam yang disertai dengan penggerusan berulang.
Karakterisasi struktur dilakukan melalui pengukuran XRD dan analisis datanya menggunakan program
Rietica for Windows version 1.7.7. Hasil refinement menunjukkan bahwa material ini mempunyai stuktur
tetragonal dengan space group I4/mmm dengan konstanta kisi untuk Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
adalah a = 7,689
dan c = 15,33 ; sedangkan untuk Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
adalah a = 7,680 dan c = 15,30 .
Karakterisasi sifat elektrik material dilakukan dengan cara pengukuran resistivitas terhadap temperatur
dengan metoda 4-titik (4-point probe). Sistem pengukuran menggunakan closed-cycle refrigerator cryogenic
dengan pendinginan gas Helium dan program LabView untuk automatisasi pengumpulan data. Analisa data
menunjukkan bahwa senyawa doping Fe memiliki nilai hambatan jenis (resistivitas) yang lebih tinggi
dibandingkan dengan senyawa asalnya. Di sisi lain, doping Fe memberikan pengaruh pada pelebaran
daerah hopping konduksi menurut model Variable Range Hopping (VRH) 3D.
Kata-kata kunci: perovskit, ferromagnetik, temperatur Curie, resistivitas, metoda 4-titik, VRH, XRD
Pendahuluan
Oksida metal transisi dengan struktur
perovskit menunjukkan fenomena yang menarik
dan berragam. Salah satu di antaranya yaitu
perovskit berbasis ion kobalt (Co) yang
menunjukkan fenomena trasisi keadaan spin pada
sistem LnCoO
3
[1], ferromagnetik temperatur ruang
pada sistem Sr
1-x
Y
x
CoO
3
[2-4], serta giant
termoelektrik pada sistem Bi
2
Sr
2
Co
2
O
8
[5].
Oksida Sr
x
Ln
1-x
CoO
3-o
(Ln = Y atau ion
lantanida/tanah jarang baris pertama) merupakan
sistem perovskit tunggal ABO
3
yang ditemukan
oleh Withers [6] dan Istomin [7] secara terpisah. Di
antara elemen tanah jarang lainnya, yttrium
banyak digunakan sebagai doping pada oksida
perovskit kobalt, Sr
x
Y
1-x
CoO
3-o
(Ln=Y) karena
menunjukkan sifat transport, magnetik, dan
struktur yang menarik. Dalam kondisi ambient,
sistem Sr
x
Y
1-x
CoO
3-o
dapat disintesis hingga level
x~0,4. Kobayashi et al [2] melaporkan bahwa
sampel Sr
x
Y
1-x
CoO
3-o
dalam rentang 0,2x0,25
merupakan ferromagnetik bulk pada temperatur
ruang, dengan transisi ferromagnetik-paramagnetik
pada nilai temperatur Curie T
C
= 335 K yang
merupakan nilai temperatur transisi paling tinggi di
antara oksida perovskit kobalt lainnya. Selain itu
dilaporkan pula oleh peneliti yang sama bahwa
sampel dengan x=0,225 menunjukkan magnetisasi
yang paling besar di antara sampel dengan
rentang 0,2x0,25 yaitu mencapai nilai 0.25

B
/Co pada suhu 10 K.
Selain mempengaruhi sifat kemagnetan,
kadar oksigen dalam sampel (nilai o) juga diketahui
sangat berpengaruh pada sifat kelistrikan sistem,
yaitu dari sifat insulator-semikonduktor [2,4]
sampai dengan konduktor [3]. Dengan demikian,
sistem Sr
1-x
Y
x
CoO
3-o
ini merupakan salah satu
sistem yang menjanjikan aplikasi penting untuk
divais spintronik di masa mendatang,
menggantikan devais elektronik yang memiliki
beberapa kekurangan [8]. Pada presentasi ini
dilaporkan hasil kajian doping Fe pada Co untuk
sampel polikristalin Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o,
untuk
mempelajari efek sifat kelistrikan yang
dihasilkannya.
Eksperimen
Sampel polikristalin Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
dan
Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
disintesis dengan
metode reaksi padatan (solid-state reaction).
Starting material yang digunakan adalah SrCO
3
,
Y
2
O
3
, Co
3
O
4
,

dan Fe
2
O
3
.

Sebagai langkah awal,
bahan-bahan SrCO
3
, Y
2
O
3
, Co
3
O
4
,

dan Fe
2
O
3
masing-masing dipanaskan pada temperatur
400
0
C secara terpisah untuk menghilangkan uap
air. Kemudian bahan-bahan tersebut ditimbang
sesuai dengan komposisi stiokiometrinya,
dicampur dan digerus selama 3 jam. Pemanasan
sampel terdiri dari dua tahap yaitu kalsinasi pada
temperatur 1000
0
C selama 10 jam dan sintering
pada temperatur 1100
0
C selama 20 jam, masing-
masing dilakukan dalam furnace chamber di
atmosfer udara biasa dan proses pendinginan di
dalam furnace. Sebelum masing-masing proses
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 151
pemanasan, sampel dicetak menjadi pelet pada
tekanan tinggi yaitu sekitar 5 ton untuk
meningkatkan proses difusi partikel. Diantara
kedua proses pemanasan tersebut juga dilakukan
penggerusan ulang selama 3 jam untuk
meningkatkan homogenitas sampel.
Sampel dalam bentuk powder dikarakterisasi
X-ray diffraction (XRD) pada rentang 2 = 10
0

100
0
untuk diketahui strukturnya menggunakan
sumber radiasi Cu K dari mesin Philips. Hasil
XRD dianalisis berdasarkan hasil refinement data
menggunakan program Rietica for Windows
version 1.7.7.
Karakteristik sifat elektrik sampel dilakukan
dengan pengukuran resistivitas terhadap
temperatur pada rentang suhu 48-300 K
menggunakan metoda 4-titik (4-point probe)
seperti tampak pada Gambar 1(a). Pengukuran
resistivitas dilakukan menggunakan sistem closed-
cycle refrigerator cryogenic dengan pendinginan
gas Helium. Berbeda dengan sistem pengukuran
resistivitas konvensional yang lazim menggunakan
sumber arus DC, pada pengukuran ini digunakan
sumber arus AC yang dihasilkan dari sumber
tegangan AC dari Lock-in ((Lock-in Stanford
Research System Model SR830), dengan skema
yang ditunjukkan pada Gambar 1(b). Penggunaan
lock-in juga memberi keuntungan pada sensitivitas
respons yang dihasilkan, terutama untuk signal
respons yang kecil atau lemah. Pengumpulan data
dilakukan secara automatis menggunakan
program Labview versi 8.5.

Gambar 1. (a) metode 4-titik (4-point probe) untuk
pengukuran resistivitas dan (b) skema sistem
pengukuran.
Hasil dan Diskusi
Hasil karakterisasi XRD untuk sampel
Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
dan Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o

ditunjukkan oleh gambar 2.

Gambar 2. Pola XRD sampel polikristalin (a)
Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
dan (b)
Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
.
Selanjutnya hasil refinement data XRD
menggunakan program Rietica for Windows
version 1.7.7 ditampilkan pada Gambar 3 dan nilai-
nilai parameter kisi yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Dari data yang diperoleh terlihat bahwa nilai-nilai
parameter kisi tersebut berbeda dengan parameter
kisi sampel Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
yang dilakukan oleh
Kobayashi et al dan Balamurugan [2,4]. Selain itu,
kualitas fitting yang ditunjukkan oleh nilai-nilai
parameter Rp, Rwp, dan _ menunjukkan hasil
refinement yang belum terlalu baik atau adanya
impuritas/second phase pada sampel yang dikaji.

Gambar 3. Hasil refinement data XRD sampel a)
Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
dan (b) Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 152
Tabel 1: Parameter kisi dan kualitas fitting hasil
refinement data XRD
Parameter Tanpa doping
Fe
Dengan doping
Fe
a() 7,689 7,680
c() 15,33 15,30
Rp 19,46 19,31
Rwp 15,31 19,34
_ 0,0099 0,3103
Gambar 4 di bawah menunjukkan kurva I-V
untuk sampel Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
yang
diambil pada nilai temperature ruang dan
temperature 44 K. Dari gambar tersebut, untuk
nilai T = 44 K, daerah ohmik dibatasi oleh nilai arus
sekitar 0,2 mA.

Gambar 4. Kurva I-V sampel Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
pada a) temperatur ruang dan b)
T= 44 K.
Selanjutnya kebergantungan resistivitas
terhadap temperatur untuk kedua sampel
ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5. Kebergantungan resistivitas listrik, ,
terhadap temperatur.
Secara umum grafik resistivitas yang
diperoleh untuk sampel Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
serupa
dengan hasil yang dilaporkan oleh Kobayashi et al
dan Bulumurugan [2,4], namun dengan perbedaan
yang jelas pada besarnya nilai resistivitas.
Perbedaan nilai resistivitas ini disebabkan oleh
perbedaan parameter dan keadaan lingkungan
pada waktu sintesis sampel, atau secara lebih
detail pada kadar oksigen dari sampel yang dikaji.
Dari gambar tersebut terlihat pula bahwa
resistivitas kedua sampel secara umum memiliki
pola semikonduktor, dimana nilai resistivitas
menurun seiring dengan kenaikan temperatur.
Lebih jauh, nilai resistivitas sampel dengan doping
Fe lebih besar dibandingkan dengan parent
compound-nya untuk seluruh rentang nilai
temperatur pengukuran.
Data -T selanjutnya dianalisa berdasarkan
model Variable Range Hopping 3-dimensi (VRH 3-
D) dari Mott [9],

1
4
0
0
exp
T
T

| |
=
|
\ .
(1)
dimana adalah resistivitas sampel, T adalah
temperatur,
0
dan T
0
adalah suatu konstanta.
Hasil fitting model tersebut pada data eksperimen
ditampilkan pada Gambar 6.

Gambar 6. Kurva ln vs T
-1/4
yang menunjukkan
hasil fitting data -T menggunakan model (VRH 3-
D).
Berdasarkan kelinearan kurva ln () terhadap
T
-1/4
, model VRH 3D dapat dipenuhi pada rentang
temperatur 80T300 K untuk sampel
Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
. Sedangkan untuk sampel
Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
, model VRH dipenuhi
pada rentang yang lebih besar, yaitu 50T300 K.
Hasil ini menunjukkan bahwa hopping konduksi
dominan terjadi pada rentang temperatur tertentu
yang berbeda untuk kedua sampel. Selain itu,
nilai-nilai konstanta
0
dan T
0
masing-masing
adalah 1,1710
-8
Ohm.cm dan 1,910
7
K untuk
sampel parent compound serta 4,7710
-8
Ohm.cm
dan 1,5510
7
K untuk sampel dengan doping Fe.


Kesimpulan
Sampel Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
dan Sr
0.775
Y
0.225
(Co
0.9
Fe
0.1
)O
3-o
telah berhasil disintesis
menggunakan metode reaksi padatan. Hasil XRD
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 153
menunjukkan bahwa adanya doping Fe tidak
mengubah struktur parent compound Sr
0.775
Y
0.225
CoO
3-o
yaitu tetragonal dengan grup ruang
I4/mmm. Dari hasil pengukuran resisitivitas,
ditunjukkan bahwa kedua sampel memiliki pola
semikonduktor. Adanya doping Fe dapat
memperluas daerah hopping konduksi 3D.
Ucapan terima kasih
Penelitian ini didanai oleh Science and
Technology Research Grant dari Indonesia Toray
Science Foundation (ITSF) 2013 dan Program
Penelitian Riset dan Inovasi KK ITB 2013 dengan
nomor kontrak: 229/I.1.C01/PL/2013.
Referensi
[1] J. Q. Yan,J.S. Zhou, and J.B. Goodenough,
Bondlength fluctuations and the spin-state
transition in LCoO
3
(L = La, Pr, and Nd)
Phys. Rev. B 69, 134409 (2004).
[2] W. Kobayashi, S. Ishiwata, I. Terasaki, M.
Takano, I Grigoraviciute, H. Yamauchi, and M.
Karppinen, Room-temperature
ferromagnetism in Sr
1-x
Y
x
CoO
3-o
, Physical
Review B 72, 104408 (2005).
[3] S. Balamurugan and E. Takayama-
Muromachi, Structural and magnetic
properties of high-pressure/high-temperature
synthesized in (Sr
1-x
R
x
)CoO
3
(R= Y and Ho)
perovskites, Journal of Solid State Chemistry
179, 2231-2236 (2006)
[4] S. Bulumurugan, Physical-properties of
oxygen-deficient Co-based perovskites:
Co(Sr
1-x
Y
x
)O
3-o
(0.05x0.4)
[5] R. Funahashi. & M. Shikano, Bi
2
Sr
2
Co
2
O
y

Whiskers with High Thermoelectric Figure of
Merit, Appl. Phys. Lett., 81, 1459-1461
(2002).
[6] L. Withers, M. James, and D. J. Goosens, J.
Solid State Chem. 174, 198 (2003); M. James,
D. Cassidy, D. J. Goosens, and R. L. Withers,
J. Solid State Chem. 177, 1886 (2004).
[7] S. Ya. Istomin, J. Grins, G. Svensson, O. A.
Drozhzhin, V. L. Kozhevnikov, E. V. Antipov,
and J. P. Attfield, Chem. Mater. 15, 4012
(2003); S. Ya. Istomin, O. A. Drozhzhin, G.
Svensson, and E. V. Antipov, Solid State Sci.
6, 539 (2004).
[8] S. A. Wolf D. D. Awschalom,R. A. Buhrman, J.
M. Daughton, S. von Molnr, M. L. Roukes, A.
Y. Chtchelkanova, D. M. Treger, Spintronics:
A Spin-Based Electronics Vision for the
Future, Science Vol. 294 no. 5546 pp. 1488-
1495, 16 November 2001.
[9] Shklovskii B. I. and A. L. Efros, Electronic
properties of doped semiconductors, Springer
(1984).


Millaty Mustaqima
Program Studi Fisika
Institut Teknologi Bandung
millaty.mustaqima@gmail.com

Inge Magdalena Sutjahja*
KK Fisika Magnetik dan Fotonik
Institut Teknologi Bandung
inge@fi.itb.ac.id

Febry Berthalita
KK Fisika Magnetik dan Fotonik
Institut Teknologi Bandung
etha_lita@yahoo.com

Daniel Kurnia
KK Fisika Magnetik dan Fotonik
Institut Teknologi Bandung
daniel@fi.itb.ac.id

Agustinus Agung Nugroho
KK Fisika Magnetik dan Fotonik
Institut Teknologi Bandung
nugroho@fi.itb.ac.id
*Corresponding author




Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 154
Pengembangan Model Pembelajaran Fisika Berorientasi Kemampuan
Berargumentasi dan Pemahaman Konsep Calon Guru Fisika
Muslim*, Andi Suhandi dan Ida Kaniawati

