Anda di halaman 1dari 13

A.

LATAR BELAKANG

Media

massa

dalam

era

millennium

semakin

berkembang dan

bertransformasi, semakin canggih dalam memanjakan manusia yang semakin haus akan informasi dan pengetahuan. Perubahan yang sangat besar dalam ranah teknologi dan informasi ini dimulai dari revolusi industri Eropa di abad 18 yang mempunyai fokus pengembangan di elektronik dan mesin, akan tetapi Perkembangan media pun tidak luput dari sorotan target inovasi revolusi industri tersebut. Media digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi dan mengikuti perkembangan dunia lokal dan global secara mudah. Salah satu media massa yang berkembang pada saat revolusi industri eropa adalah Film.

Film saat ini telah berkembang ke dalam format yang menjadikan film semakin mudah dinikmati oleh siapapun. Film tidak hanya tersaji di bioskop, akan tetapi telah tersedia di mana pun dengan berbagai bentuk seperti DVD, file video, Streaming via internet, bahkan acara televisi. Genre yang beragam membuat kreatifitas semakin berkembang dan tidak dipungkiri bahwa film sebagai media yang cukup digemari masyarakat. Pada saat ini terdapat salah satu genre yang sedang laris manis di dunia senima global adalah film laga atau action.

Film laga Hollywood mulai berkembang pesat pada tahun 1980-an dan 1990-an, dengan target penonton laki-laki 13 tahun sampai 30 tahun, dengan pangsa Amerika maupun global, dengan didominasi dengan peran utama seorang laki-laki (Ida, 2008: 71). Dapat dilihat dari data tahun 2013 akhir yang menunjukan bahwa film laga atau action mendominasi rangking 10 besar film Hollywood yang meraih pendapatan tertinggi.

Berikut adalah data Digital Spy, Senin 30 Desember 2013 yang ditulis di www.tempo.co1

No Iron man 3 1

Nama Film

Pendapatan 1,2 miliar dolar 918 juta dolar 788 juta dolar 771 juta dolar 743 juta dolar 662 juta dolar 652 juta dolar 627 juta dolar 587 juta dolar 540 juta dolar

Despicable Me 2 2 Fast and Furious 6 3 The Hunger Games: Catching Fire 4 Monsters University 5 Man of Steel 6 Gravity 7 Thor: The dark World 8 The Croods 9 World War Z 10

Film laga yang kali ini ingin dibahas oleh penulis adalah film yang menempati rangking ketiga sebagai film terlaris di tahun 2013 dengan genre action-crime dengan modal sekitar 160 juta dolar yang mampu menyedot pundi-pundi dolar sebesar 788 juta dolar di tahun 2013, Fast and Furious 6. Film ini dipilih karena jumlah pendapatan yang besar menandakan jumlah banyaknya tiket yang terjual, dapat disimpulkan sementara bahwa film ini sangat digemari dan dicari oleh masyarakat
1

http://www.tempo.co/read/news/2014/01/02/111541696/Daftar-Film-Terlaris-Tahun-2013 11 februari 2014, 09.30

internasional pecinta laga balap mobil dengan alur cerita tentang kriminalitas. Film yang diluncurkan oleh Universal Pictures ini memang salah satu yang sarat dengan nuansa maskulinitas ala Amerika yang terdapat di elemen-elemen film besutan sutradara Justin Lin. Dimulai dari cerita yang mengundang kesan pertarungan heroik-kriminalitas, pakaian yang dikenakan, fisik kekar aktor, kesan militer Paman Sam yang kuat, teknologi dan otomotif yang maju, sensualitas serta banyak lagi kesan dan pesan lewat media audio-visual kejantanan versi amerika yang ditawarkan film ini.

Termasuk Fast and Furious 6, pemasukan film laga Hollywood zaman sekarang bukan sekedar berkecimpung di layar bioskop saja. Para investor mendapat hal special berupa Ancillary rights di mana film dikomersialkan secara maksimal. Film laga sekarang juga dikemas dalam bentuk lain berupa game, buku, video, tayang di televisi, reproduksi DVD, download film bahkan soundtrack. Semua hal tersebut mempunyai copy rights yang di mana semua kegiatan memperbanyak atau meng-copy ke format lain dilindungi hak cipta (Biagi, 2010:186). Hal tersebut memancing beberapa pihak yang mempunyai modal besar untuk ikut andil mensponsori film. Memikatnya keuntungan yang dijanjikan tersebut, film sarat dengan muatan subjektif dari investor. Film tidak hanya sebagai entertain media akan tetapi film memiliki fungsi lain seperti edukasi, motivator, propaganda sampai konstruksi (McQuail, 2010; 35).

