Anda di halaman 1dari 22

PEMERINTAH KABUPATEN GARUT DINAS PENDIDIKAN

SMK NEGERI 2 GARUT BIDANG KEAHLIAN TEKNOLOGI


Jl. Suherman No.90 Kotak Pos 103, Telp./Fax.(0262) 233141 Garut E-mail : smkn2sbi_garut@yahoo.co.id

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

Satuan Pendidikan : SMK Mata Pelajaran Kelas/Semeter Aloksai Waktu Pertemuan ke : Konstruksi Bangunan : X/II : 28 x 45 menit :3&4

A. Kompetensi Inti 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. 2. Menghayati dan mengamalkan perlaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. 3. Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebangsaan, kenegaran, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan mintanya untuk memecahkan masalah.

4. Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B. Kompetensi Dasar 3.1 Menerapkan spesifikasi dan karakteristik kayu untuk konstruksi bangunan 4.1 Mengelola spesifikasi dan karakteristik kayu untuk konstruksi bangunan

C. Indikator Pencapaian Kompetensi a. Memahami spesifikasi dan jenis kayu yang digunakan pada konstruksi suatu bangunan b. Mengetahui spesifikasi dan jenis kayu yang digunakan pada konstruksi suatu bangunan c. Memahami sifat dan karakteristik kayu d. Mengelola spesifikasi dan karakteristik kayu untuk digunakan untuk konstruksi bangunan

D. Tujuan Pembelajaran a. Siswa dapat mengetahui dan memahami sifat dan karakteristik kayu b. Siswa dapat mengetahui dan memahami kuat tekan kayu c. Siswa dapat mengetahui dan memahami kuat tarik kayu d. Siswa dapat mengetahui dan memahami keawetan kayu e. Siswa dapat mengetahui cara pemeriksaan visual terhadap kayu E. Materi Pembelajaran 1. Sifat dan karakteristik kayu Sifat-sifat Kayu: Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat) Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial)

Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya

Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering

Sifat Fisik Kayu: Berat dan Berat Jenis Berat jenis adalah rasio antara kerapatan suatu bahan dengan kerapatan air. Berat jenis disebut juga kerapatan relative (Tsoumis, 1991). Menurut Simpson, berat jenis adalah rasio antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada kondisi anomali air (4,40C) dimana kerapatan air pada kondisi tersebut besarnya adalah 1 g/m3. Faktor-faktor yang mempengaruhi berat jenis kayu yaitu umur pohon, tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang dan kecepatan tumbuh. Berat jenis kayu merupakan salah satu sifat fisis kayu yang yang penting sehubungan dengan penggunaannya. Berdasarkan volume basahnya, berat jenis kayu mencerminkan berat kayunya. Klasifikasinya diantaranya: Kayu dengan berat ringan, bila BJ kayu < 0,3 Kayu dengan berat sedang, bila BJ kayu 0,36-0,56 Kayu dengan berat berat, bila BJ kayu > 0,56

Kadar Air Kayu Kayu bersifat higroskopis, artinya mempunyai sifat menyerap air bila kayu

yang kering ditempatkan ditempat yang basah, dan sebaliknya. Makin lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content). Jumlah uap air bergantung pada kadar kelembaban udara disekitarnya. Untuk kelembaban tertentu jumlah air yang

dikandung kayu disebut kadar kesetimbangan. Pada kelembaban udara 0% kadar kesetimbangan air kayu kurang lebih berkisar 0% juga. Sedangkan pada kadar kelembaban udara 100%, kadar kesetimbangan air kayu hanya berkisar 30%. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah titik jenuh serat. Air didalam kayu dapat dibedakan dalam 2 keadaan: Sebagai air bebas (free water) : air ini terdapat didalam rongga sel kayu, adanya air bebas ini sangat mempengaruhi bobot isi dari kayu Sebagai air imbisisi (imbided water) : air ini terdapat dalam dinding sel kayu, dan air ini tentunya sangat mempengaruhi sifat daripada kayu, menguapnya air ambisisi pengurangan volume Warna Tekstur Arah Serat Kesan dan Raba Bau dan Rasa Nilai Dekoratif Higroskopis Sifat Kayu terhadap Suara Daya Hantar Panas Daya Hantar Listrik mengakibatnya pengurangan berat dan