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak penerapan model pembelajaran fisika terhadap peningkatan
kemampuan berargumentasi dan pemahaman konsep calon guru fisika. Penelitian dilakukan menggunakan
desain penelitian dan pengembangan (R & D) Metode penelitian menggunakan kuasi eksperimen dengan
desain pretest-postest control group. Subyek penelitian adalah mahasiswa jurusan pendidikan fisika pada
salah satu LPTK di Bandung sebanyak 50 orang. Data kemampuan berargumentasi dan pemahaman
konsep dijaring melalui tes. Data dianalisis menggunakan gain yang dinormalisasi dan uji statistik. Hasil
penelitian menunjukkan rerata skor gain yang dinormalisasi kemampuan berargumentasi dan pemahaman
konsep mahasiswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol.Uji beda rerata
skor gain yang dinormalisasi pada kemampuan berargumentasi dan pemahaman konsep melalui uji t
menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara peningkatan kemampuan berargumentasi maupun
pemahaman konsep pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Model pembelajaran fisika
yang telah dikembangkan lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berargumentasi dan pemahaman
konsep calon guru fisika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.
Kata-kata kunci: Model pembelajaran fisika, kemampuan berargumentasi, pemahaman konsep
Pendahuluan
Pendidikan memegang peran yang sangat
penting dalam proses peningkatan kualitas sumber
daya manusia. Guru merupakan salah satu kunci
utama dalam menggerakkan kemajuan dan
perkembangan dunia pendidikan. Agar proses
pembelajaran berhasil dan mutu pendidikan
meningkat, maka diperlukan guru yang
profesional. Sumedi (2009) mengungkapkan
bahwa pengembangan profesionalisme guru
diutamakan pada peningkatan kompetensi
keilmuan dan kompetensi pedagogis. Peningkatan
dua kompetensi guru tersebut dengan sendirinya
langsung maupun tidak langsung memberikan
kontribusi bagi peningkatan kualitas proses
pembelajaran dan mutu pendidikan. Untuk
mewujudkan guru yang profesional maka
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan
(LPTK) sebagai institusi pencetak calon guru
memiliki peran yang sangat strategis dalam
meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia
melalui peningkatan mutu calon guru, tak
terkecuali calon guru fisika yang
berkesinambungan.
Dalam kurikulum pendidikan fisika di LPTK,
mahasiswa dibekali salah satu mata kuliah
keahlian program studi yaitu fisika sekolah yang
bertujuan agar mampu menguasai struktur dan
materi fisika sekolah relevan dengan tuntutan
kompetensi dalam standar nasional pendidikan.
Fisika sekolah merupakan salah satu mata kuliah
penting dalam struktur kurikulum pendidikan fisika
di LPTK yang mampu menunjang kompetensi guru
fisika. Berdasarkan Permendiknas No. 16 tahun
2007 tentang standar kompetensi guru, maka
tuntutan kompetensi guru fisika, antara lain: (1)
memahami konsep-konsep, hukum-hukum, dan
teori-teori fisika serta penerapannya secara
fleksibel; (2) memahami proses berpikir fisika
dalam mempelajari proses dan gejala alam; (3)
Bernalar secara kualitatif maupun kuantitatif
tentang proses dan hukum fisika; (4) memahami
lingkup dan kedalaman fisika sekolah; (5) Kreatif
dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan
bidang ilmu fisika dan ilmu-ilmu yang terkait
(Depdiknas, 2007).
Berdasarkan studi pendahuluan terindikasi
bahwa hasil belajar mahasiswa ditinjau dari
kemampuan berargumentasi dan pemahaman
konsep pada perkuliahan fisika sekolah masih
rendah. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap
pelaksanaan perkuliahan fisika sekolah
menunjukkan bahwa pembelajaran cenderung
monoton, kurang menantang, dan tidak ada variasi
dalam mengembangkan pembelajaran. Strategi
pembelajaran yang diterapkan belum membekali
mahasiswa untuk memberdayakan kemampuan
berpikir khususnya kemampuan berargumentasi
dan tidak dilatih untuk aktif membangun konsep.
Fakta ini sejalan dengan temuan hasil penelitian
Xie & Mui So (2012) yang menyimpulkan bahwa
calon guru sains memiliki pemahaman terbatas
tentang argumentasi, dan kemampuan untuk
menyusun argumentasi ilmiah juga lemah.
Fakta berdasarkan hasil studi pendahuluan
dan hasil penelitian mengindikasikan perlunya
upaya pembenahan terhadap perkuliahan fisika
sekolah. Mahasiswa hendaknya diberi kesempatan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 155
menggali pemahaman, membangun argumentasi
ilmiah, dan mengembangkan kemampuan berpikir.
Osborne (2007) mengungkapkan bahwa arah
pendidikan sains untuk abad 21, diantaranya
adalah penekanan pada pengembangan
keterampilan berpikir termasuk kemampuan
berargumentasi. Oleh karena itu mengembangkan
kemampuan mahasiswa untuk memahami dan
mempraktekkan cara-cara berargumentasi dalam
konteks ilmiah melalui pembelajaran fisika menjadi
penting.
Kemampuan berargumentasi yaitu
kemampuan dalam memberikan alasan (data,
pembenaran, dukungan) untuk memperkuat atau
menolak suatu klaim (McNeill, Lizotte & Krajcik,
2006; Osborne, Erduran, & Simon, 2004). Toulmin
(Eduran & J imenez, 2008) mengajukan skema
yang menggambarkan struktur suatu argumentasi.
Langkah pertama dalam setiap argumentasi
menurut Toulmin adalah menyatakan suatu
pendirian (standpoint) berupa klaim. Selanjutnya,
klaim yang diajukan harus didukung oleh data.
Hubungan antara data dengan klaim dijembatani
oleh pembenaran (warrant). Pola argumentasi
Toulmin terdiri atas: data (data), klaim (claim),
pembenaran (warrant), dukungan (backing),
kualifikasi (qualifier) dan sanggahan (rebuttal).
Data merupakan fenomena yang digunakan
sebagai bukti untuk mendukung klaim. Klaim
adalah hasil dari nilai-nilai yang ditetapkan,
pendapat mengenai nilai situasi yang ada, dan
penegasan dari sudut pandang. Pembenaran
adalah aturan dan prinsip-prinsip yang
menjelaskan hubungan antara data dan klaim.
Dukungan adalah dasar asumsi yang melandasi
pembenaran tertentu. Kualifikasi adalah rentang
situasi tertentu di mana pernyataan akurat.
Sanggahan (rebuttal) adalah penolakan terhadap
argumen-argumen yang berbeda (Simon et al,
2006; Yan & Erduran, 2008; Eduran & J imenez,
2008).
Argumentasi merupakan komponen penting
dalam literasi ilmiah. Argumentasi yang digunakan
dalam pembelajaran sains tidak hanya dapat
meningkatkan keterampilan mahasiswa untuk kritis
dan melakukan investigasi ilmiah, tetapi juga
memberikan makna praktis dalam perkembangan
mahasiswa (Yan & Erduran, 2008). Kemampuan
berargumentasi yang dimilki memungkinkan
mahasiswa dapat mengembangkan pemahaman
konsep, karena dengan kemampuan
berargumentasi mahasiswa dapat mengkonstruksi
pengetahuan, dan memperdalam konsep-konsep
fisika sekolah sehingga melahirkan argumentasi
ilmiah yang merepresentasikan pemahaman.
Mencermati pentingnya mahasiswa calon
guru fisika memiliki kemampuan berargumentasi
dan pemahaman konsep, maka pada penelitian ini
dikembangkan model pembelajaran fisika
berorientasi kemampuan berargumentasi dan
pemahaman konsep (MPF-BKBPK) yang
diterapkan pada mata kuliah fisika sekolah. MPF-
BKBPK diadopsi dari model pembelajaran
pembangkit argumen (Sampson & Gerbino, 2010)
yang dapat digunakan guru atau dosen sains
untuk membangkitkan argumentasi ilmiah di kelas.
Sintaks MPF-BKBPK meliputi empat fase, yaitu:
identifikasi masalah, pembangkitan argumen
tentatif, sesi argumentasi, dan penulisan argumen.
Model ini dirancang untuk memberikan
kesempatan kepada mahasiswa mengemukakan
dan menguji suatu klaim dari permasalahan fisis
berdasarkan data-data yang telah dianalisis
sebagai bagian dari aktivitas kelompok.
Metode
Penelitian dilakukan menggunakan desain
penelitian dan pengembangan (R & D) melalui
langkah-langkah 4D: Define-Design-Develop-
Disseminate (Thiagarajan, et al., 1974). Pada
penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap
develop. Tahap define dilakukan dengan
menganalisis kebutuhan melalui studi
pendahuluan untuk memperoleh informasi terkait
dengan permasalahan pembelajaran fisika
sekolah. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
meliputi studi lapangan dan studi literatur. Tahap
design dilakukan dengan merancang perangkat
MPF-BKBPK. Tahap develop dilakukan dengan
mengembangkan produk MPF-BKBPK melalui
validasi ahli, uji coba terbatas dan uji coba luas.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kuasi eksperimen dengan desain pretest-
postest control group.
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa
calon guru fisika semester III tahun akademik
2012/2013 program studi pendidikan fisika salah
satu LPTK di Bandung sebanyak 50 orang yang
terbagi menjadi dua kelas, yaitu kelas eksperimen
yang menggunakan MPF-BKBPK sebanyak 26
orang dan kelas kontrol yang menggunakan
pembelajaran konvensional sebanyak 24 orang.
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini
adalah: (1) Tes untuk mengukur kemampuan
berargumentasi berbentuk uraian sebanyak 20
soal. Tes ini mencakup empat indikator unsur
kemampuan beragumentasi, yaitu: klaim, data,
pembenaran (warrant) dan dukungan (backing)
(Sampson & Gerbino, 2010); (2) Tes untuk
mengukur pemahaman konsep berbentuk pilihan
ganda sebanyak 50 soal. Tes ini mencakup tiga
indikator aspek pemahaman konsep, yaitu
interpretasi, komparasi, dan eksplanasi (Anderson
et al, 2001). Materi fisika sekolah yang yang
diujikan pada kedua tes mencakup lima topik, yaitu
kinematika, gerak melingkar, dinamika, optik
geometri, dan listrik dinamis.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 156
Efektivitas penerapan MPF-BKBPK
ditentukan berdasarkan perolehan rerata skor gain
yang dinormalisasi (<g>) antara kelas eksperimen
yang menggunakan MPF-BKBPK dan kelas kontrol
yang menggunakan pembelajaran konvensional
(Hake, 1998). Signifikansi peningkatan
kemampuan berargumentasi dan pemahaman
konsep diuji melalui uji beda dua rerata skor gain
yang dinormalisasi (<g>).
Hasil dan Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata
skor gain yang dinormalisasi (<g>) kemampuan
berargumentasi dan pemahaman konsep
mahasiswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dari
kelas kontrol masing-masing dengan selisih
sebesar 0,20 dan 0,25 seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Rerata Skor Gain yang
Dinormalisasi (<g>) Kemampuan Berargumentasi
dan Pemahaman Konsep antara Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol.

Distribusi skor gain yang dinormalisasi
peningkatan kemampuan berargumentasi dan
peningkatan pemahaman konsep mahasiswa, baik
pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol
berdistribusi normal dan variansnya homogen.
Hasil uji t menunjukkan terdapat perbedaan yang
signifikan antara peningkatan kemampuan
berargumentasi dan peningkatan pemahaman
konsep untuk mahasiswa yang memperoleh MPF-
BKBPK dan mahasiswa yang memperoleh
pembelajaran konvensional seperti terlihat pada
Tabel 2.








Tabel 2. Uji Normalitas, Uji Homogenitas, dan Uji
beda Dua Rerata Skor Gain yang Dinormalisasi
<g> Peningkatan Kemampuan Berargumentasi
dan Pemahaman Konsep.

Dengan demikian pembelajaran fisika melalui
MPF-BKBPK lebih efektif dalam meningkatkan
kemampuan berargumentasi dan pemahaman
konsep calon guru fisika dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata
skor gain yang dinormalisasi (<g>) untuk indikator
tiap unsur kemampuan berargumentasi (klaim,
data, pembenaran, dan dukungan) yang dicapai
kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas control
seperti terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Perbandingan Rerata Skor Gain yang
Dinormalisasi <g> Indikator Tiap Unsur
Kemampuan Berargumentasi.
Perolehan rerata skor gain yang dinormalisasi
(<g>) untuk indikator tiap aspek pemahaman
konsep (interpretasi, komparasi, dan eksplanasi)
yang dicapai kelas eksperimen lebih tinggi dari
kelas kontrol seperti terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Perbandingan Rerata Skor Gain yang
Dinormalisasi <g> Indikator Tiap Aspek
Pemahaman Konsep.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 157
Dengan demikian pembelajaran melalui MPF-
BKBPK mampu meningkatkan pencapaian
indikator tiap unsur kemampuan berargumentasi
dan tiap aspek pemahaman konsep calon guru
fisika dibandingkan dengan pembelajaran
konvensional.
Tahapan MPF-BKBPK mendorong
mahasiswa terlibat aktif mengkomunikasikan
gagasan dan mengevaluasi informasi sehingga
berharga untuk mengembangkan kebiasaan
berpikir. Memunculkan terjadinya pertukaran
gagasan dalam aktivitas diskusi kelompok dan
diskusi kelas dalam proses pembelajaran
mempengaruhi proses konstruksi pengetahuan.
Sifat argumentasi berpotensi untuk
pengembangan kolektifitas dan penerimaan klaim
ilmiah (Kolsto & Ratcliffe, 2008).
Tahapan MPF-BKBPK sesuai dengan teori
konstruksi sosial Vigotsky tentang Zone of
Proximal Development (ZPD) yang dapat
digunakan sebagai basis pembelajaran sains
sehingga pada mahasiswa akan terjadi revolusi
perkembangan dari proses alami ke proses mental
yang lebih tinggi melalui peer collaboration dalam
tatanan konstruksi sosial. Vigotsky (Blake & Pope,
2008) mengungkapkan bahwa belajar yang efektif
terjadi jika mahasiswa bekerja sama dengan suatu
lingkungan dimana interaksi sosial terjadi. Dengan
demikian konstruksi argumentasi dan pemahaman
konsep dapat dibangun melalui penerapan MPF-
BKBPK sehingga akan terbentuk argumentasi
ilmiah sebagai hasil proses berpikir yang akan
menghasilkan pemahaman konseptual.
Kesimpulan
Penerapan MPF-BKBPK lebih efektif dalam
meningkatkan kemampuan berargumentasi dan
pemahaman konsep calon guru fisika
dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Bapak A. Rusli atas diskusinya yang bermanfaat.
Referensi
[1] Blake, B and Pope, T., Developmental
Psychology: Incorporating Piagets and
Vygotskys Theories in Classrooms. Journal
of Cross-Disciplinary Perspectives in
Education. 1, (1), 59 67, (2008).
[2] Depdiknas, Lampiran Permendiknas No. 16
Tahun 2007: Standar Kualifikasi Akademik
dan Kompetensi Guru. J akarta: Depdiknas,
(2007).
[3] Erduran, S., & J imenez-Aleixandre, M.P..
Argumentation in Science Education. Florida
State University-USA: Spinger, (2008)
[4] Hake, R.R., Interactive-Engagement versus
Traditional Methods: A Six-Thousand-Student
Survey of Mechanics Test Data for
Introductory Physics Courses. American
Journal Physics. 66, (1), (1998).
[5] Kolsto, S. D., & Ratcliffe, M., Social aspects
of argumentation. In S. Erduran & M.P.
J imnez-Aleixandre (Eds.), Argumentation in
science education: perspectives from
classroom-based research(pp.114-133).
Berlin, Germany: Springer, (2008).
[6] McNeill, K. L., Lizotte, D. J ., & Krajcik, J .,
Supporting Students Construction of
Scientific Explanations by Fading Scaffolds in
Instructional Materials. The Journal of the
Learning Sciences, 15(2), 153-191, (2006).
[7] Osborne, J ., Erduran, S., & Simon, S.,
Enhancing The Quality of Argumentation in
School Science. Journal of Research in
Science Teaching, 41(10), 994-1020, (2004).
[8] Osborne, J ., Science Education for the
Twenty First Century. Eurasia Journal of
Mathematics, Science & Technology
Education. 3, (3), 173-184, (2007).
[9] Sampson, V. & Gerbino, F., Two Instructional
Models That Teachers Can Use to Promote
and Support Scientific Argumentation in the
Biology Classroom. The American Biology
Teacher. 72, (7), 427431, (2010).
[10] Simon, S., Erduran, S. & Osborne, J .,
Learning to Teach Argumentation: Research
and Development in The Science Classroom.
International Journal of Science Education,
28, (2-3), 235260, (2006).
[11] Sumedi, P.AS. Pengembangan Program
Pendidikan Guru Dalam Rangka
Menghasilkan Lulusan Yang Bermutu dalam
Pengembangan Profesionalisme Guru,
J akarta: Uhamka Press, (2009).
[12] Thiagarajan, S., Semmel, D. S., & Semmel,
M., Instructional Development for Training
Teachers of Exceptional Children, Source
Book. Bloominton: Center for Innovation on
Teaching the Handicapped, (1974).
[13] Xie, Q and Mui So, W.W., Understanding
and practice of argumentation: A pilot study
with Mainland Chinese pre-service teachers
in secondary science classrooms, Asia-
Pacific Forum on Science Learning and
Teaching, Volume 13, Issue 2, (2012).
[14] Yan, X. & Erduran, S., Arguing Online: Case
Studies of Pre-Service Science Teachers
Perceptions of Online Tools in Supporting
The Learning of Arguments, Journal of
Turkish Science Education, 5,(3), 2-31,
(2008).



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 158

Muslim*
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia
mus_upi@yahoo.co.id

Andi Suhandi
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia

Ida Kaniawati
J urusan Pendidikan Fisika
Universitas Pendidikan Indonesia


*Korespondensi Penulis

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 159
Kemampuan Siswa Menghubungkan Tiga Level Representasi Melalui
Model MORE (Model-Observe-Reflect-Explain)
Neng Tresna Umi Culsum*, Ida Farida dan Imelda Helsy

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa menghubungkan tiga level representasi
pada konsep hidrolisis garam melalui model pembelajaran MORE (Model-Observe-Reflect-Explain). Melalui
metode penelitian kelas, model pembelajaran diimplementasikan terhadap 39 orang siswa kelas XI IPA 6 di
salah satu SMA Negeri di Bandung. Data proses dan hasil belajar diperoleh dari lembar kerja siswa dan tes
two tier multiple choice yang mengukur sepuluh indikator kemampuan tiga level representasi kimia. Hasil
penelitian pada tahap model menunjukan sebagian besar siswa belum mampu membuat model susunan
partikel dengan tepat, pada tahap observe siswa mampu menyelidiki sifat larutan garam melalui percobaan
dengan sangat baik, pada tahap reflect dengan bantuan animasi, siswa mampu memperbaiki kemampuan
pemodelan dengan baik dan pada tahap explain siswa mampu menjelaskan hubungan representasi
makroskopik ke simbolik dengan baik. Dari data tes, 66% siswa mampu menghubungkan level makroskopik
ke level submikroskopik, 12% siswa mampu menghubungkan level submikroskopik ke level makroskopik,
dan hanya 10% siswa mampu menghubungkan level simbolik ke level submikroskopik. Dengan demikian
dapat disimpulkan siswa dapat memperbaiki kemampuan representasi submikroskopik, namun belum
sepenuhnya dapat menghubungkan tiga level representasi pada konsep hidrolisis garam.
Kata-kata kunci: Tiga Level Representasi, Model MORE, Hidrolisis Garam.
Pendahuluan
Konsep hidrolisis garam merupakan salah
satu materi yang harus dipelajari siswa di SMA.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan, umumnya
tujuan pembelajaran di kelas lebih menekankan
pada level representasi makroskopik dan simbolik,
sementara dari segi prosesnya yang berkaitan
dengan representasi submikroskopik tidak
dikembangkan dengan baik. Akibatnya, siswa
hanya secara parsial menguasai konsep hidrolisis
garam. Sejalan dengan hasil penelitian Ayas
1
yang
menyatakan siswa mempunyai pemikiran reaksi
netralisasi tidak menghasilkan ion OH- atau H3O+
dalam larutan. Pemikiran siswa yang lain
mengenai reaksi netralisasi adalah reaksi
netralisasi asam dan basa selalu menghasilkan
garam yang bersifat netral. Hal ini menunjukkan
bahwa siswa mempunyai pemikiran asam dan
basa mengkonsumsi satu sama lain dalam semua
reaksi netralisasi.
Berdasarkan uraian diatas, untuk mengatasi
lemahnya kemampuan siswa menghubungkan tiga
level representasi dalam mempelajari konsep
hidrolisis garam, maka peneliti mencoba untuk
menerapkan suatu model pembelajaran yang
dapat mencakup ketiga level representasi kimia.
Salah satu model pembelajaran yang dapat
mencakup ketiga level representasi dalam
pembelajaran kimia adalah model MORE (Model-
Observe-Reflect-Explain).
Melalui makalah ini dijelaskan bagaimana
kemampuan siswa menghubungkan tiga level
representasi pada konsep hidrolisis garam melalui
model pembelajaran MORE (Model-Observe-
Reflect-Explain)
Teori
Model MORE (Model-Observe-Reflect-
Explain) merupakan salah satu model
pembelajaran yang melibatkan siswa dalam
penyelidikan dan perilaku partikel. Model MORE
(Model-Observe-Reflect-Explain) menekankan
siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri
secara aktif dan diharapkan siswa dapat
menghubungkan antara pengamatan makrosopik
dan perilaku partikel (atom, ion atau molekul)
2

Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode penelitian kelas, karena bertujuan
untuk memperbaiki pembelajaran di kelas
6
.
Subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 6 di
salah satu SMA Negeri di Bandung berjumlah 39
orang. Adapun langkah pembelajaran dengan
menggunakan model MORE adalah sebagai
berikut : 1) Tahap model, pada tahap model siswa
dibimbing untuk membuat model awal model
susunan partikel beberapa larutan garam. 2)
Tahap observe, pada tahap observe, siswa secara
berkelompok membuktikan model awal yang telah
dibuat dengan menyelidiki sifat larutan garam
melalui praktikum. 3)Tahap reflect, pada tahap
reflect, siswa menghubungkan hasil praktikum
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 160
dengan interpretasi proses hidrolisis garam melalui
bantuan media animasi. 4) Tahap explain, pada
tahap explain siswa menjelaskan konsep hidrolisis
garam dan membuat hubungan level representasi
makroskopik ke simbolik. Setelah diterapkan
model pembelajaran MORE, diberikan tes two tier
multiple choice. Terdapat empat pola jawaban
yaitu pola A : jawaban benar dan alasan benar
artinya siswa dapat menghubungkan tiga level
representasi kimia, pola B : jawaban benar dan
alasan salah atau jawaban salah dan alasan benar
artinya siswa secara parsial dapat
menghubungkan tiga level representasi, pola C :
jawaban salah dan alasan salah artinya siswa
belum mampu menghubungkan tiga level
representasi.
Hasil dan diskusi
Kemampuan representasi siswa pada proses
pembelajaran diperoleh dari nilai lembar kerja
siswa (LKS) pada setiap tahapan model MORE.
Secara keseluruhan kemampuan representasi
siswa pada setiap tahap dalam pembelajaran
MORE disajikan pada tabel 1 berikut :
Tabel 1. Nilai Lembar Kerja Siswa pada Setiap
Tahapan Model MORE
No TahapanPembelajaran RataRata
1 Model 47
2 Observe 82
3 Reflect 85
4 Explain 79

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada
tahap model nilai rata-rata siswa paling rendah.
Siswa belum mampu membuat susunan partikel
larutan garam dengan tepat. Kebenaran model
awal siswa tidak ditekankan, model awal
dimaksudkan untuk membantu siswa menyadari
pemahamannya
1
. Pada tahap observe, siswa
mampu menyelidiki sifat larutan garam melalui
praktikum dengan baik yang ditunjukan dengan
perolehan nilai sebesar 82. Pada tahap reflect,
diperoleh nilai rata-rata siswa paling tinggi.
Tingginya nilai siswa pada tahap reflect karena
siswa menyadari kekeliruan gambaran awal
mereka pada tahap model yang didukung data
hasil praktikum dan dengan bantuan media
animasi. Ini menunjukan bahwa animasi dapat
membantu siswa untuk memahami proses pada
tingkat molekul yang sulit dibayangkan
7
. Pada
tahap explain, nilai yang diperoleh siswa
mengalami penurunan karena siswa menjawab
dengan tidak lengkap. Meskipun mengalami
penurunan, siswa mampu membuat hubungan
level makroskopik ke simbolik dengan baik.

Berikut perbandingan model awal yang dibuat
siswa untuk larutan garam natrium asetat
(CH
3
COONa) pada tahap model dengan model
akhir pada tahap reflect :
Tipe 1 Model awal (Sebelum
disajikan animasi proses tranfer proton
antara anion garam dengan molekul air)
Model akhir
(Setelah disajikan animasi proses tranfer
proton antara anion garam dengan
molekul air)
Gambar 1. Perbandingan Model Awal dengan
Model Akhir Larutan Garam CH
3
COONa Tipe 1
Keterangan :
: model larutan CH
3
COOH
: model larutan NaOH
: model ion OH
-

Pada tipe 1, model awal yang dibuat siswa
berupa asam basa pembentuk garam (CH
3
COOH
dan NaOH). Ini mengindikasikan siswa mengalami
miskonsepsi dalam menentukan sifat larutan
garam, karena sifat larutan garam di tentukan dari
asam konjugat atau basa konjugat yang bersifat
kuat bukan dari asam basa pembentuk garam.
Adapun model perbaikan yang dibuat berupa ion-
ion yang dihasilkan setelah proses hidrolisis
garam (transfer proton). Ini menunjukkan siswa
mempunyai pemikiran bahwa peraksi habis dan
tidak terjadi kesetimbangan. Padahal seharusnya
ion-ion yang terdapat dalam larutan adalah
CH
3
COO
-
, H
2
O, OH
-
dan CH
3
COOH. Perbedaan
pemikiran siswa disebabkan siswa mempunyai
penafsiran yang berbeda terhadap animasi yang
disajikan. Sejalan dengan Wu (dalam Soika 2010 :
2) yang menyatakan bahwa pemahaman tentang
animasi bisa berbeda-beda tergantung kepada
kemampuan masing-masing.








Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 161
Tipe 2 Model awal
(Sebelum disajikan animasi proses tranfer proton
antara anion garam dengan molekul air)

Model akhir
(Setelah disajikan animasi proses tranfer proton
antara anion garam dengan molekul air)
Gambar 2. Perbandingan Model Awal dengan
Model Akhir Larutan Garam CH
3
COONa Tipe 2
Keterangan :
: model ion CH
3
COO
-
: model ion Na
+
: model ion H
3
O
+
Pada tipe 2, model awal yang dibuat siswa
berupa ion ion-ion garam dan molekul air yang
terionisasi (ion CH
3
COO
-
dan ion Na
+
). Ini
mengindikasikan siswa tidak memahami reaksi
hidrolisis yang terjadi, karena siswa tidak
mempertimbangkan jumlah ion H
3
O
+
dan ion OH
-
.

Sejalan dengan hasil penelitian Ayas (2004 : 12)
yang menyatakan bahwa siswa memiliki pemikiran
reaksi hidrolisis garam tidak menghasilkan ion OH
-

atau H
3
O
+
dalam larutan, karena siswa tidak
menyadari peran air dalam reaksi hidrolisis garam.
Sementara model perbaikan sudah tepat yang
menunjukkan siswa menyadari penentu sifat
larutan garam adalah ion OH
-
yang dihasilkan dari
hidrolisis anion dan siswa sudah memperhatikan
komposisi dengan tepat.
Setelah diimplementasikan model MORE,
kemudian siswa diberikan tes hasil belajar dalam
bentuk two tier multiple choice yang mengukur
sepuluh indikator kemampuan siswa.

Gambar 3. Persen Sebaran Pola J awaban Siswa
Setiap Indikator Menghubungkan Tiga Level
Representasi.
Keterangan indikator tes evaluasi
1. Menginterpretasi sifat larutan garam dengan
menentukan representasi submikroskopik yang
tepat.
2. Menjelaskan sifat asam suatu garam melalui
perbandingan K
a
dan K
w
disertai gambar
submikroskopik yang tepat
3. Memilih representasi submikroskopik larutan
garam yang mengalami hidrolisis anion dengan
memberikan penjelasan yang tepat
4. Menentukan persamaan reaksi dari larutan
garam yang mengalami hidrolisis anion dengan
memberikan representasi submikroskopik yang
tepat.
5. Memprediksi reaksi transfer proton yang lebih
dominan berlangsung pada larutan garam
yang terhidrolisis total disertai alasan
perbandingan harga K
a
dan K
b

6. Menghitung pH larutan garam yang mengalami
hidrolisis anion dengan memberikan alasan
perhitungan yang tepat.
7. Menentukan representasi submikroskopik dari
larutan garam yang mengalami hidrolisis total
dengan memberikan penjelasan yang tepat
8. Menghitung pH larutan garam yang mengalami
hidrolisis total dengan memberikan alasan
perhitungan yang tepat.
9. Memilih gambar yang sesuai dengan pH larutan
garam dengan memberikan penjelasan yang
tepat.
10. Menentukan sifat larutan garam yang tidak
terhidrolisis dengan memilih representasi
submikroskopik yang tepat
Berdasarkan gambar 1, 1) Sebagian besar
siswa (rerata 66 %) mampu menghubungkan level
makroskopik ke level submikroskopik yang
tercermin pada indikator 1,2, 9 dan 10. Ini terlihat
dari proses pembelajaran pada tahap observe dan
reflect, siswa mampu menghubungkan hasil
praktikum dengan interpretasi animasi. 2)
Sebagian besar siswa (66 %) mampu
menghubungkan level makroskopik ke level
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 162
simbolik yang tercermin pada indikator 6. Namun,
pada indikator 8 dengan pola yang sama, hanya
sedikit siswa (21%) menjawab benar. Ini
menunjukan siswa kurang mampu membedakan
perhitungan pH larutan garam pada hidrolisis
parsial dan hidrolisis total karena siswa cenderung
menghafal rumus jadi tanpa menurunkan
persamaannya. 3) Sebagian kecil siswa (rerata 12
%) mampu menghubungkan level submikroskopik
ke level makroskopik yang tercerminpada indikator
3 dan 7. Pencapaian yang masih kurang karena
siswa tidak cukup menguasai level
submikroskopik, sehingga siswa tidak mampu
menghubungkan level submikroskopik ke level
makroskopik. Sejalan dengan Chittleborough &
Treagust
3
yang menyatakan bahwa
ketidakmampuan merepresentasikan aspek
submikroskopik dapat menghambat kemampuan
memecahkan permasalahan yang berkaitan
dengan fenomena makroskopik dan representasi
simbolik. 4) Sebagian besar siswa (46%) mampu
menghubungkan level submikroskopik ke level
simbolik yang tercermin pada indikator 5. Siswa
mampu menjelaskan proses yang terjadi pada
level submikroskopik karena pada proses
pembelajaran di tahap reflect disajikan media
animasi 5) Sebagian kecil siswa (10 %) mampu
menghubungkan level simbolik ke level
submikroskopik yang tercermin pada indikator 4.
Ini mengindikasikan siswa belum mampu
menghubungkan level simbolik ke level
submikroskopik. Diduga karena kurangnya
penguasaan siswa pada level submikroskopik
berdampak pada penguasaaan siswa di level
simbolik. Dugaan tersebut diperkuat oleh
pernyataan Dori
4
yang menyimpulkan bahwa
pengetahuan simbolik membutuhkan pemahaman
konseptual dari struktur substansi dan pemahaman
dalam bahasa simbol.
Pencapaian yang belum maksimal
disebabkan karena kemampuan siswa berbeda-
beda dan belum terbiasanya siswa pada level
submikroskopik. Sejalan dengan J ohnstone (dalam
Gilbert dan Treagust
5
) kontribusi kemampuan
siswa menghubungkan tiga level representasi
dalam mengembangkan kemampuan berpikir
siswa sangat besar. Namun, menghubungkan tiga
level representasi adalah hal yang sulit. Pendapat
tersebut diperkuat Gabel (dalam Gilbert dan
Treagust
5
) bahwa siswa tidak mampu bergerak
diantara tiga level representasi.
Kesimpulan
Model MORE dapat digunakan untuk
mengembangkan kemampuan siswa
menghubungkan tiga level representasi. Sebagian
besar siswa (41%) mampu menghubungkan tiga
level representasi pada konsep hidrolisis garam.
Pencapaian indikator paling tinggi adalah indikator
menghubungkan level makroskopik ke
submikroskopik. Sedangkan pencapaian indikator
yang masih kurang adalah indikator
menghubungkan level representasi simbolik ke
level submikroskopik (10%) dan indikator
menghubungkan level submikroskopik ke level
makroskopik (12%). Dengan demikian siswa dapat
memperbaiki kemampuan representasi
submikroskopik, namun belum sepenuhnya dapat
menghubungkan tiga level representasi pada
konsep hidrolisis garam.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terimakasih kepada
SMA 16 Bandung yang telah membantu
memfasilitasi penelitian. Penulis juga
berterimakasih kepada ibu Ida farida dan Imelda
Hesly atas bimbingan, saran dan dukungannya.
Referensi
[1] Ayas, et al., Conceptual Change Achieved
Through A New Teaching Program On Acids
And Bases, Chemistry Education Research
and Practice, 6 (1), 36-51, (2005).
[2] Carillo, L. et al., Enhancing Science
Teaching by Doing A Framework to Guide
Chemistry Student Thinking In The
Laboratory, The Science Teacher. 11, 60-64,
(2005).
[3] Chittleborough, G.D.& Treagust D.F., The
modeling ability of non-major chemistry
student and their understanding of the sub-
microscopic level, Chemistry Education
Research and Practice, 8 :274-292, (2007).
[4] Dori, J .Y. & Mira Hameiri, Multidimensional
Anlysis System For Quantitative Chemsitry
Problems Symbol, Macro, Micro And Process
Aspect. Journal Of Research In Science
Teaching, 40(3). 278-302, (2003).
[5] Gilbert, J .K. & Treagust, D.F., Introduction:
Macro, sub-micro and symbolic
representations and the relationship between
them, Key models in chemical education.,
(2009).
[6] Hopkins. (2008). Teacher Guide Classroom
Research. My Doom Maiden Hood Open
University
Press.[Online].Tersedia:http//www.TeacherRe
search.net/R.BookReview4htm.[27 desember
2012]
[7] Soika, Katrin. Priit Reiska, Rain Mikser, The
Importance Of Animation As A Visual Method
In Learning Chemistry, Proc. of Fourth Int.
Conference on Concept Mapping, (2010).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 163

Neng Tresna Umi Culsum*
Prodi Pendidikan Kimia
UIN SGD Bandung
nengtresna.umiculsum@gmail.com

Ida Farida
Prodi Pendidikan Kimia
UIN SGD Bandung
idafaridach@uinsgd.ac.id

Imelda Helsy
Prodi Pendidikan Kimia
UIN SGD Bandung
gunawanimelda@ymail.com



*Corresponding author

Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 164
E-Module Pembelajaran Minyak Bumi Berbasis Lingkungan Untuk
Mengembangkan Kemampuan Literasi Kimia Siswa
Nevi Nurzaman
*
, Ida Farida Ch dan Ratih Pitasari

Abstrak
Melalui desain penelitian dan pengembangan (R&D) telah dikembangkan produk berupa E-Module
pembelajaran berbasis lingkungan untuk mengembangkan kemampuan literasi kimia siswa SMA/MA pada
konsep minyak bumi. Tahapan penelitian meliputi: analisis kebutuhan, pengembangan desain, validasi
konten dan uji coba terbatas. Dari hasil penelitian diperoleh E-Module yang memiliki karakteristik :
pemaparan konten bersifat interaktif melalui teks, gambar, animasi, video dan pertanyaan-pertanyaan yang
mengacu pada indikator literasi kimia yang mencakup aspek konteks, konten, proses dan sikap sains.
Validasi konten dan uji coba terbatas dilakukan agar diperoleh umpan balik mengenai aspek isi materi dan
tampilan serta kelayakan penggunaannya sesuai tujuan pembuatan produk. Secara umum, hasil penelitian
menunjukan bahwa penyajian isi materi dan tampilan E-Module layak dipakai sebagai sumber belajar untuk
mengembangkan kemampuan literasi kimia siswa di SMA/MA pada konsep minyak bumi.
Kata kunci : E-Module pembelajaran berbasis lingkungan , kemampuan literasi kimia siswa, minyak bumi
Pendahuluan
Kemampuan literasi kimia merupakan salah
satu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam
pembelajaran minyak bumi. Hal itu bertujuan agar
siswa dapat memiliki informasi ilmiah dan cara
berpikir ilmiah dalam menyelesaikan suatu
fenomena alam yang berkaitan dengan konsep
minyak bumi [1]. Menurut Shwartz, et al [2]
Indikator-indikator literasi kimia yang harus dimiliki
oleh seorang siswa itu terdiri dari proses, konteks,
konten dan sikap sains. Pengembangan
kemampuan literasi kimia dalam pembelajaran
minyak bumi akan tercapai jika dalam proses
pembelajarannya dilakukan secara efektif, efisien
dengan memanfaatkan berbagai macam media
pembelajaran dan sumber belajar seperti modul
pembelajaran [3]. Tetapi penggunaan modul
pembelajaran ini ternyata memililki banyak
kekurangan terutama dalam pembelajaran konsep
minyak bumi. Hal ini disebabkan karena dalam
modul cetak tersebut tidak ada visualisasi seperti
gambar, audio dan video. Padahal pada konsep
minyak bumi sendiri, banyak materi yang perlu
visualisasi [4].
Menanggulangi masalah di atas, maka
dibuatlah E-Module pembelajaran minyak bumi
yang mengacu pada indikator-indikator literasi
kimia itu sendiri. Pemilihan E-Module ini sendiri
dikarenakan media pembelajaran ini mempunyai
karakteristik dan komponen-komponen
pembangunnya yang begitu lengkap sebagai
bahan pembelajaran mandiri. Penggunaan E-
Module ini dapat mempermudah penyampaian
materi yang berupa langkah-langkah atau
prosedur dengan menggunakan gambar, simulasi
animasi dan video tutorial.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian
dan pengembangan (Research and development)
yang dimodifikasi dari Gall et al [5]. Tahapan
penelitian yang dilakukan meliputi, : tahap
pengembangan desain produk, tahap validasi dan
uji coba terbatas. Instrumen yang digunakan pada
tahap validasi dan uji coba terbatas adalah :
angket uji kelayakan E-Module pembelajaran yang
diberikan kepada ahli multimedia, ahli bidang studi,
dan mahasiswa.
Hasil dan diskusi
Tahapan Pembuatan E-Module Pembelajaran.
Tahapan pembuatan E-Module pembelajaran
minyak bumi ini mengacu pada CAI (Computer
Assisted Instruction) design model tutorial [6], yang
telah dimodifikasi sehingga secara umum tahapan
pembuatan E-Module ini terdiri dari tahap analisis
dan tahap pengembangan desain yang dijelasakan
di bawah ini, sebagai berikut :
Tahap Analisis
Tahap analisis ini terdiri dari : 1) analisis
konsep dan pembuatan peta konsep minyak bumi
berdasarkan kurikulum. Hal ini bertujuan untuk
menghasilkan materi minyak bumi yang sesuai
dengan E-Module yang dibuat. 2) analisis wacana
konsep minyak yang disesuaikan dengan
kemampuan literasi kimia yang dikembangkan Hal
ini bertujuan agar dapat menentukan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 165
Tabel 1. Resume analisis wacana.
Materi Tujuan
Kemampuan literasi
kimia
Proses
pemben-
tukan
Berdasarkan
video
pembentuka
n minyak
bumi, siswa
dapat
mengidentifi
kasi proses
pembentuka
n minyak
bumi
Proses :
keterampilan
mengidentifikasi
Konteks : diberikan
video proses
pembentukan
minyak
Konten : materi
proses
pembentukan
Sikap : sikap
menghemat dan
memanfaatkan
sumber daya alam
berupa minyak bumi
dan gas alam
Proses
pengolah
-an
Berdasarkan
animasi
proses
pengolahan
minyak bumi
siswa dapat
menafsirkan
prinsip
kerjanya
Proses :
keterampilan
menafsirkan
Konteks : diberikan
animasi mengenai
proses pengolahan
Konten : materi
proses pengolahan
Sikap : sikap
menghemat dan
memanfaatkan
sumber daya alam
berupa minyak bumi
dan gas alam
Pencema
ran
lingkung-
an
Berdasarkan
video atau
animasi
pencemaran
lingkungan
siswa dapat
memprediksi
dampak
negatifnya
Proses :
keterampilan
memprediksi
Konteks : diberikan
video atau animasi
pencemaran
lingkungan
Konten : materi
pencemaran
lingkungan
Sikap : sikap
menjaga kelestarian
lingkungan sekitar
Catalytic
converter
Berdasarkan
animasi
catalytic
conveter,
siswa dapat
menafsrikan
prinsip kerja
catalytic
converter
Proses :
keterampilan
menafsirkan
Konteks : diberikan
video atau animasi
Konten : materi
catalytic converter
Sikap : sikap
mensyukuri
kekayaan alam
Berdasarkan analisis wacana ini, dapat
dikembangkan indikator literasi kimia.
Tabel 2. Indikator-indikator literasi kimia yang
dikembangkan.
Materi Indikator Literasi Kimia Siswa
Proses
pembentukan
minyak bumi
Mengidentfikasi proses
pembentukan minyak bumi
Distilasi
bertingkat
Mengklasifikasi produk hasil
distilasi bertingkat
Cracking Menafsirkan prinsip kerja
cracking
Reforming Menafsirkan prinsip kerja
reforming
Polimerisasi Menafsirkan prinsip kerja
polimerisasi
Treating Menafsirkan prinsip kerja treating
Hujan asam Memprediksi dampak hujan
asam
Pemanasan
global
Mempredikasi dampak
pemanasan global
Efek rumah
kaca
Mengkomunikasikan gas
penyebab efek rumah kaca
Catalytic
converter
Menfasirkan prinsip kerja
catalytic converter
Tahap analisis ini harus dilakukan karena
pembuatannya berfungsi untuk mengidentifikasi
karakteristik siswa, kemampuan siswa yang akan
dikembangkan dan materi yang akan dijelaskan [7].
Tahap Pengembangan Desain
Pada tahap ini, dibuat desain alur kerja atau
alur suatu pemrosesan informasi berdasarkan flow
chart dan peta situs (story board). Hal ini bertujuan
untuk mempermudah proses pembuatan produk.