Tentang konstruksi ideologi, film mempunyai andil besar dalam membentuk pola pikir khalayak tentang apapun pesan-kesan yang ditampilkan2, salah satunya maskulinitas. Seperti yang dikatakan Bungin (2007:35) Khalayak melihat bahwa apa yang ditayangkan di media merupakan gambaran realitas yang nyata. Persepsi yang terbangun di sebagian laki-laki bahkan perempuan pengonsumsi media, mereka akan
2

Chatarina Heny dwi Surwati, Jurnal Komunikasi UNS

merasa dituntut untuk berpenampilan laiknya yang ditayangkan di media sebagai acuan dalam berkehidupan yang dipandang pantas dan tepat. Hal tersebut yang dinamakan konstruksi realitas media. Hubungan

maskulinitas sangat lekat dengan konstruksi dinamis, maskulinitas merupakan hasil dari proses pembentukan sosial dan budaya dengan rentang waktu yang panjang3. Hal tersebut pun patut kita teliti apakah film laga Hollywood mempunyai kekuatan untuk mengkonstruks maskulinitas juga di masyarakat ?

Penulis mempunyai hipotesis sementara, bahwa sangat memungkinkan film (sebagai media massa) dapat ditunggangi oleh beberapa pihak kapitalis mengandung konstruksi pola hidup yang bersifat konsumerisme dengan dalih pandangan maskulinitas. Sebagai contoh, beberapa serial film Rambo yang dibuat Amerika pada tahun 1982 2008. Penggambaran tokoh Rambo dalam film First Blood menggambarkan kekuatan dan kemenangan Amerika4 selain sebagai propanganda, terdapat konstruksi maskulinitas di dalam film tersebut di mana lakon utama yang diperankan oleh Sylvestre Stallone menjadi alat konstruksi. Dalam film tersebut model laki-laki maskulin pada saat itu adalah bertubuh besar nan berotot, dengan rambut panjang, tubuh mengkilap atau berkeringat dan tiada peduli terhadap perawatan tubuh. Ciri-ciri tersebut pada zaman 1990-an menjadi standar laki-laki maskulin yang sedang disorot sekaligus dibentuk oleh dunia global yang pada saat itu berporos di Amerika (Beyond dalam Nasir, 2007:4). Dengan bangun pikir seperti itu, beberapa produsen alat kesehatan-kebugaran dan obat-obat pelangsing serta pembentuk tubuh menjual produknya ditengah pusara realitas tentang maskulinitas.

Hal tersebut yang menarik penulis untuk membuat penelitian ini adalah terciptanya suatu relitas baru mengenai maskulinitas yang dibangun
3 4

Novi Kurnia dalam jurnal Ilmu Sosial dan Politik 2004 Universitas Indonesia http://jakartagreater.com/rambo-perang-vietnam-meninggal-dunia/ diakses 5 Februari 2014, pukul 14.20

melalui media film. Menurut sejumlah ahli gender seperti John Fiske menerangkan bahwa terdapat pergeseran point of view tentang

maskulinitas atau feminisme dengan standar yng berbeda. Hal itu sangat kentara bila kita sedikit flashback mengenai tren standar maskulinitas waktu lalu sekitar 1980-an, 1990-an dan 2000. Pergeseran tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa konstruksi atas maskulinitas bersifat dinamis. Penulis melihat konstruksi maskulinitas mengacu pada apa yang di-booming-kan media terhadap khalayak. Potensi ini terlihat pada film Fast and Furious 6 yang di mana penggambaran maskulinitas yang sangat beragam dengan frekeunsi simbol dan pesan yang tinggi terlihat di film garapan Justin Lin. Dimulai dari para aktor, setting, musik, pakaian dan visualisasi seorang herois sejati dalam dunia balap dan kriminal.