Sifat Mekanik Kayu: Keteguhan Tarik Kekuatan atau Keteguhan tarik suatu jenis kayu ialah untuk menahan gayagaya yang berusaha menarik kayu itu.Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil dari pada kekuatan tarik sejajar arah serat. Keteguhan tarik ini mempunyai hubungan dengan ketahanan kayu terhadap pembelahan (Dumanauw,2001). Keteguhan Tekan Keteguhan tekan suatu jenis kayu adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan jika kayu itu dipergunakan untuk tujuan tertentu. Dalam hal ini dibadakan

dua macam tekan, yaitu tekan tegak lurus arah serat dan yekan sejajar arah serat. Keteguhan tekan tegak lurus serat menentukan ketahanankayu terhadap beban. Ketegukan ini mempunyai hubungan juga dengan kekerasan kayu dan keteguhan geser. Keteguhan tekan tegak lurus arah serat pada semua kayu lebih kecil dibandingkan keteguhan sejajar arah serat. (Dumanauw,2001) Keteguhan Geser Menurut Dumanauw (2001), keteguhan geser adalah ukuran kekuatan kayu dalam hal kemampuannya menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian kayu tersebut bergeser kebagian lain di dekatnya. Dalam hubungan ini dibedakan tiga macam keteguhan yaitu, keteguhan geser sejajar arah serat, keteguhan geser tegak lurus serat, dan keteguhan geser miring. Keteguhan geser tegak lurus arah serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah serat.

Kekuatan Kayu Terhadap Geser Keteguhan Belah Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuataan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukiran-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial daripada arah tangensial. Kekerasan Kekerasan merupakan ukuran kekerasan kayu untuk menahan kikisan pada permukaannya, sifat kekerasan ini dipengaruhi oleh kerapatan kayu, keuletan kayu,ukuran serat, daya ikat antar serat Nilai yang di dapaat dari hasil pengujian

merupakanuji pembanding, yaitu besar gaya yang dibutuhkaan untuk memasukan bola baaja berdiameter 0.444 inchi pada kedalamaan 0.22 inchi. Keteguhan Belah Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha membelah kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuataan sirap dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan ukiran-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah radial daripada arah tangensial.

2. Tinjauan Kuat Tekan dan Kuat Tarik Kayu Hasil penelitian PKKI 1961 & SKSNI, M.25 1991 03 dan SKSNI M.27 1991 03 menyebutkan : Kuat Tekan Kayu Sejajar Arah Serat

Hasil pengujian kuat tekan sejajar arah serat dari SKSNI M.27 1991 03 disajikan pada Tabel 4. Untuk jenis kayu Meranti Merah mempunyai kuat tekan: ds // = 191,284 Mpa = 112,8 kg/cm2 Sedangkan pada PKKI 1991 (Tabel 6) untuk jenis kayu Meranti Merah, klas kuat II IV mempunyai kuat desak : B.J kering udara : min = 0,29 g/cm2 max = 1,09 g/cm2 rata-rata= 0,55 g/cm2 Kuat Tarik Kayu Sejajar Arah Serat Hasil pengujian kuat tarik sejajar arah serat pada SKSNI M.25 1991 03 (Tabel 5), untuk jenis kayu kamfer mempunyai kuat tarik : tr // = 128,1 Mpa = 1280 kg/cm2 Sedangkan berdasarkan Suwarno, 1978, kayu kamfer diperoleh data kayu kamfer kelas kuat : I II mempunyai berat jenis kering udara 07 0,9 g/cm3

Sebagaimana di kemukakan pada sifat umum kayu, kayu akan lebih kuat jika menerima beban sejajar dengan arah serat dari pada menerima beban tegak lurus serat. Ini karena struktur serat kayu yang berlubang. Semakin rapat serat, kayu umumnya memiliki kekuatan yang lebih dari kayu dengan serat tidak rapat. Kerapatan ini umumnya ditandai dengan berat kayu persatuan volume / berat jenis kayu.

Kuat Tekan dan Tarik Pada Kayu

3. Keawetan kayu Keawetan kayu alami adalah suatu ketahanan kayu terhadap serangan jamur dan serangga dalam lingkungan yang sesuai bagi organisme yang bersangkutan. Keawetan alami kayu diperoleh melalui ujicoba sehingga diperoleh pembagian kelas awet kayu. Dalam dunia perkayuan dikenal ada 5 (lima) pembagian kelas awet kayu, diantaranya: Kelas awet kayu I memiliki jenis seperti kayu jati, ulin, sawo kecik, merbau, tanjung, sonokeling, johar, bangkirai, behan, resak, dan ipil serta mencapai 25 tahun. Kelas awet kayu II memiliki jenis seperti kayu weru, kapur, bungur, cemara gunung, rengas, rasamala, merawan, lesi, walikukun, dan sonokembang serta umur pemakaiannya mencapai 15-25 tahun. Kelas awet kayu III memiliki jenis kayu ampupu, bakau, kempas, keruing, mahoni, matoa, merbatu, meranti merah, meranti putih, pinang, dan pulai serta mencapai umur 10-25 tahun. Kelas awet kayu IV meliki jenis kayu yang kurang awet seperti agatis, baayur, durian, sengon, kemenyan, kenari, ketapang, perupuk, ramin, surian, dan benuang laki serta memiliki ketahanan 5-10 tahun. Kelas awet kayu V tergolong kayu yang kurang kuat seperti jabon, jelutung, kapuk hutan, kemiri, kenanga, mangga hutan, dan marabung serta memiliki ketahanan 5 tahun.