Gambar 1. Diagram Alur (Flow Chart) E-Module
Pembelajaran Minyak Bumi.
Setelah selesai membuat flow chart dan story
board, selanjutnya dibuatlah desain E-Module
dalam bentuk visualisasi.


Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 166
Tabel 3. Visualisasi materi minyak bumi.
Konsep
J enis
Media
Sumber
Proses
pembentuka
n minyak
bumi
Video
dan
gambar
http://www.youtube.co
m/watch?v=-
_36ojlfBY4
Distilasi
bertingkat
Animasi http://www.adventuresi
nergy.org/Refining-
Oil/Distilling.html
Cracking Animasi http://www.adventuresi
nergy.org/Refining-
Oil/Cracking.html
Reforming Animasi http://www.adventuresi
nergy.org/Refining-
Oil/Reforming.html
Polimerisasi Animasi http://www.youtube.co
m/watch?v=3gpLM8UI
A_w
Treating Animasi http://www.adventuresi
nergy.org/Refining-
Oil/Treating.html
Hujan asam Video http://www.youtube.co
m/watch?v=XOZ6MM
_D4PI
Pemanasan
global
Video http://www.youtube.co
m/watch?v=wknj48cjlj
Q
Efek rumah
kaca
Animasi
dan
gambar
http://www.dirgantaral
apa.co.id/jizonpolud/i
mages/animasigrk.swf
Catalytic
converter
Animasi
dan
gambar
http://www.youtube.co
m/watch?v=W6dlsC_e
Secara umum halaman - halaman yang
terdapat pada E-Module pembelajaran ini terdiri
dari : 1) home merupakan halaman yang berisi
tentang link-link dan identitas materi, 2) petunjuk
penggunaan merupakan halaman yang berisi
tentang petunjuk-petunjuk bagaimana cara
menggunakan E-Module pembelajaran, 3) tujuan
pembelajaran berisi tentang tujuan pembelajaran
pada konsep minyak bumi, 4) ayat al-quran yang
berhubungan dengan materi minyak bumi seperti
surat Al-ala ayat 1-5, surat Ar-rum ayat 41 dan
surat An-nahl ayat 12, 5) wacana lingkungan berisi
tentang wacana-wacana yang berkaitan dengan
materi minyak bumi terdiri dari wacana kota
Balikpapan, wacana pencemaran lingkungan dan
wacana catalytic converter, 6) materi berisi
mengenai konsep minyak bumi berdasarkan tujuan
pembelajaran yang mengacu pada indikator literasi
kimia, materi yang dijelaskan terdiri dari proses
pembentukan minyak bumi, proses pengolahan
minyak bumi, pencemaran lingkungan dan catalytic
converter, 7) evaluasi pembelajaran berisi tentang
evaluasi mengenai materi minyak bumi yang telah
dipelajari oleh siswa, evaluasi ini terdiri dari
sepeluh soal berdasarkan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai, 8) evaluasi sikap berisi
mengenai evaluasi sikap sains siswa terhadap
fenomena yang berkaitan dengan materi minyak
bumi, 9) daftar pustaka berisi mengenai sumber
yang dipergunakan dalam membuat naskah materi,
animasi serta video yang digunakan.
Pengembangan desain ini selalu dilakukan
dalam pembuatan sebuah produk yang
menggunakan komputer atau berbantuan teknologi.
Hal ini dimaksudkan agar programmer memiliki
acuan dan akan mempermudah dalam proses
pembuatan produknya [7].
Hasil Uji Validasi
Tabel 4. Rata-rata Penilaian Validator Ahli
Terhadap Aspek Penyajian Isi Materi.
Persentase (%)
Aspek Isi Materi
Ya Tidak
Urutan penyajian materi 100 0
Kejelasan materi 100 0
Umpan Balik Materi 75 25
Soal Evaluasi 86,52 13,48
Persen rata-rata 90,38 9,62
Berdasarkan tabel 4 di atas, penilaian
Validator ahli terhadap aspek penyajian isi materi
minyak bumi ini 90,38% menyatakan setuju dan
9,62% menyatakan tidak setuju. Keterangan ini
mengindikasikan bahwa secara umum materi yang
ada di E-Module pembelajaran ini sangat layak
dipakai sebagai sumber belajar.
Tabel 5. Rata-rata Penilaian Validator Ahli
Terhadap Aspek Tampilan E-Module.
Persentase (%)
Aspek Tampilan E-Module
Ya Tidak
Tampilan E-Module 100 0
Layout E-Module 88,4 11,6
Tombol navigasi 100 0
Link yang disediakan 100 0
Persen rata-rata 97,06 2,94
Berdasarkan tabel 5 di atas, penilaian validator ahli
terhadap aspek tampilan E-Module pembelajaran
minyak bumi 97,06% menyatakan setuju dan
2,94% tidak setuju. Keterangan tersebut
mengindikasikan bahwa secara umum aspek
tampilan yang disajikan layak digunakan.
Pada tahap validasi oleh tiga orang ahli
pembelajaran dan satu orang ahli multimedia,
bahwa aspek penyajian isi materi dan tampilan e-
module yang terdiri dari tujuan pembelajaran yang
akan dicapai, umpan balik kepada siswa, materi
minyak bumi yang dijelaskan, ukuran modul, tata
letak, ukuran dan jenis huruf, ilustrasi pada modul,
test evaluasi dan daftar pustaka pada e-module,
secara umum hasilnya 90-97% menyatakan setuju
terhadap produk E-Module pembelajaran yang
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 167
dibuat dan sudah layak digunakan sebagai sumber
belajar, karena kelengkapan komponen-komponen
yang ada pada modul tersebut. Hal ini
membutktikan bahwa pada dasarnya modul atau
buku teks dalam penyusunannya harus
memperhatikan prinsip atau komponen dasar
dalam proses pembuatannya [8].
Hasil Uji coba terbatas kepada mahasiswa
Tabel 6. Rata-rata Penilaian Mahasiswa Terhadap
Aspek Penyajian materi.
Persentase (%)
Aspek Isi Materi
Ya Tidak
Urutan penyajian materi 100 0
Kejelasan materi 100 0
Umpan Balik Materi 93,84 6.16
Soal Evaluasi 100 0
Persen rata-rata 98,46 1,54
Berdasarkan tabel 6 di atas, penilaian dari 20
orang mahasiswa sebanyak 98,46% menyatakan
setuju dan 1,54% tidak setuju. Keterangan
tersebut mengindikasikan bahwa secara umum
materi yang ada di produk E-Module pembelajaran
ini layak dipakai sebagai sumber belajar.
Tabel 7. Rata-rata Penilaian Mahasiswa Terhadap
Aspek Tampilan E-Module.
Persentase (%)
Aspek Tampilan E-Module
Ya Tidak
Tampilan E-Module 80 20
Layout E-Module 80 20
Tombol navigasi 100 0
Link yang disediakan 100 0
Persen rata-rata 90 10
Berdasarkan tabel 7 di atas, penilaian mahasiswa
terhadap aspek tampilan E-Module pembelajaran
minyak bumi 90% menyatakan setuju dan 10%
tidak setuju. Keterangan tersebut mengindikasikan
bahwa secara umum aspek tampilan yang
disajikan layak digunakan.
Pembuatan teori dan praktik dalam desain,
pengembangan dan pemanfaatan teknologi dapat
memfasilitasi pembelajaran agar lebih efektif,
efisien, menyenangkan dan meningkatkan
motivasi belajar siswa. Teori ini benar adanya
karena pada saat dilakukan uji coba terbatas
produk E-Module pembelajaran kepada
mahasiswa, secara umum 90-98% menyatakan
setuju karena E-Module pembelajaran tersebut
dapat membuat siswa tertarik dan menumbuhkan
motivasi untuk belajar [3].

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
kesimpulan yang didapat, bahwa secara umum
dari tahap validasi dan tahap uji coba kepada para
mahasiswa, E-Module pembelajaran yang dibuat
sudah layak digunakan. Hal ini bisa dibuktikan
dengan persentase yang diperoleh dari uji validasi
yaitu 90-97% dan hasil dari uji coba terbatas
dengan persentase 90-98% menyatakan setuju
terhadap produk E-Module pembelajaran yang
dibuat.
Referensi
[1] Zuriyani, Elsy, Literasi Sains Pendidikan,
(2012), [Online]. Tersedia :
isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/101092841.pdf
[Diakses 20 Februari 2013].
[2] Shwartz, et al., The use of Scientific Literacy
Taxonomy for Assessing the Development of
Chemical Literacy Among High-School
Students, J ournal of Chemistry Education
Research and Practice. 7(4), 203-225, (2006).
[3] Warsita, B., Teknologi Pembelajaran:
Landasan & Aplikasinya, J akarta: PT Rineka
Cipta, (2008).
[4] Khoir, A., Buku Ajar Penyebab Siswa
Kesulitan Belajar Sains, (2007), [Online].
Tersedia : www.ejournal-
unisma.net/ojs/index.php/.../107 [Diakses 20
Februari 2013].
[5] Gall, et al., Educational Research, United
States of America : Pearson Education,
(2003).
[6] Darmawan, D., Teknologi Pembelajaran,
Bandung : PT Remaja Rosda Karya, (2012).
[7] Hannafin, et al., The Design, Development
and Evaluation of Instructional Software.
Newyork, Macmillan Publishing Company,
(1986).
[8] Sitepu, B.P. Penulisan Buku Teks Pelajaran,
Bandung : PT Remaja Rosda Karya, (2012).

Nevi Nurzaman*
Pend. Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Nevi.Nurzaman@gmail.com
Ida Farida Ch
Pend. Kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung
idafaridauinsgd.ac.id
Ratih Pitasari
SMAN XVI Kota Bandung
(ratih.pitasari@yahoo.com)

*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 168
Analisis Konsepsi Mahasiswa Terhadap Materi Elektrolisis
Menggunakan Instrumen Tes Three Tier Multiple Choice
Nia Tresnasih*, Ida Farida dan Ratih Pitasari