B. RUMUSAN MASALAH Dari uraian latar belakang singkat di atas menunjukan bahwa ada beberapa hal yang harus dibahas lebih lanjut untuk memperoleh kedalaman konstruksi dan industri film yang dirangkum dalam pertanyaan berikut :

1. Mengapa dan Bagaimana Konstruksi maskulinitas itu terdapat di film laga box office Fast and Furious 6 ?

C. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 1. Tujuan penelitian Disusunnya skripsi ini penulis mempunyai tujuan yaitu ingin mengetahui apakah tayangan film Fast and Furious 6 benar-benar sarat dengan konstruksi maskulinitas versi film laga Hollywood dan bagaimana hal tersebut diketahui.

2. Manfaat Penelitian a. Secara Akademik Memberikan kontribusi akademik di bidang penelitian madia massa audio-visual berkaitan dengan gender dalam bentuk referensi bagi penelitian selanjutnya.

b. Secara Umum Memberikan edukasi kepada masyarakat, pelajar maupun

akademisi untuk lebih literate media atau sadar terhadap media yang di mana penuh dengan realitas buatan nan tidak nyata sepenuhnya.

D. TELAAH PUSTAKA Penelitian komunikasi media massa kali ini disusun dengan harapan dapat menambah konstribusi kajian dalam bidang Media massa dan gender. Kajian tentang kedua hal tersebut telah banyak dibahas oleh beberapa akademisi untuk mengetahui serta menguji hipotesis tentang hubungan media massa dan gender. Untuk mendukung penelitian kali ini dan mengetahui posisi penulis sekarang, penulis mencari beberapa sumber referensi berupa literatur yang mengkaji masalah yang sama pada penelitian kali ini, yaitu tentang media massa dan gender. Hasil penelusuran peneliti tentang referensi yang relevan dengan masalah kali ini, terdapat 2 (dua) penelitian yang dijadikan rujukan yaitu : Pertama, Penelitian skripsi dari Zulfikra, mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan judul Konstruksi Maskulinitas di Film Merantau. Penelitian tersebut mengkaji tentang ideologi gender yang terdapat di film. Penelitian tersebut, Zulfikra meneliti film Merantau yang dibintangi aktor laga nasional Eko Uwais.

Zulfikra menggunakan metode Analisis Wacana model Sara Mills. Model ini sangat lekat dengan teks yang berbau feministik, karena Sara Mills mempunyai concern di bidang tersebut. Akan tetapi metode tersebut dapat diterapkan di semua teks, dalam artian tidak hanya digunakan untuk membedah feminism di teks. Film yang diteliti pun bergenre action yang di mana kesan maskulinitas terdapat di dalam teks tersebut. Akan tetapi penulis mempunyai anggapan bahwa genre action-crime Fast and Furious 6 berbeda dengan actionadvanture Merantau. Bahkan maskulinitas yang ditawarkan film Merantau berbeda dengan maskulinitas film Fast and Furious 6, maskulinitas Indonesia berbeda dengan maskulinitas Hollywood dengan budaya yang berbeda. Maka kajian gender di media akan semakin kaya apabila meluaskan penelitian di objek yang berbeda. Bahkan dalam kajian tentang maskulinitas dalam lingkup yang berbeda akan mengahasilkan hasil yang berbeda, kerana dalam Analisis Wacana Kritis tidak hanya menemukan ideologi yang bernama maskulinitas saja, akan tetapi mencari bagaimana maskulinitas diciptakan begitu di film laga. Ranah industri film Hollywood lebih luas dari pada nasional, lebih dari sekedar menyajikan hiburan dan melebarkan popularitas akan tetapi akan sesuatu di balik teks (film) tersebut yang dapat kita teliti dari teks tersebut. Kedua dari Chatarina Heni Dwi Surwati, Program Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2012. Penelitian tersebut tentang kajian komunikasi massa dan gender, dengan judul Konstruksi Feminisme dalam Film Indonesia Analisis Wacana Kritis Konstruksi Feminisme dalam Film Karya Nia Dinata. Dalam penelitian tersebut Chatarina menggunakan analisis

wacana kritis model Sarah Mills, dengan pendekatan Prancis (French Discourse Analysis) yang di mana Sarah Mills memang sangat lekat dengan wacana gender terutama feminisme. Subjek dalam penelitian ini adalah beberapa film dari Nia Dinata yang berbau kritik feminisme, film7