Metode Pengawetan Kayu bertujuan untuk: Mengetahui cara pengawetan kayu Mengetahui proses pengawetan kayu Memanfaatkan pemakaian jenis-jenis kayu yang keawetannya rendah

Prinsip prinsip metode pengawetan kayu Untuk pengawetan yang baik perlu diperhatikan prinsip prinsip di bawah ini: Pengawetan kayu harus merata pada seluruh bidang kayu. Penetrasi dan retensi bahan pengawet diusahakan masuk sedalam dan sebanyak mungkin di dalam kayu. Dalam pengawetan kayu bahan pengawet harus tahan terhadap pelunturan (faktor bahan pengawetnya). Faktor waktu yang digunakan. Metode pengawetan yang digunakan. Faktor kayu sebelum diawetkan, meliputi jenis kayu, kadar air kayu, zat ekstraktif yang dikandung oleh kayu serta sifat-sifat lainnya. Faktor perlatan yang dipakai serta manusia yang melaksanakannya

Jenis Pengawetan Kayu Pengawetan remanen atau sementara (prophylactis treatment) Pengawetan permanent bertujuan menahan semua faktor perusak kayu dalam waktu selama mungkin Pengawetan metode sederhana Metode Perendaman Metode Pencelupan Metode Pemulasan Metode Pembalutan

4. Sambungan-sambungan Pada Konstruksi Kayu Paku mempunyai efesiensi yang lebih besar memberi pelemahan yang lebih kecil yaitu kira-kira 10%, yang sering kali diabaikan saja.

Kekuatan tidak tergantung arah serat, dan pengaruh cacat-cacat kayu juga kuran lebih kaku beban-beban pada penampang lebih merata untuk kayu yang tidak terlalu keras dan bila kayu yang harus disambung tidak terlalu tebal, maka tidak perlu dibor, sehingga dapat dikerjakan oleh setengah tukang.

Ukuran dan Jenis Paku

Spesifikasi Ukuran Kayu Bagian-bagian paku, terdiri dari: Kuat Cabut Paku Gaya cabut maksimum yang dapat ditahan oleh paku yang ditanam tegak lurus terhadap serat dapat dihitung dengan pendekatan rumus berikut: Ujung Paku Kepala Paku Pembenaman Paku Jarak Pemasangan Paku

P = 54.12 G5/2 DL (Metric: kg) P = 7.85 G5/2 DL (British: pound) Dimana : P = Gaya cabut paku maksimum L = kedalaman paku dalam kayu (mm, inc.) G = Berat jenis kayu pada kadar air 12 % D = Diameter paku (mm, inch.) Kuat Lateral Paku Kuat lateral paku yang dipasang tegak lurus serat dengan arah gaya lateral searah serat dapat didekati dengan rumus berikut: P = K D2 Dimana: P = Beban lateral per paku D = Diameter paku K = Koefisien yang tergantung dari karakteristik jenis kayu Sekrup Sekrup hampir memiliki fungsi sama dengan paku, tetapi karena memiliki ulir maka memiliki kuat cabut yang lebih baik dari paku. Terdapat tiga bentuk pokok sekerup yaitu sekerup kepala datar, sekerup kepala oval dan sekerup kepala bundar. Dari tiga bentuk tersebut, Sekerup

sekerup kepala datarlah yang paling banyak ada di pasaran.

kepala oval dan bundar dipasang untuk maksud tampilanselera. Bagian utama sekerup terdiri dari kepala, bagian benam, bagian ulir dan inti ulir. Diameter inti ulir biasanya adalah 2/3 dari diameter benam. Sekerup dapat dibuat dari baja, alloy, krom atau cadmium. maupun kuningan diberi lapisan/coating nikel,

Ukuran Sekrup Kuat Cabut Sekrup Kuat cabut sekerup yang dipasang tegak lurus terhadap arah serat dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut. P = 108.25 G2 DL P = 15.70 G2 DL (Metric unit: Kg, cm ) (British unit: inchpound)

Dimana: P = Beban cabut sekerup (N, Lb) G = Berat jenis kayu pada kondisi kadar air 12 % kering oven D = Diameter sekerup terbenam / shank diameter (mm, in.), L = Panjang tanam (mm,in.) Sekrup Lag Sekerup lag, seperti sekerup namun memiliki ukuran yang lebih besar dan berkepala segi delapan untuk engkol. Saat ini banyak dipakai karena kemudahan pemasangan pada batang struktur kayu dibanding dengan sambungan bautmur. Umumnya sekerup lag ini berukuran diameter dari 5.1 25.4 mm (0.2 1.0 inch) dan panjang dari 25.4 406 mm.