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsepsi mahasiswa calon guru kimia terhadap materi
elektrolisis serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Studi deskriptif dilakukan terhadap 50
mahasiswa semester VI di salah satu LPTK di Bandung menggunakan tes berbentuk three tier multiple
choice yang mengukur 14 indikator. Tes tersebut dapat membedakan antara mahasiswa paham dan tidak
paham konsep serta mengalami miskonsepsi. Hasil penelitian secara keseluruhan menunjukan: 16%
mahasiswa paham konsep, 51% tidak paham konsep serta 33% mengalami miskonsepsi. Indikator yang
paling banyak dipahami oleh 36 % mahasiswa adalah pergerakan elektron dalam elektrolisis, sedangkan
indikator lainnya di bawah 36%. Mahasiswa mengalami miskonsepsi pada aspek kuantitatif elektrolisis, yaitu
menghitung massa zat hasil elektrolisis dengan waktu yang berbeda (70%) dan tidak paham mengenai
aplikasi elektrolisis pada proses Hall (86%). Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa konsepsi
mahasiswa dipengaruhi oleh faktor internal mahasiswa, proses perkuliahan dan buku teks yang digunakan.
Hendaknya hasil penelitian ini menjadi landasan untuk tindak lanjut perbaikan mutu calon guru.
Kata Kunci: Konsepsi mahasiswa, three tier multiple choice, elektrolisis, diagnosis miskonsepsi
Pendahuluan
Ilmu kimia merupakan ilmu yang sangat
penting dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi dalam
mempelajarinya, seringkali menimbulkan kesulitan
yang mengakibatkan miskonsepsi. Menurut
Hofstein [1] ada beberapa faktor yang
menyebabkan miskonsepsi yaitu faktor siswa dan
faktor guru. Sedangkan menurut Barke et.al [2]
yang dapat menyebabkan miskonsepsi
diantaranya pengetahuan awal siswa (students
preconcepts), miskonsepsi yang disebabkan
sistem di sekolah (school-made misconceptions),
gambaran siswa dan bahasa sains (student
concepts and scientific language) dan strategi
efektif dalam mengajar dan mendidik (effective
strategies for teaching and learning).
Salah satu materi yang banyak menimbulkan
miskonsepsi adalah elektrolisis [3]. Faktor yang
menyebabkannya diantaranya adalah sebagian
besar peserta didik hanya memahami elektrolisis
dari segi makroskopiknya saja [4]. Mahasiswa
calon guru kimia diharapkan memahami konsep
kimia dengan benar dan terhindar dari miskonsepsi
agar kelak mampu mentransfer belajar pada siswa
dengan benar pula. Karenanya perlu diidentifikasi
potensi miskonsepsi yang mungkin terjadi pada
mahasiswa calon guru, mengingat secara internal
konsep elektrolisis merupakan konsep yang sulit
dipelajari sebagaimana dinyatakan Garnet dan
Treagust. Diharapkan hasil analisis dapat
digunakan untuk memperbaiki mutu calon guru.
Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi miskonsepsi adalah tes three tier
multiple choice. Beberapa penelitian yang pernah
menggunakan instrumen ini diantaranya Erylmaz
et.al [5] pada konsep panas dan suhu, Pesman [6]
pada konsep listrik serta Cetin et.al pada konsep
asam basa. Pada makalah ini akan dibahas hasil
penelitian yang bertujuan untuk menganalisis
konsepsi mahasiswa calon guru kimia terhadap
materi elektrolisis serta mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhinya.
Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah
penelitian deskriptif kepada 50 mahasiswa calon
guru kimia tingkat III. Dalam mengembangkan soal
three tier multiple choice pada materi elektrolisis,
langkah pertama yang dilakukan adalah mengkaji
materi elektrolisis serta laporan penelitian yang
relevan guna mengetahui karakteristik konsep.
Langkah selanjutnya menyusun soal three tier
multiple choice yang mengukur 14 indikator
dengan 15 soal. Data dianalisis sehingga
didapatkan kesimpulan mahasiswa yang
memahami konsep, tidak paham konsep serta
mengalami miskonsepsi dengan beberapa tipe.
Indikator yang diukur meliputi rangkaian sel
elektrolisis, reaksi redoks yang terjadi dengan
berbagai variasi (jenis elektrode dan jenis senyawa
elektrolit yang berbeda), menentukan aliran
elektron, perhitungan aspek kuantitatif
menggunakan hukum Faraday serta aplikasi
elektrolisis dalam bidang industri (proses Hall dan
pemurnian logam).
Soal three tier multiple choice ini berupa soal
pilihan ganda dengan 3 tier (tingkat) pertanyaan
dimana tier pertama menanyakan materi, tier
kedua menanyakan alasan dari jawaban tier
pertama dan tier ketiga berupa indeks keyakinan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 169
mahasiswa dalam menjawab. Mahasiswa dengan
indeks CRI tinggi (>2,5 dari skala 5) dan
jawabannya benar maka dikategorikan paham
konsep sedangkan apabila jawabannya salah
mahka dikategorikan miskonsepsi. Sedangkan
apabila jawaban salah dengan indeks CRI rendah
(<2,5 dari skala 5) maka dikategorikan tidak
paham konsep.
Tabel 1. Skala dan Kriteria CRI [7].
CRI KRITERIA
0 Totally guessed answer (menebak)
1 Almost guessed (hampir menebak)
2 Not sure (tidak yakin)
3 Sure (yakin)
4 Almost certain (hampir pasti)
5 Certain (pasti)
Wawancara dilakukan kepada masing-masing
3 orang dari tiga kelompok dengan tingkat
intelektual yang berbeda. Wawancara ini
membantu dalam menganalisis jawaban
mahasiswa serta menemukan penyebab
miskonsepsi yang terjadi. Oleh karena itu, menurut
Moleong, pedoman wawancara yang digunakan
berupa pedoman wawancara tak terstruktur
sehingga dari hasil wawancara tersebut
didapatkan informasi yang lebih mendalam
mengenai konsepsi mahasiswa.
Hasil dan Diskusi
Dalam proses analisis data, mahasiswa dibagi
ke dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat
intelektual menjadi kelompok tinggi, sedang dan
rendah. Langkah pertama yang dilakukan adalah
melakukan penskoran terhadap jawaban
mahasiswa pada 2 tier pertama sedangkan tier
ketiga tidak diikutsertakan. J awaban mendapat
skor satu jika jawaban 2 tier pertama benar.
Apabila salah satu atau keduanya salah, maka
skornya 0. Dari hasil perhitungan, skor tertinggi
dicapai oleh mahasiswa dari kelompok rendah
dengan skor 12. Sedangkan skor terendah dicapai
oleh mahasiswa dari kelompok tinggi dan rendah
dengan skor 0. Berdasarkan hasil tersebut,
tersebut dapat disimpulkan bahwa mahasiswa
dengan IPK tinggi belum tentu memahami materi
lebih baik daripada mahasiswa dengan IPK rendah,
dalam hal ini materi elektrolisis. Selain itu,
berdasarkan penskoran ini indikator yang paling
mudah dimengerti adalah indikator keempat yaitu
indikator pergerakan elektron dengan skor 54 dari
100. Mahasiswa mengalami kesulitan pada
indikator kesebelas dan keduabelas mengenai
perhitungan massa zat hasil elektrolisis dengan
skor masing-masing 0 dari 100. Artinya pada
indikator ini tidak ada mahasiswa yang menjawab
benar. Kesulitan ini mengakibatkan miskonsepsi .
Pada indikator kesebelas, mahasiswa dituntut
untuk menghitung massa zat hasil elektrolisis dua
sel elektrolisis dengan waktu yang berbeda yang
kemudian hasil perhitungannya dikorelasikan
dengan faktor yang mempengaruhi perbedaan
massa zat kedua sel tersebut. Mahasiswa terkecoh
dengan data konsentrasi yang diberikan sehingga
menganggap konsentrasi berpengaruh terhadap
massa hasil elektrolisis. Selain itu, sebagian
mahasiswa melakukan penebakan karena tidak
ada korelasi antara jawaban pada tier pertama
dengan tier kedua sehingga diindikasikan
mahasiswa dengan kriteria seperti ini dikategorikan
tidak paham konsep..
Pada indikator keduabelas, mahasiswa diberi
soal mengenai rangkaian sel elektrolisis seri.
Sebagian besar mahasiswa tidak mampu
mengkorelasikan gambar yang diberikan dengan
arus yang mengalir pada sel tersebut. Pada
dasarnya, pada rangkaian seri arus listrik yang
mengalir adalah sama besar. Menurut hasil
wawancara pada beberapa mahasiswa mengenai
indikator ini, mayoritas mahasiswa tidak
mengetahui jenis rangkaian yang dimaksud
padahal mereka mengetahui mengenai konsep
arus listrik dalam rangkaian seri. Hal tersebut
terjadi karena berdasarkan kajian dari beberapa
literatur, tidak ditemukan pembahasan mengenai
rangkaian sel elektrolisis seri sehingga mereka
baru mengetahui bahwa sel elektrolisis bisa
dirangkai secara seri.
Secara keseluruhan, apabila dilihat dari
analisis pola jawaban yang telah dibuat
sebelumnya, sebagian besar mahasiswa tidak bisa
menentukan katode dan anode sehingga reaksi
redoks yang terjadi tidak bisa dituliskan dengan
benar. Hal tersebut terjadi karena mahasiswa tidak
memahami current flow (aliran arus listrik)
sehingga tidak mampu mengkorelasikan antara
kutub sumber arus dengan muatan elektrode
seperti yang dikemukakan oleh Garnet et.al [8].
Elektrode yang terhubung dengan kutub negatif
sumber arus menjadi katode dan elektrode yang
terhubung dengan kutub positif sumber arus
menjadi anode.
Pengelompokkan jawaban mahasiswa juga
dilakukan untuk mengetahui persentase
mahasiswa yang paham konsep, tidak paham
konsep serta yang mengalami miskonsepsi
dengan pola jawaban yang diadaptasi dari
Salirawati [9]. Pada pengelempokkan ini semua
tier dilibatkan.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 170
Tabel 1. Rekapitulasi Kriteria Konsepsi Mahasiswa.
Kriteria Konsepsi (%)
Indikator
Paham Miskonsepsi
Tidak
Paham
1 16 44 40
2 30 28 42
3 24 12 56
4 36 32 32
5 18 40 42
6 2 42 56
7 10 40 50
8 18 30 52
9 16 40 44
10 34 26 40
11 0 70 30
12 2 28 70
13 4 10 86
14 14 12 74
total 16 33 51
Berdasarkan tabel di atas, tingkat
pemahaman mahasiswa yang paling tinggi (36 %)
pada indikator pergerakan elektron. Meskipun
Indikator Ini merupakan indikator dengan tingkat
pemahaman paling tinggi di antara indikator lain,
tingkat miskonsepsi dan tidak paham masih
dominan. Mahasiswa dengan indeks CRI tinggi
beranggapan bahwa elektron bergerak di dalam
larutan. Dari hasil wawancara, mahasiswa
menganggap bahwa elektron bergerak dari kation
menuju anion. Diindikasikan mahasiswa
mengkaitkan pergerakan elektron ini dengan
konsep serah terima elektron pada materi redoks.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa miskonsepsi
yang terjadi disebabkan oleh kesalahan berpikir
yang diakibatkan karena konsep prasyarat yang
tidak terpenuhi.
Indikator yang paling banyak menyebabkan
miskonsepsi adalah indikator kesebelas. yaitu
pada aspek kuantitatif elektrolisis, yaitu
menghitung massa zat hasil elektrolisis dengan
waktu yang berbeda (70%). Pada tahap penskoran
yang telah dijelaskan di atas, mahasiswa yang
menjawab salah pada indikator ini diindikasikan
tidak paham konsep, tetapi ketika melihat ke
indeks CRI yang dipilih lebih dari 2,5 maka
mahasiswa dikategorikan mengalami miskonsepsi.
Hal tersebut terjadi karena mahasiswa terkecoh
dengan pilihan bahwa yang berpengaruh terhadap
massa zat hasil reaksi adalah konsentrasi dan
waktu. Konsentrasi tidak berpengaruh terhadap
massa yang dihasilkan karena berapapun
konsentrasi larutan yang dipakai, massa ekuivalen
larutan tersebut tetap sama, yang membedakan
adalah massa zat yang terkandung dalam larutan
tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Garnet
bahwa konsentrasi berpengaruh terhadap reaksi
mana yang terjadi.
Aplikasi elektrolisis (indikator 13 dan 14)
dalam dunia industri memiliki tingkat
ketidakpahaman sangat tinggi baik itu di kelompok
tinggi, sedang maupun rendah. Presentase
ketidakpahaman mahasiswa mencapai presentase
74-86%. Hal tersebut terjadi karena subkonsep ini
biasanya dipelajari secara sekilas. Meskipun pada
tingkat universitas seringkali dilakukan praktikum
electroplating, tapi mahasiswa tidak memahami
proses yang terjadi secara submikroskopik
sehingga kuantitas praktikum tersebut tidak
mampu meng-upgrade pemahaman mereka
mengenai proses tersebut. Adapun dengan proses
Hall yang merupakan indikator aplikasi elektrolisis
yang memiliki persentase ketidakpahaman
tertinggi (86%), konsep ini jarang sekali dipelajari
sehingga sebagian besar mahasiswa menebak
dalam menentukan reaksi yang terjadi. Pada buku
textbook yang sering digunakan pun indikator ini
jarang dibahas. Faktor lain yang menyebabkan hal
tersebut terjadi karena mahasiswa tidak dapat
mengkorelasikan prinsip elektrolisis pada senyawa
elektrolit lelehan dengan tujuan dari proses Hall
sendiri. Seperti yang dikemukakan Chang [10]
bahwa pada elektrolisis lelehan yang akan
mengalami reaksi redoks adalah unsur-unsur
penyusun garam itu sendiri. Proses Hall
merupakan proses sintesis logam alumunium
sehingga apabila garam yang digunakan adalah
Na
3
AlF
3
maka fasa garam yang digunakan adalah
lelehan. Miskonsepsi yang terjadi pada indikator ini
merupakan gabungan dari miskonsepsi yang
ditimbulkan oleh komponen-komponen perkuliahan
yakni pemahaman peserta didik, strategi
pembelajaran yang diterapkan oleh pendidik serta
buku yang kurang memberikan informasi
mengenai aplikasi elektrolisis terutama proses Hall
seperti yang dikemukakan oleh Barke et.al dan
Hofstein mengenai hal-hal yang dapat
menyebabkan miskonsepsi.
Secara umum, 16% mahasiswa paham
konsep, 33% mengalami miskonsepsi.serta 51%
tidak paham konsep. Tingkat pemahaman yang
rendah tentang materi elektrolisis ini merupakan
akibat dari beberapa faktor, baik itu kesulitan
dalam memahami maupun ketidaktercapaian dan
kurangnya pendukung perkuliahan. Diantara
penyebab itu adalah faktor internal mahasiswa,
proses perkuliahan dan buku teks yang digunakan.
Faktor internal mahasiswa meliputi cara
mahasiswa yang salah atau kurang tepat dalam
memahami suatu materi sehingga terjadi
miskonsepsi. Ini bisa disebabkan karena materinya
yang sulit untuk dipahami karena memerlukan
daya imajinasi (seperti submikroskpik dalam kimia)
dan bisa juga karena cara siswa yang salah dalam
memahami suatu konsep. Faktor yang
mempengaruhi dalam proses perkuliahan dalam
hal ini meliputi kemampuan pedagogik pengajar,
materi dan textbook. Kemampuan pedagogik ini
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 171
merupakan kemampuan pengajar yang meliputi
pendekatan dan model pembelajaran yang
digunakan. Adapun faktor materi menentukan
bagaimana cara penyampaian guru kepada siswa.
Setiap materi membutuhkan pendekatan
penyampaian yang berbeda-beda. Penyampaian
yang salah akan menyebabkan persepsi yang
salah dengan kata lain dapat menyebabkan
miskonsepsi. Faktor penggunaan buku teks juga
berpengaruh karena buku teks menjadi buku
pedoman mahasiswa. Sehingga apabila terdapat
kesalahan dalam penyampaian informasi dalam
buku ataupun ketidaklengkapan materi maka akan
berdampak kepada pemahaman siswa. Hal ini juga
seperti yang dinyatakan oleh De Posada dalam
Geban dan Pabuccu [11].
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
terdapat beberapa kesimpulan yang didapat
bahwa secara keseluruhan sebanyak 16%
mahasiswa paham konsep elektrolisis, 33%
miskonsepsi serta 51% tidak paham konsep
elektrolisis. Secara umum, Indikator yang paling
banyak dipahami oleh 36 % mahasiswa adalah
konsep pergerakan elektron. Miskonsepsi tertinggi
yaitu indikator menghitung massa zat hasil
elektrolisis dengan waktu yang berbeda (70%) dan
tidak paham mengenai aplikasi elektrolisis pada
proses Hall (86%). Berdasarkan hasil wawancara
diketahui bahwa konsepsi mahasiswa dipengaruhi
oleh faktor internal mahasiswa, proses perkuliahan
dan buku teks yang digunakan. Berdasarkan
temuan tersebut, pembelajaran elektrolisis
sebaiknya melibatkan aspek submikroskopik
sehingga mahasiswa lebih memahami konsep.
Pembelajaran elekrolisis juga sebaiknya tidak
hanya berkutat pada reaksi yang terjadi pada sel
elektrolisis tetapi aspek aplikasi elektrolisis juga
diberikan secara mendalam. Selain itu, mahasiswa
hendaknya mempunyai strategi kognitif (seperti
jembatan keledai) sehingga mampu
mengkonstruksi pemahaman sendiri supaya lebih
memahami konsep tanpa harus dipaksa untuk
memahami dengan gaya orang lain.
Referensi
[1] Hofstein, A., Nahum, T. L., Naaman, Mamlok,
R., dan Bardov, Z., Can Final Examinations
Amplify Students Misconceptions in
Chemistry?. J ournal of Chemistry Education:
Research and Practice, 5,(3) , 301, (2004).
[2] Barke, H.D., Hazari, A., Yitbarek, S.,
Misconceptions in Chemistry. J erman:
Springer, 21-27, (2009).
[3] Garnett P. J . dan Treagust D. F.,
Conceptual Difficulties Experienced by
Senior High School Students of
Electrochemistry: Electrochemical (Galvanic)
and Electrolytic Cells, J ournal of Research In
Science Teaching, 29, 1080, (1992).
[4] Nursyaadah, E. Pembelajaran Elektrolisis
Berbantuan Multimedia Untuk Meningkatkan
Pemahaman Representasi Submikroskopik
Keterampilan Generik Sains dan
Keterampilan Berpikir Kritis Mahasiswa Calon
Guru Kimia. Tesis. UPI Bandung, 2, (2011).
[5] Cetin, A., Dindar & Geban, O., Development
of A-Three Tier Test to Assess High School
Students Understanding of Acids and Bases
Elsevier, 15, 601, (2011).
[6] Pesman, H., Development Of A Three-Tier
Test To Assess Ninth Grade Students
Misconceptions About Simple Electric
Circuits Tesis. Turki, (2005).
[7] Hasan, S., et al., Misconceptions and the
Certainty of Responden Index (CRI). J ournal
of Physic Education, 297, (1999).
[8] Garnett P. J . dan Treagust D. F., Conceptual
Difficulties Experienced by Senior High
School Students of Electrochemistry:
Electrochemical (Galvanic) and Electrolytic
Cells J ournal Of Research In Science
Teaching, 29, 1092, (1992).
[9] Salirawati, D., Pengembangan Model
Instrumen Pendeteksi Miskonsepsi Kimia
Pada Peserta Didik SMA, Disertasi. UNY.
p.68, (2010).
[10] Chang, R., Kimia Dasar Edisi Ketiga J ilid 2.
Terjemahan oleh Suminar S.A, dkk. J akarta :
Erlangga, 219, (2005).
[11] Geban, . dan Pabucu, A., Remediating
misconceptions concerning chemical bonding
Through conceptual change text, J ournal of
Education, 30, 2, (2006).

Nia Tresnasih*
Pendidikan Kimia
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Nay_she_linglung@yahoo.com
Ida Farida Ch
Pendidikan Kimia
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
idafaridach@uinsgd.ac.id
Ratih Pitasari
SMAN 16 Bandung
ratih.pitasari@gmail.com


Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 172
Pembuktian Hukum Boyle pada Gas Ideal Berbantuan Data Studio
Software dalam Praktikum Termodinamika
Nofitri*, Hadyan Akbar, Sinta Sri Ismawati, Herlin Verina , Vivi Nur Huda Lyjamil,
Mohamad Soleh , Robi Sobirin, dan Irzaman

Abstrak
Gas Ideal terjadi disuatu volume yang terjadi tumbukan gas antara atom atom dan molekul elastis
sempurna dan tidak ada gaya tarik menarik antar molekul.. Karakteristik Gas Ideal meliputi tiga variabel
yaitu tekanan (P), Suhu (T) dan Volume (V) Praktikum ini bertujuan untuk mendemontrasikan hukum-hukum
gas ideal khususnya Hukum Boyle menggunakan software data studio. Pada Hukum Boyle tekanan yang
bekerja pada volume jika suhu tetap dalam sistem tertutup. Apabila suhu gas dijaga agar selalu konstan,
maka ketika tekanan gas bertambah, volume gas semakin berkurang Bahan yang digunakan pada
eksperimen ini diantaranya: Small Piston Heat Engine, Pressure Sensor (CI-6532A), Science Workshop
Computer Interface, Data Studio Software . Metode yang digunakan pada pengujian hukum Boyle dengan 2
kali ulangan, dengan sumber tekanan awal yang berbeda. Pembuktian ini dengan cara memberi sumber
tekanan konstan pada pipa yang menghubungkan pressure sensor dengan software. Ketika diberi tekanan,
maka mengakibatkan Small Piston akan turun ke bagian dasar dari posisi awalnya pada ketinggian
maksimum. Maka, didapat hubungan antara volume dan tekanan yang berbanding terbalik serta hubungan
tekanan dan waktu berbanding lurus. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori termodinamika yang
pada.Hukum Boyle memiliki tekanan yang berbanding terbalik dengan volume pada suatu massa dan suhu
gas yang tetap.
Kata kunci :Boyle, Gas Ideal, Data Studio Software
Pendahuluan
Gas Ideal terjadi disuatu volume yang terjadi
tumbukan gas antara atom atom dan molekul
elastis sempurna dan tidak ada gaya tarik menarik
antar molekul [1]. Karakteristik Gas Ideal meliputi
tiga variabel yaitu tekanan (P), Suhu (T) dan
Volume (V). Hukum Boyle menyatakan, produk
volume gas kali tekanannya adalah konstan pada
suhu tertentu [2].
Terkait dengan literatur gas ideal yang ada,
dilakukanlah praktikum termodinamika untuk
membuktikan hukum Boyle. Praktikum ini
menggunakan bantuan Data Studio Software
dalam pencatatan data secara digital. Pembuktian
berupa grafik hubungan tekanan dan volume.
Memberikan tekanan yang konstan untuk setiap
pengulangan menggunakan suntikan tetapi
dengan sumber tekanan awal yang berbeda. Hal
ini untuk membandingkan hasil yang didapat agar
pembuktian Hukum Boyle lebih akurat
Teori
Gas merupakan satu dari tiga wujud zat, Teori
Kinetik Gas merupakan setiap zat yang terdiri dari
atom-atom atau molekul-molekul dan bergerak
terus menerus secara sembarangan. Teori kinetik
gas didasari atas 3 hukum utama yakni hukum
Charles, hukum Boyle dan hukum Gay-Lussac [1].
Boyle menemukan bahwa apabila suhu gas dijaga
agar selalu konstan, maka ketika tekanan gas
bertambah, maka volume gas semakin berkurang.
Demikian juga sebaliknya ketika tekanan gas
berkurang, maka volume gas semakin
bertambah[3].
Hukum Boyle dan Gay-Lussac menyatakan
bahwa untuk kuantitas dari suatu gas ideal
(beratnya) hasil kali dari volume dan tekanannya
dibagi dengan temperatur mutlaknya adalah
konstan [4].J ika Hukum Boyle,dan Gay-Lussac
digabungkan dengan hukum Avogadro (bahwa
volume yang sama gas memiliki jumlah molekul
yang sama), untuk menghasilkan hukum gas ideal
[5]. Sesuai persamaan
PV=nRT (1)
Persamaan (1) dijelaskan bahwa konstanta C
dalam Hukum Boyle adalah sebanding dengan n
[5]. Hukum Boyle ini terjadi pada proses isotermis,
yaitu proses yang terjadi pada suhu gas selalu
tetap (T = tetap) [6].Dinyatakan dengan
persamaan :
P
1
V
1
=P
2
V
2
(2)
Data Studio Software merupaka software
sederhana yang biasa digunakan di laboraturium.
Tidak semua data praktikum bisa diambil secara
manual, untuk data yang sulit dicatat secara
manual, bisa digunakan Data Studio Software.
Software ini bisa mencatat data data praktikum
yang kita butuhkan dengan menggunakan sensor
yang sesuai dengan praktikum. Mampu mencatat
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 173 http://proceedings.fi.itb.ac.id/cps/
data mulai 0.1 sekon dan memberikan data berupa
tabel dan grafik
Eksperimen
Dalam pembuktian hukum-hukum gas ideal,
dilakukan praktikum termodinamika berbantuan
Data Studio Software. Praktikum ini menggunakan
Small Piston Heat Engine, Pressure Sensor (CI-
6532A), Science Workshop Computer Interface,
Data Studio dan Software.