film tersebut adalah Ca Bau Kan, Berbagi Suami, Arisan, dan Perempuan Punya Cerita Segmen Perempuan dari Cibinong. Penelitian ini juga sangat menarik karena subjek yang tidak hanya satu dan sangat tepat apabila yang diambil adalah film dari Nia Dinata. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis terletak pada subjek dan objek. Subjek dari penulis adalah film laga box office tahun 2013 yang di mana kesan konstruksi lebih ditekankan pada aspek visual dari pada dialog. Film action hollywood mempunyai karakter yang sangat berbeda dengan drama. Drama dibuat sangat mirip dengan kehidupan nyata dan dengan konflik yang dibuat seperti nyata pula atau disebut dengan aliran seni surerealism, hal tersebut akan menekankan aspek empati dan simpati. Film yang diangkat Chatarina berasal dari indonesia yang telah mendapat berbagai penghargaan dari penjuru dunia. Film ini mencoba menghadirkan realitas feminisme yang ada di sekitar dengan konflik yang beragam (karena filmnya banyak) sehingga harapan yang diinginkan oleh penonton adalah pemahaman baru tentang posisi wanita dari sudut sosial dan budaya, bukan hanya soal kesetaraan hak (emansipasi). Berbeda dengan film action yang di mana representasi budaya tidak divisualkan secara utuh, akan tetapi hanya bersifat parsial dan selaras tujuan film laga yang ditonjolkan. Film laga menginginkan penonton lebur dalam imajinasi serta memacu adrenalin dengan sajian adu balap mobil dan perkelahian. Masalah fiksi yang ditawarkan sangat berbeda dengan kehidupan nyata, akan tetapi dibuat seperti benar-benar terjadi. Penonton diharapkan untuk menikmati adegan per adegan yang tiada di dalam kehidupan nyata, akan tetapi sajian visual di sini sangat dinikmati.

E. LANDASAN TEORI

Penelitian kali ini, penulis menuangkan beberapa teori terapan dalam skripsi ini untuk membahas fenomena yang ditawarkan penulis. Penelitian kali ini berkutat seputar kajian media dan gender yang sangat lekat di kehidupan kita. Realitas yang tersaji ini perlu dikaji dengan menggunakan beberapa teori.

1. Teks dalam Film Membaca teks dalam film membutuhkan kodifikasi yang jelas tentang apa saja elemen-elemen yang terdapat dalam film. Abraham, Bell dan Udris (2001, 93-112) menjelaskan tentang pembacaan teks dalam film. Dalam film terdapat 4 (empat) hal yang dikenal dengan Mise en Scene, Cinematography, Editing dan Sound

Pertama, Mise en Scene (apa saja yang ada di scene), hal ini berkembang di dunia teater juga. Objek yang terdapat di Mise en Scene adalah a. Setting, b. Property, perkakas apa saja yang ada di dalam scene yang diperlukan. c. Costum, pakaian seperti apa yang dipakai aktor d. Performance, aksi atau penampilan yang dimainkan aktor e. Lighting and colour, kombinasi pencahayaan dan warna f. Compotition, perpaduan dari unsur-unsur di atas Secara sederhananya Mise en scene adalah apa saja yang akan disorot oleh kamera. Semua aspek di atas merupakan hal yang disorot kamera atau dalam teater apa saja yang terdapat di panggung pentas.

Kedua, Cinematography (Indonesia; sinematografi), atau sering kita kenal dengan teknik pengoperasian kamera dalam shooting gambar (scene). Macam-macam dari Sinematografi adalah Framing

(pembingkaian scene yang di-shoot), Shot size (ukuran scene yang dishoot), Length of take (durasi pengambilan gambar), Camera movement (pergerakan kamera), Angle (sudut pengabilan gambar) dan Depth of field (kedalaman gambar yang di- shoot).

Ketiga, Editing merupakan langkah pengerjaan film setelah produksi (shooting). Di sini gambar-gambar (scenes) yang telah diperoleh harus diseleksi oleh sutradara, disatukan (continuity editing), pengaturan kecepatan scene (movement and speed of editing), pengaturan ukuran scene yang telah di-shoot (shot size editing), pemotongan scene (Cutting) dan penyertaan symbol (symbolic insert), selanjutnya terdapat manipulasi atau penambahan efek yang ada di dalam scene Seperti efek 3D dan pencahayaan.