Kuat Cabut Sekrup Lag Kuat cabut sekerup lag dapat dihitung dengan formula sebagai berikut. P = 125.4 G3/2 D3/4L (Metric unit: Kg, cm ) P = 8,100 G3/2 D3/4L (British unit: inchpound) Dimana: P = Beban cabut sekerup (N, Lb) G = Berat jenis kayu pada kondisi kadar air 12 % kering oven D = Diameter sekerup terbenam / shank diameter (mm, in.) L = Panjang tanam (mm,in.) Kuat Lateral Sekrup Lag P = c1 c2 K D2 Dimana: P= Beban lateral per sekerup D= Diameter sekerup K= Koefisien yang tergantung karakteristik jenis kayu (lihat Tabel 8.4) C1= Faktor pengali akibat ketebalan batang apit tersambung C2= Faktor pengali akibat pembenamam sekrup lag

Koefisien Sekrup Lag Sambungan Gigi

Syarat-syarat dalam PKKI untuk sambungan gigi adalah sebagai berikut: Pada sambungan gigi, gesekan antara kayu dengan kayu didalam perhitungan harus dibatalkan. Untuk sambungan gigi tunggal dalamnya gigi tidak q boleh melebihi sesuatu batas, yaitu:

Untuk sambungan dengan gigi

rangkap dalamnya gigi kedua harus

memenuhi syarat seperti pada sambungan gigi tunggal. Kecuali itu harus pula tm2 - tm1 1 cm. Panjang lm harus dihitung . Untuk pehitungan sambungan gigi masih perlu ditambah penjelasan sebagai berikut :

Sambungan Baut Di pasaran terdapat berbagai macam baut dengan dimater dan

panjang sesuai kebutuhan kayu. Untuk pemasangan harus menggunakan plat ring (washer) agar saat baut di kencangkan, tak merusak kayu.

Model-model Baut Tegangan-tengan dalam arah sambu-ngan maupun pada penampang baut dianggap rata dalam perhitungan. Sesungguhnya pembagian tegangan-tegangan itu seperti pada gambar

Sambungan dengan baut dibagi dalam 3 golongan menurut kekuatan kayu, yaitu golongan-golongan I, II dan III. Agar sambungan dapat memberi hasil kekuatan yang sebaik-baiknya (uitgenut), hendaknya diambil dari angka-angka yang tertera di bawah ini Golongan I : Sambungan bertampang satu : b = 4,8 = 50 db1 (1 0,6 sin ) atau = 240 d2 (1 0,35 sin )

Sambungan bertampang dua : b = 3,8 = 125 db3 (1 0,6 sin ) atau = 250 db1 (1 0,6 sin ) atau = 480 d2 (1 0.35 sin )

Golongan II : Sambungan bertampang satu : b = 5,4 = 40 db1 (1 0,6 sin ) atau = 215 d2 (1 0,35 sin )

Sambungan bertampang dua : b = 4,3 = 100 db3 (1 0,6 sin ) atau = 200 db1 (1 0,6 sin ) atau = 430 d2 (1 0,35 sin )

Golongan III : Sambungan bertampang satu : b = 6,8 = 25 db1 (1 0,6 sin ) atau = 170 d2 (1 0,35 sin )

Sambungan bertampang dua : b = 5,7 = 60 db3 (1 0,6 sin ) atau = 120 db1 (1 0,6 sin ) atau = 340 d2 (1 0,35 sin )

F. Alokasi Waktu 28 x 45 menit G. Strategi/Metode/Pendekatan Pembelajaran Metode Ceramah Metode Diskusi

H. Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu Metode Pembelajaran Media Pembelajaran

NO

Kegiatan Pembelajaran Kegiatan Awal 1. Kegiatan berdoa sebelum mengawali pembelajaran dan memberi motivasi 2. Guru mengabsen siswa 3. Guru menyampaikan

1.

mengenai kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran dan materi ajar kepada siswa 4. Guru membahas dan menyampaikan materi yang akan diberikan pada siswa Kegiatan Inti Eksplorasi 1. Memberikan pertanyaan