Gambar 1. Set-up Small Piston dan Heat Engine.

Gambar 2. Set-up praktikum hukum Boyle.
Gambar 1 merupakan set up Small Piston dan
Heat Enginet yang digunakan pada praktikum
termodinamika ini. Set alat untuk Small Piston dan
Heat Engine beserta pipa pipa yang akan
digunakan pada pembuktian Hukum Boyle.
Sedangkan Gambar 2 merupakan set up untuk
Hukum Boyle yang sudah dihubungkan dengan.
Pressure Sensor (CI-6532A). Sensor tekanan
langsung dihubungkan dengan Science Workshop
Computer Interface yang kemudian
menghubungkannya dengan Data Studio Software
pada computer yang digunakan untuk pembuktian
Hukum Boyle.
Metode yang digunakan pada pengujian
hukum Boyle dengan 2 kali ulangan, dengan cara
memberi sumber tekanan konstan pada pipa yang
menghubungan pressure sensor dengan Heat
Engine. Tekanan awal yang diberikan antara
pengulangan pertama dan kedua divariasikan agar
dapat membuktikan Hukum Boyle secara akurat.
Piston akan turun kebawah ketika diberikan
tekanan, dari keadaan awalnya berada pada
ketinggian maksimum ketika sebelum diberi
tekanan. Kemudian didapat hubungan antara
volume dan tekanan . Hasilnya akan terbaca pada
Data Studio Software. Namun untuk volume, diolah
sendiri menggunakan Microsoft Excell
menggunakan data. Pada software hanya tercatat
nilai tekanan dan waktu saja.
Hasil dan Diskusi
Pada Hukum Boyle, apabila suhu gas dijaga
agar selalu konstan, maka ketika tekanan gas
bertambah, volume gas semakin berkurang.
Demikian juga sebaliknya ketika tekanan gas
berkurang, volume gas semakin bertambah. Dalam
membuktikan hukum Boyle ini, dilakukan praktikum
termodinamika berbantuan data Studio Software.
Menghubungkan sensor tekanan dengan software
yang diberikan, tetapi terlebih dahulu sensor
tekanan sudah terhubung dengan Science
Workshop Computer Interface yang juga
terhubung dengan small piston. Sehingga,
didapatkan grafik hubungan antara tekanan dan
volume pada Boyle berbanding terbalik dengan
dua kali pengulangan. Setiap pengulangan
diberikan tekanan yang konstan menggunakan
suntikan, tetapi dengan tekanan awal yang
berbeda. Tekanan awal yang diberikan melebihi
150 KPa dan kisaran 100 KPa. Memberikan dua
tekanan yang berbeda namun dengan perlakuan
yang sama, akan membuktikan keakuratan pada
pembuktian Hukum Boyle ini.


Gambar 3 Grafik hubungan tekanan dan volume
dengan tekanan awal diatas 150 Kpa.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 174 http://proceedings.fi.itb.ac.id/cps/

Gambar 4. Grafik hubungan tekanan dan volume
dengan tekanan awal sekitar 100 Kpa.
Dilakukan dua variasi tekanan pada praktikum
termodinamika ini. Gambar 3 diberikan sumber
tekanan yang cukup besar, melebihi 150 KPa.
Sedangkan pada gambar 4 diberikan sumber
tekanan awal yang tidak terlalu besar hanya
kisaran 100 KPa. Sehingga dihasilkan volume
yang berbeda-beda. Namun, untuk grafik
perbandingan antara tekanan dan volume adalah
sama yaitu berbanding terbalik. J ika dilihat, grafik
yang dihasilkan tidak ideal yang dikarenakan tidak
terlalu jelasnya perubahan volume ketika
diberikannya tekanan pada saat pratikum.
Sehingga hanya hubungan tekanan dan volume
yang berbanding terbalik saja yang terlihat
sedangkan grafik yang mencerminkan gas ideal
tidak terlihat. Seperti pada literature dibawah ini :

Gambar 5. Grafik literatur gas ideal untuk hokum
Boyle.
Gambar 3 dan Gambar 4 merupakan grafik
yang didapat dengan menggunakan Microsoft
Excell. Data yang dipakai didapat dari pencatatan
data secara digital menggunakan Data Studio
Software. Data Studio Software hanya
memberikan pencatatan data tekanan dan waktu
saja,tidak termasuk volume maupun grafiknya.
Sehingga untuk volume diolah sendiri
menggunakan Microsodt Excell. Setelah didapat
volume, maka grafik hubungan tekanan dan
volume bisa dihasilkan menggunakan Microsoft
Excell.
Data Studio Software hanya memberikan
pencatatan data tekanan dan waktu saja, karena
sensor yang digunakan dan dihubungkan ke
software yang ada pada komputer hanya sensor
ini saja. Untuk volume tidak ada sensor tersendiri,
tetapi kita bisa melihat perubahan volume ketika
diberi tekanan yang ditandai oleh perubahan posisi
pistonnya. Hasil yang diperoleh sesuai dengan
literatur yang menyatakan bahwa pada hukum
Boyle terdapat hubungan antara tekanan dan
volume adalah berbanding terbalik, walaupun
grafik yang dihasilkan belum ideal. Semakin besar
tekanannya, maka volumenya semakin kecil.
Berlaku sebaliknya, ketika tekanan yang diberikan
semakin kecil, maka volume yang dihasilkan
semakin besar.
Kesimpulan
Grafik pembuktian Hukum Boyle berbantuan
Data Studio Software adalah benar sesuai literatur
bahwa semakin besarnya tekanan maka
volumenya semakin kecil karena tekanan
berbanding terbalik dengan volume. Tetapi grafik
yang dihasilkan belum ideal sesuai dengan grafik
literaturnya. Tidak ideal karena perubahan volume
yang tidak begitu jelas ketika diberikan tekanan.
Pada pembuktian Hukum Boyle, semakin besarnya
tekanan maka volumenya semakin kecil.
Ucapan terima kasih
Penelitian ini didanai oleh hibah insentif riset
SINAS KMNRT Republik Indonesia dengan nomor
kontrak 38/SEK/INSINAS/PPK/I/2013.
Referensi
[1] Peter R. Anstey, Robert Boyle and the
heuristic value of mechanism, Stud. Hist.
Phil. Sci., (2002).
[2] Djarwadi, Didiek, Pengaliran Pada Inti
Bendungan Tipe Urugan Pada
Penggenangan Pertama Waduk (The flow
through the core of fill dams during first
impoundment), Dinamika Teknik Sipil, 6(2),
63 70, (2006).
[3] Keith D. Putirka, IGE Model:An Extension of
The Idea Gas Model to Include Chemical
Composition as Part of The Equilibrium
State, J urnal of Thermodynamics, 2012,
Article ID 870631, (2012).
[4] Carlin, Laurence, Studies in history and
philosophy of science, Boyles teleological
mechanism and the myth of immanent
teleology, (2011).
[5] Keith D. Putirka, Thermometers And
Barometers For Volcanic Systems, Reviews
in Mineralogy & Geochemistry, 69, 61-120,
(2008).
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 J uli 2013, Bandung, Indonesia

ISBN 978-602-19655-4-2 175 http://proceedings.fi.itb.ac.id/cps/
[6] Zemansky, M.W & R.H Dittman, alih bahasa
The Houw Liong. Kalor dan Termodinamika,
Bandung: ITB, (1986).

Nofitri*
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
nofitrifisika47ipb@gmail.com

Sinta Sri Ismawati
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
sintasriismawati@ymail.com

Herlin Verina
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
herlinverina@yahoo.co.id

Vivi Nur Huda
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
vivifisika47ipb@gmail.com

Mohamad soleh
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
Mohamaadsoleh89@yahoo.com

Hadyan Akbar
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
hadyanakbar@ymail.com

Robi Sobirin
Mahasiswa S1 Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
Robifisika46ipb@gmail.com

Irzaman
Staf Pengajar Departemen Fisika
Institut Pertanian Bogor
irzaman@ipb.ac.id


*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 176
Penggunaan Macromedia Flash
Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa
Pada Materi Perkembangan Teori Atom
Nur Alamsah*, Heni Rusnayati, dan Chaerul Rochman

Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi karena guru kurang memanfaatkan media berbasis komputer khususnya
aplikasi Macromedia Flash dan penguasaan konsep siswa yang masih rendah. Untuk mengatasi masalah
tersebut, maka digunakan Macromedia Flash dengan tujuan untuk melihat pengaruh penggunaan
Macromedia Flash terhadap penguasaan konsep siswa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:
(1) keterlaksanaan pembelajaran yang menggunakan Macromedia Flash pada materi perkembangan teori
atom di SMA Negeri 1 Cisolok. (2) penguasaan konsep siswa dengan menggunakan Macromedia Flash
pada materi Perkembangan Teori Atom di SMA Negeri 1 Cisolok. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode quasi eksperiment. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Cisolok Kabupaten Sukabumi dengan
sampel sebanyak 36 yang dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data
keterlaksanaan penggunaan Macromedia Flash diperoleh dari lembar aktivitas guru dan siswa, peningkatan
penguasaan konsep siswa diperoleh dari pretest-postes dengan tes berbentuk pilihan ganda, sedangkan
tanggapan siswa diperoleh dari angket. Berdasarkan pengolahan data keterlaksanaan aktivitas guru dan
siswa dan output Paired Samples Test melalui SPSS 17.0 for Windows, maka diperoleh kesimpulan: (1)
Terdapat peningkatan pada tiap pertemuan keterlaksanaan aktivitas siswa dan guru selama mengikuti
pembelajaran fisika menggunakan macromedia flash dengan rata-rata keterlaksanaan 91,68%. Nilai ini
termasuk dalam kategori sangat baik. (2) Terdapat peningkatan penguasaan konsep siswa yang signifikan
setelah diterapkannya pembelajaran dengan menggunakan macromedia flash. Besarnya peningkatan
penguasaan konsep rata-rata yang ditunjukkan oleh indeks normal gain adalah sebesar 0,59. Nilai ini
termasuk dalam kategori sedang.
Kata-kata kunci: macromedia flash, penguasaan konsep, perkembangan teori atom
Pendahuluan
Menurut hasil penelitian Nursofi dan
Budiyono, (2011) penerapan media pembelajaran
berbasis Macromedia Flash dapat meningkatkan
hasil belajar teknik pelapisan dan korosi
mahasiswa pendidikan teknik mesin. Berdasarkan
hasil penelitian Wahyudi, (2009) bahwa
pemanfaatan media animasi makromedia flash
dapat meningkatkan hasil belajar Fisika pada
materi Gerak Translasi, Rotasi dan Keseimbangan
Benda Tegar. Selain itu hasil penelitian Muslih,
(2009) penerapan pendekatan pembelajaran
berbasis TIK dengan bahan ajar software Adobe
flash, dapat meningkatkan keaktifan peserta didik
dalam mempelajari fisika modern, menjadikan
suasan belajar yang menyenangkan,
meningkatkan kualitas pembelajaran, dan dapat
meningkatkan hasil belajar. Hasil penelitian
Kristanta, (2007) bahwa penyajian materi
pembelajaran dengan memvisualisasikan proses-
proses fisika non visible (khususnya tentang listrik
statis) dengan menggunakan Macromedia Flash
dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang
konsep listrik statis. Peneletian yang dilakukan
oleh beberapa peneliti sebelumnya membahas
tentang penerapan Macromedia Flash pada materi
fisika Listrik Statis dan materi lainnya, sehingga
pada penelitian ini akan menyelediki pengaruh
penggunaan Macromedia Flash pada penguasaan
konsep siswa pada materi Perkembangan Teori
Atom.
Hasil wawancara terhadap beberapa orang
siswa di SMA Negeri Cisolok, pengajar lebih
banyak menggunakan metode ceramah dengan
hanya menggunakan media papan tulis. Sebagian
kecil dari pengajar sudah mulai menggunakan
media powerpoint tetapi untuk Macromedia Flash
pengajar di SMA Negeri Cisolok khususnya
pengajar fisika belum menggunakannya. Masalah
lain yang sering terjadi di SMA Negeri 1 Cisolok,
siswa kurang terlibat secara aktif dalam proses
kegiatan belajar mengajar. Guru terkadang hanya
menjelaskan materi pelajaran, sedangkan siswa
hanya dilibatkan sebagai pendengar, penulis dan
masih kurangnya kesempatan siswa untuk
berpartisipasi secara aktif dalam proses
pembelajaran. Hal ini boleh jadi dikarenakan guru
kurang memaksimalkan peran media dalam
pembelajaran khususnya dalam pembelajaran
fisika. Berdasarkan pendahuluan tersebut, maka
dilakukan penelitian yang berjudul Penggunaan
Macromedia Flash untuk Meningkatkan
Penguasaan Konsep Siswa pada Materi
Perkembangan Teori Atom
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 177
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode quasi eksperiment (eksperimen
semu) dengan menggunakan satu sampel
penelitian yaitu kelas eksperimen saja tanpa ada
kelompok kontrol atau pembanding. Alasan
penggunaan metode quasi eksperiment dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
penggunaan penggunaan macromedia flash
terhadap penguasaan konsep siswa pada materi
perkembangan teori atom. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IPA
SMAN 1 Cisolok Kabupaten Sukabumi sebanyak
dua kelas berjumlah 74 orang. Sampel dalam
penelitian ini adalah kelas XII IPA-1 yang
berjumlah 36 orang.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif
a. Data kualitatif diperoleh dari deskripsi lembar
observasi yang digunakan untuk memberikan
gambaran proses pembelajaran fisika pada
materi pokok Perkembangan Teori Atom
melalui pembelajaran yang menggunakan
Macromedia Flash di kelas XII SMA Negeri 1
Cisolok Sukabumi yang meliputi aktivitas
siswa dan guru dan jawaban alasan siswa
terhadap komponen-komponen Macromedia
Flash. Selain itu data kualitatif diperoleh dari
data angket tanggapan siswa terhadap
macromedia flash yang digunakan dalam
pembelajaran.
b. Data kuantitatif berupa data hasil tes siswa
yang diperoleh dari pretest dan postest,
digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya
peningkatan penguasaan konsep siswa
sebelum atau sesudah pembelajaran fisika
pada materi Perkembangan Teori Atom
melalui pembelajaran mengunakan
Macromedia Flash.
Hasil dan Diskusi
Berdasarkan hasil analisis keterlaksanaan
aktivitas guru dan siswa pembelajaran dengan
menggunaka macromedia flash dari setiap
pertemuan mengalami peningkatan. Adapun setiap
peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 1
dibawah ini.
Tabel 1. Persentase Aktivitas Guru dan siswa
Pertemuan Pertama, Kedua, dan Ketiga.
Tahapan Keterlaksanaan Interpretasi
Pertemuan
pertama
85,71 % Sangat Baik
Pertemuan
kedua
91,08 % Sangat Baik
Pertemuan
ketiga
98,26 % Sangat Baik
Tabel 1 jika disajikan dalam bentuk grafik sebagai
berikut:
75
80
85
90
95
100
P
e
r
t
e
m
u
a
n