Keempat, Sound merupakan bagian peting dalam penggarapan film. Dalam film terdapat dialog-dialog maupun monolog yang perlu diiringi dengan suara tambahan, agar menambah kesan pada penonton. Baik itu suara diagetic maupun non-diagetic sound (suara asli maupun tidak asli). Yang perlu diperhatikan dalam bidang proses sound ini adalah sound effect, music (biasanya sebagai soundtrack yang mengiringi aksi aktor) dan voice overs.

Kesemua elemen tersebut teks yang ada dalam media film. Baik verbal maupun non-verbal, semua teks yang tergabung dan bersinergi menjadi suatu tontonan tersebut menyimpan suatu pesan atau makna. Umumnya teks media dibuat untuk menyampaikan pesan atau makna kepada khalayak.

10

2. Film Sebagai Teks Media

Berbicara tentang definisi film, hasil menukil dari Bab I UndangUndang No. 8 Tahun 1992 tentang Perfilman, definisi tentang Film disebutkan suatu karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat

dipertunjukkan dan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya5.

Definisi lain diberikan Sumarno bahwa film adalah sebuah seni yang lahir dari kreatifitas tangan-tangan yang terlibat dalam proses

pembuatan film (Sumarno,1996; 28). Akan tetapi zaman menyeret definisi itu tertinggal jauh dengan inovasi teknologi, yang di mana film dapat dinikmati dalam berbagai bentuk format seperti file video, keping DVD/CD, acara televisi dan streaming via internet. Hal tersebut memudahkan masyarakat menikmati film (McQuail, 2010:36)

Alasan mengapa film dapat dikatagorikan sebagai media massa mengacu pada pendapat yang disampaikan Danis McQuail, film dapat dikatakan sebagai media massa dengan alasan film mampu memberikan pesan dan informasi dengan jangkauan populasi dalam jumlah masif secara cepat, bahkan di wilayah yang terpencil. Film merupakan jawaban atas cara menikmati suatu tayangan audio-visual di waktu libur dari rutinitas yang sifatnya terjangkau dan mudah (McQuail,2010:34). Film disebut sebagai alat dari media massa, karena
5

http://www.lsf.go.id/film.php?module=profil diakses 6 Februari 2014, pukul 12.34

11

konsep yang sama yaitu memberikan pesan atau informasi kepada khalayak secara luas yang dibuat oleh perseorangan maupun lembaga.

Berbicara film pada ranah komunikasi akan berbicara di ranah perputaran pesan. Pesan yang disampaikan dalam media film lebih kompleks dari pada media lain karena elemen-elemen komunikasi yang terdapat di dalamnya berupa verbal dan non-verbal yang saling mengisi makna hingga terbentuk sebuah film. Mulai pesan verbal seperti teks, narasi dan dialog dan gugus pesan non-verbal seperti mimik wajah, gestur, karakter, musik, latar, penokohan dan lain-lain sebagai sarana komunikasi yang saling mengisi (dengan verbal)6. Gugus verbal dan non-verbal tersebut merupakan teks yang membentuk makna atau pesan.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana elemen atau gugus tersebut dalam film membentuk makna. Kemudian Burton (1999: 96) menjawab bahwa pesan atau makna yang terdapat di teks film merupakan hasil dari proses produksi makna dari elemen-elemen di atas. Burton menjelaskan bahwa pembuatan pembuatan makna dalam film tersebut tergantung tujuan filmmaker (sutradara dan produser). Tujuan dalam pembuatan film secara umum dipandang Burton sebagai kegiatan ekonomi yang di mana menjual barang atau komoditas. Di sini film adalah barang dagangan dan komoditinya terbentuk dari isuisu yang ada di kehidupan, sehingga khalayak merasa terlibat dengan membaca varian teks yang terdapat di film.

Stuart Hall dalam (Burton, 1999:97) menjelaskan proses bagaimana encoding (pengkodean teks dalam media) yang terjadi dalam film. Pesan atau makna yang terkandung dalam film merupakan buatan atau hasil kode dari pemikiran filmmaker, yang di mana pemikiran tersebut
6

Chatarina, Konstruksi Feminisme dalam Film Indonesia : Jurnal Ilmu Sosial dan Politik UNS

12

didasarkan pengalaman dan referensi filmmaker. Kemudian filmmaker mengaktulisasikan hasil pemikirannya tersebut dengan hasil audiovisual film.

3. Maskulinitas

13