30 menit

2.

kepada siswa mengenai materi yang sudah disampaikan sebelumnya 2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk 135 menit Ceramah dan Diskusi Power Point

mengingat materi yang sudah dijelaskan sebelumnya Elaborasi 1. Guru memberi penjelasan mengenai jenis dan spesifikasi kayu untuk suatu konstruksi bangunan 2. Guru menjelaskan mengenai sifat dan karakteristik kayu 3. Guru memberi penjelasan mengenai jenis-jenis sambungan kayu Konfirmasi 1. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami terhadap materi yang telah dsampaikan 2. Guru memberikan penjelasan kembali kepada siswa mengenai materi yang telah disampaikan 3. Guru memberikan tugas latihan Kegiatan Akhir 1. Guru mengevaluasi dan 3. memberikan kesimpulan mengenai materi yang sudah disampaikan 2. Guru memberikan tugas 30 menit ceramah -

mengenai materi yang sudah dijelaskan 3. Guru menutup pembelajaran dengan berdoa

I. Sumber/Media Pembelajaran Sumber : Ilmu Bangunan Gedung, Seri praktis A oleh Drs. IK. Supribadi. Ilmu Bahan Bangunan 2, Depdikbud 1979. Ilmu Konstruksi bangunan kayu, oleh Heinz Frick dan Moediartianto Media : Papan Tulis, Power Point

J. Penilaian Proses dan Hasil Belajar Indikator Pencapaian Kompetensi Teknik Penilaian Memahami spesifikasi dan jenis kayu yang digunakan pada konstruksi suatu bangunan Memahami sifat dan karakteristik kayu Memahami sambungan-sambungan untuk konstruksi kayu Penilaian Observasi Kinerja Catatan Harian Penilaian Observasi Kinerja Catatan Harian Penilaian Observasi Kinerja Mencari Contoh Gambar Dari Berbagai Sumber Mengelola spesifikasi dan karakteristik kayu untuk digunakan untuk konstruksi bangunan Penilaian Observasi Kinerja Catatan Harian Penilaian Observasi Kinerja Mencari Gambar Dari Berbagai Sumber Lembaran Tugas Harian dan Tes Tulis Lembaran Tugas Harian Lembaran Tugas Harian Penilaian Observasi Kinerja Catatan Harian Bentuk Instrumen Lembaran Tugas Harian

K. Soal dan Kunci Jawaban No Butir Soal Kunci Jawaban Skor

Lampiran 1 Lembar Pengamatan

LEMBAR PENGAMATAN SIKAP

Mata Pelajaran Kelas/Semeter Tahun Ajaran Waktu Pengamatan

: : : :

No. 1. 2. 3 4 5

Nama Siswa

Pemahaman 1 2 3 4 1

Kedisiplinan 2 3 4 1

Kerapihan 2 3 4

Dst

Keterangan: 1 : Kurang 2 : Sedang 3 : Baik 4 : Sangat Baik

Lampiran 2 Lembar Pengamatan

LEMBAR PENGAMATAN PERKEMBANGAN AKHLAK DAN KEPRIBADIAN

Mata Pelajaran Kelas/Semester Tahun Ajaran Waktu Pengamatan

: : : :

Karakter yang diintegrasikan dan dikembangkan adalah kerja keras dan tanggung jawab.

Indikator perkembangan karakter kreatif, komunikatif, dan kerja keras 1. BT (belum tampak) jika sama sekali tidak menunjukkan usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas 2. MT (mulai tampak) jika menunjukkan sudah ada usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas tetapi masih sedikit dan belum ajeg/konsisten 3. MB (mulai berkembang) jika menunjukkan ada usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas yang cukup sering dan mulai ajeg/konsisten 4. MK (membudaya) jika menunjukkan adanya usaha sungguh-sungguh dalam menyelesaikan tugas secara terus-menerus dan ajeg/konsisten

No. 1. 2. 3 4 5 6 7

Nama Siswa

Kreatif

Komunikatif

Kerja keras

BT MT MB MK BT MT MB MK BT MT MB MK

No. 8

Nama Siswa

Kreatif

Komunikatif

Kerja keras

BT MT MB MK BT MT MB MK BT MT MB MK

Dst.

Pedoman Penskoran

Aspek Siswa menjawab pernyataan benar dengan alasan benar Siswa menjawab pernyataan benar tapi tidak didukung oleh alasan benar Siswa menjawab pernyataan salah SKOR MAKSIMAL 1 6 3 2

Skor

Bandung, 11 Februari 2014

Kepala Sekolah SMKN 2 Garut

Guru Mata Pelajaran Konstruksi Bangunan