K
e

1
P
e
r
t
e
m
u
a
n

K
e

2
P
e
r
t
e
m
u
a
n

K
e

3
AktivitasGurudanSiswa

Gambar 1. Persentase Aktivitas Guru dan Siswa
Pertemuan Kesatu, Kedua, dan Ketiga.
Data penguasaan konsep siswa yang
diperoleh melalui pretest dan postest mengalami
peningkatan sebesar 51,04 antara sebelum dan
sesudah pembelajaran dengan menggunakan
Macromedia Flash. Rata-rata skor penguasaan
konsep siswa sebelum pembelajaran dengan
menggunakan Macromedia Flash adalah 18,89,
sedangkan setelah menggunakan Macromedia
Flash adalah 65,93.
Distribusi skor penguasaan konsep siswa
dapat ditunjukan dengan membandingkan skor
rata-rata pretes-postes, dan N-Gain setiap aspek
kognitif pada materi perkembangan teori atom.
Peningkatan penguasaan konsep siswa dari data
hasil pretest dan postest tertera pada tabel 2.
Tabel 2. Skor Pretest, Postest dan Normal Gain
untuk Tiap Aspek Kognitif.
Rata-rata
Aspek
Kognitif
Pretest
(%)
Postest
(%)
N-
Gain
Interpre-
tasi
C1 11,11 63,43 0,59 Sedang
C2 26,86 80,55 0,72 Tinggi
C3 18,75 57,64 0,48 Sedang
C4 30,56 68,06 0,54 Sedang
Rata-
rata
21,82 67,42 0,58 Sedang
Distribusi skor penguasaan konsep siswa
dapat ditunjukan dengan membandingkan skor
rata-rata pretest dan postest siswa pada materi
Perkembangan Teori Atom, hasil peningkatan
penguasaan konsep siswa pada setiap aspek
kognitif dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 178
0.00
20.00
40.00
60.00
80.00
C1 C2 C3 C4
Pretes
Postes
NGain

Gambar 2. Skor Rata-Rata Penguasaan Konsep
Tiap Aspek Kognitif.
Rincian peningkatan penguasaan siswa terhadap
konsep yang dipelajari disajikan pada tabel 3
berikut ini:
Tabel 3. Persentase Konsep Setiap Kategori
Peningkatan.
Rata-rata
Konsep
Pretest Postest
N-
Gain
Interpr-
etasi
Model
atom
Dalton
13,89 75,00 0,71 Tinggi
Model
atom
Thomso
14,81 67,59 0,62 Sedang
Model
atom
Rutherford
22,22 74,07 0,67 Sedang
Model
atom Bohr
19,79 61,11 0,52 Sedang
Rincian banyaknya siswa yang mengalami
peningkatan tiap kategori peningkatan disajikan
pada tabel 4 dibawah ini:
Tabel 4. Persentase banyaknya siswa setiap
kategori peningkatan.
Banyaknya
Siswa
Persentase Kategori
1 2,78 % Rendah
27 75,00 % Sedang
8 22,22 % Tinggi
Berdasarkan tabel diatas, maka persentase
peningkatan penguasaan konsep siswa tertinggi
adalah pada kategori sedang yaitu sebesar
75,00%, sedangkan persentase peningkatan
penguasaan konsep siswa terendah terdapat
pada ketegori rendah. Artinya, hanya terdapat
2,78% siswa yang mengalami kenaikan
penguasaan konsep dengan peningkatan dengan
taraf rendah, sisanya mengalami peningkatan
penguasaan konsep dengan signifikan, tabel 4
diilustrasikan pada gambar 2 berikut:
2.78
75
22.22
PersentasePeningkatan
PenguasaanKonsepSiswa
Rendah
Sedang
Tinggi

Gambar 3. Persentase Siswa Tiap Kategori
Peningkatan.
Uji normalitas data pada pretest diperoleh sig.
(2-tailed) 0,08 > 0,05, pada postest diperoleh sig.
(2-tailed) 0,23 > 0,05. Hal ini menunjukkan kedua
data berdistribusi normal, karena data
berdistribusi normal maka pengolahan data
dilanjutkan ke uji-t menggunakan N-Gain, uji
normalitas N-Gain menunjukan bahwa sig. (2-
tailed) 0,509 > 0,05. Hal ini menunjukkan data
berdistribusi normal.
Berdasarkan output Paired Samples Test,
dengan = 95 %, menghasilkan bahwa nilai Sig. =
0,000 < = 0,05 sehingga H
0
ditolak dan H
a

diterima. Artinya terdapat peningkatan
penguasaan konsep siswa pada materi
perkembangan teori atom antara sebelum dan
sesudah mengikuti pembelajaran dengan
menggunakan Macromedia Flash.
Indikator aspek kognitif yang mengalami
kenaikan tertinggi adalah indikator aspek kognitif
C2. Hal ini dikarenakan siswa mampu
mengkonstruk makna dari materi pembelajaran.
Ketika seorang siswa sudah memahami sebuah
konsep, maka siswa tersebut dapat memecahkan
sebuah permasalahan yang dalam hal ini siswa
mampu untuk mengisi dengan benar soal pilihan
ganda. Selain itu siswa disuguhkan dengan
beberapa animasi pada pembeljaran yang
sejatinya menambah pemahaman siswa mengenai
suatu konsep. Indikator yang mengalami kenaikan
terendah terdapat pada indikator aspek kognitif C3.
Apabila seorang siswa dapat memahami suatu
konsep, tetapi belum pasti siswa tersebut dapat
mangaplikasikannya. Seperti halnya saja
seseorang yang sangat tahu betul konsep
mengemudikan mobil, tetapi belum pasti orang
tersebut dapat mengemudikan mobil di jalan raya.
Oleh karena itu, untuk lebih dapat menguasai
indikator kognitif C3 (mengaplikasikan) perlu
adanya latihan soal yang intens kepada siswa.
Soal yang mengalami peningkatan penguasaan
konsep terendah terdapat pada soal nomor 13
dengan indikator aspek kognitif C3. Hal ini
dikarenakan siswa lupa untuk mengkonversi dari
satuan (Ev) ke satuan (Joule). Oleh karena itu
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 179
perlu penekanan kepada siswa oleh guru untuk
lebih teliti ketika mengerjakan soal tes.
Kesimpulan
Berdasarkan pengolahan dan analisis data
hasil penelitian yang telah dilakukan di SMA
Negeri 1 Cisolok mengenai penggunaan
macromedia flash untuk meningkatkan
penguasaan konsep siswa pada materi
perkembangan teori atom, diperoleh kesimpulan:
(1) Terdapat peningkatan pada tiap pertemuan
keterlaksanaan aktivitas siswa dan guru selama
mengikuti pembelajaran fisika menggunakan
macromedia flash dengan rata-rata keterlaksanaan
91,68%. Nilai ini termasuk dalam kategori sangat
baik. (2) Terdapat peningkatan penguasaan
konsep siswa yang signifikan setelah
diterapkannya pembelajaran dengan
menggunakan macromedia flash. Besarnya
peningkatan penguasaan konsep rata-rata yang
ditunjukkan oleh indeks normal gain adalah
sebesar 0,59. Nilai ini termasuk dalam kategori
sedang.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Lilik Frilantika, S.Pd. dan Diah Mulhayatiah, S.Si.,
M.Pd. yang telah membimibing dalam pembuatan
media pembelajaran berbasis Macromedia Flash.
Referensi
[1] Lorin W Anderson dan David R Krathwohl,.
Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,
Pengajaran, dan Asesmen: Revisi Taksonomi
Pendidikan Bloom, Penerbit Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, (2001).
[2] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan (revisi), Penerbit Bumi Aksara,
Jakarta, (2010).
[3] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,
Penerbit Raja Grafindo Persada, Jakarta,
(2007).
[4] Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan
Pembelajaran, Penerbit Erlangga, Bandung,
(2011).
[5] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran
Berdasarkan Pendekatan Sistem, Penerbit
Bumi Aksara, Jakarta, (2009).
[6] Yanti Herlanti, Tanya Jawab Seputar
Penelitian Pendidikan Sains, Penerbit UIN
Syarif Hidayatullah, Jakarta, (2006).
[7] Yudhi Munadi, Media Pembelajaran,:
Penerbit Persada Press, Jakarta, (2010).
[8] Uus Ruswandi, Media Pembelajaran,
Penerbit Insan Mandiri, Bandung, (2008).
[9] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna
Pembelajaran, Penerbit Alfabeta, Bandung,
(2010).
[10] Slameto Belajar dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya, Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta, (2003).
[11] Sugiyono, Statistika untuk Penilaian,
Alfabeta, Bandung, (2008).
[12] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D, Penerbit Alfabeta,
Bandung, (2012).
[13] M. Sobri Sutikno dan Rosyidah Ida, Media
Pembelajaran, Penerbit Prospect, Bandung,
(2009).
[14] Yusman Wiyatmo, Fisika Atom, Penerbit
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, (2008).

Nur Alamsah
Universitas Islam Negeri SGD Bandung
Heni Rusnayati
Universitas Pendidikan Indonesia

Chaerul Rochman
Universitas Islam Negeri SGD Bandung

*Corresponding author



Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 180
Model Dinamika Elemen Volume Air pada Self-Siphon dengan
Pendekatan Analitik serta Konfirmasi Eksperimen dan Numerik untuk
Konstruksi Ruang Kerja Parameternya
Nurhayati*, Wahyu Hidayat, Novitrian, Fourier Dzar Eljabbar Latief,
Sparisoma Viridi, dan Freddy Permana Zen

Abstrak
Siphon adalah suatu desain pipa, yang umumnya berbentuk menyerupai huruf-U terbalik yang digunakan
untuk mengalirkan fluida melampaui ketinggian tertentu dengan memanfaatkan perbedaan tekanan dan
energi potensial gravitasi. Siphon terdiri dari tiga segmen. Segmen I berbentuk pipa lurus vertikal, memiliki
panjang yang dapat diubah-ubah yang dibentuk dari beberapa potongan pipa. Segmen II merupakan pipa
setengah lingkaran dengan jari-jari kelengkungan sebesar 1 cm. Segmen III juga berbentuk pipa lurus
vertikal yang panjangnya 15 cm. Penelitian terjadinya aliran air pada siphon telah dilakukan secara analitik
dari model persamaan gerak. Model persamaan gerak berupa persamaan diferensial linear orde dua tak
homogen pada segmen I dan III, sedangkan pada segmen II berupa persamaan diferensial nonlinear orde
dua tak homogen. Dalam penelitian ini, beberapa metode yang telah dicoba dalam menyelesaikan model
persamaan gerak di segmen II diantaranya adalah linierisasi, pendekatan deret Taylor, pendekatan deret
MacLaurin, dan fungsi elliptik Jacobi. Metode-metode tersebut gagal dalam menyelesaikan persamaan
diferensial pada segmen II. Dengan demikian, model persamaan gerak pada segmen II dapat diselesaikan
secara numerik dengan metode Euler, dimana pasangan nilai h dan t yang memprediksikan ada tidaknya
aliran sesuai dengan eksperimen adalah 10
-4
m dan 10
-7
s dengan t maksimum 5.6 10
-3
s pada segmen I,
1.5 10
-3
s pada segmen II, dan 7 10
-3
s pada segmen III.
Kata-kata kunci: siphon, model persamaan gerak, solusi analitik, metode Euler
Pendahuluan
Penelitian mengenai cara kerja siphon telah
banyak diperbincangkan oleh peneliti [1-4].
Penelitian yang telah dilakukan seperti prinsip
model rantai (chain model principle) [5]. Meskipun
demikian, prinsip ini tidak dapat menjelaskan aliran
yang terjadi dalam siphon saat siphon yang
digunakan memiliki diameter selang yang berbeda
[2]. Bentuk yang lebih kompleks dari siphon ialah
self-siphon, dimana self-siphon didefinisikan
sebagai siphon yang dapat mengalirkan fluida
dengan sendirinya [6]. Beberapa percobaan telah
dilakukan untuk mengamati terjadinya aliran air
pada self-siphon yang disertai dengan
pemodelannya [7], simulasi dengan menggunakan
dinamika molekuler [8], serta eksperimen dan
simulasi dalam memprediksi terjadinya aliran air
dalam konfigurasi self-siphon tersegmentasi [9].
Selain itu, telah pula dibuat media pembelajaran
mengenai ruang kerja self-siphon [10]. Penelitian
sebelumnya juga telah dilakukan simulasi pada
segmen tegak siphon [11] yang dilanjutkan dengan
eksperimen dan simulasi pada keseluruhan
segmen siphon [12].
Dalam penelitian ini dipaparkan beberapa
metode analitik yang telah dicoba dalam menye-
lesaikan model persamaan gerak di segmen II.

Model Persamaan Gerak
Berdasarkan pertimbangan pengaruh gaya
gravitasi bumi, gaya gesek, dan gaya tekanan
hidrostatik pada elemen volume air, suatu lapisan
tipis air yang merupakan antarmuka antara air dan
udara, maka model persamaan gerak pada
segmen II adalah [18]:

2
2
8
cos
sin
0
d h d g
m dt R dt
gA gAL
m mR
u tq u
u
u
A
+ +
A
=
A A
, (1)
dengan ialah viskositas air (N.s/m
2
), ialah
massa jenis air (kg/m
3
), h ialah ketebalan elemen
volume air (m), m ialah massa elemen volume air
(kg), g ialah percepatan gravitasi bumi (m/s
2
), R
adalah jari-jari kelengkungan pipa (m), dan L
adalah panjang pipa di atas permukaan air pada
segmen I (m).
Persamaan (1) dapat dituliskan sebagai

2
1 2 3 4
2
cos sin 0
d d
C C C C
dt dt
u u
u u + + + + = , (2)
dengan
1
8 C h m tq = A A ,
2
C g R = ,
3
C gA m = A ,
dan
4
C gAL mR = A .
Persamaan (2) dapat ditransformasi menjadi
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 181
( )
2 2
1 5 4
sin 0 d dt C d dt C C + + + = , (3)
di mana
( ) 2 3
1
tan C C u

= + .
Solusi Analitik
Beberapa metode analitik yang telah dicoba
dalam menyelesaikan persamaan diferensial non
linear orde dua tak homogen pada segmen II
sebagaimana dipaparkan dalam bagian ini.
Linearisasi
Solusi analitik menggunakan metode
linearisasi dilakukan dengan memecahkan
persamaan diferensial orde dua menjadi dua
persamaan diferensial orde satu. Persamaan (3)
dapat diubah menjadi persamaan diferensial
nonlinear orde satu tak homogen seperti
ditunjukkan pada Persamaan (4) dan (5).

( ) ,
d
f
dt

| | =
, (4)

( ) ( )
1 5 4
, sin g d dt C C C | | | = + + , (5)
Persamaan (4) dan (5) dapat ditulis dalam bentuk

( )
( )
5 4 1
, 0 0 1
, sin 0
sukugangguan
sukuhomogen
f
g C C C
|
| |
( ( ( (
= + ( ( ( (

(

, (6)
Namun hal tersebut tetap tidak dapat
diselesaikan walaupun dengan memisahkan suku
sebagai gangguan.
Pendekatan Deret Taylor
Pendekatan deret Taylor dilakukan dengan
membagi segmen II ke dalam n sub segmen dan
pendekatan orde satu pada bagian sinus dan
kosinusnya. Sehingga selisih posisinya adalah

0
u u u A = , (7)
di mana adalah posisi sudut di sub segmen
setiap saat,
0
ialah posisi sudut di sub segmen
awal, dan adalah selisih posisi sudut. Dengan
menggunakan uraian deret Taylor, maka nilai sinus
dan cosinus pada Persamaan (2) dapat didekati
dengan

( )
sin sin cos
n n n
u u u u u + , (8)
dan

( )
cos cos sin
n n n
u u u u u . (9)
Selanjutnya, Persamaan (2) dapat ditulis
dalam bentuk sederhana yaitu

2 2 2
2
n n n
d dt b d dt K u u o u + + = . (10)
Persamaan (10) diselesaikan dengan mencari
akar-akar persamaan dari bentuk homogennya,
misalnya ditinjau pada diameter d = 4 mm

yaitu

2 2
, 1, 2, ,9
n n
b n o < = , (11)
maka
2 2
n n
b o adalah imajiner. Solusi total
Persamaan (10) untuk posisi dan kecepatannya
adalah

( )
,
sin
n n
b t
n n n n n p n
c e t u | u

= + + , (12)
dan

( ) ( )
,
cot
ni n p n n n n ni n
b t e u u | | ( = + +

.(13)
Solusi umum untuk waktu awal tiap sub
segmen diperoleh dari persamaan posisi sudut
dalam Persamaan (12) dengan

( )
( )
sin =im
n n n
n n n
i t
t e
|
|
| | +
+
|
\ .
. (14)
Namun, pengambilan nilai seperti pada
Persamaan (14) tidak berlaku untuk semua sistem,
sehingga nilai tersebut tidak dapat diterapkan.
Pada bagian setengah dari segmen II

2 2
, 1, 2, ,9
n n
b n o < = , (15)
maka
2 2
n n
b o adalah real dan kurang dari b
akar-akar persamaan adalah negatif. Solusi total
Persamaan (10) untuk posisi dan kecepatannya
adalah

,
t t
n n n n
p n
Ae Be

u u

= + + , (16)
dan

t t
n n n n
n n n
Ae Be

e

= . (17)
Pendekatan deret MacLaurin
Penerapkan deret MacLaurin dilakukan untuk
memperoleh solusi waktu pada Persamaan (11),
dimana fungsi eksponensial didekati dengan orde
pertama dan fungsi sinus didekati dengan orde
ketiga sehingga diperoleh

( )
1
bt
bt f t e

= = , (18)
dan
Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 182

( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
2 3
2 3
sin sin cos
sin cos
2! 3!
g t t t
t t
| |
| |
= + = +

. (19)
Persamaan (12) menjadi

( )
( )
( )
( )
( )
( )
( )
( ) { }
3
3
4
2
2
3 2
cos
cos
3!
3!
2!
cos
2!
0
cos
sin
sin
sin
sin
n n
n n n
nf
n n n
n n
nf n n nf n
n n
nf n n
n n
b
b
b
b
D
t
t t
t
|
|
|
|
|
|


+
`


)


+
`

)


+ + =
`

)
+

,(20)
dengan
( )
, n nf p n n
D c u u = .
Persamaan (20) diselesaikan untuk
mendapatkan waktu yang dibutuhkan untuk
menempuh satu sub segmen dalam segmen II.
Pendekatan deret MacLaurin
Fungsi eliptik Jacobi didefinisikan sebagai
kebalikan dari integral eliptik jenis pertama [20].
Integral eliptik jenis pertama seperti di bawah ini

( )
2 2
0
, k
sin 1
d
u F
k
|
|
|
|
= =

}
, (21)
di mana
2
1 0 k < < , dengan k merupakan modulus
elastik dari u dan | . Fungsi eliptik Jacobi diberikan
oleh

( ) ( )
1
u, k u, k F amp |

= = . (22)
Penerapan fungsi ini dilakukan pada bentuk
persamaan homogen dari Persamaan (3)

( )
( )
2 2
5
sin 0 d dt C + = . (23)
Nilai batas bawah dan batas atas integral adalah
o
0
8.9059 | = dan
o
87.1985 | = yang diperoleh dari
hubungan ( )
2 2
sin 1 cos 2k | = . Dengan
menggunakan syarat batas tersebut dapat
diperoleh nilai ( ) , F k |

( )
0
87.1985
8.9059
2 2
, =1.3664
sin 1
d
F k
k
|
|
|
|
|
=
=
=

}
. (24)
Nilai waktu dapat diperoleh adalah

( )
5
5
, 1.3664 10 0.0043s t F k C | = = = ,(25)
dengan posisi sebagai fungsi waktu adalah
o
3.1239 = . Nilai ditransformasikan kembali ke
dalam bentuk u seperti ditunjukkan pada
Persamaan (26)

( )
1 o
2 3
3.69 8 an 6 t C C u

= = . (26)
Fungsi eliptik Jacobi hanya dapat
menyelesaikan pada bagian homogen dan posisi
yang diperoleh terbatas pada
o o
3. 68 0 69 u s s .
Segmen II memiliki rentang posisi
0 180 u s s

yang berada di luar daerah
keberlakuan solusi menggunakan fungsi eliptik
Jacobi.
Hasil dan Diskusi
Solusi analitik yang diberikan oleh Persamaan
(20) dapat digunakan untuk memperkirakan waktu
yang dibutuhkan air untuk menempuh keseluruhan
siphon dan kecepatan rata-rata aliran air. Hasil
perhitungan numerik dan perkiraan eksperimen
sebagai pembanding disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Nilai kecepatan dan waktu dari solusi
analitik, eksperimen, dan numerik.
Analitik Eksperimen Numerik
v
(m/s) 9 0.256 19.8
t
(s) 0.003 0.0068 0.006
Dalam Tabel 1 terdapat ketidakkonsistenan antara
hasil analitik, eksperimen, dan numerik. Di mana
nilai kecepatan yang diperoleh dalam solusi
analitik dan numerik ialah satu orde lebih tinggi
dari hasil eksperimen.
Selanjutnya, beberapa pendekatan analitik
memiliki beberapa kekurangan seperti ditunjukkan
pada Tabel 2.
Tabel 2. Pendekatan beberapa metode analitik.
No. Pendekatan Hasil
1 Linierisasi
suku sin sebagai
gangguan tidak dapat
dipisahkan
2 Deret Taylor tidak diperoleh nilai waktu
3
Deret
MacLaurin
nilai kecepatan dan waktu
yang diperoleh tidak
sesuai dengan hasil
eksperimen
4
Fungsi
Elliptik
Jacobi
hanya dapat diselesaikan
di bagian homogennya
dan posisi yang diperoleh
terbatas
o o
3. 68 0 69 u s s

Prosiding Simposium Nasional Inovasi Pembelajaran dan Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 183
Persamaan (3) tidak dapat diselesaikan secara
analitik [13]. Dengan menggunakan Tabel 1 dan
Tabel 2, maka Persamaan (3) hanya dapat
diselesaikan secara numerik misalnya pendekatan
metode Euler [12].
Kesimpulan
Tidak terdapatnya solusi analitik pada
segmen II. Pasangan nilai h dan t yang
memprediksikan ada tidaknya aliran sesuai
dengan eksperimen adalah 10
-4
m dan 10
-7
s
dengan t maksimum 5.6 10
-3
s pada segmen I,
1.5 10
-3
s pada segmen II, dan 7 10
-3
s pada
segmen III.
Ucapan terima kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
FMIPA Institut Teknologi Bandung, Riset Hibah
Kompetisi Dikti 2012 atas dukungan finansialnya
pada kegiatan SNIPS 2013, serta Laboratorium
Fisika Teoretik dan Energi Tinggi.
Referensi
[1] Potter, A. dan Barnes, F. H., The Siphon,
Physics Education, 6: 362 (1971).
[2] Planinsic, G. dan Slisko, J., The Pulley
Analogy Does Not Work for Every Siphon,
Physics Education, 45: 356, (2010).
[3] Hughes, S. W., The Secret Siphon, Physics
Education, 46: 298, (2011).
[4] Nanayakkara, N. W. K. T. R. dan Rosa, S. R.
D., Revisiting the Physics behind Siphon
Action, Proceedings of the Technical
Sessions, 28: 106, (2012).
[5] Hughes, S. W., A Practical Example of A
Siphon at Work, Physics Education, 45: 162,
(2010).
[6] Masterika, F., Eksperimen Aliran Fluida
Menggunakan Self Siphon, Tesis Magister
Institut Teknologi Bandung, Bandung, (2011).
[7] Masterika, F., Novitrian, dan Viridi, S., Self
Siphon Exsperiments and Its Mathematical
Modelling Using Parametric Equation,
Proceeding of the Third International
Conference on Mathematics and Natural
Sciences, p. 608, (2010).
[8] Viridi, S., Suprijadi., Khotimah, S. N.,
Novitrian, dan Masterika, F., Self-Siphon
Simulation Using Molecular Dynamics
Method, Recent Development in Computer
Science, 2: 9, (2011).
[9] Viridi, S., Novitrian, Masterika, F., Hidayat W.,
dan Zen, F. P., Segmented Self Siphon:
Experiments and Simulations, In The 5th
International Conference on Research and
Education in Mathematics, Edited By E. T.
Baskoro et. al., AIP Conference Proceedings,
1450: 190, (2011).
[10] Masterika, F., Novitrian, dan Viridi, S.,
Eksperimen Aliran Fluida Menggunakan Self
Siphon, Prosiding Simposium Nasional
Inovasi Pembelajaran Sains, p. 47, (2011).
[11] Nurhayati, Hidayat, W., Viridi. S., dan Zen, F.
P., Pemodelan Aliran Fluida dalam Pipa
Lurus Vertikal Bagian dari Sifon
Menggunakan Dinamika Newton, dalam
Cristian Fredy Naa (Ed.), Prosiding
Simposium Nasional Inovasi dan
Pembelajaran Sains, p. 73, (2012).
[12] Nurhayati, Hidayat, W., Novitrian, Viridi. S.,
and Zen, F. P., Simulation of Fluid Flow in A
U-Shape Self-Siphon and Its Working Space,
Proceeding of the Fourth International
Conference on Mathematics and Natural
Sciences, in review, (2012).
[13] Gitterman, M., The Chaotic Pendulum,
World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd, p. 11,
(2010).

Nurhayati*
Laboratorium Fisika Teoretik dan Energi Tinggi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Bandung
fisika.nurhayati@yahoo.com
Wahyu Hidayat
Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi
Indonesia Center for Theoretical and Mathematical
Physics (ICTMP)
Institut Teknologi Bandung
wahid@fi.itb.ac.id
Novitrian
Fisika Nuklir dan Biofisika
Indonesia Center for Theoretical and Mathematical
Physics (ICTMP)
Institut Teknologi Bandung
novit@fi.itb.ac.id
Fourier Dzar Eljabbar Latief
Fisika Bumi dan Sistem Kompleks
Institut Teknologi Bandung
fourier@fi.itb.ac.id
Sparisoma Viridi
Fisika Nuklir dan Biofisika
Indonesia Center for Theoretical and Mathematical
Physics (ICTMP)
Institut Teknologi Bandung
dudung@fi.itb.ac.id
Freddy Permana Zen
Fisika Teoretik Energi Tinggi dan Instrumentasi
Indonesia Center for Theoretical and Mathematical
Physics (ICTMP)
Institut Teknologi Bandung
fpzen@fi.itb.ac.id

*Corresponding author
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 184
Representasi Konsep Larutan Penyangga
dalam Buku Teks Pelajaran Kimia SMA
Nurul Fajriyah*, Cucu Zenab Subarkah dan Siti Suryaningsih

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah struktur konsep larutan penyangga dan keterhubungan
representasinya dalam buku teks pelajaran kimia sudah sesuai dengan standar. Representasi kimia dalam
buku teks pelajaran dievaluasi menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh Gkitzia dan dibandingkan
dengan standar, buku teks Chemistry The Central Science. Metode yang digunakan dalam penelitian ini
berupa studi deskriptif terhadap tiga buah buku teks pelajaran kimia yang paling banyak digunakan di
SMA/MA Negeri di Kota Bandung bagian Timur. Hasil penelitian menunjukan bahwa dua dari tiga buku teks
pelajaran kimia SMA menyajikan konsep larutan penyangga dalam bab yang terpisah dengan konsep KSP
yang juga merupakan aplikasi dari kesetimbangan larutan; ketiga buku yang diteliti tidak menjelaskan efek
ion senama yang merupakan konsep prasyarat untuk mempelajari larutan penyangga. Mengenai
representasi kimia dalam buku teks pelajaran, hasil temuan menunjukan bahwa pada Buku I tidak
disediakan representasi kimia kecuali pada halaman awal bab, pada Buku II , dari total 6 representasi
16,66% merupakan representasi multipel (simbolik-submikroskopik), 16,66% simbolik dan 66,6% makro.
Sedangkan pada Buku III, dari total 4 representasi, 50% diantaranya merupakan representasi makro, 25%
multiple dan sisanya (25%) merupakan representasi hybrid (simbolik-makroskopik).
Kata-kata kunci : Buku teks Pelajaran, Larutan Penyangga, Representasi
Pendahuluan
Buku teks merupakan salah satu atribut
penting dalam pembelajaran, bahkan sering
dikatakan sebagai sumber pengajaran utama [1].
Karena setiap fenomena kimia dapat dijelaskan
melalui tiga aspek representasi kimia (makro,
submikro dan simbolik), maka selain teks,
representasi kimia merupakan bagian tak
terpisahkan dari berbagai macam materi
pengajaran kimia, termasuk dalam buku teks
sekolah [2]. Larutan Penyangga adalah salah satu
konsep kimia yang dimuat dalam buku teks
pelajaran Kimia SMA. Konsep ini merupakan
konsep abstrak [3]. Penelitian sebelumnya
menunjukan bahwa sebagian besar siswa tidak
mampu menghubungkan aspek makroskopis,
mikroskopis, dan simbolis mereka mengenai
larutan penyangga [3].
Menurut Stake [4], buku teks pelajaran dapat
menjadi salah satu sumber miskosepsi siswa, oleh
karena itu evaluasi terhadap buku teks diperlukan
sehingga baik guru dan siswa dapat menentukan
buku mana yang tepat dan dapat digunakan
sebagai sumber belajar. Menurut Athineva [5] buku
teks dapat dianalisis berdasarkan keterpaduan
konten materi, keterpaduan antar materi,
kesesuaian gambar dengan teks yang disediakan,
serta contoh dan latihan. Dalam makalah ini
dijelaskan salah satu cara mengevaluasi buku
teks pelajaran yang bukan hanya
memperhitungkan konten buku tetapi juga kriteria
representasi kimia.
Teori
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif,
dengan subjek penelitian berupa 3 buah buku
pelajaran kimia SMA kelas XI yang paling banyak
digunakan siswa di SMA/MA Negeri di kota
Bandung Bagian Timur. Buku 1 merupakan salah
satu Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang
diterbitkan oleh dinas Pendidikan, sedangkan
Buku 2 dan Buku 3 merupakan buku dari dua
Penerbit Komersial. Penelitian diawali dengan
studi pendahuluan mengenai peggunaan buku
teks pelajaran oleh siswa SMA/MA Negeri di
wilayah kota Bandung Bagian Timur.
Dalam penelitian ini buku teks dievaluasi
dengan membandingkannya dengan buku
Chemistry The Central Science sebagai standar.
Pemilihan standar dilakukan dengan
mempertimbangkan kelengkapan konten dan
keragaman jenis representasi yang ada. Selain itu
dalam mengevaluasi buku teks digunakan pula
kriteria representasi Kimia yang dikembangkan
Gkitzia (2010). Kriteria reprsentasi ini
mengevaluasi 5 hal, yaitu tipe representasi (R1),
Kejelasan karakter penyusun representasi (R2),
keterkaitan dan keterhubungan representasi
dengan teks (R3), keberadaan caption (R4) dan
derajat keterhubungan antar representasi
penyusun suatu multiple representasi (R5).
Tipologi untuk setiap karakteristik dapat dilihat
pada Tabel 1.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 185
Tabel 1. Karakteristik Evaluasi Representasi Kimia.
Kriteria Tipologi
R1
a. Makro
b. Submikro
c. Simbolik
d. Multiple
e. Hybrid
f. Mixed
R2
a. Explisit
b. Implisit
c. Ambigu
R3
a. Sepenuhnyaterkaitdan
terhubung.
b. Sepenuhnya terkait dan tidak
terhubung.
c. Sebagian terkait dan terhubung
d. Sebagian terkait dan tidak
terhubung.
e. Tidak terkait.
R4
a. Adanyaketeranganyangsesuai.
b. Adanya keterangan yang
bermasalah.
c. Tidak ada keterangan.
R5
a. Cukupterhubung.
b. Kurang terhubung.
c. Tidak terhubung.
Pengambilan data untuk analisis represntasi
kimia dilakukan melalui metode dokumentasi [6].
Setelah data terkumpul, selanjutnya data dianalisis
dengan mempersentasekan masing-masing jumlah
tipologi yang muncul terhadap jumlah total
representasi yang ada dalam suatu buku. Setelah
persentase didapatkan akan terlihat
kecenderungan pada masing-masing buku.
Disamping itu konten masing-masing buku juga
dibandingkan dengan konten buku standar.
Hasil dan Diskusi
Hasil penelitian menunjukan bahwa pada
buku 1 dan Buku 3 konsep larutan penyangga
disajikan dalam satu bab tersendiri, sedangkan
pada buku 2 konsep larutan penyangga
merupakan sub bab dari Kesetimbangan Ion
dalam Larutan. Jika dibandingkan dengan standar,
buku 2 lebih sesuai karena didalam buku standar,
konsep larutan penyangga merupakan subab dari
bab Additional Aspect of Aqueous Equilibria. Hal
lain yang teramati adalah pembahasan konsep
Kapasitas larutan penyangga yang hanya ada
dalam Buku 3, sementara konsep efek ion senama
yang ada pada konten buku standar tidak dibahas
sama sekali dalam ketiga buku. Analisis
representasi kimia hanya dilakukan terhadap buku
2 dan 3 karena pada buku 1 tidak terdapat
representasi kimia kecuali pada sampul Bab. Hasil
analisis terhadap Buku 2 dapat dilihat pada Tabel
2.
Tabel 2. Analisis Representasi Kimia Buku 2.
Gambar Kategori Representasi
Gambar 1 :
Representasi
makro larutan
penyangga dalam
Buku 2
R1 :(a) makro
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(b)Sepenuhnya terkait &
tidak terhubung
R4 :(a) terdapat caption yang
memadai
R5 : -
Gambar 2 :
Representasi
multiple cara
kerja larutan
penyangga ketika
ditambahkan
sejumlah kecil
asam dalam
Buku 2
R1 :(d) multiple
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(a) sepenuhnya terkait &
terhubung
R4 :(a) terdapat caption yang
memadai
R5 :(a) terhubung dengan
jelas
Gambar 3:
Representasi
simbolik cara
kerja larutan
penyangga ketika
ditambahkan
sejumlah kecil
asam atau basa
dalam Buku 2
R1 :(a) simbolik
R2 :(a) Eksplisit
R3 : (b)sepenuhnya terkait &
tidak terhubung
R4 : (a) terdapat caption yang
memadai
R5 : -
Gambar 4 :
Representasi
makro fungsi
larutan
penyangga dalam
penelitian
biokimia pada
Buku 2
R1 :(a) makro
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(d)Terkait sebagian &
tidak terhubung
R4 :(a)terdapat caption yang
memadai
R5 : -
Gambar 5 :
Representasi
makro fungsi
larutan
penyangga dalam
industri makanan
kemasan
R1 :(a) makro
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(d)Terkait sebagian &
tidak terhubung
R4 :(a) terdapat caption yang
memadai
R5 : -
Gambar 6 :
Represntasi
makro larutan
amonia dalam
Buku 2.
R1 :(a) makro
R2 :(b) Eksplisit
R3 :(d) Terkait sebagian &
tidak terhubung
R4 : (a) terdapat caption yang
memadai
R5 : -
Data pada Tabel 2 menunjukan bahwa jenis
representasi (R1) yang cenderung digunakan
adalah makro (66,6%), surface feature untuk
setiap representasi (R2) cenderung eksplisit,
hanya 16,66 % representasi yang terkategori
terkait dan terhubung sisanya kuarang terkait dan
tidak terhubung (33,33%) dan Kurang terkait tapi
terhubung (50%). Karena hanya terdapat satu
multiple representasi, maka hanya satu gambar
yang dapat dievaluasi dengan R5, dimana setiap
level representasi terhubung dengan jelas.
Prosiding Simposium Nasional Inovasi dan Pembelajaran Sains 2013 (SNIPS 2013)
3-4 Juli 2013, Bandung, Indonesia
ISBN 978-602-19655-4-2 186
Hasil analisis representasi kimia terhadap
Buku 3 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Analisis Representasi Kimia Larutan
penyangga Buku 3.
Gambar Kategori Representasi
Gambar 1 :
Sifat larutan
penyangga
R1 :(a) Makro
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(a) Sepenuhnya terkait
& terhubung
R4 :(a) terdapat caption
yang memadai
R5 : -
Gambar 2 :
komponen
larutan
penyangga
asam
R1 :(d) Hybrid
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(b) Sepenuhnya terkait
& tidak terhubung
R4 : (a) terdapat caption
yang memadai
R5 : (b) kurang tehubung
Gambar 3:
Komponen
larutan
penyangga
basa
R1 :(e) Hybrid
R2 :(a) Eksplisit
R3 :(b) Sepenuhnya terkait
& tidak terhubung
R4 :(a) terdapat caption
yang memadai
R5 : -
Gambar 4 :
Aplikasi larutan
penyangga
dalam kalibrasi
pH meter
R1 :(a) makro
R2 :(b) implisit
R3 :(d) Terkait sebagian
& tidak terhubung
R4 :(a)terdapat caption
yang memadai
R5 : -
Data yang diperlihatkan pada Tabel 3